Senin, 31 Desember 2012


Inilah Sejarah Ka’bah dari Masa ke Masa






http://fimadani.com/inilah-sejarah-kabah-dari-masa-ke-masa/
Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.

Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.

Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrahim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak.

Ibrahim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota kecil tersebut. Ka’bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.

Ka’bah yang didirikan Ibrahim terletak persis di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka’bah.

Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka’bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrahim membangun Ka’bah dari bebatuan bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.

Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu.

Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.

Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad.

Selesai dibangun,  Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quraisy yang memegang kendali atas Mekkah ribuan tahun setelah kematian Ibrahim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan.

Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka’bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.

Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah.

Rasulullah berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka’bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Haram. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu mesjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jemaah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

Wajah Masjidil Haram modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja Abdul Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pada pemerintahannya, Masjidil Haram diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jemaah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jemaah.

Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Haram diperluas hingga memuat satu juta jemaah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Haram akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jemaah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Haram akan dapat menampung hingga dua juta jemaah.

Banjir Ka’bah

Bencana alam yang mungkin sering terjadi di wilayah Mekkah adalah banjir. Terbesar tentu saja pada masa banjir bandang Nabi Nuh. Kala itu seluruh bangunan Ka’bah runtuh. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad. Sepeninggalnya, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir merusak dinding-dinding Ka’bah.

Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Haram terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Ka’bah.

Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa tiang mesjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan beberapa kali untuk mengatasi hal ini.

Banjir sering terjadi di Mekkah karena letak geografis kota tersebut yang diapit beberapa bukit. Hal ini menjadikan Mekkah berada di dataran rendah yang letaknya seperti mangkuk. Air hujan tidak dapat dapat mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan Timur Tengah yang tandus. Alhasil banjir bisa berlangsung selama beberapa lama. Ditambah lagi, sistem drainase kala itu tidak sebaik sekarang.

Selain banjir, berbagai insiden pertumpahan darah tercatat pernah mewarnai sejarah Masjidil Haram. Mulai dari zaman sebelum Nabi Muhammad lahir hingga ke zaman modern di abad ke 20. Beberapa insiden tersebut diakhiri dengan kemenangan para penguasa Ka’bah.

Serangan Gajah
Serangan terhadap Ka’bah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kala itu, sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerbu Mekkah dan menghancurkan Ka’bah.

Negara Yaman adalah salah satu negara Kristen besar kala itu. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshah. Gereja tersebut bernama Qullais. Abrahah sebagai pembina gereja bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab dari Ka’bah di Mekkah ke gerejanya di Yaman.

Alkisah, mendengar hal ini, seorang Arab dari qabilah Bani Faqim bin Addiy tersinggung kemudian masuk ke dalam gereja dan membuang hajat di dalamnya. Abrahah marah luar biasa dan bersumpah akan meruntuhkan Ka’bah. Berangkatlah dia beserta tentara terkuatnya, menunggang 60.000 ekor gajah.

Tidak ada satupun kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menandingi kekuatan puluhan ribu tentara gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Muhammad, Abdul Mutalib, para penduduk Mekkah mengungsi ke puncak-puncak bukit di sekeliling Ka’bah. Berangkatlah rombongan tentara Abrahah menuju Ka’bah, hendak menghancurkan bangunan mulia tersebut.

Menurut kisah, laju tentara gajah terhenti akibat serangan dari ribuan burung Ababil. Burung-burung ini membawa tiga butir batu panas di kedua kakinya dan paruhnya. Dilepaskannya batu-batu tersebut di atas tentara gajah. Batu yang konon berasal dari neraka itu menembus daging para tentara dan gajah-gajah mereka. Sebuah tafsir mengatakan burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan para tentara Abrahah tewas akibat bisul yang sangat panas.

Inilah sebabnya, tahun penyerangan tentara Abrahah ke Mekkah dinamakan sebagai Tahun Gajah. Kisah ini juga tertulis jelas di surat Al Fiil di kitab suci Al-Quran. “Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al Fiil: 3-4).

Bentrok dengan Iran

Di zaman modern, insiden paling sering adalah bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. Kehadiran para demonstran merupakan perintah dari pemerintah Iran agar para jemaah haji Iran menyampaikan protes terhadap kerajaan Saudi.

Kerusuhan terparah terjadi pada 31 Juli 1987 yang menewaskan 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42 jemaah haji asal negara lain. Sebanyak 643 orang terluka, kebanyakan adalah jemaah haji Iran.

Perseteruan antara Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung relatif lama. Dimulai saat Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Salaf kenamaan Arab Saudi, memerintahkan penghancuran beberapa makam yang dikultuskan umat Islam di Hejaz, termasuk makam ulama Syiah Al-Baqi, pada tahun 1925.

Tindakan ini tidak ayal membuat marah pemerintahan dan rakyat Iran yang mayoritas Syiah.  Kemelut pun dimulai, Iran menyerukan penggulingan pemerintahan di Arab Saudi dan melarang seluruh warga Iran pergi haji pada tahun 1927.
Ketegangan bertambah parah setelah pada tahun 1943, pemerintah Arab Saudi memenggal kepala seorang jemaah haji Iran karena membawa kotoran manusia di pakaiannya ke dalam Masjidil Haram di Mekkah.

Iran protes keras dan melarang warganya pergi haji hingga tahun 1948.

Sejak saat itu, demonstrasi jemaah haji Iran terus dilakukan di Mekkah. Ini berkat imbauan Ayatullah Khomeini pada tahun 1971 yang memerintahkan setiap jemaah haji Iran untuk berhaji sambil menyampaikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Arab Saudi. Para jemaah Iran menyebut demonstrasi ini dengan nama “Menjaga Jarak dengan Para Musryikin.”

Pada tahun 1982, situasi kedua negara sempat tenang. Khomeini memerintahkan rakyatnya menjaga ketertiban dan perdamaian, tidak menyebarkan pamflet-pamflet propaganda, dan untuk tidak mengkritik pemerintahan Arab Saudi.

Sebagai balasannya, kerajaan Arab Saudi membebaskan jemaah haji Iran untuk kembali berhaji. Sebelumnya, Saudi membatasi jumlah jemaah haji asal Iran untuk menghindari konflik.

Ketegangan kembali terjadi pada Jumat, 31 Juli 1987. Para jemaah haji Iran melakukan pawai protes menentang para musuh Islam, yaitu Israel dan Amerika Serikat, di kota Mekkah. Ketika sampai di depan Masjidil Haram, mereka diblokir oleh aparat keamanan Arab Saudi, namun mereka tetap memaksa masuk.
Bentrokan berdarah kemudian terjadi yang mengakibatkan situasi kacau dengan beberapa orang terinjak-injak oleh massa yang panik.

Ada beberapa versi pemicu kematian ratusan orang pada insiden ini. Pemerintah Iran mengatakan, aparat keamanan Saudi melepaskan tembakan ke arah demonstran damai, sementara Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas akibat terjepit dan terinjak jemaah yang panik. Akibat hal ini, hubungan kedua negara kembali renggang dan pemerintah Arab Saudi kembali menerapkan pembatasan jemaah haji Iran.

Mahdi Palsu

Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada 20 November 1979. Kala itu ratusan orang bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera puluhan ribu jemaah haji di dalamnya.

Penyanderaan dipimpin oleh Juhaimin Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi yang mengatakan saudara iparnya, Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah Imam Mahdi atau sang penyelamat akhir zaman.

Dilaporkan sebanyak 400-500 militan Otaibi, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju dan merantai gerbang Masjidil Haram. Mereka memerintahkan para jemaah untuk tunduk kepada Mahdi palsu, Al-Qahtani. Penyanderaan berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya para militan diberantas oleh pasukan bersenjata gabungan antara Arab Saudi dengan beberapa negara.

Pasukan Arab Saudi sempat dipukul mundur karena hebatnya persenjataan para militan. Seluruh warga Mekkah dievakuasi ke beberapa daerah.

Pasukan kerajaan siap melakukan gempuran mematikan. Namun, mereka harus meminta izin dari ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yang telah  melarang segala jenis kekerasan di Masjidil Haram. Akhirnya dia mengeluarkan fatwa penyerangan mematikan untuk mengambil alih Ka’bah.

Dilaporkan 255 jemaat haji dan militan Otaibi tewas dalam penyerangan tersebut, sebanyak 560 orang terluka. Dari sisi tentara Arab Saudi, sebanyak 127 tewas dan 451 terluka.

Berbagai cerita berbeda mengisahkan saat-saat penyerangan oleh tentara gabungan Arab Saudi, Pakistan dan Perancis.

Salah satu laporan mengatakan tentara membanjiri Masjidil Haram dengan air dan mengalirinya dengan listrik, menyetrum para militan. Laporan lainnya mengatakan para tentara menggunakan gas beracun. Pasukan Perancis dipanggil karena pasukan Arab Saudi tidak berdaya.

Tentara Perancis ini dikabarkan menjadi Muslim dahulu sebelum masuk Masjidil Haram. Langkah ini mereka lakukan lantaran Masjidil Haram hanya boleh dimasuki oleh umat Muslim. Allahu a’lam. (berbagai sumber)

Berbagai Keajaiban 

Mengiringi Kelahiran 

              Nabi Besar Muhammad saw

Oleh Anisah Bahyah Hj Ahmad*
http://usmandidikhamdani.blogspot.com/2008/03/berbagai-keajaiban-mengiringi-kelahiran.html

Kelahiran Nabi Muhammad saw pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke 53 sebelum Hijriah atau hampir satu setengah abad silam, merupakan pembuka rahmat bagi alam semesta.

Berbagai keajaiban mengiringi masa-masa menjelang, saat dan setelah kelahiran beliau. Berbagai keajaiban yang dapat dikategorikan juga sebagai irhash. Irhash merupakan peristiwa luarbiasa (keajaiban) yang dialami oleh manusia yang normal sebagai pertanda bakal kenabiannya kelak.

Irhash
dibagi menjadi tiga:


  1. Irhash yang dinyatakan di dalam kitab yang tidak boleh diubah atau dipindah


  2. Tanda-tanda kerasulan yang dibuktikan melalui berita-berita dari orang alim melalui ilham dan sebagainya


  3. Kejadian luarbiasa yang berlaku semasa kelahiran Nabi
Tentang berbagai keajaiban yang mengiringi masa-masa menjelang, saat dan setelah kelahiran beliau, masih banyak kaum muslimin yang belum ataupun tidak mengetahui peristiwa-peristiwa di balik kelahiran beliau Nabi Muhammad saw. Ini dikarenakan masih banyaknya rahasia yang belum terungkap.

Oleh karena itu penulis terpanggil untuk menyingkap kembali peristiwa-peristiwa di balik kelahiran beliau Junjungan Besar Nabi Muhammad saw.

Sebenarnya banyak keajaiban yang berlaku sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.

Pertama, ibunya, Aminah, saat sedang mengandung Nabi, beliau tidak merasa susah sebagaimana dialami oleh ibu-ibu yang hamil lainnya.

Kehamilannya disadari melalui berita yang dibawa oleh malaikat yang datang kepadanya ketika beliau sedang tidur. Malaikat mengatakan bahwa beliau telah mengandung seorang Nabi dan Junjungan seluruh umat manusia.

Selain itu kehamilannya ditandai dengan haidnya yang terputus dan berpindahnya cahaya dari wajah Abdullah--suami beliau atau ayah Nabi--ke wajah beliau.

Kedua, ketika Nur Muhammad masuk ke dalam rahim Aminah, Allah memerintahkan malaikat supaya membukakan pintu surga Firdaus dan memberitahu semua penghuni langit dan bumi.

Tanah-tanah di sekitar kawasan tersebut yang kering menjadi subur, pohon-pohon menjadi rimbun dan berbuah lebat. Begitu juga hewan-hewan di darat dan di laut sibuk membicarakannya.

Ketiga, tentara bergajah yang disebut di dalam Alqur'an surat Alfil, datang menyerang kota Mekkah. Pimpinan tentara tersebut menunggang seekor gajah besar bernama Mahmudi.

Saat mereka hampir sampai ke kota Mekkah, gajah-gajah itu berhenti dan berbalik mundur dengan izin Allah.

Namun demikian, sekumpulan burung Ababil datang menyerang dan menghancurkan mereka sebagaimana yang disebut di dalam Alqur'an. Peristiwa ini amat menakjubkan dan diriwayatkan dalam buku-buku sejarah.

Keempat, Aminah turut mengalami mimpi yang menakjubkan. Beliau menengadahkan tangan ke langit dan melihat sendiri malaikat turun dari langit. Ia diumpamakan kapas putih yang terapung di angkasa.

Kemudian malaikat tersebut berdiri di hadapannya. Ia berkata, "Kabar bahagia untuk Saudara, wahai ibu daripada seorang nabi. Putera saudara itu menjadi penolong dan pembebas manusia. Namakan dia Ahmad."

Semasa kelahiran Nabi Muhammad saw, Aminah ditemani Asiah dan Maryam. Ini merupakan satu isyarat bahwa Nabi Muhammad lebih tinggi derajatnya dari Nabi Isa dan Musa.

Hal ini diterangkan dalam kitab Taurat dan Injil bahwa akan datang seorang nabi pada akhir zaman.

Semasa beliau Nabi dilahirkan, ibunya menyaksikan nur atau cahaya keluar dari tubuh beliau. Cahaya tersebut bersinar sampai ke Istana Busra di Syria.

Cahaya itu terlihat seolah-olah anak panah dan pelangi yang dapat terlihat dari kota-kota yang jauh.

Ada juga yang berpendapat bahwa cahaya itu menerangi seluruh dunia. Ini dapat dijelaskan oleh sumber-sumber Arab yang paling awal yang menyatakan bahwa suatu cahaya terpancar dari rahim Aminah saat beliau Nabi dilahirkan.

Aminah sendiri melihat beliau Nabi berbaring dengan kedua tangannya mengangkat ke langit seperti seorang yang sedang berdoa.

Kemudian Aminah melihat awan turun menyelimuti beliau dan pula mendengar sebuah seruan, "Bimbinglah ia mengelilingi bumi Timur dan Barat, supaya mereka tahu, dan dialah yang akan menghapuskan segala perkara syirik."

Sesudah itu awan tersebut lenyap dari pandangan Aminah. Setengah riwayat menyatakan Nabi dilahirkan dalam keadaan memandang ke arah langit sambil meletakkan tangannya ke tanah sebagai tanda ketinggian martabatnya dari semua makhluk.

Dikatakan juga pada malam kelahiran beliau, berhala-berhala yang terdapat di Ka'bah mengalami kehancuran.

Menurut riwayat dari Abdul Mutalib, "Ketika aku sedang berada di Ka'bah, tiba-tiba berhala jatuh dari tempatnya dan sujud kepada Allah. Lalu aku mendengar suara dari dinding Ka'bah berkata, 'Telah lahir nabi pilihan yang akan membinasakan orang kafir dan mensucikanku dari berhala-berhala ini dan akan memerintahkan penyembahan kepada Yang Mahamengetahui.'"

Selain peristiwa-peristiwa tersebut, di tempat yang lain terjadi pula peristiwa yang menakjubkan. Satu goncangan terjadi di istana Kisra dan menyebabkan istana tersebut retak, manakala empat belas tiang penyangganya runtuh. Hal ini merupakan satu di antara tanda-tanda keruntuhan kerajaan tersebut.

Juga, api di negara Parsi yang tidak pernah padam hampir selama seribu tahun telah padam dengan sendirinya. Api tersebut merupakan api sembahan orang-orang Majusi yang dianggap sebagai tuhan. Peristiwa itu amat mengejutkan orang Parsi.

Dalam waktu yang sama, pada malam kelahiran Nabi, Tasik Sava yang dianggap suci tenggelam ke dalam tanah.

Setelah beliau lahir, tembakan bintang menjadi sering sebagai tanda bahwa pengetahuan iblis dan jin tentang perkara ghib sudah tamat.

Dalam riwayat yang sahih dan masyhur, ketika beliau Nabi diasuh oleh ibu susunya yaitu Halimatus Sa'diyah, ladang-ladang Halimah kembali menghijau setelah mengalami kemarau.

Begitu juga binatang-binatang ternaknya seperti kambing mengeluarkan susu yang banyak. Selain itu, Nabi tidak pernah diganggu walaupun oleh seekor lalat termasuk juga pakaian beliau.

Halimah dan suaminya juga beberapa kali melihat gumpalan awan kecil di atas kepala Nabi melindungi beliau dari panas matahari.

Ketika berusia empat tahun, saat beliau sedang bermain-main dengan saudara susuannya, tiba-tiba datang dua malaikat mendekati beliau yaitu malaikat Jibril dan Mika'il.

Kedua malaikat itu lalu membelah dada beliau dan mengeluarkan segumpal darah dan mencuci gumpalan darah itu dengan salju. Ada yang meriwayatkan bahwa gumpalan darah itu dicuci di dalam bejana emas dengan air zam-zam, lalu diletakkan kembali di tempatnya semula.

Hal ini jelas sebagaimana diterangkan dalam surah Al-insyirah ayat 1: "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?"

Berdasarkan peristiwa tersebut jelaslah kelahiran Nabi Muhammad saw mempunyai keistimewaan tersendiri. Ini karena beliau adalah khatamul-anbiya, penutup para nabi.

Kejadian-kejadian luar biasa ini telah membuktikan kepada kita kemuliaan beliau di sisi Allah, sekaligus sebagai bukti kerasulannya.

Di samping bukti-bukti tersebut dijelaskan pula di dalam kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil tentang beliau sebagai rasul yang terakhir.

* Anisah Bahyah Hj Ahmad, pengajar di Kolej Poly-Tech MARA, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Artikel ini diadaptasi dari sebuah tulisan Anisah di milis myMasjid. Didownload pada 19 Maret 2008
KELAHIRAN ALI BIN ABI THALIB R.A.
Ali bin Abu Thalib lahir pada tanggal 13 Rajab, 12 tahun sebelum masa kenabian. Adayang mengatakan bahwa kelahiran Ali bin Abu Thalib adalah 10 tahun sebelum Rasul diangkat menjadi Nabi. 
Abu Thalib adalah paman Nabi yang memelihara Nabisetelah Abdul Muthalib, kakek Nabi wafat. Bersama Abu Thalib, Muhammad pernah berdagang dan mengunjungi negeri yang jauh yaitu negeri Syam. 
Bersama Abu Thalib pun Muhammad bertemu Pendeta Buhaira yang mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad. Kelahiran Ali bin Abu Thalib dari ibunya Siti Fatimah bintu Assad merupakan kelahiran yang hebat. Ketika kandungan Siti Fatimah bintu Assad telah sampai sembilan bulan, Siti Fatimah bintu Assad bertawaf bersama suaminya. 
Pada saat itu, Fatimah merasakan tanda-tanda akan lahirnya bayi. Peristiwa ini disaksikan oleh orang-orang yang sedang tawaf ketika itu, dinding Ka'bah terbelah dan Siti Fatimah terbawa masuk ke dalamnya.
Orang-orang merasa heran karena bukan pintu yang terbelah melainkan dinding Ka'bah yang terbelah itu. Sesaat setelah Siti Fatimah berada didalam Ka'bah, dinding Ka'bah-pun kembali tertutup.
Peristiwa itu diketahui oleh orang-orang dan pada saat itu masih terlihat bekas-bekas dinding yang terbelah itu. Fatimah berada di dalam Ka'bah itu selama empat hari dan keluar sambil membawa seorang bayi. Bayi ini diantarkan kepada Rasulullah saw. Ketika melihat bayi Fatimah ini, dengan jari tangannya, Rasulullah memberikan ludahnya sebagai makanan pertama bagi sang bayi. Ali bin Abi Thalib mendapatkan makanan dari ludah Rasulullah sebelum mendapat air susu ibunya. 
Kisah kelahiran Ali bin Abu Thalib ini dapat dibandingkan dengan kisah kelahiran Isa putra Maryam. Maryam adalah wanita yang diwakafkan ayahnya untuk mengabdi dirumah Allah (masjid). Ketika Maryam akan melahirkan Isa, Allah swt memerintahkan Maryam untuk keluar dan menghindar dari masjid (Baitul Maqdis). Abu Thalib adalah seorang yang sederhana hidupnya tetapi ia mempunyai banyak anak. Oleh karena itu, Muhammad mengajak pamannya yang lain yaitu Abbas untuk mengambil masing-masing satu dari anak Abu Thalib. 
Muhammad mengambil Ali sebagai asuhannya. Ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Ali bin Abi Thalib  telah berumur dua belas tahun. Di dalam asuhan Nabi Muhammad, Ali bin Abu Thalib menjadi pria pertama yang menjadi mukmin.
Mekah
http://id.scribd.com/doc/49610527/Muhammad-Husain-Haekal-Ali-Bin-Abi-Thalib
MEKAH atau Makkah dalam ejaan bahasa Arab, di masa silam dikenal dengan nama Bakkah (Qur'an, 3: 96), dan dalam sejarah lama abad ke-2 oleh Ptolomaeus, ahli astronomi dan geografi dari Iskandariah disebut Makoraba. Tempat ini terletak di pedalaman bagian barat Hijaz, sekarang Arab Saudi - sekitar 80 km dari pelabuhan Jedah di LautMerah, di dasar Wadi Ibrahim yang gersang dan beberapa saluran pendek anak sungai.
Hanya ada tiga jalan keluar yang terbuka, pertama jalan menuju Yaman, kedua jalan ke sepanjang Laut Merah dan ketiga jalan yang menuju Palestina. Lembah tandus yang dikepung dari empat penjurunya oleh bukit-bukit batu itu, hampir sama sekali terpencil dari dunia luar. Suhu udara-nya tinggi dan jarang sekali turun hujan. Karena posisi Mekah yang rendah, maka selalu terancam oleh banjir musim yang turun dari gunung-gunung sekitarnya. 
Tetapi, begitu hujan dan banjir berhenti, tanah pun jadi kering kembali. Air susah sekali diperoleh. Selain itu Mekah memang sudah menjadi tempat pertemuan kafilah-kafilah di seluruh Semenanjung, menjadi penghubung antara selatan dengan utara, antara timur dengan barat dalam kegiatan niaga. Kekuasaan tertinggi dan wilayah-wilayah teritorialnya berada di tangan kabilah-kabilah, dengan cara-cara orang pedalaman (badwi) yang serba sederhana dan selalu mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Pada mulanya sesuai dengan kebiasaan, mereka hampir tak punya tempat tinggal tetap atau bangunan-bangunan selain kemah. Kedaulatan negara seperti yang ada pada kerajaan Arab Tubba' atau Himyar di Yaman, Banu Munzir di Hirah dan Banu Gassan di Syam. Mereka tidak mengenal penguasa seperti kaisar-kaisar di Rumawi atau Persia
 
ALI BIN ABI TALIB
Sungguhpun begitu, justru ke tempat inilah Nabi Ibrahim dan keluarganya pindah, dan tempat ini pula yang kemudian menjadi kota rohani dan kiblat umat Islam seluruh dunia. Kita membayangkan, agak-nya ketika itulah Nabi Ibrahim berdoa. Kenyataan ini diperkuat oleh Qur'an (14: 37):
 
"Tuhan kami! Aku telah menempatkan sebagian keturunan kudi lembah tanpa tanaman ini, di dekat Rumah-Mu yang suci,supaya mereka, ya Tuhan kami, dapat melakukan salat: Jadi-kanlah hati sebagian manusia mencintai mereka, dan berilahmereka rezeki buah-buahan, supaya mereka bersyukur."
Mulanya setelah/sebelum? Nabi Ibrahim 'alaihis-salam mendapat anak kedua dari istrinya Sarah, ia dan istrinya yang kedua, Hajar serta bayinya yang pertama Ismail, yang sangat dicintainya itu pindah dari Kanaan (Palestina). Maka atas perintah Allah berangkatlah Ibrahim anak-beranak itu kesebuah lembah yang gersang di Bakkah itu — sekitar empat puluh hari perjalanan dengan unta dari Kanaan. 
Hajar membuat gubuk di tempat yang baru itu untuk tempat berteduh bersama bayinya, Ismail. Setelah itu Ibrahim pun pergi meninggalkan mereka setelah diberi perbekalan dan segala sesuatu yang diperlukan dan ia kembali ke tempat semula. Tetapi sesudah itu Ibrahim masih beberapa kali datang lagi ke Bakkah, dan mungkin tinggal lebih lama. 
Beberapa waktu kemudian setelah itu Hajar merasa sudah kehabisan air dan perbekalan. Ia melihat ke kanan kiri mencari air. Karena tak ada tanda-tanda akan mendapatkannya, ia terus berlari dan naik-turun bukit dan lembah. 
Dalam berlari-lari itu menurut cerita tradisi antara Safa dan Marwah sampai tujuh kali tidak juga mendapat yang dicari, dengan rasa putus asa ia kembali ke tempat bayinya. 
Tetapi ketika itu dilihatnya sang anak sedang mengorek-ngorek tanah dengan kakinya. Ternyata kemudian dari dalam tanah itu air memancar. Dia dan anaknya Ismail dapat melepaskan dahaga. 
Disumbatnya mata air itu supaya jangan mengalir dan menyerap terus ke dalam pasir. Mata air yang menyembur dari pasir di bawah kaki Ismail itu kemudian menjadi sebuah sumur di tengah-tengah gurun pasir. Karena air yang sudah begitu melimpah, lembah yang gersang itu sekarang menjadi tempat perhentian kafilah, dan sumur itu diberi nama Sumur Zamzam atau Sumur Ismail, tak jauh dari Ka'bah. Kawasan ini disebut Hijr Ismail, sebab makam Ismail dan ibunya konon terletak di bawah tempat itu. Ibu dan anaknya sekarang mendapat mata pencarian dengan membantu orang-orang Arab yang singgah di tempat itu, dan mereka mendapat imbalan yang akan cukup menjamin hidup mereka sampai pada musim kafilah yang akan datang. 
Malah kemudian mata air yang memancar dari sumur Zamzam itu menarik perhatian beberapa kabilah yang akan tinggal di dekat tempat itu. Beberapa keterangan mengatakan, bahwa kabilah Jurhum adalah yang pertama sekali tinggal di tempat tersebut, bahkan sebelum kedatangan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sementara yang lain berpendapat, bahwa mereka tinggal di tempat itu justru setelah ada sumber sumur Zamzam, sehingga memungkinkan mereka hidup di lembah tandus itu. Setelah sumber mata air Zamzam ditemukan kembali Mekah menjadi tempat persinggahan kafilah-kafilah dari sekitar Semenanjung, dari pesisir-pesisir Teluk, dari Yaman, Hadramaut sampai ke kawasan Syam. Konon sejak dahulu kala sumur Zamzam ini sudah dikenal juga oleh nenek moyang keluarga kerajaan Sasan di Persia dan mereka datang ketempat ini. Ketika suatu waktu Ibrahim berkunjung ke Mekah, dan Ismail sudah beranjak besar, berumur sekitar sepuluh tahun, ia bermimpi bahwa ia mendapat perintah Allah untuk menyembelih anak tunggalnya itu sebagai kurban (37: 102-7). 
Ini tentu adalah ujian dan sekaligus cobaan berat bagi Ibrahim dan keluarganya. Mimpi seorang nabi adalah wahyu dari Allah. Tetapi Allah kemudian mengganti anak itu dengan seekor domba besar, dan yang kemudian menjadi salah satu tradisi penyembelihan kurban dalam ibadah Haji.
Ka'bah
KEDATANGAN Nabi Ibrahim berikutnya ketika Ismail sudah dewasa, barangkali sudah menikah dengan gadis keluarga Jurhum, dan sudah punya beberapa anak. Banu Jurhum adalah sebuah kabilah purba dan berasal dari Yaman yang datang ke Mekah. Seperti kaum Ad dan Samud mereka pun sudah punah. Ibrahim berkata kepada anaknya bahwa ia telah mendapat perintah dari Allah untuk membangun Baitullah sebagai pusat tempat suci dikawasan itu. Mereka berdua segera bekerja keras membangunnya. Ismail yang mengangkut batu dan Ibrahim yang menyusunnya sehingga menjadi sebuah bangunan yang kukuh kuat. Bila bangunan itu sudah setinggi Ibrahim berdiri, Ismail membawa sebuah batu besar sebagai tempat menopang ayahnya berdiri, hingga selesailah mereka bekerja dan sebuah bangunan sudah berdiri, yang di dalam Qur'an disebut al-Bait (Rumah),  Baiti (Rumah-Ku) ( 2:125 sqq.), al-Baitulharam (5:2, 97), Baitulma'mur (52:4) atau al-Baitul'atiq (Rumah Purba) (22: 29). Di dalam Bibel disebut Bethel (the house of God) kendati dalam penafsiran yang ber-beda. Kemudian mereka berdoa kepada Allah agar persembahan merekaini diterima (Qur'an, 2: 125-9):
4 2
 
 
2. KA'BAH5
"Ingatlah! Kami jadikan Rumah tempat berhimpun bagi sekali-an manusia dan tempat yang aman; dan jadikanlah tempat  Ibrahim sebagai tempat salat dan Kami perintahkan Ibrahim dan Ismail, agar mereka membersihkan Rumah-Ku bagi mereka yang bertawaf, mereka yang itikaf, mereka yang rukuk dan yang sujud. Dan ingatlah, Ibrahim berkata: "Tuhan, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berikanlah kepada penduduknya buah-buahan, yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. " la berfirman: "Dan kepada yang ingkar punakan Kuberi kesenangan sementara, kemudian Kupaksa ia kedalam apt neraka, itulah tujuan yang sungguh celaka" Dan ingatlah, Ibrahim dan Ismail mengangkat dasar-dasar Rumah itu (sambil berdoa): "Tuhan, terimalah ini dari kami: Engkau-lah Maha Mendengar, Mahatahu. "Tuhan, jadikanlah kamiorang yang tunduk kepada-Mu, dan di antara keturunan kami umat yang tunduk kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kamicara-cara ibadah kami dan terimalah tobat kami; Engkaulah  Maha   Penerima   tobat,  Maha  Pengasih. "Tuhan,    utuslah   di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, dan mengajarkan Kitab Suci dan kearifan kepada mereka dan yang menyucikan mereka. Engkaulah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Ka'bah, itulah Baitullah sebagai lambang tauhid dan kawasan suci di Mekah. Nabi Ibrahim dan putranya Ismail melaksanakan syariat haji atas perintah Allah dan agar mengajak umat manusia berziarah ke Baitullah Makkah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar