Jumat, 10 Mei 2013

ADA YANG ANEH...MENGAPA ARAB SAUDI LEBIH SUKA DENGAN AS-ISRAEL-TURKI DAN SANGAT MEMUSUHI IRAQ-IRAN-SURIAH..??>> MENGAPA ARAB SAUDI TIDAK MEMBANTI PALESTINA DENGAN SENJATA..DAN TENTARA YANG KUAT DAN KEUANGAN YANG BESAR..?? TETAPI PANGKALAN MILITERNYA DIGUNAKAN AS DAN SEKUTU UNTUK MENYERANG IRAQ-DAN IRAN..?? DAN PERSENJATAANNYA MALAHAN DIBERIKAN KEPADA OPOSISI SURIAH..DAN PEMBERONTAK IRAQ..?? ADA APA DENGAN SAUDI ARABIA..?? SEHARUSNYA SAUDI ITU LEBIH BERFIHAK KEPADA SAUDARA2 ARAB-NYA ..?? TETAPI KENAPA LEBIH DEKAT DENGAN ISRAEL DAN AS..?? TENTU TAK TERLEPAS DARI LATAR BELAKANG SEJARAH..?? .SAYANG SEKALI..?? >>..SESUNGGUHNYA SIAPA SEBENARNYA SAUDI RABIA ITU..?? >> "Anda akan membayar harga yang sangat berat untuk menunjukkan keberanian tentang bayi dalam buaian, keberanian Anda tidak dapat menunjukkan pada orang lain," katanya kepada kerumunan anggota parlemen dan aktivis partai di sebuah kota dekat Ankara, Turki. Kata-kata kasar Erdogan ini muncul setelah adanya laporan soal serangan udara Israel pada target militer di dekat Damaskus. Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu kemudian mengejek tentara Suriah karena kegagalan untuk membalas serangan Israel itu. Pemerintah Turki sendiri memang telah memutuskan hubungan dengan rezim pemerintahan Assad. Pemutusan hubungan diplomatik dilakukan, setelah diabaikannya seruan Turki untuk menempuh resolusi damai guna menghentian konflik yang telah menelan 70 ribu jiwa ini. >> Presiden sementara Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi, George Sabra, kemarin mengatakan Hizbullah telah menyatakan perang dengan rakyat Suriah. Pernyataan ini muncul setelah ada laporan menyebut kelompok pimpinan Hasan Nasrallah itu telah memimpin serangan terhadap pemberontak Suriah di jantung Provinsi Homs....>> Sabra juga mengatakan pembunuhan secara besar-besaran tanpa henti sedang terjadi di Suriah. Hal ini dia dapatkan setelah laporan terbaru menyebut setidaknya ada 500 orang tewas dalam sepekan terakhir yang dilakukan oleh pasukan pendukung Presiden Basyar al-Assad. "Beberapa dari antara mereka tewas dengan cara yang sadis menggunakan pisau. Kami takut kejadian seperti ini akan terus berlangsung. Ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," ujar Sabra. "Kami akan memberikan fakta-fakta ini di depan komunitas internasional agar mereka melakukan apa yang harus dilakukan."..>> "Keputusan menyerang Iran tidak akan disetujui sebelum awal tahun 2014," ujar pejabat partai yang berkuasa di Israel itu, seperti dikutip Times of Israel, Jumat (10/5/2013). "Terkait kemungkinan serangan militer itu, Israel dan AS akan bekerja sama dengan menggunakan jadwal yang berbeda. Ini disebabkan karena banyaknya perbedaan kemampuan (militer) Israel dan AS. AS bisa melakukan ini (menyerang) dengan lebih efektif ketimbang Israel," papar Hanegbi. Anggota parlemen yang sudah lama duduk di Knesset itu mengingatkan kembali, bila sanksi dan diplomasi untuk isu nuklir itu tidak efektif, maka kebijakan militer harus dilakukan. Hanegbi menegaskan, langkah militer adalah langkah satu-satunya untuk mengecah Iran memiliki kekuatan nuklir....>> Musuh utama Arab Saudi/Wahabi adalah Syi’ah, Sufi, HT, IM, Aswaja, dan Muslim lainnya. Ada pun Yahudi laknatullah dan Nasrani (Israel dan AS) adalah sahabat Wahabi/Saudi. “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (Qur’an 5:82)..>>

Serangan Israel ke Iran Disetujui Awal 2014?

Jum'at, 10 Mei 2013 10:02 wib
Aulia Akbar - Okezone
http://international.okezone.com/read/2013/05/10/412/804816/serangan-israel-ke-iran-disetujui-awal-2014
Foto : Pasukan Israel (huffingtonpost) 
Foto : Pasukan Israel (huffingtonpost)
YERUSALEM -

Anggota Partai Likud Tzachi Hanegbi mengatakan, Israel akan membuat keputusan final mengenai rencana serangan ke fasilitas nuklir Iran tahun depan. Israel juga tidak akan bergantung pada Amerika Serikat (AS) mengenai serangan itu.

"Keputusan menyerang Iran tidak akan disetujui sebelum awal tahun 2014," ujar pejabat partai yang berkuasa di Israel itu, seperti dikutip Times of Israel, Jumat (10/5/2013).

"Terkait kemungkinan serangan militer itu, Israel dan AS akan bekerja sama dengan menggunakan jadwal yang berbeda. Ini disebabkan karena banyaknya perbedaan kemampuan (militer) Israel dan AS. AS bisa melakukan ini (menyerang) dengan lebih efektif ketimbang Israel," papar Hanegbi.

Anggota parlemen yang sudah lama duduk di Knesset itu mengingatkan kembali, bila sanksi dan diplomasi untuk isu nuklir itu tidak efektif, maka kebijakan militer harus dilakukan. Hanegbi menegaskan, langkah militer adalah langkah satu-satunya untuk mengecah Iran memiliki kekuatan nuklir.

"Haruskah Israel menaruh harapan ke AS? Bisakah Israel diyakinkan bahwa mitra terdekatnya akan bertindak untuk menghapus ancaman itu? Jawaban saya adalah tidak. Jaminan itu tidak akan bisa diberikan oleh satupun presiden dan tidak pernah bisa diminta oleh seorang perdana menteri. Israel tidak perlu mengharapkan komitmen itu," tegasnya.

Seperti diketahui, Negeri Yahudi itu kembali mengeluarkan retorika kerasnya terhadap Negeri Persia terkait isu nuklir. Dalam kunjungannya ke China, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan, nuklir Iran akan mengganggu proses distribusi minyak dunia karena Iran takkan segan memblokir Selat Hormuz (Teluk Persia).

Sementara itu, Iran yang sedang disibukkan dalam persiapkan pemilu presiden terlihat mulai jarang berkomentar menanggapi ancaman-ancaman serangan itu. Para politisi di negara tersebut kini berlomba-lomba untuk mengikuti perlombaan politik besar itu. (AUL)

Turki dukung rencana AS tetapkan zona larangan terbang di Suriah

Yesi Syelvia
Jum'at,  10 Mei 2013  −  17:38 WIB
Turki dukung rencana AS tetapkan zona larangan terbang di Suriah
Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan (Presstv)
Sindonew.com - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, pihaknya akan mendukung Amerika Serikat (AS) jika mereka berencana memberlakukan zona larangan terbang di Suriah, Kamis (9/5/2013).

Dukungan tersebut menambah tekanan kepada AS untuk segera bertindak menyelesaikan krisis yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun itu.

Zona larangan terbang adalah salah satu pilihan AS yang akan digunakan untuk menekan kekuasaa Presiden Suriah Bashar al-Assad. Zona larangan terbang itu ditetapkan untuk melarang pesawat militer Suriah menyerang para pemberontak.

Pejabat keamanan AS mengatakan, pembentukan zona larangan terbang itu membutuhkan serangan udara AS dan mungkinkan pengiriman pasukan ke Suriah, tentunya berisiko menelan korban jiwa. Ada sedikit kesempatan bagi AS untuk melakukan itu dalam waktu dekat.

"Sejak awal kita akan berkata "Ya"," jawab Erdogan saat ditanya apakah Turki akan mendukung langkah poternsial AS dalam menghadapi Suriah, seperti dilansir Reuters.
Erdogan mengatakan, militer Suriah telah menembakan rudal yang disertai dengan senjata kimia pada musuhnya dan itu telah melewati batas garis merah yang disebut Obama.

"Sudah jelas rezim itu telah menggunakan senjata kimia dan rudal. Menurut data intelijen kami, sejauh ini Suriah telah menggunakan sekitar 200 rudal," ungkap Erdogan tanpa memperjelas jenis rudal dan senjata kimia apa yang telah digunakan militer Suriah.

"Mereka telah mengunakan berbagai bentuk ukuran rudal. Penggunaan rudal tersebut menyebabkan kematian yang disebabkan oleh pengunaan rudal ini. Ada juga luka bakar, Anda tahu ada luka bakar serius yang ditimbukan dari penggunaan senjata kimia tersebut," jawab Erdogan saat ditanya apakah dia punya bukti.

"Sejumlah pasien telah dilarikan ke rumah sakit di Turki, mereka semua terluka akibat penggunaan senjata kimia. Di sana Anda dapat melihat sendiri korban luka bakar akibat. penggunaan rudal," imbuh Erdogan.

(esn)

PM Turki sebut Presiden Suriah sebagai tukang jagal

Esnoe Faqih Wardhana
Minggu,  5 Mei 2013  −  23:57 WIB
PM Turki sebut Presiden Suriah sebagai tukang jagal
Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan
http://international.sindonews.com/read/2013/05/05/43/745458/pm-turki-sebut-presiden-suriah-sebagai-tukang-jagal
Sindonews.com – Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan super keras tentang Presiden Suriah, Bashar al-Assad, Minggu (5/5/2013). Erdogan menyebut Assad sebagai tukang jagal.

"Jika Tuhan mengizinkan, kita akan melihat tukang jagal ini, pembunuh ini, menerima penghukuman di dunia ini dan kami akan memuji Allah untuk itu," kata Erdogan, seperti dikutip dari AFP. Menurutnya, Assad akan dimintai pertanggungjawaban atas kematian puluhan ribu warganya.

"Anda akan membayar harga yang sangat berat untuk menunjukkan keberanian tentang bayi dalam buaian, keberanian Anda tidak dapat menunjukkan pada orang lain," katanya kepada kerumunan  anggota parlemen dan aktivis partai di sebuah kota dekat Ankara, Turki.

Kata-kata kasar Erdogan ini muncul setelah adanya laporan soal serangan udara Israel pada target militer di dekat Damaskus. Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu kemudian mengejek tentara Suriah karena kegagalan untuk membalas serangan Israel itu.

Pemerintah Turki sendiri memang telah memutuskan hubungan dengan rezim pemerintahan Assad. Pemutusan hubungan diplomatik dilakukan, setelah diabaikannya seruan Turki untuk menempuh resolusi damai guna menghentian konflik yang telah menelan 70 ribu jiwa ini.
 

Saat ini, Turki telah berpihak pada pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan rezim Assad. Turki juga menampung sekitar 400 ribu pengungsi Suriah, serta tentara pembelot dan berulang kali menyerukan kepada masyarakat internasional untuk bertindak atas krisis yang berlangsung di Suriah.

(esn)

Musuh Utama Arab Saudi/Wahabi adalah Syi’ah dan Muslim Lainnya. Bukan Yahudi dan Nasrani

Arab Saudi Pinjamkan Pangkalan Militer Kepada AS untuk Serang Iraq

Musuh utama Arab Saudi/Wahabi adalah Syi’ah, Sufi, HT, IM, Aswaja, dan Muslim lainnya.

Ada pun Yahudi laknatullah dan Nasrani (Israel dan AS) adalah sahabat Wahabi/Saudi.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (Qur’an 5:82)

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]



Ummat Islam itu berkasih sayang terhadap sesama, namun keras terhadap orang-orang kafir:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Al Fath 29]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah 54]

Kalau ummat Islam berkasih-sayang dengan sesama dan keras terhadap orang-orang kafir. Pemerintah Arab Saudi dan Ulama Wahabi yang digajinya justru sebaliknya. Berkasih-sayang dengan orang2 kafir seperti Yahudi dan Nasrani (AS, Inggris, Israel) dan keras terhadap sesama Muslim.

Saat pertama muncul pendiri Kerajaan Arab Saudi, Ibnu Su’ud bersama Muhammad bin Abdul Wahhab (Pendiri Wahabi) bekerjasama dengan Inggris (yang memberi senjata canggih) memerangi ummat Islam di Thaif, Mekkah, dan Madinah. Mereka perangi juga Muslim Turki dan Mesir.

Kemudian Pemerintah Arab Saudi juga mengundang pemerintah AS dan menyediakan pangkalan militer guna menyerang ummat Islam di Iraq. Meski katanya ada ulama Wahabi yang dipenjara, itu ulama yang tidak dikenal. Yang terkenal seperti Syaikh Utsaimin, Albani, dsb justru aman digaji oleh pemerintah Arab Saudi.


Setelah itu Ulama Wahabi menyerukan “Jihad” membunuh sesama Muslim di Libya yang saat itu dipimpin Khaddafi (Sunni mazhab Maliki). 50 ribu Muslim lebih tewas. Kemudian sekarang memfatwakan Jihad melawan pemerintah Syi’ah di Suriah Bashar Al Assad yang sebagaimana halnya Khaddafi merupakan musuh AS dan Israel. Saat ini 40 ribu Muslim tewas. Bukan cuma Syi’ah yang tewas. Tapi juga Muslim Sunni yang mereka adu-domba.
Buat pengikut Wahabi awam yang merasa “berjihad” saat memerangi/membunuh sesama Muslim hati-hatilah. Jangan sampai kalian malah masuk neraka:

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Larangan membunuh orang kafir yang telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah

Hadis riwayat Miqdad bin Aswad ra., ia berkata:
Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, seraya berkata: Aku menyerahkan diri kepada Allah (masuk Islam). Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu? Rasulullah saw. menjawab: Jangan engkau bunuh ia. Aku memprotes: Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya? Rasulullah saw. tetap menjawab: Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau seperti ia sebelum engkau membunuhnya, dan engkau seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan. (Shahih Muslim No.139)

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:

Rasulullah saw. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi saw. Rasulullah saw. bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? 

Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah saw. bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah. Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah. (Shahih Muslim No.140)

Dari Usamah bin Zaid ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. mengirim kita ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kita berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan seorang lagi dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelaki dari golongan mereka -musuh-. Setelah kita dekat padanya, ia lalu mengucapkan: La ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar itu menahan diri daripadanya -tidak menyakiti sama sekali-, sedang saya lalu menusuknya dengan tombakku sehingga saya membunuhnya. Setelah kita datang -di Madinah-, peristiwa itu sampai kepada Nabi s.a.w., kemudian beliau bertanya padaku: “Hai Usamah, adakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilaha illallah?” Saya berkata: “Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya untuk mencari perlindungan diri saja -yakni mengatakan syahadat itu hanya untuk mencari selamat-, sedang hatinya tidak meyakinkan itu.” Beliau s.a.w. bersabda lagi: “Adakah ia engkau bunuh setelah mengucapkan La ilaha illallah?” Ucapan itu senantiasa diulang-ulangi oleh Nabi s.a.w., sehingga saya mengharap-harapkan, bahwa saya belum menjadi Islam sebelum hari itu -yakni bahwa saya mengharapkan menjadi orang Islam itu mulai hari itu saja-, supaya tidak ada dosa dalam diriku.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukankah ia telah mengucapkan La ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia mengucapkan itu semata-mata karena takut senjata.” Beliau s.a.w. bersabda: “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya, sehingga engkau dapat mengetahui, apakah mengucapkan itu karena takut senjata ataukah tidak -yakni dengan keikhlasan-.” Beliau s.a.w. mengulang-ulangi ucapannya itu sehingga saya mengharap-harapkan bahwa saya masuk Islam mulai hari itu saja.

Dari Jundub bin Abdullah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan sepasukan dari kaum Muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan bahwa mereka itu telah bertemu -berhadap-hadapan. Kemudian ada seorang lelaki dari kaum musyrikin menghendaki menuju kepada seorang dari kaum Muslimin lalu ditujulah tempatnya lalu dibunuhnya. Lalu ada seorang dari kaum Muslimin menuju orang itu di waktu lengahnya. Kita semua memperbincangkan bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang Islam itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan: “La ilaha illallah.” Tetapi ia terus dibunuh olehnya. Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah s.a.w. -memberitahukan kemenangan-, beliau s.a.w. bertanya kepadanya -perihal jalannya peperangan- dan orang itu memberitahukannya, sehingga akhirnya orang itu memberitahukan pula perihal orang yang membunuh di atas, apa-apa yang dilakukan olehnya. Orang itu dipanggil oleh beliau s.a.w. dan menanyakan padanya, lalu sabdanya: “Mengapa engkau membunuh orang itu?” Orang tadi menjawab: “Ya Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti di kalangan kaum Muslimin dan telah membunuh si Fulan dan si Fulan.” Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan: “Saya menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan: “La ilaha illallah.” Rasulullah s.a.w. bertanya: “Apakah ia sampai kau bunuh?” Ia menjawab: “Ya.” Kemudian beliau bersabda: “Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?” Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, mohonkanlah pengampunan -kepada Allah- untukku.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?” Beliau s.a.w. tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata: “Bagaimanakah yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?” (Riwayat Muslim)

Bukanlah orang Islam orang-orang yang membunuh sesama Muslim:
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.143)
Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.145)
Read more http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/

SPECIAL NORES:

Iraq

Gertrude Bell in Iraq, 1916 [image © copyright Newcastle University Library]
Above: Abdul Aziz Ibn Sa'ud, Sir Percy Cox, and Gertrude Bell, Basrah, 1916.
 http://archiveshub.ac.uk/features/mar03.shtml

The land between the Euphrates and Tigris rivers was once known as Mesopotamia, much of which is now modern-day Iraq. There, in the 4th millennium BC, the Sumerians developed what was probably the earliest urban civilization.
Mesopotamia formed part of Turkey's Ottoman Empire for three centuries until World War I. British forces invaded in 1914, and Iraq was created in 1921 as a kingdom under British Mandate. Iraq was given independence in 1932, but Britain intervened during World War II to overthrow a pro-Nazi nationalist leader who had taken power. A republic was established in 1958, and this has been governed by a succession of military regimes.
Iraq has a population of around 24 million. About 20 per cent are Kurds, who see themselves as a separate nation. Other smaller groups include Persians, Turkmens, Assyrians, Sabaeans, and the "Marsh Arabs".
- March 2003
Above: Abdul Aziz Ibn Sa'ud, Sir Percy Cox, and Gertrude Bell, Basrah, 1916.
Percy Zachariah Cox

20 November 1864 - 20 February 1937
http://cambridgeforecast.wordpress.com/2006/12/23/percy-cox-the-birth-of-iraq/


In a historical sense this is the man responsible for today’s Gulf crisis. Sir Percy Cox was the British High Commissioner in Baghdad after World War I who in 1922 drew the lines in the sand establishing for the first time national borders between Jordan, Iraq, Kuwait, and Saudi Arabia. And in each of these new states the British helped set up and consolidate ruling monarchies through which British banks, commercial firms, and petroleum companies could obtain monopolies.
Sir Percy Zachariah Cox (20 November
186420 February 1937) was a British administrator and diplomat in the British Mandate of Iraq. He was born in Herongate, Essex, England and died in Melchbourne, Bedfordshire, England.
He established the Iraqi army and constitution. He replaced Sir Arnold Wilson as the British Civil Commissioner in Baghdad in 1920. In 1902, he was adviser to the Sultan of Oman.
Nickname: ‘Coccus’ He replaced Sir Charles Marling as Minister at Tehran from the Indian Political Service and wrote the Anglo-Persian Agreement of 1919.
He established the Iraqi army and created the individual state of Kuwait. Kuwait was an autonomous caza within the Ottoman Empire which was setup in the Anglo-Ottoman Convention of 1913.


References
J. Townsend, Some reflections on the life and career of Sir Percy Cox, G.C.M.G., G.C.I.E., K.C.S.I., Asian Affairs, Volume 24, Number 3, Number 3/November 1993, pp. 259-272(14)Comment:  Percy Cox & The Contemporary Gulf Crisis:
First, a quick review of what brought on this crisis.Does the name Cox bring anything special to mind? Sir Percy Cox?
In a historical sense this is the man responsible for today’s Gulf crisis. Sir Percy Cox was the British High Commissioner in Baghdad after World War I who in 1922 drew the lines in the sand establishing for the first time national borders between Jordan, Iraq, Kuwait, and Saudi Arabia. And in each of these new states the British helped set up and consolidate ruling monarchies through which British banks, commercial firms, and petroleum companies could obtain monopolies. Kuwait, however, had for centuries belonged to the Basra province of the Ottoman Empire. Iraq and the Iraqis never recognized Sir Percy’s borders. He had drawn those lines, as historians have confirmed, in order deliberately to deprive Iraq of a viable seaport on the Persian Gulf. The British wanted no threat from Iraq to their dominance of the Gulf where they had converted no less than ten sheikdoms, including Kuwait, into colonies. The divide-and-rule principle, so well-practised in this country since the beginning. In 1958 the British-installed monarchy in Iraq was overthrown in a military coup. Three years later, in 1961, Britain granted independence to Kuwait, and the Iraqi military government massed troops on the Kuwaiti border threatening to take the territory by force. Immediately the British dispatched troops, and Iraq backed down, still refusing to recognize the border. Similar Iraqi threats occurred in 1973 and 1976.
http://www.serendipity.li/cia/agee_1.html

Arnold Wilson July 18, 1884May 31, 1940

Sir Arnold Talbot Wilson (July 18, 1884May 31, 1940) was the British civil commissioner in Baghdad in 1918-1920. Wilson became publicly known for his role as the colonial administrator of Mesopotamia (geographic Iraq) during and after the first World War. His high-handedness led to an Iraqi revolt in 1920. He was replaced by Sir Percy Cox.
 
Early life and career
Wilson was born in 1884 and educated in England at Clifton Public School, where his father was a headmaster. He started his career as an officer of the British army in India. In 1904, he went to Iran as a Lieutenant to lead a group of Bengal Lancers to guard the British consulate in Ahwaz and to protect the work of the D’Arcy Oil Company, which had obtained a sixty-year oil concession in Iran and was pursuing oil exploration in partnership with the Burma Oil Company. Wilson was an officer in the 32nd Sikh Pioneers, a regiment of the Indian Army.In 1907, Wilson was transferred to the Indian Political Department and sent to the Persian Gulf, where he served as a political officer, soldier and senior administrator. In 1920, he joined the Anglo-Persian Oil Company as resident director in the Persian Gulf. He worked for the company until 1932. Wilson oversaw the discovery of the first oil site in the Middle East, Masjid-i-Suleiman in 1908.

World War I and afterwards
In 1915, as the British were moving troops from India into Mesopotamia through the Persian Gulf and Basra, Wilson was designated as the assistant, and then deputy, to Sir Percy Cox, the British Political Officer for the region. Based in Baghdad, he then became the acting Civil Commissioner for Iraq.During his tenure in Iraq, Wilson worked to improve the country’s administration according to the principles he learned in India. In doing so, he was nicknamed The Despot of Mess-Pot”. However, after the end of WW1, he found himself progressively opposed to other British officials, who believed that Arab countries should be granted independence under British supervision.

In 1919, during the Paris international conference which followed WW1, he was amongst the few who successfully recommended adopting the Arab name Iraq instead of the Greek name Mesopotamia. 

This name change was intended to cover the planned northern expansion of the newly created country under British Mandate to include the oil rich Mosul region of Kurdistan, in addition to the Mesopotamian provinces of Baghdad and Basra.In April 1920, at the Conference of Sanremo,  the League of Nations agreed to the British mandate over Iraq. In the spring and summer of 1920, various riots erupted across central and southern Iraq. These riots were often violently repressed by Wilson’s administration. The total number of Iraqi casualties of these riots was estimated at 10,000 people.In the summer of 1920, Wilson proposed a compromise, suggesting that Faysal, the former King of Syria, be offered the Iraqi throne. 

This proposal was intended to obtain support from the Iraqi population as well as by the British officials who favored a controlled Arab independence. It was eventually accepted by the British Government and by Faysal, but Wilson would not be there to participate in its implementation. The British government decided not to follow Wilson’s views, and instead grant independence to Iraq. The British government removed Wilson from his position in Iraq, and knighted him. Deeply disappointed by the turn of events, he left the public service and joined APOC as manager of their Middle Eastern operations.

World War II
In 1933, he was elected as MP for Hitchin. Before World War II, his outspoken views evoked a lot of criticism. The New Statesman described him as “an admirer of Hitler and an unscrupulous propagandist for Mussolini and Hitler“.However, at the outbreak of the war, he joined the Royal Air Force Volunteer Reserve, becoming an air gunner in 37 Squadron of Bomber Command. Still an MP, he was killed in action over northern France, around Dunkirk, on May 31st,1940. He is buried at Eringhem churchyard, half-way between Dunkirk and St. Omer.
His book, S.W. Persia: Letters and Diary of a Young Political Officer 1907-1914 (1941) was published posthumously.
References
Late Victorian: the life of Sir Arnold Talbot Wilson, by John Marlowe.
A Periplus of the Persian Gulf by Arnold Talbot Wilson.
S. W Persia: Letters and Diary of a Young Political Officer 1907-1914 by Arnold Talbot Wilson.
External links
The Anglo-Persian Oil Company (APOC) was founded in 1909 following the discovery of a large oil field in Masjed Soleiman, Iran. It was the first company using the oil reserves of the Middle East. APOC was renamed 1935 in Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) and eventually became the British Petroleum Company (BP) in 1954, as one root of the BP Company today.

The D’Arcy Oil Concession
The D’Arcy Oil Concession was granted to the British during the reign of Mozzafar-al-Din Shah Qajar, a Turkmen descent who was deeply hated by the Iranians, thereby effectively giving away control of Iranian oil reserves to Britain for 60 years.William Knox D’Arcy had negotiated a 60 year oil concession with the Shah of Persia in 1901 but within a few years was almost bankrupted by the cost of exploration. He sold his interest to the Burmah Oil Company Ltd. who created APOC as a subsidiary, and also sold shares to the public.Volume production of Persian oil products eventually started in 1913 from a refinery built at Abadan. The British government, at the impetus of Winston Churchill, First Lord of the Admiralty, partly nationalised the company in 1913 in order to secure British-controlled oil supplies for its ships.APOC took a 50% share in a new Turkish Petroleum Company organised in 1912 by Calouste Gulbenkian to explore and develop oil resources in the Ottoman Empire. After a hiatus caused by World War I it reformed and struck an immense gusher at Kirkuk, Iraq in 1927, renaming itself the Iraq Petroleum Company.

The Anglo-Persian Oil Company continued its large Persian operations although it changed its name to the AIOC in 1935. By 1950 Abadan had become the world’s largest refinery. In spite of diversification the AIOC still relied heavily on its Iranian oil fields for three-quarters of its supplies, and controlled all oil in Iran. The Iranian government wanted to take a significant share in the company, and would not negotiate when only offered a larger share of revenues. This culminated in the nationalization of the industry by the Iranian Prime Minister Mohammed Mossadegh in 1951, which led to the Abadan Crisis. Foreign countries refused to take Iranian oil and Abadan refinery was closed. AIOC withdrew from Iran and traded off its other reserves until military intervention restored its ownership in 1954, although it lost its monopoly. It was forced to operate as one member of a consortium of Iranian Oil Participants. That was the year AIOC changed its name to British Petroleum Company.
 
Anglo-Iranian Oil Dispute
The crisis began under the government of Clement Attlee. At the time, the British were taking 85% of Iranian oil profits. In March 1951, the Iranian parliament (the Majlis) voted to nationalise the Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) and its holdings by passing a bill strongly backed by the elderly statesman Mohammed Mossadegh, a man who was elected Prime Minister the following April by a large majority of the parliament.The International Court of Justice was called in to settle the dispute, but a 50/50 profit-sharing arrangement, with recognition of nationalisation, was rejected by both the British government and Prime Minister Mossadegh. Direct negotiations between the British and the Iranian government ceased, and over the course of 1951, the British ratcheted up the pressure on the Iranian government and explored the possibility of a coup against it. U.S. President Harry S. Truman was reluctant to agree, placing a much higher priority on the Korean War. The effects of the blockade and embargo were staggering and led to a virtual shutdown of Iran’s oil exports.
Mossadegh also held an important speech for the UN Security Council in New York which was covered by all newspapers and he was pictured on the Times magazine’s “Man of the Year” issue. After the U.S. chose a new president, the British changed their strategy of getting the U.S. on their side from economic/colonial to anti-communist. This new strategy found listening ears in the new U.S. president and the newly established CIA. The CIA finally toppled the democracy in Iran and brought back the Shah with the help of the British contacts/information it had from the British embassy and secret service.
After the regime change the Iranian oil started flowing again with the blessing of the U.S. and Britain under the power of a group of American and British oil companies of which included the Anglo Iranian Oil Company.

Inilah Upaya Terselubung Saudi di Suriah

Selasa, 27 November 2012, 12:42 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Arab Saudi mengumumkan pembentukan lembaga Amar Makruf Nahi Munkar di kota Aleppo Suriah dan mendirikan cabang Wahabi di kota ini.
Lembaga Amar Makruf Nahi Munkar Aleppo adalah institusi Saudi yang dikenal dengan lembaga pelaksana agama dan mayoritas anggotanya terdiri dari orang-orang ekstrim yang dikenal dengan nama Muthawi, demikian dilaporkan Fars News Selasa (27/11).

Dua hari setelah didirikan, lembaga tersebut langsung mengeluarkan fatwa melarang perempuan mengemudi. Terkait fatwa ini, kelompok pemberontak Suriah, Free Syrian Army (FSA) menegaskan bahwa pelanggar fatwa itu harus dihukum dan dianggap sebagai teroris.

Sheikh Ahmad Abdul Latif Abdullah, salah seorang ulama dan mubaligh Suriah mengatakan, fatwa ini aneh bagi masyarakat Suriah mengingat warga negara ini tidak mengenal interpretasi ekstrim dari prinsip agama seperti yang terjadi di Saudi.

Ia menambahkan, hal ini membuktikan dengan jelas intervensi Saudi dalam krisis Suriah dan menunjukan upaya untuk mengubah Aleppo mejadi kawasan Salafi ekstrim guna mencegah terbentuknya Muqawama di kawasan, bahkan mereka mengkafirkan setiap pihak yang mendukung Muqawama dan perjuangan melawan rezim Zionis Israel.

Sheikh Abdullah yang juga anggota pakar hukum agama Damaskus mengkritik keras Wahabi dan mengatakan, Wahabi dengan kedok agama berusaha memposisikan dirinya sebagai wakil Islam yang sebenarnya, hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi di Suriah.

Wahabi di Saudi, masih kata Sheikh Abdullah, tidak sedang melaksanakan hukum-hukum fikih Islam, sebab para fuqaha tidak mempunyai argumentasi syariah yang melarang perempuan mengemudi. Pendekatan Saudi ini dan pendekatan-pendekatan Wahabi lainnya hanya khusus Al Saud dan tidak ada hubungannya dengan Islam, tetapi penafsiran salah tentang Islam.

Menurut Sheikh Abdullah, pembentukan Wahabi di Suriah yang diprakarsai oleh Wahabi Saudi, FSA dan front An-Nusra yang berafiliasi dengan al-Qaeda sebagai upaya untuk menyerang rakyat negara ini.

Lebih lanjut ulama Suriah ini memperingatkan langkah-langkah Wahabi Saudi dan menegaskan bahwa langkah untuk mengalihkan pandangan masyarakat Suriah merupakan upaya yang sangat berbahaya, sebab dengan mengeluarkan fatwa-fatwa aneh, mereka ingin menyulut ketegangan di antara masyarakat dan memanfaatkannya untuk merealisasikan langkah-langkah anti-Islamnya.


Oposisi tuduh Hizbullah nyatakan perang terhadap rakyat Suriah

Reporter : Vincent Asido Panggabean. 
http://www.merdeka.com/dunia/oposisi-tuduh-hizbullah-nyatakan-perang-terhadap-rakyat-suriah.html

Presiden sementara Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi George Sabra. moroccoworldnews.com
25


Presiden sementara Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi, George Sabra, kemarin mengatakan Hizbullah telah menyatakan perang dengan rakyat Suriah. Pernyataan ini muncul setelah ada laporan menyebut kelompok pimpinan Hasan Nasrallah itu telah memimpin serangan terhadap pemberontak Suriah di jantung Provinsi Homs.

"Apa yang terjadi di Kota Qusary di Homs adalah pernyataan perang dari Hizbullah terhadap rakyat Suriah," kata Sabra saat menggelar jumpa pers di Kota Istanbul, Turki, tidak lama setelah dirinya terpilih menjadi pemimpin sementara oposisi Suriah, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Selasa (23/4)."Para pejuang Hizbullah telah melintasi perbatasan dan masuk ke kota-kota di Suriah."

Sabra juga mengatakan pembunuhan secara besar-besaran tanpa henti sedang terjadi di Suriah. Hal ini dia dapatkan setelah laporan terbaru menyebut setidaknya ada 500 orang tewas dalam sepekan terakhir yang dilakukan oleh pasukan pendukung Presiden Basyar al-Assad.

"Beberapa dari antara mereka tewas dengan cara yang sadis menggunakan pisau. Kami takut kejadian seperti ini akan terus berlangsung. Ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," ujar Sabra. "Kami akan memberikan fakta-fakta ini di depan komunitas internasional agar mereka melakukan apa yang harus dilakukan."
Koalisi Nasional Suriah kemarin menunjuk Sabra sebagai pengemban tugas untuk memimpin kelompok oposisi utama di Suriah itu, setelah pengunduran diri Ahmed Moaz al-Khatib.
"Sabra telah ditunjuk pada hari ini untuk menjalankan tugas dan fungsi dari pemimpin koalisi sampai pemilihan presiden baru dilaksanakan," ujar salah satu anggota konstituen Koalisi Nasional Suriah.
Sabra, yang sampai saat ini memimpin Dewan Nasional Suriah, akan menjadi pemimpin sementara kelompok koalisi sampai 10 Mei mendatang, di mana Koalisi Nasional Suriah dijadwalkan akan melakukan pemilihan pemimpin mereka.
[fas]

Pemberontak Wahabi yg Dibantu Yahudi dan Nasrani (AS dan Israel) Bunuh Syeikh Al Buthi

Al Buthi

Pelakunya adalah Pemberontak Wahabi yang memang memfitnah Syeikh Al Buthy sebagai sekutu Assad yang mereka tuding sebagai kafir. Jika mereka sudah memfitnah Al Buthy dengan lisan mereka, apa yang menghalangi mereka untuk membunuh Syeikh Al Buthy beserta 42 Muslim lainnya di Masjid di Suriah?

Dan Bom Bunuh Diri yang disebut Wahabi sebagai Bom Isytihadah tsb sudah jadi “Ciri Khas” Wahabi dalam melakukan berbagai pemboman di Indonesia, di masjid2 Syi’ah, serta berbagai rumah/kantor pejabat tinggi di Suriah seperti Menhan Suriah. Pelakunya itu MUJAHAT yang masuk NERAKA. Bukan Mujahid!

Kenapa Pemberontak Wahabi yang membunuh Syeikh Al Buthy?

Karena Syeikh Al Buthy mendukung Assad sebagaimana yang dituduh pemberontak Wahabi dan menolak pemberontak.

Tidak mungkin Assad membunuh Syeikh Al Buthy yang merupakan pendukungnya. Itu akan melemahkan Assad karena pendukungnya berkurang.

Dan Wahabi setelah memfitnah Syeikh Al Buthy sebagai pendukung Assad yang mereka anggap kafir tentu akan mengkafirkan Syeikh Al Buthy dan membunuhnya.

Di Indonesia tokoh Wahabi, Yazid Jawaz juga memfitnah ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Habib Rizieq SYihab sebagai Syi’ah Rafidhoh. Padahal menurut Wahabi Syi’ah Rafidhoh itu kafir dan halal untuk dibunuh. Karena Wahabi di Indonesia masih kecil dan lemah saja mereka tidak berani membunuh Habib Rizieq. Tapi kalau mereka sudah kuat dan dipersenjatai AS dan Israel yang jadi sekutunya, bisa jadi itu akan mereka lakukan.

Said Ramadhan Al-Buthi dan Bashar Al Assad
Said Ramadhan Al-Buthi dan Bashar Al Assad

Wahabi sudah banyak membunuh ummat Islam dan ulama di Thaif, Mekkah, dan Madinah saat pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab beserta Ibnu Su’ud (Pendiri Kerajaan Arab Saudi) dibantu dana dan senjata Zionis Inggris memerangi ummat Islam di jazirah Arab. Jadi membunuh ulama/ummat Islam sudah bukan hal baru lagi bagi mereka.
Membunuh Ulama sudah biasa dilakukan Wahabi. Misalnya Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i dan Syeikh Abdullah Az Zawawi: http://kabarislam.wordpress.com/2012/12/21/sejarah-wahabi-dan-muhammad-bin-abdul-wahhab/

Yusuf Qaradawi, Ulama Mesir yang tinggal di Qatar (Ikhwanul Muslimin) berfatwa untuk membunuh semua pendukung Assad dari tentara (Asykariyyiin), Sipil (Madaniyyin), Ulama, dan orang2 awam (Jahliyyin) di TV Al Jazeera yang disaksikan 60 juta pemirsa:

Artinya jika pengikut Qaradawi taqlid dan mentaati perintahnya, mereka harus membunuh Syekh Al Buthi, Imam Masjid Aleppo, dan Imam2 masjid lainnya yang mendukung Assad.
Namun meski bukti begitu jelas, pemberontak Wahhabi menolak hal itu. Mereka meminta kita tabayyun sambil memfitnah Assad sbg pembunuhnya tanpa perlu tabayyun lagi.

Menurut mereka, Al Buthi dibunuh Assad karena Al Buthi akan membelot. Padahal saat ditanya bagaimana jika target yg aka dibunuh sebenarnya akan membelot, Qaradhawi berkata, bagaimana kita tahu dia akan membelot?

Hal ini dibantah tegas oleh anak Syekh Al Buthi, Sumayya (52 tahun) yang mengatakan ayahnya tidak mungkin berubah posisi/membelot karena Bughot/Berontak itu adalah haram. Ayahnya tegas menentang Bughot/pemberontakan karena itu bertentangan dengan Syari’ah. Begitu diberitakan di Al Jazeera.

Daughter of Syria’s slain cleric speaks out

Sumayya al-Bouti says top pro-regime preacher who died in a Damascus blast supported Assad out of his conviction.
Basma Atassi Last Modified: 24 Mar 2013 15:36
Officials said the death of al-Bouti, a vocal supporter of President Bashar al-Assad, was a suicide attack [AFP]
It has become common for Syria’s opposition to blame the government of President Bashar al-Assad for explosions that hit residential areas in Damascus. The latest blast – in a mosque that killed the country’s top cleric, Sheikh Mohammad al-Bouti, his grandson, and 40 others – was no different.
Dissidents, including the head of the Syrian National Coalition, Mouaz al-Khatib, have alleged al-Bouti, a vocal supporter of Assad, was assassinated this week by regime insiders. Many believe he had been on the verge of announcing his defection.
Al-Bouti’s daughter, Sumayya, however, said that her father could not have changed his position. She said those who killed him were “unjust” and “criminal” – but refused to say who she thought might have been responsible for his death.
Thousands of people gathered in Damascus for the funeral of al-Bouti, killed in a mosque on Thursday [AFP]
“My father’s position is clear. It was based on conviction and religious texts. He believed one should not disobey [the ruler]. Disobeying may lead to strife and strife would lead to a cycle of more disorder,” she said, speaking from Saudi Arabia.
Since the early days of the uprising, which started in March 2011, al-Bouti had dismissed anti-government protesters as a bunch of mercenaries and saluted the Syrian Army in its fight against Assad’s enemies.
Sumayya said her father believed that changing reality required patience.
“He preached for patience and advocacy, rather than violence and bloodshed,” said the 52-year-old.
“In his writings, he spoke of many examples where change took place after a lot of patience, like in India.”
The cleric had influence over the affluent Sunni Muslims in Damascus and is credited for keeping them away from the violence of the protest movement.
‘Hypocrisy’
Al-Bouti was considered one of the most influential Muslim scholars in the world. He wrote more than sixty books on various Islamic issues, and was considered an important scholar of Sufism.
Following the rise of a Muslim Brotherhood insurgency in the 1970s and the brutal crackdown upon armed fighters and thousands of civilians by President Hafez al-Assad in the early 1980s, the regime encouraged a more moderate interpretation of Islam based on Sufism, which focuses on rites and rituals rather than political governance.
“He attended meetings with officials to advise them, not to be photographed with them”
- Sumayya al-Bouti
In the early 1990s, al-Bouti became a highly reputable figure among Syrians. He appeared on state television twice a week and his mosque lectures were attended by thousands.
But in 2011, many Syrians, including some of al-Bouti’s students, found Assad’s crackdown on protests too brutal to justify and accused the cleric of legitimising the regime’s military campaign against rebellious towns.
His daughter said al-Bouti was aware that some people saw his support for Assad as “hypocrisy” and “power hungry”.
“He disregarded them. He lived by the saying of Prophet Mohammad: ‘Whoever seeks Allah’s pleasure at the expense of men’s displeasure, will win Allah’s pleasure and Allah will cause men to be pleased with him.’”
“My father used to say to us: ‘If I really was after power and wealth then I would have pursued them when I was young. Not now, when I am 84.’”
Al-Bouti wanted reform. He believed it was his duty to advise both officials and the public at large.
“He attended meetings with officials to advise them, not to be photographed with them,” Sumayya said.
‘Scent of heaven’
In-depth coverage of escalating violence across Syria
When asked what he had advised Assad, she said: “He never told us. He is not the kind of person who would tell people about discussions that take place in private gatherings.”
Sumayya is al-Bouti’s only daughter. He has six sons. Several rumours have emerged on social media regarding possible defections within the al-Bouti family. Sumayya said there was no defection – “thank Allah”, she said – but there have been “discussions” within the family.

“My father used to be bothered by some of the discussions that took place. He had expected that doubt be raised by strangers but not by those close to him. He expected his children would have more knowledge than others,” she said.
What united the siblings, however, was a shared fear for the life of their father. Sumayya recalled her father saying that security guards would not make a difference, because everything happened “with Allah’s will and permission”.
“Whenever we felt scared, we felt the need to be around him and talk to him because he made us feel safe. He had so much tranquility in his heart.”
Al-Bouti told his children that what was happening in the country was a crisis that would eventually end, but he felt that the day of his death would come first.
“He told us to take care of each other,” said Sumayya. “He said that could smell the scent of heaven.”
Follow Basma Atassi on twitter: @Basma_
http://www.aljazeera.com/indepth/2013/03/201332414592444794.html

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Apakah tudingan Wahabi selaku pembunuh Syeikh Al Buthy itu fitnah?
Kalau ingin tahu siapa ahli Fitnah, mari kita baca hadits2 Nabi di bawah. Kita akan tahu siapa ahli Fitnah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi yang lahir di Najd bersama pengikutnya.
Silahkan pelajari dan ikuti hadits Nabi:
Nabi menyebut Najd, tempat kelahiran pendiri Wahabi sebagai tempat fitnah. Ini hadits-haditsnya. Silahkan baca dengan seksama. Bebaskan diri anda dari taqlid. Gunakan akal pikiran anda untuk memahaminya. Jika pun bertanya pada ulama, jangan tanya pada kelompok anda saja. Tanya pada Jumhur Ulama agar tak tersesat:

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656)

Berbagai hadits di atas tentang Najd sesungguhnya menunjukkan Najd itu adalah Najd yang dikenal umum baik di zaman Nabi mau pun sekarang. Bukan tempat lainnya sebagaimana ditafsirkan Ibnu Taimiyyah ada di Kufah. Apalagi Najd yang dikenal di zaman Nabi di hadits tersebut disebut ada di TIMUR kota Madinah dan tempat terbitnya matahari. Tak mungkin penduduk Madinah melihat matahari terbit dari arah Kufah. Najd sekarang pun memang selain di Timur Madinah juga merupakan dataran Tinggi (762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut). Di hadits Sunan Nasa’i no 2656 Nabi menyebutkan tempat miqat bagi penduduk Iraq dan penduduk Najd. Jelas Iraq dan Najd adalah 2 tempat yang berbeda.

Wahabi yang ahli bersilat lidah berkelit: “Wahabi itu sebutan bagi pengikut Abdul Wahhab bin Rustum yang lahir di tahun 211 Hijriyah kata mereka”
Siapa itu bin Rustum? Apa itu cuma rekaan/dongeng Wahabi?
Fitnah yg berupa banyak pembunuhan2 itu menurut Nabi muncul di akhir zaman. Menjelang kiamat. Jadi tak mungkin tahun 211 H muncul, sekarang di tahun 1434 H yang makin dekat kiamat justru pengikut Rustum hilang.
Tidak ada orang yg menyebut2 menurut Syeikh bin Rustum ini..ini..ini…
Yang ada adalah orang2 yang menyebut: “Menurut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi ini..ini…ini…” Jadi Wahabi yang dimaksud itu adalah pengikut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini. Karena merekalah yang banyak muncul di Indonesia. Mereka sering memfitnah Muslim lain sebagai Musuh Allah, Musuh Islam, Musuh Tauhid, dsb. Tapi mereka justru merasa DIFITNAH.
Lihat bagaimana pemberontak Wahabi dibantu oleh AS, Israel, dan Eropa (Yahudi dan Nasrani). Menurut Allah, cuma orang2 munafik yang dekat dgn Yahudi dan Nasrani. Apalagi kalau membantai sesama Muslim. Berita itu begitu Mutawatir dan Sahih bahkan sebagian dari Media Wahabi sendiri yaitu Arrahmah.com:
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]

Zionis AS dan Eropa (Yahudi dan Nasrani) dukung pemberontak Suriah dgn Senjata. Tak mungkin Yahudi dan Nasrani (AS, Israel, dan Eropa) mendukung Islam sebab firman Allah di Al Qur’an cukup jelas:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Syeikh Al Bouthi sudah dibunuh. Siapa lagi yg akan dibunuh?
Ahlul Bughot itu tidak Islami. Sudah 70 ribu orang tewas di Suriah. Mau berapa lagi? Terhadap Fir’aun yg kekafiran dan kezalimannya tiada tanding. Fir’aun itu paling kafir dan paling zhalim, Allah tidak memerintahkan Nabi Musa beserta pengikutnya untuk bughot kepada Fir’aun. Nabi saat ditindas kaum kafir Quraisy juga tidak disuruh bughot. Tapi mereka berdua disuruh HIJRAH. Itulah cara Islam. Apa firman Allah kepada Musa?
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaahaa 43-44]

Obama beri wewenang rahasia agar AS mendukung pemberontak Suriah – See more at: 

Perancis, Inggris Dukung UE Persenjatai Pemberontak Suriah  

AS dukung rencana suplai senjata bagi pemberontak Suriah  

AS Dukung Upaya Perancis-Inggris Kirim Senjata ke Pemberontak Suriah 

Perintah Rahasia Obama Dukung Pemberontak Suriah  

Kelompok Khawarij yg menghalalkan darah sesama Muslim ini juga punya Media di Indonesia. Lihat bagaimana mereka menyebut Syeikh Al Buthi, Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terkemuka beserta 42 Muslim yg jadi muridnya sbg pendukung Assad yang jelas2 mereka kafirkan dan mereka perangi: Para korban diyakini para pendukung Presiden Bashar al-Assad. Syaikh Muhammad Ramadhan Al-Buthi dikenala sebagai ulama Sunni sufi pro pemerintah. Sama seperti mufti besar Suriah, Syaikh Al-Buthi dalam ceramah-ceramahnya termasuk dalam khutbah Jumat selalu memuji-muji Bashar Al-Assad. Bahkan di awal-awal revolusi Suriah, jamaah yang kesal mendengar khutbah Jumatnya, mengusir dan menurunkan beliau dari mimbar masjid. http://islampos.com/syaikh-ramadhan-al-buthi-pembela-assad-tewas-oleh-serangan-bom-49043/

Lihat Media Wahabi Arrahmah.com yg menghalalkan darah Syeikh Al Buthi. Kalau mereka berani memerangi Al Buthi secara lisan, saat mereka mereka memegang bom, apa yg menghalangi mereka dari membunuh Al Buthi?: Puluhan ribu muslim sunni yang dibantai oleh Bashar Asad sama sekali tak pernah dilihat oleh Syaikh al-Buthi. Loyalitas mutlak Syaikh Al-Buthi kepada rezim Nushairiyah Suriah menempatkan Syaikh al-Buthi dalam posisi musuh utama rakyat muslim Suriah. Para aktivis revolusi sampai membuat sejumlah situs dan akun bernama “Revolusi Suriah Melawan al-Buthi”. – See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/03/22/ketua-front-islam-suriah-menanggapi-tewasnya-syaikh-al-buthi-di-damaskus.html#sthash.UUX0km2O.dpuf
Pemberontak Wahabi menghina Syeikh Al Buthi melalui Karikatur. Apa yang mencegah mereka untuk membunuh Al Buthi kemudian menyalahkan Assad yang didukung A Buthi?

al-buthi-tewas

Syaikh DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi Wafat
Friday, 22 March 2013 11:07 | Warta | 0 Comment | Read 15 Times
Tanbihun.com- Berita meninggalnya DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi segera menyebar seantero dunia. Seperti diberitakan beliau menjadi salah satu korban dari ledakan bom bunuh diri di Masjid Iman distrik Mezzeh Suriah. “Jumlah mereka yang tewas dalam serangan bunuh diri di Masjid Iman naik menjadi 42 tewas dengan 84 luka-luka,” sumber era muslim.
Berbeda dengan mayoritas ummat Islam yang berduka dengan wafatnya ulama, gerakan radikal di Suriah malah mengucapkan syukur atas meninggalnya Sa’id Ramadhan Al-Buthi,.
Allohumaghfirlahu, warhamhu, wa afihi, wa’fuanhu, wa akrim nuzulahu, wa wasi’ madholahu.. Aamiin Ya Robbana
http://tanbihun.com/sosbud/warta/syaikh-dr-said-ramadhan-al-buthi-wafat/#.UU0m1TJ4Omo

Media Hizbut Tahrir syabab.com ternyata memfitnah Syeikh Al Buthi dengan keji dan mengkambing-hitamkan Assad yang sebetulnya sahabat Syeikh Al Buthi:
Syabab.Com - Ulama besar yang selama dua tahun masa revolusi gigih membela rezim keji Nushairiyah Bashar Al-Assad, Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan tragis. Media-media rezim membuat berita kebohongan untuk meraih simpati dengan menyebut Al-Buthi tewas dalam serangan bom diri, Kamis, 21/03/2013.

Dari situ kita tahu HT yang Wahabi tetap sepaham dengan aliran Wahabi lainnya.
Ketahuan deh siapa yang membunuh Al Buthi.
Sebelum Al Buthi meninggal mereka hina.
Sesudah Al Buthi meninggal pun mereka tertawa kegirangan dan menghina Syekh Al Buthi.

Khawarij Wahabi lah pembunuhnya.
1 berita fitnah dari MEDIA WAHABI…:
Ulama sufi yang bermadzhab asy’ari ini –yang telah mencapai usia sangat tua lebih dari 80 tahun- memang sangat terkenal membenci kaum Ahlus Sunnah yang disebut sebagai wahabiyah.

Said Ramadhan Al Buthi :”Aku Berangan-angan Kalau Aku Senilai Salah Satu Jari Hasan Nashrullah di Hadapan Allah”

Bahkan ia nekat berdusta untuk menjatuhkan kaum yang dituduh sebagai wahabiyah…
Kedustaan beliau inipun diikuti oleh para pecintanya di Indonesia.

Ternyata sang Mufti Suria ini membela si kafir murtad Basyaar Asad habis-habisan…, bahkan mengajak untuk berjihad bersama Basyar Asad….
Sungguh sebuah kehinaan…..

http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/siapa-said-ramadhan-al-buthi.htm#.UU4k4rJ4Omo
Biasanya kalau ada orang meninggal, kita turut bersedih sambil mengutarakan hal yg baik thd mayat. Apalagi kalau ulama yg meninggal. Nah Wahabi Firanda di websitenya justru kegirangan dan menghina2 Syeikh Al Buthi yang tewas dibunuh: Bahkan ia nekat berdusta untuk menjatuhkan kaum yang dituduh sebagai wahabiyah…
Kedustaan beliau inipun diikuti oleh para pecintanya di tanah air kita Indonesia. Terlalu banyak orang sufi yang menuduh kaum wahabi sebagai khawarij dan pemberontak…suka mengkafirkan…, antek-antek penjajah…dan lain sebagainya.
Ternyata sang Mufti Suria ini membela Basyaar Asad habis-habisan…, bahkan mengajak untuk berjihad bersama Basyar Asad….

Firanda dengan Penuh Dendam Menyangka Do’a Albani Sudah Terkabul

Benarkah do’a jelek Albani kepada Al Bouti sudah terkabul sebagaimana yang dikhayalkan Firanda? Ternyata tidak, do’a Albani tidak dikabulkan Allah Swt, justru do’a tersebut dijawab Allah dengan akhir hayat Al Bouti yang KHUSNUL KHOTIMAH, di mana tanda-tandanya Al Bouti wafat dalam kematian syahid, amin….

Ada banyak tanda-tanda kematian syahid, dan sedikitnya ada dua tanda mati syahid bagi kewafatan Syaikh Al Bouti :

1- Syaikh Al Bouti meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh. 
Ibnu Abbas ra. berkata : “Pergi diwaktu pagi atau sora ke mesjid untuk mengajar ilmu agama lebih baik disisi Allah daripada jihad fisabilillah.”  (R. Abnu An Najar, Kitab Irsyadul ‘Ibad)
2- Syaikh Al Bouti wafat pada malam jum’at.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum’at atau pada malam jum’at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur” (HR. Ahmad).
Al-Habib Ali Al-Jufri seorang Ulama Aswaja internasional dari Yaman mengatakan: “Aku telah menelefonnya dua minggu sebelum kewafatannya dan beliau (Syeikh Dr. M. Said Ramadhan Al-Bouti) berkata pada akhir percakapan: “Tidak akan lama umurku melainkan beberapa hari lagi. Sesungguhnya aku sedang mencium bau surga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku.” (Habib Rizieq shihab).


Analis politik Randy Short menyebut milisi teroris Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) berada di bawah kendali CIA yang dirancang demi menghancurkan pemerintah Assad. “Israel dan AS sedang melakukan aksi terorisme di Suriah dengan bendera FSA,” tegas aktivis hak asasi manusia itu, seperti dilansir kantor berita IRNA.
Aksi yang dilakukan oleh FSA dalam dua tahun terakhir, tutur Short, menunjukkan ketidakpedulian milisi teroris itu terhadap nasib rakyat Suriah. Berdasarkan informasi Intelijen Jerman, 95 persen dari para milisi FSA yang beroperasi di Suriah merupakan warga asing. “Selain binaan CIA, FSA juga didukung oleh Wahhabisme Saudi yang bekerjasama dengan Zionisme dan imperialisme Eropa dan Amerika, untuk mempromosikan rasisme dan Islamophobia di dunia,” kata dia.
CNN melaporkan, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Martin Dempsey telah mematangkan skenario baru intervensi militer di Suriah. Washington baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menggelontorkan bantuan senilai 10 juta dolar dalam bentuk bantuan langsung kepada milisi teroris Suriah.
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/04/15/ml9mdi-analis-as-pemberontak-suriah-dibina-cia
On Tuesday, Syria’s main opposition group took a symbolic step forward when  al-Khatib formally took Syria’s seat at Arab League summit in Doha, Qatar.
Al-Khatib was frustrated with level of international aid for opposition
Al-Khatib says US needs to play bigger role in ending Syrian war
Al-Khatib defended presence of foreign fighters in Syria
Moaz al-Khatib has asked the US to protect rebel-held north using patriot missiles.
“We thank all the governments who supported us, but the role to be played by the United States is much bigger. I requested Mr Kerry to provide Patriot missiles to protect northern provinces,” said al-Khatib. “We have requested NATO to spare the lives of innocent civilians.
http://www.aljazeera.com/programmes/insidesyria/2013/03/20133316438324498.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar