Selasa, 20 September 2011

"Palagan" Surabaya 28–30 Oktober 1945.. dan ..dari Palestina sampai Indonesia...>>..





"Palagan" Surabaya 28–30 Oktober 1945







Oleh DAUD SINJAL

Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November adalah untuk mengenang peristiwa heroik rakyat Surabaya melawan tentara Inggris. Namun perlu pula dikenang peristiwa yang mengawalinya. Pertempuran 28-30 Oktober 1945 merupakan "palagan" yang sebenarnya,  di mana pasukan Indonesia memaksa Inggris mengibarkan bendera putih.

Tentara Inggris mendarat di Surabaya untuk menegakkan ketertiban dan keamanan, membebaskan semua tawanan perang Sekutu, mengevakuasi interniran, melucuti, dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan yang dikirim ke Surabaya adalah Brigade ke-49, Divisi 23 India, di bawah komando Brigjen Mallaby. Kekuatannya 4.000 orang, terdiri dari batalyon Mahrattas dan Rajputana Rifles. Perwira-perwira komandannya campuran, Inggris dan India.

Pemerintah RI di Jakarta, meminta pemerintah daerah, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan para pejuang di Surabaya menerima baik dan membantu kelancaran misi Inggris. Karena goodwill ini merupakan bagian dari langkah RI untuk mendapatkan pengakuan dari Sekutu, pemenang Perang Dunia II.

Pimpinan tentara Inggris, dua kali bertemu dengan pimpinan pemerintahan dan tentara Indonesia di Surabaya. Pertama pada hari pendaratannya, 25 Oktober 1945 dan kedua, 26 Oktober. Pertemuan berlangsung dalam suasana bersahabat. Namun pihak Indonesia memperingatkan tidak boleh ada satu pun Belanda membonceng pasukan Sekutu ini. Inggris menjamin hal itu tidak akan terjadi. Kedua belah pihak sepakat bekerja sama menjaga ketentraman dan ketertiban. Dan agar kerja sama bisa berjalan baik, dibentuk Contact Committee.

Provokatif

Mentaati niat baik pemerintah pusat, pimpinan perjuangan di Surabaya juga menunjukkan sikap yang luwes. Namun kelonggaran-kelonggaran yang diberikan itu dimanfaatkan Inggris untuk melebarkan dislokasi pasukannya sampai di luar kesepakatan bersama. Mereka antara lain memperkuat posisi di tempat- tempat strategis seperti lapangan terbang Tanjung Perak, perusahaan listrik ANIEM, stasiun kereta api, kantor pos besar dan stasiun radio di Simpang.

Sikap baik RI ini disalahgunakan pula oleh satuan intel brigade yang melakukan raid ke penjara Kalisosok, untuk membebaskan seorang kolonel angkatan laut Belanda (yang ditangkap pemuda saat menjalankan tugas untuk Sekutu) serta perwira-perwira dan staf RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoner of War and Internees) yang ditahan di situ. Inggris juga mengacau di Nyamplungan, menangkapi sejumlah pemuda dan Ketua BKR setempat, serta menyerobot kantor Polisi RI Bubutan dan penjara Bubutan.

Kepercayaan terhadap Inggris serta merta berbalik curiga, ketika pada pagi 27 Oktober, sebuah pesawat Inggris menyebarkan pamflet yang isinya menuntut rakyat menyerahkan kepada Inggris semua senjata dan peralatan militer. Yang tidak mematuhinya akan dihukum mati. Seruan ini dikeluarkan oleh Panglima Divisi ke-23, Mayjen Hawthorn (bermarkas di Jakarta dan wewenangnya meliputi Jawa-Bali-Lombok). Pihak Indonesia mencurigai keras Inggris tengah membuka pintu untuk Belanda kembali ke sini.

Pemimpin-pemimpin RI di Surabaya memperingatkan Mallaby bahwa leaflet Hawthorn dan perbuatan yang dilakukan pasukannya mengingkari perjanjian yang telah disepakati. Para pemuda Surabaya bereaksi dengan meringkus serdadu-serdadu Inggris yang menduduki Nyamplungan dan Bubutan. Sejumlah prajurit Inggris dan India yang sedang pesiar di kota juga diculik dan dibunuh. Sebaliknya, tanggal 28 Oktober, Inggris melakukan perampasan senjata dan mobil-mobil pemuda.

Sore harinya, pimpinan TKR memutuskan melakukan serangan umum terhadap semua posisi Inggris di Surabaya. Radio pemberontak berulang-ulang mengumandangkan panggilan pada rakyat untuk mengangkat senjata dan menyerang secara serentak kedudukan pasukan Inggris. Sore dan malam hari itu juga pecah pertempuran sporadis di berbagai tempat di kota.

Inggris Terjepit

Pertempuran besar meletus pagi 29 Oktober. Serangan fajar TKR dibuka pukul 05.00. Tembakan pistol, senapan, senapan mesin berat dan ringan sampai mortir saling bersahutan. Asap membumbung di atas kota Surabaya. Para tawanan perang dan kaum interniran yang sudah bergembira menunggu pembebasan mereka, kembali ciut hatinya, karena terkurung di tempat-tempat penampungan yang sekitarnya telah menjadi ajang pertempuran yang sengit.
Pasukan Inggris terjepit, bahkan seantero Brigade 49 ini terancam musnah. Kesalahan mereka adalah menganggap enteng perlawanan rakyat dan TKR, lalu menghadapinya dengan satuan-satuan kecil yang terpecah-pecah di berbagai tempat. Perbekalan pelurunya juga hanya untuk pertempuran garis pertama. Namun, begitu terdesak, mereka pun sulit mendatangkan bala bantuan, karena pasukan besar Inggris lainnya paling dekat berjarak 200 mil, yakni brigade yang berada di Semarang. Amunisi dan logistik tambahan yang didrop dari udara malah jatuh ke pihak RI.

Salah satu pertempuran dramatis berlangsung selama lima jam di jembatan Wonokromo, sebelum akhirnya pasukan Inggris kehabisan peluru. Dua peleton yang kebanyakan orang India terisolir dan terkepung di situ. Mereka nyaris dihabisi oleh massa rakyat yang tidak tahu hukum perang. Sejumlah serdadu India berteriak-teriak "Muslim, muslim..!", memohon jangan dibunuh.

Personel TKR sekuat tenaga mencegah pembantaian tersebut. Sisa-sisa pasukan Inggris-India itu dilarikan ke Tanjung Perak dengan truk TKR yang mengibarkan bendera putih. Kekalahan di Wonokromo ini membuat kekuatan Inggris terpotong dua. Satunya yang bertahan di kota dan lainnya di sekeliling markasnya di Tanjung Perak
Kali Mas yang membelah kota menjadi saksi keganasan perang ini. Di sungai yang keruh itu mengambang mayat-mayat tentara asing tersebut, sebagian tanpa kepala atau anggota badan lainnya. Menurut sumber Inggris, korban di pihak mereka 200 orang tewas atau hilang, dan 80 luka-luka. Yang memilukan adalah nasib ratusan interniran yang terdiri dari perempuan dan anak-anak. Konvoi truk yang mengangkut mereka dari kamp Darmo terjebak di daerah pertempuran, dan menjadi sasaran amukan laskar rakyat.
Panglima Tentara Sekutu di Indonesia (AFNEI - Allied Forces Netherlands East Indies), Letjen Sir Philip Christison berusaha menyelamatkan pasukannya di Surabaya dengan meminta pemimpin RI di Jakarta turun tangan. Atas permintaan Christison, 29 Oktober petang Presiden Soekarno, terbang ke Surabaya, didampingi Wakil Presiden Hatta dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifudin. Pagi 30 Oktober, Bung Karno bersama Mayjen Hawthorn dan Brigadir Mallaby mengadakan perundingan damai dengan para pemimpin pejuang di Gubernuran Surabaya.

Dikutip dari "Menjadi TNI", buku biografi Himawan Soetanto yang tengah disusun oleh penulis.

dari Palestina sampai Indonesia

Palagan Surabaya, melebihi Gaza dan Baghdad

Ditulis dalam indonesia oleh nurray pada 18/11/2009

Bung Tomo, jurnalis pejuang Palagan Surabaya. Merdeka atau Mati ! Inset : Ny.Soetomo, istrinya.

Bung Tomo, jurnalis pejuang Palagan Surabaya. Merdeka atau Mati ! Inset : Ny.Soetomo, istrinya.

Surprise. Bangga, haru, campur aduk, melihat 16.000 warga Indonesia setor nyawa mempertahankan kemerdekaan. 1000 pejuang dan 15.000 rakyat biasa berjibaku mempertahankan kehormatan tanah kelahirannya, Surabaya. 2 kuital bom dijatuhkan pasukan Sekutu.
Arek2 Suroboyo dibombardir dari darat, laut dan udara oleh pasukan Barat, karena mereka menolak menyerahkan senjata. Hebatnya, dengan senjata seadanya, pejuang kita bisa menewaskan 2 jenderal sekutu ( Mallaby dan marsekal udara ) pada pertempuran sekelas perang Irak-AS, Mei 2003 lalu. Melebihi serbuan Israel ke Gaza, Januari 2009, yang menelan korban 1200 jiwa. Selama Perang Dunia II, tak ada yang mampu mengkandaskan seorang pun jenderal Sekutu, tapi di Surabaya mereka kecolongan 2 jenderal sekaligus. Amazing.
Anda melihat siaran live serangan udara Amerika cs di langit Baghdad ? ( night seen warna hijau di CNN ). Bom tandan, pesawat tempur, rudal patriot, rudal scud, bersliweran di langit seperti pesta kembang api tahun baru. Anda bayangkan itu terjadi di selatan Sungai Wonokromo, Surabaya 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Drum bensin meledak. Jam 6.10, Surabaya menjadi lautan api. Lalu, 30/11/1945, sepanjang mata memandang, bergelimpangan mayat terbujur kaku, hangus, serpihan daging dari 30.000 orang ; warga kita, pasukan sekutu, pasukan Inggris yang diboncengi Belanda   (mereka bertemu rahasia di London untuk menguasai kembali Indonesia, Agreement 24/8/1895). Kita sudah lama berinteraksi dengan para bule, juga 350 tahun sebelumnya. Kita memang ditakdirkan berurusan dengan makhluk berkulit putih ini, entah sampai kapan.

Radio rakyat untuk mengkordinir pejuang. Bung Tomo, biangnya.
Bayangkan perang kota di Baghdad (antara pejuang Irak melawan tentara Sekutu pimpinan AS) tahun 2003 itu, terjadi pula di Tunjungan, Bank Jembatan Merah, Gedung Kempetai, Gedung Gubernur, tahun 1945. Para pejuang kita berasal dari komponen TKR-BKR di Surabaya, PRI, Perjuangan Putri RI, veteran Heiho – Halmahera, tentara Peta – Surabaya, dll. Pada 27/9/1945, mereka dikobarkan semangat juangnya oleh Soetomo (Bung Tomo) lewat Radio Pemberontakan Indonesia, perwakilan kantor berita “Antara”. Ketika pasukan Sekutu menggunakan radio komunikasi militer mutakhir untuk mengkoordinir prajuritnya, Soetomo hanya menggunakan pemancar radio biasa, dengan kode2 tertentu (seperti belok kiri, artinya belok kanan, maju artinya mundur, dsb), yang hanya dimengerti oleh pendengar2 setianya.

Sehari-hari, biasanya, pendengar radio dihibur lagu2 perjuangan dan cerita2 rakyat. Sekonyong-konyong, 9 November 1945, mereka dikejutkan pekik,”MERDEKA ATAU MATI !!” dari Bung Tomo. Agitator itu, seorang jurnalis yang gigih menyemangati warga Surabaya mengusir Sekutu. 45.000 pejuang kita tersentak bangkit. Waktu itu, Surabaya dipimpin oleh Gubernur Suryo.

Oleh Soekarno, mereka dipersilakan untuk mengikuti permintaan Sekutu (menyerahkan senjata), atau mempertahankan kemerdekaan wilayahnya.
Rakyat Surabaya memilih berjuang hingga titik darah penghabisan. Benar, kata Permadi, orang2 kita memang bondo nekad semua. Untuk kenekadan dan pengorbanan jiwa raga ini, Soetomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2008.
Palagan Surabaya dimulai ketika Van Mook, 5 Oktober 1945, memimpin markas NICA di Australia. 7 Oktober 1945, sekitar 5000 orang Gurkha (dari India, bagian pasukan Sekutu) dan pasukan NICA Belanda akan masuk kota Surabaya. Dr.Moertopo, kepala TKR, melarang NICA masuk kota. Sekutu yang akan melucuti persenjataan tentara Jepang, diminta berlabuh saja sekian km dari daratan Surabaya. Tapi bala tentara Inggris terus merangsek masuk, sampai di Jembatan Merah (28-29/10/1945). Mereka gemas dengan Insinden Mallaby dari Divisi 5, di gedung Internasio (belum jelas siapa pembunuh jenderal Inggris tsb, tentara Belanda atau pejuang Indonesia ? ).

Surabaya direbut dari Jepang & Sekutu. Terima kasih, Pahlawan.
27 September 1945, Surabaya menjadi kota pertahanan Jepang melawan sekutu. Dari kantor Kempetai ( polisi militer ), 40 pemuda kita berhasil merebut 60 pucuk senjata. Dalam pertempuran itu, 400 pemuda kita tewas, 400 prajurit Jepang tewas. 18 hilang. Pasukan perintis Sekutu mendarat di Surabaya. Di hotel Yamato (sekarang Majapahit), 14/9/1945, residen Sudirman ditodong Mr.Brugman, seorang sinyo totok Belanda. Terjadi keributan di sana. Beruntung kawannya yang bisa silat, segera menepis jatuh senjata tsb. Di hotel Oranye, 19/9/1945 jam 9 pagi, terjadi penyobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia (bagian biru disobek). Di buku Sejarah, kita mengenalnya sebagai peristiwa di Hotel Oranye. (kemarin di teve, saya lihat nelayan Jatim menemukan bom masih aktif peninggalan Sekutu, menguatkan kisah dokumenter tsb)

Semula saya tak begitu memperhatikan peristiwa bersejarah ini. Hanya satu kalimat di buku dan satu hari di kalender. Satu tayangan di Metro Files. Namun, ketika dikorelasikan dengan Perang Gaza-Israel, awal tahun ini dan Perang Irak-AS tahun 2003, (juga Revolusi Perancis) yang saya ikuti dari A-Z, saya terperangah, betapa potensi rakyat Indonesia luar biasa. Merah Putih bukan slogan atau isapan jempol. Benar2 nyata keberanian pejuang dan warga kita waktu itu. Kalau saja kita mau menyelami lebih dalam perjuangan para pendahulu di masa lalu, kita akan makin tercengang dan terbata-bata, betapa dahsyatnya kegigihan dan pengorbanan para kesuma bangsa itu. Mereka lebih kuat dari warga Gaza dan Baghdad.

Jika saja, kita tergerak menyerap semangat juang mereka, kali ini untuk mengisi kemerdekaan dengan kiprah dan karya nyata, mengolah sumber alam terkaya di dunia di negeri ini dengan tangan2 sendiri ( putra bangsa, bukan pihak asing ), dengan keberanian menggetarkan setara para pejuang dan pahlawan kita dahulu, dengan kepintaran sejenius rekan2 kita yang juara Olimpiade Fisika, Matematika, Astronomi, David Hartanto ( software militer ), guru2 besar kita yang bertebaran di luar negeri, dibingkai kebijaksanaan para bapak bangsa, founding father, dikawal daya kritis para pemuda Indonesia yang menggulirkan reformasi, maka negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, bisa menjadi negara adidaya. Allah Swt with us. We love Indonesia. Kita punya semua yang terbaik, di negeri ini, kawan.
We can, if we really, really, really want to. Is this inspiring you, guys ?
Terima kasih tak terhingga untuk para pejuang Indonesia. Selamat Hari Pahlawan ..

Share this:

 

Like this:

Be the first to like this post.
Ditandai sebagai:NKRI, pejuang


Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.
1.                               RochMan said, on 21/12/2009 at 03:26
Allahuakbar!!! merdeka!!

4 COMMENTS:

Blogger kidn4p said...
ingatlah perjuangan bangsa kita
Blogger Wahyu Riyadi said...
sejarah.
indah untuk dikenang
Blogger Rushdy Hoesein said...
Hanya bangsa yang memahami dan sadar pada masa lalunya yang punya kesempatan untuk mengemudi masa depan
Blogger miko said...
Tapi banyak sejarah kita yang terbelokkan, atau malah mungkin sengaja dibelokkan..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar