Minggu, 04 September 2011

Utang Indonesia tak ada habisnya!.....>>>..Pemerintahan Orde Lama (Orla) tercatat mewariskan utang untuk negeri ini sebesar Rp 794 miliar atau setara dengan 2,4 miliar dollar Amerika Serikat atau 29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada waktu itu......>> Utang Orde Lama itu untuk apa??? Konon digunakan... membangun... Stadion Utama dan fasilitas olah raga di Senayan...[yang kini masih kita gunakan..] . Juga membangun Bendungan Jatiluhur untuk mengairi persawahan disekitar Krawang-Purwakarta...[kini jadi area perumahan dan pabrik2... jadi salah fungsi..]....dan jaringan Listrik Tenaga Hydro...Juga konon digunakan memperkuat Angkatan Perang RI untuk merebut Irian Barat dari Belanda...[ yah sudah berhasil mengembalikan Irian Barat kepangkuan RI-].....>>> Ada kabar lain bahwa juga digunakan sebagian untuk membangun Kompleks Gedung Konefo.[Konferensi New Emerging Forces-yaitu kumpulan Negara2 yang bebas aktif yang tidak hendak tunduk sama PBB-cq para pemegang hak veto di UN Security Council-itu gagasan Bung Karno dan Beberapa Negara lain di Asia-Afrika-Amerika Latin-Dan Eropa Timur]... yang karena BK digulingkan oleh mahasiswa dan didukung tentara yang dipimpin pak Harto...1965...maka gagallah usaha Konefo itu...dan sejak Pak Harto berkuasa hingga sekarang menjadi Gedung MPR dan DPR RI... konon...menurut cerita menteri aparatur negara Bp Profesor....DR Sumarlin>>> Sedangkan Utang2 Orde Baru.... Wah itu kan direstui AS untuk stabilitas ekonomi dalam negeri dan menghalau komunisme di Indonesia.... dengan berbagai program...dan tahapan Repelitanya....Yang menghasilkan Kekayaan Negara dikuasai Asing.... Mulai dari Freeport... Area2 sumber2 tambang... dan sumber2 migas... diseluruh nusantara...dll ...??? >>> Sedang Utang2 Orde Reformasi.... untuk apa yah...???? Untuk membangun...??? Apa yah... Demokrasi...dengan....pembangunan tingkat manipulasi sangat luar biasa... >>> Lalu bagaimana kelanjutannya...??? Ada yang mengatakan lha enggak apa2 berhutang asal sanggup bayar.....??? Sanggupbayar bagaimana... kalau cara pengelolaan hutang... hanya diawur-awur...untu kepentingan politik..Dan politiknya itu tidak juga cocok dengan kepribadian bangsa kita.... Jadi ngawur.... dan awut-awutan.....>>> Lha ... Bagaimana akan sanggup bayar utang.. kalau indikasinya.... bahwa utang selalu meningkat... artinya bukannya semakin mampu membiayai diri sendiri... atau kalau bisa memberi hutang kepada Negara lain... Bahkan jadinya malahan terus menerus menambah utang.... >>> Ini namanya Setiap pergantian Presiden ada upaya menambah hutang bukannya bisa mandiri... tetapi malahan memperbesar Utang... lha Pemerintahan apa ini... >>> Juga tidak jelas untuk apa dengan maksud menghutang besar2an... tanpa melihat hasil nyata dari pemanfaatan utang itu.... >>> Misalkan.... Nyata2... ada Pembangunan yang memberikan lapangan keja dan produksi meningkat secara signifikan......antara lain... misalkan: Membangun tanah pertanian...ribuan juta hectare....di Kalimantan-di Iraian-... di Sumatera.... dll....kek... atau .. membangun... pabrik refinery... pengolahan migas... dengan kapasitas produksi.. jutaan barrel per-hari....atau pembangkit tenaga nuklir... atau membangun angkatan Perang terkuat di Asia....dll... atau membangun pabrik mobil... pabrik kreta api.... pabrik kapal2 kargo...laut udara...dll.... atau pabrik armada angkutan darat-laut-udara....dll....>> Jadi ada jelas sasaran dan gunanya... dan peruntukannya... dan rencana2nya....>>> Atau membangun pelabuhan2 diseluruh Indonesia... Jalan2 raya diperbatasan mengelilingi Republik Indonesia.... dari Sabang sampai Merauke... dlll... >>> Mana hasilnya... ????... Hayyooo mana hasilnya..... Malah kalau dihitung-hitung... hasilnya adalah pembunuhan rakyat Indonesia berjuta-juta.... ya peristiwa G30S- DOM Aceh-Penembakan misterius-Pembunuhan fitnahan2 kiayi yang dituding tukang santet..di zaman Gus Dur....- peristiwa 1998.... terus berkembang berbagai isuue terorisme... yang dijadikan sasaran adalah pemuda2 pesantren... dlll..di-.zaman SBY .>> Jadi waspadalah bahwa hutang2 itu bisa2 salah digunakan demi kepentingan politik tertentu dan memberikan keuntungan kepada pihak2 asing tertentu dengan merampas aset2 negara.... dan sumber2 kekayaan negara...??? Lha.... lalu hutang yang mana yang benar2 digunakan untuk kepentingan rakyat....??? atau kepentingan Negara???...>> Awas.... sudah banyak aset dan kekayaan nrgara digadaikan bahkan dijadikan sandera oleh para penguasa Asing.....dan Negara Asing......>>> Waspadalah Rakyat Indonesia..... Awas!!! ......Awas!!!!... Ini bisa jadi penipuan dan manipulasi tingkat internasional.... dengan tangan2 jahil para penguasa.... yang mengatasnamakan Berutang untuk Negara.....???? Padahal sesungguhnya.... bisa saja semua itu manipulasi politik..... dan menggadaikan Kekayaan Negara.... ,melalui berbagai instrumen dan sistem Keuangan dan fasilitas Negara....???? Hayoo.... Awaslah.....!!!

Utang Indonesia tak ada habisnya!

Rasul Arasy
http://arrahmah.com/read/2011/09/03/15044-utang-indonesia-tak-ada-habisnya.html
Sabtu, 3 September 2011 13:04:59
Hits: 2210

JAKARTA (Arrahmah.com) – Beginilah luar biasanya Indonesia. Pemerintahan Orde Lama (Orla) tercatat mewariskan utang untuk negeri ini sebesar Rp 794 miliar atau setara dengan 2,4 miliar dollar Amerika Serikat atau 29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada waktu itu.

Total utang tersebut adalah jumlah utang luar negeri Indonesia ke negara-negara maju. Namun meskipun pemerintahan SBY terus menggembor-gemborkan tentang pembayaran utang, nyatanya dalam empat dekade, utang Indonesia bukannya menurun, tetapi malah meningkat.

Tercatat, hingga akhir semester 1 tahun lalu, dari jumlah sekitar Rp 794 miliar pada tahun 1969, membengkak menjadi Rp 1.723 triliun atau equivalen 200,5 miliar dollar AS atau 26,1 persen terhadap PDB.
Hal tersebut berdasarkan laporan tertulis pengelolaan utang pemerintah, yang dikeluarkan Kementerian Keuangan Juli lalu.

Peningkatan utang yang sangat tajam terjadi pada akhir periode Orde Baru (Orba). Waktu itu, total utang dari Rp 552,5 triliun atau 57 persen terhadap PDB pada akhir 1998 meningkat menjadi Rp 939,5 triliun atau 85 persen terhadap PDB pada akhir 1999.
“Peningkatan utang tersebut merupakan imbas dari krisis moneter yang terjadi dan pelemahan nilai tukar yang sangat tajam pada periode itu. Utang yang dilakukan selama pemerintahan Orde Baru hampir seluruhnya merupakan utang luar negeri,” tulis laporan tersebut.

BLBI dalam laporan kepada Menteri Keuangan Agus Martowardoyo itu, menyebutkan utang tersebut berasal dari kreditor multilateral seperti World Bank (Bank Dunia), Asian Development Bank (ADB), dan Islammic Development Bank (IDB), maupun kreditor bilateral seperti Jepang, Amerika dan Jerman. Utang itu termasuk juga Kredit Ekspor (KE) bagi komersial.
“Pada akhir periode Orde Baru, pemerintah mulai menerbitkan surat utang untuk Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp100 triliun. Namun, krisis moneter yang melanda Indonesia akhir tahun 1990an mengakibatkan utang pemerintah bertambah lagi,” lanjut laporan itu.

Celakanya, dalam pemerintahan Soeharto justru harus menerbitkan surat utang lagi untuk menyelamatkan sistem perbankan. Jumlahnya tercatat sekitar Rp 650 triliun selama kurun waktu 1998-2001.
“Ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing pada penghujung pemerintahan Orba, mengakibatkan terjadinya peningkatan nilai utang luar negeri Pemerintah,” demikian laporan itu.
Bahkan hingga kini utang Indonesia pun belum benar-benar terlunasi. Belum lagi ditambah riba nya yang terus beranak setiap tahunnya. Hal tersebut toh tak membuat para pemeganga kekuasaan ‘bertekad’ membebaskan Indonesia dari hutang. Hal tersebut tampak dari ‘gaya hidup pemerintahan’ para pejabatnya.

Rapat di hotel (padahal rapat bisa juga dilakukan di gedung pemerintahan), melancong ke luar negeri tanpa hasil yang signifikan, dan rencana membangun gedung dengan anggaran tak sedikit. Maka tak heran jika hingga kini bangsa Indonesia terus diwarisi utang.  (kom/arrahmah.com)

Orla Mewarisi, Orba Menambah Utang Luar Negeri
Suhartono | Robert Adhi Ksp | Jumat, 2 September 2011 | 15:25 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Utang Indonesia memang luar biasa. Pemerintahan Orde Lama (Orla) tercatat mewariskan utang ke negeri ini sebesar Rp 794 miliar atau setara dengan 2,4 miliar dollar Amerika Serikat atau 29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada waktu itu.
Total utang tersebut adalah utang luar negeri Indonesia ke negara-negara maju. Namun, ternyata, dalam empat dekade, utang Indonesia justru bukannya menurun, akan tetapi justru meningkat. Hingga akhir semester 1 tahun lalu, dari jumlah sekitar Rp 794 miliar pada tahun 1969, membengkak menjadi Rp 1.723 triliun atau equivalen 200,5 miliar dollar AS atau 26,1 persen terhadap PDB.
Dari laporan tertulis pengelolaan utang pemerintah, yang dikeluarkan Kementerian Keuangan Juli lalu, yang diterima Kompas, akhir Agustus.
Peningkatan utang yang sangat tajam justru terjadi pada akhir periode Orde Baru (Orba). Waktu itu, total utang dari Rp 552,5 triliun atau 57 persen terhadap PDB pada akhir 1998 meningkat menjadi Rp 939,5 triliun atau 85 persen terhadap PDB pada akhir 1999.
"Peningkatan utang tersebut merupakan imbas dari krisis moneter yang terjadi dan pelemahan nilai tukar yang sangat tajam pada periode itu. Utang yang dilakukan selama pemerintahan Orde Baru hampir seluruhnya merupakan utang luar negeri," tulis laporan tersebut.
BLBI Lebih jauh, laporan kepada Menteri Keuangan Agus Martowardoyo itu, menyebutkan utang tersebut berasal dari kreditor multilateral seperti World Bank (Bank Dunia), Asian Development Bank (ADB), dan Islammic Development Bank (IDB), maupun kreditor bilateral seperti Jepang, Amerika dan Jerman. Utang itu termasuk juga Kredit Ekspor (KE) bagi komersial.
"Pada akhir periode Orde Baru, pemerintah mulai menerbitkan surat utang untuk Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp100 triliun. Namun, krisis moneter yang melanda Indonesia akhir tahun 1990an mengakibatkan utang pemerintah bertambah lagi," lanjut laporan itu.
Celakanya, pemerintahan Soeharto itu, justru harus menerbitkan surat utang lagi untuk menyelamatkan sistem perbankan. Jumlahnya tercatat sekitar Rp 650 triliun selama kurun waktu 1998-2001.
"Ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing pada penghujung pemerintahan Orba, mengakibatkan terjadinya peningkatan nilai utang luar negeri Pemerintah," demikian laporan itu.
Tak heran jika hingga kini bangsa Indonesia terus diwarisi utang. 


Utang Indonesia Mencapai Rp 1.900 Triliun

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:s9BDVgCBOvUJ:www.indonesiabisnis.net/2011/news-berita/413/utang-indonesia-mencapai-rp-1-900-triliun.htm+utang+RI+jumlahnya+sekarang+menjadi+berapa+triliun+dolar&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
Melihat berita terhangat kekisruan utang negara-negara di amerika dan eropa yang saat ini terancam gagal bayar mengingatkan kita akan utang luar negeri Indonesia, dan seberapa besarkah jumlah utang tersebut hingga tahun ini?

Mungkin kita belum sadar bahwa jumlah utang Indonesia sudah sangat membengkak, dengan jumlah mencapai Rp 1.900 Triliun atau sekitar 214,5 miliar dolar AS saya rasa kita semua setuju bahwa jumlah ini terbilang sangat besar

LSM Koalisi Anti Utang (KAU) mendesak agar pemerintah tidak lagi mengandalkan dana yang berasal dari utang luar negeri sebagai salah satu sumber untuk membiayai pembangunan di dalam negeri.
“Semakin besar kita mengandalkan utang maka akan semakin besar bahaya yang bisa berdampak pada ekonomi nasional,” kata Ketua LSM Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan di Jakarta, Jumat. Menurut dia, isu utang seharusnya saat ini menjadi “debat panas” di dalam DPR karena banyak hal yang harus diperhatikan terkait hal itu.

Ia mencontohkan, hal penting yang harus dicermati terkait dengan utang adalah sejauh mana jumlah cicilan pokok dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar utang tersebut. Dani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga harus belajar dari kekisruhan dalam penentuan pagu utang AS yang sempat menjadi perdebatan hangat baik di dalam tubuh pemerintah AS maupun kongres negara itu.
“Di AS terlihat isu utang menjadi krusial tetapi di Indonesia isu utang masih belum menjadi debat politik yang panas,” katanya. Sebelumnya, Kepala Biro Humas Bank Indonesia Didi A Johansyah juga menilai, total utang luar negeri Indonesia baik pemerintah maupun swasta yang terus meningkat hingga kwartal I tahun ini patut terus dicermati.

“Meski ekonomi kita stabil dan fundamental ekonomi bagus, tetapi utang luar negeri harus terus dicermati dengan mengingatkan pelaku bisnis untuk mengelola utang luar negerinya secara berhati-hati,” kata Didi di Jakarta akhir Juni lalu.
Jumlah utang luar negeri Indonesia sampai kwartal I 2011 mencapai 214,5 miliar dolar AS, meningkat 10 miliar dolar AS dibanding posisi akhir 2010. Jumlah tersebut terdiri atas utang Pemerintah sebesar 128,6 miliar dolar AS dan utang swasta 85,9 miliar dolar AS.

Sedangkan rasio utang dibanding PDB saat ini 28,2 persen lebih baik dibanding 1997/1998 sebesar 151,2 persen. Sementara rasio utang jangka pendek dibanding cadangan devisa saat ini 42,6 persen lebih baik dibanding posisi 1997/1998 sebesar 142,7 persen
REPUBLIKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar