Kamis, 22 September 2011

Komnas HAM Berbohong?....>>> Awas Ini Permainan Konspirasi... dan sudah ada design.. secara terencana ...!!!!..... Permainan para Pendusta...dan Para Kolompok Penjajah Kariminal Internasional... dan antek2nya... telah semakin nyata.. menzholimi Umat Islam Ambon..... >>>


Jum'at, 23 Sep 2011

Klaim Rusuh Ambon Dipicu Berita Bohong, Komnas HAM Berbohong?


Mereka secara terencana telah melakukan Grand Design ... unruk menzholimi Umat Islam Ambon..khususnya dan Umat Islam Indonesia pada umumnya...
Awas dan Easpadalah.. Inilah permainan baru yang dimotori peristiwa 911 tragedy Mew York 2001.. oleh para Pelaku dan Pemain yang sama... yaiti para Penjajah Kriminal Internasional... dan antek2 mereka..dan bayaran mereka... 
Komnas HAM itu bagian yang mendapatkan jatah..dana dari mereka2...??? Lihat sajalah sejarah mereka dan keberadaan mereka selama ini...??? 
Mereka hanya melakukan itu untuk golongan2 tertentu...!!!
Bagaimana Komnas HAM itu begitu garang dalam menghantam FPI dan membela Ahmadiyah dan Para Sekuler, AKKBB  dan Golongan2 Liberalis2 Barbar..!!! Tetapi begitu garang dan selalu mendiskreditkan Umat Islam dan FPI... dan Pihak2 yang anti para Penjajah Kriminal Internasional itu... 
Waspadalah... 
HAM itu juga bagian dari alat2 para Penjajah Kriminal Internasional... dengan selalu memilah dan memilih siapa sasaran dan siap harsu dibela.. sesuai pesasan Sang Tuan Besar dan Pemberi Dana...- Karena mereka hanya bisa hidup dengan cara2 seperti demikian..

Umat Islam harus tegak dengan kekuatan sendiri dan ikhlas memnegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia.. dasar Kebenaran Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW... Dan Tegakan Syariah Allah untuk Kebenaran-Keadilan dan Kemakmuran yang Terpercaya-Bebas dari MOLIMO [Maling- Madat- Mabok-Maen-Madon]... Bersihkan Pemerintahan dan para Aparat dan Pemimpin Negara dan Bangsa Indonesia dari kelemahan2 dan Penyakit2 kotor itu.. Serta Kuatkan jiwa2 Kejuangan dan Perjuangan dalam berbakti kepada Nusa-Bangsa-Negara dengan sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan dan keberkahan seluruh Umat Manusia dan semata-mata hanya karena Allah SWT saja. Inilah Jihad dan ijtihad serta Idad kita... dalam niyatan ikhlas dan lururs-kaffah dan taslim kepada Allah dan Rasulullah SAW...

HAM dan konco2 mereka adalah permainan dusta belaka...  Karena mereka hanyalah antek2 dan jaringan2 Penjajah Kriminal Internasional yang hanya mempermainkan Umat Islam.. 
HAM itu akan pasti berdusta bila untuk Kepentingan Umat Islam...  [ Lihatlah apa yang terjadi  di Palestina- Iraq-Afghanistan = Benarkah HAM berpihak kepada konsep2 dan slogan mereka selama ini...???!! Lihatlah apa yang terjadi di UN Securuty Council.. PBB???!! Lihatlah apa yang terjadi di HAM Internasioanl di Denhag..??!!
Semua Dusta.. dan selalu menzholimi Umat Islam...!!!

Bangkitlah para Ulama-dan semua kaum cendekia Islam- dan semua kaum terpelajar Islam dan semua Umat Islam.. Bersatulah dengan kokoh dalam posisi dan kondisi apapun Sdr2... 
Islam adalah segalanya... Islam dan perjuangan kebenaran Allah dan Rasulullah adalah segalanya.. Islam ala ya'lu wala yu'la alaih = Islam adalah segalanya = Islam harus menjadi pilihan yang diutamakan dan diunggulkan dari pada pilihan2 lainnya... . Inilah nawaetu kita untuk terus istiqomah dan terus berjuang... 



Kamis, 22 Sep 2011

Aparat Hanya Berdiri Menonton Saat Masjid & Ratusan Rumah Muslim Dibakar Salibis

AMBON (voa-islam.com) – Aparat keamanan baik TNI maupun Polri tidak melakukan pengamanan saat masjid dan ratusan rumah kampung Muslim dibakar perusuh Kristen pada insiden 9/11. Aparat hanya menonton meski warga sudah berteriak-teriak kepanikan.
Hal ini diungkapkan Ibu Sanni, bukan nama sebenarnya, saksi mata kerusuhan 9/11 (baca: 9 September 2011). Wanita berusia 40 tahun ini ini minta namanya dirahasiakan dengan alasan keamanan.
Bersama warga lainnya, Sanni pindah ke pengungsian karena rumahnya menjadi korban pembakaran Salibis dalam insiden 9/11. Bila sang suami yang menjabat sebagai Ketua RT di Kampung Warigin itu tidak berada di tempat pengungsian, Ibu Sanni menggantikan sang suami sebagai koordinator pengungsi.
Warga kampung Waringin, jelasnya, sudah lelah dan bosan jadi korban pembantaian para perusuh Salibis. “Kita sudah tiga kali, tidak tahu permasalahannya dari mana, kami jadi tumbal di situ,” ujarnya kepada voa-islam.com, Rabu (21/2011).
....Kita sampai berteriak-teriak di Mess TNI di depan Telkom itu, malah mereka berdiri dan cuma memandangi kami...
Ia menuturkan betapa susahnya berdampingan dengan kampung Kristen di Ambon. “Kita di sana itu kelurahan Wainitu kecamatan Nusaniwe,  itu berbatasan dengan Kudamati, Batu Gantong Dalam (desa Kristen), di sampingnya itu kan ada gereja Rehobot,” terangnya.
Sanni menuturkan, saat kejadian, warga Muslim sangat tidak siap bentrok. Berbeda dengan pihak Salibis yang sudah mempersiapkan diri untuk berperang. “Anak-anak (para pemuda, red.) banyak yang ditembak senapan cis (senapan angin, red). Seperti anak laki-laki saya juga kena di kaki dan kepalanya kena batu. Kita ini tidak ada persiapan apa-apa, berbeda dengan mereka (pihak Kristen, red),” paparnya. “Mereka pakai senapan cis, pakai sniper, tapi kalau kita? Kita tidak punya kekuatan. Dia bisa tembak dia punya persiapan, banyak itu anak-anak yang jadi korban,” tambahnya.
Warga Muslim, jelas Sanni, sangat menyesalkan tindakan aparat baik polisi maupun TNI yang tidak bertindak apapun untuk mengamankan warga dari serangan kelompok Kristen. Aparat hanya menjadi penonton yang baik saat insiden yang menghanguskan masjid dan ratusan rumah Muslim di Kampung Waringin.
“Sebenarnya saya bersama warga pengungsi di sini menyesalkan aparat, dari mulai Polisi atau TNI. Kita sudah berteriak-teriak tapi tak satu pun yang datang setelah berjam-jam kerusuhan terjadi,” kecamnya. “Kita sampai berteriak-teriak di Mess TNI di depan Telkom itu, malah mereka berdiri dan cuma memandangi kami. Kami sudah berteriak-teriak Pak, bagaimana Pak? Tapi tidak ada realisasi. Itu yang saya sesalkan,” imbuhnya.
...Sampai kapan pak timbul banyak korban. Saya hanya menggunakan baju yang menempel di badan saya saja, semuanya habis...
Ironinya, bantuan baru datang beberapa jam setelah kejadian. Tapi dua panser yang lewat, hanya lewat saja. Tak bisa berbuat apa-apa keluarga ketua RT itu pun hanya bisa menyelamatkan diri bersama baju satu-satunya yang menempel di badannya. “Kita sudah teriak, Pak. Sampai kapan pak timbul banyak korban. Saya hanya menggunakan baju yang menempel di badan saya saja, semuanya habis,” tuturnya geram.
Selain itu, warga merasa dianaktirikan aparat dalam konflik di Ambon. Pasalnya, aparat hanya siaga menjaga pihak Kristen. “Kenapa waktu bentrok di Batu Gantong Dalam dan Kudamati lima menit aparat langsung datang?” tukasnya.
Mewakili warganya, wanita koordinator pengungsi ini menuntut aparat agar mendirikan pos keamanan di Kampung Waringin. Karena tanpa adanya pos keamanan, sudah tiga kali warga Muslim jadi tumbal penyerbuan kelompok perusuh Kristen. “Kita sudah minta sejak tahun 1999 (konflik Ambon pertama, red), lalu minta lagi tahun 2004 (kerusuhan kedua, red) sampai ke 2011 ini tanpa ada realisasi,” jelasnya. “Jangan cuma di Wai (desa Kristen, red) saja  yang bisa bikin permanen, sementara kita (Waringin) tidak bisa bikin Pos.”
Sebagai solusi agar tidak menjadi korban pembantaian lagi, warga juga meminta tembok pembatas antara kampung Muslim dengankampung Kristen. “Pemerintah harus buat tembok pemisah. Terus kita juga minta sertifikat tanah sejak tahun 1999 itu tanpa penyelesaian sampai sekarang,” desaknya. [cuk/ahmed widad]

Temuan Komnas HAM terkait kerusuhan Ambon


Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) kemarin mengungkapkan temuan awal komisi itu terkait kerushan di Ambon baru-baru ini.



Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan ada pihak-pihak tertentu yang diduga sengaja memprovokasi  warga di Ambon, Maluku, untuk melakukan kerusuhan mematikan pada 11 September yang menewaskan tujuh orang dan 65 lainnya terluka.
“Tim kami ditugaskan ke Ambon dan baru saja selesai satu minggu penyelidikan. Temuan awal kami menunjukkan bahwa kerusuhan mungkin meletus karena provokasi oleh pihak-pihak tertentu, “kata Ifdhal seperti dikutip The Jakarta Post.
Bentrokan fatal pada Minggu (11/9) itu juga menyebabkan sekitar 200 bangunan rusak.
Kerusuhan itu terjadi setelah SMS rumor beredar yang intinya menyebutkan bahwa seorang tukang ojek beragama Islam yang tewas dalam kecelakaan di jalan, sebenarnya disiksa sampai mati oleh kelompok Kristen.
“Rumor itu palsu, karena kami telah mewawancarai dokter forensik yang melakukan otopsi pada tubuh pengemudi ojek itu. Dokter mengatakan kepada kami bahwa pria itu tewas akibat kecelakaan  dan tidak ada indikasi penyiksaan,” kata Ifdhal.
Komnas HAM belum menyimpulkan siapa dalang dari kerusuhan dan apakah itu bermotif politik atau tidak. “Investigasi kami masih berlangsung,” kata Ifdhal.
Dia menambahkan bahwa Komnas HAM menyesalkan lambannya upaya polisi dalam merespon dan mencegah terjadinya bentrokan tersebut.
Komnas HAM, kata dia, akan mencari tahu apakah ketidakmampuan polisi untuk mengatasi kerusuhan itu karena kurangnya kekuatan dari personil dan sumber daya atau kebodohan yang disengaja.
Pada tahun 1999-2002 Ambon dilanda konflik Muslim-Kristen yang menyebabkan ribuan orang tewas dan ratusan ribu pengungsi.


Mobile Read

Publish : Selasa, 20 September 2011
Penulis : -
Editor : -
Terakhir diperbaharui (Jumat, 23 September 2011 13:33)
AMBON voa-islam.com) – Pernyataan Ketua Komnas HAM yang menyatakan kerusuhan Ambon dipicu oleh berita bohong tentang kematian tukang ojek muslim Darmin Saiman, sangat disayangkan oleh warga Ambon.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengklaim kerusuhan Ambon 9/11 yang menewaskan 7 orang serta pembakaran masjid dan ratusan rumah Muslim di Ambon, dipicu oleh provokasi bernuansa SARA.
“Our preliminary findings show that the riot might have erupted due to provocation by certain parties,” kata Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim seperti dikutip The Jakarta Post, Selasa (20/9/2011). (Temuan awal kami menunjukkan bahwa kerusuhan pecah karena provokasi oleh pihak-pihak tertentu).
Provokasi yang dimaksud Ifdhal adalah kabar bohong tentang pembunuhan tukang ojek Muslim Darmin Saimin Gunung Nona, kampung Kristen. Kematian Darmin, jelas Ifdhal, bukan dibunuh, melainkan terluka parah akibat kecelakaan di jalan.
 “The rumor was false, as we have interviewed the forensic doctor who conducted the autopsy on the ojek driver’s body. The doctor told us he confirmed that the man had been killed due to severe injuries he had suffered during a road accident, but there were no indications of torture,” kata Ifdhal kepada The Jakarta Post dalam berita bertajuk “SMS Hoax May Have Started The Fatal Fray.” (Rumor itu palsu, karena kami telah mewawancarai dokter forensik yang melakukan otopsi pada tubuh pengemudi ojek itu. Dokter forensik menegaskan bahwa pria itu telah tewas akibat luka parah ia menderita selama kecelakaan di jalan, dan tidak ada indikasi penyiksaan).
Pernyataan Ketua Komnas HAM itu dinilai sebagai kebohongan oleh warga Muslim Ambon. Ahmad Latuconsina, nama alias, warga Kampung Waringin yang mengenal betul sosok Darmin Saiman, membantahnya dengan memaparkan fakta-fakta bahwa Darmin betul-betul tewas di bunuh di kampung Kristen basis RMS.
“Komentar Komnas HAM itu hanya untuk meredam gejolak masyarakat Muslim. Padahal faktanya tidak seperti itu. Kami warga di sini berani memastikan bahwa Saudara Darmin itu memang mati dibunuh. Di belakangnya (punggung, red) ada luka tusuk, ada foto-foto lengkap. Bajunya juga ada belas tusukan,” paparnya kepada voa-islam.com, Kamis (22/9/2011). “Terus sekujur badannya biru-biru lebam. Kalau memang dia kecelakaan murni, mana ada lebam-lebam seperti itu?” tambahnya.
Badan lebab dan ada bekas luka tusuk di punggung Darmin Saimin. Jika ia tewas kecelakaan atau menabrak pohon seperti kata media, mungkinkah pohon bisa melakukan penusukan?
Latuconsina juga pernyataan Komnas HAM yang dinilai tidak netral dan subjektif. Ia mengimbau agar Komnas HAM bijak dan mau mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya, untuk menciptakan perdamaian di Ambon. “Jangan seperti itulah Komnas HAM. Mereka harus berdiri di tengah. Kalau salah ya bilang aja salah. Masyarakat ini kan nggak pingin sesuatu yang busuk itu ditutup-tutupi terus. Dari tahun 1999 sampai 2011 ini mana ada kejadian sebenarnya yang diungkap? Makanya perdamaian yang terjadi ya hanya perdamaian yang semu saja, karena kejadian yang sebenarnya tidak pernah diungkap,” jelas tokoh pemuda Waringin yang turut mengungsi karena rumahnya di Kampung Waringin ludes dibakar dalam insiden 9/11 itu.
Dua kaos dalam Darmin yang berwarna putih berubah jadi merah karena mandi darah. Perhatikan, ada lubang bekas tusukan benda tajam di kedua kaos itu.
Latuconsina menilai, dibalik klaim keliru soal penyebab kematian Darmin Saiman itu sebagai upaya lari dari tanggungjawab.

“Mereka lari dari tanggungjawab dengan menyatakan Darmin murni kecelakaan. Karena kalau Darmin dinyatakan dibunuh, maka aparat keamanan harus mencari pelaku pembunuhnya,” jelasnya. “ Mencari pembunuhnya di Gunung Nona atau Kuda Mati kan susah. Basisnya RMS itu,” pungkasnya.
Baju luar Darmin berwarna hitam inipun penuh darah. Terlihat ada bekas tusukan benda tajam. Berarti ada orang yang menusuk yang mengakibatkan tewasnya Darmin.
Kontroversi penyebab kematian tukang ojek Muslim Darmin Saiman ini mencuat sejak awal pecahnya insiden Ambon 9/11.
Sebagaimana diberitakan voa sebelumnya, umat Islam meragukan rilis pihak kepolisian yang menyatakan bahwa pemicu kerusuhan di Ambon adalah kematian seorang tukang ojek Muslim akibat kecelakaan.
Kaos putih Darmin yang berubah jadi merah bersimbah darah, dan adanya lubang bekas tusukan. Masihkah media mengklaim Darmin tewas kecelakaan?
FUI secara terang-terangan meragukan keterangan aparat Kepolisian yang menyatakan bahwa pemicu bentrokan itu adalah peristiwa kecelakaan tunggal Darmin Saiman, seorang tukang ojek Muslim. Menurut Sekjen FUI, Muhammad Al-Khaththath, keraguan itu juga dirasakan oleh keluarga almarhum Darmin Saiman di Ambon. (baca: Inilah Bukti Tukang Ojek Muslim di Ambon itu Dibunuh, Bukan Kecelakaan!!)
Senada itu, MER-C Indonesia (Medical Emergency Rescue Committee). Menurut Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis SpOT, banyak fakta dan kejanggalan dalam keterangan yang disampaikan polisi. Yang paling janggal adalah kondisi kepala almarhum Darmin Saiman yang pecah, sementara helmnya masih utuh. Selain itu, ada luka tusuk di punggung semakin memperkuat dugaan bahwa tukang ojek Muslim itu bukan meninggal karena kecelakaan, tapi dibunuh dengan sengaja.
Karena itu, Joserizal mendesak pihak kepolisian agar melakukan otopsi ulang dan menjelaskan kepada publik dan media dengan sejujur-jujurnya, tentang apa yang sesungguhnya terjadi. [taz/ahmed widad]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar