Senin, 28 Juli 2014

PERANG GAZA 2014- BERTEPATAN DENGAN BULAN RAMADHAN.... ??? ADA PERILAKU YANG ANEH DARI REGIME MESIR-SAUDI ARABIA.... DAN ISRAEL..YANG DIDUKUNG AMERIKA SERIKAT DAN INGGRIS...?? ... SECARA BERKOMPLOT.. MENYERANG GAZA-PALESTINA... YANG KONON ADALAH PUSAT HAMAS.. YANG NOTA BENE PENDUDUK TERPADAT DENGAN MAYORITAS UMMAT ISLAM ... DI PALESTINA.. .YANG BERPUSAT DI GAZA...??? KOTA.. DENGAN LUAS KONON 10 KM X 35 KM...SAJA...??? >> ADA APA REGIM PENGUASA SAUDI-MESIR DAN ISRAEL... SERTA DUKUNGAN MASIF DARI AS-INGGRIS... YANG DIMOTORI... OLEH... OBAMA-KERRY-DAN PARA DEDENGKOT NEOKONS DAN NEOLIBS SERTA PARA EMBAH BUYUT RAJA2 PENJAJAH DUNIA.. DI EROPA..??>> .... PERANG GAZA YANG ANEH... NEGERI LILIPUT..YANG RELAIF SANGAT MISKIN... DAN DALAM BLOKADE... . YANG DIHUNI MAYORITAS UMMAT ISLAM PALESTINA ITU DIGEMPUR OLEH ISRAEL DENGAN KEKUATAN PENUH -UDARA-LAUT DAN DARAT..SERTA DRONE... SELAMA ... BULAN RAMADHAN DAN BAHKAN SEBELUMNYA TELAH DITEROR..DAN DITEKAN.. OLEH ISRAEL- AS- MESIR DAN SAUDI CS... YANG MELIBATKAN BERBAGAI CARA2 JAHAT.. DAN INTELIGEN2...BAYARAN UNTUK KEPENTINGAN RAJA SAUDIA.DAN TUAN2NYA... YAKNI.. DENGAN PURA2 MEMBERI BANTUAN.. KEPADA GAZA..OLEH.. ROMBONGAN DARI.... KUWAIT-QATAR.. DAN GCC -TELUK YANG TERKENAL SANGAT KAYA RAYA... ???.....>>> KITA BERSYUKUR.. PERLAWANAN RAKYAT DAN PEJUANG GAZA.. SUNGGUH MENTAKJUBKAN... DAN SANGAT DAHSYAT.. >> MEMBUAT ISRAEL DAN MATA DUNIA TERBELALAK...!!!... >>> SUNGGUH GAZA .. BERHASIL SEBAGAI BANGSA YANG DISEGANI.. DAN MENJADIKAN LAWAN2.. SEMAKIN GENTAR...!!! >> ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR...!!! BERKAT PERTOLONGAN DAN RAHMAT ALLAH MAHA KUASA.. GAZA... TAK PERNAH ... KALAH...>>> BAHKAN KINI SEMAKIN NYATA KUAT DAN PERKASA...!!! >> MAKA MESIR-ARAB SAUDI-ISRAEL-AS-INGGRIS..DKK... SEMAKIN KECEWA.. DAN MENJADIKAN MEREKA.. KAUM YANG TERHINAKAN... DAN TER CEMOOHKAN.. KARENA KEBENGISAN DAN KEZHALIMAN SERTA KESERAKAHAN MEREKA.. !!! WALAUPUN TERHADAP BANGSA YANG TERJAJAH DAN TERTINDAS.. SEPERTI PALESTINA.. DAN GAZA SEBAGAI PUSAT PERLAWANAN... BANGSA PALESTINA...AL MUBARAK AL KARIEM...!!! >>> LONG LIFE AND GLORIOUS GAZA AND WHOLE PALESTINE -FREE COUNTRY....>> AND GO TO HELL ISRAEL-USA-UK. AND THE REGIME OF EGYPT AND SAUDIA..CS...!! .. Perang di Gaza jauh lebih sulit dari perang di Lebanon ataupun operasi pertahanan di Tepi Barat. Para prajurit cadangan penjajah Israel “Yoav” mengatakan bahwa mereka pernah ikut perang di Lebanon Selatan dan Tepi Barat, namun masuk ke Gaza jauh lebih berat. Karena para tentara pejuang hari ini berbeda dari hari kemarin...>>> ...Para tentara penjajah itu mengatakan bahwa mereka sangat takut dengan para pejuang yang keluar dari dalam tanah dan melakukan penangkapan terhadap tentara penjajah...>> ...Seorang prajurit berinisial “S” mengatakan bahwa dia mencoba untuk menenangkan dirinya ketika malam tiba karena suara-suara ledakan yang didengarnya tidak sama dengan suara ledakan dari misil tank mereka, melainkan suara misil anti tank...>>...... Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.....>>> ....Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab...>> ....Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka......>> ..Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam. Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir....>> ...Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel. Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina....>>> kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya....>>>

Sikap Dingin Raja Saudi atas Perlawanan Hamas


By on 4:22 PM 
http://muslimina.blogspot.com/2014/07/sikap-dingin-raja-saudi-atas-perlawanan.html# 



Tanyakan kepada pejabat Palestina mengapa Presiden Mahmoud Abbas tidak pernah bertemu Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi?

Anda pasti akan mendapat jawaban singkat; "Dingin." Lainnya menjawab seraya tertawa; "Pastinya dingin politik."
 
Jika tidak Mahmoud Abbas yang enggan bertemu, Raja Abdullah menggunakan alasan kesehatan untuk membatalkan pertemuan. Padahal, Raja Abdullah sangat menderita dengan beredarnya spekulasi, setiap kali terjadi pembatalan pertemuan.
 
Riyadh menutup pintu bagi Hamas, karena tidak ingin penguasa Jalur Gaza itu menjadi cabang Ikhwanul Muslimin. Lebih dari itu, Arab Saudi berniat melucuti kelompok perlawanan Palestina berapa pun biayanya.
 
Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
 
Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina.
 
Hamas relatif hanya bergantung pada Turki dan Qatar. Di level diplomatik, Turki rela mengorbankan hubungannya dengan Mesir. Sedangkan Qatar menyediakan kebutuhan finansial bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza.
 
Informasi terakhir, menurut situs Al-akhbar, Riyadh menyusun proposi baru dengan maksud melucuti Hamas dan Jihad Islam. Perlucutan dilakukan dengan cara mengirim tentara ke Rafah, dengan iming-iming uang. Semua itu dibungkus dengan semangat rekonsiliasi.
 
Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam.
 
Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir.
 
Qatar juga melihat niat terselubung Riyadh. Saat berkunjung ke Arab Saudi, 23 Juli lalu, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani mempersingkat pembicaraannya dengan Raja Abdullah, dan segera kembali ke Doha.
 
Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka.
 
Bagi Qatar, tidak sulit mencari bukti semua ini. Pernyataan Shaul Mofaz -- menteri pertahanan Israel -- pada 20 Juli adalah salah satunya.
 
Saat itu, kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya.
 
Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.
 
Sumber-sumber Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza membenarkan adanya tawaran murah hati dari negara-negara Teluk untuk Abbas, sebagai imbalan perlucutan senjata, mencabut blokade ekonomi, rencana pembangunan komprehensif Jalur Gaza dan Tepi Barat.
 
Satu hal yang tidak dilihat Riyadh, Kairo, dan negara-negara Teluk lainnya, adalah Jihad Islam, Hamas, dan faksi-faksi perlawanan, kini semakin kuat dan mampu bertahan dari gempuran Israel dan melakukan perlawanan dalam perang darat.
 
Menlu AS John Kerry yang justru melihat semua itu. Dalam wawancara dengan CNN, Kerry secara terbuka mengatakan Hamas bukan lagi pejuang amatiran.
 
Di medan tempur, setelah kehilangan 12 serdadunya dalam pertempuran darat Minggu lalu, juru bicara militer Israel Letkol Peter Lerner mengatakan; Hamas saat ini adalah pasukan yang menjalankan latihan ekstensif, suplai senjata yang baik, dan mampu bertempur dengan motivasi dan disiplin tinggi."
 
Kepada pers internasional yang dikutip situs Alalam.ir, Lerner juga mengatakan, "Kami tengah menghadapi lawan tangguh di medan perang."
 
Ketika Hamas dan Jihad Islam menolak semua usulan gencatan senjata, Israel terus membunuh dan membunuh. Namun, negeri Yahudi tersebut bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kekejian itu. Tangan pemimpin Arab Saudi, Mesir, AS, dan UEA, juga berlumur darah bocah-bocah Palestina. (atjehcyber)

Busuknya Pemerintah Arab Saudi, Mereka Malah Lebih Memusuhi Hamas Daripada Zionis Israel

http://www.suaranews.com/2014/07/busuknya-pemerintah-arab-saudi-mereka.html 

 

Pengkhianatan AS-UK-dan Kerajaan Arab Saudi Cs terhadap bangsa dan rakyat Palestina sejak pre 1946-2014. 

Tanyakan kepada pejabat Palestina mengapa Presiden Mahmoud Abbas tidak pernah bertemu Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi?
Anda pasti akan mendapat jawaban singkat; "Dingin." Lainnya menjawab seraya tertawa; "Pastinya dingin politik."
Jika tidak Mahmoud Abbas yang enggan bertemu, Raja Abdullah menggunakan alasan kesehatan untuk membatalkan pertemuan. Padahal, Raja Abdullah sangat menderita dengan beredarnya spekulasi, setiap kali terjadi pembatalan pertemuan.
Riyadh menutup pintu bagi Hamas, karena tidak ingin penguasa Jalur Gaza itu menjadi cabang Ikhwanul Muslimin. Lebih dari itu, Arab Saudi berniat melucuti kelompok perlawanan Palestina berapa pun biayanya.
Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina.
Hamas relatif hanya bergantung pada Turki dan Qatar. Di level diplomatik, Turki rela mengorbankan hubungannya dengan Mesir. Sedangkan Qatar menyediakan kebutuhan finansial bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Informasi terakhir, menurut situs Al-akhbar, Riyadh menyusun proposi baru dengan maksud melucuti Hamas dan Jihad Islam. Perlucutan dilakukan dengan cara mengirim tentara ke Rafah, dengan iming-iming uang. Semua itu dibungkus dengan semangat rekonsiliasi.
Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam.
Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir.
Qatar juga melihat niat terselubung Riyadh. Saat berkunjung ke Arab Saudi, 23 Juli lalu, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani mempersingkat pembicaraannya dengan Raja Abdullah, dan segera kembali ke Doha.
Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti

Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka.
Bagi Qatar, tidak sulit mencari bukti semua ini. Pernyataan Shaul Mofaz -- menteri pertahanan Israel -- pada 20 Juli adalah salah satunya.

Saat itu, kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya.

Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.

Sumber-sumber Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza membenarkan adanya tawaran murah hati dari negara-negara Teluk untuk Abbas, sebagai imbalan perlucutan senjata, mencabut blokade ekonomi, rencana pembangunan komprehensif Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Satu hal yang tidak dilihat Riyadh, Kairo, dan negara-negara Teluk lainnya, adalah Jihad Islam, Hamas, dan faksi-faksi perlawanan, kini semakin kuat dan mampu bertahan dari gempuran Israel dan melakukan perlawanan dalam perang darat.

Menlu AS John Kerry yang justru melihat semua itu. Dalam wawancara dengan CNN, Kerry secara terbuka mengatakan Hamas bukan lagi pejuang amatiran.

Di medan tempur, setelah kehilangan 12 serdadunya dalam pertempuran darat Minggu lalu, juru bicara militer Israel Letkol Peter Lerner mengatakan; Hamas saat ini adalah pasukan yang menjalankan latihan ekstensif, suplai senjata yang baik, dan mampu bertempur dengan motivasi dan disiplin tinggi."

Kepada pers internasional yang dikutip situs Alalam.ir, Lerner juga mengatakan, "Kami tengah menghadapi lawan tangguh di medan perang."

Ketika Hamas dan Jihad Islam menolak semua usulan gencatan senjata, Israel terus membunuh dan membunuh. Namun, negeri Yahudi tersebut bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kekejian itu. Tangan pemimpin Arab Saudi, Mesir, AS, dan UEA, juga berlumur darah bocah-bocah Palestina.

Inilah Kesaksian Tentara Israel Tentang Tentara Hamas Yang Menakutkan


By on 2:59 PM 
http://muslimina.blogspot.com/2014/07/inilah-kesaksian-tentara-israel-tentang.html# 



GAZA -- Sebuah kesaksian disampaikan oleh tentara penjajah Israel di media Israel 'Haaretz' yang menceritakan pengalaman mereka dalam perang di Jalur Gaza.

Para tentara penjajah itu mengatakan bahwa mereka sangat takut dengan para pejuang yang keluar dari dalam tanah dan melakukan penangkapan terhadap tentara penjajah.

Seorang prajurit berinisial “S” mengatakan bahwa dia mencoba untuk menenangkan dirinya ketika malam tiba karena suara-suara ledakan yang didengarnya tidak sama dengan suara ledakan dari misil tank mereka, melainkan suara misil anti tank.


“Apa yang paling kami takuti pada perang di Gaza adalah kami tidak dapat melihat apapun pada malam hari namun hanya mendengar ledakan-ledakan di semua tempat,'' ujar prajurit tersebut.

Perang di Gaza jauh lebih sulit dari perang di Lebanon ataupun operasi pertahanan di Tepi Barat. Para prajurit cadangan penjajah Israel “Yoav” mengatakan bahwa mereka pernah ikut perang di Lebanon Selatan dan Tepi Barat, namun masuk ke Gaza jauh lebih berat. Karena para tentara pejuang hari ini berbeda dari hari kemarin.

Sementara media Israel lainnya, Yediot Ahronot, mengatakan bahwa untuk pertama kalinya para perwira militer ditempatkan di barisan terdepan dengan maksud semula untuk mengangkat semangat para prajurit, namun justru banyak diantara perwira tersebut terbunuh.

“Kita harus mengakui bahwa kita menghadapi pejuang bersenjata lengkap dengan senjata yang canggih dan presisi termasuk senjata berat dan mortir,'' salah seorang sumber Zionis mengatakan kepada Guardian.

“Ini adalah pertempuran yang sangat sulit dan sangat mengejutkan, karena para pejuang sudah menunggu kami,” ujar sumber tersebut menambahkan tentara Israel telah mengalami hari-hari paling buruk.(republika)


Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan

Selasa,  29 Juli 2014  −  14:35 WIB http://international.sindonews.com/read/887024/45/mengintip-terowongan-hamas-yang-membuat-israel-ketakutan
Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan
Salah satu terowongan di Gaza yang menembus wilayah Israel. | (European Pressphoto Agency / Jim Hollander)
GAZA - Dalam sebuah perang darat, seorang perwira militer Israel, Letnan Kolonel Oshik Azulai, kaget sekaligus takut. Dia melihat terowongan gelap gulit di perbatasan Jalur Gaza Palestina. Dalamnya, sekitar 46 meter.

Ponsel, katanya, tidak bisa aktif di dalam terowongan itu. Kolonel Azulai, yang menjabat sebagai Wakil Komandan Divisi Gaza Selatan Militer Israel itu, menceritakan terowongan yang dia jumpai membentang ke wilayah Israel. Bentuknya mirip seperti bentuk semangka.

Melalui salah satu terowongan itulah, banyak militan Gaza menyusup ke Israel dan membunuh sejumlah tentara Zionis. Sejumlah terowongan itu pula yang membuat warga dan pejabat Israel ketakutan, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

”Kami tidak akan menyelesaikan operasi tanpa menetralkan terowongan, satu-satunya tujuan yang merupakan penghancuran warga sipil dan pembunuhan anak-anak kita,” kata Netanyahu dalam sebuah pidato di televisi. (Baca: Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tetara Zionis)

”Tidak mungkin bahwa warga negara Israel akan hidup di bawah ancaman mematikan (dari) rudal dan penyusupan (militan) melalui terowongan. Kematian (datang) dari atas dan dari bawah,” lanjut dia, seperti dikutip New York Times.

Terowongan di Gaza, semula menjadi imajinasi para pejabat Israel sejak tahun 2006, ketika militan Hamas menculik seorang tentara Israel. Tapi, kini terowongan itu bukan lagi imajinasi, tapi menjadi ancaman yang menakutkan bagi para pejabat Israel.

Banyak ahli di Israel semula meragukan perjuangan para militan di Gaza dengan mengandalkan terowongan. Tapi, mereka kini mulai pikir-pikir untuk meremehkan militan Gaza melalui terowongan itu.

”Ini membawa kita sedikit ke masa kecil, seperti dongeng dari setan,” kata Eyal Brandeis, 50, seorang ilmuwan politik yang tinggal di Kibbutz Sufa, satu mil dari tempat 13 militan yang muncul dari terowongan saat fajar pada 17 Juli 2014 lalu.

“Ini adalah sangat lingkungan pastoral tempat saya tinggal, kondisinya tenang, dengan rumput hijau, dan pohon-pohon. Ini bukan pikiran yang menyenangkan bahwa Anda duduk pada suat hari di teras, minum kopi dengan istri dan sekelompok teroris akan muncul dari tanah,” ujarnya yang menyebut para militan sebagai teroris.

Pihak militer Israel mengatakan, setidaknya sudah lebih dari 70 terowongan ditemukan. Salah satu terowongan yang dianggap menakutkan adalah terowongan Ein Hashlosha. Di mana, melalui terowongan itu terdapat air, kerupuk; sekaligus granat roket dan senapan otomatis.
  
Ada juga kamar kecil untuk tidur atau bersembunyi. Selain itu terdapat pula borgol plastik, seragam tentara Israel.”Itu alah satu terowongan yang sangat baik,” kata Kolonel Azulai. ”Ini seperti kereta bawah tanah, di bawah tanah Gaza.”


Ada Kecanggihan

Ahli Israel mengatakan untuk membantun setiap terowongan akan memakan waktu hingga satu tahun dan biaya hingga USD2 juta. Bahkan untuk membuatnya butuh puluhan penggali yang bekerja dengan tangan dan dengan alat-alat listrik kecil.

Militer Israel, kata Azulai, telah mengetahui tentang cerita terowongan itu sejak 2003. Tapi, para tentara Israel baru kaget setelah mengetahui ada kecanggihan yang mereka temukan.

Perwira intelijen pernah melacak sejumlah terowongan di Gaza Mereka bahkan mengandalkan peralatan komunikasi yang digunakan di bawah tanah.

”Sebagian besar alat, tepatnya alat fisik, tidak bekerja di bawah tanah. Itu sangat terbatas,” kata Brigjen. Jenderal Shimon Daniel, yang memimpin korps zeni tempur Israel 2003-2007. ”Ini adalah paradoks. Ini bukan hal mudah. Ini lebih sulit (dari yang dibayangkan).”

Senin petang kemarin (28/7/2014), kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel. Mereka menyusup ke wilayah Israel melalui terowongan, menyamar dan kemudian menghabisi 10 tentara Zionis Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.
(mas)

Is the West Bank witnessing a resurgence of Fatah’s al-Aqsa Martyr Brigades?

A Palestinian protester holding his national flag stands amid smoke after tear gas was fired by Israeli security forces during clashes in the West Bank village of Bilin, on July 28, 2014, following a demonstration in support of Palestinians from the Gaza Strip. (Photo: AFP-Abbas Momani)
http://english.al-akhbar.com/content/west-bank-witnessing-resurgence-fatah%E2%80%99s-al-aqsa-martyr-brigades
Published Monday, July 28, 2014

While Fatah may have made an about-face with its attitudes regarding the war on Gaza, it will not be able to easily reactivate its armed wing, al-Aqsa Martyrs Brigades, owing to its long political journey that has broken the back of its military leaders.

Hebron – “Al-Aqsa Martyrs Brigades, the armed wing of the Fatah Movement, claims responsibility for firing at the occupation forces stationed at the Qalandia checkpoint in Ramallah…and confirms there were casualties among them on Saturday June 26, 2014.” 

This was not a random statement or just another military statement coming from the Resistance in Gaza during the war. No, this was from the West Bank. 





Those who do not know what it means for Fatah’s al-Aqsa Martyrs Brigades to claim responsibility for armed clashes in a West Bank city are invited to pay attention to the fact that Operation Defensive Shield in 2012, coupled with the subsequent policy of security collaboration between the Palestinian Authority and Israel, were the most important factors in putting down the Resistance there, especially since most martyrdom operations in the occupied territories that once haunted Israel had originated from the West Bank. 
 Since then, Fatah sought to distance itself from armed struggle, on the grounds that the liberation phase of the cause had ended. Fatah focused instead on “state-building,” and accordingly, amnesty with Israeli consent was given to activists from al-Aqsa Martyrs Brigades, including those involved in killing Israeli soldiers. These activists were reintegrated into educational and rehabilitation programs, and then into jobs in Palestinian Authority institutions, and were given salaries and promotions. 

Nevertheless, al-Aqsa Martyrs Brigades and similar organizations continued to be designated as “terrorist groups.” The logo of Fatah’s military wing, details about its members and operations and so on, continue to be found on the websites of several international “counter-insurgency” organizations.

As clashes recently erupted in many parts of the West Bank, the question that has emerged is this: Will al-Aqsa Martyrs Brigades make a comeback – recall that Fatah established the organization at the beginning of the second intifada – to lead events again and the Palestinian street toward a third intifada? For one thing, stone throwing has lost its practical effectiveness compared to armed struggle since the first intifada, even though it remains a symbol that haunts the occupation. 





Before attempting to answer this question, it should be pointed out that al-Aqsa Martyrs Brigades’ vision is to end Israeli occupation in the territories occupied in 1967 to establish a Palestinian state, that is, its vision is consistent with that of the political wing of the Fatah movement. However, this did not prevent al-Aqsa Martyrs Brigades from carrying out commando operations during the second intifada outside the West Bank, hitting targets as far as Tel Aviv. 
 Al-Aqsa Martyrs Brigades’ cells expanded into Gaza, but its growth in the Strip was stunted with the assassination of its founder there, Jihad Amarin, after which al-Aqsa Martyrs Brigades scattered into small combat groups. Al-Aqsa Martyrs Brigades’ role in Gaza gradually disappeared as Mahmoud Abbas’ faction took over the Palestinian Authority, and today, its presence there is limited to groups supported by Hamas (Ayman Jaoudeh’s groups), by the Palestinian Islamic Jihad (al-Mujahidin and Abu Sharia), and by Hezbollah (Imad Mughniyeh).

The dismantling of the Brigades

As part of the social engineering process in the West Bank following the end of the second intifada, and as part of the Palestinian state-building process on the basis of peace, democracy, and coexistence with the occupation, the Palestinian Authority and Israel agreed in October 2008 to grant amnesty to al-Aqsa Martyrs Brigades activists who agreed to lay down their arms and sign documents pledging not to participate in any operations against Israel. 

The total number of individuals who received amnesty was 329, out of a long list prepared by the Israelis of all fugitives in the West Bank from all factions. The list was handed over to the Palestinian Authority, who formed the so-called Fugitives Committee to hold dialogue with them before granting them amnesty in return for their arms and other conditions.

Under the agreement, the Israeli authorities stopped trying to apprehend the fugitives, provided the latter were kept in the custody of the security services for three months. At the end of the three-month period, the Israeli authorities were notified of which individuals received full or partial pardons, and who was taken off – or kept on – the list of fugitives, including al-Aqsa Martyrs Brigades activists who had completely renounce resistance. 

Some of those included in the deal were allowed to move only in Area A (the areas under Palestinian control), while others who were refused amnesty in the past were placed under probation pending a final decision in their cases. Individuals who received partial amnesty were allowed to leave at 7 am, but had to go back to sleep the night at Palestinian Authority detention centers. Yet all this humiliation did not stop the Israelis from assassinating or detaining individuals who had been granted amnesty. 

The detailed background above is meant to clarify how an armed resistance organization that had external support was dismantled, while another organization seized its weapons in return for amnesty and a normal life if the activists pledged to renounce “violence.” 

Subsequently, armed individuals in Palestinian cities, villages and some refugee camps began to disappear, and after 2008 any armed individual who refused to lay down his or her arms was dealt with harshly. 





There were some who were able to keep their weapons and dodge the trap of conditional amnesty and the efforts to dismantle the Resistance in the West Bank. These rejectionists, including former detainees, had to acquire weapons at double the price in order to have a safety net in light of the profound transformations affecting the Palestinian political landscape. This faction remained on the ground, stationing itself in camps like Jenin, Balata, Qalandia, and other areas designated by the Palestinian Authority and Israel as hotspots.

An imminent comeback?

The current situation is marked by Fatah’s retreat from armed struggle, in parallel with the detention or even assassination of the former leaders of armed resistance. In addition, the current Palestinian leadership in the West Bank favors so-called peaceful resistance, such as protests (a majority of which are prohibited from going to areas of direct contact with the occupation). 

On the other hand, recent shooting incidents indicate that a green light was given to some armed individuals who must coordinate with one another and with some in the leadership – because no one can move this quickly to carry out armed attacks except with protection from the eyes of the security services. 

Apart from the theory that Mohammed Dahlan, expelled Fatah leader, is trying to ignite the West Bank based on the fact that he has a long track record in security coordination, it is possible to interpret the incidents in another way: While it is very unlikely that Fatah cadres or all of Fatah could be drawn into a full confrontation, it seems that some armed cells have taken it upon themselves to initiate some individual efforts. However, it is important to note that these efforts are difficult to transform into a systematic phenomenon as a result of complicated circumstances on the ground and the lack of funding – an important issue especially with the extremely high prices of weapons in the West Bank.

Since the Israeli attacks on Gaza over 20 days ago, clashes in the West Bank and the occupied territories are growing in frequency and number. There have been more than 36 spots where clashes occurred with the occupation forces, with a corresponding number of press reports about al-Aqsa Martyrs Brigades’ involvement in a number of attacks on Israeli targets. 

So does this mean that the armed organization has returned? Will sleeper cells be activated to confront Israeli forces, especially in light of reports that Hezbollah is directly funding the Brigades in the West Bank? It is also possible to raise other questions about purported decisions by some Palestinian Authority leaders to take advantage of al-Aqsa Martyrs Brigades’ return to win the sympathy of the masses, who are disillusioned with the political failure of their leadership. 

In this context, it should be noted that security collaboration is still the biggest threat to armed struggle in the West Bank, specifically in the refugee camps, which the Palestinian Authority could not re-engineer and demilitarize. The Palestinian Authority continues its attempts to nip any seeds of Resistance in the bud, even when those seeds are affiliated to Fatah. At any rate, it is very possible that we will see solitary cells engaged in guerilla warfare and attacks using small arms, and those who know the West Bank will know that such cells could indeed hurt the enemy and haunt the settlers and soldiers deployed on the streets and along the checkpoints.

This article is an edited translation from the Arabic Edition.

Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis

Selasa,  29 Juli 2014  −  10:38 WIB
http://international.sindonews.com/read/886991/43/menyamar-di-israel-militan-al-qassam-habisi-10-tentara-zionis
Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis
Para militan Brigade al-Qassam siaga dengan senjatanya. | (Maan)
GAZA - Kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel, Senin petang kemarin. Mereka berhasil menewaskan 10 tentara Israel setelah militan al-Qassam menyamar dan menyusup di barisan militer Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.

Setelah membunuh 10 tentara Israel, para militant al-Qassam itu berhasil pulang dengan selamat ke pangkalan mereka di Gaza.

Sementara itu, Militer Israel mengakui ada penyusupan dari militan Jalur Gaza melalui terowongan yang menembus wilayah Israel.

“Militan melepaskan tembakan terhadap pasukan Israel dan kami pencarian sedang dilakukan untuk menemukan mereka,” bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip kantor berita Ma’an, Selasa (29/7/2014).

Sedangkan media Israel, Chanel 10 melaporkan, telah terjadi baku tembak di dekat Nahal Oz, sebelah timur Gaza. Militer Israel mengklaim telah membunuh empat militan Gaza.

Empat Serdadu Israel Tewas Terkena Roket Pejuang Palestina





Serangan rudal dan roket para pejuang Palestina ke posisi-posisi militer rezim Zionis Israel telah menewaskan empat tentara Zionis.
 
Para pejuang Palestina pada Senin (28/7) menembakkan sejumlah rudal ke posisi-posisi Zionis di wilayah Eshkol sebagai balasan atas kejahatan-kejahatan militer Israel. Demikian dilaporkan FNA.
 
Serangan balasan tersebut telah menewaskan empat tentara Israel dan melukai tujuh lainnya.
 
Kanal 10 televisi rezim Zionis telah mengkonfirmasi tewasnya empat tentara Israel dan terlukanya beberapa dari mereka dalam serangan rudal ke Eshkol.
 
Sumber-sumber Zionis hingga kini hanya mengkonfirmasi bahwa 41 tentaranya telah tewas sejak digelar perang di Jalur Gaza. Padahal Brigade Izzudin al-Qassam dalam statemen terbarunya mengatakan bahwa 91 tentara Zionis telah tewas sejak serangan Israel ke Gaza. (IRIB Indonesia/RA)

Wakil Panglima Pasdaran: Perang Gaza Awal Keruntuhan Israel




Wakil Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, Pasdaran mengatakan, perang Gaza adalah awal dan pendahuluan keruntuhan rezim Zionis Israel.

Mehr News (28/7) melaporkan, Jenderal Hossein Salami, Ahad (27/7) malam, terkait serangan-serangan yang dilakukan Israel ke Gaza menekankan urgensi pembelaan atas negara-negara Islam dari serangan musuh.

 
Menurutnya syuhada adalah bukti bernilai, harga diri dan kemuliaan bangsa Iran yang menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Iran secara total akan melindungi tanah airnya.

Salami menegaskan, bangsa Iran di puncak ketidakadilan politik, ekonomi dan militer, mampu membela diri dalam perang yang dipaksakan selama delapan tahun. Mereka sama sekali tidak membiarkan sejengkal tanahnya direbut musuh dan ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.
(IRIB Indonesia/HS)

Kiat Hamas Jaga Semangat Juang Lawan Zionis Israel

Senin, 21 Juli 2014, 06:00 WIB
Republika/Daan 
Ikhwanul Kiram Mashuri
Ikhwanul Kiram Mashuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Sungguh memprihatinkan! Ketika para pejuang Palestina di Jalur Gaza sedang menghadapi serangan membabibuta Zionis Israel, ada beberapa pengamat Timur Tengah, pemimpin Arab, dan pihak-pihak lain yang justeru menyalahkan sikap para pemimpin Pergerakan Hamas.

Pertama, mereka mempertanyakan mengapa pejuang Hamas tetap saja meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel, padahal senjata tersebut tidak membahayakan keamanan negara Zionis itu. Bahkan sebagian besar roket itu telah hancur di udara dilumpuhkan oleh sistem pertahanan canggih anti-rudal Israel yang disebut Iron Dome.

Kedua, dengan kengototan pejuang Hamas meluncurkan roket ke wilayah Israel berarti ada alasan sah Negara Yahudi itu untuk terus menyerang Jalur Gaza. Serangan yang hingga pada hari Sabtu saja, dua hari lalu, telah menewaskan 40 syahid Palestina. Dengan demikian, serangan udara dan darat tentara Zionis Israel yang berlangsung sejak beberapa hari lalu telah memakan korban sejumlah 340 syahid dan lebih dari 3.400 orang luka-luka berat dan ringan. Belum lagi ratusan rumah dan fasilitas umum yang hancur rata dengan tanah. Kalau saja Hamas tak meluncurkan roketnya, kata mereka, mungkin Israel Israel tidak akan menyerang Gaza.  

Pertanyaannya, adakah para pejuang Hamas harus memberhentikan serangan roket-roketnya ke wilayah Zionis Israel dan kemudian menerima tawaran Pemerintah Mesir untuk gencatan senjata?


Selasa pekan lalu (15/7) Mesir menawarkan solusi gencatan senjata yang dikatakannya akan menguntungkan kedua belah pihak. Dengan solusi ini, kata Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukri,  kedua pihak berkesempatan untuk saling menghentikan perang, mencegah pertumpahan darah warga Palestina, membebaskan blokade terhadap Gaza, dan memberi kesempatan kedua belah pihak untuk berunding.

Namun, tawaran itu ditolak Hamas. Mereka menilai, solusi yang ditawarkan Mesir bukan win-win solution, tapi justeru lebih menguntungkan pihak Israel. Misalnya, dalam solusi versi Mesir itu tidak disebutkan bahwa Israel adalah pihak agresor dan penjajah, apalagi sebagai penjahat perang. Di sana, Israel juga tidak dipersalahkan menyerang Gaza dan telah menewaskan ratusan warga dan menghancurkan rumah-rumah dan falitas umum lainnya.  

Menurut kolomnis Timur Tengah Tohir Al ‘Udwan di media Aljazira.net, semua solusi yang tidak menyalahkan Israel berarti memaksa bangsa Palestina menerima semua kejahatan yang dilakukan penjajah Zionis Israel sejak 1967. Dengan demikian, katanya, bangsa Palestina  sepertinya disuruh memili dua pilihan yang sama-sama pahit.

Pertama, mereka dipaksa menerima fakta pendudukan Israel, menjadikan wilayah Palestina sebagai daerah Yahudi, blokade, penangkapan, dan pengusiran orang-orang Palestina dari tanah airnya. Dengan kata lain, tuntutan bangsa Palestina untuk membebaskan tanah airnya, mendirikan negara merdeka, dan memulangkan para pengungsi adalah ilegal.

Kedua, bangsa Palestina dipaksa tunduk dan menerima tindakan Israel selama ini, baik yang terkait dengan perundingan berat sebelah atau pembunuhan dengan berbagai senjata canggih yang bisa didapat dan dikembangkan oleh Zionis Israel. Sungguh, lanjut Al ‘Udwan, sangat aneh bila berbagai serangan dan pembunuhan yang dilakukan Zionis Israel selama ini yang justeru dipersalahkan adalah para pejuang Palestina, hanya lantaran  meluncurkan roket-roke Al Qosam ke wilayah Israel.

Sementara itu, proses perundingan yang sudah dimulai sejak 25 tahun lalu justeru  telah memberi keleluasaan kepada Zionis Israel untuk membangun ribuan pemukiman Yahudi di daerah pendudukan serta mengyahudikan identitas Masjidil Aqsa dan sekitarnya. Juga  menangkap para pejuang dan mengusir orang-orang Palestina dari rumahnya, serta menghancurkan rumah-rumah warga Palestina.

Karena itu, perlawanan bangsa Palestina -- meskipun dengan roket-roket sederhana dan mungkin ketinggalan zaman dibandingkan dengan persenjataan canggih Israel -- harus dibaca sebagai simbol perjuangan melawan kezaliman. Kezaliman dari musuh yang tidak memberi pilihan lain kecuali kematian cepat dengan serangan persenjataan canggih atau kematian pelan-pelan dengan blokade darat, udara, dan laut.

Ya, perlawanan bangsa Palestina, termasuk dengan roket-roket sederhana, harus dimaknai sebagai simbol kehendak bangsa yang ingin merdeka. Simbol sebuah bangsa yang ingin menjaga semangat juang terhadap kesewenang-wenangan. Ya, inilah kiat dan cara bangsa Palestina selama ini untuk menjaga semangat juang melawan kezaliman Zionis Israel.

Belajar dari sejarah bangsa-bangsa, ternyata senjata bukan segalanya untuk memperoleh kemerdekaan. Yang diperlukan adalah semangat juang untuk menuntut kebebasan dan kemerdekaan. Yang dibutuhkan adalah menegakkan harga diri dan kehormatan yang telah diinjak-injak oleh penjajah. Ya, kemerdekaan dan kebebasan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan bukan sebuah pemberian atau belas kasihan.

Indonesia mempunyai pengalaman panjang bagaimana merebut kemerdekaan meskipun dengan persenjataan yang sangat sederhana. Tidak ada senjata api, bambu runcing pun jadi untuk membuat keder musuh yang bersenjatakan modern. Bangsa Palestina juga sudah berpengalaman dengan intifadah 1 dan intifadah 2. Intifadah adalah perang rakyat semesta dengan bersenjatakan apa adanya: ketepel, lemparan batu, pisau dapur, dan apapun yang kejangkau oleh tangan. Gerakan intifadah pernah membuat penjajah Israel tunggang langgang meninggalkan gelanggang perang.

Kini yang dibutuhkan oleh bangsa Palestina adalah solidaritas dari dunia internasional, terutama bangsa-bangsa yang suka kebebasan dan kemerdekaan. Bangsa-bangsa yang membenci penjajahan, kezaliman, dan eksploitasi sebuah bangsa atas bangsa lain. Ya,  penjajahan seperti dilakukan Zionis Israel pada bangsa Palestina adalah musuh bersama seluruh bangsa yang menjunjung tinggi dan mencintai kebebasan dan kemerdekaan.
 


KALAU BENAR ADA KESEPAKATAN BATU TULIS.. ANTARA ... IBU MEGA DAN PAK PRABOWO...??? MENGAPA IBU MEGA INKAR JANJI..??? >>> ADAKAH SUATU YANG PRINSIP...?? ATAUKAH... IBU MEGA SUDAH LUPA... DENGAN JANJI-KESEPAKATAN ITU... KARENA ASYIK MAIN POLITIK....??? >>>> KONON PK SABAM SIRAIT.. MALAH MEMBANTAH ADANYA PERJANJIAN BATU TULIS.. ANTARA PK PRABOWO DAN IBU MEGA.. ?? >>> INILAH PERMAINAN POLITIK..YANG KONON.. TIDAK LEPAS DARI DUSTA2...??>> SIAPAKAH YANG BERDUSTA.. PAK PRABOWO.. ATAU IBU MEGA...?? ATAU MALAHAN PDIP.. YANG SARAT.. DENGAN.. PENCITRAAN YANG KONON.. SANGAT MASIF DIKOORDINIR.. PARA AHLI INTELIGEN.. HASIL PENDIDIKAN MAESTRO INTELIGEN DAN POLITIK... BPK BENY MURDANI DAN BPK.. ALI MURTOPO CS...??>> MALAH LEBIH RUMIT LAGI.. DIMANA FREEPORT CS.... BERMAIN DIBELAKANG LAYAR ATAU SECARA LANGSUNG...??? >> KALAU CAMPUR TANGAN ASING.. DAN PARA MAFIA KONGLOMERAT IKUT BERMAIN... MAKA KEJAHATAN TERSELUBUNG SUDAH BISA DIPASTIKAN... MENGOTORI.. ALUR POLITIK.. YANG KONON SANGAT MUDAH DISUSUPI... KARENA SELALU HAUS AKAN DANA DAN AMBISI KEKUASAAN.... DAN LEZATNYA UANG... WALAUPUN DENGAN CARA2 JAHAT DAN CULAS...??>> WASPADALAH...!!! ... >>>...... sulit membayangkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan kelompoknya demi secuil kekuasaan terpaksa harus melacuri diri di jalan kejahatan berdemokrasi. Sebuah bentuk prilaku busuk yang dihasilkan oleh gelora politik yang menjijikan dan tanpa rasa malu.....>>> ...Prestasi puncak dari tabiat ironi Megawati kian menjadi-jadi di perhelatan pilpres 2014. Yakni, berawal dari skandal pengingkaran "perjanjian Batu Tulis" terhadap Prabowo Subianto yang berujung pada tukar guling kepentingan politik pragmatis berupa pemberian mandat PDIP kepada Jokowi sebagai capres bonekanya....>>> ...Megawati selaku dalang di balik kisah politik Jokowi karbitan yang serba instan tersebut sangat larut menikmati semua bentuk kebohongan yang dilakukan. Tak heran, saat KPU memaksakan keputusan untuk memenangkan Jokowi melalui pemilu curang, Megawati dan komplotan pengusung capres boneka membalas dengan senyum, sembari meneteskan air mata di hadapan publik...>> ....Kita sudah tahu-sama-tahu bahwa lembaga-lembaga survei yang menjamur itu bukanlah lembaga yang murni akademis, tetapi lembaga profesial yang komersial. Tidak saya pungkiri bahwa dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya tidak dapat diabaikan pula....>> ....berbagai kesempatan Megawati berpidato dengan mulut berbusa-busa menegaskan bahwa pihaknya sangat menentang berbagai bentuk korupsi dan praktek politik kotor. Bahkan Mega mengkritik proses pemilu yang tengah berlangsung sarat dengan kecurangan, politik uang, manipulasi data IT dan dituding telah ditunggangi oleh kepentingan asing dan pemilik modal besar....>> ...Biasanya laporan hasil riset ada 2 macam. Satu yang benar, hanya untuk kepentingan internal; dan yang tidak benar, untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk memengaruhi opini publik. Hasil survei yang disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survei yang disulap itu bisa dijadikan sebagai bagian dari upaya kecurangan pemilu secara sistemik. Melalui pengumuman hasil survei yang meluas itu, pelan-pelan opini publik akan terbentuk, mana partai atau tokoh yang unggul, mana yang memble....>> .... Freeport berencana akan PHK 50 persen pekerja tambang lapangannya. Selama ini rencana PHK selalu dikait-kaitkan karena Freeport tidak mau membangun smelter. Freeport sendiri memang sama sekali tidak berencana dan berkeinginan membangun smelter karena menurut mereka kewajiban tersebut sudah dipenuhi tahun 1995 ketika Smelter Gresik beroperasi, dimana 75% nya diurus Mitsubishi dan 25% Freeport McMoran...>> ...Tidak mau berurusan dengan arbitrase dan urusan lain-lain dengan pemerintah, Freeport secara terpaksa belakangan mau membangun smelter lagi...>> ..Smelter akan bangun di Gresik, Jawa Timur. Daerah Gresik dipilih karena faktor bisnis dimana di sana tersedia energi gas. Pertimbangan lainnya karena faktor lingkungan dimana produk buangan smelter berupa H2SO4 atau asam sulfat pekat yang sangat beracun dapat dikelola langsung oleh Pupuk Gresik sebagai salah satu bahan utama pembuatan pupuk...>> ..."Kalau bangun di Papua sama saja bohong, karena gak ada sumber energi yang tersedia, gak ada pembangkit listrik se pulau Papua selain menggunakan solar dan batubara impor dari kalimantan, serta pengelolaan lingkungan yang beresiko tinggi karena hasil buangan smelter harus secara khusus dilakukan pengelolaan dengan biaya tinggi," papar sumber yang paham betul soal seluk beluk Freeport Indonesia itu...>> .."Jokowi janji akan memindahkan smelter Freeport ke salah satu kota di Papua, tapi belum tahu akan dibuat di kota mana. Pekerja (Freeport) rekam pembicaraan mereka dengan Jokowi," ujar seorang sumber kepada redaksi rmol tadi malam (Kamis, 25/7)..??? >> Tiap kali Pemilu, Teknologi Infoemasi (IT) Komisi Pemilihan Umum selalu ngadat, pengumpulan suara lamban dan membosankan. Keadaan ini membuat orang lelah, apatis dan akhirnya putus asa serta tidak perduli lagi. Dalam keadaan seperti itu, praktik jual beli suara, transaksi pemindahan suara dari 1 parpol ke parpol lain terjadi dengan mudahnya. Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. Kedaulatan rakyat hanyalah mimpi...>>....>>

Kemenangan Dusta Jokowi Bikin Megawati Menangis


By on 6:41 PM



Saya sulit membayangkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan kelompoknya demi secuil kekuasaan terpaksa harus melacuri diri di jalan kejahatan berdemokrasi. Sebuah bentuk prilaku busuk yang dihasilkan oleh gelora politik yang menjijikan dan tanpa rasa malu.

Dalam berbagai kesempatan Megawati berpidato dengan mulut berbusa-busa menegaskan bahwa pihaknya sangat menentang berbagai bentuk korupsi dan praktek politik kotor. Bahkan Mega mengkritik proses pemilu yang tengah berlangsung sarat dengan kecurangan, politik uang, manipulasi data IT dan dituding telah ditunggangi oleh kepentingan asing dan pemilik modal besar.

Namun ucapan-ucapan Megawati hanyalah retorika kosong dan inkonsisten. Bahkan justru yang terjadi sebaliknya, terbukti mengais jalan keuntungan dari bobroknya pelaksanaan pemilu sebagai sebuah kesempatan untuk ikut melanggengkan kecurangan di depan mata rakyat.

Ihwal perilaku Megawati yang inkonsisten dan sikap munafik telah menjadi watak bawaan dan sekaligus modal politiknya untuk tetap melenggang bebas di panggung politik nasional. Tak peduli benar atau salah, yang penting dapat mengais "jatah haram" dengan berbagai cara melalui akal bulusnya untuk menipu rakyat.

Prestasi puncak dari tabiat ironi Megawati kian menjadi-jadi di perhelatan pilpres 2014. Yakni, berawal dari skandal pengingkaran "perjanjian Batu Tulis" terhadap Prabowo Subianto yang berujung pada tukar guling kepentingan politik pragmatis berupa pemberian mandat PDIP kepada Jokowi sebagai capres bonekanya.

Dari alur politik yang menyesatkan itu, Megawati tampil menghimpun berbagai kepentingan yang sejalan dengan ambisinya. Memoles rupa penampilan pencitraan Jokowi sebagai capres boneka untuk dipaksakan menang dalam sebuah proses pemilu yang curang dan tidak berkualitas.

Hasilnya, Jokowi bergerak lincah di atas kebohongan berdemokrasi, kian melaju mengejar ambisinya sebagai orang nomor satu di negeri ini. Drama politik ala capres boneka, spontan menyiram rasa haru dan puja-puji atas nama dukungan fanatik membabi-buta dari pengusung setianya.

Dan menariknya, Megawati selaku dalang di balik kisah politik Jokowi karbitan yang serba instan tersebut sangat larut menikmati semua bentuk kebohongan yang dilakukan. Tak heran, saat KPU memaksakan keputusan untuk memenangkan Jokowi melalui pemilu curang, Megawati dan komplotan pengusung capres boneka membalas dengan senyum, sembari meneteskan air mata di hadapan publik.

Situasi itu membuat berjuta pemirsa di tanah air menyindir: "para badut politik sedang euforia merayakan kemenangan dusta Jokowi melalui kebohongan berdemokrasi...". Sungguh memalukkan !
(visibaru)
salam

by Faizal Assegaf
Ketua Progres 98

NB: catatan kecil ini dibuat sebagai renungan jelang lebaran, semoga dapat membuka kesadaran anak bangsa untuk berpikir kritis dan selalu berpihak pada kebenaran.

Ini Isi Perjanjian Batu Tulis Antara-Megawati dengan Prabowo

Selasa, 18 Maret 2014 - 02:12 wib | Angkasa Yudhistira - Okezone


Ini Isi Perjanjian Batu Tulis Antara-Megawati dengan Prabowo 

  Foto perjanjian Batu Tulis yang beredar di internet JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Pejuangan telah mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon Presiden pada Pemilu 2014. Tak terima, Partai Gerindra pun mengusut perjanjian keduanya pada 2009 yang dikenal dengan batu tulis.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memastikan  perjanjian Batu Tulis yang disepakati pada 2009 lalu menyebut, PDI Perjuangan akan memberikan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2014.

Berikut isi keseluruhan perjanjian yang ditandatangani pada 16 Mei 2009 itu:

Kesepakatan Bersama PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia 2009-2014

Megawati Soekarnopitri sebagai Calon Presiden, Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden dan Prabowo Subianto sebgai calon Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

2. Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden, jika terpilih, mendapat penguasaan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan asas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistim presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan Presiden dan calon Wakil Presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

3. Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet berdasarkan pada penugasan butir 2 di atas. Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait, menteri-menteri tersebut adalah: Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindra untuk kemakmuran rakyat.

5. Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan prosentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dibentuk bersama-sama melibatkan kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat.

7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Jakarta 16 Mei 2009

Megawati Soekarnoputri

Prabowo Subianto (keduanya tandatangan di atas materai) (kem)

Sabam Sirait:
Tidak Benar Perjanjian Batu Tulis Capreskan Prabowo
Rabu, 19 Maret 2014 | 17:37

 
Sabam Sirait. [Antara]







Sabam Sirait. [Antara]


[JAKARTA] Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Sabam Sirait  membantah ada kesepakatan antara PDI-P dan Partai Gerindra untuk menjadikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu 2014.  

“Saya tidak pernah dengar ada kesepakatan itu. Atau mungkin Megawati membuat kesepakatan lain di luar pertemuan Batu Tulis,” kata Sabam di Jakarta, Rabu (19/3).  

Calon anggota DPD RI itu menuturkan, pada 16 Mei 2009, dirinya diundang ke Batu Tulis. Ada enam orang dari PDI-P dan enam orang dari Partai Gerindra yang hadir.  

“Prabowo ada di situ. Megawati ada di situ. Kami sepakat memutuskan PDI-P dan Gerindra mencalonkan Megawati-Prabowo sebagai calon presiden dan calon wakil presiden 2009,” katanya.  

“Itu saja. Tidak ada di luar itu. Saya dengar setelah mau pulang, ada yang bicara tahun 2014. Karena itu tidak ada di agenda pertemuan, semua teman-teman pulang. Agenda hanya membicarakan Pemilu 2009,” tambah Sabam.  

Sementara itu, pengamat politik M Qodari melihat ada perbedaan penafsiran soal isi Perjanjian Batu Tulis.  


“Kalau Gerindra tidak melihat semua isi perjanjian, tetapi langsung ke nomor 7. Kalau PDI-P melihat secara keseluruhan,” katanya.  
Di Pasal 3 perjanjian itu, kata Qodari, berbunyi, “Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet. Berkaitan dengan penugasan pada butir 2 di atas, Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait. Menteri-menteri tersebut adalah Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.”

Sementara bagi PDI-P, kalau perjanjian nomor 3 ini terpenuhi, dimana keduanya menang Pemilu 2009, maka Prabowo Subianto akan diusung menjadi calon presiden pada Pemilu 2014.  

Tetapi Partai Gerindra langsung melihat Pasal 7 yang berbunyi, “Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.”  
Selain itu, kata Qodari, langkah Gerindra  mempersoalkan hal ini ke media sudah salah. “Gerindra lakukan pendekatan yang salah ke PDI-P, terutama ke Megawati Soekarnoputri,” katanya.

Menurut Qodari, Ibu Megawati itu orang yang tidak bisa ditekan. Makin ditekan, makin keras sikapnya. Ibu Megawati tidak bisa dikalkulasi secara rasional, perlu pendekatan hati.  

Jangan pernah melakukan upaya politik menyakiti hatinya. Karena kalau Megawati merasa sakit hatinya, semua pintu akan tertutup dengan sendirinya.  

“Pendekatan teman-teman dari Gerindra ini menyerang dan menekan. Apakah dengan sikap itu akan mengubah situasi? Jawabannya tidak akan,” kata Qodari. [L-8]    

Berikut ini isi Perjanjian Batu Tulis yang dipersoalkan Prabowo:
KESEPAKATAN BERSAMA
PDI PERJUANGAN DAN PARTAI GERINDRA
DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 2009-2014

Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden
Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindera) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

2. Prabowo Subianto sebagai wakil presiden, jika terpilih, mendapat penugasan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan azas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan kepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistem presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan calon presiden dan calon wakil presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

3. Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet. Berkaitan dengan penugasan pada butir 2 diatas, Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait. Menteri-menteri tersebut adalah Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindera untuk kemakmuran rakyat.

5. Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan presentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 dibentuk bersama-sama melibatkan kader-kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindera serta unsur-unsur masyarakat.

7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Jakarta, 16 Mei 2009
http://www.suarapembaruan.com/home/tidak-benar-perjanjian-batu-tulis-capreskan-prabowo/51518

Ternyata Jokowi Sudah Teken Kontrak Terkait Freeport Sebelum Pilpres


By on 2:58 AM



Mayoritas suara Pilpres 2014 di Bumi Cenderawasih  mengalir ke Joko Widodo alias Jokowi. Di Provinsi Papua, Jokowi menang telak dengan perolehan suara 72,49 persen, sementara di Provinsi Papua Barat unggul dari Prabowo Subianto dengan mendapat 67,63 persen suara.

Belakangan terbongkar soal strategi Jokowi mendulang kemenangan di Papua. Salah satu strateginya adalah menandatangani kontrak politik terkait operasi Freeport, perusahaan tambang asal Amerika Serikat di Papua.

"Jokowi janji akan memindahkan smelter Freeport ke salah satu kota di Papua, tapi belum tahu akan dibuat di kota mana. Pekerja (Freeport) rekam pembicaraan mereka dengan Jokowi," ujar seorang sumber kepada redaksi rmol tadi malam (Kamis, 25/7).

Freeport berencana akan PHK 50 persen pekerja tambang lapangannya. Selama ini rencana PHK selalu dikait-kaitkan karena Freeport tidak mau membangun smelter. Freeport sendiri memang sama sekali tidak berencana dan berkeinginan membangun smelter karena menurut mereka kewajiban tersebut sudah dipenuhi tahun 1995 ketika Smelter Gresik beroperasi, dimana 75% nya diurus Mitsubishi dan 25% Freeport McMoran.

Tidak mau berurusan dengan arbitrase dan urusan lain-lain dengan pemerintah, Freeport secara terpaksa belakangan mau membangun smelter lagi.
Smelter akan bangun di Gresik, Jawa Timur. Daerah Gresik dipilih karena faktor bisnis dimana di sana tersedia energi gas. Pertimbangan lainnya karena faktor lingkungan dimana produk buangan smelter berupa H2SO4 atau asam sulfat pekat yang sangat beracun dapat dikelola langsung oleh Pupuk Gresik sebagai salah satu bahan utama pembuatan pupuk.

Janji Jokowi membangun smelter di Papua tidak tepat. Juga, tidak tepat upaya Jokowi mengatasi rencana 50 persen PHK pekerja Freeport dengan membangun smelter di Papua.

"Kalau bangun di Papua sama saja bohong, karena gak ada sumber energi yang tersedia, gak ada pembangkit listrik se pulau Papua selain menggunakan solar dan batubara impor dari kalimantan, serta pengelolaan lingkungan yang beresiko tinggi karena hasil buangan smelter harus secara khusus dilakukan pengelolaan dengan biaya tinggi," papar sumber yang paham betul soal seluk beluk Freeport Indonesia itu.

Diingatkan, smelter merupakan pabrik yang mengandalkan mekanisasi dan otomatisasi. Pabrikasi tidaklah padat karya. Paling banyak smelter hanya akan memiliki tenaga kerja 600 orang, atau jauh lebih kecil dari jumlah tenaga kerja pabrik panci Maspion, atau pabrik garment kelas menengah di Bandung.

"Mungkin saja Jokowi dan Freeport main mata soal smelter akan dibangun di Papua. Untung untuk Jokowi dapat suara banyak di timur. Untuk Freeport biar rugi sedikit asal dapat kepastian di perpanjang sampai 2041," demikian sumber itu menutup perbincangan dengan redaksi.


sumber: rmol

Bukti Ditemukan Indikasi Kuat, KPUD Hingga KPU Menerima Uang Untuk Jegal Prabowo 

 http://www.suaranews.com/search/label/top/


Calon presiden (capres) Prabowo Subianto mengatakan pelaksanaan pilpres lalu banyak terjadi kecurangan khususnya dalam proses rekapitulasi.

Bahkan kecurangan tersebut melibatkan para pejabat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi yang berpihak kepada salah satu kandidat karena telah menerima sejumlah uang.


"Ini mencemaskan kita semua bagaimana bisa kita hidup sebagai negara merdeka kalau semua pejabat kita atau hampir semua pejabat kita tidak punya integritas, bisa disogok, bisa dibeli, dimana tempat keadilan untuk rakyat yang tidak punya uang," ujar Prabowo dalam pernyataannya yang dikutip dari akun Youtube pribadinya, Sabtu (26/7/2014).

Menurutnya, seharusnya para pejabat terutama penyelenggara pemilu bisa bersikap independen dan tidak berpihak. Bahkan tidak boleh berpihak karena ada sejumlah uang yang diterima.

"Ternyata kalau semua lembaga-lembaga tersebut buntu karena korupsi, hakim-hakim sudah tidak punya integritas. Hakim bisa dibeli, pejabat KPU bisa dibeli, pejabat KPUD bisa dibeli, kalau ini terjadi apa masa depan bangsa kita," ungkapnya.

Prabowo mengatakan, sikapnya yang menolak hasil rekapitulasi KPU semata-mata karena ingin menegakkan demokrasi yang sebenarnya. Sebab proses pilpres yang baru lalu jauh dari kata demokrasi.

"Apakah kita berdiri tegak untuk membela keutuhan bangsa, kemandirian bangsa, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi atau kita menyerah kepada uang, kita menjual nilai-nilai kita, menjual diri, kepribadian, dan harga diri kita," tandasnya.
 

Modus Rekayasa Agar Cocok Hasil Survey Dengan Hasil Pemilu

Yusril Ungkap Modus Rekayasa bagaimana Hasil pemilu bisa sama dengan hasil Lembaga Survei

Lembaga Survei & Kedaulatan Rakyat
Yusril Ihza Mahendra: Pakar Hukum Tata Negara

yusril_im 

Saya ingin menuliskan tentang lembaga survei Pemilu yang akhir-akhir ini sering menghebohkan dunia politik kita.

Kita sudah tahu-sama-tahu bahwa lembaga-lembaga survei yang menjamur itu bukanlah lembaga yang murni akademis, tetapi lembaga profesial yang komersial. Tidak saya pungkiri bahwa dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya tidak dapat diabaikan pula.

Partai politik atau politisi yang akan berkompetisi, sudah lazim meminta lembaga survei melakukan kegiatannya. Tujuannya bukan semata-mata untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dirinya, tetapi juga untuk membentuk opini publik.

Tidak jarang suatu lembaga survei sdh menandatangani kontrak dengan partai politik atau politisi untuk jangka waktu tertentu. Besarnya nilai kontrak tentu sesuai kemampuan partai atau politisi yang bersangkutan. Makin besar uang, makin canggih lembaga surveinya.

Biasanya laporan hasil riset ada 2 macam. Satu yang benar, hanya untuk kepentingan internal; dan yang tidak benar, untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk memengaruhi opini publik.

Hasil survei yang disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survei yang disulap itu bisa dijadikan sebagai bagian dari upaya kecurangan pemilu secara sistemik. Melalui pengumuman hasil survei yang meluas itu, pelan-pelan opini publik akan terbentuk, mana partai atau tokoh yang unggul, mana yang memble.

Kalau opini sudah terbentuk, langkah selanjutnya merekayasa perolehan suara agar pas seperti hasil survei. Banyak cara dapat dilakukan untuk merekayasa perolehan suara. Langkah pertama dimulai dari penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Makin kacau dan tidak akurat DPT, rekayasa akan makin mudah. Surat suara yang berlebih, bisa dicoblos sendiri untuk menangkan suatu parpol.

Berbagai trik untuk mengatur perolehan suara dilakukan sejak dari tingkatan TPS (lokasi), PPS (Desa/Kelurahan), PPK (Kecamatan) sampai Kabupaten/kota. Luasnya wilayah negara kita membuat pengawasan penghitungan suara menjadi sangat sulit dan rumit. Ada potensi untuk curang disini.

Tiap kali Pemilu, Teknologi Infoemasi (IT) Komisi Pemilihan Umum selalu ngadat, pengumpulan suara lamban dan membosankan. Keadaan ini membuat orang lelah, apatis dan akhirnya putus asa serta tidak perduli lagi. Dalam keadaan seperti itu, praktik jual beli suara, transaksi pemindahan suara dari 1 parpol ke parpol lain terjadi dengan mudahnya.

Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. Kedaulatan rakyat hanyalah mimpi.

Akhirnya apa yang terjadi? Hasil akhir pemilu persis seperti hasil survei yang sebelumnya sudah dicekokkan kepada public. Rakyat pun akhirnya dapat menerima urutan pemenang pemilu, toh sudah cocok dengan hasil survei jauh hari sebelum pemilu yang sudah ada di otak mereka. Kalau demikian, maka bukan lembaga survei itu yang canggih bisa memprediksi hasil Pemilu. Tapi sebaliknya, hasil pemilu yang direkayasa secara sistemik agar hasilnya sesuai dengan hasil survei.

Demikian tulisan saya. Semoga mencerahkan mengenai sisi lain survei dan hasil Pemilu di negeri yang makin antah berantah ini.
Terima kasih.

Minggu, 27 Juli 2014

Suatu yang menarik untuk bisa mendapatkan pelajaran yang benar..... >> ... bagi awam tentu belum bisa berdebat dengan sekedar setuju atau tidak setuju... yang terkadang asal2an... maklum kurang ilmunya... ?? >> Masalah ini perlu kecukupan ilmu- penguasaan referensi.. dan memahami makna dan arti setiap kata dan ayat dalam al quran dan hadis2... secara menyeluruh. ...dan komprehensif... >> Bagi awam -barangkali makna yang sebenarnya dari ... "maa malakat aimanukum..." yang diterjemahkan sebagai hamba sahaya..? ... konon tidak tepat benar. Karena konon hamba sahaya dalam bahasa arab " abid " ataw "amat" ?? >> ... Semua memerlukan ahlultafsir dan penguasaan bahasa arab, yang mungkin ada padanan kata yang memudahkan untuk di terjemahkan.. sehingga kaum awam sedikit banyak bisa belajar dengan fahaman yang lebih memudahkan.. >>> semoga manfaat dan bisa disimak dengan .. cermat... dan keutuhan akal sehat.. dan mohon hidayah Allah SWT... aamiin....>> ... Ada pertanyaan awam... apakah maa malakat aimanukum.. ada padanan dengan.. pasangan sah yang dinikahi secara mutáh.. ataukah makna lain.. ..yang lebih tepat... ??>>


NIKAH MUTH’AH DAN NIKAH SIRRI:

DALAM TINJAUAN NORMATIF DAN HISTORIS-SOSIOLOGIS

Oleh: Anjar Nugroho

http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/09/01/nikah-muthah-dan-nikah-sirri/

A. Nikah Muth’ah


Nikah Muth’ah menjadi varian dalam pernikahan yang diatur oleh Islam yang diperdebatkan keabsahannya antara kaum Sunni dan Syi’ah. Secara umum (mayoritas mutlak), kaum Sunni menganggap pernikahan muth’ah adalah jenis pernikahan yang tidak sah atau haram berdasarkan keterangan hadis, fatwa Umar ibn Khattab dan Ijma’ ulama Sunni. Sedangkan kaum Syi’ah, khususnya Syi’ah Istna ‘Asy’ariyah (Syi’ah Imam Dua Belas), menganggap pernikahan muth’ah adalah boleh atau halal, walaupun dalam prakteknya mereka berbeda pada beberapa sisi pelaksanaannya.


Di Indonesia, karena mayoritas umat Islam adalah kaum Sunni, maka pandangan terhadap nikah muth’ah sejalan dengan pandangan kaum Sunni secara umum, yaitu pernikahan jenis ini adalah terlarang. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KHI (Kompilasi Hukum Islam Indonesia) tidak memberi ruang sedikitpun terhadap praktek nikah muth’ah di Indonesia. Sehingga, dalam masyarakat Muslim Indonesia, sangat jarang dijumpai praktek nikah muth’ah, kecuali hanya sedikit dipraktekkan oleh kalangan Syi’ah Indonesia dan beberapa kelompok kecil lainnya. Beberapa mahasiswa Bandung dan Yogyakarta dilaporkan telah melakukan praktek nikah muth’ah yang setelah diteliti ternyata motifnya adalah faktor ekonomi.


Nikah muth’ah di Indonesia sampai hari ini bukanlah gejala yang mengkhawatirkan yang perlu disikapi secara lebih. Pandangan kaum Sunni yang secara tegas mengharamkan nikah muth’ah, telah menjadi pemahaman mainstream (arus besar) umat Islam di Indonesia. Andaikan kajian tentang nikah muth’ah masih diperlukan, maka ini hanya sebatas kajian komparatif antara pemahaman Sunni dan Syi’ah tentang nikah muth’ah.

A.1. Pengertian Nikah Muth’ah

Nikah Muth’ah adalah sebuah pernikahan yang dinyatakan berjalan selama batas waktu tertentu.[1] Disebut juga pernikahan sementara (al-zawaj al-mu’aqqat)[2]. Menurut Sayyid Sabiq, dinamakan muth’ah karena laki-lakinya bermaksud untuk bersenang-senang sementara waktu saja[3]. Muth’ah merupakan perjanjian pribadi dan verbal antara pria dan wanita yang tidak terikat pernikahan (gadis, janda cerai maupun janda ditinggal mati).

Dalam nikah muth’ah, jangka waktu perjanjian pernikahan (ajal) dan besarnya mahar yang harus diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang hendak dinikahi (mahr, ajr), dinyatakan secara spesifik dan eksplisit. Seperti dinyatakan di muka, tujuan nikah muth’ah adalah kenikmatan seksual (istimta’), sehingga berbeda dengan tujuan penikahan permanen, yaitu prokreasi (taulid an-nasl).

Hanya sedikit kewajiban timbal-balik dari pasangan nikah muth’ah ini. Pihak laki-laki tidak berkewajiban menyediakan kebutuhan sehari-hari (nafaqah) untuk istri sementaranya, sebagaimana yang harus ia lakukan dalam pernikahan permanen. Sejalan dengan itu, pihak istri juga mempunyai kewajiban yang sedikit untuk mentaati suami, kecuali dalam urusan seksual[4].

Dalam pernikahan permanen, pihak istri, mau tidak mau, harus menerima laki-laki yang menikah dengannya sebagain kepala rumah tangga. Dalam pernikahan muth’ah, segala sesuatu tergantung kepada ketentuan yang mereka putuskan bersama. Dalam pernikahan permanen, pihak istri atau suami, baik mereka suka atau tidak, akan saling berhak menerima warisan secara timbal balik, tetapi dalam pernikahan muth’ah keadaanya tidak demikian[5]

A.2. Pandangan Kaum Sunni

Seperti telah dinyatakan di muka, pandangan kaum Sunni terhadap nikah muth’ah sangat jelas, yakni haram. Alasan keharamannya adalah karena pernikahan model seperti ini tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang dinyatakan dalam al-Qur’an. Disamping itu, pernikahan muth’ah juga bertentangan dengan ketentuan dalam pernikahan yang telah dinyatakan dalanm al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu dalam masalah thalaq, iddah dan warisan.
 
Diantara ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi dasar tujuan pernikahan diantaranya adalah:


Q.S. Adz-Dzariyah: 49

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ


Dan segala sesuatu Kami Ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)

Q.S. An-Nisa’: 1


يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

 Wahai manusia bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) , dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa)dari (diri)nya, dan dari keduanya Allah telah mengembang biakan laki2 dan perempuan yang banyak.

Q.S. Ar-Rum: 21


وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


Hadis-hadis yang diperguakan oleh kaum Sunni untuk mengharamkan nikah muth’ah diantaranya adalah sebagai berikut:


1- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ وَهُوَ يَقُولُ بِمِثْلِ حَدِيثِ ابْنِ نُمَيْرٍ [6]

2- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْعُزْبَةَ قَدِ اشْتَدَّتْ عَلَيْنَا قَالَ فَاسْتَمْتِعُوا مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ فَأَتَيْنَاهُنَّ فَأَبَيْنَ أَنْ يَنْكِحْنَنَا إِلَّا أَنْ نَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اجْعَلُوا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا فَخَرَجْتُ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي مَعَهُ بُرْدٌ وَمَعِي بُرْدٌ وَبُرْدُهُ أَجْوَدُ مِنْ بُرْدِي وَأَنَا أَشَبُّ مِنْهُ فَأَتَيْنَا عَلَى امْرَأَةٍ فَقَالَتْ بُرْدٌ كَبُرْدٍ فَتَزَوَّجْتُهَا فَمَكَثْتُ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ثُمَّ غَدَوْتُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ وَهُوَ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخْلِ سَبِيلَهَا وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا[7]

3- حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ قَالَ أَخْبَرَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَيْنَا عُمْرَتَنَا قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَمْتِعُوا مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ قَالَ وَالِاسْتِمْتَاعُ عِنْدَنَا يَوْمُ التَّزْوِيجِ قَالَ فَعَرَضْنَا ذَلِكَ عَلَى النِّسَاءِ فَأَبَيْنَ إِلَّا أَنْ يُضْرَبَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا قَالَ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ افْعَلُوا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي وَمَعَهُ بُرْدَةٌ وَمَعِي بُرْدَةٌ وَبُرْدَتُهُ أَجْوَدُ مِنْ بُرْدَتِي وَأَنَا أَشَبُّ مِنْهُ فَأَتَيْنَا امْرَأَةً فَعَرَضْنَا ذَلِكَ عَلَيْهَا فَأَعْجَبَهَا شَبَابِي وَأَعْجَبَهَا بُرْدُ ابْنِ عَمِّي فَقَالَتْ بُرْدٌ كَبُرْدٍ قَالَ فَتَزَوَّجْتُهَا فَكَانَ الْأَجَلُ بَيْنِي وَبَيْنَهَا عَشْرًا قَالَ فَبِتُّ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أَصْبَحْتُ غَادِيًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْبَابِ وَالْحَجَرِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَقُولُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهَا وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا[8]*

4- و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمَ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ [9]*

5- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَالْحَسَنِ ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِمَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ و حَدَّثَنَاه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ مَالِكٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِفُلَانٍ إِنَّكَ رَجُلٌ تَائِهٌ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى عَنْ مَالِكٍ[10]


Hadis-hadis di atas tidak diragukan lagi nilai keshahihannya. Apalagi yang meriwayatkan diantanya adalah Bukhari dan Muslim. Walaupun sebenarnya tinjauan sanad saja tidak cukup untuk menjadikan hadis bisa dinilai otentik sebagai sumber ajaran Islam. Akan tetapi, dengan dukungan nilai-nilai al-Qur’an tentang pernikahan yang maknanya sesuai dengan semangat larangan nikah muth’ah dalam hadis-hadis tersebut, maka kedudukannya menjadi sangat kokoh dan otentik sebagai sumber ajaran Islam.


Dilihat dari perspektif hadis (sebagaimana yang telah dikemukakan di atas), dapat disimpulkan bahwa nikah muth’ah memang telah diharamkan oleh Rasulullah. Sebab-sebab pengharamannya telah banyak diulas oleh ulama-ulama Sunni, diantaranya adalah karena nikah muth’ah semata-mata sebagai tempat untuk melampiaskan nafsu syahwat, sehingga tidak jauh berbeda dengan zina (komunisme seksual).


Disamping itu, nikah muth’ah menurut kalangan Sunni, telah menempatkan perempuan pada titik bahaya, karena ibarat sebuah benda yang bisa pindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Pernikahan jenis ini juga dinilai merugikan anak-anak, karena mereka tidak mendapatkan kasih sayang sempurna sebuah keluarga dan jaminan kesejahteraan serta pendidikan yang baik.


Pernikahan, seperti yang telah menjadi cita-cita Islam, haruslah bertumpu pada pondasi yang stabil, suatu pasangan, ketika mula-mula dipersatukan oleh sebuah ikatan pernikahan, harus memandang diri meraka terpaut satu sama lain untuk selamanya, dan gagasan perceraian tidak boleh memasuki pikiran mereka. Oleh karena itu, sebagaimana pendapat kalangan Sunni, pernikahan muth’ah tidak dapat menjadi tumpuan kebersamaan hidup suami istri yang damai dan sejahtera.

A.3. Pandangan Kaum Syi’ah (Itsna ‘Asy’ariyah)

 
Dasar legitimasi kaum Syi’ah terhadap nikah muth’ah adalah al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 24:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ
 ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ - فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً 
 وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

(Dan diharamkan menikahi perempuan yang bersuami, kecuali maa lakat aimanukum/ hamba sahaya perempuan yang kamu miliki -1- sebagai ketetapan Allah atas kamu, dan dihalalkan selain perempuan yang demikian itu -2- jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya dan bukan untuk berzina, Maka karena keni'matan yang telah kamu dapatkan dari mereka,  berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata diantara kamu telah saling merelakannya setelah ditetapkan -3- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Maha Bijaksana.)

--1. Perempuan2 yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersamanya. Penjelasan selanjutnya lihat QS 4 -An Nisaa-ayat 3
--2 Selain dari perempuan2 yang disebut dalam QS 4 -An Nisaa-ayat 3
--3 Menambah atau mengurangi ataw sepakat tidak ada pembayaran sama sekali maskawin yang telah ditetapkan. 

 
Dalam Tarikh al-Fiqh al-Ja’fari dijelaskan, bahwa ketika Abu Nashrah bertanya kepada Ibn Abbas tentang nikah muth’ah, Ibn Abbas menerangkan, nikah itu diperbolehkan dengan bersarkan al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 24 seperti telah ditulis di atas. Akan tetapi menurut Ibn Abbas, lengkapnya ayat itu adalah (terdapat kalimat tambahan  الى اجل مسم ):


فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ (الى اجل مسم) فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً
  = sampai waktu yang ditetapkan/ disepakati

Sahabat lain yang sependapat dengan Ibn Abbas (termasuk membenarkan bacaan Ibn Abbas terhadap Q.S. an-Nisa’: 24) adalah Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, dan Said Ibn Zubair[11].
 
Kaum Syi’ah berpendirian bahwa praktek nikah muth’ah terdapat pada masa Nabi dan Khalifah Pertama. Baru pada periode Khalifah Kedua, yakni Khalifah Umar Ibn Khattab, nikah muth’ah dilarang. Ucapan Umar saat itu adalah:

“Saya telah melarang dua jenis muth’ah yang ada di masa Nabi dan Abu Bakar, dan saya akan berikan hukuman kepada mereka yang tidak mematuhi perintah-perintah saya. Kedua muth’ah itu adalah muth’ah mengenahi haji dan muth’ah mengenai wanita.”[12]

Kalau melihat ucapan Khalifah umar di atas, maka dapat dipahami bahwa nikah muth’ah dipraktekkan oleh para sahabat pada baik pada masa Nabi maupun Khalifah Abu Bakar. Dalam Sunnah Baihaqy 7: 206, terdapat pula keterangan yang menunjukkan larangan Umar terhadap nikah muth’ah, walaupun banyak para shahabat yang melakukannya di era Nabi dan Khalifah Kedua. Sehingga unggapan yang sering dilontarkan kalangan Syi’ah dalam masalah ini adalah: ”Manakah yang harus kita pegang: taqrir Nabi yang membiarkan shahabatnya melakukan muth’ah atau hadis larangan Umar?”

Kaum Syi’ah yang mengikuti ajaran-ajaran para Imam dari Ahlu al-Bait masih menganggap nikah muth’ah tetap berlaku menurut syari’att sebagaimana halnya masa hidup Nabi itu sendiri. Thabathaba’I dalam masalah ini mengutip beberapa ayat tentang suami-istri:


Q.S. al-Mu’minun: 5-7

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5)إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7)
(5) Dan orang yang memelihara kemaluannya (6) kecuali terhadap isteri2 mereka ataw maa lakat aimanukum/ hamba2 yang mereka miliki ?, maka sesungguhnya mereka tiada tercela (7) Tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (memanipulasikannya), maka mereka itulah orang2 yang melampaui batas.

Q.S. al-Ma’arij: 29-31

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(31)
(5) Dan orang yang memelihara kemaluannya (6) kecuali terhadap isteri2 mereka ataw maa lakat aimanukum/ hamba2 yang mereka miliki ?, maka sesungguhnya mereka tiada tercela (7) Tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (memanipulasikannya), maka mereka itulah orang2 yang melampaui batas.

Menurut Thabathaba’i, ayat-ayat ini diturunkan di Mekah, dan semenjak diturunkan hingga hijrah, nikah muth’ah dipraktekkan oleh kaum Muslimin. Apabila nikah muth’ah itu bukan merupakan pernikahan yang sebenarnya (halal/sah), dan para perempuan yang telah menikah berdasarkan itu bukan istri-istri yang sah menurut syari’ah, maka, lanjut Thabathaba’i, ayat-ayat al-Qur’an tersebut tentulah akan menganggap para perempuan itu sebagai pelanggar hukum dan sudah pasti mereka dilarang untuk mempraktekkan muth’ah. Sehingga Thabathaba’i menegaskan kembali bahwa nikah muth’ah merupakan pernikahan yang sah menurut syari’ah dan bukan bentuk perzinahan.[13]
 

Sampai hari ini, kaum Syi’ah, khususnya di Iran, masih tetap memelihara legitimasi pernikahan muth’ah. Akan tetapi selama rezim Pahlevi (1925-1979), walaupun bukan ilegal, pernikahan muth’ah dipandang secara negatif. Kebanyakan kaum terpelajar Iran dan kelas menengah lainnya menganggap pernikahan seperti ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan dan nilai moral universal, sehingga mereka tidak tertarik untuk melakukannya. Sebaliknya, pernikahan muth’ah di Iran banyak dilakukan oleh kaum perkotaan pinggiran, dan populer terutama di sekitar pusat-pusat ziarah.[14]

A.4. Tinjauan Historis-Sosilogis


Sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber Syi’ah, nikah muth’ah merupakan suatu fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri, bahwa pernikahan jenis ini dipraktekkan oleh para shahabat sejak era permulaan Islam, yaitu sejak wahyu pertama dan hijrah Nabi ke Madinah. Seperti dalam peristiwa Zubair As-Shahabi yang menikahi Asma’, putri Abu Bakar dalam suatu pernikahan sementara (muth’ah).


Masih menurut sumber Syi’ah, nikah muth’ah juga dipraktekkan semenjak hijrah hingga wafatnya Nabi. Bahkan setelah peristiwa itu, selama pemerintahan Khalifah Pertama dan sebagian dari masa pemerintahan Khalifah Kedua, kaum muslimin meneruskan praktek itu sampai saat dilarang oleh Umar Ibn Khattab sebagai Khalifah Kedua.


Tentu saja historisitas seperti ini ditolak oleh kalangan Sunni yang menganggap Nabi sudah melarang nikah muth’ah sejak Perang Khaibar dan peristiwa Fathul Makkah, seperti tertuang dalam hadis yang telah dikemukakan di muka. Mengapa kaum Syi’ah mengabaikan hadis-hadis seperti ini? Jawabannya adalah, karena kaum Syi’ah mempunyi argumen tersendiri mengenai jalur-jalur sanad dalam sebuah periwayatan Hadis. Kaum Syi’ah hanya bisa menerima jalur sanad yang melalui Ahlu al-Bait, dan jika terdapat hadis yang bertentangan dengan riwayat Ahlu al-Bait, maka hadis tersebut ditolak.


Mengenai larangan Umar terhadap praktek nikah muth’ah, menarik untuk dicermati bahwa larangan ini juga diakui ada dalam beberapa kitab fiqih kaum Sunni. Analisis yang bisa dikemukakan di sini adalah, apakah laranga itu terkait dengan kewenangan Umar sebagai pemimpin agama atau ini hanya sekedar strategi dakwah Islam (kebijakan politik). Jika dipahami ini sebagai kebijakan politik yang terkait dengan dakwah Islam, maka akan ditemukan relevansinya dengan persoalan umat saat itu. Pada era Umar, umat Islam (para shahabat) banyak yang bertebaran di wilayah-wilayah taklukan dan mereka bercampur baur dengan masyarakat yang baru saja memeluk Islam. Jika para shahabat itu diberi kebebasan untuk melakukan nikah muth’ah, maka yang dikhawatirkan adalah akan muncul generasi-generasi baru Islam hasil pernikahan muth’ah yang tidak jelas warna keislamannya. Dengan alasan inilah, maka Umar melarang nikah muth’ah. Sehingga dapat dipahami, larangan ini bukan larangan mermanen, tetapi hanya sementara waktu karena terkait dengan persoalan keummatan saat itu.


Sepintas, nikah muth’ah adalah implementasi paling kasat mata bagaimana kedudukan perempuan tidak begitu dihargai. Berbeda dengan nikah permanen yang diasumsikan telah menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Menurut Ustadz Ahmad Baraghah, nikah muth’ah justru meningkatkan derajat kaum perempuan. Alasannya, dalam muth’ah perempuan dimungkinkan membuat persyaratan tertentu yang harus disetujui oleh pihak laki-laki. Dengan kewenangan ini, masih menurut Baraghah, perempuan dapat meningkatkan bergainning position-nya bila akan melaksanakan nikah muth’ah.[15]
 

Secara sosiologis, nikah muth’ah menjadi bukan persoalan serius ketika dipraktekkan dalam kondisi masyarakat Muslim yang sudah mempunyai tingkat kesejahteraan yang memadai dan pendidikan yang maju. Anggota masyarakat Muslim ini mempunyi otonomi pribadi atau kewenangan individual yang penuh dalam menentukan nasibnya. Dalam tradisi Persia atau Iran sekarang, nikah muth’ah bukanlah sumber penyakit sosial seperti yang disumsikan oleh kalangan Sunni. Para perempuan Iran khususnya, mempunyai nilai tawar yang tinggi sebelum melakukan nikah muth’ah, sehingga dalam prakteknya mereka jarang yang melakukan pernikahan model ini. Tetapi, kondisinya adalah jauh berbeda jika nikah muth’ah dilegalisasi di dalam komunitas masyarakat Muslim yang tingkat kesejahteraan dan pendikannya masih rendah, seperti di Indonesia misalnya. 

Nikah muth’ah dalam komunitas masyarakat Muslim yang rata-rata miskin dan bodoh, hanya menjadi komuditas pemuas nafsu laki-laki berkuasa yang pada akhirnya akan mengakibatkan kesengsaraan berlipat bagi perempuan dan anak-anak.

B. Nikah Sirri


Nikah adalah peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Sesuatu yang sebelumya haram bagi dia, berubah menjadi halal dengan sarana pernikahan. Implikasi pernikahan pun besar, luas dan beragam. Pernikahan adalah sarana awal mewujudkan sebuah tatanan masyarakat. Jika unit-unit keluarga baik dan berkualitas, maka bisa dipastikan bangunan masyarakat yang diwujudkan akan kokoh dan baik. Oleh karean itu, Nabi mengajarkan umatnya untuk menikah:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ مَيْمُونٍ عَنِ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ [16]
 
Karena sifatnya yang menjangkau kehidupan luas di luar keluarga, pernikahan memiliki makna sangat strategis dalam kehidupan sebuah bangsa. Dalam konteks ini, pemerintah menjadi berkepentingan untuk mengatur institusi pernikahan, agar tatanan masyarakat yang teratur dan tentram bisa diwujudkan. Undang-Undang no. 1 tahun 1974 adalah bentuk kongkret pengaturan pemerintah soal pernikahan.


Dalam pasal 2 ayat 2 Undang-Undang I ini tertulis: “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku”. Ketentuan ini lebih lanjut diperjelas dalam Bab 11 Peraturan Pemerintah (PP) no. 9 tahun 1975 yang intinya: sebuah pernikahan baru diangap memiliki kekuatan hukum di hadapan undang-undang jika dilaksanakan menurut aturan agama dan telah dicatatkan oleh pegawa pencatat pernikahan yang ditentukan undang-undang. Aturan inilah yang akhirnya menimbulkan istilah yang disebut: nikah sirri.


Nikah sirri menurut hukum Islam – berdasarkan penelusuran dalil secara tekstual – adalah sah apabila memenuhi rukun dan semua syarat sahnya nikah meskipun tidak dicatatkan. Karena syariat Islam dalam Al-Quran maupun Sunnah tidak mengatur secara konkrit tentang adanya pencatatan perkawinan. Sedangkan menurut hukum positif, nikah sirri ini tidak sah karena tidak memenuhi salah satu syarat sah perkawinan yaitu pencatatan perkawinan kepada Pejabat Pencatat Nikah. Tanpa adanya pencatatan, maka pernikahan itu tidak mempunyai akta otentik yang berupa buku nikah. 


Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Ahkamu al-Zawaj, menyatakan bahwa nikah sirri adalah apabila laki-laki menikahi perempuan tanpa wali dan saksi-saksi, serta merahasiakan pernikahannya[17]. Sehingga langsung dapat sisimpulkan, bahwa pernikahan ini bathil menurut jumhur ulama.


Wahbah Zuhaili menyatakan bahwa nikah sirri –seperti yang didefinisikan dalam fiqh- yakni nikah yang dirahasiakan dan hanya diketahui oleh pihak yang terkait dengan akad. Pada akad ini dua saksi, wali dan kedua mempelai diminta untuk merahasiakan pernikahan itu, dan tidak seorangpun dari mereka diperbolehkan menceritakan akad tersebut kepada orang lain[18]


Dalam konteks masyarakat Indonesia, sebenarnya nikah sirri mempunyi beberapa devinisi, diantaranya adalah:


1. Pernikahan yang dipandang sah dari segi agama (Islam), namun tidak didaftarkan ke KUA (selaku lembaga perwakilan negara dalam bidang pernikahan).

2. Pernikahan yang dilakukan tanpa kehadiran wali dari pihak perempuan (catatan: laki-laki memerlukan wali pada saat pernikahan).

3. Pernikahan yang sah dilakukan baik oleh agama maupun secara negara (juga tercatat di KUA), namun tidak disebarluaskan (tidak diadakan walimah/resepsi).


Nikah sirri yang dimaksud dalam pembahasan ini bukanlah seperti yang dinyatakan Ibn Taimiyah atau Wahbah Huzaili, akan tetapi merupakan praktek pernikahan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Muslim Indonesia yaitu pernikahan yang namun tidak didaftarkan ke KUA (selaku lembaga perwakilan negara dalam bidang pernikahan). Nikah Sirri dalam satu sisi mengandung beberapa kemudharatan, tetapi dalam sisi lain banyak dipraktekkan oleh kalangan Muslim Indonesia dengan segala variannya. Pada titik inilah maka nikah sirri perlu dikaji secara komprehensif, tidak semata-mata dengan pendekatan tekstual-normatif tetapi perlu dipertimbangkan aspek-aspek kultural-sosiologisnya.


B.1. Problem Sosiologis Nikah Sirri


Dalam penelusuran di internet, berdasar data KUA Situbondo, diperkirakan ada 3.000 kasus kawin sirri di daerahnya. Di Jawa Timur lebih dari 30.000 kasus. Kasus serupa merebak pula di sentra industri seperti Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Itulah yang saat itu menjadi perhatian serius Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Lewat Pusat Studi Gender IAIN Sunan Ampel, Surabaya, persoalan ini dibedah dalam sebuah penelitian tentang dampak perkawinan di bawah tangan bagi kesejahteraan istri dan anak di daerah “Tapal Kuda”, Jawa Timur. Kawasan yang meliputi Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, dan Situbondo ini dikenal paling subur untuk kawin sirri.


Dalam analisis berikutnya, penyebab maraknya nikah sirri dikarenakan ketidaktahuan masyarakat terhadap dampak pernikahan sirri. Masyarakat miskin hanya bisa berpikir jangka pendek, yaitu terpenuhi kebutuhan ekonomi secara mudah dan cepat. Sebagian yang lain mempercayai, bahwa istri simpanan kiai, tokoh dan pejabat mempercepat perolehan status sebagai istri terpandang di masyarakat, kebutuhannya tercukupi dan bisa memperbaiki keturunan mereka. Keyakinan itu begitu dalam berpatri dan mengakar di masyarakat. Cara-cara instan memperoleh materi, keturunan, pangkat dan jabatan bisa didapatkan melalui pertukaran perkawinan. Dan anehnya perempuan yang dinikah sirri merasa enak saja dengan status sirri hanya karena dicukupi kebutuhan materi mereka, sehingga menjadi hal yang dilematis dan menjadi faktor penyebab KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) semakin subur di kalangan masyarakat miskin, awam dan terbelakang. Mereka menganggap nikah sirri sebagai takdir yang harus diterima oleh perempuan begitu saja.


Faktor ketidaktahuan ini menyebabkan keterbelakangan masyarakat. Mereka miskin akses invormasi, pendidikan dan ekonomi. Mereka tidak tahu dan tidak mengerti hukum. Mereka tidak sadar hukum dan tidak tahu bagaimana memperoleh perlindungan hukum apabila mengalami kekerasan terhadap anak dan perempuan. Sementara sikap masyarakat masih menganggap, nikah sirri merupakan hak privasi yang tabu diperbincangkan. Masyarakat enggan terlibat terhadap urusan rumah tangga orang. Setelah perempuan menjadi istri simpanan ialah terampasnya hak-hak istri. Istri simpanan rentan dipermainkan oleh laki-laki tidak bertanggung jawab. Contoh, ada kasus mahasiswi pendatang menikah secara sirri, kemudian ditinggal oleh suaminya. Si istri datang ke Pengadilan Agama (PA) dan meminta tolong. Tetapi pihak aparat tidak bisa menolong secara hukum, karena mereka melakukan nikah sirri yang tidak dicatat secara syah oleh hukum. Istri sirri tidak punya kekuatan hukum. Istri sirri tidak memperoleh hak milik berupa harta benda, dan status anak mereka. Nikah sirri tidak diakui oleh hukum. Kasus yang terjadi, ada sebagian istri sirri ditinggalkan begitu saja, ditelantarkan, tidak diberi nafkah dengan cukup, tidak ada kepastian dari suami akan status mereka.


Istri sirri, mudah menerima ketidak-adilan. Misalnya, apabila suami ingin menceraikan istri, maka istri tidak punya kekuatan hukum untuk menggugat. Para perempuan di desa-desa karena keawamannya tidak mengerti hukum agama, hukum negara, sehingga para perempuan tersebut menikah beberapa kali dan bahkan ada yang menikah lagi sebelum masa iddahnya selesai. Dorongan emosi sesaat (impulsive) perempuan mendorong mereka untuk menikah lagi dengan orang lain. Kasus itu tidak sekali tetapi berkali-kali, bahkan sebelum masa iddah sudah menikah sirri dengan laki-laki lain. Ironinya, pihak yang menikahkan adalah orang yang dianggap tokoh atau mereka yang dianggap sesepuh, atau wali hakim.


Anak yang dilahirkan dari pernikahan sirri tersebut rentan dengan kekerasan, kemiskinan yang terus mendera. Anak-anak kurang memperoleh kasih sayang yang utuh dari bapak-ibu. Anak tidak memiliki akta kelahiran, anak sulit diterima secara sosial, anak diacuhkan di lingkungannya dan anak sulit mendaftar ke sekolah negeri karena tidak memiliki akta kelahiran. Akibatnya, anak jadi terlantar dan tidak tumbuh dengan baik.


Ada tujuh kerugian pernikahan sirri bagi anak dan istri yang terjadi di lapangan:


1. Istri tidak bisa menggugat suami, apabila ditinggalkan oleh suami.

2. Penyelesaian kasus gugatan nikah sirri, hanya bisa diselesaikan melalui hukum adat.

3. Pernikahan sirri tidak termasuk perjanjian yang kuat (mitsaqon ghalidha) karena tidak tercatat secara hukum.

4. Apabila memiliki anak, maka anak tersebut tidak memiliki status, seperti akta kelahiran. Karena untuk memperoleh akte kelahiran, disyaratkan adanya akta nikah.

5. Istri tidak memperoleh tunjangan apabila suami meninggal, seperti tunjangan jasa raharja.

6. Apabila suami sebagai pegawai, maka istri tidak memperoleh tunjangan perkawinan dan tunjangan pensiun suami.


B.2. Pandangan Komprehensif Islam


Islam memandang bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian yang agung (mitsaqan ghalidha) yang membawa konsekwensi suci atas pasangan laki-laki dan perempuan. Pernikahan bukan semata untuk melampiaskan nafsu syahwat, tetapi terkandung tujuan mulia untuk menjaga kelestarian generasi manusia. Pernikahan juga merupakan pintu gerbang menuju kehidupan keluarga yang sakinah dan sejahrera. Dalam tinjauan sosiologi, kedudukan keluarga sangat urgen dalam mewarnai kehidupan masyarakat secara umum.

Untuk mencapai tujuan pernikahan itu, diperlukan persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebagaimana yang telah disyari’atkan oleh Islam. Pernikahan dianggap sah misalnya, jika dalam pernikahan itu melibatkan wali dan dua orang saksi. Sebagaimana hadis riwayat Ahmad:


لا نكاح الا بولي وشهدي عدل

 
Kedudukan wali dalam pernikahan sangat urgen, agar perempuan yang hendak menikah mendapat kontrol positif dari pihak keluarga yang secara simbolik-operasional diwakili oleh wali pihak perempuan. Dalam konteks masyarakat Arab saat itu, fungsi wali sangat penting agar perempuan yang hendak menikah mendapat pertimbangan yang matang menyangkut siapa calon suaminya. Wali sebelum menikahkan perempuan yang berada dalam perwaliannya secara otomatis akan melakukan penelusuran atas asal-usul dan latar belakang laki-laki yang akan menjadi calon suami perempuan itu. Dan secara timbal balik, wali punya kewajiban pula untuk meminta persetujuan perempuan yang akan dinikahkan, sebagaimana hadis Nabi berikut:



حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 قَالَ لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ تَسْكُتَ [19]
 
Pernikahan bagi pasangan laki-laki dan perempuan adalah proses menuju kehidupan sesungguhnya dalam masyarakat yang lebih luas. Setelah mereka menjadi pasangan suami-istri, meraka akan menjalin relasi dan berurusan dengan banyak pihak sebagai konsekwensi atas kedudukan mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat. Semakin modern masyarakat, akan lebih banyak mensyaratkan sebuah relasi antara keluarga dan masyarakat secara prosedural-administratif. Pencatatan pernikahan adalah manifestasi prosedur-administratif yang dijalankan untuk sebuah tertib masyarakat. Dengan tercatat, maka akan ada data penting menyangkut status seorang warga sehingga berbagai penyelewengan status dapat dieliminasi.


Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, adalah hukum positif yang mengatur proses pernikahan di Indonesia. Di samping segala persyaratan formil sebagaimana yang telah disyari’atkan Islam, ada ketentuan tambahan yang terdapat dalam undang-undang itu yang mengatur secara administratif sebuah proses pernikahan, yaitu pencatatan pernikahan oleh institusi pencatat nikah (KUA, Kantor Urusan Agama). Diharapkan dengan pernikahan yang tercatat dan terdata, akan lebih memudahkan kontrol terhadap pelaksanaan syari’at dalam pernikahan warga masyarakat. Hak perempuan dan anak akan lebih terjamin dalam sebuah pernikahan yang legal secara hukum (baik hukum Islam maupun hukum nasional).


Pernikahan yang tercatat (sesuai dengan UU no. 1 tahun 1974 dan PP no. 9 tahun 1975) sesuai dengan semangat kemashlahatan yang menjadi landasan syari’at Islam. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh ulama Usûl fiqh, setiap hukum (Syarî’at) itu terkandung kemaslahatan bagi hamba Allah (manusia), baik kemaslahatan itu bersifat duniawi maupun ukhrawi.


Maslahat menurut Abdullah Abd al-Muhsin az-Zaki, adalah suatu ketentuan yang dalam merumuskan hukum dengan menarik manfaat dan menolak mafsadat dari manusia.[20] Sedangkan al-Khawârizmi mendefinisikan mendefinisikan maslahat adalah memelihara maqâsid asy-syarî’ah dengan menolak mafsadat dari umat.[21] Al-Buti memandang memandang maslahat adalah suatu manfaat yang dikehendaki oleh syari’ untuk hamba-Nya dengan memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.[22] Asy-Syâtibî mendifinisikan maslahat sesuatu yang merujuk atau dikembalikan kepada tegaknya kehidupan manusia.[23]


Dalam hal ini Asy-Syâtibî menandaskan bahwa Syarî’at diberlakukan adalah untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akherat.[24] Dengan demikian orang yang meneliti hukum (Syarî’at) akan menemukan bahwa tujuan dan permasalahan hukum adalah memelihara kehidupan masyarakat dan mewujudkan kemaslahatannya dengan meraih manfaat dan menghilangkan mafsadat.[25]


Sebagaimana telah disampaikan di muka, bahwa secara sosiologis, nikah sirri banyak mengandung persoalan (mafsadat/mudharat). Sehingga dalam perspektif syari’at, nikah sirri, walaupun sah secara fiqhiyah, tetapi perlu dihindari.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Abd al-Muhsin az-Zaki, Usûl al-Fiqh Mazhab al-Imâm Ahmad Dirâsat Usûliyyah Muqâranah, cet. 2, Riyadh : Maktabat ar-Riyad al-Hadisah, 1980
Aboebakar Aceh, Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam, Semarang: Ramadhani, 1980
Al-‘Alamah Taqiyuddin Ibn Taimiyah, Ahkam al-Zawaj, Beirut: Dar al-Kutub, tt.
Allamah M.H. Thabathaba’I, Syi’ah Islam: Asal-Usul dan Perkembangannya, Djohan Effendi (terj.), Jakarta: PT. Pustaka Utama Graffiti, 1989
Badran Abu al-‘Ainain Badran, Usûl al-Fiqh al-Islamî, (t.t.p : t.n.p, t.t.), hlm. 236
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Ghufron A. Mas’adi (terj.), Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002
Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fukhûl ilâ Tahqîq al-Haq min ‘Ilm al-Usûl , cet. I, Surabaya : Syirkah Maktabat Ahmad bin Sa’ad Ibn Nabhan, t.t.
Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, Dawâbit al-Mahlahah fî as-Syarî’ah al-Islamîyah, cet.2, Beirut : Muassisah ar-Risâlat , 1977
Murtadha Muthahhari, The Rights Women in Islam, Teheran: WOFIS, 1981
Rahman Zaenuddin dan M. Hamdan Basyar (ed.), Syi’ah dan Politik di Indonesia, Bandung: Mizan, 2000
Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, Beirut: Dâr Al-Fikr, tt..
Shahla Hairi, law of Desire: Tempiorery Marriage in Shi’I Iran, New York: Syracuse, 1989
Syâtibî, al-Muwâfaqât fî As-Syarî’ah, (Beirut ; Dâr al-Kutub al-Timiyyah, t.t.) II, hlm. 29
Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adilatuhu, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1989

[1] Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Ghufron A. Mas’adi (terj.), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 291
[2] Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, (Beirut: Dâr Al-Fikr, tt..), Jilid II, hlm. 28
[3] Ibid.
[4] Shahla Hairi, law of Desire: Tempiorery Marriage in Shi’I Iran, (New York: Syracuse, 1989), hlm. 60
[5] Murtadha Muthahhari, The Rights Women in Islam, (Teheran: WOFIS, 1981), hlm. 15
[6] HR. Muslim, hadis no.2502
[7] HR. Ibn Majah, hadis no. 1902
[8] HR. Ahmad, hadis no. 14810
[9] HR. Muslim hadis no. 2506
[10] HR. Muslim, hadis no. 2510; dengan matan yang sejenis diriwayatkan pula oleh Bukhari, hadis no.3894 dan 4723; Tirmidzi, hadis no. 1040; Nasa’I, hadis no. 3312; Ibn Majah, hadis no. 1951; dan Ahmad, hadis no. 558
[11] Lihat Aboebakar Aceh, Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam, (Semarang: Ramadhani, 1980), hlm. 221
[12] Lihat Allamah M.H. Thabathaba’I, Syi’ah Islam: Asal-Usul dan Perkembangannya, Djohan Effendi (terj.), (Jakarta: PT. Pustaka Utama Graffiti, 1989), hlm. 264
[13] Ibid., hlm. 264-265
[14] Lihat. Esposito… hlm. 136-137
[15] A. Rahman Zaenuddin dan M. Hamdan Basyar (ed.), Syi’ah dan Politik di Indonesia, (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 112
[16] HR. Ibn Majah, hadis no. 1846
[17] Al-‘Alamah Taqiyuddin Ibn Taimiyah, Ahkam al-Zawaj, (Beirut: Dar al-Kutub, tt.), hlm. 202
[18] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adilatuhu, (Damaskus: Dâr al-Fikr, 1989), hlm. 71
[19] HR. Bukhari. Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, dan Darami
[20] Abdullah Abd al-Muhsin az-Zaki, Usûl al-Fiqh Mazhab al-Imâm Ahmad Dirâsat Usûliyyah Muqâranah, cet. 2, (Riyad : Maktabat ar-Riyad al-Hadisah, 1980), hlm. 513
[21] Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fukhûl ilâ Tahqîq al-Haq min ‘Ilm al-Usûl , cet. I, (Surabaya : Syirkah Maktabat Ahmad bin Sa’ad Ibn Nabhan, t.t.), hlm 242
[22] Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, Dawâbit al-Mahlahah fî as-Syarî’ah al-Islamîyah, cet.2, (Beirut : Muassisah ar-Risâlat , 1977), hlm. 23
[23] Syâtibî, al-Muwâfaqât fî As-Syarî’ah, (Beirut ; Dâr al-Kutub al-Timiyyah, t.t.) II, hlm. 29
[24] Ibid., hlm. 4
[25] Badran Abu al-‘Ainain Badran, Usûl al-Fiqh al-Islamî, (t.t.p : t.n.p, t.t.), hlm. 236

Nikah Mut’ah Bukanlah Zina? Menggugat Salafy


Nikah Mut’ah Bukanlah Zina? Menggugat Salafy


Tulisan ini bukan mempermasalahkan hukum nikah mut’ah. Baik yang mengharamkan dan yang menghalalkan nikah mut’ah sama-sama memiliki hujjah. Masalah yang kami bahas pada tulisan kali ini adalah ulah mulut gatal sebagian pengikut salafy yang berkata “nikah mut’ah adalah zina”. Tidak diragukan kalau Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menghalalkan nikah mut’ah dan para sahabatpun pernah melakukan nikah mut’ah. Berdasarkan fakta ini maka perkataan “nikah mut’ah adalah zina” memiliki konsekuensi kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menghalalkan zina dan para sahabat pernah melakukan zina. Na’udzubillah, bukankah ini adalah tuduhan yang keji.


Terdapat dalil yang menyebutkan kalau Nikah mut’ah bukanlah sesuatu yang keji melainkan sesuatu yang “baik”. Hal ini pernah disebutkan dalam hadis Ibnu Mas’ud dengan sanad yang shahih.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ قَالَ 

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ فَقُلْنَا أَلَا نَسْتَخْصِي فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ 

ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ ثُمَّ قَرَأَ عَلَيْنَا 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ 

وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Isma’il dari Qais yang berkata Abdullah berkata “kami berperang bersama Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] dan kami tidak membawa wanita [istri], kami berkata “apakah sebaiknya kita mengebiri” maka Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan selembar pakaian kemudian Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] membacakan kepada kami “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas [Al Maidah ayat 87] [Shahih Bukhari 7/4 no 5075]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس 

عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب

 فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami masih muda, kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidakkah kami dikebiri?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dengan mahar berupa pakaian sampai waktu yang ditentukan. Kemudian ‘Abdullah membaca [Al Maidah ayat 87] “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian[Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Perhatikan baik-baik, Ibnu Mas’ud ketika menyebutkan nikah mut’ah ia membaca ayat sebagaimana Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] membacakan ayat “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian”. Ini berarti nikah mut’ah itu termasuk dalam “thayyibaat” [hal yang baik]. Jadi keliru sekali kalau mengatakan Nikah mut’ah adalah zina. Bagaimana mungkin zina disebut sesuatu yang baik?. Perkara pada akhirnya nikah mut’ah diharamkan [menurut sebagian orang] tetap saja tidak mengubah kalau nikah mut’ah itu sesuatu yang baik.

Seandainya nikah mut’ah itu hukumnya haram tetap saja sangat tidak benar menyatakan nikah mut’ah adalah zina. Apa yang akan mereka katakan terhadap para sahabat yang melakukan nikah mut’ah. Apakah mereka akan menuduh para sahabat telah berzina?.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة

 عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه

 ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر

 فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah  yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW hidup, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’ [Musnad Ahmad 1/52 no 369, Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim]

Hadis di atas menyebutkan kalau para sahabat [termasuk Jabir] pernah bermut’ah bersama Abu Bakar. Apakah Jabir, Abu Bakar dan sahabat lainnya akan dikatakan telah melakukan zina?. Na’udzubillah, tetapi itulah konsekuensi dari perkataan “Nikah mut’ah adalah zina”. Sangat jelas bahwa sebagian sahabat tetap menghalalkan nikah mut’ah selepas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat. Hadis di atas menjadi bukti dimana Jabir mengatakan kalau para sahabat [termasuk dirinya] tetap melaksanakan mut’ah dimasa Abu Bakar.

قال عطاء قدم جابر بن عبدالله معتمرا فجئناه في منزله فسأله القوم 

عن أشياء ثم ذكروا المتعة فقال نعم استمتعنا على عهد رسول الله

 صلى الله عليه و سلم وأبي بكر وعمر

Atha’ berkata “Jabir bin Abdullah datang untuk menunaikan ibadah umrah. Maka kami mendatangi tempatnya menginap. Beberapa orang dari kami bertanya berbagai hal sampai akhirnya mereka bertanya tentang mut’ah. Jabir menjawab “benar, kami melakukan mut’ah pada masa hidup Rasulullah SAW, masa hidup Abu Bakar dan masa hidup Umar”. [Shahih Muslim 2/1022 no 15 (1405) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]


Sekali lagi jika nikah mut’ah adalah zina, maka konsekuensinya adalah Jabir dan para sahabat lainnya bersepakat melakukan zina dan menghalalkan zina. Kami yakin hal ini tidak akan diterima oleh siapapun yang mengaku muslim. Semoga pengikut salafy yang bermulut usil itu dapat menahan diri untuk tidak mengatakan kalau nikah mut’ah adalah zina. Karena perkataan itu sama saja telah mencaci para sahabat Nabi? Dan bukankah menurut mereka pengikut salafy, mencaci sahabat Nabi adalah kafir. Memang barang siapa yang mulutnya terlalu mudah mengumbar kata kafir maka kata kafir itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Salam Damai

Ibnu Abbas dan Pengharaman Nikah Mut’ah?


Ibnu Abbas dan Pengharaman Nikah Mut’ah?
Diriwayatkan kalau Ibnu Abbas telah menghalalkan mut’ah dan mengizinkan orang lain untuk melakukan mut’ah. Dan diriwayatkan pula kalau Imam Ali menegur Ibnu Abbas dan menyatakan kalau nikah mut’ah telah diharamkan di Khaibar.

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ وَأَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِمَا 

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

 وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Malik bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah yang telah mendengar dari Az Zuhriy yang mengatakan telah mengabarkan kepadaku Hasan bin Muhammad bin ‘Aliy dan saudaranya ‘Abdullah bin Muhammad dari ayah keduanya bahwa Ali radiallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang nikah mut’ah dan makan daging himar jinak di masa Khaibar [Shahih Bukhari 7/12 no 5115]

Atsar ini menunjukkan kalau Imam Ali telah mengingatkan Ibnu Abbas bahwa nikah mut’ah telah diharamkan di Khaibar. Peristiwa ini [jika benar] terjadi di masa Imam Ali masih hidup, anehnya setelah peristiwa ini Ibnu Abbas masih saja menghalalkan mut’ah.

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس قال ابن شهاب أخبرني عروة بن الزبير أن عبدالله ابن الزبير قام بمكة

 فقال إن ناسا أعمى الله قلوبهم كما أعمى أبصارهم يفتون بالمتعة يعرض برجل فناداه فقال إنك لجلف جاف فلعمري لقد كانت المتعة تفعل 

على عهد إمام المتقين ( يريد رسول الله صلى الله عليه و سلم )

فقال له ابن الزبير فجرب بنفسك فوالله لئن فعلتها لأرجمنك بأحجارك

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus yang berkata Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Abdullah bin Zubair berdiri [menjadi khatib] di Makkah dan berkata sesungguhnya ada orang yang dibutakan Allah mata hatinya sebagaimana Allah telah membutakan matanya yaitu berfatwa bolehnya nikah mut’ah. Ia menyindir seseorang maka orang tersebut memanggilnya dan berkata “sungguh kamu adalah orang yang kaku dan keras demi umurku mut’ah telah dilakukan di zaman Imam orang-orang yang bertakwa [yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Maka Ibnu Zubair berkata “lakukanlah sendiri, demi Allah jika kamu melakukannya maka aku akan merajammu dengan batu” [Shahih Muslim 2/1023 no 1406]

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa yang berdebat dengan Ibnu Zubair di atas adalah Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu [Syarh Shahih Muslim 5/88]. Hadis Shahih Muslim di atas menunjukkan bahwa Ibnu Abbas setelah diberitahu Imam Ali bahwa nikah mut’ah diharamkan di Khaibar, ia tetap saja menghalalkan mut’ah. Perhatikan kembali hadis di atas, Ibnu Zubair menyindir Ibnu Abbas bahwa ia seorang yang buta mata hatinya sebagaimana Allah SWT telah membutakan matanya. Ibnu Abbas memang menjadi buta matanya ketika usianya telah lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa jauh setelah Imam Ali mengabarkan kepadanya kalau mut’ah itu diharamkan di Khaibar, Ibnu Abbas tetap menghalalkan mut’ah.

Bukankah ini sesuatu yang aneh. Sahabat sekelas Ibnu Abbas tidak menghiraukan larangan Rasululullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang disampaikan oleh Imam Ali. Setidaknya ada tiga kemungkinan jika kita mengkonfrontir hadis Imam Ali dan hadis tentang Ibnu Abbas di atas.
  • Atsar Imam Ali itu tidak benar, dalam arti Imam Ali tidak pernah mengabarkan hal itu kepada Ibnu Abbas sehingga Ibnu Abbas tidak tahu kalau nikah mut’ah itu diharamkan di Khaibar.
  • Atsar Imam Ali itu benar jadi Ibnu Abbas sudah tahu kalau nikah mut’ah diharamkan di Khaibar tetapi ia tetap saja menghalalkannya. Na’udzubillah
  • Atsar Imam Ali itu benar tetapi Ibnu Abbas tidak mengakui hadis Imam Ali tersebut. Artinya Ibnu Abbas menganggap Imam Ali tidak dipercaya dalam hadis yang disampaikannya. Na’udzubillah
Ketiga kemungkinan ini benar-benar membuat bingung. Soal atsar Imam Ali itu, memang secara zahir sanadnya shahih tetapi matannya diperselisihkan oleh sebagian ulama [idhthirab]. Ada yang mengatakan kalau mut’ah tidak diharamkan di Khaibar karena pada saat itu di Khaibar hanya terdapat wanita yahudi [ahlul kitab] dimana hukum bolehnya menikahi wanita ahlul kitab ditetapkan setelah peristiwa Khaibar.  Seandainya atsar Imam Ali itu shahih dan benar maka Ibnu Abbas itu memang sudah keterlaluan. Telah sampai larangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepadanya tetapi ia tetap saja menghalalkan nikah mut’ah. Ini namanya menghalalkan sesuatu yang ia sudah tahu kalau itu haram, na’udzubillah. Silakan kepada para pembaca sekalian untuk memberikan masukannya dalam perkara ini.

@sok tau banget
Perhatikan, bahwa Ibnu Abbas memberikan keringanan (rukhshah), artinya pada dasarnya mut’ah tersebut adalah sesuatu yang dilarang, dibolehkan sebagai bentuk keringanan dengan syarat kondisi sebagaimana disebutkan yaitu dalam keadaan yang bisa disebut darurat, Fatwa yang seperti ini saja banyak ditentang oleh sahabat2 yang lain.
Logika anda yang salah. Maksudnya Ibnu Abbas membolehkan mut’ah dengan syarat-syarat tertentu untuk menjaga agar mut’ah itu tidak disalahgunakan. Bukannya Ibnu Abbas malah menganggap mut’ah itu haram, itu anda aja yang maksa. Lagian kata siapa fatwa ini ditentang para sahabat. Justru fatwa ini sesuai dengan ijma’ sahabat buktinya Jabir mengatakan kalau mayoritas sahabat melakukan mut’ah di zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar sampai akhirnya Umar melarangnya.

Coba bandingkan dengan praktek mut’ah kaum syi’ah saat ini, sungguh sangat jauh sekali kelewatannya, maka bener-bener mereka telah berzina dengan berkedok agama, ga ada angin ga ada hujan mut’ah!, bahkan menurut mereka semakin banyak melakukan mut’ah maqam mereka menjadi semakin tinggi…
memang anda sok tahu kali ya seolah tahu bagaimana kaum syiah melakukan mut’ah. Apakah anda pernah melihat bagaimana kaum syi’ah melakukan mut’ah sehingga anda bisa mengatakan “kelewatan”?. Orang yang lebih pantas anda tuduh adalah Ibnu Abbas. Ibnu Abbas itu sudah mendapat peringatan oleh Imam Ali kalau nikah mut’ah itu haram lha kok setelah itu Ibnu Abbas menghalalkan mut’ah. Menurut logika anda berarti Ibnu Abbas itu menghalalkan zina. begitukah?
Kemudian setelah Ibnu Abbas menyaksikan sendiri, bahwa banyak orang-orang yang mempermudah persoalan ini dan tidak membatasi dalam situasi yang terpaksa, maka ia hentikan fatwanya itu dan ditarik kembali sebagaimana disebutkan dalam kitab fiqh as-sunnah:

وقد روي عن بعض الصحابة وبعض التابعين أن زواج المتعة حلال، واشتهر ذلك عن ابن عباس رضي الله عنه، وفي تهذيب السنن: وأما ابن عباس فانه سلك هذا المسلك في إباحتها عند الحاجة والضرورة، ولم يبحها مطلقا، فلما بلغه إكثار الناس منها رجع.

فقال ابن عباس: (إنا لله وإنا إليه راجعون)! والله ما بهذا أفتيت، ولا هذا أردت، ولا أحللت إلا مثل ما أحل الله الميتة والدم ولحم الخنزير، وما تحل إلا للمضطر، وما هي إلا كالميتة والدم ولحم الخنزير.

Diriwayatkan dari beberapa sahabat dan beberapa tabi’in bahwa nikah mut’ah hukumnya boleh, dan yang paling populer pendapat ini dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas r.a., dan dalam kitab Tahzhib as-Sunan dikatakan: sedangkan Ibnu Abbas membolehkan nikah mut’ah ini tidaklah secara mutlak, akan tetapi hanya ketika dalam keadaan dharurat. Akan tetapi ketika banyak yang melakukannya dengan tanpa mempertimbangkan kedharuratannya, maka ia merefisi pendapatnya tersebut. Ia berkata: “inna lillahi wainna ilaihi raji’un, demi Allah saya tidak memfatwakan seperti itu (hanya untuk kesenangan belaka), tidak seperti itu yang saya inginkan. Saya tidak menghalalkan nikah mut’ah kecuali ketika dalam keadaan dharurat, sebagaimana halalnya bangkai, darah dan daging babi (ucapan Ibnu Abbas di atas disebutkan oleh al Baihaqi di dalam Sunan-nya (7/205) Ketika dalam keadaan dharurat, yang asalnya tidak halal kecuali bagi orang yang kepepet dalam keadaan dharurat. Nikah mut’ah itu sama seperti bangkai, darah, dan daging babi, yang awalnya haram hukumnya, tapi ketika dalam keadaan dharurat maka hukumnya menjadi boleh”
Maaf kayaknya riwayat Ibnu Abbas yang anda jadikan hujjah di atas dhaif jiddan. anda menyebutkan referensinya dari Sunan Baihaqi 7/205. Riwayat yang dimaksud adalah dari Hasan bin Umarah dari Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Hasan bin Umarah ini matruk. Ahmad berkata “matruk al hadits”. terkadang berkata “mungkar al hadis meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ dan tidak ditulis hadisnya”.Abu Hatim, Muslim, Daruquthni dan Nasa’i berkata “matruk” [At Tahdzib juz 2 no 532]. Begitu pula riwayat Abdussalam bin Harb dari Hajjaj dari Abu Khalid dari Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Riwayat ini dahif karena Hajjaj bin Arthah seorang mudallis martabat keempat dan riwayatnya disini dengan ‘an ‘anah [Thabaqat Mudallisin no 118] dan Abu Khalid yaitu Yazid bin ‘Abdurrahman adalah mudallis martabat ketiga [Thabaqat Mudallisin no 113] disini riwayatnya juga dengan ‘an ‘anah sehingga dhaif. Riwayat dari kedua orang mudallis ini jelas dhaif sekali.
Telah shahih bahwasanya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meralat fatwanya dan melarang mut’ah sebagaimana yang di jelaskan dengan cara yang bagus oleh Imam Syaukani (Nailul Authar6/169-170).

Sayangnya hadis-hadis yang menjelaskan ruju’nya Ibnu Abbas itu dhaif. Kalau tidak percaya ya silakan bawakan saja hadis lengkapnya nanti ditunjukkan kalau hadis tersebut dhaif :)

@Alaydrouz
soal anda mau memilih hukum atau pendapat yang mana itu semua terserah anda. Fokus saya disini adalah ada riwayat yang cukup membuat saya “bertanya-tanya”. Ibnu Abbas itu tetap saja menghalalkan mut’ah walaupun terdapat riwayat kalau Imam Ali sudah menegur dan memperingatkan soal keharaman nikah mut’ah di khaibar. Sikap Ibnu Abbas ini bagi saya ya aneh atau sebaliknya mungkin hadis Imam Ali yang keliru.



Logika anda yang salah. Maksudnya Ibnu Abbas membolehkan mut’ah dengan syarat-syarat tertentu untuk menjaga agar mut’ah itu tidak disalahgunakan. Bukannya Ibnu Abbas malah menganggap mut’ah itu haram, itu anda aja yang maksa. Lagian kata siapa fatwa ini ditentang para sahabat. Justru fatwa ini sesuai dengan ijma’ sahabat buktinya Jabir mengatakan kalau mayoritas sahabat melakukan mut’ah di zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar sampai akhirnya Umar melarangnya.
Justru logika anda yang lebih salah, saya tidak maksa kok, coba baca pelan-pelan,

5116 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ سُئِلَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَرَخَّصَ فَقَالَ لَهُ مَوْلًى لَهُ إِنَّمَا ذَلِكَ فِي الْحَالِ الشَّدِيدِ وَفِي النِّسَاءِ قِلَّةٌ أَوْ نَحْوَهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ نَعَمْ

(7/12)

“Dari Abi Jamrah berkata aku mendengar Ibnu Abbas ditanya tentang mut’ah dengan wanita, kemudian dia memberikan keringanan (rukhshah). Lantas seorang bekas hambanya bertanya: Apakah yang demikian itu dalam keadaan terpaksa dan karena sedikitnya jumlah wanita atau yang seperti itu? Ibnu Abbas menjawab: Ya!” (Riwayat Bukhari 7/12 No. 5116).

Jadi Ibnu Abbas memberi rukhshah melakukan mut’ah jika dalam keadaan terpaksa, maka tanpa diragukan lagi selain dalam keadaan terpaksa Ibnu Abbas tidak membolehkannya atau mengharamkannya. Jelas sekali itu.

memang anda sok tahu kali ya seolah tahu bagaimana kaum syiah melakukan mut’ah. Apakah anda pernah melihat bagaimana kaum syi’ah melakukan mut’ah sehingga anda bisa mengatakan “kelewatan”?. Orang yang lebih pantas anda tuduh adalah Ibnu Abbas. Ibnu Abbas itu sudah mendapat peringatan oleh Imam Ali kalau nikah mut’ah itu haram lha kok setelah itu Ibnu Abbas menghalalkan mut’ah. Menurut logika anda berarti Ibnu Abbas itu menghalalkan zina. begitukah?
Yang kelewatan itu ya kaum syi’ah yang melakukan mut’ah padahal mut’ah telah dilarang oleh Imam Ali, sedangkan Ibnu Abbas membolehkan mut’ah jika dalam keadaan terpaksa, dan ijtihad beliau ini keliru menselisihi pendapat sahabat2 yang lain. dan yg lebih kelewatan adalah orang yang mengakui Imam Ali sebagai pedoman umat tetapi masih meragukan fatwa beliau tentang keharaman Mut’ah :mrgreen:

Sayangnya hadis-hadis yang menjelaskan ruju’nya Ibnu Abbas itu dhaif. Kalau tidak percaya ya silakan bawakan saja hadis lengkapnya nanti ditunjukkan kalau hadis tersebut dhaif :)
Dengan tidak ada penentangan beliau terhadap Umar mengenai mut’ah, bagi saya cukup untuk menyimpulkan bahwa Ibnu Abbas sudah rujuk dari fatwa sebelumnya. Sedangkan Umar, jangankan sahabat seperti Ali atau Ibnu Abbas, terhadap seorang perempuan yang memprotes beliau jika beliau keliru dalam berfatwa, beliau mau menerimanya kok. Dan terbukti tidak ada riwayat mengenai adu argumentasi mengenai mut’ah dengan Umar.

secondprince, on Maret 6, 2011 at 4:59 pm said:
@sok tau banget
Lho jihad atau perang itu juga dalam keadaan terpaksa, dan asbabul wurud dibolehkan mut’ah kan karena sebagian kaum muslimin menanyakan apa boleh berkebiri.

Oh jadi jihad atau perang itu kondisi terpaksa ya, baru tahu saya. btw kalau Fathul Makkah itu kondisinya terpaksa juga?.

Saya sudah jawab di komentar saya yang lalu mengenai pengharaman mut’ah di Khaibar. bahwa yang diharamkan di khaibar adalah daging khimar, hanya karena waktu penyebutannya berbarengan dengan mut’ah di pahami oleh perawi bahwa mut’ah juga diharamkan di khaibar padahal tidak seperti itu.

Ini jawaban orang ngeles, karena bertentangan dengan zahir hadisnya. sangat jelas hadisnya dengan kata-kata jelas bahwa mut’ah diharamkan di Khaibar. Bagaimana dengan hadis yang hanya menyebut mut’ah haram di khaibar tanpa menyebut “daging khimar”?. kalau mau mengatakan perawinya salah menyebut ya orang lain kan bisa bilang jangan-jangan perawi itu juga salah sebut sebenarnya gak ada pengharaman mut’ah di khaibar jadi pengharaman itu hanya dibuat-buat atas nama Imam Ali. Atau kalau lebih halus sedikit perawi itu keliru sebenarnya tidak ada soal pengharaman mut’ah di Khaibar. Hadis Imam Ali itu hanya pengharaman daging khimar jinak saja. Yup beres kan :)

Kalaupun di nasakh, bukankah status akhir mut’ah adalah haram sampai kiamat? maka tetap benarlah Imam Ali mengingatkan Ibnu Abbas.
jadi kalau Imam Ali mengingatkan Ibnu Abbas dengan hadis yang sudah dinasakh maka Imam Ali tetap benar ya. Terus kalau memang Ibnu Abbas itu sudah diingatkan oleh Imam Ali berarti ia tahu dong itu haram, ia tahu dong kalau nikah mut’ah itu zina dan berarti Ibnu Abbas menghalalkan zina. Itu konsekuensinya, bilang saja iya, beres :)

Sungguh kelewatan orang yang berhujjah dengan Nabi SAW dan Imam Ali yang jelas-jelas mengharamkan mut’ah tidak mengakui bahwa saat ini Mut’ah adalah Zina.

lha kan logika anda mengatakan mut’ah adalah zina karena mut’ah telah diharamkan. Nah kalau logika itu dipakai konsekuensinya anda harus mengakui kalau Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menghalalkan zina di Fathul Makkah. Kalau logika anda benar ya anda harus menerima konsekuensinya.



 By: KHALISHA on April 24, 2008
at 4:43 am

Menurut saya tulisan mas Anjar mengenai Nikah Mut’ah baik versi Sunni maupun Syi’ah cukup berimbang. Namun saya ingin menyampaikan beberapa catatan yang sebagian pendapat pribadi yang mungkin bisa memperjelas atau paling tidak bisa membuat kita lebih memahami pandangan Syi’ah Imamiyah. 

1. Baik nikah daim (permanen) maupun mut’ah, kedua-duanya adalah suatu ikatan/akad antara seorang perempuan dengan seorang laki yang tidak terikat pernikahan, dengan syarat2 tertentu (baik versi Sunni maupun Syi’ah). Dengan demikian tentunya SANGAT BERBEDA dengan zina atau kumpul kebo yang tanpa ikatan apa2.

2. Dasar nikah mut’ah adalah Surat an-Nisa 24

3. Syarat2 Nikah Mut’ah adalah :
– Mahar
– Ajal (tempo)
– Akad
– Perceraian
– Iddah
– Sabitnya nasab
– Tidak sabitnya pusaka dinatara sumai dan
isteri jika ia tidak disyaratkan

4. Saya tidak setuju dengan pendapat bahwa tujuan nikah mut’ah adalah semata-mata pemuasan/kenikmatan seks laki-laki. Hendaknya kita melihat latar belakang dan tujuan utama yang lebih luhur dari ketetapan Allah dalam Surah An-Nissa 24 tsb terlepas dari kontroversi dimansukh atau tidak dimansukh.

(Dan diharamkan menikahi perempuan yang bersuami, kecuali maa lakat aimanukum/ hamba sahaya perempuan yang kamu miliki -1- sebagai ketetapan Allah atas kamu, dan dihalalkan selain perempuan yang demikian itu -2- jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya dan bukan untuk berzina, Maka karena keni'matan yang telah kamu dapatkan dari mereka,  berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata diantara kamu telah saling merelakannya setelah ditetapkan -3- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Maha Bijaksana.)

--1. Perempuan2 yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersamanya. Penjelasan selanjutnya lihat QS 4 -An Nisaa-ayat 3
--2 Selain dari perempuan2 yang disebut dalam QS 4 -An Nisaa-ayat 3
--3 Menambah atau mengurangi ataw sepakat tidak ada pembayaran sama sekali maskawin yang telah ditetapkan.

Dengan melihat latar belakang sejarah nikah mutah, kita bisa menangkap tujuan yang lebih agung dari dari sekedar pemuasan seks, yaitu MENCEGAH PERNZINAHAN di masyarakat Islam, yakni menyelamatkan/memelihara kehormatan diri dari maksiat.
Adalah fakta sejarah bahwa sejak diharamkannya nikah mut’ah oleh Khalifah Umar, maka banyak terjadi perzinahan di kalangan masyarakat Sunni.

5. Dalam referensi Sunni kita mendapat informasi bahwa Umarlah orang pertama yang mengharamkan nikah mut’ah seperti Suyuti dalam “Tarikh al-Khulafa hal 137, Al_baihaqi dlm al-Sunan,V, hal 206, Al-Raghib dlm al-Mahadarat II hal 94, Muslim, Sahih I, hal.395, Ibnu hajar, Tah al-Bari, IX, hal 41, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz Umal VIII hal 294 dll. Jadi hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah melarang nikah mut’ah versi Bukhari Muslim harus kita ragukan kebenarannya. 

6. Nikah mut’ah kalau dilihat dari latar belakangnya adalah bersifat DARURAT. Sama dengan latar belakang poligami yang esensinya bukan semata nambah isteri, tapi dalam rangka MENGURUS ANAK YATIM. Kalau situasi normal tidak perlu nikah mut’ah.

7. Di kalangan Sunni terdapat 15 pendapat yang berbeda dalam status nikah mut’ah ini : dimansukh atau tidak, sehingga timbul kesan mereka sendiri tidak yakin apakah telah dimansukh atau tidak. Rasanya mustahil dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya mempermainkan hukum nikah mut’ah. 

8. AlQurtubi menyatakan bahwa penduduk Mekah banyak melakukan nikah mut’ah (Tafsir,V, hal 132). Begitu juga Ibnu Juraij (w.150H) berpendapat bahwa nikah mut’ah adalah harus (dalam kondisi tertentu). Imam Syafei menegaskan bahwa Ibnu Juraij telah bernikah mut’ah dengan 72 orang perempuan, sementara al-Dhahabi pula mengatakan bahwa Ibnu Juraij telah bermut’ah dengan 90 orang perempuan (Tadhibal-Tadhib,VI, hal. 408).

Perhatikan bahwa Ibnu Juraij adalah seorang dari tabi’in dan Imam Mesjid Mekah dan dia juga TELAH MERIWAYATKAN BANYAK HADIS AHLU SUNNAH seperti Bukhori, Muslim dll. Ini berarti kalau dilihat dari kacamata Sunni mengenai nikah mut’ah, kitab2 Sahih tsb. telah dikotori dan ia tidak menjadi sahih lagi sekiranya orang yang melakukan nikah mut’ah itu dianggap zina !

9. Ayat 24 Surah Nissa tidak dimansukh oleh Surah al-Mukminun 6 dan Surah al-Ma’arij 30, karena kedua ayat tsb adalah Makiyyah dan ayat Makiyyah tidak boleh memansukhkan ayat Madaniyah. Begitu pula tidak bisa dimansukh oleh ayat al-Mirath (pusaka), ayat Thalaq. Ia juga tidak boleh dimansukh dengan hadis (menurut jumhur ulama).

10. Demikian adanya pandangan bahwa nikah mut’ah merendahkan martabat wanita saya rasa tidak tepat. Justeru hak-hak wanita terlindungi dengan adanya ikatan/syarat2 pernikahan dan penyakit masyarakat seperti zina dapat ditekan.

11. Nikah Mut’ah menurut pendapat pribadi saya hanya boleh dilakukan ketika kondisi menjadi darurat dan dikhawatirkan terjerumus dalam perzinahan. Oleh karena itu tentu saja nikah mut’ah yang temporer berbeda dengan daim (permanen). Namun bisa saja Nikah Mut’ah yang temporer ini ditingkatkan statusnya menjadi nikah permanen. Sementara nikah daim bisa saja menjadi tidak daim alias bubar (cerai).

Brangkali ada manfaatnya untuk menambah wawasan kita mengenai nikah mut’ah yang kontroversial yang mudah-mudahan menjadikan kita lebih bisa menghormati pendapat mazhab lain yang berbeda.

Ibnu Abbas dan Pengharaman Nikah Mut’ah?

Ibnu Abbas dan Pengharaman Nikah Mut’ah?
Diriwayatkan kalau Ibnu Abbas telah menghalalkan mut’ah dan mengizinkan orang lain untuk melakukan mut’ah. Dan diriwayatkan pula kalau Imam Ali menegur Ibnu Abbas dan menyatakan kalau nikah mut’ah telah diharamkan di Khaibar.

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ وَأَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِمَا أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Malik bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah yang telah mendengar dari Az Zuhriy yang mengatakan telah mengabarkan kepadaku Hasan bin Muhammad bin ‘Aliy dan saudaranya ‘Abdullah bin Muhammad dari ayah keduanya bahwa Ali radiallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang nikah mut’ah dan makan daging himar jinak di masa Khaibar [Shahih Bukhari 7/12 no 5115]
Atsar ini menunjukkan kalau Imam Ali telah mengingatkan Ibnu Abbas bahwa nikah mut’ah telah diharamkan di Khaibar. Peristiwa ini [jika benar] terjadi di masa Imam Ali masih hidup, anehnya setelah peristiwa ini Ibnu Abbas masih saja menghalalkan mut’ah.

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس قال ابن شهاب أخبرني عروة بن الزبير أن عبدالله ابن الزبير قام بمكة فقال إن ناسا أعمى الله قلوبهم كما أعمى أبصارهم يفتون بالمتعة يعرض برجل فناداه فقال إنك لجلف جاف فلعمري لقد كانت المتعة تفعل على عهد إمام المتقين ( يريد رسول الله صلى الله عليه و سلم ) فقال له ابن الزبير فجرب بنفسك

 فوالله لئن فعلتها لأرجمنك بأحجارك

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus yang berkata Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Abdullah bin Zubair berdiri [menjadi khatib] di Makkah dan berkata sesungguhnya ada orang yang dibutakan Allah mata hatinya sebagaimana Allah telah membutakan matanya yaitu berfatwa bolehnya nikah mut’ah. Ia menyindir seseorang maka orang tersebut memanggilnya dan berkata “sungguh kamu adalah orang yang kaku dan keras demi umurku mut’ah telah dilakukan di zaman Imam orang-orang yang bertakwa [yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Maka Ibnu Zubair berkata “lakukanlah sendiri, demi Allah jika kamu melakukannya maka aku akan merajammu dengan batu” [Shahih Muslim 2/1023 no 1406]
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa yang berdebat dengan Ibnu Zubair di atas adalah Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu [Syarh Shahih Muslim 5/88]. Hadis Shahih Muslim di atas menunjukkan bahwa Ibnu Abbas setelah diberitahu Imam Ali bahwa nikah mut’ah diharamkan di Khaibar, ia tetap saja menghalalkan mut’ah. Perhatikan kembali hadis di atas, Ibnu Zubair menyindir Ibnu Abbas bahwa ia seorang yang buta mata hatinya sebagaimana Allah SWT telah membutakan matanya. Ibnu Abbas memang menjadi buta matanya ketika usianya telah lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa jauh setelah Imam Ali mengabarkan kepadanya kalau mut’ah itu diharamkan di Khaibar, Ibnu Abbas tetap menghalalkan mut’ah.
Bukankah ini sesuatu yang aneh. Sahabat sekelas Ibnu Abbas tidak menghiraukan larangan Rasululullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang disampaikan oleh Imam Ali. Setidaknya ada tiga kemungkinan jika kita mengkonfrontir hadis Imam Ali dan hadis tentang Ibnu Abbas di atas.
  • Atsar Imam Ali itu tidak benar, dalam arti Imam Ali tidak pernah mengabarkan hal itu kepada Ibnu Abbas sehingga Ibnu Abbas tidak tahu kalau nikah mut’ah itu diharamkan di Khaibar.
  • Atsar Imam Ali itu benar jadi Ibnu Abbas sudah tahu kalau nikah mut’ah diharamkan di Khaibar tetapi ia tetap saja menghalalkannya. Na’udzubillah
  • Atsar Imam Ali itu benar tetapi Ibnu Abbas tidak mengakui hadis Imam Ali tersebut. Artinya Ibnu Abbas menganggap Imam Ali tidak dipercaya dalam hadis yang disampaikannya. Na’udzubillah
Ketiga kemungkinan ini benar-benar membuat bingung. Soal atsar Imam Ali itu, memang secara zahir sanadnya shahih tetapi matannya diperselisihkan oleh sebagian ulama [idhthirab]. Ada yang mengatakan kalau mut’ah tidak diharamkan di Khaibar karena pada saat itu di Khaibar hanya terdapat wanita yahudi [ahlul kitab] dimana hukum bolehnya menikahi wanita ahlul kitab ditetapkan setelah peristiwa Khaibar.  Seandainya atsar Imam Ali itu shahih dan benar maka Ibnu Abbas itu memang sudah keterlaluan. Telah sampai larangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepadanya tetapi ia tetap saja menghalalkan nikah mut’ah. Ini namanya menghalalkan sesuatu yang ia sudah tahu kalau itu haram, na’udzubillah. Silakan kepada para pembaca sekalian untuk memberikan masukannya dalam perkara ini.

Apa itu Nikah Mut'ah dan hukumnya.

Apa itu Nikah Mut'ah dan hukumnya. 
http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=315:apa-itu-nikah-mutah-dan-hukumnya&catid=20:fatwa&Itemid=65

Nikah mut'ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut'ah dan nikah sunni (syar'i):


1. Nikah mut'ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.

2. Nikah mut'ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia.

3. Nikah mut'ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.

4. Nikah mut'ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.

5. Nikah mut'ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.

6. Nikah mut'ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

Dalil-Dali Haramnya Nikah Mut'ah


Haramnya nikah mut'ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi saw juga pendapat para ulama dari 4 madzhab. Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma'bad Al-Juhaini, ia berkata: "Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: "Ada selimut seperti selimut". Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah saw sedang berpidato diantara pintu Ka'bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut'ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut'ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024).


Dalil hadits lainnya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad saw melarang nikah mut'ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71).

Pendapat Para Ulama


Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:

- Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: "Nikah mut'ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada'i Al-Sana'i fi Tartib Al-Syara'i (II/272) mengatakan, "Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut'ah".


- Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, "hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut'ah mencapai peringkat mutawatir" Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, "Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil."


- Dari Madzhab Syafi', Imam Syafi'i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, "Nikah mut'ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan." 

Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu' (XVII/356) mengatakan, "Nikah mut'ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu."


- Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, "Nikah Mut'ah ini adalah nikah yang bathil." Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut'ah adalah haram.

Rujukan:
1. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Dirasat fil ahwa wal firaq wal Bida' wa Mauqifus Salaf minha.
2. Drs. KH Dawam Anwar dkk, Mengapa Kita menolak Syi'ah.
3. H. Hartono Ahmad Jaiz, Di bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto.
4. Abdullah bin Sa'id Al-Junaid, Perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah.
5. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi'ah.

Indahnya Nikah Mut'ah 

 http://hakekat.com/content/view/30/1/
Kita jarang sekali mendengar penjelasan mengenai fikih nikah mut’ah, sebagaimana nikah biasa memiliki ketentuan dalam hukum fikih, begitu juga nikah mut’ah juga memiliki ketentuan-ketentuan yang dijelaskan oleh imam yang diyakini maksum oleh syi’ah. Di sinilah letak "keindahan" nikah mut'ah.



Nikah Mut'ah  bukan pernikahan yang membatasi istri hanya empat.
Dari Abubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata :aku bertanya kepada Abu Hasan tentang mut'ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi 4 istri? Dia menjawab tidak. Al Kafi.  Jilid 5 hal. 451 .

Wanita yang dinikahi secara mut'ah adalah wanita sewaan, jadi diperbolehkan nikah mut'ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akad mut'ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan 4 istri.


Dari Zurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, aku bertanya tentang mut'ah pada beliau apakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri? Jawabnya : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut'ah adalah wanita sewaan.  Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.

Begitulah wanita bagi imam maksum syi’ah adalah barang sewaan yang dapat disewa lalu dikembalikan lagi tanpa ada tanggungan apa pun. Tidak ada bedanya dengan mobil yang setelah disewa dapat dikembalikan. Duhai malangnya kaum wanita. Sudah saatnya pada jaman emansipasi ini wanita menolak untuk dijadikan sewaan, namun kita masih heran, mengapa masih ada mazhab yang menganggap wanita sebagai barang sewaan.

Syarat Utama Nikah Mut'ah

Dalam nikah mut'ah yang terpenting adalah waktu dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan dalam akad, maka sahlah akad mut'ah mereka berdua. Karena seperti yang akan dijelaskan kemudian bahwa hubungan pernikahan mut'ah berakhir dengan selesainya waktu yang disepakati. Jika waktu tidak disepakati maka tidak akan memiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam.

Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata : Nikah mut'ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 455.


Sama seperti barang sewaan, misalnya mobil. Jika kita menyewa mobil harus ada dua kesepakatan dengan si pemilik mobil, berapa harga sewa dan berapa lama kita ingin menyewa.

Batas minimal mahar mut'ah

Di atas disebutkan bahwa rukun akad mut'ah adalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal mahar nikah mut'ah?

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimal mahar mut'ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut'ah adalah segenggam makanan, tepung, gandum atau korma. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 457.

Semua tergantung kesepakatan antara dua belah pihak. Sangat cocok bagi mereka yang berkantong terbatas, bisa memberikan mahar dengan mentraktir makan siang di McDonald, KFC  atau nasi uduk.

Tidak ada talak dalam mut'ah

dalam nikah mut'ah tidak dikenal istilah talak, karena seperti di atas telah diterangkan bahwa nikah mut'ah bukanlah pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazim dilakukan dalam Islam selesai dengan beberapa hal dan salah satunya adalah talak, maka hubungan nikah mut'ah selesai dengan berlalunya waktu yang telah disepakati bersama. Seperti diketahui dalam riwayat di atas, kesepakatan atas jangka waktu mut'ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut'ah selain kesepakatan atas mahar.

Dari Zurarah dia berkata masa iddah bagi wanita yang mut'ah adalah 45 hari. Seakan saya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45, jika selesai waktu yang disepakati maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 458.

Jangka waktu minimal mut'ah.

Dalam nikah mut'ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut'ah. Jadi boleh saja nikah mut'ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan untuk sekali hubungan suami istri.

Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut'ah? Apakah diperbolehkan mut'ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri? Jawabnya : ya. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 460

Orang yang melakukan nikah mut'ah diperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukan mahram yang haram dipandang, disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jika terjadi kesepakatan mut'ah atas sekali hubungan suami istri? Padahal setelah berhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah dan mengenakan pakaian sebelum keduanya pergi.

Dari Abu Abdillah, ditanya tentang orang nikah mut'ah dengan jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya : " tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya". Al Kafi jilid 5 hal 460


Nikah mut'ah berkali-kali tanpa batas.

Diperbolehkan nikah mut'ah dengan seorang wanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan oleh Abu Ja'far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut'ah bukannya istri, tapi wanita sewaan. Sebagaimana barang sewaan, orang dibolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulang kali tanpa batas.

Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja'far, seorang laki-laki nikah mut'ah dengan seorang wanita dan habis masa mut'ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut'ahnya, lalu nikah mut'ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut'ahnya tiga kali dan nikah mut'ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja'far : ya dibolehkan menikah mut'ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut'ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya. Al Kafi jilid 5 hal 460

Wanita mut'ah diberi mahar sesuai jumlah hari yang disepakati.

Wanita yang dinikah mut'ah mendapatkan bagian maharnya sesuai dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan maharnya.

Dari Umar bin Handhalah dia bertanya pada Abu Abdullah : aku nikah mut'ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar, jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertiga maharnya. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 452.

Bayaran harus sesuai dengan hari yang disepakati, supaya tidak ada “kerugian” yang menimpa pihak penyewa.

Jika ternyata wanita yang dimut'ah telah bersuami ataupun seorang pelacur, maka mut'ah tidak terputus dengan sendirinya.


Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah mut'ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.

Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya. Al Kafi  . Jilid. 5 Hal. 462

Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan :
Masalah 260 : dianjurkan nikah mut'ah dengan wanita beriman yang baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak. Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya. Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut'ah bukanlah syarat sahnya nikah mut'ah.
Al Sistani. Ali. Minhajushalihin. www.al-shia.com. Jilid 3 hal 82

Tidak usah membuang waktu dengan bertanya, langsung tawar dan bayar.

Nikah mut'ah dengan gadis

Dari Ziyad bin Abil Halal berkata : aku mendengar Abu Abdullah berkata tidak mengapa bermut'ah dengan seorang gadis selama tidak menggaulinya di qubulnya, supaya tidak mendatangkan aib bagi keluarganya. Al Kafi jilid 5 hal 462.
Yah, ini bukan nikah namanya.

Nikah mut'ah dengan pelacur

Diperbolehkan nikah mut'ah walaupun dengan wanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yang dinikah mut'ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baik tentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalah menyewakan dirinya.

Ayatollah Udhma Ali Al Sistani mengatakan :

Masalah 261 : diperbolehkan menikah mut'ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itu dikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut'ah dengan wanita itu sampai dia bertaubat.Minhajushalihin. Jilid 3 hal. 8

Sebaiknya tidak, tapi jika terpaksa khan namanya tetap nikah walaupun dengan pelacur. Si pelacur akan berbahagia karena disamping mendapat uang dan kenikmatan dalam pekerjaannya, dia juga mendapat pahala.

Pahala yang dijanjikan bagi nikah mut'ah

Dari Sholeh bin Uqbah, dari ayahnya, aku bertanya pada Abu Abdullah, apakah orang yang bermut'ah mendapat pahala? Jawabnya : jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki itu berbicara padanya pasti Allah menuliskan kebaikan sebagai balasannya, setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya pasti Allah mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya, jika dia mandi maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi. Aku bertanya : sebanyak jumlah rambut? Jawabnya  : Ya, sebanyak jumlah rambut. Man La yahdhuruhul faqih. Jilid 3. Hal 464

Abu Ja'far berkata "ketika Nabi sedang isra' ke langit berkata : Jibril menyusulku dan berkata : wahai Muhammad, Allah berfirman : Sungguh Aku telah mengampuni wanita ummatmu yang mut'ah. Man La Yahdhuruhul Faqih jilid 3 hal 464

Hubungan warisan

Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 :  Nikah mut'ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini. Minhajushalihin.  Jilid 3 Hal. 80

Nafkah

Wanita yang dinikah mut'ah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami.
Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mut'ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut'ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut'ah atau akad lain yang mengikat. Minhajus shalihin. Jilid 3 hal 80.

Begitulah gambaran mengenai fikih nikah mut’ah. Pada seri berikutnya akan kita dapatkan gambaran jelas mengenai perbedaan antara nikah mut’ah dan pelacuran.



Ali bin abi Thalib dan nikah mut'ah

http://hakekat.com/content/view/30/1/

Apa kata Ali tentang nikah mut’ah? Barangkali ada yang telah membacanya dari kitab-kitab sunni, ini hal biasa, tetapi kali ini kami nukilkan dari kitab syi’ah. Sebenarnya bagaimana hukum nikah mut’ah menurut Ali? Saya mengajak pembaca menyimak titah imam syiah yang dianggap maksum. Anda akan mendapat informasi berharga.

Bagi syiah Ali adalah sosok imam maksum, suci tanpa cela. Titahnya harus ditaati, mengingat posisinya sebagai imam di mata syiah, yang meyakini bahwa imam adalah penerus dari kenabian. Sedangkan posisi Ali adalah imam pertama setelah Nabi wafat, yang konon dilantik sendiri oleh Rasulullah.

Bagi Syiah, Ali-lah orangnya yang ditunjuk untuk menjadi penerus misi kenabian, beserta sebelas orang anak cucunya. menjadi penerus kenabian artinya meneruskan lagi misi kenabian, yaitu menyampaikan risalah Allah pada manusia di bumi. Tentunya ketika menyampaikan misinya tidak berbohong dan tidak keliru, karena para imam –menurut syiah- adalah maksum, terjaga dari salah dan lupa, maka tidak mungkin keliru dalam menyampaikan amanat risalah, juga tidak mungkin berbohong ketika menyampaikan hadits Nabi.

Salah satu hal aksiomatis dalam mazhab syiah adalah nikah mut’ah, seperti dinyatakan oleh Al Hurr Al Amili dalam Wasa’ilu Syi’ah jilid 21 hal 13. Al Amili mengatakan : bolehnya nikah mut’ah adalah perkara aksiomatis dalam mazhab syiah”. Bukan Al Hurr Al Amili sendirian yang menganggap bolehnya nikah mut’ah adalah hal aksiomatis dalam mazhab syiah, Al Majlisi juga menyatakan demikian: beberapa hal yang termasuk perkara aksiomatis dalam agama syi’ah, kata Majlisi, adalah menghalalkan mut’ah, haji tamattu’ dan memusuhi Abubakar, Umar, Utsman dan Muawiyah. Bisa dilihat dalam Al I’tiqad hal 90-91.

Yang disebut aksiomatis adalah hal penting yang harus diyakini oleh penganut syiah. Begitulah penganut syiah di masa lalu, hari ini dan sampai akhir nanti akan terus meyakini bolehnya nikah mut’ah. Sesuatu bisa menjadi aksiomatis dalam syiah mestinya karena sudah digariskan oleh para imam syiah yang 12, yang menjadi rujukan syiah selama ini dalam penetapan hukum, paling tidak itulah pengakuan syiah selama ini, yaitu mereka merujuk pada penjelasan para imam. Apalagi imam pertama mereka setelah Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi yang – lagi-lagi menurut syiah- paling mengetahui ajaran Islam dibanding sahabat lain.

Demikian pula syiah di Indonesia, mereka meyakini bolehnya mut’ah, dan menyebarkan hal itu pada penganut syiah. hingga akhirnya praktek mut’ah marak di mana-mana, dengan keyakinan bahwa mut’ah adalah ajaran keluarga Nabi yang boleh dikerjakan. Di sini pelaku mut’ah mendapatkan tiga kenikmatan, yang pertama kenikmatan melakukan “ajaran” keluarga Nabi, yang pasti mendapatkan pahala dengan melakukannya, yang kedua, kenikmatan hubungan seksual, melampiaskan hasrat yang telah digariskan Allah pada manusia. Sementara yang ketiga, bisa berganti-ganti pasangan, karena mut’ah adalah praktek pembolehan hubungan seksual antara laki-laki dan wanita untuk sementara waktu. Pembaca –yang laki-laki tentunya- bisa membayangkan betapa nikmatnya.

Ahlussunnah menganggap nikah mut’ah adalah haram sampai hari kiamat, meskipun pada beberapa saat pernah dibolehkan oleh Rasulullah SAWW. Pengharaman ini berdasarkan keterangan dari Rasulullah SAWW sendiri yang mengharamkannya. Beberapa tahun kemudian Umar menyampaikan pengharaman tersebut pada para sahabat Nabi ketika menjabat khalifah. Namun syi’ah selalu menghujat ahlussunnah yang dalam hal ini mengikuti sabda Nabi, dan menuduh Umar –lah- yang mengharamkan nikah mut’ah, bukan Nabi. Artinya di sini Umar telah mengharamkan perbuatan yang halal dilakukan. Dan hujatan-hujatan lainnya, yang intinya adalah Rasulullah tidak pernah mengharamkan mut’ah, karena yang mengharamkan adalah Umar mengapa kita mengikuti Umar dan meninggalkan apa yang dihalalkan oleh Rasulullah SAWW? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Namun ada yang janggal di sini, ternyata Ali malah dengan tegas meriwayatkan sabda Nabi tentang haramnya nikah mut’ah. Riwayat ini tercantum dalam kitab Tahdzibul Ahkam karya At Thusi pada jilid 7 halaman 251, dengan sanadnya dari :

Muhammad bin Yahya, dari Abu Ja’far dari Abul Jauza’ dari Husein bin Alwan dari Amr bin Khalid dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari kakeknya dari Ali [Alaihissalam] bersabda: Rasulullah mengharamkan pada perang Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut’ah.

Bagaimana perawinya? Kita lihat bersama dari literatur syiah sendiri:
Muhammad bin Yahya : dia adalah tsiqah, An Najasyi mengatakan dalam kitabnya [no 946] : guru mazhab kami di jamannya, dia adalah tsiqah [terpercaya]

Abu Ja’far , Tsiqah [terpercaya] lihat Al Mufid min Mu’jam Rijalil Hadits

Abul Jauza’, namanya adalah Munabbih bin Abdullah At Taimi , haditsnya Shahih lihat  Al Mufid min Mu’jam Rijalil Hadits

Husein bin Alwan, Tsiqah [terpercaya], lihat Faiqul Maqal, Khatimatul Mustadrak, dan Al Mufid min Mu’jam Rijalul Hadits.
Amr bin Khalid Al Wasithi: Tsiqah, lihat Mu’jam Rijalil Hadits, Mustadrakat Ilmi Rijalil Hadits.

Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, salah satu ahlul bait Nabi, jelas tsiqah.

Di sini Ali mendengar sendiri sabda Nabi dan menyampaikannya pada umat. Menghadapi riwayat ini mungkin kita bingung, ternyata bukan anda saja yang bingung, saya pun ikut kebingungan karena dua hal:

Pertama,  bagaimana ulama syiah dan ustadz syiah tidak menyampaikan hal ini pada umatnya? Hingga umatnya dengan suka ria melakukan mut’ah yang memang mengasyikkan. Kita mempertanyakan apakah mereka tidak membaca riwayat ini? Ataukah mereka membacanya tetapi tidak menjelaskan pada umat tentang kenyataan ini? Atau kenyataan ini tidak sesuai dengan kepentingan mereka, karena tidak dipungkiri lagi bahwa bolehnya nikah mut’ah membuka kesempatan bagi syiah guna menghilangkan kebosanan dan menambah variasi dalam hubungan seksual. Ketika orang hanya berhubungan dengan istrinya, maka bukan tidak mungkin suami bosan dengan istrinya, dan dengan mut’ah suami bisa mencari variasi dengan pasangan yang berbeda, baik dengan daun-daun muda, maupun janda-janda muda yang kesepian. Dan hubungan ini tidak mengakibatkan konsekuensi apa pun, kecuali kesepakatan tentang uang jasa dan jangka waktu mut’ah. Bisakan kita percaya para ustadz syiah dan santri-santri muda syiah belum membaca riwayat ini?

saya teringat ayat Al Qur'an, yang terjemahnya sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela'nati, (QS. 2:159)

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:160)

Kedua, ketika para ulama syiah menghadapi hadits shahih dari Nabi maupun imam yang tidak sesuai dengan mazhab syiah, mereka mengatakan bahwa Nabi atau imam mengatakan hadits itu dalam kondisi taqiyah, artinya yang disabdakan tidaklah benar adanya. Misalnya hadits ini, ketika ulama syiah  tidak mampu menolak hadits ini karena sanadnya yang shahih, maka mereka mengatakan bahwa hadits ini disabdakan dalam kondisi taqiyah. Maksudnya adalah Nabi sebenarnya tidak mensabdakan hadits ini tetapi Ali bertaqiyah hingga menyebutkan hadits ini.


Al Hurr Al Amili dalam Wasa’il menyatakan:

“Syaikh [At Thusi] dan [ulama] lainnya menafsirkan riwayat ini sebagai taqiyyah, karena bolehnya nikah mut’ah adalah perkara aksiomatis dalam mazhab syiah”

Kita perlu mempertanyakan mengapa sabda Ali tidak sesuai dengan ajaran syiah, itu dianggap sebagai taqiyah. Tetapi kita ketahui bahwa taqiyah tidak mungkin dilakukan tanpa sebab, yaitu ketakutan. Lalu apa yang Imam Ali takutkan hingga bertaqiyah dalam masalah ini? Apakah kita mempertanyakan kembali sifat pemberani Ali bin Abi Thalib karena di sini digambarkan takut untuk menyampaikan kebenaran?

Juga kita mempertanyakan sumber informasi Syaikh At Thusi dan ulama syiah lainnya hingga mereka tahu bahwa imam Ali bertaqiyah ketika meriwayatan sabda Nabi itu. Jika tidak ada informasi yang valid apakah kita mengatakan bahwa  ulama syiah hanya mengira-ngira saja, tanpa berdasari informasi yang valid. Hanya dengan satu alasan, yaitu menyelisihi hal yang aksiomatis dalam mazhab lalu begitu saja sabda imam bisa divonis taqiyah.

Satu lagi konsekuensi berat bagi ulama syiah yang menyatakan bahwa Ali bertaqiyah dalam hadits itu, berarti Ali mengarang-ngarang hadits Nabi SAWW padahal Nabi SAWW tidak pernah mengucapkannya. Karena pernyataan Ali di atas adalah riwayat,bukan pendapat Ali sendiri, tapi menceritakan sabda Nabi SAWW. Perbuatan ini dikenal dalam istilah hadits dengan “berdusta atas nama Nabi”. Sedangkan perbuatan berdusta atas nama Nabi adalah perbuatan dosa besar, Kitab Tafsir Surat Al Hamd karya Muhammad Baqir Al Hakim –ulama syiah Irak- pada hal. 40 memuat sebuah riwayat yang panjang dari Ali, yang dinukil dari Wasa’ilu Syi’ah –karya Al Hurr Al Amili-, dalam riwayat itu Ali menukil sabda Nabi:


siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya menyiapkan tempatnya di neraka.

Hadits ini juga dinukil oleh As Shaduq dalam Al I’tiqadat hal 119-120, juga tercantum dalam Al Ihtijaj jilid 1 hal 394.
Apakah Ali mengarang hadits Nabi SAWW hingga harus bersiap-siap masuk neraka? Atau Ali mendengar sabda Nabi dan menyampaikannya sesuai yang didengarnya? Saya tidak percaya Ali berdusta atas nama Nabi SAWW, juga mestinya syiah –yang percaya Ali adalah maksum- tidak percaya bahwa Ali telah berdusta.

Maka jelaslah Ali mengikuti sabda Nabi SAWW, bahwa nikah mut’ah adalah haram dilakukan saat ini, meskipun pernah dihalalkan oleh Nabi dalam beberapa kondisi, yaitu dalam kondisi perang. Tetapi syiah saat ini menghalalkan mut’ah dalam segala kondisi, tidak hanya ketika kondisi perang. Ini bedanya nikah mut’ah yang pernah dibolehkan pada jaman Nabi SAWW dan mut’ah yang menjadi sebuah aksioma dalam mazhab syiah hari ini.

Dengan ini muncul keraguan dan pertanyaan tentang hubungan mazhab syi’ah hari ini dengan Ali bin Abi Thalib. Rupanya memang tidak semua omongan orang sesuai dengan kenyataan. Contohnya syiah yang selalu mengaku mengikuti Ali, tetapi kenyataannya sungguh berbeda. Ternyata hal aksiomatis dalam mazhab syiah berbeda dengan ajaran Ali bin Abi Thalib/

Saya ingatkan para pembaca tentang kenikmatan sorga beserta bidadari-bidadari yang menyambut penghuninya, beserta isteri-isteri sorga. Tentunya kenikmatan “jannah” lebih menggairahkan dibanding kenikmatan dunia. Allah berfirman dalam surat Yasin yang terjemahnya sebagai berikut:

Sesungguhnya penghuni jannah pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). (QS. 36:55)
Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertekan di atas dipan-dipan. (QS. 36:56)

Ayat di atas menceritakan penghuni sorga bersenang-senang dalam kesibukan bersama isteri mereka. Kira-kira apa kesibukan penghuni sorga hingga membuat mereka gembira,  yang dilakukan bersama istri di atas dipan? Pembaca pasti tahu jawabnya!


'

Shahih Ayat Tentang Nikah Mut’ah 

Dalam Mazhab Syi’ah


Shahih Ayat Tentang Nikah Mut’ah 
Dalam Mazhab Syi’ah


Tulisan ini dibuat dengan tujuan memaparkan kepada para pembaca yang ingin mengenal mazhab Syi’ah secara objektif. Mengapa Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah?. Jawaban mereka adalah Al Qur’an dan hadis Ahlul Bait telah menghalalkannya. Kalau kita tanya ayat Al Qur’an mana yang menyatakan tentang nikah mut’ah maka mereka akan menjawab ayat berikut

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ 

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ 

غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً 

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan [diharamkan juga bagi kamu menikahi] wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian [yaitu] mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [QS An Nisaa’ : 24]


Sebelumnya dalam salah satu tulisan disini, kami sudah menunjukkan kepada pembaca bahwa terdapat dalil shahih dalam kitab Ahlus Sunnah bahwa An Nisa ayat 24 di atas yaitu lafaz “maka istri-istri yang telah kamu nikmati diantara mereka” merujuk pada nikah mut’ah. Silakan lihat selengkapnya disini.

Menurut kami, agak rancu jika pengikut Syi’ah ketika berdalil dengan ayat Nikah mut’ah di atas mengambil hujjah dengan riwayat shahih Ibnu ‘Abbaas yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Mengapa kami katakan rancu karena hadis ahlus sunnah tidaklah menjadi pegangan bagi kaum Syi’ah begitupun sebaliknya. Untuk perkara diskusi dengan pengikut Ahlus Sunnah memang sangat baik jika Syi’ah berhujjah dengan hadis Ahlus Sunnah tetapi ketika diminta dalil di sisi mereka soal Ayat Nikah Mut’ah maka hadis Ibnu ‘Abbas di atas tidak bisa dijadikan hujjah


Seharusnya yang mereka lakukan adalah membawakan riwayat ahlul bait dalam mazhab Syi’ah sendiri yang menjelaskan kalau ayat tersebut memang tentang Nikah Mut’ah. Begitu banyaknya dari pengikut Syi’ah yang menukil riwayat Ibnu ‘Abbas sehingga berkesan seolah-olah dalam mazhab Syi’ah tidak ada keterangan tentang itu. Oleh karena itu kami berusaha meneliti secara objektif adakah dalil tentang ayat nikah mut’ah di atas dalam kitab hadis Syi’ah.
.
.

عدة من أصحابنا، عن سهل بن زياد، وعلي بن إبراهيم، عن أبيه جميعا، 

عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير 

 قال سألت أبا جعفر (عليه السلام) عن المتعة،

 فقال نزلت في القرآن فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة

 فلا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعد الفريضة

Dari sekelompok sahabat kami dari Sahl bin Ziyaad. Dan dari ‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya, keduanya [Sahl bin Ziyaad dan Ayahnya Aliy bin Ibrahim] dari ‘Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Abi Bashiir yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] tentang Mut’ah?. Beliau berkata telah turun dalam Al Qur’an “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu” [Al Kafiy Al Kulainiy 5/448]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن علي بن الحسن بن رباط، 

عن حريز، عن عبد الرحمن بن أبي عبد الله 

قال سمعت أبا حنيفة يسأل أبا عبد الله (عليه السلام)

 عن المتعة فقال أي المتعتين تسأل قال سألتك عن متعة الحج فأنبئني

 عن متعة النساء أحق هي فقال سبحان الله أما قرأت كتاب الله عز وجل؟

 فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة 

 فقال أبو حنيفة والله فكأنها آية لم أقرأها قط

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu ‘Abi Umair dari Aliy bin Hasan bin Rabaath dari Hariiz dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Abdullah yang berkata aku mendengar Abu Hanifah bertanya kepada Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang Mut’ah. Maka Beliau berkata “apakah engkau bertanya tentang dua Mut’ah?”. [Abu Haniifah] berkata “aku telah bertanya kepadamu tentang Mut’ah haji maka kabarkanlah kepadaku tentang Nikah Mut’ah apakah itu benar?. Beliau berkata “Maha suci Allah, tidakkah engkau membaca Kitab Allah ‘azza wajalla “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban”. Abu Haniifah berkata “demi Allah seolah-olah aku belum pernah membaca ayat tersebut” [Al Kafiy Al Kulainiy 5/449-450]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Aliy bin Hasan bin Rabaath Abu Hasan Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 251 no 659]
  5. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy orang kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  6. ‘Abdurrahman bin Abi ‘Abdullah adalah seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 30 no 62 biografi Ismail bin Hamaam cucu ‘Abdurrahman bin Abi ‘Abdullah]

Kedua riwayat shahih dalam kitab Syi’ah di atas membuktikan bahwa dalam mazhab Syi’ah telah shahih dalil kalau ayat An Nisa 24 tersebut adalah berkenaan dengan Nikah Mut’ah.
.
.
.
Syubhat Atas Dalil


Ada syubhat yang disebarkan oleh para pembenci Syi’ah dimana mereka mengatakan bahwa dalam mazhab Syi’ah orang yang menikah mut’ah tidak disifatkan dengan ihshan atau ia bukan termasuk muhshan padahal ayat di atas jelas menggunakan lafal muhshiniin. Berikut dalil dalam kitab Syi’ah yang dimaksud

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن هشام، وحفص بن البختري عمن ذكره،

 عن أبي عبد الله عليه السلام في الرجل يتزوج المتعة أتحصنه؟

 قال: لا إنما ذاك على الشئ الدائم عنده

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hisyaam dan Hafsh bin Bakhtariy dari orang yang menyebutkannya dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang nikah mut’ah apakah itu membuatnya ihshan?. Beliau berkata “tidak, sesungguhnya hal itu hanyalah atas sesuatu yang da’im di sisinya” [Al Kafiy Al Kulainiy 7/178]


Riwayat di atas dhaif sesuai standar Ilmu Rijal Syi’ah karena di dalam sanadnya terdapat perawi majhul yang tidak disebutkan siapa dia.

أبو علي الأشعري، عن محمد بن عبد الجبار، عن صفوان، عن إسحاق بن عمار 

قال: سألت أبا إبراهيم عليه السلام عن رجل إذا هو زنى وعنده السرية

 والأمة يطأها تحصنها الأمة وتكون عنده؟ فقال: نعم إنما ذلك لان عنده ما يغنيه 

عن الزنى، قلت: فان كانت عنده أمة زعم أنه لا يطأها فقال: لا يصدق،

 قلت: فإن كانت عنده امرأة متعة أتحصنه؟ قال لا إنما هو على الشئ الدائم عنده

Abu ‘Aliy Al Asy’ariy dari Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar dari Shafwaan dari Ishaaq bin ‘Ammaar yang berkata aku bertanya kepada Abu Ibrahim [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang berzina sedangkan di sisinya terdapat budak wanita yang sudah digaulinya, apakah membuat ihshan, budak wanita yang ada di sisinya?. Beliau berkata “benar, sesungguhnya hal itu karena di sisinya terdapat hal yang mencukupkannya dari zina”. Aku berkata “maka jika di sisinya terdapat budak yang ia mengaku bahwa ia tidak menggaulinya”. Beliau berkata “itu tidak dibenarkan”. Aku berkata “maka jika di sisinya ada istri mut’ah apakah itu membuatnya ihshan”. Beliau berkata “tidak, sesungguhnya itu hanyalah atas sesuatu yang da’im di sisinya” [Al Kafiy Al Kulainiy 7/178]

Riwayat ini sanadny muwatstsaq berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Para perawinya tsiqat termasuk Ishaq bin ‘Ammaar hanya saja ia bermazhab menyimpang Fathahiy. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Abu ‘Aliy Al Asy’ariy adalah Ahmad bin Idris seorang yang tsiqat faqih banyak meriwayatkan hadis dan shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228
  2. Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 391
  3. Shafwaan bin Yahya Abu Muhammad Al Bajalliy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 197 no 524]
  4. Ishaaq bin ‘Ammaar adalah seorang yang tsiqat tetapi bermazhab Fathahiy [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 54]

Ihshan yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah sesuatu yang disifatkan pada seseorang untuk menentukan hukuman yang akan ia peroleh jika ia berzina, kalau disifatkan dengan ihshan maka hukumannya rajam kalau tidak disifatkan dengan ihshan maka hukumannya cambuk. Maka ihshan disini adalah istilah khusus yang memiliki kategori-kategori tertentu yang bisa dilihat dalam berbagai riwayat shahih mazhab Syi’ah.


Terdapat dua pendapat dalam mazhab Syi’ah mengenai apakah status nikah mut’ah itu membuat seseorang disifatkan ihshan atau tidak.

  1. Pertama dan ini yang masyhur dari para ulama Syi’ah adalah menyatakan secara mutlak bahwa nikah mut’ah tidak disifatkan ihshan. Dalilnya berdasarkan riwayat di atas dimana mereka memahami lafaz “da’im di sisinya” dengan makna nikah da’im.
  2. Kedua yaitu ada yang mengatakan bahwa nikah mut’ah juga disifatkan dengan ihshan jika istrinya tersebut menetap bersamanya masih bersamanya sebagai istri dan tidak ada halangan untuk menggaulinya. Dalilnya adalah hadis yang menetapkan kriteria muhshan sebagai orang yang di sisinya terdapat wanita yang mencukupkannya dari zina dan tidak ada halangan untuk menggaulinya. Termasuk hadis di atas menjadi dalil, dimana lafaz “da’im di sisinya” ditafsirkan dengan makna menetap bersamanya.

Dalam tulisan ini kami tidak akan membahas secara lebih rinci pendapat mana yang lebih rajih berdasarkan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah. Kami akan kembali memfokuskan pada syubhat yang dilontarkan oleh para pembenci Syi’ah.
.
.
Syubhat mereka adalah dengan adanya riwayat di atas bahwa nikah mut’ah tidak disifatkan dengan ihshan maka hal ini bertentangan dengan An Nisaa’ ayat 24 yang menyebutkan pernikahan tersebut dengan lafaz muhshiniin. Oleh karena itu An Nisaa’ ayat 24 bukan berbicara tentang Nikah Mut’ah.

Syubhat ini jika dianalisis dengan objektif akan tampak tidak nyambung. Sebenarnya mereka mempertentangkan pikiran mereka sendiri. Mereka hanya melihat kesamaan lafaz tanpa memahami bahwa maksud sebenarnya yang diinginkan oleh setiap lafaz itu berbeda. Lafaz Muhshiniin dalam An Nisaa’ ayat 24 itu bermakna orang yang menjaga diri dengan pernikahan. Artinya setiap muslim yang menikah baik itu dengan nikah da’im atau nikah mut’ah maka ia masuk dalam kategori muhshiniin. Apalagi dalam mazhab Syi’ah telah shahih dalilnya bahwa nikah mut’ah masuk kedalam kategori muhshiniin An Nisaa’ ayat 24 sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya.


Adapun lafaz ihshan dalam riwayat di atas terkait istilah yang berkaitan dengan hukum rajam. Lafaz ini memiliki kriteria atau persyaratan sendiri. Dalam mazhab Syi’ah berdasarkan riwayat-riwayat  shahih maka tidak semua yang masuk kategori muhshiniin jika berzina disebut ihshan


Bahkan orang yang tidak menikah tetapi memiliki budak wanita yang bisa digaulinya maka ia masuk dalam kategori ihshan berdasarkan riwayat shahih mazhab Syi’ah di atas, walaupun berdasarkan An Nisaa’ ayat 24 dia belum masuk kategori muhshiniin karena belum menikah. Dan orang yang menikah walaupun dengan nikah da’im [masuk dalam kategori muhshiniin] bisa saja dikatakan bukan ihshan berdasarkan riwayat berikut

عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد، عن فضالة بن أيوب،

 عن رفاعة، قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن رجل يزني قبل أن يدخل بأهله أيرجم؟ قال: لا

Dari sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’id dari Fadhalah bin Ayuub dari Rifa’ah yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seseorang yang berzina sebelum ia menyetubuhi istrinya, apakah dirajam?. Beliau berkata “tidak” [Al Kafiy Al Kulainiy 7/179]


Di sisi Al Kulainiy lafaz “sekelompok sahabat kami” dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa tidak bermakna majhul sebagaimana yang dinukil An Najasyiy

وقال أبو جعفر الكليني: كل ما كان في كتابي عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى، 

فهم محمد بن يحيى وعلي بن موسى الكميذاني

 وداود بن كورة وأحمد بن إدريس

 وعلي بن إبراهيم بن هاشم

Abu Ja’far Al Kulainiy berkata “setiap apa yang ada dalam kitabku, sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhamad bin ‘Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]


Maka dari itu sanad riwayat Al Kafiy di atas kedudukannya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim seorang yang tsiqat dalam hadis dan tsabit [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy disebutkan oleh An Najasyiy bahwa ia tsiqat dalam hadis dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  5. Rifa’ah bin Muusa Al Asdiy meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah, seorang yang tsiqat dalam hadisnya [Rijal An Najasyiy hal 166 no 438]
.

Kesimpulannya adalah lafaz Muhshiniin dalam An Nisaa’ ayat 24 tersebut bukan berarti bermakna ihshaan yang mengharuskan hukuman rajam. Kalau kita melihat ke dalam fiqih ahlus sunnah maka hal serupa ini juga ada yaitu orang yang masuk dalam kategori muhshiniin dengan dasar pernikahan tetapi tidak ditetapkan ihshan. Imam Syafi’i pernah berkata

وإن أصابها في الدبر لم يحصنها

Dan sesungguhnya menggaulinya [istri] di dubur tidak disifatkan ihshan [Al Umm Asy Syafi’i 8/276]


Yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i adalah seorang laki-laki yang baru menikah dan menggauli istrinya bukan pada kemaluan tetapi pada duburnya kemudian ia berzina maka laki-laki tersebut tidak disifatkan ihshan. Bukankah kondisi ini serupa dengan Nikah Mut’ah yaitu masuk dalam kategori muhshiniin tetapi tidak disifatkan dengan ihshan [berdasarkan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syi’ah].

Contoh lain sebenarnya dapat dilihat dalam An Nisaa’ ayat 24 tersebut. Dalam ayat tersebut digunakan lafaz Istimta’ dan lafaz ini dalam banyak hadis shahih bermakna Nikah Mut’ah. Kemudian bagaimana tanggapan dari sebagian ulama ahlus sunnah. Mereka membantah bahwa lafaz istimta’ disana bermakna nikah mut’ah. Menurut mereka lafaz istimta’ bermakna bersenang-senang atau mencari kenikmatan dan ini juga berlaku pada nikah da’im.


Jadi dengan kata lain mereka mengatakan bahwa Istimta’ di ayat tersebut adalah nikah da’im bukan nikah mut’ah dan menurut mereka, hal ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang menggunakan lafaz istimta’ sebagai nikah mut’ah. Bukankah disini mereka sendiri beranggapan bahwa lafaz yang sama antara Al Qur’an dan Hadis tidak selalu menunjukkan arti yang sama. Jadi sebenarnya para pembenci Syi’ah tersebut ketika menyebarkan syubhat di atas mereka secara tidak sadar malah menentang diri mereka sendiri.



.
Penutup

Dalam tulisan ini kami tidak sedang menyatakan nikah mut’ah sebagai perkara yang halal secara mutlak sebagaimana yang ada dalam mazhab Syi’ah. Kami hanya menunjukkan kepada para pembaca bahwa dalam mazhab Syi’ah dalil nikah mut’ah tersebut ada dan shahih sesuai dengan standar keilmuan mazhab mereka. Kedudukan pengikut Syi’ah dalam hal ini hanya mengikuti pedoman shahih mereka sama seperti kedudukan pengikut Ahlus sunnah yang mengharamkan nikah mut’ah berdasarkan dalil dalam kitab Ahlus Sunnah.



Nikah Mut'ah dan Pelacuran 

http://hakekat.com/content/view/31/1/
 
Apakah nikah mut’ah sama dengan pelacuran? Barangkali banyak yang marah membaca judul di atas. Namun sebelum marah, hendaknya membaca dulu selengkapnya.





Kita bisa mengatakan motorku sama dengan motormu ketika kedua motor kita setype, kita bisa mengatakan rumahmu sama dengan rumahku ketika rumah kita sama-sama dicat dengan warna yang sama. Kita bisa mengatakan Hpku sama dengan Hpmu ketika HP kita setype. Antara HP kita dan HP teman kita ada faktor kesamaan sehingga bisa kita katakan sama. Sama artinya adalah ketika ada sesuatu yang ada pada dua hal yang kita perbandingkan. Semakin banyak kesamaan yang ada, semakin bisa kita katakan bahwa dua hal itu sama.


Walaupun banyak faktor kesamaan yang ada, kadang ada juga perbedaan-perbedaan yang bisa jadi penting dan bisa jadi tidak penting. Misalnya seluruh manusia adalah sama, artinya sama-sama manusia walaupun ada perbedaan yang kadang banyak, misalnya perbedaan suku, warna, ras, bahasa, perilaku, sifat dan watak, namun semua tetap disebut manusia. Sama-sama manusia walaupun beda. Namun dalam kacamata Islam, ada kriteria tertentu yang membedakan manusia, yang mana Islam mengklasifikasikan manusia melalui kriteria-kriteria itu. Kriteria itu adalah iman, artinya dalam segala kesamaan yang ada di antara seluruh manusia, ada perbedaan inti di antara mereka, yaitu iman. Meskipun ada ribuan persamaan di antara manusia, ketika ada perbedaan iman disitu manusia berbeda. Orang beriman berbeda dengan orang kafir, meskipun keduanya memiliki banyak persamaan, walaupun keduanya –misalnya- saudara kembar. Allah membedakan antara keduanya dengan iman. Dalam kasus ini -dan juga banyak kasus- satu perbedaan dapat menghapus semua kesamaan yang ada.


Ada banyak persamaan antara pernikahan dan perzinaan, yang mana perbedaan yang ada hanya pada akad nikah yang mensyaratkan adanya wali, saksi dan akad dan syarat lainnya, sementara perzinaan tidak perlu ada saksi dan wali, tinggal tawar dan bayar. Bahkan seringkali tanpa ada pembayaran, asal kedua belah pihak suka sama suka maka mereka berdua bisa langsung berzina tanpa syarat apa pun.


Meskipun ada banyak persamaan, sedikit perbedaan dapat membedakan perzinaan dan pernikahan, hal ini tidak perlu dibahas lagi panjang lebar. Dalam hal ini perbedaan yang sedikit membawa implikasi yang begitu besar.


Sebaliknya ketika perbedaan yang ada tidak membawa implikasi apa pun maka bisa dianggap tidak ada, seperti perbedaan rupa manusia tidak membawa implikasi apa pun, yang berbeda dengan implikasi perbedaan iman.


Pada aritkel lalu pembaca telah menelaah fikih nikah mut’ah, yang memberikan lebih banyak gambaran tentang “keindahan” nikah mut’ah bagi pembaca. Kali ini kita akan membandingkan “keindahan” nikah mut’ah dengan realita pelacuran yang ada di lapangan, pada akhirnya kita menemukan tidak ada perbedaan signifikan antara nikah mut’ah dan pelacuran, yang ada hanya perbedaan simbolik dengan isi dan substansi yang sama.



Kita akan melihat lagi point-point “keindahan” nikah mut’ah dan membandingkannya dengan realita pelacuran.


1.   Nikah mut’ah adalah praktek penyewaan tubuh wanita, begitu juga pelacuran.


Kita simak lagi sabda Abu Abdillah : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut'ah adalah wanita sewaan.  Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk lain dari pelacuran, karena Imam Abu Abdillah terang-terangan menegaskan status wanita yang dinikah mut’ah: mereka adalah wanita sewaan.



2.   yang penting dalam nikah mut’ah adalah waktu dan mahar


sekali lagi inilah yang ditegaskan oleh imam syi’ah yang maksum : Nikah mut'ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 455.



Begitu juga orang yang akan berzina dengan pelacur harus sepakat atas bayaran dan waktu, karena waktu yang leibh panjang menuntut bayaran lebih pula. Pelacur tidak akan mau melayani  ketika tidak ada kesepakatan atas bayaran dan waktu. Sekali lagi kita menemukan persamaan antara nikah mut’ah dan pelacuran.



3.      Batas minimal “mahar” nikah mut’ah.


Dalam nikah mut’ah ada batasan minimal mahar, yaitu segenggam makanan berupa tepung, gandum atau korma. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 457. Sedangkan dalam pelacuran tidak ada batas minimal bayaran, besarnya bayaran tergantung dari beberapa hal. Kita lihat disini perbedaan antara mut’ah dan pelacuran hanya pada minimal bayaran saja, tapi baik mut’ah maupun pelacuran tetap mensyaratkan adanya bayaran. Banyak cerita yang kurang enak mengisahkan mereka yang berzina dengan pelacur tapi mangkir membayar.


4. batas waktu mut’ah


tidak ada batasan bagi waktu nikah mut’ah, semua tergantung kesepakatan. Bahkan boleh mensepakati waktu mut’ah walau untuk sekali hubungan badan.

Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut'ah? Apakah diperbolehkan mut'ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan? Jawabnya : ya. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 460

Begitu juga tidak ada batasan waktu bagi pelacuran, dibolehkan menyewa pelacur untuk jangka waktu sekali zina, atau untuk jangka waktu seminggu, asal kuat membayar saja. Demikian juga nikah mut’ah.

4.     Boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali.


Suami istri diberi kesempatan untuk tiga kali talak, setelah itu si istri harus menikah dengan lelaki lain. Tidak demikian dengan nikah mut’ah, orang boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali, asal tidak bosan saja. Karena wanita yang dinikah secara mut’ah pada hakekatnya sedang disewa tubuhnya oleh si laki-laki. Sama persis dengan pelacuran.


Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja'far, seorang laki-laki nikah mut'ah dengan seorang wanita dan habis masa mut'ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut'ahnya, lalu nikah mut'ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut'ahnya tiga kali dan nikah mut'ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja'far : ya dibolehkan menikah mut'ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut'ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya. Al Kafi jilid 5 hal 460


Begitu juga orang boleh berzina dengan seorang pelacur semaunya, tidak ada batasan.



5.    Tidak usah bertanya menyelidiki status si wanita


Laki-laki yang akan nikah mut’ah tidak perlu menyelidiki status si wanita apakah dia sudah bersuami atau tidak. Begitu juga orang tidak perlu bertanya pada si pelacur apakah dia bersuami atau tidak ketika ingin berzina dengannya.


Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya. Al Kafi  . Jilid. 5 Hal. 462



6.      Hubungan warisan


Nikah mut’ah tidak menyebabkan terbentuknya hubungan warisan, artinya ketika si “suami” meninggal dunia pada masa mut’ah maka si “istri” tidak berhak mendapat warisan dari hartanya.



Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 :  Nikah mut'ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini. Minhajushalihin. Jilid 3 Hal. 80



Begitu juga pelacur tidak akan mendapat bagian dari harta “pasangan zina”nya yang meninggal dunia.



7.    Nafkah


Istri mut’ah yang sedang disewa oleh suaminya tidak berhak mendapat nafkah, si istri mut’ah hanya berhak mendapat mahar yang sudah disepakati sebelumnya. Bayaran dari mut’ah sudah all in dengan nafkah, hendaknya istri mut’ah sudah mengkalkulasi biaya hidupnya baik-baik sehingga bisa menetapkan harga yang tepat untuk mahar mut’ah.


 

Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan:

Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mut'ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut'ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut'ah atau akad lain yang mengikat. Minhajus shalihin. Jilid 3 hal 80.



Begitu juga laki-laki yang berzina dengan  pelacur tidak wajib memberi nafkah harian pada si pelacur.