Kamis, 25 Juli 2013

RASULULLAH SAW ... MEMBANGUN PERSATUAN DENGAN AJARAN-MIMBINGAN-PENGAYOMAN..YANG SANGAT BIJAKSANA...>> KITA DAPAT MENGAMBIL PELAJARAN DARI RIWAYAT DAN HADIST SHAHIH... AGAR KITA BISA BELAJAR DAN BELAJAR... DENGAN SEMUA KEBAIKAN2 ...TERLEBIH YANG DIAJARKAN RASULULLAH SAW...>>> INSYA ALLAH... AAMIIN...>> .....kisah bagaimana Nabi menghadapi orang2 yg memfitnah istrinya, Siti ‘Aisyah dgn Zina. Nabi tidak mengkafirkan dan membunuh mereka sebagaimana banyak orang sekarang ini. Tapi menegurnya dan memaafkan mereka. Sehingga para pemfitnah/penghina tsb (kecuali tokoh Munafik Abdullah bin Ubay bin Salul dan pengikutnya) tetap Islam dan wafat dalam keadaan Islam....>>>....... Antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf telah terjadi sesuatu lalu Khalid pun mencaci-makinya. Mendengar itu Rasulullah saw. lalu bersabda: Janganlah kamu mencaci-maki seorang pun dari para sahabatku. Sekalipun salah seorang kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, hal itu tidak dapat menandingi satu bahkan setengah mud (1 mud=543 gram) salah seorang mereka. (Shahih Muslim No.4611)..>> ....“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” [Al Ahzab 21] “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…” [Ali 'Imran 159] Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim) Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar) Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim) Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: “Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [Fushshilat 34-35]..>>>



Cara Nabi Menghadapi Penghina Istri dan Sahabat Nabi

Ini ada kisah bagaimana Nabi menghadapi orang2 yg memfitnah istrinya, Siti ‘Aisyah dgn Zina. Nabi tidak mengkafirkan dan membunuh mereka sebagaimana banyak orang sekarang ini.

Tapi menegurnya dan memaafkan mereka. Sehingga para pemfitnah/penghina tsb (kecuali tokoh Munafik Abdullah bin Ubay bin Salul dan pengikutnya) tetap Islam dan wafat dalam keadaan Islam.

Saat Khalid bin Walid menghina sahabat Nabi, Abdurrahman bin ‘Auf pun Nabi hanya menegurnya. Tidak mengkafirkannya dan membunuhnya. Sehingga Khalid bin Walid tetap jadi pahlawan pembela Islam dan dijuluki Nabi dgn Syaifullah atau Pedang Allah:

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf telah terjadi sesuatu lalu Khalid pun mencaci-makinya. Mendengar itu Rasulullah saw. lalu bersabda: Janganlah kamu mencaci-maki seorang pun dari para sahabatku. Sekalipun salah seorang kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, hal itu tidak dapat menandingi satu bahkan setengah mud (1 mud=543 gram) salah seorang mereka. (Shahih Muslim No.4611)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/04/07/keutamaan-sahabat-nabi-muhammad-saw/
Bagaimana kalau ada orang sekarang menghina istri dan sahabat Nabi?
Bawa saja ke Pengadilan agar bisa dihukum. Jika perlu diusulkan agar hukumannya mati sehingga orang tidak sembrono.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengkar dengan beberapa kaum namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata: Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan: Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu. (Shahih Muslim No.4250)

Coba baca:
Saidatina Aisyah berkata: Lalu Sayidina Abu Bakar orang yang selalu memberi nafkah kepada Mistah kerana dia adalah salah seorang daripada kaum keluarga Abu Bakar dan seorang miskin berkata: Demi Allah! Aku tidak akan memberikan nafkah kepadanya lagi selepas dia memfitnahkan Saidatina Aisyah r.a. Sebagai teguran terhadap tindakan itu Allah s.w.t menurunkan ayat :
…وَلَا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى
sehingga ayat..
O أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ..

Yang bermaksud: Dan janganlah orang-orang yang berharta serta lapang hidupnya di antara kamu bersumpah tidak mahu lagi memberi bantuan kepada kaum keluarga sehinggalah kepada firman Allah s.w.t yang bermaksud: Tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu. Hibban bin Musa berkata: Abdullah bin Al-Mubarak menyebut: Inilah ayat yang paling aku harapkan dalam Kitab Allah. Abu Bakar berkata: Demi Allah! Memang aku inginkan keampunan Allah s.w.t. Lalu Abu Bakar kembali memberikan nafkah kepada Mistah sebagaimana biasa dan berkata: Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya.
http://raindelights.blogspot.com/2012/01/diriwayatkan-oleh-imam-muslim.html

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum pembebasan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hadid [57]: 10)

Dalam bahasa Indonesia, istilah sahabat bermakna kawan, teman, rekan. Namun bersifat lebih dekat dan lebih khusus. Sedangkan istilah shahabat nabi dalam istilah para ahli ushul fiqih, tidak demikian maknanya. Keduanya memiliki perbedaan yang amat signifikan.

Istilah “shahabat nabi” jangan diterjemahkan dengan rasa bahasa Indonesia seperti teman, kawan atau sejenisnya. Nabi Muhammad SAW dengan para shahabatnya itu tidak berhubungan hanya semata-mata seperti antara seseorang dengan temannya atau shahabatnya.

Istilah shahabah itu bermakna unik dan khas, yaitu orang-orang Islam yang pernah bertemu dengan nabi Muhammad SAW secara langsung dan meninggalnya juga dalam keadaan beragama Islam.

Ketika masa tiga tahun pertama dakwah Islam, jumlah mereka baru sekitar 30-an orang. Ketika peristiwa pembebasan kota Makkah, jumlah mereka paling tidak ada sekitar 10.000-an orang. Dan tatkalaRasulullah SAW wafat, jumlah mereka diperkirakan ada sekitar 140.000-an orang.

Tentu saja semua bukan sahabat dalam arti kata teman atau sahabat dekat. Karena jumlahnya terlalu banyak, tidak mungkin semuanya jadi shahabat dekat. Padahal secara hukum, puluhan ribu orang itu berstatus shahabat nabi.
Lalu bagaimana sesungguhnya posisi para shahabat di depan nabi Muhammad SAW?
  • Mereka adalah famili dan keluarga Rasulullah SAW yang mendapatkan keberkahan dalam keluarga serta menjadikan beliau sebagai sesepuh keluarga. Para shahabat dari kalangan famili inilah yang pertama kali menjadi shahabat.
  • Mereka adalah anak-anak dari sosok Rasulullah SAW sebagai ayah atau orang tua yang mendapatkan belaian kasih sayang serta kehangatan hubungan mesra orang tua dan anak.
  • Mereka adalah bagian dari team work yang teramat solid yang dibina langsung dengan tangan Rasulullah SAW sendiri.
  • Mereka adalah lapis pertama orang-orang yang menerima wahyu dari langit setelah Rasulullah SAW. Mereka menghafalnya, mengerti maknanya dan mempraktekkannya langsung saat itu juga. Bahkan banyak dari mereka yang menjadi penyebab turunnya ayat-ayat suci dari langit. Tidak sedikit ayat Al-Quran yang melibatkan masalah mereka secara nyata.
  • Mereka adalah murid yang selalu siap belajar 24 jam sehari dengan menteladani kehidupannya yang agung.
  • Mereka adalah sumber pertama jejak peninggalan ajaran Islam yang berstatus ‘uduul. Semua riwayat yang mereka sampaikan tidak diragukan lagi keshahihannya.
  • Mereka adalah rakyat dan warga negara dari sebuah negara super modern pertama di muka bumi, di mana Rasulullah SAW bertindak sebagai pimpinan mereka.
  • Mereka adalah struktur pemerintahan yang mengelola negara dengan sepenuh dedikasi, profesional, jujur, punya visi ke depan, demokratis serta kompak di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW.
  • Mereka juga prajurit perang yang siap maju ke medan laga untuk bertempur baik dalam perang defensif atau ofensif.
  • Mereka juga pengganti atau penerus tugas Rasulullah SAW sebagai penyebar agama Islam ke seluruh penjuru dunia.
Jadi pendeknya, hubungan mereka dengan Rasulullah SAW bukan semata-mata teman seperti kita dengan teman kita. Tetapi hubungan yang unik dan spesifik. Sayyid Qutub dalam bukunyaMa’laim fit-Thariiq telah menyebut mereka dengan sebutan: Al-Jiilul-Qurani Al-Farid, Generasi Qurani yang Unik.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat, Lc.

Pertama, tidak mungkin bisa memastikan berapa jumlah sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka terpencar ke berbagai negeri, daerah, dan penjuru bumi. Bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsendiri, tidak ada yang mengumpulkan daftar nama-nama orang yang masuk Islam, siapa yang lahir di keluarga muslim, dst. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis panjang tentang kisah beliau yang tidak ikut perang tabuk. Ka’ab mengatakan,

وَالْمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرٌ وَلَا يَجْمَعُهُمْ كِتَابٌ حَافِظٌ

Kaum muslimin yang ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak. Tidak ada kitab yang mampu menuliskan semua nama mereka, demikian pula tidak ada orang yang mampu mengahafalnya. (HR. Bukhari 4418 dan Muslim 2769)

Kedua, ada sebagian ulama yang menegaskan angka tertentu ketika menyebut jumlah sahabat. Namun pendapat semacam ini adalah hasil ijtihad mereka. Diantaranya adalah al-Hafidz Abu Zur’ah ar-Razi (guru Imam Muslim). Beliau menegaskan bahwa jumlah sahabat ada 114.000 orang. Keterangan beliau ini disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’ 2:293.
As-Safarini dalam Ghizaul Albab mengatakan,

فائدة : ذكر أبو زرعة الرازي أن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يزيدون على المائة ألف …..
وروى أنهم مائة ألف وأربعة وعشرون ألفاً ، وجزم بهذا العدد الجلال السيوطي رحمه الله في الخصائص الكبرى

Catatan: Abu Zur’ah Ar-Razi menyebutkan bahwa jumlah sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari 100.000… dan diriwayatkan bahwa jumlah mereka 114.000. Yang menegaskan angka ini adalah as-Suyuthi rahimahullahdalam al-Khashais al-Kubro (Ghizaul Albab, 1:37).

Diantara ulama lainnya adalah al-Iraqi. Beliau menyebutkan,
As-Saji meriwayatkan dalam al-Manaqib, dengan sanad jayid (bisa diterima), dari ar-Rafi’i, beliau menyatakan,

قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم والمسلمون ستون ألفاً ثلاثون ألفاً بالمدينة، وثلاثون ألفاً في قبائل العرب وغير ذلك

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, sementara jumlah kaum muslimin ketika itu ada 60 ribu. Yang 30 ribu tinggal di Madinah dan 30 ribu tinggal di berbagai suku arab dan suku lainnya.
Setelah menyebutkan keterangan ini, al-Iraqi berkomentar,

ومع هذا فجميع من صنف في الصحابة لم يبلغ مجموع ما في تصانيفهم عشرة آلاف، مع كونهم يذكرون من توفي في حياته صلى الله عليه وسلم، ومن عاصره أو أدركه صغيراً

Meskipun demikian, semua ulama yang menulis tentang sahabat, daftar nama yang mereka kumpulkan dalam karyanya, belum mencapai angka 10.000. Padahal mereka menyebutkan sahabat yang meninggal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sezaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sahabat yang ketemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masih kecil.

Dan ternyata, bilangan ini tidak melenceng jauh dari kebenaran. Karena beberapa riwayat menunjukkan bahwa jumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang lebih pada angka itu.
Ibnul Qoyim mengatakan,

خرج الرسول صلى الله عليه وسلم ومعه ثلاثون ألف مقاتل ، ومعهم عشرة آلاف فرس
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, bersama 30.000 pasukan. Diantara mereka, yang 10.000 pasukan berkuda.” (Zadul Ma’ad, 3:462).

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab, tahun 9 Hijriyah. Itu artinya, perang ini terjadi dua tahun sebelum wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. sementara itu, ketika peristiwa Tabuk, tidak ada sahabat yang mampu jihad yang tidak itut perang, kecuali Ka’ab bin Malik dan dua temannya. Jika kita gabungkan dengan sahabat wanita dan anak-anak, serta mereka yang tidak mampu berperang, tidak menyimpang jauh jika jumlah mereka di sekitar 100.000.

Kemudian, disebutkan oleh jabir bin Abdillah, ketika beliau menjelaskan prosesi haji wada’. Jabir mengatakan,

فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ ، ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ ، حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتُهُ عَلَى الْبَيْدَاءِ نَظَرْتُ إِلَى مَدِّ بَصَرِي بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ رَاكِبٍ وَمَاشٍ ، وَعَنْ يَمِينِهِ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَعَنْ يَسَارِهِ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَمِنْ خَلْفِهِ مِثْلَ ذَلِكَ

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid, lalu naik Onta namanya al-Qashwa. Setelah beliau berada di atas dataran tinggi Baida, aku memandang sejauh pandangan mataku di depan penuh mannusia, yang berkendaraan dan yang berjalan kaki, di samping kanan juga sejauh mata memandang, di kiri juga demmikian, dan di belakang juga demikian.’ (HR. Muslim 1218)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat haji Wada’ dari Madinah ke Mekah, beberapa orang dari berbagai suku ikut bergabung, termasuk penduduk mekah yang belum lama masuk Islam.
Semoga Allah meridhai mereka dan menjadikan kita mampu mengikuti mereka dengan baik.
Referensi: Fatwa Islam, no. 108008

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)
http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-sahabat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” [Al Ahzab 21]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…” [Ali 'Imran 159]

Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim)

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)

Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim)

Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: “Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [Fushshilat 34-35]


Syariah, Haqiqah, Ma'rifat, Thariqah


Oleh : Al Habib Munzir Al Musawa

http://miaalfy.blogspot.com/2012/09/thariqah-haqiqah-marifat.html


SYARIAH

 
Syariah adalah ajaran Hukum hukum Allah berupa perintah dan larangan yg dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Syariah adalah aturan ibadah, cara shalat, cara puasa, cara wudhu, dlsb dari hukum hukum ibadah antara hamba dengan pencipta, dan antara hamba dg hamba lainnya.


HAQIQAH
 
Haqiqah adalah ilmu keyakinan yg mendalami Allah swt, ia adalah derajat Al Ihsan, sebagaimana sabda nabi saw : Al ihsan adalah kau beribadah pada Allah seakan kau melihat Nya, jika kau tak bisa melihat Nya maka sungguh Dia melihatmu.

Itulah ringkasan ilmu haqiqah, bagi mereka Allah swt Maha Terlihat dan Terasa, lebih dari semua makhluk...

Bagi mereka semua yg mereka lihat, dengar, dan rasakan, tak sekuat keberadaan Allah swt, seakan semua yg ada ini adalah tiada dan fana, Justru yg ada hanya Allah swt, mereka melihat keluhuran Allah swt dimanapun dan kapanpun, mereka didholimi mereka ingat Allah, mereka melihat sesuatu langsung lintasan pemikirannya pada Allah, mereka sudah tidak perduli pada makhluk, mereka hanya perduli pada Allah swt, mereka tidak perduli perasaan makhluk, mereka tidak perduli cinta dan benci makhluk, hanya Allah.. hanya Allah..

lalu mereka perduli pada makhluk karena Allah swt, bukan karena makhluk, mereka takut mengecewakan perasaan makhluk karena mereka takut dg itu bisa mengecewakan perasaan Allah swt, 
Maka cinta mereka suci, kelembutan mereka hakikiy, kasih sayang mereka teruji, mereka tidak terpengaruh dg pujian dan cacian, itulah haqiqah.


MA'RIFAT
 
Makrifat : suatu pemahaman / pengetahuan tentang Allah swt.
Semakin luas pemahaman seseorang tentang Allah swt maka diakatakan : semakin luas ilmu makrifatnya, ahli makrifat adalah orang yg luas pemahamannya tentang Allah swt, dan gelar utk orang yg sangat dekat dg Allah.

Saudaraku, seorang ahli syariah (ahli hukum islam) yg tidak mempunyai ilmu makrifat (mengenal kedekatan dg Allah) maka ia mestilah orang fasiq, ia akan menggunakan ilmunya untuk bermaksiat, menjual ayat, berkhianat dg hukum syariat itu sendiri.
demikian pula tidak bisa memperdalam makrifat bila ia tidak mengamalkan syariah, ini adalah kejahilan pula.

sebagaimana Rasul saw Imam tertinggi dalam ketakwaan dan beliau masih mengamalkan syariat ini bahkan beliau saw lah yg paling gigih mengamalkannya, maka semakin tinggi derajat seseorang akan semakin gigih pengamalannya dalam syariah.


THARIQAH
 
Tarekat / Thariqah adalah metode mencapai haqiqah.
Tarekat / Thariqah adalah suatu cara / metode untuk mencapai kekhusyuan dalam dzikir dan mencapai keridhoan Allah SWT.

Tidak wajib seseorang mengikuti suatu Thariqah, syariah yg wajib baginya untuk dipelajari dan dijalankan semampunya, lalu ia mendekatkan diri kepada Allah tanpa harus ber Thariqah, namun dg Thariqah maka mendekatkan diri pada Allah lebih mudah.


Thariqah banyak, ada yg sesat ada yg sejalan dg syariah,

Thariqah yg saya (Habib Munzir Al Musawa) amalkan dan guru saya jalankan dan terbanyak dipakai para ulama di dunia adalah Thariqah Alawiyyah, karena Thariqah ini memadukan syariah dan haqiqah, sebagaimaa kebangkitan Rasul saw beliau mengajarkan syariah dan haqiqah, diantara ajaran Thariqah alawiyyah adalah Ratib haddad, ratib alattas, wirdullatif, yg kesemuanya hanyalah kumpulan dzikir dari hadits Nabi saw, berbeda dengan sebagian thariqah lainnya yg lebih mementingkan haqiqah daripada syariah.

Thariqah Sammaniyah merupakan Thariqah yg diakui oleh para ulama ahlussunnah waljamaah, dan thariqah tersebut tidak bertentangan dg syariah

Umumnya tarekat hanya mengajarkan bimbingan menuju haqiqah saja, namun Thariqah alawiyyah ia memadukan syariah dan haqiqah, mereka memperdalam kedekatan pada Allah SWT dg jiwa dan raga, dg hukum ibadah yg benar secara fardhu dan sunnah, dan dengan jiwa yg suci luhur, tanpa merendahkan orang jahil. Mereka memperdalam fiqih, hadits, tafsir, dll dan memperdalam bimbingan ruhani pula, demikianlah thariqah alawiyah, dan demikianlah bimbingan Rasul SAW.


wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar