Minggu, 07 April 2013

KASUS...CEBONGAN..............Komnas HAM Punya Pandangan Berbeda ??? >> ANTARA PERASAAN RAKYAT-TNI-KOPASUS-POLRI DAN KOMNAS HAM..JUGA TENTU PARA PENDUKUNG PREMAN2.. SEPERTI KONON.....APA YANG DIUNGKAP OLEH...KOMPAS DAN TEMPO SERTA..KONON GREJA2 DI JOGYA..??..>> KITA GAK TAHU PERASAAN...RAKYAT AWAM..DAN JUGA PARA PEDAGANG DAN MAFIA2 NARKOBA..TINGKAT TINGGI..??? ATAW PERSAAN SIAPA2 YANG SUDAH MENJADI...AGEN2 ASING YANG INGIN MERUNTUHKAN NEGARA INDONESIA..DAN MERUSAK GENERASI MUDA BANGSA..INDONESIA..DAN TENTUNYA DIDALAMNYA ADALAH RAKYAT JOGYAKARTA..YANG TERKENAL SANTUN..DAN BERBUDAYA..???..>> AWAS..PERMAINAN..PARA INTELEKTUAL DAN AGEN2 POLITISI ASING..YANG SUDAH BIASA BERMAIN INTERNASIONAL DAN MERUSAK BANGSA2 YANG TIDAK MEREKA SUKAI..?? >>> DISINI SELALU ADA DANA2...DAN UANG2 YANG DIPERMAINKAN SECARA LIAR..DAN BISA JADI ADALAH ALAT....PENGHANCUR PERSATUAN BANGSA..??>>> ....AWASLAH... PARA PROVOKATOR INTELEKTUAL..DENGAN MASMEDIA-NYA...DAN JUGA...JARINGAN...INTERNATIONAL FOINDATION..YANG MENG-OBOK2...RAKYAT MELALUI TOKOH2...YANG BIASA DIBAYAR..DAN BIASA MENGGUNAKAN DALIL2...HAK AZASI...DALIL2...KEBEBASAN..PLURALISME...DLL...YANG MENYAMARKAN...??>> AWASLAH AGENDA2 ASING BERMAIN...DAN MAFIA2 NARKOBA..TINGKAT TINGGI BERMAIN..???.>> .. "Pemerintah harus membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus itu. Apalagi, hal itu sudah menjadi sorotan publik internasional. Jika kasus itu tak diungkap, Indonesia terancam bahaya, karena negara dikuasai gerombolan bersenjata". (Kompas, 26/3). Lebih media nasional itu, melakukan wawancara sejumlah tokoh, sebagai langkah membentuk opini dengan mewawancarai Rektor Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya Franz Magnis Suseno dan Mudji Sutrisno, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar, dan Direktur Ekskutif Imparsial Poengky Indarti...???...Diantara pernyataan yang dikutif harian Kompas itu, "Yang bahaya, kalau pencarian keadilan itu kemudian menggunakan senjata. Dampak negatifnya sangat besar, karena masyarakat seakan mendapat pembenaran untuk melakukank kekerasan. Ini juga menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pembunuhan, dan penculikan, tetapi aktornya tidak ditemukan", ungkap Komaruddin...>> . Tetapi, bandingkan dengan mereka yang tewas oleh Densus 88, yang mereka hanya diberi lebel sebagai "teroris", yang sebagian besar adalah para aktivis Islam, mereka yang memiliki cita-cita dan idealisme terhadap prinsip-prinsip Islam, kemudian tewas dengan sangat mengenaskan oleh Densus 88. Tanpa pernah dibuktikan secara hukum kejahatan yang mereka lakukan. Menurut HAM sudah lebih 83 terduga teroris yang tewas di tangan Densus 88, belum mereka yang disiksa dan penjara. Seakan kalau mereka yang beragama Islam itu, dibunuh dan dibantai oleh aparat menjadi "given" (dimaklukmi)..>>.... MANA KOMNAS HAM..?? MANA ITU PARA PENGAMAT AHLI DAN SELALU BERKOWAR..PALING SUCI....?? >> MANA ITU PARA PRESENTER BOHAY...MEMBELA YANG BENAR..?? >> PREMAN..?? KOPASUS..?? POLRI..?? TERORIS BERSERAGAM..DAN BERSENJATA..YANG DILEGALKAN..DAN DIDANAI ASING..?? ... SEMUANYA INGIN MERUSAK AKHLAK BANGS..DAN JIWA2 ANAK2 BANGSA INI..?? INGAT APA YANG DI POSO-AMBON-...SIAPA SIBELAKANG MEREKA..?? SIAPA YANG MENGACAU DISANA..?? >> AWAS JOGYA.. BERHATI-HATILAH..??>> ADA AGENDA2 YANG DIMAINKAN PARA PENGGEDE..MAFIA..INTERNASIONAL...?? >> SAATNYA POLRI DIREPOSISI DIBAWAH KEMENTRIAN DALAM NEGERI SESUAI UUD 1945 ASLI..ATAU DIBAWAH DEPARTEMEN HUKHAM..?? ...MEREKA BUNGKAM..?? ADA APA INDONESIA......??? DIKUASAI PARA MAFIA INTERNASIONAL..?? DAN KELOMPOK ANTI ISLAM..?? SIAPA DIBELAKANG PERMAINAN POLITIK SBY..?? ..>>

ADA APA INDONESIA......??? DIKUASAI PARA MAFIA INTERNASIONAL..?? DAN KELOMPOK ANTI ISLAM..?? SIAPA DIBELAKANG PERMAINAN POLITIK SBY..?? 

FUI: Penembakan di LP Cebongan aksi teror tapi Densus 88 Tak Bersuara

Written By Nova Hafidzah on Rabu, 27 Maret 2013 | 14.18.00



FUI: Penembakan di LP Cebongan aksi teror tapi Densus 88 tak bersuara
JAKARTA –  http://www.bringislam.web.id/2013/03/fui-penembakan-di-lp-cebongan-aksi.html#.UWJpCTcyqSo
Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH. Muhammad Al-Khaththath menyayangkan sikap pemerintah yang tidak sigap dalam mengungkap aksi teror pembantaian terhadap 4 tahanan di LP Cebongan, Sleman Yogyakarta.

Biasanya aparat kepolisian begitu cepat mengungkap kasus penembakan dengan mengerahkan anggota Densus 88. Namun, kali ini peran Densus 88 yang menurut Kepala BNPT, Ansyaad Mbai dipuji-puji dunia internasional itu seolah tak bersuara.

“Kalau pemerintah benar-benar beritikad baik ingin memberantas terorisme, sebenarnya yang kemarin terjadi di Jogja itu kan yang benar-benar teroris, harusnya itu yang ditangani oleh Densus, tapi kok ngga ada bunyinya Densus itu?” kata KH. Muhammad Al-Khaththath usai menjadi pembicara Semalam Bersama Dewan Dakwah, Sabtu (23/3/2012).

Sikap aparat kepolisian, dalam hal ini Densus 88 jauh berbeda jika diduga pelaku adalah umat Islam. Di Makassar dan Bima misalnya, mereka langsung ditembak mati.

“Tapi kalau kita lihat yang di Makassar, Dompu, Bima itu kan mereka penjual kue, masa tiba-tiba dibunuh lalu dibilang teroris? Ini suatu kebohongan yang nyata,” tandasnya.

Menurut Sekjen FUI tersebut, aksi penyerangan LP Cebongan dengan menggunakan senjata laras panjang dan membunuh 4 orang tahanan titipan, salah satunya diketahui anggota polisi jelas bias dikategorikan aksi terorisme.

“Jelas-jelas mereka sudah membunuh bahkan polisi lagi yang dibunuh, itu teror kepada seluruh instansi kepolisian. Artinya itu pesan kepada seluruh polisi; Awas loh macem-macem sama korps gue, bisa gue bantai! Jadi kalau aksi teroris yang seperti itu harusnya dilakukan penindakan,” paparnya.

Kronologi Kasus Penyerangan Lapas Cebongan

Untuk diketahui, Direktur Keamanan dan Ketertiban (Dirkamtib) Ditjen Pemasyarakatan Kemkumham, Wibowo Joko menjelaskan bahwa penyerangan Lapas Sleman pada Sabtu (23/3) dini hari diduga bermotif dendam. Diperkirakan, tewasnya salah satu anggota Kopassus, Sertu Santoso, dalam kasus pengeroyokan di Hugo’s Cafe, pada Selasa (19/3/13) menjadi pemicu penyerangan.

“Jadi peristiwa itu disebabkan kejadian beberapa hari lalu ada keributan di Cafe Hugo oleh empat orang. Salah satu dari mereka anggota polisi. Namun seorang anggota Kopassus. Ia melerai keributan itu, tetapi ia meninggal karena ditusuk,” kata Wibowo di Jakarta, kepada wartawan di Jakarta , Sabtu (23/3/13).
Namun, keempat orang yang membuat keributan ditangkap polisi dan ditahan di Lapas Sleman. Salah satu yang ditahan adalah Johannes Joan Manbait, yang belakangan diketahui sebagai anggota polisi.

“Usai peristiwa tersebut sejumlah orang mencari siapa yang menusuk. Setelah itu, ketemu empat orang, salah satunya Johannes Joan Manbait. Dititip ke lapas, Jumat (22/3) siang, kemudian dini hari tadi pukul 00:30 WIB lapas diserang,” katanya.

Menurutnya, penyerangan itu sebelumnya terjadi ketika seseorang tidak dikenal mengetuk pintu lapas untuk kordinasi dengan tahanan. Tetapi karena pintu tidak dibuka oleh petugas lapas, oknum berpakaian preman tersebut mendesak untuk bertemu dengan kepala keamanan sebelum memasuki ruang CCTV untuk menghilangkan alat bukti.

“Saat datang kepala keamanan kemudian kepala keamanan ditendang dan dibanting. Setelah itu muncul 20 orang. Dan kelompok itu pergi membawa petugas ke penyimpanan kunci dan ruang CCTV dan dirusak,” terang Wibowo.

Wibowo menyebutkan di antara mereka ada yang membawa senjata AK47 yang beberapa kali ditembakkan ke udara. Mereka menginginkan lokasi blok ditahannya empat orang pelaku pembunuhan Sertu Santoso.

“Blok A5 diisi 38 tahanan, empat di antaranya tahanan yang dititip dari Polda. Diperkirakan membawa AK 47 yang diberondong ke atas. Empat orang dari Polda itu disuruh berbaris terpisah lalu ditembak dan meninggal semua. Lalu dibawa ke RSUP Dr. Sardjito,” ungkapnya.
(voa-islam.com/www.bringislam.web.id)

Komnas HAM Tak Akan Hentikan Penyidikan Kasus Cebongan

Sabtu, 06 April 2013 16:08http://www.starberita.com/index.php?option=com_content&view=article&id=94964%3Akomnas-ham-tak-akan-hentikan-penyidikan-kasus-cebongan&catid=168%3Apolitik&Itemid=774

Starberita - Jakarta - Pelaku penyerangan dan pembunuhan terhadap tahanan di Lapas Klas IIB Cebongan, Sleman, sudah diungkap TNI. Meski begitu, pihak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tetap akan melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap apakah ada pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut.

"Komnas HAM akan tetap melakukan penyelidikan dalam kasus ini. Belum berhenti," ujar anggota Komnas HAM, Nurcholis, saat diskusi Sindo Trijaya FM 'Kecolongan Aksi Cebongan' yang digelar Sindo Radio di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4/2013).

Nurcholis mengatakan, penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM bertujuan untuk mengungkap apakah ada pelanggaran HAM dalam kasus tersebut, terutama yang dilakukan oleh aparatur negara.

"Kalau (penyelidikan) Polri untuk proses penegakan hukum. Komnas HAM untuk penilaian sebuah peristiwa apakah dalam peristiwa itu ada pelanggaran HAM atau tidak. Komnas HAM konsentrasinya tentu bagaimana keterlibatan negara atau unit-unit negara," jelas Nurcholis.

Diakui Nurcholis, untuk melengkapi pencarian datanya, Komnas HAM pun telah melakukan koordinasi dengan Polri dan TNI. Koordinasi tersebut bertujuan untuk saling melengkapi data yang ditemukan.

"Komnas HAM telah bertemu dengan Mabes TNI dan Polri. Kami pun membahas temuan masing-masing, dan kesepakatan untuk mengkoordinasikan temuan itu, tapi dengan koridor tetap pada independensi masing-masing. Karena memang penyelidikan Komnas HAM beda dengan Polri. Ke Mabes TNI lebih banyak untuk minta keterangan, karena kami juga perlukan kalrifikasi dengan mabes TNI," katanya.

"Jadi memang dalam kasus ini ada tiga penyelidikan, ada tiga yang secara bersamaan yang melakukan penyelidikan atau investigasi. Mulai dari sisi KUHAP, KUHP, UU no 39 tahun 99 dan Mabes TNI yg sudah mengumumkan hasil investigasinya. Tapi menurut saya ruang lingkupnya berbeda-beda. Intinya adalah mencari siapa yang paling bertanggung jawab dalam peristiwa Cebongan ini," tambahnya.(dtc/YEZ)

Sikap Berbeda Atas Penyerbuan Lapas Cebongan Dengan Korban Densus 88

Add comments http://umihanif.speedytaqwa.com/post/detail/3258/sikap-berbeda-atas-penyerbuan-lapas-cebongan-dengan-korban-densus-88

 

Jakarta (voa-islam.com) Semua media besar di Jakarta menjadikan peristiwa penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, sebagai berita utama (headline).
Media-media di Jakarta mengangkat tinggi-tinggi peristiwa penyerbuan itu. Bahkan, harian Kompas mengambil judul"Indonesia Dalam Keadaan Bahaya", tulisnya.

"Pemerintah harus membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus itu. Apalagi, hal itu sudah menjadi sorotan publik internasional. Jika kasus itu tak diungkap, Indonesia terancam bahaya, karena negara dikuasai gerombolan bersenjata". (Kompas, 26/3).

Lebih media nasional itu, melakukan wawancara sejumlah tokoh, sebagai langkah membentuk opini dengan mewawancarai Rektor Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya Franz Magnis Suseno dan Mudji Sutrisno, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar, dan Direktur Ekskutif Imparsial Poengky Indarti.

Diantara pernyataan yang dikutif harian Kompas itu, "Yang bahaya, kalau pencarian keadilan itu kemudian menggunakan senjata. Dampak negatifnya sangat besar, karena masyarakat seakan mendapat pembenaran untuk melakukank kekerasan. Ini juga menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pembunuhan, dan penculikan, tetapi aktornya tidak ditemukan", ungkap Komaruddin.

"Sangat perlu Presiden membentuk tim pencari fakta. Kalau (fakta) tidak dibuka dan pelaku tidak dihukum, negara dalam keadaan bahaya, karena negara dikuasai kelompok preman dan penegakkan hukum tidak jalan", ucap Frans Magnis Suseno.

Kebetulan yang mati dalam penyerbuan di Lapas Cebongan itu, berasal dari NTT, yaitu Yohanes Yan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Rewu, Adrianus Candra Galaya, dan Hendrik Angel Sahetapy.

Keempat warga NTT itu, terduga pelaku pembunuhan Anggota Kopassus, Karangmenjangan, Surakarta, Sersan Satu Santoso. Diantara empat terduga pembunuh Sersan Santoso, Juan anggaota Polrestabes Yogyakarta, yang konon sudah dipecat.

Betapa media massa di Jakarta yang begitu dahsyat dan mengangkat tinggi, peristiwa penyerbuan Lapas Cebongan yang menewaskan empat orang NTT, yang diduga melakukan pembunuhan terhadap Anggota Kopassus Sersan Santoso.

Mereka membela habis keempat orang yang terduga pelaku pembunuhan Sersan Santoso. Media-media yang ada itu, juga mendorong kepada pemerintah dan Presiden SBY melakukan tindakan tegas, terhadap pelaku penyerbuan Lapas Cebongan.

Sesungguhnya apa artinya bagi media nasional yang terbit di Jakarta itu, kemudian seakan keempat orang yang telah tewas di Lapas Cebongan itu seperti "martyr", yang harus  dibela habis.

Mereka seperti orang-orang yang sangat berharga, hanya karena mereka tewas diserbu dengan menggunakan senjata oleh sejumlah orang yang belum diketahui identitasnya.

Tetapi, bandingkan dengan mereka yang tewas oleh Densus 88, yang mereka hanya diberi lebel sebagai "teroris", yang sebagian besar adalah para  aktivis Islam, mereka yang memiliki cita-cita dan idealisme terhadap prinsip-prinsip Islam, kemudian tewas dengan sangat mengenaskan oleh Densus 88. Tanpa pernah dibuktikan secara hukum kejahatan yang mereka lakukan.

Menurut HAM sudah lebih 83 terduga teroris yang tewas di tangan Densus 88, belum mereka yang disiksa dan penjara. Seakan kalau mereka yang beragama Islam itu, dibunuh dan dibantai oleh aparat menjadi "given" (dimaklukmi).

Tidak ada satupun media yang membela dan bersifat adil terhadap mereka yang menjadi terduga teroris. Mereka yang sudah tewas akibat tindakan Densus itu, kemudia dibenarkan oleh  media-media yang ada, dan diberikan opini mereka sebagai manusia yang palihg jahat, dan berhak dihabisi. Tanpa mengenal belas kasihan lagi.

Padahal, Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila, menanggapi sikap yang dilakukan oleh Densus 88, sangat jelas terjadi penghilangan nyawa dengan sewenang-wenang. Seperti yang terjadi di Poso, dan berbagai penembakan lainnya yang dilakukan oleh Densus 88. Media-media nasional tidak pernah memberikan opini yang imbang dan objektif.

Tapi, sekarang dengan kematian empat warga NTT itu, mereka bangkti serentak dan mengangkat sebagai peristwa yang sangat besar. Bahkan, media seperti Kompas, mengatakan, seperti "Negara Dalam Bahaya". Tidak pernah mengatakan tindakan yang dilakukan oleh Densus 88, yang sangat eksessif (berlebihan) itu, sebagai membahayakan negara.

Media-media yang ada telah bertindak dengan sangat tidak adil, khususnya dalam memberikan opininya terhadap peristiwa yang menimpa umat Islam dengan perisitwa yang menimpa orang-orang Kristren, seperti yang terjadi sekarang ini, yang menimpa empat orang warga NTT,  yang menjadi terduga pembunuh anggota Kopassus Sersan Santoso.

Peristiwa yang menimpa umat Islam selalu diputar-balikkan dengan berbagai opini, yang kemudian membuat posisi umat Islam menjadi tertuduh, dan fihak yang salah dan layak dihukum. Bahkan, dihabisi dengan menggunakan kekerasan senjata, seperti yang terjadi di Poso.
Padahal, di Poso, yang menjadi korban adalah umat  Islam. Ratusan umat Islam tewas dibantai milisi "kelelawar" yang dipimpin Tibo Cs,  yang berasal dari NTT. Tetapi, anehnya sekarang justeru umat Islam yang sekarang dituduh menjadi pelaku kejahatan, dan melakukan tindak terorisme di Poso.
Kasus kejahatan yang dilakukan milisi kristen tidak pernah diungkap dengan tuntas, dan justerus ditutupi, dan sekarang yang menjadi tertuduh umat Islam. Sungguh sangat tragis.
Begitu tidak adilnya media-media kristen dan sekuler menanggapi kasus yang terjadi terutama, kasus yang dialami  umat Islam dengan yang dialami oleh orang-orang kristen.
Bahkan, kasus yang sangat tidak penting, seperti kasus gereja Yasmin di Bogor pun, diadukan ke Komisi HAM internasional. Sungguh sangat tidak adil sikap media-media terhadap kasus Cebongan dibandingkan dengan terduga teroris. Wallahu'alam.
Sumber : (www.voa-islam.com)

Pengamat Curiga Ada Pembiaran Dalam Kasus Cebongan

Posted by KabarNet pada 07/04/2013
http://kabarnet.wordpress.com/2013/04/07/pengamat-curiga-ada-pembiaran-dalam-kasus-cebongan/comment-page-1/#comment-151133
 
Pengamat Politik & Militer, Dr Ikrar Nusabhakti
Pengamat Politik & Militer, Dr Ikrar Nusabhakti
Jakarta – KabarNet: Pengamat Militer Dr Ikrar Nusa bhakti menduga ada upaya pembiaran dari pihak kepolisian dan TNI AD sehingga terjadi penyerangan terhadap Lapas Cebongan, Sleman, yang berakibat terbunuhnya 4 preman yang ditahan di LP tersebut.

“Saya menduga ada komunikasi intensif dengan polisi dan TNI kenapa? Karena kalau memang polisi tahu harus dijaga dan tidak ada Brimob berjaga berarti ada something wrong, daripada terjadi perang aparat keamanan lebih baik persoalan itu dibiarkan mereka melakukan hal itu (Penembakan, red),” ujarnya, Sabtu (6/4/2013).

Ikrar juga meragukan ada kesimpangsiuran mengenai jumlah pelaku penembakan di Lapas Cebongan. “Apa benar ada 11 orang? kalau dengar ada 17 orang pelaku berdasarkan saksi tahanan di Yogyakarta, tidak mungkin salah hitung,” ungkap Ikrar.

Namun ia berpendapat bahwa jangan hanya fokus terhadap penyerang 11 pelaku saja. Ikrar curiga ada dugaan komunikasi antara Polda dan Pangdam dan ada keniscayaan bahwa petinggi militer dan polisi mengetahui rencana penyerangan lapas Cebongan.

“Apakah petinggi militer dan polisi tidak tahu ada penyerangan? Kapolda kenapa minta tahanan untuk dipindah? itu suatu yang tidak mungkin,” tandasnya.

Komnas HAM Punya Pandangan Berbeda Menyikapi Kasus Cebongan

Sementara itu, Komnas HAM mengaku mempunyai penyelidikan berbeda dengan Polisi dalam kasus penyerangan lembaga pemasyaratakam (Lapas), Cebongan, Sleman, DIY. “Polri dalam rangka penegakan hukum, komnas dalam rangka penilaian sebuah peristiwa apakah ada peleggaran HAM atau tidak,” ungkap Anggota Komnas HAM Nurcholis di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4/2013).

Menurutnya, dalam investigasi Komnas HAM tidak mencakup kepada proses hukum yang telah dilakukan oleh Polri dan TNI, namun lebih kepada penilaian soal keterlibatan negara dalam sebuah peristiwa tersebut. Sehingga dengan begitu dapat diketahui apakah negara lalai atau membiarkan peristiwa itu.

“Karena ini adalah UU 39 yang digunakan, maka keluarannya rekomendasi baik proses law informan, atau punishmen. Bahwa jabatan-jabatan tertentu telah melanggar HAM,” papar Nurcholis.

Menurut Nurcholis, untuk mengetahui ada tidaknya keterlibatan negara dalam kasus tersbut, maka Komnas HAM akan menemui beberapa pihak seperti Mabes Polri dan TNI. “Kami akan bertemu Mabes TNI, kami mengkoordinasikan, sebenarnya bukan koordinasikan saja, ketika tim berangkat ke DIY,” tandasnya.

Seperti sudah ramai diberitakan di berbagai media, pada 23 Maret lalu, 11 anggota Kopassus dari group 2 Kartosuro melakukan penyerangan ke Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Aksi tersebut dilakukan untuk mencari empat preman pelaku pembunuhan seorang anggota TNI Kopassus bernama Serka Heru Santoso, yang tewas pada 19 Maret di Hugo’s Cafe, Yogyakarta. Empat preman pelaku tersebut juga terlibat dalam kasus pembacokan mantan anggota Kopassus bernama Sertu Sriyono pada 20 Maret lalu.

Merasa kehormatan satuannya diusik dan atas nama jiwa korsa, 11 anggota Kopassus itu pun melakukan aksi balas dendam. Akibatnya, empat preman pelaku pembunuhan sadis terhadap anggota TNI Kopassus akhirnya tewas ditembak di Lapas Cebongan. Keempat preman naas itu adalah: Hendrik Angel Sahetapi alias Deki (31); Yohanes Juan Manbait (38); Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29); dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33). [KbrNet/adl – Source: Inilah.com]

6 Tanggapan to “Pengamat Curiga Ada Pembiaran Dalam Kasus Cebongan”


  1. incar berkata

    Biasanya pengendusan jurnalis lebih tajam dan terpercaya

  2. Orang jogja Asli berkata

    Hidup kopasuss !!! Tembak mati aja semua PREMAN YANG MERESAHKAN di jogja, yang suka malak pedagang seperti kami biar jogja aman…
    penjahat kok di bela… BANTAI AJA SEMUA SAMPAH MASYARAKAT… Buang kelaut…terutama para KORUPTOR DORR AJA PERUT GENDUTNYA…BIAR MAMPUSS … MERDEKKA.. Hiduplah Negri ku .. indonesia

  3. Orang jogja Asli berkata

    Yogyakarta (voa-islam.com) Kematian Sersan Heru Santoso, anggota Kopassus, Grup 2, Kandangmenjangan, Surakarta, yang tewas dibunuh secara sadis para preman yang berasal dari Ambon dan NTT, di Hugo’s Cafe, berubah menjadi dukungan simpati terhadap kesatuan elite itu.
    Kalangan pemuda dan rakyat Yogyakarta, memberikan dukungan kepada Kopassus, guna memberantas dan membersihkan para preman dari Yogyakarta. Karena, selama ini ada pembiaran terhadap para preman, dan bahkan ada oknum aparat yang memberikan dukungan kepada para preman.
    TNI Angkatan Darat dan Kopassus, beberapa hari ini, terus diharu-biru oleh media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, yang dituduh melakukan hukum rimba, ketika mengeksekusi empat orang preman dan mantan anggota polisi yang membunuh secara sadis Sersan Heru Santoso.
    Kecemanan dan cercaaan itu, kemudian berbalik menjadi dukungan rakyat dan elemen-elemen pemuda Yogyakarta, yang menginginkkan kota pelajar dan budaya itu dibersihkan dari para preman. Rakyat dan para pemuda Yogyakarta mendukung tindakan Kopassus yang mengeksekusi para preman.
    Yogyakarta, kota pelajar dan budaya yang tenang, berubah penuh dengan kekerasan sejak berdatangannya orang-orang dari Ambon dan NTT, bahkan berkembangnya budaya kekerasan, narkoba, dan minum, alias premanisme.
    Ketenangan menjadi porak-poranda. Kekerasan kerap terjadi dan keributan menyeruak di seantero kota Yogyakarta. Semua ini berlangsung, karena adanya dukungan dan main mata, antara para preman Ambon dan NTT dengan oknum aparat kepolisian.
    Hari Minggu, di kota Yogyakarta, di tengah guyuran hujan, berlangsung aksi dukungan terhadap Kopassus. Ratusan pemuda dari berbagai elemen, menggelar aksi dan melakukan orasi mendukung tindakan Kopassus yang membersihkan para preman dari kota pelajar dan budaya itu.
    Mereka menginginkan kota Yogyakarta bersih dari segala bentuk premanisme, yang sekarang sudah menjadi ancaman nyata kehidupan mereka. Mereka menginginkan Yogyakarta dibersihkan dari premanisme. Karena itu, sekarang rakyat Yogyakarta terus melakukan sweeping dan pengawasan terhadap orang-orang yang berprofesi preman.
    Ratusan pemuda menggelar aksi dukungan atas kejujuran Kopassus, Kandangmenjangan yang mengakui perbuatannya. Para anggota Kopassus itu sudah mengakui sebagai pelaku penempbakan empat penghuni Lapas Cebongan, yang berasal dari Ambon dan NTT.
    Selama ini rakyat Yogyakarta sangat diresahkan orang-orang Ambon dan NTT, yang selalu mengintimidasi mereka. Dengan berbagai bentuk kekerasan yang mereka lakukan. Dengan tindakan yang dilakukan Kopassus itu, rakyat Yogyakarta kembali memiliki spirit melawan para preman itu.
    Ratusan elemen pemuda dan rakyat Yogyakarta itu, berasal dari FKPPI, Paksitkaton, Jogya Otomotif, Rembug Jogya, Jogya Community, GP Ansor, dan beberapa elemen lainnya dari rakyat Yogyakarta. Kelompok-kelompok itu bergabung dalam : “Pemuda Anti Premanisme”.
    Di Tugu Perjuangan, para pemuda itu, salah satu diantara pemuda itu, melakukan orasi tanpa henti, dan mengungkapkan dukungannya kepada Kopassus. Orasi yang dilakukannya itu, sebagai bentuk dukungan dan simpati terhadap anggota Kopassus,Sersan Heru Santoso. Kemudian, mereka mengumpulkan dana : “Semiliar Koin untuk Serka Heru”.
    “Ini aksi dukungan kita kepada Kopassus yang dengan berani memberantas preman Yogyakarta”, kata Utomo, Koordinator aksi. Ratusan pemuda menglilingi Tugu dengan benda Merah Putih sepanjang 60 meter. Mereka juga menggelar tabur bunga dan do’a bersama untuk almarhum Serka Heru Santoso.
    Beberapa spanduk dikibarkan mengelilingi Tugu bertuliskan, “Rakyat-TNI bersatu berantas premanisme, Terimakasih Kopassus, Yogya Aman Preman Minggat, Kastria Kopasssu Berani Berubat Berani Bertanggungjawab”, dan “Preman itu Pengecut dan Tak Punya Perasaan”.
    Memang, sejak terjadi pembunuhan Serka Santoso, dan kemudian terjadinya pembunuhan terhadap empat orang preman dari Ambon dan NTT, banyak para pemuda yang berasal dari Ambon dan NTT itu, meninggalkan Yogyakarta, dan sebagian diantara mereka meminta perlindungan gereja.
    “Kita menolak tegas premanisme dan usir Yoyakarata”, ujar Utomo. Dengan aksi itu menunjukkan solidaritas pemuda Yogyakarta, yang menginginkan kota Yogya menjadi aman dan bebas segagala bentuk premanisme.
    Dibangian lain, pengumpulan semilair koin untuk almarhum Serka Heru Santosos dialkukan dengan mengedarkan kardus bertuliskan : “Semiliar koin Serka Heru Santoso”, kepada pengendara motor, mobil, dan pejalan kaki yang melewati Tugu.
    Selanjutnya, menurut Prasetyo, salah satu orator yang ikut dalam aksi di Tugu itu, mengatakan pengumpulan “semilair koin”, merupakan bentuk solidaritas bagi almarhum Serka Heru Santoso. Pengumpulan koin itu akan dilakukan selama satu bulan. Memang, rakyat sudah sangat letih, melihat berbagai kekerasan yang dilakukan para preman, sementara mereka ini, mendapatkan dukungan dari oknum aparat.
    Aksi para pemuda itu, kemudian diakhiri dengan melakukan konvoi yang membawa foto Serka Heru Santoso diiringi bendera Merah Putih, sepanjang 60 meter, dan berbagai spanduk, serta foto Serka Heru Santoso diletakkan dibawah patung Jenderal Sudirman di halaman Gedung DPRD DI Yogyakarta. af/rplk.
    Share this post..
  4. Semuanya patut dicurigai alangkah baiknya jika semua diperiksa supaya pembunuhan 4 preman bisa ditangkap

  5. Orang jogja Asli berkata

    Wah..Jual sepatu sampeyan mesti bukan orang jogja ini, makanya mendukung preman2 ini..tak doakan semua preman dan pendukungnya cepat sadar… Sadar sebelum mati… Supaya jogjaku tetap aman dan damai..

  6. arifin berkata

    MENGAPA TEMPO DAN KOMPAS BERFIHAK KEPADA PARA PREMAN…DAN KONON GREJA2 JUGA IKUT MENDUKUNG PARA PREMAN..?? GK NGERTI …ADA APA..DI NEGARA INI ….RUPANYA …..PREMAN ITU PENDUKUNGNYA ….TERNYATA ORANG2 INTELEKTUAL JUGA..DAN TERNYATA .. ORANG2 KAYA…[LIHAT TOKOH KOMPAS-TEMPO-DLL..SIAPA2 MEREKA...]….?? APAKAH MEREKA BAGIAN DARI AGENDA ASING YANG INGIN MENGACAU DINEGARA INI MELALUI KEKUASAAN DAN POLA MAINAN PREMANISME YANG DILINDUNGI.. DENGAN TOPENG ORMAS..ATAW ANAK2 BINAAN..TERTENTU..??
    PERLU PENELITIAN..DAN DIPERDALAM.. JANGAN2 ADA BIZ NARKOBA TINGKAT TINGGI…UNTUK MENGACAU DAN MENGHANCURKAN NEGARA….DAN RAKYAT JOGYA…YANG SANTUN..?? DAN BISA JADI JOGYA MENJADI SASARAN…TARGET…MEREKA… YANG MEMANG BERMAKSUD..JAHAT KEPADA RAKYAT INDONESIA..??
    DUKUNG KOPASUS…DAN BEBASKAN JOGYA DARI PARA PREMAN2…DAN BARANG2 YANG MERUSAK DAN DIHARAMKAN….???
    AWAS..FITNAH…DAN ISUE2 BARU…DIMEDIA MAINSTREAM..YANG SELALU BERPIHAK KEPADA PREMANISME..??? … MEREKA PINTAR DAN AHLI PROVOKASI..??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar