Rabu, 14 September 2011

BARU SEPULUH hari berlalu, umat Islam merayakan Idul Fitri 1432 H, terjadi lagi rusuh SARA di Ambon, mengingatkan kita pada rusuh SARA sebelumnya di Hari Idul Fitri 1421 H (19 Januari 1999 M) lalu. Modusnya sama, pembunuhan warga Muslim oleh warga Kristen, lalu pihak Muslim menuntut balas, sehingga terjadi konflik horizontal yang menelan banyak korban. Kerusuhan yang terjadi pada 10 September 2011 ini, bersamaan dengan momentum peringatan Bom WTC 11/9/2011 di Amerika, seakan merupakan rentetan duka kaum Muslim di daerah-daerah yang didominasi aparat atau pemerintahan Non Islam di dunia. Betapa tidak, kerusuhan yang menurut polisi dipicu oleh kecelakaan tunggal Si Tukang Ojek Darkin Saiman di daerah yang mayoritas Kristen, dengan cepat merebak menjadi kerusuhan bernuansa SARA.....>>>..Senada dengan itu, kabar dari pihak keluarga korban menyatakan, “Helm milik Darkin Saiman, tukang ojek yang tewas itu dalam keadaan utuh, tapi kepalanya pecah karena adanya benturan pukulan. Begitu juga ada luka tusuk di punggungnya.”...>>...Berdasarkan fakta di atas, maka Majelis Mujahidin menyampaikan pernyataan sikap sbb: Pertama, Polisi dan aparat keamanan supaya bertugas melindungi kepentingan rakyat, baik Islam dan Non Islam, bukan menjadikan agama sebagai komoditas politik dan alat adu domba. Kedua, segera menangkap pelaku penganiayaan dari pihak Kristen, bukan mengalihkan perhatian publik dengan menjadikan ekses sebagai obyek penyelesaian konflik. Apalagi mengancam ‘provokator penyebar SMS’, sementara korban dari warga Muslim terus berjatuhan, dan para pihak yang terlibat atas kematian Darkin Saiman tidak tersentuh hukum. Hal ini pasti akan menjadi pemicu konflik baru. Kesaksian Komjen (Pol) Sutarman, pihak keluarga, dan foto korban penganiayaan sudah cukup bagi polisi untuk melakukan tindakan tegas dan cepat Ketiga, melakukan investigasi forensik terhadap korban-korban meninggal yang terkena timah panas. Siapa yang menembak, aparat keamanan atau sipil bersenjata? Jika dari pihak sipil dari mana mereka dapatkan senjata, dan bagaimana mereka mendapatkan senjata tersebut? Jika dari aparat maka tidak mungkin dia bertindak sendiri tanpa komando atasannya, yang berarti aparat tidak lagi netral dan adil menangani masalah di lapangan, maka perlu diadakan sweeping dan screening dikalangan aparat ataupun sipil bersenjata. Keempat, mengurangi dominasi aparat keamanan beragama Kristen maupun pemerintah Daerah di Ambon agar tidak menimbulkan diskriminasi sosial, politik dan keamanan. Kelima, memberitahukan kepada kaum Muslimin Indonesia, manakala kasus ini direkayasa kearah permusuhan terhadap kaum Muslim Ambon, akibat sikap diskriminatif dari oknum-oknum polisi dan keamanan. Maka Majelis Mujahidin menyerukan Jihad melawan siapa saja yang melakukan penyerangan kepada kaum Muslim Ambon. Kesiagaan kaum Muslimin untuk membantu saudaranya di Ambon supaya dipersiapkan. Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai kontribusi penyelesaian kasus di Ambon secara tuntas dan bermartabat, tanpa intervensi politik dan sentimen agama. Yogyakarta, 15 Syawal 1432 H/ 13 September 2011 M Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin....>>> Meskipun berulangkali pihak kepolisian menegaskan bahwa kematian tukang ojek Muslim adalah murni kecelakaan, namun Umat Islam meragukan rilis pihak kepolisian tersebut. Berikut adalah fakta-fakta yang diungkap Forum Umat Islam (FUI) bahwa tukang ojek Muslim itu dibunuh di daerah non Muslim. FUI secara terang-terangan meragukan keterangan aparat Kepolisian yang menyatakan bahwa pemicu bentrokan itu adalah peristiwa kecelakaan tunggal Darmin Saiman, seorang tukang ojek Muslim. Sekjen FUI, Muhammad Al-Khaththath mengungkapkan keraguan tersebut juga dirasakan oleh keluarga almarhum Darmin Saiman di Ambon. Kasus seperti ini menurut Al-Khaththath, bukan hal baru. Pasalnya kejadian serupa sebelumnya sudah pernah terjadi tiga kali sehingga hal ini menyulut kemarahan umat Islam.>>> Seyogianya Polisi jangan menutup-nutupi peristiwa sebenarnya....Apabila memang benar bahwa ada gerakan sARA dan yang memulai adalah Umat Kristen Ambon... Maka wajib dijelaskan dan Hukum ditegakkan... >>> Dan manakala terbukti nanti bahwa ada oknum2 Polisi dan Pemerintahan dan Pers yang dusta.. maka kita wajib menuntutnya... secara Hukum...>>> Sebab peristiwa Ambon sudah berkali2-kali terjadi.. dan terbukti bahwa Kristen Ambon sejak Zaman Revolusi Proklamasi dan zaman Penjajahan Belanda banyak yang menjadi antek2 Penjajah dan tidak mau bergabung dengan Republik Indonesia.. Walaupun Umat Islam senantiasa berbaik budi dan berbaik sangka.. Bahwa tidak semua Kristen Ambon bersikap demikian...>> Namun Fakta sejarah juga tidak bisa dipungkiri.. bahwa banyak Pengkhianatan dibuat oleh para Kristen Ambon terhadap bangsa dan juga Umat Islam Indonesia,,,,>>> Wahai para polisi jujurlah...!!!! Berpihaklah kepada Kebenaran dan Keadilan... Bukan menyembunyokan para Pengkhianat Bangsa... dan pemfitnah Umat Islam..>> Wahai Umat Islam selalu waspada dan ingatlah bahwa para Kafirin itu selalu berusaha untuk berkhianat... terhadap para Muslimin...>> Kita mencintai Persatuan bangsa-kita mencintai tanah iar Indonesia yang diperjuangkanoleh para syuhada2 muslim dan bangsa Indonesia...kita cinta muslimin Indonesia dan muslimin diseluruh dunia... Kita berdoa untuk kebaikan dan kemaslahatan umat...>>.. Dan makala para pengkhianat itu menusuk kita dengan cara2 culas..dan penuh tipu muslihat.. maka kita wajib bangkit dan berjihad.. fie sabilillah...Allahu Akbar...Allahu.. Akbar.. Allahu Akbar.... Jihad...fie sabilillah... hayyoo... kuatkan jiwa raga dan sikap mental semua umat Islam... Bersatulah...!!! >>Ustadz Abu Bakar Baasyir: "Jika memang umat Islam didzolimi kita wajib jihad"..>>... ABB walaupun dalam penjara tetap membangun semangat Umat Islam untuk tegar dan terus menegakkan Kebenaran dan berjihad jika ternyata benar Umat Islam dizholimi...>> Awas!! banyak para aparat yang memang antek2 Penjajah Kriminal Internasional.. yang selalu mendanai mereka..>> Waspadalah.. dan tegarlah dalam berjihad..>Tegakan Kebenaran dan Keadilan serta juatkan persatuan Umat... >> Jangan gentar...dan takut... Jihad adalah jalan cahaya Allah untuk Kemenangan Umat Islam... ..>>.. Selalu bersiaplah... dan manakala panggilan datang maka wajib dilakukan... Insya Allah kita dijalan Allah dijalan Kebenaran.. dan Insya Allah kita Menang..dengan izin Allah Maha Perkasa... Amin..!!!

Pernyataan Sikap Majelis Mujahidin Kerusuhan Ambon 11 September 2011 dan....

http://arrahmah.com/read/2011/09/14/15212-pernyataan-sikap-majelis-mujahidin-kerusuhan-ambon-11-september-2011.html

Foto jenazah tukang ojek ungkap adanya penganiayaan

Rasul Arasy
http://arrahmah.com/read/2011/09/13/15195-foto-jenazah-tukang-ojek-ungkap-adanya-penganiayaan.html
Selasa, 13 September 2011 15:35:30
Hits: 6538


JAKARTA (Arrahmah.com) – Meskipun berulangkali pihak kepolisian menegaskan bahwa kematian tukang ojek Muslim adalah murni kecelakaan, namun Umat Islam meragukan rilis pihak kepolisian tersebut.
Berikut adalah fakta-fakta yang diungkap Forum Umat Islam (FUI) bahwa tukang ojek Muslim itu dibunuh di daerah non Muslim.

FUI secara terang-terangan meragukan keterangan aparat Kepolisian yang menyatakan bahwa pemicu bentrokan itu adalah peristiwa kecelakaan tunggal Darmin Saiman, seorang tukang ojek Muslim. Sekjen FUI, Muhammad Al-Khaththath mengungkapkan keraguan tersebut juga dirasakan oleh keluarga almarhum Darmin Saiman di Ambon.
Kasus seperti ini menurut Al-Khaththath, bukan hal baru. Pasalnya kejadian serupa sebelumnya sudah pernah terjadi tiga kali sehingga hal ini menyulut kemarahan umat Islam.

“Kita menyangsikan keterangan kepolisian bahwa itu adalah kecelakaan tunggal. Karena menurut  keterangan yang kita peroleh bahwa pihak keluarga di sana menyangsikan terjadinya kecelakaan tunggal jadi ada unsur penganiayaan. Bahkan kita mendengar kasus yang serupa ini sudah terjadi sebanyak tiga kali sehingga menimbulkan kemarahan dari Umat Islam,” jelas Al-Khaththath Senin malam (12/9/2011) usai launching Crisis Center Forum Umat Islam (FUI).

Sementara itu dikatakan Bernard Abdul Jabbar dari Forum Umat Islam (FUI), jumlah korban yang tewas dalam bentrokan di Ambon sebanyak 8 orang. Adapun, tukang ojek itu faktanya betul-betul dibunuh, bukan murni kecelakaan, seperti dikatakan pihak kepolisian.
“Saya punya fotonya, banyak bekas tusukan, sangat jelas sekali, ada unsur penganiyaan dengan motif dibunuh,” kata Bernard yang juga aktivis Hizbut Dakwah Islam (HDI).
Pernyataan Al-Khaththath tersebut senada dengan Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis SpOT, yang mengungkapkan banyak fakta dan kejanggalan dalam keterangan yang disampaikan polisi.
Kondisi janggal antar alain dilihat dari kondisi kepala almarhum Darmin Saiman yang pecah, sementara helmnya masih utuh. Selain itu, Joserizal juga mengungkapkan adanya luka tusuk di punggung semakin memperkuat dugaan bahwa tukang ojek Muslim itu bukan meninggal karena kecelakaan, tapi dibunuh dengan sengaja.
“Kabar dari pihak keluarga korban, helm milik tukang ojek yang tewas itu dalam keadaan utuh, tapi kepalanya pecah karenanya adanya benturan pukulan. Begitu juga ada luka tusuk di punggungnya,” jelasnya.
Terkait hal tersebut Joserizal mendesak pihak kepolisian agar melakukan otopsi ulang dan menjelaskan kepada publik dan media dengan sejujur-jujurnya, tentang apa yang sesungguhnya terjadi. (voaI/arrahmah.com)

 Rusuh Ambon : Kaum Muslimin terus siaga!
M. Fachry
http://arrahmah.com/read/2011/09/12/15180-rusuh-ambon-kaum-muslimin-terus-siaga.html
Senin, 12 September 2011 23:04:50
Hits: 6057


AMBON (Arrahmah.com) – Gubernur Maluku, Karel Alberth Ralahalu, merilis jumlah korban rusuh Ambon, Ahad (11/9/2011), yakni korban tewas berjumlah 6 orang, luka berat 31 orang, dan luka ringan sebanyak 139 orang. Sementara itu, data jumlah korban yang bersumber dari Koresponden Arrahmah.com di TKP menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 7 orang, kritis 7 orang, dan luka-luka sebanyak 60 orang, dan ratusan pengungsi yang hingga kini masih memadati masjid Al Fatah.
Kaum Muslimin terus siaga
Rusuh Ambon meski terus dikatakan bertambah kondusif tidak mengurangi kewaspadaan kaum Muslimin untuk terus waspada dan siaga. Sejumlah warga tampak mulai mengangkuti harta yang masih tersisa dari puing-puing rumah mereka yang ludes dibakar. 
“Sejumlah barang penting dan pakaian kami amankan di dalam masjid. Syukur masjid tidak terbakar seluruhnya, jadi barang kami aman. Sepeda motor saya dibakar, lihat saja, Bang,” ujar Armin, warga Waringin, Ambon, kepada detikcom Senin (12/9/2011).
Koresponden Arrahmah.com hari ini, Senin (12/09/2011) mengatakan masih terjadi konsentrasi masa di Waringin, perkampungan Muslim yang pada hari kemarin ludes dibakar, dan yang tersisa hanyalah masjid. Selain itu, juga diinformasikan bahwa korban meninggal semalam di batu merah adalah Boby, yang terkena luka tembak di dada, Aco, luka tembak di kepala, dan satu tentara luka tembak di dada.
Masih menurut Koresponden Arrahmah.com di TKP, kaum Muslimin masih dikonsentrasikan di 3 titik, yakni Batu Merah, Waringin, dan sekitar Ahuru, dimana masih terjadi ketegangan di sana. Kaum Muslimin menurutnya hanya memiliki perlengkapan yang minim. Untuk itu, kaum Muslimin di Ambon memohon doa kepada seluruh kaum Muslimin. Mereka juga menyampaikan salam kepada seluruh pembaca Arrahmah.com dan memohon doanya. Amien, Insya Allah!
(M Fachry/arrahmah.com)

Ustadz Abu Bakar Baasyir: "Jika memang umat Islam didzolimi kita wajib jihad"

Rasul Arasy
http://arrahmah.com/read/2011/09/14/15220-ustadz-abu-bakar-jika-memang-umat-islam-didzolimi-kita-wajib-jihad.html
Rabu, 14 September 2011 16:15:30
Hits: 1003


JAKARTA (Arrahmah.com) – 

 Amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir memfatwakan wajibnya jihad ke Ambon bila umat Islam dizalimi dalam kerusuhan bernuansa SARA tersebut.
Setelah mendapat informasi dari berbagai pihak mengenai kerusuhan Ambon, Ustadz Abu mengingatkan agar umat Islam senantiasa mewaspadai karakteristik orang kafir yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an.
“Orang kafir itu memang tidak suka terhadap Islam, kalau ada kesempatan mereka selalu menghabisi umat Islam, tidak peduli Islam garis keras atau Islam garis lunak. Bagi mereka itu yang penting mau masuk Kristen atau dibunuh,” paparnya pada Selasa (13/9/2011).
Ustadz Abu yang divonis dzolim 15 tahun penjara, menyerukan kepada umat Islam untuk segera mengambil sikap tegas terhadap kezaliman yang menimpa saudara-saudara sesama muslim di Ambon. Ia mengungkapkan solusi menghadapi kezaliman kaum walan tardho itu adalah jihad, karena perjanjian-perjanjian damai dengan mereka selalu mereka khianati.
“Oleh karena itu bagi umat Islam kalau sudah menghadapi hal yang seperti ini tidak boleh ragu lagi, kalau perlu saya menganjurkan untuk berjihad kalau terbukti benar yang membunuh itu adalah orang Kristen. Sudah tidak usah macam-macam, musyawarah-musyawarah itu percuma. Dulu juga kan sudah ada musyawarah dengan adanya perjanjian Malino,” jelasnya.
Lebih lanjut beliau mengungkapkan tentang kewajiban berjuang menegakkan syariat Islam. “Haram hukumnya orang Islam diam, wajib hukumnya berjuang merombak sistem menjadi hukum Islam,” ujarnya.
Ustadz Abu menambahkan, jika terbukti bahwa konflik di Ambon adalah konflik SARA, maka umat Islam harus siap berjihad membela umat Islam yang tertindas.
“Jadi soal Ambon ini kalau itu memang terbukti yang membunuh orang Kristen, sudah jihad ! itu pendapat saya. Umat Islam harus maju, apalagi kalau sampai mereka (umat Islam di Ambon, red.) diisolasi, umat Islam dari luar Ambon supaya datang untuk jihad!”  imbau Ustadz Abu.
Ustadz Abu menjelaskan bahwa sikap umat Islam terhadap Kristenadalah siap damai dan siap perang. Islam siap berdamai dengan siapapun yang tidak memusuhi, namun Islam tak akan menolak perang jika dizalimi.
“Kaum salibis Nasrani jangan sekali-kali mengganggu Islam! Kami bisa berdamai selama akidah kami tidak diganggu, kalau kami diganggu kami akan perangi, kami akan lawan! Bagi kami melawan anda itu kebaikan, kami menang baik, mati juga baik. Jadi melawan anda itu adalah nikmat!” tegasnya.
“Keyakinan kami menuntut supaya kami hidup di negara yang diatur dengan hukum Islam. Kalau anda setuju mari hidup rukun di bawah Islam, tidak setuju dan mengganggu, kami (siap) perang!”
Terkait adanya analisa sejumlah pengamat intelijen bahwa konflik Ambon pada dasarnya merupakan operasi intelijen yang bertujuan menggiring para mujahidin ke Ambon untuk dicitrakan sebagai basis teroris kemudian dihabisi, Ustadz Abu mengingatkan para pejuang Islam agar berhati-hati dan bertawakal kepada Allah.
“Kita tetap akan berjihad dengan melihat kemampuan. Kalau memang kondisinya demikian pun, ya sudah bismillah, kita lawan! Meskipun mereka punya makar, ingatlah firman Allah: ‘wamakaruu wamakarallah wallahu khoirul-makirin.’ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya,” jelasnya. “Kita lawan mereka karena saudara kita sedang dianiaya, jadi kita kembalikan saja kepada Allah,” tutupnya. (voaI/arrahmah.com)


Saif Al Battar
Rabu, 14 September 2011 14:52:19
Hits: 1361


BARU SEPULUH hari berlalu, umat Islam merayakan Idul Fitri 1432 H, terjadi lagi rusuh SARA di Ambon, mengingatkan kita pada rusuh SARA sebelumnya di Hari Idul Fitri 1421 H (19 Januari 1999 M) lalu. Modusnya sama, pembunuhan warga Muslim oleh warga Kristen, lalu pihak Muslim menuntut balas, sehingga terjadi konflik horizontal yang menelan banyak korban.
Kerusuhan yang terjadi pada 10 September 2011 ini, bersamaan dengan momentum peringatan Bom WTC 11/9/2011 di Amerika, seakan merupakan rentetan duka kaum Muslim di daerah-daerah yang didominasi aparat atau pemerintahan Non Islam di dunia. Betapa tidak, kerusuhan yang menurut polisi dipicu oleh kecelakaan tunggal Si Tukang Ojek Darkin Saiman di daerah yang mayoritas Kristen, dengan cepat merebak menjadi kerusuhan bernuansa SARA.
Kepala Bareskrim Polri, Komjen (Pol) Sutarman menjelaskan: “Ada seorang tukang ojek (Darkin Saiman) yang sebenarnya kecelakaan tunggal, tapi malah dipukuli kelompok tertentu (Kristen), sehingga terjadi balas dendam setelah upacara pemakaman,” ujar Sutarman di Mabes Polri, Jakarta, (11/9/2011).
Senada dengan itu, kabar dari pihak keluarga korban menyatakan, “Helm milik Darkin Saiman, tukang ojek yang tewas itu dalam keadaan utuh, tapi kepalanya pecah karena adanya benturan pukulan. Begitu juga ada luka tusuk di punggungnya.”
Jelas, kerusuhan dipicu adanya penganiayaan terhadap tukang ojek Muslim di daerah Kristen yang menyebabkan kematiannya. Bukan kecelakaan tunggal atau akibat provokasi. Tetapi aparat keamanan atau pemerintah Daerah, tidak segera menangkap pelaku penganiayaan/pengeroyokan, malah mengalihkan perhatian dengan mengancam provokator SMS. 

Berdasarkan fakta di atas, maka Majelis Mujahidin menyampaikan pernyataan sikap sbb:

Pertama, Polisi dan aparat keamanan supaya bertugas melindungi kepentingan rakyat, baik Islam dan Non Islam, bukan menjadikan agama sebagai komoditas politik dan alat adu domba.

Kedua,
segera menangkap pelaku penganiayaan dari pihak Kristen, bukan mengalihkan perhatian publik dengan menjadikan ekses sebagai obyek penyelesaian konflik. Apalagi mengancam ‘provokator penyebar SMS’, sementara korban dari warga Muslim terus berjatuhan, dan para pihak yang terlibat atas kematian Darkin Saiman tidak tersentuh hukum. Hal ini pasti akan menjadi pemicu konflik baru. Kesaksian Komjen (Pol) Sutarman, pihak keluarga, dan foto korban penganiayaan sudah cukup bagi polisi untuk melakukan tindakan tegas dan cepat
Ketiga, melakukan investigasi forensik terhadap korban-korban meninggal yang terkena timah panas. Siapa yang menembak, aparat keamanan atau sipil bersenjata? Jika dari pihak sipil dari mana mereka dapatkan senjata, dan bagaimana mereka mendapatkan senjata tersebut? Jika dari aparat maka tidak mungkin dia bertindak sendiri tanpa komando atasannya, yang berarti aparat tidak lagi netral dan adil menangani masalah di lapangan, maka perlu diadakan sweeping dan screening dikalangan aparat ataupun sipil bersenjata.
Keempat, mengurangi dominasi aparat keamanan beragama Kristen maupun pemerintah Daerah di Ambon  agar tidak menimbulkan diskriminasi sosial, politik dan keamanan.
Kelima, memberitahukan kepada kaum Muslimin Indonesia, manakala kasus ini direkayasa kearah permusuhan terhadap kaum Muslim Ambon, akibat sikap diskriminatif dari oknum-oknum polisi dan keamanan. Maka Majelis Mujahidin menyerukan Jihad melawan siapa saja yang melakukan penyerangan kepada kaum Muslim Ambon. Kesiagaan kaum Muslimin untuk membantu saudaranya di Ambon supaya dipersiapkan.
Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai kontribusi penyelesaian kasus di Ambon secara tuntas dan bermartabat, tanpa intervensi politik dan sentimen agama.
 Yogyakarta, 15 Syawal 1432 H/ 13 September 2011 M
 Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar