Kamis, 04 April 2013

....Ada Skenario Bandar Narkoba dalam Tragedi Cebongan...>> ...KabarNet: Komnas HAM diminta jangan asal tuduh dalam menyelidiki siapa pelaku penyerangan Lapas Cebongan Sleman, Yogyakarta yang menewaskan empat tersangka penusukan anggota Kopassus Sersan Satu Santoso pada Sabtu 23 Maret 2013. ..>> ..Dilihat dari senjata yang digunakan menurut Mulyo, Kopassus sudah lama tak lagi menggunakan senapan serbu jenis SS1 dan AK47, yang diduga jadi senjata eksekusi korban Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Candra Galaja, Yohanis Juan Manbait, dan Gamaliel Yermianto Rohi Riwu.
Diakuinya, senapan SS1 pernah digunakan oleh marinir tapi kini sudah diganti M16. Sepengetahuan Mulyo, kedua jenis senjata tersebut masih digunakan oleh kepolisian. “Makanya kita tunggu hasil penyelidikan tim investigasi TNI,” timpal Syamsu Djalal. ..>> ...Dalam tulisannya, penulis mengungkap sejumlah fakta terkait penggunaan senjata yang digunakan oleh para penyerang. Menurutnya, senjata yang digunakan oleh para penyerangan bukanlah senjata yang digunakan oleh pihak Kopassus melainkan oleh satuan elit milik polisi yaitu Brimob. Selain itu, penulis, juga menyatakan bahwa rompi senjata yang digunakan juga bukan milik Kopassus melainkan milik Brimob...>> ...Musisi Indonesia yang sangat terkenal yaitu Ahmad Dani, pasti tak menyangka kalau salah satu lagunya menjadi “curahan hati” kelompok eksklusif Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang sudah demisioner, Komisaris Jenderal Polisi PURNAWIRAWAN Gories Mere...>> ..Pada suatu malam di bulan Maret 2012, dua wartawati diundang datang ke Hotel Borobudur Jakarta oleh Gories Mere karena akan ada pelantikan satgas narkoba. Tetapi ternyata yang terjadi bukanlah pelantikan satgas narkoba melainkan sebuah “FAREWELL PARTY” atau pesta perpisahan untuk seorang polisi dari negara sahabat yang habis masa tugasnya di Indonesia...>>> ..Acara itu dilaksanakan di Klub Malam (Night Club) Musro, yang kebetulan yang menjadi Manager-nya adalah adik kandung dari Gories Mere sendiri. FAREWELL PARTY yang sangat mewah itu menyuguhkan salah satu menu makanan yaitu sup kaki babi. “Ayo cobain, ini sup kaki babi, makanan paling enak disini” kata Gories Mere kepada kedua wartawati senior yang diundangnya malam itu...>> Lebih dari 20 orang wanita penghibur muda berdatangan ke FAREWELL PARTY tersebut. Masing-masing seakan sudah tahu akan “job” yang mereka terima yaitu menghibur tamu demi tamu. Ada yang glendotan, ada yang duduk berdampingan, tertawa cekikian, kemudia ada yang berbicara dari jarak sangat dekat yaitu saling berbisik di daun telinga masing-masing dan tingkah yang aneh-aneh lainnya. Kemudian, tampak juga pemandangan berikutnya di panggung. Brigjen Petrus Golose yang dikenal sebagai tangan kanan Gories Mere naik ke atas panggung dalam keadaan mabuk. Golose memegang segelas anggur dan pidato sambil cengengesan...>> ..Tuhan kirimkanlah aku, KOMANDAN yang, baik hati dan banyak UANG-NYA yang mencintai aku, apa adanya....???>>

Ada Skenario Bandar Narkoba dalam Tragedi Cebongan

Posted by KabarNet pada 01/04/2013
http://kabarnet.wordpress.com/2013/04/01/ada-skenario-bandar-narkoba-dalam-tragedi-cebongan/

 

Jakarta – KabarNet: Komnas HAM diminta jangan asal tuduh dalam menyelidiki siapa pelaku penyerangan Lapas Cebongan Sleman, Yogyakarta yang menewaskan empat tersangka penusukan anggota Kopassus Sersan Satu Santoso pada Sabtu 23 Maret 2013.

Ada banyak dugaan muncul selain tudingan yang diarahkan kepada Kopassus sebagai pelaku serbuan maut itu.

Hal tersebut dikemukakan mantan Komandan Pusat Polisi Militer ABRI (Danpuspom ABRI) Mayor Jenderal Syamsu Djalal, mantan Komandan Satgas Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono, dan Mayjen TNI (Purn) Murwanto dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin 1 April 2013. “Coba amati jenis senjata yang digunakan dan latar belakang korban,” kata Mulyo Wibisono.

Dia meminta agar media dan masyarakat tidak asal menuduh bahwa penyerangan itu bermotif balas dendam atas meninggalnya anggota Kopassus Sersan Satu Heru Santoso. “Jangan salah logika, jangan lari ke logika Kopassus sakit hati,” kata Mulyo.

Dilihat dari senjata yang digunakan menurut Mulyo, Kopassus sudah lama tak lagi menggunakan senapan serbu jenis SS1 dan AK47, yang diduga jadi senjata eksekusi korban Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Candra Galaja, Yohanis Juan Manbait, dan Gamaliel Yermianto Rohi Riwu.
Diakuinya, senapan SS1 pernah digunakan oleh marinir tapi kini sudah diganti M16. Sepengetahuan Mulyo, kedua jenis senjata tersebut masih digunakan oleh kepolisian. “Makanya kita tunggu hasil penyelidikan tim investigasi TNI,” timpal Syamsu Djalal.

Ditambahkan Syamsu, seandainya Kopassus pelakunya maka personel yang mendatangi Lapas tak perlu belasan orang tapi cukup dua atau tiga orang saja. “Kopassus itu diakui internasional, nggak perlu pasukan sebanyak itu,” tegasnya.

Soal latar belakang korban, tambah Mulyo, informasi yang didapat mereka sempat terlibat kejahatan narkotika. Dari sini bisa muncul teori bahwa keempatnya dieksekusi karena persaingan sindikat narkotika. Para pelaku kemudian menggunakan kasus penusukan sebagai pengalihan informasinya.

Sementara, Murwanto meminta semua pihak agar mewaspadai keterlibatan pihak asing. Dimungkinkan mereka sengaja masuk dalam kasus ini dengan tujuan memecah belah Indonesia. “Mereka tak senang TNI terus menjaga keutuhan NKRI,” ucap mantan Sekjen Departemen Sosial ini. 
Untuk itu, ketiganya meminta semua pihak agar bersabar menunggu hasil penyelidikan TNI dan polisi. Jangan sampai terjebak upaya pengarahan pemikiran yang dilakukan pihak-pihak yang diuntungkan dari kejadian ini.

Sebelumnya beredar di dunia maya. Sebuah tulisan kronologis dan analisis yang ditulis atas nama Idjon Djanbi (Muhammad Idjon Djanbi. Bekas tentara kerajaan Hindia-Belanda atau Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL). Ia bernama asli Rokus Bernardus Visser, dan menjadi warga negara Indonesia. Ia komandan pasukan khusus (sekarang Kopassus) yang pertama).

Dalam tulisan yang beredar, penulis menyatakan bahwa pelaku penyerangan Lapas Cebongan bukanlah Kopassus seperti apa yang diberitakan selama ini, tetapi pihak kepolisian. Menurutnya, pembunuhan yang terjadi berlatar belakang persaingan bisnis narkoba di internal Polri. Pasalnya, salah satu tersangka pembunuh anggota Kopassus Sertu Santoso yaitu Bripka Yohanis Juan Manbait alias Juan adalah salah satu pengedar narkoba.

Dalam tulisannya, penulis mengungkap sejumlah fakta terkait penggunaan senjata yang digunakan oleh para penyerang. Menurutnya, senjata yang digunakan oleh para penyerangan bukanlah senjata yang digunakan oleh pihak Kopassus melainkan oleh satuan elit milik polisi yaitu Brimob. Selain itu, penulis, juga menyatakan bahwa rompi senjata yang digunakan juga bukan milik Kopassus melainkan milik Brimob.

Banyak tudingan mengarah ke Komando Pasukan Khusus Grup II Kandang Menjangan, yang bermarkas di Kartasura, Solo. Tapi Kepala Seksi Intel Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kapten (Infanteri) Wahyu Yuniartoto, menegaskan, tak ada anggota Kopassus yang keluar dari markas pada malam penyerbuan. Wahyu menyatakan, pergerakan anggota Kopassus selalu terpantau karena di markasnya hanya ada satu pintu keluar-masuk. “Setiap anggota yang keluar selalu tercatat,” ujar Wahyu.

Atas peristiwa ini, ketua presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mempertanyakan keseriusan Polri dalam mengusut kasus penyerbuan ke Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, pekan lalu. Sebab sudah seminggu peristiwa berdarah itu berlalu, tapi Polri belum juga mampu mengidentifikasi para pelaku yang disebut mengenakan topeng. “Jika Polri tak kunjung membuat sketsa tersebut, Indonesia Police Watch (IPW) berharap, Tim Invetigasi Mabes TNI AD segera membuat dan mempublikasikan sketsa wajah dan sketsa pasukan penyerbu,” kata Neta S Pane.

IPW justru mengapresiasi langkah TNI AD yang telah membentuk tim investigasi sendiri untuk mengungkap penyerbuan kasus LP Cebongan yang diduga melibatkan oknum tentara. “Sikap TNI AD yang membentuk tim investigasi ini bisa dipahami karena setelah penyerbuan itu banyak tudingan negatif diarahkan ke TNI dan menjadi tugas tim ini untuk mengusut serta mengklarifikasinya, ujar Neta S Pane.

IPW berharap tim investigasi itu tidak hanya mencari tahu pelaku penyerbuan, tapi juga mengungkap sosok dan peran Sertu Heru Santoso yang menjadi korban pembunuhan di Hugo’s Cafe, Yogyakarta, yang mengantarkan empat nama korban penyerbuan sebagai tersangka. “Kenapa dia (Sertu Heru, red) dikeroyok hingga tewas?” tanya Neta. Terlebih lagi, kata Neta, kini beredar isu pelaku pengeroyokan Sertu Heru tidak hanya empat tapi tujuh orang. “Siapa mereka? Semua itu harus segera diungkapkan Tim Investigasi Mabes TNI AD secara tuntas,” harap Neta S Pane.

Jumat 22 Maret 3013, Polda DIY menitipkan 11 tahanan ke LP Cebongan. Dari 11 tahanan itu termasuk empat tersangka pembacok Sertu anggota Kopassus Grup 2, Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah, Heru Santosa. Dan pada Sabtu, 23 Maret 2013, Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, diserbu belasan orang bersenjata api dan membunuh 4 dari 11 tahanan yang dititipkan. Korban tewas adalah Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Diki, Adrianus Candra Galaja alias Dedi, Yohanes Juan Mambait alias Juan, dan Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu alias Adi.  [KbrNet/Slm/jpnn]

Kisah Munajat Cinta Grup Gories Mere Menelikung Polri

Posted by KabarNet pada 09/12/2012 http://kabarnet.wordpress.com/2012/12/09/kisah-munajat-cinta-grup-gories-mere-menelikung-polri/

 
Jakarta – KabarNet: Musisi Indonesia yang sangat terkenal yaitu Ahmad Dani, pasti tak menyangka kalau salah satu lagunya menjadi “curahan hati” kelompok eksklusif Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang sudah demisioner, Komisaris Jenderal Polisi PURNAWIRAWAN Gories Mere.

Pada suatu malam di bulan Maret 2012, dua wartawati diundang datang ke Hotel Borobudur Jakarta oleh Gories Mere karena akan ada pelantikan satgas narkoba. Tetapi ternyata yang terjadi bukanlah pelantikan satgas narkoba melainkan sebuah “FAREWELL PARTY” atau pesta perpisahan untuk seorang polisi dari negara sahabat yang habis masa tugasnya di Indonesia.

Acara itu dilaksanakan di Klub Malam (Night Club) Musro, yang kebetulan yang menjadi Manager-nya adalah adik kandung dari Gories Mere sendiri. FAREWELL PARTY yang sangat mewah itu menyuguhkan salah satu menu makanan yaitu sup kaki babi. “Ayo cobain, ini sup kaki babi, makanan paling enak disini” kata Gories Mere kepada kedua wartawati senior yang diundangnya malam itu.

Kedua wartawati yang biasa meliput di lingkungan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya itu tak bisa menanggalkan insting kewartawanan mereka dalam situasi yang “sangat aneh” itu.

Lebih dari 20 orang wanita penghibur muda berdatangan ke FAREWELL PARTY tersebut. Masing-masing seakan sudah tahu akan “job” yang mereka terima yaitu menghibur tamu demi tamu. Ada yang glendotan, ada yang duduk berdampingan, tertawa cekikian, kemudia ada yang berbicara dari jarak sangat dekat yaitu saling berbisik di daun telinga masing-masing dan tingkah yang aneh-aneh lainnya. Kemudian, tampak juga pemandangan berikutnya di panggung. Brigjen Petrus Golose yang dikenal sebagai tangan kanan Gories Mere naik ke atas panggung dalam keadaan mabuk. Golose memegang segelas anggur dan pidato sambil cengengesan.

Ia mengucapkan terimakasih kepada sang polisi asing yang telah habis masa tugasnya di Indonesia dalam penanganan terorisme. Ia juga berterimakasih kepada seorang Duta Besar negara sahabat yang hadir disitu seraya mengkritik bahwa saat ini DANA BANTUAN UANG penanganan terorisme di era Duta Besar saat ini tidak sebesar DANA BANTUAN Dubes sebelumnya dari negara tersebut kepada Indonesia.

(Kedua wartawati senior yang terdampar di tempat aneh itu semakin terpukau melihat acting Petrus Golose di panggung ). “Gila tuh orang, sudah sakit kali, gak malu dilihatin banyak orang tapi malah cengengesan ngomong-ngomong ngaco begitu” ujar seorang wartawati kepada wartawati yang duduk disebelahnya.

Tak lama kemudian, Petrus Golose meminta sejumlah rekannya naik ke atas panggung untuk ikut bersama-sama menyanyikan satu lagu untuk sang komandan yang sangat dicintai yaitu Gories Mere.

Lagu itu adalah MUNAJAT CINTA yang diciptakan oleh Ahmad Dani. Tetapi lain Ahmad Dani, lain pula Petrus Golose. Golose menyanyikan lagu ini dengan lirik yang sudah diubah dan diplesetkan di bagian reffrein menjadi seperti ini :

[Chorus:]
Tuhan kirimkanlah aku,
KOMANDAN yang, baik hati dan banyak UANG-NYA
yang mencintai aku, apa adanya

Dan ternyata apa yang sangat diidam-idamkan Petrus Golose agar ia tetap diberi KOMANDAN yang baik hati dan banyak uangnya terwujud bebetapa bulan setelah ia menyanyi dalam keadaan mabuk di klub malam Musro.

Pengusaha terkenal pemilik grup Artha Graha, Tomy Winata, sedang berbincang akrab dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara panen padi bersama
Pengusaha terkenal pemilik grup Artha Graha, Tomy Winata, sedang berbincang akrab dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara panen padi bersama

Dua bulan setelah acara di Musro, pada bulan Mei 2012 Petrus Golose ikut diajak plesir ke Las Vegas, Amerika Serikat, oleh sang komandan yaitu Gories Mere. Mereka dibayari oleh pengusaha Tomy Winata untuk ikut menemani acara bisnis Artha Graha, yang tak samasekali kaitannya dengan penanganan terorisme dan narkoba di Negara ini.

DETIK.COM memberitakan bahwa akibat kepergian kedua jenderal tersebut ke Amerika Serikat, rapat kerja dengan Komisi III DPR dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) batal digelar. Sebab musababnya ya karena Kepala BNN Gories Mere tengah berpergian ke luar negeri.

Wakil Ketua Komisi III Nasir Djamil menjelaskan rapat dengan BNN sedianya digelar pukul 10.00 WIB di Gedung DPR. Namun pihak BNN mendadak meminta penjadwalan ulang rapat. “Sekretariat komisi pukul 09.45 WIB memberi tahu BNN minta reschedule rapat. Tapi tidak ada penjelasan Pak Gories kemana, saya baru tahu Pak Gories ke Las Vegas dari media,” kata Nasir di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (23/5/2012).

Nasir menyayangkan pembatalan mendadak rapat kerja ini. Pasalnya Nasir yang akan memimpin rapat hendak menanyakan perkembangan kinerja BNN dalam pemberantasan narkoba. “Kami sudah siapkan sejumlah pertanyaan terkait tugas BNN termasuk upaya pemberantasan narkoba di Lapas. Kami akan jadwal ulang rapatnya,” tutur Nasir.

Seperti diketahui,Chairman Artha Graha Network Tomy Winata mengajak beberapa petinggi Polri (kelompok GORIES MERE) ke Las Vegas, AS terkait kerjasama dengan MGM Hospitality, pengelola hotel bergengsi di dunia. Tomy menggandeng MGM Hospitality sebagai pihak pengelola hotel, Convention Center, service apartemen di rencana proyek gedung tertinggi di Indonesia Signature Tower 638 meter, 111 lantai di SCBD, Jakarta.

Acara penandatanganan yang berlangsung di Hotel Bellagio, di Las Vegas 21 Mei 2012 dihadiri sejumlah Pejabat kepolisian Indonesia yang kompeten dalam bidang keamanan, diantaranya adalah Penasehat Senior Satuan Tugas Khusus Kontra-Terorisme Komisaris Jenderal Polisi Gories Mere, Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigadir Jenderal Polisi Dr.Petrus Reinhard Golose dan Kepala Bidang Intelejen Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Marthinus Hukom.

Betul bahwa nama Gories Mere cukup dikenal di negara ini tetapi barangkali tak semua orang bisa mengetahui secara detail manuver-manuver di belakang layar dari kelompok eksklusif Gories Mere.

Pada tahun 2007 lalu misalnya. Gories Mere didampingi seorang rekannya yang biasa menangani masalah terorisme mengadakan presentasi ilegal di hadapan sejumlah jurnalis senior dari media besar Indonesia. Mengapa disebut ilegal ?

Sebab tidak ada izin dari pimpinannya saat itu di Mabes Polri, baik dari Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, ataupun dari Kabareskrim Komjen, Bambang Hendarso Danuri yang menjadi atasan langsung dari Unit Densus 88 Anti Teror Polri. Usut punya usut (terutama setelah rekaman presentasi itu didengar dengan seksama), ternyata Gories Mere berani menuding TNI sebagai otak di balik peledakan bom di Indonesia.

Polisi asal Flores yang sudah pensiun per tanggal 1 Desember 2012 ini bahkan tak segan menyebut nama 2 perwira tinggi TNI, yang satu adalah Jenderal bintang 4 yang sudah purnawirawan, dan yang satu lain Jenderal bintang 3 TNI yang sampai saat ini masih aktif. Kelakuan Gories Mere ini “dilaporkan” oleh seorang wartawati senior yang kebetulan mendengar kabar tentang manuver Gories Mere tersebut.

Ia melaporkannya kepada Menkopolhukkam Widodo AS, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang saat itu dijabat Sjamsir Siregar, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto dan Kabareskrim Komjen. Polisi Bambang Hendarso Danuri. Tak lama setelah wartawati senior itu datang menemui Jenderal bintang 4 (purnawirawan) dari kalangan TNI tersebut, Gories Mere ditelepon oleh Jenderal bintang 4 tersebut.

Tak bisa berkelit dari senior kalangan TNI, Gories Mere meminta maaf dan mengaku bersalah telah sembarang bicara dan menghasut seperti itu. Kemudian, sebuah joke juga disampaikan oleh perwira tinggi TNI yang kebetulan tahu masalah ini. “Bilang sama Gories Mere, tidak usah melawak dia di Indonesia ini. Apa dia mau jadi Jenderal Petruk ? Mau melawak kerjanya ?” kata sang Jenderal dengan sangat tenang dan dingin.

Gories Mere masih punya manuver yang tak diketahui kalangan umum di Indonesia. Barangkali karena terlalu dominan diberi peluang menangani terorisme selama belasan tahun, Gories Mere merasa paling berkompeten mengetahui dan menelikung institusi Polri dalam hal-hal tertentu.

Saat Mabes Polri hendak membeli alat sadap buatan Israel dengan merek GI 2, diam-diam Gories Mere melakukan kontak dengan perusahaan yang memproduksi alat sadap itu.

Atas pengakuan Gories Mere sendiri kepada seorang wartawati senior yang punya relasi cukup baik dengan kalangan perwira tinggi Polri. “Saya bertemu dengan pengusaha yang menawarkan alat sadap itu. Kami bertemu di Madrid, Spanyol” kata Gories Mere kepada wartawati itu pada pertengahan bulan Juni 2007.

Hal ihwal yang dibicarakan adalah Gories mengecek daftar harga dan detail mengenai transaksi pembelian alat sadap. Saat itu jabatan Gories Mere hanya sebatas Wakabareskrim tetapi memang dialah yang mendominasi penanganan terorisme di Indonesia. Tak ada atasannya yang tahu dan bisa melarang Gories Mere melakukan apa saja yang tidak berkoordinasi dengan institusinya sendiri yaitu POLRI.

Dan tak ada juga yang bisa tahu, kongkalikong apa yang dibuat oleh Gories Mere dengan perusahaan Israel yang ditemuinya di sebuah negara yang sangat amat jauh dari Indonesia. Gories Mere cenderung berjalan sendirian kemanapun ia ingin pergi (tanpa koordinasi), seolah merasa sangat yakin bahwa tak akan ada yang berani melawan dan menentang apa saja kehendaknya.

Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno

Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno

Lalu apa hubungan semua cerita tentang sepak terjang Gories Mere dengan Kepala Lembaga Pendidikan Polri, Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno, yang terpampang fotonya di atas kalimat ini ? Ada, sangat ada hubungannya …

Saat ini Gories Mere dan kelompoknya diduga kuat sedang bermanuver menelikung Mabes Polri dalam rangka menggagalkan pelantikan Komjen Polisi Oegroseno sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang baru.

Sumber KATAKAMI.COM menyebutkan bahwa sesungguhnya Presiden SBY sudah memutuskan untuk memilih dan melantik Komjen Oegroseno sebagai Kepala BNN yang baru. Tetapi Gories Mere sedang berjuang keras agar “orang-orang binaannya sendiri (yang pangkatnya masih tergolong sangat rendah dan junior untuk bisa dipromosikan sebagai Kepala BNN). Undang Undang mewajibkan bahwa satu-satunya “pintu” yang secara resmi dapat menyodorkan nama calon Kepala BNN kepada Kepala Negara adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Dan di era kepemimpinan Kapolri Jenderal Timur Pradopo serta Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, Wanjak (Dewan Kebijakan) POLRI yang wajib bersidang dan menentukan nama-nama yang bisa mutasi, promosi dan naik pangkat di jajaran Polri beranggotakan 15 orang perwira tinggi Polri.
Untuk bisa menghasilkan 1 nama resmi yang diajukan kepada Kepala Negara untuk menjadi calon Kepala BNN, kewenangan penentuan nama calon bukan pada Kapolri atau Wakapolri secara pribadi.
Tahapannya adalah sebagai berikut :

Tahapan pertama : Wakapolri memimpin Rapat Pra Wanjak yang beranggotakan 15 orang perwira tinggi Polri. Dalam tahapan ini, Wakapolri sebagai pimpinan rapat (sidang) Pra Wanjak guna meminta masukan dari 15 orang perwira tinggi anggota Wanjak, nama-nama siapa yang bisa dipertimbangkan menjadi calon Kepala BNN.

Selanjutnya, masing-masing calon akan ditelusuri rekam jejaknya sepanjang berkarier di POLRI. Dewan Pra Wanjak yang akan membahas detail pertimbangan tentang nama-nama calon untuk dikerucutkan menjadi 1 nama saja. Bila rapat pra Wanjak sudah sepakat memilih 1 nama, maka hasil dari rapat pra wanjak itu akan masuk ke tingkatan Kapolri. Kapolri juga tidak menentukan sendirian.

Tahapan kedua, adalah dimatangkan dalam rapat bersama Kapolri. Pada tahapan penentuan akhir inilah yang disebut Rapat Wanjak (rapat sebelumnya yang dipimpin Wakapolri disebut Rapat Pra Wanjak). Kapolri juga akan memanggil pejabat utama inti di Mabes Polri untuk membahas pengajuan nama yang disampaikan Rapat Pra Wanjak. Tapi jumlah pejabat yang dipanggil rapat, tak sebanyak pada Rapat Pra Wanjak yang dipimpin Wakapolri.

Selanjutnya, bila disetujui, maka barulah Kapolri menanda-tangani surat pengajuan resmi kepada Presiden SBY tentang satu nama calon Kepala BNN yang baru. Untuk menggantikan Komjen Polisi PURNAWIRAWAN Gories Mere yang resmi pensiun per tanggal 1 Desember 2012, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengusulkan satu nama kepada Presiden SBY untuk dipilih sebagai Kepala BNN yang baru yaitu mengusulkan nama Komjen. Polisi Oegroseno dari Angkatan 1978. Saat ini usia Oegroseno adalah 56 tahun. Oegroseno lahir tanggal 17 Februari 1956 dan akan resmi pensiun dari POLRI tanggal 1 Maret 2014 mendatang.

Namun Gories Mere bersikeras menggagalkan keputusan Presiden SBY yang menunjuk Oegroseno sebagai Kepala BNN yang baru karena kabarnya Gories sangat ingin orang-orang binaannya sendiri yang naik sebagai Kepala BNN.

Gories Mere lupa bahwa Undang Undang mengharuskan pengajuan nama calon Kepala BNN harus melalui institusi POLRI, tidak bisa melalui orang per orang. Gories Mere lupa bahwa Undang Undang sudah mengatur bahwa KAPOLRI atas nama Mabes POLRI yang berhak untuk secara resmi mengajukan nama calon Kepala BNN. Dan pengajuan itupun sudah melalui dua tahapan yang sangat penting di jajaran POLRI yaitu tahapan PRA WANJAK dan WANJAK.

Kalau misalnya ada Jenderal bintang 1 atau Jenderal bintang 2 yang diharapkan Gories Mere naik sebagai Kepala BNN, tapi keduanya masih sama-sama sangat junior dan minim pengalaman di bidang reserse, Dewan Pra Wanjak dan Wanjak POLRI berhak dan punya wewenang penuh menolak nama-nama itu. Sebab yang dibutuhkan untuk menduduki jabatan Kepala BNN adalah perwira tinggi bintang 3 atau perwira tinggi bintang 2 yang sudah sangat senior.

Sudah terlambat kalau Gories Mere ingin menggagalkan keputusan Presiden SBY memilih Komjen Oegroseno menjadi Kepala BNN yang baru. Presiden SBY juga perlu diingatkan bahwa pengajuan nama Oegroseno sebagai calon Kepala BNN sudah melalui tahapan dan prosedur tetap resmi dalam sistem yang berlaku di Polri yaitu tahapan pra wanjak dan wanjak. Istana Kepresidenan harus menghormati sistem yang berlaku dan bekerja secara resmi dalam institusi Polri.

Gories Mere saat ini sudah menjadi mantan atau bekas Kepala BNN. Ia sudah demisioner. Bahkan sudah resmi pensiun dari masa kedinasan aktif di jajaran POLRI. Sebagai seorang pensiunan (purnawirawan), jika Gories Mere ingin menyampaikan aspirasi kepada Presiden SBY maka satu-satunya wadah yang paling tepat adalah menyalurkannya lewat PERSATUAN PURNAWIRAWAN POLRI.

Ikutilah aturan yang berlaku dalam institusi yang resmi. Sebab Indonesia bukannya negara sirkus yang bisa seenaknya membuat seorang pensiunan mendikte dan mengatur kepala negara, memaksakan polisi-polisi karbitan untuk menduduki sebuah jabatan yang sangat prestisius seperti Kepala BNN.

Dan patut dicurigai, apakah ada mafia atau cukong besar yang barang kali patut dapat diduga bermain di belakang semua upaya menggagalkan Komjen Oegroseno menjadi Kepala BNN ? Sebab Oegro dikenal sangat lurus, bersih, tegas, berani dan punya integritas tinggi dalam kariernya sebagai polisi.

Kalau memang tidak punya salah, kalau memang tidak punya bisnis atau kerajaaan narkoba, dan kalau tidak punya kongkalikong dengan kalangan mafia atau cukong cukong hitam narkoba, kenapa harus takut sama Oegroseno ? Beberapa minggu lalu, saat namanya masuk dalam bursa calon Kepala BNN, Oegroseno sudah mendapatkan teror.

Semua alat komunikasi Oegroseno telah disadap dan diganggu oleh pihak-pihak tertentu yang mulai tak nyaman dengan pencalonannya. Hingga akhirnya Oegro menuliskan sebuah sindiran sangat halus dalam status blackberry-nya : “Sesama perwira tinggi POLRI Sebaiknya Jangan Saling Menyadap Dan Tidak Menyalah-gunakan Alat Sadap”.

Teror pada Oegroseno mengingatkan pada sebuah SMS yang dikirimkan oleh seorang teroris di Indonesia ini saat Gories Mere menginformasikan kepada sang teroris bahwa ada wartawati yang terus “mengadu” kepada para pimpinan POLRI tentang dana-dana yang diberikan kelompok Gories Mere kepada para mantan teroris atas nama “de-radikalisasi”.

Dengan sangat lancang, teroris yang tidak tahu malu itu pernah mengirimkan sebuah SMS yang berbau SARA kepada wartawati tersebut yaitu mengirimkan sebuah ayat injil untuk memberikan sinyal.

Caranya, ia kirimkan SMS kepada Gories Mere, lalu dari handphone Gories Mere di forward pesan SMS itu kepada sang wartawati. Gories Mere menggunakan nomor handphone-nya sendiri untuk mengirimkan pesan SMS dari teroris tadi.

Tak jelas apakah Gories Mere yang menyuruh atau tidak, tetapi dalam SMS yang sangat panjang lebar itu, sang teroris menyelipkan sebuah ayat injil dari Kitab Lukas 23 : 34 yang isinya tentang seruan Yesus berbunyi : “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.
(Padahal dari sisi keimanan, para teroris yang sudah meledakkan Indonesia ini yang harus disadarkan tentang perbuatan-perbuatan biadab mereka. Bukan justru dipakai untuk menteror jurnalis). Sang wartawati lantas tak habis akal, ia pergi ke mesin ATM untuk “iseng” mengecek identitas nomor telepon yang digunakan oleh Gories Mere.

Sebab dari mesin ATM, sepanjang kita mengetahui nomor handphonenya maka kita akan dapat membaca nama pemilik nomor tersebut dan jumlah tagihan setiap bulannya. Dan ternyata, nomor telepon yang bertahun-tahun digunakan Gories Mere (08** 999 999 ) bukan atas nama dirinya melainkan atas nama TOMY WINATA.

Bahkan tagihan atas nomor tersebut setiap bulannya juga dibayar oleh TOMY WINATA. Bukankah sebenarnya ini adalah bentuk gratifikasi ? Sayang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak punya nyali mengusut dan menangkap Gories Mere dan kelompoknya jika terindikasi menerima hadiah atau gratifikasi dari pihak lain.

Apalagi tagihan handphone milik Gories Mere yang terdaftar atas nama TOMY WINATA, tak cuma sejuta atau dua juta melainkan sering diatas Rp 25 juta setiap bulannya untuk satu nomor 08** 999 999. Luar biasa keistimewaan dan kemewahan yang didapat Gories Mere dari Tomy Winata,

Sebab Gories Mere yang diajak untuk menikmati acara plesiran ke Amerika dibayari Tomy Winata bulan Mei 2012, kemudian adik kandung Gories Mere juga bekerja di klub malam milik Tomy Winata yaitu Night Club MUSRO, dan selama bertahun-tahun Gories Mere jugalah menggunakan nomor telepon milik Tomy Winata (bahkan dibayari setiap bulan).



Wah, dunia internasional bisa tertawa kalau Presiden di negara ini bisa didikte dan diatur oleh seorang pensiunan yang jabatannya telah demisioner. Termasuk Aan, yang menjadi korban rekayasa narkoba tahun 2009, barangkali akan ikut tertawa kalau Presiden kalah melawan kelompok eksklusif Gories Mere yang sangat ketakutan pada sosok Oegroseno.

Saat kasus rekayasa narkoba yang menimpa Aan terjadi, Oegroseno menjabat sebagai Kadiv Propam Polri. Oegro dengan sangat amat tegas mengusut oknum-oknum polisi yang memukuli Aan di Kantor Tomy Winata yaitu di Gedung Artha Graha. Dari hasil pemeriksaan, Propam Polri menegaskan bahwa oknum Polisi tersebut terbukti bersalah. Saat itu, Satgas Mafia menyentil nama Gories Mere sebagai salah satu perwira tinggi POLRI yang ada di balik rekayasa kasus narkoba yang menimpa Aan.

Mungkin Aan bisa ikut menyanyikan dan menikmati keindahan lirik lagu MUNAJAT CINTA yang diliriknya telah diganti dan diplesetkan oleh tangan kanan Gories Mere yaitu Petrus Golose.
[Chorus:]
Tuhan kirimkanlah aku,
KOMANDAN yang, baik hati dan banyak UANG-NYA
yang mencintai aku, apa adanya…
[KbrNet/KataKami]

Pelaku Penyerangan LP Sleman adalah Aparat Kepolisian

Posted by KabarNet pada 30/03/2013
http://kabarnet.wordpress.com/2013/03/30/pelaku-penyerangan-lp-sleman-adalah-aparat-kepolisian/

 

Selama ini Kopassus Hanya diam, berbagai statement dari beberapa kalangan yang terlihat Pintar tapi Bodoh yang cenderung menjadi Fitnah dan menuduh tanpa bukti. Terutama ANJING-ANJING BEGAJUL AMERIKA YANG BERNAMA KOMNAS HAM. 

Jika mereka bisa memberikan pendapat dan menuduh, adalah Hak Kami juga, sebagai Prajurit Kopasus juga untuk menyampaikan pendapat. kita harus melihat permasalahan ini berdasarkan Fakta, Bukti, urutan kejadian dan TKP.

Sebelum kita membahas permasalahn yang sebenar-benarnya, saya akan menjelaskan secara singkat siapa sebenarnya 4 orang yang DISIKSA KEMUDIAN DITEMBAK DI LP CEBONGAN SLEMAN

1. Bripka Yohanis Juan Manbait alias Juan adalah Anggota Polresta Jogja berdinas di Polsekta Jogja, Bripka Juan adalah mantan Pidana Polda Jogja yang baru dibebaskan oleh satuannya karena menjadi Bandar Narkoba. Bripka Juan adalah Pemasok Narkoba utama di Hugos Caffe dan Bosse.

2. Benyamin Sahetapy alias Decky adalah Residivis yang baru keluar dari penjara akibat melakukan pembunuhan terhadap warga Papua di Jogjakarta. Decky adalah Pengurus Ormas KOTIKAM JOGJA (Komando Inti Keamanan), pekerjaan Decky adalah Keamanan beberapa tempat Hiburan di Jogja, depkolektor, dan ketua preman di Jogja. Decky adalah pemasok Narkoba ke beberapa tempat Hiburan di Jogja dari Bandar-bandar Narkoba di Jogja diantaranya beberapa Oknum anggota Polda Jogja.

3. Adrianus Chandra Galaja alias Dedy dan Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi, kedua orang ini adalah anak Buah dari Bripka Juan dan Decky dan juga anggota Ormas KOTIKAM.

4. Ormas Kotikan ini  diketuai oleh Sdr. Rony Wintoko, Ormas ini selalu membuat keributan di Jogja selain pengedar Narkoba, beberapakali melakukan tindakan Kriminial penganiayaan dan pembunuhan, kelompok ini pernah melakukan penganiayaan yang berujung kematian terhadap Mahasiswa asal Bali dan anggotanya yang bernama Joko dkk melakukan pengeroyokan terhadap terhadap anggota Yonif-403 Jogja, serta penikaman terhadap Mahasiswa asal Timor leste.

puncaknya adalah kejadian Penganiayaan di Hugos Café Maguwoharjo Depok Sleman DIY yang di lakukan oleh Kelompok Ormas KOTIKAM (Komando Inti Keamanan) Yogyakarta. terhadap anggota personel Kopassus An. Sertu Santoso hingga meninggal Dunia.setelah di visum penyebab kematian Korban adalah, Luka benda Tumpuldi bagian kepala, luka tusukan dan bacokan benda tajam 23 cm didada sebelah kiri dan 6 rusuk Patah.

1. kejadian bermula pada hari Selasa tanggal 19 Maret 2013 pukul 00.40 korban datang ke Hugos Café bersama 1 rekan, kemudian terjadi keributan antara Korban dengan sdr. Dedy alias Adrianus Chandra Galaja  kemudian Sdr. Dedy menghubungi Bripka Yohanis Juan Manbait alias Juan, sdr. Benyamin Sahetapy alias Decky dan Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi Di asrama Polresta Jogja. Kemudian mereka mendatangi Hugos Cafe.
2. Sesampai di dalam  hugos Café Sdr. Decky bertanya kepada korban “ Kamu dari Mana“ ? lalu korban menjawab “saya anggota Kopassus”. Saat itu posisi yg paling Depan adalah atau yg paling dekat dengan Korban adalah  Bripka Juan Dan disebelah kiri korban adalah sdr. Dedy serta disebelah kanan korban adalah sdr. Adi. kemudian Decky menantang Korban untuk berkelahi sambil melemparkan asbak ke arah Korban, setelah melempar Korban, Decky masuk ke dalam Café. Kemudian saat keluar Decky memukul kepala Korban menggunakan Botol yg ada dimeja didepan Korban,  mengenai pelipis kanan korban hingga botol pecah, saat korban terhuyung dan akan Jatuh tiba-tiba sdr. Dedy menikam korban sambil belati ditarik tepat pada bagian dada sebelah kiri, Setelah melakukan penusukan Dedy melarikan diri.

Saat Korban Jatuh, 3 org tidak dikenal (3 org ini diperkirakan Anggota Polri, krn datang bersama dengan Bripka Juan dari Asrama Polresta Jogja)  menendang dan memukul Korban yang sudah terkapar, Melihat kejadian tersebut, Bripka Juan berteriak “Tolong dibawa”, langsung ke 3 org tersebut menyeret Korban dengan menarik bagian kaki. Dan pada saat kejadian tersebut, banyak anggota Polda Jogja yang berkunjung ke Hugos Kafe. selanjutnya korban dibawa oleh security menuju RS Bethesda menggunakan Taksi, saat dalam perjalanan Korban meninggal dunia. Dengan mengalami luka
Cat : Decky kemana-mana selalu membawa Belati

3. Setelah kejadian, 4 dari 7 pelaku di tangkap, Bripka Juan ditangkap di Rumah Dinas Polresta Jogja oleh Polda Jogja, adalah Bohong jika Bripka Juan melawan saat ditangkap, saat ditangkap dia kooperatif, hanya ada kekhawatiran dari Bripka Juan saat penangkapan, karena beberapa preman binaannya ingin melawan aparat. Kemudian Bripka Juan dan aparat Polres Sleman menuju rumah Decky. Kemudian sdr Decky ditangkap. Saat penangkapan Decky juga tidak melawan. Namun berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, beberapa barang miliknya hilang diantaranya, Kalung Salib Emas dan uang +- 20 juta hilang dari tempat tinggalnya. Dia hanya bisa mengamankan 2 batu cincinya. Kemudian dilanjutkan penangkapan sdr Dedy dan Adi, Penangkapan ke-2 tersangka ini dilakukan oleh Anggota Intel Korem Jogja. Awalnya 4 pelaku ini ditahan di Polres Sleman, karena alasan Khawatir, oleh Polda pelaku dipindahkan ke Rumah Tahanan Polda. Dan menjalani pemeriksaan. Langsung dijadikan tersangka

4. Pada tanggal 20 Maret 2013, Jam 10.00, Sertu Sriyono anggota Korem Jogja di Bacok oleh Sdr. Marcel, Marcel adalah rekan dari 4 tersangka yang telibat pengeroyokan Sertu Santoso, juga Anggota Ormas KOTIKAM

5. Dari pemeriksaan ini, mulai terungkap bahwa Bripka Juan masih aktif di Polsekta Jogja, Bripka Juan sdh mengaku bersalah dan siap mempertanggungjawabkan, dgn alasan Khawatir dan Ruang Tahanan sdg direhab, pihak Polda berencana pada esok harinya jam 09.00 akan memindahkan 4 tahanan ini untuk dititipkan ke LP Sleman.

6. Pada saat itu juga, seluruh Anggota Grup-2 Kopassus, diperintah oleh Komandan Grup-2 Kopassus, tidak ada yang keluar Asrama tanpa terkecuali, dan dilaksanakan Apel pengecekan dari Pagi Hingga Malam.

7. Pada tanggal 22 Maret 2013,  pada jam 08.45 diadakan sidang PDTH (pengakhiran Ikatan Dinas  dengan tidak hormat) terhadap Bripka Juan. Pada Jam 09.00, 4 tahan ini dititipkan di LP Sleman.

8. Pada tanggal 22 Maret 2013, jam 09.00 11 tahanan di dibawa ke LP Sleman utk menunggu sidang pengadilan. 4 tahanan kasus pengeroyokan Serka Santoso  dan 7 tahanan Narkoba. Mereka dikawal Brimob dengan sejata lengkap dan di ikat

9. Pada tanggal 23 Maret 2013, jam 01.30 LP Sleman  diserang orang tidak dikenal, dan menembak Mati 4 tahanan pelaku pengeroyokan Serka Santoso.

Benyamin Sahetapy alias Decky
Benyamin Sahetapy alias Decky

 

 

diatas kita sudah membahas, Fakta di Lapangan.
berdasarkan kejadian di atas, dan keterangan Kepolisian terdapat Banyak kejanggalan, diantaranya :

1. Bripka Juan tidak terlibat pada kasus pengeroyokan Serka Santoso di Hugos Cafe Jogja, justru Bripka Juan yg melerai dan menolong Korban, jadi tidak ada alasan kekhawatiran dari Pihak Polda Jogja bahwa ada tindakan Balasan dari Kopassus atas kejadian tersebut. Situasi ini sengaja diciptakan sendiri oleh Polda Jogja, Dan tidak ada alasan Kopassus mengincar Bripka Juan. Dikalangan Polresta dan Brimob Jogja, Bripka Juan kurang disukai oleh rekan rekannya.

2. Polda Jogja telah berbohong, dengan mengatakan bahwa Bripka Juan adalah pecatan, terbukti Bripka Juan disidang pemecatan dilakukan setelah pengeroyokan di kafe Hugos. Dan sidang berlangsung hanya 5 menit, 15 menit sebelum dipindahkan ke LP Sleman.  Menanggapi Sidang pemecatan tersebut, Bripka Juan mengatakan, “saya juga penyidik, saya tahu ini janggal, tapi nanti saya akan banding setelah 8 hari, dan akan mengungkap 3 anggota Brimob yang terlibat pemukulan , menendang, menginjak dan menyeret anggota Kopassus itu , ini adalah persaingan yang sengaja menyingkirkan saya, dari pernyataan ini sudah jelas bahwa Bripka Juan adalah Bandar Narkoba, dan ada Anggota Polda Jogja lain yang menjadi Bandar Narkoba.

3. Awalnya 4 pelaku menolak dititipkan ke LP Sleman, Tapi Polda Jogja tetap Ngotot membawa mereka, dengan alasan Ruang Tahanan Polda sedang Direhab, tapi setelah di cek, Ruang tahanan tersebut masih Layak dan tidak ada perbaikan. Setelah diperiksa dan Sebelum dibawa ke LP Sleman, Bripka Juan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan jas yang bersih dan rapi, seolah-olah dia tahu bahwa dia akan mati, sambil mengatakan “Saya mengaku bersalah, saya cinta Korp Polri dan  negara ini, Jikapun saya Mati, saya ingin mati secara terhormat seperti Prajurit Tentara”. Bripka Juan dalam tekanan berat dan merasa jiwanya terancam. Saat dimasukkan kedalam blok LP Sleman Bripka Juan Sempat menunjukkan Respeknya kepada petugas, dengan mengambil sikap siap, dan memberikan penghormatan walaupun tangannya di ikat dan ditodong dengan senjata oleh Anggota Brimob(“kepada Petugas, Hormat Gerak, tegak Gerak“).  Bripka Juan juga mengatakan, “saya kok diperlakukan seperti Teroris, di ikat dan ditodong dengan Senjata”

4. Sampai saat ini Polda Jogja, tidak mau mengungkap dan menangkap siapa Pelaku yang menendang serta Menyeret Korban (Serka Santoso), hal ini sempat menjadi tanya tanya dari Bripka Juan, Bripka Juan mengatakan “biasalah Polisi, yang penting sudah nangkap satu, agar terlihat berhasil” berarti 3 orang ini masih Buron, beberapa Rekan Bripka Juan disatuan Brimob Jogja juga melihat kejanggalan dari kasus ini, seperti Rekaman CCTV di Hugos Cafe telah di edit dan dirusak Oleh Penyidik Polda Jogja, yang telihat di Rekaman CCTV hanya saat pemukulan yang dilakukan oleh Sdr. Decky dan penusukan yang dilakukan oleh Sdr. Dedy, kejadian awal saat Korban dan pelaku datang tidak ada, Decky melempar Korban dengan Asbak, demikian juga saat Korban ditendang dan diseret oleh 3 orang yang dikenal oleh Bripka Juan. Rekan Bripka Juan pun (sesama anggota Polda Jogja) melihat kejadian ini janggal, dalam waktu kurang dari 24 jam pelaku ditangkap dan dijadikan tersangka, kemudian dititipkan di LP Sleman, kemudian di eksekusi di LP Sleman. Untuk menekan Pihak Hugos Kafe berkaitan dengan rekaman CCTV, Polda Jogja mengancam akan menutup Hugos Kafe, semua orang tahu bahwa Perijinan Usaha bukan di Kepolisian atau Polda tapi Hak dari Pemda DI Yogyakarta. Bukan kepolisian. Dalam hal ini Polisi tidak punya Hak, sudah melampaui wewenang.

5. Pada awalnya, Ka Lapas Sleman keberatan atas penitipan tersebut, karena tidak sesuai dengan prosedur dan 2 dr 4 tersangka, dalam keadaan luka, sebelum di bawa ke LP sdr. Dedy dipanggil oleh org yg menyeret serka santoso di kafe Hugos, saat keluar seluruh badannya memar dan lebam. Kemudian sdr. Adi 3 gigi depannya tanggal serta bibirnya bengkak berdarah. Awalnya Ka Lapas akan mengembalikan tahan titipan tersebut ke Polda, tapi tdk ada jawaban dari Polda, kemudian jika mlm ini tdk bisa, Ka Lapas akan tetap mengembalikan ke 4 tahanan titipan tersebut ke Polda jogja.
6. Sertu Sriyono anggota Korem Jogja, dibacok oleh Sdr. Marcel, di bacok di bagian kepala sebelah kiri. Marcel adalah anak buah dari Bripka Juan, rekan Decky, Dedi dan Adi, Korban di Bacok karena menangkap Sdr. Dedi dan Adi dan menyerahkannya kepada Penyidik Polda Jogja.

7. Sebelum di titipkan ke LP Sleman, Bripka Juan dihadapkan ke Sidang Pemecatan di Polda Jogja, sidangnyapun singkat hanya 5 menit, ini adalah Sidang Penjatuhan Hukuman tersengkat di dunia, hanya 5 menit, hal ini membuktikan bahwa Polda sengaja memojokkan Bripka Juan, setelah dipecat dalam wakktu 5 menit, bripka Juan dan 3 tersangka lainnya di titipkan ke LP Sleman. Yang dibawa ke LP Sleman, bukan hanya Bripka Juan CS, tapi termasuk 7 Tahanan Polda Jogja terkait Kasus Narkoba. Tapi Sdr. Marcel pelaku pembacokan Sertu Sriyono tidak di titipkan di LP Sleman.

8. Kemudian mereka di masukkan ke dalam Sel, yang mengantar Anggota Brimob, hingga ke dalam ruangan Tahanan LP. Sleman, Bripka Juan ditempatkan 1 ruang dengan Decky di Blok-5, sedangkan Dedy ditempatkan 1 ruang dengan Sdr. Adi di Blok-10. Dari penempatan Blok, nomor serta isnya sudah jelas, ini sebagai titik tanda, dan hanya mereka ber-4 yang menempatinya, sedangkan 7 tahanan Narkoba ditempatkan ruangan lain. disini terlihat mulai terlihat kebohongan aparat Kepolisian Jogja, dimedia massa ke 4 korban di eksekusi di hadapan 11 tahanan lainnya, sambil bertepuk tangan, sangat tidak masuk akal bahwa pasukan terlatih yang menyerang dengan cepat masih sempat m,embuat Drama.

9. Berdasarkan Tuduhan Begajul Amerika bernama Komnas HAM, Hendardi dan kecoak kecoaknya serta Jenderal Banci Antek Amerika yang bernama Wiranti. Pelaku penyerangan di LP Sleman, menggunakan penutup Wajah, senjata lengkap, menggunakan 5 kendaran, mereka adalah orang yang terlatih, pertanyaannya adalah, benarkah hanya Kopassus yang terlatih di negeri ini ? Anjing Pelacaknya Brimob juga terlatih. tapi tidak hanya Kopassus yang terlatih, Masyarakat sipil dan aparat lainpun terlatih Densus-88 juga terlatih, jika yang dituduh adalah anggota Kopassus itu kemungkinan kecil. Karena Para Pelaku penyerangan yang lebih dari 16 orang, sepertinya sudah kenal betul dengan Lingkungan dan situasi LP Sleman, terbukti:
a. Pelaku penyerangan juga Tahu dimana meletakkan Mobil, karena mereka masuk ke Area LP Sleman menggunakan 5, 4 mobil langsung menuju Area LP Sleman dan 1 menunggu diluar.
b. Pelaku tahu betul dan hafal dimana letak CPU yang menyimpan rekaman CCTV LP. Sleman, kemudian dicuri oleh penyerang.
c. Pelaku penyerangan Tahu, bahwa sistem penguncian di LP Sleman dari dalam dan Luar, setelah mereka melumpuhkan penjaga di depan dan merampas Kunci, kemudian membuka pintu dengan Kunci, merusak pintu dan membuka kunci dalam dari lobang pecahan Pintu.
d. Pelaku penyerangan juga mengetahui dimana ruangan ke-4 tahanan tersebut  dititipkan, kemudian mengeksekusinya
Kejadian ini sepertinya sudah direncanakan dengan Matang dan para pelaku tahu dan hafal Area LP Sleman. Sehebat apapun Kopassus, hal ini tidak mungkin dilakukan dalam waktu 16 Jam, sedangkan Kopassus tidak pernah ke LP Sleman dan melakukan pengamatan sampai ke dalam ruangan LP Sleman, yang tahu situasi dan keadaan LP Sleman adalah aparat yang mengantar Tahanan, Masyarakat dan keluarga penghuni LP Sleman.

10. setelah dibantah oleh beberapa anggota Kopassus, Pihak Lapas mulai membuat Skenario cadangan mencari alasan, agar mereka tidak terlihat Kongkalikong dengan Polda, dan kami Yakin bahwa Pihak Lapas Sleman dalam tekanan Polda, dengan membuat cerita Bohong :
  • Sekelompok orang bersenapan laras panjang datang dengan lima minibus Toyota Avanza dan Innova. Ada juga saksi yang melihat lima orang mengendarai sepeda motor.
  • Lima belas orang di antaranya melompati pagar yang tingginya tak sampai 1,5 meter. Sekitar dua-lima orang berjaga di luar penjara.
  • Satu orang menggedor gerbang penjara dan menyodorkan surat meminjam tahanan.
  • Setelah mengancam akan meledakkan Lapas, 15 penyerang masuk ke ruang portir. Di sana mereka sempat menyiksa delapan sipir.
  • Dari ruang portir, sebagian menyebar. Ada yang menuju ruang kepala lapas untuk mengambil kamera CCTV. Ada juga yang menjemput Kepala Keamanan Lapas Margo Utomo untuk mengambil kunci blok dan sel empat tahanan yang diincar.
  • Empat penyerang masuk ke blok empat tahanan itu. Tapi hanya satu yang masuk ke sel dan menembak empat tahanan itu.
pertanyaannya adalah :
a. Dari rangkaian kegiatan ini apakah Waktunya Cukup 15 menit seperti yang diberitakan.
b. awalnya Lapas mengaku, Pelaku menggunakan 5 mobil, sekarang ada se[peda Motor.
c. Pelaku menyodorkan Surat peminjaman Tahanan, Pihak Lapas ingin berbohong tetapi malah berkata jujur dan menjelaskan bahwa yang tahu mengenai Surat Peminjaman Tahanan hanya ada 2 institusi, yaitu : POLISI DAN KEJAKSAAN, (kemungkinan sangat kecil menuduh Kejaksaan)
d. Ada yang menuju Ruang Ka Lapas, untuk mengambil Kamera CCTV, Hal ini menunjukkan bahwa pelaku sangat tahu dan hafal benar letak serta isi Lapas, termasuk Kamera CCTV, yang tahu letak benda tersebut hanya 2 institusi, yaitu Lapas dan Polisi.
e. 1 orang masuk kedalam sel dan menembak 4 pelaku, cerita Rambo yang dibuat, 1 orang ini hebat sekali, masuk sendiri ke dalam sel dan menemnbak 4 pelaku, jika demikian, pertanyaannya adalah siapa yang menyiksa Bripka Juan hingga tangan Kirinya Patah ? dan yang menusuk Bripka Juan hingga terdapat 4 luka tusuk di badannya ? HAL INI MEMBUKTIKAN CERITA BOHONG PIHAK LAPAS SLEMAN.

11. Para Pelaku langsung menuju ruang Tahanan dan mengeksekusi 4 tahanan, Ke-4 tahanan tersebut ditembak Mati di 2 ruangan berbeda. Krn di TKP terdapat Selongsong Peluru kaliber 9 mm dan 7,62 mm, tapi keterangan Kadiv Humas Mabes Polri mengatakan di TKP hanya ada selongsong munisi kaliber 9 mm tidak menyebut selonsong munisi lain. Kemudian kondisi Bripka Juan selain luka tembak di Kepala¸ terdapaT. 2 luka tusukan di dada kanan dan lengan kirinya Patah. Sedangkan Adi  selain luka tembak, terdapat luka memar di wajah sebelah kiri dan pergelangan tangan kiri Patah. Sedangkan Decky dan Dedy hanya terdapat Luka tembak. Jadi tidak benar pemberitaan dari media bahwa ke 4 tahanan tersebut langsung diberondong oleh penyerang, krn 2 diantaranya sempat dianiaya terlebih dahulu.

12. Mendengar ada kejadian penyerangan dan pembunuhan di LP Sleman, Komandan Grup-2 langsung mengumpulkan dan mengecek anggotanya hal tersebut selain perintah dari Pangdam IV Diponegoro juga menjadi Protap di Kopassus apabila ada kejadian, asrama langsung di Alarm. Jarak tempuh antara Sleman dengan Jogja adalah + 1,5 Jam, jadi tidak mungkin dalam waktu tersebut mereka bisa tiba dengan cepat di Asrama Grup-Kopassus Kartosuro dan bisa hadir saat apel pengecekan. Apalagi Pintu Ksatrian Grup-2 Kopassus jika Malam Hanya 1 Pintu yang di Buka, itupun harus melewati 2 Pos penjagaan, jadi sangat kecil kemungkinan anggota Kopassus terlibat dalam pnyerangan tersebut. Dan hal ini bertambah janggal, karena saat kejadian Polda Jogja dan Jawa tengah tidak melakukan sweeping dijalan guna mencegah pelaku melarikan diri, tapi hal ini tidak dilakukan.

13. Mengenai pembentukan Opini Publik oleh Media Masa yang seolah-olah bahwa pelaku penyerangan tersebut adalah Kopassus dan secara tidak langsung menuduh Kopassus serta pernyataan Anggota Kimisi 3 DPR RI, Ahmad Yani, hal ini menandakan bahwa Anggota dewan yang terhormat ini Memang Bodoh dan asal Bacot (nasehat buat anggota dewan yang terhormat ini "PAK YANI... D]\KALAU TIDAK TAHU LEBIH BAIK DIAM, DIAM JUGA BISA MENUTUPI KEBODOHAN”, cenderung memojokkan Kopassus dengan mengatakan ;
a. Masalah Jogja adalah masalah Hukum, berarti wewenang Keamanan ada di tangan Kepolisian bukan TNI.
b. Senjata yang digunakan adalah Senjata Organik TNI, sudah jelas adalah senjata yang digunakan oleh TNI
c. Kok Pangdam IV, Cepat mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada anggotanya yang terlibat, Pangdam ini bisa di copot, sudah jelas kok, Senjata yang digunakan untuk menyerang adalah Senjata TNI Jenis SS-1, buatan Pindad.
d. Penyerang juga menggunakan Rompi Anti Peluru. Dan senjata Khusus?
e. Media TV One memberitakan
Kalau Media massa sudah jelas, siapa yang meminta penayangan berita  saja yang di publikasiskan, selama ini Kopassus diam saja tidak menanyakan dan melakukan konfrensi Pers tentang anggotanya yang di Bunuh, Jika Anggota Komisi-3 DPR RI Ahmad Yani  saja bisa dikelabui dan dibohongi oleh Polda Jogja, media dan kelompok yang berkepentingan dikelabui, bagaimana dengan Rakyat, Tapi Bapak Ahmad Yani tidak melakukan atau memberikan pendapat tentang Proses pemecatan Bripka Juan yang tidak sesuai prosedur, pemecatan dilaksanakan setelah kasus ini mencuat yang sebelumnya, Pihak Polda menyatakan bahwa Bripka Juan adalah pecatan Polda Jogja.
Pertanyaanya adalah :
a. Dari mana Pak Ahmad Yani dan Media tahu bahwa senjata yang di gunakan oleh penyerang menggunakan senjata SS-1 Pindad ? kuat dugaan adalah beliau menonton hasil Rekaman CCTV, jika dari Rekaman CCTV, berarti pemberitaan media selama ini bahwa saat penyerangan Pelaku menggondol CCTV adalah berita bohong yang sengaja dihembuskan, seolah olah pelaku penyerangan lihai dan terlatih. Jika benar itu senjata SS-1 Pindad, tentu ada nomornya, berapa Nomornya ?  jika beliau menonton dari hasil rekaman CCTV, Berarti CPU yang menyimpan data rekaman CCTV di LP Sleman tidak hilang tapi sengaja disembunyikan. sekarang terbukti, pendapat Anggotai Dewan yang terhormat Komisi-3 DPR RI bernama Ahmad Yani adalah SALAH DAN MENUNJUKKAN KEBODOHANNYA, PANTAS SAJA DEPARTEMEN YANG DI PIMPIN PARTAI SI KELEDAI INI ADALAH DEPARTEMEN YANG TERKORUP.
b. Apakah Ahmad Yani tahu pengertian Senjata Khusus ? dan pernah melihat serta menggunakan senjata tersebut ? SS-1 Bukan senjata Khusus, senjata Khusus adalah senjata Sniper dan Mitraliur. SS-1 Bukan senjata Khusus tapi Senapan Serbu jadi SS-1 adalah Senapan Serbu-1, Dan Kopassus tidak menggunakan SS-1, yang menggunakan SSI-1 adalah Brimob
c. Mengenai pencopotan Pangdam-IV / Diponegoro karena cepat mengambil kesimpuan atas kejadian tersebut, kita tidak tahu apakah Pak Ahmad Yani punya wewenang atau Tidak yang jelas Pernyataan Pangdam-IV / Diponegoro adalah Benar, cepat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada anggota TNI apalagi Kopassus yang terlibat, dari pernyataan Pak Ahmad Yani saja sudah dijawab sendiri oleh Pak Ahmad Yani “bahwa pelaku penyerangan menggunakan Senjata SS-1 Pindad, mengapa dijawab sendiri ? “KARENA GRUP-2 DAN SELURUH ANGGOTA KOPASSUS TIDAK MENGGUNAKAN SENAPAN SS-1 PINDAD”  yang menggunakan senjata SS-1 dan FNC kaliber 5,56 mm adalah BRIMOB POLRI DAN BRIMOB JOGJA MENGGUNAKAN SENJATA SS-1, FNC DAN AK-101 CHINA. Dan sangat tidak mungkin Anggota Kopassus bisa keluar senjata sembarangan karena Jam 17.00 gudang senjata sudah ditutup, tidak ada senjata, munisi dan Bahan peledak yang keluar masuk. Jikapun ada harus melalui beberapa prosedur, mulai dari melapor ke Pejabat, melapor ke pejabat, mengurus Surat ijin, menghubungi pejabat Gudang, munukar kartu keluar masuk kunci senjata, karena seluruh senjata di Kopassus dirantai dan di Gembok, mengurus surat serah terima senjata dll, belum lagi melewati 3 lapis kunci pintu gudang senjata. Aparat yang mudah mengakses senjata di Indonesia ini adalah BRIMOB POLRI.
d. Pak Ahmad Yani lupa selain rekaman CCTV, di TKP terdapat Selongsong Peluru 7,62 mm, yg digunakan oleh senjata AK-47, yang menggunakan Senjata AK-47 adalah BRIMOB POLRI, kemudian terdapat Selongsong munisi 5,56 mm / MU-5 TJ, munisi ini bisa digunakan di senjata SS-1 Pindad, M-16 A1, dan senapan AK-101 China, yang menggunakan senapan SS-1 Pindad dan AK-101 China adalah BRIMOB POLRI.
e. Tentang Rompi Anti Peluru, mungkin yang dilihat adalah Fet yang berbentuk Rompi, terlihat berwarna Hitam, sedangkan DI GRUP-2 KOPASSUS MEREKA MEMILIKI 2 JENIS ROMPI ANTI PELURU YANG MEMILIKI CORAK LORENG TNI DAN LORENG DARAH MENGALIR. Yang menggunakan Rompi Anti Peluru berwana Hitam adalah BRIMOB POLRI.

14. Pernyataan Polda bahwa ke 4 tersangka ditangkap oleh Polda dan barang Bukti Botol dan Pisau ditemukan di TKP. Pernyataan tersebut tidak benar, Polda hanya menangkap Bripka Juan dan Sdr. Decky, sedangkan Adi dan Dedi ditangkap oleh Intel Korem. Barang bukti pisau ditemukan bukan di Hugos Kafe, tapi ditemukan di tempat tinggal Sdr. Dedy bukan di Hugos Kafe. Akibat penangkapan tersebut, Marcel mebacok Sertu Sriyono karena melakukan penangkapan terhadap beberapa pelaku pengeroyokan Seru Santoso.

15. Polisi tidak konsisten menangani permasalahan Jogja, serta cenderung mencari pembenaran, Pembentukan Opini Publik sudah keluar dari Substansial permasalahan yang sebenarnya, pelaku pengeroyokan Serka Santoso berjumlah 7 orang, 3 masih Buron, kemudian keterkaitan pembacokan Sertu Sriyono yang dilakukan oleh Marsel sampai saat ini tidak diuangkap, apa motof dari pembacokan tersebut, serta kesalahan prosedur pemecatan Bripka Juan oleh Polda Jogjakarta.

16. Dari runtutan kejadian, Korban, Barang Bukti di TKP, serta UPAYA pembentukan opini Publik oleh Polri melalui media massa, yang cenderung menutupi kejadian yang sebenarnya, sangat jelas bahwa ini adalah Fitnah. KESIMPULANNYA ADALAH TNI APALAGI KOPASSUS TIDAK TERLIBAT KASUS PENYERANGAN DI LP SLEMAN, mengapa pihak Kepolisian tidak melakukan pembuktian terbalik. Tanpa menuduh pihak dan Institusi tertentu, yang jika dikaitkan satu sama lain baik korban, TKP, Bukti di TKP serta kegiatan. Tidak satupun menunjukkan keterlibatan Kopassus maupun institusi TNI. Polri harus jujur dan Fair dalam mengungkap dan menangani kasus Jogja, membuka siapa saja yang terlibat, seluruh pelaku termasuk 3 orang yang masih buron dan tidak pernah diungkap oleh Polri, tanpa harus menutup-nutupi serta berbohong, tanpa berusaha seolah olah dipojokkan, dan menunjukkan Barang bukti yang sebenarnya, termasuk rekaman CCTV di Hugos Kafe secara utuh tanpa di edit dan di rusak, karena merusak barang bukti adalah suatu tindakan kejahatan melawan Hukum.

17. Ada Upaya Pihak Polda Jogja menutupi kasus yang sebenarnya dengan mengalihkan isu penyerangan terhadap LP. Sleman. teorinya sangat Gampang :
- Yang menyidik 4 Korban adalah Polisi
- Yang mengantar Korban ke LP adalah Polisi
- yang memasukkan tahanan ke ruang Tahanan adalah Polisi. dari sini mulai terbukti bahwa, sebelum di eksekusi, Adi dan Dedy sempar  berbaur dengan 11 tahanan Narkoba lainnya, kemudian ketahuan oleh Polda dan dikembalikan ke ruang Tahanan A-5
- Yang mengetahui lingkunagn LP adalah Polisi
- yang sering ke LP adalah Polisi.
- yang tahu letak CCTV adalah Polisi.

18. Saat terjadinya penyerangan di LP, SELURUH APARAT KEPOLISIAN JOGJA DAN JAWA TENGAH, TIDAK ADA SATUPUN YANG MELAKUKAN SWEEPING, DAN AJAIBNYA SAAT KEJADIAN, SELURUH REKAMAN CCTV YANG MEMONITOR LALU LINTAS TIDAK BERFUNGSI.
yang bisa mengaktifkan dan mematikan CCTV lalu lintas adalah Polisi.

19. di TKP hanya terdapat 13 Selongsong munisi, sekarang mulai di buat buat, seolah olah terlihat brutal dan sadis, belakangan ditemukan 31 proyektil di tubuh ke 4 korban, teorinya Amerika dipakai, dinggal angkanya di balik. bertambah lagi kebodohan aparat ini, sama dengan kasus antasari, sangat aneh dan janggal, senapan Munisi 7,62 mm pelornya bersarang di badan? jika manusia di jejer 4 orang kemudian ditembakkan dengan Senapan AK-47 maka ke 4 orang tersebut akan tembus, jadiiiii, TIDAK MUNGKIN MUNISI KALIBER 7,62 MM, bersarang di badan.

20. ada lagi yang mengatakan bahwa korban diberondong, itu adalah Bohong ! Decky, Dedy  dan Bripka Juan ditembak dari belakang dalam keadaan tiarap, peluru melintas dari bagian belakang badan tembus di depan. untuk Bripka Juan luka tembak dari kepala kanan tembus ke kiri tepat dibelakang kuping,, sedangkan Sdi, ditembak dari depan dalam keadaan Jongkok
Mungkin anda akan mengira bahwa tulisan dan fakta di atas adalah suatu kebohongan dan mengarang ngarang : perhatikan foto di bawah ini dan Uji Balistiknya, KAMI MENANTANG SELURUH AHLI BALISTIK POLRI UNTUK MENJELASKAN GAMBAR INI :

Mayat Benyamin Sahetapy alias Decky, decky mengalami Luka tembak di perut sebelah kiri dan ulu Hati, kemungkinan Korban di tembak saat duduk, terlihat di Gambar selongsong munisi kaliber 7,62 mm, dan pelor mengenai tembok (lingkaran Kuning). Korban ditembak saat membelakangi Pelaku karena bekas luka masuknya pelor lobangnya terlihat kecil, (tempat keluarnya pelor, luka akan terbuka keluar dan besar).

Mayat Bripka Yohanis Juan Manbait alias Juan, karena Luka tembak di Bagian belakang Kepala dari luka yang cukup besar, dan kepala bagian belakang terbuka, kuat diduga munisi yang digunakan adalah kaliber 7,62 mm digunakan di Senjata AK-47, selain luka tembak, di dada kanan korban terdapat beberapa Luka Tusuk benda Tajam, dan Lengan Kiri Patah, terlihat di Gambar lengan kiri Korban tertekuk. Bripka Juan dieksekusi setelah Sdr. Decky di eksekusi, Kaki yang nampak di Gambar adalah Kaki saudara Sdr. Decky, terlihat ada darah kepala Bripka Juan yang muncrat di kaki Kanan Sdr. Decky (lingkaran Kuning). Panah merah adalah lintasan peluru saat Bripka Juan di tembak. Terlihat selongsong munisi kaliber 5,56 mm di bagian atas kepala Korban (lingkaran Putih).
Korban, Dedy alias Adrianus Chandra Galaja, terdapat 2 luka tembak di Punggung Kiri, korban ditembak dari belakang, tampak terlihat selongsong munisi kaliber 5,56 mm (lingkaran Kuning) Sdr. Adi berada di Kaki sdr. Dedy.(Panah Merah)

Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi, Korban di tembak tepat di bagian pipi sebelah kiri tembus ke belakang, kemungkinan Korban di tembak dalam keadaan Jongkok, terlihat percikan darah di tembok serta Pantulan peluru (lingkaran Kuning), pergelengan tangan kiri korban terlihat Patah. Terdapat selongsong Munisi Kaliber 7,62 mm (lingkaran merah), sedangkan darah yang merembes di dekat tangan Adi adalah Darah sdr. Dedy. (Panah Kuning, Posisi sdr. Adi), Arah Lintasan Peluru (Panah Merah).

Korban, Dedy alias Adrianus Chandra Galaja, setelah badannya di balik.

KESIMPULANNYA ADALAH :
  • 1.POLDA JOGJA JANGAN MENUTUPI KEJADIANNYA KONFLIK PERSAINGAN KARTEL NARKOBA DI ANTARA ANGGATA POLDA JOGJA.
  • 2.POLISI SEGERA MENANGKAP 3 ORANG ANGGOTANYA YANG MELARIKAN DIRI SAAT KEJADIAN DI HUGOS KAFE, SATU BERNAMA HARUN DAN SATU LAGI BERNAMA DAVID SERTA SEORANG PERWIRA POLDA JOGJA.
  • 3.KASUS PERSETERUAN INI SEBENARNYA ADALAH PERSETERUAN ANTARA KELOMPOK UGOH SENO DAN KELOMPOK GORIES MERE.
  • 4.PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH UNIT ZIBOM GEGANA DIDIKAN GORIES MERE
Oleh Idjon Djanbi [m.facebook.com]
KabarNet

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar