Rabu, 03 April 2013

.....Komnas HAM yang juga memiliki bukti video yang sama, melakukan investigasi ke Poso. hasilnya setelah melakukan pemantauan dan penyelidikan melalui wawancara dengan para saksi serta tinjauan langsung ke lapangan diperoleh data, fakta dan informasi bahwa, peristiwa yang terekam dalam video kekerasan yang diduga dilakukan oleh Densus 88 adalah benar-benar terjadi pada 22 Januari 2007 di Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso...>> ....temuan terbaru yang sangat mencengangkan dan membuat miris umat Islam adalah korban penyiksaan dalam video tersebut adalah anak-anak keluarga besar Muhammadiyah....>>> ...Din juga menyayangkan sikap aparat kepolisian dalam hal ini Densus 88 yang hanya berani hanya kepada masyarakat biasa dari umat Islam, sedangkan untuk kasus teror penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta hingga kini Densus 88 sama sekali belum mengungkapnya. ..>>...Pada hari Rabu (27/3/2013) sekitar pukul 10.00 WIB Fajar hendak mengirim barang ke Sulawesi, ia pun menanyakan logistik pengiriman barang yang cocok pada adiknya. “Kata adikanya, sudah kirim pakai Dakota aja, adanya di Kalangsari, Jl. Muhammad Hatta, coba tanya dulu ongkos kirim berapa ke sana,” kata Khoir sambil menirukan anaknya kepada voa-islam.com (3/4/2013). Karena lokasinya dekat, Fajar berangkat dengan santai, tidak menggunakan helm, tidak membawa hand phone termasuk juga dompet, mungkin karena saking dekatnya ke sana lantaran keperluannya hanya sebatas bertanya ongkos pengiriman barang. “Tapi kata orang-orang itu sudah dibuntuti dari tempat ini. Pas di Dakota itu ada yang nyergap katanya. Motornya ditendang, Fajarnya jatuh, lalu disergap oleh orang yang naik motor Bison. Terus ada orang dengan baju biasa, mungkin dia informan, lalu motornya diambil anak itu. Fajar lalu ditangkap, dilempar dimasukkan ke mobil Avanza hitam,” ungkapnya...>> sudah harus segera kepolisian itu dibawah departemen hukum dan ham... bukan dibawah presiden langsung... Bahkan UUD 1945..... mengisyaratkan dibawah departemen Dalam Negeri...??>> SEMOGA PARA PEJABAT NEGARA PEMERINTAHAN-DPR DAN KEHAKIMAN SEGERA MEMBENAHI STRUKTUR KEKUASAAN NEGARA INI DENGAN BENAR..>>



Ternyata Korban dalam Video Penyiksaan Densus 88 Warga Muhammadiyah

JAKARTA (voa-islam.com) - http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/30/23804/ternyata-korban-dalam-video-penyiksaan-densus-88-warga-muhammadiyah/
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, MA, akhirnya mengungkapkan bahwa sejumlah korban dalam video kekerasan yang diduga dilakukan Densus 88 ternyata anak-anak keluarga besar Muhammadiyah.


Untuk diketahui, beberapa waktu lalu Din Syamsudin bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah delegasi pimpinan Ormas-ormas Islam pernah mendatangi Mabes Polri.


Saat itu kedatangan Din Syamsudin bersama MUI dan ormas Islam tersebut secara khusus melaporkan kepada Kapolri Jendral Timur Pradopo terkait adanya bukti video dugaan pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat Densus 88 dalam penanganan kasus terorisme.


“Secara khusus juga kami datang untuk melaporkan adanya bukti berupa video yang mengandung gambar tentang pemberantasan teroris, kami tidak tahu dimana dan kapan. Tetapi sangat jelas mengindikasikan pelanggaran HAM berat, oleh karena itu kami meminta untuk ditindaklanjuti,” kata Din Syamsudin kepada wartawan di depan gedung Rupatama, Mabes Polri, Kamis (28/2/2012).


Sementara, Komnas HAM yang juga memiliki bukti video yang sama, melakukan investigasi ke Poso. hasilnya setelah melakukan pemantauan dan penyelidikan melalui wawancara dengan para saksi serta tinjauan langsung ke lapangan diperoleh data, fakta dan informasi bahwa, peristiwa yang terekam dalam video kekerasan yang diduga dilakukan oleh Densus 88 adalah benar-benar terjadi pada 22 Januari 2007 di Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso.


Namun, temuan terbaru yang sangat mencengangkan dan membuat miris umat Islam adalah korban penyiksaan dalam video tersebut adalah anak-anak keluarga besar Muhammadiyah.


Hal ini disampaikan Din Syamsudin usai konferensi pers PP Muhammadiyah terkait RUU Ormas yang akan segera disahkan.


“Seperti kejadian di Poso itu anak-anak keluarga besar Muhammadiyah yang akan menunaikan shalat Idul Fitri, Oktober 2007 yang kebetulan berbeda harinya dengan pemerintah. Tapi kok pada sore dan malam hari itu didatangi oleh polisi dengan operasi sambang, lalu terjadi benturan, itu bukan teroris!” tegas Din Syamsudin kepada wartawan, di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/3/2013).


Din juga menyayangkan sikap aparat kepolisian dalam hal ini Densus 88 yang hanya berani hanya kepada masyarakat biasa dari umat Islam, sedangkan untuk kasus teror penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta hingga kini Densus 88 sama sekali belum mengungkapnya.


“Densus jangan hanya berani pada masyarakat, apalagi masyarakat Islam,” tandasnya. [Ahmed Widad]

Pihak Keluarga Ungkap Kronologis Penangkapan Fajar Sidiq

TASIKMALAYA (voa-islam.com) - Khoir, Orang tua Fajar Sidiq mengungkapkan kronologis penangkapan anaknya. Ia menyampaikan penuturan para saksi mata di lokasi penangkapan yang menceritakan bahwa Fajar mendapat perlakuan tidak manusiawi saat ditangkap.


Pada hari Rabu (27/3/2013) sekitar pukul 10.00 WIB Fajar hendak mengirim barang ke Sulawesi, ia pun menanyakan logistik pengiriman barang yang cocok pada adiknya. “Kata adikanya, sudah kirim pakai Dakota aja, adanya di Kalangsari, Jl. Muhammad Hatta, coba tanya dulu ongkos kirim berapa ke sana,” kata Khoir sambil menirukan anaknya kepada voa-islam.com (3/4/2013).


Karena lokasinya dekat, Fajar berangkat dengan santai, tidak menggunakan helm, tidak membawa hand phone termasuk juga dompet, mungkin karena saking dekatnya ke sana lantaran keperluannya hanya sebatas bertanya ongkos pengiriman barang.


“Tapi kata orang-orang itu sudah dibuntuti dari tempat ini. Pas di Dakota itu ada yang nyergap katanya. Motornya ditendang, Fajarnya jatuh, lalu disergap oleh orang yang naik motor Bison. Terus ada orang dengan baju biasa, mungkin dia informan, lalu motornya diambil anak itu. Fajar lalu ditangkap, dilempar dimasukkan ke mobil Avanza hitam,” ungkapnya.


Lama tak pulang, Khoir yang tak tahu Fajar ditangkap. Mulai mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Bahkan ia sempat mencarinya ke rumah sakit karena khawatir anaknya kecelakaan, namun ia kembali dengan tangan hampa tanpa mengetahui keberadaan Fajar.


“Setelah Zuhur, saya bertanya-tanya, si Fajar tidak pulang-pulang ke mana ini? Lalu saya tanya istrinya; Fajar ke mana? Dia bilang tadi ke Dakota tapi belum pulang. Setelah itu sampai Ashar tidak ada, Maghrib pun tidak ada. Sore itu kami ke Rumah Sakit, karena was-was mencari, melihat-lihat barangkali jatuh atau kecelakaan tapi tidak ada. Terpaksa kami pulang dengan tangan hampa,” ujarnya.


Tak menyerah, Kamis keesokan harinya ia mendatangi konter pengiriman barang Dakota yang pada hari Rabu hendak dituju Fajar. Di sinilah Khoir mulai terkejut ketika mendapat informasi adanya penangkapan dari penjaga konter.


“Lalu keesokan harinya jam 09.00 WIB saya datang ke Dakota menanyakan apakah ada yang datang ke sini menanyakan biaya pengiriman barang ke Sulawesi? Lalu dijawab tidak ada. Saya bertanya lagi, ada kejadian tidak kemarin? Lalu dijawab kalau kejadian ada, sampai mobil itu macet. Kejadiannya ada penyergapan orang, yang disergap itu motornya oranye. Itu pas, anak saya pakai motor Shogun oranye. Katanya dia ditendang dari motor, dicekik, terus dimasukkan ke mobil Avanza. Banyak orang di sana yang melihat di dalam mobil itu senjata laras panjang semua,” tuturnya.


Mendengar informasi bahwa kemungkinan besar anaknya ditangkap, warga masyarakat sekitar termasuk para tetangga pun bersimpati. Lantaran pihak aparat yang lambat memberikan surat penangkapan Fajar, warga pun jengkel sebab hal ini seperti kasus penculikan. Pasalnya, Fajar dikenal sebagai orang baik-baik, guru ngaji dan kerjanya hanya berdagang busana muslim.


“Hari Senin itu sempat mau ada aksi karena diketahui anak kami menghilang atau diculik, reaksi massa itu alhamdulillah, pendukung-pendukung kami itu di Tasikmalaya pada tahu.  Jadi reaksi massa itu kalau tidak dicegah, tidak tahu akan bagaimana,” ujarnya.


Pihak keluarga akhirnya mendapat kabar dari pihak kepolisian bersamaan dengan surat penangkapan, bahwa Fajar telah ditangkap dan kini berada di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Namun di sisi lain, ia menyayangkan perlakuan aparat kepolisian dalam hal ini Densus 88 yang tidak manusiawi dalam melakukan proses penangkapan. [Ahmed Widad]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar