Minggu, 23 Juni 2013

SURIAH-PALESTINA-LIBANON DAN ARAB-AS-NATO-ISRAEL....?? >>> KALAU BENAR ISSUE SUNNY-SYIAH... ?? MAKA SYIAH ADALAH MINORITAS.. DAN SUNNY SURIAH ADALAH MAYORITAS..?? FAKTANYA ADALAH PENINDASAN KELOMPOK PEMBERONTAK TERHADAP RAKYAT SURIAH ....DIMANA PARA PEMBERONTAK ITU... DIDUKUNG PASUKAN ASING...DARI EROPA [CIA-MI-6 DLL] DAN KELOMPOK2 PASUKAN BAYARAN ASING LAINNYA..??>> DI SURIAH TIDAK ADA PERBEDAAN SEKTE DAN MAZHAB...DAN SEMUANYA DIATUR SECARA HARMONIS.... DAN SANGAT ISLAMI..>> ........PERANG SURIAH ADALAH ADU DOMBA UMAT ISLAM..OLEH KELOMPOK PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL DAN ANTEK2NYA...[AS-NATO-ARAB TAKFIRI DAN ISRAEL]...>>>........ Suriah adalah sebuah negara di selatan Asia barat dan terletak di pesisir timur Mediterania. Negara ini berbatasan dengan Turki di utara, dengan Irak di timur, dengan Lebanon dan laut Mediterania di Barat, dan dengan Yordania dan Palestina pendudukan di selatan. Oleh karena itu, secara geografis Suriah sangat strategis karena menjadi jembatan penghubung antara Asia dan Eropa. >> 74 persen populasi Suriah beragama Muslim Ahlussunnah, 13 persen lainnya Alawi dan Syiah Imamiyah atau Ismailiyah. 10 persen warga Suriah beragama Kristen, dan tiga persen sisanya adalah warga etnis Druze. ...>>> Sejak dimulainya krisis Suriah, para tokoh dan ulama Syiah negara ini, mengumukan netaralitas mereka dan tidak akan ikut campur. Karena mereka berpendapat bahwa menentukan dalam transformasi tersebut akan merugikan umat Syiah. Warga Syiah Suriah sendiri berpendapat bahwa sebagai kelompok minoritas, mereka akan menjadi sasaran aksi pembalasan. Akan tetapi di satu sisi, warga Syiah senantiasa mendukung pemerintah pusat. Warga Syiah Suriah, sangat menjaga dan berhati-hati dalam bersikap, karena jika tidak maka akan muncul bentrokan dan krisis sektarian di negara ini...>> penderitaan dan kerugian yang dialami warga Syiah Suriah dalam lima bulan kerusuhan: 1- Dibunuh dan diculik. 2- Mengungsi dari wilayah mayoritas Sunni, karena menerima bahaya dan ancaman. 3- Perampokan dan penjarahan, serta pembakaran rumah dan tokok-toko, khususnya yang pemiliknya telah mengungsi. 4- Kesulitan ekonomi yang diakibatkan karena beberapa faktor. Pertama, pemecatan dari tempat kerja mereka di sektor swasta. Kedua, sebagian besar warga Syiah tidak dapat kembali bekerja setelah sejumlah rekan mereka terbunuh. Dan ketiga, lemahnya perekonomian lokal karena kerusuhan dan instabilitas..>>> Lebih lanjut Abu Arafa menjelaskan, “Kelompok-kelompok yang menggunakan nama agama di Suriah sebenarnya sangat jauh dari agama. Pasalnya, setiap orang yang mengibarkan bendera Islam untuk menumpahkan darah sesama Muslim dan atau menjarah harta mereka, siapapun dia adalah pengkhianat dan pembohong.”...>> Abu Arafa menambahkan, “Bagaimana mungkin pintu-pintu surga terbuka di Damaskus, kami tetangga Suriah. Di Palestina, Gaza dan Baitul Maqdis kami dijajah dan tidak ada seorangpun yang pernah mengeluarkan fatwa jihad di wilayah ini baik secara lisan maupun praktek.” Menurut Abu Arafa, jika mereka benar, masalah Palestina seharusnya menjadi prioritas dalam seruannya. “Baitul Maqdis dijajah sejak 60 tahun lalu, selama ini kemana mereka dan kenapa mereka tidak mengirim pasukan seperti ke Suriah, dan kenapa mereka tidak membentuk pasukan untuk Palestina,” tegasnya....>>> Amerika, Israel, Saudi, Qatar, Turki, al Qaida adalah setali tiga uang, sama-sama berkonspirasi menimbulkan kekacauan di Suriah demi menggulingkan pemerintah dukungan rakyat pendukung perlawanan Palestina. ..>>



Nasib Warga Syiah Suriah dalam Krisis Rekayasa Barat 

http://www.alqoimkaltim.com/?p=6215


Suriah adalah sebuah negara di selatan Asia barat dan terletak di pesisir timur Mediterania. Negara ini berbatasan dengan Turki di utara, dengan Irak di timur, dengan Lebanon dan laut Mediterania di Barat, dan dengan Yordania dan Palestina pendudukan di selatan. Oleh karena itu, secara geografis Suriah sangat strategis karena menjadi jembatan penghubung antara Asia dan Eropa.

Sekitar 74 persen populasi Suriah beragama Muslim Ahlussunnah, 13 persen lainnya Alawi dan Syiah Imamiyah atau Ismailiyah. 10 persen warga Suriah beragama Kristen, dan tiga persen sisanya adalah warga etnis Druze.

Krisis berdarah di Suriah sejak tujuh bulan lalu dengan campur tangan tidak langsung Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, dan Perancis di satu sisi, dan disisi lain diprovokasi oleh sejumlah negara regional termasuk Arab Saudi, Yordania, Turki, dan kelompok-kelompok pro-Barat di Lebanon. Krisis dimulai di sebuah kota di Daraa yang mayoritas Sunni, dan sama seperti fenomena politik-keamanan dan sosial lainnya, krisis itu berubah arah menyusul reaksi dari para pemain di dalam dan luar negeri.

Namun hingga kini, nasib umat Syiah akibat kerusahan itu tidak diperhatikan. Laporan berikut ini akan mengetengahkan informasi mengenai kondisi kaum Syiah di Suriah.

Syiah di Suriah Menyebar
Sebagian besar warga Syiah Suriah tersebar di lima provinsi yaitu, Damaskus, Homs, Halab, Idlib, dan Daraa. Mereka juga tidak terhindar dari eskalasi krisis dan bentrokan di dalam negeri.

Hubungan Warga Syiah di Homs dengan Masyarakat
Populasi Syiah di Provinsi Homs mencapai 150 ribu orang yang merupakan 10 persen dari total populasi di provinsi itu. Selain di Homs, warga Syiah juga tersebar di berbagi wilayah sekitarnya. Hubungan mereka dengan kaum Sunni bersahabat dan tenang. Para pejabat Provinsi Homs menekankan kebijakan pendekatan antarpengikut agama dan mazhab, serta penghindaran friksi. Faktor berikutnya adalah ketegasan pemerintah pusat dalam menindak anasir penyulut friksi dan ketegangan antarmazhab. Bahkan kerusuhan pada bulan Juli lalu telah memperkokoh persatuan dan keharmonisan warga Syiah dan Sunni.

Faktor-Faktor Perusak Keharmonisan
Namun keharmonisan dan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun itu terkoyak secara tragis. Sebabnya, pertama adalah gerakan dan gejolak mazhab yang meluas di seluruh negara-engara Islam dan yang pada puncaknya muncul pada awal-awal pendudukan Amerika Serikat atas Irak.

Di sisi lain, media massa dan propaganda kelompok radikal Salafi, melalui televisi satelit dan situs-situs juga semakin menjamur. Di suriah penyusupan Salafi dapat dirasakan di sejumlah wilayah. Hal itu diperparah dengan penistaan yang dilakukan oleh media dan situs-situs Syiah esktrim terhadap nilai-nilai suci Ahlussunnah.

Sikap Kaum Syiah di Masa-masa Krisis
Sejak dimulainya krisis Suriah, para tokoh dan ulama Syiah negara ini, mengumukan netaralitas mereka dan tidak akan ikut campur. Karena mereka berpendapat bahwa menentukan dalam transformasi tersebut akan merugikan umat Syiah. Warga Syiah Suriah sendiri berpendapat bahwa sebagai kelompok minoritas, mereka akan menjadi sasaran aksi pembalasan. Akan tetapi di satu sisi, warga Syiah senantiasa mendukung pemerintah pusat.
Warga Syiah Suriah, sangat menjaga dan berhati-hati dalam bersikap, karena jika tidak maka akan muncul bentrokan dan krisis sektarian di negara ini.

Dampak Krisis Terhadap Warga Syiah
Banyak pendemo Suriah yang berpendapat bahwa warga Syiah mendukung pemerintahan yang brutal dalam menindak instabilitas. Mereka memberikan berbagai dalih di antaranya:

1-   Dukungan kuat Republik Islam Iran dan Hizbullah Lebanon terhadap pemerintah Suriah.
2-   Menuding warga Syiah Suriah mendukung pemerintah dan para suporternya dalam menumpas demonstrasi dan ini merupakan tuduhan yang sama terhadap kelompok-kelompok minoritas Suriah.
3-   Provokasi secara terang-terangan anti-Syiah di berbagai situs, televisi satelit, dan bahkan oleh mufti-mufti ekstrim.

Pembunuhan Warga Syiah
Tidak diragukan lagi bahwa hubungan keharmonisan dan kerukunan warga Syiah dan Sunni Suriah, serta berlanjutnya komunikasi antara para ulama dari dua mazhab itu, menjadi penghalang terseretnya instabilitas itu ke arah kerusuhan sektarian dan etnis. Namun hubungan tersebut sudah tidak berguna lagi ketika senjata telah jatuh ke tangan para perusuh.

Setelah itu, dimulailah propaganda anti-Syiah yang dituding terlibat dalam aksi penumpasan warga Syiah. Tidak hanya itu, para ulama ekstrim juga menginstruksikan para pendemo untuk “membersihkan” kota-kota dari keberadaan “kaum Zoroaster” (merujuk pada bahwa pengikut kaum Syiah terbanyak adalah di Iran dan sebelum masuknya Islam, bangsa Iran adalah penganut Zoroaster). Menyusul seruan tersebut, dimulai pula aksi pembunuhan dan penculikan warga Syiah Suriah khususnya para pemuda. Prosesnya cepat dan meluas hingga sejumlah kelompok bersenjata termasuk Brigade Khaled bin Walid, menyatakan bertanggung jawab atas sejumlah operasi anti-warga Syiah.

Akan tetapi ini bukan berarti warga Sunni Suriah setuju atas aksi tersebut, karena banyak kelompok Sunni moderat dan mereka yang menentang segala bentuk kekerasan, menolak aksi brutal itu. Namun suara mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk krisis, terlebih lagi mereka dituding munafik dan menjadi antek-antek pemerintah.

Kerugian dan Penderitaan Warga Syiah
Berikut ini sebagian penderitaan dan kerugian yang dialami warga Syiah Suriah dalam lima bulan kerusuhan:

1-   Dibunuh dan diculik.
2-   Mengungsi dari wilayah mayoritas Sunni, karena menerima bahaya dan ancaman.
3-   Perampokan dan penjarahan, serta pembakaran rumah dan tokok-toko, khususnya yang pemiliknya telah mengungsi.
4-   Kesulitan ekonomi yang diakibatkan karena beberapa faktor. Pertama, pemecatan dari tempat kerja mereka di sektor swasta. Kedua, sebagian besar warga Syiah tidak dapat kembali bekerja setelah sejumlah rekan mereka terbunuh. Dan ketiga, lemahnya perekonomian lokal karena kerusuhan dan instabilitas. (IRIB Indonesia/MZ/SL)


Joserizal 'Keukeuh' Nyatakan Revolusi Suriah Adu Domba AS dan NATO

JAKARTA (voa-islam.com) - 

Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, menyampaikan tanggapan atas nasehat Ketua DDII Jawa Tengah ustadz Aris Munandar Al-Fatah, Lc.


Joserizal masih tetap keukeuh dengan pendapatnya bahwa Revolusi Suriah adalah adu domba AS dan NATO terhadap kaum Muslimin.


“Nasihat tulus saya juga buat ustadz Aris Munandar, ingatlah perjalanan kita ke Afghanistan tahun 2002 untuk menolong rakyat Afghanistan yang dibombardir AS dan NATO. Sekarang AS dan NATO tersebut mengadu-domba kaum muslimin di Suriah sehingga jatuh korban hampir 100 ribu orang,” ungkap Joserizal melalui blackberry messenger kepada voa-islam.com, Selasa (18/6/2013).


Perlu diketahui, dalam muktamar ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dunia dinyatakan bahwa revolusi Suriah adalah revolusi Islam dan peperangan di Suriah adalah perang terhadap Islam. Artinya pihak pemerintah Syiah Nushairiyah Bashar Al-Assad telah memerangi umat Islam. Ulama Ahlus Sunnah juga menyatakan wajibnya jihad ke Suriah melawan kekejaman Bashar Al-Assad.


Entah dalam kapasitasnya sebagai apa, Joserizal juga mengajak pihak yang bertikai berunding menghindari pertumpahan darah. Padahal seperti diketahui MER-C Indonesia sendiri tidak mengirimkan tim medisnya untuk membantu Muslim Suriah.


“Marilah kita ajak pihak bertikai untuk duduk berunding dalam rangka menghindari pertumpahan darah sesama Muslim,” tutupnya.


Seperti diberitakan sebelumnya, sebagai seorang teman yang pernah berjuang bersama dalam jihad membantu umat Islam saat konflik di Maluku maupun Poso, ustadz Aris Munandar menasehati Joserizal agar bersikap inshaf (adil dan bijak).


“Nasehat saya yang pertama, sikap seorang Muslim itu harus berlaku inshaf berlaku adil, berlaku bijak dalam menyikapi berbagai hal. Apa pun keadaannya, baik karena konspirasi atau karena kejahatan Bashar Al Assad, jawabannya yang menjadi korban adalah umat Islam. Maka saya menyerukan kepada siapa pun untuk peduli kepada umat Islam di manapun mereka berada,” kata ustadz Aris Munandar kepada voa-islam.com, di masjid An-Nur, jl. Solo-Tawang Mangu, pada Ahad (2/6/2013).


“Kalau kita ini peduli terhadap umat Islam yang menjadi korban, baik di Gaza, Afghanistan, Irak bahkan di Poso dan di tempat-tempat lain, sudah semestinya kita memberikan perhatian terhadap saudara Muslim kita yang sedang menjadi korban keganasan Bashar Al Assad,” imbuhnya.


Soal adanya konspirasi musuh-musuh Islam yang menunggangi konflik di Suriah, ustadz Aris kembali menegaskan bahwa antara kaum Muslimin dan musuh-musuh Islam itu memiliki agenda berbeda. Terlepas dari hal itu, umat Islam yang menjadi korban pembantaian harus dibantu.


“Adapun kemungkinan adanya yang memanfaatkan hal ini sebagai bagian dari konspirasi kalangan musuh Islam, jawabannya sangat sederhana; mereka punya agenda, kaum Muslimin juga harus punya agenda. Apakah karena musuh Islam punya agenda konspirasi di Suriah, lalu umat Islam dibantai kita diam saja? Tentu tidak demikian. Berbuatlah semaksimal mungkin apa pun yang bisa mendorong bantuan ke sana,” ungkap Sekjen Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) tersebut. [Ahmed Widad]

Picik Yang Mengatakan Perang di Suriah Adalah Antara Sunni-Syiah

http://www.kaskus.co.id/thread/51bec6985b2acfb943000005/picik-yang-mengatakan-perang-di-suriah-adalah-antara-sunni-syiah/

Pemilu Iran berlalu dan pusat mata sejagat kembali beralih ke Suriah. Negeri dilanda perang saudara itu semakin ramai dengan masuknya pelbagai kekuatan. Barat dan timur terpecah mendukung salah satu pihak. Gerbang konflik dunia diramalkan datang dari negeri dipimpin Presiden Basyar al-Assad ini.

Tak sampai 24 jam setelah Hasan Rouhani terpilih, Iran dilaporkan mengirim 4.000 orang anggota Garda Revolusi ke Suriah demi mendukung Assad dan berperang melawan pemberontak, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Senin (17/6).

Sumber terdekat militer di republik Islam itu mengatakan setengah dari mereka ditempatkan di Bukit Golan menghadang pasukan Israel dan perang ini memiliki pergeseran isu menjadi perang Islam Sunni dan Syiah. Muslim saling membunuh tanpa rasa persaudaraan dan keyakinan pada satu Tuhan.

Syiah, disebut-sebut sebagai Islam melenceng sebab tidak mengakui sahabat Nabi Muhammad yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan usman bin Affan sebagai pengganti saat Rasul mangkat. Bahkan beberapa literatur di pelbagai situs gemar mengupas habis aliran agama disebutkan Syiah tidak menempatkan syahadat dalam rukun Islam.

Duta besar Iran untuk Indonesia Mahmud Farazandeh membantah hal itu. Menurutnya Syiah itu Islam dan setiap orang punya keleluasaan menterjemahkan Al-Quran. "Kami bersyahadat Tauhid dan Rasul. Mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai utusannya. Itulah dasar Islam. Jadi apa yang perlu diributkan?" ujar Farazandeh saat bertandang ke markas merdeka.com beberapa waktu lalu.

Menjadi wajar jika pihak barat memandang Islam agama barbar bisa membunuh bahkan sesama muslim. Iran, Rusia, dan Hizbullah menyatakan pergi ke Suriah lantaran ingin membantu Assad mempertahankan kepemimpinan yang sah tanpa campur tangan barat.

Sementara pemberontak disokong oleh Amerika Serikat, negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan sebentar lagi Mesir bisa jadi bakal bergabung di sisi oposisi. Ini perang tidak bisa diterangkan strategi dan akhirnya.

Konflik awalnya mengacu pada sistem pemerintahan Assad kini berkembang menjadi perang Syiah dan Sunni. Itulah sifat manusia, mencari celah dan kesalahan orang lain tanpa bisa mencari kesalahannya sendiri. Semua berawal dari turunnya Hizbullah ke Suriah dengan kekuatan penuh, disambut peringatan keras dari ulama Sunni di Libanon. "Hizbullah Syiah telah mengirimkan wakilnya membantai rakyat Suriah Sunni. Kita harus jihad," ujar ulama tidak diketahui namanya itu seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya (5/11/2012). Semua ini lantaran Assad penganut Shiite, salah satu unsur Syiah, sementara banyak pemberontak berkeyakinan Sunni.

Gara-gara Suriah pula konflik Sunni-Syiah memanas di Libanon. Secara kebetulan Sunni mendominasi oposisi Suriah. Ini pun ikut merebak ke wilayah lain. Bahkan Ikhwanul Muslimin Mesir dominasi Sunni ikut-ikutan kesal dengan Syiah dan mengakibatkan Presiden Muhammad Mursi memutuskan hubungan diplomatik dengan negara itu.

Padahal di masa lalu Suriah dan Mesir menjadi satu kesatuan dalam membombardir Israel. Kini seperti tak saling kenal, apalagi Mesir punya angkatan bersenjata kuat lantaran sokongan dari Amerika Serikat. "Islam tidak sadar tengah dipecah," ujar Farazandeh.

Ucapan Farazandeh bisa dipertimbangkan lantaran aliran Syiah dan Sunni sudah ada sejak dulu dan tak secuil pun menjadi alasan menyerang satu sama lain. Persaingan memang ada tapi bukan pertumpahan darah.

Iran dan Hizbullah menyangkal tudingan membantu Assad sebab Syiah. Para ulama Syiah pun berujar sama, tak ketinggalan pemimpin tertinggi Negeri Mullah Ayatullah Ruhallah Khamenei. Menurut dia semua terjadi di Suriah merupakan konflik mendukung barat atau pemerintahan Suriah. "Siapapun menghembuskan itu perang Syiah-Sunni dia picik," Khamenei berseru.

http://www.merdeka.com/dunia/makin-s...di-suriah.html

kasian rakyat suriah yang langsung menanggung beban berat dari peperangan adu domba ini.. mudah2an perang segera cepat berakhir.. aamiiinn..
 

Imam Masjid Al Aqsa: Qardhawi Pengkhianat dan Pembohong 

http://www.alqoimkaltim.com/?p=7600

Sheikh Salah Ibrahim Abou Arafa 

ALQOIMKALTIM.COM

Imam Masjid Al Aqsa, Palestina menyebut Mufti Qatar pengkhianat dan pembohong karena telah mengeluarkan fatwa-fatwa jihad di Suriah.

Stasiun TV Alalam (11/6) melaporkan, Syeikh Salahuddin bin Ibrahim Abu Arafa dalam mereaksi fatwa terbaru Yusuf Al Qardhawi, Mufti Qatar mengatakan, “Jika apa yang diucapkannya benar, masalah jihad dan pembebasan Palestina semestinya menjadi prioritas dalam fatwa-fatwanya.”

Surat kabar Al Ahram menulis, “Pengikut satu agama, satu satu sama lain tidak akan berjihad.”

Abu Arafa menambahkan, “Bagaimana mungkin pintu-pintu surga terbuka di Damaskus, kami tetangga Suriah. Di Palestina, Gaza dan Baitul Maqdis kami dijajah dan tidak ada seorangpun yang pernah mengeluarkan fatwa jihad di wilayah ini baik secara lisan maupun praktek.”

Menurut Abu Arafa, jika mereka benar, masalah Palestina seharusnya menjadi prioritas dalam seruannya. “Baitul Maqdis dijajah sejak 60 tahun lalu, selama ini kemana mereka dan kenapa mereka tidak mengirim pasukan seperti ke Suriah, dan kenapa mereka tidak membentuk pasukan untuk Palestina,” tegasnya.

Lebih lanjut Abu Arafa menjelaskan, “Kelompok-kelompok yang menggunakan nama agama di Suriah sebenarnya sangat jauh dari agama. Pasalnya, setiap orang yang mengibarkan bendera Islam untuk menumpahkan darah sesama Muslim dan atau menjarah harta mereka, siapapun dia adalah pengkhianat dan pembohong.”

Umat Islam, katanya, bersatu dan satu agama, kitab suci juga satu Nabi. Orang-orang yang menginginkan perpecahan dalam agama ini, atau mengangkat senjata untuk itu , bukan bagian dari umat ini. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Janganlah menjadi kafir setelahku dan jangan saling membunuh satu sama lain.”

Abu Arafa mengaku sampai kapanpun tidak akan pernah jera untuk menyampaikan kebenaran dan mendukung teman juga sahabat-sahabatnya. Ia mengharapkan keamanan dan perdamaian untuk Suriah dan berdoa agar musuh-musuh kalah.

Baru-baru ini, Yusuf Qardhawi dalam khutbah Jumatnya di Doha, Qatar menyebut komunitas Alawi Suriah, Nasiri dan mengklaim, “Alawi lebih kafir dari Yahudi dan Kristen.”

Mufti Qatar tersebut menyeru seluruh Muslimin di seluruh penjuru dunia untuk membantu pemberontak bersenjata asing di kota Al Qusayr, Suriah dan berperang dengan Hizbullah.

Statemen keras yang menyerang Suriah terus dikeluarkan Mufti Qatar itu padahal ia tidak pernah sekalipun memprotes kejahatan rezim Israel terhadap rakyat Palestina dan Lebanon. Bahkan baru-baru ini ia menepis kekhawatiran Amerika Serikat terkait Israel bahwa pemberontak Suriah tidak berbahaya bagi rezim penjajah itu.
Red: Admin
Sumber: IRIB

Konspirasi Busuk Saudi Arabia, Qatar dan Antek-antek Zionis
http://abna.ir/data.asp?lang=12&Id=305832

Amerika, Israel, Saudi, Qatar, Turki, al Qaida adalah setali tiga uang, sama-sama berkonspirasi menimbulkan kekacauan di Suriah demi menggulingkan pemerintah dukungan rakyat pendukung perlawanan Palestina. 

 Konspirasi Busuk Saudi Arabia, Qatar dan Antek-antek Zionis
Menarik mencermati perkataan wakil Menteri Luar Negeri Iran urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir-Abdollahian, dalam sebuah wawancara (8/3) yang dimuat di Islam Times beberapa hari lalu, ketika itu ia mengatakan bahwa Iran tidak akan pernah mengizinkan Amerika Serikat mengambil keuntungan dari krisis yang melanda Suriah. Iran juga tidak akan membiarkan AS mengganggu keseimbangan kekuasaan di wilayah tersebut.

Fokus tulisan ini bukan untuk mendedah hasil wawancara itu (diperlukan tulisan tersendiri untuk membahasnya), tapi akan membahas krisis bikinan paksa yang terjadi di suriah dan konspirasi busuk yang sebenarnya terjadi untuk melengserkan paksa pemerintahan al Asad. 
 
Dengan perlahan, terutama setelah semua upaya menggulingkan pemerintahan suriah dukungan rakyat gagal dilakukan, krisis Suriah membuka mata dunia dan mempertontonkan kebusukan musuh-musuh suriah sebenarnya.

1. Amerika, Israel dan NATO

Hampir semua kerusuhan, peperangan dan teror yang terjadi khususnya di Timur Tengah, dalangnya adalah Amerika-Israel dengan menggunakan NATO sebagai ujung tombaknya. Arab spring yang terjadi di dunia Arab sebenarnya konspirasi mereka meskipun tidak semuanya sejalan dengan skenario yang sudah mereka persiapkan. Dikarenakan bangkitnya kesadaran rakyat dan rindunya mereka dengan kebebasan dan kemulian Islam yang selama ini terpendam dalam kubangan lumpur dosa para pemimpin boneka Amerika dan budak Israel.

Suriah adalah diantara negara yang berusaha dikudeta secara halus dengan cara menggunakan segelintir oposisi binaan CIA yang sudah dipersiapkan, baik dana maupun persenjataan. Perusuh-perusuh binaan ini adalah para teroris yang tidak segan membunuh sipil dan anak-anak kecil sekalipun. Barat menamakan mereka “aktivis”.

Amerika – Israel begitu bernafsu menggulingkan pemerintahan sah Damaskus dan menggunakan segalam macam cara termasuk veto PBB, dikarenakan dukungan penuh dan tanpa henti Suriah terhadap trio muqowamah; Iran, Hamas dan Hizbullah. Inilah inti sebenarnya kengotototan Washington. Di samping itu, karena Damaskus begitu mesra dengan musuh Amerika, Rusia dan Cina. Sehingga banyak analis perang mengatakan kalau krisis suriah sebenarnya perang antara Amerika vs Rusia Cina. Bahkan kalau seandainya perang jadi digelar akan terjadi perang dunia ketiga.

Maka tidak heran, jika Amerika-Israel tidak segegabah menurunkan NATO. Sebagaimana kasus Libya yang secara langsung dan prontal mengobarkan perang. Disamping sudah kehabisan modal juga terlalu beresiko kalau mengobarkan perang baru, maka konspirasi Amerika-Israel dengan mempersenjatai teroris dan NATO secara tidak langsung.

Dalam sebuah operasi yang dilakukan pemerintah Suriah di kota Homs terungkap bahwa agen Mossad, CIA dan Blackwater terlibat dalam kekerasan militer di Suriah.

Bukti keterlibatan itu terkuak saat pihak militer Suriah menangkap 700 orang bersenjata dan mereka adalah warga Arab, Israel, dan Amerika yang menggunakan senjata buatan Eropa . Tulis Media Rusia, Rabu (7/3) Al-manar juga melaporkan bahwa Pasukan keamanan Suriah mendapat bukti yang kuat atas keterlibatan militer Barat 'dalam konflik internal Suriah,

Ahli urusan strategis Suriah, Salim Harba mengatakan, "Orang-orang bersenjata yang ditangkap adalah warga Negara Arab, Irak, dan Libanon. Di antara mereka adalah juga agen intelijen Qatar dan non-Arab pejuang dari Afghanistan, Turki, dan beberapa negara Eropa seperti Perancis, "

Harba juga mengatakan bahwa kantor koordinasi opoisi yang berada di Qatar adalah disponsori oleh Amerika. Selain itu, Kebocoran informasi yang diperolah dari perusahaan intelijen Stratfor juga menunjukkan tentara NATO yang menyamar sudah berada di berbagai tempat di Suriah sejak lama.

2. Liga Arab, Saudi, Qatar dan Turki

Dalam krisis yang terjadi di Suriah, Liga Arab sudah kehilangan legitimasinya. Sejatinya, Suriah yang nota bene merupakan anggota Liga Arab dan berhak mendapat perlindungan, justru menjadi korban kebijakan pengayomnya. Dari awal sejak krisis Suriah terjadi, negara-negara liga Arab justru mengembargo pemerintahan Asad dan menguncilkan Damaskus. Dan liga Arab pulalah yang memaksa krisis Suriah menjadi urusan internasional dengan melibatkan PBB.

Liga Arab menjadi kaki tangan dan corong Amerika-Israel, maka Saudi dan Qatarlah yang mewakili kepentingan mereka, karena mereka punya kepentingan dan urusan yang sama. Disamping unjuk gigi supaya dianggap sebagai negara berpengaruh di kawasan, Saudi dan Qatar juga berupaya menjegal Iran yang dianggap mempunyai pengararuh besar di kawasan.

Menyingkirkan peran Iran terkait krisis Suriah adalah hal penting buat mereka.

Aliran dana dan persenjataan kepada oposisi dan teroris bayaran dari Saudi dan Qatar mengalir deras, dengan melibatkan Turki diperbatasan negaranya. Pelatihan-pelatihan perang kepada oposisi oleh CIA jauh-jauh hari juga sudah dilakukan di Turki.

Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim al-Thani dalam pertemuan para menlu Liga Arab di Kairo, Sabtu, 10/03/, begitu bernafsu supaya secepatnya menyerang Suriah.

"Saatnya tiba untuk melaksanakan usul mengirim pasukan Arab dan internasional ke Suriah," kata Sheikh .

Menteri Informasi Suriah, Adnan Mahmud mengatakan, Arab Saudi dan Qatar mendukung "geng teroris bersenjata" beroperasi di Suriah dan mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas insiden pembunuhan di negara ini.

"Beberapa negara mendukung geng teroris bersenjata, seperti Arab Saudi dan Qatar, teroris adalah kaki tangan mereka, dan menargetkan warga Suriah ... mereka harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah," kata Mahmoud.

Sheikh Mohammad Alaedin Madhi (16/3), seorang ulama senior Mesir mengatakan, Arab Saudi dan Qatar terang-terangan campur tangan dalam urusan internal negara-negara Muslim lainnya dan menyebut dua negara tersebut sebagai 'pelayan Israel' karena sedang melaksanakan rencana Israel-AS di Suriah.

"Pertama, apakah ada demokrasi di Qatar dan Arab Saudi? Saya tidak berpikir begitu. Mereka sudah mengganggu di Libya. Mereka juga sudah membunuh orang ratusan kali lebih dari yang Gaddafi lakukan di Libya. Mereka (Qatar dan Saudi) tidak ada hubungannya dengan Islam." Kata ulama tersebut dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Press TV di ibukota Mesir, Kairo.

Bahkan utusan PBB-Liga Arab, Kofi Annan ketika berusaha mencari solusi damai atas kerusuhan Suriah dengan cara mendesak supaya menghentikan kekerasan, justru Kelompok-kelompok bersenjata di Suriah binaan Saudi dan Qatar menolak proposal itu.

Mantan Sekjen PBB ini memperingatkan setiap intervensi militer di Suriah dan setiap kesalahan perhitungan tentang Suriah akan berdampak mengerikan bagi kawasan. Dan konspirasi busuk yang berdampak mengerikan di Suriah saat ini justru sedang berlangsung.

3. Al Jazira, Al Arabiya Dan Media-Media Corong Amerika-Israel

Untuk memuluskan konspirasi yang mereka rancang di Suriah, Amerika, Israel, Turki, Saudi dan Qatar menggunakan media-media mainstream sebagai corong kebijakan busuk mereka. Media yang sejatinya sebagai penerang dan alat warta kebenaran dan berkeadilan, ditangan musuh-musuh Suriah menjadi senjata mematikan untuk mempengaruhi opini publik dunia. Media masa mereka menjadi alat pembenaran arogansi. Barat mengedepankan jargon kebebasan bereksperi, tapi itu hanya untuk musuh mereka dan demi kepentingan mereka sendiri. Sangat disayangkan, media-media nasional di Indonesia menelan mentah-mentah pemberitaan bohong itu (baca editorial Islam Times, Kompas Ngawur (Lagi) Soal Pemberitaan Suriah)

Pekerja media di Al Arabiya milik Saudi Arabia dan Al Jazeera milik Qatar, karena kemanusian dan independensinya terusik ketika harus memanifulasi pemberitaan yang bertentangan dengan fakta, ahirnya ramai-ramai mengundurkan diri (baca editorial Islam Times, Al-Jazeera akan Gulung Tikar?) dan berita Tertangkap Basah: CNN Palsukan Video Kerusuhan Suriah)

Duta Suriah untuk PBB Bashar al-Jaafari mengatakan, seorang wartawan dari Kantor Berita Qatar, jaringan TV Al-Jazeera, di London, memberikan catatan kepadanya dan mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Qatar menginstruksikan kepada jaringan Al-Jazeera untuk meningkatkan jam tayang liputan media Al-Jazera terkait kerusuhan pesanan di Suriah, sebelum pertemuan Dewan Keamanan pada tanggal 4 Februari lalu.

Ia pun mengkritik saluran televisi berita, Al Arabiya Saudi dan Al Jazeera milik Qatar, yang didirikan semata untuk "melayani kepentingan Israel."

4. Wahabi, al Qoida dan Fatwa Ulama Saudi

Kospirasi yang lebih busuk lagi dalam krisis politik bikinan di Suriah adalah menyatunya antara Fatwa ulama Saudi untuk membenarkan tindakan pemerintahannya mengintervensi Suriah dan seruan pemimpin al Qoida pengganti Osama kepada para pengikutnya untuk mendukung pemberontak dan kesemuanya sejalan dengan keinginan Amerika dan Israel.

Mufti Agung Arab Saudi dan Ketua Ulama Senior Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Sheikh, berfatwa bahwa mendukung Tentara pemberontak di Suriah dan membuatnya lebih kuat seiring dengan semakin lemahnya rezim Suriah adalah bentuk jihad di jalan Allah.

Mufti Wahabi panutan kelompok takfiri tersebut mengatakan bahwa segala hal yang bisa memperkuat Tentara Bebas Suriah dan memperlemah rezim Suriah diperbolehkan oleh Syariah (hukum agama).

"Upaya melemahkan rezim Suriah, adalah cara berjuang untuk Allah" tandasnya.

Pemimpin Al-Qaedah, Ayman Al- Zawahiri dalam sebuah rekaman video berdurasi delapan menit dengan judul Onwards, Lions of Syria di sebuah situs, menyerukan para pengikutnya yang berada di Turki, Irak, Yordania dan Libanon untuk mendukung para pemberontak Suriah.

“Rakyat Suriah masih terus berduka setiap hari, sedangkan Bashar al-Assad tidak kunjung tergoyahkan," ujar al-Zawahiri seperti dikutip Reuters Minggu, (12/2).

Dia pun menyeru pengikut Wahabi supaya membantu saudara-saudaranya di Suriah dengan semua yang mereka bisa, hidupnya, uangnya, serta informasi yang dimiliki.

Sebagaimana diberitakan, Deputi kementerian dalam negeri Irak mengatakan kepada AFP, hari Sabtu (11/02) bahwa orang-orang al Qoida dengan senjata lengkap bergerak dari Irak menuju Suriah. Di Irak mereka meneror orang-orang Syiah dan menimbulkan kekacauan, setelah sebagian tentara Amerika ditarik dari Irak, sekarang di Suriah memerangi pasukan keamanan Suriah demi melancarkan agenda Amerika-Israel, saudi-Qatar.

Disadari atau sengaja, konspirasi ulama Wahabi dan seruan pemimpin al Qaida itu sebenarnya dalam rangka melemahkan perjuangan rakyat Palestina dan demi mendukung eksistensi Zionis di kawasan. Bohong belaka mereka memerangi Amerika dan Israel sedangkan yang memperkuat perlawanan di Palestina adalah Basar al Asad di Suriah.

Amerika, Israel, Saudi, Qatar, Turki, al Qaida adalah setali tiga uang, sama-sama berkonspirasi menimbulkan kekacauan di Suriah demi menggulingkan pemerintah dukungan rakyat pendukung perlawanan Palestina.


Siapa yang akan menang? Kemenangan milik Suriah yang bertahan dan berani melawan dengan dukungan segenap rakyatnya. [IslamTimes/sa]

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar