Rabu, 03 April 2013

TNI DAN POLRI ??? ...APAKAH ADA YANG SALAH DENGAN POSISI POLRI DALAM PEMERITAHAN NKRI ??...>> TERKESAN POLRI MEMILIKI KEWENANGAN YANG TIDAK SEIMBANG DENGAN PERILAKUNYA...TERHADAP PIHAK LAIN DAN MASYARAKAT.. YANG TERKESAN... SANGAT...SEWENANG-WENANG..??...Kekuasaan dan kewenangan tentara dipreteli habis, alias tentara "digunduli". Sampai-sampai ada keluarga seorang oknum polisi yang mengatakan, tentara tidak memiliki pekerjaan lagi, kecuali "mencabuti rumput" di asrama, ungkapnya. ..>> Ada perubahan yang sangat mendasar atau fundamental pasca reformasi. Terjadinya peralihan kekuasaan dari rezim Orba, yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto, kepada orde Reformasi, dan membawa perubahan yang sangat mendasar kepada sistem demokrasi. Dari sistem otoriter kepada rezim sipil...>>..Jadi TNI dibikin lumpuh oleh otoritas sipil. Semacam ada dendam oleh kalangan sipil, akibat dampak pemerintahan Orde Baru yang sangat otoriter. Lebih selama tiga puluh tahun. Tentara di mana-mana menyandang tuduhan sebagai pelanggar HAM berat yang terkait dengan operasi militer yang dilakukannya. Diantaranya, kasus operasi DOM di Aceh, kasus di Lampung, Priok, dan penangkapan, penahanan penculikan, serta penyiksaan. Ini menjadi sejarah hitam bagi militer. ..>> Tentara yang dulunya, bukan hanya mengelola masalah keamanan, tetapi juga terlibat dalam politik, ekonomi, dan bahkan berbagai aktivitas lainnya, semua dipangkas habis. Bahkan, bisnis TNI pun, kemudian dipreteli, dan tidak ada lagi istilah bisnis bagi TNI.Tentara benar-benar dihabisi oleh otoritas sipil. Dengan semua kewenangan dan kekuasaan yang dimilikinya...>>...Sebenarnya, di manapun tidak ada polisi langsung dibawah Presiden. Polri di dalam sistem otoritas sipil, Polri dibawah sebuah Departemen. Apakah Departemen Dalam Negeri atau Dapartemen Hukum dan Perundang-Undangan....>> ...Bisnis narkoba berkembang sangat luas. Bahkan,Indonesia menjadi pasar utama bisnis narkoba. Lapas di Indonesia menjadi pusat pengendalian narkoba. Tentu, yang lebih hebat lagi, Presiden SBY memberikan grasi kepada seorang "Ratu Marijuana" asal Australia, Corby...>>..Tentu yang paling merisaukan terhadap integritas Indonesia yang merupakan negara kepulauan, dan mudah terancam desintegrasi. Tingkat kerusahan dan amok sosial, tak mampu dihadapi polisi secara efektif. Karena, Polri memiliki kemampuan terbatas. Tetapi, TNI sudah terlanjur digunduli oleh otoritas sipil. Bahkan, belakangan ini rasa kepercayaan terhadap Polri semakin menipis, dan Polri menjadi musuh masyarakat. Terbukti dari berbagai kerusuhan yang ada, kemudian berubah perlawanan rakyat terhadap polisi semakin luas. Seperti yang terjadi di Sumatera Utara belum lama. Mungkin satu-satunya yang selalu diacungi jempol, tak lain, adalah prestasi polisi melalui Densus 88, yang terus membantai aktivis-aktivis Islam. Terutama, mereka yang terduga sebagai teroris...>>...Bukti telanjang dipertontonkan oleh Irjen Pol. Djoko Susilo, yang melakukan mega korupsi, dan memiliki asset, yang sangat fantastis. Mantan Korlantas dan Gubernur AKPOl, Irjen Pol Djoko Susilo diduga memiliki asset lebih Rp100 miliar. Belum lagi, menurut laporan PPATK, ada 15 perwira Polri yang memiliki rekening gendut, antara Rp 100 miliar sampai lebih dari Rp 1 triliun. Tetapi, semua laporan PPATK, tidak pernah dapat diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh Polri. Bahkan, saat Irjen Pol. Djoko Susilo dinyatakan oleh KPK, sebagai tersangka terjadi tarik-menarik antara Polri dengan KPK, dan sampai Presiden SBY turun tangan, dan kemudian memberikan otoritas kepada KPK melakukan penyidikan...>> Berdasarkan Wikipedia, Idjon Jambi bernama lengkap Mochammad Idjon Djanbi (lahir di Kanada sekitar tahun 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser) adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama...>>.. Kopassus dibentuk oleh Kolonel AE Kawilarang yang waktu menjabat sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium Siliwangi. Ia memanggil seorang bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI /TII, namanya Mayor Mohammad Idjon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser). Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD. Baretnya pun berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan belanda “red barets”. Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne /lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan khususnya yang menggunakan baret warna merah. ..>> Ada tiga figur yang sangat berperan di balik pembentukan pasukan komando: Slamet Rijadi, Alex Kawilarang, dan Moch Ijon Djanbi (Rokus Bernadus Visser). Dari tiga nama tersebut, adalah Ijon Janbi yang paling banyak meninggalkan jejak, salah satunya adalah soal pilihan warna baret (merah), hingga satuan Kopassus memperoleh julukan tipikal sesuai warna baretnya: Korps Baret Merah. Wacana soal pilihan warna baret ini menarik, karena berkaitan dengan tradisi satuan yang mengenakannya. Pada biografi Slamet Rijadi yang kita bicarakan ini, disebutkan, sebenarnya Slamet Rijadi lebih terkesan pada baret warna hijau (halaman 208 dan 221). ..>> UNTUK MEMBENAHI CARUT MARUT NEGARA INI... MAKA KEPOLISIAN HARUS DIBAWAH DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM... DAN BUKAN DIBAWAH LANGSUNG PRESIDEN...>>> SEMUA TATANEGARA INI HARUS SESUAI FUNGSINYA... BUKAN ASAL KUASA2-AN..?? >>

Dari Titik Ekstrim ke Titik Ekstrim, Dari Tentara ke Polisi?

Jakarta (voa-islam.com) http://www.voa-islam.com/news/opini/2013/04/03/23882/dari-titik-ekstrim-ke-tentara-polisi/
Ada perubahan yang sangat mendasar atau fundamental pasca reformasi. Terjadinya peralihan kekuasaan dari rezim Orba, yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto, kepada orde Reformasi, dan membawa perubahan yang sangat mendasar kepada sistem demokrasi. Dari sistem otoriter kepada rezim sipil.

Otoritas militer yang memiliki kekuasaan besar, selama tiga puluh tahun lebih, kemudian melalui reformasi, kemudian kekuasaan tentara dipreteli oleh otoritas sipil.

Kekuasaan dan kewenangan tentara dipreteli habis, alias tentara "digunduli". Sampai-sampai ada keluarga seorang oknum polisi yang mengatakan, tentara tidak memiliki pekerjaan lagi, kecuali "mencabuti rumput" di asrama, ungkapnya.

Tidak ada lagi yang disebut dengan "dwi fungsi". Tentara benar-benar masuk  barak. Tidak lagi memiliki kewenangan apapun, termasuk dibidang politik. Fungsi komando terotialnya (koternya) juga ikut dipangkas habis melalui Undang-Undang TNI.

Jadi TNI dibikin lumpuh oleh otoritas sipil. Semacam ada dendam oleh kalangan sipil, akibat dampak pemerintahan Orde Baru yang sangat otoriter. Lebih selama tiga puluh tahun.

Tentara di mana-mana menyandang tuduhan sebagai pelanggar HAM berat yang terkait dengan operasi militer yang dilakukannya. Diantaranya, kasus operasi  DOM di Aceh, kasus di Lampung, Priok, dan penangkapan, penahanan penculikan, serta penyiksaan. Ini menjadi sejarah hitam bagi militer.

Karena itu, otoritas sipil, melalui lembaga legislatif (DPR), partai-partai politik, sebagai otoritas sipil, mengalihkan kewenangan yang selama ini mengelola keamanan negara, kemudian diserahkan kepada otoritas kepolisian.

Tentara hanya menjadi penjaga keamanan negara dari ancaman asing atau invasi  militer asing. Sedangkan keamanan dalam negeri diserahkan kepada kepolisian sepenuhnya.

Tentara yang dulunya, bukan hanya mengelola masalah keamanan, tetapi juga terlibat  dalam politik, ekonomi, dan bahkan berbagai aktivitas lainnya, semua dipangkas habis. Bahkan, bisnis TNI pun, kemudian dipreteli, dan tidak ada lagi istilah bisnis bagi TNI.Tentara benar-benar dihabisi oleh otoritas  sipil. Dengan semua kewenangan dan kekuasaan yang dimilikinya.

Tentu, bagi TNI perubahan yang sangat  penting  lagi, di mana antara  Polri dan TNI, dipisahkan. Dulunya Polri dibawah TNI, dan barada dibawah satu atap. TNI sekaran dibawah Departemen Pertahan, sementara itu, berdasarkan Undang-Undang, Polri langsung dibawah Presiden.

Sebenarnya, di manapun tidak ada polisi langsung dibawah Presiden.  Polri di dalam sistem otoritas sipil, Polri dibawah sebuah Departemen. Apakah Departemen Dalam Negeri atau Dapartemen Hukum dan Perundang-Undangan.

Pemberian kewenangan yang sangat besar kepada Polri, tak banyak membawa  perubahan penting,terutama terkait aspek keamanan  di dalam negeri. Di mana kejahatan terus tumbuh dengan sangat pesat.

Bisnis narkoba berkembang sangat luas. Bahkan,Indonesia menjadi pasar utama bisnis narkoba. Lapas  di Indonesia menjadi pusat pengendalian narkoba. Tentu, yang lebih hebat lagi, Presiden SBY memberikan grasi kepada seorang "Ratu Marijuana" asal Australia, Corby.

Selama lebih dari satu dekade sesudah TNI "digunduli" oleh otoritas sipil dan lembaga NGO, yang ikut mengunduli TNI itu, negara tak mendapatkan rasa aman.

Konflik  sosial, kejahatan yang luas dimasyarakat, terus berkembang. Seakan tak habis-habis. Beraneka ragam bentuk kejahatan terus menyeruak di tengah-tengah masyarakat luas. Seperti Polri tak mampu menghadapi kondisi yang ada, dan tak mampu menghadapi kerusuan atau konflik sosial yang kerap terjdi. Sehingga, rasa aman masyarakat menjadi terancam.

Tentu yang paling merisaukan terhadap integritas Indonesia yang merupakan negara kepulauan, dan mudah terancam desintegrasi. Tingkat kerusahan dan amok sosial, tak mampu dihadapi polisi secara efektif. Karena, Polri memiliki kemampuan terbatas. Tetapi, TNI sudah terlanjur digunduli oleh otoritas  sipil.

Bahkan, belakangan  ini rasa kepercayaan terhadap Polri semakin menipis,  dan Polri menjadi musuh masyarakat. Terbukti dari berbagai kerusuhan yang ada, kemudian berubah perlawanan rakyat terhadap polisi semakin luas. Seperti yang terjadi di Sumatera Utara belum lama.

Mungkin satu-satunya yang selalu diacungi jempol, tak lain, adalah prestasi polisi melalui Densus 88, yang terus  membantai aktivis-aktivis Islam. Terutama, mereka yang terduga sebagai teroris.

Mereka yang terduga sebagai teroris, tak diberi kesempatan hidup,dan langsung dibantai dengan senjata. Itulah prestasi polisi selama reformasi ini. Dibidang penegakkan hukum dirasakan masih sangat jauh.

Tentu, di mata  publik alias rakyat, yang semakin membuat tidak percaya, terjadi korupsi yang sangat luas di tubuh Polri.

Bukti telanjang dipertontonkan oleh Irjen Pol. Djoko Susilo, yang melakukan mega korupsi, dan memiliki asset, yang sangat fantastis. Mantan Korlantas dan Gubernur AKPOl, Irjen Pol Djoko Susilo diduga memiliki asset lebih Rp100 miliar.

Belum lagi, menurut laporan PPATK, ada 15 perwira Polri yang memiliki rekening gendut, antara Rp 100 miliar sampai lebih dari Rp 1 triliun. Tetapi, semua laporan PPATK, tidak pernah dapat diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh Polri.

Bahkan, saat Irjen Pol. Djoko Susilo dinyatakan oleh KPK, sebagai tersangka terjadi tarik-menarik antara Polri dengan KPK, dan sampai Presiden SBY turun tangan, dan kemudian memberikan otoritas kepada KPK melakukan penyidikan.

Sekarang ketika TNI sudah dipreteli dan digunduli oleh otoritas sipil, terjadi kekacauan di mana-mana, dan polisi tidak mampu mengendalikan keadaan, dan negara dalam ancaman bahaya, Polri sudah kehilangan kendali dan kontrol.

Sementara itu, aparat Polri semakin "arogan", dan membuat TNI marah. Ini terbukti terjadi konflik antara TNi dan Polri di sejumlah daerah.

Puncaknya, peristiwa yang terjadi di Lapas Cebongan, di mana empat orang tahanan yang berasal dari Ambon dan NTT, yang notabene, para penjahata dan preman, dan ada diantara mereka mantan polisi, kemudian dibela oleh media krisrten dan sekuler, seperti koran Kompas dan Tempo serta lainnya.

Media kristen dan sekuler seperti Kompas dan Tempo berusaha menyudutkan TNI Angkatan Darat, khususnya Kopassus, sebagai fihak yang bertanggung jawab, didasari latar belakang tewasnya Sersan Satu  Santoso, yang dibunuh secara biadab oleh preman Ambon dan NTT.

Dulu, di era Orba koran kristen dan sekuler, seperti Kompas dan Tempo, tak  pernah memberikan komentar atas segala kejahatan yang dilakukan oleh aparat TNI, karena waktu itu TNI, tokoh-tokohnya orang-orang kristen, seperti Panggabean, Benny Murdani, dan Sudomo. Media-media kristen  dan sekuler seperti Kompas dan Tempo serta lainnya, tidak pernah berbicara tentang hukum, dan perlindungan hak-hak sipil.

Sekarang, media-media kristen dan sekuler itu, Kompas dan Tempo menjadikan empat  orang yang berasal dari Ambon dan NTT, seperti Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Candra Galaga, Yohanis Juan Manbait, dan Gemeliel Yermianto, sebagai pahlawan, dan mengatakan negara dalam bahaya, berlakunya hukum rimba. Padahal, mereka itu penjahat yang sangat membahayakan.

Nyayian media-media kristen dan sekuler serta berbagai lembaga LSM, terus berusaha menghancurkan TNI. Dengan menghancurkan TNI, yang menjadi asset dan tulang punggung negara itu, maka dengan sangat mudah asing akan masuk ke dalam negara, dan menguasai negara.

Dengan cara membela Polri yang  mendapatkan dukungan Barat, khususnya Amerika Serikat dan Australia dalam pemberantasan terorisme yang sekarang tersudut akibat kasus korupdi dan pelanggaran HAM.

Media-media kristen dan sekuler, seperti Kompas dan Tempo serta lainnya, memang tujuannya ingin menjadikan Indonesia porak-poranda, terpecah-pecah, seperti yang menjadi keinginan pengambil kebijakan di Randcorp, Amerika Serikat yang ingin Indonesia terpecah-pecah,  dan TNI menjadi lemah tidak bermartabat, kemudian Indonesia menjadi jajahan asing. Wallahu'alam.

Siapakah Idjon Jambi?

Diposkan oleh Rigih Bayu Ratri http://cutibersama2013.blogspot.com/2013/03/siapakah-idjon-jambi.html?showComment=1365034245103#c8206867000796780159
Nama Idjon Jambi akhir-akhir ini menjadi terkenal. Idjon Jambi menjadi top news di media-media nasional maupun jejaring sosial. Siapakah Idjon Jambi?

Yang membuat terkenal Idjon Jambi sehingga menjadi headline sejumlah media adalah tulisan di facebook yang berjudul: PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH APARAT KEPOLISIAN (Klik untuk membaca tulisannya yang fenomenal)

Tulisan itu dibuat oleh pengguna facebook dengan ID Idjon Jambi. Saya sendiri tak tahu siapa Idjon Jambi. Iseng searching di google, ternyata Idjon Jambi ini adalah salah satu tokoh Kopassus (dulu bernama RPKAD).

Berdasarkan Wikipedia, Idjon Jambi bernama lengkap Mochammad Idjon Djanbi (lahir di Kanada sekitar tahun 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser) adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama.

Pada beberapa literatur, nama Idjon Jambi tertulis Idjon Janbi. Entah mana yang benar.

Kopassus dibentuk oleh Kolonel AE Kawilarang yang waktu menjabat sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium Siliwangi. Ia memanggil seorang bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI /TII, namanya Mayor Mohammad Idjon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser). Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD. Baretnya pun berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan belanda “red barets”. Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne /lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan khususnya yang menggunakan baret warna merah.

Ada tiga figur yang sangat berperan di balik pembentukan pasukan komando: Slamet Rijadi, Alex Kawilarang, dan Moch Ijon Djanbi (Rokus Bernadus Visser). Dari tiga nama tersebut, adalah Ijon Janbi yang paling banyak meninggalkan jejak, salah satunya adalah soal pilihan warna baret (merah), hingga satuan Kopassus memperoleh julukan tipikal sesuai warna baretnya: Korps Baret Merah. Wacana soal pilihan warna baret ini menarik, karena berkaitan dengan tradisi satuan yang mengenakannya. Pada biografi Slamet Rijadi yang kita bicarakan ini, disebutkan, sebenarnya Slamet Rijadi lebih terkesan pada baret warna hijau (halaman 208 dan 221).

Bila warna merah yang dipilih, tentu ini tak lepas dari sentuhan Mayor Ijon Djanbi, selaku Komandan pertama satuan tersebut, yang awalnya bernama Kesko (Kesatuan Komando) TT III/Siliwangi. Bisa jadi ada unsur subjektivitas dari Ijon Janbi sebagai mantan anggota pasukan khusus KNIL (Korps Speciale Troepen, KST). Mengapa warna merah yang akhirnya dipilih, bukan warna hijau, yang merupakan warna baret KST tempat Djanbi sendiri pernah bergabung? Padahal gagasan Slamet Rijadi tentang perlunya pembentukan pasukan berkualifikasi komando, awalnya berdasarkan kekagumannya atas kemampuan tempur KST tersebut, yang notabene berbaret hijau (halaman 261).

Pilihan baret merah bisa dibaca sebagai bentuk apresiasi khusus Djanbi terhadap pasukan khusus Inggris. Saat mendaftar sebagai anggota pasukan komando dulu, Djanbi berlatih di pusat pelatihan pasukan khusus Inggris di kawasan Acknacary (Skotlandia), di bawah gemblengan instruktur-instruktur Inggris pula. Perlu diingat, meski pernah bergabung dalam pasukan khusus Belanda, Djanbi sempat memiliki pengalaman pribadi yang pahit dengan satuan tersebut. Itu sebabnya Djanbi lebih memilih warna merah bagi satuan komando yang dirintisnya. Sampai kini baret merah juga masih dipakai pasukan elite Inggris (The Parachute Regiment).

Mungkin pemilihan ID Idjon Jambi oleh sang penulis note PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH APARAT KEPOLISIAN terinspirasi dari Idjon Jambi sang Komandan Kopassus pertama. So, ga berlebihan apabila sebagian orang menganggap tulisan tersebut adalah versi underground dari TNI (lebih khususnya Kopassus) terkait penyerangan LP Cebongan.



Bagaimana Menurut anda?

Idjon Jambi akhir-akhir ini menjadi terkenal. Idjon Jambi menjadi top news di media-media nasional maupun jejaring sosial. Siapakah Idjon Jambi?

Yang membuat terkenal Idjon Jambi sehingga menjadi headline sejumlah media adalah tulisan di facebook yang berjudul: PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH APARAT KEPOLISIAN (Klik untuk membaca tulisannya yang fenomenal)

Tulisan itu dibuat oleh pengguna facebook dengan ID Idjon Jambi. Saya sendiri tak tahu siapa Idjon Jambi. Iseng searching di google, ternyata Idjon Jambi ini adalah salah satu tokoh Kopassus (dulu bernama RPKAD).

Berdasarkan Wikipedia, Idjon Jambi bernama lengkap Mochammad Idjon Djanbi (lahir di Kanada sekitar tahun 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser) adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama.

Pada beberapa literatur, nama Idjon Jambi tertulis Idjon Janbi. Entah mana yang benar.

Kopassus dibentuk oleh Kolonel AE Kawilarang yang waktu menjabat sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium Siliwangi. Ia memanggil seorang bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI /TII, namanya Mayor Mohammad Idjon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser). Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD. Baretnya pun berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan belanda “red barets”. Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne /lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan khususnya yang menggunakan baret warna merah.
Ada tiga figur yang sangat berperan di balik pembentukan pasukan komando: Slamet Rijadi, Alex Kawilarang, dan Moch Ijon Djanbi (Rokus Bernadus Visser). Dari tiga nama tersebut, adalah Ijon Janbi yang paling banyak meninggalkan jejak, salah satunya adalah soal pilihan warna baret (merah), hingga satuan Kopassus memperoleh julukan tipikal sesuai warna baretnya: Korps Baret Merah. Wacana soal pilihan warna baret ini menarik, karena berkaitan dengan tradisi satuan yang mengenakannya. Pada biografi Slamet Rijadi yang kita bicarakan ini, disebutkan, sebenarnya Slamet Rijadi lebih terkesan pada baret warna hijau (halaman 208 dan 221).

Bila warna merah yang dipilih, tentu ini tak lepas dari sentuhan Mayor Ijon Djanbi, selaku Komandan pertama satuan tersebut, yang awalnya bernama Kesko (Kesatuan Komando) TT III/Siliwangi. Bisa jadi ada unsur subjektivitas dari Ijon Janbi sebagai mantan anggota pasukan khusus KNIL (Korps Speciale Troepen, KST). Mengapa warna merah yang akhirnya dipilih, bukan warna hijau, yang merupakan warna baret KST tempat Djanbi sendiri pernah bergabung? Padahal gagasan Slamet Rijadi tentang perlunya pembentukan pasukan berkualifikasi komando, awalnya berdasarkan kekagumannya atas kemampuan tempur KST tersebut, yang notabene berbaret hijau (halaman 261).

Pilihan baret merah bisa dibaca sebagai bentuk apresiasi khusus Djanbi terhadap pasukan khusus Inggris. Saat mendaftar sebagai anggota pasukan komando dulu, Djanbi berlatih di pusat pelatihan pasukan khusus Inggris di kawasan Acknacary (Skotlandia), di bawah gemblengan instruktur-instruktur Inggris pula. Perlu diingat, meski pernah bergabung dalam pasukan khusus Belanda, Djanbi sempat memiliki pengalaman pribadi yang pahit dengan satuan tersebut. Itu sebabnya Djanbi lebih memilih warna merah bagi satuan komando yang dirintisnya. Sampai kini baret merah juga masih dipakai pasukan elite Inggris (The Parachute Regiment).

Mungkin pemilihan ID Idjon Jambi oleh sang penulis note PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH APARAT KEPOLISIAN terinspirasi dari Idjon Jambi sang Komandan Kopassus pertama. So, ga berlebihan apabila sebagian orang menganggap tulisan tersebut adalah versi underground dari TNI (lebih khususnya Kopassus) terkait penyerangan LP Cebongan.



Bagaimana Menurut anda?
Triyana Tri mengatakan...
menurut saya.....apa bila kita tak mengerti fakta lebih baik diam ...dari pada berkata bohong dan mengada2 dan buat masalah .baru ...biarlah hukum yg mengurusnya untuk mengungkap dan membuktikanya dengan jujur dan seadil2nya demi wibawa hukum kita... komentar boleh tapi beri solusi yg baik bukan mengadu domba antar aparat...negara kita ......
ZA mengatakan...
gambaran idjon jambi sangat logis..dan memang ditubuh aparat baik pemeritahan-polisi-jaksa-hakim-sudah banyak bukti bahwa geng narkoba..sdh sedemikian rupa..sangat kuat dan besar di Indonesia ini.. terlebih kota2 besar..?? konon sdh menjadi klas dunia..?
Ini gambaran nyata..dan gerakan seperti di LP Cebongan itu mirip cara2 geng narkoba..internasional...
kopasus bisa saja membalas tetapi kalau sudah ditangani kepolisian biasanya mereka nunggu..hingga proses selesai..?
Apakah kopasus terlibat narkoba juga..? bisa saja.. Tetapi mengingat disiplin tinggi.. maka kopasus.. bila ada terlibat narkoba atau berupa apa kejahatan.. maka akan diselesaikan oleh kopasus sendiri.. dan dieksekusi..oleh kopasus sendiri..mengingat kopasus adalah pasukan elite..dan sangat disiplin.. tentu akan sangat tipis terlibat narkoba..
Tetapi polisi lebih mungkin.. karena di polri banyak departemen yang umumnya berhubungan dengan berbagi kejahatan..
GAYA EKSEKUSINYA.. mirip geng NARKOBA..seperti sering kita baca.. atau mirip densus88... gaya dan cara penyelesaiannya.. juga,,,??
Jadi menurut logika saya ini ..permainan polisi-dan tentu dengan geng di LP juga...yang sudah biasa..atau sekurang-kurangnya.. sdh tahu design dan tata letaknya..
mereka sudah biasa komunikasi..dan saling mengenal cara dan prosedurnya..?? makanya proses cepat dan sangat ahli.. karena telah sangat terbiasa denga pola lapangan seperti LP..dimanapun..

Kopasus.. adalah sistem tempur individual atau kelompok kecil.. mungkin 2-3 orang sudah banyak.. atau aksi individual..dilapangan terbuka.. atau menyusup kedalam lingkungan..sasaran..dengan penyamaran... Bukan penyerbuan kelompok dan paham sistem elektronik.. cctv dll...
Kejadian Cebongan... cenderung menggambarkan ... GERAK JEJAK.. GENG NARKOBA INTERNASIONAL..ATAW DENSUS 88....
hasil lapangan konon amunisi dan selongsong... menunjukkan...senjata2..standar polri..??...
Apakah tem penyidik jujur.. atau ikut main memperkeruh suasana..??

ZA mengatakan...
kita awam memang apalagi fakta.. mana mungkin kita tahu.. kita bukan yg berwewenang... gk mungkin lah pasti...
Tapi kita kan ada akal sehat.. dan juga pernah baca beberapa kasus... yang bisa dibandingkan... apakah ada..hal2 seperti dmk..?
kita warga negara boleh saja membarikan ide atau gambaran..atau pendapat...
Karena para petugas dan aparat juga.. sering terjadi adanya kamuflase dan malahan membelokan arah..dengan berbagai kepintaran...dan ilmu2 kejhatan..
Ini kasus menarik..
1] terjadi di kafe Hugos..-Jogyakarta.. kafe seperti ini menjual barang haram kan biasa.. misalnya minuman keras.. dan mungkin juga ada geng2 disitu yg berkuasa...
2] ternyata yang dibunuh itu anggota kopasus...oleh anggota geng...yang sangat akrab dengan polisi2...dan konon anggota ormas...yang biasa bernaung para preman atau pam swakarsa...yang mungkin juga bisa dibayar..
3] semula diketahui hanya 4 orang yg terlibat dengan pembunuhan anggota kopasus, tetapi konon ada 3 orang lagi...yang diantaranya adalah juga polisi... Jumlah yang menganiaya itu 7 orang..?
4] dari 7 orang ditangkap 4 orang... yi 2 ditangkap oleh polri..dan 2 ditangkap oleh korem... sedang 3 orang kabur..termasuk anggota polisi..?
5] penyerbuan itu...dengan jumlah belasan orang dan persenjataan lengkap..bertopeng..dan berompi hitam..serta membawa surat..dari kepolisian..?...Walaupun mungkin palsu.. tetapi prosedur2 seperti itu tidak smw orang tahu..?..kecuali yang terbiasa..dengan sistem dan prosedur dilingkungan yg sdh diketahui... Apakah kopasus..tahu sistem keamanan dan prosedur seperti admin tesebut..?..
6] bentuk surat..atau mungkin kop surat..yg mungkin ditunjukkan.. seperti sudah lazim..? mungkinkah kopasus terbiasa dengan model dan bentuk surat2 antar instansi LP dan kepolisian..?
7] banyak hal2 yang perlu dipublis.. agar masyarakat tahu... bahwa memang sedang ada kejahatan yang sedang menempel ketat dengan lembaga2 negara.. dimana para geng2 ikut mengendalikan...kejahatan terselubung..melalui lembaga pemerintahan-polri-dan kekuasaan hukum di NKRI yang memang sangat mungkin... sudah di polakan..secara internasional..?
8] Kewajiban semua warga negara untuk segera mengamankan..rakyat dan bangsa ini dari geng2 yg sdh sangat jahat dan melibatkan jaringan2 bisnis narkoba-dan sel2 sistem pengedaran dan penjualan serta jaringan pengamanan mereka yang melibatkan aparat..negara..?

semoga bangsa ini diberi jalan dan hidayah..serta kekuatan .. untuk segera bisa mewujudkan masyarakat..yang lurus-berbudi luhur-aman dan sejahtera dan dijauhkan dari marabahaya kejahatan berupa syaithan2 yang berwujud manusia..dan jin..dan barang2 haram dan perbuatan2...maksiat dan keji..dan jahat.. aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar