Kamis, 15 Agustus 2013

...... Pada tgl 5 Agustus lalu para teroris takfiri yang memerangi regim Bashar al Assad telah melakukan pembunuhan massal terhadap 450 warga sipil kurdi Syria di distrik Tal Abyad Provinsi Raqqa. Di antara korban adalah 120 anak-anak dan 330 wanita dan orang tua. Pembunuhan massal terjadi hanya seminggu setelah para pemberontak dari kelompok al-Nusra menyerang dua desa Kurdi di Aleppo dan menahan 200 warganya sebagai sandera...>>> ..Para pejuang Kurdi pun melakukan perlawanan dengan memobilisasi pasukannya di seluruh wilayah Kurdi dan di beberapa kota berhasil mengusir para pemberontak teroris. Meski cenderung berpihak pada pemerintah, orang-orang Kurdi selama ini bersikap netral selama konflik di Syria. Namun perkembangan terbaru ini bisa membuat posisi mereka barubah...>> Keberhasilan militer Syria mengusai kembali berbagai posisi strategis (terakhir berhasil membersihkan kota Homs dari pemberontak) telah membuat para pemberontak dan sponsor-sponsornya menjadi gelap mata. Maka kini skenario terakhir pun digunakan, yaitu perang hancur-hancuran. Dengan cara ini, pada akhirnya zionis internasional tetap mendapat keuntungan, yaitu hancurnya negara yang selama ini menjadi batu kerikil yang menyakitkan bagi zionisme...>> ...Sampai tahun 2011 para pengungsi Palestina yang berada di Syria adalah orang-orang yang beruntung dibanding saudara-saudara mereka yang tinggal tersebar di berbagai kamp pengungsi di negara-negara lainnya. Presiden Hafez al Assad dan penggantinya yang juga putra kandungnya, Bashar al Assad memperlakukan mereka sebagaimana adat orang Arab memperlakukan tamunya. Mereka diperlakukan sama seperti warga negara Syria sendiri yang mendapatkan jaminan kesehatan dan pendidikan penuh, fasilitas tempat tinggal yang layak di apartemen susun, dan lebih dari itu mereka mendapatkan hak untuk memiliki pekerjaan tetap dan hal untuk memiliki properti sendiri. Dan di Syria, tidak hanya ada pengungsi Palestina, tapi juga ratusan ribu pengungsi Irak yang juga menjadi tamu rakyat Syria setelah terusir akibat serangan Amerika dan kroni-kroninya atas negeri 1001 malam itu....>>> ...Sebelum konflik terjadi, di Syria terdapat 10 kamp pengungsi resmi di bawah pengawasan PBB (UNWRA) ditambah 3 kamp lainnya yang tidak berada di bawah pengawasan PBB. Total pengungsi yang tinggal di kamp-kamp tersebut mencapai 230.000 jiwa. 8 dari kamp-kamp tersebut dihuni para pengungsi Palestina (dan keturunannya) korban pengusiran Israel tahun 1948 (Nakba atau hari bencana), dan 2 lainnya dihuni para pengungsi korban pengusiran Israel tahun 1967 (Naksa atau hari kemunduran)...>> .....Namun bagi sebagian pengungsi Palestina itu keberuntungan itu kini hanya tinggal kenangan. Saat ini 7 dari kamp-kamp di mana mereka tinggal itu kini dikuasai oleh para "mujahidin" yang menindas dan mengusir mereka seperti orang-orang Israel telah mengusir mereka. Para "mujahidin" menjadikan kamp-kamp itu sebagai sasaran pendudukan karena berbagai pertimbangan, yang terutama adalah karena kamp-kamp itu merupakan zona aman dari campur tangan pasukan pemerintah. Selain itu para "mujahidin" bisa mendapatkan rekrutmen di antara pemuda Palestina yang terilusi dengan perjuangan jihad, yang ingin mendapatkan imbalan gaji menggiurkan atau terilusi oleh kemenangan pemberontak yang sudah di depan mata. Selain itu, dengan menduduki kamp-kamp itu mereka bisa membangun basis "perjuangan" secara gratis dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang dibangun pemerintah Syria dan PBB....>> DALAM POLITIK LIBERAL..SELALU MENCIPTAKAN DUALISME..DAN MENJAUHKAN RAKYAT DARI CITA2 SESUNGGUHNYA..??>> ... ALAT POLITIK LIBERAL..ADALAH MENYANDERA RAKYAT DAN PEMERINTAHAN KEDALAM POLITIK KETERGANTUNGAN ..KARENA ITULAH KEKUATAN MEREKA...>> MEREKA MAMAINKAN DANA2 INTERNASIONAL... YANG LEMBAGA2 NYA DIKUASAI JARINGAN ZIONIS DAN TENTU PARA PENGUASA DIJAJARAN REZIM PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL..YANG SELALU INGIN MENGUASAI HAJAT HIDUP ORANG BANYAK..DENGAN...MEMAINKAN TIRANI..??>> SAYANGNYA PENGUASA ITU DENGAN MUDAH TERBUJUK OLEH RAYUAN KEUANGAN YANG MEREKA ANGGAP AKAN MENJADIKAN REZIM2 MEREKA KEKAL DAN BERKUASA SELAMANYA..??>> PADAHAL PARA KAPITALIS ITU... MEMILKI PENGUASA..DINEGARA LIBERAL ITU... LAKSANA SEPERTI MEMILIKI CLUB2 OLAH RAGA..ATAU SEPAK BOLA.. YANG KAPAN SAJA MANAGER DAN PEMAINNYA DAPAT DIGANTIKAN SESUAI SKENARIO MEREKA...???>> SAYANGNYA PARA PENGEJAR KEKUASAAN DAN POLITIK OPORTUNIS..ITU... SELALU BANGGA..DENGAN KEDUDUKAN DAN JABATAN2...YANG WALAWPUN MEREKA HARUS BERKHIANAT KEPADA BANGSA DAN RAKYAT...NEGARA MEREKA SENDIRI.. DAN SANGAT PATUH DAN MEMUJA..PARA TUAN2..BESAR..YANG MENDANAI KEDUDUKAN MEREKA..DAN MENJERUMUSKAN RAKYAT DAN BANGSA.. KEDALAM LUMPUR KESULITAN DAN BEBAN HIDUP YANG BERAT...??>>...sikap politik Moersi yang sangat pro-zionis dan kepentingan modal asing: mempertahankan perdamaian dengan Israel (inilah yang membuat Presiden Sadat dan Hoesni Mubarak dibenci oleh seluruh orang Arab hingga akhirnya Sadat dibunuh oleh tentaranya sendiri. Moersi tentu berhak mendapat perlakukan yang sama). Ia juga melakukan konspirasi dengan IMF untuk menjerumuskan Mesir dalam jebakan hutang berbunga yang dilarang Islam, meski Qatar telah menggelontorkan miliaran dolar kepadanya. Dan terakhir ia mencoba menyeret Mesir ke dalam konflik sentarian dengan pernyataan-pernyataannya yang anti-Shiah dan anti-Kristen Koptik.....>> KEMUNGKINAN MESIR AKAN MENJADI NEGARA DIKTATOR DAN TOTALITER..SEPERTINYA TERBAYANGKAN.. BETAPA BRUTALNYA MILITER MEMBANTAI RAKYAT IM..DI MESIR..??>> INI AKIBAT KETELEDORAN MOURSI DAN IM..YANG TIDAK MERANGKUL BANGSA MESIR DAN UMAT ISLAM DILUAR KONSEP IM..>> ATAW KARENA IM SUDAH DIBAJAK OLEH ZIONIS...DAN KAUM PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL..UNTUK MEMPERALAT IM ..MENJADI MESIN KEKACAUAN DI TIMUR TENGAH..DAN MELALAIKAN....PERJUANGAN YANG DIGARISKAN HASSAN ALBANA..UNTUK PERSATUAN SEMUA UMMAT ISLAM DAN BANGSA PALESTINA...??>> ???? SAUDI, SECARA MORAL DAN POLITIK BANGKRUT??? >> .... Amerika dan Saudi Arabia sama-sama bangkrut secara moral dan politik. Tapi setidaknya Amerika masih bisa berkoar-koar tentang demokrasi, sedang Saudi tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Demikian kesimpulan Prof. Rodney Shakespeare dalam artikelnya di media Iran Press TV berjudul "Al Saud morally, politically bankrupt" tgl 9 Agustus lalu. "Ini karena Saudi tidak mempunyai visi, prinsip atau ide," tulis Shakespeare. Menurut Shakespeare Saudi hanya sebuah negeri yang dipimpin sekelompok orang kaya tak bermoral yang melakukan apapun dengan kekayaannya untuk membuat orang lain melakukan kemauan mereka. Ia mencontohkan langkah terakhir yang dilakukan Saudi dengan menawarkan kontrak senjata miliaran dolar kepada Rusia dengan imbalan Rusia meninggalkan sekutu dekatnya Syria. Padahal Saudi pulalah yang telah membantu pemberontak dan teroris Chenchya memerangi pemerintah Rusia dan Rusia mengetahui hal itu dengan jelas. Pernyataan Shakespeare itu sejalan dengan pernyataan analis politik Timur Tengah Zayd al-Isa dalam wawancara dengan media yang sama sehari kemudian. "Sebagai kaki tangan Amerika, Saudi Arabia menyediakan bantuan keuangan dan militer kepada al-Qaeda untuk menjerumuskan kawasan ini ke perang sektarian dan kekacauan," kata Isa. Menurut Isa, Amerika kini memberikan peran utama bagi Saudi sebagai ekskutor kepentingannya di Timur Tengah setelah menghentikan peran yang sebelumnya dilakukan Qatar dan Turki yang dianggap gagal. Ia pun menunjuk pada langkah yang dilakukan Saudi yang menggelontorkan bantuan keuangan kepada regim militer Mesir yang baru saja mengkudeta pemerintahan demokratis di sana. Namun yang patut menjadi perhatian, tutur Isa, adalah peran Saudi pada semua kelompok teroris di kawasan seperti kelompok Jabhat al-Nusra di Syria, yang merupakan bagian dari kelompok teroris yang lebih dahulu eksis, Al Qaida. “Apa yang kita dengar dari pemimpin Al Qaida Irak Abu Bakr al-Baghdadi, yang mengatakan bahwa Jabhat al-Nusra merupakan kepanjangan dari al-Qaeda di Iraq,” tambah al-Isa. Akibat dukungan Saudi itulah kita menyaksikan berbagai aksi teorisme yang tidak pernah terjadi sebelumnya, tidak saja di Syria namun juga Irak. Selama bulan Ramadhan lalu saja diperkirakan lebih dari 1.000 orang tewas oleh aksi-aksi terorisme di Irak. Menurut laporan PBB selama bulan Juli lalu lebih dari seribu warga Irak tewas dan 2.326 lainnya mengalami luka-luka karena aksi terorisme. Selama tahun 2013 jumlah penduduk Irak yang tewas mencapai lebih dari 4 ribu orang. Itu semua belum termasuk lebih dari 100.000 warga Syria yang tewas akibat konflik yang dipicu oleh pemberontakan yang didukung Saudi dan kelompok-kelompok terorisnya. RENCANAKAN PEMBUNUHAN WAPRES IRAK YG BURON Sementara itu media Arab Al-Medina dan Al-Awamiyah beberapa waktu lalu merilis laporan rencana pembunuhan wapres Irak yang buron, Tariq al-Hashemi, oleh inteligen Saudi. Rencana tersebut didasarkan kekhawatiran Saudi bahwa yang bersangkutan akan membongkar keterlibatan Saudi dalam serangan-serangan teroris yang terjadi di Irak jika yang bersangkutan tertangkap dan dihadirkan dalam persidangan. Hashemi kini menjadi buron pemerintah Irak dan interpol karena keterlibatannya dalam aksi-aksi terorisme di Irak. Termasuk aksi terorisme itu adalah pemboman yang terjadi bulan November 2011 yang mentargetkan PM Nouri al-Maliki sebagai sasarannya. Hashemi juga dituduh terlibat dalam pembunuhan 6 orang jaksa. Pada tgl 19 Desember 2011, sebuah komite penyidik yang dibentuk pemerintah Irak mengeluarkan surat penahanan atas Hashemi setelah tiga orang pengawal pribadinya mengakui menerima perintah langsung dari Hashemi untuk melakukan serangan-serangan terorisme. Menghindari penangkapan, Hashemi pun melarikan diri ke wilayah otonomi Kurdi, sebelum terbang ke Qatar, dan akhirnya tinggal di Turki hingga saat ini. Pada bulan Mei 2012 Interpol juga mengeluarkan perintah penahanan bagi Hashemi dengan tuduhan keterlibatannya dalam kegiatan terorisme. REF: "Saudi Arabia supports al-Qaeda to incite sectarian war in region"; Press TV; 10 Agustus 2013 "Al Saud morally, politically bankrupt"; Rodney Shakespeare; Press TV; 9 Agustus 2013 "Saudi Arabia planning to assassinate fugitive Iraqi VP Tariq al-Hashemi"; Press TV; 9 Juli 2013 Diposkan oleh cahyono adi di 22.55 Label: politik ... >>> "Ini karena Saudi tidak mempunyai visi, prinsip atau ide," tulis Shakespeare....>> ...Menurut Isa, Amerika kini memberikan peran utama bagi Saudi sebagai ekskutor kepentingannya di Timur Tengah setelah menghentikan peran yang sebelumnya dilakukan Qatar dan Turki yang dianggap gagal. Ia pun menunjuk pada langkah yang dilakukan Saudi yang menggelontorkan bantuan keuangan kepada regim militer Mesir yang baru saja mengkudeta pemerintahan demokratis di sana. Namun yang patut menjadi perhatian, tutur Isa, adalah peran Saudi pada semua kelompok teroris di kawasan seperti kelompok Jabhat al-Nusra di Syria, yang merupakan bagian dari kelompok teroris yang lebih dahulu eksis, Al Qaida...>> ..Akibat dukungan Saudi itulah kita menyaksikan berbagai aksi teorisme yang tidak pernah terjadi sebelumnya, tidak saja di Syria namun juga Irak. Selama bulan Ramadhan lalu saja diperkirakan lebih dari 1.000 orang tewas oleh aksi-aksi terorisme di Irak. Menurut laporan PBB selama bulan Juli lalu lebih dari seribu warga Irak tewas dan 2.326 lainnya mengalami luka-luka karena aksi terorisme. Selama tahun 2013 jumlah penduduk Irak yang tewas mencapai lebih dari 4 ribu orang. Itu semua belum termasuk lebih dari 100.000 warga Syria yang tewas akibat konflik yang dipicu oleh pemberontakan yang didukung Saudi dan kelompok-kelompok terorisnya...>> media Arab Al-Medina dan Al-Awamiyah beberapa waktu lalu merilis laporan rencana pembunuhan wapres Irak yang buron, Tariq al-Hashemi, oleh inteligen Saudi. Rencana tersebut didasarkan kekhawatiran Saudi bahwa yang bersangkutan akan membongkar keterlibatan Saudi dalam serangan-serangan teroris yang terjadi di Irak jika yang bersangkutan tertangkap dan dihadirkan dalam persidangan. Hashemi kini menjadi buron pemerintah Irak dan interpol karena keterlibatannya dalam aksi-aksi terorisme di Irak. Termasuk aksi terorisme itu adalah pemboman yang terjadi bulan November 2011 yang mentargetkan PM Nouri al-Maliki sebagai sasarannya. Hashemi juga dituduh terlibat dalam pembunuhan 6 orang jaksa...>> sejujurnya sempat bersimpati dengan apa yang dialami para pengikut Presiden Moersi yang tengah "menderita" oleh penindasan militer. Di jaman modern ini mana ada lagi tempat bagi regim militer, apalagi militer Mesir yang dikenal korup. Ditambah dengan adanya sikap resmi pemerintah Iran, negara yang saya hormati setelah Indonesia di luar para pemimpinnya yang korup, yang tetap mendukung pemerintahan Moersi plus satu analisis menarik dalam satu artikel di media Iran Press TV yang menyebutkan adanya "konspirasi" penghancuran gerakan Islam yang tengah terjadi di Timur Tengah dengan beberapa sasarannya adalah gerakan Ikwanul Muslimin dan Hizbollah (Hizbolah, organisasi politik yang menjadi anggota koalisi pemerintahan Lebanon, baru saja dimasukkan dalam kelompok teroris oleh Uni Eropa)..>>> NAMUN SAYANG....KONON... ..Ikhwanul Muslimin telah "dibajak" oleh para oportunis yang menggunakan slogan Islam sebagai alat politik mereka, dan ketika kekuasaan telah diraih, Islam mereka buang ke tong sampah. Wartawan independen terkenal dari Voltaire Net Thierre Mayssen berhasil mengungkap bagaimana para zionis Amerika berhasil mengendalikan kelompok ini, salah satunya melalui tokoh wanita Ikhwanul Muslimin yang menjadi istri seorang anggota Congress Amerika aktifis zionisme. Moersi sendiri juga memiliki jejak agak kelam dalam hidupnya: selama bertahun-tahun belajar dan bekerja di Amerika, memungkinkan indoktrinasi zionis menghancurkan idealisme Islamnya...>>



SKENARIO "PERANG BUBRAH" DI SYRIA OLEH ZIONIS INTERNASIONAL 

 http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/08/skenario-perang-bubrah-di-syria-oleh.html#.UgyHHKyN6So

Gambar: anak-anak Kurdi korban pembantaian.


Keberhasilan militer Syria mengusai kembali berbagai posisi strategis (terakhir berhasil membersihkan kota Homs dari pemberontak) telah membuat para pemberontak dan sponsor-sponsornya menjadi gelap mata. Maka kini skenario terakhir pun digunakan, yaitu perang hancur-hancuran. Dengan cara ini, pada akhirnya zionis internasional tetap mendapat keuntungan, yaitu hancurnya negara yang selama ini menjadi batu kerikil yang menyakitkan bagi zionisme.

Setelah menyerang dan membunuhi anggota Free Syrian Army (FSA) kelompok-kelompok takfiri Al Qaida (sebagian anggota FSA adalah warga Syria, sedangkan hampir semua anggota Al Qaida adalah orang asing), kini kelompok-kelompok takfiri juga melakukan aksi biadabnya dengan menyerang orang-orang Kurdi Syria hingga memicu terjadinya pertempuran sengit antara para pejuang kurdi dengan para pemberontak takfiri di wilayah utara dan timur laut Syria yang dihuni orang-orang Kurdi.

Pada tgl 5 Agustus lalu para teroris takfiri yang memerangi regim Bashar al Assad telah melakukan pembunuhan massal terhadap 450 warga sipil kurdi Syria di distrik Tal Abyad Provinsi Raqqa. Di antara korban adalah 120 anak-anak dan 330 wanita dan orang tua. Pembunuhan massal terjadi hanya seminggu setelah para pemberontak dari kelompok al-Nusra menyerang dua desa Kurdi di Aleppo dan menahan 200 warganya sebagai sandera.

Para pejuang Kurdi pun melakukan perlawanan dengan memobilisasi pasukannya di seluruh wilayah Kurdi dan di beberapa kota berhasil mengusir para pemberontak teroris. Meski cenderung berpihak pada pemerintah, orang-orang Kurdi selama ini bersikap netral selama konflik di Syria. Namun perkembangan terbaru ini bisa membuat posisi mereka barubah.
Konflik antara kedua kelompok kini bahkan telah memicu ketegangan regional baru yang melibatkan kelompok-kelompok di luar Syria. Hal ini sudah terlihat setelah pemerintah otonomi Kurdi Irak mengancam untuk melakukan intervensi membantu saudara-saudara mereka di Syria. Hal ini disampaikan langsung oleh pemimpin pemerintahan otonomi Kurdi Irak, Sabtu (10/8).

"Tampaknya warga sipil Kurdi termasuk wanita dan anak-anaknya berada dalam ancaman kematian dan terorisme, maka pemerintah otonomi Kurdi Irak akan .... siap untuk membela," kata pemimpin Massud Barzani dalam wawancara televisi. Barzani selanjutnya menyerukan dilakukannya investigasi atas konflik yang terjadi di wilayah Kurdi Syria.

Ancaman terjadinya perang hancur-hancuran di Syria ini juga telah disampaikan oleh anggota parlemen Iran Vahid Ahmadi. Kepada media Iran, Sabtu (10/8), ketua Komisi Luar Negeri Parlemen Iran ini mengatakan bahwa memicu perang sektarian merupakan salah satu misi utama para teroris dan sponsor-sponsornya di Syria meski bisa membawa kehancuran bagi seluruh kawasan.

"Menciptakan ketegangan agama dan etnis telah menjadi salah satu tujuan utama para teroris dan pendukung-pendukung mereka sejak terjadinya konflik Syria," kata Ahmadi mengomentari terjadinya konflik di wilayah Kurdi Syria.

Menurutnya pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan teroris menjadi bukti kepalsuan dari klaim yang disebutkan negara-negara barat pendukung teroris di Syria. Menurutnya kemenangan pasukan pemerintah Syria telah memaksa pemberontak melakukan skenario baru.

“Melibatkan orang-orang Kurdi dalam konflik dan memecah belah orang-orang Kurdi dengan pemerintah merupakan salah satu skenario yang dilakukan pemberontak Syria," tambah Ahmadi.

Ahmadi menambahkan bahwa para teroris Syria berupaya menudupi kekalahan mereka di medan perang dengan menebarkan propaganda buruk terhadap pemerintah Syria.

REF:
"Iraqi Kurdistan “Ready to Defend Syrian Kurds”"; almanar.com.lb; 10 Agustus 2013
"Iran MP warns against sectarian plots in Syria"; Press TV; 10 Agustus 2013

2 komentar:

abu bakar mengatakan...
diinspirasi oleh fatwa sesat oleh pengaku muslim yg tidak bertanggungjawab,kejahatan mereka akan terbongkar sedikit demi sedikit...tunggu
Aisyah Fadiya - De Ngaden Awak Bisa - mengatakan...
1. Kurdi mayoritas Sunni.Sehingga pembantaian terhadap warga Kurdi merupakan fakta tak terbantah bahwa takfiri ini bukanlah memerangi Syi'ah seperti yang sering mereka klaim. Mereka memerangi siapapun yang berlainan 'cara pandang' dengan mereka, dan tentu saja mereka difasilitasi tuan besarnya.

2. Allepo merupakan penentu terakhir bagi sempurnanya kemenangan Assad atas terorist. Dari data yang saya dapat di wikipidea,kurang lebih 40 % Allepo dalam kontrol SAA, itu data terakhir di bulan Juli, kemungkinan saat ini bertambah, karena kantor berita SANA setiap hari melaporkan kemenangan SAA di berbagai titik atas terorist. 


PENINDASAN KEMBALI DIALAMI RAKYAT PALESTINA DI SYRIA 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/08/penindasan-kembali-dialami-rakyat.html#.UgyYTayN6So


Sampai tahun 2011 para pengungsi Palestina yang berada di Syria adalah orang-orang yang beruntung dibanding saudara-saudara mereka yang tinggal tersebar di berbagai kamp pengungsi di negara-negara lainnya. Presiden Hafez al Assad dan penggantinya yang juga putra kandungnya, Bashar al Assad memperlakukan mereka sebagaimana adat orang Arab memperlakukan tamunya. Mereka diperlakukan sama seperti warga negara Syria sendiri yang mendapatkan jaminan kesehatan dan pendidikan penuh, fasilitas tempat tinggal yang layak di apartemen susun, dan lebih dari itu mereka mendapatkan hak untuk memiliki pekerjaan tetap dan hal untuk memiliki properti sendiri.


Dan di Syria, tidak hanya ada pengungsi Palestina, tapi juga ratusan ribu pengungsi Irak yang juga menjadi tamu rakyat Syria setelah terusir akibat serangan Amerika dan kroni-kroninya atas negeri 1001 malam itu.


Saya pernah mendengar cerita tentang orang-orang Sampang Madura yang iri dengan fasilitas yang didapatkan para pengungsi Madura korban konflik Sampit. Padahal para pengungsi itu hanya mendapatkan makan minum seadanya dan tinggal di kemah-kemah sederhana. Tanpa bermaksud mengabaikan hak mereka untuk kembali ke tanah airnya sendiri, para pengungsi Palestina di Syria itu bahkan lebih beruntung dibandingkan puluhan juta rakyat Indonesia yang harus tinggal di gubuk-gubuk reyot dan di bawah jembatan.

Sebelum konflik terjadi, di Syria terdapat 10 kamp pengungsi resmi di bawah pengawasan PBB (UNWRA) ditambah 3 kamp lainnya yang tidak berada di bawah pengawasan PBB. Total pengungsi yang tinggal di kamp-kamp tersebut mencapai 230.000 jiwa. 8 dari kamp-kamp tersebut dihuni para pengungsi Palestina (dan keturunannya) korban pengusiran Israel tahun 1948 (Nakba atau hari bencana), dan 2 lainnya dihuni para pengungsi korban pengusiran Israel tahun 1967 (Naksa atau hari kemunduran)

Namun bagi sebagian pengungsi Palestina itu keberuntungan itu kini hanya tinggal kenangan. Saat ini 7 dari kamp-kamp di mana mereka tinggal itu kini dikuasai oleh para "mujahidin" yang menindas dan mengusir mereka seperti orang-orang Israel telah mengusir mereka.

Para "mujahidin" menjadikan kamp-kamp itu sebagai sasaran pendudukan karena berbagai pertimbangan, yang terutama adalah karena kamp-kamp itu merupakan zona aman dari campur tangan pasukan pemerintah. Selain itu para "mujahidin" bisa mendapatkan rekrutmen di antara pemuda Palestina yang  terilusi dengan perjuangan jihad, yang ingin mendapatkan imbalan gaji menggiurkan atau terilusi oleh kemenangan pemberontak yang sudah di depan mata. Selain itu, dengan menduduki kamp-kamp itu mereka bisa membangun basis "perjuangan" secara gratis dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang dibangun pemerintah Syria dan PBB.


Kisah tentang pendudukan kamp-kamp pengungsi Palestina itu sama seperti yang terjadi pada kamp pengungsi Palestina di Nahr al Bared di dekat Tripoli, Lebanon. Yang terjadi di sana adalah setelah para "mujahidin" menduduki kamp, mereka memaksa 30.000 pengungsi Palestina untuk meninggalkan kamp dan menjadikan kamp tersebut sebagai basis "perjuangan" para teroris "mujahidin". Pemerintah Lebanon yang menyadari bahaya pun segera melakuan tindakan tegas. Kamp tersebut dikepung oleh tentara selama 75 hari. Dan setelah mengalami pemboman intensif, kamp Nahr al Bared pun hancur.

Apa yang dilakukan sheikh wahabi al Assir dan pengikut-pengikutnya dengan menduduki Masjid Bilal di Sidon, Lebanon, dan menjadikannya sebagai basis "perjuangan" adalah meniru kasus di Nahr al Bared. Dan seperti di Al Bared, semuanya berakhir setelah pemerintah melakukan tindakan tegas dengan merebut kembali tempat itu. Demikian pula dengan kamp-kamp pengungsi Palestina di Syria. Bedanya adalah pemerintah Syria kini terlalu sibuk memikirkan medan perang yang terlalu besar sehingga belum berfikir untuk membebaskan kamp-kamp tersebut.

"Awalnya jumlah mereka hanya beberapa orang. Kami mengetahui keberadaan mereka dari logat mereka yang asing dan dari pakaian mereka yang konservatif, hampir semuanya memelihara jenggot. Mereka tampak sopan dan akrab. Kemudian jumlah mereka lebih banyak lagi, diikuti oleh wanita dan anak-anak. Mereka awalnya tinggal mengelompok dan kemudian mulai menempati masjid-masjid yang awalnya disambut hangat oleh para pengurus masjid. Kemudian mereka mulai melakukan ibadah yang hanya dilakukan oleh kelompok mereka, dan pada beberapa kesempatan ajaran mereka yang sopan berubah menjadi keras. Selanjutnya mereka mulai mengomentari cara kami berpakaian dan kemudian mengajari kami cara berpakaian, melarang rokok, dan melarang wanita menghadiri rapat-rapat umum jika tidak ditemani," kata seorang wanita Palestina kepada Franklin Lamb dalam tulisannya yang dimuat di situs Counterpunch baru-baru ini.

"Kemudian senjata-senjata muncul dan sebagian besar dari mereka tampak ahli menggunakannya saat mereka melakukan latihan menembak, seperti di halaman sekolah dan taman kanak-kanak. Mereka tampak serius. Tidak ada kesempatan untuk berbicara apalagi berdebat dengan mereka. Apa yang tampaknya mereka inginkan adalah "mati syahid". Sebagian dari mereka bahkan menyangka mereka tengah berada di Palestina dan hendak membebaskan Al Quds (Jerussalem)!" tambah wanita tersebut.


(BERSAMBUNG)



REF:
"Vows of ‘Occupation Until Martyrdom’"; Franklin Lamb; Counter Punch; 11 Agustus 2013



QUO VADIS MESIR?


Cukup lama saya tidak lagi menulis tentang krisis politik di Mesir, menyangka krisis tersebut akan berakhir seperti prediksi saya yang ternyata salah: militer melakukan penindasan terhadap massa pendukung Presiden Moersi dan kelompok Ikhwanul Muslimin.

Setelah beberapa aksi "pembantaian kecil-kecilan" terhadap para pendukung Moersi, ternyata militer Mesir masih menahan diri untuk tidak melakukan "pembantaian besar-besaran". Para jendral Mesir rupanya masih berhitung dengan resiko yang bakal mereka hadapi jika jadi melakukan aksi penindasan besar-besaran, yaitu cap sebagai "pembunuh massal" dan "penjahat kemanusiaan" yang bisa membawa konsekuensi pahit. Hal ini lah yang justru telah menjadi pertimbangan para pemimpin Ikhwanul Muslimin untuk tetap bertahan dengan tuntutannya meski ada ancaman militer, yaitu pengembalian kekuasaan Moersi.

Para jendral Mesir dan saya (blogger) ternyata "kecele", para pemimpin dan pengikut Ikhwanul Muslimin Mesir ternyata cukup "gila" untuk bertahan dengan tuntutan mereka. Maksud saya yang gila adalah para pengikut, karena para pemimpin Ikhwanul Muslimin sendiri enak-enak bersembunyi di rumah ketika para pengikutnya itu meregang nyawa ditembaki tentara setelah dengan "gila" dengan bersenjatakan pisau dan senapan angin berusaha menduduki markas pasukan khusus Pengawal Republik yang dijaga dengan senapan mesin, meriam dan tank. Se-"gila" kesetiaan mereka kepada Moersi yang jelas-jelas telah mengkhianati janjinya selama kampanye untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel dan membebaskan Palestina serta membawa kedamaian dan kestabilan politik di Mesir sementara yang dilakukannya justru melakukan provokasi perang sektarian.

Saya sejujurnya sempat bersimpati dengan apa yang dialami para pengikut Presiden Moersi yang tengah "menderita" oleh penindasan militer. Di jaman modern ini mana ada lagi tempat bagi regim militer, apalagi militer Mesir yang dikenal korup. Ditambah dengan adanya sikap resmi pemerintah Iran, negara yang saya hormati setelah Indonesia di luar para pemimpinnya yang korup, yang tetap mendukung pemerintahan Moersi plus satu analisis menarik dalam satu artikel di media Iran Press TV yang menyebutkan adanya "konspirasi" penghancuran gerakan Islam yang tengah terjadi di Timur Tengah dengan beberapa sasarannya adalah gerakan Ikwanul Muslimin dan Hizbollah (Hizbolah, organisasi politik yang menjadi anggota koalisi pemerintahan Lebanon, baru saja dimasukkan dalam kelompok teroris oleh Uni Eropa). Namun nurani saya tidak bisa dibohongi untuk menolak Moersi dan Ikhwanul Musliminnya.

Ikhwanul Muslimin telah "dibajak" oleh para oportunis yang menggunakan slogan Islam sebagai alat politik mereka, dan ketika kekuasaan telah diraih, Islam mereka buang ke tong sampah. Wartawan independen terkenal dari Voltaire Net Thierre Mayssen berhasil mengungkap bagaimana para zionis Amerika berhasil mengendalikan kelompok ini, salah satunya melalui tokoh wanita Ikhwanul Muslimin yang menjadi istri seorang anggota Congress Amerika aktifis zionisme. Moersi sendiri juga memiliki jejak agak kelam dalam hidupnya: selama bertahun-tahun belajar dan bekerja di Amerika, memungkinkan indoktrinasi zionis menghancurkan idealisme Islamnya.

Dan semua itu dikonfirmasi oleh sikap politik Moersi yang sangat pro-zionis dan kepentingan modal asing: mempertahankan perdamaian dengan Israel (inilah yang membuat Presiden Sadat dan Hoesni Mubarak dibenci oleh seluruh orang Arab hingga akhirnya Sadat dibunuh oleh tentaranya sendiri. Moersi tentu berhak mendapat perlakukan yang sama). Ia juga melakukan konspirasi dengan IMF untuk menjerumuskan Mesir dalam jebakan hutang berbunga yang dilarang Islam, meski Qatar telah menggelontorkan miliaran dolar kepadanya. Dan terakhir ia mencoba menyeret Mesir ke dalam konflik sentarian dengan pernyataan-pernyataannya yang anti-Shiah dan anti-Kristen Koptik.


Sekarang saya ingin memberikan prediksi saya tentang Mesir. Setelah terjadinya jalan buntu (militer Mesir telah cukup bersabar dengan berusaha mengadakan rekonsiliasi yang melibatkan diplomat-diplomat barat), militer pada akhirnya tetap akan melakukan tindakan tegas dengan membubarkan aksi-aksi demonstrasi pendukung Moersi dan Ikhwanul Muslimin demi memberi jalan bagi pemerintahan sementara untuk menjalankan tugasnya. Ini jika Ikhwanul Muslimin tidak mau bersikap realistis dengan menerima kompromi yang ditawarkan pemerintah sementara dengan bergabung dalam pemerintahan sementara sebagai "pengikut". (Tuntutan mengembalikan Moersi ke kursi kepresidenan sangat tidak realistis, kecuali para jendral Mesir mau menjatuhkan harga dirinya serendah-rendahnya). Setelah tindakan keras yang menelan puluhan nyawa itu para pemimpin IKhawnul Musliminpun harus mendekam dalam penjara dan IKhwanul Muslimin dibekukan. Mesir pun kembali menjadi negara totaliter selama waktu yang tidak diketahui.
Alternatifnya adalah Moersi dan pendukungnya bersikap realistis dan menerima kompromi. Pemilu digelar dan para pengikut Ikhwanul Muslimin hidup dalam realitas yang tidak sesuai dengan pandangan mereka selama ini, bahwa Mesir adalah negara plural yang melindungi semua rakyatnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar