Rabu, 03 April 2013

MENGAPA BOY RAFLI AMAR BERDUSTA...??? ADA APA DENGAN POLRI..YANG SELALU MEMBUAT KISRUH..?? .>> Untuk diketahui, dalam konferensi persnya pada Selasa (2/4/2013) kemarin, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjenpol Boy Rafli Amar mengatakan, Fajar yang dituduh terlibat dalam perampokan toko emas di Tambora ditangkap di Simpang Lima, Semarang. "Hari ini ada penahanan terhadap terduga teroris, dilakukan penangkapan pada 28 Maret 2013, di Simpang Lima, Semarang," ungkap Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan...>> ...Boy juga menuding Fajar adalah pelaku perampokan toko emas di Tambora yang diungkap Polda Metro Jaya. "Fajar Sidik alias Jejen alias Usep. Ditangkap setelah dilakukan pengembangan terhadap empat orang tersangka yang sebelumnya tertangkap Polda Metro," ungkap Boy. [Ahmed Widad]..>> Orang tua Fajar Sidiq membantah keterangan Mabes Polri bahwa Fajar ditangkap di Semarang. Menurut Khoir, ayah Fajar, anaknya ditangkap hendak mencari informasi biaya pengiriman barang ke konter logistik Dakota. Fajar Sidiq, pemuda kelahiran Tasikmalaya, 1984 ini tinggal di Jl. Leuwi Anyar RT. 05, RW. 021, Cipedes, Tasikmalaya. Sehari-hari kegiatannya berdagang busana muslim dan rumahnya berdekatan dengan orang tuanya...>>>..“Kejadiannya ada penyergapan orang, yang disergap itu motornya oranye. Itu pas, anak saya pakai motor Shogun oranye. Katanya dia ditendang dari motor, dicekik, terus dimasukkan ke mobil Avanza. Banyak orang di sana yang melihat di dalam mobil itu senjata laras panjang semua,” tuturnya kepada voa-islam.com, Rabu (3/4/2013). ...Setelah Fajar ditangkap, kemarin Boy Rafli Amar mengatakan Fajar Sidiq ditangkap di Simpang Lima Semarang pada tanggal 28, itu blooon!..>> ...Komisi III tak Serius dan Takut Datang ke TKP..>>> ..Penculikan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) terhadap guru ngaji itu membuat warga Tasikmalaya gempar. Fajar Sidiq, warga Leuwianyar, Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, hilang pada Rabu, 27 Maret 2013. Pihak keluarga menduga Fajar menjadi korban penculikan. Ternyata Fajar ditangkap Densus 88 di sekitar Jalan Juanda Karangsari Kota Tasikmalaya pada 27 Maret 2013 lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Keluarga baru mengetahui Fajar ditangkap pada Senin, 1 April 2013, setelah ada surat pemberitahuan dari polisi, Senin (1 April 2013)...>>


Selasa, 02 Apr 2013

Umat Islam Poso Kecewa Komisi III tak Serius dan Takut Datang ke TKP

JAKARTA (voa-islam.com) - http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/04/02/23858/umat-islam-poso-kecewa-komisi-iii-tak-serius-dan-takut-datang-ke-tkp/
Pengamat kontra terorisme, Harits Abu Ulya menyayangkan sikap anggota DPR RI dari Komisi III yang takut datang ke Poso. Menurutnya hal ini menjadi indikasi betapa tak seriusnya wakil rakyat untuk mengadvokasi korban kekerasan aparat Densus 88 di Poso.


Harits menyampaikan, rombongan Komisi III yang dipimpin Al Muzammil Yusuf saat ini hanya berada di Hotel Santika, Palu dan enggan turun langsung ke TKP di Poso.


“Batalnya Komisi III DPR ke Poso menjadi indikasi betapa tidak seriusnya wakil rakyat untuk advokasi persoalan yang terjadi di Poso. Mereka jauh-jauh dari Jakarta, rombongan sekitar tujuh orang bersama staf dan dipimpin Al Muzammil Yusuf kekeh bertahan di Palu tepatnya di hotel Santika-Palu,” kata Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu kepada voa-islam.com, Selasa (2/3/2013).


Ia mengungkapkan, enggannya rombongan Komisi III terjun ke Poso lantaran alasan klise problem jarak dan waktu, serta gosip aparat kepolisian yang menakut-nakuti bahwa keamanan di Poso tidak Kondusif.


“Alasannya sangat klise, hanya karena problem teknis jarak dan waktu. Inilah kwalitas wakil rakyat, hanya hambur-hamburkan uang rakyat. Hanya karena ‘gosip’ dari pihak Polda bahwa Poso keamanannya tidak kondusif akhirnya berpengaruh kepada niat komisi III,” jelasnya.


Harits menilai tak ada gunanya rombongan Komisi III hanya berada di Palu, sedangkan TKP kejahatan Densus 88 berada di Poso. Hal inilah yang membuat warga dan tokoh masyarakat kecewa hingga tak mau mendatangi rombongan Komisi III di Palu.


“Buat apa di Palu? Sementara TKP kejahatan Densus itu di Poso. Wajar kalau warga dan tokoh masyarakat Poso tidak mau hadir di Palu,” ungkapnya.


Di sisi lain, Harits melihat ada upaya sistemik untuk melemahkan Komisi III yang awalnya ingin melakukan investigasi ke Poso dan berniat membentuk Panja terkait kekerasan yang dilakukan aparat Densus 88.


“Tapi di balik ketidakseriusan Komisi III DPR ke Poso, saya melihat memang ada upaya sistemik untuk melemahkan Komisi III agar tidak berlanjut ke pembentukan Panja. Dan rakyat akan terus menyaksikan serius dan tidaknya wakil rakyat mengadvokasi kepentingan rakyat jelata yang terdzalimi,” bebernya.


Untuk itu, ia berharap masyarakat luas perlu memberikan tekanan untuk menyeret kejahatan Densus 88.


“Saya berharap perlu tekanan publik lebih luas untuk seret kejahatan Densus ini agar tuntas, tidak cukup hanya berharap kepada DPR yang kwalitasnya dan komitmennya memprihatinkan, apalagi merek mudah masuk angin,” tutupnya. [Ahmed Widad]

Rabu, 03 Apr 2013

Guru Ngaji & Pengusaha Busana Muslim Diculik Densus 88, Warga Protes.

TASIKMALAYA (voa-islam.com) – Guru ngaji dan pengusaha busana muslim itu diculik Densus 88 dengan cara keji. Adalah Fajar Sidiq (25) disergap ketika akan pulang ke rumahnya, setelah mendatangi jasa penitipan barang.

Penculikan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) terhadap guru ngaji itu membuat warga Tasikmalaya gempar.

Fajar Sidiq, warga Leuwianyar, Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, hilang pada Rabu, 27 Maret 2013. Pihak keluarga menduga Fajar menjadi korban penculikan.

Ternyata Fajar ditangkap Densus 88 di sekitar Jalan Juanda Karangsari Kota Tasikmalaya pada 27 Maret 2013 lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Keluarga baru mengetahui Fajar ditangkap pada Senin, 1 April 2013, setelah ada surat pemberitahuan dari polisi, Senin (1 April 2013).

Guru ngaji itu ditangkap anggota Densus 88 ketika akan pulang ke rumahnya setelah  mendatangi jasa penitipan barang Dakota Cargo di Jalan Kalangsari, Cipedes, Kota Tasikmalaya. Ketika itu, Fajar yang mempunyai usaha pembuatan kerudung itu, akan menanyakan ongkos kirim barang ke Sulawesi.

Fajar langsung disergap dari arah belakang oleh enam orang yang diketahui sebagai anggota Densus 88 dengan mengendarai dua unit motor dan satu unit mobil.

Fajar terjatuh, setelah Densus sempat mengarahkan pistol kepadanya. Tanpa perlawanan, Fajar dibawa ke dalam mobil Toyota Avanza warna hitam. Begitu pun kendaraan motor milik Fajar dibawa anggota Densus menuju arah Bandung.

Orang tua Fajar, Khoerudin, di kediamannnya di Tasik, mengaku, pihak keluarga sudah mendapat kabar bahwa putranya ditahan di rutan Brimob Kelapa dua, Depok.

Khoerudin, sangat menyesalkan atas penangkapan anaknya oleh Densus 88 yang terkesan arogan, karena puteranya tidak pernah terlibat dan melakukan aksi “terorisme”. Pihak keluarga berharap agar Densus 88 secepatnya memulangkan Fajar Sidiq.

Masyarakat Tasik Protes 

Sementara itu, ribuan massa yang terdiri dari sejumlah ormas, himpunan mahasiswa, pelajar dan santri dari berbagai wilayah di Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar melakukan aksi, Selasa 2 April 2013 di Institusi Polri melalui Polresta Tasikmalaya dan DPRD Kab Tasikmalaya.

Dalam surat undangan yang dikeluarkan Majelis Mujahidin Lajnah Perwakilan Daerah Tasikmalaya, nomor 017/MM/IV/2013, mengundang  aksi solidaritas Muslim Tasikmalaya, menyampaikan orasi di Mapolresta Tasikmalaya dan DPRD KOta Tasikmalaya. 

Mereka menyampaikan aspirasi masyarakat atas pelanggaran HAM Densus 88 terhadap penangkapan terduga teroris. 

Di mata keluarga, Fajar dikenal sebagai kepala rumah tangga yang baik dan guru mengaji di masjid, serta memiliki usaha busana Muslim.

Di mata warga orang Tasikmalaya, Fajar dikenal baik, rendah hati, penyayang dan tidak pernah melakukan tindakan criminal.

Warga Tasik menuntut keadilan dari pemerintah, jangan bertindak semena-mena terhadap warga negaranya, junjung tinggi Hak Asasi Manusia. Warga Tasik juga mendesak pemerintah agar membubarkan Densus 88. [desastian/dbs] http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/04/03/23879/guru-ngaji-pengusaha-busana-muslim-diculik-densus-88warga-protes/


Rabu, 03 Apr 2013

Bantah Anaknya Ditangkap di Semarang, Ayah Fajar: Boy Rafli Amar Bloon

TASIKMALAYA (voa-islam.com) - http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/04/03/23886/bantah-anaknya-ditangkap-di-semarangayah-fajarboy-rafli-amar-bloon/
 Orang tua Fajar Sidiq membantah keterangan Mabes Polri bahwa Fajar ditangkap di Semarang. Menurut Khoir, ayah Fajar, anaknya ditangkap hendak mencari informasi biaya pengiriman barang ke konter logistik Dakota.


Fajar Sidiq, pemuda kelahiran Tasikmalaya, 1984 ini tinggal di Jl. Leuwi Anyar RT. 05, RW. 021, Cipedes, Tasikmalaya. Sehari-hari kegiatannya berdagang busana muslim dan rumahnya berdekatan dengan orang tuanya.


Menurut sang ayah, Fajar diculik Densus 88 saat pergi mengendarai motor Suzuki Shogun warna oranye, ketika menuju konter pengiriman barang Dakota Jl. Muhammad Hatta, Kalangsari, Tasikmalaya, yang tak jauh dari rumahnya, pada hari Rabu (27/3/2013).


“Kejadiannya ada penyergapan orang, yang disergap itu motornya oranye. Itu pas, anak saya pakai motor Shogun oranye. Katanya dia ditendang dari motor, dicekik, terus dimasukkan ke mobil Avanza. Banyak orang di sana yang melihat di dalam mobil itu senjata laras panjang semua,” tuturnya kepada voa-islam.com, Rabu (3/4/2013).
...Setelah Fajar ditangkap, kemarin Boy Rafli Amar mengatakan Fajar Sidiq ditangkap di Simpang Lima Semarang  pada tanggal 28, itu blooon!

Khoir kesal dan membantah ketika mendengar keterangan Mabes Polri yang menyatakan anaknya ditangkap di Simpang Lima, Semarang pada Kamis (28/3/2013). Padahal, Fajar ditangkap di Tasikmalaya pada Rabu (27/3/2013).


“Setelah Fajar ditangkap, kemarin Boy Rafli Amar mengatakan Fajar Sidiq ditangkap di Simpang Lima Semarang  pada tanggal 28, itu blooon!” tegasnya.


Untuk diketahui, dalam konferensi persnya pada Selasa (2/4/2013) kemarin, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjenpol Boy Rafli Amar mengatakan, Fajar yang dituduh terlibat dalam perampokan toko emas di Tambora ditangkap di Simpang Lima, Semarang.


"Hari ini ada penahanan terhadap terduga teroris, dilakukan penangkapan pada 28 Maret 2013, di Simpang Lima, Semarang," ungkap Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan.


Boy juga menuding Fajar adalah pelaku perampokan toko emas di Tambora yang diungkap Polda Metro Jaya.


"Fajar Sidik alias Jejen alias Usep. Ditangkap setelah dilakukan pengembangan terhadap empat orang tersangka yang sebelumnya tertangkap Polda Metro," ungkap Boy.  [Ahmed Widad]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar