Jumat, 03 Juli 2015

Riwayat ‘Aamir bin Sa’d Al Bajally dari Abu Mas’ud [radiallahu ‘anhu] dan selainnya yang menyebutkan “rukhshah nyanyian saat pernikahan” memiliki makna “dibolehkan nyanyian saat pernikahan”. Riwayat ini tidak menunjukkan keharaman atas nyanyian sebelumnya, hal ini sebagaimana rukhshah dibolehkannya “tangisan atas orang yang meninggal” tidak menunjukkan keharaman atas tangisan sebelumnya. Dan terbukti dalam hadis shahih bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah membolehkan nyanyian selain pada saat pernikahan.....>>>...... Sebenarnya jika kita kembali kepada AlQuran larangan , dubur dijadikan lahan senggama sudah bisa kita baca kisah Nabi Luth as, tentang kaum Homo seksual yang telah ditenggelamkan Allah,itu menandakan haramnya sengggama melalui dubur,dosa besar dan laknat Allah,seharusnya orang beriman meyaqini itu,mengapa harus dibantah lagi melalui hadits segala, azabnya sudah jelas, jadi memang jelas siapapun yang menghalalkan senggama melalui dubur orang itu sudah tidak beriman, karena kufur terhadap ayat Allah, dasar manusia jika nafsunya telah mengalahkan akalnya maka telah menjadi syetan perbuatannya. sebab Albaqoroh 223 yang dimaksud lahan adalah Vagina lubangnya dzakar, seorang suami Muslim mendatangi istrinya melalui Vaginanya adalah Haq Allah, intinya adalah bertaqwa, jika dubur yang didatangi maka sudah melampaui batas.alias tidak bertaqwa....>>>

Benarkah Nyanyian Diharamkan Dan Diberi Rukhshah Saat Pernikahan?

Benarkah Nyanyian Diharamkan Dan Diberi Rukhshah Saat Pernikahan?
Ada salah satu golongan dalam islam [yang menyebut diri mereka salafiy] telah menyatakan bahwa Nyanyian dan memukul duff diharamkan dalam islam kemudian diberikan rukhshah pada saat pernikahan. Mereka berdalil dengan atsar berikut

أخبرنا علي بن حجر قال حدثنا شريك عن أبي إسحق عن عامر بن سعد قال دخلت على قرظة بن كعب وأبي مسعود الأنصاري في عرس وإذا جوار يغنين فقلت أنتما صاحبا رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن أهل بدر يفعل هذا عندكم فقال اجلس إن شئت فاسمع معنا وإن شئت اذهب قد رخص لنا في اللهو عند العرس

Telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Hujr yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari Abi Ishaaq dari ‘Aamir bin Sa’d yang berkata aku masuk menemui Qarazhah bin Ka’b dan Abi Mas’ud Al Anshariy dalam suatu pernikahan, dan disana terdapat anak-anak perempuan yang sedang bernyanyi. Maka aku berkata “kalian berdua adalah sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari ahli badar, dan hal ini dilakukan di sisi kalian?”. Maka [salah seorang] berkata “duduklah jika engkau mau dan dengarkanlah bersama kami dan pergilah jika engkau mau, sungguh Beliau telah memberi rukhshah kepada kami mengenai hiburan dalam pernikahan [Sunan Al Kubra An Nasa’iy 5/241 no 5539]

.
.
Syubhat Salafiy Atas Dalil
Dengan atsar di atas yaitu pada lafaz “rukhkhisha lana” mereka berdalil bahwa lafaz tersebut menunjukkan hukum nyanyian saat pernikahan adalah pengecualian dari dalil yang jelas [yaitu keharamannya]. Lafaz tersebut menunjukkan bahwa perkara tersebut sebelum diberi rukhshah hukumnya adalah haram. Mereka memberi contoh dengan hadis berikut

حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء حدثنا أبو أسامة عن سعيد بن أبي عروبة حدثنا قتادة أن أنس بن مالك أنبأهم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رخص لعبدالرحمن بن عوف والزبير ابن العوام في القمص الحرير في السفر من حكة كانت بهما أو وجع كان بهما

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Alaa’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Sa’iid bin Abi Aruubah yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah bahwa Anas bin Malik memberitakan kepada mereka bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan rukhshah kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan Zubair bin ‘Awwaam untuk mengenakan baju dari sutera dalam perjalanan karena keduanya terserang penyakit gatal atau penyakit lain [Shahih Muslim 3/1646 no 2076]
Telah ma’ruf bahwa sutra hukumnya haram bagi laki-laki dan dihalalkan bagi wanita, oleh karena itu mereka mengatakan bahwa lafaz rukhshah di atas adalah pengecualian atas keharaman sutra bagi laki-laki.
.
.
.
Rukhshah Tidak Selalu Atas Perkara Yang Telah Diharamkan
Jawaban atas mereka adalah sebagai berikut, pertama-tama kami akan mengatakan bahwa penjelasan mereka benar yaitu pada sisi bahwa rukhshah bisa muncul dari perkara yang sudah diharamkan sebelumnya. Tetapi hal ini tidak bersifat mutlak, terdapat kasus dalam berbagai hadis bahwa lafaz rukhshah digunakan tetapi tidak menunjukkan pengharaman sebelumnya.
Misalnya lafaz rukhshah yang bisa bermakna memberikan penekanan kemudahan dengan tujuan tertentu atas suatu perkara walaupun perkara tersebut status asal hukumnya adalah mubah. Silakan perhatikan hadis berikut

حدثنا نصر بن علي أنا أبو أحمد يعني الزبيري أخبرنا إسرائيل عن أبي العنبس عن الأغر عن أبي هريرة أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه و سلم عن المباشرة للصائم فرخص له وأتاه آخر فسأله فنهاه فإذا الذي رخص له شيخ والذي نهاه شاب

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad yaitu Az Zubairiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Isra’iil dari Abul ‘Anbas dari Al ‘Aghar dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertanya tentang bercumbu pada saat berpuasa, maka Beliau memberikan rukhshah kepadanya, dan datang orang lain menanyakan hal itu kepada Beliau maka Beliau melarangnya. Ternyata orang yang Beliau berikan rukhshah adalah orang yang sudah tua dan yang Beliau larang adalah orang yang masih muda [Sunan Abu Dawud 1/726 no 2387]
Hadis riwayat Abu Dawud di atas sanadnya shahih berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Nashr bin ‘Aliy bin Nashr bin Aliy Al Jahdhamiy adalah seorang yang tsiqat tsabit termasuk thabaqat kesepuluh [Taqrib At Tahdzib 2/243]
  2. Abu Ahmad Az Zubairiy yaitu Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair seorang yang tsiqat tsabit tetapi sering keliru dalam hadis Ats Tsawriy, termasuk thabaqat kesembilan [Taqrib At Tahdzib 2/95]
  3. Isra’iil bin Yunus bin Abi Ishaaq, seorang yang tsiqat, ada yang membicarakannya tanpa hujjah, termasuk thabaqat ketujuh [Taqrib At Tahdzib 1/88]
  4. Abul ‘Anbas Al Kuufiy yaitu Al Haarits bin Ubaid, seorang yang maqbul termasuk thabaqat keenam [Taqrib At Tahdzib 2/444]. Yang benar ia seorang yang tsiqat sebagaimana dikatakan Yahya bin Ma’iin [Tarikh Ad Darimiy dari Ibnu Ma’iin no 916].
  5. Al ‘Aghar Abu Muslim Al Madiiniy tinggal di Kuufah seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat ketiga [Taqrib At Tahdzib 1/108].
Dalam hadis Abu Dawud di atas, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberikan rukhshah mengenai bercumbu pada saat berpuasa. Apakah hal itu menunjukkan bahwa sebelumnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengharamkan bercumbu pada saat berpuasa?. Jawabannya tidak, karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri melakukannya

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb yang berkata dari Syu’bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari ‘Aisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah mencium dan bercumbu sedang Beliau dalam keadaan berpuasa, dan ia orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian [Shahih Bukhariy 3/30 no 1927]
Bercumbu pada saat berpuasa hukum asalnya adalah dibolehkan tetapi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah melarang orang muda melakukannya karena dikhawatirkan ia tidak mampu menahan nafsunya sehingga ia bisa jadi jatuh dalam perkara yang yang dapat membatalkan puasanya yaitu jima’ saat berpuasa. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberikan rukhshah kepada orang yang sudah tua karena ia mampu menahan nafsunya dan  dengan melakukannya ia tidak akan terjatuh dalam perkara yang membatalkan puasanya yaitu jima’ saat berpuasa.
Terdapat juga contoh lain yang menunjukkan bahwa lafaz “rukhshah” bermakna membolehkan atau mengizinkan [dengan tujuan memberikan kemudahan] dan tidak pernah ada larangan atau pengharaman atas perkara tersebut sebelumnya.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ وَرَخَّصَ فِي لُحُومِ الْخَيْلِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid dari ‘Amru bin Diinar dari Muhammad bin Aliy dari Jabir bin ‘Abdullah [radiallahu ‘anhum] yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melarang pada hari khaibar dari memakan daging keledai dan memberikan rukhshah memakan daging kuda [Shahih Bukhariy 7/95 no 5520]
Dan sebelumnya tidak pernah ada larangan atau pengharaman memakan daging kuda. Telah diriwayatkan oleh sahabat selain Jabir bahwa memakan daging kuda itu halal di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ فَاطِمَةَ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلْنَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam dari Fathimah dari Asmaa’ yang berkata kami menyembelih kuda pada zaman hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kami memakannya [Shahih Bukhariy 7/95 no 5519]
Dan Jabir bin ‘Abdullah [radiallahu ‘anhu] sendiri di saat lain menyatakan bahwa di masa hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] para sahabat telah memakan daging kuda

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حدثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ عَمْرٍو قَالَ حدثَنَا عَبْدُ الْكَرِيمِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نَأْكُلُ لُحُومَ الْخَيْلِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Hujr yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah dan ia adalah Ibnu ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Kariim dari Atha’ dari Jabir yang berkata kami memakan daging kuda di masa hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. [Sunan Al Kubra An Nasa’iy 4/482 no 4823]
Hadis Jabir riwayat An Nasa’iy di atas memiliki sanad yang shahih. Berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. ‘Aliy bin Hujr Abu Hasan Al Marwaziy seorang tsiqat hafizh termasuk kalangan sighar dari thabaqat kesembilan [Taqrib At Tahdzib 1/689]
  2. Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy seorang yang tsiqat faqih pernah melakukan kesalahan, termasuk thabaqat kedelapan [Taqrib At Tahdzib 1/637]
  3. ‘Abdul Kariim bin Malik Al Jazariy seorang yang tsiqat mutqin termasuk thabaqat keenam [Taqrib At Tahdzib 1/611]
  4. Atha’ bin Abi Rabah seorang yang tsiqat faqiih fadhl tetapi banyak melakukan irsal, termasuk thabaqat ketiga [Taqrib At Tahdzib 1/675]
Lafaz yang digunakan Asmaa’ dan Jabir di atas secara zhahir bermakna bahwa di zaman hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], memakan daging kuda itu halal dan tidak pernah diharamkan.
Contoh lain lafaz “rukhshah” terhadap suatu perkara dan perkara tersebut tidak pernah diharamkan sebelumnya adalah rukhshah dalam melakukan haji tamattu.

حدثنا محمد بن حاتم حدثنا روح بن عبادة حدثنا شعبة عن مسلم القري قال سألت ابن عباس رضي الله عنهما عن متعة الحج فرخص فيها وكان ابن الزبير ينهى عنها فقال هذه أم الزبير تحدث أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رخض فيها فادخلوا عليها فاسألوها قال فدخلنا عليها فإذا امرأة ضخمة عمياء فقالت قد رخص رسول الله صلى الله عليه و سلم فيها

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haatim yang berkata telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubadaah yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muslim Al Qurriy yang berkata aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhuma] tentang Mut’ah Haji, maka ia memberikan rukhshah untuk melakukannya sedangkan Ibnu Zubair melarangnya. Maka [Ibnu ‘Abbas] berkata “ini Ibu Ibnu Zubair menceritakan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberi rukhshah tentangnya, masuklah kalian kepadanya dan tanyakan kepadanya”. Maka kamipun masuk menemuinya dan ternyata ia wanita yang gemuk dan buta. Ia berkata “sungguh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan rukhshah tentangnya” [Shahih Muslim 2/909 no 1238]
Contoh-contoh di atas hanya ingin menunjukkan bahwa tidak setiap lafaz rukhshah bermakna bahwa perkara tersebut telah diharamkan sebelumnya baru kemudian diberi rukhshah untuk melakukannya.
.
.
.
Rukhshah Dalam Atsar Adalah Nyanyian dan Tangisan
Kembali pada atsar mengenai rukhshah hiburan dalam pernikahan. Apa makna rukhshah dalam atsar tersebut?. Untuk mengetahui dengan jelas maknanya, ada baiknya melihat terlebih dahulu atsar berikut

حدثنا أبو داود قال حدثنا شعبة عن أبي إسحاق قال سمعت عامر بن سعد البجلي يقول شهدت ثابت بن وديعة وقرظة بن كعب الأنصاري في عرس وإذا غناء فقلت لهم في ذلك فقالا انه رخص في الغناء في العرس والبكاء على الميت في غير نياحة

Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaaq yang berkata aku mendengar ‘Aamir bin Sa’d Al Bajalliy mengatakan aku menyaksikan Tsaabit bin Wadii’ah dan Qarazhah bin Ka’b Al Anshariy dalam suatu pernikahan dan terdapat nyanyian disana, maka aku mengatakan kepada mereka tentang hal itu, keduanya berkata bahwasanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberikan rukhshah dalam mendengar nyanyian saat pernikahan dan menangisi orang yang meninggal bukan nihayah [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisiy 1/169 no 1221]

حدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ دَخَلْت عَلَى أَبِي مَسْعُودٍ وَقَرَظَةَ بْنِ كَعْبٍ فَقَالاَ إنَّهُ رُخِّصَ لَنَا فِي الْبُكَاءِ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ وَثَابِتِ بْنِ يَزَيْدٍ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Syariik dari Abu Ishaaq dari ‘Aamir bin Sa’d yang berkata aku masuk menemui Abi Mas’ud dan Qarazhah bin Ka’b, keduanya berkata “bahwasanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberikan rukhshah kepada kami mengenai menangis ketika mendapat musibah”. Telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari Abu Ishaaq dari ‘Aamir bin Sa’d dari Abi Mas’ud dan Tsaabit bin Yaziid seperti itu [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 4/572 no 12253 & 12254]
Riwayat Syu’bah ini lebih shahih dibandingkan riwayat Syariik yang disebutkan di awal pembahasan di atas karena Syarik diperbincangkan hafalannya. Dalam riwayat ini dapat dilihat bahwa rukhshah yang dimaksud itu tertuju pada dua perkara yaitu
  1. Nyanyian saat pernikahan
  2. Menangis ketika ada orang yang meninggal atau ketika mendapat musibah
Jadi rukhshah itu diberikan untuk dua perkara yaitu nyanyian dan tangisan. Apakah menangis atau menangisi seseorang termasuk perkara yang diharamkan?. Tidak. Apakah menangisi orang yang meninggal [bukan nihayah] adalah sesuatu yang haram? Tidak, bahkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah melakukannya

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا قُرَيْشٌ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Abdul ‘Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hassaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Quraisy yaitu Ibnu Hayyaan dari Tsabit dari Anas bin Maalik [radiallahu ‘anhu] yang berkata Kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menemui Abu Saif Al Qain yang [isterinya] telah mengasuh Ibrahim [‘alaihissalam]. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian kami mengunjunginya setelah itu sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berlinang air mata. Maka ‘Abdurrahman bin ‘Auf [radhiallahu ‘anhu] berkata kepada beliau, “ada apa dengan anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya [tangisan] ini adalah rahmat” kemudian diikuti dengan tangisan. Setelah itu Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata, “Sungguh kedua mata telah berlinang air mata, hati telah bersedih, hanya saja kami tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami. Dan sesungguhnya kami sangat sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” [Shahih Bukhariy 2/83 no 1303]
Menangis pada saat kematian orang yang dicintai adalah perkara yang fitrah. Dan agama islam tidak pernah mengharamkan seseorang menangis karena ada orang yang meninggal atau mendapat musibah. Yang diharamkan adalah nihayah yaitu berteriak, merobek pakaian, mencakar muka dan sebagainya. Nihayah memang diiringi dengan tangisan tetapi tangisan tidak berarti nihayah. Keduanya adalah perkara yang berbeda. Nihayah diharamkan dan menangis dibolehkan. Apalagi yang dimaksud “menangis” dalam atsar di atas telah ditegaskan bahwa itu bukan nihayah?.
Apakah akan ada orang bodoh yang berkata berdasarkan atsar ‘Aamir bin Sa’d di atas maka hukum asal “menangis” itu haram tetapi telah diberikan rukhshah boleh menangis ketika ada orang yang meninggal atau mendapat musibah. Alangkah anehnya pandangan seperti ini.
Maka lafaz “rukhshah” dalam atsar tersebut lebih layak untuk dikatakan bermakna membolehkan atau mengizinkan [dengan tujuan tidak menyulitkan atau memberi kemudhan] dan tidak pernah ada larangan atau pengharaman atas perkara tersebut sebelumnya.
.
.
.
Hadis Nyanyian Bukan Dalam Pernikahan
Qarinah atau petunjuk lain bahwa nyanyian tidak diharamkan adalah terbukti dalam riwayat shahih bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah mendengarkan nyanyian dan itu bukan pada saat pernikahan. Sebagaimana dapat dilihat pada hadis-hadis berikut
Hadis Pertama

أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ نا الْجُعَيْدُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ  يَا عَائِشَةُ تَعْرِفِينَ هَذِهِ؟ قَالَتْ لا  يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ قَيْنَةُ بَنِي فُلانٍ تُحِبِّينَ أَنْ تُغَنِّيَكِ؟ فَغَنَّتْهَا

Telah mengabarkan kepada kami Haruun bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Makkiy bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Ju’aid dari Yaziid bin Khushaifah dari As Saa’ib bin Yaziid bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], maka Beliau berkata “wahai Aisyah apakah engkau mengenal wanita ini?”. [Aisyah] berkata “tidak wahai Nabi Allah”. Beliau berkata “wanita ini adalah penyanyi dari bani fulan, sukakah engkau jika ia menyanyi untukmu” maka ia menyanyi [Sunan Al Kubra An Nasa’iy 8/184 no 8911]
Hadis riwayat An Nasa’iy di atas memiliki sanad yang shahih, para perawinya tsiqat. Berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Haruun bin ‘Abdullah bin Marwan Al Baghdadiy seorang perawi tsiqat termasuk thabaqat kesepuluh [Taqrib At Tahdzib 2/259]
  2. Makkiy bin Ibrahiim At Tamiimiy seorang yang tsiqat tsabit, termasuk thabaqat kesembilan [Taqrib At Tahdzib 2/211]
  3. Al Ju’aid bin ‘Abdurrahman seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat kelima [Taqrib At Tahdzib 1/159]
  4. Yaziid bin ‘Abdullah bin Khushaifah seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat kelima [Taqrib At Tahdzib 2/327]
  5. As Saa’ib bin Yaziid termasuk kalangan sighar dari sahabat Nabi [Taqrib At Tahdzib 1/338]
Riwayat shahih di atas menunjukkan bahwa ketika ada seorang penyanyi wanita yang datang ke rumah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Beliau memintanya bernyanyi untuk istrinya Aisyah [radiallahu ‘anha]. Dan tentu saja kisah ini bukan pada saat walimah atau pernikahan.
Hadis Kedua

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ مَرَّ بِبَعْضِ الْمَدِينَةِ ، فَإِذَا هُوَ بِجَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِدُفِّهِنَّ وَيَتَغَنَّيْنَ ، وَيَقُلْنَ نَحْنُ جَوَارٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ  اللَّهُ يَعْلَمُ إِنِّي لأُحِبُّكُنَّ

Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Iisa bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Auf dari Tsumaamah bin ‘Abdullah dari Anas bin Malik bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melewati sebagian kota madinah, maka Beliau [bertemu] dengan anak-anak perempuan yang menabuh duff dan bernyanyi, dan mereka mengatakan “kami anak-anak perempuan bani Najjaar, alangkah beruntungnya kami bertetangga dengan Muhammad”. Maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Allah mengetahui bahwa aku mencintai kalian” [Sunan Ibnu Majah 3/92 no 1899]
Riwayat di atas memiliki sanad yang jayyid, berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Hisyaam bin ‘Ammar seorang yang shaduq, ketika tua ia menerima talqin, maka hadisnya dahulu lebih shahih daripada ketika tua, termasuk thabaqat kesepuluh [Taqrib At Tahdzib 2/268].
  2. Iisa bin Yunus bin Abi Ishaq seorang yang tsiqat ma’mun, termasuk thabaqat kedelapan [Taqrib At Tahdzib 1/776]
  3. ‘Auf bin Abi Jamiilah Al A’rabiy, seorang yang tsiqat, dituduh qadariy dan tsyayyu’, termasuk thabaqat keenam [Taqrib At Tahdzib 1/759]
  4. Tsumamah bin ‘Abdullah seorang yang shaduq, termasuk thabaqat keempat [Taqrib At Tahdzib 1/150]
Hisyam bin ‘Ammaar dalam periwayatan dari Iisa bin Yuunus memiliki mutaba’ah dari Abu Khaitsamah Mush’ab bin Sa’iid sebagaimana diriwayatkan Ath Thabraniy berikut

حدثنا أبو جعفر أحمد بن النضر بن موسى العسكري حدثنا أبو خيثمة مصعب بن سعيد المصيصي حدثنا عيسى بن يونس عن عوف الأعرابي عن تمامة بن عبد الله بن أنس عن أنس بن مالك قال مر النبي صلى الله عليه و سلم على حي من بني النجار فإذا جواري يضربن بالدف ويقلن نحن قينات من بني النجار فحبذا محمد من جار فقال النبي صلى الله عليه و سلم الله يعلم أن قلبي يحبكم لم يروه عن عوف إلا عيسى تفرد به مصعب بن سعيد

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin An Nadhr bin Muusa Al ‘Askariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah Mush’ab bin Sa’iid Al Mishshiishiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Iisa bin Yuunus dari ‘Auf Al A’rabiy dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas bin Malik yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melewati perkampungan bani Najjaar maka Beliau [bertemu] dengan anak-anak perempuan yang menabuh duff mereka mengatakan “kami para penyanyi dari bani Najjaar, alangkah beruntungnya kami bertetangga dengan Muhammad”. Maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian”. Tidak diriwayatkan dari Auf kecuali Iisa, diriwayatkan tafarrud oleh Mush’ab bin Sa’iid [Mu’jam Ash Shaghiir Ath Thabraniy 1/65 no 78]
Abu Ja’far Ahmad bin An Nadhr Al Askariy dikatakan Ibnu Munadiy bahwa ia termasuk orang yang paling tsiqat [Tarikh Baghdad Al Khatib 6/415 no 2905] dan Mush’ab bin Sa’iid Abu Khaitsamah, dikatakan Abu Hatim “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/309 no 1428]. Ibnu Adiy mengatakan ia meriwayatkan dari para perawi tsiqat hadis-hadis mungkar. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan mengatakan pernah melakukan kesalahan, hadisnya dijadikan i’tibar jika meriwayatkan dari perawi tsiqat dan menjelaskan sama’ [pendengarannya] karena ia mudallis [Lisan Al Mizan Ibnu Hajar juz 6 no 167]. Kesimpulannya Mush’ab bin Sa’iid termasuk perawi yang bisa dijadikan mutaba’ah hadisnya dan dalam hadis di atas ia telah menyebutkan dengan jelas penyimakannya.
Kisah di atas dimana Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melewati sebagian kota Madinah dan melewati perkampungan Bani Najjar itu terjadi pada saat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang ke Madinah. lafaz “datang ke Madinah” mengisyaratkan bahwa peristiwa ini terjadi ketika hijrah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari Makkah ke Madinah. Berikut riwayat yang menyebutkan dengan lafaz “datang ke Madinah”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِرْدَاسٍ نَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ عَوْفٍ عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ أَنَسٍ هَكَذَا وَجَدْتُهُ فِي كِتَابِي بِخَطِّي عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ أَنَسٍ وَقَالَ غَيْرُهُ عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ  وَلا نَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ عَنِ ابْنِ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ عَوْفٍ عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ أَنَسٍ إِلَّا رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُوسَى بْنُ حَيَّانَ لا يُحْتَجُّ بِقَوْلِهِ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ مِرْدَاسٍ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ صَدُوقًا ، فَرَأَيْتُهُ فِي كِتَابِي بِخَطِّي عَنِ ابْنِ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ عَوْفٍ عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ تَلَقَّاهُ جَوَارِي الأَنْصَارِ فَجَعَلْنَ يَقُلْنَ نَحْنُ جَوَارِي مِنْ بَنِي النَّجَّارْ يَا حَبَّذَا مُحَمَّد مِنْ جَارْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mirdaas yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adiy dari ‘Auf dari Tsumamah dari Anas, demikianlah yang kutemukan dalam kitabku dengan tulisan tanganku yaitu dari Tsumamah dari Anas. Dan berkata selainnya yaitu dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas. Aku tidak mengetahui seorangpun yang mengatakan dari Ibnu Abi ‘Adiy dari Auf dari Tsumamah dari Anas kecuali orang yang bernama Muusa bin Hayyan dan ia tidak bisa dijadikan hujjah perkataannya, dan Muhammad bin Mirdaas tidak ada masalah padanya shaduq, maka aku melihatnya dalam kitabku dengan tulisan tanganku dari Ibnu Abi ‘Adiy dari ‘Auf dari Tsumamah dari Anas yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang ke Madinah, anak-anak perempuan Anshar menghampirinya dan mereka mengatakan “kami anak-anak perempuan bani Najjaar, alangkah beruntungnya kami bertetangga dengan Muhammad” [Musnad Al Bazzar 13/504-505 no 7334]
Hadis Al Bazzar di atas sanadnya juga jayyid. Muhammad bin Mirdaas dikatakan Abu Hatim “majhul” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/97 no 417]. Ibnu Hibban berkata “mustaqiim al hadiits” [Ats Tsiqat Ibnu Hibbaan 9/107 no 15445]. Adz Dzahabiy menyebutkan bahwa ia meriwayatkan dari Kharijah bin Mush’ab kabar-kabar batil, tetapi dibantah Ibnu Hajar bahwa kemungkinan hal itu berasal dari gurunya [Tahdzib At Tahdzib juz 9 no 714].
Pendapat yang rajih adalah Muhammad bin Mirdaas seorang yang shaduq sebagaimana tautsiq Ibnu Hibban dan ta’dil Al Bazaar di atas yang dengan jelas menyatakan “shaduq tidak ada masalah padanya”. Perkataan “majhul” Abu Hatim terangkat dengan adanya tautsiq dari Ibnu Hibbaan dan Al Bazzar. Tuduhan Adz Dzahabiy bahwa ia meriwayatkan kabar batil, lebih tepat berasal dari gurunya Muhammad bin Mirdaas yaitu Kharijah bin Mush’ab karena ia seorang yang matruk, sering melakukan tadlis dari para pendusta [Taqrib At Tahdzib 1/254-255]. Adapun Muhammad bin Abi ‘Adiy adalah seorang yang tsiqat termasuk thabaqat kesembilan [Taqrib At Tahdzib 2/50]
Hadis shahih di atas menunjukkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mendengarkan anak-anak perempuan bani Najjar bernyanyi dan menabuh duff untuk menyambut kedatangan Beliau di Madinah. Kisah ini jelas bukan pada saat pernikahan.
Syaikh Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiiq wal Ghinaa’ fii Mizan Al Islam hal 228-229 menjadikan hadis ini sebagai dalil dibolehkannya nyanyian dan musik saat pernikahan. Apa yang Syaikh katakan tersebut keliru, tidak ada dalil atau qarinah yang menunjukkan bahwa kisah tersebut terkait dengan pernikahan, bahkan kuat petunjuknya bahwa itu terjadi saat kedatangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pertama kali ke Madinah [sebagaimana ditunjukkan oleh bukti riwayat]. Adapun Syaikh Al Judai’ membawakan hadis berikut

حدثني أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب جميعا عن ابن علية ( واللفظ لزهير ) حدثنا إسماعيل عن عبدالعزيز ( وهو ابن صهيب ) عن أنس أن النبي صلى الله عليه و سلم رأى صبيانا ونساء مقبلين من عرس فقام نبي الله صلى الله عليه و سلم ممثلا فقال اللهم أنتم من أحب الناس إلي اللهم أنتم من أحب الناس إلي يعني الأنصار

Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya dari Ibnu ‘Ulayyah [dan ini lafaz Zuhair] telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin ‘Abdul ‘Aziz [dan ia adalah Ibnu Shuhaib] dari Anas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihat anak-anak dan wanita anshar datang dari suatu pernikahan, maka Nabi Allah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdiri sambil mengatakan “Ya Allah sesungguhnya mereka adalah orang yang paling aku cintai, Ya Allah sesungguhnya mereka adalah orang yang paling aku cintai” yaitu kaum Anshar [Shahih Muslim 4/1948 no 2508]
Hadis riwayat Muslim ini adalah kisah yang berbeda dengan hadis sebelumnya tentang anak perempuan bani Najjaar yang bernyanyi dan menabuh duff. Hadis riwayat Muslim menceritakan kisah saat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah berada di Madinah dan dalam hadis tersebut tidak ada disebutkan soal nyanyian dan tabuhan duff sedangkan hadis tentang perempuan bani Najjar itu terjadi saat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] baru datang ke Madinah dan melintasi sebagian kota Madinah yaitu perkampungan bani Najjar.
Hadis Ketiga

حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ أَبِي مَسَرَّةَ قَالَ ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ ثنا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْوَرْدِ  قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ  يَقُولُ  قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بَيْنَا أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسَانِ فِي الْبَيْتِ اسْتَأْذَنَتْ عَلَيْنَا امْرَأَةٌ كَانَتْ تُغَنِّي فَلَمْ تَزَلْ بِهَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا حَتَّى غَنَّتْ فَلَمَّا غَنَّتِ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ ، أَلْقَتِ الْمُغَنِّيَةُ مَا كَانَ فِي يَدِهَا  وَخَرَجَتْ وَاسْتَأْخَرَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ مَجْلِسِهَا ، فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَضَحِكَ ، فَقَالَ  بِأَبِي وَأُمِّي مِمَّ تَضْحَكُ ؟ فَأَخْبَرَهُ مَا صَنَعَتِ الْقَيْنَةُ , وَعَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  وَأَمَّا وَاللَّهِ لا ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَقُّ أَنْ يُخْشَى يَا عَائِشَةُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Yahya bin Abi Masarrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Jabbaar bin Wardi yang berkata aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah mengatakan Aisyah [radiallahu ‘anha] berkata “suatu ketika aku dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] duduk berdua di rumah, maka seorang wanita yang sering bernyanyi meminta izin kepada kami, tidak henti-hentinya Aisyah bersama dengannya sampai akhirnya ia menyanyi. Ketika ia bernyanyi Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] datang meminta izin. Ketika Umar meminta izin maka penyanyi itu melemparkan apa yang ada di tangannya dan keluar, Aisyah [radiallahu ‘anha] pun ikut keluar dari sana. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberikan izin kepadanya [Umar] dan tertawa. [Umar] berkata “demi Ayah dan Ibuku, mengapa anda tertawa?”. Maka Beliau memberitahunya apa yang dilakukan penyanyi itu dan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Umar [radiallahu ‘anhu] berkata “Demi Allah tidak [begitu], hanya Allah dan Rasul-nya [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang lebih berhak untuk ditakuti wahai Aisyah” [Akhbaaru Makkah Al Fakihiy 3/32 no 1740]
Hadis Aisyah di atas sanadnya jayyid para perawinya tsiqat dan shaduq. Berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Abu Yahya bin Abi Masarrah adalah Abdullah bin Ahmad bin Zakariya Abu Yahya Al Makkiy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat 8/369 no 13923]. Ibnu Abi Hatim berkata “aku menulis hadis darinya di Makkah dan ia tempat kejujuran” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/6 no 28]. Ibnu Quthlubugha memasukkannya ke dalam perawi tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 5/468 no 5687]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Waliid seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat kesepuluh [Taqrib At Tahdzib 1/45].
  3. Abdul Jabbaar bin Wardi Al Makkiy seorang yang shaduq terkadang keliru, termasuk thabaqat ketujuh [Taqrib At Tahdzib 1/553]. Dikoreksi dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib bahwa ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3745]
  4. ‘Abdullah bin Abi Mulaikah seorang yang tsiqat faqih termasuk thabaqat ketiga [Taqrib At Tahdzib 1/511]
Syaikh Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiiq wal Ghinaa’ Fii Mizan Al Islam hal 225 mengatakan hadis ini hasan dan sanadnya kuat. Pernyataan Syaikh tersebut benar. Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 452 membantah Syaikh Al Judai’ yang menguatkan hadis ini.
Bantahan pertama Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa adalah Abu Yahya bin Abi Masarrah adalah perawi yang majhul hal tidak ada tautsiq dari ulama yang dijadikan pegangan tautsiq-nya. Syaikh hanya menukil Ibnu Hibban yang memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menurutnya itu tidak mu’tamad.
Tentu saja bantahan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa ini keliru. Telah ditunjukkan bahwa Ibnu Abi Hatim juga memberikan ta’dil kepada Abu Yahya bin Abi Masarrah dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Quthlubugha.
Qarinah lain yang menguatkan kedudukan Abu Yahya bin Abi Masarrah adalah ia termasuk syaikh [guru] Abu Awanah dalam kitabnya Mustakhraj ‘Ala Shahih Muslim yang dikenal juga dengan Shahih Abu Awanah [Mustakhraj Abu Awanah 2/246 no 3024]. Adz Dzahabiy berkata tentang Abu Yahya bin Abi Masarrah bahwa ia Al Imam Muhaddis Musnid [Siyaar A’lam An Nubalaa’ 12/632 no 252]. Al Faakihiy berkata tentangnya

أول من أفتى الناس من أهل مكة وهو ابن أربع وعشرين سنة، أو نحوه أبو يحيى بن أبي مسرة، وهو فقيه أهل مكة إلى يومنا هذا

Orang pertama yang memberikan fatwa kepada penduduk Makkah dan ia berumur 24 tahun atau semisalnya yaitu Abu Yahya bin Abi Masarrah, dan ia faqih penduduk Makkah hingga hari ini [Akhbaaru Makkah Al Faakihiy 3/241-242]
Dan Qasim bin Asbagh pernah berkata ketika meriwayatkan hadis darinya “telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ‘Abdullah bin Abi Masarrah seorang faqiih Makkah” [At Tamhiid Ibnu Abdil Barr 6/25]
Jadi tidak mungkin dikatakan kalau ia seorang yang majhul hal, melihat berbagai qarinah di atas maka jika bukan seorang yang tsiqat minimal Abu Yahya bin Abi Masarrah seorang yang shaduq.
Anehnya Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mempermasalahkan perawi seperti Abu Yahya bin Abi Masarrah tetapi ia tidak mempermasalahkan perawi seperti ‘Aamir bin Sa’d Al Bajalliy perawi yang meriwayatkan atsar “rukhshah nyanyian saat pernikahan di atas”. Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 308 malah menyetujui Syaikh Al Judai’ bahwa sanad atsar ‘Aamir bin Sa’d tersebut shahih
‘Aamir bin Sa’d Al Bajalliy tidak ternukil tautsiq dari ulama mutaqaddimin selain dari Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat 5/189 no 4496]. Oleh karena itu Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/461]. Harusnya dengan metode milik Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa perawi seperti ‘Aamir bin Sa’d Al Bajalliy kedudukannya hanya bisa dijadikan mutaba’ah tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.
Adapun kami berpandangan bahwa ‘Aamir bin Sa’d Al Bajalliy perawi yang shaduq hasanul hadis dengan dasar Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan terdapat qarinah yang menguatkan seperti
  1. Muslim mengeluarkan hadis ‘Amir bin Sa’d Al Bajalliy walaupun sebagai penguat [Shahih Muslim 4/1826 no 2352]
  2. At Tirmidzi mengeluarkan hadis ‘Amir bin Sa’d Al Bajalliy dan mengatakan “hadis hasan shahih” [Sunan Tirmidzi 5/605 no 3653]
Bantahan kedua Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa, Beliau menyebutkan bahwa Al Khatib dalam Tarikh Baghdad telah menukil hadis Aisyah tersebut dengan sanadnya dan mengatakan bahwa asal hadis tersebut batil.
Al Khatib menukil riwayat dari Abul Fath Al Baghdadiy dari Muusa bin Nashr bin Jariir dari Ishaq bin Rahawaih dari ‘Abdurrazaaq dari Bakkaar bin ‘Abdullah dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah dengan matan yang mirip dengan riwayat Al Fakihiy di atas. Kemudian Al Khatib melemahkan Abul Fath dan Muusa bin Nashr dan mengatakan hadis tersebut batil [Tarikh Baghdad 15/59-60 no 6983]
Apa yang dikatakan Al Khatib tersebut keliru, walaupun Abul Fath dan Muusa bin Nashr adalah perawi yang lemah tetapi hadis Ishaq bin Rahawaih tersebut memang shahih sebagaimana diriwayatkan pula oeh Ibnu Syirawaih seorang imam hafizh faqiih dari Ishaq bin Rahawaih dengan sanad tersebut sampai Aisyah [radiallahu ‘anha]. Riwayat Ishaaq bin Rahawaih tersebut dapat ditemukan dalam Musnad Ishaaq bin Rahawaih 3/664-665 no 1258, dan berkata pentahqiq kitab [‘Abdul Ghafuur bin ‘Abdil Haaq Al Baluusiy] “shahih semua perawinya tsiqat”
Jika dikatakan hadis Ishaaq tersebut batil, maka dari sisi manakah kebatilannya, pada sanadnya atau matannya?. Bagaimana mungkin sanadnya dikatakan batil jika para perawinya tsiqat. Apakah karena matannya menyebutkan bolehnya nyanyian maka matan hadis tersebut dikatakan batil?. Bukankah telah tsabit dalam dua hadis sebelumnya mengenai bolehnya nyanyian, kalau hal ini dikatakan batil maka betapa mudahnya menolak hadis shahih hanya dengan mengatakan batil. Kesimpulannya apa yang dikatakan Al Khatib itu tidak bisa dijadikan hujjah untuk melemahkan hadis Aisyah di atas.
Bantahan ketiga, Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mengutip Al Bukhariy, Daruquthniy dan Ibnu Hibban yang menyebutkan jarh kepada ‘Abdul Jabbaar bin Wardi.
Abdul Jabbaar bin Ward adalah perawi yang tsiqat dan memang ternukil pula sedikit ulama yang melemahkannya.
  1. Ahmad bin Hanbal berkata tentangnya “tsiqat tidak ada masalah padanya. Abu Hatim berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/31 no 161]. Abu Dawud berkata “tsiqat”. Aliy bin Madiiniy berkata “tidak ada masalah padanya”. Yaqub bin Sufyaan berkata “tsiqat” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 214]. Al Ijliy berkata ‘tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat 2/69 no 1007]. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat” dan Ibnu Adiy berkata “di sisiku tidak ada masalah padanya ditulis hadisnya” [Al Kamil Ibnu Adiy 7/15-16 no 1476]
  2. Al Bukhariy berkata “keliru pada sebagian hadisnya” [Al Kamil Ibnu Adiy 7/15 no 1476]. Ibnu Hibban berkata “sering salah dan keliru”[Ats Tsiqat Ibnu Hibban 7/136 no 9348] dan ia juga berkata “ahli ibadah termasuk penduduk Makkah yang paling baik, sering salah dalam sesuatu setelah sesuatu” [Masyaahir Ulamaa’ Al ‘Amshaar no 1147]. Daruquthniy berkata “layyin” [Su’alat As Sulamiy hal 84 no 217].
Jarh yang ternukil pada ‘Abdul Jabbaar bin Ward adalah jarh yang ringan yaitu kesalahan pada sebagian hadisnya. Hal ini tidak menjatuhkan kedudukan perawi kederajat dhaif kecuali jika perawi tersebut memang banyak melakukan kesalahan dan buruk hafalannya. Oleh karena itu kedudukan ‘Abdul Jabbaar bin Ward tidak jauh dari derajat shaduq.
Kesimpulannya adalah apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ bahwa hadis Aisyah [riwayat Al Faakihiy] tersebut hasan adalah pendapat yang benar. Adapun bantahan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa terhadap Syaikh Al Judai’ adalah keliru..
.
.
Kesimpulan
Riwayat ‘Aamir bin Sa’d Al Bajally dari Abu Mas’ud [radiallahu ‘anhu] dan selainnya yang menyebutkan “rukhshah nyanyian saat pernikahan” memiliki makna “dibolehkan nyanyian saat pernikahan”. Riwayat ini tidak menunjukkan keharaman atas nyanyian sebelumnya, hal ini sebagaimana rukhshah dibolehkannya “tangisan atas orang yang meninggal” tidak menunjukkan keharaman atas tangisan sebelumnya. Dan terbukti dalam hadis shahih bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah membolehkan nyanyian selain pada saat pernikahan.


Kedustaan Al Amiry : Jima’ Melalui Dubur Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah

Kedustaan Al Amiry : Jima’ Melalui Dubur Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah
Untuk kesekian kali-nya orang yang menyebut dirinya Al Amiry ini membuat kedustaan atas mazhab Syi’ah. Kali ini ia menyatakan kalau dalam mazhab Syi’ah jima’ melalui dubur itu tidak membatalkan puasa. Kami akan menunjukkan kepada para pembaca bahwa Al Amiry ini telah berdusta atas mazhab Syi’ah.
Tetapi sebelum masuk ke pembahasan ada baiknya kami menyatakan dengan tegas mengenai i’tiqad [keyakinan] kami mengenai hukum “mendatangi istri pada duburnya”. Di sisi kami berdasarkan pendapat yang rajih hukumnya haram. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis dengan sanad yang shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kami menekankan hal ini agar para pembaca tidak salah paham setelah membaca tulisan ini. Kami membela mazhab Syi’ah atas kedustaan dari orang-orang seperti Al Amiry maka bukan berarti kami menyepakati pendapat mazhab Syi’ah dalam hal ini.
.
.
.
Pembahasan
Al Amiry membawakan dua riwayat dalam kitab Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy. Al Amiry berkata
dusta amiry1
Kedua riwayat ini sanadnya dhaif, cukup banyak para ulama Syi’ah yang mendhaifkannya dan mereka tidak berhujjah dengannya. Dan memang berdasarkan kaidah ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah riwayat tersebut memang dhaif.
Al Amiry tidak menukil sanad lengkap kedua riwayat tersebut karena jika ia menukil sanad riwayat tersebut maka sangat jelas kedhaifannya bahkan di mata orang awam Syi’ah sekalipun. Berikut sanad lengkap kedua riwayat tersebut
.
.
Riwayat Pertama
Al Majlisi1

عنه عن بعض الكوفيين يرفعه إلى أبي عبد الله عليه السلام قال: في الرجل يأتي المرأة في دبرها وهي صائمة قال: لا ينقض صومها وليس عليها غسل

Darinya dari sebagian orang-orang Kufah yang merafa’kannya kepada Abu Abdillah [‘alaihis salaam] yang berkata “tentang seorang laki-laki yang mendatangi istrinya pada duburnya ketika berpuasa”. Ia berkata “tidak membatalkan puasanya dan tidak wajib mandi” [Tahdzib Al Ahkam 4/319 no 43]
Riwayat di atas sanadnya dhaif karena perawi yang mubham tidak diketahui siapa orang-orang kufah tersebut dan riwayat tersebut mursal karena lafaz “merafa’kan” itu bermakna menyambungkan kepada Abu Abdullah dan secara zhahir lafaz ini digunakan pada riwayat yang terputus sanadnya. Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 7/151 no 43 menyatakan riwayat tersebut mursal
Mukhtalaf Syi'ah Al Hilliy cover
Mukhtalaf Syi'ah Al Hilliy
Allamah Al Hilliy berkata tentang riwayat ini “riwayat ini mursal, tidak dapat diandalkan dengannya” [Mukhtalaf Asy Syi’ah Fii Ahkaam Asy Syarii’ah 3/390-391]
.
.
Riwayat Kedua
Al Majlisi2

أحمد بن محمد عن علي بن الحكم عن رجل عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إذا اتى الرجل المرأة في الدبر وهي صائمة لم ينقض صومها وليس عليها غسل

Ahmad bin Muhammad dari Aliy bin Al Hakam dari seorang laki-laki dari Abi ‘Abdillah [‘alaihis salaam] yang berkata “jika seorang laki-laki mendatangi istrinya pada duburnya ketika ia berpuasa maka itu tidak membatalkan puasanya dan tidak wajib mandi” [Tahdzib Al Ahkam 4/319-320 no 45]
Riwayat kedua sanadnya juga dhaif karena perawi mubham tidak diketahui siapa orang yang meriwayatkan dari Abu Abdullah tersebut. Syaikh Ath Thuusiy sendiri melemahkan riwayat di atas. Setelah membawakan riwayat di atas, ia berkata

هذا لخبر غير معمول عليه وهو مقطوع الاسناد لا يعول عليه

Kabar ini tidak diamalkan dengannya, sanadnya terputus, tidak dapat diandalkan dengannya [Tahdzib Al Ahkam 4/320]
Dan sebagaimana dapat dilihat di atas dalam Malaadz Al Akhyaar 7/152 no 45 Al Majlisiy juga menyatakan riwayat kedua tersebut mursal.
Muhadzdzab Bariy cover
Muhadzdzab Bariy Ibnu Fahd Al Hilliy1
Ibnu Fahd Al Hilliy dalam kitabnya juga menyatakan riwayat diatas mursal [Al Muhadzdzab Al Bari’ Fii Syarh Mukhtashar An Naafi’ 2/26]
.
.
.
Dalam mazhab Syi’ah justru jima’ melalui dubur termasuk hal yang membatalkan puasa. Hal ini telah dinyatakan oleh sebagian ulama Syi’ah diantaranya
Madarik Ahkam cover
Madarik Ahkam

وأما الوطء في الدبر، فإن كان مع الإنزال فلا خلاف بين العلماء كافة في أنه مفسد للصوم، وإن كان بدون الإنزال فالمعروف من مذهب الأصحاب أنه كذلك

Adapun berhubungan melalui dubur, maka jika disertai dengan keluarnya air mani maka tidak ada perselisihan diantara para ulama seluruhnya bahwasanya hal itu membatalkan puasa dan jika tanpa mengeluarkan air mani maka yang dikenal dalam mazhab al ashab [ulama-ulama terdahulu] bahwasanya ia juga demikian [membatalkan puasa] [Madaarik Al Ahkam Sayyid Muhammad Al ‘Amiliy 6/44]

وقد أجمع العلماء كافة على إفساد الصوم بالجماع الموجب للغسل في قبل المرأة، للآية سواء أنزل أو لم ينزل ولو وطأ في الدبر فأنزل، فسد صومه إجماعا، ولو لم ينزل، فالمعتمد عليه الإفساد

Dan sungguh telah bersepakat para ulama seluruhnya bahwa batal puasa dan wajib mandi dengan adanya jima’ [bersetubuh] pada kemaluan istri berdasarkan ayat Al Qur’an [Al Baqarah 187] baik itu mengeluarkan air mani atau tidak, dan seandainya ia berhubungan melalui dubur dan mengeluarkan air mani maka batal puasanya menurut ijma’, dan jika tidak mengeluarkan air mani maka pendapat yang dijadikan pegangan puasanya batal [Tadzkirah Al Fuqahaa’ Allamah Al Hilliy 6/23-24]
.
.
.
Kemudian Al Amiry menukil fatwa ulama Syi’ah Muhsin Alu Ushfur yang ia sebut sebagai “fatwa gila” dan fatwa ulama Syi’ah As Sistaniy mengenai bolehnya berhubungan dengan istri melalui dubur jika istrinya ridha terhadapnya.
dusta amiry2
Dalam fatwa kedua ulama Syi’ah diatas tidak ada keterangan bahwa berhubungan dengan istri melalui dubur tidak membatalkan puasa. Fatwa keduanya itu berkenaan dengan hukum “berhubungan dengan istri melalui dubur” apakah boleh atau tidak?.
Dalam mazhab Syi’ah ada dua pendapat berkenaan dengan hal ini. Pertama : pendapat yang mengatakan hukum “berhubungan dengan istri melalui dubur” adalah haram. Diantara yang berpendapat demikian adalah sebagaimana dinukil Sayyid Muhammad Shaadiq Ar Ruuhaniy dalam kitab Fiqih Ash Shaadiq
Fiqh Shadiq cover
Fiqh Shadiq

وعن القميين وابن حمزة والشيخ الرازي والراوندي في اللباب والسيد أبي المكارم صاحب بلابل القلاقل القول بالحرمة

Dan dari para ulama qum, Ibnu Hamzah, Syaikh Ar Raziy, Ar Rawandiy dalam Al Lubab, Sayyid Abi Makarim penulis kitab Balaabil Al Qalaaqil, mengatakan haram. [Fiqih Ash Shadiq Sayyid Ar Ruuhaniy 31/118]
Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah juga berpendapat tidak boleh berhubungan dengan istri melalui duburnya [Fiqh Asy Syarii’ah Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah 3/517 no 749]. Syaikh Muhammad Ishaaq Al Fayaadh juga mengharamkan mendatangi istri pada duburnya baik saat suci maupun haidh [Minhaaj Ash Shaalihiin Syaikh Muhammad Ishaaq Al Fayaadh 1/107 no 228].
Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini dan dengan lafaz sharih [jelas] menyatakan haram adalah riwayat yang dibawakan Syaikh Ath Thuusiy dalam Tahdzib Al Ahkam

فاما ما رواه أحمد بن محمد بن عيسى عن العباس بن موسى عن يونس أو غيره عن هاشم بن المثنى عن سدير قال: سمعت أبا جعفر عليه السلام يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: محاش النساء على أمتي حرام

Diriwayatkan Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari ‘Abbaas bin Muusa dari Yuunus atau selainnya dari Haasyim bin Al Mutsanna dari Sadiir yang berkata aku mendengar Abu Ja’far [‘alaihis salaam] mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dubur wanita atas umatku haram” [Tahdzib Al Ahkam 7/416 no 36].
Al Majlisiy4
Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 12/360 no 36 menyatakan riwayat di atas mursal begitu pula Allamah Al Hilliy dalam Tadzkirah Al Fuqahaa’ 2/577 menyatakan riwayat tersebut mursal. Sebenarnya kami belum menemukan dimana letak kelemahan mursal yang dimaksudkan keduanya tetapi riwayat tersebut para perawinya tsiqat kecuali Sadiir Ash Shairafiy. Ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi’ah tetapi sebagian ulama muta’akhirin menguatkannya.
Allamah Al Hilliy telah menyebutkan Sadiir dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sadiir bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma’ruf dan mungkar. Maka berdasarkan pendapat yang rajih Sadiir tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri dalam periwayatan] dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Dalam perkara ini ternukil riwayat shahih yang bertentangan dengan riwayat Sadiir.
Sebagian ulama yang menerima riwayat Sadiir diatas memalingkan makna haram tersebut kepada makna makruh dengan dasar adanya riwayat-riwayat shahih yang menetapkan kebolehan mendatangi istri pada duburnya. Maka dari sinilah muncul pendapat yang kedua
Kedua : pendapat yang mengatakan hukum “berhubungan dengan istri melalui dubur” boleh jika disertai ridhanya istri dan hal ini makruh. Pendapat kedua inilah yang masyhur dan rajih dalam mazhab Syi’ah karena memiliki hujjah dari riwayat Ahlul Bait yang shahih dalam mazhab Syi’ah. Diantaranya sebagai berikut

وعنه عن علي بن الحكم قال سمعت صفوان يقول قلت للرضا عليه السلام ان رجلا من مواليك أمرني ان أسألك عن مسأله فهابك واستحى منك أن يسألك قال ما هي قال قلت الرجل يأتي امرأته في دبرها؟ قال نعم ذلك له قلت فأنت تفعل ذلك؟ قال لا انا لا نفعل ذلك

Dan darinya dari ‘Aliy bin Al Hakam ia berkata aku mendengar Shafwaan berkata aku pernah bertanya kepada Ar Ridlaa [‘alaihis-salaam] “Sesungguhnya ada laki-laki dari mawaali-mu telah memintaku untuk menanyakan kepadamu satu permasalahan, tetapi aku malu kepadamu untuk menanyakannya”. Ia berkata “hal apakah itu?”. Aku berkata “ada seorang laki-laki yang mendatangi istrinya pada duburnya”. Ia menjawab “Ya, hal itu diperbolehkan baginya”. Aku berkata “apakah engkau melakukannya?”. Ia menjawab “Tidak, kami tidak melakukannya” [Tahdzib Al Ahkam 7/415-416 no 35].
Al Majlisi3
Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 12/360 no 35 menyatakan riwayat tersebut shahih.
Jadi duduk persoalan disini adalah para ulama Syi’ah berpegang pada dalil shahih yang ada dalam mazhab mereka. Kalau ada diantara pengikut Ahlus Sunnah yang menjadikan hal ini sebagai bahan celaan ya dipersilakan toh celaan itu tidak ada nilainya disisi mazhab Syi’ah. Hal ini sama seperti jika ada pengikut Syi’ah mencela Ahlus Sunnah yang berpegang pada dalil shahih di sisi mazhab mereka. Celaan itu jelas tidak ada nilainya di sisi mazhab Ahlus Sunnah.

.

.

.

Anehnya Al Amiry sok ingin merendahkan mazhab Syi’ah dengan menyebut ulama mereka bodoh dan gila ketika membolehkan “mendatangi istri pada dubur” padahal sebagian ulama mazhab Ahlus Sunnah membolehkan bahkan ada yang mengamalkannya. Ibnu Arabiy pernah berkata
Ahkam Qur'an Ibnu Arabiy cover
Ahkam Qur'an Ibnu Arabiy

اختلف العلماء في جواز نكاح المرأة في دبرها ; فجوزه طائفة كثيرة ، وقد جمع ذلك ابن شعبان في كتاب جماع النسوان وأحكام القرآن ” وأسند جوازه إلى زمرة كريمة من الصحابة والتابعين وإلى مالك من روايات كثيرة

Telah berselisih para ulama mengenai kebolehan berhubungan dengan istri melalui duburnya. Telah membolehkannya sekelompok orang yang banyak. Dan sungguh Ibnu Sya’baan telah mengumpulkan hal itu dalam kitab Jimaa’ An Niswaan Wa Ahkamul Qur’aan dan menisbatkan kebolehannya kepada sekelompok orang mulia dari sahabat dan tabiin dan kepada Malik dari riwayat yang banyak [Ahkamul Qur’aan Ibnu Arabiy 1/238]
Siapakah dari kalangan ahlus sunnah yang membolehkan “mendatangi istri pada duburnya”?. Diantaranya ada Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu], Ibnu Abi Mulaikah, Muhammad bin Ajlan, Malik bin Anas, dan Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy.
.
.
Abdullah bin Umar [radiallahu ‘anhu]
Ma'ani atsar Thahawiy

حَدَّثَنَا أَبُو قُرَّةَ مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ هِشَامٍ الرُّعَيْنِيُّ قَالَ ثنا أَصْبَغُ بْنُ الْفَرَجِ  وَأَبُو زَيْدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ ابْنَ أَبِي الْغَمْرِ قَالَا  قَالَ ابْنَ الْقَاسِمِ وَحَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ قَالَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ سَعِيدُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ عَنْهُ يَعْنِي عَنْ وَطْءِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Qurrah Muhammad bin Humaid bin Hisyaam Ar Ru’ainiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Faraj dan Abu Zaid ‘Abdurrahman Ibnu Abi Ghamr, keduanya berkata Ibnu Qaasim berkata telah menceritakan kepadaku Maalik bin Anas yang berkata telah menceritakan kepadaku Rabi’ah bin Abi ‘Abdurrahman dari Abil Hubaab Sa’iid bin Yasaar bahwa ia bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang mendatangi istri pada dubur mereka, [Ibnu ‘Umar] berkata “tidak ada masalah padanya” [Syarh Ma’aaniy Al Atsaar Ath Thahawiy 3/41 no 4394]
Riwayat yang dikeluarkan Ath Thahawiy di atas memiliki sanad yang shahih. Para perawinya tsiqat, berikut keterangannya
  1. Abu Qurrah Muhammad bin Humaid bin Hisyaam Ar Ru’ainiy, dikatakan Ibnu Yunus bahwa ia seorang yang tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 8/261 no 9679]
  2. Ashbagh bin Faraj Al Mishriy seorang yang tsiqat, termasuk perawi thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/107]
  3. Abu Za’id ‘Abdurrahman Ibnu Abi Ghamr, dikatakan Ibnu Yunus bahwa ia seorang yang faqih dari sahabat Ibnu Qaasim dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 6/287-288 no 6693]
  4. ‘Abdurrahman bin Qaasim seorang yang faqih sahabat Malik, tsiqat termasuk perawi thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/586]
  5. Malik bin Anas seorang yang faqiih imam, pemimpin dari ulama-ulama besar, mutqin dan tsabit, termasuk perawi thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdziib 2/151]
  6. Rabii’ah bin Abi ‘Abdurrahman At Taimiy seorang yang tsiqat faqiih masyhur, termasuk perawi thabaqat kelima [Taqriib At Tahdziib 1/297]
  7. Sa’iid bin Yasaar Abul Hubaab seorang yang tsiqat mutqin, termasuk perawi thabaqat ketiga [Taqriib At Tahdziib 1/368]
Riwayat perkataan Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu] tidak hanya ini, ada lagi beberapa riwayat lainnya bahkan ada pula riwayat yang kesannya seolah bertentangan tetapi Insya Allah dengan pembahasan yang ilmiah akan nampak bahwa yang rajih adalah Ibnu Umar membolehkannya. Pembahasan detail tentang hal ini memerlukan tempat yang tersendiri.
.
.
Ibnu Abi Mulaikah
Tafsir Thabari

حَدَّثَنِي أَبُو مُسْلِمٍ قَالَ ثَنَا أَبُو عُمَرَ الضَّرِيرُ قَالَ ثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ ثَنَا رَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَبُو الدَّرْدَاءِ عَنْ إِتْيَانِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ فَقَالَ هَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ إِلا كَافِرٌ  قَالَ رَوْحٌ  فَشَهِدْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ يَسْأَلُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ قَدْ أَرَدْتُهُ مِنْ جَارِيَةٍ لِي الْبَارِحَةَ فَاعْتَاصَ عَلَيَّ  فَاسْتَعَنْتُ بِدُهْنٍ أَوْ بِشَحْمٍ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ سُبْحَانَ اللَّهِ  أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، قَالَ هَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ إِلا كَافِرٌ ، فَقَالَ لَعَنَكَ اللَّهُ وَلَعَنَ قَتَادَةَ ، فَقُلْتُ لا أُحَدَّثُ عَنْكَ شَيْئًا أَبَدًا ثُمَّ نَدِمْتُ بَعْدَ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepadaku Abu Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Umar Adh Dhariir yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Zurai’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Rauh bin Qaasim dari Qatadah yang berkata Abu Dardaa’ pernah ditanya tentang “mendatangi istri pada dubur mereka”. Maka ia berkata “tidaklah melakukan itu kecuali kafir”. Rauh berkata maka aku menyaksikan Ibnu Abi Mulaikah ketika ditanya tentang hal itu, ia berkata “Sungguh aku ingin melakukannya dengan budakku tadi malam, kemudian aku mengalami kesulitan maka aku menggunakan minyak atau lemak”. Maka aku [Rauh] berkata kepadanya “Maha suci Allah, telah mengabarkan kepada kami Qatadah bahwa Abu Dardaa’ mengatakan “tidaklah melakukan hal itu kecuali kafir”. Maka ia berkata “semoga Allah melaknatmu dan melaknat Qatadah”. Aku [Rauh] berkata “aku tidak akan meriwayatkan sedikitpun darimu selamanya” kemudian setelah itu aku menyesalinya [Tafsir Ath Thabariy 3/753 tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At Turkiy]
Riwayat perkataan Ibnu Abi Mulaikah di atas sanadnya jayyid. Berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Abu Muslim yaitu Ibrahim bin ‘Abdullah bin Muslim Al Bashriy seorang yang shaduq tsiqat [Mausu’ah Aqwaal Daruquthniy no 80]
  2. Abu ‘Umar Adh Dhariir yaitu Hafsh bin Umar Al Bashriy seorang yang shaduq alim [Taqriib At Tahdziib 1/228]
  3. Yazid bin Zurai’ Al Bashriy seorang yang tsiqat tsabit [Taqriib At Tahdziib 2/324]
  4. Rauh bin Qaasim Al Anbariy Al Bashriy seorang yang tsiqat hafizh [Taqriib At Tahdziib 1/305]
Ibnu Abi Mulaikah sendiri termasuk perawi Bukhariy dan Muslim, ia seorang yang tsiqat faqiih [Taqriib At Tahdziib 1/511].
.
.
Muhammad bin Ajlaan
Muhammad bin ‘Ajlaan Al Qurasyiy Al Madaniy termasuk perawi Muslim yang dikenal tsiqat. Ia telah ditsiqatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Yaqub bin Syaibah, Abu Hatim dan Nasa’iy [Tahdzib Al Kamal 26/101-108 no 5462]
Tahdzib Al Kamal

وَقَال أَبُو سَعِيد بْن يونس: قدم مصر وصار إلى الإسكندرية فتزوج بها امرأة من أهلها فأتاها في دبرها فشكته إلى أهلها فشاع ذلك، فصاح بِهِ أهل الإسكندرية، فخرج منها

Dan berkata Abu Sa’iid bin Yuunus “ia datang ke Mesir dan datang ke Iskandariyah kemudian menikah dengan istrinya, maka ia mendatangi istrinya pada duburnya. Istrinya mengeluhkan hal itu kepada keluarganya dan tersebarlah kabar tentang hal itu. Maka penduduk Iskandariyah meneriakinya sehingga ia pergi dari sana [Tahdzib Al Kamal 26/107]
.
.
Malik bin Anas
Ikhtilaf Fuqaha cover
Ikhtilaf Fuqaha

فقال مالك لا بأس بأن يأتي الرجل امرأته في دبرها كما يأتيها في قبلها حدثنا بذلك يونس عن ابن وهب عنه

Maka berkata Malik “tidak ada masalah seorang laki-laki mendatangi istrinya pada duburnya sebagaimana ia mendatanginya pada kemaluannya”. Telah menceritakan kepada kami hal itu Yunus dari Ibnu Wahb darinya [Malik] [Ikhtilaaf Al Fuqahaa’ Ibnu Jarir Ath Thabariy hal 304]
Riwayat di atas sanadnya shahih sampai Malik bin Anas. Yunus gurunya Ath Thabariy adalah Yunus bin ‘Abdul A’laa Ash Shadafiy seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 2/349]. Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 1/545]
.
.
Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy
Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy adalah seorang imam alim syaikh mazhab Malikiy. Daruquthniy berkata “aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya”
As Siyar Ashiiliy

قال القاضي عياض قال الدارقطني حدثني أبو محمد الأصيلي ، ولم أر مثله

قال عياض كان من حفاظ مذهب مالك ومن العاملين بالحديث وعلله ورجاله  يرى أن النهي عن إتيان أدبار النساء على الكراهة

Qaadhiy ‘Iyaadh berkata Daruquthniy berkata telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Al Ashiiliy, aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya. Iyaadh berkata “ia termasuk hafizh mazhab Malik dan termasuk orang yang alim dalam ilmu hadis, ilmu ilal-nya dan Rijal-nya. Ia berpandangan bahwa larangan mendatangi istri pada dubur adalah makruh [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 16/560 no 412]
Ibnu Hajar juga menukil perkataan Qadhi Iyadh tentang Al Ashiiliy yang membolehkan “mendatangi istri pada duburnya”.
Talkhiis Habiir

قال القاضي عياض كان القاضي أبو محمد عبد الله بن إبراهيم الأصيلي يجيزه ويذهب فيه إلى أنه غير محرم

Qaadhiy ‘Iyaadh berkata “Qadhiy Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy membolehkannya dan menganggap bahwasanya itu tidak haram” [Talkhiis Al Habiir Ibnu Hajar 3/379]
Apakah sebagian salaf termasuk sahabat Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu] itu akan dikatakan oleh Al Amiry sebagai bodoh dan gila?. Tentu ia tidak akan berani mengatakannya. Paling-paling ia akan mengatakan pendapat mereka ditinggalkan karena telah shahih dalil dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan keharamannya.
Kami menukil sebagian salaf yang membolehkan “mendatangi istri pada duburnya” hanya sebagai bukti bahwa perkara ini yang diyakini dalam mazhab Syi’ah juga diyakini oleh sebagian salaf mazhab Ahlus Sunnah [walaupun memang berdasarkan dalil yang shahih sebagian salaf ini terbukti keliru dalam perkara ini]. Kalau sebagian salaf tersebut tidak pantas dicela dan dikafirkan karena membolehkannya maka mengapa hal itu menjadi celaan ketika ada dalam mazhab Syi’ah.
.
.
.
Kesimpulan
Ada dua hal yang bisa disimpulkan dari pembahasan diatas yang menunjukkan kejahilan pencela seperti Al Amiriy
  1. Al Amiry berdusta ketika mengatakan dalam mazhab Syi’ah jima’ melalui dubur tidak membatalkan puasa. Faktanya riwayat yang dituduhkan adalah dhaif dan para ulama Syi’ah justru menyatakan batal puasanya karena jima’ melalui dubur
  2. Al Amiry mencela dan merendahkan mazhab Syi’ah yang membolehkan jima’ melalui dubur dengan keridhaan istri dan hukumnya makruh padahal sebagian salaf mazhab Ahlus Sunnah ada juga yang membolehkannya.
Akhir kata tidak henti-hentinya kami mengingatkan pembaca agar berhati-hati dalam membaca tulisan para pencela tentang mazhab Syi’ah. Mereka sudah terbiasa berdusta demi mencela mazhab yang mereka benci. Tentu kami tidak melarang siapapun untuk membaca tulisan mereka tetapi hendaknya diiringi dengan sikap “tidak mudah percaya” sebelum membuktikan sendiri. Sangat menyedihkan jika orang-orang awam ikut-ikutan mencela bahkan terlihat lebih bersemangat merendahkan Syi’ah padahal hakikatnya mereka tertipu oleh para pendusta.
Orang awam bersikaplah secara awam tidak perlu berlagak ahli padahal hanya sekedar taklid kepada para pendusta. Silakan saja bagi orang awam untuk menjauhkan diri dari mazhab Syi’ah atau beranggapan mazhab Syi’ah sesat. Tetapi simpanlah hal itu di dalam nurani masing-masing tidak perlu berlagak sok tahu bicara begini begitu padahal hanya membaca tulisan-tulisan singkat dusta Al Amiry dan yang lainnya. Ingat dan camkan hal ini baik-baik bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatannya masing-masing. Salam Damai

9 Tanggapan

  1. makasih pak yai atas tambahan ilmunya..
  2. Saya mendapati 2 paragraf akhir termasuk bagian yang sangat penting untuk mengingatkan mereka yang awam.
    Mengenai topik, pembahasan seperti ini akan selalu terikat dengan surat Al-Baqarah ayat 223. Ketika orang-orang terfokus pada kata “datangilah darimana/bagaimana saja kamu kehendaki”, justru Saya fokus pada makna “ladang”.
    Bagaimana pendapat bung SP sendiri mengenai topik seperti ini?
  3. kelompok al-amiry pembohong telah membuat buku khusus memuat kebohongan2xnya tsb judul bukunya :
    MAHKOTA SYI’AH KITAB AL-KAFI TERJEMAH EDISI KRITIS 1
    MELACAK AKAR KEYAKINAN SYIAH DARI SUMBER UTAMA
    penulis : Amin Muchtar
    pesan bias: bbm: 7D9D2DDD-52BAAD79,
    hp/wa: 081221801973 / 089629420575 / 089683746759
    harga Rp 60.000
    gayanya kitab ini untuk menyadarkan orang syiah
  4. semoga kitab itu akan jadi senjata makan tuan
  5. Sebenarnya jika kita kembali kepada AlQuran larangan , dubur dijadikan lahan senggama sudah bisa kita baca kisah Nabi Luth as, tentang kaum Homo seksual yang telah ditenggelamkan Allah,itu menandakan haramnya sengggama melalui dubur,dosa besar dan laknat Allah,seharusnya orang beriman meyaqini itu,mengapa harus dibantah lagi melalui hadits segala, azabnya sudah jelas, jadi memang jelas siapapun yang menghalalkan senggama melalui dubur orang itu sudah tidak beriman, karena kufur terhadap ayat Allah, dasar manusia jika nafsunya telah mengalahkan akalnya maka telah menjadi syetan perbuatannya. sebab Albaqoroh 223 yang dimaksud lahan adalah Vagina lubangnya dzakar, seorang suami Muslim mendatangi istrinya melalui Vaginanya adalah Haq Allah, intinya adalah bertaqwa, jika dubur yang didatangi maka sudah melampaui batas.alias tidak bertaqwa.
  6. Weit…ini lagi puasa bruh. Stop ngomongin area selangkangan!
  7. @Rony Syahroni
    Fokus yang Saya maksud bukan jalur menuju ladangnya, melainkan ladang itu sendiri, yaitu tempat menanamnya, yakni rahim.
    Untuk pembahasan lebih rinci, mendalam dan penggunaan bahasa, sepertinya ini bukan tempat yang tepat ya bung SP? :D
  8. Bung Rony saya awam.. tapi saya setuju dengan pendapat anda…
    Rony Syahroni, on Juli 9, 2015 at 12:10 am said:
    Sebenarnya jika kita kembali kepada AlQuran larangan , dubur dijadikan lahan senggama sudah bisa kita baca kisah Nabi Luth as, tentang kaum Homo seksual yang telah ditenggelamkan Allah,itu menandakan haramnya sengggama melalui dubur,dosa besar dan laknat Allah,seharusnya orang beriman meyaqini itu,mengapa harus dibantah lagi melalui hadits segala, azabnya sudah jelas, jadi memang jelas siapapun yang menghalalkan senggama melalui dubur orang itu sudah tidak beriman, karena kufur terhadap ayat Allah, dasar manusia jika nafsunya telah mengalahkan akalnya maka telah menjadi syetan perbuatannya. sebab Albaqoroh 223 yang dimaksud lahan adalah Vagina lubangnya dzakar, seorang suami Muslim mendatangi istrinya melalui Vaginanya adalah Haq Allah, intinya adalah bertaqwa, jika dubur yang didatangi maka sudah melampaui batas.alias tidak bertaqwa.
  9. kita awam harus takut dengam firqon dan titah rasulullah saww. karn itu kami awam nohon doa kiyai agar tetap teguh dengan jalan Allah n rasulullah saww

    Meluruskan Al Amiry : Benarkah Minum Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah?

    Meluruskan Al Amiry : Benarkah Minum Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah?
    Salah satu kelicikan pembenci Syi’ah seperti Al Amiry adalah ia berusaha merendahkan Syi’ah dengan mencatut fatwa salah seorang ulama Syi’ah dan menjadikan fatwa itu sebagai hal yang bisa dinisbatkan kepada Mazhab Syi’ah. Padahal sebenarnya ada banyak ulama Syi’ah lain yang memiliki fatwa yang bertentangan dengan ulama Syi’ah tersebut.
    Sudah maklum diketahui di sisi para penuntut ilmu bahwa dalam suatu mazhab terkadang para ulama berselisih pendapat sehingga tidak serta merta satu pendapat ulama tertentu menjadi hal yang layak untuk dinisbatkan kepada mazhab tersebut. Ambil contoh misalnya Imam Malik bin Anas yang dalam mazhab Ahlus Sunnah membolehkan berhubungan dengan istri melalui dubur. Apakah lantas bisa dikatakan bahwa Mazhab Ahlus Sunnah membolehkan jima’ melalui dubur?. Jawabannya tidak karena ada banyak ulama lain yang memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat Imam Malik tersebut.
    Fatwa-fatwa ulama tertentu yang aneh dan menyimpang itu dapat ditemukan baik dalam mazhab Syi’ah maupun mazhab Ahlus Sunnah. Orang yang jujur dalam mencari kebenaran tidak akan menjadikan fatwa-fatwa tersebut sebagai hujjah untuk merendahkan suatu mazhab. Tetapi orang-orang jahil, licik dan pendusta akan dengan senang hati menjadikan fatwa tersebut sebagai dasar untuk merendahkan mazhab yang ia benci.
    .
    .
    .
    Al Amiry dalam tulisannya mengutip fatwa salah seorang ulama Syi’ah yaitu Ayatullah Bayaat Zanjaaniy tentang kebolehan minum sedikit air untuk menghilangkan rasa haus bagi orang yang berpuasa tetapi tidak bisa menahan rasa haus dan puasanya tidak batal karenanya. Berikut nukilan dari Al Amiry
    Al Amiriy syiah puasa minum tidak batal
    Kami pribadi tidak memiliki data yang cukup untuk memastikan validitas fatwa yang dinukil Al Amiry tersebut oleh karena itu kami tidak bisa berbicara banyak soal fatwa ulama Syi’ah tersebut. Fatwa ini memang aneh dan kontroversial bahkan dikalangan pengikut Syi’ah.
    Sedikit catatan mengenai penukilan Al Amiry di atas, ia menyebutkan lafaz “diriwayatkan dengan sanad yang tsiqat” padahal maksud sebenarnya adalah “diriwayatkan dengan sanad muwatstsaq”. Muwatstsaq adalah terminologi khusus kedudukan suatu hadis yang ada dalam mazhab Syi’ah selain “shahih” dan “hasan”. Muwatstsaq menunjukkan bahwa diantara para perawi sanad tersebut terdapat perawi yang bukan bermazhab Syi’ah atau bermazhab menyimpang [di sisi Syi’ah] walaupun orang tersebut terpercaya. Hal ini menunjukkan kalau Al Amiry ini asing dengan istilah ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah.
    Riwayat dalam kitab Wasail Syi’ah yang dijadikan hujjah dalam fatwa tersebut adalah riwayat yang bersumber dari kitab Al Kafiy yaitu riwayat Mufadhdhal dan riwayat ‘Ammaar

    علي بن إبراهيم، عن إسماعيل بن مرار، عن يونس، عن المفضل ابن عمر قال: قلت لأبي عبد الله عليه السلام: إن لنا فتيات وشبانا لا يقدرون على الصيام من شدة ما يصيبهم من العطش، قال: فليشربوا بقدر ما تروى به نفوسهم وما يحذرون

    ‘Aliy bin Ibrahiim dari Ismail bin Maraar dari Yunus dari Mufadhdhal bin ‘Umar yang berkata aku berkata kepada Abi ‘Abdullah [‘alaihis sallam] “sesungguhnya di sisi kami ada wanita muda dan pemuda yang tidak sanggup berpuasa karena mereka mengalami kehausan yang sangat berat”. Maka Beliau berkata “minumlah mereka sejumlah yang mencukupkan jiwa mereka dan apa yang dapat menjaga diri mereka” [Al Kafiy Al Kulainiy 4/117 hadis no 7]
    Al Majlisiy puasa haus
    Al Majlisiy dalam Mir’aatul ‘Uquul 16/305 hadis no 7 menyatakan riwayat Mufadhdhal di atas dhaif. Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah dalam perkara ini. Adapun riwayat ‘Ammar adalah sebagai berikut

    أحمد بن إدريس، وغيره، عن محمد بن أحمد، عن محمد بن الحسين، عن عمرو بن سعيد، عن مصدق بن صدقة، عن عمار، عن أبي عبد الله عليه السلام في الرجل يصيبه العطاش حتى يخاف على نفسه، قال: يشرب بقدر ما يمسك به رمقه ولا يشرب حتى يروى

    Ahmad bin Idriis dan selainnya dari Muhammad bin Ahmad dari Muhammad bin Husain dari ‘Amru bin Sa’iid dari Mushadiq bin Shadaqah dari ‘Ammaar dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang laki-laki yang mengalami kehausan sehingga ia khawatir atas dirinya. Beliau berkata “maka ia boleh minum sekedarnya apa yang dapat meredakan hausnya dan ia tidak boleh minum sampai kenyang”. [Al Kafiy Al Kulainiy 4/117 hadis no 6]
    Al Kafiy puasa rasa haus berat
    Al Majlisiy dalam Mir’atul ‘Uquul 16/304 hadis no 6 menyatakan riwayat di atas muwatstsaq. Dalam riwayat tersebut memang disebutkan kebolehan meminum sedikit air ketika berpuasa jika rasa haus itu dikhawatirkan membahayakan tetapi tidak ada disebutkan dalam riwayat tersebut apakah hal itu membatalkan puasanya atau tidak. Para ulama Syi’ah yang lain menyatakan bahwa puasanya batal
    .
    .
    Syaikh Muhammad Amiin Zainuddiin dalam kitab Kalimatul Taqwaa 2/41 no 105 telah berkata

    اذا غلب العطش على الصائم حتى خشي منه الضرر ، أو لزم من الصبّر عليه الحرج الشديد ، جاز له أن يشرب من الماء مقدار ما يندفع به الضرر ويرتفع به الحرج ، ولا إثم عليه في ذلك ، ويبطل به صومه ، فيجب عليه قضاء صوم ذلك اليوم ، واذا كان في شهر رمضان وجب عليه أن يمسك عن المفطرات في بقية نهاره

    Jika ketika puasa mengalami rasa haus yang berat sehingga khawatir akan kecelakaan [atas dirinya] atau menyebabkan bagi yang bersabar atasnya akan mengalami kesulitan yang parah, maka dibolehkan baginya minum sedikit air sejumlah yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan [atas dirinya] atau menghilangkan kesulitan tersebut, tidak ada dosa atasnya karena hal itu. Dan hal itu akan membatalkan puasanya maka wajib baginya mengganti [qadha’] puasanya pada hari itu. Dan jika itu terjadi di bulan Ramadhan maka wajib atasnya untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa pada sisa harinya.
    .
    Al Urwatul Wutsqa cover
    Al Urwatul Wutsqa
    Sayyid Muhammad Kaazim Yazdiy dalam kitabnya Al ‘Urwatul Wutsqaa 2/434-435 berkata

    إذا غلب على الصائم على العطش بحيث خاف من الهلاك يجوز له أن يشرب الماء مقتصرا على مقدار الضرورة ولكن يفسد صومه بذلك ويجب عليه الامساك بقية النهار إذا كان في شهر رمضان

    Jika ketika puasa mengalami rasa haus yang berat sehingga khawatir akan menjadi celaka [atas dirinya] maka dibolehkan baginya meminum sedikit air sejumlah yang diperlukan tetapi hal itu membatalkan puasanya dan wajib atasnya menahan diri pada sisa harinya jika itu di bulan Ramadhan
    .
    .
    Minhaj Shalihin Ali Sistani cover
    Minhaj Shalihin Ali Sistani
    Hal yang sama juga dinyatakan oleh Sayyid Aliy Al Sistaaniy dalam kitab Minhaaj Ash Shaalihiin 1/326 no 1006

    إذا غلب على الصائم العطش و خاف الضرر من الصبر عليه ، أو كان حرجاً جاز أن يشرب بمقدار الضرورة و لا يزيد عليه على الأحوط ، و يفسد بذلك صومه ، و يجب عليه الإمساك في بقية النهار إذا كان في شهر رمضان على الأحوط

    Jika ketika puasa mengalami rasa haus yang berat dan ia khawatir akan membahayakan diri jika bersabar atasnya atau terasa sangat menyulitkannya maka dibolehkan baginya meminum sedikit air sejumlah yang diperlukan dan tidak boleh melebihinya atas dasar kehati-hatian. Dan hal itu akan membatalkan puasanya serta wajib atasnya menahan diri pada sisa harinya jika itu di bulan Ramadhan atas dasar kehati-hatian.
    Pendapat inilah yang kami dapati dalam kitab-kitab Syi’ah dan dan masyhur diantara para ulama mereka. Pendapat ini nampaknya lebih rajih karena banyak hadis shahih [dalam mazhab Syi’ah] yang menunjukkan batalnya puasa dengan makan dan minum. Jadi bagaimana mungkin hanya karena pendapat satu ulama seperti yang dinukil Al Amiry tersebut bisa seenaknya dinisbatkan atas mazhab Syi’ah.
    .
    .
    .
    Dan jangan dikira perkara yang mirip seperti ini tidak ada dalam mazhab Ahlus Sunnah. Ada baiknya orang yang menyebut dirinya Al Amiry itu banyak-banyak membaca kitab hadis agar luas wawasannya dan bisa bersikap bijak. Pendapat yang aneh dan menyimpang pernah dikemukakan oleh salah seorang sahabat Nabi yang sudah jelas kedudukannya jauh lebih mulia dibanding para ulama yaitu Abu Thalhah Al Anshariy [radiallahu ‘anhu]
    Musnad Ahmad no 13971

    حدثنا عبيد الله بن معاذ حدثنا أبي ثنا شعبة عن قتادة وحميد عن أنس قال مطرنا بردا وأبو طلحة صائم فجعل يأكل منه قيل له أتأكل وأنت صائم فقال إنما هذا بركة

    Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’aadz yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dan Humaid dari Anas yang berkata turun kepada kami hujan salju dan Abu Thalhah berpuasa, maka ia memakan butiran salju tersebut, dikatakan kepadanya “engkau makan padahal engkau berpuasa” maka ia berkata “sesungguhnya ini hanyalah berkah” [Musnad Ahmad 3/279 no 13971, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih para perawinya tsiqat perawi Bukhariy dan Muslim”]
    Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Al Ahaadits Adh Dhaaifah hadis no 63 pernah membawakan hadis mauquf di atas dan ia berkata
    Adh Dhaifah Albaniy no 63

    قلت وهذا الحديث الموقوف من الأدلة على بطلان الحديث المتقدم ” أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم ” إذ لوصح هذا لكان الذي يأكل البرد في رمضان لا يفطر اقتداء بأبي طلحة رضي الله عنه، وهذا مما لا يقوله مسلم اليوم فيما أعتقد

    Aku [syaikh Al Albaniy] berkata “hadis mauquf ini menjadi dalil akan bathilnya hadis sebelumnya yaitu sahabatku seperti bintang-bintang, siapapun yang kalian ikuti pasti akan mendapat petunjuk” karena jika ini shahih maka barang siapa yang memakan butiran salju di bulan Ramadhan tidak batal puasanya dengan berpegang pada pendapat Abu Thalhah [radiallahu ‘anhu] dan hal ini saya yakin tidak pernah dikatakan seorang muslim pun saat ini”
    Apakah dengan adanya pendapat Abu Thalhah [radiallahu ‘anhu] di atas maka bisa dikatakan mazhab Ahlus Sunnah menyatakan tidak batal puasa jika memakan butiran salju?. Tentu saja tidak. Orang yang mengatakan demikian hanyalah orang jahil atau pendusta. Maka silakan para pembaca pikirkan orang seperti apa Al Amiry ini. Ia berbicara begini begitu hanya bermodal secuil fatwa kemudian berlagak alim merendahkan mazhab lain.
    Tulisan-tulisan seperti ini kami buat sebagai bingkisan kepada para pembaca agar bisa diambil manfaatnya. Juga sebagai pembelaan kepada mazhab Syi’ah atas kedustaan dan kejahilan para pencela. Kami walaupun bukan penganut Syi’ah tetapi tetap bisa mempelajari mazhab Syi’ah dengan objektif tidak seperti para pencela yang berlagak alim padahal hakikatnya jahil. Tidak ada sedikitpun harapan kami untuk para pencela seperti Al Amiry. Biarlah ia dan orang-orang sepertinya hidup dalam waham grandiosa yang mereka derita.

    2 Tanggapan

    1. wahabi gitu paling banyaknya berbohong dari kalangan manusia.
      mereka yakin bahwa ajarannya hanya bisa ditegakkan dengan kebohongan, para pengikut awam wahabi hanya akan puas dengan kebohongan-kebohongan para syeikh-syeikh mereka dan tidak akan pernah mau mendengar yg haq dari siapa pun diluar syeikh-syeikh mrk. mereka ditakdirkan tersesat karena tidak mau berpikir.
    2. luar biasa pak yai.
      makasih atas ilmunya..