Rabu, 28 Agustus 2013


Atlantis Sunda Land

Champion Of Life

http://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/08/19/15435/ 

Emha Ainun Nadjib August 16 Champion Of Life AKU jatuh hati pada Indonesia. Tanah air alunan balada antagonis-protagonis yang harmonis. Tak peduli apakah nenek moyang mereka adalah Ibu Peradaban Dunia ataukah raja dan rakyat dungu yang bisa dijajah ditipu diperdaya oleh sekumpulan satpam VOC. Biarin apakah mereka berasal usul dari Negeri Atlantis, Sunda Land, atau […]

PERADABAN ESOTERISME NUSANTARA

Achmad Badawi
Gembong-gembong Metafisika Cahaya Sejati adalah para 124 ribu Nabi yang disebar-diustus kepada seluruh bangsa di dunia (termasuk Ribuan Nabi yang diutus ke bangsa-bangsa Nusantara Indonesia Peletak Peradaban Esoterisme Nusantara) sepanjang masa kenabian yang ditutup Kanjeng Nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para Nabi (Chotamul Anbiya) pada tahun 570 M – 613 M. Namun gembong Metafisiska Cahaya Sejati sebagai Grand Master “Pelaku sekaligus Pembangun Sistem Logos” adalah Plato, disusul Kaum Neo Platonis kaum pelanjut ajaran ‘Iluminasi-Isyraqiyah Cahaya Plato’ dengan kelebihan dan kekurangan “Bangunan Logos”-nya: Imam Ali bin Abi Thalib dan keluarga keturunannya yang suci terjaga, Hasan Al Bashri, Ibn Arabi, para Grand Master Sufi/Irfan, Buddha, Jalaluddin Rumi, Abayazid Al Bustomi, Syaikh Abd Qodir Jailani, Faqih Al Muqaddam, Junaidi Al Baghdadi, para Grand Master Pendiri Tarekat Mu’tabaroh, Al Hallaj, Imam Al Ghazali, Zen, Suhrawardi, Walisongo, Walipitu, Syekh Yusuf Al Makasari, Hamzah Fanshuri, Samsuddin Sumatrani, Syekh Burhanpuri, Mulla Sadhra, Ronggowarsito, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, Ki Ageng Suryomentaram, Imam Thabathabai, Imam Khomeini dkk.

Aksara Suci

Wayan Sandi edited a doc. Om/A.U.M (Ang-Ung-Mang) in Various Scripts Om Awigenamastu // Bismillahirohmanirohim….. Ijinkanlah saya untuk berbagi informasi mengenai Aksara Suci, mohon disikapi dengan Arif.Bijaksana penuh dengan sikap Toleransi….   Sanskerta: एकम् सत् विप्रा: बहुधा वदन्ति  Alihaksara: Ekam Sat Vipraaha Bahudhaa Vadanti  Cara baca dalam bahasa Indonesia: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti  Bahasa Indonesia: “Hanya ada satu […]

PERADABAN “RISET” SULAIMAN : CONTINUTY AND CHANGE, SUPER KONDUKTOR KE FUTUROLOGI FRAKTAL (2)

PERADABAN “RISET” SULAIMAN : CONTINUTY AND CHANGE, SUPER KONDUKTOR KE FUTUROLOGI FRAKTAL (2) July 29, 2013 at 11:39pm PERADABAN SULAIMAN DAN KEMAJUAN TEKNOLOGINYA.  Coco Al Mahdi. Sulaiman adalah sosok manusia yang memiliki kecerdasan tinggi. Ia adalah keturunan Daud yang pada periode-periode sebelum kelahiran Sulaiman, Daud memerintah sebagai raja. Kini Sulaiman pun mewarisi itu semua. Ya, […]

BENARKAH PERADABAN MANUSIA BARU BERKEMBANG SEJAK SEKITAR 10.000 TAHUN LALU?

Oki Oktariadi Wilayah priangan………ada apa dng Sunda………mungkinkah fenomena gunung padang sebagai pertanda agar kita tidak lupa sejarah…….tidak lupa dng kebesaran masa lalu yg lebih lalu lagi………. Danny Hilman Natawidjaja BENARKAH PERADABAN MANUSIA BARU BERKEMBANG SEJAK SEKITAR 10.000 TAHUN LALU? Banyak yang meyakini atau menelan saja dogma ilmu pengetahuan bahwa peradaban dunia sekarang adalah peradaban manusia satu-satunya […]

Benua yang Hilang: Tempat Penciptaan dan Kediaman Adam-Eva, Beserta Listofernya

Benua yang Hilang: Tempat Penciptaan dan Kediaman Adam-Eva, Beserta Listofernya REP | 30 January 2013 | 10:43 Dibaca: 229    Komentar: 0    6 Oleh Chris Boro Tokan   Pendahuluan  Dalam firman tentang Abraham yang disebut TUHAN tentang Negeri Asal, maksudnya negeri/daerah/wilayah kediaman Abraham yang Asli, sebelum negeri Israel yang dijanjikan ALLAH. Kitab Kejadian (Genesis) Pasal 12, menggambarkan Abram dan keluarganya telah memenuhi panggilan Allah […]

Cendana, Cengkeh, Pala sebagai Pembuka Tabir Misteri Geografis Atlantis yang Hilang

OPINI | 24 July 2012 | 03:57 Dibaca: 1081    Komentar: 2    0 Oleh Chris Boro Tokan  Adalah seorang Munandjar Widiyatmika menegaskan bahwa atas dasar pemberitaan tertulis perdagangan cendana yang berlangsung sekitar awal abad Masehi, secara tidak langsung  merupakan bukti  mulainya masa sejarah Nusa Tenggara Timur. Cendana yang sangat laku di pasaran dunia adalah hasil dari bumi Nusa Tenggara Timur. Memang cendana juga dihasilkan oleh beberapa […]

Nusa Tenggara-Maluku: Dalam Penelusuran Penyebaran Awal Manusia di Dunia

Nusa Tenggara-Maluku: Dalam Penelusuran Penyebaran Awal Manusia di Dunia OPINI | 03 July 2012 | 00:03 Dibaca: 684    Komentar: 0    0 Oleh Chris Boro Tokan   Pendahuluan  Wilayah NUSA TENGGARA-MALUKU, menggambarkan letak geografi yang selalu disebutkan dalam mitos-mitos dan kajian tentang SURGA Di TIMUR: yakni di bagian TERSELATAN GARIS KATULISTIWA,wilayah TIMUR, arah TENGGARA!!! Keyakinan KRISTEN menyebut SURGA di TIMUR, sedangkan Keyakinan […]

Bahasa Austronesia Sumber Asli Bahasa Dunia dan Awal Mula Penyebaran

Bahasa Austronesia Sumber Asli Bahasa Dunia dan Awal Mula Penyebaran OPINI | 27 September 2012 | 02:57 Dibaca: 2413    Komentar: 2    3  Oleh Chris Boro Tokan Pengantar Bahasa adalah anak kandung peradaban. Ia tak sendirian, maka ia memiliki banyak saudara yang terlahir dari “rahim bunda” peradaban. Bahasa sejatinya merupakan penanda identitas suatu kaum. Bahkan tak semata penanda, melainkan juga sebagai anasir […]

ATTALA ( sejarah awal Nusantara )

ATTALA : sejarah awal Nusantara  Viddy Ad Daery : -satu- 11.600 tahun yang lalu meletuslah Gunung Krakatau Entah letusan yang ke berapa Namun adalah yang paling dahsyat Maha dahsyat ! Yang menenggelamkan Benua Attala Alias Benua Neraka—meski alamnya indah bagai surga Namun mungkin karena tempat dua rumpun suku besar Suku kulit terangdan kulit hitam Yang senantiasa […]

 

KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKING


KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKING
Komentar singkat ini untuk menjawab pertanyaan Pak Andi Arief tentang kepunahan Homo sapiens setelah erupsi Toba. Saya jadikan posting baru untuk kemungkinan membuka diskusi2 baru. Geotrek Indonesia akan mendiskusikan hal ini lebih serius sekaligus saat mengunjungi Toba. Buku kecil 54 halaman dengan banyak data dan gambar baru kemarin saya selesaikan untuk dibagikan kepada para peserta geotrek ke Toba. Buku tersebut bercerita tentang Katastrofi Toba. Kita, orang Indonesia, harus tahu dengan baik “siapa” dan mengapa Toba itu sebab ia ada di Indonesia dan dari sinilah Prahara Besar Bumi pernah menyebar. Dari puluhan referensi yang saya pelajari, tak sampai 2 publikasi karya ahli2 kita tentang Toba. Karena itulah, di dalam buku tersebut, saya menceritakannya cukup lengkap dan semoga mudah diikuti.
Keberatan utama saya atas tesis Santos adalah bahwa gunung2api di India, Toba, Krakatau, Semeru meletus hebat bersamaan pada 11.600 tahun yl dan menyebabkan es mencair lalu membanjiri Sundaland atau Atlantis menurut Santos. Mungkin Santos membayangkan panas gunungapi itu mencairkan es ya. Secara awam orang bisa berpikir begitu, dan saya bisa memakluminya sebab Santos bukan geologist.
Bahwa gunung2 itu meletus bersamaan juga saya tak bisa menerimanya sejauh data yang kita punya. Di India tak ada gunungapi setelah 50 juta tahun yang lalu, Toba meletus terakhir 74.000 tahun yang lalu, Krakatau meletus pertama tahun 460 M, dan Semeru juga meletus di zaman Masehi, kita tak punya data jauh ke belakang selain Toba yang sangat intensif dipelajari.
Letusan gunungapi besar akan menyebabkan musim dingin volkanik, Bumi bahkan membeku, bukan mencairkan es2nya. Tambora meletus 1815, menurunkan temperatur permukaan bumi 0,7 C (Rampino dan Self, 1992). Gunung Agung meletus 1963 menurunkan temperatur 0,3 C (Jones et al, 1982). Toba meletus 74.000 tahun yl menurunkan temperatur 5 C (Chesner et al., 1991). Letusan Toba yang melemparkan 800 km3 abu ke langit dan aerosol tersusun atas gas2 belerang telah membuat Bumi membeku 6-10 tahun, lalu Bumi menggigil selama 1000 tahun berikutnya (Rampino dan Self, 1992, 1993). Ada 10 milyar ton aerosol H2SO4 yang dilempar ke atmosfer saat Toba meletus mega-kolosal 74.000 tahun yang lalu itu. Ini telah membuat transmisi sinar Matahari hanya tinggal 0,001-10 % yang sampai permukaan Bumi. Maka Bumi membeku, banyak volume air laut ditarik ke kutub menjadi tumpukan es. Hanya dalam 7000 tahun, muka laut di seluruh dunia susut 40 meter, cepat sekali.
Fotosintesis sangat minimal dengan transmisi sinar Matahari di bawah 10 %. Fotosintesis tak terjadi, semua reaksi rantai makanan berikutnya akan berhenti, dan ujungnya adalah mass extinction, kepunahan massa. Adalah Ambrose (1998) dan Ambrose dan Rampino (2000) yang menghitung bahwa setelah letusan Toba itu, jumlah manusia menciut tinggal 5000-10.000 orang dari semula 100.000 orang penghuni Bumi. Inilah yang mereka sebut sebagai Population Bottlenecking, atau Genetic Bottlenecking. Dari kumpulan yang selamat inilah ras2 manusia masa kini diturunkan.
Pendapat2 ini juga diaminkan oleh ahli2 genetika yang lain seperti Oppenheimer (2003) dan Richard Dawkins (2004).
Toba pernah membuat prahara di Bumi: Katastrofi Geologi, 74.000 tahun yang lalu.
Unlike ·  · Unfollow Post · October 20 at 5:33pm

  • You, Pon S. PurajatnikaDi DitOman Abdurahman and 16 others like this.
  • Retha Aretha berarti letusan Tambora, Krakatau maupun Vesuvius yg selama ni kita ketahui blm ada apa2nya ya jika kita membandingkan jumlah material vulkanik yg dilemparkan dgn Toba yg sebesar 800 km3 ini…maka masuk akal jika setelah letusan Toba pd 74.000 thn yl ini terjadi kepunahan massa…
  • Herfien Geologist Putra Sy bangga dan kagum atas analisis dan fakta yang di kemukakan oleh Pak Awang Satyana. Sy sangat senang jika suatu saat bisa bertemu dengan bapak dan berdiskusi nantinya. thanks..
  • Awang Satyana Iya Retha Aretha. Volume 800 km3 itu hanya abu volkanik yang terlontar setinggi 30-40 km dan tertiup ke area seluas 4 juta km2, termasuk di dasar laut Cina Selatan dan Samudera Hindia, dan sampai 3100 km tertiup dan mengendap di India menghancurkan semua hutannya. Di luar volume itu masih ada 1000 km3 lava, 1000 km3 ignimbrit, dan 10 milyar metric ton gas belerang. Gas belerang ini menginjeksi atmosfer dan tinggal berabad2 di stratosfer. Inilah gas belerang dalam bentuk aerosol yang mengitari Bumi lalu menjadi bencana membuat Bumi beku. Toba membuat yang lain menjadi kecil. Tambora 1815, 80 km3. Vesuvius 79, 3 km3. Krakatau 1883, 18 km3. Bandingkan dengan ejecta Toba 2800 km3, sungguh jauh. Maka Toba diam di puncak indeks ledakan gunungapi tertinggi, wajar kalau ia adalah gunungapi terbesar meletus dalam 28 juta tahun terakhir. Walaupun ia meletus pada masa prehistori, datanya banyak sebab penelitiannya telah dilakukan dalam 60 tahun terakhir sejak van Bemmelen (1949) menyebut Danau Toba adalah kawah gunungapi.
  • Awang Satyana Terima kasih Herfien Geologist Putra, saya hanya banyak membaca dan menuliskannya kembali untuk orang banyak. Pegang banyak literatur, itu gudang ilmu yang dengan susah-payah disiapkan para peneliti dan penulisnya. Kemampuan analisis akan baik dengan sendirinya semakin banyak kita melakukan penelitian dan menuliskannya. Salam.
  • Retha Aretha pantas saja jika danau Toba seperti yg kita lihat sekarang ini kalo tidak salah mendapat sebutan sbg danau kaldera terluas di dunia (??) ya… apakah danau Toba ini sudah masuk dalam daftar geopark (ato calon geopark)?
  • Herfien Geologist Putra Sepakat dengan pak Awang Satyana ! kemampuan analisis akan cenderung dihasilkan dengan banyak membaca literatur. Mungkin membandingkan, menghasilkan sesuatu “new concept ” atau mungkin malah mengkritisi apa yang telah diuraikan sebelumnya dan itu saya …See More
  • Awang Satyana Ya, Herfien, silakan. Banyaklah membaca dan menulis. Jangan hanya bicara, menulis akan jauh lebih banyak mengajar kita.
  • Awang Satyana Ya Retha Aretha, Danau Toba adalah kawah/kaldera volkanik terluas di dunia, mega-caldera kalau dalam volcanology. Ia begitu besar sebab ada 4 kawah berkumpul jadi satu sejak letusan pertamanya 1,2 juta tahun yl. Tetapi kawah terbesarnya dihasilkan oleh letusannya yang terakhir itu: big bang…74.000 tyl. Toba belum menjadi geopark, tetapi ia calon geopark yang masih harus diperjuangkan. Semoga diskusi2 ini membuat orang banyak makin mengerti dengan Toba, bukan hanya menikmati keindahannya, tetapi juga kedahsyatannya. Sebab salahbsatu point penilaian geopark adalah apakah masyarakat mengerti akan geoheritage ini sehingga turut menjaganya. Masyarakat tak akan tahu detail Toba, bila para geologist-nya diam saja.
  • Ridwan Hutagalung Muka air laut yang susut sampai 40 meter (tertarik ke kutub) itu bagaimana prosesnya, Pak?
  • Awang Satyana Bang Ridwan Hutagalung, itu hanya proses keseimbangan jumlah air di Bumi mengikuti daur hidrologi. Setiap pertambahan tumpukan es di kutub atau di benua2 akan diikuti oleh penurunan muka laut sebab yang jadi tambahan es itu berasal dari air laut juga. …See More
  • Budi Goweser Bandung Pak, klu yg gak bisa ikut ke Toba, apakah bisa mendapatkan buku yang Bapak tulis..
  • Awang Satyana Bisa Pak Budi, tetapi nanti ya sepulang dari Toba. Pak Budi tolong ingatkan saya melalui inbox/message. Salam.
  • Retha Aretha pak Awang Satyana, pd saat terjadi letusan mega-kolosal Toba ini apakah sudah ada manusia yg bermigrasi sampai ke Indonesia atau melewati Sumatra? Jika ada kemana mereka lari? Tentulah sangat susah untuk survival dan kemungkinan akan ikut punah jg…
  • Awang Satyana Retha Aretha, pertanyaan bagus tetapi ada beberapa perdebatan tentang ini. Indonesia, khususnya Jawa, sudah dihuni hominid/ manusia purba sebelum Toba meletus 74.000 tyl. Menjelang Toba meletus ada Homo erectus ngandongensis di Jawa dan Homo floresiensis di Flores. Saat Toba meletus, mereka diyakini selamat sebab berada di sisi yang aman, mereka menghuni area tenggara Toba, sementara “kill zone” Toba justru ke barat, utara, dan baratlaut. Mestinya saat Toba meletus dan beberapa ribu setelahnya mereka menghuni shelter2 khusus termasuk banyak gua di Pegunungan Selatan dan Pacitan. Lalu mereka bermigrasi ke timur dan tenggara lagi serta menurunkan aborigin Australia. Saya masih berpendapat bahwa Homo floresiensis adalah hasil evolusi dwarfism Homo erectus ngandongensis tetapi dengan perubahan tengkorak ke arah progresif, yang terisolasi dan mengerdil di gua2 Manggarai Flores, sementara yang lain menyeberang ke Australia.
  • Awang Satyana Sebuah situs yang kaya artefak paleolithic tools ditemukan di situs Kota Tampan, Perak, Malaysia, di sebelah tenggara Penang. Di sini puluhan ribu artefak itu terdapat di bawah dan di dalam abu volkanik Malaysia yang mirip abu volkanik Toba. Pengukuran umur abu volkanik ini kontroversial, pengukuran pertama oleh Stauffer 1973 menghasilkan umur 33.000-39.000 tyl, diulang oleh Nishimura 1980 30.000 tyl. Tetapi diukur oleh Ninkovich 1978 secara volkanologi ukurnya 73.000 tyl. Kalau Ninkovich benar, berarti siapa pembuat artefak kota Tampan itu, apakah Homo erectus atau Homo sapiens yang kata Oppenheimer 2003 sudah keluar dari Afrika 85.000 tyl. Kalau pembuat paleolithics Kota Tampan itu adalah Homo erectus seperti di Jawa, ya migrasi Homo sapiens belum sampai ke sana dan postulasi Oppenheimer 2003 salah sebab dia sebelum Toba meletus sudah menaruh garis migrasi via Sumatra lalu ke Kalimantan. Kalau pengukuran umur Stauffer dan Nishimura benar, maka harus bisa dijelaskan gunung Toba mungkin meletus lagi antara 39.000-30.000 tyl. Masih ada hal2 yang harus diteliti lebih jauh.
  • Retha Aretha menarik sekali….lantas bagaimana ciri-ciri artefak paleolitik yg ditemukan di Kota Tampan itu jika dibandingkan dgn artefak paleolitik pd zaman Homo erectus di Jawa atau zaman Homo sapiens?
  • Awang Satyana Retha, pertanyaan bagus lagi, tetapi tak mudah menjawabnya sebab ini masalah2 problematik dan penuh dengan perdebatan. Nanti kalau GI jadi ke Pacitan tahun depan, saya akan mendiskusikannya lebih detail. Sekarang pengantar dulu ya.

    Adalah Walker dan S…See More
  • Retha Aretha jadi kalo besok kita ke Toba, kemudian dilanjutkan ke Pacitan…bakalan lengkap ceritanya ya….semoga… Btw saya pernah ke gua-gua bekas bengkel artefak paleolitik Homo erectus (?) ini di Pacitan, salah satunya namanya Song Terus, song artinya gua, namun pd waktu itu masih dlm tahap penelitian jd masih tertutup untuk umum, walhasil saya ga bisa masuk….kurang tau sekarang sudah dibuka blm ya…
  • Awang Satyana Retha Aretha, pada prinsipnya Song Terus tetap terbuka untuk umum, kecuali kalau sedang ada penelitian intensif oleh para ahli bisa ditutup sementara. 

    Song Terus telah diteliti secara intensif hampir 10 tahun ini oleh para peneliti Indonesia bekerja sama dengan para peneliti dari LN terutama Prancis. Maka pengetahuan kita, sejauh yang publikasinya dapat diakses atau mungkin ditulis populer untuk umum, cukup lumayan. Song Terus mengandung informasi lengkap tentang purbakala sejak Plistosen Tengah-Holosen (Ansyori, 2009 – Muséum national d’Histoire naturelle). Pengukuran umur absolut telah dilakukan di sini atas artefak atau fosil menggunakan berbagai metode. Sejauh ini yang paling tua terukur 392.000 tahun yl dan yang termuda 5770 tahun yl. Melihat rentang umurnya, maka kelihatannya Song Terus pernah dijadikan tempat tinggal baik oleh Homo erectus maupun oleh Homo sapiens.

    Peralatan yang ditemukan pun berkembang sesuai kemajuan zaman di lapisan-lapisan di lantai gua yang dilakukan ekskavasi. Para ahli menggolongkannya ke temuan dari kebudayaan Paleolitikum dan Mesolitikum. Gigi yang kemungkinan tinggalan Homo erectus telah ditemukan dan dilakukan pengukuran umur absolut menggunakan electron spin resonance (ESR) dating dan menghasilkan umur 392.000-216.000 tahun yl (Hameau et al, 2007: Quaternary Geochronology, vol.2:398-402). Lalu akhirnya (tahun 2008) ditemukan pula rangka utuh di lapisan atas Song Terus (Lapisan Keplek) yang dengan jelas menunjukkan tipe manusia modern.

    Wilayah Pacitan menghasilkan banyak sekali artefak Paleolitik dan Mesolitik, sehingga menghasilkan kebudayaan tersendiri bernama Pacitanian. Begitu kayanya, konon sampai von Koenigswald yang meneliti Pacitan di Kali Baksoka pada tahun 1935 mampu mengumpulkan perkakas batu sampai 200 buah hanya dalam waktu 10 menit.
  • Awang Satyana Buku terbitan IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) “Prasejarah Gunung Sewu” (2002) bahkan menulis bahwa Gunung Sewu mengandung artefak dan ekofak dari kebudayaan paleolitik, preneolitik (mesolitik), neolitik, dan paleometalik. Buku ini bagus sebab me…See More
  • Retha Aretha di Yogyakarta bagian selatan dan Pacitan ini memang banyak terdapat gua, di Pacitan selain Song Terus, ada juga gua Tabuhan, pd saat saya kesana di bagian dekat pintu luar sedang dilakukan penelitian (arkeologi/paleontologi?) jg, namun pengunjung masih…See More
  • Awang Satyana Ya Retha Aretha, Gunung Sewu di Pegunungan Selatan dari Kali Oyo ke Teluk Pacitan itu, sepanjang 85 km selebar 20-30 km merupakan wilayah dengan temuan prasejarah terkaya di Indonesia, juga Asia Tenggara. Maka banyak penelitian arkeologi dan geologi di…See More
  • Sofwan Noerwidi saya kira migrasi gelombang pertama Homo sapiens ke Jawa, melalui Sumatra & Semenanjung, sudah dimulai sebelum YTT 74 ka, sejak MIS5, interglasial maksimum terakhir. mungkin sekitar MIS5 stadial b 85 ka atau stadial d 105 ka ketika Sundaland terbentuk jembatan darat, namun masih cukup lembab bagi penyebaran “paket” hutan hujan tropis beserta isinya. saat inilah terjadi migrasi Punung fauna yg kemungkinan diikuti oleh Homo sapiens. buktinya, gigi Homo sapiens dari Ajer Lidah (Sumbar) & Gunung Dawung (Punung) temuan Dubois, yg baru2 ini didating oleh Keira Westaway et al. Implikasinya, artefak Tampanian yg mirip dengan Pacitanian mungkin saja dibuat oleh Homo sapiens pra YTT 74 ka yg kemudian punah akibat Toba 74 ka, sedangkan genus Homo yg hidup di sebelah timur Toba tidak punah, karena akibat bencana tidak seburuk yang dirasakan sepupunya yg hidup di barat Toba. itulah mengapa soloensis bisa bertahan hingga 30 ka, floresiensis hingga 18 ka & sangat mungkin coexist atau hybrid dengan sapiens. coba tengok kasus Neanderthal & Danisovan.
  • Sofwan Noerwidi Song Terus memang memiliki artefak dari 300 ka, namun konteksnya adalah deposit aliran sungai (bawah tanah ?), sedangkan lokasi asal artefaknya mungkin di suatu tempat di luar gua, pada saat itu situsnya sendiri belum dihuni manusia. lapisan hunian terawal mungkin sekitar 115 ka, ketika sebagian lantai gua kering dan ada bukti2 aktifitas manusia. hasil analisis artefak yg mencakup seluruh kronologi tersebut, tidak ditemukan perbedaan aspek2 teknologinya. sehingga ada kemungkinan Homo erectus yg membuat artefak tersebut secara berkesinambungan, atau Homo sapiens memiliki teknologi artefak yg sama dengan manusia sebelumnya, sehingga awal kedatangannya tidak dapat diidentifikasi berdasarkan teknologi alat batu.
  • Mario Andramartik kalo dikaitkan dgn tinggalan artefak prasejarah di Pasemah gimana pak Awang Satyana ?
  • Awang Satyana Pak Mario Andramartik, kelihatannya tak ada pengaruhnya ke tinggalan prasejarah Pasemah sebab abu volkanik Toba 74.000 tyl lebih banyak tersebar ke utara-baratlaut-barat. Salam.
  • Sofwan Noerwidi yg jelas, pada saat Toba 74 ka belum ada pembangunan monumen2 megalitik di Pasemah
  • Retha Aretha kalo ga salah megalitik Pasemah itu coraknya lebih dinamis ya, jd bisa dibilang lebih modern..??
  • Awang Satyana Ya mas Sofwan Noerwidi benar, kebudayaan megalitik berkembang jauh sesudah peristiwa super-erupsi 74 Ka (kiloyears ago – ribu tahun yl). Kebudayaan megalitik di Indonesia paling tua sekitar 4500 tyl pada masa orang2 sudah menetap dan bercocok tanam dan bisa menerus ke zaman perundagian (Sukmono, 1990).Retha Aretha, memang megalit Pasemah berasal dari sekitar tahun 100 M (van Heekeren, 1958; von Heine-Geldern, 1972). Bentuknya memang menarik, dinamis, menunjukkan unsur aktivitas gerakan seperti menunggang gajah, dll, tak statis seperti kebanyakan megalit yang umurnya lebih tua.
    21 hours ago · Like · 1
  • Awang Satyana Penelitian terakhir di Song Terus menetapkan Terus Layer sebagai lapisan tertua di gua ini. Metode dating dengan U-series dan ESR
    methods menetapkan umut sekitar 341 dan 254 ka atau Middle Pleistocene period (Hameau S., 2004; Sémah F. et al., 2004). Dikonfirmasi juga oleh penelitian master thesis Mirza Ansyori (2009/2010) dari Muséum national d’Histoire naturelle.
    21 hours ago · Like · 1
  • Awang Satyana Migrasi manusia modern ke Indonesia pada 105.000 tyl atau 85.000 tyl kelihatannya terlalu awal. Data pemetaan migrasi berdasarkan projek data genome manusia yang dilakukan oleh National Geographic 1999-2005 menaruh migrasi ke Nusantara ini berada di antara 70.000-50.000 tahun yl.
    21 hours ago · Like · 1
  • Retha Aretha jika migrasi ke Nusantara terjadi antara 70.000-50.000 tahun yl berarti ini terjadi pd masa sesudah letusan mega-kolosal Toba ya, sesudah alam kembali setimbang dan migrasi manusia modern kembali bisa berjalan…menarik untuk ditelaah lebih lanjut…trimakasi sharing ilmunya pak Awang Satyana
    7 hours ago · Like · 1
  • Sofwan Noerwidi justru antara 70 ka ke 50 ka, iklim global semakin buruk mbak. apalagi di 60 ka terjadi puncak glasial MIS 4. 
    kenapa tidak mungkin 105 ka? coba tengok tengkorak Homo sapiens dari Liujiang 100 ka. kalau mereka datang dari Afrika, apakah potong kompas langsung ke Cina selatan, atau menyusur tepian samudra lewat nusantara? lain halnya jika mengikuti multiregional continuity, tidak akan ada masalah.
  • Awang Satyana Menarik mas Sofwan Noerwidi argumentasinya, tetapi saya punya argumentasi lain. Silakan cek publikasi terbaru tentang North Greenland Ice Core Project di Nature 431:147-151, 2004. Berdasarkan isotop oksigen 16/18, masa 63.000-45.000 tyl (OIS 3 – “Oxygen Isotope Stages” ) berada dalam kondisi hangat, jadi tak mungkin maksimum dingin. Interglasial tak pernah dingin, yang dingin adalah glasial. Sekitar 10.000 tahun sesudah Toba meletus 74.000 tyl memang dingin (OIS 4 – 73.000 – 63.000 tyl), di situlah diperkirakan terjadi population/genetic bottlenecking (Gibbons, 1993; Ambrose, 1998; Ambrose dan Rampino, 2000). Maka antara periode 63.000-50.000 sangat mungkin terjadi migrasi ke Asia Tenggara setelah terjadi glasial di OIS 4. Sekuen MIS juga berdasarkan isotop oksigen 16/18 (lihat posting saya sebelumnya).

    Tentang tengkorak Homo sapiens Liujiang, kita sebaiknya menulis yang berimbang buat teman2 agar paham duduk persoalan tengkorak yang problematik ini. Problem utama tengkorak ini, seperti juga banyak fosil hominid lainnya adalah dating-nya yang meragukan (>100 kya). 

    Menurut hemat saya, katakanlah umurnya benar setua itu, itu tidak akan menumbangkan teori migrasi Out of Africa dan menumbangkannya dengan Multiregional sebab fosil manusia modern yang umurnya mendekati 200 Ka sudah ditemukan di Etiopia Afrika (lihat di bawah). 

    Untuk info teman2, dalam teori paleoantropologi, ada dua school of thought: Out of Africa vs Multiregional. Out of Africa mengatakan bahwa semua Homo sapiens berasal dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia serta menggantikan semua hominid sebelumnya di seluruh dunia. Multiregional mengatakan bahwa Homo sapiens di setiap wilayah berkembang evolutif dari spesies hominid sebelumnya, bukan dari Afrika. Uniknya, banyak ahli paleoantropologi Barat mendukung Out of Africa, dan banyak ahli paleoantropologi dari Asia/termasuk Indonesia mendukung Multiregional (he2..semoga bukan masalah primordialisme?). Itulah kesulitannya kalau kita membangun arus migrasi berdasarkan fosil atau artefak karena datanya jarang dan penentuan umurnya sering problematik. Saya lebih suka membangun arus migrasi berdasarkan antropologi molekuler menggunakan DNA mitokondria dan Y kromosom sebab datanya jauh lebih banyak dan tersebar ke seluruh dunia. Penentuan umurnya bisa melalui sequencing mutasi.

    Kembali ke tengkorak Liujiang, memang ini tegas Homo sapiens (orang awam pun akan mudah mengetahuinya bila membandingkannya dengan tengkorak Homo erectus), umurnya dari dulu problematik, banyak ahli dari Cina yang mengatakan >100 kya. Tetapi geologist Guanjun Shea dari Nanjing (China) Normal University mengatakan bahwa tengkorak itu terkubur di sedimen yang rentang umurnya dari 153.000 – 68.000 tyl. Publikasi baru dari John Hawks (2012), juga berdasarkan fosil2 tengkorak lainnya di sekitarnya menaruh Liujiang skull pada U-series dating 68.000 tyl.

    Sekalipun katakanlah ia benar setua > 100 Ka, itu tak akan mengganggu Out of Africa, sebab manusia modern (Homo sapiens) tertua sudah ditemukan di Omo Kibish, Ethiopia dengan umur 195.000 tyl (lihat National Geographic, Maret 2006). Hanya, tengkorak Liujiang ini akan menyebabkan modifikasi arus migrasi manusia modern. Tetapi itu kalau tengkorak Liujiang benar >100 kya, kenyataannya adalah umur tengkorak ini masih jadi perdebatan dan problematik. 

    Ini beberapa daftar problem paleoantropologi yang masih harus dipecahkan sebelum kita buru2 menyimpulkan: penentuan umur Liujiang skull di Cina Selatan, luminescence dating untuk Australia agar kita tahu dating the lowest sea level yang memungkinkan penyeberangan ke Australia pada 65.000 tyl, genetic dates untuk ekspansi L3 group (sekelompok Homo sapiens Afrika) pada 83.000 tyl, dan kapan permulaan salinisasi Laut Merah pada 80.000 tyl sebab laut ini jadi jalan Out of Africa. 

    Masih banyak PR buat ilmu historis yang menarik ini.
    5 hours ago · Like · 1
  • Ahmad Yanuana Samantho MOhon ijin share di :http://atlantissunda.wordpress.com/2012/10/25/erupsi-gunung-toba-75-000-tahun-yang-lalu/
    atlantissunda.wordpress.com
    Awang Satyana KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKIN
    G Komentar singkat ini untuk menjawab pertanyaan Pak Andi Arief tentang kepunahan Homo sapiens setelah erupsi Tob…
  • Retha Aretha mengikuti diskusi ini kok saya jadi merasa ikutan berjalan dari Afrika ke Nusantara ya…touring in the past
  • Awang Satyana Pak Ahmad Yanuana Samantho, silakan diteruskan saja semoga menambah wawasan yang membacanya, perdebatan adalah jamak dalam segala ilmu. Retha Aretha, iya itu bagian yang menarik dari rekonstruksi ilmu-ilmu historis seperti geologi, arkeologi, paleoantropologi. Namun yang namanya rekonstruksi dibangun atas data yang diinterpretasikan. Mana rekonstruksi yang benar akan ditentukan oleh validitas data, sampel data, analisis, sintesis dan kekuatan argumentasinya. Semoga diskusi2 ini menambah wawasan.
    4 hours ago · Like · 1
  • Sofwan Noerwidi sebetulnya ide saya cukup sederhana, yaitu sudah ada sapiens yg berkeliaran di sebelah timur Toba sebelum 74 ka sehingga lolos dari amukan tersebut. memang buktinya masih samar & bukti genetik belum mendukung, sebab sample yg dianalisis memang populasi modern yg mayoritas didominasi gen yg survive dari bottleneck paska 74 ka. padahal banyak Y kromosom warisan Pleistosen yang sulit diidentifikasi asal usulnya. semoga saja ada sample sub-fossil yg masih bisa diekstrak, floresiensis misalnya.. 
    mohon maaf, jika dalam mengemukakan pendapat saya tidak pernah menggunakan backnote, karena memang cuma spontanitas saja. semoga bisa saling melengkapi.. hehe ^^
  • Awang Satyana Itulah mas Sofwan Noerwidi yang selalu saya sarankan ke teman2 paleoantropologi, untuk menerapakan metode genetic molekuler atas fosil-fosil hominid atau manusia modern untuk merekonstruksi aliran genetik dan migrasinya, tetapi juga tak sesederhana seperti menerapkannya pada sampel darah manusia modern. Namun semoga cukup memberikan solusi atas dua school of thought itu, out of Africa vs Multiregional. Saya terus mengikuti perdebatannya.

One comment on “KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKING

  1. Halo Pak, numpang opini. Thanks untuk tempatnya.
    ———————————————————————
    Teori Iwak Belido ini sama dengan teori Kanguru Nyasar. Saat kita naik pesawat terbang ke arah Australia, kita sering berpapasan dengan pesawat lain, di udara, yang di ekornya terdapat gambar Kangguru melompat. Gambar ini selalu ada di setiap ekor pesawat flag-carier Australia yang menganggap bahwa Kangguru adalah hewan endemik benua itu. Namun sebenarnya Kangguru juga ada di Papua, sebuah wilayah yang masuk wilayah administratif Negara Kesatuan Republik Indonesia. Orang pasti bertanya, siapa yang membawa Kangguru itu ke Papua?
    Tidak perlu jauh-jauh Kangguru, suku Aborigin sebenarnya juga merupakan suku asli Papua. Siapa yang menyuruh suku Papua pindah ke Australia dan menamakan dirinya Aborigin?
    Saat di masa air laut masih berada di bawah dataran Sundaland, ada pula dataran yang tidak terendam yang menghubungkan Australia dan Papua, yaitu dataran laut Arafuru yang meluas ke barat hingga ke dataran laut Timor; dataran Arafuruland. Dataran ini serupa dengan dataran Sundaland. Seluruh suku Papua dulunya juga tinggal di wilayah dataran yang luas antara Papua dan Australia, termasuk Kangguru. Saat terjadi peluapan air laut maka komunitas kehidupan di dataran antara Papua dan Australia itu berpencar naik ke wilayah yang lebih tinggi, sebagian ke Papua dan sebagian ke Australia, Kangguru juga ikut lari menjauh dari air sebagian ke Papua dan sebagai ke Australia.
    Komunitas peradaban suku asli Papua yang tinggal di dataran laut Arafuru dan orang-orang yang tinggal di dataran Sundaland sudah bertetangga sejak lama, sehingga penyatuan wilayah ke dalam Negara Kesatuan Repulbik Indonesia sebenarnya juga simbolis kebesaran peradaban di masa Sundaland berjaya. Dataran Sundaland dan dataran laut Arafuru hanya dibatasi oleh laut kecil di sepanjang Maluku yang berbentuk cekungan dari atas ke bawah, melewati celah laut Banda hingga celah Timor dengan Nusa Tenggara, ini seperti saat kita berada di Singapura melambaikan tangan ke Malaysia, atau seperti orang Banyuwangi berteriak ke pacarnya yang ada di Bali lewat selat Bali.
    Sekarang Australia yang dikendalikan oleh orang bule Eropa seperti lebih memiliki sejarah di kawasan ini dan mencoba untuk sesekali memaksakan kehendak. Mereka adalah tamu, dan akar budaya peradaban di kawasan ini akan menjadi milik komunitas wilayah kawasan ini sendiri.
    Akar peradaban yang besar itu tidak akan benar-benar hilang. Yang namanya akar, yang sudah bertahan sangat lama, akan tumbuh berkembang, menampilkan kisah masa lampaunya kembali di kemudian hari. Indonesia, negara lain suka atau tidak, akan tumbuh besar mengulang kisah sejarah kebesaran peradaban Sundaland peradaban Arafuruland. Pemakaman peradaban raksasa di bawah dasar laut jawa itu masih dilingkupi gejolak supranatural, yang akan memberikan pengaruh-pengaruh positif tentang keinginan para leluhur yang berlum terpenuhi di masa hidupnya di masa lampau: kemajuan dan kebesaran harus kembali ke akarnya dan pemiliknya. Dan karena yang tinggal di wilayah angker dan mistis ini adalah sekarang bernama Indonesia, maka negeri ini akan melesat jauh melampau apa yang pernah dibayangkan oleh orang-orang penjajah sekaliber VOC yang gak jelas asal-usulnya.
    Cerita kebesaran kerajaan di masa sekedar ratusan tahun silam adalah cerita “sederhana”, tidak lebih dari teaser atau opening credit tittle kalau diibaratkan sebuah film. Namun cerita yang sebenarnya belum digali. Kutukan dataran Sundaland itu akan mengenai seluruh kehidupan negeri ini. Wilayah Papua yang masuk ke dalam wilayah NKRI akan lebih maju dan makmur dari yang masuk wilayah Papua Nugini. Hak-hak warga suku Papua yang masuk wilayah NKRI akan lebih dihormati oleh negara jika dibandingkan dengan hak-hak warga Aborigin di Australia. Ini akan terjadi karena kita sudah bertetangga erat bahkan sejak jaman es!
    Seluruh jiwa dan raga para leluhur Sundaland yang terbenam hanyut di dasar laut Jawa akan membimbing siapa pun manusia yang memimpin di wilayah ini, siapa pun negaranya yang berada di wilayah ini. Indonesia akan jadi mercusuar dunia! Arah kiblat akan mengarah ke Indonesia. Orang-orang yang dulunya ke luar lari dari wilayah dataran Sundaland akibat air bah, dan berpencar ke wilayah-wilayah yang lebih tinggi akan merasakan kerinduan yang sangat besar terhadap negeri ini, negeri kita ini! Perubahan peradaban di masa depan mungkin tidak dalam bentuk terjadinya pembekuan seperti di jaman es, tapi bisa juga dalam bentuk lain.
    Di jaman es, dataran Sundaland menjadi surga tempat hidup yang baik karena letaknya di equator dan disinari matahari sepanjang tahun. Di masa sekarang, kebutuhan hidup, mulai dari sumber daya alam maupun produk-produk non sumber daya alam hingga kebutuhan tenaga kerja TKI, bisa jadi akan dipasok lebih besar oleh Indonesia. Indonesia akan dipandang sebagai sebuah tempat di mana negara lain pun bahkan sangat menginginkan kita untuk menyampaikan pendapatnya untuk permasalahan yang mereka hadapi. Di masa jaman es, negeri ini dikenal sebagai negeri yang hangat. Di masa sekarang, “kehangatan” itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih luas maknanya. Dan ini akan terlihat lebih jelas lagi beberapa dekade ke depan. Untuk sekarang biarlah yang kita lihat hanyalah titik-titik momentum yang menjadi dasar batu pijakan untuk memulai semua kisah kebesaran Sundaland itu: masuk G-20, ekonomi kita mengalahkan Belanda dan Spanyol tidak lama lagi, komunitas muslim terbesar di dunia yang sekaligus negara demokrasi terbesar dunia. Ini hanya pembuka saja.
    Indonesia saat ini adalah penyuplai oksigen terbesar dunia! Sebagian besar hutannya sepanjang tahun mendapat sinar matahari secara penuh dan ini memberikan suplai oksigen dalam jumlah besar yang global itung-itungannya. Jika kita stress dan menebangi seluruh hutan di di wilayah tropis equator ini, maka dunia akan kolaps! Ini bukti kecil, atau bisa pula disebut simbolisasi, betapa di masa sekarang pun lingkungan kehidupan global itu sangat membutuhkan wilayah yang disebut Indonesia. Simbolisasi tentang masa silam pula, betapa wilayah dataran Sundaland itu juga menjadi sebuah wilayah yang menyediakan tempat hidup yang sangat global sifatnya.
    Orang Jawa Timur boleh mengagungkan Majapahit. Orang Sumatra boleh mengagungkan Sriwijaya. Orang Kalimantan boleh mengagungkan Kutai. Orang Papua boleh mengangungkan raja-raja dan suku-sukunya. Semua itu hanya kepingan. Yang menyatukan semua itu adalah ruh para leluhur Sundaland dan leluhur dataran Papua yang juga terendam air bah di dataran Arafuruland. Tidak lama lagi akan terbentuk sebuah perwujudan peradaban yang lebih besar dan sifatnya global, melebihi sekedar batas wilayah negara di timur Papua atau di utara Kalimantan. Sebuah batas yang tidak terhingga dan TNI tidak perlu mengirim tank Leopard untuk menjaganya. Batas-batas yang tidak akan pernah bisa dijajah oleh siapa pun, karena ini sudah tercetak di lempeng muka bumi, sudah diukir secara geologis oleh kekuatan yang maha besar.
    Negeri ini seharusnya mungkin tidak hanya memperingati tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan sebagai sebuah bangsa, tapi perlu pula melakukan sebuah ritual nasional tabur bunga dan berkabung di atas laut Jawa sebagai penghormatan terhadap peradaban Sundaland dan dilakukan juga di atas laut selat Darwin atau laut Arafuru sebagai pernghormatan bagi peradaban Papua yang tenggelam di dataran Arafuruland itu! Mereka iklas wilayah dataran itu harus digenangi air yang serupa gunung tingginya: “Biarlah anak-anakku menyelamatkan diri dan berpencar bersama anak-anak yang lainnya ke seluruh muka bumi, ke tempat-tempat yang tinggi dan beranak pinak di sana. Kelak, di waktu yang dekat maupun di waktu yang sangat lama, mereka akan kembali ke tempat ini dan mengerti bahwa peradaban yang mereka kenal selama hidupnya bermula dari sini. Mereka akan kembali dan berkhidmat ke pangkuan ibu pertiwi!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar