Jumat, 14 Desember 2012

PERAYAAN NATAL...BUKAN ASLI IBADAH KAUM KRISTANI??.....“Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”...>>....Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut: “Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas.”....>>...Advent Tidak Merayakan Natal ??>>....Hari Natal memiliki arti sebagai Hari Kelahiran. Hanya Gereja Barat yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui Natal pada 25 Desember tersebut. Lucunya, di tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II sendiri telah mengumumkan kepada umatnya jika Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan tengah-musim dingin kaum pagan. Saat itu umat Katolik gempar, padahal banyak sejarawan telah menyatakan jika 25 Desember tersebut sebenarnya merupakan tanggal kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Dionisius, dan lain-lain. >>...Pastor Herbert W. Amstrong, sejarawan Kristen yang menentang banyak hal tentang Natal pada tanggal 25 Desember. Yang banyak orang tidak mengetahui, keseluruhan dasar bangunan kekristenan sekarang ini sesungguhnya dibangun atas kerangka dasar ritus pembaharuan Osirian di Mesir kuno.>>>

Sejarah Natal Menurut Sumber Dan Pengakuan Penganut Kristiani Sendiri


3 Votes

santa-sinterklas-natal
 Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih – yang mereka sebut Tuhan Yesus.

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325 – 354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
“Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas.”
“Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.
Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
“In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world.”
“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”
Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:
“Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism.”

“Natal bukanlah upacara – upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:
“Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion,” which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “…A feast was established in memory of this event (Christ´s birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ´s birth existed.”

“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.)  

“…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”
Sahabatmu : Anwar Baru Belajar

Advent Tidak Merayakan Natal ??

17/12/2010 | By: admin

http://icrp-online.org/122010/post-141.html

Oleh : Chris Poerba
“Tapi hari ketujuh adalah hari Tuhan Allah-mu. Jadi hari ketujuh adalah kepunyaan Allah. Tapi itu kan belum menjelaskan hari ketujuh itu hari apa. Hari Sabbath itu hari apa? Karena itu belum menunjukkan hari ketujuh itu hari apa di dalam kalender kita. Maka menghitungnya dimulai dengan hari Minggu itu menjadi hari yang pertama, hari Senin hari kedua, hari ketiga sebagai hari Selasa, hari Rabu adalah hari yang ke-empat, Kamis sebagai hari kelima, Jumat adalah hari ke-enam dan Sabtu adalah hari ketujuh. Jadi hari ketujuh atau hari Sabbath itu jatuh pada hari Sabtu”, ujar Sinaga, saat menjelaskan mengapa Kristen Advent melangsungkan ibadahnya pada hari Sabtu dan bukan Minggu. Sinaga, yang diundang sebagai narasumber Sekolah Agama ICRP, pada tanggal 30 November itu, mengatakan kalau Kristen Advent menghitung hari Sabtu sebagai hari Sabbath, karena menyakini Yesus bangkit dari alam kuburnya di hari Minggu. Sehingga hari Minggu dihitung sebagai hari yang pertama.

Orang Samosir
Niemand Sinaga adalah seorang pendeta dari Gereja Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh, yang gereja-nya terdapat di bilangan jalan Salemba. Hari Sabbath bagi umat Kristen Advent, yang dirayakan pada hari Sabtu ini, yang membuat banyak orang yang bertanya, “Mengapa ibadahnya mirip seperti hari Sabbath-nya orang Yahudi?”

Namun Pendeta Niemand, yang kampungnya di pulau Samosir, menepis hal itu, menurutnya sebelum adanya orang-orang Yahudi, maka hari Sabbath itu sudah ada dulu. Karena hari Sabbath ini memang berasal dari Tuhan. “Jadi kami tidak ikut-ikutan dengan orang Yahudi, tapi kami mengikuti apa yang disampaikan oleh Tuhan”, kata beliau. Namun Advent tetaplah Kristen, makanya bapak pendeta ini mengutip kitab Lukas 4 ayat 16, dengan penekanan bila Yesus Kristus adalah anak Allah, dan setiap hari Sabbath Yesus juga masuk ke dalam rumah ibadah. Terkait dengan ibadah ini, Kristen Advent juga mengacu pada kitab Matius 2 ayat 27, yang mendasarkan bahwa hari Sabbath untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabbath. Sehingga hari Sabbath tetaplah kudus namun bukanlah yang paling utama.

Babi hutan
Kristen Advent memang sedikit berbeda dengan kekristenan yang mainstream, yang umumnya cukup kita kenal. Selain memiliki ajaran untuk beribadah setiap hari Sabtu dan bukan Minggu, mereka juga memiliki ajaran untuk berpantangan terhadap jenis makanan tertentu. Perihal mengenai makanan yang boleh dan yang haram untuk dimakan, mereka berpegang pada kisah Nuh yang memiliki nubuat perjanjian dengan Tuhan, saat detik-detik air bah akan menenggelamkan bumi. Nuh yang membangun bahteranya selama 120 tahun, di dalam Kejadian pasal 7 ini mengadakan perjanjian dengan Allah, bunyi pasal itu, “Segala binatang yang tidak haram haruslah kamu ambil tujuh pasang baik jantan maupun betina, sedangkan yang haram diambil satu pasang saja”, jadi menurut Sinaga, “Nuh sudah mengenal yang mana binatang yang halal dan yang mana yang haram.”

Dalam kitab Kejadian ini pun, pada pasal 11 ayat 1, binatang yang halal adalah, binatang yang berkaki empat, yang berkuku belah, bersela panjang dan memamah biak adalah binatang yang boleh untuk dimakan. Kalau mau dihitung hewan apa saja yang pantang di makan maka bisa kita dapati seperti pelanduk, kijang, rusa, kelinci dan babi, baik itu babi hutan maupun yang dipelihara. Binatang-binatang ini tidak hanya dagingnya saja yang haram namun bangkai hewan tersebut juga haram adanya. Terkait dengan haramnya memakan daging babi, yang hampir serupa dengan kaum Muslim, maka Advent mengacu pada kitab Yesaya 6 ayat 17, yang menyatakan bila babi serta tikus mereka semua akan lenyap sekaligus.

Selain memiliki pantangan untuk memakan hewan-hewan yang hidupnya di darat, Kristen Advent juga memiliki pantangan untuk memakan segala hewan yang hidup di air terutama ikan-ikan yang tidak bersisik dan bersirik. Sinaga lalu meminta para peserta Sekolah Agama untuk mengira-ngira hewan air apa saja yang dinyatakan haram. Satu-persatu lantas menyebutkan ikan seperti lele, belut, cumi-cumi, kepiting, tiram, labi-labi, kura-kura, ikan paus, ikan hiu juga kerang.


Apa yang sesat ?
Namun ada yang menarik dari ajaran-ajaran Advent ini, karena selain memiliki pantangan ternyata juga memiliki penafsiran terhadap yang lain, yang mereka anggap sesat. Sinaga mengatakan, “Di waktu-waktu kemudian akan ada orang yang murtad, yang termasuk orang-orang itu adalah orang-orang yang tadinya berada di jalan yang benar namun akhirnya berubah.” Jadi murtad menurut Kristen Advent adalah seseorang yang tadinya berada di jalan yang benar namun akhirnya mengikuti ajaran-ajaran yang lain.

Yang termasuk sesat adalah bila ada ajaran-ajaran yang menyatakan kalau ada hewan yang seharusnya memang halal untuk dimakan, seperti kambing, sapi dan kerbau, namun kemudian dinyatakan haram. Melarang memakan hewan yang halal adalah yang sesuatu yang sesat. Ini yang sedikit banyak membedakan dengan Kristen yang lain, Kristen Protestan pada umumnya. Ajaran umum yang dipegang oleh gereja mayoritas yang lainnya adalah sesuatu itu menjadi haram, hanya kalau makanan yang sudah masuk mulut dan kemudian keluar lagi dari mulut dan kemudian dinajiskan. Itulah yang haram. Gereja lain tidak memiliki pantangan dalam jamuan makan-memakan, hanya saja kalau makan jangan sampai muntah. Hal ini sesuai dengan kitab Matius 11 ayat 15.

Namun perihal sesat ini, menurut Sinaga, juga tidak ada hubungannya dengan tradisi dari Yahudi. Beliau mencontohkan tradisi Yahudi yang mengharuskan terlebih dulu mencuci tangan sebelum makan. Biasanya mereka, orang-orang Yahudi, menajiskan mereka-mereka yang makan tanpa cuci tangan terlebih dulu. Menurut Niemand Sinaga, perihal mencuci tangan ini sudah tidak identik lagi dengan tradisi Yahudi.

Pecel lele
Terakhir, Advent pun tidak mengenal Natal, “Advent tidak merayakan Natal, kan itu tidak disuruh dalam Alkitab, kalau kita harus merayakan Natal. Biasanya Natal kan dirayakan pada tanggal 25, tapi itu kan masih diperkirakan kalo tanggalnya segitu dan tidak ada seorang pun yang tahu”, Sinaga memberikan alasannya mengenai tidak adanya perayaan Natal tersebut. Selain Natal maka baptisan bagi orang Kristen Advent harus dilakukan kepada orang yang sudah percaya kepada firman Tuhan terlebih dulu. Sehingga baptisan memang tidak diperuntukkan kepada anak kecil.

Ketika Sinaga ditanya, mengapa rokok menjadi sesuatu yang dilarang, mengingat rokok belum pernah ada jaman dulu dan tidak tertulis di Alkitab. Jawabannya senada dengan jawaban yang diberikan oleh Kristen yang lainnya, kalau rokok dapat mengotori tubuh kita yang semestinya adalah bait suci hanya untuk Allah. Akhir kata, setelah seorang peserta Sekolah Agama menanyakan, bagaimana bila semua pantangan itu tidak dapat di taati, seperti misalnya ibadah yang dilakukan setiap hari Sabtu, padahal hari Sabtu bukanlah hari libur nasional. Nyatanya hal itu tidak menjadi masalah bagi para umat Kristen Advent, mereka tetap memilih untuk tetap beribadah di hari Sabtu dan tidak melakukan aktivitas yang lain di sakral itu.

Kitab Yohannes 14 ayat 15, yang di dalamnya Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi aku turutlah perintahku.” Kitab ini menjadi acuan bagi kita bersama, yang dalam hal ini, maka Advent mengasihi Yesus dengan cara yang mereka yakini sendiri. Jadi bila kita mempunyai teman dari Kristen Advent janganlah kita mengajak mereka untuk makan pecel lele. Tak elok rasanya. *) 

Dibalik Tanggal Natal 25 Desember

Redaksi 1 – Jumat, 14 Desember 2012 17:22 WIB
http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/dibalik-tanggal-natal-25-desember.htm#.UMsTGlJXlkg
 

Assalamualaikum wrwb,
Saya penasaran dengan cerita teman saya yang mengatakan bahwa sebenarnya pada tanggal 25 desember diperingati untuk menyembah dewa matahari, pada hari itu rakyat yunani kuno melakukan upacara dengan pesta mabuk-mabukan dan melakukan ( maaf ) pesta seks. Untuk membujuk rakyat yunani agar mau memeluk agama kristen, sang raja harus tetap mengizinkan rakyatnya melakukan pesta pada tanggal 25 desember seperti biasanya. singkat cerita dipilihlah tanggal 25 desember menjadi hari natal umat kristen karena alasan tersebut. Terus terang saya masih belum jelas tentang hal tersebut, karena itu saya mohon penjelasan detailnya.  Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Saya sangat senang denagan cerita-cerita tentang sejarah  kejayaan Islam. saya tertarik denagan artikel mengenai suku indian yang telah memeluk agama Islam, kira-kira dimana saya dapat mengetahui artikel atau buku tentang hal itu, mohon petunjuknya.  Terima kasih Pak.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara Richi yang dirahmati Allah Swt, pertama kali yang ingin saya tekankan jika perayaan 25 Desember itu berasal dari perayaan kaum pagan Roma Kuno (Romana), bukan Yunani (Greek). Jerusalem dan sekitarnya di masa sebelum dan setelah Nabi Isa a.s lahir berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi.

Bangsa Romawi ketika itu memeluk agama pagan dengan memuja dewa-dewi yang jumlahnya sangat banyak dan terkenal sangat mengumbar kesenangan ragawi. Mereka menganggap raga yang sempurna, kecantikan lahiriah, sangat penting dan kenikmatan ragawi merupakan kenikmatan yang harus dikejar selama-lamanya. Sebab itu, lelaki Roma sangat gandrung pada olahraga yang bisa membentuk kekuatan fisik, memperbesar otot-otot badannya, dan juga merawat seluruh tubuhnya. Sekarang, kebiasaan lelaki Roma ini diwarisi oleh apa yang disebut sebagai Pria Metroseksual.

Sedangkan perempuan Roma, juga sangat memelihara tubuhnya dan sisi sensualitasnya. Mereka akan sangat bangga jika dikejar-kejar banyak pria. Bahkan bukan rahasia lagi jika perempuan Roma saat itu belomba-lomba untuk dijadikan “piala bergilir” para lelaki Roma. Tanggal 14 Februari selalu ditunggu-tunggu oleh mereka untuk memuaskan hasrat rendahnya dengan menggelar pesta syahwat di seluruh kota. Inilah yang sekarang dirayakan banyak orang sebagai Hari Valentine, yang sesungguhnya berasal dari Hari Perayaan Perzinahan.

Keyakinan inti pagan Roma itu berasal dari dua sumber, yakni tradisi Osirian Mesir kuno dan ilmu-ilmu sihir Babylonia. Keduanya bergabung dan sekarang dikenal sebagai Kabbalah. Mereka memiliki hari-hari istimewa yang dirayakan setiap tahun, termasuk tanggal 25 Desember yang dirayakan sebagai Hari Kelahiran anak Dewa Matahari atau Sol Invictus. Sebagian ahli menganggap istilah “Anak Dewa Matahari” itu dinisbatkan pula kepada Namrudz, Raja Babylonia, yang mengejar-ngejar Nabi Ibrahim a.s.
Mereka percaya, anak Dewa Matahari ini lahir di hari Minggu. Sebab itu mereka menamakan hari Mingu sebagai Sun Day, Hari Matahari. Mereka juga beribadat di hari tersebut. Semua ini diadopsi kekristenan sampai sekarang.

Hari Natal memiliki arti sebagai Hari Kelahiran. Hanya Gereja Barat yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui Natal pada 25 Desember tersebut. Lucunya, di tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II sendiri telah mengumumkan kepada umatnya jika Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan tengah-musim dingin kaum pagan. Saat itu umat Katolik gempar, padahal banyak sejarawan telah menyatakan jika 25 Desember tersebut sebenarnya merupakan tanggal kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Dionisius, dan lain-lain.

Kisah yang sesungguhnya tentang hari Natal bisa kita cari di internet, antara lain tulisan yang dibuat oleh Pastor Herbert W. Amstrong, sejarawan Kristen yang menentang banyak hal tentang Natal pada tanggal 25 Desember. Yang banyak orang tidak mengetahui, keseluruhan dasar bangunan kekristenan sekarang ini sesungguhnya dibangun atas kerangka dasar ritus pembaharuan Osirian di Mesir kuno. Beberapa di antaranya adalah:

Pertama, Yesus dianggap anak Allah, ini sama dengan keyakinan kultus Dionisius yang sudah ada berabad sebelum Yesus lahir.

Kedua, Yesus dilahirkan di kandang, ini sama seperti kisah Horus yang lahir di kuil-kandang Dewi Isis.

Ketiga, Yesus mengubah air menjadi anggur dalam perkawinan di Qana, ini sama seperti apa yang dilakukan Dionisius.

Keempat, Yesus membangkitkan orang dari kematian dan menyembuhkan si buta, ini sama seperti Dewa Aesculapius;

Kelima, Yesus diyakini bangkit dari kematian di makam batu, sama seperti Mithra.

Keenam, Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan roti dan anggur di mana sampai sekarang ritual ini masih tetap berjalan di gereja-gereja, padahal ritual roti dan anggur merupakan simbolisasi penting dalam tradisi Osirian, dan juga hampir semua ritual pagan yang memuja Dewa Yang Mati seperti halnya pemuja Dionisius dan Tammuz;

Ketujuh, Yesus menyebut dirinya penggembala yang baik, ini meniru peran Tammuz, yang berabad sebelumnya telah dikenal sebagai Dewa Penggembala;

Kedelapan, Istilah ‘The Christ’ pada awal kekristenan tertulis ‘Christos’, sering tertukar dengan kata lain dalam bahasa Yunani, Chrestos, yang berarti baik hati atau lembut. Sejumlah manuskrip Injil berbahasa Yunani dari masa awal malah menggunakan kata Chrestos di tempat yang seharusnya ditulis dengan Christos. Orang-orang di masa itu sudah lazim mengenal Chrestos sebagai salah satu julukan Isis. Sebuah inskripsi di Delos bertuliskan Chreste Isis.

Kesembilan, dalam Injil Yohanes 12: 24, Yesus mengatakan, “Seandainya biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika dia mati ia akan menghasilkan banyak buah”. Perumpamaan dan konsep ini jelas berasal dari konsep ritual Osirian;

Kesepuluh, dalam Injil Yohanes 14:2 Yesus mengatakan, “Di rumah bapakku banyak tempat tinggal.” Ini benar-benar berasal dari Osiris dan dicopy-paste dari Book of the Dead, Kitab Orang Mati Mesir Kuno yang dipercaya disimpan di kota kematian, Hamunaptra. Ini baru sebagian contoh.

Simbol Salib yang dipergunakan oleh kekristenan dahulu hingga sekarang (juga Katolik) jelas-jelas merupakan simbol Osirian kuno. Bahkan Kristen Koptik di Mesir mengambil simbol Ankh, salib Osiris dalam bentuk asli, sebagai simbol gerakannya. Masih banyak lagi kesamaan konsep kekristenan dengan agama-agama pagan Mesir Kuno, seperti dalam kebangkitan Yesus dari kematiannya, sosok Maria Magdalena dan perannya bersama Yesus, ritus pembaptisan oleh Yohanes, dan sebagainya.

Nah, sekarang merupakan fakta jika dunia kekristenan telah menghegemoni kebudayaan dunia, termasuk di Indonesia, diakui atau tidak. Sesungguhnya, yang menghegemoni dunia saat ini adalah kebudayaan yang berangkat dari keyakinan Kabbalah.


Mengenai suku Indian yang sudah masuk Islam sebelum Colombus datang ke Amerika, silakan Googling saja dengan kata “They Came Before Colombus”.

Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar