Jumat, 14 Desember 2012

TERNYATA RASULULLAH SAW HANYA PUNYA SATU2NYA PUTERI...YAKNI FATHIMAH AZAHRA...??........Satu-satunya putri Khadijah dengan Rasulullah adalah Fatimah az-Zahra as ! >> Siapa pulakah Zainab, Rugayah dan Ummu Kultsum? Zainab dan Ruqayah, keduanya adalah putri dari Halah binti Khuwailid saudari Khadijah as yang ketika kedua suami Halah meninggal, perawatan keduanya berada di tangan Khadijah.>>

Satu-satunya putri Khadijah dengan Rasulullah adalah Fatimah az-Zahra as ! 

Siapa pulakah Zainab, Rugayah dan Ummu Kultsum? 

Zainab dan Ruqayah, keduanya adalah putri dari Halah binti Khuwailid saudari Khadijah as yang ketika kedua suami Halah meninggal, perawatan keduanya berada di tangan Khadijah.

Adakah Putri Rasul Selain Fatimah as?
Muhammad hanya mempunyai 1 anak (perempuan) yang bernama Fatimah
Konon, sebelum menjadi istri Rasul, Khadijah as adalah merupakan janda dari dua orang yang bernama ‘Atiq bib ‘Aizd bin Abdullah al-Makhzumi dan Abu Halah at-Tamimi dan dari pernikahan tersebut, Khajidah as memiliki dua putri yang bernama Zaenab dan Ruqayah, dan dua putri lainnya dari Rasulullah yang bernama Ummu Kultsum dan Fatimah az-Zahra. Benarkah?

Sejumlah sejarawah menegaskan bahwa Khadijah adalah perawan (belum menikah) ketika menikah dengan Rasulullah saw. Abu al-Qasim al-Kufi mengatakan; para sejarawah dan penukil berita bahwa tidak tersisa dari pembesar Quraisy –bangsawan dan orang kaya- melainkan seluruhnya mengajukan lamaran kepada Khadijah, tetapi semuanya ditolak. Dan ketika lamaran Rasul diterima, marahlah para wanita Quraisy dan dengan nada tinggi berkata kepadanya; para pembesar Quraisy telah melamarmu, tapi enkau tolak dan engkau terima lamaran Muhammad, anak yatim asuhan Abu Thalib, miskin dan tidak memiliki harta. Isbahani menambahkan; “Khadijah adalah seorang perawan (sebelum dan ketika menikahi Rasul).[7]

Lantas siapakah ‘Atiq bib ‘Aizd bin Abdullah al-Makhzumi dan Abu Halah at-Tamimi? Khuwailid bin Asad memiliki dua putri yang bernama Halah dan Khadijah. Halah pada masa jahiliyah menikah dengan ‘Atiq bib ‘Aizd bin Abdullah al-Makhzumi dan dari pernikahan tersebut lahirlah Zainab dan Ruqayah.

Beberapa alasan bisa dikemukan untuk menguatkan riwayat di atas. Alasan yang pertama adalah, al-Makhzumi dan at-Timimi sebenarnya adalah orang yang sama yang memiliki dua panggilan, bukan dua pribadi yang berbeda.

Di antara kebiasaan orang Arab dahulu, memanggil seseorang dengan menambahkan kata Abu kepada sifat seseorang, atau anak, atau istrinya kemudian menjadi panggilan bagi orang tersebut. Al-Makhzumi memiliki panggilan lain Abu Halah dari nama istrinya, sedangkan sejarah juga mencatat bahwa Abu Halah juga panggilan lain dan ai-Tamimi, di sisi lain, tidak ada satupun uraian sejarah yang menjelaskan siapakah di antara keduanya yang menjadi suami pertama dan kedua.[8]

Siapa pulakah Zainab, Rugayah dan Ummu Kultsum? Zainab dan Rugayah, keduanya adalah putri dari Halah binti Khuwailid saudari Khadijah as yang ketika kedua suami Halah meninggal, perawatan keduanya berada di tangan Khadijah. Sedangkan satu-satunya putri Khadijah dengan Rasulullah adalah Fatimah az-Zahra as.

Beberapa alasan yang menguatkan pendapat ini adalah sebagai berikut:

a. Banyak riwayat yang menyebutkan kedekatan khusus dan hubungan erat antara Rasulullah dengan putrinya Fatimah as. Rasulullah bersabda: “Fatimah Ibu bagi bapaknya”[9] Ibnu Abbas meriwayatkan; “setiap kali rasulullah kembali dari bepergian akan mendatangi dan mencium Fatimah”[10] Dan ketika turun ayat Tathhir, selama enam bulan Rasulullah senantiasa mendatangi rumah putrinya Fatimah as dan mengucapkan salam Assalamu ‘alikum ya Ahla Baiti an-Nubuwah.[11]

Hadits-hadits yang menerangkan hubungan kedua ayah-putri ini berjumlah ratusan, tapi tidak ada satupun hadis yang menyampaikan hubungan Rasul dengan Zainab dan Ruqayah. Sejarah juga mencatat bagaimana peran Fatimah dalam mendukung dan membela dakwah Rasulullah bahkan pada saat ia masih belia. Lantas di manakah “kedua saudari” Fatimah?

b. Pada masa hidup Rasul sampai kekhalifahan Utsman, para sahabat tidak pernah menyebutkan bahwa dengan menikahi Zainab dan Ummu kulzum merupakan sebuah keutamaan baginya dan tidak para sahabat ketika itu menyebut hal yang sama terhadap Utsman. Juga tidak ada satupun pihak baik dari pihak yang melindungi Utsman maupun pihak pembunuh Utsman yang menyebut Dzun Nurain sebagai keutamaannya ketika peristiwa Fitnah ad-Dar terjadi.

Belakangan terbukti, bahwa gelar Dzun Nurain bagi Utsman baru pertama kali dikenal setelah pembunuhan atasnya terjadi, yakni pada masa pemerintahn Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

c. Ketika Imam Ali as menyusul hijrah ke Madinah. Bersamanya Ummu Aiman dan rombongan para wanita yang semuanya bernama Fatimah beserta orang-orang lemah kaum mukmin. Di manakah Zainab, Ruqayah dan Ummu Kulzum? 
Apakah mereka dilahirkan di Madinah? 
Bagaimana mungkin! Bukankah Khadijah wafat sebelum hijrah ke Madinah?

[7] . Dalail an-Nubuwah: 178
[8] . al-Awail al-Askari: 1/159
[9] . Usudul Ghabah: 7/220
[10] . Ibid: 7/224, Majma’ as-Zawaid: 8/42
[11] . Sunan at-Tirmizi: 2/29, Tafsir at-Tabari 5/22, Musnad Ahmad: 2/252
.
Duka Putri Tunggal Nabi Suci Saww – Mengenang Haul Sayyidah Fatimah

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ ، عْن أَبِيهِ أَسْلَمَ ؛ أَنَّهُ حِينَ بُويِعَ لأَبِي بَكْرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، كَانَ عَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ يَدْخُلاَنِ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَيُشَاوِرُونَهَا وَيَرْتَجِعُونَ فِي أَمْرِهِمْ ، فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى فَاطِمَةَ ، فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَاللهِ مَا مِنْ الْخَلْقِ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيك ، وَمَا مِنْ أَحَدٍ أَحَبَّ إِلَيْنَا بَعْدَ أَبِيك مِنْك ، وَأَيْمُ اللهِ ، مَا ذَاكَ بِمَانِعِيَّ إِنَ اجْتَمَعَ هَؤُلاَءِ النَّفَرُ عِنْدَكِ ، أَنْ آمُرَ بِهِمْ أَنْ يُحَرَّقَ عَلَيْهِمَ الْبَيْتُ قَالَ : فَلَمَّا خَرَجَ عُمَرُ جَاؤُوهَا ، فَقَالَتْ : تَعْلَمُونَ أَنَّ عُمَرَ قَدْ جَاءَنِي ، وَقَدْ حَلَفَ بِاللهِ لَئِنْ عُدْتُمْ لَيُحَرِّقَنَّ عَلَيْكُمَ الْبَيْتَ ، وَأَيْمُ اللهِ ، لَيَمْضِيَنَّ لِمَا حَلَفَ عَلَيْهِ ، فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ  فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ ، فَانْصَرَفُوا عنها ، فَلَمْ يَرْجِعُوا إِلَيْهَا ، حَتَّى بَايَعُوا لأَبِي بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam Ayahnya yang berkata bahwasanya ketika bai’at telah diberikan kepada Abu Bakar sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali dan Zubair masuk menemui Fatimah binti Rasulullah, mereka bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Ketika berita itu sampai kepada Umar bin Khaththab, ia bergegas keluar menemui Fatimah dan berkata ”Wahai Puteri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] demi Allah tidak ada seorangpun yang lebih kami cintai daripada ayahmu dan setelah ayahmu tidak ada yang lebih kami cintai dibanding dirimu tetapi demi Allah hal itu tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk ku perintahkan agar membakar rumah ini tempat mereka berkumpul”. Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berkata “Tahukah kalian bahwa Umar telah datang kepadaku dan bersumpah jika kalian kembali ia akan membakar rumah ini tempat kalian berkumpul. Demi Allah ia akan melakukan apa yang ia telah bersumpah atasnya jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku”. Maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya sampai mereka membaiat Abu Bakar [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 14/567 no 38200 dengan sanad shahih sesuai syarat Bukhari Muslim]
Riwayat yang dibawakan adalah sahih, dan di dapati kedua laman itu langsung tidak menyentuh bab sanadnya, yang disentuh dan cuba ditakwil, hanyalah matannya agar sesuai dengan keyakinan mereka. Bantahan mereka adalah yang di quote.
Poin pertama Alfanarku membawa 4 hujah bantahan, bahkan mereka menyerang dakwaan Syiah sendiri. Kami katakan samada menyerang dakwaan Syiah atau Sunni, itu tidak memberi kesan sedikitpun kepada kami. Kami tidak akan berbasa basi mempertahankan para sahabat dan meninggalkan Ahlulbait(as), maaf, itu bukan akhlak kami. Kami meyakini kebenaran adalah dengan berpegang teguh kepada Ahlulbait(as), dan setiap sahabat yang menyakiti Ahlulbait adalah pasti salah, tanpa perlu mengira apa pun alasan naif mereka.
Saat Bai’at umat kepada Abu Bakar, diberitakan Ali dan Zubair sedang berada di rumah Fatimah membicarakan tentang urusan mereka, dan hal ini yang terdengar oleh Umar. Dan hal ini adalah sesuatu yang keliru menurut Umar, karena seharusnya mereka segera ikut membai’at Abu Bakar dimana hampir semua kaum muslimin telah membai’at Abu Bakar hari itu.
Jawaban: Jika mahu berpendapat bahawa Umar terkeliru, silakan sahaja, kami secara peribadi melihat dari sisi Ahlulbait(as) bahawa, jika Ali dan Fatimah menganggap sahnya pembaiatan terhadap Abu Bakar, maka sudah tentu tidak perlu mereka berdua mengadakan pertemuan dengan para sahabat lain di rumah beliau. Terjadinya pertemuan itu adalah menunjukkan  Imam Ali(as)  dan Sayyidah Zahra(sa) menganggap apa yang dilakukan oleh Umar dan pengikutnya adalah yang keliru sebenarnya. Seharusnya Abu Bakar, Umar dan kaum Ansar yang lainnya tidak terburu-buru membuat keputusan dan meninggalkan Ahlulbait(as) dalam hal ini. 
Siapakah yang menjadi pedoman dan pagangan umat Islam selepas kewafatan Rasul Akram, yang dipesan oleh baginda di dalam hadis Tsaqalain? 
Tidak lain adalah Ahlul Bait, tetapi mereka malah menuruti pendapatnya sendiri dan meninggalkan Ahlul Bait bahkan setelah itu memaksakan pandangan mereka dalam bentuk ancaman kepada Ahlul Bait. Dimana akhlak kalian wahai yang mengaku mencintai Ahlul Bait?
Hujah kedua alfanarku menunjukkan lagi pandangan yang skizofrenik dan lemahnya pemahaman, tidak lain itu kerana kebenciannya yang dalam terhadap Syiah. Jika kebencian memenuhi kepala maka akal tertutup dan nafsu yang berbicara
Orang yang paling dicintai Umar setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah Fatimah, ini menggugurkan klaim syi’ah secara telak, yaitu tidak mungkin seseorang akan menyakiti seseorang yang paling dia cintai
Kami jawab : 
Di mana letaknya hujah perkataan ini? 
Apa dia lupa, yang Syiah dan Sunni sama-sama mengakui mencintai Ahlul Bait? 
Apakah alfanarku itu tidak dapat membezakan antara dakwaan dan fakta? 
Siapa sahaja boleh mengaku Ahlulbait(as) adalah yang paling mereka cintai, tetapi apa gunanya pengakuan ini jika perbuatannya jelas menyakiti Ahlulbait(as)?
Faktanya Umar memang mengancam membakar rumah Ahlul Bait [berdasarkan riwayat shahih di atas] ada tidaknya pengakuan atau dakwaan Umar itu tidak menafikan ancaman yang ia lakukan. Jika Umar memang benar-benar mencintai Ahlulbait(as) bukan begitu caranya. JIka kita mahu mengingatkan atau menasihati orang yang kita cintai [apalagi kita hormati] kita pasti akan menggunakan tutur kata yang lemah lembut bukan ancaman yang menyakitkan. Ini hal sederhana tetapi tidak difikirkan oleh alfanarku karena dirinya disibukkan dengan apa yang mereka sebut sebagai “dakwaan Syiah”.
Kita terus ke poin ketiga yang menunjukkan lemahnya ilmu dan penuh dengan basa-basi
Umar yang memiliki sifat yang tegas dan keras mengingatkan Ali dan Zubair melalui Fatimah, dan sama sekali tidak sedang mengancam pribadi Fatimah, hal ini bisa diketahui dari perkataan Umar kepada Fatimah “maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah tersebut bersama mereka yang ada di dalamnya” kata yang dipakai  ‘Alaihim’ dan bukan ‘Alaikum’ ” أن يحرق عليهم البيت ”. Dan kenyataannya Umar tidak pernah melakukan apa yang diucapkan-nya tersebut, Dan kenyataannya Ali dan Zubair sedang tidak ada di rumah Fatimah saat itu.
Kami jawab : Begitulah yang akan terjadi jika seseorang itu tidak memperhatikan lafaz arabnya dengan baik. Riwayat di atas menunjukkan bahawa Ali dan Zubair menemui Sayyidah Fathimah, dalam salah satu riwayat shahih Umar pernah berkata [dalam hadis Saqifah yang panjang]

وإنه كان من خيرنا حين توفى رسول الله صلى الله عليه وسلم إن عليا والزبير ومن تبعهما تخلفوا عنا في بيت فاطمة

Bahwa di antara berita yang sampai kepada kami ketika Rasulullah(sawa)wafat adalah Ali, Zubair dan orang-orang yang mengikuti keduanya menyelisihi kami di rumah Fathimah [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 1/164 dengan sanad shahih]
Ketika itu yang terlibat dengan pertemuan itu adalah Ali, Zubair dan orang-orang yang bersama mereka di mana mereka pun bermusyawarah dengan Sayyidah Fathimah di kediaman Sayyidah Fathimah sendiri. Umar tidak senang dengan khabar ini dan mengancam dengan kata-kata

وَأَيْمُ اللهِ ، مَا ذَاكَ بِمَانِعِيَّ إِنَ اجْتَمَعَ هَؤُلاَءِ النَّفَرُ عِنْدَكِ ، أَنْ آمُرَ بِهِمْ أَنْ يُحَرَّقَ عَلَيْهِمَ الْبَيْتُ

“Demi Allah hal itu tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk ku perintahkan agar membakar rumah ini tempat mereka berkumpul”
Alfanarku berbasa-basi bahwa Umar tidak mengancam Sayyidah Fathimah [alaihis salam] karena lafaz yang digunakan ‘Alaihim bukan ‘Alaikum. Tentu saja pembelaan ini mandul, ia tidak memperhatikan bahawa lafaznya adalah ‘Alaihimul bait” yang ertinya rumah tempat mereka berkumpul dan rumah itu adalah rumah Sayyidah Fathimah. Jadi lafaz itu menunjukkan Umar mengancam akan membakar rumah Sayyidah Fathimah kalau orang itu masih berkumpul di sisi Sayyidah Fathimah. Apa kalau ada orang yang mengancam akan membakar rumah anda maka ancaman itu bukan tertuju pada anda?
Mengenai perkataan kenyataannya Umar tidak pernah melakukan apa yang diucapkannya, itu adalah disebabkan oleh kebijaksanaan Sayyidah Fathimah sendiri yang memerintahkan agar mereka yang berkumpul di rumahnya iaitu Zubair dan orang-orang yang bersamanya untuk tidak lagi menemuinya atau kembali ke rumahnya. Seandainya mereka masih kembali dan Sayyidah Fathimah membiarkannya maka mungkin pembakaran itu akan terjadi sebagaimana Sayyidah Fathimah sendiri yang berkata

وَأَيْمُ اللهِ ، لَيَمْضِيَنَّ لِمَا حَلَفَ عَلَيْهِ ، فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ  فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ

” Allah ia akan melakukan apa yang ia telah bersumpah atasnya jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku”
Poin keempat kembali menunjukkan lemahnya ilmu, alfanarku mempermasalahkan soal baiat terhadap Abu Bakar, ia berkata
Fakta yang begitu jelas dari riwayat tersebut adalah Ali dan Zubair melakukan bai’at kepada Abu Bakar di hari pembai’atan kaum Muslimin, hal ini juga menggugurkan klaim syi’ah bahwa Ali hanya baru memba’iat Abu Bakar setelah 6 bulan setelah kewafatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam
Kami jawab : Orang itu telah salah dalam mempersepsi riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas. Tidak ada keterangan dalam riwayat di atas kalau Ali dan Zubair berbaiat kepada Abu Bakar pada hari pembaiatan kaum Muslimin. Lafaz yang ia jadikan hujjah adalah

فَانْصَرَفُوا عنها ، فَلَمْ يَرْجِعُوا إِلَيْهَا ، حَتَّى بَايَعُوا لأَبِي بَكْرٍ

“Maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya sampai mereka membaiat Abu Bakar”
Hujjah pertama : Pada lafaz ini tidak ada keterangan peristiwa baiat yang dimaksud langsung terjadi setelahnya. Lafaz “hatta” [sampai] di atas adalah penunjukkan waktu bahawa mereka tidak lagi menemui Sayyidah Fathimah sehingga mereka membaiat Abu Bakar, mengenai waktunya, boleh jadi sebentar, beberapa lama, nanti atau dalam waktu lama. Tidak ada keterangan yang menyebutkan lamanya waktu itu. Lafaz itu sama halnya dengan lafaz “dia tidak akan kembali ke rumah sampai dia mendapatkan wang seratus juta”. Apakah lafaz ini menunjukkan setelah itu dia akan segera mendapatkan wang 100 juta itu?. Tidak, boleh saja satu bulan, dua bulan, enam bulan atau satu tahun.
Hujjah kedua : perkataan itu tidak tertuju pada Imam Ali, perhatikan lafaz “maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya”. Siapakah mereka yang dimaksud?. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas, mereka yang dimaksud adalah mereka yang disuruh pergi oleh Sayyidah Fathimah

فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ  فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ

“Jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku”
Sayyidah Fathimah berkata “Jangan kalian kembali menemuiku”. Perkataan ini tidak mungkin ditujukan kepada Imam Ali tetapi ditujukan kepada Zubair dan orang-orang yang mengikutinya yang ikut berkumpul di rumah Sayyidah Fathimah. Jadi mereka yang dinyatakan dengan lafaz “sampai mereka membaiat Abu Bakar” adalah mereka yang diusir dari rumah Sayyidah Fathimah. Imam Ali bukan termasuk yang diusir dari rumah Sayyidah Fathimah, itu kan rumah beliau sendiri. Mengenai baiat Imam Ali terhadap Abu Bakar itu telah disebutkan dalam hadis Shahih Bukhari riwayat Aisyah bahwa itu terjadi setelah Sayyidah Fathimah wafat iaitu setelah enam bulan.
Jika orang syi’ah ingin berhujjah dengan riwayat di atas untuk mendiskreditkan Umar, maka mau ga mau mereka juga harus menerima beberapa fakta yang terekam dalam riwayat tersebut yang menjatuhkan klaim-klaim mereka.
Orang ini tidak rela jika ada orang yang mendiskreditkan Umar tetapi ketika ada orang yang mengancam dan menyakiti Ahlul Bait mereka berkata “Itu memang ada ajarannya dari Nabi”. Sungguh betapa anehnya mereka ini. Kami sarankan pada mereka agar mempelajari bahasa arab dengan lebih baik agar  tidak salah menafsiri dan membantah orang dengan salah tanggapnya itu.
Mungkin akan ada yang menjawab, bahwa mengenai pembai’atan Imam Ali kepada Abu Bakar dilakukan setelah 6 bulan berdalilkan riwayat Bukhari dari Aisyah, Kita jawab, berarti riwayat di atas keliru, kalau begitu tidak usah menjadikan riwayat tersebut sebagai dalil sama sekali atau kita jawab, apa yang diriwayatkan Aisyah dalam shahih Bukhari adalah apa yang Aisyah ketahui mengenai bai’at Ali, bisa jadi Aisyah tidak mengetahui bahwa Ali sudah memba’iat Abu Bakar di awal-awal, dan bai’at Ali pada bulan ke enam adalah bai’at beliau kedua untuk mengclearkan permasalahan.
Riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas tidak bertentangan dengan riwayat baiat Imam Ali dalam Shahih Bukhari sebagaimana yang telah kami jelaskan. Riwayat Aisyah tersebut shahih dan tidak ada istilah baiat kedua, itu cuma istilah yang dibuat-buat, tambahanpula jika memang Imam Ali sudah membaiat di depan orang banyak maka permasalahan apa lagi yang perlu dipermasalahkan sehingga perlu ada baiat kedua lagi di depan orang banyak pula. Cuma orang yang lemah akalnya yang berkata begitu.

Aisyah tidaklah menyendiri dalam pernyataan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan. Dalam hadis shahih Bukhari soal baiat Imam Ali itu terdapat pengakuan Abu Bakar sendiri bahawa Imam Ali memang tidak pernah membaiatnya selama enam bulan. Aisyah berkata

فَلَمَّا صَلَّى أَبُو بَكْرٍ الظُّهْرَ رَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَتَشَهَّدَ وَذَكَرَ شَأْنَ عَلِيٍّ وَتَخَلُّفَهُ عَنْ الْبَيْعَةِ وَعُذْرَهُ بِالَّذِي اعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ

Ketika Abu Bakar telah shalat zhuhur, ia naik ke mimbar mengucapkan syahadat dan menyebutkan masalah Ali dan ketidakikutsertaannya dari baiat dan alasannya, meminta maaf padanya kemudian beristighfar [Shahih Bukhari 5/139 no 4240 & 4241]

Jadi apa yang dikatakan Aisyah adalah apa yang ia dengar dan saksikan dari pengakuan Abu Bakar ra [ayahnya] sendiri. Adakah hujjah yang lebih kuat dari itu? Abu Bakar sendiri mengakui bahawa Imam Ali memang tidak membaiat dirinya. Jadi dari mana muncul istilah baiat pertama? Itulah akibat jika orang membaca hadis tidak secara mendalam dan hanya copy paste hujjah yang suka mentakwil dan mencari-cari dalih.
Mungkin akan ada yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Umar dengan memperingatkan Ali dan Zubair dengan keras  saat itu adalah perbuatan yang buruk dan tidak berdasar, kita jawab bahwa Umar berlaku tegas seperti itu bisa kita pahami karena memang terdapat ajaran dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam :“Barang siapa datang kepada kalian, sedang ketika itu urusan kalian ada pada satu orang, kemudian ia ingin membelah tongkat kalian atau memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah ia.” Dalam riwayat lain: “Pukullah ia dengan pedang, siapa pun orangnya”. مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمْيْعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، فَأَرَادَ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ ؛ فَاقْتُلُوْهُ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : فَاضْرِبُوْهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ.
Shahîh. HR Muslim (no. 1852) dari Sahabat ‘Arjafah Radhiyallahu ‘anhu.
Justru dengan hadis di atas alfanarku ini mahu menyatakan bahawa jika Ali dan Zubair ingin memecah belah jama’ah kaum muslimin maka mereka layak untuk dibunuh. 

Kita kembalikan perkataan ini kepadanya, kenyataan ini mendiskreditkan Ali dan Zubair atau tidak? 

Jangan terus berbicara kalau tidak dapat menjaga perkataan. Apa buktinya Imam Ali mahu memecah belah kaum muslimin? 

Bukankah khabar tersebut baru sampai kepada Umar? 

Bukankah ada baiknya Umar tabyyun terlebih dahulu? 

Apakah Ali dan Zubair itu orang arab badui yang perlu pakai ancam mengancam? 

Mengapa Umar tidak menasihati mereka dengan hadis yang dikutip alfanarku? 

Apakah ada disebutkan Umar mahu membunuh Ali dan Zubair? 

Lantas mengapa Umar malah mahu membakar rumah Sayyidah Fathimah? 

Bahagian mana dari hadis yang dikutip alfanarku yang menyebutkan soal bakar membakar.

Dan maaf alfanarku, seolah-olah anda lupa Umar itu sedang berbicara dengan siapa?. Sayyidah Fathimah yang merupakan puteri kesayangan Rasulullah(sawa) Sayyidah wanita di surga, seorang ahlul bait yang disucikan dan menjadi pegangan umat islam. Antara Umar dan Sayyidah Fathimah terdapat kedudukan yang jauh berbeza. Jelas sekali, sangat tidak layak Umar berkata seperti itu kepada Sayyidah Fathimah apapun alasan naïf yang anda buat untuk membela Umar. Tidak pernahkah anda mendengar hadis ini?

حدثني أبو معمر إسماعيل بن إبراهيم الهذلي حدثنا سفيان عن عمرو عن ابن أبي مليكة عن المسور بن مخرمة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنما فاطمة بضعة مني يؤذيني ما آذاها

Telah menceritakan kepadaku Abu Ma’mar Ismail bin Ibrahim Al Hudzaliy telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Ibnu Abi Mulaikah dari Miswar bin Makhramah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda“sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari diriku, menyakitiku apa saja yang menyakitinya” [Shahih Muslim 4/1902 no 2449]

Jadi akhlak atau sikap kepada Sayyidah Fathimah adalah akhlak dan sikap kepada Nabi [sawa]. Menyakiti Fathimah bererti menyakiti Nabi [sawa]. Mengancamnya bererti sama saja dengan mengancam Nabi [sawa]. Anggap saja Umar memang punya alasan seperti yang alfanarku katakan tetapi apakah memang harus dengan ancaman seperti itu? Apa Umar tidak memiliki cara lain sehingga ancaman membakar itu adalah cara satu-satunya yang ia miliki?. Apakah dengan Nabi [sawa] Umar akan bersikap seperti itu? Kalau Umar berbicara dengan baik kepada Nabi [sawa] maka apa salahnya berbicara dengan baik kepada Sayyidah Fathimah [sa] dan tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakiti beliau.

Anda alfanarku hanya terjebak di dalam kebencian anda kepada Syiah dan mengkait-kaitkan kami dengan Syiah. Seolah-olah kami disini sedang melaknat dan mengutuk Umar. Ketahuilah kami tidak pernah melakukan hal itu, kami hanya menunjukkan bahawa tindakan Umar itu salah dan tidak baik. Kami di sini menyampaikan pembelaan kami terhadap Ahlul Bait. Perkara anda yang merasa sahabat Umar direndahkan itu adalah persepsi anda sendiri. Bukankah anda berpandangan sahabat itu tidak maksum tetapi anehnya sikap anda seolah tidak pernah terima kalau sahabat Umar melakukan kesalahan. Pembelaan yang anda buat hanya menunjukkan sikap yang tidak baik kepada Ahlul Bait, tanpa anda sedari anda telah merendahkan Ahlul Bait dengan menuduh mereka memecah belah kaum muslimin. Na’udzubillah

Kami lanjutkan bantahan terhadap orang yang menyebut dirinya sebagai “pencari kebenaran” alangkah baiknya jika memang demikian. Setelah kami baca gaya bantahannya hanya ikut-ikutan bergaya  ala alfanarku
Ali r.a dan Zubair r.a agak lewat dalam memba’aiah Abu Bakar. Berita ini menyebabkan Umar r.a risau dan menyebabkan dia datang ke rumah Fatimah r.a untuk memberikan ancaman kepada mereka. Umar r.a khuatir mereka akan menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam
Jika orang ini mahu berpendapat seperti alfanarku, ya silakan, tetapi perhatikan dan fikirkan apakah hanya dengan “kekhawatiran” cukup untuk membuat Umar layak untuk mengancam membakar rumah Ahlul Bait? Seperti yang kami katakan, jika anda dapat mencari seribu alasan sekalipun untuk mempertahankan Umar, itu masih tetap membuat beliau tidak layak mengancam Ahlul Bait. Tidak bolehkah Umar datang dan berbicara dengan baik kepada Sayyidah Fathimah menunggu Ali, Zubair dan orang-orang yang mengikuti mereka?
Tidak bolehkah Umar untuk tidak mengeluarkan ancaman mahu membakar rumah Sayyidah Fathimah. Bukankah ketika Umar datang orang-orang tersebut tidak ada? Seharusnya Umar bersabar dan memastikan apa benar orang-orang yang berkumpul di rumah Sayyidah Fathimah itu memang mahu memecah belah kaum muslimin. Apapun yang jelas terlihat adalah Umar dengan begitu saja menyampaikan ancamannya kepada Sayyidah Fathimah kemudian pergi.
Ancaman Umar r.a tidak memasukkan Fatimah r.a. Lihat semula kepada perkataan yang diboldkan merah
إن أمرتهم أن يحرق عليهم البيت

Terjemahan: Maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah tersebut bersama mereka yang ada di dalamnya
Sekiranya Umar r.a ingin membakar Fatimah r.a, maka dah tentu dia akan mengatakan ‘Aku akan membakar kamu’
Hujjah ini benar-benar seperti anak kecil yang baru belajar bicara. Ketika anak kecil diancam oleh orang jahat “berikan wangmu atau aku bakar rumah orang tuamu”. Anak kecilnya tertawa dan berkata “ah bukan aku yang diancam tapi rumah orang tuaku”. Dan seolah-olahnya anak kecil itu lupa bahawa dia tinggal di rumah tersebut. Hujjah yang mirip dengan seorang isteri yang “aneh” ketika ada orang jahat mengancam “kalau tidak pindah dari rumah ini akan ku bakar suamimu” dan isteri itu lalu menjawab “ah ancaman itu bukan untukku tapi untuk suamiku”.
Kami bertanya kepada anda wahai “pencari kebenaran” rumah siapa yang anda sebut dalam terjemahan anda “membakar rumah tersebut” dan siapa orang yang anda katakan “mereka yang ada di dalamnya”?  Adakah Imam Ali termasuk di dalam rumah tersebut?. Adakah Sayyidah Fathimah termasuk di dalam rumah tersebut? Rumah yang diancam akan  dibakar Umar itu adalah rumah tempat mereka Ali Zubair dan orang yang mengikuti keduanya berkumpul iaitu rumah Sayyidah Fathimah. Kami kasihan kalau anda berhujjah dengan gaya seperti itu kerana untuk menjawabnya kami terpaksa menjawab dengan penjelasan seperti kami menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.
Hadith ini dengan sendirinya menjadi salah satu hujah kukuh bahawa Ali r.a dan Zubair r.a telah memba’iah Abu Bakar r.a pada hari tersebut dan bukannya selepas 6 bulan seperti dakwaan Syiah
Maaf sekadar informasi buat anda, Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan bukanlah dakwaan Syiah tetapi begitulah yang disebutkan dalam hadis Shahih Bukhari riwayat Aisyah ra. Jika itu dianggap Syiah atau sumber Syiah maka kami sarankan agar anda menyemak kembali definisi Syiah yang sudah anda pelajari.
Satu lagi point penting yang didiamkan syiah ialah kemuliaan Fatimah r..a disisi Umar r.a. Kita lihat semula bagaimana Umar r.a memanggil Fatimah r.a  dengan panggilan mulia. Rujuk kepada teks yang diboldkan ungu
يا بنت رسول الله (ص) ! والله ما من أحد أحب إلينا من أبيك ، وما من أحد أحب إلينا بعد أبيك منك

Terjemahan: ”Wahai puteri Rasulullah SAW, demi Allah tidaklah dari seorangpun yang lebih kami cintai daripada ayahmu, dan tidaklah dari seorangpun yang kami lebih cintai selepas ayahmu daripada kamu
Persoalannya, apakah logik seseorang yang benar-benar ingin membakar rumah musuhnya akan memanggil musuhnya dengan perkataan yang menunjukkan kasih sayang?? Lebih dari, apakah logik dalam riwayat-riwayat jahat syiah mengatakan Umar r.a memukul Fatimah sehingga gugur janinnya sedangkan pada awalnya Umar r.a sendiri sangat menghormati beliau??
Maaf  dalam situasi tersebut kami ragu dengan apa yang anda katakan “Umar sangat menghormati beliau”. Dimana letak rasa hormatnya, ketika ia mengancam membakar rumah orang yang dihormatinya? Seperti alfanarku andapun mengidap penyakit yang sama. Anda tidak dapat membezakan antara “klaim” dan “fakta”. Ucapan Umar, iaitu bahawa Sayyidah Fathimah adalah yang paling kami cintai adalah dakwaan tetapi ucapan Umar yang mengancam membakar rumah Sayyidah Fathimah adalah fakta

Ternyata cinta yang dia katakan itu tidak mampu mencegahnya dari mengancam membakar rumah ahlul bait. Jadi tidak ada kaitannya dengan logik dan tidak logik. Kemudian satu lagi kami tidak pernah menyatakan Umar membakar rumah Ahlul Bait, tetapi yang sebenarnya adalah Umar mengancam akan membakar rumah Ahlul Bait, ada beza antara keduanya wahai kisanak dan soal riwayat syiah, Umar memukul Fathimah maaf itu bukan urusan kami dan kami tidak pernah mengutipnya, dan berbahas dengannya.
Umar r.a al-Khattab merupakan seorang yang faqih dalam urusan agama. Tindakan beliau mengancam untuk membakar bukanlah untuk membunuh ahlul bait sebaliknya ia fahami sebagai kewajipan berba’aiah kepada khalifah yang sah dan mengelakkan perpecahan
عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ
         
Terjemahan: Dari Ziyad bin ‘Ilaqah, katanya, ‘Aku mendengar ‘Arjafah katanya,’ Aku mendengar nabi SAW berkata, ‘ Sesungguhnya akan terjadi bencana dan kekacauan, maka sesiapa saja yang ingin memecah belahkan persatuan umat ini maka penggallah dengan pedang walau siapapun dia
Rujukan: Sahih Muslim, Kitab Kepimpinan, Bab Hukum Bagi Orang Yang Memecahbelahkan Urusan Kaum Muslimin, hadith no 3442, Maktabah Shamela
Oh begitu, jika begitu apa hadis shahihnya bahwa kewajiban berbaiat kepada Khalifah ditegakkan dengan mengancam membakar rumah. Perpecahan mana yang anda katakan “dielakkan”. Siapakah yang anda tuduh membuat perpecahan? Sayyidah Fathimah dan Imam Ali?. Jadi begitukah tindakan seorang faqih jika puteri kesayangan Rasulullah [sawa] tidak membaiat maka diancam rumahnya akan dibakar. Mengapa anda mengutip hadis Shahih Muslim untuk membenarkan tindakan Umar padahal di dalamnya tidak ada sedikitpun keterangan soal bakar membakar. Bukankah dalam hadis tersebut “siapa saja yang memecah belah umat maka penggallah dia”. Mengapa dalam bahasa Umar kata “penggallah dengan pedang” berubah menjadi “membakar rumah”. Umar ra yang tidak paham atau anda yang sedang melantur berhujjah dengan hadis Shahih Muslim yang tidak pada tempatnya.
Selain itu, bukti ancaman menunjukkan kepentingan satu urusan boleh difahami dengan melihat ancaman yang yang dilakukan nabi Muhammad s.a.w sendiri.
Telah tsabit dalam hadith yang sahih nabi mengancam untuk membakar rumah-rumah mereka yang tidak bersolat jemaah bahkan nabi juga mengancam untuk memotong tangan pencuri hatta Fatimah r.a sekalipun!!
Astaghfirullah, sekarang anda mengatasnamakan Nabi [sawa] untuk membenarkan ancaman Umar kepada Sayyidah Fathimah. Mari kami tunjukkan hadis shahih yang anda maksud

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abi Zanaad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [sawa] bersabda “demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya sungguh aku berkeinginan kiranya aku memerintahkan orang-orang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan mereka shalat yang telah dikumandangkan azannya kemudian aku memerintahkan salah seorang menjadi imam lalu aku menuju orang-orang yang tidak shalat berjama’ah kemudian aku bakar rumah-rumah mereka [Shahih Bukhari 1/131 no 644]

Kalau hadis ini yang anda jadikan hujjah maka kami katakan hujjah anda itu “absurd”. 

Perhatikan lafaz perkataan Rasulullah [sawa] “hamamtu” yang dapat diertikan sebagai berkeinginan dalam hatiku, yakni maksudnya itu adalah sesuatu yang tersirat di dalam hati Nabi [sawa] dan baginda ucapkan bukan sebagai ancaman tetapi untuk menekankan betapa penting dan wajibnya shalat berjama’ah. Kalau anda mengertikan Nabi [sawa] sedang mengancam langsung kepada orang-orang tersebut maka anda keliru, Nabi [sawa] tidak sedang berbicara kepada mereka yang tidak shalat berjamaah dengan kata-kata ancaman. Beliau [saaw] mengutarakan apa yang tersirat dalam hatinya kepada sahabat yang kebetulan berada di sana iaitu Abu Hurairah. Tidak ada ceritanya Nabi [] datang menemui mereka yang punya rumah dan mengancam membakar rumah mereka kalau mereka tidak shalat berjama’ah. Ada perbezaan yang nyata antara melakukan ancaman langsung dengan mengutarakan apa yang tersirat di dalam hati. Itu adalah bahasa kiasan yang menunjukkan betapa pentingnya shalat berjama’ah bukannya diartikan sebagai ancaman langsung Rasulullah [sawa] kepada orang-orang tersebut.

Berbeza dengan kes ini, Umar bin Khaththab itu jelas-jelas datang menemui Sayyidah Fathimah dan bersumpah dengan nama Allah SWT bahawa jika orang-orang tersebut berkumpul di rumah atau di sisi Sayyidah Fathimah maka ia akan membakar rumah Sayyidah Fathimah. 

Ini benar-benar ancaman bahkan Sayyidah Fathimah mengatakan bahawa Umar akan melakukan apa yang telah bersumpah atasnya. Itulah sebabnya Sayyidah Fathimah mengusir orang-orang tersebut dari rumahnya dan berkata jangan menemuinya lagi untuk mencegah tindakan Umar.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihaab dari Urwah dari Aisyah radiallahu ‘anha bahwa kaum Quraisy menghadapi masalah iaitu wanita suku Mahzumiy mencuri kemudian mereka berkata “Siapa yang mau membicarakan tentangnya kepada Rasulullah [sawa]”. Mereka berkata “Tidak ada yang berani menghadap baginda kecuali Usamah bin Zaid yang paling dicintai Rasulullah [sawa] maka berbicaralah Usamah. Rasulullah [sawa] bersabda 

“Apakah kamu meminta keringanan pelanggaran aturan Allah?. Kemudian baginda berdiri menyampaikan khutbah kemudian bersabda “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa kerana apabila ada orang dari kalangan terhormat mereka mencuri mereka membiarkannya dan apabila ada orang dari kalangan rendah mencuri maka mereka menegakkan atasnya hukum. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya” [Shahih Bukhari 4/175 no 3475]

Hadis inikah yang anda jadikan hujjah. 
Siapa yang menurut anda sedang diancam oleh Rasulullah [sawa]?. 
Apa anda mahu mengatakan Rasulullah [sawa] sedang mengancam Sayyidah Fathimah? 

Maaf tolong perbaiki terlebih dahulu cara anda berhujjah. Hadis ini sangat jelas tidak sama dengan apa yang dilakukan Umar ketika ia mengancam mahu membakar rumah Sayyidah Fathimah. Rasulullah [sawa] sedang menyampaikan hukum Allah SWT kepada umatnya dan bahasa yang baginda gunakan bukanlah ancaman kepada orang tertentu.
Kemudian terakhir anda mengutip riwayat Syiah yang menguatkan hujjah anda bahwa Rasulullah [sawa] pernah mengancam orang yang tidak ikut shalat berjama’ah secara langsung.
Ketahuilah, dalam kitab syiah sendiri terdapat riwayat-riwayat nabi Muhammad SAW ingin membakar rumah-rumah mereka yang tidak mengerjakan solat jemaah bersama baginda. Walaupun kitab syiah tidak bernilai disisi sunni, kita tetap menukilkannya supaya syiah sedar akan keburukan tohama

عن النبي  صلى الله عليه وآله ، أنه قال
لجماعة لم يحضروا المسجد معه : ( لتحضرن المسجد ، أو لاحرقن عليكم منازلكم

Terjemahan: Dari nabi s.a.w, sesungguhnya baginda berkata kepada jemaah yang tidak hadir bersamanya ke masjid, ‘ Hadirlah kamu ke masjid atau aku akan membakar rumah-rumah kamu
Sumber: Man La Yahduru al-Faqih, hadith 1092 , Bab Jamaah dan kelebihannya, Wasail Shia, no 10697
Kami sekadar suka-suka menggoogle riwayat yang anda kutip. Ternyata riwayat yang anda kutip tidak memiliki sanad dalam referensi syiah yang anda sebutkan. Jadi secara ilmu hadis yang sederhana saja maka riwayat tersebut dhaif. Tentu saja saudara Syiah yang alim akan lebih berkompeten untuk menilai hadis ini. Kami secara peribadi tidak menemukan adanya riwayat shahih bahwa Rasulullah [sawa] mengancam langsung kepada para sahabat yang tidak ikut shalat berjama’ah agar datang ke masjid jika tidak rumah mereka akan Rasulullah [sawa] bakar. Tetapi ada hadis Rasulullah [sawa] yang berbunyi menyakiti Fathimah bererti menyakitiku. Anda mahu takwil bagaimana hadis ini, walaupun anda mencari seribu alasan untuk membenarkan tindakan Umar kami akan katakan tindakan Umar salah cukup dengan hadis ini.
Umat Islam seharusnya berhati-hati dengan taktik kotor syiah dalam memfitnah Umar r.a. Kita dapat lihat sendiri bagaimana mereka mempertahankan status riwayat ini namun mendiamkan konteks yang sebenar.
Justeru saya melihat bantahan anda yang kotor. Syiah tidak memfitnah Umar, jika Syiah mencela Umar dengan riwayat-riwayat dalam kitab mereka maka itu urusan mereka sendiri dan akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. 

Tetapi ketika Syiah mengutip riwayat Ibnu Abi Syaibah maka itu adalah benar dan tidak ada fitnah yang anda maksud. 

Begitu pula ketika kami membahas riwayat ini di mana kami menyalahkan Umar dan membela Ahlul Bait. 

Soal konteks yang anda sebut maka itu adalah persepsi anda yang anda gunakan untuk membenarkan tindakan Umar. Walaupun konteks tersebut ada, tetap saja tindakan Umar yang mengancam membakar rumah Sayyidah Fathimah itu salah. 

Menegakkan hukum itu dengan dalil dan bukti. 
1. Apa buktinya Sayyidah Fathimah mahu memecah belah umat?. 
2. Apa dalilnya yang baiat harus ditegakkan dengan ancaman membakar rumah? 
3. Siapakah Umar saat itu? 
4. Apakah beliau khalifah yang sedang dibaiat itu, sehingga berhak menentukan hukum?  

Sebelum anda sibuk mencari-cari konteks tolong pahami dulu baik-baik apa yang sedang dipermasalahkan. Konteks yang anda buat tidak menjadikan tindakan ancaman Umar membakar rumah Sayyidah Fathimah sebagai perbuatan yang dibenarkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar