Sabtu, 11 Mei 2013

ARAB-TURKI-AS-NATO-ISRAEL-PBB VS SURIAH .....??? ADA APA DIBALIK SEMUA ITU..?? >> Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry berharap, distribusi sistem pertahanan misil canggih milik Rusia ke Suriah akan dibatalkan. Kerry menilai, distribusi senjata itu akan mendestabilisasikan keamanan Israel. "Kami sudah mengatakan sebelumnya bahwa misil itu akan berpotensi merusak keamanan Negara Israel. Kami sudah menjelaskan, kami lebih senang jika Rusia tidak memasok senjata itu," ujar Kerry, seperti ketika berkunjung ke Italia, seperti dikutip Associated Press, Jumat (10/5/2013). Gedung Putih turut menghimbau Negeri Beruang Merah agar memutuskan pasokan senjata, termasuk di antaranya adalah sistem pertahanan misil ke Suriah. Menurutnya, senjata tambahan itu tidak akan mempercepat munculnya solusi politik.....>> Deputi Menteri Informasi Syria Khalaf Al-Moftah mengatakan kepada Al-Manar bahwa di segala sektor baik politik, birokrasi pemerintahan, kebudayaan, sosial, pendidikan dan militer, keutuhan pemerintahan tetap terjaga. Hal tersebut disebabkan oleh nasionalisme yang kuat ditambah kemauan bertahan hidup serta kesadaran bersama tentang apa yang sebenarnya terjadi, yaitu adanya konspirasi zionisme internasional untuk menghancurkan Syria sebagai bangsa yang berani melawan Israel. "Sadar dengan bahaya yang mengancam, rakyat Syria bersatu padu untuk melawan," kata Al-Muftah...>> “Rahasianya adalah struktur masyarakat Syria secara sosial politik, intelektual, budaya, dan idiologi, yang telah ditanamkan oleh mantan Presiden Hafez al Assad. Beliau membangun idiologi tentara yang melintasi batasan agama, sekte hingga partai politik dengan satu pandangan yang kuat, Dataran Golan, dan perlawanan di Lebanon, Palestina, Irak serta semua negara Arab yang wilayahnya diduduki musuh," kata Qabalan. >> Qabalan menyebutkan Syria saat ini tengah membayar "pajak kemuliaan". "Kami, baik pemerintah maupun rakyat, telah biasa untuk membayar. Jadi Syria tidak akan menyimpang dan akan semakin kuat mendukung gerakan perlawanan (anti zionisme) hingga tercapai tujuana terbesar yaitu membebaskan Palestina dan seluruh wilayah Arab yang diduduki zionis...>> Bashar al Assad meluncurkan serangkaian program reformasi politik seperti penyelenggaraan dialog-dialog politik di berbagai provinsi yang disusul dengan pengesahan konstitusi baru yang mengurangi kekuasaan partai berkuasa, penyelenggaraan pemilihan parlemen dan kepala-kepala daerah, penerapan UU kebebasan pers hingga pemberian amnesti kepada para pemberontak...>> Namun semua langkah tersebut tetap tidak memuaskan kekuatan-kekuatan politik yang tidak menginginkan Syria bergabung dengan Iran dan "perlawanan". Tekanan-tekanan politik pun terus ditimpakan terhadap Syria selain pengerahan ribuan teroris bersenjata ke dalam wilayah Syria: sanksi ekonomi dan politik Amerika dan Uni Eropa, penarikan duta-duta besar negara-negara Arab, hingga pembekuan Syria dari Liga Arab.>> Amerika, Israel, Saudi, Qatar, Turki, al Qaida adalah setali tiga uang, sama-sama berkonspirasi menimbulkan kekacauan di Suriah demi menggulingkan pemerintah dukungan rakyat pendukung perlawanan Palestina. ..>> Bukti keterlibatan itu terkuak saat pihak militer Suriah menangkap 700 orang bersenjata dan mereka adalah warga Arab, Israel, dan Amerika yang menggunakan senjata buatan Eropa . Tulis Media Rusia, Rabu (7/3) Al-manar juga melaporkan bahwa Pasukan keamanan Suriah mendapat bukti yang kuat atas keterlibatan militer Barat 'dalam konflik internal Suriah, ...>> Pada saat itu, Departemen Luar Negeri Amerika menggambarkan kelompok itu sebagai penyamaran baru Al Qaeda Irak, dan menyebutnya sebagai “upaya Al Qaeda Irak untuk membajak perjuangan rakyat Suriah untuk tujuan mereka sendiri”. Menurut Amerika, kepala Al Qaeda di Irak mengontrol baik Al Qaeda Irak maupun Al-Nusra” dan melaporkan bahwa di berbagai forum internet yang dipergunakan para jihadi ada indikasi bahwa ratusan militant telah melakukan perjalanan dari Irak ke Suriah untuk memerangi rejim Assad. ...>> awal konflik negara-negara Arab, Turki, negara-negara barat hingga utusan-utusan khusus PBB dan Liga Arab melakukan bujukan hingga ancaman bertubi-tubi kepada pemerintah Syria untuk melepaskan diri dari poros "perlawanan" anti-Israel yang dibentuk Syria bersama Iran, Hizbollah dan Hamas....>> ....Bujukan dan ancaman tersebut tidak digubris oleh Presiden Bashar al Assad meski akibatnya Syria harus mengalami "cobaan" yang sangat berat berupa mengalirnya ribuan teroris bersenjata berat ke negeri yang sebelumnya aman dan damai tersebut.....>> Al Qaeda Irak mengakui untuk pertama kalinya bahwa Front Al-Nusra, kelompok jihadi yang ikut memerangi rejim Bashar al-Assad adalah bagian dari jaringan kelompok itu yang berjuang menegakkan negara Islam Suriah. >> Brahimi mengatakan gagasan itu mengharuskan semua pihak di Suriah menghentikan permusuhan, melakukan dialog nasional, dan membentuk pemerintah transisi yang akan menyelenggarakan pemilu baru. Tetapi, gagasan tersebut tidak menyebut apa-apa mengenai nasib Presiden Bashar al-Assad, yang tampaknya telah memacetkan kemajuan pembicaraan...>> Pemberontak tidak mau berunding kecuali kalau Assad meletakkan jabatan dan keluar dari negara itu. Presiden Suriah itu terus memerangi apa yang disebutnya “teroris yang didukung pihak asing.” ....>> PRESIDEN BASYAR ASSAD HARUS HATI2 DENGAN TIPU MUSLIHAT.... AS-ARAB SAUDI DAN TURKI SERTA PARA PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL...YANG SELALU..BERMAIN CURANG...>> AWASLAH DENGAN TIPU2 ALA KELOMPOK MUAWIYAH YANG DAHULU MENIPU KELOMPOK ALI RA..DALAM PERUNDINGAN...>> WASPADALAH..DAN INGTALAH.... SELAMATKAN PERJUANGAN UMMAT ISLAM DAN KEADILAN..UNTUK BANGSA PALESTINA..DAN SELURUH RAKYAT..>> Terkait penjualan S-300, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov sama sekali tidak berkomentar. ....>>

Pemberontak Suriah Kian Tersudut

Suriah Tangkap Perwira Militer Arab Saudi dan Turki

Editor: | Selasa, 07 Agustus 2012 12:41 WIB, 278 hari yang lalu


Suriah Tangkap Perwira Militer Arab Saudi dan Turki - Pemberontak Suriah Kian Tersudut - Pemberontak Suriah yang masih bertahan dalam kota Aleppo
Pemberontak Suriah yang masih bertahan dalam kota Aleppo

LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Suriah mengatakan pasukannya telah menyerang pemberontak yang mengendalikan bagian komersial kota Aleppo. Bahkan pasukan Suriah telah menangkap beberapa perwira militer dari Arab Saudi dan Turki, Selasa (7/8/2012). Liputan televisi al Arabiya memperlihatkan penyergapan dilakukan secara mendadak.

Sebuah laporan sebelumnya oleh Reuters mengatakan kota Adana di Turki kini menjadi basis rahasia yang digunakan oleh beberapa negara untuk mengkoordinasikan bantuan militer ke pemberontak Suriah. Intelijen Suriah menemukan sejumlah bukti masuknya peralatan militer untuk para pemberontak yang muncul secara sporadis di beberapa kawasan di Suriah.


Koordinasi paling solid sampai sejauh ini masih dipegang oleh kelompok ‘Free Syrian Army’ (FSA). Beberapa pekan lalu, FSA sempat menggempur habis-habisan posisi pasukan Suriah. Mereka menggunakan peralatan berat, namun tank-tank dan pesawat pemerintah segera menyerang balik.

Kini, beberapa kota telah kembali dikuasai oleh pasukan pemerintah Suriah. Selain masih menjaga ketat Damaskus, pasukan Suriah juga terus berusaha merebut Aleppo. Tank dan pesawat Suriah menghajar sejumlah posisi pemberontak. alarb

MENGAPA SYRIA TAK KALAH JUGA? (3)

Perang ekonomi tidak kalah penting dibanding pertempuran bersenjata, setidaknya hal itu terjadi di Syria.
http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/05/mengapa-syria-tidak-kalah-juga-3.html#more

Pada masa-masa awal konflik negara-negara Arab, Turki, negara-negara barat hingga utusan-utusan khusus PBB dan Liga Arab melakukan bujukan hingga ancaman bertubi-tubi kepada pemerintah Syria untuk melepaskan diri dari poros "perlawanan" anti-Israel yang dibentuk Syria bersama Iran, Hizbollah dan Hamas. Bujukan dan ancaman tersebut tidak digubris oleh Presiden Bashar al Assad meski akibatnya Syria harus mengalami "cobaan" yang sangat berat berupa mengalirnya ribuan teroris bersenjata berat ke negeri yang sebelumnya aman dan damai tersebut.
Dalam pidato politik pertamanya setelah konflik bersenjata pecah, Presiden Bashar mengakui adanya beberapa kekurangan yang dilakukan pemerintah terutama dengan terlambatnya implementasi reformasi politik yang telah dirancang sejak tahun 2000. Bashar menyebutkan beberapa faktor yang membuat rencana tersebut terlambat diimplementasikan seperti invasi Amerika di Afghanistan dan Irak, pembunuhan mantan perdana menteri Lebanon Rafiq Hariri disusul dengan Revolusi Cedar di Lebanon yang memaksa penarikan ribuan tentara Syria dari Lebanon.

Untuk mengendalikan krisis, Bashar al Assad meluncurkan serangkaian program reformasi politik seperti penyelenggaraan dialog-dialog politik di berbagai provinsi yang disusul dengan pengesahan konstitusi baru yang mengurangi kekuasaan partai berkuasa, penyelenggaraan pemilihan parlemen dan kepala-kepala daerah, penerapan UU kebebasan pers hingga pemberian amnesti kepada para pemberontak.

Namun semua langkah tersebut tetap tidak memuaskan kekuatan-kekuatan politik yang tidak menginginkan Syria bergabung dengan Iran dan "perlawanan". Tekanan-tekanan politik pun terus ditimpakan terhadap Syria selain pengerahan ribuan teroris bersenjata ke dalam wilayah Syria: sanksi ekonomi dan politik Amerika dan Uni Eropa, penarikan duta-duta besar negara-negara Arab, hingga pembekuan Syria dari Liga Arab.

Saudi dan Qatar juga banyak menggelontorkan dananya untuk membujuk para pejabat militer dan birokrat sipil Syria untuk membelot. Dalam beberapa kasus hal ini mampu menggoyahkan keteguhan para pejabat Syria hingga terjadi beberapa kasus pembelotan pejabat-pajabat dan personil militer Syria. Namun secara keseluruhan jumlahnya tidak terlalu signifikan untuk meruntuhkan pemerintahan Syria.

Deputi Menteri Informasi Syria Khalaf Al-Moftah mengatakan kepada Al-Manar bahwa di segala sektor baik politik, birokrasi pemerintahan, kebudayaan, sosial, pendidikan dan militer, keutuhan pemerintahan tetap terjaga. Hal tersebut disebabkan oleh nasionalisme yang kuat ditambah kemauan bertahan hidup serta kesadaran bersama tentang apa yang sebenarnya terjadi, yaitu adanya konspirasi zionisme internasional untuk menghancurkan Syria sebagai bangsa yang berani melawan Israel.

"Sadar dengan bahaya yang mengancam, rakyat Syria bersatu padu untuk melawan," kata Al-Muftah


Salah satu unsur bangsa Syria yang mampu bertahan dari serangan konspirasi zionis adalah korps diplomat Syria yang menjadi representasi negara Syria di luar negeri. Dubes Syria untuk Turki Nidal Qabalan mengungkapkan kepada Al-Manar alasan-alasan yang membuat Syria mampu bertahan dari konspirasi global sementara pemerintah negara-negara tetangganya seperti Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman berjatuhan dalam hitungan minggu atau bulan.


“Rahasianya adalah struktur masyarakat Syria secara sosial politik, intelektual, budaya, dan idiologi, yang telah ditanamkan oleh mantan Presiden Hafez al Assad. Beliau membangun idiologi tentara yang melintasi batasan agama, sekte hingga partai politik dengan satu pandangan yang kuat, Dataran Golan, dan perlawanan di Lebanon, Palestina, Irak serta semua negara Arab yang wilayahnya diduduki musuh," kata Qabalan.

Qabalan menyebutkan Syria saat ini tengah membayar "pajak kemuliaan". "Kami, baik pemerintah maupun rakyat, telah biasa untuk membayar. Jadi Syria tidak akan menyimpang dan akan semakin kuat mendukung gerakan perlawanan (anti zionisme) hingga tercapai tujuana terbesar yaitu membebaskan Palestina dan seluruh wilayah Arab yang diduduki zionis.


TEKANAN DAN NASIONALISME

Para diplomat Syria di luar negeri mengungkapkan besarnya tekanan yang mereka hadapi untuk melakukan pembelotan. Selain ancaman, mereka juga mendapat bujukan dengan imbalan sejumlah besar uang serta jabatan yang menggiurkan.

"Di seluruh dunia Syria memiliki 65 kedutaan dan kanto-kantor misi internasional dan sekitar 60 konsulat. Korps diplomatik adalah sangat kompak, perpecahan bisa diabaikan di antara 1.500 pejabat diplomatik yang ada," kata Qabalan.

Pimpinan Redaksi koran Al-Thawra Ali Qassem mengatakan kepada Al-Manar bahwa nasionalisme rakyat Syria tidak bisa dinegosiakan, dan hal inilah yang membuat Syria selama ini tetap bertahan.

"Rasa nasionalisme rakyat Syria berakar pada kebudayaan kuno Syria yang telah berusia 7 ribu tahun. Seluruh rakyat Syria terikat dengan tanah airnya serta dengan tujuan nasional bersama. Kekompakan korps diplatik Syria merupakan hal yang wajar, terutama saat terjadinya berbagai intimidasi, dan tekanan pada masa-masa awal krisis," kata Qassem.

Menurut Qassem, tekanan terhadap korps diplomat Syria terbagi melalui tiga bentuk:

Pertama  : intimidasi, kebohongan dan pembesar-besaran isu.
Kedua     : pemerasan, ancaman, hingga ancaman fisik.
Ketiga     : fabrikasi atau rekayasa.

Qassem menyebutkan bahwa keteguhan para diplomat Syria merupakan cerminan dari keteguhan rakyat Syria yang membuat konspirasi hebat selama 2 tahun lebih tidak mampu mengalahkan Syria.

“Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa korps diplomatik Syria telah terlatih baik dan memiliki kualitas dan telah lama terlibat dalam pertempuran diplomatik di tingkat Arab dan dunia dalam berbagai bentuk,” tambah Qassem.


Dunia

Al Qaeda Akui Jihad di Suriah

Al Qaeda Irak mengakui untuk pertama kalinya bahwa Front Al-Nusra, kelompok jihadi yang ikut memerangi rejim Bashar al-Assad adalah bagian dari jaringan kelompok itu yang berjuang menegakkan negara Islam Suriah. 

Pengakuan itu disampaikan pemimpin front Al Qaeda di Irak Abu Bakr al-Baghdadi, melalui sebuah rekaman pesan yang diposting di berbagai forum jihad dan sekaligus memastikan kecurigaan yang selama ini meluas mengenai kaitan diantara kedua kelompok tersebut.

“Ini saatnya menyatakan kepada Levant (nama lama untuk wilayah Libanon, Israel dan Suriah-red) dan dunia bahwa Front Al-Nusra adalah cabang dari Negara Islam Irak,” kata Baghdadi dalam pesan tersebut.


Negara Islam
Kelompok itu menyerukan dan ingin menggabungkan ide Negara Islam di Irak dan wilayah Levant.

Kelompok di Baghdad itu menyatakan bahwa kelompoknya akan beraliansi dengan berbagai kelompok lain “dengan syarat bahwa negara dan rakyat yang bersangkutan bersedia berada di bawah pemerintahan sebagaimana diatur oleh Allah“. 

Front Al-Nusra membangun reputasi buruk atas berbagai aksi bom bunuh diri di Suriah dan telah berkembang menjadi kekuatan tempur yang tangguh dalam memimpin serangan di medan tempur seluruh negeri.

Kecurigaan bahwa organisasi ini berafiliasi kepada Al Qaeda di Irak membuat Front Al-Nusra diberi label organisasi teroris oleh Washington pada Desember tahun lalu.

Tujuan Jihad
Pada saat itu, Departemen Luar Negeri Amerika menggambarkan kelompok itu sebagai penyamaran baru Al Qaeda Irak, dan menyebutnya sebagai “upaya Al Qaeda Irak untuk membajak perjuangan rakyat Suriah untuk tujuan mereka sendiri”. 

Menurut Amerika, kepala Al Qaeda di Irak mengontrol baik Al Qaeda Irak maupun Al-Nusra” dan melaporkan bahwa di berbagai forum internet yang dipergunakan para jihadi ada indikasi bahwa ratusan militant telah melakukan perjalanan dari Irak ke Suriah untuk memerangi rejim Assad. 

Konflik Suriah kini memasuki tahun ketiga, dan dipercaya telah menyebabkan lebih dari 70 ribu orang tewas, sejak meletus pada Maret 2011.
AB/ HP (afp/rtr/dpa)

DW.DE

Krisis Suriah :
http://abna.ir/data.asp?lang=12&Id=305832
Konspirasi Busuk Saudi Arabia, Qatar dan Antek-antek Zionis

Amerika, Israel, Saudi, Qatar, Turki, al Qaida adalah setali tiga uang, sama-sama berkonspirasi menimbulkan kekacauan di Suriah demi menggulingkan pemerintah dukungan rakyat pendukung perlawanan Palestina. 

 Konspirasi Busuk Saudi Arabia, Qatar dan Antek-antek Zionis Menarik mencermati perkataan wakil Menteri Luar Negeri Iran urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir-Abdollahian, dalam sebuah wawancara (8/3) yang dimuat di Islam Times beberapa hari lalu, ketika itu ia mengatakan bahwa Iran tidak akan pernah mengizinkan Amerika Serikat mengambil keuntungan dari krisis yang melanda Suriah. Iran juga tidak akan membiarkan AS mengganggu keseimbangan kekuasaan di wilayah tersebut.

Fokus tulisan ini bukan untuk mendedah hasil wawancara itu (diperlukan tulisan tersendiri untuk membahasnya), tapi akan membahas krisis bikinan paksa yang terjadi di suriah dan konspirasi busuk yang sebenarnya terjadi untuk melengserkan paksa pemerintahan al Asad. Dengan perlahan, terutama setelah semua upaya menggulingkan pemerintahan suriah dukungan rakyat gagal dilakukan, krisis Suriah membuka mata dunia dan mempertontonkan kebusukan musuh-musuh suriah sebenarnya.

1. Amerika, Israel dan NATO
Hampir semua kerusuhan, peperangan dan teror yang terjadi khususnya di Timur Tengah, dalangnya adalah Amerika-Israel dengan menggunakan NATO sebagai ujung tombaknya. Arab spring yang terjadi di dunia Arab sebenarnya konspirasi mereka meskipun tidak semuanya sejalan dengan skenario yang sudah mereka persiapkan. Dikarenakan bangkitnya kesadaran rakyat dan rindunya mereka dengan kebebasan dan kemulian Islam yang selama ini terpendam dalam kubangan lumpur dosa para pemimpin boneka Amerika dan budak Israel.

Suriah adalah diantara negara yang berusaha dikudeta secara halus dengan cara menggunakan segelintir oposisi binaan CIA yang sudah dipersiapkan, baik dana maupun persenjataan. Perusuh-perusuh binaan ini adalah para teroris yang tidak segan membunuh sipil dan anak-anak kecil sekalipun. Barat menamakan mereka “aktivis”.

Amerika – Israel begitu bernafsu menggulingkan pemerintahan sah Damaskus dan menggunakan segalam macam cara termasuk veto PBB, dikarenakan dukungan penuh dan tanpa henti Suriah terhadap trio muqowamah; Iran, Hamas dan Hizbullah. Inilah inti sebenarnya kengotototan Washington. Di samping itu, karena Damaskus begitu mesra dengan musuh Amerika, Rusia dan Cina. Sehingga banyak analis perang mengatakan kalau krisis suriah sebenarnya perang antara Amerika vs Rusia Cina. Bahkan kalau seandainya perang jadi digelar akan terjadi perang dunia ketiga.

Maka tidak heran, jika Amerika-Israel tidak segegabah menurunkan NATO. Sebagaimana kasus Libya yang secara langsung dan prontal mengobarkan perang. Disamping sudah kehabisan modal juga terlalu beresiko kalau mengobarkan perang baru, maka konspirasi Amerika-Israel dengan mempersenjatai teroris dan NATO secara tidak langsung.
Dalam sebuah operasi yang dilakukan pemerintah Suriah di kota Homs terungkap bahwa agen Mossad, CIA dan Blackwater terlibat dalam kekerasan militer di Suriah.

Bukti keterlibatan itu terkuak saat pihak militer Suriah menangkap 700 orang bersenjata dan mereka adalah warga Arab, Israel, dan Amerika yang menggunakan senjata buatan Eropa . Tulis Media Rusia, Rabu (7/3) Al-manar juga melaporkan bahwa Pasukan keamanan Suriah mendapat bukti yang kuat atas keterlibatan militer Barat 'dalam konflik internal Suriah,


Ahli urusan strategis Suriah, Salim Harba mengatakan, "Orang-orang bersenjata yang ditangkap adalah warga Negara Arab, Irak, dan Libanon. Di antara mereka adalah juga agen intelijen Qatar dan non-Arab pejuang dari Afghanistan, Turki, dan beberapa negara Eropa seperti Perancis, "

Harba juga mengatakan bahwa kantor koordinasi opoisi yang berada di Qatar adalah disponsori oleh Amerika. Selain itu, Kebocoran informasi yang diperolah dari perusahaan intelijen Stratfor juga menunjukkan tentara NATO yang menyamar sudah berada di berbagai tempat di Suriah sejak lama.

2. Liga Arab, Saudi, Qatar dan Turki
Dalam krisis yang terjadi di Suriah, Liga Arab sudah kehilangan legitimasinya. Sejatinya, Suriah yang nota bene merupakan anggota Liga Arab dan berhak mendapat perlindungan, justru menjadi korban kebijakan pengayomnya. Dari awal sejak krisis Suriah terjadi, negara-negara liga Arab justru mengembargo pemerintahan Asad dan menguncilkan Damaskus. Dan liga Arab pulalah yang memaksa krisis Suriah menjadi urusan internasional dengan melibatkan PBB.

Liga Arab menjadi kaki tangan dan corong Amerika-Israel, maka Saudi dan Qatarlah yang mewakili kepentingan mereka, karena mereka punya kepentingan dan urusan yang sama. Disamping unjuk gigi supaya dianggap sebagai negara berpengaruh di kawasan, Saudi dan Qatar juga berupaya menjegal Iran yang dianggap mempunyai pengararuh besar di kawasan.

Menyingkirkan peran Iran terkait krisis Suriah adalah hal penting buat mereka.

Aliran dana dan persenjataan kepada oposisi dan teroris bayaran dari Saudi dan Qatar mengalir deras, dengan melibatkan Turki diperbatasan negaranya. Pelatihan-pelatihan perang kepada oposisi oleh CIA jauh-jauh hari juga sudah dilakukan di Turki.

Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim al-Thani dalam pertemuan para menlu Liga Arab di Kairo, Sabtu, 10/03/, begitu bernafsu supaya secepatnya menyerang Suriah.

"Saatnya tiba untuk melaksanakan usul mengirim pasukan Arab dan internasional ke Suriah," kata Sheikh .

Menteri Informasi Suriah, Adnan Mahmud mengatakan, Arab Saudi dan Qatar mendukung "geng teroris bersenjata" beroperasi di Suriah dan mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas insiden pembunuhan di negara ini.

"Beberapa negara mendukung geng teroris bersenjata, seperti Arab Saudi dan Qatar, teroris adalah kaki tangan mereka, dan menargetkan warga Suriah ... mereka harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah," kata Mahmoud.

Sheikh Mohammad Alaedin Madhi (16/3), seorang ulama senior Mesir mengatakan, Arab Saudi dan Qatar terang-terangan campur tangan dalam urusan internal negara-negara Muslim lainnya dan menyebut dua negara tersebut sebagai 'pelayan Israel' karena sedang melaksanakan rencana Israel-AS di Suriah.

"Pertama, apakah ada demokrasi di Qatar dan Arab Saudi? Saya tidak berpikir begitu. Mereka sudah mengganggu di Libya. Mereka juga sudah membunuh orang ratusan kali lebih dari yang Gaddafi lakukan di Libya. Mereka (Qatar dan Saudi) tidak ada hubungannya dengan Islam." Kata ulama tersebut dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Press TV di ibukota Mesir, Kairo.

Bahkan utusan PBB-Liga Arab, Kofi Annan ketika berusaha mencari solusi damai atas kerusuhan Suriah dengan cara mendesak supaya menghentikan kekerasan, justru Kelompok-kelompok bersenjata di Suriah binaan Saudi dan Qatar menolak proposal itu.


Mantan Sekjen PBB ini memperingatkan setiap intervensi militer di Suriah dan setiap kesalahan perhitungan tentang Suriah akan berdampak mengerikan bagi kawasan. Dan konspirasi busuk yang berdampak mengerikan di Suriah saat ini justru sedang berlangsung.
3. Al Jazira, Al Arabiya Dan Media-Media Corong Amerika-Israel
Untuk memuluskan konspirasi yang mereka rancang di Suriah, Amerika, Israel, Turki, Saudi dan Qatar menggunakan media-media mainstream sebagai corong kebijakan busuk mereka. Media yang sejatinya sebagai penerang dan alat warta kebenaran dan berkeadilan, ditangan musuh-musuh Suriah menjadi senjata mematikan untuk mempengaruhi opini publik dunia. Media masa mereka menjadi alat pembenaran arogansi. Barat mengedepankan jargon kebebasan bereksperi, tapi itu hanya untuk musuh mereka dan demi kepentingan mereka sendiri. Sangat disayangkan, media-media nasional di Indonesia menelan mentah-mentah pemberitaan bohong itu (baca editorial Islam Times, Kompas Ngawur (Lagi) Soal Pemberitaan Suriah)

Pekerja media di Al Arabiya milik Saudi Arabia dan Al Jazeera milik Qatar, karena kemanusian dan independensinya terusik ketika harus memanifulasi pemberitaan yang bertentangan dengan fakta, ahirnya ramai-ramai mengundurkan diri (baca editorial Islam Times, Al-Jazeera akan Gulung Tikar?) dan berita Tertangkap Basah: CNN Palsukan Video Kerusuhan Suriah)

Duta Suriah untuk PBB Bashar al-Jaafari mengatakan, seorang wartawan dari Kantor Berita Qatar, jaringan TV Al-Jazeera, di London, memberikan catatan kepadanya dan mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Qatar menginstruksikan kepada jaringan Al-Jazeera untuk meningkatkan jam tayang liputan media Al-Jazera terkait kerusuhan pesanan di Suriah, sebelum pertemuan Dewan Keamanan pada tanggal 4 Februari lalu.

Ia pun mengkritik saluran televisi berita, Al Arabiya Saudi dan Al Jazeera milik Qatar, yang didirikan semata untuk "melayani kepentingan Israel."

4. Wahabi, al Qoida dan Fatwa Ulama Saudi
Kospirasi yang lebih busuk lagi dalam krisis politik bikinan di Suriah adalah menyatunya antara Fatwa ulama Saudi untuk membenarkan tindakan pemerintahannya mengintervensi Suriah dan seruan pemimpin al Qoida pengganti Osama kepada para pengikutnya untuk mendukung pemberontak dan kesemuanya sejalan dengan keinginan Amerika dan Israel.

Mufti Agung Arab Saudi dan Ketua Ulama Senior Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Sheikh, berfatwa bahwa mendukung Tentara pemberontak di Suriah dan membuatnya lebih kuat seiring dengan semakin lemahnya rezim Suriah adalah bentuk jihad di jalan Allah.

Mufti Wahabi panutan kelompok takfiri tersebut mengatakan bahwa segala hal yang bisa memperkuat Tentara Bebas Suriah dan memperlemah rezim Suriah diperbolehkan oleh Syariah (hukum agama).


"Upaya melemahkan rezim Suriah, adalah cara berjuang untuk Allah" tandasnya.

Pemimpin Al-Qaedah, Ayman Al- Zawahiri dalam sebuah rekaman video berdurasi delapan menit dengan judul Onwards, Lions of Syria di sebuah situs, menyerukan para pengikutnya yang berada di Turki, Irak, Yordania dan Libanon untuk mendukung para pemberontak Suriah.

“Rakyat Suriah masih terus berduka setiap hari, sedangkan Bashar al-Assad tidak kunjung tergoyahkan," ujar al-Zawahiri seperti dikutip Reuters Minggu, (12/2).

Dia pun menyeru pengikut Wahabi supaya membantu saudara-saudaranya di Suriah dengan semua yang mereka bisa, hidupnya, uangnya, serta informasi yang dimiliki.

Sebagaimana diberitakan, Deputi kementerian dalam negeri Irak mengatakan kepada AFP, hari Sabtu (11/02) bahwa orang-orang al Qoida dengan senjata lengkap bergerak dari Irak menuju Suriah. Di Irak mereka meneror orang-orang Syiah dan menimbulkan kekacauan, setelah sebagian tentara Amerika ditarik dari Irak, sekarang di Suriah memerangi pasukan keamanan Suriah demi melancarkan agenda Amerika-Israel, saudi-Qatar.

Disadari atau sengaja, konspirasi ulama Wahabi dan seruan pemimpin al Qaida itu sebenarnya dalam rangka melemahkan perjuangan rakyat Palestina dan demi mendukung eksistensi Zionis di kawasan. Bohong belaka mereka memerangi Amerika dan Israel sedangkan yang memperkuat perlawanan di Palestina adalah Basar al Asad di Suriah.

Amerika, Israel, Saudi, Qatar, Turki, al Qaida adalah setali tiga uang, sama-sama berkonspirasi menimbulkan kekacauan di Suriah demi menggulingkan pemerintah dukungan rakyat pendukung perlawanan Palestina.

Siapa yang akan menang? Kemenangan milik Suriah yang bertahan dan berani melawan dengan dukungan segenap rakyatnya. [IslamTimes/sa]

 


Suriah Sambut Baik Setiap Gagasan untuk Pembicaraan Damai

Pemerintah Suriah menyambut baik setiap gagasan yang mengarah ke pembicaraan perdamaian untuk mengakhiri pertumpahan darah di negara itu.
Utusan Perdamaian PBB-Liga Arab, Lakhdar Brahimi (Foto: dok).
Utusan Perdamaian PBB-Liga Arab, Lakhdar Brahimi (Foto: dok).

Pemerintah Suriah yang sedang menghadapi tekanan dari berbagai pihak menyambut baik setiap gagasan yang mengarah ke pembicaraan perdamaian untuk mengakhiri pertumpahan darah di negara itu.

Perdana Menteri Wael al-Halaqi mengatakan demikian dalam menanggapi utusan PBB-Liga Arab Lakhdar Brahimi, yang mengatakan hari Minggu bahwa ia mempunyai  gagasan yang dapat diterima negara-negara kuat dunia.

Brahimi mengatakan gagasan itu mengharuskan semua pihak di Suriah menghentikan permusuhan, melakukan dialog nasional, dan membentuk pemerintah transisi yang akan menyelenggarakan  pemilu baru. Tetapi, gagasan tersebut tidak menyebut apa-apa mengenai  nasib Presiden Bashar al-Assad, yang tampaknya telah memacetkan kemajuan pembicaraan.

Pemberontak tidak mau berunding kecuali kalau Assad meletakkan jabatan dan keluar dari negara itu. Presiden Suriah itu terus memerangi  apa yang disebutnya “teroris yang didukung pihak asing.” 

AS: Transfer Misil Rusia ke Suriah Bahayakan Israel

Jum'at, 10 Mei 2013 09:41 wib
Aulia Akbar - Okezone
Foto : Misil S-300 (RIA Novosti) 
Foto : Misil S-300 (RIA Novosti)
 
ROMA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry berharap, distribusi sistem pertahanan misil canggih milik Rusia ke Suriah akan dibatalkan. Kerry menilai, distribusi senjata itu akan mendestabilisasikan keamanan Israel.

"Kami sudah mengatakan sebelumnya bahwa misil itu akan berpotensi merusak keamanan Negara Israel. Kami sudah menjelaskan, kami lebih senang jika Rusia tidak memasok senjata itu," ujar Kerry, seperti ketika berkunjung ke Italia, seperti dikutip Associated Press, Jumat (10/5/2013).

Gedung Putih turut menghimbau Negeri Beruang Merah agar memutuskan pasokan senjata, termasuk di antaranya adalah sistem pertahanan misil ke Suriah. Menurutnya, senjata tambahan itu tidak akan mempercepat munculnya solusi politik.


Israel sebelumnya sudah meminta Rusia agar menunda penjualan itu. Selain bisa mengancam Israel, eksistensi perisai misil Rusia yang canggih itu juga bisa mempersulit AS menerapkan zona larangan terbang di Suriah.

Sampai saat ini, Rusia pun jarang berkomentar mengenai transfer senjata untuk Suriah. Ketika Kerry berkunjung ke Moskow, Kerry tampaknya tidak membahas hal itu bersama Presiden Vladimir Putin.

Senjata yang akan dijual ke Suriah adalah sistem pertahanan misil S-300. Sebelum krisis Suriah berlangsung, Negeri Yahudi memang sudah mewanti-wanti pengiriman senjata tersebut.

Pada dasarnya, akuisisi S-300 hanya ditujukan untuk memperbaharui senjata pertahanan misil Suriah yang sudah usang. Namun proses transaksi itu semakin dikecam, terutama setelah jumlah korban yang tewas dalam perang saudara Suriah semakin meningkat.

Suratkabar Wall Street Journal melaporkan, kontrak penjualan itu mencapai ratusan juta dolar AS. Suriah akan mendapatkan enam buah peluncur dan 144 misil yang siap dioperasikan. Persenjataan itu akan sampai ke Suriah dalam tiga bulan ke depan.
(AUL)

DUNIA

Rusia Tetap Jual Misil ke Suriah

Sabtu, 11 Mei 2013 15:20 wib
Aulia Akbar - Okezone
Foto : Misil S-300 (RIA Novosti)  
Foto : Misil S-300 (RIA Novosti)
BEIRUT - Rusia mempertahankan keputusannya untuk menjual sistem pertahanan udara ke Pemerintah Suriah. Namun belum jelas, apakah Negeri Beruang Merah itu akan menjual misil S-300 yang ditakuti oleh Israel.

Terkait penjualan S-300, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov sama sekali tidak berkomentar. Banyak pihak yang cukup yakin bahwa penjualan S-300 berada di luar kontrak perdagangan senjata Rusia dan Suriah. Demikian seperti diberitakan Associated Press, Sabtu (11/5/2013).

"Rusia sudah menjual persenjataan itu dalam waktu yang cukup lama, kami juga sudah menandatangi kontrak dan menyelesaikan proses pengiriman sistem pertahanan misil itu," ujar Lavrov.

Israel sebelumnya sudah membujuk Rusia agar membatalkan penjualan misil S-300 ke Suriah karena senjata tersebut dinilai bisa mendestabilisasikan keamanan Negeri Yahudi. Amerika Serikat (AS) pun khawatir zona larangan terbang di Suriah akan semakin sulit diberlakukan bila Suriah memiliki senjata tersebut.

Seperti diketahui, AS dan Rusia mulai berbincang pada pekan ini untuk menyamakan persepsi dan mencari solusi baru untuk Suriah. Langkah itu cukup disambut oleh Pemerintah Suriah, maupun fraksi oposisi.

Salah satu masalah yang akan dibahas dalam dialog itu, antara lain, mencari cara dalam membangun pemerintahan transisi di Suriah. Namun mereka belum menentukan, kapan pemerintahan itu dibentuk.

Sejauh ini, fraksi oposisi memberi prasyarat untuk digelarnya dialog dengan Pemerintah Suriah. Mereka hanya sepakat berbincang bila Presiden Bashar al-Assad dan kroninya turun dari jabatan.

(AUL)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar