Rabu, 26 Juni 2013

......RULES OF ENGAGEMENT ......?? MENGAPA ISLAM DIJADIKAN KAMBING HITAM...DAN DICAP SEBAGAI TERORIS...??>> .....MENANG DAN KALAH DLAM PERANG...KONON SUDAH DIATUR...???>> DAN BAGI PLITISI... TIDAK ADA KEMENANGAN DAN KEKALAHAN TANPA ADA YANG MEMAINKAN PERATURANNYA DLAM SEGAL BIDANG KEKUASAAN DAN MEDIA...??>> LALU SIAPA DAN MENGAPA DEMIKIAN...?? ...Menyusul serangan tersebut, militer melakukan tindakan keras untuk menangkap Al Assir dan menghancurkan kekuasan para pendukungnya. Dengan tank-tank, pada hari Senin (24/6) militer menerobos pertahanan pendukung Al Assir di masjid Bilal bin Rabah, Sidon, dimana Al Assir selama ini menjadi imamnya. Namun belum ada laporan apakah Al Assir berhasil ditangkap. Pertempuran juga merembet ke kamp Ain al-Hilweh yang menjadi pusat kegiatan pendukung Al Assir...>> ..... KITA BALIK BUKU SEJARAH PEPERANGAN PANJANG DI EROPA...SEPERTI MISALNYA PADA MASA NAPOLEON...??>> SESUNGGUHNYA..... ADAKAH TANGAN2 PEMAIN...PEPERANGAN ITU... ATAWKAH MEMANG LOGIS SAJA JIKA ADA YANG MEMEINKAN PEPERANGAN...DAN BERBISNIS...DENGAN SITUASI..SEPERTIITU...?? >> KONON ANALIS PERANG MEMAINKAN JARGON2NYA...?? >> Pertempuran Trafalgar merupakan pertempuran laut yang sangat penting selama Perang Napoleon. Pada pertempuran ini Armada Inggris secara meyakinkan berhasil menghancurkan armada laut Perancis dan Spanyol pada tanggal 21 Oktober 1805. >> PERTEMPURAN IN DIMENANGKAN INGGRIS DENGAN GRMILANG...TETAPI KONON.... KEHANCURAN KEUANGAN INGGRIS JATUH KEPELUKAN KEKUASAAN NATAN ROTCHSIELD...??


MILITER LEBANON TANGKAP PARA PENDUKUNG AL ASSIR 

 http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/06//militer-lebanon-tangkap-para-pendukung.html#.UcrFmFIxVkg

 Breaking News: Tentara Lebanon hari ini berhasil menguasai benteng pertahanan Al Assir di kamp Ain al-Hilweh dan masjid Bilal bin Rabah. Sidon, membunuh belasan pengikut al Assir dan menangkap sekitar 60 lainnya. Namun keberadaan Al Assir belum diketahui.

***

 
Entah apa yang menjadi pertimbangan 
Ahmad Al-Assir, ulama wahabi-salafi garis keras di Lebanon, memerintahkan pendukung-pendukungnya hari Minggu (23/6), menyerang pos militer Lebanon di Abra, Sidon, hingga menyebabkan 15 personil militer tewas. Mungkin ia berharap, aksi-aksi kerusuhan yang dilakukannya akan membakar Lebanon sehingga menyibukkan Hizbollah dengan konflik internal dan mengendorkan dukungannya pada pemerintah Syria yang saat ini tengah berada di atas angin. Namun yang pasti, untuk sementara Al Assir harus berhadapan dengan militer Lebanon, dan hal itu bukan pilihan yang baik.

Menyusul serangan tersebut, militer melakukan tindakan keras untuk menangkap Al Assir dan menghancurkan kekuasan para pendukungnya. Dengan tank-tank, pada hari Senin (24/6) militer menerobos pertahanan pendukung Al Assir di masjid Bilal bin Rabah, Sidon, dimana Al Assir selama ini menjadi imamnya. Namun belum ada laporan apakah Al Assir berhasil ditangkap. Pertempuran juga merembet ke kamp Ain al-Hilweh yang menjadi pusat kegiatan pendukung Al Assir.

"Tentara tidak akan tinggal diam atas kerugian yang dialami secara militer dan politik dan akan melanjutkan misinya untuk menghancurkan upaya membuat kekacauan di Sidon dan wilayah-wilayah lain dan akan membalas dengan keras siapa saja yang berfikir bisa menumpahkan darah personil militer serta akan menindak siapa saja yang melindungi para pengacau itu secara politik atau yang memberikan dukungan media massa."

Demikian pernyataan yang dikeluarkan militer Lebanon tentang kerusuhan berdarah di Sidon. Meski tidak menyebutkan secara langsung, militer menuduh para politisi Lebanon dari blok oposisi, khususnya dari partai Gerakan Masa Depan (Al Muqtabal) yang dipimpin mantan perdana menteri Saad Hariri dan Fuad Siniora, yang selama ini menjadi pelindung politik Al Assir.

Al Muqtabal dan Al Assir merupakan pendukung kuat para pemberontak Syria. Mereka mengorganisir milisi-milisi bersenjata dan menyelundupkan senjata dan perlengkapan untuk pemberontak di Syria. Al Assir bahkan dikabarkan terlibat langsung dalam pertempuran di Al Qusayr, Syria. Namun keterlibatan Hizbollah membantu pasukan pemerintah Syria mengacaukan misi mereka turut menumbangkan regim Syria dan menggantinya dengan pemerintahan baru yang tidak anti-Israel dan Amerika sebagaimana Presiden Bashar al Assad. Sementara militer Lebanon, yang dengan gigih menjalankan tugasnya menjaga perbatasan dan mencegah penyusupan pemberontak Syria dari perbatasan Lebanon, dianggap turut mengacaukan misi mereka. Dan ketika para pemberontak Syria terdesak, Al Assir pun menjadi mata gelap.

Dalam upayanya membela diri atas apa yang telah dilakukannya, Al Assir, melalui video yang di-"upload" ke "youtube!" hari Minggu (23/6), menyebut bahwa militer telah dikuasi oleh orang-orang Iran dan Shiah. Tentu saja tuduhan itu sangat menggelikan. Secara "de facto" militer justru dikuasai oleh etnis Kristen, atau setidaknya kesan tersebut tidak bisa diabaikan. Seperti sudah menjadi konvensi atau kebiasaan yang menjadi hukum formal, seorang panglima militer Lebanon selalu dijabat oleh seorang Jendral Kristen.

Di tengah-tengah masyarakat yang terpecah-belah oleh perbedaan agama dan mazhab, militer merupakan satu-satunya simbol pemersatu bangsa Lebanon. Dengan menyerang tentara, Al Assir dan pendukung-pendukungnya telah menyerang seluruh bangsa Lebanon, dan seluruh rakyat akan membela tentara. Maka apa yang dilakukan Al Assir dan para pendukungnya adalah "bunuh diri" baik secara militer apalagi secara politik.

Militer telah memperingatkan para politisi untuk memilih: "berdiri di samping Tentara Lebanon untuk melindungi rakyat, atau berdiri di samping para provokator dan pembunuh."

Sementara itu Presiden Michel Suleiman usai mengadakan rapat dengan para pejabat keamanan Lebanon hari Senin (24/6), menyatakan bahwa tentara memiliki kebebasan untuk menindak para agresor dan menghentikan kerusuhan seraya menyebutkan bahwa seruan "jihad" terhadap tentara hanya dilakukan oleh musuh-musuh Lebanon yang tidak akan didengar oleh seluruh rakyat Lebanon.

Sumber: almanar.com.lb; 24 Juni 2013


Trafalgar adalah :

Pertempuran Trafalgar merupakan pertempuran laut yang sangat penting selama Perang Napoleon. Pada pertempuran ini Armada Inggris secara meyakinkan berhasil menghancurkan armada laut Perancis dan Spanyol pada tanggal 21 Oktober 1805. Armada laut Inggris yang berjumlah 27 kapal dalam formasi garis lurus menghancurkan armada Perancis-Spanyol yang berjumlah 33 kapal perang di tanjung Trafalgar, Spanyol selatan. Pihak Perancis-Spanyol kehilangan 22 kapal, sementara Inggris tidak kehilangan satupun kapal perangnya tetapi kehilangan komandan Horatio Nelson yang sudah terkenal kehebatannya selama perang Napoleon.

http://wikiindonesia.org/wiki/Trafalgar


Pertempuran ini termasuk dalam perang Koalisi ketiga, dan termasuk pertempuran laut yang sangat penting selama abad ke-19. Kemenangan Inggris yang sangat spektakular ini semakin memantapkan dominasi mereka di lautan tak terkalahan sejak abad ke-18. Dan juga karena kekalahan inilah, Napoleon mengurungkan niatnya untuk menginvasi Inggris selatan.

 

Peperangan era Napoleon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Peperangan_era_Napoleon
Langsung ke: navigasi, cari
Peperangan era Napoleon
Austerlitz-baron-Pascal.jpg
Sadler, Battle of Waterloo.jpg

Atas
: Pertempuran Austerlitz
Bawah
: Pertempuran Waterloo
Tanggal 1803–1815
Lokasi Eropa, Samudra Atlantik, Laut Mediterania, Laut Utara, Rio de la Plata, Guyana Perancis, Hindia Barat, Samudra Hindia, Amerika Utara, Kaukasus Selatan
Hasil Kemenangan koalisi, Kongres Wina
Pihak yang terlibat
 Britania Raya  Austria[[#endnote_aaa{{{3}}}|[a]]][[#endnote_bbb{{{3}}}|[b]]] (1804–1805, 1809, 1813–1815)
  • Blason louis II de Hongrie.svg Hongaria[[#endnote_rrr{{{3}}}|[r]]] (1809)
 Kekaisaran Rusia[[#endnote_ccc{{{3}}}|[c]]] (1804–1807, 1812–1815)
 Prusia[[#endnote_bbb{{{3}}}|[b]]] (1806–1807, 1812–1815)
 Spanyol[[#endnote_ddd{{{3}}}|[d]]] (1808–1815)
Portugal (1804–1807, 1809–1815)
 Sicily[[#endnote_eee{{{3}}}|[e]]]
 Negara-Negara Kepausan
 Kekaisaran Utsmaniyah [[#endnote_mmm{{{3}}}|[m]]](sampai 1803)
 Sardinia
 Swedia[[#endnote_fff{{{3}}}|[f]]] (1804–1809, 1812–1815)
 Belanda(1815)
 Brunswick
State flag of the Grand Duchy of Tuscany.PNG
Toscana
Bendera Swiss
Swiss
Bendera Kerajaan Perancis
Royalis Perancis
Bendera Provinsi Hanover
Hanover
Nassau
Bavaria
Württemberg
Tirol
Martial Banner of Montenegrin clans.svg
Montenegro (1806–1814)
Flag of Agha Mohammad Khan.svg
Persia (1807–1812)[[#endnote_qqq{{{3}}}|[q]]]
Bendera Perancis Perancis  Spanyol(1803–1808)[[#endnote_ddd{{{3}}}|[d]]]
Bendera Denmark Denmark–Norwegia[[#endnote_lll{{{3}}}|[l]]]
 Kekaisaran Utsmaniyah (1806–1812)[[#endnote_mmm{{{3}}}|[m]]]
 Austria (1809–1813)[[#endnote_aaa{{{3}}}|[a]]][[#endnote_bbb{{{3}}}|[b]]]
 Kekaisaran Rusia (1807–1812)[[#endnote_ccc{{{3}}}|[c]]]
 Prusia (1807–1812)[[#endnote_bbb{{{3}}}|[b]]]
 Swedia (1809–1812)[[#endnote_fff{{{3}}}|[f]]]
Flag of Agha Mohammad Khan.svg Persia (1804–1807, 1812–1813)[[#endnote_qqq{{{3}}}|[q]]]
 Amerika Serikat[1] sesama pihak terlibat (Perang 1812)

Komandan
Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia George III Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia George, Pangeran Wales, Pangeran Regen Britania Raya
Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia
William Pitt
Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia
Adipati Wellington
Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia
Horatio Nelson (DOW)
Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia
John Moore (DOW)
Bendera Kekaisaran Austria
Francis I
Bendera Kekaisaran Austria
Adipati Agung Charles
Bendera Kekaisaran Austria
Prince von Schwarzenberg
Bendera Kekaisaran Austria
Adipati Agung John
Bendera Rusia
Alexander I
Bendera Rusia
Mikhail Kutuzov
Bendera Rusia
Michael Andreas Barclay de Tolly
Bendera Rusia
Count Bennigsen
Bendera Rusia
Pyotr Bagration-
Bendera Prusia
Frederick William III
Bendera Prusia
Gebhard von Blücher
Bendera Prusia
Adipati Brunswick-
Bendera Prusia
Pangeran Hohenlohe
Bendera Spanyol
Charles IV
Bendera Spanyol
Ferdinand VII
Bendera Spanyol
Miguel de Álava
Maria I
John, Pangeran Brazil, Pangeran Regen Portugal
Bendera Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia William Beresford
Miguel Pereira Forjaz
Bendera Belanda
William, Pangeran Orange
Bendera Piedmont-Sardinia
Victor Emmanuel I
State flag of the Grand Duchy of Tuscany.PNG
Ferdinand III
Bendera Negara-Negara Kepausan
Pius VII
Bendera Kerajaan Dua Sisilia
Ferdinand IV
Bendera Kerajaan Perancis
Louis XVIII
Bendera Swedia
Gustav IV Adolf
Bendera Swedia
Charles XIII
Bendera Swedia
Charles John, Pangeran Regen Swedia[[#endnote_ooo{{{3}}}|[o]]]
Bendera Kadipaten Brunswick
Frederick William, Adipati Brunswick-Wolfenbuttel
Maximilian I Joseph
Karl Philipp von Wrede
Bendera Provinsi Hanover
Charles Alten
Frederick I
Frederick William, Pangeran Nassau-Weilburg
Andreas Hofer
Bendera Swiss
Alois von Reding
Martial Banner of Montenegrin clans.svg
Petar I Petrović-Njegoš
Flag of Agha Mohammad Khan.svg
Abbas Mirza
Bendera Kekaisaran Utsmaniyah
Selim III
Bendera Kekaisaran Utsmaniyah
Mahmud II
Bendera Kekaisaran Utsmaniyah
Muhammad Ali Pasha
Bendera Perancis Napoleon I Bendera Perancis Louis Alexandre Berthier
Bendera Perancis
Joachim Murat
Bendera Perancis
Louis-Nicolas Davout
Bendera Perancis
Jean Lannes-
Bendera Perancis
André Masséna
Bendera Perancis
Michel Ney
Bendera Perancis
Jean-de-Dieu Soult
Bendera Perancis
Armand Augustin Louis de Caulaincourt
Bendera Perancis
Jean Baptiste Jules Bernadotte
Bendera Perancis
Pierre-Charles Villeneuve
Bendera Perancis
Jean-Baptiste Bessières-
Bendera Perancis
Bon Adrien Jeannot de Moncey
Bendera Perancis
Jean-Baptiste Jourdan
Bendera Perancis
Édouard Adolphe Casimir Joseph Mortier
Bendera Perancis
Jean-Andoche Junot
Bendera Perancis
Claude Victor
Bendera Perancis
Jacques MacDonald
Bendera Perancis
Nicolas Charles Oudinot
Bendera Perancis
Auguste Frédéric Louis Viesse de Marmont
Bendera Perancis
Louis Gabriel Suchet
Bendera Perancis
Laurent de Gouvion Saint-Cyr
Bendera Perancis
Emmanuel de Grouchy
Bendera Spanyol
Joseph I[[#endnote_ppp{{{3}}}|[p]]]
Bendera Belanda
Louis I
Pangeran Poniatowski-
Bendera Kerajaan Italia (Napoleon)
Pangeran Eugène
Flag of the Principality of Lucca (1805-1809).svg
Felice Baciocchi
Bendera Kerajaan Italia (Napoleon)
Louis I
Bendera Kerajaan Dua Sisilia
Joachim Murat
Jerome I
Maximilian I
Frederick Augustus I
Frederick I
Karl Philipp von Wrede
Bendera Swedia
Charles XIII
Bendera Swedia
Charles John, Pangeran Regen Swedia[[#endnote_ooo{{{3}}}|[o]]]
Bendera Denmark
Frederick VI
Bendera Denmark
Pangeran Christian August dari Augustenburg
Flag of Agha Mohammad Khan.svg
Fath Ali Shah Qajar
Flag of Agha Mohammad Khan.svg
Abbas Mirza
US flag 15 stars.svg
James Madison
Korban


3.350.000 sampai 6.500.000 – lihat daftar lengkap
Peperangan era Napoleon adalah serangkaian pepe- rangan yang terjadi selama Napoleon Bonaparte memerintah Peran- cis (1799–1815).
Perang ini terjadi (khususnya) di benua Eropa, tetapi juga dibeberapa tempat di benua lainnya dan meru- pakan kelanjutan dari perang yang dipicu oleh Revo- lusi Perancis pada tahun 1789.
Perang ini menye- babkan perubahan besar pada sistem militer di Eropa terutama artileri dan organisasi mili- ter, dan juga pada masa inilah pertama kalinya diadakan wajib militer secara resmi sehingga jumlah tentara ber- lipat ganda.
Kekuatan Perancis dengan cepat ber- kembang, menak- lukkan sebagian besar Eropa dan juga cepat ambruk- nya setelah menga- lami kekalahan telak dari Rusia pada tahun 1812. Setelah kekalahan ini Napoleon me- nyerah total, se- hingga dinasti Bourbon kembali berkuasa di Perancis. Sementara itu wila- yah kekaisaran Spanyol satu persatu daerah jajahannya mulai lepas akibat invasi Perancis, yang mengakibatkan lemahnya Spanyol sehingga memicu timbulnya revolusi di Amerika Latin.
Tidak ada kesepa- katan para sejara- wan untuk memas- tikan kapan Perang Revolusi Perancis berakhir dan pepe- rangan era Napo- leon dimulai. Bebe- rapa tanggal yang diajukan antara lain :
  • Tanggal 9 November 1799, ketika Napoleon merebut kekuasaan di Perancis
  • Tanggal 18 Mei 1803, ketika Inggris dan Perancis melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sebelumnya
  • Tanggal 2 Desember 1804, ketika Napoleon mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar.
Peperangan era Napoleon berakhir ketika ia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Waterloo (18 Juni 1815) dan disepakatinya pakta Paris yang kedua. Beberapa sumber sejarah (terutama di Inggris) menamakan peperangan dari tahun 1792 sampai 1815 ini dengan nama Perang Perancis Raya, atau sebagai babak penutup dari Perang 200 Tahun antara Inggris dan Perancis[2][3][4] yang dimulai sejak tahun 1689 sampai dengan tahun 1815.

Daftar isi

 [sembunyikan

Latar belakang, 1789–1802 [sunting]

Revolusi Perancis mengancam kerajaan-kerajaan lain di benua Eropa, dan menjadi persoalan yang lebih serius dengan ditangkapnya raja Louis XVI pada tahun 1792 dan pelaksanaan hukuman mati terhadapnya di bulan Januari tahun 1793. Usaha pertama untuk menghancurkan Republik Perancis ini dimulai pada tahun 1792 ketika Austria, Kerajaan Sardinia, Kerajaan Napoli, Prusia, Spanyol, dan Kerajaan Britania Raya membentuk koalisi pertama. Dengan ditetapkan undang-undang Perancis yang baru, termasuk wajib militer secara serentak (levée en masse), pembaharuan sistem militer, dan perang secara total, memberikan kontribusi bagi kemenangan Perancis atas koalisi pertama. Perang berakhir ketika Austria dituntut oleh Napoleon menerima syarat-syarat dalam perjanjian Campo Formio. Kerajaan Britania Raya menjadi satu-satunya kerajaan yang tersisa dari koalisi pertama yang memerangi Perancis sampai dengan tahun 1797.
Koalisi kedua dibentuk pada tahun 1798,yang terdiri atas beberapa kerajaan : Austria, Britania Raya, Kerajaan Napoli, Kesultanan Utsmaniyah, Negara Kepausan, Portugal, dan Rusia. Napoleon Bonaparte, sang arsitek utama kemenangan Perancispada tahun lalu atas koalisi pertama, melancarkan aksi militer ke Mesir (beberapa ilmuwan diikutsertakan dalam ekspedisi ini termasuk Jean Baptiste Joseph Fourier dan Jean-Francois Champollion).
Napoleon kembali ke Perancis pada tanggal 23 Agustus 1799. Kemudian ia mengambil alih pemerintahan pada tanggal 9 November 1799 dalam sebuah kudeta bernama18 Brumaire. Napoleon menata ulang sistem militer dan membuat pasukan cadangan untuk mendukung aksi militer di sekitar Rhine dan Italia. Di semua pertempuran, Perancis lebih unggul. Di Italia, Napoleon memenangkan pertempuran dengan Austria dalam Marengo pada tahun 1800. Tetapi pertempuran yang menentukan terjadi di Rhein, wilayah Hohenlinden pada tahun 1800. Dengan kalahnya Austria ini, kekuatan koalisi kedua hancur. Akan tetapi Britania Raya tetap kuat dan memberi pengaruh yang besar kepada negara-negara lainnya agar dapat mengalahkan Perancis.Napoleon menyadari hal ini, tanpa kekalahan Inggris atau perjanjian damai dengannya maka ia tidak akan pernah mencapai perdamaian secara penuh di benua Eropa.

Perang Inggris dan Perancis, 1803–1814 [sunting]

Tidak seperti anggota koalisi lainnya, Inggris tetap berperang secara kecil-kecilan dengan Perancis. Dengan perlindungan dari armada lautnya yang sangat kuat (seperti yang diucapkan Admiral Jervis "Saya tidak menjamin bahwa Perancis tidak akan datang menyerang kita, tetapi saya menjamin bahwa mereka tidak akan datang lewat laut"), Inggris dapat tetap mensuplai dan mengadakan perlawanan didarat secara global selama lebih dari satu dekade. Bala tentara Inggris juga menyokong pemberontak di Spanyol melawan Perancis dalam perang Peninsular pada tahun 1808-1814. Dilindungi oleh kondisi alam yang menguntungkan, serta dibantu dengan pergerakan gerilyawan yang sangat aktif, pasukan Anglo-Portugis ini sukses mengganggu pasukan Perancis selama beberapa tahun. Puncaknya pada tahun 1815, tentara Inggris memainkan peran penting dalam mengalahkan pasukan Napoleon pada pertempuran Waterloo.


Dimahkotainya Napoleon (dilukis oleh Jacques-Louis David)
Sebenarnya perjanjian damai (Treaty of Amiens) antara Inggris dan Perancis telah disepakati pada tanggal 25 Maret 1802. Tetapi kedua belah pihak tidak pernah mematuhinya. Aksi militer kedua belah pihak selalu merusak perjanjian ini seperti misalnya Perancis ikut andil dalam kericuhan sipil di Swiss (Stecklikrieg) dan menduduki beberapa kota di Italia, sementara Inggris menduduki Malta. Napoleon juga berusaha mengembalikan hukum kolonial di laut. Pada awal ekspedisi ini kelihatan sukses, akan tetapi dengan cepat berubah menjadi bencana. Komandan Perancis, juga saudara ipar Napoleon dan hampir sebagian besar tentaranya meninggal akibat wabah penyakit kuning, dan juga karena serangan musuh.
Napoleon menjadi Kaisar Perancis pada tanggal 18 Mei 1804 dan menobatkan dirinya sendiri sebagai penguasa Notre-Dame pada tanggal 2 Desember.
Selanjutnya Napoleon berencana untuk menginvasi Inggris, dengan menempatkan 180 ribu tentaranya disekitar kota Boulogne. Tetapi dia menyadari bahwa untuk memperoleh keberhasilan dalam rencana invasinya ini dia butuh angkatan laut yang kuat atau setidaknya mengalihkan perhatian angkatan laut Inggris dari selat Inggris. Disusunlah rencana yang kompleks untuk mengalihkan perhatian Inggris dengan menyerang posisi mereka di India barat, tetapi mengalami kegagalan ketika armada admiral Villeneuve kembali dari aksinya di tanjung Finisterre pada tanggal 22 Juli 1805. Angkatan laut Inggris memblokade Villeneuve di Cádiz sampai dia meninggalkannya pergi menuju Napoli pada tanggal 19 Oktober , tetapi komandan skuadron Inggris, Lord Nelson (Horatio Nelson) mengejarnya dan berhasil menghancurkan armada ini pada pertempuran Trafalgar tanggal 21 Oktober, yang juga menjemput ajalnya akibat tembakan sniper Perancis (saat itulah disebut-sebut sebagai awal mula adanya penembak jitu yang membidik komandan regu, dan orang-orang penting sebagai sasarannya).
Setelah kekalahan ini, Napoleon tidak pernah lagi mempunyai kemampuan untuk menantang Inggris di laut, bahkan setelah itu semua rencana untuk menginvasi Inggris dibatalkan, dan mengalihkan perhatiannya lagi pada musuh di daratan. Pasukan Perancis meninggalkan Boulogne dan bergerak menuju Austria.

Koalisi ketiga, 1805 [sunting]

Napoleon berencana menyerang Inggris[5][6][7], dan menyusun 180.000 tentara di Boulogne. Namun, untuk invasinya, ia membutuhkan keunggulan laut - atau paling tidak dapat memukul mundur Britania dari Selat Inggris. Rencana untuk menarik perhatian Britania dengan mengganggu jajahan mereka di India Barat gagal ketika armada Perancis-Spanyol dibawah Laksamana Villeneuve mundur setelah pertempuran Cape Finisterre pada 22 Juli 1805. Angkatan Laut Kerajaan memblokade Villeneuve di Cádiz sampai ia pergi menuju Naples pada 19 Oktober; skuadron Britania menangkap dan menaklukan armadanya dalam Pertempuran Trafalgar tanggal 21 Oktober (komandan Britania, Lord Nelson, tewas dalam pertempuran). Napoleon tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menantang Britania di laut. Napoleon membatalkan semua rencananya untuk menyerang Kepulauan Britania, dan membalikan perhatiannya ke musuhnya di Benua Eropa sekali lagi. Tentara Perancis meninggalkan Boulogne dan bergerak menuju Austria.

Situasi strategis keadaan Eropa tahun 1805 sebelum Perang Koalisi Ketiga
Pada bulan April 1805, Inggris dan Rusia menandatangani kesepakatan dengan tujuan mengusir Perancis dari Belanda dan Swiss. Austria ikut serta dalam aliansi ini setelah pencaplokan wilayah Genoa dan penobatan Napoleon sebagai Raja Italia pada tanggal 17 Maret 1805.
Austria memulai peperangan dengan menginvasi Bayern dengan bala tentaranya yang berjumlah 70 ribu jiwa dibawah pimpinan Karl Mack von Leiberich. Dengan segera tentara Perancis keluar dari Boulogne pada akhir Juli 1805 untuk menghadapinya. Keduanya bertemu di Ulm (25 September – 20 Oktober). Napoleon mengepung tentara Mack memaksanya menyerah. Dengan dikalahkannya tentara Austria diutara pegunungan Alpen (tentara lainnya dibawah pimpinan Archduke Charles berputar balik sehingga bertemu tentara Perancis lainnya pimpinan marsekal André Masséna di Italia), Napoleon menduduki Wina. Jauh di belakang garis supply-nya, ia berhadapan dengan bala tentara Austria-Rusia yang lebih besar dibawah komandan Mikhail Kutuzov, juga kaisar Alexander dari Russia turut serta. Pada tanggal 2 Desember, Napoleon menyerbu gabungan tentara dua negara ini yang berada di Moravia, Austerlitz (inilah kemenangan terbesar Napoleon). Napoleon hanya kehilangan 7 ribu tentaranya, sementara kerugian tentara gabungan sekitar 25 ribu jiwa.
Austria menandatangani kesepakatan Pressburg pada tanggal 26 Desember 1805 dan keluar dari koalisi. Perjanjian ini meminta Austria menyerahkan Venesia kepada Kekaisaran Perancis yang miliputi Italia dan Tyrol sampai dengan Bayern.
Dengan mundurnya Austria dari perang ini, tentara Napoleon mencatat kemenangan terus menerus di daratan, akan tetapi kekuatan penuh tentara Rusia belumlah ikut serta saat itu.

Koalisi keempat, 1806–1807 [sunting]


Napoleon di Berlin (Lukisan karya Meynier). Setelah mengalahkan tentara Prusia dalam pertempuran Jena-Auerstedt, tentara Perancis memasuki Berlin pada tanggal 17 Oktober 1806
Koalisi keempat terbentuk beberapa bulan setelah runtuhnya koalisi ketiga dan terdiri dari Prusia, Rusia, Saxon, Swedia, dan Inggris. Pada bulan Juli 1806, Napoleon membentuk Konfederasi Rhein untuk menyatukan negara-negara kecil di Jerman.
Akibat terpecahnya kerajaan-kerajaan Jerman, dan atas desakan Napoleon, Kaisar Franz II dari Austria menyatakan bubarnya Kekaisaran Romawi Suci yang dipimpinnya pada tanggal 6 Agustus 1806. Sejak itu berakhirlah suatu imperium longgar bangsa-bangsa Jerman yang berlangsung hampir selama 850 tahun.
Karena tidak bisa menerima hal ini, Friedrich Wilhelm III dari Prusia, yang merupakan anggota imperium, pada bulan yang sama membuat keputusan yang berani dengan menyatakan perang secara terpisah melawan Perancis dan negara-negara koalisi. Di bulan September, Napoleon menggerakkan seluruh pasukannya yang berada di timur Rhein. Napoleon sendirilah yang mengalahkan tentara Prusia di Jena pada tanggal 14 Oktober 1806, dan Marsekal Davout mengalahkan lainnya di Auerstädt pada hari yang sama. Sekitar 160 ribu tentara Perancis (jumlah yang bertambah terus seiring dengan kemenangan-kemenangan yang diraih Napoleon) menyerang Prusia dengan strategi yang jitu disertai pergerakan yang cepat, sehingga berhasil menghancurkan kekuatan militer yang lebih besar dan kuat yaitu sekitar seperempat juta tentara Prusia; dengan korban jiwa 25 ribu orang, menahan sekitar 150 ribu orang, menyita 4 ribu artileri, serta lebih dari 100 ribu musket di Berlin.
Sebenarnya Napoleon hanya melawan satu detasemen tentara Prusia saja di Jena. Di Auerstädt-lah pertempuran besar terjadi, melibatkan satu korps tentara Perancis mengalahkan tentara Prusia yang berjumlah sangat besar. Napoleon memasuki Berlin pada tanggal 27 Oktober 1806. Dia mengunjungi makam Friedrich yang Agung dan menginstruksikan seluruh marsekalnya untuk melepas topi mereka untuk memberi penghormatan seraya berucap
Jika Friedrich yang Agung masih hidup, tentulah kita tidak akan sanggup berada di sini sekarang
Dalam perang melawan Prusia ini, Napoleon hanya membutuhkan waktu 19 hari saja untuk menyerang tentara Prusia di Jena dan Auerstädt, mengalahkannya, dan akhirnya menduduki Berlin. Hal ini sangat fantastis dan brilian, karena sebaliknya Prusia yang sudah bertempur selama 3 tahun sejak keiikutsertaan dalam koalisi pertama hanya sedikit saja memperoleh keberhasilan.
Selama konflik ini tercatat Malta mengirimkan bantuan kepada Rusia dan Prusia dengan harapan mereka mendapat aliansi politis melawan Napoleon dan Perancis, akan tetapi hal ini tidak berhasil karena bajak laut di sekitar Pantai Barbari menghadang dan merampas bantuan tersebut.
Babak selanjutnya dari peperangan era Napoleon ini, adalah dipaksanya Rusia keluar dari Polandia oleh Perancis dan didirikan negara baru bernama Kadipaten Warsawa. Kemudian Napoleon beralih ke utara untuk berhadapan dengan sisa-sisa tentara Rusia, dan berusaha untuk menduduki ibukota sementara Prusia, Koenigsberg. Dengan taktik berpindah di Pertempuran Eylau (7 Februari – 8 Februari 1807), Perancis berhasil memaksa Rusia mundur ke utara lebih jauh lagi. Lalu Napoleon mengepung mereka di Friedland (14 Juni 1807). Akibat kekalahan ini, Tsar Alexander terpaksa mengadakan perdamaian dengan Napoleon di Tilsit (7 Juli 1807). Pada bulan September, Marsekal Brune secara menyeluruh berhasil menduduki Pomerania. Meskipun demikian, dia tetap mengizinkan pasukan Swedia yang kalah untuk mundur bersama peralatan perang mereka.

Koalisi kelima, 1809 [sunting]


Menyerahnya Madrid (Gros), 1808. Napoleon menduduki ibukota Spanyol, Madrid.
Koalisi kelima terdiri dari Britania Raya dan Austria yang dibentuk untuk melawan Perancis di daratan. Sementara di laut, sekali lagi Inggris berperang sendirian melawan sekutu-sekutu Napoleon. Tercatat sejak koalisi kelima terbentuk, angkatan laut kerajaan Inggris mencapai kesuksesan di daerah koloni Perancis dan memperoleh kemenangan yang besar melawan Denmark di Pertempuran Kopenhagen (2 September 1807).
Di daratan, koalisi kelima berusaha memperluas wilayah tetapi dengan pergerakan militer terbatas. Seperti yang terjadi pada ekspedisi Walcheren pada tahun 1809, yang melibatkan angkatan darat Inggris dibantu oleh angkatan lautnya untuk membebaskan tentara Austria yang berada dalam tekanan tentara Perancis. Ekpedisi ini berakhir menjadi bencana setelah tentara yang dikomandani oleh John Pitt (pangeran kedua dari Chatham) gagal mencapai target yaitu pangkalan angkatan laut Perancis di Antwerpen.
Dalam tahun-tahun selama koalisi kelima ini, pergerakan militer Inggris di daratan, terkecuali di jazirah Iberia (Al-Andalus), masih terbatas pada taktik serang dan lari dibantu oleh angkatan laut yang mendominasi laut setelah sukses menghancurkan hampir seluruh kemampuan angkatan laut Perancis dan sekutunya dan juga memblokade laut di sekitar pangkalan-pangkalan milik Perancis yang masih dipertahankan dengan kuat.
Serangan kilat ini mirip dengan metode serangan yang dilancarkan oleh para gerilyawan. Umumnya angkatan laut membantu angkatan darat untuk menghancurkan kapal-kapal Perancis, mengganggu pengiriman, komunikasi, dan garnisun-garnisun militer disekitar pantai. Dan sering juga angkatan laut datang menolong dengan menurunkan tentara mereka untuk membantu operasi militer yang dilancarkan bermil-mil jauhnya dari pantai.
Kapal-kapal milik angkatan laut Inggris bahkan membantu dengan gempuran artileri dari moncong-moncong meriam mereka jika tentara Perancis yang bertempur tersesat hingga dekat dengan garis pantai. Tetapi bagaimanapun juga, kualitas dan kemampuan dari angkatan darat-lah yang sangat berpengaruh dari sukses tidaknya suatu operasi militer. Sebagai contoh, ketika taktik ini dilancarkan di Spanyol, kadangkala angkatan laut gagal mencapai target karena kurangnya kualitas dan kemampuan tentaranya.


Wilayah Kekaisaran Perancis di Eropa tahun 1811, saat mendekati puncak kejayaannya. Warna hijau terang atau gelap merupakan wilayah Perancis dan teritorialnya sedangkan warna biru, merah muda dan kuning mengindikasikan negara-negara bentukan Perancis
Peperangan ini juga merembet ke perang ekonomi antara sistem kontinental yang diterapkan oleh Perancis menghadapi blokade laut oleh Inggris disetiap wilayah kekuasaan Perancis. Kedua belah pihak selalu membuat konflik baru agar sistem mereka bisa dilaksanakan. Inggris berperang dengan Amerika antara tahun 1812-1815, sementara Perancis ikut serta dalam perang di semenanjung eropa selama tahun 1808-1814. Konflik di andalusia dimulai ketika Portugal melanjutkan perdagangan dengan Inggris meskipun ada larangan dari pihak Perancis. Ketika Spanyol mengalami kegagalan untuk mempertahankan aliansinya dengan Perancis, dengan segera tentara perancis menyerang dan menduduki ibukota madrid.
Austria yang sebelumnya menjadi sekutu Perancis, mengambil kesempatan untuk mengembalikan wilayah mereka di jerman yang pernah dikuasainya sebelum mengalami kekalahan dalam perang di Austerlitz. Mereka memperoleh beberapa kemenangan atas tentara marsekal Davout yang memang terlalu sedikit dalam menjaga seluruh front timur. Napoleon hanya menempatkan sekitar 170.000 tentaranya untuk menjaga seluruh front timur ini. (bandingkan dengan tahun 1790-an, ada sekitar 800.000 tentara yang menjaga front timur ini bahkan lebih pendek jaraknya saat itu).
Napoleon sangat gembira dengan keberhasilan pasukannya merebut Spanyol dan menduduki Madrid dengan mudah, dan memaksa mundur sejumlah besar tentara Inggris dari Andalusia (Pertempuran Corunna, 16 Januari 1809). Akan tetapi serangan yang dilancarkan Austria mencegah Napoleon menyelesaikan pengusiran tentara Inggris dari Andalusia karena dia harus pergi ke Austria untuk memimpin pasukan dan tidak pernah kembali ke arena pertempuran di jazirah ini. Karena ketidakhadirannya beserta marshal terbaiknya (Davout tetap memimpin di timur selama peperangan), situasi di Spanyol makin memburuk, terutama ketika Jenderal Inggris Sir Arthur Wellesley yang terkenal itu tiba untuk memimpin pasukan.
Tentara Austria menyerbu ke kadipaten Warsawa tetapi mengalami kekalahan pada Pertempuran Radzyn pada tanggal 19 April 1809. Tentara Polandia menduduki Galicia barat menambah daftar kesuksesan mereka.
Kemudian Napoleon memimpin sendiri tentaranya untuk melakukan serangan balik ke Austria. Setelah melalui beberapa pertempuran kecil, Austria akhirnya dipaksa mundur dari Bayern, sementara Napoleon terus bergerak memasuki Austria. Akibat keinginannya untuk segera menyeberangi sungai Danube mengakibatkan pertempuran besar yang terkenal dengan nama Pertempuran Aspern-Essling (22 Mei 1809) — Kekalahan telak pertama yang diderita Napoleon dari pasukan Austria yang dipimpin oleh Jenderal Archduke Karl. Baru pada awal bulan Juli (5 Juli6 Juli), Napoleon berhasil merebut Vienna dengan mengalahkan tentara Austria pada Pertempuran Wagram. (Pada saat berlangsung pertempuran ini, Napoleon mencopot Marsekal Bernadotte dari jabatannya dan mempermalukan dia di hadapan marsekal senior lainnya. Segera setelah kejadian ini, Bernadotte menerima tawaran dari Swedia untuk mengisi posisi sebagai pangeran. Selanjutnya dia secara aktif berpartisipasi dalam peperangan ini melawan Napoleon.)
Perang koalisi kelima ini berakhir dengan kesepakatan Schönbrunn (14 Oktober 1809). Selanjutnya di timur hanya pemberontak Tyrol-lah yang dipimpin oleh Andreas Hofer yang tetap melanjutkan perlawanan terhadap tentara Perancis-Bayern sampai akhirnya mereka dikalahkan pada bulan November 1809, sementara itu perang di semenanjung eropa barat tetap berlanjut.
Kekaisaran Perancis mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1810 dengan wilayah kekuasaan yang begitu luas. Sementara itu Inggris dan Portugal tetap menjaga area disekitar Lisbon (di belakang garis depan di Torres Vedras) dan untuk mengepung Cadiz. Napoleon menikah dengan Marie-Louise, Putri dari Austria, dengan maksud untuk mempererat aliansi dengan Austria dan memperoleh keturuan untuk menjadi putra mahkota baru. Hal ini tidak didapatkannya dari istri pertama, Josephine. Sebagai kaisar Perancis, Napoleon mengontrol negara-negara konfederasi Swiss, konfederasi Rhine, kadipaten Warsawa dan kerajaan Italia. Wilayah-wilayah dibawah kekaisaraan Perancis termasuk:
  • Kerajaan Spanyol (dibawah pimpinan Joseph Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
  • Kerajaan Westphalia (Jerome Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
  • Kerajaan Napoli (Joachim Murat, suami dari Caroline, saudara perempuan Napoleon)
  • Kerajaan Lucca dan Piombino (saudara perempuan Napoleon Elisa Bonaparte dan suaminya Felice Bacciocchi)
  • Bekas musuh Napoleon sebelumnya, Prusia dan Austria.

Invasi ke Rusia, 1812 [sunting]

Seperti yang disebutkan di atas, hasil dari pakta Tilsit tahun 1807 mengakibatkan perang Anglo-Rusia 1807–1812. Tsar Alexander I menyatakan perang kepada Inggris setelah Inggris menyerang Denmark pada bulan September tahun 1807. Banyak pelaut Inggris yang ikut membantu armada laut Swedia selama perang Finlandia dan memperoleh kemenangan atas Rusia di teluk Finlandia pada bulan Juli tahun 1808 dan bulan Agustus tahun 1809, tetapi kemenangan tentara Rusia di daratan memaksa Swedia menandatangani perjanjian damai dengan Rusia pada tahun 1809 dan dengan Perancis pada tahun 1810 juga harus bergabung untuk memblokade Inggris.
Akan tetapi hubungan Perancis dan Rusia menjadi semakin buruk setelah tahun 1810, sementara perang Rusia dan Inggris telah berakhir. Pada bulan April tahun 1812, Rusia, Inggris dan Swedia menandatangani perjanjian rahasia untuk bergabung melawan Napoleon.
Napoleon menginvasi Rusia pada tahun 1812 dengan maksud memaksa kaisar Alexander I tetap mengikuti sistem kontinental yang diterapkannya dan memperkecil kemungkinan ancaman Rusia yang akan menginvasi Polandia. Dengan membawa pasukan dalam jumlah besar yaitu sekitar 650.000 orang (270.000 orang Perancis, sisanya tentara dari berbagai wilayah lain) pada tanggal 23 Juni 1812 mereka menyeberangi sungai Niemen. Rusia menyatakan ini sebagai perang patriotik membela negara sementara Napoleon menyatakannya sebagai perang Polandia kedua. Hal ini tidak seperti harapan rakyat Polandia (ada sekitar 100.000 tentara Polandia yang bergabung dalam invasi ini) yakni Napoleon ternyata tidak ingin bernegosiasi dengan Rusia.
Rusia menerapkan strategi membumihanguskan kota sambil mundur teratur.[8][9] Pertempuran hanya terjadi di Borodino pada tanggal 7 September 1812. Pada tanggal 14 September 1812, pasukan Napoleon berhasil masuk kota Moskwa yang sebenarnya sudah ditinggalkan penduduknya dan dibumihanguskan atas perintah gubernur-nya : Pangeran Fyodor Vasilievich Rostopchin.[10][11]
Akhirnya dimulai-lah penarikan pasukan secara besar-besaran dari kota Moskwa akibat cuaca yang sangat dingin dan juga makin hebatnya serangan Rusia yang memang memanfaatkan cuaca dingin sebagai senjata. Korban mencapai sekitar 380.000 jiwa (kebanyakan akibat kelaparan dan kedinginan) dan 100.000 ditawan.[12] Korban jiwa pada pihak Rusia sekitar 210.000 jiwa.[13] Pada bulan November, sisa dari pasukan besar ini menyeberangi sungai Berezina dan hanya sekitar 27.000 tentara yang masih dalam kondisi fit. Napoleon kemudian meninggalkan tentaranya dan kembali ke Perancis untuk menyiapkan pertahanan di Polandia dari serangan tentara Rusia.

Koalisi keenam, 1812-1814 [sunting]

Melihat adanya kemungkinan untuk mengalahkan Napoleon yang sudah lemah akibat kekalahan besar di Rusia, dengan segera Prusia, Swedia, Austria, dan beberapa negara kecil di Jerman ikut dalam peperangan lagi. Napoleon bersumpah dia akan membentuk tentara baru sebesar tentara yang dia kirimkan ke Rusia, dan memang dengan secara cepat dia membentuk tentaranya di timur dari 30.000 menjadi 130.000 dan pada akhirnya mencapai 400.000 orang. Pertempuran-pun segera terjadi di Lützen (2 Mei 1813) dan Bautzen (20-21 Mei 1813) yang mengakibatkan kerugian besar di pihak koalisi yaitu sekitar 40 ribu jiwa. Tercatat lebih dari 250.000 tentara yang terlibat dalam dua pertempuran ini.
Sementara itu pada peperangan di semenanjung Eropa tepatnya di kota Vitoria ( 21 Juni 1813), pasukan Arthur Wellesley meraih kemenangan atas pasukan Joseph Bonaparte sehingga hancurlah kekuatan Perancis di Spanyol dan memaksa mereka mundur melewati pegunungan Pyrene.
Kedua belah pihak menyatakan gencatan senjata yang mulai efektif tanggal 4 Juni sampai dengan 13 Agustus 1813. Selama masa damai ini kedua belah pihak berusaha pulih dari kerugian yang dideritanya sejak bulan April yang telah menelan korban jiwa hampir seperempat juta. Pihak koalisi juga berhasil memengaruhi Austria agar berperang melawan Perancis. Akhirnya dua inti dari pasukan Austria yang berjumlah 300.000 orang ikut serta dalam koalisi sehingga menambah kekuatan mereka di Jerman. Total jumlah pasukan koalisi saat itu mencapai 800.000 tentara di garis depan Jerman, dengan cadangan mencapai 350.000 tentara.
Kesuksesan Napoleon dalam dua pertempuran melawan koalisi keenam di atas ternyata membawa pengaruh besar pada kekuatan angkatan perangnya sehingga menjadi sekitar 650.000 tentara — meskipun sebenarnya hanya 250.000 tentara yang langsung dibawah komandonya, sementara lainnya 120 ribu tentara dibawah komando marsekal Nicolas Charles Oudinot dan 30.000 dibawah komando marsekal Davout.
Negara-negara yang bergabung dalam konfederasi Rhine, terutama Saxon dan Bayern adalah penyumbang tentara terbesar untuk Napoleon. Di selatan, Kerajaan Napoli dan Kerajaan Italia turut menambah kekuatan dengan menyediakan sekitar 100.000 tentara. Sementara di Spanyol masih ada sekitar 150-200 ribuan tentara Perancis meskipun saat itu mereka sudah dipaksa mundur oleh Inggris dari wilayah tersebut. Jadi ada sekitar 900.000 tentara Perancis yang tersebar disemua medan pertempuran berhadapan dengan sekitar 1 juta tentara koalisi (belum termasuk tentara cadangan di Jerman).
Setelah masa gencatan senjata selesai, tampaknya Napoleon akan meraih kembali masa kejayaannya setelah meraih kemenangan besar atas tentara koalisi di Dresden pada bulan Agustus tahun 1813. Akan tetapi di medan pertempuran lain semua marsekalnya mengalami kekalahan sehingga kemenangan ini menjadi tidak ada artinya lagi. Pada Pertempuran Leipzig di Saxon (16-19 Oktober 1813) yang juga dikenal dengan nama pertempuran banyak bangsa, sekitar 190.000 tentara Perancis berhadapan dengan 300.000 tentara koalisi, yang pada akhirnya memaksa mereka mundur sampai ke kampung halamannya sendiri, Perancis. Kemudian Napoleon masih memimpin beberapa pertempuran lagi termasuk pertempuran Arcis-sur-Aube di Perancis sendiri , akan tetapi karena banyaknya jumlah tentara koalisi yang terlibat pertempuran membuat mereka kewalahan.


Tentara Rusia memasuki kota Paris tahun 1814
Akhirnya pasukan koalisi memasuki Paris pada tanggal 30 Maret 1814. Tercatat Napoleon masih memimpin pasukkannya dan mendapat kemenangan berkali-kali atas pasukan koalisi yang maju terus menuju Paris. Akan tetapi dia hanya memimpin sekitar 70.000 tentara melawan 500.000 tentara koalisi, suatu jumlah yang tidak sebanding. Pada tanggal 9 Maret 1814 diadakan perjanjian Chaumont yang menyetujui agar koalisi tetap dipertahankan sampai pasukan Napoleon dapat dikalahkan seluruhnya.
Napoleon memutuskan tetap bertempur, meskipun dia sudah diambang kekalahan. Selama masa ini tercatat dia mengeluarkan 900.000 surat keputusan wajib militer tetapi hanya beberapa saja yang berhasil dilaksanakan. Akhirnya Napoleon kalah dan turun tahta pada tanggal 6 April 1814, tetapi pasukannya di Italia, Spanyol dan Belanda masih terus melakukan perlawan selama musim semi tahun 1814.
Pihak koalisi memutuskan untuk mengasingkan Napoleon ke pulau Elba, dan mengembalikan Perancis menjadi kerajaan serta mengangkat Louis XVIII sebagai raja. Mereka juga mengadakan perjanjian di Fontainebleau (11 April 1814) serta konggres di Vienna untuk menata ulang peta wilayah di Eropa.

Perang Denmark-Inggris, 1807-1814 [sunting]

Selama peperangan era Napoleon, sebenarnya Denmark - Norwegia menyatakan sebagai negara netral dan hanya mengadakan perdagangan dengan Perancis. Akan tetapi pihak Inggris yang terus menerus menyerang, menangkap dan menghancurkan sebagian besar armada laut Denmark pada pertempuran Kopenhagen pertama (2 April 1801) dan hal ini diulangi lagi pada pertempuran Kopenhagen kedua (Agustus-September 1807) mengakibatkan Denmark melakukan perang gerilya terhadap armada Inggris di laut Denmark-Norwegia dengan menggunakan kapal-kapal kecil yang dilengkapi meriam. Perang ini akhirnya berhenti setelah Inggris meraih memenangkan pada pertempuran Lyngor pada tahun 1812, yang mengakibatkan kerusakan pada kapal Denmark yang terakhir, yaitu kapal perang Najaden.

Koalisi ketujuh, 1815 [sunting]

Koalisi ketujuh yang terdiri atas Britania Raya, Rusia, Prusia,Swedia, Austria, dan Belanda serta sejumlah negara kecil di Jerman terbentuk pada tahun 1815 setelah larinya Napoleon dari pulau Elba (tercatat sekitar seratus hari dia kembali mempimpin Perancis). Napoleon mendarat di Cannes pada tanggal 1 Maret 1815. Dalam perjalanannya ke Paris, ia mengumpulkan tentara yang masih setia kepadanya, dan akhirnya menggulingkan raja Louis XVIII. Pihak koalisi segera mengumpulkan pasukan kembali untuk berhadapan dengannya. Napoleon berhasil mengumpulkan 280.000 orang, yang ia pecah menjadi beberapa kesatuan. Untuk menambah kekuatan, Napoleon memanggil kembali seperempat juta veteran perang serta membuat keputusan untuk mengadakan kembali wajib militer agar dapat menambah jumlah pasukan menjadi 2,5 juta tentara yang pada kenyataannya tidak berhasil dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghadapi pasukan koalisi yang berjumlah sekitar 700.000 tentara.

Dengan membawa 124.000 pasukkannya yang berada di utara, Napoleon melakukan serangan kejutan ke posisi pasukan koalisi yang berada di Belgia. Serangan ini dia lakukan dengan harapan mendorong Inggris mundur ke laut dan memaksa Prusia keluar dari peperangan. Serangan kejutan ini mencapai sukses, memaksa Prusia bertempur di Ligny pada tanggal 16 Juni 1815 dan berhasil mengalahkan mereka sehingga mundur dalam keadaan kacau balau. Pada hari yang sama tetapi di lain tempat, pasukan sayap kiri pimpinan marsekal Michel Ney sukses menahan bala bantuan yang akan datang dari tentara Wellington dalam Pertempuran Quatre Bras. Tetapi Ney gagal membersihkan persimpangan jalan Quatre Bras ini sehingga tentara Wellington dapat memperkuat kembali posisinya.
Dengan mundurnya Prusia, pasukan Welington yang tadinya ingin membantu menjadi mundur juga. Mereka kembali ke posisi semula di tebing Gunung Santa Jean, beberapa mil di selatan desa Waterloo. Napoleon membawa cadangan pasukannya yang ada di utara, dan bergabung dengan pasukan Ney untuk mengejar Wellington. Tetapi hal ini dia lakukan sebelum menginstruksikan kepada marsekal Grouchy untuk memimpin pasukan sayap kanan menahan tentara Prusia yang sudah bersatu kembali.
Grouchy gagal melaksanakan perintah ini, meskipun sebenarnya pasukan von Thielmann berhasil mengalahkan barisan belakang pasukan Prusia di Pertempuran Wavre pada tanggal 18-19 Juni, sisa pasukan Prusia tetap menuju Waterloo. Napoleon menunda Pertempuran Waterloo beberapa jam di pagi hari pada tanggal 18 Juni karena belum mengeringnya tanah akibat hujan pada malam sebelumnya. Ternyata sampai petang hari, pasukan perancis belum mampu menaklukkan pasukan Wellington. Ketika pasukan Prusia akhirnya datang dan menyerang sayap kanan Perancis dalam jumlah besar, gagal-lah strategi Napoleon untuk tetap memecah kekuatan koalisi.
Marsekal Grouchy menebus kesalahannya di atas dengan sukses mengorganisasikan pasukan yang mundur dari kota Paris, sementara marsekal Davout dengan 117.000 tentaranya berhadapan dengan 116.000 tentara Blucher-Wellington. Secara militer sangat dimungkinkan Perancis mengalahkan gabungan kedua tentara ini akan tetapi situasi politik membuktikan bahwa kekaisaran sudah mulai jatuh. Jadi, meskipun akhirnya Davout sukses mengalahkan kedua gabungan pasukan ini, sekitar 400.000 tentara Rusia dan Austria tetap maju terus dari arah timur tidak terpengaruh akan kekalahan ini.
Ketika tiba di Paris pada hari ketiga sesudah kekalahan di Waterloo, Napoleon sebenarnya masih berharap timbulnya perlawanan rakyat untuk membela negara terhadap datangnya pasukan asing yang ingin menguasai Perancis. Akan tetapi hal ini tidak menjadi kenyataan karena secara umum rakyat Perancis menolak. Para politisi memaksa Napoleon untuk turun tahta lagi pada tanggal 22 Juni 1815. Meskipun akhirnya kaisar turun tahta, pertempuran sporadis masih terus berlanjut di sepanjang perbatasan timur dan diluar kota Paris sampai disepakatinya gencatan senjata tanggal 4 Juli. Baru pada tanggal 15 Juli, Napoleon menyerahkan dirinya ke skuadron Inggris di Rochefort yang selanjutnya membuangnya kembali ke pulau Saint Helena, tempat dia akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 1821.
Sementara itu di Italia, Joachim Murat yang masih menjadi Raja Napoli setelah menyerahnya Napoleon, sekali lagi menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada saudara iparnya itu dengan melancarkan perang Neapolitan (bulan Maret sampai Mei 1815). Dia berharap mendapat dukungan para nasionalis yang saat itu sedang dilanda ketakutan atas berkembangnya pengaruh Habsburg. Tetapi dukungan yang diharapkannya tidaklah datang, dan akhirnya datanglah pasukan Austria sehingga pecah pertempuran Tolentino pada tanggal 2-3 Mei 1815 yang memaksanya untuk melarikan diri. Dinasti Bourbon akhirnya kembali menduduki tahta Napoli pada tanggal 20 Mei 1815. Murat dieksekusi di depan regu tembak pada tanggal 13 Oktober 1815.

Pengaruh politik [sunting]


Napoleon sebagai raja Italia (lukisan karya Appiani)
Peperangan era Napoleon membawa perubahan besar di Eropa. Meskipun hampir semua wilayah di Eropa Barat dibawah kekuasaan Napoleon (prestasi yang hanya bisa dibandingkan dengan kekaisaran Romawi tempo dulu), peperangan antara Perancis dengan kekuatan lain di benua Eropa selama lebih dari dua dekade akhirnya sampai pada titik penghabisan. Setelah peperangan era Napoleon berakhir, dominasi Perancis di Eropa praktis lenyap, dan kembali lagi seperti pada masa Louis XIV.
Inggris akhirnya muncul sebagai negara superpower di dunia dan tidak dapat dibantah lagi bahwa Angkatan laut Inggris menjadi yang terkuat di dunia, demikian juga mereka menjadi negara maju di bidang ekonomi dan industri.
Hampir di semua negara Eropa, cita-cita dari Revolusi Perancis (seperti demokrasi, hak dan persamaan dalam bidang hukum, dll.) mulai diadopsi. Hal ini mengakibatkan sulitnya para Raja di Eropa mengembalikan hukum lama mereka dan terpaksa tetap memegang hukum-hukum yang diterapkan oleh Napoleon. Bahkan hingga hari ini beberapa dari hukum tersebut masih dipakai, misalnya di banyak negara Eropa hukum sipil-nya jelas-jelas mengadopsi kode Napoleon.
Faham nasionalisme yang relatif baru saat itu dengan cepat berkembang di Eropa dan nantinya banyak memengaruhi jalannya sejarah disana, mulai dari berdirinya negara baru atau berakhirnya suatu negara. Peta politik di Eropa berubah drastis setelah era Napoleon, tidak lagi berbasis aristrokat atau monarki mutlak tetapi berdasarkan kerakyatan. Era Napoleon telah menyebarkan benih bagi berdirinya negara Jerman dan Italia dengan bergabungnya negara-negara bagian kecil dan juga kerajaan.
Ide lain yang diadopsi dari Napoleon (walaupun dia sendiri gagal mewujudkannya) adalah harapannya untuk mewujudkan Eropa yang bersatu (ide ini digulirkan lagi setelah berakhirnya Perang Dunia II. Ide ini kini sudah diwujudkan dengan adanya mata uang tunggal Uni Eropa, Euro.

Warisan militer [sunting]


Napoléon menyebrangi Alpen (karya Jacques-Louis David). 
 
Pada tahun 1800, Bonaparte memimpin Pasukan Perancis melintasi pegunungan Alpen, dan mengalahkan Austria pada Pertempuran Marengo
 
Peperangan era Napoleon juga memberikan perubahan yang sangat besar di dunia militer. Sebelum era Napoleon, negara-negara di Eropa biasanya memiliki tentara dalam jumlah sedikit dan itupun banyak diisi oleh tentara bayaran - kadangkala mereka bertempur melawan negara asalnya sendiri. Inovasi militer yang timbul dalam era Napoleon yaitu mulai dikenalnya kekuatan rakyat yaitu jika seluruh rakyat ikut berperang.
Napoleon mempraktekkan inovasi-nya seperti yang dipertunjukkan pada pertempuran Austerlitz tahun 1805. Dengan taktik yang brilian untuk menghadapi musuh yang berjumlah lebih besar, ia memerintahkan pasukannya untuk senantiasa berpindah posisi secara cepat dari satu tempat ke tempat lainnya.
Tentara Perancis juga memperbaiki aturan main untuk divisi artileri mereka, menjadi kesatuan terpisah dan dapat bergerak cepat. Hal ini mengubah tradisi sebelumnya, yaitu tradisi artileri hanya digunakan sebagai alat untuk mendukung suatu pasukan. Napoleon juga membuat standardisasi ukuran bola-bola meriam agar mudah dibawa dan bisa dipakai disemua jenis artileri.
Dengan populasi jiwa terbesar keempat didunia saat itu, yaitu sekitar 27 juta jiwa (seperti juga Inggris yang berjumlah 12 juta jiwa dan Rusia sekitar 30 sampai 40 juta jiwa), Napoleon dapat mengambil keuntungan dari diberlakukannya wajib militer. Banyak pengamat militer saat ini yang salah persepsi dengan menyatakan bahwa ide wajib militer ini sudah berkembang sejak revolusi Perancis bukan dari Napoleon. Memang tidak semua inovasi militer dari era Napoleon. Adalah Lazare Carnot yang memberi sumbangan besar dalam menata ulang tentara Perancis dari tahun 1793 sampai dengan tahun 1794.
Besarnya jumlah pasukan yang terlibat telah mengubah dunia militer saat itu. Sebelum era Napoleon, pada saat perang 7 tahun (1756-1763), hanya sedikit yang terlibat, paling banyak 200 ribu orang saja. Bandingkan dengan Perancis pada tahun 1790-an, telah memperbanyak jumlah personel-nya menjadi 1,5 juta jiwa. Dan total sekitar 2,8 juta personel yang bertempur di daratan dan 150 ribu di laut, sehingga jumlah keseluruhan tentara yang terlibat menjadi hampir 3 juta personel.
Inggris memiliki 747.670 tentara antara tahun 1792 sampai dengan 1815. Ditambah lagi dengan seperempat juta personel di laut. Pada bulan September 1812, Rusia memiliki sekitar 904 ribu tentara yang terdaftar, dan antara tahun 1799 sampai dengan 1815 memiliki total 2,1 juta personel, kemungkinan sekitar 400 ribu bergabung antara tahun 1792 sampai dengan 1799. Sedangkan dilaut, Rusia memiliki 200 ribu tentara sejak tahun 1792 hingga 1815.
Austria memiliki 576 ribu tentara dan hanya sedikit atau tidak memiliki kekuatan dilautan. Mereka memberikan perlawanan terus-menerus kepada Perancis sehingga kemungkinan besar tentara yang terlibat bisa mencapai 1 juta sampai berakhirnya perang. Prusia hanya mempunyai 320 ribu tentara saja selama perang ini, sedangkan Spanyol sekitar 300 ribu ditambah beberapa unit pasukan yang bergerilya.
Amerika Serikat mengirim 286.730 personel, sedangkan konfederasi Maratha, Kesultanan Utsmaniyah, Italia, Napoli dan Duchy of Warsawa menyumbang lebih dari 100 ribu personel. Bahkan setelah perang berakhir, banyak negara-negara kecil yang memiliki pasukan berkekuatan besar juga.
Tetapi harap diperhatikan pula bahwa data jumlah tentara yang disebutkan tadi berasal dari sumber militer resmi dan sering pada kenyataannya jumlahnya jauh lebih sedikit dikarenakan banyaknya tentara yang desersi, penipuan oleh komandan lapangan yang menyetor daftar prajurit yang dilebih-lebihkan untuk mengambil keuntungan dari gaji yang diberikan pemerintah kepada unitnya, kematian, dan di beberapa negara bahkan terang-terangan berbohong untuk memenuhi jumlah tentara yang ditargetkan.
Bangkitnya Revolusi Industri sendiri pada tahap awal banyak dipengaruhi oleh besarnya jumlah pasukan militer. Karena hal ini menjadikan banyak pabrik yang harus memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya dalam jumlah besar. Inggris merupakan produsen peralatan perang yang terbesar selama konflik ini, mereka mengirimkan sebagian besar senjata ini kepada sekutu-sekutunya (dan hanya memakainya sedikit). Sebaliknya Perancis yang juga menjadi produsen peralatan perang nomor dua terbesar, memproduksinya untuk memperlengkapi pasukannya sendiri dan juga sekutu-sekutunya.
Warisan untuk dunia militer lainnya adalah digunakannya semaphore oleh Perancis untuk saling berkomunikasi antara Menteri Perang, Carnot, dengan pasukan di perbatasan selama tahun 1790-an. Dan Perancis tetap mempergunakan sistem ini sampai peperangan era Napoleon berakhir. Dan perlu ditambahkan pula bahwa pada konflik inilah pertama kali Perancis menggunakan balon udara untuk memantau posisi musuh pada pertempuran Fleurus, 26 Juni 1794, juga digunakannya roket serta meriam yang telah disempurnakan.

Peperangan era Napoleon dalam cerita fiksi [sunting]

  • Novel karya Leo Tolstoy, War and Peace menceritakan malapetaka yang diderita pasukan Napoleon akibat invasi ke Rusia
  • Novel karya Stendhal, The Charterhouse of Parma diawali dengan menceritakan pertempuran Waterloo dan kemudian dilanjutkan cerita tentang mundurnya tentara Perancis dalam keadaan kacau balau
  • Serial Horatio Hornblower sebagian besar berlatar belakang selama peperangan era Napoleon
  • Serial Aubrey-Maturin karya Patrick O' Brian berlatar belakang selama peperangan era Napoleon
  • Sebagian besar serial Richard Sharpe karya Bernard Cornwell berlatar belakang peperangan era Napoleon
  • Novel karya William Makepeace Thackeray, Vanity Fair berlatar belakang peperangan era Napoleon - salah seorang tokoh baik-nya tewas dalam pertempuran Waterloo
  • Serial Temeraire karya Naomi Novik berlatar belakang peperangan era Napoleon dengan hewan fiktif naga diikutsertakan dalam pertempuran.
  • Serial Lord Ramage karya Dudley Pope berlatar belakang peperangan era Napoleon
  • Komik Eroica oleh Riyoko Ikeda menggunakan latar Perang Napoleon untuk membangun cerita kehidupan pribadi Napoleon.

RULES OF ENGAGEMENT

 http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/06/rules-of-engagement.html#more
 
 
Tadi malam (Senin, 25/6) di layar televisi saya melihat film yang sangat menarik berjudul "Rules of Engagement" yang dibintangi beberapa aktor top Hollywood seperti Samuel Jackson, Tommy Lee Jones dan Ben Kingsley (peraih Oscar dalam film "Gandhi").

Menarik bagi saya karena dalam film tersebut ditunjukkan tiga tokoh yang mewakili 3 etnis pembentuk jatidiri bangsa Amerika yaitu kulit putih, kulit hitam dan yahudi (meski tidak disebutkan dalam narasi film, hanya berdasarkan cici-ciri fisik semata). Tokoh kulit putih dimainkan oleh Samuel Jackson, yahudi oleh Ben Kingsley, dan kulit putihnya oleh seorang aktor yang tidak begitu saya kenal yang memainkan tokoh seorang jaksa militer. Tommy Lee Jones meski secara etnis mungkin seorang kulit putih, namun bagi saya lebih tampak sebagai seorang yahudi dengan hidungnya yang besar dan melengkung sebagaimana Ben Kingsley.

Awalnya saya menyangka Ben Kingsley akan memainkan peran protagonis sebagimana film-film Hollywood yang biasanya "menjilat pantat yahudi". Namun ternyata film tersebut memainkannya sebagai peran antagonis, yaitu seorang duta besar yang "pengecut", "egois", "a-nasionalis" "opportunis" dan "khianat". Inilah nilai lebih film ini yang membuat saya tertarik, yaitu berani menempatkan seorang yahudi dengan kharakter dasarnya yang serba negatif.

Film ini bercerita tentang satu regu pasukan marinir Amerika yang ditugaskan untuk mengevakuasi duta besar Amerika di Sana'a, Yaman, yang kantornya diserbu oleh para demonstran anti-Amerika. Namun upaya penyelamatan tersebut berakhir dengan tragis setelah komandan pasukan marinir tersebut memerintahkan anak buahnya menembaki para demonstran hingga mengakibatkan 90 demonstran, sebagiannya wanita dan anak-anak, tewas serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Dianggap melanggar aturan, sang komandan marinir berpangkat Kolonel pun (diperankan oleh Samuel Jackson) harus menjalani sidang disiplin militer, yang secara kalkulatif bakal menjebloskan sang komandan ke balik jeruji. Diperlihatkan bagaimana seluruh sistem kekuasaan di Amerika telah sepakat untuk menjadikan sang Kolonel sebagai kambing hitam demi menyelamatkan reputasi Amerika. Di antara upaya pengkambinghitaman tersebut adalah menyembunyikan rekaman CCTV yang bisa menguak kebenaran peristiwa tersebut.

Ada perbedaan pendapat dalam persidangan tentang bentuk aksi unjuk rasa yang terjadi di kedubes Amerika di Sana'a. Sang Kolonel berkukuh bahwa para demonstran, termasuk wanita dan anak-anaknya, membawa senjata dan melakukan penyerangan yang mengakibatkan tewasnya beberapa personil marinir. Sementara saksi-saksi yang dihadirkan semuanya menyatakan tidak melihat secara langsung apakah pelaku penembakan yang menewaskan personil marinir adalah para demonstran, atau para penembak jitu yang bersembunyi di atap-atap gedung.

Akhirul cerita, pembela terdakwa yang dimainkan Tommy Lee Jones berhasil membuktikan bahwa sang Kolonel lah yang benar dan dibebaskan. Buntut dari persidangan ini sang duta besar dipecat dari jabatan diplomatnya bersama Penasihat Keamanan Nasional yang diduga menyembunyikan rekaman CCTV.

2 orang yahudi digambarkan menjadi pecundang (sang duta besar dan Penasihat Keamanan Nasional yang setidaknya sejak era perang melawan terorisme selalu dijabat oleh seorang zionis), dan itulah "kemenangan" dalam film tersebut. Namun bagi umat Islam, lagi-lagi harus menjadi pecundang, karena film ini, lagi-lagi menggambarkan umat Islam sebagai para teroris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar