Jumat, 10 Mei 2013

..... Nesirky mengatakan meski PBB tidak dapat secara independen memverifikasi penggerebekan dan tidak memiliki rinciannya, tapi Ban mengungkapkan keprihatinan atas laporan serangan udara di Suriah oleh Angkatan Udara Israel. "Sekretaris Jenderal mendesak Israel menghormati kedaulatan nasional dan integritas teritorial semua negara di kawasan itu dan patuha pada semua resolusi Dewan Keamanan," kata Nesirky.>> Perang di Suriah saat ini antara pasukan pemerintah dan rakyat melawan para antek-antek asing dan teroris takfiri akan menentukan nasib perimbangan kekuatan di dunia dan kawasan. Tidak diragukan lagi masalah ini juga memiliki dampak besar bagi masa depan independensi dan kedaulatan Lebanon serta kemampuan negara ini dalam menghadapi ancaman konstan rezim Zionis. Upaya AS dan Israel untuk menarget muqawama adalah menghancurkan kekuatan dan kemampuan Lebanon di hadapan ancaman rezim Zionis Israel serta mengubah Lebanon menjadi sebuah negara yang lemah. Dengan demikian, kapan pun Israel dapat menduduki wilayah Lebanon. Kandil mengatakan, "Keliru jika ada pihak yang beranggapan bahwa transformasi di Suriah saat ini tidak berpengaruh bagi Lebanon."....>>> Arab Saudi menyatakan penolakannya atas prakarsa Mesir untuk menghidupkan kembali usulan Kairo guna menyelesaikan krisis Suriah. Al-Alam di laporannya menyebutkan, sumber-sumber terpercaya menambahkan, Arab Saudi kepada Mesir menyatakan bahwa Riyadh menyambut setiap upaya untuk menyelesaikan krisis Suriah, namun dengan syarat Iran tidak dilibatkan, karena Arab Saudi menolak perundingan soal krisis Suriah dengan melibatkan Tehran. ..>> Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) Sayid Hasan Nasrullah dalam pidato terbarunya (Kamis, 9/5) menyinggung berbagai bahaya yang mengancam cita-cita rakyat Palestina. Ia menilai sikap rezim-rezim Arab dalam membela hak-hak bangsa Palestina sebagai sikap yang hina. Ia mengatakan, rezim-rezim Arab menyikapi masalah Palestina, bangsa Palestina, Masjid al-Aqsha, Baitul Maqdis, dan pengungsi Palestina seperti menyikapi masalah sejarah. Sayid Nasrullah menambahkan, negara-negara Arab tidak memandang masalah ini sebagai sebuah cita-cita dan bersikap seakan-akan mereka berupaya membiarkan cita-citanya itu....>> Selama delapan tahun Perang Pertahanan Suci, Amerika dan negara-negara pasar bersama Eropa semakin mempersempit tekanannya terhadap Iran dan menolak untuk melakukan transaksi langsung dengan Iran. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka menolak untuk menjual dan mengirimkan obat-obatan yang dibutuhkan Iran. Sementara pada saat yang sama, mereka memberikan senjata paling modern dan senjata kimia kepada rezim Baath Irak guna memprovokasi rezim ini melanjutkan perang. Akan tetapi secara bertahap negara-negara Eropa memahami bahwa tekanan Amerika terhadap Iran bukan hanya tidak bermanfaat bagi mereka, tapi kepentingan nasional mereka sudah dikorbankan arogansi Amerika. (IRIB Indonesia)...>> Seperti dilaporkan MNA, al-Zahar besamaan dengan lawatan Sheikh Yusuf Qaradawi ke Gaza bertepatan dengan Hari Nakbah serta berbicara di hadapan mahasiswi universitas Islam Gaza menambahkan, "Saya katakan kepada Bin Jassim bahwa hari ini kami mendengar seluruh omong kosong politik, konsesi gratis dan hibah anda. Kepada anda dan rombongan yang melawat Washington kami tandaskan jika ini adalah sikap dan pandangan anda maka lebih baik anda tidak lagi berbicara soal isu Palestina. Kami lebih berhak dari anda dalam masalah ini dan siap mengorbankan diri serta kami pasti akan menang." Menurut laporan Koran al-Quds al-Arabi, al-Zahar di bagian lain statemennya mengatakan, "Kami tidak akan menukar tanah air kami dengan wilayah yang juga milik kami. Bumi jajahan tahun 1948 adalah milik kami, oleh karena itu kami tidak akan menukar sebagian tanah kami dengan sebagian tanah yang dijajah tahun 1967. Seluruh tanah tersebut milik bangsa Palestina dan kami menolak setiap solusi damai. Di tanah ini hanya pemiliknya yang bakal menempati. Ini adalah asas yang tidak akan berubah." (IRIB Indonesia/MF)...>>>

Riyadh Tolak Tehran Dilibatkan dalam Kelompok Segi Empat



Sumber-sumber diplomat Arab mengatakan, Arab Saudi menyatakan penolakannya atas prakarsa Mesir untuk menghidupkan kembali usulan Kairo guna menyelesaikan krisis Suriah.
 
Al-Alam di laporannya menyebutkan, sumber-sumber terpercaya menambahkan, Arab Saudi kepada Mesir menyatakan bahwa Riyadh menyambut setiap upaya untuk menyelesaikan krisis Suriah, namun dengan syarat Iran tidak dilibatkan, karena Arab Saudi menolak perundingan soal krisis Suriah dengan melibatkan Tehran.
 
Sumber ini menambahkan, Mesir secara transparan menjelaskan bahwa keluarnya Tehran dari prakarsa ini tidak menguntungkan isu Suriah, karena Iran memiliki pengaruh kuat terhadap pemerintahan Bashar al-Assad. Dengan demikian Iran dapat menjadi kanal tak langsung dengan Damaskus di upaya tersebut.
 
Menurut sumber ini, Mesir menekankan bahwa Iran bagian dari solusi isu Suriah, namun negara-negara Arab kawasan Teluk Persia menuding Tehran sebagai faktor yang memperumit masalah dan provokator utama terhadap apa yang mereka istilahkan dengan "Revolusi Suriah".
 
Beberapa hari lalu, Mesir mengajukan prakarsa baru untuk menghidupkan Komite Segi Empat untuk menyelesaikan krisis Suriah
 
Sumber ini mengatakan, dalam beberapa pekan mendatang akan digelar sidang tingkat menteri di Kairo guna menghidupkan kembali prakarsa Presiden Muhammad Mursi untuk menyelesaikan krisis Suriah.
 
Masih menurut sumber tersebut, Kairo berusaha mengajukan prakarsa guna meningkatkan upaya menghentikan pertumpahan darah di Suriah serta menghidupkan kembali prakarsa Mesir dengan bersandar pada klaim Moaz al-Khatib, pemimpin Koalisi Anti Suriah yang mengundurkan diri terkait kesiapan kubu ini untuk berdialog guna mencapi kesepakatan soal pemerintahan transisi.
 
Ia menambahkan, "Upaya kami meningkatkan prakarsa tersebut dan kami berupaya menjadikan Liga Arab serta OKI serta Lakhdar Brahimi, utusan khusus PBB sebagai tiga pihak pengawas dan penjamin keberhasilan prakarsa Kairo serta pelaksanaannya."
 
Sumber tersebut menyatakan bahwa Kairo saat ini tengah membahas sejumlah ide, khususnya pasca lawatan Mursi ke Rusia dan lawatan delegasi Mesir yang terdiri dari Essam al-Haddad, wakil Mursi serta Rifaah al-Tahtawi, ketua kantor presiden ke Republik Islam Iran.
 
Sumber Mesir ini seraya mengisyaratkan bahwa kedua lawatan tersebut berkaitan dengan upaya Kairo soal kasus Suriah, khususnya lawatan Mursi ke Rusia menunjukkan peluang untuk menggapai solusi politik di krisis Damaskus. (IRIB Indonesia/MF)

Ketidaksabaran AS Menghadapi Ketangguh- an Militer Suriah


  http://indonesian.irib.ir/fokus/-/asset_publisher/v5Xe/content/ketidaksabaran-as-menghadapi-ketangguhan-militer-suriah?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Ffokus%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_v5Xe%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3Dcolumn-1%26p_p_col_pos%3D1%26p_p_col_count%3D3



Ghalib Kandil, pakar strategis Lebanon, menilai transformasi yang sedang terjadi di Suriah sangat berkaitan erat dengan gerakan muqawama di kawasan. "Kenyataan yang ada adalah bahwa program untuk menghancurkan Suriah semakin hari semakin mendekati akhirnya berkat resistensi warga Suriah sendiri, tidak lain adalah bagian dari rantai imperialisme Amerika Serikat dan rezim Zionis, serta keinginan sejumlah rezim diktator Arab untuk menghancurkan muqawama di kawasan. Itu semua pada akhirnya bertujuan menghancurkan muqawama Lebanon sehingga muncul sebuah perimbangan kekuatan baru di kawasan," tegas Kandil.

Dalam wawancaranya dengan FNA, Kandil menjelaskan bahwa ini semua merupakan upaya untuk menciptakan kondisi kondusif bagi rezim Israel untuk mencaplok wilayah Palestina dan pendudukan penuh Tepi Barat yang saat ini sudah dipenuhi dengan permukiman Zionis.

Perang di Suriah saat ini antara pasukan pemerintah dan rakyat melawan para antek-antek asing  dan teroris takfiri akan menentukan nasib perimbangan kekuatan di dunia dan kawasan. Tidak diragukan lagi masalah ini juga memiliki dampak besar bagi masa depan independensi dan kedaulatan Lebanon serta kemampuan negara ini dalam menghadapi ancaman konstan rezim Zionis. 
 
Upaya AS dan Israel untuk  menarget muqawama adalah menghancurkan kekuatan dan kemampuan Lebanon di hadapan ancaman rezim Zionis Israel serta mengubah Lebanon menjadi sebuah negara yang lemah. Dengan demikian, kapan pun Israel dapat menduduki wilayah Lebanon. Kandil mengatakan, "Keliru jika ada pihak yang beranggapan bahwa transformasi di Suriah saat ini tidak berpengaruh bagi Lebanon."

Berbicara tentang persenjataan kelompok teroris di Suriah, Kandil menjelaskan, "Media massa Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir membahas tentang munculnya perselisihan dalam pemerintahan Presiden Amerika Barack Obama terkait krisis Suriah. Sejumlah pejabat AS khususnya di Pentagon menentang pengiriman senjata kepada kelompok bersenjata di Suriah dengan alasan kemunculan dan penguatan Al-Qaeda dan Front Al-Nusra di Suriah."

Amerika Serikat sedang kebingungan menyikapi kondisi di Suriah mengingat resistensi rakyat Suriah dan militernya serta rentetan kegagalan para anasir bersenjata dalam menggulingkan pemerintahan Bashar Al-Assad. Kandil menegaskan bahwa Amerika Serikat bohong jika menyatakan "sedang membahas" opsi pengiriman senjata ke kelompok-kelompok teroris di Suriah. Karena pada hakikatnya AS memonitor setiap pengiriman senjata ke Suriah yang dibiayai oleh Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab. Amerika Serikat pula yang mengijinkan Perancis dan Inggris untuk mengirim senjata ke Suriah.

Dalam beberapa waktu terakhir Washington juga menyatakan telah mengalokasikan dana besar untuk mempersenjatai kelompok-kelompok teroris di Suriah. Di antara persenjataan yang dimaksud Amerika Serikat adalah panser baja dan sistem-sistem komunikasi moderen. Ini tidak termasuk upaya yang sedang digulirkan Amerika Serikat membentuk kamar-kamar operasi di Istanbul dan Amman untuk merencanakan, memonitor dan mengorganisir bantuan kepada kelompok teroris di Suriah.

Namun di sisi lain, menurut pakar strategis Lebanon ini, Suriah menunjukkan perlawanan yang hebat dan berbagai keberhasilannya menumpas kelompok-kelompok teroris. Ini pula yang semakin mendorong Amerika Serikat untuk meningkatkan bantuan persenjataan dan latihan militer kepada para teroris agar dapat mengimbangi kekuatan militer Suriah.(IRIB Indonesia/MZ)

Israel Itu Kepala Batu dan Tidak Hormati Kedaulatan Suriah

Johannes Sutanto de Britto 
http://jaringnews.com/internasional/timur-tengah/40180/israel-itu-kepala-batu-dan-tidak-hormati-kedaulatan-suriah
 
Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon (Antara/Jaringnews)
                    
Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon (Antara/Jaringnews)
Serangan udara Israel di Suriah mengancam pecahnya perang regional.
NEW YORK, Jaringnews.com - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengimbau agar semua pihak menahan diri untuk menghindari eskalasi perang saudara di Suriah. Seruan ini disampaikanya karena mengaku prihatin dengan serangan udara Israel ke wilayah Suriah.

Seperti diketahui, Israel melancarkan serangan udara yang melanda tiga lokasi militer di dekat Damaskus. Israel berdalih, serangan tersebut menargetkan transfer senjata Hizbullah yang berbasis Lebanon. Serangan ini memang meningkatkan kemungkinan perang regional yang akan pecah.

"Sekjen mengimbau pada semua pihak untuk tenang dan menahan diri serta bertindak dengan rasa tanggungjawab untuk mencegah eskalasi atas apa yang sudah terjadi diman konflik makin menghancurkan dan sangat berbahaya," kata juru bicara Ban, Martin Nesirky dalam sebuah pernyataan.

Nesirky mengatakan meski PBB tidak dapat secara independen memverifikasi penggerebekan dan tidak memiliki rinciannya, tapi Ban mengungkapkan keprihatinan atas laporan serangan udara di Suriah oleh Angkatan Udara Israel.

"Sekretaris Jenderal mendesak Israel menghormati kedaulatan nasional dan integritas teritorial semua negara di kawasan itu dan patuha pada semua resolusi Dewan Keamanan," kata Nesirky.


Ban Ki Moon pun telah berbicara melalui telepon dengan petinggi Liga Arab Nabil al-Arabi tentang laporan serang Isarel yang memicu kekhawatiran eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang telah menewaskan lebih dari 70.000 orang hanya dalam waktu dua tahun tersebut.


Keduanya pun mengaki prihatin dengan serangan udara Isarel di Suriah karena membahayakan keamanan regional.
(Deb / Deb)
 

21 Ordibehesht, Eropa Barat Resmi Gabung AS Embargo Iran

http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/yzR7/content/21-ordibehesht-eropa-barat-resmi-gabung-as-embargo-iran-1?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_yzR7%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3Dcolumn-2%26p_p_col_count%3D1

 

Eropa Barat Resmi Gabung AS Embargo Iran
 
Menyusul peristiwa penaklukan markas spionase Amerika (Kedubes AS) oleh para mahasiswa pengikut garis Imam (Daneshjouyan Peiruve Khatte Imam) pada 13 Aban 1358 Hs dan setelah gagalnya proyek embargo ekonomi Iran oleh PBB akibat veto satu dari anggota Dewan Keamanan PBB, sebagian negara Eropa memutuskan untuk membatalkan penandatanganan kontrak baru dengan Republik Islam dan dengan sikapnya ini mereka secara resmi mengikuti politik Amerika mengembargo Iran. Keputusan ini dilakukan dalam kondisi dimana pasar bersama Eropa melakukan hal ini secara simbolik dan telah dipolitisasi hanya ingin mendukung Amerika dan mengecam masalah penyanderaan di Kedubes AS. Selain itu, pasar bersama Eropa juga tidak mendominasi ekonomi dunia dan Iran.
 
Dengan demikian, setelah berakhirnya ultimatum pembebasan para sandera dan tidak terselesaikannya masalah ini, masyarakat ekonomi Eropa secara resmi pada 21 Ordibehesht 1359 Hs mengumumkan embargo ekonomi terhadap Iran. Tujuan keputusan ini seperti yang disebutkan dalam pernyataan bersama konferensi 9 negara Eropa hanya ingin mempercepat pembebasan para sandera. Tapi dengan semakin meluasnya aksi embargo ini oleh negara-negara Barat, kondisi ekonomi negara-negara Eropa ini juga memburuk.
 
Selama delapan tahun Perang Pertahanan Suci, Amerika dan negara-negara pasar bersama Eropa semakin mempersempit tekanannya terhadap Iran dan menolak untuk melakukan transaksi langsung dengan Iran. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka menolak untuk menjual dan mengirimkan obat-obatan yang dibutuhkan Iran. Sementara pada saat yang sama, mereka memberikan senjata paling modern dan senjata kimia kepada rezim Baath Irak guna memprovokasi rezim ini melanjutkan perang.
 
Akan tetapi secara bertahap negara-negara Eropa memahami bahwa tekanan Amerika terhadap Iran bukan hanya tidak bermanfaat bagi mereka, tapi kepentingan nasional mereka sudah dikorbankan arogansi Amerika. (IRIB Indonesia)
 

Hamas Tolak Ide PM Qatar




Bersamaan dengan kedatangan Mufti Qatar, Sheikh Yusuf Qaradawi ke Jalur Gaza, salah satu anggota senior Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Mahmoud al-Zahar mengkritik pedas kinerja Perdana Menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim al-Thani beserta delegasinya yang menerima pertukaran wilayah dengan Rezim Zionis Israel.
 
Seperti dilaporkan MNA, al-Zahar besamaan dengan lawatan Sheikh Yusuf Qaradawi ke Gaza bertepatan dengan Hari Nakbah serta berbicara di hadapan mahasiswi universitas Islam Gaza menambahkan, "Saya katakan kepada Bin Jassim bahwa hari ini kami mendengar seluruh omong kosong politik, konsesi gratis dan hibah anda. Kepada anda dan rombongan yang melawat Washington kami tandaskan jika ini adalah sikap dan pandangan anda maka lebih baik anda tidak lagi berbicara soal isu Palestina. Kami lebih berhak dari anda dalam masalah ini dan siap mengorbankan diri serta kami pasti akan menang."
 
Menurut laporan Koran al-Quds al-Arabi, al-Zahar di bagian lain statemennya mengatakan, "Kami tidak akan menukar tanah air kami dengan wilayah yang juga milik kami. Bumi jajahan tahun 1948 adalah milik kami, oleh karena itu kami tidak akan menukar sebagian tanah kami dengan sebagian tanah yang dijajah tahun 1967. Seluruh tanah tersebut milik bangsa Palestina dan kami menolak setiap solusi damai. Di tanah ini hanya pemiliknya yang bakal menempati. Ini adalah asas yang tidak akan berubah." (IRIB Indonesia/MF)
 

Kritik Sekjen Hizbullah terhadap Sikap sejumlah Negara Arab



Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) Sayid Hasan Nasrullah dalam pidato terbarunya (Kamis, 9/5) menyinggung berbagai bahaya yang mengancam cita-cita rakyat Palestina. Ia menilai sikap rezim-rezim Arab dalam membela hak-hak bangsa Palestina sebagai sikap yang hina.
 
Ia mengatakan, rezim-rezim Arab menyikapi masalah Palestina, bangsa Palestina, Masjid al-Aqsha, Baitul Maqdis, dan pengungsi Palestina seperti menyikapi masalah sejarah. Sayid Nasrullah menambahkan, negara-negara Arab tidak memandang masalah ini sebagai sebuah cita-cita dan bersikap seakan-akan mereka berupaya membiarkan cita-citanya itu.

Sekjen Hizbullah menegaskan, rezim Zionis Israel terus melanjutkan penumpasannya terhadap warga Palestina di al-Quds dan baru-baru ini kita menyaksikan penangkapan Mufti al-Quds.

Saat ini muncul kekhawatiran bahwa masuknya pemukim-pemukim Zionis ke Masjid al-Aqsha akan berubah menjadi hal yang biasa. Peristiwa tersebut terjadi ketika bangsa penuh pengorbanan dan terhormat Palestina tengah menghadapi berbagai masalah berat dan tidak mendapat dukungan yang cukup.

Sikap lemah negara-negara Arab dalam merespon gerakan rezim Zionis khususnya penggalian yang terjadi di bawah pelataran Masjid al-Aqsha, penghancuran rumah-rumah warga Palestina di Timur Baitul Maqdis dan pengusiran warga Palestina dari tempat tinggal mereka telah menambah keberanian Israel untuk terus meningkatkan tindakannya itu.

Lebih lanjut Sekjen Hizbullah mengatakan, sikap negara-negara Arab terkait konflik antara Palestina dan rezim Zionis tampaknya seperti mengarah bahwa mereka hari ini tengah menyiapkan keistimewaan terbesar kepada musuh (Israel).

Sayid Nasrullah menegaskan pandangannya itu dan menandaskan, di masa lalu ada pernyataan bahwa jika ada satu batu merusak Masjid al-Aqsha maka dunia Arab akan seperti atau seperti itu. Namun sangat disayangkan hari ini beberapa negara Arab dan bahkan sejumlah pemimpin gerakan Islam mengeluarkan pernyataan yang selaras dengan statemen mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pasca perundingan antara mantan Ketua PLO Yasser Arafat dan mantan Perdana Menteri Rezim Zionis Ehud Barak.

Di bagian lain pidatonya, Sekjen Hizbullah menyinggung gerakan sejumlah negara Arab dalam menyikapi transformasi di kawasan. Ia mengatakan, amat disayangkan sejumlah pemimpin Arab tidak memprioritaskan Masjid al-Aqsha dan pembelaan terhadap tempat suci umat Islam ini, mereka malah memprioritaskan bagaimana menyulut kekerasan dan pembunuhan di Irak, Suriah, Afghanistan dan Pakistan serta mencampakkan Lebanon.

Pernyataan Sayid Nasrullah itu tampaknya menyinggung langkah-langkah anti-Suriah dan Lebanon yang dilakukan oleh berbagai pihak musuh yang didukung oleh negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Qatar.

Suriah telah dilanda kekerasan yang ditimbulkan oleh para teroris yang disponsori oleh Barat, Israel dan sejumlah negara Arab dan kawasan selama lebih dari dua tahun.

Lebanon hingga kini juga menjadi sasaran gerakan dan propaganda sejumlah negara Arab seperti Saudi dan beberapa kelompok politik di negara itu. Beberapa kali negara ini terutama di wilayah utara dibakar oleh api fitnah, namun dengan kewaspadaan pemerintah Beirut api fitnah tersebut dapat dipadamkan.

Sekjen Hizbullah dalam pidatonya kembali memperingatkan ambisi Israel di kawasan dan upaya Tel Aviv untuk merealisasikannya. Ia menuturkan, salah satu tujuan Israel adalah mengeluarkan Suriah dari konflik Palestina.

Menurut Nasrullah, serangan Israel ke Damaskus merupakan upaya untuk memukul Muqawama dan negara-negara yang berada di barisan terdepan dalam melawan Israel. Ia mengatakan, Muqawama akan terus berlanjut dengan dukungan Suriah dan Damaskus tidak akan meletakkan senjata Muqawama bahkan akan terus bergerak di jalur Muqawama dengan lebih kuat dari sebelumnya.

Sekjen Hizbullah menegaskan kembali perlawanan tegas dan tanpa henti terhadap agresi rezim Zionis di kawasan dan menuntut peninjauan ulang sikap negara-negara Arab terhadap konflik Palestina-Israel.

Di bagian lain pidatonya, Sayid Nasrullah mengapresiasi tuntutan parlemen Yordania untuk mengusir duta besar rezim Zionis dari Amman. Ia juga menuntut sikap tegas, kuat dan serius dari negara-negara Arab lainnya terhadap gerakan penjajah al-Quds (Israel). (IRIB Indonesia/RA)
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar