Minggu, 09 Desember 2012

MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (3) Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Hasan as.....>>>...Setelah melacak para para pengkhianat dari Kufah kepada Imam Ali bin Abi Thalib, kami melanjutkan penelusuran kami pada pengkhianatan terhadap Imam Hasan as. Para nawashib menyebutkan setelah berulangkali mengkhianati Ali bin Abi Thalib, kaum syiah mengkhianati Imam mereka sendiri, yakni Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Kaum Nawashib hendak menghembuskan tipuan kepada masyarakat awam, yang jauh dari sumber-sumber sejarah. Sehingga dengan kemasan yang rapi nan membius mereka menyuguhkan cerita dusta bahwa syiah telah mengkhianati Imamnya sendiri. Simber-sumber sejarah dari kalangan ulama Ahlu sunnah begitu melimpah menyajikan informasi bahwa syiah tidak pernah berkhianat kepada imamnya…...>>>...Kalangan ulama ahlu sunnah dan syiah memiliki kesamaan pandangan terhadap siapa sebenarnya yang menjadi pendukung Imam Husain, berikut kami kutipkan pandangan para ulama tersebut, diantaranya al A’lami bin Sabgh Maliki ( Kitab al Fushul al Muhimmah pada hal 147), Syaikh Mufid (Al Irsyad II/10) Ibn Syahr Asyub (Kitab Manaqib, IV/32) dan al Yasin (Shulh al Imam al Hasan 68-69), mereka menyebutkan bahwa para pendukung Imam Hasan berasal dari empat kelompok dengan motif dan keyakinan yang berbeda, diantaranya adalah :...>>.... Kaum muslim syiah, menurut Mufid mereka mendukung Imam Hasan dengan motif relegius seprirtual bahwa kepemimpinan umat Islam berada dibawah ahlu ba’it sebagaimana amanah al Ghadir. Kaum Khawarij, motif mereka adalah kesamaan kepentingan pada ketetapan untuk memerangi Muawiyah dan mereka bergabung dengan Imam Hasan karena Imam Mujtaba juga bermaksud melakukan perang melawan Damaskus. Kalangan pemipin kabilah dan klan (asyraf al qabail) beserta anggota sukunya, kalangan pragmatis dari para pemimpin kabilah (asyraf al qabail) beserta anggotanya sukunya, mereka adalah orang-orang yang mengharapkan pampasan perang...>>


MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (3) Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Hasan as

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma sholi ala muhammad wa ali muhammad




Setelah melacak para para pengkhianat dari Kufah kepada Imam Ali bin Abi Thalib, kami melanjutkan penelusuran kami pada pengkhianatan terhadap Imam Hasan as. Para nawashib  menyebutkan setelah berulangkali mengkhianati Ali bin Abi  Thalib, kaum syiah mengkhianati Imam mereka sendiri, yakni Hasan bin Ali bin Abi Thalib.  Kaum Nawashib hendak menghembuskan tipuan kepada masyarakat awam, yang jauh dari sumber-sumber sejarah. Sehingga dengan kemasan yang rapi nan membius mereka menyuguhkan cerita dusta bahwa syiah telah mengkhianati Imamnya sendiri. Simber-sumber sejarah dari kalangan ulama Ahlu sunnah begitu melimpah menyajikan informasi bahwa syiah tidak pernah berkhianat kepada imamnya

Memetakan Pendukung Imam Hasan
Kalangan ulama ahlu sunnah dan syiah memiliki kesamaan pandangan terhadap siapa sebenarnya yang menjadi pendukung Imam Husain,  berikut kami kutipkan pandangan para ulama tersebut, diantaranya al A’lami bin Sabgh Maliki ( Kitab al Fushul al Muhimmah pada hal 147), Syaikh Mufid (Al Irsyad II/10) Ibn Syahr Asyub (Kitab Manaqib, IV/32) dan  al Yasin (Shulh al Imam al Hasan 68-69), mereka menyebutkan bahwa para pendukung Imam Hasan berasal dari empat kelompok dengan motif dan keyakinan yang berbeda, diantaranya adalah :

  1. Kaum muslim syiah, menurut Mufid mereka mendukung Imam Hasan dengan motif relegius seprirtual bahwa kepemimpinan umat Islam berada dibawah ahlu ba’it sebagaimana amanah al Ghadir.
  2. Kaum Khawarij, motif mereka adalah kesamaan kepentingan pada ketetapan untuk memerangi Muawiyah dan mereka bergabung dengan Imam Hasan karena Imam Mujtaba juga bermaksud melakukan perang melawan Damaskus.
  3. Kalangan pemipin kabilah dan klan (asyraf al qabail) beserta anggota sukunya,
  4. kalangan pragmatis dari para pemimpin kabilah (asyraf al qabail) beserta anggotanya sukunya,  mereka adalah orang-orang yang  mengharapkan pampasan perang

Dapat dikatakan, bahwa pendukung Imam Hasan as bukan berasal dari satu aliran idiologis yang sama, melainkan memiliki motif-motif dan kepentingan yang berbeda-beda pula. Disamping menelusuri siapa saja yang mendukung Imam Hasan, yang tak kalah penting adalah mengetahui komposisi kekuatan yang mendukung Imam Hasan, yang pada giliranya untuk mengetahui berapa sesungguhnya populasi orang-orang syiah yang menjadi kekuatan utama pendukung Imam Hasan tersebut.

Berdasarka catatatan para sejahrawan, Imam Hasan didukung pasukan dengan kekuatan antara 25.000 sampai 30.000 prajurit [1]. Ketika Imam Hasan as mengetahui bahwa Muawiyyah menuju Iraq dengan kekuatan tentarnya, Imam Hasan as, mengirimkan sebagian kekuatanya  (12.000) dibawah pimpinan Qays bin Saadan Said bin Qays dan Ubaidillah bin Abbas sebagai pasukan pandu dan perintis. Sementara sisanya (13.000-18.000 tentara) dibawah pimpinan Imam Hasan as sendiri  sebagai pasukan  utama [2]  Dan menurut catatan sejahrawan pula, ditubuh pasukan pandu tersebut  dalam perjalananya, tepatnya setelah mencapa Al Mada’in pasukan mengalami pengkhianatan, Sekitar 8.000 pasukan dibawah pimpinan Ubaydillah bin Abbas  menyeberang ke pihak Muawiyyah dan hanya menyisakan 4.000 prajurit dibawah Pimpinan Qays bin Saadan yang tetap menunjukan loyalitas kepada Imam Hasan [3] dan menghadapi pengkhianatan itu Qays mengirimkan surat kepada Imam Hasan melaporkan tentang siapa sesungguhnya yang melakukan pengkhianatan (akan dibahas kemudian).

Sementara itu Imam Hasan as meninggalkan Kufah bersama kekuatan utamanya sebesar 13.000 – 18.000 tentaranya, saat tiba di Sabat. Imam Hasan mendapati  pengkhianatan dalam kekuatan utama pasukanya. Imam Hasan menerima laporan dari Abdullah bin Abbas bahwa, sejumlah pemipin Kabilah (asyraf al qabail) bersama 12.000 kekuatanya menyatakan mundur dari pertempuran [4]  Berdasar laporan Ibnu Abil hadid tersebut, kekuatan inti Imam Hasan hanya tinggal 1.000 – 6. 000 prajurit. Suatu keadaan yang tidak mungkin untuk dipaksakan pasukan sekecil itu melakukan perlawanan menghadapi tentara Muawiyyah yang relatif besar. Sehingga akhirnya Imam Hasan as lebih memilih menyelamatkan sisa pengikutnya dari kemusnahan yang akhirnya membawa pakta perdamaian.

Tampaknya angka 1.000-6.000 prajurit itu harus menyusut lagi, mengingat bahwa dalam tubuh  pasukan induk Imam Husain masih terdapat  kelompok Khawarij. Yang kemudian setelah mendengar Imam Hasan bermaksud menyelamatkan sisa pengikut kakek dan ayahnya ini dengan menyetujui perdamaian, kemudian beliau diserang oleh kelompok khawarij dibawah pimpinan Al Jarrah bin Sinan al Asadi. Para sejahrawan menuliskan bahwa Imam Hasan as saat diserang tersebut di bela oleh kelompok kecil dari kalangan syi’ah Ali yang berasal dari Kabilah Rabi’ah dan Hamdani [5] Tidak ada keterangan yang pasti berapa jumlah kekuatan khawarij yang tersisa yang mendukung Imam Hasan ini.

Tetapi yang lebih penting adalah bahwa kekuatan syiah idiologis yang menjadi kekuatan utama Imam Hasan  berdasarkan catatan sejahrawan, boleh dikatakan sangat kecil.  Dan tatkala Imam Hasan menyakiskan pengkhianatan-pengkhianatan dan meninggalkan sisa kaum syiah yang tidak seberapa tersebut, maka Imam Hasan lebih memilih untuk menyelamatkan kaum syiah dari kemusnahan, yang pada giliranya akan turut pula memusnahkan Islam sejati dari muka bumi. Hal tersebut dinyatakan sendiri oleh Imam Hasan as :
Imam Hasan as berkata kepada para syiah ” Ketika aku tahu bahwa ternyata kalian tidak memiliki cukup kekuatan, maka aku lebih memilih kompromi agar kalian dan aku selamat. Aku menerima kompromi  demi menyelamatkan kalian jiwa kaum muslim syiah. Penundaan Perang Perang unu sudah aku pikirkan dengan cermat, karena setiap hari Allah menangani urusan ” [6]
Dikesempatan lain, Imam Hasan menjelaskan bahwa dirinya menyamakan tindakan kompromi tersebut dengan tindakan melubangi atau merusak perahu yang dilakukan oleh seorang alim yang bersama Musa yang tujuanya adalah melindungi perahu dari raja zalim demi kepentingan pemilik Perahu, Imam Hasan juga menjelaskan, bahwa sikap kompromi dirinya beliau samakan dengan sikap kompromi Rasulullah Muhammad saw, bedanya Nabi berkompromi dengan kaum kafir dan atas perintah Allah langsung melalui wahyu, sedangkan Imam Hasan berkompromi berdasarkan interpretasi [7]

Kepada sahabt-sahabtnya seperti Hujr bin Adi dan Malik bin Dhamrah  Imam Hasan as berkata ” Ketika aku melihat betapa hanya sedikit saja orang yang setia kepadaku, maka aku mencemaska keselamatan jiwa kalian dimuka bumi ini. Karena itu aku memutuskan untuk menyelamatkan jiwa orang dan  untuk  menyadarkanya bahwa agama adalah cara penyelesaian terbaik di muka bumi.  Aku mau berkompromi tak lain untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah dan untuk menyelamatkan jiwaku, jiwa keluargaku dan jiwa kaum Muslim syiah. Kalau saja aku tidak mau berkompromi, maka kaum Muslim Syiah tidak akan selamat” [8]

Memperhatikan pernyataan Imam Hasan as tersebut, mengindikasikan bahwa kaum Muslim syiah bukanlah kekuatan yang signifikan, dan yeng lebih utama dari itu adalah bahwa Imam Hasan as tidak pernah menuduh kaum muslim syiah sebagai pengkhianat, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang nawashib. Bahkan Kebijakan Imam Hasan sendiri diambil dengan tujuan untuk menyelamatkan eksistensi kaum muslim syiah dari kepunahan. Dengan jawaban Imam Hasan as ini saja sudah cukup membuktikan bahwa kaum syiah tidak berkhianat terhadap Imam Hasan.

Kelompok Yang Berkhianat Kepada Imam Hasan as

Diatas sudah sedikit disinggung berkenaan dengan laporan Qays bin Saadan dan Abdullah bin Abbas berkaitan dengan adanya kelompok orang-orang kufah yang berkhianat terhadap Imam Hasan as.  Siapakah mereka, ada baiknya diperhatikan pernyataan Imam Hasan as sendiri,
Ibnu A’tsam melaporkan, Ketika Qays bin Saadan mengetahui pembelotan besar-besaran  pasukanya, ia segera menulis surat kepada Imam Hasan as untuk melaporkan kejadian itu. Setelah menerima surat Qays, Hasan segeram memanggil para peimimpin-pemimpin Kabliah (Asyraf al Qabail) dan orang-orang terkemuka Iraq, Imam Hasan berbicara kepada mereka dengan rasa kesal, beliau berkata :
“ Wahai pemimpin kabilah iraq (Asyraf al Qabail), apa yang akan aku lakukan dengan orang-orangmu yang bersamaku ini ? Ada surat dari Qays yang mengabarkan kepadaku bahwa bahkan orang-orang mulia (asyraf) dari kalangan kalian telah menyeberang ke pihak Mu’awiyyah. Demi Allah betapa mengejutkan  dan buruknya kelakuan pihak kalian ! Kalianlah orang yang memaksa ayahku menerima tahkim di Shiffin dan ketika arbitrasi yang menyebabkanya tunduk karena tuntutan kalian, kalian berbalik menentangnya. Dan ketika ia mengajak kalian untuk memerangi Muawiyah sekali lagi, kalian memperlihatkan kekenduran dan keloyoan. Setelah ayahku wafat, kalian sendiri datang kepadaku dan menyatakan mendukungku dengan hasrat dan keinginan kalian sendiri. Aku terima kalian dan keluar menghadang Muawiyah, hanya Allah yang tahu betapa aku bersungguh-sungguh untuk melakukanya, yakni alangkah aku penuh gairah dan semangat dalam menghadang tantangan Mu’awiyyah. Kini kalian berperilaku seperti dahulu lagi, seperti dengan ayahku. Wahai kalian kaum Irak Cukuplah bagikuku jika kalian tidak memfitnahku dalam agamaku” [9]
Di atas sudah pula disinggung sedikit berkenaan dengan laporan Ibnu Abil Hadid yang menyebutkan Abdullah bin Abbas yang memberitahu pembelotan  pasukanya ke kubu Muawiyah,  Pada saat itu kemudian Imam Hasan berbicara kepada public yang akan meninggalkan dirinya tersebut , beliau berkata :
“Kalian dulu tak menaati perintah ayahku untuk terus berjuang. Kalian dulu menuntut adanya hakim untuk menyelesaikan perselisihan, padahal ayahku tak setuju. Ayahku meminta kalian untuk terus berperang, namun kalian malah ketakutan, hingga ayahku terbunuh.  Kemudian kalian datang menemuiku untuk menyatakan kesetiaaan kepadaku, kalian saat itu berikrar akan memerangi siapa saja yang aku perangi dan akan berkompromi dengan siapa saja yang berkompromi denganku. Namun sekarang ini aku mendapat kabar bahwa kaum bangsawan kalian telah bergabung dalam barisan Muawiyah. Ini sudah cukup bagiku. Jangan anggap aku tidak tahu agamaku” [10]
Dengan memperhatikan penjelasan Imam Hasan yang dilaporkan oleh dua sejahrawan tersebut sudah membuktikan bahwa, para pengkianat itu berasal dari  kaum bangsawan dan para pemimpin Kabilah atau klan (Asyraf al Qabail) beserta pengikutnya. Dan Imam Hasan menyinggung pekhianatan mereka dimasa Imam Ali bin Abi Thalib kw.  Baladzuri melaporkan bahwa pengkhianatan Asyraf al Qabail ini dimotori oleh Khalid bin Ma’mar [11]
Bukti lain yang dapat disajikan adalah laporan Abul Faraj al Ishfahani,   yang melaporkan jauh sebelum terjadi pertempuran antara Imam Hasan dan Muawiyyah, kaum bangsawan dan pemimpin klan telah menjalin kontak melalui surat-menyurat dengan Muawiyah. Abul Faraj  mengutip pernyataan Muawiyah yang menyatakan :”Kaum bangsawan dan para pemimpin kabilah (asyraf al qabail) di kufah telah mengirim surat kepadaku. Mereka meminta jaminan bahwa aku akan berbaik hati kepada mereka dan keluarga mereka. Mereka berjanji kepadaku, Begitu anda menerima surat ini, datanglah kepadaku dengan membawa pasukan karena kini saatnya untuk membalas dendam ” [12] Ibnu A’tsam  dalam kitabnya al Futuh melaporkan, bahwa  para bangsawan dan pemimpin kabilah (asyraf al qabail)  menyatakan kesedianya untuk menyerahkan Imam Hasan dalam keadaan sebagai tawanan.
Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dongengan khayali yang di hembuskan oleh kaum nawashib tentang pengkhianatan Kaum  Muslim Syiah  kepada Imam Hasan adalah cerita palsu. Fakta sejarah justru menunjukan bahwa Imam Hasan justru menyelamatkan kaum Muslim Syiah. Adalah  tindakan aneh bila yang mengkhianati justru dibela. Agaknya patut untuk mendengarkan pernyataan seorang sarjana sunni  yang meneliti masalah syiah. Ketika membahas Imam Hasan dan komprominya ia menuliskan :
Hasan secara realistik, memperkirakan situasi itu dan ia menginsyafi  penuh konsekuensi bencana bagi dirinya, keluarganya dan sekumpulan pengikutnya yang terpercaya.  Ia menerima realitas politik yang berlaku, sementara memberi waktu bagi kecendrungan pemikiran syi’i untuk menkonsolidasikan pengikut syiahnya pada dasar-dasar ideologis ” [13}
Jadi pernyataan Jafri tersebut, menjelaskan bagaimana sikap Imam Hasan itu adalah demi Kaum Muslim Syiah, adalah hal yang aneh jika para pengkhianat kemudian dibela begitu hebat bahkan dipercayakan konsolidasi idiologis kepadanya. Adalah diluar akal sehat... dan hanya orang-oarang yang syadzdz  yang berpendapat seperti itu.

Wallahu ‘Alam bhi Showab.
Bersambung Insya Allah pada tulisan :
MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH  KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (3)
Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Husain as
[1] Tarikh Thabari II/2.
[2] Tarikh Ya’qubi II/214; Ibnu Abil al Hadid, Syarah Nahjul Balaghah XVI /40, Abul Faraj al Ishfahani, Maqatil ath Thalibiyin hal 62.
[3] Tarikh Ya’qubi II/214
[4] Ibnu Abil Hadid XVI/22
[5] Dinawari Kitab al Akhbar at Tiwal hal 216
[6] Dinawari Akhbar art Thiwal 220 dan Manaqib ibn syahr Ashub IV/35
[7] al Harrani Tuhaf al ’uqul ha; 227; Fara’id as Simthin II/120; Abdullah al Bharani, Awalim al ’Ulum XVI/175 termuat pula di Bihar al anwar 44/19
[8] Ibnu Asakir, Tarjamat al Imam al hasan 203; ’Ilal asy syara’i I/211; Manaqib Ibn Syahr Ashub IV/35; Awalim al ’Ulum XVI/170 dan 174;
[9] Ibn A’tsam,  Kitab Al Futuh IV/156-157.
[10] Ibn Abil hadid, Syarh Nahj al Balaghah XVI/22
[11] Baladzuri, Ansab al asyraf III/38
[12]  Abul Faraj al Ishfahani. Maqatil ath Thalibiyyin hal 66
[13] Muhammad Jafri, Origin and Early Development of Shi’a Islam hal 217

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar