Senin, 25 Mei 2015

ISLAM DAN UMMAT ISLAM... TIMUR TENGAH.. DAN ULAMA2.. SERTA PEMIMPIN2 NEGARA ISLAM.. DI TIMUR TENGAH ITU.. SEPERTINYA... SUDAH LAMA TAK MENGGUNAKAN AJARAN ISLAM DENGAN LURUS DAN KOMPREHENSIF... SECARA SEPENUHNYA.. DAN SEPERTI... LUPA DIRI.. AKAN TUGAS UNTUK MENYELAMATKAN DAN MENSEJAHTERAKAN UMMAT SECARA KAFFAH...??? >> DALIL2 DAN DALIH.. TAFSIR.. SELALU DIJADIKAN BAMPER.. DAN TAMENG2... PEMBENARAN.. SECARA SEPIHAK OLEH MASING2 MEREKA...?? DAN FAKTANYA.. PEPERANGAN SESAMA UMMAT ISLAM DISANA... KONON... LEBIH SERING TERJADI.. DARIPADA DENGAN MUSUH UMAT ISLAM YG SEBENARNYA.... ?? >> KEMANAKAH AKAL SEHAT MEREKA...DAN ILMU AJARAN RASULULLAH SAWW..YG BERAKHLAK MULIA...??..?? ....>>> SANGAT DISAYANGKAN UMMAT ISLAM DI TIMUR TENGAH DAN MINDSET YG SUDAH DIDOKTRIN OLEH BERBAGAI KEKUATAN NEKOLIM DAN ULAMA2... MADE IN KONSEP... NEKOLIM... TELAH MEMBUAT UMMAT ISLAM DI TIMTENG TERSEBUT SUDAH TER-KOTAK2.. DAN ........ KONON... BAHKAN MENJADI ISSUE PERMUSUHAN SESAMA UMMAT ISLAM.. ??>>> ......KONON DENGAN MAZHAB2 FIQH.. YG SEMULA MENJADI KEKAYAAN INTELEKTUAL DALAM MENGAPLIKASI AJARAN ISLAM.. SECARA FLEKSIBLE.. DAN BERDASARKAN PENELITIAN ILMIYAH DAN EMPIRIS... PARA IMAM DAN AHLI2.. USHUL FIQH.. YG SEBENARNYA.. DAN MEILIKI TUJUAN2.. YG BENAR... SECARA AQIDAH... DAN KEILMUAN...... ?? >> KONON KINI MALAHAN DIJADIKAN TUNGGANGAN POLITIK ADU DOMBA YANG MALAHAN... DIJADIKAN POROS... PERSETERUAN.. (WAHABI VS SYIAH..??..)... DEMI... UNTUK MENGAMANKAN KEPENTINGAN DAN JARINGAN BARAT DAN ISRAEL DI SATU SISI.. DAN TENTU KEKUASAAN DAN KESERAKAHAN PIHAK2..YG SEBENARNYA ... YG CENDERUNG... DIMATA AWAM... BAHWA MEREKA2... TDKLAH TERLALU SUNGGUH2 UNTUK MELAKSANAKAN AJARAN AGAMA.. ISLAM YG PADA DASARNYA ... SANGAT TERBUKA-DAN SELALU ADA JALAN SOLUSI... PADA SETIAP KONDISI DAN SITUASI..??... .. DAN MALAH NYATANYA .. SE AKAN DIARAHKAN ... UNTUK MEMPERTAHANKAN DINASTY2.... KEKUASAAN.. YG MASING2.. MEMILIKI JALINAN DAN JARINGAN PENGAMANAN MASING2..YG DIPICU OLEH BERBAGAI SEBAB SYAHWAT KEKUASAAN DAN ..... KONON HISTORIS... SUKU2 DAN MENGGUNAKAN DALIH.... POLITIKING.... ALIRAN2 MAZHAB.. SEBAGAI TUNGGANGAN POLITIK PARA PROXY... YG AKHIRNYA DIGUNAKAN... MEMECAH BELAH UMMAT ISLAM.. DISANA..?? PADAHAL KALAW SAJA TURKI YANG KOKOH DALAM TEKNOLOGI-EKONOMI-DAN JUGA INTELEKTUALISME..NYA.. BISA BERSATU DENGAN MESIR..DKK DAN JUGA SAUDI YG TERKENAL KAYARAYA DAN MEMILIKI KEKUATAN FINANSIAL YG KOKOH.. SERTA SUMBER ALAM YG BAGUS.. DAN IRAN YG MEMILIKI TEKNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN YG BANYAK BISA SEMUANYA BERSATU... DAN UTUH DAN TIDAK MENJADIKAN ISSU MAZHAB DAN ILMU FIQH ITU DIBENTUR2KAN.. SATU DENGAN YANG LAINNYA.. DALAM FAKTANYA MENGAKU.... MASIH SATU UMMAT YAKNI ISLAM...?? >>> MAKA KEKUATAN UMMAT ISLAM ITU AKAN... SANGAT DAHSYAT.. DAN BISA MENYAPU PUNAH DAN MELENYAPKAN ISRAEL (NEGARA JADI2AN) DKK YG DIDUKUNG KEKUATAN IMPERIALIS BARAT ITU...DARI BUMI PALESTINA.. DAN SELURUH TANAH IAR BANGSA ARAB DAN TIMUR TENGAHLAINNYA..(MUTAARIB)... DALAM TEMPO SINGKAT.. ?? >>> SAYANG SEMUA PEMIMPIN DAN ULAMA2 DISANA SUDAH LUPA AKAN TITAH ALLAH SWT DAN RASULULLAH SAWW SECARA LURUS... UNTUK MEMPERSATUKAN DAN MEMPERSAUDARAKAN... UMMAT DAN MENJAGA AJARAN DENGAN KETERBUKAAN DAN KALAU ADA PERBEDAAN DAPAT SEGERA DISELESAIKAN SECARA AJARAN ISLAM.. YG KAYA AKAN KOMPROMI-AKAL SEHAT- SOLUSI...INTELEKTUAL-MUSYAWARAH-MUFAKAT-DAN MASING2.. MENJADI SALING RESPEK .DAN BERSINERGY... . DAN MEMBANGUN PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN SECARA AKHLAKULKARIMAH.. DAN BERADAB BERKEADILAN SOSIAL YG MENYELURUH.. ?? >> .. MAKA KEMAKMURAN DAN KEMENANGAN DAN KEJAYAAN UMMAT ISLAM DI TIMUR TENGAH KHUSUSNYA.. DAN DI SELURUH DUIA.. PADA UMUMNYA.. AKAN TERWUJUD NYATA...>>> IN SYAA ALLAH...>>>Dia mengomentari perang yang dilancarkan Arab Saudi atas Yaman, Islam adalah agama damai, toleransi, dan persaudaraan. Dia menambahkan bahwa Nabi Muhammad Saw dikenal karena rahmat-Nya dan kasih sayang, tetapi tindakan Arab Saudi terhadap Yaman tampaknya telah merusak citra Islam di dunia. “Dengan menginvasi negara Muslim lain, Arab Saudi telah melanggar semua prinsip-prinsip Islam,” tegasnya.....>>> ...“Sementara ini, pasukan AS tidak mengambil tindakan militer langsung di Yaman untuk mendukung upaya ini. Kami membangun perencanaan bersama dengan Arab Saudi untuk mengoordinasikan dukungan militer dan intelijen AS,” kata pernyataan itu...>>Selain itu, Gedung Putih mendesak Syiah Houthi untuk segera menghentikan “aksi militer mereka” dan kembali melakukan dialog politik dengan pemerintah terguling Yaman. ...>>PRESIDEN AS Barack Obama secara resmi menyatakan dukungan logistik dan intelijen kepada operasi militer di Yaman yang dilakukan oleh Gulf Cooperation Council (GCC). Demikian dilansir oleh Gedung Putih, menurut thenewsdoctor, Kamis (26/3/2015) atau sekitar 4 jam lalu....>>

 

Jejak Perang Panjang Saudi di Yaman

 
Arrahmahnews.com – Sejak dimulai pada 26 Maret lalu sempai sekarang operasi militer bersandi “Badai Mematikan” yang dilancarkan Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman telah membombardir berbagai kawasan di Yaman dengan bahan peledak sebanyak lebih dari 600 ton atau hampir setara dengan ledakan seperempat ledakan bom atom yang meluluh lantakkan kota Hiroshima, Jepang.
Selama agresi ini, puluhan warga sipil Yaman menjadi korban keganasan perang yang dikobarkan rezim Al Saud. Namun serang-serangan itu sampai kini belum berhasil menarget Al-Hauthi, yang lebih menyedihkan seranga-serangan itu malah menarget rakyat Yaman yang tak berdosa, tempat-tempat pengungsian, perumahan penduduk, pertokohan, dan masjid.
Dalam kegeramannya Saudi mulai menggunakan senjata-senjata terlarang  terhadap warga sipil Yaman. Bom kimia dan cluster mewarnai pembantai rakyat Yaman yang tak berdaya. Perang kali ini, sebenarnya bukanlah perang baru antara dua negara. Kedua negara ini sudah berkali-kali terlibat perang, berikut sejarah panjang perang Arab Saudi-Yaman;
30 Oktober 2009, kelompok Al-Houthi menduduki pangkalan militer di Jebel al-Dukhan di perbatasan antara Arab Saudi dan Yaman.
6 November 2009, militer Arab Saudi terlibat perang di perang Yaman dengan memasuki wilayah Yaman dan mebombardir posisi pertahanan Al-Houthi. Pesawat F-15 dan Tornado Angkatan Udara Arab Saudi membombardir posisi Al-Houthi di Propinsi Jazan.
Muhammad Abdussalam, Jurubicara Al-Houthi, menyatakan, “Militer Arab Saudi selain menembakkan roket dan peluru artileri, juga menggunakan bom fosfor. Aksi ini dilakukan dengan alasan bahwa instabilitas di Yaman telah menjalar ke dalam negeri Saudi.”

7 November 2009, militer Arab Saudi kalah telak dalam pertempuran darat dengan Al-Houthi. Jubir Al-Houthi menyatakan, “Para pejuang Al-Houthi berhasil memukul mundur pasukan darat dan komando Arab Saudi serta menimbulkan kerugian besar terhadap militer Saudi.”
“Pejuang Al-Houthi juga berhasil menyandera sejumlah pasukan Saudi serta menyita berbagai senjata dan perlengkapan militernya.”

8 November 2009, Saudi mengerahkan armada darat dan udaranya secara bersamaan.
Kelompok Al-Houthi dalam statemennya menyatakan, pesawat tempur Saudi membombardir wilayah Malahit dan desa-desa sekitar, serta menghantam pangkalan militer Ain al-Harra dengan 30 roket. Jet-jet tempur Saudi juga membombardir kawasan Shadaa, al-Hasama,
al-Malahit, dan sejumlah desa lain


ARN00120040015117_Dahsyatnya-Rudal-Scud-Saudi-di-Komplek-Dubes

9 November 2009, pesawat tempur Saudi melanggar zona udara Yaman sebanyak 30 kali serta menyerang wilayah al-Malahit, al-Hasama, Shada, al-Qabas, dan al-Raqi.
9 November 2009, makar kolekfit Arab Saudi, Mesir, dan Kuwait untuk memberantas Al-Houthi.
Presiden Mesir, Hosni Mubarak dalam kontak telpon dengan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, membahas pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan Al-Houthi. Mubarak mendukung Arab Saudi menumpas Al-Houthi.
Pemeritah Kuwait secara resmi menyatakan bahwa angkatan bersenjata negara ini siap membantu militer Arab Saudi memberangus Al-Houthi.

10 November 2009, Al-Houthi menyatakan bahwa para pejuangnya berhasil menguasai sebagian wilayah Qatabir di Propinsi Saada, Yaman, serta merampas seluruh senjata dan perlengkapan logistik dari komplek militer di kawasan tersebut. Qatabir adalah sebuah wilayah utara Propinsi Saada dan termasuk dalam kawasan Jazan yang juga berbatasan dengan Arab Saudi. Ini adalah wilayah ketiga setelah Munaba dan al-Razih yang jatuh ke tangan Al-Houthi.

ARN00120040015112-Arab-Saudi-Lakukan-Kejahatan-Perang 

11 November 2009, pemerintah Yaman menandatangani kerjasama militer dengan Amerika Serikat.
Demi mencegah apa yang diklaim sebagai terorisme dan dalam rangka mewujudkan stabilitas, pemerintah Yaman menandatangani kerjasama militerdengan AS. Kerjasama ini termasuk pertukaran informasi dan pelatihan pasukan, serta persiapan personil militer Yaman.

11 November 2009, Deputi Menteri Pertahanan Arab Saudi: Riyadh melanjutkan serangannya terhadap Al-Houthi.
Amir Khaled bin Sultan menyatakan, negaranya akan membersihkan kawasan perbatasannya dari para pejuang Al-Houthi.
Di pihak lain, Al-Houthi menyebarkan rekaman video bagaimana anak-anak Yaman mengerang kesakitan hingga mati akibat terkena bom fosfor militer Saudi.

11 November 2009, Al-Houthi mengumumkan persyaratannya untuk gencatan senjata.
Jubir Al-Houthi, Muhammad Abdussalam, mengimbau pemerintah Sanaa untuk tidak bersikap rasis terhadap kelompok ini, serta mencegah keterlibatan Arab Saudi dalam perang saudara di pemerintah ini.

12 November 2009, Arab Saudi berencana mewujudkan wilayah terpisah di Yaman.
Pemimpin Al-Houthi, Abdussalam menyatakan, Arab Saudi tengah berupaya mewujudkan sebuah wilayah terpisah di Yaman.

13 November 2009, serangan darat dan udara militer Arab Saudi ke utara Yaman terus berlanjut.
Serangan udara dan darat militer Arab Saudi ke berbagai wilayah di utara Yaman terus berlanjut dan jet-jet tempur Saudi membombardir kawasan al-Malahit, al-Hasama dan berbagai desa yang terbentang di sepanjang perbatasan dengan Arab Saudi.
Penasehat Negara Arab Saudi menyatakan, negaranya mengerahkan armada udara dan artilerinya untuk memisahkan kawasan utara Yaman dengan kawasan lain hingga radius 10 kilometer.

13 November 2009, Arab Saudi merekrut kembali para veteran perangnya untuk ikut membasmi Al-Houthi.
Panglima Pasukan Penjaga Perbatasan Arab Saudi di wilayah Jizan selatan merekrut kembali seluruh veteran perangnya untuk membantu militer Saudi dalam memerangi Al-Houthi.
Pada saat yang sama, pusat komando militer Saudi menginstruksikan seluruh kapal perangnya untuk memblokade perairan di utara Yaman.
Serangan udara militer Saudi tak kunjung berhenti.

14 November 2009, Angkatan Laut Arab Saudi memblokade perairan utara Yaman.
Penasehat Negara Arab Saudi menyatakan, Riyadh memblokade perairan utara Yaman demi mencegah masuknya suplai persenjataan dari Laut Merah.
Menlu Yaman, Abu Bakar Al-Qirbi, dalam wawancaranya dengan koran Al-Ahram terbitan Kairo mengaku bahwa Sanaa memiliki kerjasama erat dengan Amerika Serikat dalam menumpas Al-Houthi.

15 November 2009, Arab Saudi melipat gandakan personilnya dekat perbatasan Yaman.
Sumber militer Arab Saudi dalam wawancara dengan koran trans-regional Al-Sharq Al-Awsat menyatakan, militer Saudi telah mengerahkan tentaranya dalam jumlah besar ke perbatasan dengan Yaman.
Satuan pasukan terjun payung juga dikerahkan untuk membantu operasi penyisiran di kawasan.
Pesawat tempur Saudi membombardir kawasan Al-Malahit, Shada, dan Haidan.

16 November 2009, Arab Saudi mempersempit blokadenya di perairan utara Yaman.
Angkatan Laut Arab Saudi memblokade pelabuhan Midi dengan alasan mencegah penyelundupan senjata. Kapal-kapal perang Saudi berpatroli di sekitar pelabuhan Midi.
Pemerintah Arab Saudi mengklaim para pejuang Al-Houthi mendapatkan suplai senjata yang disusupkan melalui Eritrea.

17 November 2009, serangan udara Saudi semakin sadis.
Dalam sehari, militer Saudi telah menembakkan 40 roket ke wilayah al-Razih, al-Malahit, dan Shada.

18 November 2009, Arab Saudi menempatkan pasukannya di wilayah pegunungan yang berbatasan dengan Yaman.
Televisi Al-Arabia dari perbatasan Yaman melaporkan, bentrokan di wilayah Mashraf telah merembet ke Jebel al-Dukhan.
Sementara itu, militer Arab Saudi yang berada di wilayah konflik dalam kondisi siaga penuh.
Al-Houthi dalam statemennya mengkonfirmasikan penembakan lebih dari 150 roket Arab Saudi ke wilayah utara Yaman. Kelompok ini juga menyebarkan rekaman video korban serangan roket Arab Saudi. Para korban mayoritas anak-anak dan perempuan.

19 November 2009, serangan ydara militer Arab Saudi ke Jebel al-Dukhan.
Al-Houthi mengkonfirmasikan serangan militer Arab Saudi ke pos-pos pertahanan kelompok ini di wilayah Jebel al-Dukhan, Al-Malahit, Sheda dan sejumlah desa.
Al-Houthi juga menyebarkan rekaman video kejahatan tentara Arab Saudi terhadap warga Yaman utara.

20 November 2009, serangan jet tempur Arab Saudi terhadap warga Yaman di wilayah perbatasan berlanjut.
Jet-jet tempur Arab Saudi membombardir wilayah Jebel al-Dukhan dan al-Doud di perbatasan Yaman utara dengan dalih menggempur milisi Al-Houthi.
Serangan udara ini didukung dengan tembakan mortir dan pasukan infantri.

21 November 2009, 84 kali serangan militer Arab Saudi terhadap posisi Al-Houthi.
Al-Houthi menyatakan, sebuah satuan komando Jordania ikut dalam operasi militer di Saada. Operasi tersebut gagal total dan sebagian besar komando Jordania terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi.
Sebuah sumber militer Yaman mengkonfirmasikan dibentuknya “war room” gabungan Yaman dan Arab Saudi guna mencegah bocornya berbagai berita dan fakta perang yang disebarluaskan oleh Al-Houthi.

22 November 2009, sejumlah tentara Arab Saudi disandera Al-Houthi.
Kelompok pejuang Syiah ini menyinggung gerakan maju pasukan Arab Saudi di wilayah Jebel al-Ramih.
Upaya pasukan infantri Arab Saudi menyusup ke wilayah Yaman dihadang oleh 100 pejuang Al-Houthi. Dalam konfrontasi tersebut, militer Saudi menderita kekalahan telak. Selain banyak korban tewas, berbagai persenjataan dan perlengkapan berat juga dirampas oleh pejuang Al-Houthi.

23 November 2009, Al-Houthi memaksa militer Saudi menarik mundur pasukannya.
Gerakan maju militer Saudi ke Yaman berhasil dipatahkan oleh kelompok Al-Houthi dan menyusul kekalahan tersebut, militer Saudi hanya dapat mengerahkan pesawat tempur dan artileri membombardir kawasan Malahit, Shada, al-Haidan, dan al-Razih.

24 November 2009, Arab Saudi bertukar informasi dengan rezim Zionis Israel.
Dalam sebuah kesepakatan dengan perusahaan Israel Amich Sat-pemilik satelit mata-mata-Arab Saudi akan menerima foto-foto posisi Al-Houthi yang diambil dari satelit.
Nahrainnet melaporkan, sejumlah sumber dari Arab Saudi menyebutkan bahwa kontak antara pejabat Saudi dan Israel membahas kerjasama militer menyusul transformasi di Yaman serta mekanisme keterlibatan Saudi dalam perang dengan Al-Houthi, telah berlangsung lama sebelum perang meletus.
Dua pekan sebelum Arab Saudi terjun ke kancah perang di Yaman, perusahaan Israel Amich Sat sepakat menyuplai foto-foto posisi Al-Houthi dari satelit kepada Riyadh dan Sanaa setiap hari.
Di sisi lain, sebuah perusahaan satelit berbasis di Uni Emirat Arab juga membantu operasi teror para pemimpin Al-Houthi.

25 November 2009, militer Saudi kembali gagal menembus wilayah Yaman.
Di wilayah al-Ghawiyah, gerakan maju militer Saudi gagal dan terpaksa mundur ke pangkalannya setelah kehilangan sejumlah panser.

26 November 2009, militer Saudi lancarkan puluhan kali serangan udara.
Dalam lanjutan serangan udara militer Saudi ke berbagai kota dan desa di Yaman, sebuah kamp pengungsi warga Yaman di wilayah Gharib al-Sals, tidak luput dari bombardir pesawat tempur Saudi. Empat anggota keluarga dan seorang lainnya tewas. Serangan jet tempur Saudi ke Propinsi Saad juga menewaskan enam warga.

27 November 2009, tentara Arab Saudi lenyap.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengkonfirmasikan lenyapnya sembilan personilnya dalam kontak senjata dengan Al-Houthi.
Jubir Dephan Arab Saudi memperkirakan bahwa kesembilan tentara itu disandera oleh Al-Houthi.

28 November 2009, Presiden Yaman ingin berunding dengan Al-Houthi.
Setelah pemerintah Yaman berulangkali gagal mengalahkan Al-Houthi, Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh menginginkan perundingan dengan kelompok tersebut.

29 November 2009, serangan Arab Saudi difokuskan ke wilayah al-Razih.
Bombardir pesawat tempur militer Arab Saudi lebih terkonsentrasikan ke wilayah al-Razih.
Helikopter Apahe Saudi menghujani wilayah Jebel al-Dukhan, Jebel al-Ramih, Jebel al-Madood, dan desa-desa sekitar, dengan roket.

30 November 2009, sebuah pesawat pengintai Arab Saudi ditembak jatuh pejuang Al-Houthi.
1 Desember 2009, Arab Saudi gunakan bom berberat ton.
Militer Arab Saudi berusaha memasuki Yaman melalui wilayah al-Shaba dan melintas di samping Jebel al-Ramih. Namun setelah bergerak maju selama satu setengah jam, pasukan Saudi terpaksa mundur setelah mendapat perlawanan hebat dari pejuang Al-Houthi.
Dalam insiden tersebut, militer Saudi menggunakan bom-bom yang beratnya dalam hitungan ton.

2 Desember 2009, Al-Houthi konfirmasikan gerakan maju militer Saudi di wilayah Jebel al-Madood. Setelah satu setengah jam bentrok, wilayah tersebut berubah menjadi kuburan massal bagi tentara Saudi. Militer Saudi mundur total dari kawasan tersebut.
4 Desember 2009, para pejuang Al-Houthi menghancurkan empat tank Arab Saudi.
Amnesti Internasional menyatakan kekhawatirannya atas penggunaan bom fosfor oleh militer Saudi di Yaman.

5 Desember 2009, pesawat tempur Saudi dalam beberapa kali serangan udara, memporak-porandakan wilayah Majz, Talh, Aali Hamidan, dan Sahar. Lahan pertanian dan kebun milik warga rusak dan terbakar.
7 Desember 2009, jet-jet tempur Saudi menyerang wilayah Tahamah tiga kali dengan menggunakan bom tandan (kluster).
9 Desember 2009, satu jet tempur Arab Saudi ditembak jatuh Al-Houthi.
Militer Saudi melancarkan 76 serangan udara yang 30 di antaranya menghantam wialayh Jebel al-Madood dan al-Ghawiyah.
Seorang tokoh opisisi Yaman, meminta seluruh warga Yaman untuk bangkit melawan dalam rangka mencegah berlanjutnya pembunuhan massa terhadap warga oleh tentara Yaman dan Arab Saudi.
Seif Ali al-Washli, juga mengimbau berbagai partai di selatan Yaman untuk bangkit melawan pemerintah dengan menggunakan berbagai sarana yang ada.

12 Desember 2009, Al-Houthi menduduki sebuah pangkalan militer Arab Saudi.
Dalam rangka membalas aksi penembakan terhadap warga sipil, para pejuang Al-Houthi merebut dan menduduki pangkalan militer Arab Saudi al-Jabir.
Seluruh persenjataan dan perlengkapan logistik di pangkalan tersebut dirampas.

13 Desember 2009, serangan udara Arab Saudi ke sebuah kamp pengungsi di Propinsi Saada menewaskan tiga perempuan dan seorang anak.
14 Desember 2009, perang di Yaman memasuki fase baru.
Setelah kemampuan maksimum militer Arab Saudi terbukti gagal menumpas Al-Houthi. Kini Amerika Serikat ikut terjun dalam perang tersebut.
Dalam langkah pertama, militer AS melancarkan 28 kali serangan udara ke Propinsi Saada, Yaman.

14 Desember 2009, menyusul memburuknya kondisi di utara dan selatan Yaman, pembangkangan di militer negara ini terus meningkat, sehingga seorang tentara Yaman secara serampangan menembak satu regu tentara yang mengakibatkan 6 orang tewas dan 6 lainnya cidera.
15 Desember 2009, anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC) di Kuwait mendukung agresi brutal Arab Saudi terhadap para pejuang Al-Houthi Yaman.
16 Desember 2009, akibat serangan jet-jet tempur Amerika ke sebuah markas penjara di Yaman, 120 tahanan tewas dan 44 lainnya cidera.
Jet-jet tempur Amerika juga membombardir dua masjid di kawasan Al-Thalah di Yaman dan merusak sebagian besar bangunan kedua masjid tersebut. Angkatan Udara Amerika ikut terlibat langsung dalam perang di utara Yaman dan menggunakan pelbagai senjata pemusnah massal dan terlarang terhadap warga daerah ini.
17 Desember 2009, pesawat-pesawat tempur Amerika menewaskan dua keluarga Yaman dan menghancurkan rumah-rumah tempat tinggal warga.
18 Desember 2009, jet-jet tempur Arab Saudi membombardir rakyat Yaman dengan bom kimia.
Gerakan Al-Houthi menyatakan Arab Saudi menggunakan senjata terlarang dan banyak warga sipil yang menjadi korban akibat gas beracun yang keluar dari bom-bom tersebut.
Jet-jet tempur Arab Saudi dalam serangan udaranya ke Provinsi Saada di utara Yaman telah menewaskan 54 penduduk sipil, termasuk sejumlah wanita dan anak-anak.
19 Desember 2009, pasca perintah Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh untuk menyelenggarakan perundingan nasional, gerakan Al-Houthi langsung menyerahkan draf usulan penghentian konflik di Yaman.
Berdasaskan usulan ini, pemerintah Arab Saudi harus meminta maaf secara resmi kepada Yaman dan rakyat terkait agresi mereka dan berjanji untuk tidak mencampuri lagi urusan dalam negeri Yaman.
Yahya Al-Houthi menilai syarat kedua perundingan ini adalah kembalinya kedua pihak ke meja perundingan berdasarkan nota kesepakatan Doha. Ia menyatakan, Ali Abdullah Saleh dalam perundingan menyeluruh harus mengikutsertakan kelompok Al-Houthi, kelompok penentang di selatan dan juga kelompok penentang yang dikenal dengan nama “pertemuan koalisi” guna membicarakan sejumlah masalah seperti konsistensi terhadap undang-undang dasaw, kebebasan sosial dan hak asasi manusia, berupaya untuk menyelenggarakan pemilu yang bebas dan jujur, penyusunan undang-undang yang diperlukan, pembentukan komisi independen pemilu, adanya pengawasan internasional selama setahun mendatang dan ratifikasi undang-undang desentralisasi.
19 Desember 2009, militer Arab Saudi melanjutkan agresinya terhadap rakyat Yaman dan menewaskan 54 warga sipil yang kebanyakan berasal dari wanita dan anak-anak.
23 Desember 2009, kelompok Al-Houthi menyatakan penghentian agresi Arab Saudi sebagai syarat keluarnya militer negara ini dari Yaman.
24 Desember 2009, militer Arab Saudi membombardir pelbagai daerah Yaman dengan 412 rudal.
25 Desember 2009, sebagian sumber parlemen Yaman mengkonfirmasikan koordinasi keamanan Amerika dan Arab Saudi terhadap warga Yaman dan menyatakan bahwa militer Yaman sebagai eksekutor dalam sejumlah serangan udaranya terhadap rakyat negara ini. Di hari ini militer Yaman dan Arab Saudi secara bersamaan menyerang kawasan penduduk di Provinsi Saada.
26 Desember 2009, jet-jet tempur Arab Saudi dalam agresinya ke Yaman 18 kali membombardir sejumlah daerah Saada dengan 450 rudal.
27 Desember 2009, Direktur Badan Intelijen Yaman kepada sebuah surat kabar Arab Saudi menyebut pemerintah Yaman mendapat bantuan dari Amerika.
28 Desember 2009, gerakan Al-Houthi menyebut agresi Arab Saudi terhadap warga Syiah Yaman di hari Asyura dan mengumumkan, dalam serangan ini 34 orang tewas termasuk ank-anak dan wanita sementara 4 lainnya cidera.
29 Desember 2009, para pejuang Al-Houthi menjawab aksi pembantaian warga sipil oleh militer Arab Saudi dan berhasil menguasai tidak pangkalan militer Arab Saudi.
30 Desember 2009, gerakan Al-Houthi mengkonfirmasikan kekalahan militer Arab Saudi di 5 posisi dalam konflik senjata di kelompok ini. Pemerintah Yaman berusaha mencegah tersebarnya informasi mengenai perang ini dan melakukan sensor berita ketat, bahkan dua situs yang berafiliasi ke kelompok Al-Houthi dihack.
31 Desember 2009, pesawat-pesawat tempur Arab Saudi 25 kali melanjutkan serangan ke pelbagai kawasan Saada. Sementara aksi unjuk rasa mengutuk agresi Arab Saudi dan militer Yaman terus meningkat. Ribuan orang di kota Hilla, Irak melakukan demonstrasi mengutuk pembantaian orang-orang Syiah Yaman dan menyatakan dukungannya terhadap kelompok Al-Houthi.
3 Januari 2010, Arab Saudi menyerang kawasan utara Yaman dengan artileri, rudal dan serangan udara. Dalam serangan ini saja mereka menembakkan 350 rudal.
5 Januari 2010, dalam kejahatan terbarunya terhadap rakyat Yaman, militer Arab Saudi tidak tanggung-tanggung menembakkan 480 bom cluster. Pemimpin para pejuang Al-Houthi juga menegaskan bahwa perang akan terus dilanjutkan hingga agresi Arab Saudi dan Yaman berakhir. Ditambahkannya, gerakan Al-Houthi punya kesiapan untuk melanjutkan perang masif dan dalam jangka waktu lama.
6 Januari 2010, gerakan Al-Houthi dalam pernyataannya menyinggung berlanjutnya serangan udara, rudal dan darat Arab Saudi terhadap Yaman, sekaligus mengkonfirmasikan kekalahan dan terperangkapnya militer Arab Saudi dalam strategi para pejuang Al-Houthi.
8 Januari 2010, Arab Saudi melanjutkan serangannya dengan 2.500 peluru dan rudal terhadap pelbagai kawasan di Yaman.
10 Januari 2010, seorang pemimpin gerakan Al-Houthi mengisyaratkan aksi-aksi Arab Saudi yang menggunakan orang-orang bayaran Yaman dan mengatakan, Arab Saudi setiap harinya menyerahkan 200 riyal Arab Saudi kepada tentara-tentara Yaman. Militer Arab Saudi juga menembakkan 1.370 rudal dan mortir ke sejumlah daerah di utara Yaman.
11 Januari 2010, gerakan Al-Houthi berhasil menguasai tiga pos militer Yaman.
12 Januari 2010, operasi heliborne militer Arab Saudi di Jebel al-Dukhan mengalami kekalahan dan kegagalan.
13 Januari 2010, serangan jet-jet tempur Arab Saudi ke kamp pengungsi Al-Khazain di Saada yang menyebabkan sejumlah warga tewas. Seorang pejabat Arab Saudi juga menyatakan bahwa dalam konflik bersenjata antara pasukan negaranya dengan para pejuang Al-houthi, 4 tentara Arab Saudi tewas.
15 Januari 2010, para pejuang Al-Houthi menguasai jalan internasional yang menghubungkan Yaman dan Arab Saudi.
16 Januari 2010, pasukan Arab Saudi menembakkan 2.090 rudal ke pelbagai daerah Saada. Para pejuang Al-Houthi berhasil menembak jatuh sebuah helikopter apache milik Arab Saudi di dekat daerah Al-Khuwiyah, Arab Saudi.
17 Januari 2010, jet-jet tempur Arab Saudi menebarkan pengumuman di atas kota-kota Yaman guna melemahkan semangat juang para pejuang Al-Houthi.
18 Januari 2010, militer Arab Saudi menembakkan 3.000 rudal dan mortir ke sejumlah daerah Yaman.
19 Januari 2010, jet-jet tempur Arab Saudi mengubah sebuah acara perkawinan warga menjadi neraka. Dalam sebuah operasi pengemboman di daerah-daerah penduduk di kota Razih di dekat Saada, 16 orang yang sebagian besar berasal dari anak-nak dan wanita tewas. Saat melakukan pengeboman, jet-jet tempur Arab Saudi melepaskan tembakan ke arah kumpulan orang banyak yang tengah mengikuti acara perkawinan. Pengeboman yang dilakukan mendekat zhuhur itu meluluhlantakkan sejumlah bangunan bertingkat. Arab Saudi juga menyerang sejumlah daerah penduduk Yaman dengan bom suara..
20 Januari 2010, bentrokan senjata sengit terjadi antara militer Yaman dan Arab Saudi di satu pihak dan pasukan Al-Houthi di pihak lain di daerah Jebel al-Dukhan. Dalam konfli bersenjata itu para pejuang Al-Houthi berhasil menguasai pangkalan militer di daerah al-Mujadalah.
21 Januari 2010, Militer Arab Saudi mengkonfirmasikan tewasnya 113 personilnya dalam perang dengan milisi Al-Houthi di Yaman Utara.
Salah satu komandan militer Arab Saudi, Ali Zaid Al-Khawaji menyatakan, sejak bentrokan bersenjata pertama kalinya antara militer Arab Saudi dan Al-Houthi pada November 2009 tercatat 113 tentara negara ini tewas. Salah satu korban tewas terdapat seorang perwira tinggi.

23 Januari 2010, Gerilyawan Al-Houthi menyerang markas komando militer Yaman di ‎Saada dengan peluru mortir. Dalam statemennya Al-Houthi menegaskan ‎bahwa gerilyawan juga menyerang front Al-Qet’ah, di ‎kota Ketaf dan berhasil mencegah gerak laju pasukan pemerintah bahkan ‎memukul mundur mereka. Dalam pertempuran di Al Uqab, gerilayawan Al-‎Houthi berhasil menghancurkan tank tentara Yaman. Militer Yaman juga ‎kehilangan tiga tanknya yang hancur di front Al-Jabiri.‎
Menyusul kekalahan tersebut, militer Yaman mengerahkan pesawat-‎pesawat tempur untuk menggempur wilayah permukiman sipil di Saada, ‎Damaj, Al Ammar, Al-Jabiri, Malahith, dan Ghafirah di utara negara itu. 24 Januari 2010, Pejuang Al-Houthi menyatakan militer Saudi melancarkan 18 serangan udara dalam rangkaian serangan baru ke wilayah perbatasan dengan Yaman utara.
Kelompok Al-Houthi menyatakan sedikitnya 300 roket dan peluru mortir ditembakkan ke berbagai desa Propinsi Saada hingga tengah malam.
Jum’at, Al-Houthi menyatakan berhasil memukul mundur pasukan Yaman dan menghancurkan sejumlah tank.

24 Januari 2010, para pejuang Al-Houthi berhasil menghancurkan 76 tank Arab Saudi sejak konflik meletus.
Militer Arab Saudi 15 kali membombardir kawasan Saada yang mengakibatkan tewasnya 34 orang yang kebanyakan berasal dari anak-anak dan wanita.
24 Januari 2010, Seorang pemimpin oposisi Yaman di Kanada menyebut kontradiksi pernyataan pada pejabat tinggi Arab Saudi terkait al-Houthi sebagai bukti bahwa para pejabat Riyadh telah kehilangan akal menghadapi gerilyawan di Yaman utara itu.
Mohammad Al-Bukhaiti, tokoh oposisi Yaman di Kanada mengatakan, Arab Saudi merasa gagal. Apalagi baru-baru ini 20 tentaranya ditemukan tewas di perbatasan dengan Yaman. Menurutnya, kasus al-Houthi harus dibayar mahal oleh Riyadh karena berimbas pada masalah dalam negeri Arab Saudi. Ditegaskannya bahwa pengalaman al-Houthi membuktikan bahwa kekuatan rakyat jika memiliki tekad kuat pasti akan mengukir kesuksesan.
26 Maret 2015,  Sebelumnya Al-Hauthi bersama rakyat Yaman menggulingkan presiden Ali Abdullah Saleh yang memimpin selama 32 tahun. Setelah kejatuhannya Mansyur Abdul Hadi menggantikan presiden Yaman sebelumnya. Namun pemerintahannya yang diharapkan membawa perubahan, malah menjelma menjadi diktator kedua di Yaman setelah Ali Abdullah Saleh, sehingga kemarahan rakyat tidak bisa dibendung lagi.
Al-Hauthi pun mendapat dukungan dari rakyat mengambil alih instana negara dan temapat-tempat penting pemerintahan Yaman. Mansyur Abdul Hadi pun tak lama setelah itu mengundurkan diri sebagai presiden Yaman. Saudi pada tanggal 26 maret 2015 melakukan serangan ke Yaman dengan didukung beberapa negara, dan dengan dalih mengembalikan pemerintah sah Yaman.
Dan hingga detik Anda membaca laporan ini, Arab Saudi masih terus melanjutkan kebengisannya di Yaman. [ARN] 

Rabu, 27 Mei 2015 03:37 
http://indonesian.irib.ir/international/timur-tengah/item/96033-ansarullah-yaman-sambut-konferensi-jenewa 

Ansarullah Yaman Sambut Konferensi Jenewa


Hussein al-Azzi, anggota gerakan rakyat Ansarullah Yaman menyambut Konferensi Jenewa untuk mencari solusi bagi krisis di negara ini.


Al-Azzi yang juga menjabat ketua hubungan luar negeri Ansarullah Yaman dalam wawancaranya dengan Koran al-Akhbar, Lebanon mengatakan, gerakan rakyat ini akan hadir di Konferensi Jenewa yang digelar berdasarkan hasil Dialog Nasional dan kesepakatan damai.

Ia menambahkan, dialog dalam pandangan Ansarullah merupakan nilai kemanusiaan dan peradaban.

Sementara itu, Sadiq Abu Shawareb, anggota komisi tinggi revolusi Yaman dalam wawancaranya dengan televisi al-Hurra menanaskan, agresi Arab Saudi ke Yaman tidak menghasilkan keuntungan apa pun, karena realita yang ada di Yaman adalah gerakan rakyat menentang tokoh, anasir yang rusak dan kekuatan yang selalu kalah selama lebih dari 30 tahun.

Ia menekankan, tokoh dan kekuatan yang rusak adalah antek-antek Arab Saudi dan rezim Al Saud menguasai Yaman serta pemerintah Sanaa.

Berita lainnya dari Yaman menyebutkan, tokoh-tokoh wilayah Jabal Sabir dalam pertemuannya menyatakan dukungan mereka terhadap militer dan pasukan rakyat. Mereka juga mengungkapkan penentangannya atas agresi AS dan rezim Al Saud serta mengaskan dukukungannya terhadap militer dan komite rakyat.

Tokoh-tokoh Jabal Sabir di pertemuan ini ketika bertemu dengan perwakilan militer dan komite rakyat menekankan urgensitas pengokohan persatuan serta menentang langkah-langkah yang merusak stabilitas di Provinsi Taiz, selatan Yaman.

Para tokoh ini juga mengutuk aksi-aksi destruktif dan provokasi antek-antek Arab Saudi serta menekankan komitme menjaga kawasan mereka. (IRIB Indonesia/MF)


Ulama Sunni Mengutuk Agresi Saudi dI Yaman 

http://arrahmahnews.com/2015/05/17/ulama-sunni-mengutuk-agresi-saudi-di-yaman/

ARN0012004001511130_ULAMA_SUNNI_MENGUTUK_AGRESI_SAUDI_DI_YAMAN 

Arrahmahnews.com – Syaikh al-Zahir Ja’id, sekretaris jenderal Front Aksi Islam Lebanon mengatakan bahwa pembunuhan orang tak bersalah di bulan apapun adalah dosa besar, tetapi yang melakukan kekejaman tersebut selama empat bulan suci dan tanpa alasan yang dibenarkan tidak dapat diterima , ia menyatakan pandangan ini dalam sebuah wawancara dengan Rasa News Agency.

Syaikh al-Ja’id menambahkan meskipun klaim mereka sebagai “Custodians of the Two Holy Shrines” pembunuhan orang-orang Yaman oleh House of Saud menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati bulan suci dan bahwa mereka mengabaikan perintah-perintah Allah. 
Dia mengomentari perang yang dilancarkan Arab Saudi atas Yaman, Islam adalah agama damai, toleransi, dan persaudaraan. Dia menambahkan bahwa Nabi Muhammad Saw dikenal karena rahmat-Nya dan kasih sayang, tetapi tindakan Arab Saudi terhadap Yaman tampaknya telah merusak citra Islam di dunia. “Dengan menginvasi negara Muslim lain, Arab Saudi telah melanggar semua prinsip-prinsip Islam,” tegasnya.
Sarjana Lebanon ini, menyatakan bahwa klaim Saudi bahwa dua tempat suci di Makkah dan Madinah berada dalam ancaman “probable attacks” adalah palsu. Arab Saudi telah menabuh perang dengan kelompok perlawanan Islam Yaman (Houthi), tetapi tindakan mereka hanya menyebabkan kematian ribuan orang tak berdosa di Yaman, sementara klaim dan alasan mereka sia-sia dan dusta belaka.
“Klaim bahwa tempat suci berada dalam ancaman Ansarullah didasarkan pada ideologi ekstremis yang bersumber pada wahabisme, yang diciptakan oleh House of Saud melalui propaganda teologi palsu dan tindakan tak berdasar dan tak berarti,” jelas Syaikh al-Ja’id.
“Klaim Saudi bahwa tempat suci berada dalam ancaman Ansarullah tidak hanya sekedar propaganda, bahkan merusak rukun Islam itu sendiri dengan menyajikan Islam sebagai agama kekerasan dan kasar di mata masyarakat dunia,” tegasnya.
Syaikh al-Ja’id menambahkan bahwa klaim Arab Saudi menyerang Ansarullah tidak berdasar karena mereka telah melancarkan perang terhadap rakyat Yaman dan menargetkan infrastruktur negara miskin itu, dan semakin menyulitkan kehidupan masyarakat Yaman.
Kongres AS menyebutnya “proyek kolonial” untuk membagi Irak menjadi tiga negara merdeka, bahwa rencana ini bukan hal yang baru dan mereka tidak hanya berusaha untuk membagi Irak, tapi seluruh wilayah dan semua negara-negara Islam atas dasar Tujuan kolonialis mereka.
Mereka berencana untuk membuat perselisihan dan perpecahan demi keuntungan mereka sendiri. Seperti yang terlihat di Libya, rakyat Libya tidak memiliki perbedaan agama, tetapi karena telah disetting dengan pembagian wilayah, mereka terjebak pada konflik serius saat ini.
Sekretaris Jenderal Front Aksi Islam menguraikan peran penting ulama di Lebanon dalam meredam konflik sektarian. Dia menekankan bahwa para ulama, baik ustad, cendikiawan, dan akademisi sekuler tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi kejahatan Arab Saudi di Yaman. Baca Lebanon bersatu melawan ekstrimisme
Dia menambahkan bahwa tugas seorang ulama adalah mengungkap kejahatan Saudi dalam agresinya ke Yaman. Menyadarkan semua pihak bahwa apa yang dilakukan Saudi di Yaman saat ini, berbahaya dan mengancam persatuan kaum muslimin dan lebih menguntungkan Zionis. [ARN] 



Analisa peta politik revolusi Suriah dan tangan-tangan tersembunyi yang bermain di belakang Layar
Muhib Al-Majdi Rabu, 23 Rajab 1433 H / 13 Juni 2012 06:03
http://www.arrahmah.com/read/2012/06/13/20888-analisa-peta-politik-revolusi-suriah-dan-tangan-tangan-tersembunyi-yang-bermain-di-belakang-layar.html

Analisa peta politik revolusi Suriah dan tangan-tangan tersembunyi yang bermain di belakang Layar
Ilustrasi - Analisa peta politik revolusi Suriah dan tangan-tangan tersembunyi yang bermain di belakang Layar
(Arrahmah.com) – Revolusi muslim sunni melawan rezim Nushairiyah Suriah terus berjalan walau pembantaian demi pembantaian keji dilakukan oleh militer rezim Asad yang didukung oleh Syiah Iran, Syiah Lebanon, Syiah Irak dan komunis Rusia.
Negara-negara salibis Barat dan rezim-rezim Arab boneka Barat di kawasan Timur Tengah juga berkepentingan dengan konflik di Suriah. Mereka ingin memastikan tumbangnya rezim Suriah tidak mengganggu eksistensi negara zionis Yahudi dan tidak menyebabkan tegaknya daulah Islamiyah yang menerapkan syariat Islam di Suriah.
Sementara bagi umat Islam Suriah, tumbangnya rezim Nushairiyah dan penegakan pemerintahan muslim sunni yang menerapkan syariat Islam adalah harga mati. Mujahidin dari berbagai kelompok saat ini berjihad di garis depan demi membela rakyat muslim Suriah dan meruntuhkan rezim Nushairiyah.
Salah satu kelompok jihad di Palestina, Tanzhim Fatah Al-Islam, menurunkan analisa politik dan militer seputar masa depan revolusi rakyat muslim sunni di Suriah. Berikut ini terjemahan lengkap analisa tersebut.
***
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Divisi Politik Gerakan Fatah Al-Islam
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Analisa Politik Tentang Revolusi Suriah dan Pertarungan Tangan-tangan Tersembunyi
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada pemimpin seluruh utusan Allah, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya. Wa ba’du…

(note: arab springs melanda Libya-Tunisia-Suriah-Mesir...?? Tetapi kenapa tidak kepada Saudi Arabia-Kuwait-Bahrain yg lebih tidak demokrasi dibanding yang lainnya..??)
 
Angin topan revolusi Suriah hampir memasuki sudah mendekati tahun pertamanya dan skalanya selalu meningkat dan terus berlanjut, sementara rezim Suriah terus melawan terpaan angin topan itu dengan struktur pemerintahannya yang masih baku tanpa mengalami perubahan yang bisa disebutkan.
Revolusi Suriah berawal dengan mengusung slogan menumbangkan rezim Suriah dan mengembalikan kebebasan serta kehormatan. Sementara itu rezim Suriah mulai memberangus secara biadab revolusi tersebut dengan cara memainkan unsur golongan, mengancam kemungkinan terjadinya perang saudara dan perang golongan yang mungkin terjadi di kawasan itu. Nampaknya rezim Suriah menyadari bahwa serangan militernya terhadap rakyat hanya akan berakhir dengan kegagalan, sehingga rezim Suriah ingin mengamankan wilayah-wilayah milik golongan Nushairiyah. Dengan harapan tetap bisa mempertahankan negara Nushairiyah melalui peperangan antara golongan Nushairiyah dan golongan Muslim Sunni.

Basyar Assad


Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa rezim Suriah bodoh karena menabuh genderang atas hal ini melalui pernyataan Batsinah Sha’ban, juru bicara kelompok Nushairiyah. Namun orang yang mengikuti jalannya revolusi Suriah akan sepenuhnya mengetahui bahwa dukungan rezim Suriah terhadap pernyataan itu bukanlah sebuah kesia-siaan. Justru karena rezim Suriah memerlukan hal itu dan rezim Suriah telah mempersiapkannya sebelumnya agar mampu mengumpulkan berbagai kelompok dan golongan minoritas dalam tentara yang melayanki kepentingan-kepentingan rezim Suriah. Sebab rezim Suriah mengaitkan kesudahan nasib kelompok dan golongan minoritas dengan kesudahan nasib rezim Suriah sendiri. Rezim Suriah mempergunakan di satu sisi mempergunakan agen-agennya yang terus berkoar-koar dari dalam kelompok-kelompok minoritas ini, dan di sisi lain rezim Suriah mengetahui bahwa pada akhirnya, cepat atau lambat, muslim sunni yang merupakan kelompok mayoritas di Suriah akan lepas dari tangannya.
Rakyat Suriah dari seluruh elemen telah keluar untuk menumbangkan rezim Suriah. Namun milisi Syiah Shabihah, kelompok-kelompok dan kaki tangan-kaki tangan loyalis rezim Suriah yang mengaku berasal dari kelompok-kelompok revolusi baik yang berasal dari dalam Suriah maupun luar Suriah telah sukses menjadikan jalannya revolusi  mengarah kepada revolusi golongan (muslim sunni) disertai slogan-slogan menumbangkan rezim Suriah.
Dengan demikian rezim Nushairiyah Suriah yang licik sukses merealisasikan langkah pertama yang diinginkannya, yaitu mempertahankan anggota kelompok-kelompok minoritas berada dalam genggamannya dan berada dalam tentaranya; setelah rezim Suriah meraih kesuksesan besar dalam menanamkan rasa takut kepada kelompok muslim sunni dalam jiwa kelompok-kelompok minoritas tersebut. Barangkali pembelotan dari tentara nasional yang hanya dilakukan oleh tentara muslim sunni lantas membuat kelompok Tentara Kebebasan Suriah menguatkan analisa ini.
Sambutan yang sangat cerdik dari rezim Nushairiyah Suriah dan para loyalisnya ini membuat kagum kekuatan internasional, baik kekuatan kapitalis maupun sosialis, sekaligus mengingatkan kedua kekuatan internasional tersebut atas beberapa hal yang bisa mereka manfaatkan jika revolusi Suriah berubah menjadi perang antar kelompok.
Oleh karenanya, mendorong revolusi Suriah menjadi perang antar kelompok menjadi sebuah kebutuhan bagi dua kekuatan internasional ini, meskipun pandangan militer kekuatan kapitalis Barat dan sosialis Timur berbeda atas persoalan revolusi Suriah. Kekuatan Barat pimpinan Amerika memandang permasalahan itu dari sudut pandang hegemoni rezim kelompok Nushairiyah Suriah atas salah satu kawasan baru Timur Tengah. Sementara kekuatan Timur pimpinan Rusia dan Cina memandang revolusi Suriah jika berubah menjadi perang antar kelompok dari sudut pandang melindungi pengaruh-pengaruh dan kepentingan-kepentingan keduanya, bahkan boleh jadi dari sudut pandang ‘saya ada atau saya tidak ada’ karena hegemoni Barat atas kawasan itu berarti berakhirnya pengaruh Rusia di sana.

Di antara keuntungan-keuntungan yang bisa dipetik oleh Barat adalah:


  1. Keamanan eksistensi negara zionis Yahudi yang tengah terancam dan kemampuan untuk memukul balik ancaman itu serta membangun dinding penghalang yang tinggi untuk membendung gelombang ancaman yang snagat berbahaya tersebut. Sebab, peperangan antar kelompok di Suriah akan menguras habis kekuatan kedua belah pihak yang berperang dan memecah-belah negara. Hal itu akan menyebabkan negara zionis Yahudi menduduki singgasana kekuatan di kawasan Timur Tengah.
  2. Jaminan revolusi Suriah tidak merembet lebih jauh dari keadaannya saat ini, karena bangsa-bangsa Arab lainnya akan berpikir seribu kali sebelum melakukan revolusi terhadap rezim-rezim pemerintahannya, karena takut mengalami peperangan yang serupa dengan perang di Suriah. Hal ini membuat pemerintahan negara-negara Arab mendukung perang antar golongan di Suriah ini dan kekuatan Barat akan mendapat manfaat dari pemerintahan negara-negara Arab yang menjadi kacung-kacung Barat.
  3. Membagi-bagi wilayah yang telah terbagi-bagi adalah salah satu poin terpenting planning Timur Tengah Baru. Perang antar kelompok apapun akan membuat AS bisa menghemat dan mempercepat banyak jalan demi merealisasikan planning jahat tersebut.
  4. Perang antar kelompok biasanya berlangsung dalam waktu yang lama. Dengan demikian kawasan itu akan menjadi pasar besar penjualan senjata yang akan memakmurkan ekonomi Barat, yang tengah terperosok jatuh, dengan mengorbankan bangsa-bangsa muslim.
  5. Semua negara yang berbatasan langsung dengan Suriah adalah negara-negara sekutu Barat. Otomatis negara-negara tersebut akan mendukung planning Barat dan ‘menyembelih’ peperangan demi mengamankan planning Barat. Hal ini menginterpretasikan sikap Liga Arab yang mengulur-ulur solusi apapun untuk krisis Suriah, karena Liga Arab berharap terjadi dinding tertutup (jalan buntu) sehingga memaksa Suriah terpeleset dalam perang antar kelompok.
  6. Perang antar kelompok memberikan pihak kapitalis kesempatan untuk ‘cuci gudang” anggaran perang melawan pihak sosialis, karena perang tersebut menjadi ajang pertempuran ‘perwakilan’ yang sangat menentukan.
  7.  Jika perang antar kelompok di Suriah merembet ke negara-negara Arab lainnya, maka proyek Timur Tengah Baru telah tercapai secara sempurna dalam pandangan AS.

Amerika dan Rusia

Di antara keuntungan yang bisa dipetik oleh kekuatan Timur Sosialis:
  1. Rusia mengetahui bahwa tumbangnya rezim Nushairiyah Suriah akan menyebabkan Rusia dan di belakangnya pihak Timur kehilangan sekutu terbesar dan pasar senjata terbesar bagi mereka di kawasan Timur Tengah. Rusia dan kekuatan Timur akan kehilangan salah satu kartu penting untuk menekan Barat karena rezim Suriah selama ini menguasai bagian kawasan yang terpisah dan menjamin keamanan eksistensi negara zionis Yahudi. Oleh karena itu Rusia menganggap sangat perlu terjadinya perang antar kelompok yang membuat Suriah terbagi-bagi, agar Rusia tetap memiliki sekutu di kawasan Timur Tengah.
  2. Pihak Timur Sosialis juga memerlukan kesempatan untuk menggenjot anggaran melawan Barat, terutama pada masa-masa terakhir ini di mana terjadi beberapa konflik antara kedua belah pihak.
  3. Iran sebagai sekutu pihak Timur Sosialis memerlukan Suriah agar terus dikuasai oleh rezim Nushairiyah yang loyal kepada Rusia. Rezim Nushairiyah Suriah merupakan sayap kekuatan negara Syiah Iran guna mengancam keamanan negara zionis Yahudi. Jika rezim Nushairiyah Suriah tumbang, maka Iran kehilangan sayap untuk mengancam negara zionis Yahudi, dan hal itu akan mempercepat serangan (Barat atau zionis Yahudi) terhadap proyek senjata nuklir Iran.
  4. Perang antar kelompok membuka pasar perdagangan senjata bagi Rusia dan Iran, sebab perang seperti itu akan menghabiskan senjata dalam jumlah yang sangat besar.
  5. Wilayah Suriah akan dibagi-bagi antara sekutu pihak Timur Sosialis dengan musuh, yaitu pihak Barat. Artinya kekayaan negara itu akan dibagi antara pihak kapitalis Barat dan sosialis Timur.
Rusia dan Cina telah mengetahui sepenuhnya urgensi perang seperti ini, sehingga mereka bekerja untuk memperpanjang usia rezim Suriah. Sebab tumbangnya rezim Suriah akan mencerai-beraikan ‘mimpi-mimpi’ Rusia dan Cina. Maka Rusia dan Cina menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk menghalangi sanksi internasional apapun yang akan dijatuhkan kepada rezim Nushairiyah Suriah. Sikap Rusia dan Cina itu secara lahiriah memang membuat AS dan Barat tidak senang, namun diam-diam sikap itu menggembirakan AS dan Barat karena panjang usia rezim Nushairiyah Suriah juga menjadi tujuan mereka demi merealisasikan planning jahat mereka. Jadi pandangan kedua belah pihak sama tentang urgensi menyeret Suriah kepada peperangan antar kelompok dengan mempertahankan rezim Nushairiyah selama mungkin.
Nampak sekali bahwa pihak sosialis Timur mendukung kelompok Rafidhah (rezim Nushairiyah Suriah, milisi Syiah Shabihah dan milisi Syiah Hizbul Lata Lebanon, pent) dan mempersenjatai mereka secara lebih luas lagi. Keteguhan rezim Suriah, para pejabatnya dan sekutunya di Iran, Irak, dan Lebanon di atas satu sikap hanyalah bukti mereka yakin  bahwa pihak sosialis Timur tidak akan membiarkan mereka berperang sendirian dan menyerahkan ‘perisai’nya untuk mereka pergunakan.
Sebaliknya, pihak Barat akan mendukung pembantu-pembantunya dari kelompok Sunni untuk menghadapi kelompok Rafidhah. Namun pihak Barat kehilangan pihak yang siap menerjuni kancah peperangan melawan sekutu-sekutu Rusia dan Cina. Maka pihak Barat membuat Dewan Peralihan Nasional Suriah. Pihak Barat juga menyelesaikan masalah kelemahan dan tiadanya pengaruh Dewan Peralihan terhadap realita di lapangan dengan cara menekan Tentara Kebebasan Suriah dan mengaitkan dukungan kepada Tentara Kebebasan dengan kesiapan Tentara Kebebasan untuk tunduk di bawah bendera Dewan Peralihan Nasional. Dan inilah yang saat ini terjadi.
Kedua belah pihak semakin perlu untuk menarik kawasan Suriah kepada peperangan ‘lewat perantaraan’ ini pada waktu-waktu terakhir ini karena tebalnya ‘file-file’ yang menggantung di antara kedua belah pihak. Sikap AS dan Barat yang mendukung Taiwan, menerapkan banyak persyaratan bagi barang-barang ekspor dari Cina, dan menuntut Cina untuk menaikkan harga mata uangnya, belum lagi niat jahat AS terhadap Korea Utara, telah membuat Cina tidak bisa tinggal diam. Tekanan AS dan Barat terhadap Iran dan penempatan rudal-rudal AS di Eropa tanpa mengindahkan kepentingan-kepentingan Rusia telah membuat ‘beruang’ Rusia terbangun dari tidur musim dinginnya akibat ‘asap’ yang ditimbulkan dari bawah ‘salju’ Moskow.
Intinya, kekuatan-kekuatan besar yang bertarung tidak siap jika suasananya berubah menjadi kancah peperangan yang bisa saja berkembang menjadi perang nuklir. Maka kekuatan-kekuatan besar tersebut membuat kesepakatan dengan rezim Nushairiyah Suriah yang telah menghadiahkan di atas nampan emas negeri Suriah kepada mereka agar mereka bisa menjadikan sebagian wilayah Suriah sebagai ajang pertempuran yang telah mereka tunggu-tunggu.
Kelompok Nushairiyah menginginkan kembali sebuah negara Nushairiyah jika mereka kehilangan kekuasaan atas Negara Suriah. Secara sederhana, kesepakatan ketiga belah pihak tersebut adalah pihak kapitalis Barat member tenggang waktu lebih lama kepada rezim Nushairiyah Suriah. Pihak komunis Timur akan mendukung rezim Nushairiyah Suriah. Sementara rezim Nushairiyah Suriah akan menjadikan revolusi rakyat sebagai perang antar kelompok (Nushairiyah-Syiah melawan ahlus sunnah) yang dengannya mereka bisa mendirikan sebuah negara Nushairiyah di daerah-daerah yang dikuasai oleh kelompok Nushairiyah, yaitu pegunungan Alawiyin dari wilayah Akar di Suriah Selatan sampai pegunungan Thurus di Suriah Utara serta seluruh wilayah pantai Suriah.
Sungguh sebuah kekeliruan jika kita menganggap bahwa pergerakan Kapal Induk Rusia menuju pelabuhan Tharsus dan ancaman para pejabat Rusia terhadap Barat dan Amerika dari sikap mengabaikan kepentingan-kepentingan Rusia adalah bertujuan untuk memancing kemarahan Barat. Masalahnya lebih besar dari itu semua. Rusia, misalnya, rela menanggung kerugian dari dilengserkannya Moammar Qaddafi, tanpa Rusia mengirimkan kapal induknya ke Tripoli, Libia. Realitanya, Suriah dikelilingi oleh rezim-rezim yang mendukung rezim Suriah, berbeda halnya dengan Libia yang dikelilingi oleh negara-negara di mana revolusi rakyat meraih kemenangan dan rezim-rezimnya memusuhi rezim Qaddafi.
Kajian terhadap sejarah pertarungan negara-negara besar sejak awal abad 20 M membuat kita menarik kesimpulan apa yang mungkin terjadi di Suriah jika revolusi Suriah berubah menjadi perang antar kelompok. Sejak lama negara-negara Arab pasca runtuhnya khilafah Utsmaniyah menjadi ajang peperangan di antara negara-negara besar. Terutama setelah Perang Dunia Kedua, sebab kawasan Arab sebelum perang dunia kedua berada dalam kekuasaan penjajah Barat semata dan saat itu pihak komunis Timur belum memiliki eksistensi yang bisa disebutkan di kawasan tersebut.
Oleh karenanya Uni Soviet berusaha mencari tempat berpijak walau sempit agar setelahnya mampu melebarkan sayap dan menguasai kawasan Timur Tengah saat kekuatan Barat meninggalkan kawasan tersebut. Uni Soviet pun segera mendukung eksistensi negara zionis dan mendukungnya dengan segala bentuk dukungan, karena menginginkan posisi penting di kawasan itu. Memang benar negara zionis Yahudi dilahirkan oleh rahim Barat, namun bidan yang mengeluarkannya ke kehidupan alam nyata adalah Uni Soviet dengan membuka pintu migrasi ke Palestina dan mengakui secara resmi negara zionis Yahudi di Persatuan Bangsa-Bangsa agar mampu melindunginya. Uni Soviet termasuk negara pertama yang mengakui eksistensi negara zionis Yahudi yang dinamakan Israel itu.
Hanyasaja keberpihakan zionis Yahudi kepada pihak Barat menghalangi kesuksesan planning pihak sosialis Timur di kawasan Timur Tengah. Sampai akhirnya muncul mendiang jagal Jamal Abdun Nashir dengan revolusi militernya, nasionalisasi terusan Sues, dan keberpihakannya kepada pihak sosialis Timur demi mencari bantuan pihak Timur.  Pada saat itulah Uni Soviet mengulurkan bantuan kepada Abdun Nashir.  Arah revolusi Abdun Nashir yang menginduk kepada sosialis Timur membuat Uni Soviet memiliki peluang emas untuk mengembangkan sayap kekuasaannya melalui pintu gerbang Mesir, negara terbesar di kawasan Timur Tengah.
Uni Soviet memberikan bantuan secara total kepada Abdun Nashir, sampai-sampai Uni Soviet mengancam akan menghantam Paris dan London dengan senjata atom jika keduanya tidak menghentikan serangan terhadap Mesir pada masa berlangsungnya serangan segitiga (Israel-Inggris-Prancis) terhadap Mesir tahun 1956 M. Uni Soviet juga mengendorkan hubungan eratnya dengan negara zionis Yahudi dengan menjaga kemungkinan tetap bisa memperbaiki hubungan tersebut.
Setelah terjadi revolusi militer Jamal Abdun Nashir, kemunduran kekuatan penjajah Barat setelah perang dunia kedua, dan banyak negara Arab yang baru saja meraih ‘kemerdekaan’ condong kepada blok Uni Soviet dan sosialisme, maka pihak sosialis/komunis Timur mulai menjadi saingan sesungguhnya bagi blok kapitalis Barat di kawasan Arab. Sejak itu kawasan Arab menjadi ajang perebutan pengaruh dan ‘cuci gudang’ anggaran antara kedua blok selama masa Perang Dingin yang merupakan kelanjutan dari perang dunia kedua.
Masa perang dingin antara kedua blok di negara-negara Arab terbagi menjadi dua periode:
a. Periode sebelum runtuhnya Uni Soviet, diwarnai dengan banyak pertarungan ‘secara perwakilan’ antara kedua blok.  
b. Periode setelah runtuhnya Uni Soviet, dimana pertarungan terbatas antara blok kapitalis Barat melawan blok Rusia —sebagai pewaris Uni Soviet— dan sekutunya, Cina.
Sebelum runtuh, Uni Soviet memihak Mesir dalam perang 1956 M melawan blok Barat. Uni Soviet juga memihak Arab dalam kekalahan perang 1967 M melawan Israel dan Barat. Pada tahun 1967 M itu juga, Uni Soviet mendukung revolusi Yaman melawan Inggris. Pada perang 1973 M, Uni Soviet memihak Arab saat Barat memihak zionis Yahudi. Hal yang sama dilakukan oleh Uni Soviet saat zionis Yahudi melakukan invasi militer terhadap Lebanon pada tahun 1982 M.
Setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991 M, Rusia sebagai pewarisnya memihak Irak dalam perang Teluk melawan pasukan multinasional pimpinan AS. Pada tahun 2003 M, Uni Soviet menentang invasi militer Barat pimpinan AS terhadap rezim Shadam Husain. Perang ‘melalui perwakilan’ yang terakhir terjadi di kawasan Timur Tengah adalah perang antara kelompok Hizbullah (baca: Hizbul Lata, pent) Lebanon sekutu blok Timur melawan zionis Yahudi sekutu blok Barat.
Dalam seluruh perang ‘melalui wakil’ yang terjadi di kawasan Timur Tengah, pelakunya adalah bangsa Arab sekutu blok Timur melawan zionis Yahudi sekutu blok Barat, kecuali perang AS atas Irak yang dilakukan oleh AS langsung. Persekutuan Uni Soviet dengan bangsa Barat sebenarnya bukan didasari atas kecintaan kepada bangsa Arab dan kebencian kepada zionis Yahudi, melainkan semata-mata untuk merealisasikan ambisi-ambisi dan kepentingan-kepentingan Uni Soviet.
Jika kita sedikit menarik memori kita ke belakang, kepada perang Korea 1950 M, perang Vietnam 1956 M, krisis Kuba 1962 M dan perang Afghanistan 1979 M, plus peperangan-peperangan antara kedua blok di kawasan Timur Tengah, maka kita melihat dengan jelas bahwa peperangan antara bangsa-bangsa biasanya berakhir dengan kesepakatan pembagian wilayah dan kekuasaan antara kedua belah blok dan sekutunya yang berperang di atas jutaan manusia yang tewas. Kedua blok memberikan dukungan politik dan militer, sementara rakyat mengorbankan nyawa, harta, dan negara mereka sebagai harga dari dukungan politik dan militer tersebut.
Inilah hal yang akan terjadi di Suriah jika konflik berubah menjadi perang antar kelompok. Terlebih berlabuhnya Kapal Induk Rusia di pelabuhan Tarsus mengingatkan kita dengan perang Vietnam, di mana kapal Induk Uni Soviet memberikan dukungan kepada sekutunya, Vietnam Utara berdekatan dengan kapal induk Amerika Serikat yang juga memberikan dukungan kepada sekutunya, Vietnam Selatan. Kami ingin mengingatkan bahwa kami sengaja memaparkan cukup panjang tentang sejarah peperangan pada masa di kawasan ini, supaya kita bisa memahami dan mengerti dengan baik perjalanan peristiwa dan alur sejarah, agar kita bisa memetik pelajaran darinya.
Pada peperangan-peperangan ‘melalui wakil’ yang telah lalu selalu terjadi perimbangan dengan terbaginya perang antara pihak utara dan selatan atau Arab sekutu komunis Timur dengan zionis Yahudi sekutu Barat; dengan kawasan pertempuran yang terbatas.
Adapun peperangan saat ini perimbangan perang tidak seperti perimbangan pada peperangan-peperangan lain, karena kekuatan internasional menginginkan peperangan ini sebagai peperangan agama antara Ahlus sunnah dan Rafidhah. Adapaun kawasan pertempurannya terbuka lebar, sebab dalam semua negara Islam termasuk di dalamnya kawasan semenanjung Arab, terdapat kelompok Rafidhah dan ahlus sunnah.
Dunia internasional, terkhusus Barat, mengetahui sepenuhnya pengertian perang agama. Perang agama biasanya berlangsung sengit dalam jangka waktu yang panjang, dan meninggalkan dendam dalam jiwa melebihi segala bentuk peperangan lainnya. Pada tahun 1618 M meletus peperangan agama antara pemeluk Katolik dan Protestan sehingga merobek-robek bangsa Eropa. Perang itu dikenal dengan sebutan perang tiga puluh tahun, karena ia berlagsung sampai tahun 1648 M. Jika peperangan seperti ini terjadi di negara kita, maka seluruh negeri kaum muslimin akan terobek-robek, wallahu a’lam.
Sesungguhnya tidak adanya kekuatan Islam yang sesungguhnya [1] akan memberikan kesempatan emas bagi blok Barat dan blok Timur untuk menerapkan skenario perang tiga puluh tahun terhadap negara kita.
Mungkin ada orang yang akan mengatakan bahwa susunan kelompok di Suriah jauh dari scenario seperti itu dan kita tengah hidup dalam periode satu blok saja, karena blok komunis telah runtuh.
Namun kita tidak boleh lupa bahwa Syiah Nushairiyah adalah sebuah kekuatan militer di Suriah, menghadapi bangsa muslim Ahlus sunnah yang tidak bersenjata. Jika Amerika Serikat memberikan dukungan kepada Tentara Kebebasan Suriah (pro revolusi rakyat), maka yang terjadi adalah tentara (rezim Nushairiyah) melawan tentara. Selanjutnya, sangat mungkin Hizbullah (baca: Hizbul Lata) Lebanon yang memiliki faktor-faktor penopang tegaknya Negara melakukan intervensi militer untuk memihak kepentingan rezim Nushairiyah [2]. Belum lagi Iran yang akan mendorong Irak untuk menerjuni kancah peperangan ini [3]. Keterlibatan Irak melalui kekuatan militer Syiah yang menguasai negara Irak berarti terbentuknya front Syiah Rafidhah bersatu, sejak dari Iran, Irak, rezim Nushairiyah Suriah sampai Hizbullah di Lebanon.
Keterlibatan Irak berarti saat membagi-bagi wilayah Irak telah tiba dan berada dalam genggaman. Inilah yang diinginkan oleh AS dari Timur Tengah Baru. Boleh jadi penarikan mundur tentara AS dari Irak —setelah AS mengamankan kepentingan-kepentingannya di Irak— adalah untuk member kesempatan kepada kekuatan Syiah di Irak untuk mendukung rezim Nushairiyah Suriah melawan Ahlus sunnah di Suriah.
Pembagian wilayah Irak merupakan tuntutan negara Syiah Iran guna memperkuat pengaruh dan cengkeraman Iran atas Irak. Hal itu juga merupakan tuntuan para pemimpin Rafidhah di wilayah Irak Selatan yang memang dipersiapkan untuk memisahkan diri dari pemerintahan pusat di Baghdad. Bagi kelompok suku Kurdi di Irak Utara, perang antar kelompok di kawasan Timur Tengah member mereka jalan untuk melebarkan sayap kekuasaannya atas wilayah-wilayah suku Kurdi di Suriah. Pada akhirnya, penarikan mundur tentara AS dari Irak memberi tentara AS kesempatan untuk menerjuni perang yang sengit dan menyiapkan kondisi bagi pelebaran sayap kekuasaan front Syiah bersenjata dari Teheran sampai Beirut, yang didukung oleh blok komunis Timur dalam rangka merobek-robek negeri kaum muslimin.
Pada saat yang sama, kelompok muslim ahlus sunnah di kawasan Timur Tengah menghadapi sedikitnya bantuan. Kondisi mengenaskan yang dialami oleh muslim ahlus sunnah di Iran dan Irak sudah menjadi rahasia umum.  Sementara umat muslim ahlus sunnah di Suriah menghadapi pembantaian setiap hari. Adapun umat muslim ahlus sunnah di Lebanon dijepit oleh senjata kelompok Kristen dan kelompok Syiah Rafidhah.
Penerapan skenario perang ini dan pembagian wilayah negara antara kelompok Ahlus sunnah dan kelompok Rafidhah akan menjadikan situasi di negara-negara front Rafidhah sebagai berikut ini:
a. Irak
Irak akan terpecah menjadi tiga negara; negara Rafidhah yang kaya minyak di wilayah Irak Selatan, negara Ahlus sunnah yang lemah di Irak Tengah, dan negara Kurdistan di Irak Utara. Sementara di Suriah dan Lebanon, negara akan terbagi-bagi sesuai wilayah-wilayah dominasi masing-masing kelompok Ahlus Sunnah atau Rafidhah. Tentunya dengan tetap terjaganya kepentingan-kepentingan kelompok Kristen di kawasan itu.
b. Negara zionis Yahudi
Negara zionis Yahudi akan menjadi kepanjangan tangan blok Barat dalam peperangan ini. Blok Barat akan meningkatkan ‘kecerdasan’ negara zionis Yahudi dan sekaligus mempertahankan kekuatan kelompok Syiah Nushairiyah di kawasan itu sebagai pisau beracun atas jantung kaum muslimin.
Nushairiyah dan zionisme adalah dua wajah bagi satu mata uang. Sudah terkenal dalam sejarah bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah selalu berpihak kepada setiap penjajah yang menyerbu negeri-negeri kaum muslimin. Dukungan zionis Yahudi kepada rezim Nushairiyah Suriah akan membuat blok Barat senang, karena blok Barat sendiri tidak bisa menampakkan dukungannya kepada rezim Nushairiyah Suriah secara terang-terangan, demi mempertahankan dukungan dari sekutu-sekutunya dari kelompok Sunni.
Barangsiapa membaca surat-surat kelompok Nushairiyah kepada penjajah Prancis selama masa penjajahan Prancis terhadap Suriah dan Lebanon, akan mengetahui sepenuhnya bahwa permintaan zionis Yahudi sekutu Barat kepada kelompok Alawiyah (Nushairiyah) agar mengamankan diri kepada zionis Yahudi saat kelompok itu berada dalam kondisi terancam, bukanlah sebuah permainan belaka. Blok Barat dan zionis Yahudi tidak menemukan sekutu di kawasan Timur Tengah yang lebih baik daripada kelompok Nushairiyah.
Pihak penjajah Barat sangat lihai menjamin kesetiaan antek-anteknya setelah menghinakan mereka dan mengawasi aib-aib mereka, sama halnya dengan kelihaian penjajah Barat mengangkat para antek tersebut sebagai penguasa-penguasa dan mentri-mentri. Pihak Barat tidak mendukung ahlus sunnah karena kecintaan kepada ahlus sunnah dan kebencian kepada Nushairiyah. Dukungan penjajah Barat semat-mata didasarkan kepada keinginan mengusir blok sosialis Timur dari kawasan Timur Tengah, sehingga blok Barat bisa sendirian menguasai kawasan tersebut dan bisa merealisasikan rencana-rencana jahatnya dalam memberangus revolusi-revolusi rakyat, merobek-robek wilayah, dan merampok kekayaannya. Caranya adalah melebarkan sayap kekuasaannya sepenuhnya atas kawasan tersebut dengan tetap mempertahankan para anteknya, kelompok Nushairiyah.
Dalam kondisi peperangan seperti itu, zionis Yahudi mendapatkan kesempatan emas untuk mengeraskan cekikan terhadap penduduk muslim Palestina dan mencoba mengusir mereka guna menyempurnakan rencana Yahudisasi Palestina. Zionis Yahudi akan menjadi kekuatan Yahudi bersatu yang didukung oleh blok Barat, berhadapan dengan kekuatan Islam yang telah terpecah-belah, saling bermusuhan, dan memerlukan bantuan dari zionis Yahudi dan blok Barat.
Dengan demikian, upaya mengamankan perbatasan zionis Yahudi, merealisasikan rencana-rencana jahatnya, dan melemahkan revolusi-revolusi kaum muslimin yang telah menumbuhkan kegentaran dalam hati kekuatan Penjajah dan memaksa zionis Yahudi dan kekuatan-kekuatan adidaya dunia baik blok Timur maupun blok Barat untuk mengubah taktik mereka di kawasan Timur Tengah, akan tergantung kepada terjadinya peperangan antar kelompok ini, berapapun harganya.
Terjadinya peperangan antar kelompok akan membuat zionis Yahudi memetik banyak manfaat dari revolusi-revolusi rakyat muslim sunni yang pada awalnya menggentarkan zionis Yahudi dan mengancam eksistensinya. Jika perang antar kelompok tidak terjadi, maka rencana-rencana jahat zionis Yahudi akan menemui kegagalan, dan hal itu berarti masa tumbangnya negara penjajah itu semakin dekat.
c. Negara-negara Arab dari Samudra Hindia sampai Teluk Persia
Negara-negara Arab dari Samudra Hindia sampai Teluk Persia yang berevolusi akan menjadi panggung ideal dan pasar ekonomi yang besar bagi perdagangan senjata, jika peperangan antar kelompok benar-benar terjadi di kawasan tersebut. Seperti biasanya, berhala-berhala negara-negara Arab yaitu rezim-rezim penguasanya akan terpecah-belah memihak blok Timur dan blok Barat, baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam. 
Pada akhirnya, nampaknya kekuatan-kekuatan tersembunyi yang bekerja dari belakang layar ini tetap melanjutkan efektifitas program-programnya demi menciptakan peperangan antar kelompok. Mereka akan berusaha mempertahankan rezim Suriah dan menjaga pemimpinnya, Bashar Asad, meskipun di media massa mereka menampakkan dirinya sebagai pihak yang menginginkan perlindungan bagi nyawa kaum muslimin sunni Suriah.
Rusia tidak akan mundur dari membela rezim Nushairiyah Suriah dan menganggapnya sebagai lampu merah. Sementara blok Barat akan menjadikan sikap Rusia dan Cina tersebut sebagai alasan untuk melakukan intervensi langsung guna menyelesaikan konflik di Suriah. Maka siasat blok Timur terhadap blok Barat akan tetap sama, meskipun Uni Soviet telah runtuh. Demikian pula siasat blok Barat terhadap blok Timur masih tetap sama, karena keduanya memiliki kesamaan siasat yaitu kerakusan dan keinginan berkuasa.

Kesimpulan:
  1. Jika rakyat Suriah ingin menghadang dan meruntuhkan rencana jahat kekuatan internasional ini, mereka tidak boleh mencukupkan diri dengan demonstrasi damai. Mereka harus bergerak menuju kantor-kantor pemerintahan dan mempersenjatai diri dengan senjata apapun, selain senjata akidah dan iman.
     
  2. Tentara Kebebasan Suriah harus melepaskan diri dari naungan Dewan Transisi Nasional Suriah yang merupakan kepanjangan tangan blok Barat dan jangan pula menggantungkan harapan kepada Amerika yang mendengki dan memerangii kaum muslimin. Tentara Kebebasan Suriah harus mengangkat panji Laa Ilaaha Illa Allah dan hanya memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah SWT, kemudian bersandar kepada usaha-usaha keras sendiri dan kesabaran panjang rakyat Suriah dalam rangka memerangi rezim kezaliman. Tentara Kebebasan Suriah harus meyakinkan kelompok-kelompok (minoritas) bahwa tiada manfaatnya mendukung rezim Nushairiyah Suriah dan berusaha keras untuk membunuh Bashar Asad dan saudaranya Mahir Asad guna mempercepat jatuhnya rencana jahat tersebut sebelum kesempatan hilang. Hanya kepada Allah kita bersandar.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Lajnah Siyasiyah li-Tanzhim Fath Al-Islam
(Divisi Politik Organisasi Fatah Islam)
Ahad, 5 Rabi’ul Awwal 1433 H / 29 Januari 2012 M
_____________
[1]. Aliansi rezim Nushairiyah Suriah memang didukung oleh milisi Syiah Shabihah Suriah, milisi Hizbul Lata Lebanon, negara Syiah Itsna ‘Asyariyah Iran, negara Syiah Irak dan negara komunis Rusia. Aliansi ini membentuk sebuah kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang tangguh. Namun bukan berarti tidak bisa dilawan dan dikalahkan oleh umat Islam. Saat ini di Suriah sudah terdapat kekuatan jihad Islam yang sesungguhnya, yang mengusung akidah Islam yang lurus dan cita-cita menegakkan khilafah Islam dan menerapkan syariat Islam di Suriah. Di antaranya adalah kelompok jihad Jabhah An-Nushrah, yang sering diidentifikasikan oleh banyak penamat sebagai ‘sayap Al-Qaeda’. Jabhah An-Nushrah telah memiliki anggota di banyak wilayah Suriah dan operasi-operasi jihadnya mengguncangkan militer rezim Nushairiyah. Selain Jabhah An-Nushrah, terdapat beberapa kelompok mujahidin Islam lain seperti brigade Ahrar Asy-Syam, brigade Al-Anshar, brigade Saraya At-Tauhid, dan lain-lain.
Tentara Kebebasan Suriah adalah sebuah organisasi yang menyatukan para tentara/polisi yang disersi dan berpihak kepada revolusi rakyat muslim Suriah. Secara umum, organisasi ini bercorak nasionalis-sekuleris. Namun tidak semua kelompok dan satuan militer di dalamnya mengusung paham nasionalisme-sekulerisme. Banyak kelompok dan satuan militernya yang mengusung panji jihad fi sabilillah demi menegakkan syariat Allah dan khilafah Islamiyah. Misalnya brigade Ubadah bin Shamit, brigade Shuqur al-Ladzikiyah, brigade Zaid bin Haritsah, brigade Ash-Shahba’, dan banyak lainnya. Hal itu nampak jelas dalam situs-situs resmi kelompok-kelompok dan kesatuan-kesatuan militer tersebut.
Maka tidak seyogyanya memandang perjuangan kelompok dan kesatuan militer tersebut sebagai perjuangan nasionalis-sekuler yang tidak bernilai jihad fi sabilillah, hanya karena secara organisasi berada di bawah paying Tentara Kebebasan Suriah.
[2]. Keterlibatan milisi Syiah Hizbul Lata Lebanon bersama militer rezim Nushairiyah Suriah dalam membatai warga sipil muslim sunni Suriah sudah menjadi rahasia umum. Media massa Suriah, Timur Tengah dan internasional hampir setiap hari menampilkan berita dan video tentang hal itu. Selama beberapa pecan terakhir, militer rezim Nushairiyah Suriah dan milisi Hizbul Lata Lebanon sibuk mencari 12 warga Lebanon yang ditahan oleh mujahidin dan Tentara Kebebasan Suriah. Siapa lagi ke-12 warga Lebanon itu jika bukan anggota milisi Hizbul Lata yang tertawan dalam kontak senjata? Puluhan warga Lebanon yang tewas di Suriah dan diangkut serta dimakamkan di Iran, siapa lagi mereka itu jika bukan anggota milisi Syiah Hizbul Lata?
[3]. Keterlibatan negara Syiah Itsna ‘Asyariyah dalam pembantaian atas warga muslim sunni Suriah sudah menjadi rahasia umum. Pernyataan para wartawan dan petinggi Iran sendiri menegaskan bahwa militer Iran melatih pasukan khusus Suriah untuk memberangus para demonstran dan membantai penduduk sunni. Iran juga mengirimkan persenjataan dan amunisi kepada militer rezim Suriah, melalui pesawat-pesawat sipil dan Kapal Induk Iran yang ironisnya sempat berlabuh di pelabuhan Jedah. Iran juga mengirimkan sedikitnya 15.000 anggota pasukan khusus (Quds Force) untuk memerangi para demonstran, mujahidin, dan Tentara Kebebasan Suriah. Tentara Kebebasan Suriah pernah menayangkan video para tentara elit Iran yang berhasil mereka tawan.
Keterlibatan negara Syiah Irak di Suriah juga sangat jelas. Irak mengirimkan minyak bumi Irak ke Suriah dalam jumlah sangat besar dan sebagai gantinya Suriah menyerahkan produk ekspornya untuk dijualkan oleh Iran dan Irak yang bernilai miliaran dolar. Milisi-milisi Syiah Irak juga mengirimkan personil dan persenjataan untuk memerangi para demonstran, mujahidin, dan Tentara Kebebasan Suriah.
International Jihad Analysis
filter your mind, get the truth 
(muhib almajdi/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/06/13/20888-analisa-peta-politik-revolusi-suriah-dan-tangan-tangan-tersembunyi-yang-bermain-di-belakang-layar.html#sthash.NYiqEj3R.dpuf

  Coba bandingkan dengan di Indonesia..??


Tuesday, 18 September 2012 | Teladan

Cut Nyak Dien Dan Perlawanannya Terhadap Imperialisme

Redaksi: Zafaran
https://www.muslimahzone.com/cut-nyak-dien-dan-perlawanannya-terhadap-imperialisme/
 
Muslimahzone.com – Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. (QS. Yusuf (12) : 111)
Pikirkanlah dengan dalam..! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang.
Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini. (Kekaguman Buya Hamka atas keteguhan Cut Nyak Dien).
***

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya oleh karena itu belajarlah dari sejarah

Sejarah perempuan Indonesia bukah hanya membincangkan peran perempuan yang menuntut pendidikan dan kesetaraan di segala bidang, melainkan juga mengenai sejarah para perempuan yang pernah menjadi pemimpin sebuah kerajaan, negarawan maupun pemimpin militer. Di Aceh, misalnya sebut saja Laksamana Malahayati atau Ratu Nihrasiyah Chadiyn. Tetapi, jika kita maju hingga akhir abad ke-19 di masa Aceh berperang melawan penjajahan Belanda, maka kita akan bertemu dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Teuku Fakinah. Sayang, sejarah perjuangan mereka nyaris dilupakan bangsa.
Tentu kita bertanya, mengapa Aceh memiliki begitu banyak tokoh perempuan dalam melawan kaum imperialis? Menurut Teuku H. Ainal Mardhiah Aiy dalam artikelnya yang berjudul “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau sampai Masa Kini”, dijelaskan mengenai kedudukan perempuan di Aceh pada masa lampau. Perempuan Aceh diberi kesempatan dan penghargaan yang luar biasa untuk ikut serta dalam lembaga-lembaga negara serta kancah pertahanan karena Pemerintah Kerajaan Aceh Darussalam mengambil Islam sebagai dasar negaranya dan Kanun serta Hadits sebagai sumber hukumnya. Oleh karena itu, perempuan setara dengan laki-laki dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Maka adalah hal yang wajar jika banyak tokoh perempuan yang bermunculan dan berperan sama pentingnya dengan laki-laki di Aceh.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu pahlawan perempuan Aceh yang telah disebutkan di atas, yaitu Cut Nyak Dien. Siapa yang tidak kenal beliau dalam perjuangannya mengusir penjajah? Insya Allah masyarakat dalam negeri ini mengenalnya. Akan tetapi, adakah yang mengetahui mengapa beliau sangat gigih melawan penjajah? Hal inilah yang kurang atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang.
Cut Nyak Dien adalah keturunan dari bangsawan puteri Nanta Seutia Raja Ulebalang VI Mukim. Berwajah cantik, baik budi pekertinya, tangkas tingkah lakunya, dan mempunyai watak yang luar biasa menjadi kata yang pas disematkan pada Cut Nyak Dien.[1] Nanta Seutia mengharapkan putrinya menikah dengan seorang yang mencintai negaranya. Maka, Cut Nyak Dien akhirnya menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Teuku merupakan seorang pahlawan yang memimpin peperangan melawan kolonial Belanda. Keduanya merupakan pasangan serasi dalam kepribadian, yaitu tegas dan tangkas dalam menyikapi “Kaphe (kafir) Belanda” yang merupakan musuh agama dan negara.
Perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar para wanita dalam hal mendidik bayi dan menanam semangat kepahlawanan melalui syair-syair yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka. Ketika peperangan semakin memanas, Cut Nyak Dien terus menggembleng semangat para pejuang perempuan untuk turut serta membantu peperangan. Pun, ketika Teuku Ibrahim Lamnga gugur (29 Juni 1878), Cut Nyak Dien tidak larut dalam kesedihan dan berputus asa, melainkan sebaiknya beliau merasa bangga atas kemuliaan suaminya yang syahid.
Seiring dengan berjalannya waktu, Cut Nyak Dien akhirnya melepaskan status jandanya. Kali ini pria yang dinikahinya adalah Teuku Umar yang setelah pernikahan diangkat menjadi panglima perang. Ketika banyak daerah yang telah dikuasai oleh Belanda dan Belanda menyatakan damai, banyak Hulubalang yang menyerah damai. Namun, Cut Nyak Dien tetap tegas menyatakan pantang tunduk. Atas kegigihannya mengobarkan semangat jihad, banyak para pahlawan kian bersemangat dalam berjuang mengusir Belanda untuk secara teratur munudr dari Jawa pada tahun 1873.
Setelah peperangan tersebut, Cut Nyak Dien pulang ke kampungnya, Lampisang. Sampai di Lampisang, ia menggantikan kedudukan ayahnya yang sudah lanjut usia sebagai Hulubalang VI Mukim. Selain memegang tampuk pemerintahan, Cut Nyak Dien juga mengatur siasat untuk menentang Belanda dari dalam rumahnya yang dijadikan “Markas Besar”. Cut Nyak Dien pun terus berusaha mengubah paham suaminya agar tidak berdamai dengan Belanda. Hal ini akan terlihat jelas saat Teuku Umar menyebrang ke pihak Belanda.
Teuku Umar mengajukan penyerahan diri dan menyatakan siap membantu Belanda mengamankan Aceh Besar yang diikuti sikap Jenderal C. Deijkerhoff untuk meneliti kesungguhan suami Cut Nyak Dien tersebut. Pada bulan Agustus 1893, Teuku Umar dengan menggunakan kebijaksanaannya berhasil mengamankan Mukim XXV untuk membuktikan kesungguhannya. Deijkerhoff pun merasa puas atas sikap Teuku Umar dengan menerima penyerahan dirinya. Pada tanggal 30 Sempetember 1893, Teuku Umar bersama 15 orang panglimanya menyatakan sumpah setia di hadapan Deijkerhoff dalam sebuah upacara.[2] Gelar Johan Pahlawan Panglima Besar Hindia Belanda didapatkan pada upacara ini. Teuku Umar juga diberi sebuah rumah besar, diangkat sebagai pejabat pemerintah, dan mendapatkan gaji. Selama 3 tahun Teuku Umar berada di pihak Belanda, dan selama itu pula Cut Nyak Dien tetap tegas melawan Belanda dan berusaha mempengaruhi suaminya untuk tidak terus melanjutkan taktiknya.
Adalah Teuku Fakinah, seorang pejuang wanita yang selalu gigih melawan Belanda. Teuku Fakinah memiliki hubungan yang erat dengan Cut Nyak Dien karena keduanya saling membantu ketika peperangan. Saat Teuku Fakinah mendengar berita mengenai Teuku Umar, ia memikirkan bagaimana caranya supaya Cut Nyak Dien dapat mempengaruhi suaminya untuk kembali ke jalan yang benar. Maka Teuku Fakinah mengirim Cut Nyak Dien surat berisi permintaan agar suaminya menyerang benteng-benteng Inong Bale. Tujuannya agar dia tahu keberanian wanita Aceh yang terdiri dari janda-janda. Melihat kondisi tersebut, Cut Nyak Dien tersadar dan mengirim surat balasan pada Teuku Fakinah yang berisi harapan agar Allah mengembalikan langkah Cut Nyak Dien dan Teuku Umar ke jalan semula.
Teuku Umar mendapati bahwa walaupun berada di pihak Belanda, ia mengalami kesulitan untuk mengubah langkah Belanda agar menguntungkan pihak Aceh. Menyadari hal tersebut, maka Teuku Umar berencana untuk kembali berbalik melawan Belanda setelah mendapatkan senjata tambahan, yaitu 380 pucuk senapan achterlaad, 25.000 peluru Beamont, 120.000 slaghoedjes, 5.000 kg loods, dan uang $18.000. Setelah kembali ke pihak Aceh, Teuku Umar bersama Cut Nyak Dien melancarkan perang gerilya. Saat perang inilah, Teuku Umar meregang nyawa. Ia syahid dalam sebuah pertempuran. Berita syahidnya Teuku Umar sampat membuat Cut Nyak Dien terpaku. Namun tak lama berselang, kebanggaan tersirat dalam dirinya karena sejatinya Teuku Umar meninggal dalam kondisi syahid.
Pasca syahid suami keduanya inilah Cut Nyak Dien bersumpah: “Demi Allah, selama Pahlawan Aceh masih hidup, peperangan tetap kuteruskan guna kepentingan agama, kemerdekaan bangsa, dan negara.”[3] Cut Nyak Dien pun meneruskan perjuangan suaminya dan bergerilya selama enam belas tahun di tengah hutan.
Pada tanggal 6 November 1905, Belanda menyerbu ke hutan, tempat di mana Cut Nyak Dien bersembunyi. Dalam serbuan itu situasi menakdirkan Cut Nyak Dien tertangkap. Dalam kondisi yang lanjut usia dan tidak kuasa lagi melawan Belanda, perempuan pemberani itu mencabut rencong di pinggang pendukungnya lalu dihadapkan ke dadanya. Sebelum rencong tersebut menikam dadanya, Letnan Van Vuuren secepat kilat merampas rencong dari tangannya. Akibat perbuatannya, Van Vuuren membuat marah Cut Nyak Dien yang berkata, “Jangan kau menyinggung (menyentuh) kulitku, kafir!”[4] Versi lain menebutkan bukan Van Vuuren yang menangkap lengan Cut Nyak Dien, melainkan Panglima Laot, pengikut Cut Nyak Dien yang selalu menasehati pahlawan perempuan tersebut untuk menyerah pada Belanda.
Panglima Laot-lah yang melapor kepada Belanda mengenai posisi Cut Nyak Dien. Panglima Laot melapor akibat ia tidak tahan lagi melihat kondisi Cut Nyak Dien yang begitu menyedihkan. Ketika Panglima Laot menangkap tangan Cut Nyak Dien agar melepaskan rencong, Cut Nyak Dien marah dan menjeritkan hinaan: “Cis, kau pengkhianat!” Cut Nyak Dien juga berkata kepada Kapten Veltman: “Kau kafir jahanam, tembak saja aku! Di Meulaboh pun kau nanti akan membuangku ke laut.”[5] Dari perkataan Cut Nyak Dien ini, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun dalam keadaan terdesak, beliau tidak begitu saja takut dan menyerah. Beliau terus melawan, walau kemungkinan untuk menang sangat kecil. Sikap beliau terhadap Belanda sama sekali tidak berubah, tetap tegas menghadapi mereka.
Alhasil, Cut Nyak Dien dibawa ke Meulaboh. Dari sana, beliau diberangkatkan ke Kutaraja. Awalnya, Cut Nyak Dien tidak akan diasingkan. Tetapi, Pemerintah Belanda khawatir jika tidak diisolir Cut Nyak Dien dapat kembali mengobarkan semangat perjuangan. Akhirnya keputusan mengasingkan Cut Nyak Dien itu dipilih belanda. Perempuan gagah berani itu dibawa ke Batavia hingga kemudian diasingkan ke Sumedang. Namun dalam pengasingannya, Cut Nyak Dien mendapatkan perlakuan istimewa meski ia tetap tidak diizinkan melihat tanah Aceh. Hingga pada tanggal 6 November 1908, mujahidah tersebut meninggal dalam pengasingan.
Ketahuilah, Cut Nyak Dien memiliki pengaruh besar di masyarakatnya dan cukup ditakuti oleh Pemerintah Belanda. Beliau disegani kawan maupun lawan. Hal ini terbukti dari kebijakan Belanda untuk mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang, jauh dari tanah dan rakyatnya. Padahal Cut Nyak Dien pada saat itu telah berusia lanjut dan lemah.
Pengaruh Cut Nyak Dien, seperti yang diuraikan dari karangan Pol bahwa di Meulaboh kejuruan/uleebalang, datuk-datuk, penghulu-penghulu, dan lain-lain mulai dari setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya betul-betul menjadi momok menakutkan bagi Belanda.[6]. Walaupun tidak dapat berjuang dengan tangan dan kaki, tapi pikirannya mampu mengobarkan semangat para pahlawan Aceh untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Selain itu, beliau juga dapat bertahan di hutan-hutan dengan makanan seadanya, bahkan berminggu-minggu tanpa sesuap nasi. Padalah pada saat itu, usia Cut Nyak Dien telah udzur. Hal inilah yang menyebabkan para pengikutnya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan kondisi Cut Nyak Dien dan ingin menyelamatkannya.
Cut Nyak Dien bukan hanya pejuang yang gigih, tegas, dan tangkas, tapi beliau juga seorang istri yang selalu menyayangi dan menghormati suaminya. Cut Nyak Dien memang tidak menyukai taktik yang dijalankan oleh Teuku Umar, tapi beliau terus mendukung dan mengingatkannya dengan berbagai cara. Beliau juga tidak terlena dengan perlakuan istimewa Pemerintah Belanda ketika Teuku Umar berada di pihak Belanda. Saat Teuku Umar kembali melawan Belanda, Cut Nyak Dien mendukung suaminya dan berusaha agar para pejuang Aceh dapat menerima suaminya.
Cut Nyak Dien berjuang bukan hanya dengan tenaga dan kekuatannya, tapi juga dengan pemikiran dan keteguhannya membela agama. Seperti yang dikatakan Snouck Hurgronje, kekuatan perjuangan pasukan Aceh bukan dari tenaga mereka tapi dari agama merekaBegitu pula dengan semangat perjuangan Cut Nyak DienWallahu’alam bi ash shawwab.
Oleh: Nazirah Ahmad       
Penulis adalah Guru Pesantren Husnayain, Sukabumi

[1] Suny, Prof. DR. Ismail S.H., M.C.L. (1980). Bunga Rampai tentang Aceh. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Hal. 297.
[2] Said, Mohammad H., (2007). Aceh Sepanjang Abad jilid II cet. III. Medan: Harian WASPADA. Hal. 277.
[3] Suny, Prof. DR. Ismail S.H., M.C.L. (1980). Bunga Rampai tentang Aceh. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Hal. 301.
[4] Ibid. Hal. 301.
[5] Said, Mohammad H., (2007). Aceh Sepanjang Abad  jilid II cet. III. Medan: Harian WASPADA. Hal. 339.
[6] Ibid. Hal. 331.
Sumber: Islampos.com
(zafaran/muslimahzone.com)

Amerika Nyatakan Dukungan pada Koalisi Gempur Syiah Houthi

Kamis 5 Jamadilakhir 1436 / 26 Maret 2015 19:30

obama

PRESIDEN AS Barack Obama secara resmi menyatakan dukungan logistik dan intelijen kepada operasi militer di Yaman yang dilakukan oleh Gulf Cooperation Council (GCC). Demikian dilansir oleh Gedung Putih, menurut thenewsdoctor, Kamis (26/3/2015) atau sekitar 4 jam lalu.

Washington menyatakan bahwa mereka menjalin komunikasi yang erat dengan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, Saudi dan negara-negara GCC lainnya sebelum peluncuran operasi militer.
“Sementara ini, pasukan AS tidak mengambil tindakan militer langsung di Yaman untuk mendukung upaya ini. Kami membangun perencanaan bersama dengan Arab Saudi untuk mengoordinasikan dukungan militer dan intelijen AS,” kata pernyataan itu.
Selain itu, Gedung Putih mendesak Syiah Houthi untuk segera menghentikan “aksi militer mereka” dan kembali melakukan dialog politik dengan pemerintah terguling Yaman. [sa/islampsos]

Nurdin Muhammad

sebagai pengamat sosial
http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/07/09/timur-tengah-ajang-rebutan-nato-iran-dan-turki-378965.html

Timur Tengah : Ajang Rebutan NATO, Iran dan Turki !

REP | 09 July 2011 | 06:24
   
Republik Turki yang di pimpin oleh PM.Recep Thayyeb Erdogan semakin mantap setelah berhasil mengungguli partai-partai  politik saingannya dalam pemilu yang diselenggarakan pertengahan Juni lalu, sehingga pemimpin Partai Keadilan  Pembangunan (PKP) yang beraliran Islam sunni tersebut mulai memasuki ajang pergolakan kawasan Timur Tengah.Bagi Turki memasuki kawasan yang sedang bergolak tersebut, bukanlah merupakan sesuatu yang asing bagi negara mayoritas populasinya muslim itu, tetapi laksana reuninya dengan bangsa Arab yang pernah dikuasainya sejak tahun 1517 sampai berakhirnya Perang Dunia pertama tahun 1918.

Oleh karena itu, ambisi Turki untuk memperluas pengaruhnya kekawasan yang masih bergolak itu bukanlah tanpa alasan yang kuat. Paling tidak terdapat empat alasan yang amat kuat bagi Turki untuk mengulangi keberhasilan para leluhurnya, Turki Osmany beberapa abad yang lalu.  

Pertama, Turki Osmany sekitar empat abad menguasai kawasan Timur Tengah mulai dari Maroko sampai Yaman, sehingga hubungan  historisnya amat  erat dengan kawasan tersebut. Namun karena kekalahannya dalam Perang Dunia I (1914-1918) terhadap pihak  negara-negara sekutu, menyebabkan kawasan itu di kapling-kapling  oleh mereka yang terdiri dari Inggris, Perancis, Italia menjadi jajahannya.
Sekaranglah waktunya bagi Turki untuk kembali memasuki kawasan Timur Tengah, meskipun tidak sebagai negara penjajah tetapi lebih sebagai reuni persahabatan berdasarkan ikatan-ikatan historis,Islami dan juga sosial budaya yang berabad-abad tersimpul itu. 

Kedua, Turki yang juga merupakan negara anggota NATO berambisi hendak menyingkirkan dominasi mitra-mitra NATOnya yang lain seperti Inggris,Perancis, Italia dan AS supaya tidak campur tangan dalam masalah domistik kawasan bekas kekuasaannya itu.Apalagi setelah hubungannya dengan Israel memburuk setelah insiden penyerbuan pasukan komando Yahudi terhadap Kapal relawan Turki (Marmara) yang menewaskan 10 relawan kemanusiaan ke Gaza itu, maka hubungan Turki-Mesir-Libya-Tunisia dan negara-negara Arab lainnya di kawasan sangat penting dan strategis, baik secara politik, militer dan juga ekonomi dan sosial budayanya.

Ketiga,Turki berambisi kuat untuk menyodorkan sistem demokrasinya di kawasan tersebut, sekaligus sebagai bantahan terhadap Barat bahwa negara yang mayoritas penduduknya muslim tidak bisa mewujudkan sebuah pemerintahan yang demokratis, bahkan lebih jauh lagi Turki hendak membuktikan pula bahwa Islam tidak identik dengan kekerasan, radikalisme dan teroris sebagaimana anggapan Barat sekarang. Dan persepsi Barat terhadap Islam selama ini, yang dianggap identik dengan kekerasan, teroris dan radikalisme itu merupakan sesuatu persepsi yang salah tanpa didasarkan sesuatu  fakta -fakta yang benar.Buktinya negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar dunia bahkan lebih demokratis  dari Barat (Swiss, Perancis, Belanda, Inggris yang melarang busana muslim) sebagaimana dibuktikan oleh Indonesia dan juga Turki. Nah, hal serupa juga mau disodorkan kepada politisi-politisi di Timur Tengah. Dalam konteks ini pula, maka Menlu Turki Ahmed Davutaglu Minggu 3 Juli bertemu dengan Penanggung Jawab Urusan Luar Negeri TNC (Transition National Councel)  Ali Essawi di Markasnya, Benghazi. Selain itu juga Turki mendukung kelompok oposisi yang melawan Bashar Asa’ad Suriah, serta memfasilitasi pertemuan pertama kelompok anti As’ad di kota parawisata Turki, Antalia. Dan disamping   itu pemerintah Turki juga menampung sekitar 10.000 pengungsi Suriah yang melarikan diri ke Turki dari opfensif militer rejim diktator Damascus tersebut.

Pemerintahan Turki yang hendak menjaga keseimbangan politiknya dengan semua warga Libya maka meskipun Turki salah satu negara anggota NATO, tetapi tidak melibatkan diri dalam penyerbuan terhadap Kol.Muhammad Ghaddafi..Namun demikian Turki menganjurkan supaya Kolonel Muhammad Ghaddafi dan keluarganya segera mengakhiri perlawanannya bersamaan mengharapkan supaya proses suksesi bisa diselesaikan secara damai. Selain itu PM.Recep Thayyeb Erdogan dalam kunjungannya ke Mesir yang akan dilakukannya tanggal 21 Juli akan membentuk “Dewan Tinggi Strategi Mesir-Turki”yang di kuatkan oleh Menlu Mesir, Mohammed El Oraby .

Keempat, sebagai penganut mazhab sunni Turki tentu saja lebih besar peluangnnya dalam konteks berhubungan  baik dengan kawasan Timur Tengah karena kesamaan mazhab dan juga latar belakang historisnya yang sangat erat kaitannya. Dalam kaitannya dengan ambisi Iran yang juga hendak memasuki kawasan tersebut, lebih kecil peluangnya karena soal konflik antara Syia’ah-Sunni yang sulit diredam itu yang bisa mengundang pihak lain sebagaimana terjadi di Bahrain.Konstalasi politik seperti itu amat berbahaya bagi kestabilan kawasaan yang sangat sensitif  yang masih menyimpan mesiu yang bisa meledak kapan saja seperti di Palestina,Libanon yang juga bisa mengundang Israel dan sekutunya. Karena itu Turki mengharapkan supaya masalah Timur Tengah bisa secepatnya diselesaikan secara damai,sehingga hubungan Turki-Timur Tengah semakin akrab dan saling menguntungkan dalam berbagai aspek sosial masyarakat.

Sekiranya Timur Tengah bisa dipengaruhi oleh Republik Islam Iran,maka besar kemungkinannya kawasan tersebut semakin terseret kedalam konflik yang lebih besar lagi.Karena Iran dengan sikap kerasnya terhadap AS dan sekutunya plus isu-isu nuklirnya, malahan Mahmud Ahmadinejad  sesumbar hendak menghapus Israel dalam peta dunia bersamaan mendustakan Holocaust merupakan cukup alasan bagi Israel-AS dan sekutunya untuk menghalangi kehadiran Teheran di Timur Tengah. Israel sangat khawatir terhadap Iran, seperti diperlihatkan  ketika dua Kapal Perang Iran melintasi Terusan Suez dalam pelayarannya ke  Libanon sebagai dukungan moral kepada Hizbullah. Stabilitas Timur Tengah akan terganggu, bahkan bisa meledaknya  perang  besar antara Iran dan Israel yang tentu saja akan menyeret negera-negara lain di kawasan tersebut. Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, boleh jadi lebih baik Turki yang memasuki kawasan Timur Tengah dari pada Iran atau NATO. Hal ini juga akan disetujui oleh negara Paman Sam, yang memang selalu membela Turki. Maka bagi Turki inilah momentum yang amat sangat penting, untuk membuktikan bahwa meskipun Turki dihalang-halangi oleh Barat untuk menjadi anggota EU, tetapi Istambul bisa mendapat hubungan dengan kawasan yang lebih kaya sumber-sumber enerji yang berhadapan langsung dengan Eropa.Sehingga diskriminasi Barat terhadap Turki selama puluhan tahun ini yang selalu memmveto Turki menyebabkannya  gagal menjadi anggota EU, akan di tinjau kembali soalnya tidak fair perlakukan Eropa terhadap Turki selama ini. Padahal negara-negara Eropa Timur  yang baru terlepas dari Uni Sovyet tahun 1991 sekarang sudah jadi anggota EU, sedangkan Tureki yang beberapa dekade menati sampai sekarangpun belum berhasil bergabung dengan EU.Nah, sekiranya Turki bisa menyatukan kawasan Timur Tengah tidak menjadi anggota EU-pun enggak apa-apa, boleh jadi begitu pula persepsi Turki sekarang ini.