Jumat, 05 April 2013

....POLISI BERSIH...?? KONON KOPASUS MENGAKU..MELAKUKAN PENEYERBUAN KE LP CEBONGAN..?? .... BANYAK KEGANJILAN...?? ADAKAH INI... PERMAINAN POLITIK BESAR...YANG DIMAINKAN OLEH ...TANGAN2..ASING...?? ADA APA SBY...?? ADA APA...DIPEMERINTAHAN SBY..???....>>> MENGAPA KOPASUS DIKORBANKAN..DEMI POLITIK...SBY..??? >> INI ADA YANG MELAKUKAN..DUSTA BESAR..???....BENARKAH MARCEL ATAU MARSHELL ITU MANTAN KOPASUS.... ...DIDUGA MEMBACOK ANGGOTA TNI..KOREM JOGYA..?? .....Keluarga Korban Tolak Temuan Tim Investigasi TNI AD Keluarga menolak empat tahanan yang tewas di lapas disebut "preman."..?? ......Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigadir Jenderal (CPM) Unggul K. Yudhoyono mengatakan lancarnya proses investigasi yang dilakukan timnya karena kejujuran dan keterbukaan para pelaku. "Menjadi catatan khusus, bahwa para pelaku secara kesatria telah mengakui perbuatan sejak hari pertama penyelidikan, 29 Maret 2013," ujar Unggul dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis 4 April 2013. "Penyerangan tersebut merupakan tindakan seketika yang dilatarbelakangi jiwa korsa dan membela kesatuan."..>>...Para pelaku ini berdinas di Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah. Unggul melanjutkan, penyerangan itu dilakukan setelah mereka mendengar salah satu anggota Kopassus, Serka Heru Santoso, diserang oleh sekelompok preman di Hugo's Cafe, Yogyakarta, hingga tewas pada 19 Maret 2013 dan pembacokan Sertu Sriyono pada 20 Maret 2013...>>


Keluarga Korban Tolak Temuan Tim Investigasi TNI AD

Keluarga menolak empat tahanan yang tewas di lapas disebut "preman."

http://politik.news.viva.co.id/news/read/402871-keluarga-korban-tolak-temuan-tim-investigasi-tni-ad
Jum'at, 5 April 2013, 13:53 Ita Lismawati F. Malau, Syahrul Ansyari 
Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun), tahanan yang mati diberondong di Lapas Cebongan, Yogyakarta, 23 Maret 2013.
Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun), tahanan yang mati diberondong di Lapas Cebongan, Yogyakarta, 23 Maret 2013. (Istimewa)
VIVAnews - Keluarga korban pembantaian di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menolak kesimpulan awal tim investigasi internal TNI yang dibentuk oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo.

Keluarga korban tersebut terdiri dari Victor Manbait (keluarga korban Yohanes Juan Manbait), Yani Rohi Riwu (keluarga korban Gamaliel Yermianto Rohi Riwu), Albert Yohanes (keluarga korban Hendrik Benyamin Sahetapy Engel), Yohanes Lado (keluarga korban Adrianus Chandra Galaja).

Victor Manbait menilai kesimpulan tim investigasi TNI hanyalah bagian dari rekayasa TNI menutupi skenario pembantaian dan untuk menutupi jaringan pelaku yang lebih luas.

Kesimpulan itu, lanjut Victor, mencerminkan sikap para pemimpin TNI yang tidak ksatria serta menolak pertanggungjawaban komando dengan mengorbankan prajurit tingkat rendah untuk menutupi motif peristiwa sesungguhnya.

"Sejak awal, kami keluarga korban menolak keberadaan tim investigasi internal ini, para pemimpin TNI seperti Pangdam IV Diponegoro telah terlibat rekayasa sejak awal peristiwa ini," kata Victor dalam rilis yang diterima VIVAnews, Jumat, 5 April 2013.

Selain itu, keluarga korban juga menolak dengan penyebutan kata 'kelompok preman' atas keempat korban. Victor menilai labelisasi itu adalah skenario TNI untuk melemahkan posisi korban.

"Vonis atas tindakan yang dilakukan oleh para korban hanya bisa disampaikan oleh pengadilan melalui proses hukum yang fair dan profesional," tuturnya.

Lebih lanjut, Victor mengatakan kesimpulan yang menyatakan bahwa penyerangan ke Lapas Cebongan akibat pembunuhan terhadap Serka Heru Santoso pada 19 Maret 2013 dan pembacokan terhadap Sertu Sriyono pada 20 Maret 2013 adalah sebuah rekayasa. Kesimpulan ini menunjukan bahwa tim tidak melakukan investigasi secara menyeluruh dengan metode kerja penyelidikan yang memenuhi standar.

"Berdasarkan informasi yang diterima keluarga korban, bahwa peristiwa pembacokan kepada Sertu Sriyono dilakukan oleh seorang mantan anggota Kopassus yang bernama Marchell," ungkap Victor.

Oleh karenanya, keluarga korban meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) guna mengusut secara tuntas peristiwa penyerangan Lapas Cebongan dan membawa seluruh pelaku ke pengadilan HAM.

"Kami minta Presiden memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk menyerahkan seluruh proses penyelidikan kepada TGPF yang terbentuk," ucapnya. (eh)

VIVAnews
 http://fokus.news.viva.co.id/news/read/402718-oknum-kopassus-akui-tembak-mati-4-preman-di-lapas

TNI AD: Oknum Kopassus Serbu Cebongan Dipicu Aksi Keji Preman

"Ini penerapan jiwa korsa yang tidak tepat."

ddd
Jum'at, 5 April 2013, 00:27 Arfi Bambani Amri, Dwifantya Aquina , Syahrul Ansyari, Daru Waskita (Yogyakarta)
Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigjen TNI (CPM), Unggul K Yudhoyono, memaparkan hasil investigasi pada Kamis, 4 April 2013.
Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigjen TNI (CPM), Unggul K Yudhoyono, memaparkan hasil investigasi pada Kamis, 4 April 2013.
Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengumumkan pelaku penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah 11 personel Komando Pasukan Khusus.
TNI AD menyatakan para oknum prajurit yang memberondong empat tahanan tersangka pembunuhan prajurit TNI AD Sersan Kepala Heru Santoso itu akan diusut sesuai hukum yang berlaku.

Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigadir Jenderal (CPM) Unggul K. Yudhoyono mengatakan lancarnya proses investigasi yang dilakukan timnya karena kejujuran dan keterbukaan para pelaku.

"Menjadi catatan khusus, bahwa para pelaku secara kesatria telah mengakui perbuatan sejak hari pertama penyelidikan, 29 Maret 2013," ujar Unggul dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis 4 April 2013. "Penyerangan tersebut merupakan tindakan seketika yang dilatarbelakangi jiwa korsa dan membela kesatuan."

Para pelaku ini berdinas di Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah. Unggul melanjutkan, penyerangan itu dilakukan setelah mereka mendengar salah satu anggota Kopassus, Serka Heru Santoso, diserang oleh sekelompok preman di Hugo's Cafe, Yogyakarta, hingga tewas pada 19 Maret 2013 dan pembacokan Sertu Sriyono pada 20 Maret 2013.

"Mereka membela kesatuan setelah mendapat kabar tentang pengeroyokan dan pembunuhan secara sadis dan brutal terhadap anggota Kopassus atas nama Serka Heru Santoso," tuturnya.

Dari 11 orang itu hanya satu yang bertindak sebagai eksekutor, inisialnya U. Prajurit berinisial U, yang memimpin serangan, dibantu delapan temannya melakukan penyerangan menggunakan Mobil Avanza biru dan Suzuki APV hitam.  "Dari 11 orang tersebut, tiga orang berasal dari pelatihan Gunung Lawu," kata Unggul.

Menurut dia, selain motif membela kehormatan kesatuan, pelaku penembakan juga mengaku memiliki utang budi kepada Heru saat bertugas. "Serka Heru merupakan atasan langsung pelaku yang juga pernah berjasa menyelamatkan jiwa pelaku saat melakukan operasi," kata Unggul.

Kini tim investigasi menyampaikan bahwa pelaksanaan penyelidikan sudah dilakukan, berjalan dengan lancar dan dapat menetapkan kesimpulan awal dalam masa kerja enam hari, dengan kejujuran dan keterbukaan.

Latihan di Gunung Lawu

Beberapa prajurit Kopassus tersebut sedang latihan di Gunung Lawu ketika mendengar ada teman meraka dikeroyok dan dibunuh dengan keji, sadis dan brutal, pada pertengahan Maret lalu.

Selasa 19 Maret dini hari, pukul 02.45, Sersan Satu Heru Santosa yang tercatat mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan Kartosuro tewas di Hugo's Cafe di Jalan Adisucipto, Sleman, Yogyakarta.

Heru tewas setelah ditikam dengan pecahan botol minuman keras di bagian dada. Insiden ini berawal ketika korban dikeroyok oleh tujuh orang yang salah satunya adalah Dicky Ambon, gembong preman yang tinggal di asrama Nusa Tenggara Timur di Lempuyangan, Yogyakarta.

"Pelakunya adalah DA. Semua orang tahu siapa  DA. Pelaku sudah diamankan oleh pihak keamanan Hugo's Cafe," kata salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.

Keesokan harinya, lagi seorang prajurit TNI, Sersan Satu Sriyono, dikeroyok kawanan preman ini di Jalan Sutomo, Yogyakarta. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Yogyakarta Komisaris Dodo Hendra Kusuma menceritakan sebelum terjadi pengeroyokan, Sriyono sempat bertengkar dengan seseorang.

"Kemudian datang belasan orang dengan menggunakan satu mobil dan sekitar tujuh sepeda motor. Salah satunya perempuan," kata Dodo, Kamis 21 Maret 2013.

Usai bertengkar, Sriyono dikeroyok oleh belasan orang tersebut. Dia sempat berlari ke arah utara hingga depan bekas Bioskop Mataram. “Di lokasi tersebut dia dikeroyok lagi. Dalam pengeroyokan pelaku menggunakan senjata tajam dan tongkat pemukul berantai (double stick)."

Korban pun terkapar karena luka akibat senjata tajam. Kepala Sriyono robek karena sabetan senjata tajam. Warga yang melihat kemudian melarikannya ke RS Bethesda Yogyakarta. Kepala Sriyono harus dijahit karena luka yang cukup dalam.

Baru Kamisnya, polisi menangkap empat orang termasuk yang diduga menikam Sertu Heru sampai tewas, yakni Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun), Yohanes Juan Mambait alias Juan (38 tahun), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29 tahun), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33 tahun).

Dicky Ambon adalah gembong preman yang lama meresahkan warga Yogyakarta. Ia punya banyak catatan kriminal di wilayah Yogyakarta. Bahkan, pria lelaki kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur, tersebut tertera pada data Polresta Yogyakarta pernah ditahan dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Yang lebih "hebat" lagi, saat ditangkap dalam kasus pemerkosaan, dia baru saja bebas bersyarat dengan sisa masa tahanan 2,5 tahun akibat kasus pembunuhan di Jalan Solo pada tahun 2002.

Unggul menuturkan, belasan prajurit Kopassus mendengar informasi mengenai pembunuhan itu secara tidak sengaja dari warga. "Informasi ini didapatkan secara tak sengaja. Di jalan, mereka dengar dari orang. Karena itu mereka lalu bergerak ke Lapas Cebongan. Jadi, tidak ada info yang disampaikan resmi. Ini secara kebetulan," tuturnya.

Belasan prajurit ini pun naik pitam. "Karena jiwa korsa, mereka bereaksi dan mengajak teman mereka yang berjumlah 11 orang. Ini karena jiwa korsa yang tinggi, apalagi proses penganiayaan begitu sadis, brutal dan biadab," kata Unggul. "Namun, penerapan jiwa korsa tersebut adalah penerapan yang tidak tepat."
Tim bergerak dengan menggunakan dua unit mobil, Toyota Avanza biru dan Suzuki APV warna hitam. Sementara itu, dua prajurit yang menggunakan kendraan Daihatsu Feroza tidak dapat mencegah tindakan penembakan itu.

"Dua orang menggunakan kendaraan Daihatsu Feroza berusaha mencegah tindakan rekan-rekannya tersebut. Dari 11 orang tersebut terdapat tiga orang dari daerah latihan Gunung Lawu," kata Unggul. "Serangan tersebut menggunakan enam pucuk senjata, terdiri dari tiga pucuk jenis AK-47 yang dibawa dari daerah latihan, dua pucuk AK-47 replika dan satu pucuk pistol Sig Sauer replika."

Setelah membunuh keempat preman itu, mereka membawa kabur kamera CCTV beserta rekamannya. "Mereka mengakui barang bukti yang dibawa sudah dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Bengawan Solo," kata Unggul di Media Center Dinas Penerangan Angkatan Darat, Jakarta, Kamis 4 April 2013.

Unggul lantas menanyakan dengan cara apa mereka memusnahkannya. "Mereka jawab dibakar sebagian," ujarnya.

Salah dihukum, benar dibela

Tim Investigasi ini dibentuk KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo pada 29 Maret 2013 lalu. Sejak dibentuknya tim, kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Rukman Ahmad, para pelaku sudah mengakui perbuatan mereka.

Dia menegaskan TNI AD akan menjunjung tinggi proses penegakan hukum terhadap siapapun pelaku penyerangan Lapas Cebongan. "Sehubungan dengan ini, TNI AD telah membuktikan jaminan penegakan hukum bagi prajurit yang bersalah," kata Rukman yang bicara di jumpa pers bersama Unggul.

Bercermin pada kasus pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu, kata Rukman, tim investigasi bekerja dengan cepat dan berupaya mencapai hasil sebaik-baiknya, selengkap-lengkapnya, dan transparan.

Sabtu lalu, Jenderal Edhie Pramono sendiri telah menjamin akan menindak anggotanya jika terlibat dalam penyerangan Lapas Cebongan. "Intinya, yang salah saya hukum, yang benar saya bela," kata Edhie Pramono di Mabes TNI AD.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengapresiasi tim investigasi TNI yang berhasil mengungkap kasus penyerangan Lapas Cebongan ini. "Apresiasi yang tinggi kepada KSAD dan tim investigasi yang telah bergerak cepat sesuai instruksi Presiden melalui Panglima TNI dan Kapolri," kata Djoko.

Menurut Djoko, ini baru babak awal dari jawaban atas kasus yang menewaskan empat tahanan itu. "Harus terus dilakukan penyidikan-penyidikan yang lebih tajam sebelum diajukan ke Mahkamah Militer," ujar dia. (kd)
POLITIK

"Hanya Aparat TNI yang Berani Membalas Aksi Preman"

Aksi para preman sudah sangat meresahkan warga. Harus diberantas.

ddd
Jum'at, 5 April 2013, 09:36 Anggi Kusumadewi, Nila Chrisna Yulika
Pasca Penyerbuan di Lapas Cebongan, Polisi Bersiaga
Pasca Penyerbuan di Lapas Cebongan, Polisi Bersiaga (ANTARA/Sigid Kurniawan)
VIVAnews – Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Thohari, meminta penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi momentum bagi aparat hukum untuk memberantas premanisme. Bagaimanapun, ujarnya, penyerbuan Lapas Cebongan ini berawal dari terbunuhnya anggota Kopassus oleh preman. Dan di mana-mana ulah para preman itu sudah sangat meresahkan warga. Menjadi tugas negara menertibkan para preman ini.

“Maka ini harus dijadikan momentum yang sangat berharga untuk memberantas premanisme sampai ke akar-akarnya,” kata Hajriyanto, Jumat 5 April 2013.

Aparat keamanan dan penegak hukum harus segera mengambil langkah-langkah konkret untuk menyikat habis premanisme di negeri ini. “Sudah bukan rahasia lagi bahwa rakyat di berbagai tempat mengalami keresahan atas maraknya premanisme. Rakyat tidak berani membalas para preman, dan terbukti hanya aparat TNI yang memiliki keberanian untuk membalas aksi-aksi para preman,” ujar Hajriyanto.

Sayangnya, pembalasan terhadap tewasnya anggota TNI tersebut dilakukan dengan perbuatan melawan hukum. “Meskipun ada semangat korps, tapi hukum harus ditegakkan sesuai prinsip eqality before the law. Kini rakyat menunggu langkah selanjutnya, baik dari internal TNI AD maupun langkah hukum oleh para penegak hukum,” ujar politisi Golkar itu.

Hajriyanto mengapresiasi Tim Pencari Fakta TNI AD atas pengungkapan oknum Kopassus sebagai pelaku penyerangan dan pembunuhan terhadap empat tahanan di Lapas Cebongan. “Apalagi temuan ini dipublikasikan secara terbuka. Ini membuktikan bahwa TNI AD berjiwa kesatria, tidak mau menutupi fakta, dan inilah yang dikehendaki masyarakat,” ujar dia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya memberikan arahan khusus kepada Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk bertindak tegas menyingkirkan premanisme dan semua bentuk organisasi kriminal.

“Jalan-jalan dan tempat-tempat umum harus bersih dari semua bentuk premanisme yang mengancam harta benda dan nyawa. Warga harus merasa aman di manapun dan di semua waktu, siang dan malam,” kata Presiden SBY melalui Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa.

Polri Serahkan Hasil Penyelidikan dan Bukti Kasus Cebongan ke TNI

Polisi tidak akan ikut campur lagi soal proses hukum atas kasus itu

ddd
Jum'at, 5 April 2013, 10:44 Suryanta Bakti Susila, Nur Eka Sukmawati 
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/402798-polri-serahkan-hasil-penyelidikan-dan-bukti-kasus-cebongan-ke-tni
 
Polisi berjaga-jaga di Lapas Cebongan usai penyerbuan bersenjata
Polisi berjaga-jaga di Lapas Cebongan usai penyerbuan bersenjata (ANTARA/Sigid Kurniawan)
VIVAnews -
Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengungkapkan bahwa pihaknya menyerahkan proses hukum kasus penyerangan Penjara Cebongan kepada TNI. Ini termasuk segera melimpahkan seluruh barang bukti kepada TNI, yang kemarin menyatakan penyerangan yang menewaskan empat napi itu dilakukan "oknum" dari Grup II Korps Pasukan Khusus (Kopassus).

"Barang bukti yang ada pada kami nanti akan kami serahkan untuk proses lebih lanjut. Kami akan serahkan barang bukti terkait dengan hasil labolatorium forensik ke penyidik militer," kata Timur usai menghadiri pengambilan sumpah ketua MK di gedung MK, Jakarta, Jumat, 5 April 2013.

Timur menegaskan pihaknya tidak akan ikut campur mengenai proses hukum tersebut. "Semua berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku. Semua kaitan dengan saksi-saksi, kita akan limpahkan semua," kata Timur.

Kemarin, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengumumkan pelaku penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah 11 personel Komando Pasukan Khusus.

Penyerbuan para personel ke Cebongan itu menewaskan empat tahanan tersangka pembunuhan prajurit TNI AD Sersan Kepala, Heru Santoso. Insiden tersebut juga melukai beberapa sipir penjara. 

Tim Investigasi TNI-AD dibentuk KSAD, Jenderal Pramono Edhie Wibowo, pada 29 Maret 2013 lalu. Sejak dibentuknya tim, kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Rukman Ahmad, para pelaku sudah mengakui perbuatannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar