Selasa, 09 April 2013

....Dukungan Terhadap Kopassus>> ....TNI Angkatan Darat dan Kopassus, beberapa hari ini, terus diharu-biru oleh media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, yang dituduh melakukan hukum rimba, ketika mengeksekusi empat orang preman dan mantan anggota polisi yang membunuh secara sadis Sersan Heru Santoso...>> ...Kecemanan dan cercaaan itu, kemudian berbalik menjadi dukungan rakyat dan elemen-elemen pemuda Yogyakarta, yang menginginkkan kota pelajar dan budaya itu dibersihkan dari para preman. Rakyat dan para pemuda Yogyakarta mendukung tindakan Kopassus yang mengeksekusi para preman. Yogyakarta, kota pelajar dan budaya yang tenang, berubah penuh dengan kekerasan sejak berdatangannya orang-orang dari Ambon dan NTT, bahkan berkembangnya budaya kekerasan, narkoba, dan minum, alias premanisme...>> ...Ratusan elemen pemuda dan rakyat Yogyakarta itu, berasal dari FKPPI, Paksitkaton, Jogya Otomotif, Rembug Jogya, Jogya Community, GP Ansor, dan beberapa elemen lainnya dari rakyat Yogyakarta. Kelompok-kelompok itu bergabung dalam : "Pemuda Anti Premanisme". Di Tugu Perjuangan, para pemuda itu, salah satu diantara pemuda itu, melakukan orasi tanpa henti, dan mengungkapkan dukungannya kepada Kopassus. Orasi yang dilakukannya itu, sebagai bentuk dukungan dan simpati terhadap anggota Kopassus,Sersan Heru Santoso. Kemudian, mereka mengumpulkan dana : "Semiliar Koin untuk Serka Heru". ..>>..1. Meng-apresiasi atas tindakan atas kejujuran 11 parjurit kopassus u mengakui sbg tersangka dlm kasus lapas cebongan. 2. Sbgn besar masyarakat jogjakarta tdk peduli dgn kematian ke 4 preman yg dieksekusi bhkan sgt senang jika ke 4 preman itu lebih baik mati daripada buat resah warga jogja. 3. Kita sbg wrg jogja juga lebih paham! lebih tahu! Tentang ke 4 preman dan anggota2 lainnya, yg mereka preman residivis yg sll buat anarkis,mabuk2an,pemalak, dan pembunuh berdarah dingin, pemerkosa serta terlibat kasus narkoba u tempat2 hiburan malam...>>..4. Mengecam keras upaya dan usaha yg berlebihan super reaktip dari pihak KOMNAS HAM , Kontras maupun sebagian anggota DPR yg seakan2 lebih membela kepentingan ke 4 preman itu dgn mati-matian. Dgn dalih ini kasus pelanggaran HAM berat. Padahal Yg seharusnya mereka urusi adalah urusan lain yg lebih penting u kepentingan masyarakat, daripada ngurusi kepentingan preman2 tengik itu. 5. Padahal Pelanggaran HAM kpd masyarakat jogja secara khusus Yg dilakukan oleh ke 4 preman dan anggota2nya lebih besar dibandingkan tindakan yg dilakukan 11 prajurit kopassus. Tapi kita liat mereka org2 Komnas HAM dan antek2nya diam seribu bahasa terhadap pelanggaran yg diperbuat preman2 itu kpd masyarakat Jogjakarta. 6. Justru dgn kematian ke 4 preman itu jujur membuat masyarakat jogja dan sbgn besar pelajar mahasiswa merasa aman & tdk terimidasi. 7. Kpd para anggota DPR pusat ataupun reporter media manapun apapun silahkan u mensurvei u dimintai pendapat kpd ratusan ribu bhkn sejuta Warga jogjakarta sekitarny dari tingkat RT RW dukuh lurah camat bupati dan dari berbagai kalangan pegawai negeri maupun swasta, pedagang, dan para pelajar serta mahasiswa sbgn besar yg mereka inginkan adalah JOGJA AMAN TANPA PREMANISME. SILAHKAN KELUAR JOGJA JIKA HANYA MENJADI PREMAN DIJOGJA....>.>>>..“Ya ini memang fenomena menarik, mengapa ada masyarakat Yogya yang memberikan dukungan kepada Kopassus. Ini menjadi refleksi kegerahan masyarakat akan keberadaan preman,” ujar pakar psikologi massa dari Unpad, Zainal Abidin, dalam perbincangan Minggu (7/4/2013) malam. Menurut Zainal aksi dukungan yang dilakukan sebagian masyarakat Yogyakarta itu juga merupakan bentuk keprihatinan mereka atas tidak adanya rasa aman. Ekspresi tersebut, sambung Zainal, juga bisa diartikan sebagai bentuk sindiran terhadap aparat kepolisian atas gagalnya upaya pemberantasan preman. “Ini kritik terhadap polisi yang mereka anggap tidak bisa memberikan rasa aman. Mereka merasa tidak puas dengan ada,” kata Zainal. Kondisi ketidaknyamanan dengan keberadaan preman itu, kata Zainal, sudah dirasakan jauh hari sebelum adanya penusukan anggota Kopassus di Hugos yang berujung penyerangan dan ‘eksekusi mati’ empat pelaku penusukan, di LP Cebongan Sleman...>>>


Kecaman Berubah Menjadi Dukungan Terhadap Kopassus

Yogyakarta (voa-islam.com) http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2013/04/08/23938/kecaman-berubah-menjadi-dukungan-terhadap-kopassus/
Kematian Sersan Heru Santoso, anggota Kopassus, Grup 2,  Kandangmenjangan, Surakarta, yang tewas dibunuh secara sadis para preman yang berasal dari Ambon dan NTT, di Hugo's Cafe, berubah menjadi dukungan simpati terhadap kesatuan elite itu.

Kalangan pemuda dan rakyat Yogyakarta, memberikan dukungan kepada Kopassus, guna memberantas dan membersihkan para preman dari Yogyakarta. Karena, selama ini ada pembiaran terhadap para preman,  dan bahkan ada oknum aparat yang memberikan dukungan kepada para preman.

TNI Angkatan Darat dan Kopassus, beberapa hari ini, terus diharu-biru oleh media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, yang dituduh melakukan hukum rimba, ketika mengeksekusi empat  orang preman dan mantan anggota polisi yang membunuh secara sadis Sersan Heru Santoso.

Kecemanan dan cercaaan itu, kemudian berbalik menjadi dukungan rakyat dan elemen-elemen pemuda Yogyakarta, yang menginginkkan kota pelajar dan budaya itu dibersihkan dari para preman. Rakyat dan para pemuda Yogyakarta mendukung tindakan Kopassus yang mengeksekusi para preman.

Yogyakarta, kota pelajar dan budaya yang tenang, berubah penuh dengan kekerasan sejak berdatangannya orang-orang dari Ambon dan NTT, bahkan berkembangnya budaya kekerasan, narkoba, dan minum, alias premanisme.

Ketenangan menjadi porak-poranda. Kekerasan kerap terjadi dan keributan menyeruak di seantero kota  Yogyakarta. Semua ini berlangsung, karena adanya dukungan dan main mata, antara para preman Ambon dan NTT dengan oknum aparat kepolisian.

Hari Minggu, di kota Yogyakarta, di tengah guyuran hujan, berlangsung aksi dukungan terhadap Kopassus. Ratusan pemuda dari berbagai elemen, menggelar aksi dan melakukan orasi mendukung tindakan Kopassus yang membersihkan para preman dari kota pelajar dan budaya itu.

Mereka menginginkan kota Yogyakarta bersih dari segala bentuk premanisme, yang sekarang sudah menjadi ancaman nyata kehidupan mereka. Mereka menginginkan Yogyakarta dibersihkan dari premanisme. Karena itu, sekarang rakyat Yogyakarta terus melakukan sweeping dan pengawasan terhadap orang-orang yang berprofesi preman.

Ratusan pemuda menggelar aksi dukungan atas kejujuran Kopassus, Kandangmenjangan yang mengakui perbuatannya. Para anggota Kopassus itu sudah mengakui sebagai pelaku penempbakan empat penghuni Lapas Cebongan, yang berasal dari Ambon dan NTT.

Selama ini rakyat Yogyakarta sangat diresahkan orang-orang Ambon dan NTT, yang selalu mengintimidasi mereka. Dengan berbagai bentuk kekerasan yang mereka lakukan. Dengan tindakan yang dilakukan Kopassus itu, rakyat Yogyakarta kembali memiliki spirit melawan para preman itu.

Ratusan elemen pemuda dan rakyat Yogyakarta itu, berasal dari FKPPI, Paksitkaton, Jogya Otomotif, Rembug Jogya, Jogya  Community,  GP Ansor,  dan beberapa elemen lainnya dari rakyat Yogyakarta. Kelompok-kelompok itu bergabung dalam : "Pemuda Anti Premanisme".

Di Tugu Perjuangan, para pemuda itu, salah satu diantara pemuda itu, melakukan orasi tanpa henti, dan mengungkapkan dukungannya kepada Kopassus. Orasi yang dilakukannya itu, sebagai bentuk dukungan dan simpati terhadap anggota Kopassus,Sersan Heru Santoso. Kemudian, mereka mengumpulkan dana : "Semiliar Koin untuk Serka Heru". 

"Ini aksi dukungan kita kepada Kopassus yang dengan berani memberantas preman Yogyakarta", kata Utomo, Koordinator aksi. Ratusan pemuda menglilingi Tugu dengan benda Merah Putih sepanjang 60 meter. Mereka juga menggelar tabur bunga dan do'a bersama untuk almarhum Serka Heru Santoso.

Beberapa spanduk dikibarkan mengelilingi Tugu bertuliskan, "Rakyat-TNI bersatu berantas premanisme, Terimakasih Kopassus, Yogya Aman Preman Minggat, Kastria Kopasssu Berani Berubat Berani Bertanggungjawab", dan "Preman itu Pengecut dan Tak Punya Perasaan".

Memang, sejak terjadi pembunuhan Serka Santoso, dan kemudian terjadinya pembunuhan terhadap empat orang preman dari Ambon dan NTT, banyak para pemuda yang berasal dari Ambon dan NTT  itu, meninggalkan Yogyakarta, dan sebagian diantara mereka meminta perlindungan gereja.

"Kita menolak tegas premanisme dan usir Yoyakarata", ujar Utomo. Dengan aksi itu menunjukkan solidaritas pemuda Yogyakarta, yang menginginkan kota Yogya menjadi aman dan bebas segagala bentuk premanisme.
Dibangian lain, pengumpulan semilair koin untuk almarhum Serka Heru Santosos dialkukan dengan mengedarkan  kardus bertuliskan : "Semiliar koin Serka Heru Santoso", kepada pengendara motor, mobil, dan pejalan kaki yang melewati Tugu.

Selanjutnya, menurut Prasetyo, salah satu orator yang ikut dalam aksi di Tugu itu, mengatakan pengumpulan "semiliar koin", merupakan bentuk solidaritas bagi almarhum Serka Heru Santoso. Pengumpulan koin itu akan dilakukan selama satu bulan. Memang, rakyat sudah sangat letih, melihat berbagai kekerasan yang dilakukan para preman, sementara mereka ini, mendapatkan dukungan dari oknum aparat.

Aksi para pemuda itu, kemudian diakhiri dengan melakukan konvoi yang membawa foto Serka Heru Santoso diiringi bendera Merah Putih, sepanjang 60 meter, dan berbagai spanduk, serta foto Serka Heru Santoso diletakkan dibawah patung Jenderal Sudirman di halaman Gedung DPRD DI Yogyakarta. 

Sementara itu, mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) Jenderal AM Hendropriyono mengatakan, “Premanisme di Jogja yang merajalela ini membuktikan hukum bisu. Hukum tidak bisa menyentuh preman-preman ini. Hukum ini masih punya legalitas tapi sudah tidak punya legitimasi. Hukum ini sudah tidak mempunyai daya rekatnya, sehingga masyarakat sudah tidak percaya lagi,” ungkap Hendro kepada wartawan di Jakarta, Senin (8/4/2013)

“Makanya secara hukum mereka salah, tapi secara moral mereka baik. Kalau perlu mereka dapat bintang mahaputra,” papar Kepala BIN 2001-2004 ini.

Oleh sebab itu, Alumni Akmil 1967 ini meminta masyarakat memahami kasus ini secara menyeluruh, tidak sepotong-potong. Selain itu, Hendro juga meminta masyarakat tidak menyeret-nyeret pimpinan Kopassus dalam perkara tersebut.

“Apa yang dilakukan prajurit-prajurit Kopassus ini di Cebongan, kalau secara moral dia adalah prajurit yang baik, tapi secara hukum dia salah. Seandainya dia harus dihukum, dia tetap seorang prajurit yang baik. Kalau perlu dikasih bintang jasa itu sama masyarakat. Hukum bicara yang benar dan yang salah. Moral bicara yang baik dan yang jelek. Hukumnya bisu, makanya senjata saja yang bunyi,” tambah Hendro. af/rplk.


Kami warga masyarakat jogjakarta secara khusus menyatakan :
1. Meng-apresiasi atas tindakan atas kejujuran 11 parjurit kopassus u mengakui sbg tersangka dlm kasus lapas cebongan.

2. Sbgn besar masyarakat jogjakarta tdk peduli dgn kematian ke 4 preman yg dieksekusi bhkan sgt senang jika ke 4 preman itu lebih baik mati daripada buat resah warga jogja.

3. Kita sbg wrg jogja juga lebih paham! lebih tahu! Tentang ke 4 preman dan anggota2 lainnya, yg mereka preman residivis yg sll buat anarkis,mabuk2an,pemalak, dan pembunuh berdarah dingin, pemerkosa serta terlibat kasus narkoba u tempat2 hiburan malam.

4. Mengecam keras upaya dan usaha yg berlebihan super reaktip dari pihak KOMNAS HAM , Kontras maupun sebagian anggota DPR yg seakan2 lebih membela kepentingan ke 4 preman itu dgn mati-matian. Dgn dalih ini kasus pelanggaran HAM berat. Padahal Yg seharusnya mereka urusi adalah urusan lain yg lebih penting u kepentingan masyarakat, daripada ngurusi kepentingan preman2 tengik itu.

5. Padahal Pelanggaran HAM kpd masyarakat jogja secara khusus Yg dilakukan oleh ke 4 preman dan anggota2nya lebih besar dibandingkan tindakan yg dilakukan 11 prajurit kopassus. Tapi kita liat mereka org2 Komnas HAM dan antek2nya diam seribu bahasa terhadap pelanggaran yg diperbuat preman2 itu kpd masyarakat Jogjakarta.

6. Justru dgn kematian ke 4 preman itu jujur membuat masyarakat jogja dan sbgn besar pelajar mahasiswa merasa aman & tdk terimidasi.

7. Kpd para anggota DPR pusat ataupun reporter media manapun apapun silahkan u mensurvei u dimintai pendapat kpd ratusan ribu bhkn sejuta Warga jogjakarta sekitarny dari tingkat RT RW dukuh lurah camat bupati dan dari berbagai kalangan pegawai negeri maupun swasta, pedagang, dan para pelajar serta mahasiswa sbgn besar yg mereka inginkan adalah JOGJA AMAN TANPA PREMANISME. SILAHKAN KELUAR JOGJA JIKA HANYA MENJADI PREMAN DIJOGJA.
 

Masyarakat Memberikan Dukungan Terkait Penyerangan LP Cebongan

0 views Written by admin. Posted in Berita Nasional, News
Tagged: , , , , , ,
kopassus
Published on April 08, 2013 with No Comments
Hotabis.comhttp://hotabis.com/masyarakat-memberikan-dukungan-terkait-penyerangan-lp-cebongan.html

Aksi 11 oknum Kopassus yang menyerbu LP Sleman dan menembak mati 4 tahanan menuai kontroversi. Sejumlah dukungan datang kepada mereka. Nah, dari dukungan yang datang itu, pemerintah seharusnya bisa segera mengambil kesimpulan. Masyarakat sudah muak pada premanisme dan tak percaya pada hukum.

“Ya ini memang fenomena menarik, mengapa ada masyarakat Yogya yang memberikan dukungan kepada Kopassus. Ini menjadi refleksi kegerahan masyarakat akan keberadaan preman,” ujar pakar psikologi massa dari Unpad, Zainal Abidin, dalam perbincangan Minggu (7/4/2013) malam.

Menurut Zainal aksi dukungan yang dilakukan sebagian masyarakat Yogyakarta itu juga merupakan bentuk keprihatinan mereka atas tidak adanya rasa aman. Ekspresi tersebut, sambung Zainal, juga bisa diartikan sebagai bentuk sindiran terhadap aparat kepolisian atas gagalnya upaya pemberantasan preman.
“Ini kritik terhadap polisi yang mereka anggap tidak bisa memberikan rasa aman. Mereka merasa tidak puas dengan ada,” kata Zainal.

Kondisi ketidaknyamanan dengan keberadaan preman itu, kata Zainal, sudah dirasakan jauh hari sebelum adanya penusukan anggota Kopassus di Hugos yang berujung penyerangan dan ‘eksekusi mati’ empat pelaku penusukan, di LP Cebongan Sleman.

“Memang ekspresi mereka ini bertentangan dengan proses hukum yang ada. Tapi penyerangan dan penembakan ke LP itu hanya momentum saja. Sebelumnya mereka sudah merasakan rasa tidak aman akan keberadaan preman,” ujar Zainal yang pernah 10 tahun tinggal di Yogyakarta ini.

Pada Minggu, warga Yogya melakukan orasi, mengumpulkan koin untuk anggota Kopassus Serka Heru Santosa dan Sertu Sriyono, dan doa untuk Serka Heru Santosa yang meninggal menjadi korban premanisme. Koin yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada keluarga korban. Mereka juga menggelar aksi long march dari perempatan Tugu menuju patung Jenderal Sudirman di halaman DPRD DIY.
“Preman harus diberantas di Yogya maupun di seluruh Indonesia. Maraknya premanisme selama ini karena lemahnya penegakan hukum,” kata Rendra, saat menyampaikan orasinya.

Aksi ini sebagai sikap warga Yogya yang menginginkan Yogya bebas dari segala bentuk premanisme. Mereka mendukung segala upaya dalam memberantas premanisme karena aksi-aksi premanisme telah meresahkan semua warga.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar