Rabu, 19 Juni 2013

...TURKI-ERDOGAN-DAN GERAKAN MASSA.....INGIN MENUMBANGKAN ERDOGAN..???>> ...... ADA APA DENGAN ERDOGAN-SEBAGAI TOKOH SENIOR AKP DAN IKHWANUL MUSLIMIN....???>> MENGAPA IA KEMUDIAN JADI KEKECEWAAN RAKYAT...YANG SEMULA SANGAT MENGHARAPKANNYA...??>> MENGAPA ERDOGAN...SEKARANG..??...>> "Saat malam tiba, para demonstran dengan menggunakan helm pekerja bangunan dan masker bergerak menuju Gezi Park mencoba menduduki kembali tempat itu, namun dipukul mundur, berkali-kali, dengan lebih banyak gas air mata ditembakkan polisi. Penduduk lokal membuka jendela-jendela dan melemparkan pot serta panci membantu para demonstran. Satu regu polisi mengejar sekelompok demonstran ke arah Golden Horn, menangkapi beberapa di antara mereka yang bersembunyi di belakangnya. Istanbul, dan seluruh Turki, diliputi oleh kekacauan.">>> Dalam kondisi seperti ini Erdogan hanya bisa berharap pada kesetiaan tentara, karena bahkan kesetiaan polisi tidak akan memungkinkan mereka "berkelahi" terlalu lama melawan para demonstran. Demikian pula Erdogan tidak mungkin akan mengerahkan pendukungnya ke jalanan yang justru membuat kondisi lebih runyam an kredibilitasnya makin merosot. Namun tentara sudah lama menaruh dendam pada Erdogan yang telah menyeret sejumlah besar perwira ke penjara dengan tuduhan makar, selain perbedaan pandangan tentang dasar negara, sekuler bagi tentara dan Islam liberal bagi Erdogan. ..>> Dan saat tentara memutuskan untuk tidak lagi memihak Erdogan, nasibnya berakhir seperti Hoesni Mubarak. Jika dalam waktu seminggu mendatang para demonstran mampu mempertahankan konsistensi aksi-aksi demonstrasi, apalagi jika semakin meluas dan membesar, maka Erdogan bisa dipastikan bakal "habis". Presiden Gul yang bersama para "jemaat" lainnya termasuk media Zaman kini berseberangan dengan Erdogan, bakal mengeluarkan dekrit pembubaran pemerintahan Erdogan dan menyelenggarakan pemilu baru tanpa Erdogan atau dengan AKP yang sudah dibersihkan dari para pendukung Erdogan.>> Para demonstran melihat saat ini adalah momentum yang tepat untuk menjatuhkan Erdogan, orang yang mereka benci tidak hanya karena kediktatorannya, namun sebagian lagi karena sikap hipokrispinya, sikap megalomanianya, bagi sebagian orang lainnya adalah karena simbol-simbol Islam yang dibawanya, dan bagi 20% penduduk Turki penganut sekte Alawi adalah karena sikap agresifnya terhadap Syria. Aksi-aksi demonstrasi akan semakin meluas....>> .. Memang slogan "Tayyip istifa!" (red - Tayyip hengkang!) tampak di mana-mana dan menggambarkan kemarahan rakyat. Tapi tidak semua orang ingin Erdogan mengundurkan diri. Terutama warga Kurdi khawatir, perdamaian akan terancam, jika pemerintahan berganti. Begitu dijelaskan Erhan Calahan, anggota partai Kurdi BDP dalam wawancara dengan Deutsche Welle. Sementara wartawan dan penulis Cengiz Aktar menukas, pemerintah Turki harus mengerti, bahwa demokrasi bukan kotak yang bisa ditutup kapan saja mereka mau. Demokrasi adalah sesuatu yang hidup, dan ia berharap sekarang pemerintah belajar...>> erikat Buruh utama Turki, Selasa (04/06/13), bergabung dengan kelompok anti pemerintah, setelah bentrokan berlanjut sepanjang malam antara polisi dan pengunjuk rasa di Istanbul dan Ankara. Konfederasi Serikat Buruh Publik di Turki, KESK menyerukan dua hari mogok sebagai protes terhadap kekerasan polisi terhadap demonstran. Di situsnya, KESK menulis, "Tindak teror negara terhadap demonstrasi yang damai semakin mengancam keamanan masyarakat“. Hingga kini sudah dua orang yang tewas dalam bentrokan yang terjadi..>>


Dunia

http://www.dw.de/protes-terhadap-erdogan-apa-tujuannya/a-16864115

Protes terhadap Erdogan. Apa Tujuannya?

Setelah demonstrasi dengan kekerasan pada beberapa hari terakhir, seruan agar Erdogan undurkan diri makin keras. Tapi itu tidak didukung semua demonstran.
Kerusuhan di Turki sudah berlangsung sejak hampir sepekan lalu. Tetapi sekarang masalahnya bukan lagi soal pohon-pohon di taman kota Istanbul, melainkan situasi demokrasi yang buruk di negara itu. Tuntutan sebagian besar demonstran adalah: PM Recep Tayyip Erdogan harus mengundurkan diri.
Ia sudah menjabat perdana menteri sejak 10 tahun lalu. Partai Islam konservatif AKP yang dipimpinnya sudah menang pemilu dua kali. Popularitas Erdogan tampaknya sudah bertahun-tahun tidak kunjung luntur, dan Turki tampaknya makmur.
Sasarannya Erdogan, bukan Partai
Kerusuhan yang sementara ini terjadi adalah yang terbesar bagi Erdogan. Tapi demonstrasi itu tidak mengherankan, kata wartawan dan penulis Cengiz Aktar dalam wawancara dengan DW. "Pemerintah memberikan kesan semuanya bisa diatur dan berjalan lancar. Sebetulnya tidak ada yang beres," kata Aktar.
Aktar mengatakan apa yang dibencinya dari Erdogan: "Ia mengatur hidup pribadi orang. Misalnya ia melarang pramugari menggunakan lipstik, atau juga ia melarang penjualan alkohol mulai jam 10 malam. Itu bertentangan dengan gaya hidup warga sekuler Turki," kata Aktar. Peraturan dan undang-undang baru awalnya tidak diperhatikan, kata jurnalis itu seraya menambahkan, tetapi ketika rakyat menyadari, bahwa UU itu bisa dilaksanakan, mereka memprotes.
Upaya Erdogan untuk menjalankan gaya pemerintahan yang otoriter adalah penyebab utama kerusuhan. Kemarahan rakyat yang sudah tidak tertahankan akhirnya meluap akibat sebuah hal kecil seperti penebangan pohon di taman Gezi.
"Gerakan Muda Tanpa Partai"
Bagi Gencer Özcan, kepala fakultas ilmu politik pada Universitas Bilgi, kerusuhan dalam masyarakat Turki sudah mulai tanggal 1 Mei lalu, pada hari buruh internasional. Hari itu demonstrasi di lapangan Taksim dilarang dan pemerintah menghentikan transportasi umum di kota. Padahal demonstrasi itu bagi gerakan berhaluan kiri memiliki makna penting. Ketika itu polisi sudah bertindak keras terhadap demonstran. Demikian penjelasan profesor Özcan dalam wawancara dengan Deutsche Welle.

 
Protes anti pemerintah di Ankara (04/06/13)

Wartawan Cengiz Aktar tidak sependapat. Menurutnya demonstran adalah, "Warga muda, tanpa partai, gerakan urban tanpa agenda politik dan tanpa pemimpin." Ia berpendapat, tidak ada gerakan politik atau partai yang mampu memanipulasi begitu banyak orang. Itu disetujui Gencer Özcan. Ia menjelaskan, semua partai oposisi berhati-hati ikut dalam aksi protes. Partai Kurdi BDP dari awal tidak ikut secara resmi karena berpendapat, keikutsertaan mereka bisa mengganggu perdamaian dan proses perdamaian dengan suku Kurdi.

Tidak Semua Ingin Erdogan Turun
Memang slogan "Tayyip istifa!" (red - Tayyip hengkang!) tampak di mana-mana dan menggambarkan kemarahan rakyat. Tapi tidak semua orang ingin Erdogan mengundurkan diri. Terutama warga Kurdi khawatir, perdamaian akan terancam, jika pemerintahan berganti. Begitu dijelaskan Erhan Calahan, anggota partai Kurdi BDP dalam wawancara dengan Deutsche Welle.

Sementara wartawan dan penulis Cengiz Aktar menukas, pemerintah Turki harus mengerti, bahwa demokrasi bukan kotak yang bisa ditutup kapan saja mereka mau. Demokrasi adalah sesuatu yang hidup, dan ia berharap sekarang pemerintah belajar.

ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (5) 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/06/erdogan-segera-menyusul-mubarak-5.html#more

 

 
 
"Saat malam tiba, para demonstran dengan menggunakan helm pekerja bangunan dan masker bergerak menuju Gezi Park mencoba menduduki kembali tempat itu, namun dipukul mundur, berkali-kali, dengan lebih banyak gas air mata ditembakkan polisi. Penduduk lokal membuka jendela-jendela dan melemparkan pot serta panci membantu para demonstran. Satu regu polisi mengejar sekelompok demonstran ke arah Golden Horn, menangkapi beberapa di antara mereka yang bersembunyi di belakangnya. Istanbul, dan seluruh Turki, diliputi oleh kekacauan."

Demikian tulis wartawan TIME, Piotr Zalewski, di medianya tgl 17 Juni dengan judul "After a Violent Weekend Crackdown, Turkey Braces for More Chaos".

Erdogan boleh saja memainkan banyak jurus: dimulai dengan menggertak, kemudian memelas (menunda proyek pembangunan Gezi Park yang memicu kerusuhan di Turki), mengorganisir aksi dukungan baginya, hingga terakhir mengancam mengerahkan tentara untuk membubarkan aksi-aksi demonstrasi yang semakin membesar dari hari ke hari. Namun para demonstran justru semakin teguh pada pendiriannya, yaitu turunnya Erdogan dari kursi kesuasaan.

Pada hari Sabtu malam (15/6) polisi berhasil membersihkan Gazi Park dari para demonstran yang berkumpul disana melalui bentrokan sengit. Keesokan harinya, di hadapan pendukung-pendukungnya Erdogan memuji keberhasilan polisi sembari mengecam para demonstran sebagai "penjarah" dan "teroris". Namun ribuan demonstran kembali mengorganisir diri untuk menduduki kembali Gezi Park yang telah menjadi simbol perlawanan terhadap regim Erdogan sebagaimana laporan TIME di atas.

Dan kali ini aksi-aksi demonstrasi semakin intensif setelah 2 serikat pekerja terbesar Turki, KESK dan DISK pada hari Senin (17/6) mengumumkan aksi mogok nasional mendukung demonstran.

"Tuntutan kami adalah polisi segera menghentikan aksi-aksi kekerasan," kata jubir KESK Baki Cinar kepada kantor berita Perancis "AFP" Senin (17/6). Menurutnya aksi mogok yang akan dilakukan akan diikuti juga oleh para insinyur dan dokter. Menlu Muammer Guler sendiri mengecam aksi mogok tersebut sebagai "illegal" dan mengingatkan para buruh untuk tidak turun ke jalanan.

Kerusuhan yang terjadi hari Minggu (16/6) merupakan salah satu yang terbesar selama 2 minggu lebih menentang kekuasaan Erdogan yang hampir mendekati masa satu dekade. Pada hari itu saja sebanyak 600 orang ditangkap ditangkap dalam aksi-aksi demonstrasi di Ankara dan Intanbul. Dan meski Erdogan sudah "mengalah" dengan menunda pembangunan Gezi Park sampai ada keputusan pengadilan, para demonstran menganggap hal itu belumlah cukup.

"Kami akan berjuang sampai hak-hak rakyat, termasuk hak untuk hidup, dihormati," tulis Taksim Solidarity Platform, kelompok organiser demonstran dalam pernyataan pers-nya hari Sabtu (15/6). Kelompok ini selain menyerukan pendudukan Taman Gezi juga mengajukan tuntutan hukum terhadap para pejabat yang dianggap bertanggungjawab atas aksi brutal yang dilakukan polisi kepada para demosntran, serta pembebasan para demonstran yang ditahan polisi.

Amnesty International (AI) menyebutkan sebanyak 70 orang yang ditangkap polisi kini nasibnya tidak diketahui. Selain itu AI juga melaporkan banyaknya kasus kekerasan polisi terhadap para tahanan demonstran.

Apa yang bakal terjadi di Turki, termasuk nasib Erdogan, kini menjadi topik bahasan yang menarik bagi para analis, termasuk blogger. Apakah aksi-aksi demonstrasi di Turki telah menjadi gerakan "Turki Spring" sebagaimana "Arab Spring" yang berhasil menumbangkan penguasa-penguasa diktator di Timur Tengah? Apakah Erdogan mampu bertahan, atau harus menyusul pendahulu-pendahulunya seperti Khadaffi dan Mubarak?

Dan inilah analisis saya:

Para demonstran melihat saat ini adalah momentum yang tepat untuk menjatuhkan Erdogan, orang yang mereka benci tidak hanya karena kediktatorannya, namun sebagian lagi karena sikap hipokrispinya, sikap megalomanianya, bagi sebagian orang lainnya adalah karena simbol-simbol Islam yang dibawanya, dan bagi 20% penduduk Turki penganut sekte Alawi adalah karena sikap agresifnya terhadap Syria. Aksi-aksi demonstrasi akan semakin meluas.

Dalam kondisi seperti ini Erdogan hanya bisa berharap pada kesetiaan tentara, karena bahkan kesetiaan polisi tidak akan memungkinkan mereka "berkelahi" terlalu lama melawan para demonstran. Demikian pula Erdogan tidak mungkin akan mengerahkan pendukungnya ke jalanan yang justru membuat kondisi lebih runyam an kredibilitasnya makin merosot. Namun tentara sudah lama menaruh dendam pada Erdogan yang telah menyeret sejumlah besar perwira ke penjara dengan tuduhan makar, selain perbedaan pandangan tentang dasar negara, sekuler bagi tentara dan Islam liberal bagi Erdogan. 
 
Dan saat tentara memutuskan untuk tidak lagi memihak Erdogan, nasibnya berakhir seperti Hoesni Mubarak. Jika dalam waktu seminggu mendatang para demonstran mampu mempertahankan konsistensi aksi-aksi demonstrasi, apalagi jika semakin meluas dan membesar, maka Erdogan bisa dipastikan bakal "habis". Presiden Gul yang bersama para "jemaat" lainnya termasuk media Zaman kini berseberangan dengan Erdogan, bakal mengeluarkan dekrit pembubaran pemerintahan Erdogan dan menyelenggarakan pemilu baru tanpa Erdogan atau dengan AKP yang sudah dibersihkan dari para pendukung Erdogan.

Jika saja Erdogan mendengar "saran" menlu Syria, negara yang selama 2 tahun menjadi obyek watak megalomania Erdogan, hal yang sama yang disarankan Erdogan kepada Presiden Syria Bashar al Assad: mendengarkan tuntutan rakyat, atau mundur, tentu nasibnya tidak akan seperti Mubarak.

2 komentar:

Ibnu Sofyan Hasan mengatakan...
Mas Adi yg saya cintai krn Allah, Izinkan saya melanjutkan komen saya di tulisan mas adi "ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (4) ke sini :)

Komen mas adi di tulisan sebelumnya : “Namun semuanya harus mengakui kekalahan melawan zionis internasional, termasuk Ikhwanul Muslimin.”

Soal kalah menang saya melihatnya dr sudut pandang yg mgkn sdkt “aneh”. Begini mas, justru krn ikhwanul muslimin (melalui institusi IM sendiri, negara2 yg ‘dikuasainya’ (turki, mesir, dll), atw jg partai2nya (misal PKS yg kebetulan mas adi singgung di tulisan "ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (4)")) sadar betul bahwa sangat sulit mengalahkan zionis internasional lah mereka menggunakan strategi sangat cerdas menurut pendukung mereka, atw strategi culas dan licik mnurut musuh mereka dan yg anti dengan mereka. Apa itu? Yaitu strategi musuh dlm selimut terhadap musuh mereka. Benar, mereka secara legal formal terlihat koalisi/sekutu dengan musuh mereka (zionis internasional, israel, as & sekutu2nya), tp dibalik itu mereka tetap menjalankan visi & misi mereka sendiri yg sebenrnya bertentangan dgn kepentingan zionis internasional cs.

Implikasinya? Musuh g bs konfrontasi langsung dengan mereka bhkn terpaksa melindungi mereka, tp mereka bs MENUSUK musuh dr dalam..
Cth kongkritnya? Kita lihat saja turki & mesir, mereka tidak mau “diirankan” apalagi “disuriahkan” , jd mereka sampe skrg tetap mmilih menjadi ‘sekutu dan sahabat’ amerika (zionis internasional cs). Ya, MUSUH DALAM SELIMUT. apa alasan zionis internasional cs untuk intervensi militer dikedua negara ini? TAK ADA. Yg bs dilakukn zionis internasional cs thdp mereka hanyalah seperti yg terjadi skrg, mengganggu pemerintahan kedua negara tsb melalui dukungan kpd manuver2 oposisi (yg jelas2 sekuler, liberal, atw pendukung hosni mubarak/kemal atturk) kedua pemerintahan tsb. Licik? Culas? Boeh saja kita berpendapat begitu. Tp ditinjau dr sudut pandang STRATEGI saya rasa sgt luar biasa jitu strateginya.. see? Jd disini dalam hal kepakaran/jago strategi menghadapi zionis internasional, IRAN TIDAK SENDIRIAN. Yg saya sesalkan adalah, kenapa IM dan Iran tdk kompak.. (*suatu saat Insya Allah saya bahas dlm sebuah tulisan/komentar)

Permainan strategi ikhwanul muslimin ini jg terlihat jelas dengan strategi yg dimainkan pks di perpolitikan nasional. Berkoalisi dgn pemerintah, tp bs menusuk dr dalam (manuver kasus century, hambalang, dan yg teranyar adalah kenaikan harga bbm). Keuntungannya? rezim kurang leluasa memberangus/berkonspirasi pd PKS, kursi mentri dpt 3, pencitraan dimasyarakat bs jalan terus. Skali lg kesampingkan dulu mslh munafik, main 2 kaki, dll. Ditinjau dr segi strategi bg saya ini jelas luar biasa..

Klo semua hal diatas kita tinjau dari segi agama, syariat islam beserta dalil dan hujjahnya, saya fikir masing2 ulama pendukung kedua kubu (IM vs Iran) punya argumen msg2x yg kalo diperdebatkan bakal gak habis2, sengit..

Intinya adalah, menurut saya tidak tepat klo kita menganggap IM beserta jaringannya adalh benar2 sekutu zionis internasional cs. Sm tidak tepatnya jk ada yg mnganggap Iran & jaringannya adalah sekutu zionis internasional cs..

Sdgkn posisi negara2 arab timur tengah seperti Arab saudi, Qatar, dan beberapa negara Arab non IM lainnya, menurut hemat saya statusnya hanyalah “tunggangan” IM dan jaringannya, sm seperti IM memperlakukan zionis internsional cs td..

Iran & jaringannya memilih jalur konfrontatif melawan zionis internasional cs, IM & jaringannya memilih jalur “musuh dalam selimut” melawan zionis internasional cs.. dan saya brdoa mudah2an suatu saat kedua kubu bersatu untuk menghadapi musuh yg sama, zionis internasional tsb.. wallaahu a’lam bish showab.

Ibnu Sofyan Hasan mengatakan...
Komentar diatas adalh bbrpa pandangan saya mengenai politik Islam internasional kontemporer dlm menghadapi konspirasi global iblis dan dajjal melalui zionis internasionalnya.

Nah skrg, dalam rangka sharing pandangan. Saya ingin bertanya dengan mas adi, tolong dijawab dengan lengkap mas. Krn sbagian pertanyaan berikut adalah pertanyaan yg belum mas adi jawab, hehe...

1. Apakah menurut mas adi MAYORITAS rakyat Turki ingin Erdogan ditimbangkan?
Apakah Turki negara tiran, sekuler liberal & otoriter sama sperti pemerintahan Mubarak? Apakah Turki tidak menganut sistem pemilu demokrasi sama seerti pemerintahan Mubarak?

2. Apakah mas adi sudah membaca link yg saya berikan kmrn : http://www.pkspiyungan.org/2013/06/istanbul-perang-non-fisik-zeytinburnu-1.html ? Apa analisa mas adi terhadap tawaran Erdogan untuk referendum terkait rencana alih fungsi lahan Taman Gezi? apa mas adi berpendapat itu hanyalah gertakan erdogan, bukan keyakinan & keteguhan hati erdogan bhwa Mayoritas Rakyat Turki mendukung AKP & dirinya? Lalu kenapa pula oposisi menolak referendum itu jk mereka yakin bhwa mayoritas rakyat turki mendukung mereka?

3. Mana yg kubu islamis partai AKP & PM Erdogan, atw oposisinya yg skrg sdg demonstrasi ingin menggulingkan pemerintahan Erdogan? Trus yg mana jg diantara kedua kubu tsb yg liberalis sekuler & pro kemal at turk; partai AKP & PM Erdogan atau pihak oposisinya? Lalu kubu yg mana yg didukung zionis internasioal cs (khususnya amerika & israel)?

4. Komentar mas adi : “Tapi itu dulu, sebelum (*ikhwanul muslimin*) (perkiraan saya) disusupi oleh kekuatan zionis, atau setidaknya sebelum tergiur oleh imbalan kekuasaan yang ditawarkan zionis internasional”. Apa menurut mas adi HAMAS yg jelas2 merupakan JARINGAN/ANAK KANDUNG ikhwanul muslimin bersandiwara dlm memerangi zionis israel? Atw seluruh anggota/pejuang HAMAS adalah org2 bodoh yg tidak tau bahwa Induk mereka sebenarnya satu kubu dgn pihak yg mereka perangi (israel)? Saya sendiri tidak meragukan perjuangan HAMAS sedikitpun, sama seperti sikap saya yg tidak sedikitpun meragukan perjuangan jihad islam di Palestina...

5. Saya sekaligus bertanya pd mas pecinta ahlul bait di poin ini, Komentar mas adi : “Tapi itu dulu, sebelum (*ikhwanul muslimin*) (perkiraan saya) disusupi oleh kekuatan zionis, atau setidaknya sebelum tergiur oleh imbalan kekuasaan yang ditawarkan zionis internasional”. Apa menurut mas adi dan mas ahlul bait, zionis internasional dalam pemilu Mesir kemarin lbh mendukung Mursi (yg kubu Islamis, seorang hafizh dr ikhwanul muslimin) daripada Ahmed Shafiq (yg kubu liberalis sekuler, slh seorang loyalis hosni mubarak)? Apa kondisi di mesir sejak penggulingan hosni mubarak sampe pro kontra undang-undang syariah islam kmrn tidak cukup berdarah2?

Tak jauh beda di turki, apa zionis internasional dalam pemilu Turki kemarin lbh mendukung kubu PM Erdogan dgn AKP nya drpd kubu oposisi di negara tsb?
Hehehe.. panjang banget y komen dan pertanyaan saya. Mohon dijawab dgn lengkap, jelas, dan lebih bgs lg point per point sesuai pertanyaan diatas Mas. Atas tanggapan & jawaban mas adi dan yg lain saya mgucapkan byk2 terima kasih. Saya tunggu jawabannya..

NB : Pengunjung blog ini yg lain boleh jg ikut menjawab :)

Salam persaudaraan
Ibnu sofyan^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar