Minggu, 20 April 2014

BENARKAH ADA PERSIAPAN PERANG BESAR.... ANTARA AS DKK ..... MENGHADAPI RUSIA... ???? DAN .... APAKAH... BENAR... AS DKK SUDAH MEMILIKI AGENDA... SEJAK LAMA INGIN MENGUASAI RUSSIA... CINA....??? >>> ..... NAMUN KITA BERHARAP AKAL SEHAT DAN UNTUK APA MEREKA BERPERANG SECARA GLOBAL... ???>> ....WALAPUN DEMIKIAN... KONON SESUNGGUHNYA... BUKANLAH SEMATA-MATA KEINGINAN OBAMA...ATAU PEMERINTAHAN AS...... MELAKUKAN CAMPUR TANGAN DI UKRAINA..SECARA TERLALU JAUH..... ??? SEBAB... SEPERTI BIASANYA.... KONON.... SELALU ADA KEKUATAN YANG TERSELUBUNG DIBALIK PEMERINTAHAN AS... TERMASUK DALAM KEPRESIDENAN OBAMA....???>>> SEPERTI BIASANYA... KONON TANGAN2.. SUPER KAYA... YANG SELALU UNTOUCHABLE... DAN BERADA DIBALIK SEMUA PENGATURAN... DAN PEMBUATAN UU DAN JUGA KEBIJAKAN POLITIK AS.... YANG TERKADANG ANEH... DAN BAHKAN TERKADANG.... HAL2 YANG.... SANGAT TIDAK MASUK AKALPUN BISA TERJADI... SEMATA-MATA... DIMAINKAN OLEH TANGAN2 ... KEKUATAN KORPORASI YANG MENGUASAI LOBBY DAN POLITIK AS... BAIK DALAM NEGERI MAUPAUN LUAR NEGERI...???>>> INILAH... TANGAN2 NEOKONS-NEOLIBS-NEKOLIM.... DAN TENTU... MEREKA YANG SELAMA INI MENGENDALIKAN KEUANGAN DAN EKONOMI AS SEJAK RATUSAN ATAU PULUHAN TAHUN... ???>>>> SEBAGAI AWAM KADANG TIDAK PERCAYA... DAN TAK BISA MEMIKIRKAN TERLALU JAUH... BAGAIMANA BISA.... ORANG2 PINTAR DAN BERPENDIDIKAN TINGGI DI NEGERI PAMAN SAM INI... .. BISA DIPERBUDAK OLEH KONON HANYA SEGELINTIR SAJA...???>> TAPI FAKTA SEJARAH MALAH SELALU MENUNJUK KEARAH YANG SAMA... ???.... ENTAHLAH... KITA BERHARAP PRESIDEN OBAMA DKK BISA LEBIH BISA MEMILIKI AKAL SEHAT.... DARIPADA MENGORBANKAN RAKYAT DAN ANAK2 BANGSA AMERIKA.. YANG BISA SAJA.. AKAN MENJADI KORBAN YANG... LANGSUNG.... SEPERTI APA YANG TERJADI PADA KASUSU... 911 WTC-PERANG AFGHANISTAN-IRAQ...DAN JUGA... APA YANG TERJADI DI TIMUR TENGAH.... DENGAN BERBAGAI VERSI2...NYA.... ???>>> SEDANG PARA SUPER KAYA DKKNYA.. SERTA ANTEK2NYA.. AKAN SELALAU AMAN DAN BISA BER FOYA2..... WALAUPUN ..... BISA SAJA .... MEMANG... AKHIRNYA... PERANG BESAR... HARUS TERJADI JUGA...???>>> WALLAHU A'LAM.... Menurut prediksi Snyder, jika Amerika dan Uni Eropa terlalu masuk ke wilayah Ukraina, maka perang regional berskala besar besar kemungkinan akan meletus. Harus disadari bahwa Rusia dan Ukraina memiliki ikatan sejarah yang sangat mendalam. Sehingga Ukraina di mata Rusia punya nilai yang cukup strategis....>>> ...“Sebenarnya Rusia sangat siap berperang demi Crimea mengingat fakta bahwa jalur pipa yang berada di wilayah ini amat penting bagi Rusia untuk menyalurkan gas alam Rusia ke seluruh eropa melewati Ukraina. Karena itu tak mungkin Rusia akan menyerahkan begitu saja lingkup pengaruhnya di Ukraina kepada Amerika Serikat dan Uni Eropa,” begitu tutur Snyder....>>> ..Adanya perintah untuk menggerakkan Kapal Selam Dolgoruki dan Rudal Nuklir Bulava nampaknya harus dibaca sebagai bentuk kesiapan perlawanan Rusia terhadap manuver militer AS dan NATO, menyusul sikap permusuhan terang-terangan Amerika dan Uni Eropa menyusul perkembangan yang cukup menguntungkan Rusia di Crimea. Ketika 98,6 persen rakyat Crimea menyatakan setuju penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia. Betapa tidak. Kapal Selam Dolgoruki, selain membawa Rudal Bulava yang merupakan jenis senjata nuklir terkuat di dunia yang dimiliki Rusia saat ini, kapal selam Yuri Dolgoruki ini merupakan kapal selam yang paling ditakuti Amerika dan NATO karena pergerakannya yang sulit dideteksi radar....>>> ...Bahkan NATO menjuluki kapal selam Yuri Dolgoruki sebagai “The Silent Killer” karena kecanggihannya untuk menghilang dari pantauan radar militer pihak musuh. Dan mampu meluncurkan Rudal Bulava berdaya jangkau 10 ribu kilometer dari perairan manapun di dunia. Bulava mampu membawa 6 hingga 10 hulu ledak nuklir masing-masing berkekuatan 100 hingga 150 kiloton....>>> ...Begitupun, Rusia nampaknya memang tidak main-main. Seperti berita yang dilansir Interfax 28 Maret lalu, Rusia telah menyiagakan Rudal Strategisnya yang dikenal dengan SMF. Selain itu, pemegang otoritas pertahanan di Moskow telah memerintahkan Kapal Selam Dolgoruki yang membawa Rudal Nuklir Bulava, untuk meninggalkan pangkalannya di Severodvinsk di Utara Rusia...>>> ..Bisakah gelombang demonstrasi dan serangkaian kerusuhan politik di Kiev tersebut bisa kita kategorikan sebagai gerakan revolusi? Sepertinya tidak. Karena kalau kita cermati dengan seksama, aksi massa tersebut tergolong brutal dan penuh kekerasan. Kejam dan tak bermoral karena selain telah melakukan intimidasi, melemparkan bom-bom molotov ke banyak orang, juga menyerbu gedung-gedung pemerintah, dan lain sebagainya. Ketika ada anggota massa tewas tertembak aparat, maka itulah korban pertama dalam dua bulan unjuk rasa menentang pemerintah. Tetapi akibat penembakan justru aksi pun semakin meluas, bahkan sudah berani merambah ke timur Ukraina, wilayah basis dimana massa Yanukovich berada. Masuk akal jika Presiden Putin menggambarkan unjuk rasa tersebut seperti penghancuran daripada revolusi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa aksi-aksi tersebut sebagai bentuk terbaru dari fasisme di Eropa...>>> ...Sebagai salah satu negara pecahan Uni Soviet, Ukraina sebenarnya sudah dipetakan oleh Amerika Serikat sejak 1997. Zbigniew Kazimierz Brzezinski, mantan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council) di era pemerintahan Jimmy Carter pada periode 1977-1981, menerbitkan sebuah buku yang cukup menarik bertajuk The Grand Chessboard pada 1997. Dalam buku yang cukup menarik tersebut, Brzezinski menulis, “Ukraina, ruang baru dan penting pada papan catur Eurasia, merupakan poros geopolitik karena sangat penting keberadaannya sebagai negara merdeka, untuk membantu mengobah Rusia. Tanpa Ukraina, lanjut, Brzezinski, tidak akan mungkin lagi menjadi sebuah imperium di kawasan Eurasia. Dan jika satu saat Moskow mendapatkan kembali kontrol atas Ukraina, maka dengan 52 juta orang berikut sumberdaya utama serta akses ke Laut Hitam, Rusia otomatis bakal mendapatkan kembali kedigdayaannya untuk menjadi negara kekaisaran (imperium) yang kuat, mencakup kawasan Eropa dan Asia....>>>



Analisis

01-04-2014
Krisis Politik di Ukraina
Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina . 

Penulis : Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute


17 Maret lalu, reunifikasi Crimea dengan Rusia telah menjadi kenyataan menyusul adanya referendum dimana 96,8 persen rakyat Crimea mendukung penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia. 21 Maret lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dokumen resmi menjadi sebuah undang-undang, sehingga sejak saat itu Crimea resmi menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Rusia.

Menurut analisis militer Michael Snyder, Rusia tidak akan pernah menyerahkan Crimea tanpa melakukan perlawanan. Basis utama armada Laut Hitam di Sevastopol terlalu penting dan sangat strategis bagi Rusia. Apalagi 60 persen penduduk Crimea merupakan etnis Rusia, sehingga masuk akal jika sebagian besar penduduknya bersikap pro Rusia.

“Sebenarnya Rusia sangat siap berperang demi Crimea mengingat fakta bahwa jalur pipa yang berada di wilayah ini amat penting bagi Rusia untuk menyalurkan gas alam Rusia ke seluruh eropa melewati Ukraina. Karena itu tak mungkin Rusia akan menyerahkan begitu saja lingkup pengaruhnya di Ukraina kepada Amerika Serikat dan Uni Eropa,” begitu tutur Snyder.

Menurut prediksi Snyder, jika Amerika dan Uni Eropa terlalu masuk ke wilayah Ukraina, maka perang regional berskala besar besar kemungkinan akan meletus. Harus disadari bahwa Rusia dan Ukraina memiliki ikatan sejarah yang sangat mendalam. Sehingga Ukraina di mata Rusia punya nilai yang cukup strategis.

Mencermati perkembangan tersebut, Global Future Institute berpandangan bahwa  bergabungnya kembali Crimea kepada Rusia, akan menciptakan keseimbangan kekuatan antara Washington dan Moskow. Sekaligus akan kembali memperluas lingkup pengaruh Moskow di Ukraina. Seraya pada saat yang sama, berpisahnya Crimea dari Ukraina, akan membatasi ekspansi Amerika dan NATO ke “wilayah halaman belakang” Rusia.

Maka tidak heran jika beberapa media melansir berita bahwa saat ini 100 ribu pasukan Rusia telah berada di daerah perbatasan Ukraina, dan siap menunggu perintah Presiden Putin untuk melancarkan serangan ke wilayah Ukraina. Sehingga kehadiran militer Rusia tidak akan berhenti sampai di Crimea saja. Melainkan akan merangsek masuk, ke wilayah Ukraina.

Ihwal kehadiran 100 ribu pasukan Rusia di wilayah perbatasan Ukraina tersebut telah diperkuat oleh pernyataan Ketua Dewan Keamanan Nasional  Ukraina Andriy Parubly kepada Voice of America 28 Maret 2014. Menurut keterangan Parubly, Rusia telah menempatkan 100 ribu tentaranya di perbatasan Ukraina di Utara, Selatan dan Timur.

Bahkan Presiden Obama pun mengakui bahwa berdasarkan informasi Departemen Pertahanan, Rusia memang terus memperkuat pasukannya di tiga wilayah perbatasan tersebut, meskipun belum jelas maksud dari penempatan pasukannya di tiga wilayah perbatasan tersebut.

Begitupun, Rusia nampaknya memang tidak main-main. Seperti berita yang dilansir Interfax  28 Maret lalu, Rusia telah menyiagakan Rudal Strategisnya yang dikenal dengan SMF. Selain itu, pemegang otoritas pertahanan di Moskow telah memerintahkan Kapal Selam Dolgoruki yang membawa Rudal Nuklir Bulava, untuk meninggalkan pangkalannya di Severodvinsk di Utara Rusia.
Adanya perintah untuk menggerakkan Kapal Selam Dolgoruki dan Rudal Nuklir Bulava nampaknya harus dibaca sebagai bentuk kesiapan perlawanan Rusia terhadap manuver militer AS dan NATO, menyusul sikap permusuhan terang-terangan Amerika dan Uni Eropa menyusul perkembangan yang cukup menguntungkan Rusia di Crimea. Ketika 98,6 persen rakyat Crimea menyatakan setuju penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia.

Betapa tidak. Kapal Selam Dolgoruki, selain membawa Rudal Bulava yang merupakan jenis senjata nuklir terkuat di dunia yang dimiliki Rusia saat ini, kapal selam Yuri Dolgoruki ini merupakan kapal selam yang paling ditakuti Amerika dan NATO karena pergerakannya yang sulit dideteksi radar.

Bahkan NATO menjuluki kapal selam Yuri Dolgoruki sebagai “The Silent Killer” karena kecanggihannya untuk menghilang dari pantauan radar militer pihak musuh. Dan mampu meluncurkan Rudal Bulava berdaya jangkau 10 ribu kilometer dari perairan manapun di dunia. Bulava mampu membawa 6 hingga 10 hulu ledak nuklir masing-masing berkekuatan 100 hingga 150 kiloton.

Beberapa indikasi lain yang mempertunjukkan kesiapsiagaan pasukan Rusia untuk tidak hanya  berhenti sampai Crimea saja, melainkan akan menyerbu Ukraina, bisa dilihat melalui beberapa pertanda:
  1. Banyak kendaraan militer Rusia yang bergerak ke Crimea.
  2. Kendaraan militer Rusia tertangkap kamera sudah berada di alun-alun utama Sevastopol.
  3. Jet Tempur Rusia terbang dekat perbatasan Ukraina dalam kondisi siaga perang.
  4. Rusia telah memerintahkan latihan militer dadakan di sepanjang perbatasan Ukraina.
  5. Sehubungan dengan latihan tersebut, dilaporkan bahwa Rusia telah mengerahkan 150 ribu tentara di perbatasan Ukraina.
  6. Rusia telah menempatkan sekitar 26 ribu prajuritnya di pangkalan angkatan lautnya di Sevastopol.
  7. Kapal Rusia yang membawa pasukan tambahan sudah terlihat di lepas pantai Crimea. Kapal pendaratan besar Rusia, Nikolai Filchenko, sudah berlabuh di dekat pangkalan Armada Laut Hita Rusia di Sevastopol, yang disewa Rusia dari Ukraina sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.
  8. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu membuat pernyataan di hadapan wartawan Rabu 26 Februari lalu, bahwa Rusia akan mengambil langkah-langkah untuk menjamin apa yang dia istilahkan “keamanan fasilitas kami.”
  9. Seorang pejabat Rusia yang tak mau disebut namanya berkata pada Financial Times bahwa Rusia hendak menggunakan kekuatan militernya untuk melindungi Crimea. Sebelumnya Moskow mengungkapkan bahwa mereka siap untuk berperang demi wilayah Crimea guna melindungi penduduk yang jumlahnya besar dan instalasi militer. Pejabat Rusia tersebut berkata pada Financial Times:” Jika Ukraina tercabik, itu akan memicu perang. Mereka pertama-tama akan kehilangan Crimea karena kami akan masuk dan melindungi itu, seperti yang kami lakukan di Georgia.”
  10. Para Pejabat Di Sevastopol telah menempatkan warga negara Rusia sebagai walikota.
  11. Sekitar 120 orang bersenjata pro Rusia telah mengambil-alih gedung parlemen Crimea dan mengibarkan bendera Rusia.
  12. Tersiar rumor bahwa pemerintah Rusia telah menawarkan perlindungan pada Presiden Ukraina terguling, Viktor Yanukovich.
Kantor berita Rusia bahkan melaporkan bahwa Yanukovich berada di Rusia, namun para pejabat belum memberikan konfirmasinya.
Nampaknya, betapapun kerasnya upaya AS dan Uni Eropa untuk mempertahankan lingkup pengaruhnya di Ukraina, Rusia akan tetap mempertahankan Crimea yang punya akses langsung untuk menguasai Ukraina. Sebagaimana Rusia juga gigih dalam mempertahankan Osetia Selatan dan Abkhazia di Georgia beberapa tahun yang lalu.

Analisis

29-03-2014
Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=15037&type=4#.U1PlLqL3tkh
Penulis : M Arief Pranoto dan Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute


Sebagai salah satu negara pecahan Uni Soviet, Ukraina merupakan Poros Geopolitik yang cukup penting dan strategis di kawasan Eurasia, dan harus berada dalam lingkup pengaruh Amerika dan Uni Eropa. Maka, diluncurkanlah Skenario Revolusi Warna, sebagai bagian integral dari Perang Asimetris AS untuk menaklukkan Ukraina. Dan Membendung Pengaruh Rusia.

Seperti telah diurai pada bagian awal kajian kami, penggulingan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich sesungguhnya merupakan gerakan terencana dan sistematis berkat kerjasama antara partai-partai oposisi dengan bantuan Amerika Serikat dan Uni Eropa, khususnya Jerman. Hal tersebut terlihat jelas ketika Presiden Yanukovich memutuskan untuk menerima bantuan dari Rusia dan menunda kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa, lalu dengan serta merta sebagian rakyat Kiev, Ibu Kota Ukraina, meletup dan meledak dalam gelombang demonstrasi anti Yanukovich.
Bisakah gelombang demonstrasi dan serangkaian kerusuhan politik di Kiev tersebut bisa kita kategorikan sebagai gerakan revolusi? Sepertinya tidak. Karena kalau kita cermati dengan seksama, aksi massa tersebut tergolong brutal dan penuh kekerasan. Kejam dan tak bermoral karena selain telah melakukan intimidasi, melemparkan bom-bom molotov ke banyak orang, juga menyerbu gedung-gedung pemerintah, dan lain sebagainya. Ketika ada anggota massa tewas tertembak aparat, maka itulah korban pertama dalam dua bulan unjuk rasa menentang pemerintah. Tetapi akibat penembakan justru aksi pun semakin meluas, bahkan sudah berani merambah ke timur Ukraina, wilayah basis dimana massa Yanukovich berada.  
Masuk akal jika Presiden Putin menggambarkan unjuk rasa tersebut seperti penghancuran daripada revolusi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa aksi-aksi tersebut sebagai bentuk terbaru dari fasisme di Eropa.
Namun, benarkah sikap Yanukovich yang lebih berpihak pada Rusia dan menolak tawaran kerjasama dengan Uni Eropa merupakan satu-satunya penjelasan di balik gelombang demonstrasi warga Kiev untuk menjatuhkan Yanukovich?

Ukraina dalam Desain Politik Zbigniew Brzezinski

Sebagai salah satu negara pecahan Uni Soviet, Ukraina sebenarnya sudah dipetakan oleh Amerika Serikat sejak 1997.  Zbigniew Kazimierz Brzezinski, mantan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council) di era pemerintahan Jimmy Carter pada periode 1977-1981, menerbitkan sebuah buku yang cukup menarik bertajuk The Grand Chessboard pada 1997.  Dalam buku yang cukup menarik tersebut, Brzezinski menulis, “Ukraina, ruang baru dan penting pada papan catur Eurasia, merupakan poros geopolitik karena sangat penting keberadaannya sebagai negara merdeka, untuk membantu mengobah Rusia.

Tanpa Ukraina, lanjut, Brzezinski, tidak akan mungkin lagi menjadi sebuah imperium di kawasan Eurasia. Dan jika satu saat Moskow mendapatkan kembali kontrol atas Ukraina, maka dengan 52 juta orang berikut sumberdaya utama serta akses ke Laut Hitam, Rusia otomatis bakal mendapatkan kembali kedigdayaannya untuk menjadi negara kekaisaran (imperium) yang kuat, mencakup kawasan Eropa dan Asia.

Maka itu, dalam bukunya The Grand Chessboard, Brzezinski secara tajam dan rinci menguraikan makna dan hakekat dari Poros Geopolitik.

Menurut mantan penasehat keamanan nasional Jimmy Carter yang saat ini juga merupakan arsitek kebijakan politik luar negeri Presiden Barrack Obama, yang dimaksudkan sebagai Poros Geopolitik adalah negara-negara yang nilai pentingnya bukan berasal dari kekuasaan atau motivasinya, melainkan dari lokasi geografisnya yang cukup sensitive.  

Sehingga dalam beberapa kasus, negara-negara yang masuk kategori Poros Geopolitik tersebut, memainkan peran khusus, yang barang tentu secara geopolitik punya nilai yang cukup strategis. Baik untuk memberikan akses ke wilayah-wilayah penting terhadap suatu negara tertentu, atau sebaliknya, menolak untuk dijadikan negara satelit sebuah negara adidaya (seperti Rusia).

Dalam perspektif geopolitik tersebut, Brzezinski memasukkan beberapa negara pecahan Uni Soviet sebagai Poros Geopolitik seperti: Ukraina, Azerbaijan, Korea Selatan, Turki dan Iran.

Bukan sebuah kebetulan bahwa Ukraina dan Azerbaijan yang dulunya merupakan bagian dari Uni Soviet, saat ini sudah negara merdeka lepas dari kedaulatan Rusia. Krisis politik yang terjadi di Ukraina pada Februari 2014 dan berakhir dengan tumbangnya Presiden Yanukovich, nampaknya harus dipahami dalam perspektif geopolitik Brzezinski. Bahwa Ukraina, yang merupakan salah satu Poros Geopolitik di kawasan Eurasia, harus berada dalam orbit pengaruh Amerika dan sekutu-sekutu strategisnya seperti Uni Eropa dan NATO.

Seperti yang ditegaskan oleh Brzezinski dalam The Grand Chessboard, “Eurasia merupakan papan catur di mana perjuangan bagi keunggulan global harus tetap dimainkan Amerika.” Inilah aspek penting yang amat berguna untuk menjelaskan mengapa Amerika dan Uni Eropa begitu intensif membantu kelompok-kelompok oposisi baik di parlemen maupun luar parlemen,untuk mendukung elit-elit kepemimpinan Ukraina yang pro Amerika dan Uni Eropa.

Zbigniew Brzezinski Arsitek Politik Luar Negeri Barrack Obama

Sekilas tentang Brzezinski terkait peran dan pengaruhnya dalam proses pembuatan kebijakan strategis luar negeri AS dulu dan sekarang. Saat ini Brzezinski masih merupakan arsitek politik luar negeri Obama dari belakang layar. Sebuah peran yang cukup strategis mengingat ruang lingkup kewenangannya dalam memberi arah dan perumusan kebijakan strategis Amerika dalam bidang Politik Luar Negeri, Pertahanan dan Intelijen.  

Sejak Carter tumbang dari kekuasaan karena dikalahkan oleh Ronald Reagan dari Partai Republik pada 1980, maka Brzezinski beserta klannya pun ikut tergusur dari Gedung Putih.  

Sekarang pada era kepresidenan Obama, Brzezinski menurut informasi dari berbagai sumber, merupakan salah satu tokoh sentral dalam mendesain kebijakan politik luar negeri Amerika. 

Radikalisasi Terhadap Rusia

Menurut berbagai sumber, adalah Brzezinski yang berada di balik sikap radikal pemerintahan Obama terhadap Rusia akhir-akhir ini. Meskipun dilancarkan secara tidak langsung dan tersamar.  

Salah satunya adalah dengan manuver militer NATO, suatu aliansi pertahanan antara Amerika dan Eropa Barat, dengan menggelar latihan militer di Georgia pada Mei 2009 lalu. Georgia merupakan negara pecahan Rusia yang berbatasan langsung dengan negara beruang merah tersebut.

Memang sulit untuk tidak dikatakan sebagai provokasi mengingat latihan militer yang digelar sejak 6 Mei 2009 lalu itu berdekatan waktunya dengan Hari Kemenangan Uni Soviet pada Perang Dunia II melawan NAZI Jerman pada 9 Mei 1945.

Namun Rupanya, peristiwa serbuan militer Rusia terhadap Georgia pada Agustus 2009, oleh Presiden Dmitri Medvedev sebagai pertanda bahwa kekuatan militer Rusia masih cukup membanggakan. Tak pelak lagi ini merupakan bagian dari perang urat syaraf pihak Rusia merespons provokasi Amerika dan NATO di Georgia.

Hal ini nampak jelas ketika Vladimir Putin yang kala itu menjabat Perdana Menteri, pada 10 Mei 2009 lalu menegaskan bahwa latihan gabungan NATO di Georgia merupakan upaya merusak hubungan Rusia-Amerika Serikat. Sekaligus memicu ketegangan di Kaukasus.

Dari berbagai sumber yang dihimpun oleh tim Global Future Institute, Brzezinski nampaknya berada di balik provokasi NATO di Georgia sebagai pemanasan untuk memulai ketegangan baru hubungan Amerika-Rusia. 

Menurut Webster Griffin Tarpley, dalam bukunya Obama the Posmodern Coup, menginformasikan bahwa Obama telah dibina secara intensif oleh Brzezinski sejak 1981-1983, ketika Obama belajar ilmu politik dan hubungan internasional di Universias Colombia.  

Ini jelas sebuah informasi yang cukup baru mengingat fase di Unviersitas Colombia ini belum pernah diungkap oleh berbagai buku biografi Obama sebelumnya. Karena menurut Tarpley, di sinilah Obama masuk dalam pembinaan jaringan yang terdiri dari kelompok  CIA berhaluan kiri-tengah, National Endowment for Democracy (NED), the Soros Foundation, klik dari Brzezinski.

Menurut Tarpley, seluruh rancangan Brzezinski didasari obsesi untuk menaklukkan Rusia di semua sektor. Karena itu manuver NATO dengan menggelar latihan militer di Georgia memang bisa dibaca sebagai bagian dari provokasi untuk memperhadapkan Rusia dengan negara-negara bekas pecahan Soviet, khususnya yang berbatasan langsung dengan Rusia.

Selain itu, ketegangan NATO-Rusia semakin meningkat ketika NATO mengembangkan kekuatannya di Asia Timur dan sistem pembangunan sistem rudal Amerika di dua bekas anggota Soviet yaitu Republik Ceko dan Polandia. Sekadar informasi, Brzezinski itu sendiri merupakan warga Amerika kelahiran Polandia.

Nampaknya Brzezinski memang layak untuk dicermati dalam memainkan perannya sebagai perancang politik luar negeri Obama. Peredaan ketegangan yang diisyaratkan oleh Obama kepada Iran bukan tidak mungkin memang dimaksudkan untuk menahan nafas barang sejenak. Bukan benar-benar ditujukan untuk menciptakan perdamaian dunia. 

Iran dan negara-negara Timur Tengah nampaknya untuk sementara tidak akan jadi fokus perhatian Amerika. Brzezinski nampaknya membidik Afrika sebagai sasaran utama.Tujuannya, adalah melumpuhkan pengaruh Cina dalam mengakses sumber-sumber minyak di benua Afrika.
 
Manuver multilateral terhadap Presiden Omar Bashir dari Sudan dengan dalih terlibat dalam kejahatan perang, nampaknya bukan murni masalah hukum internasional. Ini adalah manuver Amerika dari balik layar untuk melumpuhkan pengaruh Cina di Sudan.  

Dalam perhitungan Brzezinski, dengan terbendungnya Cina di kawasan Afrika dalam mengakses  minyak, pada perkembangannya akan memaksa Cina untuk bergerak ke laut Siberia dalam rangka mendapatkan akses minyak.

Jika skenario Brzezsinski ini berjalan mulus, maka tak pelak lagi ini akan memicu konflik antara Rusia dan Cina. Padahal saat ini Cina dan Rusia bekerjasama cukup erat di bidang ekonomi dan pertahanan melalui Shanghai Cooperation Organization (SCO).

Kalau ini berjalan, maka Brzezinski dalam rancanangan politik luar negeri Amerika, memang bermaksud untuk memecah-belah Rusia dan Cina.
Bagi para perancang kebijakan strategis di Washington, buku karya Brzezinski tersebut pada dasarnya harus dipandang sebagai cetak biru (blueprint) politik luar negeri Amerika.

Bisa dimengerti jika sejak 1991 Amerika dan sekutu-sekutu eropa baratnya telah memberi bantuan keuangan sebesar 5 miliar dolar AS untuk Ukraina. Ukraina dalam perspektif Poros Geopolitik Brzezinski, harus tetap berada dalam lingkup pengaruh Amerika dan sekutu-sekutu strategisnya yang tergabung dalam Uni Eropa.

Untuk lebih memahami secara utuh dan lengkap, berupaya mempertahankan lingkup pengaruhnya di Ukraina, maka marilah kita kilas balik sejenak mengenai apa yang terjadi dalam Revolusi Oranye di Ukraina pada 2004-2006.

Memahami Hakekat Revolusi Warna Sebagai Perang Asimetris AS
Bermula dari istilah media Barat dalam rangka menggambarkan gerakan massa di negara-negara pecahan Uni Soviet dan Balkan dekade 2000-an ke atas. Revolusi Berwarna atau sering disebut “revolusi warna” kini semakin populer, karena sesungguhnya bukanlah suatu gejolak biasa namun merupakan setting politik praktis di berbagai belahan dunia mengatas-namakan gerakan rakyat. Unik memang, sebutan bagi setiap gerakan selalu mengambil nama-nama serta mengadopsi warna bunga sebagai simbolnya.

Selain berciri tanpa kekerasan (nonviolent resistance), penting dicatat pada awal tulisan ini bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memiliki peranan teramat vital dalam gerakan ini. Dengan kata lain, LSM termasuk kelompok pemuda serta mahasiswa ialah ujung tombak bagi skenario ganti rezim di suatu negara.

Adapun tuntutan yang diusung dalam revolusi non kekerasan ini berkisar isue-isue global antara lain demokratisasi, hak azasi manusia (HAM), korupsi, kemiskinan, akuntabilitas dan lainnya. Ia punya pola-pola bersifat umum karena berpedoman buku wajib yang sama yakni “From Dictatorship To Democracy”-nya Gene Sharp, sarjana senior di Albert Einstein Institute (AEI). Dan seringkali lambang dan slogan gerakan massa pun sama pula.

Begitulah, revolusi warna memang sedari awal merupakan sebuah bentuk Perang Asimetris AS dan Uni Eropa, sebagai Perang dengan mendayagunakan sarana-sarana non-militer, untuk menguasai wilayah geopolitik Ukraina agar berada dalam lingkup pengaruhnya.

Kalau kita telisik ke belakang, skenario revolusi warna memang cukup berhasil mereka lancarkan di beberapa negara. Seperti revolusi yang menerjang bekas negara Pakta Warsawa di Yugoslavia (2000), revolusi mawar di Georgia (2003), revolusi oranye di Ukraina (2004), revolusi tulip di Kyrgystan (2005), revolusi cedar di Lebanon (2005) dan lainnya, termasuk gejolak yang kini tengah melanda Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) terdapat kemiripan logo “Tangan Mengepal”, dan slogan singkat yang artinya “CUKUP” sesuai bahasa negara-negara sasaran. Misalnya di Mesir bernama Kifaya (cukup), di Georgia disebut Kmara (cukup), di Ukraina namanya Pora (waktunya), di Kyrgystan berslogan Kelkel (zaman baru) dan seterusnya.

Agaknya slogan dalam revolusi warna itu ibarat “ruh gerakan” guna menyatukan semangat massa sekaligus sebagai tujuannya. Artinya kendati tidak selamanya demikian, namun inti maknanya ingin mengakhiri rezim berkuasa tanpa harus banyak darah mengucur.

Dan skenario revolusi warna ini, memang disiapkan secara sistematis dan terencana sejak awal. hampir semua logo, slogan, taktik bahkan strategi dari gerakan-gerakan selama ini berbasis kurikulum yang bersumber dari bukunya Gene Sharp di atas. Dan ternyata diajarkan oleh Center for Applied Non Violent Action and Strategies (CANVAS), pusat pelatihan bagi pengunjuk rasa tanpa kekerasan yang logonya Tangan Mengepal atau Kepalan Tinju.

Konon CANVAS telah melatih para tokoh demonstran di 37-an negara termasuk di antaranya Korea Utara, Belarus, Zimbabawe, Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, Suriah, Iran dan sebagainya. Adakah para demonstran Indonesia termasuk yang dilatihnya? Kita lihat saja nanti, yang jelas seluruh elemen bangsa di tanah air harus tetap waspada.

Ya, melawan rezim tanpa senjata merupakan methode baku bahkan menjadi kunci strategi untuk kesuksesan revolusi model ini. Sasarannya ialah memanipulasi serta mencuri simpati publik melalui support media massa dan jejaring sosial seperti facebook, blogger, twitter dan lain-lainnya.

Pertanyaannya adalah, apakah skenario revolusi warna masih tetap dipertahankan ruhnya oleh Amerika dan sekutu-sekutunya di Uni Eropa untuk mempertahankan lingkup pengaruhnya di Ukraina dan negara-negara eks Uni Soviet lainnya?

Benar. Revolusi Warna sebagai bagian dari desain kebijakan luar negeri AS dan sekutu-sekutunya, pola dan strategi gerakannya hendak disamakan oleh AS ketika dulu sukses melumpuhkan Pakta Warsa, yaitu dengan mengangkat isue-isue soal HAM, korupsi, atau kediktatoran rezim sebagai materi tuntutannya; kemudian menggunakan LSM guna menciptakan opini publik melalui media massa agar timbul ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah; lalu ada blow up media dan jejaring sosial secara gencar dan seterusnya.

Sasaran antara ialah destabilisasi dan kerusuhan sosial di suatu negara, dimana ujung semuanya ialah meminta intervensi internasional dan hadirnya pasukan asing!

Memang selain terdapat pola yang sama di setiap gerakan massa di berbagai negara, juga ada benang merah yang tidak boleh diabaikan, yakni kekuatan asing yang berada di balik semua gerakan malah terlindungi dan aman-aman saja — asyik meremot dari kejauhan. Kenapa justru hal ini dilupakan oleh publik?

Melacak revolusi warna sungguh menarik, apalagi ketika Michel Chossudovsky berasumsi bahwa Occupy Wall Street atau “Menempati Wall Street”, yaitu gerakan akar rumput yang kini marak di seluruh AS, bahkan telah merambah hingga ke Australia dan beberapa  negara Eropa, juga disinyalir sebagai revolusi berwarna.

Indikasi ini terlihat ketika banyak LSM yang terlibat gerakan justru sangat tergantung pendanaannya dari yayasan swasta seperti Ford, Rockefeller, McArthur, Tides dan lainnya. CANVAS pun terlibat. Ivan Marovic, salah seorang pimpinan CANVAS memberikan statement perihal gerakan protes di New York bahwa tidak ada yang spontan dalam sebuah “peristiwa revolusioner” (16 Oktober 2011, www. globalresearch.ca). Bukankah ia adalah anak organisasi NED, LSM seribu proyek milik Pentagon?

Politik praktis memang apa yang tersirat bukan yang tersurat, kata Pepe Escobar. Maka merujuk judul tulisan sederhana ini bahwa revolusi warna adalah virus ganti rezim dimanapun berada termasuk bisa menyerang AS itu sendiri, negeri tempat kelahiran sang virus. Apa boleh buat. Itulah yang mungkin sedang terjadi. Termasuk yang sedang dialami Ukraina saat ini. Meski dalam perjalannya, skenario Revolusi Warna sepertinya menghadapi banyak kendala, yang nampaknya pada akhirnya akan menemui kegagalan. 

Analisis
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=14633&type=4#.U1Pon6L3tkg
10-02-2014
Aksi Teror di Volgograd  
LAPORAN UTAMA: Tangan-Tangan Amerika dalam Aksi Teror di Volgograd
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Menjelang akhir tahun, Rusia diguncang aksi teror. Dua aksi bom bunuh diri secara beruntun terjadi dalam waktu 24 jam di kota Volgograd, yang hanya berjarak 690 kilometer dari kota Sochi, tempat akan diselenggarakannya Olimpiade Musim Dingin. Bom pertama meledak di stasiun pada Minggu, 29 Desember 2013 dan menewaskan 18 orang.  Sementara itu, serangan kedua terjadi pada Senin, 30 Desember 2013 di bus listrik. Sebanyak 16 nyawa melayang dalam ledakan bom tersebut. 

Rentetan aksi teror yang secara total telah menelan 34 korban jiwa tersebut sebagai tentu saja jadi tanda Tanya besar mengingat pada 7 Februarir mendatang Rusia akan menggelar hajatan besar sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di kota Sochi, yang berlokasi tak begitu jauh dari barat daya kota Volgograd, tempat terjadinya aksi teror tersebut. Karenanya sangatlah masuk akal jika kemudian berkembang dugaan bahwa aksi teror tersebut dimaksudkan untuk menghancurkan reputasi Rusia sebagai negara mampu menciptakan suasana aman pada saat berlangsungnya Olimpiade Musim Dingin tersebut. 
 
Siapa dalang atau the mastermind di balik aksi teror yang cukup kejam dan brutal terhadap warga sipil Rusia tersebut? Karena belum ada bukti yang cukup definitif terkait aksi teror tersebut, maka seperti dalam kasus aksi penyanderaan di salah satu sekolah di kota Beslan, Distrik Pravoberezhny pada September 2004 lalu maupun penyanderaan di Dubrovka Theatre, beberapa kalangan di Rusia nampaknya mengarah  pada kesimpulan sementara adanya keterlibatan kelompok separatis Chechnya.
 
Dari hasil penelusuran bahan-bahan pustaka tim riset Global Future Institute, Penyanderaan Beslan dimulai pada Rabu pagi 1 September 2004, saat jam belajar baru mulai saja berlangsung di Sekolah Negeri 01 Beslan, yang terletak di Republik Ossetia Utara, Rusia. Bersenjatakan senapan api dan bom di sabuk, sejumlah pria dan wanita bertopeng menggiring para murid sekolah ke dalam suatu ruangan. 
 
Penyanderaan itu berlangsung sejak 1 hingga 3 September 2004. Sebanyak 1.100 orang dijadikan sandera, termasuk 777 anak-anak. Tragedi itu pada akhirnya menewaskan sedikitnya 334 sandera, termasuk di antaranya 186 anak-anak. Selain itu, tak sedikit sandera terluka dalam aksi penyelamatan sandera yang berlangsung dramatis, setelah aparat keamanan Rusia gagal bernegosiasi dengan kelompok teroris.
 
Para penyandera itu adalah kelompok Batalion Riyadus-Salikhin, yang dikirim oleh pemimpin separatis Chechen, Shamil Basayev. Mereka berupaya mengusir pasukan Rusia dari Chechnya, agar bisa memerdekakan diri dari Moskow.
 
Nampaknya, karena tidak mampu berperang secara simetris melawan pasukan angkatan bersenjata Rusia, kelompok separatis Chechnya menggunakan aksi teror yang mengorbankan warga sipil Rusia (non combatant). Dengan menggunakan beberapa modus seperti serangkaian aksi penembakan maupun pengeboman. Dalam kasus penyanderaan di Beslan, kelompok separatis Chechnya bahkan tega-teganya menggunakan anak-anak sekolah di Beslan “sebagai perisai hidup” sekaligus sebagai sandera. 
 
Meskipun Presiden Putin mengaku aksi penyelamatan yang dilancarkan pasukan militer Rusia terhadap para sandera tidak membuahkan hasil yang diharapkan mengingat banyaknya korban tewas dari pihak sandera, dan bahkan para keluarga korban menilai aksi penyelamatan sandera oleh tentara Rusia dianggap ceroboh, namun setidaknya Rusia telah mempertunjukkan sikapnya untuk tidak bersedia menyerah kepada kelompok teroris. Apalagi ketika beberapa indikasi mengarah pada keterlibatan kelompok separatis Chechnya yang tujuan utamanya adalah mendirikan negara Chechnya merdeka lepas dari Rusia. 
 
Dalam penyanderaan Dubrovka Theatre pada Oktober 2002, keterlibatan kelompok separatis Chechnya nampaknya jauh lebih nyata dan terang-benderang.  Penyanderaan dilakukan 40-50 tentara Chechen yang mengklaim tunduk kepada pergerakan separatis militer di Chechnya. Mereka menahan 850 sandera dan meminta penarikan tentara Rusia dari Chechnya sekaligus mengakhiri Perang Chechen II. Pengepungan dipimpin Movsar Barayev.
 
Aksi Teror Volgograd dan Kelompok Black Widows
 
Lantas, apakah aksi teror di Volgograd 29 dan 30 Desember 2013 lalu ada keterkatainnya dengan kelompok Separatis Chechnya? Memang masih harus ada penyelidikan yang lebih mendalam dan intensif. Namun dari hasil pantauan terhadap beberapa liputan media di Rusia terkait serangkaian aksi teror di negara beruang merah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, kelompok teroris Chechen biasa merekrut para wanita untuk beraksi sebagai pelaku bom bunuh diri. 
 
Namun sebagaimana berita yang dilansir oleh Asia Times Online yang juga dilansir oleh situs berita okezone pada 2010 lalu, seorang pakar Chechnya asal Swiss, Alix de la Grange, meyakini bahwa pelaku bom bunuh diri itu diledakkan melalui remote control oleh rekan prianya. Meskipun de la Grange, mengatakan bahwa Black Widows tidak pernah dilatih di luar negeri. Tapi beberapa Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa mereka mendapat pelatihan dari Pakistan dan Afghanistan. 
 
Kalau benar para wanita pelaku bom bunuh diri itu diledakkan melalui remote control rekan prianya, maka beberapa laporan yang mengindikasikan adanya pelatihan terhadap para teroris Chechnya di Pakistan dan Afghanistan kiranya tetap cukup masuk akal dan beralasan. Karena pemegang kendali komando sepenuhnya berada pada kelompok-kelompok bersenjata Chechnya yang tentunya sudah terlatih dalam perang gerilya maupun aksi teror. 
 
Adanya Keterlibatan Al Qaeda terhadap Kelompok Separatis Chechnya
 
Satu fakta penting yang kiranya perlu digarisbawahi adalah, bahwa Osama bin Laden sejak decade 1990-an telah menyatakan dukungannya terhadap para pemberontak Chechnya untuk memerdekakan diri lepas dari negara induknya, Rusia. Bahkan Presiden Vladimir Putin pernah mengatakan Bin Laden pernah mengunjungi para pemberontak Chechen dalam rangka mendukung gerakan separatism Chechnya sebagai negara Islam yang lepas dari Rusia (Associated Press 1999).
 
Bahkan Council of Foreign Relations (CFR), think-thank dapur penggodokan berbagai kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dalam salah satu catatannya menginformasikan bahwa para pemberontak Chechnya mendapat dana bantuan lewat apa yang dinamakan Islamic International Peace Keeping Brigade (IIPB). IIPB inilah yang merupakan saluran utama mengalirnya dana bantuan yang berasal dari Al Qaeda yang berbasis Semenanjung Arab.  
 
Foxnews, media arus utama berhaluan neokonservatif di Amerika bahkan punya beberapa temuan menarik. Beberapa tim riset anggota kongres  dan analis kebijakan luar negeri AS juga menemukan fakta bahwa jaringan pemberontak Islam Chechen mempunyai jaringan luas di Rusia dan Chechnya.
 
Bisa jadi motivasi kedua sumber dari Amerika tersebut tidak dimaksudkan dalam kerangka mendukung skema gerakan kontra teror di Rusia, namun setidaknya hal ini menggambarkan bahwa indikasi adanya persekutuan taktis atau bahkan mungkin juga strategis, antara Al Qaeda dan kelompok pemberontak Chechen sepertinya bukan isapan jempol belaka. 
 
Sekadar catatan, Osama bin Laden maupun Al Qaeda itu sendiri, diyakini oleh para analis senior Global Future Institutet (GFI) tak lebih dari sekadar “Kelompok Teroris Jadi-Jadian” hasil ciptaan badan Intelijen AS CIA yang direkrut pada masa ketika Amerika dan beberapa negara Uni Eropa mendukung perlawanan berbagai kelompok-kelompok masyarakat Afghanistan terhadap pasukan pendudukan Uni Soviet di negara Mullah tersebut. Sebagai hasilnya, muncullah kemudian kelompok Islam radikal Taliban sebagai penguasa di Afghanistan pasca terusirnya Soviet dari negeri tersebut. 
 
Namun menyusul terjadinya aksi pemboman di Gedung WTC dan Gedung Pentagon pada September 2001, maka Presiden George W Bush dengan serta merta menuding Taliban memberi perlindungan terhadap Al Qaeda di Afghanistan. Padahal Bush secara definitif menyatakan Al Qaeda dan Osama bin Laden lah otak sekaligus pelaku aksi teror September 2001 tersebut. Alhasil, Bush memerintahkan invasi militer merebut Afghanistan. 
 
Beberapa studi GFI sebelumnya mengindikasikan bahwa invasi militer Afghanistan dengan menggunakan dalih keterlibatan Taliban bersekongkol dengan Al Qaeda, sejatinya merupakan permintaan perusahaan minyak AS UNOCAL (sekarang Chevron) yang merasa terancam dengan kebijakan politik dan ekonomi Taliban yang merugikan kepentingan minyak korporasi global AS tersebut.
 
Dari konstruksi kisah sekilas tersebut di atas, Al Qaeda memang merupakan kelompok teroris jadi-jadian hasil binaan CIA AS, yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan atau setidaknya dijadikan kambing hitam oleh AS sebagai perancangnya, ketika negara Paman Sam tersebut hendak menetapkan sasaran yang jauh lebih strategis. Seperti ketika hendak menduduki Afghanistan secara militer dengan dalih adanya keterlibatan Taliban mendukung aksi teror Al Qaeda. 
 
Begitupun, indikasi keterlibatan Al Qaeda dan Osama bin Laden terhadap kelompok separatis Chechnya, bisa juga dibaca sebagai indikasi adanya Perang Asimetris AS terhadap Rusia, untuk menguasai Chechnya sebagai wilayah kedaulatan Rusia, melalui tangan-tangan lokalnya di Chechnya. 
 
Apalagi dengan adanya fakta bahwa ketika Taliban masih berkuasa di Afghanistan, dan masih menjalin hubungan erat dengan Washington, negara inilah satu-satunya yang memberikan pengakuan resmi terhadap Chechnya sebagai negara merdeka. Dan mendukung deklarasi sepihak kemerdeaan Chechnya. 
 
Hal ini semakin diperkuat dengan adanya pertemuan antara Osama  bin Laden dan pemimpin pemberontak Chechnya Ibn al Khattab sewaktu Soviet masih menduduki Afghanistan.    Namun di sini pula aspek krusial dari sasaran pokok kelompok separatis Chechnya. Pada satu sisi, berkeinginan membentuk negara Chechnya merdeka lepas dari Rusia. Dan mempromosikan radikalisme Islam berskala global, dan menjadikan Chechnya sebagai mata-rantai penting dari gerakan global Islam radikal di berbagai negara. 
 
Pada titik ini, gerakan separatis Chechnya pada perkembangannya kemudian justru menjadi alat Proxy War Amerika (melalui jaringan Al Qaeda dan eksponen Taliban), melawan Rusia. 
 
Sejarah Awalnya keterlibatan Islam Radikal dalam Gerakan Separatisme Chechnya
 
Pada awalnya, ketika pemerintahan otonomi Chechnya dibentuk oleh Aslan Maskhadov, pandangan politik para elit Chechnya pada dasarnya nasionalis sekuler. Terutama pada masa kepemimpinan Dzhokhar Dudayev. 
 
Namun ketika perlawanan separatis Chechnya mulai mendapat sorotan media massa, jaringan Islam radikal yang berhaluan Al Qaeda mulai migrasi ke Chechnya. Dan sejak saat itu, mulai mengkoptasi gerakan separatis Chechnya dan menjadikannya sebagai bagian integral dari Gerakan Islam Radikal berskala global.
 
Di sinilah untuk pertama kalinya Ibn al Khattab mulai memainkan peran penting di dalam tubuh gerakan separatisme Chechnya. Bahkan al Khattab menegaskan gerakan ini tidak lagi semata gerakan Chechnya melainkan menjadi gerakan Islam seperti halnya di Afghanistan. 
 
Melalui peran kepemimpinan al Khattab khususnya antara 1995 hingga 1996 inilah, gerakan separatis Chechnya mendapatkkan pelatihan kemiliteran maupun indoktrinasi keagamaaan menurut versi Islam mereka yang tentunya radikal.
 
Pada 1998, al Khattab bersama Shamil Basayev, membentuk Islamic nternational Peace Keeping Brigade, yang terdiri dari para separatis Chechnya, Arab dan jaringan-jaringan Islam lainnya di berbagai negara. 
 
Nampaknya, gerakan separatism Chechnya yang pada dasarnya bertumpu pada dalih bahwa mayoritas masyarakat Chechnya beragama Islam, telah dimanipulasi oleh kelompok-kolompok Islam jadi-jadian binaan Amerika, untuk mengkoptasi gerakan separatis Chechnya demi kepentingan Amerika untuk melumpuhkan Rusia dari dalam. 
 
Pada tahapan ini, selain badan intelijen AS CIA juga melibatkan badan intelijen Pakistan Inter Service Intelligence (ISI). Karena semasa pendudukan Soviet di Afghanistan, CIA dan ISI inilah yang membina dan mendukung milisi-milisi berbendera Islam radikal ini dipersenjatai dan mendapat bantuan dana dari CIA dan ISI untuk melawan pasukan pendudukan Uni Soviet di Afghanistan pada 1979.
 
Sebagaimana halnya dukungan Amerika dan Pakistan dalam mendukung milisi-milisi Islam radikal Al Qaeda yang kemudian menjelma menjadi Taliban, kelompok separatis bersenjata Chechnya dalam upayanya memisahkan diri dari Rusia, beberapa sumber mengindikasikan adanya dukungan dari Amerika dan sekutu-sekutu baratnya.
 
Coleen Rowley, dalam artikelnya bertajuk Chechen Terrorists and the Neocons, kelompok separatis bersenjata Chechnya terbukti sangat berguna bagi Amerika untuk menekan Rusia seperti halnya kelompok Mujahedeen Afghanistan yang dibantu Amerika baik dalam persenjataan maupun dana untuk melawan pasukan Uni Soviet antara 1980 sampai 1989. Sehingga tak heran jika para pelaku utama kelompok Neo Konservatif Amerika, termasuk James Woolsey, Direktur CIA pada waktu itu, menganggap kelompok Chechen ini sebagai “Chechen Friends”. 
 
Bukan itu saja. Dukungan dari beberapa kelompok strategis Amerika terhadap kelompok separatis Chechen ini terlihat jelas melalui dukungan terang-terangan dari apa yang menamakan diri mereka the American Committee for Peace in Chechnya (ACPC). Sebuah kelompok yang para anggotanya terdiri dari para tokoh terkemuka dari kelompok Neo Konservatif Partai Republik, yang kala Presiden W Bush berkuasa, member dukungan penuh terhadap program War on Terror yang dikumandangkan oleh Bush dan para kroni politiknya di Gedung Putih.
 
Beberapa nama sohor yang berada di belakang ACPC antara lain Richard Perle (Penasehat Strategis dari Pentagon), Elliot Abrams (yang pernah terlibat dalam kasus Iran Kontra-penjualan senjata illegal kepada Iran sebagai barter terhadap pembebasan sandera warga AS di Kedutaan Besar AS di Teheran),  Kenneth Adelman (mantan Duta Besar AS di PBB) yang tercatat sebagai pendukung fanatik invasi AS ke Irak, Midge Decter (Penulis Biografi Donald Rumsdeld, mantan Menteri Pertahanan AS) dan Direktur Heritage Foundation, sebuah think-thank sayap kanan AS, Frank Gaffney (Direktur Militarist Center for Security Policy), Bruce Jackson (mantan Direktur Intelligence Militar), Michael Ledeen (American Enterprise Institute, dan seorang pendukung fasisme Itali dan sekarang pendukung gerakan perobahan sistem politik di Iran), dan James Woolsey (mantan Direktur CIA dan pendukung gagasan utama Presiden Bush dalam menata ulang dunia Islam menurut skema AS).
 
Berarti, adanya campur tangan Amerika dalam gerakan separatis Chechnya nampaknya cukup beralasan dan faktual. 
 
Pada perkembangannya, ACPC dimodifikasi fokusnya dari Chechnya menjadi Caucasus. Sehingga ACPC hakekatnya menjadi American Committee for Peace in Caucasus. Karena itu tak heran jika Phil Shenon, yang kala itu masih wartawan terkemuka The New York Times, menulis adanya kaitan antara pemimpin Chechen Ibn al Khattab dengan Osama bin Laden. 
 
Jaringan Chechen Sampai ke Akar-Akarnya 
 
Untuk mengungkap jaringan pemberontak Chechen sampai ke akar-akarnya, mari kita kembali kepada peran yang dimainkan oleh Shamil Basayev. Shamil Basayev, pemimpin gerakan pemberontakan separatis Chechen untuk memisahkan diri dari Rusia, mulai menjalin kedekatan dengan Ibn al Khattab, komandan perlawanan Mujahidin Afghanistan pada saat dia mengikuti latihan kemiliteran di Afghanistan. Begitu kembali ke Grozny, Khattab diundang ke pada awal 1995 untuk membentuk pangkalan militer di Chechnya sekaligus melatih para kelompok perlawanan bersenjata di Chechnya dengan meniru model Mujahidin Afghanistan. 
 
Dari berbagai sumber yang dihimpun Chossudovsky, penempatan Khattab di Chechnya, diatur oleh sebuah organisasi nir-laba yang yang bergerak atas sponsor dari orang-orang kaya Arab Saudi. Jaringan inilah yang kemudian mengalirkan dana bantuan ke kalangan kelompok separatis Chechnya.
 
Adapun Shamil Basayev sendiri punya kaitan dengan komunitas intelijen AS sejak 1980-an. Bahkan sempat berkembang informasi bahwa Basayev terlibat dalam rencana kudeta 1991 yang berujung pada bubarnya Uni Soviet. Dan Basayev juga yang kemudian ikut serta mengeluarkan deklarasi sepihak kemerdekaan Chechnya dari Republik Federal Russia.
 
Singkat cerita, jaringan kelompok bersenjata Mujahidin Afghanistan yang semula diproyeksikan untuk melawan pendudukan Uni Soviet di Afghanistan, pada perkembangannya juga dibangun di Chechnya. 
 
Dan pembentukan kelompok bersenjata Chechnya sejatinya digunakan oleh Amerika untuk melancarkan aksi destabilisasi terhadap Republik Federasi Russia. Inilah yang dilakukan Chechnya melalui perang Chechnya 1994-1996 dan perang Chechnya 1999-2000.
 
Tidak aneh jika Yossef Bodansky, Direktur Satuan Tugas anti Terror dan Perang Inkonvensional Kongres AS, mengatakan bahwa rencana gerakan separatis Chechnya sudah dirancang sejak 1996 di Mogadishu, Somalia. Dalam pertemuan para petinggi Hizbollah Internasional. Dari fakta inilah kemudian diketahui bahwa Badan Intelijen Pakistan (ISI) tidak sekadar memberi bantuan senjata dan tenaga ahli, melainkan juga ikut serta dalam kontak senjata di pihak kelompok Chechen.
 
Dan ISI, tak terbantahkan lagi, punya jalinan kerjasama yang sudah berlangsung lama dengan CIA. 
 
Bisa jadi karena menyadari adanya skema Amerika semacam itu, Presiden Putin beberapa waktu sebelum terjadinya aksi teror di Volgograd, sudah mengingatkan betapa pentingnya untuk mewaspadai gerakan dari kaum militant berasal dari Kaukasus Utara. Mengingat adanya kelompok pemberontakan bersenjata Chehcnya yang berada di bawah kepemimpinan panglima perangnya, Doku Umarov. Sementara AS maupun sekutu-sekutu baratnya, selama ini justru tidak pernah memandang gerakan separatis bersenjata dari Kaukasus Utara tersebut sebagai ancaman. 
 
Nah sekarang jelaslah sudah, sepertinya memang ada tangan-tangan Amerika dalam berbagai aksi teror yang melibatkan kelompok separatnis Chechnya di Rusia.
  
 
Referensi:
 
3.  Baca Hendrajit, Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus, http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=11804&type=4#.UviRDftP1kh 
4. Hendrajit, ibid. 
5. Michel Chossudovsky, “The Chechen Connection”, Al Qaeda and the Boston Marathon Bombings, http://www.globalresearch.ca/boston-truth-the-chechen-connection-al-qaeda-and-the-boston-marathon-bombings/5332337


Artikel Terkait

» Menafsir "Dua Langkah" Beruang Merah bagi Indonesia dalam Pergeseran Geopolitik

» Proyek NAMRU-2 AS Jangan Sampai Terulang Kembali di Indonesia (Bagian I)

» Mengenang Perlawanan Siti Fadilah Supari Galang Dukungan Internasional Terhadap WHO (Bagian II)

» Sikap Indonesia Terkait Suriah Pada Pertemuan Para Menlu OKI ke-40 Tidak Jelas

» Mungkinkah Proxy War di Laut Cina Timur?

» Saatnya Indonesia Akhiri Keanggotaan di WTO



Analisis

04-03-2014 
Membaca Skenario Besar di Balik Penggulingan Presiden Yanukovich 
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute.

Keputusan Majelis Federasi Rusia untuk mengerahkan angkatan bersenjatanya di Semenanjung Cremea yang masuk kedaulatan Ukraina, memang tidak bisa dipandang semata-mata sebagai tindakan agresi militer sepihak. Karena sebelumnya telah didahului dengan campur-tangan Amerika Serikat dalam urusan dalam negeri Ukraina dengan mendukung kelompok oposisi yang menentang kepemipinan Presiden Yanukovich yang kebetulan cukup dengan dekat dengan Rusia.
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=14832&type=4#.U1PmtKL3tkg

Jika kita menelisik kembali proses kejatuhan Yanukovich yang didahului dengan gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang berlangsung 3 bulan penuh, maka tak pelak lagi tangan-tangan Amerika dan Uni Eropa ikut bermain dari balik layar. Hal ini bisa kita lihat ketika Yulia Tymoshenko, pesaing utama Yanukovich yang sudah dipenjara selama lebih dari 5 tahun, kemudian dibebaskan sehingga ketika demonstrasi dan kerusuhan yang kabarnya telah menewaskan 80-an orang tersebut, kemudian dijadikan simbol perlawanan terhadap rezim pemerintahan Yanukovich yang dalam garis politiknya sejalan dengan Pemerintahan Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin.

Maka kiranya tidak terlampau berlebihan jika sebuah harian di Cina, Xinhua Comentary, mengecam manuver Amerika dan Uni Eropa dalam memediasi antara kubu Yanukovich dan kelompok oposisi, pada perkembangannya justru telah menciptakan polarisasi di dalam negeri Ukraina. Poin menarik dari Xinhua Comentary adalah, dalam mengatasi krisis di Ukraina, pihak barat (AS dan Uni Eropa) sebaiknya melibatkan Rusia dalam proses mediasi tersebut.

Dari ulasan Xinhua Commentary, yang tentunya mencerminkan juga sikap tidak resmi dari Cina, bisa disimpulkan bahwa mediasi yang diprakarsai oleh Amerika dan Uni Eropa yang seolah-olah memediasi kubu pemerintahan Yanukovich dan kelompok oposisi, sejatinya merupakan aksi sepihak untuk melumpuhkan dan pada akhirnya menjatuhkan pemerintahan Yanukovich.

Sikap politik tajuk rencana Xinhua Commentary nampaknya harus dibaca sebagai refleksi pendirian politik pemerintah Cina yang sejatinya mendukung langkah yang diambil oleh Putin maupun Majelis Federasi Rusia. Meskipun di atas permukaan, pihak kementerian luar negeri Cina secara resmi menyatakan keprihatinannya atas situasi yang terjadi di Ukraina, dan menyerukan kepada semua pihak untuk menyelesaikan konflik internal Ukraina sesuai prosedur hukum yang berlaku. Seraya menegaskan bahwa Cina menghormati kedaulatan dan integritas territorial Ukraina.

Namun menariknya, juru bicara kementerian luar negeri Cina Qin Gang kemudian mengakhiri pernyataan resminya dengan sebuah kalimat bersayap: “Ada beberapa alasan mengapa timbul situasi sebagaimana yang terjadi di Ukraina saat ini.”

Di sini, Qin Gang tidak merinci lebih lanjut pernyataannya tersebut. Namun sebagaimana ulasana harian Xinhua Commentary di atas, Global Future Institute memandang kejatuhan Yanukovich paralel dengan terjadinya Revolusi berwarna di Ukraina pada 2004. Yang sejatinya skema revolusi berwarna merupakan skema negara-negara AS dan Uni Eropa untuk menjatuhkan pemerintahan suatu negara yang dipandang tidak bersahabat atau musuh.

Pemicu Kejatuhan Yanukovich

Kemarahan AS dan Uni Eropa mencapai puncaknya setelah Presiden Yanukovich menolak beberapa tekanan ekonomi politik yang dilakukan AS dan kelompok negara Uni Eropa. Yanukovich lebih memilih bersekutu dengan Cina, Rusia dan Iran.

Masih ingat apa yang terjadi pada 2011? Ketika itu, International Monetary Fund (IMF) gagal menjebol perekonomian Ukraina ketika pemerintah saat itu menolak mentah-mentah rekomendasi IMF untuk menghentikan subsidi harga gas yang dikonsumsi sebagian besar rakyat Ukraina. Padahal Ukraina sudah menyetujui pinjaman untuk Ukraina sebesar 15 miliar dolar AS.

Jerman, juga menekan Ukraina untuk bergabung dengan jaringan politik dan bisnisnya lewat kekuatan kelompok negara Uni Eropa. Sekadar informasi, Jerman sebenarnya sedang memulai proyek geopolitik besarnya melawan Rusia dengan memperluas jaringan European Union Eastern Partnership-nya. Proyek itu ternyata mampu merangkul negara Georgia dan Moldova. Sedangkan negara Belarus dan Armenia yang sudah dalam radar Jerman ternyata memilih bergabung ke kelompok negara Eurosian Customs Union yang dipimpin Rusia.

Sekarang, Ukraina yang kaya sumber energy itu juga menolak mentah-mentah keinginan Uni Eropa. Sangat logis jika kemudian Jerman meradang dengan penolakan Ukraina. Karena secara geopolitik, Ukraina dipandang oleh Jerman sebagai negara kunci untuk memenangkan perang pasar energy global Uni Eropa melawan kelompok negara-negara yang pro Rusia dan Cina.

Dalam prediksi Jerman, jika Ukraina bisa diajak bergabung dalam Uni Eropa, maka Uni Eropa akan mampu mengatur pasar energy global, minimal di tingkat negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

Manuver Uni Eropa dan Anatomi Kelompok Oposisi

Bebeapa langkah strategis Uni Eropa untuk menguasai Ukraina sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari. Beberapa perusahaan besar Jerman sudah membangun pipa gas yang cukup besar di Ukraina. Pipa gas tersebut dibangun melintasi Polandia, Hongaria dan Slovakia. Yang menjadi dasar pertimbangan Jerman, dengan membangun pipa-pipa gas tersebut, pada perkembangannya akan menyelesaikan ketergantungan Ukraina terhadap pasokan gas yang selama ini disalurkan dari Rusia.

Maka Jerman ingin agar proyek besar tersebut dibayar oleh Presiden Yanukovich dengan menandatangani kesepakatan untuk bergabung dengan Uni Eropa. Namun dengan keputusan Yanukovich untuk lebih memilih bersekutu dengan Cina, Rusia dan Iran, maka rencana Jerman untuk membangun infrastruktur pipa gas tadi akhirnya hancur berantakan. Gagal total.

Nampaknya inilah skenario besar AS dan Uni Eropa di balik dukungan terhadap ribuan demonstrasi dengan berlindung pada simbol gerakan “Pro Demokrasi” dan gerakan “anti Presiden Yanukovich.”

Lantas, bagaimana gambaran konstalasi politik Ukraina pasca kejatuhan Yanukovich? Mari kita telisik profil kelompok-kelompok yang berada di balik gerakan “Pro Demokrasi” Ukraina ini. Ternyata ada 3 kelompok besar di balik penggulingan Yanukovich.

Pertama, adalah partai Batkivschyna yang dipimpin oleh Yulia Tymoshenko. Partai ini dibiayai dan didukung secara langsung atau tidak langsung oleh Jerman.

Yang kedua, adalah Partai Svoboda yang mengusung ideology Neo Nazi. Partai ini adalah kelompok yang paling kuat menentang Yanukovich. Partai yang anti Yahudi (termasuk Yahudi Rusia) ini dibiayai oleh Washignton. Partai ini dipimpin oleh Tiahnybok. Dia mengembangkan partai neo nazi-nya dengan merujuk pada gerakan neo nazi yang berkembang di Eropa. Dalam konstalasi politik parlemen di Ukraina, Svoboda merupakan partai terbesar di Ukraina saat ini.

Kalau melihat betapa kisruhnya situasi politik di Ukraian beberapa bulan jelang jatuhnya Yanukovich, nampaknya Partai Svoboda berperan cukup aktif untuk memanaskan keadaan dan dalam menciptakan aksi destabilisasi politik.
Partai ketiga adalah partai Udar yang dipimpin langsung oleh Vitally Klitschko, mantan juara tinju kelas berat dunia. Klitschko merupakan salah satu calon presiden yang akan maju pada pemilu Ukraina 2015 mendatang. Partai Jerman Christian Democrat Union memastikan Klitschko merupakan salah satu orang penting untuk menjembatani semangat pro Uni Eropa di Ukraina.

Yang mengherankan kami di Global Future Institute, beberapa media arus utama, termasuk beberapa harian terkemuka di Indonesia, justru lebih menyorot dan menjadikan headlinenya ke arah kemunculan semangat neo nazi di Ukraina. Bahkan ada yang mengembangkan wacana bahwa Ukraina akan menjadi negara neo fasis baru. Sehingga Partai Svoboda dan gerakan neo nazi-lah yang justru jadi headline berbagai media massa di dalam maupun di luar negeri.

Padahal, isu besar di balik jatuhnya Presiden Yanukovich adalah pertarungan penguasaan energy global antara kelompok negara Trans Pacific Partnership (TPP) yang dimotori oleh Amerika dan Uni Eropa yang dimotori oleh Jerman. Melawan negara-negara yang tergabung dalam BRICS berdasarkan skema kerjasama strategis Rusia dan Cina melalui Shanghai Cooperation Organization (SCO).

Menyimak dan memonitor secara intensif dan terus-menerus perkembangan situasi di Ukraina atas dalam sudut pandang ini, berarti mendorong berbagai elemen strategis di Indonesia untuk mewaspadai skema serupa akan dipagelarkan di Indonesia sewaktu-waktu. Apalagi dalam jelang pemilu April 2014 mendatang diprediksi akan cukup krusial dan berpotensi untuk terjadinya instabilitas politik. 






 


Artikel Terkait

» Gagalnya Skenario Revolusi Warna dan Titik-Balik Amerika di Ukraina

» Nasib Muslim Tatar: Isu Jihad Baru di Ukraina?

» Membaca Skenario Besar di Balik Penggulingan Presiden Yanukovich

» LAPORAN UTAMA: Tangan-Tangan Amerika dalam Aksi Teror di Volgograd

» Membaca Krisis Politik di Ukraina dari Perspektif Geopolitik (2)

» Membaca Krisis Politik di Ukraina dari Perspektif Geopolitik (1)



Artikel Terkait

» Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski

» Gagalnya Skenario Revolusi Warna dan Titik-Balik Amerika di Ukraina

» Nasib Muslim Tatar: Isu Jihad Baru di Ukraina?

» Membaca Skenario Besar di Balik Penggulingan Presiden Yanukovich

» L’Ukraine Est Une Autre Syrie

» LAPORAN UTAMA: Georgia, Basis Operasi Militer-Intelijen AS dan Israel Destabilisasi Rusia

» LAPORAN UTAMA: Tangan-Tangan Amerika dalam Aksi Teror di Volgograd