Sabtu, 24 Agustus 2013

....."They were preparing to stage an attack using an Audi car containing 250 kg (550 pounds) of explosives," the statement also said...>> .... Al-Akhbar, Ibrahim al-Amin, pada hari Jumat (16/8) menyebutkan, "aparat keamanan sebuah negara Teluk berdiri di belakang semua serangan bom di Lebanon akhir-akhir ini dan mentargetkan Syria dan kelompok "Perlawanan" dengan menyerang Hizbollah dengan serangan-serangan roket dan bom."...>> ..."Ada tiga kelompok yang bertanggungjaab dalam operasi ini, yaitu mereka yang meletakkan bom-bom berdaya ledak tinggi di jalanan Chtaura, Majdal Anjar, Hermel, kemudian mereka yang menembakkan roket-roket ke Beirut, dan mereka yang membuat bom-bom," tambah Amin dalam wawancara dengan Al-Manar TV...>> ..."Namun kelompok yang membom jalan raya Chtaura-Masnaa dan Chtaura-Zahle berbasis di Majdal Anjar. Inteligen militer Lebanon telah membuat daftar aktifitas mereka. Mereka terdiri dari orang-orang berkewarganegaraan Lebanon dan Syrian yang bertikai dengan tentara yang tengah memburu mereka," kata Amin lagi...>> ...."The Moslem Arab world is built like a temporary house of cards, put together by foreigners (France and Britain in the 1920's), without the wishes and desires of the inhabitants having been taken into account. It was arbitrarily divided into nineteen states, all made of combinations of minorities and ethnic groups which are hostile to one another, so that every Arab Moslem state nowadays faces ethnic social destruction from within, and in some a civil war is already raging." [158] [Most of the Arabs, 118 million out of 170 million today, live in Africa, primarily in Egypt (45 million).] The "new" strategy of the eighties is the old imperial dictum of divide and rule, which depends for its success upon the securing of corrupt satraps to do the bidding of an aspiring imperial order....>>> ..."In this giant and fractured world there are a few wealthy groups and a huge mass of poor people. Most of the Arabs have an average yearly income of $300. Lebanon is torn apart and its economy is falling to pieces; there is no centralized power, but only five de-facto sovereign authorities....>>> ...If Nasser's Egypt finished up, in Israel's vision, "torn apart" like a second Lebanon, Saudi Arabia will be far more vulnerable, for the Monarchy's days are considered numbered. "The entire Arabian peninsula is a natural candidate for dissolution due to internal and external pressures, and the matter is inevitable, especially in Saudi Arabia. ...>>> ...."Four No's:" No to a Palestinian state No negotiations with the P.L.O. No return to the 1967 borders No removal of any settlements. ..>>


TERSANGKA PEMBOM BEIRUT TERTANGKAP 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/08/tersangka-pembom-beirut-tertangkap.html#more

 
Memenuhi harapan pemimpin Hizbollah untuk bisa menangkap para pelaku pemboman kawasan Bir al-Abed - Ruwais, Beirut Selatan tgl 15 Agustus lalu yang menewaskan 27 orang, aparat keamanan Lebanon berhasil menangkap 3 orang yang diduga kuat memiliki keterkaitan dengan aksi pemboman.

Dinas Keamanan Lebanon (General Security Agency) mengumumkan hari Selasa (20/8) bahwa pihaknya telah menangkap 2 orang berkebangsaan Lebanon dan seorang warga Palestina yang diduga kuat memiliki kaitan dengan serangan bom tgl 15 Agustus lalu. Ketiganya mendapatkan tuduhan "membentuk kelompok teroris dan melakukan tindakan-tindakan yang mengancam keamanan wilayah Lebanon".

"Mereka tengah merencanakan serangan dengan menggunakan mobil Audi yang berisi 250 kg bahan peledak," demikian pernyataan General Security.

Mobil yang diduga hendak digunakan dalam serangan teroris ditemukan di area Naameh, Beirut Selatan, hanya 2 hari setelah terjadinya serangan bom di kawasan Zahiyeh, antara Bir el-Abed dan Rweiss, Beirut Selatan. Area tersebut dan sebagian besar wilayah Beirut Selatan merupakan wilayah yang mayoritas dihuni oleh orang-orang Shiah pendukung Hizbollah.

Sebelumnya pada tgl 16 Agustus, pemerintah Lebanon mengumumkan telah berhasil mengidentifikasi satu jaringan teroris yang diduga tengah merencanakan serangan bom di Beirut Selatan.

Pada tgl 16 Agustus lalu pemimpin Hizbollah Sayyed Hassan Nasrallah menuduh kelompok-kelompok takfiri dukungan Israel, Amerika dan inteligen negara-negara Teluk sebagai pihak yang bertanggungjawab atas atas serangan-serangan bom yang menewaskan puluhan pendukung Hizbollah, khususnya sejak Hizbollah melibatkan diri dalam perang di Syria. Nasrallah mengaku telah mengidentifikasi para pelaku dan siap menangkap mereka jika aparat keamanan tidak melakukan tindakan tegas.


PERAN INTELIGEN NEGARA-NEGARA TELUK

Di sisi lain pimpinan redaksi koran Lebanon Al-Akhbar, Ibrahim al-Amin, pada hari Jumat (16/8) menyebutkan, "aparat keamanan sebuah negara Teluk berdiri di belakang semua serangan bom di Lebanon akhir-akhir ini dan mentargetkan Syria dan kelompok "Perlawanan" dengan menyerang Hizbollah dengan serangan-serangan roket dan bom."

"Ada tiga kelompok yang bertanggungjaab dalam operasi ini, yaitu mereka yang meletakkan bom-bom berdaya ledak tinggi di jalanan Chtaura, Majdal Anjar, Hermel, kemudian mereka yang menembakkan roket-roket ke Beirut, dan mereka yang membuat bom-bom," tambah Amin dalam wawancara dengan Al-Manar TV.

"Anggota-anggota yang melakukan serangan roket sangat disayangkan adalah orang-orang Palestina, orang yang paling bertanggungjawab bernama Ahmad Taha yang diketahui kini berada di Arsal," kata Amin seraya menambahkan bahwa Ahmad Taha dikendalikan oleh salah satu kelompok Islam Palestina.

"Namun kelompok yang membom jalan raya Chtaura-Masnaa dan Chtaura-Zahle berbasis di Majdal Anjar. Inteligen militer Lebanon telah membuat daftar aktifitas mereka. Mereka terdiri dari orang-orang berkewarganegaraan Lebanon dan Syrian yang bertikai dengan tentara yang tengah memburu mereka," kata Amin lagi.

Lebih jauh ia mengatakan, "mereka yang meledakkan kawasan Dahiyeh dan Hermel kini tinggal di Arsal dan memiliki 3 aktor yang terlibat langsung maupun tidak langsung: seorang warga Palestina, seorang Syria dan seorang Saudi."

Menurut Amin, pembuatan bom yang menewaskan 27 orang di kawasan antara Bir al-Abed dan Ruwais dilakukan di kota Arsal.

Amin juga mengungkapkan bahwa pemboman di Bir al-Abed dan Ruwais dirancang selama beberapa hari sebelum tgl 7 Juli, dan pada tgl 8 Juli 3 orang pelaku ditetapkan untuk menjalankan aksi.

"Ketiganya bergerak dalam satu mobil dari Arsal ke kawasan pantai Beirut untuk mencuri sebuah mobil dan menjebaknya. Mereka mencuri sebuah mobil KIA setelah mengancam seorang pemuda dan pasangannya yang berada di dalam mobil. Selanjutnya mereka memindahkan tas-tas mereka ke dalam mobil tersebut."

"Mereka meletakkan mobil itu di area yang mengarah ke kawasan Dahiyeh pada tgl 9 Juli. Selanjutnya mereka berpindah dari jalan tol bandara ke kawasan luar kota dan meledakkan mobil itu di sana," tambah Amin.

Berdasarkan penyidikan aparat keamanan, bom mobil yang meledak di Bir al-Abed  - Ruwais berkekuatan 100 kg bahan peledak. Ledakan itu menewaskan setidaknya 24 orang dan melukai 336 lainnya.


REF:
"Lebanon arrests three over bombing plan"; Press TV; 20 Agustus 2013

"Gulf Intelligence behind Beirut Explosions, Perpetrators Hide in Arsal"; ALMANAR.COM.LB; 17 Agustus 2013
Lebanese soldiers and policemen work on the scene of the car bomb explosion in the southern suburb of Beirut on August 16, 2013.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar