Selasa, 27 September 2011

..Di tengah sorotan masyarakat terhadap kinerja intelijen setelah ledakan bom bunuh diri di Solo, kabar terbaru muncul dari pembahasan rancangan undang-undang (RUU) Intelijen. Pemerintah dan DPR kabarnya telah menyepakati sejumlah pasal krusial dari RUU tersebut...>>..."Kita optimis RUU ini bisa kita selesaikan sebelum masa akhir sidang kali ini yang hanya tinggal beberapa minggu lagi," kata Ketua Panja RUU Intelijen Agus Gumiwang Kartasasmita di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 26 September 2011...>> Seyogianya berhati-hati dengan pembuatan UU yang sangat rentan penuh vested-manipulasi-dan sangat mudah adanya pesanan2 politik dan kesewenang-wenangan.... para Pemain Kekuasaan dan Pendustaan...>>> Pengalaman zaman Orde Baru yang demikian banyak dusta2 politik dan tidakan ppenghilangan nyawa rakyat.... dan menutupi segala kebobrokan dan kebohongan para penguasa,, dan para pemegang bedil....serta nyata2 mengorbankan jiwa dan darah2 rakyat Indonesia dengan berbagai versi Pendustaan untuk menghilangkan nyawa2 Rakyat..dan menistakannya.. tanpa kenal ampun. - Semua bebas berbuat dusta.. dan berlakunya pembenaran2 penuh manipulatif...dan kerakusan "gerombolan" para vested.terhormat.. ,penggarongan secara "legal" harta rakyat...dan negara....>> Disisi lain pembenaran sepihak atas nama Kepentingan tertentu dengan dalih2 dusta.. untuk Azas Tunggal Pancasila.. untuk Keutuhan Negara.. untuk anti PKI ... untuk para anti Republik... anti Pancasila..dlll ...>> Padahal nyatanya adalah penggelembungan budget Negara.. dan atas nama kepentingan Negara itu.. maka uang Negara dihamburkan... dan dibuat untuk foya2 bagi kalangan tertentu... >>> Tujuan utama yang seharusnya membangun manusia Indonesia yang berkarakter Benar dan jujur .. malahan terjungkir balik ... menghasilkan generasi Koruptif-Manpulatif-Menghalalkan segala cara- dan menganut penyembah Dewa Kekuasaan-Dewa Uang dan Kekayaan Materialistik- Dewa Keserakahan... dan bertamabah subur dan makmurnya perilaku Bebas-barbar dan MOLIMO yang sejak zaman dahulu Bahwa MOLIMO dan Bebas-Barbar [bebas dengan penuh culas dan melakukan tipu2-semata-mata ingin menang] itu telah menjadi ajaran nenek moyang kita untuk dijauihi dan dilarang secara mutlak...>>> Mengapa tidak Dibuat UU Anti- MOLIMO baik berupa Larangan dan Sangsi atas naskah2-tulisan-rekaman-tayangan-penyebaran-perilaku-molimografi-dan molimo-aksi dll..>>> ... Ini akan efektif memperbaiki perikalu Umat bangsa Indonesia secara Keseluruhan...>>> Bagi yang karena keadaan sejarah belum sampai kepada tingkat yang lebih baik... - Maka secara persuasif dan bertahap dilakukan pembinaan dengan program2 intensif dan kesabaran yang penuh ajaran kasih sayang dan bijaksana...>>> Maka dibuatlah berbagai metode dan tahapan program yang benar2 serius dan penuh jiwa kemanusiaan yang halim-berbudi luhur dan seksama...>>> ..Hal itu disampaikan oleh Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Ustadz Fauzan Al Anshari, kepada Eramuslim.com, selasa siang, (27/9). “Keterlibatan intelijen Asing di (Bom) Solo sangat kuat. Mereka ada dimana-mana seperti pernah dikatakan oleh Pak Ryamizard. Salah satunya menyerang isu penegakan Syariat Islam.”...>>.. Isu adanya puluhan ribu intel asing memang bukan hisapan jempol semata. Setidaknya, hal ini pernah dilontarkan oleh Ryamizard Ryacudu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI, pada tahun 2003. Menurutnya, jumlah agen asing yang melakukan infiltrasi dihitung dari total yang berada di seluruh Indonesia. Dan cara mereka masuk ke Indonesia juga bermacam-macam. Ketika intel Indonesia diam, dan semakin lama kekuatan intel asing semakin kuat, maka tepat rasanya jika kenyataan ini sebagai sebuah penjajahan model baru yang menyandera bangsa ini. “Ini penjajahan intel asing namanya,” tegas Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi ini.....>>> Suara SBY Lantang Untuk Kristen Solo, Tapi Sumbang Untuk Muslim Ambon...>>..."Saya instruksikan agar investigasi lanjutan dilakukan secara intensif untuk mengetahui dan membongkar habis rangkaian jaringan pelaku teror di Cirebon dan Solo," katanya dalam konferensi pers, Minggu (25/9). Tapi hal berbeda justru terjadi pada kasus Ambon. Tidak sebersit pun membuat SBY siaga menyiapkan aparatnya untuk mengusut tuntas kasus tersebut. SBY pun tidak terlihat lantang berbicara untuk meminta polisi dan Densus mengungkap habis jaringan Kristen yang membantai umat muslim, “Padahal jumlah korban (umat muslim di Ambon, red) lebih banyak,” kata Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Fauzan Al Anshari kepada Eramuslim.com, senin pagi, (26/9)....>>>... Timpangnya pemberitaan antara kasus Ambon dan ledakan gereja di Solo itulah yang mengundang reaksi keras dari Ustadz Bernard Abdul Jabbar, tokoh Anti Pemurtadan yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI). Ia dengan tegas menyebut berita-berita yang beredar di media sekular saat ini terkait ledakan di Solo sebagai berita yang menyesatkan.....>>>... FUI Berikan Foto-Foto Radikalisme Kaum Salibis Ambon ke MUI......>>>...Forum Umat Islam (FUI) yang selalu lantang membela hak-hak kaum muslimin di negeri ini, siang tadi (27/9) diterima oleh MUI terkait peristiwa pembantaian umat Islam di Ambon....>>...Muhammad Al-khaththath selaku Sekjen FUI langsung memberikan hasil investigasi FUI mulai dari kronologinya, data dan fakta di lapangan serta diperkuat foto-foto yang menggambarkan radikalisme yang dilakukan oleh kaum salibis kepada ketua MUI Ma’ruf Amin. ,.,.>>>...Memang mengherankan, kasus Ambon yang besar ini dengan korban yang begitu banyak di kalangan muslim tapi pemimipin negeri ini, SBY tidak bereaksi. Namun ketika terjadi peristiwa bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo, SBY langsung bereaksi. Betapa tidak adilnya pemimpin negeri ini.....>>> Waspadalah Umat Islam.. siapapun anda... Wahai para Pemimpin-Pemerintahan-Tentara Muslim dan Polri Muslim- dan Ulama2 - dan Para Pemuda-Pelajar-Mahasiswa Muslim dimanapun Nada Berada dan dalam posisi apapun andan... Bersatulah... Semua Umat Islam di kampung-kampung di kota2 dan semua Umat Islam Waspadalah...>> Ada Permainan Asing bersama para Antek2 Penjajah Kriminal Internasional sedang mengincar Umat Islam Indonesia....untuk dijadikan korban darah ... >>> Kuatkan Persatuan- Silaturahim-Persaudaraan-Persatuan dan Solidaritas Umat Islam...>> Jangan mengharapkan siapapun.... terlebih kepada Kafirin-Munafikin-Kaum Fasidin....>> Hayyo perkuat semua barisan Umat Islam... dan Waspadalah...>>> DEana Dan Uang sedang di bagi2 dalam berbagai versi.. legalitas... semata-mata mau ada pesta besar2an untuk foya2 dan korban2 darah Umat Islam...>> Lihat betapa pincang dan Tidak Adilnya Perlakuan SBY dan Aparat2 Polsi dan TNI terhadap Kasus di Ambon dan kasus di Solo....>>> Ini Fakta sejarah Sdrku...>> Lihatlah apa yang pernah sejarah catat Apa yang terjadi di Surabaya-di Ambarawa- di Rawa Gede di Bandung- di Sulawesi- dan lain2...>>> Hayyo Kuatkan jiwa2 perjuangan dan jiwa2 patriot bangsa dalam Menegakkan Kebenaran dan Keadilan...>>> Bagimana Para Pemberontak RMS dan Kerusuhan para Kresten Ambon tahun 1999 dan juga yahun 2011... >> ..Semua ini seakan pemanasan... untuk pesta darah Umat Islam... >>> Waspadalah.. Sdrku2... Ingaylah... Apa yang telah terjadi... Pasca peristiwa Ambon 1999 adalah Konsep Perang Teror Dunia .. dengan Issu Dusta 911 2001...dimana Dunia Islam diserbu secara ramai2... dan di mana2 di adu-domba... Hingga kini..>> Awas akan ada apa lagi...!!! Quo Vadis!! Permainan ... akan Nyawa Rakyat dan Bangsa Indonesia beragama Islam Khususnya...siapapun mereka -baik yang dicap radikal ataupun yang lemah lembut... >>> Mereka menggunakan orang2 haus Uang dan Kekuasaan..dan mereka memang sangat Serakah.....>>> Inilah jaringan para antek2 Penjajah Kriminal Internasional sedang berpesta pora...>> Awas Pesta2 Duit dan darah Umat Islam...>>> Di mana2 disebar.. dari Ujung belahan Afrika hingga Lautan Teduh.... >> Awaslah... Waspadalah..>> Wahai Pemuda Anshor NU dan yang meanamakan diri Densus 99 .... Kalau anda Umat Islam ..harus benar hati2 dan waspadalah kalian bisa diperalat semata-mata karena kalian suka sekali dan cinta sekali akan uang dan Kedudukan....>>> Awaslah...semua itu bisa menipu... >> Awaslah barang Haram dan Syubhat menyebar ditengah-tengah kita.... !!! >> Hati2 Ini bisa jadi sangat dahsyat... >>> Umat Islam sadarlah... !!! ..Jangan mau dia adu2 sesama Muslim... siapapun anda.. Wahai Muslimin Indonesia...>>> ...

 

Intelijen Tak Boleh Menangkap, Tapi Boleh Menyadap?

Selasa, 27/09/2011 17:01 WIB | Arsip | Cetak
http://www.eramuslim.com/berita/foto/fui-berikan-foto-foto-radikalisme-kaum-salibis-ke-mui.htm

Di tengah sorotan masyarakat terhadap kinerja intelijen setelah ledakan bom bunuh diri di Solo, kabar terbaru muncul dari pembahasan rancangan undang-undang (RUU) Intelijen. Pemerintah dan DPR kabarnya telah menyepakati sejumlah pasal krusial dari RUU tersebut.

Sejumlah pasal yang disepakati dalam RUU Intelijen itu antara lain masalah wewenang penangkapan, penyadapan, serta koordinasi antar lembaga intelijen.

"Kita optimis RUU ini bisa kita selesaikan sebelum masa akhir sidang kali ini yang hanya tinggal beberapa minggu lagi," kata Ketua Panja RUU Intelijen Agus Gumiwang Kartasasmita di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 26 September 2011.

Agus menjelaskan, DPR dan pemerintah sepakat memberikan kewenangan penyadapan kepada lembaga intelijen dengan syarat ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Rambu-rambu itu antara lain, penyadapan harus sesuai aturan perundang-undangan terkait, batas waktu (timeline) penyadapan maksimal 6 bulan, ada keterlibatan pengadilan, dan hanya dalam rangka melaksanakan fungsi intelijen.

Inilah Skenario Intelijen Asing Dalam Bom Solo

Selasa, 27/09/2011 13:36 WIB | Arsip | Cetak
Semboyan Barat: Anda ingin ikut kami atau kami perangi?
Semboyan Barat: Anda ingin ikut kami atau kami perangi?

Indikasi mengenai keterlibatan intel asing dalam kejadian Bom Solo tampak semakin kuat. Konteks ini tidak terlepas dari isu war on terorism yang digelindingkan Barat untuk menenggelamkan pemahaman Ideologi Islam di tengah-tengah umat.
 
Hal itu disampaikan oleh Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Ustadz Fauzan Al Anshari, kepada Eramuslim.com, selasa siang, (27/9). “Keterlibatan intelijen Asing di (Bom) Solo sangat kuat. Mereka ada dimana-mana seperti pernah dikatakan oleh Pak Ryamizard. Salah satunya menyerang isu penegakan Syariat Islam.”

Menurut Fauzan cara yang dimainkan oleh Barat dalam menyudutkan umat Islam lewat peledakan bom Solo adalah dengan menggembar-gemborkan demokrasi. Syariat Islam pada gilirannya akan dibenturkan dengan perlawanan terhadap NKRI yang memegang teguh demokrasi. 

“Makanya pengamat-pengamat sekarang sudah mengaitkan Bom Solo dengan kelompok anti demokrasi, anti thoghut, anti Pancasila dan sebagainya.”

Salah satu peran yang dimainkan Barat dalam hal ini adalah media. Media adalah fasilitas yang telah dikuasai oleh Barat. Oleh karenanya tidak aneh jika sekarang media mulai menggiring opini masyrakat antara Bom Solo dengan penegakkan hukum-hukum Islam.

“Media-media saat ini adalah alat dari kepentingan asing. Mereka tidak suka Islam tegak.” Imbuh Ustadz Fauzan.

Sejatinya, genderang perang antara umat muslim versus Barat adalah agenda jangka panjang yang terus berlangsung. Jika ada yang meyakini peperangan tejadi hanya pada konteks global, dan tidak melokalisir di Indonesia, hal itu adalah pendapat yang keliru. 

Sebab Barat memandang Indonesia adalah Negara yang potensial untuk disusupi. “Indonesia adalah subordinat dari perang Global melawan Islam yang sekarang sedang berlangsung.”

Lantas apa tujuan atau kepentingan Barat dalam memainkan isu bom di Indonesia? “Mereka tidak ingin Islam bangkit.” Jawab Fauzan. “Karena lawan dari demokratisasi adalah Islamisasi.” Sambungnya. (pz)


"Intinya penyadapan untuk deteksi dini dan early warning system, tak ada dalam rangka penyelidikan dan penegakan hukum," ujar Agus.

Agus menjelaskan, BIN diberi kewenangan koordinasi antar lembaga yang dinilai memiliki elemen intelijen. "Intinya intelijen perlu diberikan kewenangan untuk dapat menggali informasi agar bisa mendalami kasus," ujarnya.

Sementara untuk wewenang penangkapan, BIN tidak diberi izin untuk menangkap dan menahan."Kami setuju mereka diiberi kewenangan untuk menggali informasi, namun tak dapat melakukannya dengan melakukan penahanan dan penangkapan. Jadi kita setuju mereka bisa menggali informasi. Dalam RUU secara tegas mengatakan tidak menahan dan menangkap," kata Agus.

Menurutnya, bila aparat BIN merasa perlu untuk menggali informasi dari, misalnya terduga teroris, maka mereka harus bekerjasama dengan aparat penegak hukum.

"Jadi dia punya hak untuk duduk di sebelah penyidik hukum mendengarkannya. Harus diingat lembaga intelijen tak bisa memaksa aparat untuk menangkap seseorang demi menggali informasi. Polisi dan jaksa juga takkan dengan mudah asal patuh kepada aparat BIN. Mereka punya prosedur untuk menahan atau menangkap," kata Agus.

Sebelumnya, sejumlah pihak mengaku khawatir dengan rencana pemerintah menerbitkan RUU intelijen. Umumnya para menolak ini menganggap penerbitan UU ini muncul karena adanya paranoid terhadap upaya penegakan hukum. (pz/vv)

Ditengah Penjajahan Intel Asing, Umat Muslim Justru Dikerjai oleh Intel Dalam Negeri

Selasa, 27/09/2011 10:30 WIB | Arsip | Cetak
Sutanto, Kepala BIN/ Foto Inilah
Sutanto, Kepala BIN/ Foto Inilah

Rakyat sendiri dimata-matai, musuh dari luar dibiarkan. Bangsa sendiri dipereteli, agen asing dipersilahkan. Fenomena tersebut kian nyata dirasakan umat muslim saat ini. Kontradiksi ini dilakukan oleh intelijen Indonesia.

Hal inilah yang membuat, Ustadz Bernard Abdul Jabar, dari Forum Umat Islam (FUI), menilai intelijen Indonesia seperti kurang kerjaan. Mereka hanya berani mengawasi bangsa sendiri, tapi diam ketika musuh dari luar menyusupi Indonesia.

“Sekarang ada 60.000 intel asing di Indonesia berkeliaran. Mereka menyusup ke Negara ini, tapi kenapa Intel kita tidak bertindak? Ini mau diapakan?” ujarnya kepada Eramuslim.com, (26/9), menindaklanjuti ledakan Solo yang diendus sebagai permainan intelijen.

Isu adanya puluhan ribu intel asing memang bukan hisapan jempol semata. Setidaknya, hal ini pernah dilontarkan oleh Ryamizard Ryacudu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI, pada tahun 2003. Menurutnya, jumlah agen asing yang melakukan infiltrasi dihitung dari total yang berada di seluruh Indonesia. Dan cara mereka masuk ke Indonesia juga bermacam-macam.

Ketika intel Indonesia diam, dan semakin lama kekuatan intel asing semakin kuat, maka tepat rasanya jika kenyataan ini sebagai sebuah penjajahan model baru yang menyandera bangsa ini.

“Ini penjajahan intel asing namanya,” tegas Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi ini.

Maka mirisnya ditengah penjajahan asing yang kian pahit dirasakan umat, intel dalam negeri justru “mengerjai” bangsa sendiri. Kejadian ledakan Solo kemarin, lanjut Ustadz Bernard sejatinya adalah grand design yang bertujuan untuk menyudutkan umat muslim. Cara ini adalah sebuah rangkaian panjang yang pada gilirannya akan menggolkan Rancangan Undangan Undang Intelijen yang tengah digodok di DPR. “Jadi, grand design ini sudah bisa dibaca,” tandasnya yakin.

Walhasil, Ustadz Bernard menekankan kepada umat muslim di seluruh Indonesia untuk waspada, hati-hati, serta merapatkan barisan agar jangan mudah dipecah belah oleh makar-makar Intelijen. “Ada upaya serangan kepada umat muslim. Maka umat muslim harus bersatu padu melawan rencana ini.” pesannya kepada seluruh umat. (pz)

Suara SBY Lantang Untuk Kristen Solo, Tapi Sumbang Untuk Muslim Ambon

Senin, 26/09/2011 10:07 WIB | Arsip | Cetak

Peledakan Bom yang terjadi di Gereja Bethel Injil Solo membuat pihak pemerintah panik. Baru beberapa jam ledakan terjadi, SBY langsung menggelar konferensi pers. Secara lantang, SBY menginstrusikan polisi membongkar jaringan terorisme ini.

"Saya instruksikan agar investigasi lanjutan dilakukan secara intensif untuk mengetahui dan membongkar habis rangkaian jaringan pelaku teror di Cirebon dan Solo," katanya dalam konferensi pers, Minggu (25/9).

Tapi hal berbeda justru terjadi pada kasus Ambon. Tidak sebersit pun membuat SBY siaga menyiapkan aparatnya untuk mengusut tuntas kasus tersebut. SBY pun tidak terlihat lantang berbicara untuk meminta polisi dan Densus mengungkap habis jaringan Kristen yang membantai umat muslim, “Padahal jumlah korban (umat muslim di Ambon, red) lebih banyak,” kata Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Fauzan Al Anshari kepada Eramuslim.com, senin pagi, (26/9)

Ketimpangan inilah yang menjadi bukti bahwa SBY tidak adil dalam menyikapi dua kasus dari dua agama berbeda ini. Dalam kasus Solo, belum saja pengusutan tuntas dilaksakanakan, Dewan Pembina Partai Demokrat itu langsung menunjung hidung kejadian Solo terkait dengan jaringan Cirebon yang notabene banyak umat Islam menjadi tertuduh.

“Investigasi sementara yang dilakukan, pelaku pembom bunuh diri ini adalah anggota dari jaringan teroris Cirebon dan kelompok itu melakukan aksi terorisme di Cirebon,” katanya di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (25/9) sore.

Hal ini lagi-lagi berbeda dengan yang dialami warga muslim Ambon. Sampai sekarang umat muslim masih tinggal di barak pengungsian. Rumah mereka hangus dibakar. Lima orang Nashrani yang membunuh lima orang muslim pun belum tertangkap. “Bayangkan kasus Ambon saja belum ditemukan siapa pembunuh Darmin (Tukang Ojek Muslim, red). Tapi untuk Bom Solo, sudah dikaitkan ke jaringan Cirebon,” tukas Fauzan Al Anshari.

Menurut Fauzan, SBY diuntungkan dalam kasus Solo. Masyarakat tidak akan banyak mendapatkan informasi mengenai kasus Korupsi yang menimpa partainya. "Karena pasti media akan mengalihkan berita ke Solo," ujarnya.

Sebaliknya, umat Muslim lagi-lagi bagai petikan lama yang kembali tersudutkan. Terorisme bagai paku mati yang hanya bisa menancap di tubuh umat muslim, tapi tidak untuk kaum Kristiani, tutur Fauzan.
Hal inlilah yang membuat umat takut untuk berIslam secara kaffah. “Saya sudah dapat laporan di beberapa mesjid banyak jama’ah khawatir, mereka takut menyuarakan tentang Syariat.” ujarnya prihatin. (pz)


Pemberitaan Media Sekuler Terkait Ledakan Solo Dituding Menyesatkan

Senin, 26/09/2011 15:53 WIB | Arsip | Cetak

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah peribahasa yang pas disandingkan dengan umat muslim saat ini. Hak mereka untuk mendapatkan berita yang sebenar-benarnya, sedikit sekali dapat mereka rasakan. Yang terjadi media kerap membesar-besarkan opini dan menunggangi peristiwa-peristiwa terorisme demi kepentingan menyudutkan umat muslim.

Timpangnya pemberitaan antara kasus Ambon dan ledakan gereja di Solo itulah yang mengundang reaksi keras dari Ustadz Bernard Abdul Jabbar, tokoh Anti Pemurtadan yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI). Ia dengan tegas menyebut berita-berita yang beredar di media sekular saat ini terkait ledakan di Solo sebagai berita yang menyesatkan.

“Media-media sekular sangat menyesatkan. Berita mereka subyektif,” katanya kepada Eramuslim.com, senin, 26/9.

Ia mencontohkan kredibilitas pemberitaan media terhadap tragedi Ambon, minggu 11/9 yang sepi dari peliputan. Tidak satupun media televisi nasional melaporkan berita secara all-out untuk menyajika fakta sesungguhnya. “Tapi kalau ledakan gereja (di Solo) media langsung meliput secara besar-besaran.” sambung pria yang juga menjadi Ketua DPP Hizbud Dakwah Islam ini.

Ketika ditanyakan apakah media-media sekular tersebut memiliki misi tertentu, Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi ini membenarkan hipotesis itu, “Oh itu jelas, mereka punya kepentingan pastinya.”

Dalam kejadian kemarin, dua televisi berita nasional, terlihat menyiarkan berita secara langsung dari tempat kejadian. Mereka juga mengabarkan kondisi Solo secara up to date dari Siang hingga malam, termasuk pagi ini. Bahkan salah satu televisi swasta, memiliki wartawan "Khusus" yang diterjunkan untuk kasus-kasus terorisme.

Namun sebaliknya, ketika kejadian di Ambom dimana umat muslim bergelimangan darah dibunuh oleh kaum Kristiani, seolah-seolah "kekhususan" wartawan tersebut tumpul.Pihak televisi pun tidak menyiarkan secara 'provokatif' apa yang menimpa muslim Ambon. Berbeda dengan kasus Solo.

Oleh karena itu, Ustadz Bernard Abdul Jabbar meminta umat untuk memilah fakta yang disajikan media. Ia juga berpesan agar media Islam mampu menjadi garda terdepan untuk melawan pemberitaan yang menyesatkan dari media sekuler. “Media Islam harus mampu mengimbangi pemberitaan media-media sekuler. Media Islam harus berani menampilkan fakta yang sebenar-benarnya.” Pesannya kepada Eramuslim.com.
Kalau begini bisakah media-media sekular disebut sebagai "bom" itu sendiri, yang banyak mengaburkan dan mengabaikan fakta yang sejatinya menjadi hak untuk dikonsumsi masyarakat? (pz)


FUI Berikan Foto-Foto Radikalisme Kaum Salibis Ambon ke MUI


Forum Umat Islam (FUI) yang selalu lantang membela hak-hak kaum muslimin di negeri ini, siang tadi (27/9) diterima oleh MUI terkait peristiwa pembantaian umat Islam di Ambon.


Muhammad Al-khaththath selaku Sekjen FUI langsung memberikan hasil investigasi FUI mulai dari kronologinya, data dan fakta di lapangan serta diperkuat foto-foto yang menggambarkan radikalisme yang dilakukan oleh kaum salibis kepada ketua MUI Ma’ruf Amin.


“Kita (MUI) akan tabayyun, supaya tidak keliru dan hasilnya kita akan komunikasikan dengan pihak-pihak yang punya kompetensi”, tutur Ma’ruf Amin, Ketua MUI.


Memang mengherankan, kasus Ambon yang besar ini dengan korban yang begitu banyak di kalangan muslim tapi pemimipin negeri ini, SBY tidak bereaksi. Namun ketika terjadi peristiwa bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo, SBY langsung bereaksi. Betapa tidak adilnya pemimpin negeri ini.


Menurut rilis yang dibagikan FUI, kerugian umat Islam di Kampung Waringin Kecamatan Nusaniwe meliputi: Rumah terbakar 160 rumah, yang rusak berat 38 rumah dan 1 buah masjid (Masjid Jami’ Al-Mukhlisin) terbakar.


Jumlah pengungsi Muslim di Masjid Jami’ 142 KK (530 jiwa), di Masjid Al Fatah 75 KK (330 jiwa) dan di SDN 19,30,68,69 berjumlah 376 KK (1.382 jiwa).
Sedangkan korban dari pihak muslim 42 orang luka tembak, 62 orang luka berat (luka robek di kepala dan lemparan batu) dan korban tewas 5 orang.
Korban tewas dari pihak muslim yaitu:
  1. Sahroni Ely (20 tahun), diagnosa RSU Al-Fatah luka peluru dari dagu tembus belakang kepala mengenai otak.
  2. Ismail Samal (20 tahun), diagnosa RSU Al-Fatah robek daerah abdomen karena bom sampai kena isi abdomen.
  3. Nyong Tuasikal (27 tahun), diagnosa RSU Al-Fatah luka robek di kepala/kepala hancur.
  4. Ono (25 tahun) tewas terkena sengatan listrik di kampong waringin saat bentrok.
  5. Dian binti Lasidi (1 tahun) meninggal di pengungsian karena sakit muntaber yang tidak ditangani.
Rekomendasi FUI:
  1. Meminta MUI membentuk Tim Investigasi Kasus Ambon, untuk mengungkap pembunuh tukang ojek dan motifnya.
  2. Mendesak pemerintah membangun kembali pemukiman Muslim yang dibakar serta membiayai pengobatan mereka yang luka dan menyantuni semua korban/pengungsi.
  3. Meminta pemerintah mempertahankan aparatkeamanan yang saat ini menjaga keamanan dan mencegah terulangnya bentrokan.
(mzs)

Kerusuhan Ambon: Masyarakat Muslim Harus Waspada

alt
Tukang ojek Darmin Saiman meninggal setelah mengalami kecelakaan di kawasan  Kristesn Gunungnona, Kudamati. Polisi mengatakan kecelakaan murni, tapi menurut warga, sejumlah luka di tubuh Darmin mengindikasikan pembunuhan. Kasus ini menyebabkan Ambon membara dilanda kerusuhan, kejadiannya hampir sama persis dengan casus belli konflik Ambon 1999.

Situasi mencekam bernuansa SARA tersulut di kota Ambon Minggu, 11 September ketika dua kelompok warga berlainan agama saling serang di sejumlah kawasan, Batugantung, Waringin, Batumerah, Manggadua, Waihaong, Tugu Trikora, dan Mardika.

 
 
 
Di kawasan Tugu Trikora dua kelompok massa saling berhadap-hadapan bahkan saling serang lemparan  batu dan senjata tajam, mengakibatkan puluhan orang luka-luka akibat lemparan batu maupun terkena peluru. Di Batugantung Waringin, ratusan rumah warga hangus dilalap api. Warga pun tumpah ruah ke jalan-jalan saat terjadi bentrok untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Bentrokan ini mengingatkan konflik Islam-Kristen di Ambon tahun 1999 yang amat traumatik.

Bentrok dilatarbelakangi kematian tukang ojek bernama Darmin Saiman, Sabtu (10/9) malam. Kapolda Maluku Brigjen (Pol) Syarif Gunawan kepada wartawan mengungkapkan kronologis bentrok dipicu spontanitas warga usai pemakaman Darmin Saiman di pekuburan Mangga dua.

Darmin Saiman warga Waihaong oleh pihak kepolisian dinyatakan meninggal karena kecelakaan murni. Tetapi pernyataan polisi ini menimbulkan ketidakpuasan. Warga menganggap  kematian Darmin tidak wajar, ketika mengantar penumpangnya ke arah kawasan Gunung Nona, Kudamati, Kecamatan Nusaniwe Sabtu malam (10/9). Menurut warga sejumlah luka di tubuh korban mengindikasikan dia dibunuh.

Menurut Kabareskrim Komjen Sutarman, warga yang sedang berkabung tiba-tiba diserang sekelompok orang yang tak diketahui identitasnya. Akibatnya massa mengamuk usai pemakaman Darmin. “Massa kemudian saling menyerang hingga akhirnya sebuah masjid terbakar,” jelas Sutarman.

Warga menghentikan kendaraan yang melintas, bahkan melempar dan membakarnya di kawasan Waihaong.  Kapolres Pulau Ambon AKBP Djoko Susilo tak mampu menenangkan massa yang emosi. Meski polisi terus mengeluarkan tembakan peringatan, dua kelompok massa masih terus saling merangsek maju.

Bentrokan mengakibatkan korban meninggal terkena peluru nyasar aparat keamanan  berjumlah tiga orang dan puluhan lainnya masih menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit. Kabag Umum yang juga membidangi Humas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, Bakrie Asyatri di Ambon, Minggu malam mengatakan, dua korban tewas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Haulussy Ambon dan satu lainnya di RS Al-Fatah.

"Sesuai data yang dihimpun pemprov, korban tewas di RS Al-Fatah terindentifikasi bernama Syahril Ely (22) dengan luka tembak di kepalanya dan saat ini telah dievakuasi ke kampung halamannya," kata Bakrie.Selain itu, 65 korban luka tembak maupun luka terkena lemparan batu dirawat di RS Al-Fatah, sedangkan lebih dari 18 korban lainnya menjalani perawatan medis di RSUD dr Haulussy, sepuluh korban luka akibat lemparan batu dan botol dirawat di RS Sumber Hidup ditambah sepuluh korban lainnya di RS Bhakti Rahayu Ambon.

Menurut Ustadz Bernard Abdul Jabbar, pihak Kristen agaknya telah siap dengan Sniper dan senjata panah. Seorang warga Muslim mencabut anah panah yang menancab di tubuh seorang korban untuk bukti. Juga korban Muslim yang meninggal tertembak di kepalanya.        

Meninggalnya Syahril Ely memunculkan komentar atas nama Mochammad Iqbal di facebook…”masih aja aparat gak cerdas dan memandang remeh kasus ini. Dengan ditemukannya luka tembak di bagian kepala pada warga muslim ini membuktikan bahwa serangan telah direncanakan dan artinya sniper-sniper ini telah terlatih sebelumnya, mengingat pada akhir 2010 lalu sebanyak 5000 laskar kristus berlatih militer secara rutin dan berkala di sebuah pegunungan di daerah Jawa Barat. Ini intel aparat pada nggak tau, pura-pura gak tau atau sengaja dibiarkan ya?

Panglima GARIS yang bermarkas di Cianjur, Chep Hernawan, ketika dikonfirmasi, membenarkan adanya ribuan lasykar Kristus dari Ambon latihan kemiliteran di Gunung Salak, Bogor : “GARIS merasa kecolongan. Memang tahun lalu ada ribuan lasykar Kristus dari Ambon di datangkan di Pegunungan Gunung Salak untuk latihan militer. Anehnya kalau yang mengadakan militer umat Islam hanya beberapa orang saja di Aceh untuk menghadapi Israel di Gaza, sudah dikatakan teroris. Tapi ketika yang mengadakan latihan militer itu orang Kristen, jumlahnya ribuan, aparat diam seribu bahasa, tidak disebutkan teroris”.

Sementara di Ambon, Muspida setempat, Kapolda Maluku Brijen Polisi Syarief Gunawan, Wakil Gubernur Said Assagaf, Wali kota Ambon Richard Louhenapessy dan Wakil Walikota Sam Latuconsina bersama para tokoh agama berupaya menenangkan warga di sejumlah titik bentrokan, seperti, Waihaong, Pohon Puleh, dan simpang empat tugu Trikora.

Aparat keamanan sudah mulai dapat mengamankan kondisi di Ambon. Lokasi kericuhan di sejumlah titik sudah berhasil dikendalikan. Ratusan aparat keamanan dan dua panser milik TNI menjaga lokasi ricuh. Demi keamanan, aparat keamanan terpaksa menutup jalan agar tidak dijadikan tempat berkumpul warga. Jalan yang ditutup adalah ruas jalan AM Sangaji, Jl Kolonel Pieters, Jl Diponegoro, dan Jl Mardika.

Situasi di Ambon telah kondusif sejak Minggu malam. Tambahan 200 personel Brimob dari Sulawesi Selatan telah ditempatkan di titik-titik rawan untuk menjaga keamanan Kota Ambon. "Kondisi sudah pulih, datangnya pasukan akan mengisi dan melokalisir daerah yang dianggap rawan," ujar Gubernur Maluku, Karel Albert Rahalu saat live di tvOne, Senin (12/9/2011) pagi.

"Semua komponen anak bangsa akan kumpul di Ambon untuk menyikapi kejadian kemarin. Kita berharap ini kita selesaikan dengan baik dan tidak meluas," tambahnya. Pasukan tambahan dari Brimob pun akan difokuskan untuk menjaga kondisi keamanan di Kota Ambon. Diharapkan pasukan tambahan ini akan mempercepat proses pemulihan di sana."Kita akan upayakan normalisasi kembali," jelasnya.

Meski begitu,  bentrokan antar warga akhirnya merembes juga ke kawasan Mardika - Batumerah, kecamatan Sirimau (Kota Ambon) pada Senin dinihari, ditandai dengan aksi pembakaran sejumlah rumah penduduk. ANTARA melaporkan meski kawasan tersebut dijaga aparat keamanan dari Brimob Polda Maluku dan TNI-AD, namun belum bisa menghalau konsentrasi massa yang berhasil membakar sejumlah rumah warga.

Sebelumnya bahkan sejumlah warga dari dua kawasan itu masih sempat berkumpul untuk menenangkan suasana. Namun menjelang tengah malam situasinya jadi berubah dan tidak terkendali sehingga terjadi aksi pembakaran di kawasan Mardika-Batumerah dan seputaran kawasan Amans Hotel ke arah Mardika pantai.
Akibatnya banyak warga yang memilih mengungsi untuk menyelamatkan diri ke sanak keluarga yang dirasakan aman, terutama wanita dan anak-anak serta lansia dengan pakaian seadanya termasuk surat-surat penting. Aparat keamanan juga berulang kali melepaskan rentetan tembakan ke udara sebagai tanda peringatan.

Selain kebakaran di kawasan Mardika, kobaran api juga terlihat membumbung di kawasan Waringin dan Tanah Lapang Kecil namun anehnya Pemkot Ambon tidak berani mengerahkan armada mobil pemadam kebaran mereka.

Di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selain menginstruksikan penambahan personel keamanan di Ambon,  juga memerintahkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto untuk menjelaskan duduk persoalan agar masyarakat tidak mendapat informasi yang keliru dan dapat memperluas kerusuhan. ”Jangan sampai kerusuhan di sana menjurus pada isu SARA,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Senin (12/9/2011).

Sementara Front Pembela Islam menginstruksikan kepada para anggotanya agar mengikuti dengan seksama kasus Ambon dan memerintahkan kepada jajarannya agar bersiap setiap saat untuk diterjunkan ke Ambon.  Warga Kota Ambon, Provinsi Maluku, diminta untuk mengutamakan pendekatan damai terhadap setiap hal yang bisa menyulut konflik sosial. Bagaimanapun warga Ambon mesti belajar dari konflik masa lalu yang telah memakan korban yang sangat besar.

Dikutip Kompas.com Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Slamet Effendy Yusuf, mengingatkan, yang terjadi di Ambon pada masa lalu hingga hari ini masih meninggalkan luka pada kehidupan masyarakat. Boleh dikatakan Ambon baru memulai untuk membangun kembali kota yang porak-poranda akibat konflik di masa lalu. Karena itu, jangan sampai peristiwa konflik yang parah tersebut terulang kembali.

Sekjen FUI  Al-Khaththath menegaskan, umat Islam harus rapatkan barisan dan waspada terhadap segala provokasi. Menurut analisis sementara, ada upaya alihkan isu yang santer di Jakarta agar SBY tidak jadi sasaran. Kerusuhan Ambon juga bisa saja dipergunakan lawan-lawan politik SBY untuk mencitrakan SBY tak mampu jaga stabilitas.

(msa dari berbagai sumber)

 
Comments (3)
  • hamba ALLAH  - mari rapatkan barisan & berdoa
    avatar
    setelah membaca artikel di atas, sya sedih sekali bahwa umat Islam yng hanya puluhan orang latihan militer untuk membela Palestina disebut teroris sedangkan ribuan laskar kristus latihan militer polisi & densus 88 anti teror mmalah "cuek".

    mari kita bersatu untuk melawan keazalim yang dilakukan oleh pemerintah, & KAFIR HARBY & juga mari kita berdoa semoga mereka yang telah membunuh umat Islam mendapat laknat & disiksa sebelum ajal menjemput & di kehidupan setelah kematiannya
    amin
  • Babah Liem  - Benar khan?
    avatar
    Dulu saya pernah mengingatkan umat agar waspada. Kita amati nasrani tidak pernah tidur. mrk sangat aktif dan agresif. Buktinya ada korban umat yg tertembak di kepala sampai meninggal. Dan terbukti banyak nasrani Ambon berlatih militer di Jabar. Terbukti khan? Islam tidak cari musuh. Islam cinta damai. Tapi kalau kita diserang, kita wajib membela diri. Apalagi bila militer juga berpihak kpd nasrani spt kasus dulu. Berlatihlah bela diri utk mempersiapkan diri dari serangan nasrani. Spt kerusuhan Ambon I, kita tdk siap. Tapi dengan jihad dan berkat pertolongan Allah SWT, kita bisa menang. Dan bila perdamaian tdk tercapai, Insya Allah dengan berjihad kita akan memenangkan kembali bela diri kita, sekalipun milisi nasrani lebih siap dg latihan militer. Allahu Akbar! Jayalah Islam!
Roedy
avatar
Kristen sama kayak Tuhanya sijesus suka teriak-teriak, heran televisi di Indonesia kalau mesjid yang kena bakar dipakai istilah rumah Ibadah, kalau gereja disebutkan gereja, dasar kristen Tuhannya bugil



kronologi pristiwa berdarah ambon tahun 1999 oleh yg mengaku ajaran kasih{kristen} apa islam bisa se keji itu sama kalian

by Debat antar agama on Wednesday, September 8, 2010 at 8:15pm

KRONOLOGI TRAGEDI AMBON-MALUKU BERDARAH

Desember 1998 s.d. Desember 2000
BAGIAN 1-1: SEBELUM AMBON
Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Iedul Fithri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 1995. Beberapa peristiwa itu (sebagian) adalah sebagai berikut.1)
15 Juni 1995: Desa berpenduduk Islam, Kelang Asaude (Pulau Manipa), diserang warga Kristen Desa Tomalahu Timur, pada waktu Shubuh. Penyerangan dikoordinasikan oleh empat orang yang nama-namanya dicatat oleh MUI.
21 Pebruari 1996 (Hari Raya Iedul Fithri) : Desa Kelang Asaude diserang lagi. Serangan dilakukan oleh warga Tomahalu Timur dengan menggunakan batu dan panah. Tiga hari sebelumnya, serombongan orang yang dipimpin oleh sersan (namanya tercatat) datang ke Desa Asaude, menangkap raja (kepala desa) berikut istri dan anak-anaknya. Mereka menggeledah isi rumah dan menginjak-injak peralatan keagamaan.
18 Nopember 1998: Korem 174 Pattimura didemo. Sejumlah besar mahasiswa Unpatti (Universitas Pattimura) dan UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku), yang dimotori oleh organisasi pemuda dan mahasiswanya menghujat Danrem Kolonel Hikayat. Demonstrasi berlangsung dua hari. Mereka membakar beberapa mobil keamanan, melukai tukang becak, dan merusak serta melempari kaca kantor PLN Cabang Ambon. Jatuh korban luka-luka, baik di pihak mahasiswa maupun kalangan ABRI.
Beberapa bulan sebelumnya, berlangsung desas-desus dan teror. Isu pengusiran orang-orang Bugis-Buton-Makassar (BBM) sudah beredar di tengah masyarakat yang membuat gelisah banyak orang. Mereka kurang bisa membedakan suku Bugis dan Makassar. Kedua suku ini sebenarnya adalah satu. Orang-orang Muslim suku lain (non-Maluku) juga diisukan untuk diusir. Produksi pesanan senjata tajam ditengarai sangat tinggi.

Pesanan dilakukan oleh kelompok tertentu.
Isu pengusiran BBM memang berbau SARA, terutama yang menangkut suku dan agama. Entah bagaimana awalnya dari dalam Gereja. yang tepat, isu BBM bertiup dengan kencang dari kalangan Kristen, bahkan kabarnya disuarakan oleh Gereja.
Menjelang akhir Nopember 1998: Sekitar 200 preman Ambon dari Jakarta, yang bekerja sebagai penjaga keamanan tempat judi pulang kampung. Merekalah yang memulai bentrok dengan penduduk Ketapang (Jakarta). Karena umat Islam Jakarta marah, mereka dikepung. Beberapa darinya tewas. Sejumlah besar yang lain diminta masyarakat agar dievakuasi oleh aparat keamanan. Sebagian dari mereka - sekitar 200 orang - inilah yang pulang ke Ambon.

Beberapa 'Test Case' Sebelum Iedul Fithri Berdarah
Setidaknya, ada tiga peristiwa penting yang dapat dianggap sebagai bagian dari tragedi Iedul Fithri berdarah 1999. Ketiga peristiwa itu adalah peristiwa Wailete tanggal 13 Desember 1998, peristiwa Air Bak 27 Desember 1998, dan peristiwa Dobo 14 dan 19 Januari 1999.
Peristiwa-perista di atas adalah sebuah 'test case' yang dinilai berhasil mendeteksi keberanian, persatuan dan kesatuan serta kesiapan Ummat Islam se-Ambon untuk berperang. Kesabaran Ummat Islam yang tengah menyongsong bulan Ramadhan itu dianggap suatu kelemahan terutama penilaian terhadap suku Bugis-Buton-Makassar yang kurang kompak. Atas dasar penilaian demikian itu tampaknya dijadikan peluang untuk mengobarkan Tragedi Iedul Fithri Berdarah. Hal ini terbukti dengan tiba-tiba didatangkan ratusan preman dari Jakarta, eks-konflik Jalan Ketapang, Jakarta sebagai pelaku di lapangan.
Serangan Massa Kristen ke Desa Wailete
13 Desember 1998 : Desa Wailete yang merupakan perkampungan Muslim masyarakat asal Bugis-Buton-Makasar (BBM) diserang oleh warga Kampung Hative Besar (Kristen). Ratusan massa Kristen menyerbu dengan batu, dan membakar kampung Wailete. Serangan dilakukan dua kali pada malam itu dimana tahap kedua dilakukan secara tuntas membakar habis semua rumah sehingga penghuni hanya menyelamatkan diri dengan baju yang melekat di badan saja. Empat rumah dilaporkan terbakar dan satu kios bensin milik orang Bugis terbakar dan meledak. Penduduk desa tersebut mengungsi.2)
Tidak pernah ada kejelasan penyelesaian dalam peristiwa itu. Bahkan polisi tampak ragu menghadapi ancaman warga desa Hative Besar. Keraguan aparat ini tampak jelas sebagai hasil penghujatan selama demo dengan pecahnya insiden Batu Gajah. Dalam rangkaian penghujatan lewat berbagai media massa sebagian berpendapat bahwa oknum Polri telah berhasil digalang untuk melaksanakan rencana mereka. Surat kabar Suara Maluku tidak memberitakan peristiwa besar ini secara proporsional, dua kali pemberitaan yang tidak jelas kemudian menghilang, padahal kasus Batu Gajah diberitakan luar biasa bahkan tulisan-tulisan dengan ungkapan Anjing dan Babi masih berulang selama sebulan.
Ummat Islam yang menjadi panas karena solidaritas Islamiyahnya sebenarnya mengharapkan adanya reaksi protes, pembelaan dan pertolongan yang memadai tetapi hal itu tidak terjadi karena para pemimpinnya memang lemah dan tidak ada tokoh pemersatu. Warga masyarakat desa Hative Besar telah membuktikan secara nyata isu yang berkembang bahwa suku Bugis-Buton-Makassar dan Jawa-Sunda akan diusir dari Ambon.
Setelah aksi pembakaran itu para tokoh desa Hative Besar mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak akan menerima kedatangan suku Bugis-Buton-Makasar lagi ke desa Wailete, karena itu desa Wailete tidak pernah dibangun lagi, bahkan parapenghuni yang telah melarikan diri itu tak berani mengunjungi bekas kampungnya. Pemerintah daerah tidak memasukanpembakaran desa Wailete ini kedalam program rehabilitasi, dianggap bukan dalam rangka kerusuhan Ambon.3)

Serangan Massa Kristen ke Desa Air Bak Akhir Desember 1998
27 Desember 1998 : Desa Air Bak, yang hanya berpenduduk sekitar 8 keluarga beragama Islam (desa kecil) diserbu warga Desa Tawiri yang mayoritas beragama Kristen. Pertikaian ini diawali ketika ada Babi peliharaan masyarakat Tawiri memasuki kebun masyarakat desa Bak Air, hal seperti ini biasa terjadi. Menghalau dengan lemparan batu saja Babi akan keluar dari kebun. Kali ini, kejadian ini dijadikan masalah oleh orang Kristen Tawiri. Orang-orang Muslim dilempari batu. Tidak ada penyelesaian, malah warga Muslim yang ditahan polisi.
5 Januari 1999 : Di tengah masyarakat beredar isu akan tejadinya kerusuhan pada Hari Raya Iedul Fithri, meski beberapa penyampaian di antaranya dengan bahasa yang disamarkan. Di bagian lain bisa dibaca bagaimana isu itu berkembang di Kampung Batu Gantung Waringin. Seluruh rumah di situ dibakar dan diruntuhkan. Kampung ini dihuni oleh mayoritas orang Bugis.

Tragedi Berdarah di Dobo, Maluku Tenggara
14 Januari 1999 : Kerusuhan pecah di Dobo, kecamatan Pulau Aru (Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara). Korban tewas delapan orang. Penyerangan dilakukan oleh kelompok Kristen tersebut bukanlah yang pertama kali. Sekitar satu bulan sebelumnya sempat terjadi kontak senjata tradisional meski dengan skala yang lebih kecil di tempat yang sama.
19 Januari 1999: Hari Raya Iedul Fithri. Kerusuhan pecah lagi di Dobo, setelah umat Islam melaksanakan sholat Ied. Dikabarkan 14 orang terbunuh, 10 orang di antaranya adalah orang Kristen. Sebanyak 55 rumah habis terbakar.
Ketiga peristiwa di atas jelas telah direncanakan sebelumnya dalam rangka mencoba rencana besar mereka, yakni pembantaian Muslim Ambon di Hari Raya Iedul Fithri. Kerusuhan Dobo (14/1) layak dianggap sebagai awal meletusnya Kerusuhan Ambon. Cukup banyak anggota TNI yang dikirim ke Dobo sehingga kekuatan TNI di Ambon berkurang dalam jumlah yang berarti. Jumlah sisanya tidak mampu berbuat apa-apa di kota Ambon pada tanggal 19 dan 20 Januari, sebelum datangnya bala bantuan TNI dari tempat lain. Apalagi kemudian, di Dobo, pada Iedul Fithri, juga pecah kerusuhan lanjutan yang cukup besar.4)
Dikaitkan dengan Tragedi Iedul Fithri Berdarah, rentetan ketiga peristiwa di atas harus dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan, atau sebagai 'babak pertama' dari seluruh babak yang berjudul 'Tragedi Iedul Fithri Berdarah'. Seandainya ummat Islam di Ambon menyatakan protes keras kepada pihak Kristen yang berpura-pura tidak tahu maka mereka akan ragu memasuki 'babak kedua', yaitu adegan 'Tragedi Iedul Fithri Berdarah'. Dengan kata lain Tragedi Iedul Fithri Berdarah itu belum tentu bisa terjadi karena uji cobanya tidak berhasil, Ummat Islam masih siap dan kompak, siaga menghadapi setiap kemungkinan.
Begitu pula Polri, jika betul-betul profesional dan bersungguh-sungguh dalam menangani kasus di atas, termasuk datangnya ratusan orang kiriman itu, maka peristiwa yang amat menyakitkan Ummat Islam se Indonesia ini mungkin tidak akan terjadi. Begitu juga kegelisahan masyarakat luas akibat munculnya kabar burung bahwa akan ada kekacauan besar ketika Shalat Iedul Fithri. Jadi sesungguhnya tragedi ini merupakan ketidak-profesionalan TNI atau lemahnya TNI akibat penghujatan. Jelas ini merupakan peluang yang mulus bagi golongan untuk merencanakan rencana makarnya.
Marilah kita lihat tragedi ini sebagai salah satu bukti rencana strategis pihak Kristen yang teratur dan terencana, sehingga berhasil demikian baiknya.5)

Catatan kaki :

1.Menyulut Ambon, Sinansari Ecip, hal 48, Mizan 1999
2.Tragedi Ambon, hal 35, Yayasan Al-Mukminun 1999
3.Konsporasi Politik RMS Kristen Menghancurkan Umat Islam,Rustam Kastor, hal 25, Wihdah Press
4.Menyulut Ambon, Sinansari Ecip, hal 51, Mizan 1999
5.Konsporasi Politik RMS Kristen Menghancurkan Umat Islam,Rustam Kastor, hal 27, Wihdah Press


BAGIAN 1-2-2:IEDUL FITHRI BERDARAH 1999 (2/2) - HARI-HARI PEMBANTAIAN BERLANJUT
Hari-hari Pembantaian Berlanjut ...

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku mengeluarkan catatan resmi rentetan peristiwa penting pasca pecahnya Tragedi Iedul Fithri Berdarah, 19 Januari 1999. Dokumen ini ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin MUI, orpol, ormas, tokoh-tokoh Islam di Maluku.
Selain itu, juga ada laporan terperinci berbagai peristiwa tiap hari yang diterima dan kemudian dikeluarkan secara terbatas oleh Pusat Informasi dan Komunikasi Umat Islam, Masjid Al-Fatah Ambon, dan Posko Umat Maluku Tenggara perwakilan Ambon.
Peristiwa-peristiwa penting itu - dari MUI Pusat, Informasi Al-Fatah, dari Posko Ummat Maluku Tenggara - sebagian dirangkum, disunting, dan disajikan di bawah ini.

2 Pebruari 1999 : Insiden terjadi di Terminal Mardika. Seorang penumpang angkot turun dari mobil dengan tidak mau membayar ongkos. Supir dan kernet menagihnya tetapi tetap tidak mau membayar bahkan penumpang tersebut lari. Di saat melarikan diri orang yang melihatnya berteriak 'Copet-copet!' kemudian dikejar massa. Pada saat itu aparat keamanan yang bertugas di pasar mengeluarkan tembakan. Massa semakin panik ditambah lagi Patroli Helikopter juga mengeluarkan tembakan. Tidak berapa lama kemudian, terjadi pengejaran warga Islam di kantor-kantor pemerintah yang berada di wilayah pemukiman Kristen, seperti di Kanwil Depsos Karang Panjang dan Dinas Pertaninan Tanaman Pangan Dati I Maluku di Tanah Tinggi. Pegawai beragama Islam bahkan ada yang diparang di halaman kantornya (Depsos). Tiga karyawan Depkes dicegat ketika pulang melewati SMP Negri I, yang beragama Islam diancam dan ditikam.

11.00 WIT : Enam orang pejabat yang akan menghadiri pertemuan dengan lima Menteri di kantor Gubernur Maluku, di Ambon, terjebak barikade dan diancam dengan kekerasan.
Seorang Bugis dibacok di Gang Singa, Belakang Soya, hingga meninggal.
SMEA Negri I Ambon di Karang Panjang diserang oleh para pemuda dari Pondok Paty. Empat kendaraan roda dua dibakar.
3 Pebruari 1999 : Pagi hari, di Karang Tagepe, Kuda Mati, terjadi perusakan atas empat rumah warga Muslim. Rumah-rumah warga Muslim yang belum dibakar atau dirusak akan diratakan dengan tanah. Para pengungsi dari Karang Tagepe berada di dalam tenda-tenda di lingkungan transmisi RCTI/SCTV Gunung Nona. Mobil dan kendaraan roda dua dibakar. Rumah-rumah telah dibakar atau dirusak.

Makar Kristen di Kairatu dan Pembantaian di Desa Waraloki
Pukul 14.00 WIT : Diadakan jamuan makan 'Patita Damai' warga Kairatu, Rumberu dan Rumaitu di satu pihak dan masyarakat Muslim Kairatu. Ternyata ada rencana jahat pihak Kristen. Mereka datang dengan persenjataan lengkap seperti panah, dan tombak, sehingga suasana pesta itu bukan dijadikan wahana Perdamaian melainkan justru berubah menjadi ajang pertempuran. Dalam insiden itu 4 orang warga Muslim terkena panah. Pertikaian meluas menjadi pembakaran pasar, dan rumah-rumah warga Muslim di sekitar Masjid.

4 Pebruari 1999 : Pukul 05.30 WIT warga Desa Waraloki yang sedang melaksanakan Shalat Shubuh diserang oleh massa Kristen dari Desa Kamariang, Sariawang (orang gunung) dan juga warga Kristem lainnya, dengan formasi penyerangan berbentuk huruf L. Dalam insiden itu 7 orang warga Muslim Waraholi terbunuh, salah satunya adalah gadis cilik berumur delapan tahun. Menurut saksi, gadis cilik ini dianiaya lebih dahulu sebelum dibunuh. Satu jam kemudian penyerang dipukul mundur.
Pukul 07.00 WIT : Terjadi penyerangan kedua yang tidak dicegah oleh aparat keamanan yang dipimpin oleh Letda Sitorus. Perusuh dilepas dan akhirnya lari ke gunung. Warga yang melihat keadaan tersebut berkata agar pelaku perusuh ditembak, tetapi oknum aparat mengatakan bahwa pelurunya telah habis. Dalam insiden itu 52 rumah hancur dan kebanyakan korban adalah orang Buton.
Pukul 10.30 WIT : Kota Kairatu kembali diserang oleh massa Kristen yang datang dari kampung-kampung yang berada di pegunungan, sehingga 40 rumah terbakar.
5 Pebruari 1999 : Pagi hari, kerusuhan kembali terjadi di Kairatu, berupa pembakaran di Kairatu. Masyarakat Desa Pelauw (mayoritas Muslim) bergerak maju menuju Kairatu untuk mengevakuasi masyarakat Muslim. Pada malam harinya, rumah-rumah dan masjid dilempari batu.

Kerusuhan juga terjadi di Dusun Alinong. Sejumlah massa Kristen Kuda Mati menyerang warga Muslim Dusun Alinong. Jalan menuju Karang Tagepe di Kuda Mati dibarikade dengan batang-batang kayu. Sejumlah 25 keluarga minta tolong untuk dievaluasi. Imam Masjid Al-Muqaram Kampung Karang Tagepe (Kuda Mati) dengan istrinya ditemukan meninggal oleh polisi di ruang tamu rumahnya. Tubuhnya terlilit kabel listrik telanjang. Pada pukul 10.00 WIT massa Kristen Kamariang menyerang lagi, tetapi berhasil dihalau.

Desa Batu Merah Diguncang Bom
8 Pebruari 1999 : Pukul 08.00 WIT pertama kalinya Desa Batu Merah dilempari dengan bom-bom rakitan.
13 Pebruari 1999 : Tertangkap 6 orang warga Kristen asal Maluku Tenggara yang melecehkan Islam dengan menghujat Rasulullah dan menulis 'Yesus Maju Terus' pada rumah warga Muslim di simpang tiga Air Besar STAIN-Ahuru.

Pembantaian Muslim di Pulau Haruku, Maluku Tengah
14 Pebruari 1999 : Di Pulau Haruku, Maluku Tengah, warga Kariu yang beragama Kristen dibantu beberapa orang aparat membantai warga Muslim Pelauw. Dilaporkan 15 warga Muslim terbunuh dan 43 lainnya luka berat akibat terkena tembakan dan granat. Tercatat, empat anggota Polisi terlibat dalam aksi penyerangan itu. Mereka adalah Serka Loupatty, Serta Titir Loloby, Serda Hendrik Nandatu dan Latumahina.

Ketegangan Terjadi Lagi di Passo
17 Pebruari 1999 : Pagi hari terjadi lagi ketegangan di Passo. Awalnya sebuah mobil truk dari Hitu menuju Ambon yang dilempari batu. Penghuni Kristen di kiri kanan jalan keluar sambil membawa parang dan panah. Kaca mobil dipecah dan aparat keamanan yang berada di tempat kejadian tidak bereaksi. Menurut keterangan korban, ada barikadi di jalan mulai di Negeri Lama sampai dengan pasar, menggunakan batu, drum, dan batang pohon. Tiap mobil yang lewat penumpangnya ditanyai. Dua orang warga Hitu yang menumpang mobil lain ditahan karena membawa senjata tajam, sementara massa Kristen yang berkumpul di situ - dengan membawa berbagai senjata tajam - dibiarkan begitu saja oleh aparat.
Dua jam kemudian, ada sebuah mobil Kijang menuju Hitu ditumpangi warga Muslim. Pengemudinya dipanah oleh warga Kristen Desa Passo, mobil dilempari. Para penyerang tidak diamankan oleh aparat keamanan yang ada.

Ambon Terus Bergolak
18 Pebruari 1999 : Ambon kembali diguncang bom. Peledakan itu terjadi pada hari Kamis (18/2), pukul 1.00 WIT, dini hari. Smentara itu pemerintah melaporkan ada 81 berkas kasus kerusuhan Ambon yang siap disidangkan dengan menjerat 192 tersangka.
22 Pebruari 1999 : Terjadi bentrokan berdarah antara warga Muslim dan warga Kristen. Peristiwa ini menyusul aksi pembakaran 15 rumah warga Muslim di Batu Merah Dalam, Ambon dan satu buah Masjid di Ihamahu, Maluku Tengah. Sedikitnya 9 orang terbunuh dan puluhan lainnya luka-luka.
23 Pebruari : Puluhan bom dilemparkan ke perkampungan Muslim di Batu Merah Dalam, Kodya Ambon. Puluhan rumah musnah terbakar. Dilaporkan 15 orang terbunuh, 13 orang tidak diketahui nasibnya dan 34 orang luka-luka.
Dikabarkan banyak murid sekolah yang dipulangkan, terutama di Galunggung Batu Merah, Kapaha dan sekitarnya. Seorang ibu hamil berjilbab yang pulang dari pasar ketika melewati Gereja Bethabara, Batu Merah Dalam diejek sekelompok orang, tetapi tidak dihiraukan. Ia sempat ditendang. Ini terjadi pada pukul 09.00 WIT.
Memasuki tengah hari, terjadi kerusuhan di Desa Batu Merah Bawah dengan pelemparan beberapa bom rakitan dari arah Batu Merah Atas. Terjadi juga pembakaran warga Muslim di Dusun Rinjani (Desa Batu Merah).
Sampai akhir Pebruari 1999 banyak terjadi insiden di berbagai tempat. Serang menyerang ini dilakukan dengan lemparan batu, lemparan bom, pemanahan, pencegatan, pemukulan, pembacokan, perusakan, penjarahan dan pembakaran rumah.

Jama'ah Sholat Shubuh Ahuru Dibantai
1 Maret 1999 : Sejumlah massa membantai warga Muslim Ahuru, Kodya Ambon, yang tengah melaksanakan Shalat Shubuh berjama'ah di Masjid Al-Huda. Sembilan orang terbunuh. Dua orang bocah, Mansyur (7) dan Parman (1.5) lolos dari serangan brutal ini. Aparat Polisi diduga terlibat dalam aksi penyerangan ini. Dilaporkan pula bahwa di kawasan Kopertis, Kodya Ambon, juga terjadi penyerangan yang diikuti pembakaran sebuah Masjid. 1)

Passo Bergolak Lagi
8 Maret 1999 : Terjadi kerusuhan lagi di Passo. Lewat tengah hari, sebuah Mikrolet dari Tulehu yang dikawal 3 orang Polisi dihadang massa di tikungan Jalan Baru Passo. Penumpangnya ditanya, agamanya Kristen atau Islam. Pak Sopir diseret keluar, lalu lehernya dibacok. Para penumpangnya juga diseret keluar, dibawa ke rumah warga setempat, alu diinterogasi. Mereka yang mengaku beragama Kristen diminta beribadah menurut cara Kristen.

Pada tengah malam, dilaporkan ada kebakaran di dekat Masjid Jabal Tsur, Benteng Atas. Diterima kabar lain kemudian bahwa yang terbakar adalah satu rumah warga Muslim dan empat rumah warga Kristen. Keadaan dapat dikendalikan aparat keamanan. Masjid Jabal Tsur sejak petang hingga Shubuh menjadi sasaran pelemparan. Esok paginya, sekitar pukul 05.00 WIT, masjid itu dilempari bom, tetapi tidak menimbulkan korban.
Catatan kaki :

1.Menyulut Ambon, Sinansari ecip, hal 97, Konspirasi Politik RMS Kristen, Rustam Kastor, hal 185.
2.Tragedi Ambon, hal. 50, Yayasan Al-Mukminun.



BAGIAN 1-3 : BELUM HABIS AMBON, TERBITLAH TUAL
Belum habis tangis di Ambon, kerusuhan merembet ke kota Tual, Maluku Tenggara, pada akhir Maret 1999. Menurut informasi dari Posko Umat Islam Al-Huriyah 45, kerusuhan itu berawal pada hari Sabtu (27/3). Peristiwa-peristiwa provokasi terjadi di Maluku Tenggara, setelah kerusuhan Dobo (yang juga termasuk Maluku Tenggara). Kerusuhan dipicu oleh sejumlah tulisan yang isinya menghujat Nabi Muhammad SAW, yang terlihat di tembok rumah milik Abdullah Koedubun, salah seorang PNS pada Kantor Bupati Maluku Tenggara.1)

Berikut kronologi tragedi berdarah di Tual, Maluku Tenggara.
28 Maret 1999 : Beberapa pemuda Muslim dipimpin Abdullah Koedubun, yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Muslim Kota Tual (PPMKT) melakukan unjuk rasa di halaman kantor Polisi Maluku Tenggara. Mereka menyampaikan protes atas pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Pukul 16.00 WIT, seorang warga Kristen bernama Ulis Karmomyanan menyebar berita bohong bahwa rumah ibunya di bakar pihak Muslim. Dengan cepat berkembang bahwa umat Kristen Desa Taar dan Un akan menyerang ummat Islam kota Tual. Ketegangan pun tak dapat dihindarkan.
Pukul 20.00 WIT, datang segerombolan warga Kristen Desa Taar ke wilayah Wearhid yang mayoritas beragama Islam. Meski jarak antara Desa Taar dengan Desa Wearhir sekitar 2 km, sekitar 5.000 orang telah siap melakukan penyerangan ke desa-desa Muslim di Tual.
Massa Kristen Desa Taar, melakukan penyerbuan dengan lemparan batu ke arah rumah-rumah penduduk Muslim. Beberapa rumah dikabarkan rusak.

29 Maret 1999 : Sejak pukul 4.00 WIT, sekitar 500 massa Kristen bergerak dari pos pengamanan bersama, yang dikuasainya, menuju rumah Said Rewarin. Merela melempari dan merusak rumah Said sambil berteriak, 'Hidup Jesus', 'Bunuh saudara Karim Renwarin dan adik-adiknya!'. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Pihak Muslim yang mendengar kegaduhan langsung berkumpul dan menghalau massa Kristen sambil berterian 'Allahu Akbar!'. Bentrok fisik pun tidak dapat terelakkan. Akhirnya, massa Kristen berhasil dipukul mundur hingga ke pos pengamanan bersama. Beberapa rumah dilaporkan terbakar.
31 Maret 1999 : Penyerangan massa Kristen terhadap permukiman Muslim di Desa Wearhir kembali terjadi. Bentrok fisik kembali terjadi dengan beberapa korban jatuh dari kedua belah pihak. Hingga siang hari, pihak Muslim berhasil menghalau massa Kristen.
Pukul 15.00-24.00 WIT, situasi mulai mereda. Tidak terjadi pertikaian lagi antara dua belah pihak. Berapa Pastor Katholik berupaya berunding dengan pihak Muslim, dimana mereka meminta agar tempat ibadah orang Katholik tidak diserang, sebab mereka tidak memihak kelompok Kristen. Pihak Muslim menerima permohonan tersebut.

1 April 1999 : Pukul 05.00 WIT Shubuh, terdengar beberapa rentetan tembakan peringatan dari pihak keamanan. Dua jam kemudian terdengar lagi rentetan tembakan yang lebih lama.
Pukul 07.30 WIT, seorang pemuda Muslim bernama Syarif (17) pelajar kelas III SMA di Lodarel Tual, terkena panah besi. Panah tersebut menancam di dada kirinya, lebih kurang 10 cm. Syarif akhirnya terwas. Selain Syarif, jatuh pula korban dari pihak Muslim, yaitu Abdul Ghani Tamber (36), yang dikenal sebagai pimpinan perang, dan Muhammad Taher Penboran (35). Mereka terbunuh akibat tembakan di dekat Gereja Ston, dari laras senjata oknum Polisi bernama Anton dan Miru dari Angkatan Darat.

Pukul 10.00 WIT, terjadi lagi pembakaran rumah-rumah milik warga Muslim, oleh massa Kristen, di komplek kuburan Cina dan belakang PLN lama. Pihak Muslim segera melakukan serangan balasan tersebut. Beberapa aparat keamanan yang bertugas melakukan penembakan terhadap kaum Muslimin, yang mengakibatkan 3 orang terbunuh, sementara beberapa orang luka berat dan ringan. Tidak kurang 70 rumah terbakar.
Pada hari yang sama, terjadi perusakan yang disertai pembakaran rumah-rumah warga Muslim oleh massa Kristen, di komplek belakang Dragun Lama, Kelurahan Ohoijang RT 04/02, yang dipimpin oleh Buce Raharna, PNS Statistik Maluku Tenggara. Seorang pengurus DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Tual, melihat peristiwa tersebut. Buce Rahanra juga berusaha memotong lengan seorang ibu bernama Salija Wattimena, namun atas izin Allah, parang orang kafir itu tidak mampu melukai korban.

Jum'at 2 April 1999 : Terjadi penyerangan dari desa-desa Kristen di Kliwat, Sather, Soindat, dan Weduar terhadap desa Larat yang Muslim, di Kecamatan Key Besar. Akibat serangan ini, umat Islam di desa tersebut memutuskan untuk tidak melaksanakan shalat Jum'at, namun pelaksanaannya diganti dengan sholat Dzuhur berjama'ah di masjid Ar-Rahman.
Sebelumnya, telah terjadi perjanjian damai antara Umat Katholik dengan ummat Islam. Pagi harinya ummat Islam melakukan penjagaan di Gereja Katholik untuk pengamanan ibadah Paskah, dan massa Kristen berhasil dihalau.
Pukul 13.00 WIT : Umat Katholik ganti menjaga umat Islam yang tengah melaksanakan Sholat Dzuhur berjama'ah di Masjid Ar-Rahman Desa Larat, Tual. Ketika ummat Islam baru saja selesai menunaikan shalat Dzuhur berjama'ah, sekelompok massa Kristen tiba-tiba datang menyerang dan melemparkan bom ke dalam Masjid. Jama'ah di dalam Masjid mereka bantai. Seketika itu juga jatuh korban sembilan orang Muslim, termasuk imam Masjid Ar-Rahman H. AH. Rahanyamtel. Seorang jama'ah Masjid bernama Kabir Rahayaan dibantai, tumbuhnya dipotong-potong kemudian dibungkus dengan sajadah dan hambal (karpet). Bungkusan mayat itu lantas diletakkan di bawah mimbar masjid dan disiram minyak, lalu dibakar. Menurut seorang saksi mata, serangan pihak Kristen tampak terorganisir rapi.
3 April 1999 : Massa Kristen dari desa Ohoiet, Ngifut, Ohoirenan, melakukan penyerangan dan pembakaran rumah-rumah warga Muslim di Ohoiwait.

Di hari yang sama, sekitar pukul 05.00 WIT juga tejadi penyerangan disertai pembakaran rumah-rumah milik Muslim di Kecamatan Key Besar, antara lain Desa Sungai, Ngafan, dan Wafol. Sejumlah rumah hangus terbakar, sementara korban luka-luka teridentifikasi sebanyak 3 orang.
Akibat serangan-serangan itu, sekitar seribu orang warga Muslim dari berbagai desa, dan 400 orang dari Desa Larat mengungsi. Mereka diangkut oleh kapal Perang yang besar.

Massa Kristen kembali melakukan serangan tahap kedua, hari itu, di desa Larat. Para perusuh Kristen membakar tidak kurang seratus rumah warga Muslim, sebuah sekolah, sebuah Puskesmas, dan sebuah Masjid. Suasana di Key Besar sangat mencekam. Menurut seorang ketua Posko Satgas MUI Tual, seluruh kecamatan telah menjadi puing, banyak rumah penduduk dibakar secara keji.
5 April 1999 : Serangan demi serangan masih berkelanjutan. Sekitar pukul 20.00 WIT, Kantor Bupati Tual dibakar. Demikian pula sejumlah rumah milik Muslim dibakar oleh para perusuh Kristen. Setelah merusak rumah-rumah itu, mereka melakukan penjarahan besar-besaran, mengangkut segala harta benda yang ada. Setelah itu baru rumah-rumah tersebut dibakar. 2)

Posko Ummat Al-Huriyah 45, Tual, melaporkan pada Palima KODAM TRIKORA, bahwa beberapa desa Katholik di Kecamatan Key Besar : Desa Watsin dan Desa Bombai, telah ikut aktif melakukan penyerangan, pembakaran dan pembunuhan terhadap umat Islam di pesisir Utara Barat, Kecamatan Key Besar. Perbuatan keji ini bertentangan dengan pernyataan sikap Gereja Katholik yang ditandatangani Wakil Uskup Paroki Key Aru di Tual.

Laporan tersebut juga memuat keterlibatan aparat kepolisian Maluku Tenggara dalam memerangi ummat Islam. Para anggota polisi yang beragama Kristen menyebar ke pinggiran kota Tual dengan menyamar sebagai preman dan dipersenjatai untuk melakukan penembakan terhadap Muslim.
Laporan itu juga memuat nama-nama aparat keamanan yang terlibat, yakni : Serda Buce Buluroy (Provost Polres Maluku Tenggara, Serma (Pol) Buce Yambornias, Peltu (Polwan), Ati Titaley, Sema (Pol) Natur Sarkol, Serka (Brimob) Frans Naraha, Serda Miru (anggota Kodim 1503 Maluku Tenggara), dan Serda (Pol) Febby Helyanan. Posko Umat Al-Huriyah 45-Tual, Kabupaten Maluku Tenggara

Ada pun desa-desa Islam yang dibakar, di Maluku Tenggara, menurut laporan tersebut adalah sbb : 
No        Nama Desa                                        Kecamatan
1            Desa Fas                                           Key Besar
2            Desa Wer Frawav                             Key Besar
3            Desa Wer Ker                                   Key Besar
4            Desa Wer Ohoinam                           Key Besar
5            Desa Wearmaf (Kampung Baru)        Key Besar
6            Desa Nerong Lama                            Key Besar
7            Desa Nerong Baru                             Key Besar
8            Desa Larat                                         Key Besar
9            Desa Elralang                                     Key Besar
10          Desa Sungai                                       Key Besar
11        Desa Ngafan                                        Key Besar
12        Desa Wafol                                          Key Besar
13        Desa Langgiar Baru                              Key Besar
14        Desa Fer Raja                                      Key Besar
15        Desa Uwat                                           Key Besar
16        Desa Ngan                                           Key Besar
17        Desa Ohiwait                                       Key Besar
18        Desa Mataholat                                    Key Besar
19        Desa Ohibadar                                     Key Kecil
20         Desa Madwat                                     Key Kecil
21        Desa Warbal                                        Key Kecil
22        Desa Ohoirenan                                   Key Kecil
23        Desa Ohoiren                                      Key Kecil
24        Desa Ohoira                                        Key Kecil
25        Desa Letvuan                                       Key Kecil
26        Desa Debut Islaml                                Key Kecil
27        Desa Tarwa pulau                                Key Kecil
Sumber : Posko Umat Al-Huriyah 45-Tual, Kabupaten Maluku Tenggara

6 April 1999 : Kerusuhan berlanjut terus di kepulauan Key Besar dan Key Kecil, sedikitnya enam orang terbunuh, akibat serangan senjata tajam dan peluru.
Laporan dari Tim Medis Universitas Indonesia yang berada di Tual, menyebutkan bahwa keadaan hari itu masih dalam status quo. Keadaan sangat mencekam, aparat keamanan sangat kurang jumlahnya.
Dilaporkan pula bahwa para korban dari pihak Muslim yang jatuh tidak bisa dirawat di Rumah Sakit, sebab Rumah Sakit berada dalam penguasaan pihak Kristen. Akhirnya, para korban Muslim di rawat di Masjid bersama-sama dengan para pengungsi yang ditampung di situ.
Catatan kaki :

1.Majalah Sabili, no. 20/VI/21 April 1999.
2.Majalah Sabili, no. 20/VI/21 April 1999.



BAGIAN 1-4 : AMBON JILID DUA, DAN TRAGEDI POKA
Tragedi Ambon berdarah 'jilid dua' adalah nama yang diberikan oleh kalangan Muslim untuk membedakan, bahwa setelah tragedi berdarah pertama pada tanggal 19 Januari 1999 di kota Ambon, dan kebiadaban massa Kristen di Tual Maluku Tenggara, terjadi 'masa tenang' menjelang Pemilihan Umum 7 Juni 1999.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kerusuhan Ambon 'jilid dua' adalah kerusuhan yang terjadi di Poka, 200 km Timur Laut kota, tanggal 23 Juli 1999. Akan tetapi, Brigjen (Purn) Rustam Kastor, mencatat beberapa peristiwa yang terjadi pada 'masa tenang' Pemilu, medio Mei-Juli 1999, di Kodya Ambon dan sekitarnya. Menurut pendapat kami, rentetan peristiwa-peristiwa yang dicatat oleh Rustam Kastor ini, lebih tepat disebut sebagai kerusuhan Ambon 'jilid dua'. Ada pun kronologisnya kami rangkum sebagai berikut.
11 Mei 1999 : Terjadi pembantaian terhadap dua orang warga Muslim di desa Passo ketika mereka tengah berkendaraan menuju ke Ambon.
12 Mei 1999 : Terjadi penyerangan terhadap rumah-rumah penduduk warga Muslim di dusun Tawiri oleh massa Kristen.
13 Mei 1999 : Empat orang penumpang bus (warga Muslim) tewas dibantai di desa Waai oleh massa Kristen yang sengaja menghadang bus tersebut. Bus tersebut tidak dibakar, tetapi para penumpangnya dikejar massa Kristen, beberapa di antaranya berhasil lolos dari amukan massa.
15 Mei 1999 : Terjadi pembakaran 8 rumah warga Muslim di Batu Merah oleh masa Kristen mardika. Pembakaran ini terjadi akibat pemuda Kristen kampung Mardika merebut obor Pattimura yang dibawa pemuda Islam dari Desa Batu Merah menuju lapangan Merdeka. Di perbatasan Desa Batu Merah, sehingga menimbulkan konflik yang nyaris menimbulkan kerusuhan. Upacara obor Pattimura itu bertepatan dengan peresmian KODAMXVI/PTM oleh Kasad Jendral Subagyo HS.
14 Juli 1999 : Pembakaran sekitar 300 pohon cengkih milik desa Siri-Sori Islam (Pulau Saparua) oleh massa Kristen desa Ulath yang berkelanjutan dengan perkelahian massal yang menimbulkan korban jiwa di pihak Muslim termasuk aparat Kepolisian.
17 Juli 1999 : Masjid Al-Ikhlas kota Saparua, dan beberapa rumah penduduk Muslim dibakar perusuh Kristen.

Kerusuhan di Poka, Juli-Agustus 1999
Sumber dari Posko Umat Islam Masjid Al-Muhajirin Tihu dan PKPU menyebutkan bahwa kerusuhan di Poka berkobar pada tanggal 23 Juli 1999, menyusul pemukulan dan pendudukan rumah-rumah warga Muslim di sana. Tiga buah Masjid, yakni An-Nashr, Al-Ikhlash dan, Al-Muhajirin, jadi sasaran kelompok Kristen. Aparat keamanan dari Brimob, memihak kelompok ikat kepala merah (Kristen), dengan aktif menembakkan senjatanya. Bantuan dari tempat-tempat lain berdatangan, terutama dari tempat-tempat konsentrasi warga Kristen. Berikut kronologisnya.

21 Juli 1999 : Pukul 17.15 WIT terjadi pemukulan terhadap tiga mahasiswa Islam di depan perumahan Departemen Poka. Masalah ini tidak terselesaikan, karena korban tidak berani melapor.
22 Juli 1999 : Terjadi lagi pemukulan terhadap dua mahasiswa Islam di depan Gereja Perumnas Poka. Hal ini dilaporkan pada aparat keamanan, namun penyelesaian laporan tersebut tidak digubris.
23 Juli 1999 : Secara terang-terangan diadakan mobilisasi massa dari Wailela, Poka, Rumah Tiga oleh pihak merah (Kristen) untuk menempati rumah-rumah penduduk di Perumnas Poka, blok I-V.
24 Juli 1999 : Ketika awal Maghrib, mulai terjadi pelemparan terhadap rumah Muslim di Perumahan Poka blok I-V tersebut, kemudian disambut oleh pemuda-pemuda Muslim di sana. Terjadlilah baku lempar.
25 Juli 1999 : Terjadi mobilisasi bantuan pihak merah dari berbagai tempat dan menyerang Perumnas dan BTN Poka. Terjadi pembakaran dan penghangcuran rumah-rumah Muslim. Tiga lokasi yang menjadi sasaran adalah Masjid An-Nashar Poka, Masjid Al-Ikhlash Poka, dan Masjid Al-Muhajirin Perumnas Poka. Lima orang terbunuh, empat di antaranya ditembak aparat, tepat di depan Puskesmas Rumah Tiga.

Drama Perkosaan Warga Muslim Wailiha
Di Dusun Wailiha, arah utara kota Ambon, desa Batu Gong kecamatan Teluk Ambon Baguala Kodya Ambon yang berdampingan dengan kampung Hutumuri (kampung Kristen) terjadi pembantaian dan pemerkosaan yang sungguh tak mengenal rasa perikemanusiaan. Massa Kristen menyerang perkampungan Muslim yang terdiri dari dusun Kisar, Kampung Pisang dan dusun Wailiha yang terletak di Desa Batu Gong. Warga masyarakat khususnya dusun Wailiha awalnya sudah mendengar khabar tentang peristiwa yang terjadi di desa Poka (Perumnas, Wailela, Rumahtiga dan sekitarnya) bahkan pula yang terjadi di kota Ambon. Walhasil kejadian inipun merembek pada kampung Kisar (tetangga Dusun Wailiha) .

Pukul 05.30 WIT, Kampung Kisar habis terbakar oleh kekejian kaum Kristen. Melihat kejadian ini, warga Wailiha bersebelahan dengan kampung Kisar terutama laki-laki sudah siap untuk menghadang pasukan Kristen dan sebagian lagi mengungsi. Jalan-jalan diblokade dan mobil yang dipakai untuk mengambil warga Wailiha dilempari sehingga mobil tersebut tidak berani lagi mengevakuasi warga. Bunyi tembakan dari pihak Kristen makin mendekat sehingga membuat benteng pertahanan Warga Wailiha menjadi Lumpuh dan mundur menyelamatkan diri ke Pabrik Pengalengan Ikan, Batu Gong. Melihat tidak ada lagi Pertahanan dari warga Wailiha membuat pihak Kristen Hutumuri dan beberapa kampung Kristen di sekitarnya leluasa dan membabi buta membakar habis rumah-rumah warga. Dua buah masjid yakni Masjid Nurul Ilmi dan Masjid Babussalam pun ikut dibakar.

Melihat warga Wailiha menyelamatkan diri ke pabrik Pengalengan Ikan dan yang lain nekad untuk berenang ke pantai kampung Tial (perkampugan Islam), 200 massa Kristen pun mengikutinya kearah pabrik, diikuti dengan pembakaran, pemboman, penembakan dan pelemparan mess (asrama) pabrik, sehingga mess pabrik pun terbakar. Setelah mess terbakar mereka pun diperintahkan keluar, namun warga Wailiha ini tidak berani keluar karena melihat pihak Kristen melengkapi dirinya dengan senjata modern, pistol, parang, tombak, basoka, bom dan lain-lain.

Berulang-ulang kali para perusuh Kristen mengatakan 'Perempuan-perempaun keluar dan angkat tangan'. Demi kesalamatan jiwanya merekapun menurutinya. Kemudian mereka disuruh berbaris untuk menuju Desa Hutumuri. Di tengah perjalanan, sebagian dari mereka mengatakan 'pilih perempuan-perempuan cantik', kemudian yang cantik-cantik dipisahkan dan diperintahkan segera mengeluarkan uang-uang yang dimilikinya. Sementara laki-laki yang masih bersembunyi di mess yang lain disuruh keluar. Dengan terpaksa mereka pun ikut keluar. Dihadapan keluarga, istri dan anaknya mereka dibantai.

Masing-masing Pak Risman (satpam perusahaan) korban dibacok dan dicincang, Pak La Ata ditembak, dicincang hingga isi perutnya keluar, Pak La Uta, dipotong dan cincang oleh teman kerjanya sendiri di perusahaan, seorang anak kecil, anak dari Ibu Wa Emi kepalanya di belah dengan Kapak, anak-anak kecil yang lain diinjak-injak, Pak La Nahiyah dipanah dari kiri tembus kekanan mayatnya dibuang dan di temukan dipantai Passo.

Seorang anak gadis yang bernama Suryani, 25 tahun, disuruh telanjang dengan membuka baju dan celananya, namun karena tidak diturutinya membuat mereka marah dan menyiksa serta memotong rambut dan lehernya sehingga gadis ini penuh dengan luka-luka.

Seorang Ibu yang bernama Wa Rahima (42 tahun) ditelanjangi di depan suaminya. Suaminya diancam akan dibunuh apabila berteriak atau berbicara. Seorang gadis lagi yang bernama Nurdia (17 tahun, siswa SMP Kelas III) sudah dibuka celananya dengan cara paksa dan - maaf - buah dadanya sudah dipegang siap untuk dipotong. Menurut pengakuan salah satu korban, ada sepasang suami istri diculik dan di bawa ke Hutumari, dan tidak diketahui nasibnya.

Sementara seorang Ibu bernama Dewi (bukan nama sebenarnya) yang sudah punya tiga anak, pegawai Pertanian diperkosa beramai-ramai sekitar 20 orang, setelah itu mereka dengan kejamnya melukai alat kemaluannya dengan alat tajam. Korban sementara di RS AL Halong dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Dari informasi saksi, sebenarnya Ibu tersebut mau bergabung dengan warga Wailiha lainnya di mess Pabrik, namun ditengah perjalanan beliau sudah dianiaya.

Sekitar pukul 07.00 WIT, pertolongan Allah pun datang lewat bunyi tembakan aparat, membuat para perusuh Kristen lari tunggang langgang, menyelamatkan diri. Akhirnya warga Muslim segera diungsikan ke Asrama Halong dengan penuh penderitaan lahir batin, tanpa baju, uang dan materi lain yang mendukung hidup mereka lagi. 1)
26 Juli 1999 : Terjadi perlawan sengit, para mahasiswa Islam terjun membantu menghalau serangan-serangan pihak Kristen, namun pihak keamanan Brimob bertindak makin tidak adil. Sertu Erald Pattiwael dengan entengnya menembak sdr. Jamarah, hingga tewas, sementara Ade Buton luka berat akibat peluru menembus lututnya.
Ambon, 26 Juli 1999
Sebelumnya Dusun Wailiha di Batu Gong diserang pihak Kristen pada dinihari. Empat orang Muslim terbunuh dan sedikitnya dua puluh orang luka berat dan lima puluh luka ringan. Korban yang meninggal dan luka-luka di evakuasi ke RS Angkatan Laut Halong. Dilaporkan pula bahwa seorang wanita diculik dan tidak diketahui nasibnya.
Di Desa Lateri dan Latta, dinihari, ummat Islam diserang massa Kristen, Dua orang terbunuh ditembak Brimob, yakni sdr. La Ali dan La Ane serta yang satu lagi tertembak di bagian paha. Saat itu wanita dan anak-anak melarikan diri, bersembunyi di Halong Atas yang kemudian berhasi dievakuasi ke Dusun Kebun Cengkeh.
27 Juli 1999 : Desa Waihitu dan Tanah Lapang Kecil diserang pihak Kristen dari berbagai penjuru, akibatnya kedua desa tersebut luluh lantak. Para penghuni kedua desa itu melarikan diri berenang ke laut. Mereka kemudian mendapatkan pertolongan dan dievakuasi ke dermaga Yos Sudarso, Ambon.
Di Dusun Telaga Pange dan Keranjang terjadi penembakan oleh aparat Brimob, menewaskan dua orang yang teridentifiaksi sebagai Lampone dan Wa Haya (wanita).

Kebiadaban di Desa Latta, Kodya Ambon 
28 Juli 1999 : Kondisi pertikaian Ambon yang melebar diberbagai tempat, juga merembet ke dusun Latta, sekitar 12 km dari pusat kota Ambon. Massa Kristen warga desa Lateri (bersebelahan dengan dusun Latta) menyerang Latta pada hari Rabu jam 04.00 dini hari. Dalam peristiwa Latta itu, sebagaimana dilaporkan oleh salah satu sumber, bahwa 1 orang terluka. Keberingasan kaum kristen ini tidak berhenti disini. Sumber yang keluarganya juga bertempat tinggal di Latta ini juga menceritakan bahwa setelah pihak Kristen menghancurkan beberapa rumah warga muslim Latta, dengan biadabnya mereka memperkosa dua orang wanita muslimah Latta. Jumlah warga yang memperkosa ini setelah dilaporkan dan dikonfirmasi balik oleh sumber tadi, banyaknya pelaku belum teridentifikasi. Setelah muslimah Latta ini diperkosa, 2 Muslimah lainnya dibantai dengan dipotong-potong hingga tewas.

Pada hari Rabu, jam 10.00 warga Kristen gabungan desa Hutumuri dan desa Passo menyerang dusun Wailiha (mayoritas berasal dari Buton). Anak-anak dan perempuan dusun ini sebelumnya telah diungsikan, sementara yang bertahan adalah hanya para pemuda yang bertahan. Dilaporkan bahwa 15 orang dibantai oleh pihak Kristen. 2)

Situasi Semakin Mencekam di Poka dan Kodya Ambon 
29 Juli 1999 : Terjadi lagi penembakan oleh aparat Brimob, saat terjadi pertikaian antara pasukan putih dan merah (Kristen), di Perumnas Poka. Empat dilaporkan orang terbunuh. Mereka adalah Majid Amed, Hussein Ollong, Ali Ulat dan Kadir Rehalat. Sementara di Kota Ambon, seorang bernama Syamsul B. Rahayaan terbunuh ditempak aparat dari kesatuan Brimob.

30 Juli 1999 : Pihak Kristen kembali menyerang, kali ini ke desa Iha. Akibat serangan dari segala penjuru itu, dua orang dilaporkan terbunuh. Kondisi sementara terkendali dengan adanya bantuan pasukan yang datang dari Jakarta.

1 Agustus 1999 : Pukul 15.00 WIT, massa Kristen kembali membakar rumah-rumah Muslim di perbatasan antara perumahan penduduk Hative Kecil dengan rumah penduduk Kristen di Aster, yang telah ditinggalkan penghuninya..

3 Agustus 1999 : Pukul 09:20 WIT di Waihaong, beberapa warga Muslim berhasil menangkap seorang penyusup, di sekitar tempat pengungsian THR Waihaong Penyusup Kristen ini dihakimi hingga babak belur. Nasib serupa juga dialami seorang warga beragama Kristen yang ditangkap di depan kantor DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Maluku, di Asoabali. Sekitar pukul 11.00 WIT, seorang warga Kristen ditemukan tewas di lantai Gedung Ambon Plaza, salah satu pertokoan termegah di Ambon. Diduga warga Kristen itu tewas akibat kemarahan warga Muslim akibat Rubiyanto, warga Muslim nelayan, yang sebelumnya dibantai dengan keji di depan toko Citra. 3)

Menurut laporan KONTRAS, sejak pecahnya pertikaian di Poka, tanggal 15 Juli hingga 5 Agustus 1999, tercatat 1.349 orang korban meninggal, ratusan lainnya luka-luka, dan 4 orang hilang. Sekitar 800 rumah dibakar habis, juga kira-kira 200 ruko habis dibakar. Kurang lebih 100.000 warga mengungsi. 4).
Catatan kaki :

1.Laporan Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).
2.Laporan Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).
3.Laporan Posko Umat Islam Masjid Muhajirin Tihu, Laporan Pos Keadilan Peduli Umat Ambon.
4.Majalah Sabili, no. 4/VII/25 Agustus 1999, dan Sinansari ecip, Menyulut Ambon, 208, Mizan.


 

apa ini adalah ajaran kasih,,, sungguh keji,
· Comment · Share

  • Made Madya Agasi, Bayu Strit Rebel-riot and Ghoza Hayatullah like this.
    • Corney Love inilah dampak dampak orang yang mudah diadu domba semoga ini jadi pembelajaran kita di masa depan saling menghormati perbedaan di antara kita sorry min konflik@ kaya gini jangan di masukan!
      September 9, 2010 at 2:56am
    • Hatake Love Matipadapjaanhtygcntixlwrndlm Gx bsa dnk islam sekeji itu.!!
      September 19, 2010 at 11:31pm via mobile
    • Nyadez 'Alonzo' yang seprti ini harus dihindari deh
      ini hanya membuka kembali luka lama
      October 18, 2010 at 10:24am

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar