Minggu, 29 September 2013

..... “If they claim they fight Assad – is Assad living in Maaloula?” she exclaims. “Their goal is not Assad. Their idea is to establish an Islamic emirate in all the Middle East. However, foreign countries are helping them in weapons, in money, whatever they need. Helping in destroying country and people of this region. It’s not about the regime. We have been living for 40 years without suffering, now the regime change became just claim for other goals.” ..>> .... RT’s Maria Finoshina speaking to Suleyman Milaneh, a Maaloula resident. Still from RT video “We are living in peace, and it seems now they want to displace us Christians from the country. We pray God we’ll conquer them and kick them out.” ...>> .... Antoinette Taaleb, a Maaloula resident, had three members of her family killed by jihadists on the first day of the village siege. With her pain still fresh, she’s one of the few village refugees in Damascus to agree to speak about it to RT’s reporter in Syria, Maria Finoshina. “We were woken up in the morning by their ‘Allahu Akbar’ shouts,” Antoinette recalls. “We closed the doors, and we gathered all in one room. They broke into the garden and told us: ‘Surrender and we won’t harm you.’ Antoine, Mikhael, and Shadi went there and surrendered. I heard my cousin outside saying that he never held weapons. I understood they pointed their guns at them. Then they started shooting and throwing mortar bombs into the room. I got injured in my chest and elbow.” ..>>... Malula adalah sebuah desa kuno yang mayoritas dihuni oleh orang-orang Kristen Orthodok dan Katholik. Dianggap sebagai simbol kekristenan Syria, inilah desa dimana bahasa Aramic, bahasa yang digunakan Yesus (Nabi Isa AS) sehari-hari, masih digunakan oleh penduduknya baik yang beragama Kristen maupun Islam. Karana itu pulalah maka Unesco kini tengah mempertimbangkannya untuk menjadi salah satu "Warisan Dunia". Melihat kehidupan sehari-hari orang-orang Kristen Orthodok yang saleh, Anda mungkin mengira mereka sebagai orang Islam. Para wanitanya berjilbab dan laki-lakinya berpenutup kepala dan berbaju longgar. Mereka sembahyang dengan rukuk dan sujud. Mereka berpuasa 40 hari. Mereka bersunat dan mengharamkan babi. Mereka juga berwudhu sebelum sembahyang. Injil yang mereka baca juga berhuruf Arab. Mereka marah jika dituduh meniru orang-orang Islam karena menganggap apa yang mereka lakukan itu telah dilakukan nenek moyang mereka jauh sebelum kedatangan Islam. Mereka memegang teguh 10 perintah Tuhan yang diberikan kepada Nabi Musa, seperti larangan mencuri, berzinah dan berbohong. >>>>...

 

Tales from village-turned-battlefield: Maaloula siege survivors talk

Published time: September 20, 2013 11:41 
http://rt.com/news/maaloula-fighting-refugees-damascus-114/ 
 
 
A picture taken on September 18, 2013 shows the Syrian flag flying on the side of a road leading to Syria's ancient Christian town of Maalula, as fighting continues between government forces and rebel fighters. (AFP Photo) 

Download video (23.69 MB)
Maaloula residents, forced to flee their homes when the Christian village was taken over by jihadists, have found refuge in Damascus. Many live in fear having not overcome the shock of what had happened. RT managed to speak to some.

Antoinette Taaleb, a Maaloula resident, had three members of her family killed by jihadists on the first day of the village siege. With her pain still fresh, she’s one of the few village refugees in Damascus to agree to speak about it to RT’s reporter in Syria, Maria Finoshina.

We were woken up in the morning by their ‘Allahu Akbar’ shouts,” Antoinette recalls. “We closed the doors, and we gathered all in one room. They broke into the garden and told us: ‘Surrender and we won’t harm you.’ Antoine, Mikhael, and Shadi went there and surrendered. I heard my cousin outside saying that he never held weapons. I understood they pointed their guns at them. Then they started shooting and throwing mortar bombs into the room. I got injured in my chest and elbow.”

Many of those who escaped violence in Maaloula are reluctant to talk to journalists, fearing this could somehow do harm to their relatives who remain missing.

Antoinette’s father in law Suleyman Milaneh is 88 years old. He can’t say he’s seen it all before, as according to him, nothing like this has happened in his life time.


RT’s Maria Finoshina speaking to Suleyman Milaneh, a Maaloula resident. Still from RT video


RT’s Maria Finoshina speaking to Suleyman Milaneh, a Maaloula resident. Still from RT video
We are living in peace, and it seems now they want to displace us Christians from the country. We pray God we’ll conquer them and kick them out.

Another of Antoinette’s relatives, an artist who’s hiding her face and asks to go by the name of Lady Oscar, says it’s hard to say how many people were killed in Maaloula because jihadists holding the village often keep bodies for further ransom and to instill fear.   

If they claim they fight Assad – is Assad living in Maaloula?” she exclaims. “Their goal is not Assad. Their idea is to establish an Islamic emirate in all the Middle East. However, foreign countries are helping them in weapons, in money, whatever they need. Helping in destroying country and people of this region. It’s not about the regime. We have been living for 40 years without suffering, now the regime change became just claim for other goals.”


RT’s Maria Finoshina speaking to Lady Oscar, a Maaloula resident. Still from RT video

RT’s Maria Finoshina speaking to Lady Oscar, a Maaloula resident. Still from RT video
The Syrian village of Maaloula is considered a symbol of Christianity in Syria and is one of only a few places where the Aramaic language - believed to have been spoken by Jesus Christ – is still used by both the Muslim and the Christian residents. Home to some 2,000 residents, the village is on a UNESCO list of proposed world heritage sites.

Maaloula, which before this month managed to stay untouched by the two-year-long conflict, is a strategically important location for the rebels who want it under control to increase pressure on government defenses in Damascus.

At the beginning of September rebel jihadists from the Al-Qaeda-linked Nusra Front took over the town. Several attempts by government troops to drive them out of the village have so far not succeeded. 

For more on the Maaloula residents who escaped the village-turned-battlefield watch RT Maria Finoshina’s report from Damascus.


CERITA DARI MALULA 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/09/cerita-dari-malula.html#.UkgyMlIxVkg


Malula adalah sebuah desa kuno yang mayoritas dihuni oleh orang-orang Kristen Orthodok dan Katholik. Dianggap sebagai simbol kekristenan Syria, inilah desa dimana bahasa Aramic, bahasa yang digunakan Yesus (Nabi Isa AS) sehari-hari, masih digunakan oleh penduduknya baik yang beragama Kristen maupun Islam. Karana itu pulalah maka Unesco kini tengah mempertimbangkannya untuk menjadi salah satu "Warisan Dunia".

Melihat kehidupan sehari-hari orang-orang Kristen Orthodok yang saleh, Anda mungkin mengira mereka sebagai orang Islam. Para wanitanya berjilbab dan laki-lakinya berpenutup kepala dan berbaju longgar. Mereka sembahyang dengan rukuk dan sujud. Mereka berpuasa 40 hari. Mereka bersunat dan mengharamkan babi. Mereka juga berwudhu sebelum sembahyang. Injil yang mereka baca juga berhuruf Arab. Mereka marah jika dituduh meniru orang-orang Islam karena menganggap apa yang mereka lakukan itu telah dilakukan nenek moyang mereka jauh sebelum kedatangan Islam. Mereka memegang teguh 10 perintah Tuhan yang diberikan kepada Nabi Musa, seperti larangan mencuri, berzinah dan berbohong.

Saya (blogger) bahkan pernah membaca salah satu ayat dalam Injil yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS (Yesus) memerintahkan ummatnya untuk mengatakan "Jika Tuhan Menghendaki" (Insya Allah dalam Islam) jika hendak berjanji. Maka saya percaya dengan klaim mereka.

Tahun 2005 yang lalu saya berkenalan dengan seorang pendeta Kristen Orthodok Syria yang saya undang untuk menjadi salah seorang narasumber acara diskusi Novel "The Da Vinci Code" yang saya "organize" di Kota Medan. Dalam acara diskusi yang berlangsung panas di antaranya dengan seorang Kristolog IAIN Sumut, sang pendeta akhirnya mengakui bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ternyata perbedaan pandangan tersebut hanyalah mengenai penafsiran kata "Anak Tuhan" di dalam Injil yang bahkan oleh orang-orang yahudi sendiri yang mengerti benar makna kata "Anak Tuhan" itu (karena Yesus dan Injil sebenarnya diturunkan kepada orang-orang yahudi) menganggapnya sebagai sebuah metamorfosa belaka untuk menyebutkan orang-orang yang dicintai Tuhannya. Adapun dalam hal ibadah, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan mendasar antara Islam dan Kristen "murni".

Dan orang-orang itulah yang kini tengah mengalami penderitaan di Malula akibat konflik bersenjata yang melanda negeri yang dahulu aman dan tenteram itu.

“Dahulu kami hidup damai, namun kini mereka (pemberontak) ingin menyingkirkan kami orang-orang Kristen dari negeri ini. Kami berdoa agar Tuhan mengalahkan mereka dan menendang mereka keluar," kata Antoinette Taaleb, warga Kristen Malula kepada wartawan "Russia Today" baru-baru ini.

Antoinette mempunyai 3 anggota keluarga yang tewas dibunuh para muhahilin Syria. Diperkirakan ratusan warga Malula telah tewas oleh kebiadaban para mujahilin, tidak saja orang-orang Krisen namun juga orang-orang Islam. Sebagian besar lainnya yang jumlahnya mencapai ribuan orang, terpaksa meninggalkan kota dan menjadi pengungsi. Selain pembunuhan dan penculikan bermotif mendapat uang tebusan, para mujahilin juga memaksa orang-orang Kristen untuk berpindah keyakinan.

Baru-baru ini beredar gambar seorang wanita separoh baya penganut Kristen yang diikuat tangan dan kakinya di tiang sebuah bangunan di pinggir jalan. Ia tampak telah tewas atau pingsan. Di dekat kakinya terdapat tulisan yang memerintahkan orang-orang yang lewat untuk memukuli atau melemparinya dengan batu. Kesalahannya adalah karena ia menolak untuk berpindah keyakinan.

Saat ini Malula menjadi salah satu "titik api" dalam konflik Syria. Sejak pemberontak menyerang kota ini awal September lalu, berkali-kali penguasaan kota ini telah berpindah tangan dari tentara pemerintah ke pemberontak atau sebaliknya. Saat ini sebagian besar kota telah dikuasai pasukan pemerintah, namun usaha untuk membersihkan kota ini dari para pemberontak mengalami kesulitan karena kondisi kota yang dikelilingi tebing-tebing tinggi yang memiliki ribuan gua. Para penembak jitu pemberontak menggunakan gua-gua itu sebagai tempat persembunyian sembari menebar terror terhadap tentara dan penduduk kota.

"Jika mereka mengklaim memerangi Assad, apakah Assad tinggal di Malula? Tujuan mereka bukan Assad, melainkan mendirikan khilafah di seluruh Timur Tengah dengan bantuan negara-negara asing. Mereka telah menghancurkan negara-negara dan rakyat di kawasan ini. Ini bukan tentang regim (Bashar al Assad). Saya telah tinggal selama 40 tahun dengan aman, kini "pergantian regim" hanya tujuan kecil dari tujuan-tujuan mereka lainnya.”



REF:
"Tales from village-turned-battlefield: Maaloula siege survivors talk"; Russia Today; 20 September 2013

4 komentar:

Anton pristiwanto mengatakan...
to saudara Adi memang Yesus melalui penerusnya yaitu adik kandung Yesus, Yakobus mengajarkan mengucapkan kata "Insya Allah". Hal ini bisa kita lihat di kitab Yakobus 4:15 yang berbunyi : sebenarnya kamu harus berkata "jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan akan berbuat ini dan itu" saya mempunyai alkitab tahun 1963 dan kalimat "jika Tuhan menghendakinya" masih tertulis "insya Allah".
rio3n4 mengatakan...
Dengan bersatunya zionis & wahabi, kiamatpun tak kan lama lagi..
rio3n4 mengatakan...
Dengan bersatunya zionis & wahabi, kiamatpun tak kan lama lagi..
abu bakar mengatakan...
musuh kemanusian membunuh semua agama mereka kaum dari abad petengahan memusuhi sesiapa yang bukan dari mereka,apakah ini perjuangan agama seandainya sasaranya Damascus mereka mereka pergi ke Maloula, semuanya takkan selamat dari senjata takfiri, bongkarkan kejahatan mereka sebelum bahaya itu datang menimpa kita dan kaum yang tak bersalah...dunia harus bertindak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar