Kamis, 05 September 2013

....... Akar Konflik Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin...?? >>> ......Di Home land Salafy sendiri sudah ada usaha dari Raja Abdullah untuk mereformasi kurikulum pendidikan Wahabi/salafy yang dianggap terlalu ekstrim dan menanamkan kebencian kepada kelompok lain.....??? >> Raja Abdullah juga memerintahkan tiga tokoh Syiah Arab Saudi; Muhammad Al-Khanizi, Jamil Al-Khairi dan Said Al-Sheikh menjadi anggota di Dewan Ulama. Perintah ini dianalisa sebagai kemungkinan dikeluarkannya perintah Raja Abdullah kepada beberapa ulama Syiah untuk menjadi anggota Forum Ulama Islam negara Arab Saudi...>>> ...Perubahan lain yang dilakukan oleh Raja Abdullah dengan menambah jumlah anggota Dewan Ulama dari 120 menjadi 150 anggota. Untuk pertama kalinya, Raja Abdullah menunjuk utusan dari empat sekolah hukum agama Islam Sunni di dalam Dewan Ulama. Sebelumnya hanya tokoh atau perwakilan dari sekolah-sekolah Hambali yang mendominasi di Dewan Ulama. Akibatnya, yang mendominasi di dewan itu hanya ajaran Wahhabi, versi Arab Saudi konservatif....>>.... Raja Abdullah juga menggantikan Kepala Dewan Mahkamah Agung, Sheikh Saleh al-Luhaidan, yang selama ini dituding menghalangi upaya reformasi dengan Saleh bin Humaid. Sheikh Luhaidan telah menduduki pos ini selama lebih dari 40 tahun. Selama ini Luhaidan amat terkenal karena beberapa kebijakan ”tegas” yang berpijak pada ajaran konservatif. Salah satu pernyataan tegas pernah diutarakan Luhaidan, September lalu, untuk menanggapi program-program di stasiun TV satelit. Menurut Luhaidan, pemilik stasiun TV satelit yang menayangkan program ”tidak bermoral” harus dibunuh....>> Ia juga mengganti kepala polisi agama Muttawa, Sheikh Ibrahim Al-Ghaith, yang telah memimpin kampanye agresif di media massa bagi pelaksanaan keras adat-istiadat Islam dan menantang tokoh lain yang lebih liberal dalam pemerintah. Sheikh Ibrahim Al-Ghaith diganti dengan Abdul Azia bin Huamin yang lebih moderat...>> ..Penunjukkan Pangeran Faisal bin Abdullah sebagai Menteri Pendidikan Arab Saudi memang tepat. Karena kementerian ini sebelumnya kurikulum yang memberi doktrin pada pelajar tentang ideologi kebencian dan kekerasan terhadap agama lain (Wahhabi). Mereka mengajarkan sebagai bagian dari perintah agama penanaman kebencian terhadap selainnya bahkan kepada Ahlu Sunnah dan Syiah. Seperti yang ditunjukkan Laporan Juli 2008, budaya kebencian terhadap non-Wahhabi masih tetap ada dalam buku-buku bacaan kajian Islam terbitan pemerintah Arab Saudi. Buku-buku bacaan ini diwajibkan di seluruh sekolah umum Arab Saudi dan mendominasi kurikulum Saudi dalam kelas-kelas yang lebih tinggi. Kementerian memuat isi teks ini secara penuh dalam situsnya dan penguasa Wahhabi mengirimnya gratis ke masjid-masjid dan sekolah-sekolah dan perpustakaan muslim di seluruh dunia...>> Pangeran Faisal bin Abdullah yang dikenal pemikir dan moderat juga dikenal cakap dalam memeriksa kurikulum. Dan dikemudian hari kita akan menyaksikan di Arab Saudi yang lebih moderat (baca: sekuler)...>> 2005 : Raja Fahd meninggal, digantikan oleh Abdullah bin Abdul Azis. Putra Mahkota Pangeran Sultan Bin Abdul Azis telah berumur 86 tahun dalam kondisi sakit-sakitan. Bila Pangeran Sultan meninggal dunia lebih dahulu dari Raja, yang dipersiapkan sebagai pengganti putera mahkota adalah menantu Raja Abdullah yaitu : Pangeran Faisal Bin Abdullah. Raja Abdullah mengganti beberapa pejabat teras pemerintahannya yang berideologi Wahhabi dengan orang-orang yang dianggap lebih toleran secara religi, berpikiran reformis dan dengan ikatan kerja yang dekat dengan raja....>>> Keluarga Saud mulai menamkan investasi yang besar di AS, khususnya pada perusahaan-perusahaan keluarga BUSH. dana sebesar 1,4 Milliar Dollar AS per tahun diberikan kerajaan Arab Saudi untuk menyokong kepemimpinan George W. Bush. Investasi sebesar 860 Milyar Dollar ditanam pemerintahan Arab Saudi di Amerika dan sebesar 300 Trilyun Dollar AS (senilai dengan 2.805.000.triliun rupiah/ ataw 3,000,000 Triliun lebih) uang negara Arab Saudi disimpan di Bank AS..>> 1943 : Konsesi ijin bagi AS menempatkan pangkalan militer di Arab Saudi yang terus diperpanjang sampai sekarang. 1948 : Deklarasi berdirinya Israel pada tanggal 14 Mei 1948 yang dibacakan oleh Perdana Menteri David Ben Gurion di Tel Aviv. Proklamasi Israel itu ditentang oleh 5 negara Arab : Arab Saudi, Suriah, Mesir, Trans-Yordania, Libanon dan Irak yang mengakitbatkan pecahnya perang Arab-Israel pertama sepanjang tahun 1948-1949. Namun perang ini adalah setengah hati, karena negara2 Arab sendiri sudah terikat traktat dengan Inggris melalui Perjanjian Penentuan Batas Wilayah yang ditentukan oleh Komisioner Tinggi Inggris Sir Percy Cox tahun 1916. Disamping itu juga telah adanya janji para penguasa negara Arab bentukan Inggris untuk membiarkan berdirinya Israel di Palestina sebagai imbalan atas jasa Inggris yang telah membantu berkuasanya para Raja boneka Inggris di masing2 negara Arab...>> 1941 : Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadi ‘budak’ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam ‘membangun’ Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi...>> 1932 : Ibnu Saud memproklamrikan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (Al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah) dengan wilayah kekuasaan yang sampai sekarang ini dikenal sebagai Kerajaan SAUDI ARABIA. 1933 : Ditemukan minyak di Wilayah Arab Saudi, Standart Oil Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi...>> 1928 : Suku Duwais yang tidak senang terhadap sikap politik Ibnu Saud yang terlalu pro Barat dan menyetujui berdirinya Israel di Palestina melakukan pemberontakan. Dengan bantuan angkatan udara Inggris dilakukan pengeboman dan penumpasan pemberontakan suku Duwaish..>> 1902 : Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang merengek minta bantuan Inggris berusaha merebut kekuasaan di Riyadh dari Klan Rasyid yang didukung Khilafah Turki Ottoman. Mulanya Inggris meragukan kemampuan Abdul Azis, tapi Abdul Azis meyakinkan Inggris bahwa metodenya adalah murni gerakan politik-militer yang akan “membunuh semuanya” yang menentangnya, tidak perduli meskipun Moslem....>>>

Kekeliruan Salafi Wahabi

Video ini menceritakan sikap Al-Azhar Mesir, melalui Syaikh Dr. Ahmad Karimah, yang menolak paham Wahaby yang sekarang bernama Salafy:

احمد كريمة يفتح النار على السلفية ويصفهم بالوهابيه

Bagi pengikut aliran Salafi Wahabi mungkin mereka merasa aliran tersebut sangat baik karena memurnikan Tauhid, membersihkan bid’ah, dan menganut Islam sesuai ajaran Al Qur’an dan Hadits.
Namun kenapa banyak tentangan dari ummat Islam lainnya? Menghadapi hal itu, para Syekh Wahabi menuding itu adalah ulah Syi’ah, Ahlul Bid’ah, Sufi, dan para pelaku TBC (Tawassul, Bid’ah, dan Churafat). Para pengikutnya biasanya langsung taqlid buta dan percaya. Benarkah?

Memakai Dalil Orang Kafir dalam Memvonis Bid’ah

Wahabi memakai dalil orang kafir dalam memvonis bid’ah. Satu dalil terkenal yang sering mereka pakai adalah:

لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

Jika kita teliti, Nabi tidak pernah mengatakan itu. Di Al Qur’an pun setelah diperiksa, ternyata itu adalah ucapan orang-orang kafir yang dilontarkan terhadap orang yang beriman:
“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama.” [Al Ahqaaf 11]
Jadi bagaimana mungkin kaum Wahabi bertasyabbuh/menyerupai orang-orang kafir dengan mengutip ucapan orang-orang kafir sebagai dalil utama untuk memvonis ummat Islam sebagai Ahlul Bid’ah atau sesat? Bukankah itu keliru?
Wahabi pun keliru menafsirkan ayat Al Qur’an di bawah:
“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” [Al Hasyr 7]
Kaum Wahabi memahami apa yang “Tidak diperintahkan” Nabi sebagai “Larangan.” Padahal di ayat di atas yang “Dilarang” yang harus kita tinggalkan. Ada pun yang tidak diperintahkan atau tidak dilarang, itu sebetulnya bukan larangan. Dari kesalah-pahaman pengambilan dalil inilah akhirnya kaum Wahabi jadi ekstrim dan sering memvonis ummat Islam sebagai Ahlul Bid’ah, Sesat, bahkan kafir yang akhirnya merusak ukhuwah Islamiyyah. Memecah-belah dan melemahkan ummat Islam. Secara tak sadar mereka justru melanggar larangan Allah dan terjebak dalam dosa.
Contoh hal yang tidak diperintahkan atau pun dilarang Nabi misalnya penyusunan kitab Al Qur’an dan juga Kitab-kitab Fiqih oleh para Imam Madzhab. Meski tak ada perintah dan tidak ada larangan, itu bukan berarti haram/bid’ah. Justru bermanfaat memudahkan ummat Islam dalam belajar Islam.

Mudah Mengkafirkan Sesama Muslim (Takfir) dan Buruk Sangka

Paham kaum Wahabi ini adalah paham Takfir. Yaitu menganggap ummat Islam itu Ahlul Bid’ah, sesat, syirik, kafir, dsb. Akhirnya mereka mencaci-maki ummat Islam dengan sebutan yang mereka sendiri tidak suka:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al Hujuraat 11]
Sebetulnya firman Allah di atas jelas agar kita tidak mengejek sesama Muslim dengan sebutan yang tidak disukai seperti Ahlul Bid’ah, Sesat, apalagi kafir. Namun kenapa kaum Wahabi yang katanya “Menegakkan Sunnah” melakukannya?

Tak jarang juga kaum Wahabi berburuk sangka/curiga sehingga orang yang berziarah kubur kemudian berdoa kepada Allah mendoakan mayat tersebut, mereka duga sebagai berdoa kepada kuburan dan menyebutnya sebagai penyembah kuburan. Begitu pula ada yang menulis saat dia tengah berteduh di bawah pohon karena kepanasan di padang pasir kemudian berdoa kepada Allah, tiba-tiba seorang Wahabi menghardiknya: “Mengapa engkau menyembah pohon?”. Main tuduh orang sebagai penyembah pohon padahal tidak mendengar apa isi doa orang tersebut. Padahal buruk sangka itu dosa:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat 12]
Jadi bagaimana mungkin orang yang berziarah kubur dicaci sebagai penyembah Kuburan padahal mereka itu sering mengucapkan tahlil: “Tidak Ada Tuhan Selain Allah”? Mereka sekedar mengikuti perintah Nabi dan juga sunnah Nabi yang sering melakukan Ziarah Kubur:

Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya telah pernah -dahulu- melarang engkau semua perihal ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ke kubur itu!” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur, maka baiklah berziarah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kepada akhirat.”

Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu setiap malam gilirannya di tempat Aisyah, beliau s.a.w. lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai perkampungan kaum mu’minin, akan datang padamu semua apa-apa yang engkau semua dijanjikan besok yakni masih ditangguhkan waktunya. Sesungguhnya kita semua ini Insya Allah menyusul engkau semua pula. Ya Allah, ampunilah para penghuni makam Baqi’ Algharqad ini.”[54] (Riwayat Muslim)

Dari Buraidah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. mengajarkan kepada mereka -para sahabat- jikalau mereka keluar berziarah ke kubur supaya seseorang dari mereka mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai para penghuni perkampungan-perkampungan -yakni kubur-kubur- dari kaum mu’minin dan Muslimin. Sesungguhnya kita semua Insya Allah menyusul engkau semua. Saya memohonkan kepada Allah untuk kita dan untukmu semua akan keselamatan.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. berjalan melalui kubur-kubur Madinah lalu beliau menghadap kepada mereka -penghuni-penghuni kubur-kubur- itu dengan wajahnya, kemudian mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai para ahli kubur, semoga Allah memberikan pengampunan kepada kita dan kepadamu semua. Engkau semua mendahului kita dan kita akan mengikuti jejakmu.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

Saat kita ziarah ke makam Nabi di Madinah pun ulama Wahabi sering curiga kalau orang-orang yang menziarahi kubur Nabi dan mendoakan Nabi sebagai menyembah Nabi sehingga sering mengusirnya. Padahal itu tidak benar.
Terkadang juga Muhammad bin Abdul Wahab terlalu ekstrim dalam menuduh ummat Islam itu syirik seperti di bawah:
Masalah tauhid, yang merupakan pondasi agama Islam mendapat perhatian yang begitu besar oleh Syekh Muhammad Abdul Wahhab. Perjuangan tauhid beliau terkristalisasi dalam ungkapan la ilaha illa Allah. Menurut beliau, aqidah atau tauhid umat telah dicemari oleh berbagai hal seperti takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) yang bisa menjatuhkan pelakunya kepada syirik. Aktivitas-aktivitas seperti mengunjungi para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan, mengunjungi kuburan mereka, mengusap-usap kuburan tersebut dan memohon keberkahan kepada kuburan tersebut. Seakan-akan Allah SWT sama dengan penguasa dunia yang dapat didekati melalui para tokoh mereka, dan orang-orang dekat-Nya. Bahkan manusia telah melakukan syirik apabila mereka percaya bahwa pohon kurma, pepohonan yang lain, sandal atau juru kunci makam dapat diambil berkahnya, dengan tujuan agar mereka dapat memperoleh keuntungan.
Mungkin ada beberapa ummat Islam yang syirik. Tapi apa iya mayoritas ummat Islam itu seperti di Jazirah Arab bahkan di Mekkah dan Madinah jadi syirik menyembah kuburan, pohon, dan sebagainya sehingga dia sampai memerangi mereka? Ada satu video yang mempertanyakan: “Jika ummat Islam di Mekkah dan Madinah itu Musyrik dan Kuffar sehingga dibunuh, lalu ummat Islam yang asli itu ada di mana?”:
Dijelaskan juga pada situs Arrahman.com yang mendukung Wahabi:
Pada awalnya, idenya tidak begitu mendapat tanggapan bahkan banyak mendapatkan tantangan, kebanyakan dari saudaranya sendiri, termasuk kakaknya Sulaiman dan sepupunya Abdullah bin Husain. 
Muhammad bin Abdul Wahab mendapat tentangan bahkan dari kakaknya Sulaiman yang juga ulama. Bahkan ayahnya, Abdul Wahab, yang merupakan guru dari Muhammad bin Abdul Wahab (MAW) juga menentang MAW karena pemikirannya yang ekstrim. Ini tak disebut di situ, tapi di literatur lain ada sehingga sebagian ulama Aswaja menuding MAW tidak bersanad karena gurunya sendiri menentang pemikirannya. Banyak ulama yang tidak setuju sehingga MAW harus meninggalkan negerinya. Kalau Nabi Muhammad meninggalkan kota Mekkah karena kaum kafir menolak Islam kita mengerti. Tapi jika seorang “ulama” harus meninggalkan negerinya yang mayoritas Muslim beserta banyak ulama juga di situ, harusnya kita bertanya-tanya mengenai pahamnya.
Padahal menurut Nabi, Ummat Islam itu tidak akan berkumpul/sepakat dalam kesesatan. Jadi kalau ada firqoh yang menganggap mayoritas ummat Islam sesat, justru firqoh itulah yang sesat atau Khawarij:
Dari ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ وَمَنْ أَرَادَ بِحَبْحَةِ الْجَنَّةِ فَعَلَيْهِ بِالْجَماعَةِ

“Tetaplah bersama jamaah dan waspadalah terhadap perpecahan. Sesungguhnya setan bersama satu orang, namun dengan dua orang lebih jauh. Dan barang siapa yang menginginkan surga paling tengah maka hendaklah bersama jamaah”
[Shahîh, diriwayatkan Ibnu Abu 'Ashim dalam as-Sunnah (87), Imam Ahmad dalam Musnad-nya (1/18), Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2165), Imam al-Hakim dalam Mustadrak-nya (387), dan Imam al-Ajuri dalam asy-Syariah (5)]

كُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم عَلَى ضَلاَلَةٍ

Tetaplah kalian bersama jamaah maka sesungguhnya Allah tidak menghimpun umat Muhammad di atas kesesatan.”
Sanadnya jayyid, diriwayatkan Imam Ibnu ‘Ashim dalam Sunnah-nya (85). Hadits ini diriwayatkan Imam ath-Thabrani dari dua jalan, dan salah satu jalurnya para perawinya terpercaya sebagaimana yang telah disebutkan dalam Majma Zawa`id (5/219
dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ .

“Sesungguhnya, umatku tidak akan sepakat di atas kesesatan. “
Shahîh, diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3950) dan al-Khathib at-Tibrizi dalam Misykatul- Mashabih (174). Diriwayatkan juga oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2167), al-Khathib at-Tibrizi dalam Misykatul-Mashabih (174), dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya (391, 392, 393, 394, 395, 396 dan 397) dari Ibnu ‘Umar dengan lafazh: “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun umatku atau umat Muhammad di atas kesesatan”. Hadits ini dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam al-Miskât (no. 173) dan terdapat shahid dari hadits Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan at-Tirmidzi dan al-Hakim serta yang lainnya dengan sanad yang shahîh. Lihat Shahîhul Jami’, al-Albâni (1/378, no. 1848)
Di situ juga disebut bagaimana MAW bekerjasama dengan Raja Arab guna memerangi musuhnya:
Selanjutnya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkerjasama secara sistematis dan saling menguntungkan dengan keluarga Saud untuk menegakkan Islam.
Padahal Nabi dan juga para ulama Tabi’in memerintahkan agar menjauhi para penguasa/raja:
Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.” (Riwayat Ahmad).
Abu Hazim (Ulama Tabi’in 140 H) mengatakan, ”Sebaik-baik umara, adalah mereka yang mendatangi ulama dan seburuk-buruk ulama adalah mereka yang mencintai penguasa.”
Selain Abu Hazim, Wahab bin Munabih (110 H), ulama dari kalangan tabi’in juga pernah menyatakan agar para ulama menghindari pintu-pintu para penguasa, karena di pintu-pintu mereka itu ada fitnah, ”Kau tidak akan memperoleh dunia mereka, kecuali setelah mereka membuat musibah pada agamamu.” (Riwayat Abu Nu’aim).
Ada juga tulisan:
Gerakan al-Muwahhidun atau yang kini sering disebut sebagai gerakan “wahabi” ini menjadi ancaman bagi kekuasaan Inggris di daerah perbatasan dan Punjab sampai 1871. Ketika itu pemerintah Inggris bersekongkol untuk mengeluarkan ‘fatwa’ guna memfitnah kaum Wahhabi sebagai orang-orang kafir. 
Yang jadi pertanyaan, apa benar Wahabi jadi “ancaman” bagi Inggris? Bukannya justru Wahabi itu yang bekerjasama dengan Inggris membantu Ibnu Saud untuk berontak terhadap Kekhalifahan Islam Turki Usmani?
Apa ada buku sejarah yang menceritakan Ibnu Saud dan Wahabi memerangi Inggris? Tidak ada! Yang mereka perangi adalah para penguasa Turki Usmani dan juga ummat Islam yang mereka tuding sebagai Musyrik dan Kafir. Silahkan baca:


Sanjungan bahwa berkat MAW negara-negara Islam jadi berontak terhadap penjajah seperti Inggris dan merdeka pun sangat tidak beralasan. Hingga wafatnya MAW tahun 1787 M tidak ada negara Islam yang merdeka dan bebas dari penjajahan Inggris cs. Sebagai contoh, Indonesia baru merdeka tahun 1945 atau 158 tahun setelah wafatnya MAW. Itu pun maaf bukan karena Wahabi karena Wahabi itu sangat-sangat minoritas di Indonesia.
Sebaliknya akibat Kekhalifahan Turki Usmani melemah akibat pemberontakan Ibnu Saud-MAW yang didukung senjata dan dana dari Inggris, Palestina jatuh ke tangan Inggris untuk kemudian diserahkan kepada Yahudi di tahun 1948:

Dokumen Ekspos Pendiri Saudi Yakinkan Inggris untuk Dirikan Negara Yahudi

Ini beda dengan Nabi Muhammad yang saat hidup pun sudah membebaskan kota Madinah, Mekkah dan juga jazirah Arab dari kungkungan kaum kafir dan juga Yahudi.

Lagi pula banyak yang mewaspadai gerakan Wahabi itu adalah Ulama Aswaja yang tidak ada hubungannya dengan Inggris seperti Habib Rizieq Syihab dari FPI dan Habib Munzir Al Musawa dari Majelis Rasulullah. Silahkan baca:
FPI membagi WAHABI dengan semua sektenya juga menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, WAHABI TAKFIRI yaitu Wahabi yang mengkafirkan semua muslim yang tidak sepaham dengan mereka, juga menghalalkan darah sesama muslim:
Pandangan Habib Munzir Al Musawa dari Majelis Rasulullah tentang Wahabi:
beda dengan orang orang wahabi, mereka tak punya sanad guru, namun bisanya cuma menukil dan memerangi orang muslim.
mereka memerangi kebenaran dan memerangi ahlussunnah waljamaah, memaksakan akidah sesatnya kepada muslimin dan memusyrikkan orang orang yg shalat.
Yang jelas sikap Wahabi yang sangat keras terhadap sesama Muslim dari memaki Muslim sebagai Ahlul Bid’ah, Penyembah Kuburan, Musyrik, Kafir, dsb itu justru tidak sesuai dengan perintah Allah dan Sunnah Nabi yang justru lemah-lembut terhadap sesama Muslim:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [Ali 'Imran 159]
Ummat Islam itu berkasih sayang terhadap sesama, namun keras terhadap orang-orang kafir:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Al Fath 29]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah 54]
Jadi bagaimana mungkin mereka “MenghidupkanSunnah” jika Al Qur’an yang jelas saja sudah dilanggar?
Terlalu Ekstrim dalam Memvonis Bid’ah
Dalam hal memvonis Bid’ah pun kaum Wahabi terlalu ekstrim. Contohnya para Imam Mazhab itu boleh dikata saling berhubungan seperti Imam Malik adalah guru dari Imam Hanafi dan Imam Syafi’i, sementara Imam Syafi’i adalah guru dari Imam Hambali. Toh meski Imam Syafi’i mengajarkan pengucapan niat sholat dan juga Qunut Subuh, tidak pernah Imam Malik atau pun Imam Hambali menghina Imam Syafi’i sebagai Ahlul Bid’ah yang harus dihina dan dimusuhi. Bahkan Imam Hambali malah berguru kepada Imam Syafi’i.
Banyak hal yang menurut Ulama Salafi Wahabi bid’ah, namun menurut Jumhur Ulama justru tidak bid’ah. Contohnya seperti Zikir berjama’ah, Pengajaran Sifat 20, Qunut Subuh, dsb. Nanti seusai mencap pelaku “bid’ah” sebagai Ahlul Bid’ah, lalu mereka musuhi. Ini merusak Ukhuwah Islamiyah.
Jangan terlalu gampang memvonis sesuatu hal yang baru sebagai Bid’ah. Sebaiknya pelajari sejarah dan hadits dulu sebelum begitu.
1. Zaman Nabi shalat Tarawih sendiri2. Zaman Umar jadi Khalifah, Umar mengumpulkan para sahabat untuk tarawih bersama di masjid. Itu adalah bid’ah hasanah kata Umar ra yg diaminkan para sahabat. Dan kualitas KeIslaman Umar ra beserta sahabat jauh di atas para syaikh yang ada sekarang.
2. Zaman Nabi Al Qur’an tidak berbentuk 1 kitab seperti sekarang. Namun pada zaman Khalifah Abu Bakar, Umar mengusulkan agar Al Qur’an dibukukan sehingga tidak tercerai-berai dan akhirnya dilupakan mengingat banyak Hafidz Qur’an yang terbunuh saat perang. Khalifah Abu Bakar ragu takut itu bid’ah. Namun desakan Umar dan juga persetujuan sahabat lainnya, akhirnya Al Qur’an dibukukan. Apakah ini bid’ah? Apakah ini sesat dan masuk neraka? Tidak bukan?
Banyak orang tidak paham bid’ah sehingga hal2 yg sebetulnya tidak bid’ah, dimasukkan sebagai bid’ah dan masuk neraka. Padahal mengkafirkan orang itu dosa.
3. Kitab Hadits zaman Nabi tidak ada. Bahkan Nabi melarang sahabat untuk menulis Hadits karena dikhawatirkan tercampur dengan Al Qur’an. Namun para ulama dan ahli Hadits akhirnya membukukan Hadits dari Imam Malik dgn Al Muwaththo, hingga Imam Bukhari, Imam Muslim, dsb. Ini juga bukan bid’ah yang masuk neraka.
4. Bilal juga pernah menambah ash sholatu khoirun minan nawm pada adzan Subuh. Nabi tidak menganggap itu bid’ah.
5. Nabi Muhammad tidak pernah bersyair di Masjid, namun penyair Hasan bin Tsabit melakukannya. Nabi membolehkannya.
6. Nabi Muhammad tidak pernah bermain tombak di masjid. Namun orang-orang Habsyi melakukannya. Saat Umar ingin menimpuk orang-orang Habsyi, Nabi melarangnya. Justru Nabi menontonnya.
7. Usman mengadakan tambahan Azan ke 2 dan ke3 pada Sholat Jum’at:
Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Pada masa Utsman dan orang-orang (dalam satu riwayat: penduduk Madinah) sudah banyak, ia menambahkan (dalam satu riwayat memerintahkan 1/220) azan yang ketiga[20] (dalam satu riwayat: kedua) lalu dilakukanlah azan itu di Zaura’. (Maka, menjadi ketetapanlah hal itu 1/220). Nabi tidak mempunyai muadzin kecuali satu orang. Azan Jumat itu dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar.” [HR Bukhari]
Dsb.
http://kabarislam.wordpress.com/2012/01/25/dzikir-berjamaah-doa-qunut-dan-sifat-20-bukan-bidah/

Tidak Bisa Menerima Perbedaan Pendapat

Salafi Wahabi tidak bisa menerima perbedaan pendapat/khilafiyah. Menurut mereka kebenaran hanya satu. Sedang yang lain adalah sesat.
Keyakinan salafi ini diperkuat oleh kaidah yang mereka gunakan “Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali”. Hal ini berasal dari pemahaman salafi terhadap hadits Rasulullah SAW :
Rasulullah SAW bersabda: ˜Inilah jalan Allah yang lurus” Lalu beliau membuat beberapa garis kesebelah kanan dan kiri, kemudian beliau bersabda: “Inilah jalan-jalan (yang begitu banyak) yang bercerai-berai, atas setiap jalan itu terdapat syaithan yang mengajak kearahnya” Kemudian beliau membaca ayat :
Dan (katakanlah): ‘Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-An’am 153).
(HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim) (Lihat Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, hal. 47-48).
Padahal jika kita membaca ayat Al Qur’an yang lain seperti Surat Al Fatihah jelas bahwa Jalan yang Lurus (Shirothol Mustaqim) adalah jalan orang Islam. Bukan jalan kaum Yahudi (yang Dimurkai Allah) dan bukan jalan kaum Nasrani (yang Sesat). Jadi insya Allah jika dia Islam dan berpegang pada Al Qur’an dan Hadits dia akan selamat.
Salafi meyakini bahwa merekalah yang disebut-sebut dalam hadits Nabi sebagai golongan yang selamat dan masuk syurga, sedangkan 72 golongan lainnya kelompok sesat dan bid’ah dan akan masuk neraka. Hadits tersebut berbunyi :
Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” (HR Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darami dan Al-Hakim).
Dengan mengutip dua hadits tentang; satu golongan yang selamat dari 73 golongan dan hanya satu jalan yang lurus, maka salafi meyakini bahwa merekalah yang disebut-sebut kedua hadits tersebut. Salafi-lah satu-satunya golongan yang selamat dan masuk syurga, serta golongan yang menempuh jalan yang lurus itu. Simaklah pernyataan salafi :
Dan orang-orang yang tetap di atas manhaj Nabi SAW, mereka dinisbahkan kepada salaf as-shalih. Kepada mereka dikatakan as-salaf, as-salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan salafi.”(Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 33, catatan kaki).
Kami di atas manhaj yang selamat, di atas akidah yang selamat. Kita mempunyai segala kebaikan “alhamdulillah-” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 76-77).
Padahal jika kita benar-benar mempelajari Sejarah dan juga Hadits-hadits Nabi yang bercerita tentang Nabi dan para Sahabat, kita tahu bahwa mereka bisa menerima adanya perbedaan dan saling menghormati selama masih dalam jalan Islam.
Sesungguhnya perbedaan pendapat itu hal yang biasa. Di antara Suami-Istri, Kakak-Adik, para Ulama Mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’ie, dan Imam Hambali saja biasa terjadi perbedaan pendapat. Bahkan para Nabi pun seperti Nabi Daud dan Nabi Sulayman dijelaskan Allah dalam Surat Al Anbiyaa’ ayat 78 dan 79 berbeda pendapat. Jika kita saling menghormati, niscaya perbedaan pendapat itu jadi rahmat. Kita bisa hidup rukun dan damai. Tapi jika tidak bisa menerima bahkan mencaci-maki pihak lain, yang jadi adalah pertengkaran, perceraian, bahkan peperangan.
Bagaimana cara Nabi menghadapi perbedaan?
Kecuali menyangkut masalah prinsip akidah dan hal-hal yang sudah qoth’i, Islam dikenal sangat menghargai perbedaan. Nabi Muhammad mencontohkan dengan dengan sangat indah kepada kita semua.
Dalam Shahih al-Bukhari, Volume 6, hadits no.514, diceritakan bahwa Umar ibn Khattab pernah memarahi Hisyam ibn Hakim yang membaca Surat Al-Furqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah s.a.w. kepada Umar. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah untuk meminta konfirmasi. Rasulullah membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang diturunkan Allah SWT dengan beberapa variasi bacaan (7 bacaan). “Faqra’uu maa tayassara minhu,” sabda Rasulullah s.a.w, “maka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya.”
Lihat bagaimana Nabi tidak menyalahkan 2 pihak yang berbeda.
Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada peristiwa Ahzab:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ. فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيْقِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لاَ نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ نُصَلِّي، لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ. فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu ‘Ashar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka: “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.” Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW namun beliau tidak mencela salah satunya.”
Sekali lagi Nabi tidak mencela salah satu pihak yang berlawanan pendapat itu dengan kata-kata bid’ah, sesat, kafir, dan sebagainya. Beliau bahkan tidak mencela salah satunya. Masing-masing pihak punya argumen. Yang shalat Ashar di tengah jalan bukan ingkar kepada Nabi. Namun mereka mencoba sholat di awal waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan RasulNya. Yang shalat belakangan di perkampungan Bani Quraizah juga bukan melanggar perintah sholat di awal waktu. Namun mereka mengikuti perintah Nabi di atas.
Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu (Nabi Muhammad).’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’ ” (HR. Abu Dawud [4360] an-Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).
Lihat saat Hassan Bin Tsabit sang penyair tengah melantunkan syair yang memuji-muji Allah dan RasulNya di Masjid sebelum waktu sholat, Nabi Muhammad tidak melarang atau mencelanya. Beliau bahkan diam mendengarkannya.
Beda bukan dengan sekelompok orang yang memvonis bid’ah orang-orang yang berdzikir atau bersholawat sebelum waktu sholat dengan dalih Nabi Muhammad tidak pernah melakukannya. Memangnya apa yang diperbuat Hassan Bin Tsabit, yaitu bersyair di Masjid sebelum waktu sholat itu pernah dilakukan oleh Nabi? Meski Nabi tidak melakukannya, namun beliau tidak mencaci dengan kata-kata buruk seperti Bid’ah, sesat, dan sebagainya. Bersyair saja dibolehkan oleh Nabi, apalagi kalau berdzikir atau bersholawat!
Saat berbeda pun dalam berpuasa di perjalanan para sahabat tidak saling cela. Ada yang berbuka, ada pula yang tetap berpuasa:
Anas bin Maalik berkata: “Kami sedang bermusafir bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semasa Ramadhan dan di kalangan kami ada yang berpuasa, ada yang tidak berpuasa. Golongan yang berpuasa tidak menyalahkan orang yang tidak berpuasa dan golongan yang tidak berpuasa tidak menyalahkan orang yang berpuasa. [ hadist riwayat Bukhari and Muslim]
Perbedaan itu akan selalu ada. Namun sayangnya kelompok ekstrim seperti Salafi Wahabi menafikan adanya perbedaan tersebut. Orang yang berbeda pendapat dengan mereka langsung disebut sebagai Ahlul Bid’ah, Musyrik, Kuffar, dan sebagainya. Bahkan mereka mengolok-olok hadits “Perbedaan adalah Rahmat” dengan “Persatuan adalah laknat”.
Meski tidak bersumber ke Nabi, namun berasal dari  Al-Qasim bin Muhammad, cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau lahir di masa khalifah Ali bin Abi Thalib menjadi penguasa. Beliau adalah seorang imam yang menjadi panutan dan wafat tahun 107 hijriyah.
Imam Al-Baihaqi menyebutkan dalam kitab Al-Madkhal bahwa lafadz ini adalah perkataan Al-Qasim bin Muhammad. Demikian juga komentar dari Al-Imam As-Suyuti sebagaimana yang kita baca dari kitab Ad-Durar Al-Mutasyirah, lafadz ini adalah perkataan Al-Qasim bin Muhammad.
Jangankan manusia biasa. Nabi yang dibimbing Allah pun bisa berbeda pendapat dalam memutuskan satu hal. Contohnya di Surat Al Anbiyaa’ ayat 78-79 dijelaskan bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulayman berbeda pendapat dalam memutuskan satu hal:
“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,
maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)[966]; dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” [Al Anbiyaa' 78-79]
[966]. Menurut riwayat Ibnu Abbas bahwa sekelompok kambing telah merusak tanaman di waktu malam. maka yang empunya tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Daud a.s. Nabi Daud memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang empunya tanaman sebagai ganti tanam-tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman a.s. memutuskan supaya kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada yang empunya tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan prang yang empunya kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanam-tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, mereka yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Putusan Nabi Sulaiman a.s. ini adalah keputusan yang tepat.
Jelas orang yang suka mencaci tersebut tidak membaca dan memahami Al Qur’an dan Hadits secara keseluruhan. Cuma sepotong-sepotong sehingga akhirnya pemikirannya jadi ekstrim/sempit dan membuat ribut serta memecah-belah persatuan ummat Islam karena kejahilannya.
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (QS Al-Humazah: 1)
Jadi itulah beberapa kekeliruan dari Salafi Wahabi. Beberapa ulama seperti Habib Rizieq Syihab dari FPI dan Habib Munzir Al Musawa sudah meminta kita mewaspadai hal ini:
FPI membagi WAHABI dengan semua sektenya juga menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, WAHABI TAKFIRI yaitu Wahabi yang mengkafirkan semua muslim yang tidak sepaham dengan mereka, juga menghalalkan darah sesama muslim…

Merasa Paling Benar Sendiri

Jika kita teliti Salafush Shalih yang asli seperti para Imam Madzhab yang lahir pada abad 1-3 Hijriyah, mereka tidak ada yang merasa paling benar dan tidak memaksa orang untuk memeluk Madzhab mereka.
Ini berbeda sekali dengan Muhammad bin Abdul Wahhab ulama Salaf gadungan yang lahir di tahun 1.115 Hijriyah dan para pengikutnya yang menganggap hanya Muwahhidun atau Manhaj Salafi saja yang benar sementara yang lain salah dan memaksa agar ummat Islam lainnya menerima “kebenaran” versi mereka.

Gemar Berdebat Masalah Furu’iyah dan Khilafiyah

Islam sebenarnya tidak menganjurkan perdebatan karena bisa merusak persaudaraan. Namun kaum Salafi Wahabi gemar sekali berdebat sehingga akhirnya kata-kata Ahlul Bid’ah, Sesat, Musyrik, Kafir terlepas dari mulut mereka yang sayangnya ditujukan kepada sesama Muslim.
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah.”
Imam Malik rahimahullah berkata:
”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada nilainya sama sekali).”
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.” (Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)
Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah
Imam as-Syafi’I rahimahullah berkata:
“Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.” [Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]
 Referensi:
http://fpi.or.id/?p=detail&nid=98

Pandangan Habib Munzir Al Musawa dari Majelis Rasulullah tentang Wahabi:

beda dengan orang orang wahabi, mereka tak punya sanad guru, namun bisanya cuma menukil dan memerangi orang muslim.
mereka memerangi kebenaran dan memerangi ahlussunnah waljamaah, memaksakan akidah sesatnya kepada muslimin dan memusyrikkan orang orang yg shalat.
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=5324&catid=8
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di antara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Muhammad bin Abdul Wahab Penegak Panji Tauhid

usamah
Bersama Amir Dir’iyyah Muhammad bin Sa’ud saling beramal dalam upaya menegakkan dakwah Islamiyah. Nantinya sebagai asas dan pondasi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia)
Hidayatullah.com–Pada abad 12 H/17 M keadaan umat di jazirah Arab sangat jauh menyimpang dari ajaran Islam, terutama dalam aspek akidah. Di sana-sini banyak praktik syirik dan bid’ah. Para ulama sulit mengatasi. Usaha mereka hanya sebatas di lingkungan saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang.
Jumlah pelaku syirik dan bi’dah begitu banyak, di samping pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktik-praktik tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu, sebagaimana masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam sekarang ini.
Dari segi aspek politik, di jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah. Terlebih khusus di daerah Nejd. Perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.
Para penguasa makmur dengan memungut upeti dari rakyat jelata. Mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat menggoyang kekuasaan mereka. Para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang akidah dan agama dengan benar. Dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang akidah atau agama yang benar.
Pada saat itu di Nejd lahir sang pengibar bendera tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktik-praktik syirik terjadi di sana-sini, seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung, dan peramal.
Di Nejd terdapat kampung bernama Jubailiyah. Di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab. Manusia berbondong-bondong ke sana untuk meminta berkah dan meminta berbagai hajat. Begitu pula di kampung ‘Uyainah, terdapat sebuah pohon yang diagungkan. Banyak orang mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum mendapatkan pasangan hidup.
Penyimpangan bahkan juga terjadi di Hijaz (Mekkah dan Madinah), walaupun penyebaran ilmu agama berada di dua kota suci ini. Di sini tersebar kebiasaan bersumpah dengan selain Allah. Juga kebiasaan menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan, serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya. Jika di dua kota suci itu saja kesyirikan sudah begitu menyebar, apalagi di kota-kota sekitarnya, ditambah lagi dengan kurangnya ulama. Pasti lebih memprihatinkan.
Hal tersebut kemudian disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’, “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu. Kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya. Sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya”. Dalilnya firman Allah,
“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)
Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa ketika mereka berada dalam ancaman tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka. Namun saat mereka telah selamat sampai di daratan, mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik setiap saat dalam kondisi apa pun.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir tahun 1115 H di ‘Uyainah, salah satu perkampungan daerah Riyadh. Ia hidup di tengah-tengah keluarga yang dikenal dengan nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf). Ali Musyarraf ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan Musyarraf, kakek beliau ke-9 menurut riwayat yang rajih. Dengan demikian nasab beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.
Muhammad bin Abdul Wahab telah menampakkan semangat thalabul-ilmi sejak usia belia. Beliau memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya. Beliau tidak suka dengan main-main dan perbuatan yang sia-sia. Beliau mulai thalabul-ilmi dengan mendalami al-Qur’anul Karim, sehingga tidak aneh kalau sudah hafal ketika umur 10 tahun.
Yang demikian itu terjadi karena banyak faktor mendukungnya. Di antaranya semangat yang sangat menggebu-gebu dalam menuntut ilmu, serta keadaan lingkungan keluarga yang benar-benar mendorong dan memicu beliau untuk terus-menerus menuntut ilmu. Dan Syaikh Abdul Wahab-lah guru dan sekaligus orang tua beliau yang pertama-tama mencetak kepribadian beliau.
Dalam satu suratnya kepada temannya, Syaikh Abdul Wahab berkata, “Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahab) memiliki pemahaman yang bagus. Kalau seandainya dia belajar selama satu tahun niscaya dia akan hafal, mapan serta, menguasai apa yang dia pelajari. Aku tahu bahwasanya dia telah ihtilam (baligh) pada usia dua belas tahun. Dan aku melihatnya sudah pantas menjadi imam, maka aku jadikan dia sebagai imam shalat berjamaah karena ma’rifah dan ilmunya tentang ahkam. Dan pada usia balighnya itulah aku nikahkan dia. Kemudian setelah nikah, dia meminta izin kepadaku untuk berhaji, maka aku penuhi permintaannya dan aku berikan segala bantuan demi tercapai tujuannya tersebut. Lalu berangkatlah dia menunaikan ibadah haji, salah satu rukun dari rukun-rukun Islam.”
Berguru pada Ulama Haramain
Setelah berhaji beliau belajar pada para ulama Haramain (Makkah dan Madinah) selama lebih kurang dua bulan. Kemudian setelah itu kembali lagi ke daerah Uyainah. Setelah pulang dari haji beliau terus memacu belajar. Beliau belajar dari ayah yang sekaligus guru pelajaran Fiqih Hambali, tafsir, hadits, dan tauhid.
Tidak berapa lama kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menunaikan ibadah haji kedua kalinya. Kemudian menuntut ilmu pada para ulama Madinah Al-Munawarah. Di Madinah beliau belajar dengan serius, dan Madinah saat itu adalah tempat berkumpulnya ulama dunia. Di antara guru beliau yang paling beliau kagumi dan senangi adalah Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi. Setelah beliau merasa cukup menuntut ilmu dari para ulama Madinah al-Munawwarah, maka beliau kembali lagi ke kampung halaman, Uyainah.
Setahun kemudian beliau memulai berkelana thalabul-ilmi. Negeri yang dicita-citakan untuk menuntut ilmu adalah Syam. Kota Damaskus saat itu sebuah kota yang sarat akan kegiatan keislaman. Di sana terdapat sebuah madrasah yang memberikan keilmuan tentang madzhab Hambali, dan kegiatan-kegiatan yang menunjang keilmuan tersebut. Namun karena perjalanan dari Najd menuju Damaskus secara langsung sangat sulit, maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab pergi menuju Bashrah (Irak). Pada saat itu beliau berkeyakinan bahwa perjalanan dari Bashrah menuju Damaskus sangatlah mudah.
Setelah di Bashrah, ternyata apa yang beliau yakini sementara itu tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Perjalanan dari Basrah menuju Damaskus yang semula dianggap mudah, ternyata sulit. Maka bertekadlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tinggal di Bashrah. Beliau belajar fiqih dan hadits pada sejumlah ulama, di antaranya bernama Syaikh Muhammad al-Majmu’i. Di samping ilmu fiqih dan hadits beliau juga mendalami ilmu Qawaidul-Arabiyyah, sehingga beliau betul-betul menguasainya. Bahkan selama tinggal di Bashrah beliau sempat mengarang beberapa kitab yang berkenaan dengan Qawaidul Lughah al-Arabiyyah.
Ternyata tidak semua orang yang ada di Bashrah senang terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan ulama-ulama yang sepemikiran dengan beliau, khususnya para ulama suu’. Karena ulah dan permusuhan mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab itulah, akhirnya beliau dengan berat hati meninggalkan negeri Bashrah.
Kemudian beliau pergi menuju suatu tempat bernama az-Zubair. Setelah perjalanan beberapa saat di sana, beliau melanjutkan perjalanan menuju al-Ahsaa’. Di daerah tersebut beliau melanjutkan studinya dengan belajar ilmu agama pada para ulama al-Ahsaa’. Di antara guru-guru beliau yang ada di al-Ahsaa’ tersebut adalah Syaikh Abdullah bin Fairuz, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif, serta Syaikh Muhammad bin Afaliq. Dan memang Ahsaa’ saat itu merupakan gudangnya ilmu sehingga orang-orang Najd dan orang-orang sebelah timur jazirah Arab berdatangan ke Ahsaa’ untuk menuntut ilmu.
Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melanjutkan kelana thalabul-ilmi ke daerah Haryamala dan tiba di sana pada tahun 1115H. Kebetulan ayah beliau yang tadinya menjadi qadhi di Uyainah, telah pindah ke daerah tersebut. Maka berkumpullah beliau dengan ayahnya di sana.
Tapi baru dua tahun bertemu dan berkumpul dengan orang tua, Syaikh Abdul Wahab bin Sulaiman meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1153H. Sepeninggal ayahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menggantikan ayahnya dalam melaksanakan segala aktivitasnya di negeri Haryamala tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat nama beliau mulai tersohor. Sehingga orang-orang pun berdatangan ke Haryamala menuntut ilmu pada beliau. Bahkan para pemimpin negeri di sekitar Haryamala pun menerima ajakan dan dakwah beliau. Sehingga tidak aneh kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanya dua tahun tinggal di Haryamala (sepeninggal ayahnya) demi menyambut ajakan dan tawaran Amir negeri Uyainah, Utsman bin Ma’mar untuk tinggal di negeri Uyainah, negeri kelahiran beliau.
Amir Uyainah, Utsman bin Muhammad bin Ma’mar sangat gembira dengan kedatangan beliau. Bahkan dia berkata kepada Syaikh, “Tegakkanlah dakwah di jalan Allah dan kami senantiasa akan membantumu.” Maka mulailah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sibuk dengan urusan dakwah, ta’lim, serta mengajak manusia kepada kebaikan dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah masyhur di kalangan penduduk Uyainah. Mereka datang ke tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk thallabul ilmi, bahkan penduduk negeri sebelah pun datang ke Uyainah untuk belajar kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Pada suatu hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menemui Amir Uyainah. Beliau berkata, “Wahai Amir (Utsman bin Muhammad bin Ma’mar), izinkanlah saya untuk menghancurkan kubah Zaid bin Khathab, karena sungguh kubah tersebut dibangun dalam rangka menentang syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Ta’ala tidak akan ridha selama-lamanya dengan amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid. Kubah Zaid ini telah menjadi fitnah bagi manusia dan mengubah aqidah mereka. Oleh karena itu wajib bagi kita menghancurkannya.”
Kemudian Amir Uyainah menjawab, “Silakan kalau engkau memang menghendaki yang demikian itu.” Lalu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memohon kepada Amir Uyainah agar beliau dibantu oleh tentara Uyainah, karena ditakutkan akan adanya perlawanan dari penduduk desa Jabaliyah, desa terdekat dari kubah Zaid bin Khathab.
Maka keluarlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bersama 600 tentara Uyainah, dan di tengah-tengah mereka ada Utsman bin Muhammad bin Ma’mar. Setelah penduduk Jabaliyah mendengar kabar bahwa Kubah Zaid bin Khathab akan dihancurkan, maka serempak mereka berniat mempertahankan kubah tersebut. Tapi kubah Zaid bin Khathab yang sudah lama mereka agung-agungkan dan sembah, berhasil dihancurkan. Demikian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, beliau selalu memberantas hal-hal yang berbau syirik dan hal-hal yang mengarah kepada kesyirikan.
Beliau pun menegakkan hukuman had (hukuman cambuk, rajam, atau potong tangan bagi yang berhak). Sehingga, sampailah berita tentang beliau ini ke telinga Amir Al-Ahsaa’, yakni Sulaiman bin Urai’ir al-Khalidi, dan para pengikutnya dari bani Khalid. Kabar yang dipahami oleh mereka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang suka menghancurkan kubah dan suka merajam wanita. Akhirnya dia berkirim surat kepada Amir Uyainah agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dibunuh. Kalau tidak, maka dia tidak akan menyerahkan pajak emas yang biasa diberikan kepada Amir Uyainah dan dia pun akan menyerang negeri Uyainah.
Rasa cemas pun menghantui diri Amir Uyainah. Akhirnya dia menemui Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab seraya berkata, “Wahai Syaikh sesungguhnya Amir Al-Ahsaa’ telah menulis surat kepadaku begini dan begini. Dia menginginkan agar kami membunuhmu. Kami tidak ingin membunuhmu! Dan kami pun tidak berani dengan dia. Tiada daya dan upaya pada kami untuk menentangnya. Oleh karena itu kami berul-betul mengharap Syaikh agar sudi meninggalkan negeri Uyainah ini.”
Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Wahai Amir, sesungguhnya apa yang aku dakwahkan ini adalah agama Allah dan realisasi kalimat La ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama ini serta menegakkannya di bumi Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolongnya dan memberinya kekuatan serta menjadikan dia sebagai penguasa di negeri para musuhnya. Jika engkau bersabar dan beristiqamah serta mau menerima ajaran ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolongmu, menjagamu dari Amir Al-Ahsaa’, dan yang lainnya dari musuh-musuhmu, serta Allah Ta’ala akan menjadikanmu sebagai penguasa atas negerinya dan keluarganya.”
Kemudian Amir Uyainah berkata lagi, “Wahai Syaikh, sesungguhnya kami tiada daya dan upaya untuk memeranginya dan kami tiada mempunyai kesabaran untuk menentangnya.” Maka tiada pilihan lain bagi Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab, kecuali harus keluar dan meninggalkan negeri Uyainah, kampung halaman beliau sendiri.
Tempat yang paling cocok dan sesuai bagi kelancaran dakwah beliau selanjutnya adalah negeri Dir’iyyah. Hal ini karena negeri Dir’iyyah semakin hari semakin kuat dalam hal ketentaraan. Terbukti dengan direbutnya kembali kekuasaan yang selalu dirongrong oleh Sa’d bin Muhammad, pemimpin Bani Khalid. Di sisi lain, hubungan antara para pemimpin Dir’iyyah dengan pemimpin Bani Khalid kurang harmonis. Maka di saat pemimpin Bani Khalid bersekongkol dengan Amir Uyainah untuk mengeluarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di saat itu pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin bergabung dengan para pemimpin Dir’iyyah.
Tapi sebab yang terpenting kepergian beliau menuju negeri Dir’iyyah adalah karena dakwah yang beliau sebarkan selama ini mendapat sambutan yang hangat dari para pemimpin negeri tersebut. Di antara mereka adalah keluarga Suwailin, kedua saudara Amir Dir’iyyah (Tsinyan dan Musyairi), dan juga anaknya yang bernama Abdul Aziz.
Di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berada di rumah keluarga Suwailin, datanglah Amir Dir’iyyah Muhammad bin Sa’ud atas anjuran istrinya untuk menyambut kedatangan Syaikh Muhammad. Akhirnya terwujud suatu kesepakatan bersama untuk saling beramal dalam upaya menegakkan dakwah Islamiyah semaksimal mungkin. Dan kesepakatan inilah yang nantinya sebagai asas dan pondasi bagi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia).
Sebagian dari para penulis ada yang berpendapat bahwa dari kesepakatan itu pula tercetuslah suatu pernyataan, urusan pemerintahan dipikul oleh Muhammad bin Sa’ud dan keturunannya, sedang urusan agama (diniyyah) di bawah pengawasan dan bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beserta keturunannya. Namun nampaknya pernyataan yang seperti ini belum pernah ada, hanya saja kebetulan keturunan Muhammad bin Sa’ud sangat berbakat dalam mengendalikan urusan pemerintahan, demikian juga keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat mumpuni untuk melanjutkan perjuangan beliau, sehingga hal ini terkesan sudah diatur sebelumnya, padahal hanya kebetulan saja.
Demikianlah, Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab dan Amir Dir’iyyah berada di atas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sampai mereka pergi ke Rahmatullah. Dan selanjutnya diteruskan oleh keturunan mereka masing-masing di kemudian hari. [berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
k3nj1:
Untuk melengkapi latar belakang dan sejarah Wahabi :
1701 : Muhammad Bin Abdul Wahab dilahirkan di Uyainah Nejd.
1713an keatas : Pergi ke Basrah untuk menuntut ilmu, disana Muh. Bin Abdul Wahab bertemu Mr. HEMPHER mata mata Inggris yang mengaku sbg Muslim dari Turki yang punya misi mencari kelemahan untuk menghancurkan Khilafah Turki Otoman dari dalam.
Hempher menggunakan Muh Bin Abdul Wahab sebagai boneka penyebaran mazhab baru yang “bebas” dengan dalih kebebasan IJTIHAD “mengkaji langsung dari Qur’an dan Hadis” walaupun menyelisihi pemahaman para sahabat, para imam mazhab yg 4 dan para ulama muktabar.
Hempher menjanjikan dukungan dana dan senjata dari Inggris bagi Imam Mujtahid yang baru muncul ini.
Tujuan utama Hempher adalah agar Muh.Bin Abdul Wahab mencetuskan revolusi pemberontakan melepaskan diri terhadap Khilafah Islam Turki Ottoman.
Dengan agenda tersembunyi akan melakukan pemberontakan, dibangunlah doktrin2 baru untuk melegeslasi tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap pejabat pemerintah Turki Ottoman dan semua orang yang tidak mendukung revolusi wahabi, yaitu :
Membuat ajaran baru yang mudah meng KAFIR kan kaum Muslimin, sebagai alasan untuk menghalalkan darahnya apabila tidak mau bergabung dengan gerakan Wahabi.
Di Basrah itulah dimulai ajaran-ajaran TAKFIR nya disebar luaskan. Tentu saja PERKARA BARU nya itu ditentang oleh ulama-ulama setempat.
1726 : Dakwah di Huraymilah dan menyebarkan Perkara Baru ajaran takfir nya, diusir oleh masyarakat setempat.
1728 : Dakwah di Uyainah, mendapat dukungan dari Amir Utsman penguasa Uyainah, mulai melakukan perusakan dan pembongkaran kubah makam orang orang soleh. Tindakan dan ajarannya yang ekstrem mendapat kecaman dari penguasa wilayah yang lain. Belakangan akhirnya Amir Utsman menarik dukungannya dan mengusirnya.
Hempher yang selalu mem-back up dari belakang layar, akhirnya mengatur pertemuan dengan Muhammad Bin Su’ud penguasa Di’riyah.
1744 : Bergabung dengan Muhammad Bin Saud penguasa Di’riyah, semakin gencar menyebarkan doktrin2 WAHABI, dan mempraktekkan tindakan tindakan kekerasan dalam menerapkan dan memaksakan ajaran Wahabi.
1765 : Muhammad Bin Saud peguasa Di’riyah meninggal dunia, digantikan oleh Abdul Azis bin Muhammad Al Saud.
1792 : Dengan dukungan senjata dan dana dari Inggris yang difasilitasi oleh Hempher, Revolusi Wahabi dibawah pimpinan Abdul Azis Bin Su’ud berhasil menguasi : Riyadh, Kharj, dan Qasim di wilayah Arabia Tengah
1793 : Muhammad Bin Abdul Wahab wafat
mereka melanjutkan ekspansi ke timur ke Hasa, dan menghancurkan kekuasaan Banu Khalid di wilayah itu. Para pengikut Syi`ah di kawasan ini, yang jumlahnya cukup banyak, dipaksa untuk menyerah dan mengikuti Wahhabisme atau dibunuh.
1797 : Menyerbu Teluk Persia, Oman, Qatar, Bahrain.
1802 : Menyerbu Thaif, dilanjutkan menyerbu Karbala Irak, membunuh 2.000-an pengikut Syi`ah yang sedang bersehbahyang sambil merayakan Muharram. Dengan kemarahan yang tak terkontrol, mereka menghancurkan makam-makam Ali, Husayn, imam-imam Syi`ah, dan khususnya kepada makam puteri Nabi, Fatimah.
1803 : Menyerbu Mekkah
1804 : Menyerbu Madinah
Mereka membunuh syekh dan orang awam yang tidak bersedia masuk Wahabi. Perhiasan dan perabotan yang mahal dan indah – yang disumbangkan oleh banyak raja dan pangeran dari seluruh dunia Islam untuk memperindah banyak makam wali di seputar Mekkah dan Madinah, makam Nabi, dan Masjidil Haram – dicuri dan dibagi-bagi. Pada saat Mekkah jatuh ke tangah Wahabi. Dunia Islam guncang, lebih-lebih karena mendengar kabar bahwa makam nabi telah dinodai dan dijarah, rute jamaah haji ditutup, dan segala bentuk peribadatan yang tidak sejalan dengan praktik Wahabi dilarang.
1806 : Abdul Azis Bin Su’ud meninggal dunia digantikan Abdullah bin Sa’ud.
1811 : Turki Ottoman mulai mengirimkan pasukan untuk memadamkan revolusi pemberontakan kaum Wahabi.
1812 : Pasukan Turki Ottoman dari Mesir berhasil menguasai Madinah.
1815 : Kembali pasukan Turki Ottoman dari Mesir menyerbu : Riyadh, Mekkah dan Jeddah.
1818 : Di’riyah, ibukota pusat gerakan Revolusi pemberontakan Wahabi berhasil dikuasai pasukan Khilafah Islam Turki Ottoman. Pemimpin Wahabi saat itu Abdullah bin Sa’ud tertangkap, dibawa ke Istambul dan dihukum gantung disana sebagai pimpinan pemberontakan.
1821 : Tentara Khikafah Islam Turki Ottoman ditarik dari Arabia
1824 : Turki Bin Abdullah, yang bapaknya dihukum gantung di Turki mengambil alih kepemimpinan kaum Wahabi menduduki Riyadh.
1830 : Meluaskan penaklukan ke daerah `Aridh, Kharj, Hotah, Mahmal, Sudayr Aflaj dan Hasa.
1834 : Turki bin Abdullah dibunuh oleh konspirasi internal keluarga Saud yang dipimpin oleh saudara sepupunya sendiri, yg diangkat sbg walikota Manfuhah yang bernama Mishari. Setelah mengalami konflik antar sesama klan Saud, Faisal bin Turki berhasil naik menjadi Penguasa baru kaum Wahabi.
1837 : Faisal bin Turki Al Saud, karena menolak membayar upeti ke Mesir, diringkus oleh Otoritas Turki Ottoman dan dibawa ke Mesir.
1863 : Faisal bin Turki Al Saud berhasil melarikan diri dari Mesir, kembali berkuasa di Riyadh tapi tetap mengakui kekuasaan Khilafah Islam Turki Ottoman dan rutin membayar upeti ke Mesir.
1865 : Faisal bin Turki Al Saud meninggal, anak-anaknya dari isteri yang berbeda-beda terlibat perebutan kekuasaan.
1871 : Sa’ud bin Faisal keluar sebagai pemenang dan berkuasa memimpin teritorial kaum Wahabi.
1875 : Sa’ud bin Faisal meninggal, kembali terjadi perebutan kekuasaan.
1887 : Abdullah Al Saud meminta bantuan kepada Muhammad bin Rasyid penguasa Ha’il. Laskar Klan Rasyid setelah membantu Abdullah dan berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya akhirnya justeru menangkap Abdullah dan menguasai Riyadh dengan mengatasnamakan sebagai wali dari Turki Ottoman.
1889 : Abdurrahman Al Saud, salah satu walikota dibawah kendali Al Rasyid memberontak tetap berhasil ditumpas oleh Muhammad Bin Rasyid, Abdurrahman melarikan diri keluar dari Riyadh.
1893 : Abdurrahman Al Saud menetap di Kuwait dibawah perlindungan kekuasaan Klan Al Sabah dibawah protektorat Inggris berdasarkan traktat tahun 1899.
1902 : Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang merengek minta bantuan Inggris berusaha merebut kekuasaan di Riyadh dari Klan Rasyid yang didukung Khilafah Turki Ottoman. Mulanya Inggris meragukan kemampuan Abdul Azis, tapi Abdul Azis meyakinkan Inggris bahwa metodenya adalah murni gerakan politik-militer yang akan “membunuh semuanya” yang menentangnya, tidak perduli meskipun Moslem.
1906 : Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Saud dengan dukungan penuh dari Inggris berhasil menguasai QASIM, yang mendekati pusat pemerintahan Klan Rasyid di Nejd.
1913 : Hasa yang banyak penganut SYIAH dikuasai. Ibn Sa`ud mengadakan perjanjian dengan ulama Syiah yang menetapkan bahwa Ibn Sa`ud akan memberikan mereka kebebasan menjalankan keyakinan mereka dengan syarat mereka patuh kepada Ibn Sa`ud. Pada saat yang sama, Syiah tetap dianggap sebagai kalangan Rafidlah yang KAFIR.
1915 : Ditengah berkecamuknya perang dunia ke-I, Pada tanggal 26 Desember 1915, Ibn Sa`ud menyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibn Sa`ud atas Najd, Hasa, Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung di dalam keempat wilayah utama ini. Apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibn Sa`ud. Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material bagi Ibn Sa`ud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang £20.000 begitu traktat ditandatangani. Selain itu, Ibn Sa`ud menerima subsidi bulanan £5.000 dan bantuan senjata yang akan dikirim secara teratur sampai tahun 1924.
Dokumen diatas menjelaskan : sebagai imbalan bantuan dan pengakuan Inggris akan kekuasaannya, Ibn Sa`ud menyatakan tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya. Ibn Sa`ud juga tidak akan menyerang ke, atau campur tangan di, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman – yang berada di bawah proteksi Inggris. Ibn Saud juga berjanji membiarkan berdirinya negara Yahudi di Palestina yang dibidani Inggris. Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris di dalam politik Ibn Sa`ud.
1916 : Perjanjian penentuan batas wilayah. Komisioner tinggi Inggris Sir Percy Cox dengan mengambil kertas dan pena menentukan batas2 wilayah kerajaan2 di Timur Tengah sebagai kerajaan2 nasional yang berdaulat lepas dari Khilafah Turki Ottoman.
Sementara itu, saingan Ibn Sa`ud di Najd, Ibn Rasyid, tetap bersekutu dengan Khilafah Usmaniah. Ketika Kesultanan Usmani kalah dalam Perang Dunia I bersama-sama dengan Jerman, klan Rasyidi kehilangan sekutu utama. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, Rasyidi dilanda persaingan internal di bidang suksesi. Perang antara Ibn Sa`ud dan Ibn Rasyid sendiri tetap berlangsung selama PD I dan sesudahnya.
1917 : Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menerbitkan deklarasi Balfour kepada Lord Rothschild seorang aristocrat dan miliuner Yahudi tgl. 2 Nopember 1917 yang menjanjikan berdirinya negara Yahudi di Palestina.
Pada tanggal 11 Desember 1917, Inggris dibawah pimpinan Jenderal Edward Allenby menduduki Palestina.
1921 : Setelah berbulan-bulan dikepung, pada tanggal 4 November 1921, Ha’il, ibukota Klan Rasyidi, jatuh ke tangan Ibn Sa`ud yang dibantu Inggris melalui dana dan persenjataan. Penduduk oase subur di utara itu pun mengucapkan bay`ah ketundukan kepada Ibn Sa`ud.
1922 : Asir, wilayah di Hijaz selatan dikuasai Ibn Saud.
1924 : Mekkah dan Madinah dikuasai.
1925 : Jeddah dikuasai, di tahun ini Ibnu Saud memproklamirkan diri sebagai RAJA HIJAZ
1926 : Ibnu Saud memproklamirkan diri sebagai RAJA HIJAZ dan SULTAN NEJD. Agen intelejen Inggris yang bernama Harry St. John Pilby tinggal di Jeddah sebagai penasehat dan penghubung dengan pemerintah Inggris. Pada tahun 1930 Philby resmi masuk menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja
1927 : Perjanjian umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei 1927). Perjanjian itu, yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas ‘kemerdekaan lengkap dan mutlak’ Ibnu Sa‘ud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan Ibnu Sa‘ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di keemiran Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan perdagangan budak. Dengan perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa‘ud) merasa aman dari berbagai rongrongan.
1928 : Suku Duwais yang tidak senang terhadap sikap politik Ibnu Saud yang terlalu pro Barat dan menyetujui berdirinya Israel di Palestina melakukan pemberontakan. Dengan bantuan angkatan udara Inggris dilakukan pengeboman dan penumpasan pemberontakan suku Duwaish

1932 : Ibnu Saud memproklamrikan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (Al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah) dengan wilayah kekuasaan yang sampai sekarang ini dikenal sebagai Kerajaan SAUDI ARABIA.
1933 : Ditemukan minyak di Wilayah Arab Saudi, Standart Oil Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi.

1941 : Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadi ‘budak’ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam ‘membangun’ Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi.

1943 : Konsesi ijin bagi AS menempatkan pangkalan militer di Arab Saudi yang terus diperpanjang sampai sekarang.

1948 : Deklarasi berdirinya Israel pada tanggal 14 Mei 1948 yang dibacakan oleh Perdana Menteri David Ben Gurion di Tel Aviv.
Proklamasi Israel itu ditentang oleh 5 negara Arab : Arab Saudi, Suriah, Mesir, Trans-Yordania, Libanon dan Irak yang mengakitbatkan pecahnya perang Arab-Israel pertama sepanjang tahun 1948-1949.

Namun perang ini adalah setengah hati, karena negara2 Arab sendiri sudah terikat traktat dengan Inggris melalui Perjanjian Penentuan Batas Wilayah yang ditentukan oleh Komisioner Tinggi Inggris Sir Percy Cox tahun 1916.

Disamping itu juga telah adanya janji para penguasa negara Arab bentukan Inggris untuk membiarkan berdirinya Israel di Palestina sebagai imbalan atas jasa Inggris yang telah membantu berkuasanya para Raja boneka Inggris di masing2 negara Arab.

1953 : Raja Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud (Ibn Saud) meninggal digantikan oleh Raja Saud bin Abdul Azis.
1956 : Perang Arab-Israel kedua, tentara Israel yang dibantu pasukan Inggris dan Perancis menyerbu Mesir dan menduduki Sinai. Perang ini dipicu karena Nasionalisasi Terusan SUEZ oleh pemerintahan Gamal Abdul Nasser, dimana saham terbesar terusan SUEZ dimiliki oleh Inggris dan Perancis.
1964 : Raja Saud meninggal digantikan oleh Faisal Bin Abdul Azis.
1967 : Perang “enam hari” Arab-Israel ketiga, Israel menyerang Mesir, Suriah dan Yordania, menyusul penarikan mundur pasukan PBB dari Sinai dan setelah Mesir menutup Teluk Aqoba. Dalam perang tersebut, Israel berhasil merebut Gurun Sinai, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza, dan dataran tinggi Golan. Dengan jatuhnya wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza ke tangan Israel, berarti seluruh wilayah yang di sediakan bagi negara Arab Palestina sesuai dengan rencana PBB, sekarang sudah di kuasai oleh Israel seluruhnya.

1973 : Perang “Yomkhipur” Mesir merebut Sinai dan Syria merebut Dataran Tinggi Golan namun Israel dapat memukul balik. Negara2 Arab melakukan embargo minyak untuk menekan Israel dan negara2 Barat yang mendukungnya.

1975 : Raja Faisal meninggal digantikan oleh Khalid bin Abdul Azis.
1978 : Perjanjian Camp David, Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir. Timbul polemik dan pro-kontra diantara negara2 Arab terkait nasib bangsa Palestina yang tidak menentu.

1982 : Raja Khalid meninggal digantikan oleh Raja Fahd bin Abdul Azis.
Israel menyerang Libanon untuk mengamankan perbatasannya dengan Syria.

1987 : Gerakan Intifada, perlawanan bersenjata rakyat Palestina dibawah komando HAMAS salah satu faksi dari PLO.
1991 : Perang Teluk I, Amerika menyerang Irak yang menganeksasi Kuwait. Pasukan Amerika didatangkan ke Pangkalan militer AS di Dahran Arab Saudi.

Keluarga Saud mulai menamkan investasi yang besar di AS, khususnya pada perusahaan-perusahaan keluarga BUSH.
dana sebesar 1,4 Milliar Dollar AS per tahun diberikan kerajaan Arab Saudi untuk menyokong kepemimpinan George W. Bush. Investasi sebesar 860 Milyar Dollar ditanam pemerintahan Arab Saudi di Amerika dan sebesar 300 Trilyun Dollar AS (senilai dengan 2.805.000.triliun rupiah/ ataw 3,000,000 Triliun lebih) uang negara Arab Saudi disimpan di Bank AS
1996 : DR. Aidh Abdullah Al Qorni (penulis LA TAHZAN) dipenjara karena tulisannya yang mengkritik pemerintah.
2001 : Peristiwa 9/11 pengeboman WTC
2003 : Perang Teluk kedua, AS menyerbu dan menduduki Irak.
2005 : Raja Fahd meninggal, digantikan oleh Abdullah bin Abdul Azis.
Putra Mahkota Pangeran Sultan Bin Abdul Azis telah berumur 86 tahun dalam kondisi sakit-sakitan.
Bila Pangeran Sultan meninggal dunia lebih dahulu dari Raja, yang dipersiapkan sebagai pengganti putera mahkota adalah menantu Raja Abdullah yaitu : Pangeran Faisal Bin Abdullah.
Raja Abdullah mengganti beberapa pejabat teras pemerintahannya yang berideologi Wahhabi dengan orang-orang yang dianggap lebih toleran secara religi, berpikiran reformis dan dengan ikatan kerja yang dekat dengan raja.

Penunjukkan Pangeran Faisal bin Abdullah sebagai Menteri Pendidikan Arab Saudi memang tepat. Karena kementerian ini sebelumnya kurikulum yang memberi doktrin pada pelajar tentang ideologi kebencian dan kekerasan terhadap agama lain (Wahhabi). Mereka mengajarkan sebagai bagian dari perintah agama penanaman kebencian terhadap selainnya bahkan kepada Ahlu Sunnah dan Syiah. Seperti yang ditunjukkan Laporan Juli 2008, budaya kebencian terhadap non-Wahhabi masih tetap ada dalam buku-buku bacaan kajian Islam terbitan pemerintah Arab Saudi. Buku-buku bacaan ini diwajibkan di seluruh sekolah umum Arab Saudi dan mendominasi kurikulum Saudi dalam kelas-kelas yang lebih tinggi. Kementerian memuat isi teks ini secara penuh dalam situsnya dan penguasa Wahhabi mengirimnya gratis ke masjid-masjid dan sekolah-sekolah dan perpustakaan muslim di seluruh dunia.

Pangeran Faisal bin Abdullah yang dikenal pemikir dan moderat juga dikenal cakap dalam memeriksa kurikulum. Dan dikemudian hari kita akan menyaksikan di Arab Saudi yang lebih moderat (baca: sekuler).

Raja Abdullah juga menggantikan Kepala Dewan Mahkamah Agung, Sheikh Saleh al-Luhaidan, yang selama ini dituding menghalangi upaya reformasi dengan Saleh bin Humaid. Sheikh Luhaidan telah menduduki pos ini selama lebih dari 40 tahun. Selama ini Luhaidan amat terkenal karena beberapa kebijakan ”tegas” yang berpijak pada ajaran konservatif. Salah satu pernyataan tegas pernah diutarakan Luhaidan, September lalu, untuk menanggapi program-program di stasiun TV satelit. Menurut Luhaidan, pemilik stasiun TV satelit yang menayangkan program ”tidak bermoral” harus dibunuh.

Ia juga mengganti kepala polisi agama Muttawa, Sheikh Ibrahim Al-Ghaith, yang telah memimpin kampanye agresif di media massa bagi pelaksanaan keras adat-istiadat Islam dan menantang tokoh lain yang lebih liberal dalam pemerintah. Sheikh Ibrahim Al-Ghaith diganti dengan Abdul Azia bin Huamin yang lebih moderat.

Perubahan lain yang dilakukan oleh Raja Abdullah dengan menambah jumlah anggota Dewan Ulama dari 120 menjadi 150 anggota. Untuk pertama kalinya, Raja Abdullah menunjuk utusan dari empat sekolah hukum agama Islam Sunni di dalam Dewan Ulama. Sebelumnya hanya tokoh atau perwakilan dari sekolah-sekolah Hambali yang mendominasi di Dewan Ulama. Akibatnya, yang mendominasi di dewan itu hanya ajaran Wahhabi, versi Arab Saudi konservatif.

Raja Abdullah juga memerintahkan tiga tokoh Syiah Arab Saudi; Muhammad Al-Khanizi, Jamil Al-Khairi dan Said Al-Sheikh menjadi anggota di Dewan Ulama. Perintah ini dianalisa sebagai kemungkinan dikeluarkannya perintah Raja Abdullah kepada beberapa ulama Syiah untuk menjadi anggota Forum Ulama Islam negara Arab Saudi

Di Home land Salafy sendiri sudah ada usaha dari Raja Abdullah untuk mereformasi kurikulum pendidikan Wahabi/salafy yang dianggap terlalu ekstrim dan menanamkan kebencian kepada kelompok lain.

Salafy Centre Global dan Indonesia :
1. Komite Fatwa tinggi Saudi : Syeh Abdullah bin Baz, Al Utsaimin, dkk.
2. Yayasan Muntadha London : Salman Ibn Fahd Al-Audah, DR. Safar Al-Hiwali, DR. I’ed A-Qorni dkk
3. Yamani : Rabi’ Bin Hadi Al Madhkali, Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i.
4. Yordani : Salim BIn I’ed Al-Hilali dkk., Ali Halabi Al-Atsari
5. Kuwait : Abdurraman Abdul Khaliq (Yayasan Ihya’ Ats-Thuratsnya)
6. Mesir : Syarif Hazza.
7. Alumni LIPIA angkatan pertama
8. Murid-murid Syeh Rabi’ Bin Hadi Al Madhkali
9. Murid-murid Syeh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i.
10. Ust.Yusuf Ustman Baisa, Lc -dulu di Ma’had Ali Al Irsyad Tengaran dan d’ai resmi al-Lajna al-Khairiyah Al Musytarakah.
11. Ust. Syarif Fuad Hazza, da’i dari Mesir dan kaki tangan Jum’iyyah Islamiyah Kuwait. Ma’had al-Irsyad. Tengaran Salatiga.
12. Ust. Abu Nida’ Khomsaha Sofwan, Lc Mudir Yayasan At-Turats, Yogyakarta, bekerja sama dengan yayasan Ihya’tul Turats Kuwait dan al-Haramain Foundation.
13. Ust. Aunur Rafiq Ghufron ( Ma’had Al Furqan, Gresik)
14. Ust. Abu Haidar, dkk ( As Sunnah, Bandung)
15. Ust. Kholid Syamhudi ( Ma’had Imam Bukhari)
16. Ust Abu Husham Muhammad Nur Huda, Ust Abu Ali Noor Ahmad Setiawan, ST, MT, Aris Munandar, SS LBI Al Atsary Jogjakarta.
17. Ust. Ahmas Faiz Asifuddin ( Ma’had Imam Bukhari, Solo dan Pimpinan Umum Majalah as Sunnah)
18. Ust. Abu Qatadah, Yazid Zawwa, Abdul Hakim Abdat .(Turotsi, Al Haramain-Al Sofwah-DDII eks Masyumi)
19. Ust. Abu Nida, dll ( Islamic Center Bin Baz)
20. Ust. Abu Abbas, Abu Isa, Abu Mush’ab, Mujahid .(Mahad Jamilurahman Bantul)
21. Ust. Umar Budiargo, Lc, Khudlori, Lc, Aris Munandar, SS, Ridwan Hamidi, Lc ,PP Taruna Al Qur’an, alumni Madinah)
22. Ust. Muhammad Yusuf Harun, MA, dai Yayasan Al-Sofwa (Lenteng Agung Jakarta, pengelola situs : Aldakwah.org)
23. Ust. Abu Umar Abdillah pernah berseteru dgn Ust. Farid Ahmad Okbah dari PP Al Irsyad)
24. Ust. Jafar Umar Talib (Yayasan Al Ghuroba) dan Syaikh Abdullaah Al-Farsi.
25. Al Maidani, pengasuh PP Al Anshor Jogjakarta, Al Ustadz Abdul Mu’thi dan ustadz Qomar Su’aidi,Lc.
26. Salafy Yamani, Ponpes Dhiyaus Sunnah Cirebon, Ustadz Muhammad Umar As sewed
27. Ust. Abdurahman Wonosari (Murid Syaikh Muqbil bin Haadi, Dammaj, Yaman)
28. Ust. Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
29. Lajnah Dakwah As Salafiyyah Jl. Parakan Asih No. 15, Bandung Jabar
30. Ma’had Ittiba’us Sunnah : Jl. Syuhada No. 02 Sampung – Sidorejo – Plaosan – Magetan – Jawa Timur.
31. Ust. Abu Yahya Riski tinggal di Klaten.
32. Ust. Abdullah Amin, ma’had Ighotsah Dammam, Kediri
33. Wahdah Islamiyah, Jl. H. Asnawi Jakarta Selatan.
34. Salafy Sururi, Masjid Hidyatusalihin poltangan pasarminggu.
35. Salafy Yamani, Masjid Fatahillah.
36. Ust. Luqman Ba’abduh, Ma’had As Salafy, Jl. Wolter Monginsidi V no 99, Kranjingan, Jember
37. Ust. Badrusalam, Lc Radio Rodja Bogor.
38. dan lain lain.
Mengutip dari buku “Ilusi Negara Islam” pada bab 2 halaman 97 menyebutkan : sebuah Yayasan yang berafiliasi ke Arab Saudi menawarkan kepada pemerintah RI dana sebesar US$ 500.000.000,- dengan kurs Rp. 11.000, setara dengan Rp. 5.500.000.000.000,- (Rp. 5,5 Trilyun) dengan syarat memberi ijin untuk melakukan kegiatan “infrastruktur pendidikan dan akhlak” (dalam tanda kutip) dan menempatkan orangnya di Badan Perencanaan dan Pengawasan Negara.

salafy haraky vs salafy yamani vs salafy sururi

Semoga Allah memecah belah musuh-musuh islam!

Sekte sesat wahaby yang sering menamakan diri dgn istilah “Salafy”, mereka menyesatkan smua ulama dan muslimin yang diluar sekte sesat ini. Bahkan diantara mereka sendiri saling sesat menyesatkan ….. inilah buktinya :

Assalamu'alaikum,

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaff 2-3)

"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi
beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada
pada golongan mereka." (Ar-Ruum : 31-32)

---------------------------------------------------------------------------

KAJIAN ILMIAH TENTANG HAROKAH SALAFY

oleh: [EMAIL PROTECTED]

Salafi meyakini bahwa hanya ada satu golongan yang selamat dan masuk
syurga, yakni salafi, dari sekian banyak golongan yang ada saat ini (73
golongan). Salafi menggunakan landasan hadits Nabi saw,

"Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya
masuk neraka kecuali satu golongan." Ditanyakan kepada beliau:
"Siapakah mereka, wahai Rasul Allah?" Beliau menjawab: "Orang-orang
yang mengikutiku dan para sahabatku." [HR Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu
Majah, Ahmad, Ad-Darami dan Al-Hakim].

Kemudian diperkuat lagi dengan kaidah yang mereka gunakan bahwa
"Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali",
kebenaran yang satu ada pada salafi! Keyakinan ini berdasarkan hadits
Nabi Saw,

Rasulullah saw bersabda: "Inilah jalan Allah yang lurus" Lalu beliau
membuat beberapa garis kesebelah kanan dan kiri, kemudian beliau
bersabda: "Inilah jalan-jalan (yang begitu banyak) yang bercerai-berai,
atas setiap jalan itu terdapat syaithan yang mengajak kearahnya".
Kemudian beliau membaca ayat,

Dan (katakanlah): "Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah
dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (Qs.
al-An'aam [6]: 153) [HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim] ( lihat 1, hal
47-48).

Sehingga salafi meyakini bahwa semua golongan sesat, bid'ah, tidak
selamat dan tidak masuk syurga. Dengan keyakinan ini maka salafi merasa
dirinya paling benar (karakter 1), sedangkan ulama/golongan lain selalu
salah, sesat dan bid'ah. Sehingga golongan sesat dan bid'ah ini layak
untuk dicela (karakter 2), harus diungkapkan semua keburukannya dan
jangan diungkapkan secuil-pun kebaikannya, karena khawatir nanti
diikuti oleh umat Islam (lihat 4, hal 28-29). Sehingga bertaburanlah
dalam pengajian, daurah, seminar, buku-buku dan website-website salafi
pernyataan bahwa hanya salafi-lah yang paling sesuai dengan as-sunnah
dan celaan sesat dan bid'ah kepada ulama/golongan selain salafi.

Berpecah Belah Sesamanya

Tetapi ada satu hal yang aneh dan sangat bertolak belakang dengan
keyakinan diatas, pada saat kita mencoba lebih jauh mengenal salafi
maka akan dijumpai fakta bahwa secara internal salafi berpecah belah
sesamanya. Salafi yang satu meyakini bahwa dirinya paling benar dan
yang lain sesat, sehingga mereka mencela salafi yang lain dan ditahdzir
(diperingatkan) agar segera bertaubat. Sedangkan salafi yang dicela
juga mengatakan hal yang sama, bahwa merekalah yang paling benar dan
yang lain sesat. Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena karakter
salafi yang merasa dirinya paling benar (karakter 1), sehingga sesama
mereka sendiri saling berselisih, mau menang sendiri dan mencela satu
sama lain (karakter 2).

Abdurahman Wonosari:

Berkaitan dengan fitnah tahazzub, yang dinukilkan oleh Syaikh Muqbil
bin Hadi, dengannya memecah-belah barisan salafiyyin dimana-mana,
termasuk di Indonesia. Kemudian fitnah yang ditimbulkan oleh Yayasan
Ihya' ut Turots yang dipimpin oleh Abdurahman Abdul Kholiq serta
Abdullah as Sabt. Abdurahman Abdul Khaliq telah dinasihati secara keras
dan sebagian Ulama' menyebutnya sebagai mubtadi'. Adapun Jum'iyyah
Ihya' ut Turots dan Abdurahman Abdul Khaliq telah berhasil menyusupkan
perpecahan sehingga mencerai-beraikan Salafiyyin di Indonesia. Apakah
Jum'iyah Ihya' ut Turots (disingkat JI) ini memecah-belah dengan
pemikiran, kepandaian,gaya bicara mereka saja? (lihat 6).

Abu Ubaidah Syafrudin:

Bahkan sampai ta'ashub dengan kelompoknya, golongannya, sehingga
menyatakan bahwa salafy yang murni adalah kelompok salafy yang ada di
tempat fulani dan berada di bawah ustadz fulan (lihat 6).

Perpecahan internal ini bisa sangat tajam, sehingga kata-kata yang
diucapkan bisa sangat kasar, sehingga tidak layak diucapkan oleh
seorang hamilud da'wah (pengemban da'wah),

Abdul Mu'thi:

Khususnya yang berkenaan tentang Abu Nida', Aunur Rafiq, Ahmad Faiz
serta kecoak-kecoak yang ada di bawah mereka. Mereka ternyata tidak
berubah seperti sedia kala, dalam mempertahankan hizbiyyah yang ada
pada mereka (lihat 6).

Muhammad Umar As-Sewed:

Adapun Abdul Hakim Amir Abdat dari satu sisi lebih parah dari mereka,
dan sisi lain sama saja. Bahwasanya dia ini, dari satu sisi lebih parah
karena dia otodidak dan tidak jelas belajarnya, sehingga lebih parah
karena banyak menjawab dengan pikirannya sendiri. Memang dengan hadits
tetapi kemudian hadits diterangkan dengan pikirannya sendiri, sehingga
terlalu berbahaya.

Ini kekurangan ajarannya Abdul Hakim ini disebabkan karena dia
menafsirkan seenak sendiri dan memahami seenaknya sendiri. Tafsirnya
dengan Qultu, saya katakan, saya katakan , begitu. Ya.., di dalam
riwayat ini,ini, dan saya katakan, seakan-akan dia kedudukannya seperti
para ulama, padahal dari mana dia belajarnya.

Ketika ditanyakan tentang Abdul Hakim , "Siapa?", lalu diterangkan
kemudian sampai pada pantalon (celana tipis yang biasa dipakai untuk
acara resmi ala Barat, red), "Hah huwa Mubanthal (pemakai panthalon,
celana panjang biasa yang memperlihatkan pantatnya dan kemaluannya
itu)" (lihat 2).

Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji:

KITA KATAKAN: apalagi yang kalian tunggu wahai hizbiyyun? Abu Nida',
Ahmad Faiz dan kelompok kalian At-Turatsiyyin!! Bukankah kalian
menunggu pernyataan dari Kibarul Ulama'? Bahkan 'kita hadiahkan' kepada
kalian fatwa dari barisan ulama salafiyyin yang mentahdzir Big Boss
kalian!! Kenapa kalian tidak bara' dan lari dari At-Turats?! Mengapa
kalian masih tetap menjilat dan mengais-ngais makanan, proyek-proyek
darinya?! (lihat 5).

Walhasil, perpecahan diantara salafi terjadi beberapa kelompok dan
diantara mereka merasa paling dirinya paling benar. Kelompok-kelompok
yang berpecah belah dan saling menganggap sesat itu antara lain:

Kelompok Al-Muntada (sururiyah) yang didirikan oleh Salafi London yakni
Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, kemudian di Indonesia membentuk
kelompok Al-Sofwah dan Al-Haramain dengan pentolannya Muhammad Kholaf,
Abdul Hakim bin Abdat, Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, Ainul Harits
(Jakarta) dan Abu Haidar (As-Sunnah Bandung).

Ini juga dari kedustaan dia, membangun masjidnya ahlul bid'ah, Hadza
Al-Sofwah, dan Yazid Jawwas mengatakan "Al-Sofwah itu Salafy", padahal
tadinya ketika dia masih sama kita dia mengatakan bahwa Al-Sofwa itu
ikhwani, Surury, tapi ketika dia bersama mereka sudah meninggalkan
Salafiyyin, terus omongnya sudah lain.

Sehingga apa yang mereka sebarkan dari prinsip-prinsip ikhwaniyyah dan
Sururiyyah ini, adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan Sunnah
Rasulullah, dan bertentangan dengan 180 derajat (lihat 2).

Kemudian kelompok Jami'atuts Turots Al-Islamiyah (lembaga warisan
Islam) yang didirikan oleh salafi Kuwait Abdurrahman Abdul Khaliq, di
Indonesia membentuk kelompok Ma'had Jamilurahman As-Salafy dan Islamic
Center Bin Baaz (Jogya) dengan pentolannya Abu Nida' Aunur Rafiq
Ghufron (Ma'had Al-Furqan Gresik), Ahmad Faiz (Ma'had Imam Bukhari
Solo), dan lain-lain.

Lantas bagaimana menyikapi orang-orang at Turots/Abu Nida' cs ini?
Syaikh Muqbil memberikan kaidah tentang orang-orang yang padanya ada
pemikiran hizbiyah, bahkan Abdurahman Abdul Kholiq dicap adalah
mubtadi'. Dengan keadaan Abu Nida' yang demikian, apakah sudah bisa
memastikan bahwa Abu Nida' adalah hizbi? Ya (Syaikh Yahya al Hajuri).

Disinilah perlunya membedakan antara Salafiyyin dan At Turots,
sebagaimana Allah tegaskan tidak akan sama orang yang berilmu dan
beramal, dibanding orang yang beramal dengan kejahilan (lihat 6).

Ada lagi kelompok salafi lain seperti FK Ahlussunnah wal jamaah (FKAWJ)
dan Lasykar Jihad yang didirikan oleh Ja'far Umar Thalib, yang juga
dianggap sesat oleh salafi lainnya.

Abdurahman Wonosari:

Sebagian orang menganggap kita yang telah berlepas diri dari kesesatan
Ja'far Umar Thalib (JUT). Namun ketika jelas setelah nasihat dari para
Ulama' atas JUT, namun dia enggan menerimanya bahkan justru dia
meninggalkan kita, maka Allah memudahkan kita berlepas diri
daripadanya. Bahkan memudahkan syabab kembali kepada Al Haq, tanpa
harus bersusah-payah. Padahal sebelumnya, banyak yang ingin menjatuhkan
JUT dari sisi akhlak dan muammalahnya.

Qadarallah, selama ini kita disibukkan dengan jihad (th 2000 - 2002),
yang dengan jihad tercapai kebaikan-kebaikan, tidak diingkari juga
adanya terjerumusnya dalam perkara siyasah/politik. Dan hal ini,
membikin syaikh Rabi' bin Hadi menasehatkan dengan menyatakan: "Dulunya
jihad kalian adalah jihad Salafy, kemudian berubah menjadi jihad
ikhwani." Mendengar peringatan yang demikian, alhamdulillah, Allah
sadarkan kita semua, langsung bangkit dan kemudian berusaha membubarkan
FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlusunnah wal Jama'ah, red) dan menghentikan
komandonya JUT (Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama'ah, red).
Alhamdulillah." (lihat 6).

Kemudian kelompok salafi lainnya Ponpes Dhiyaus Sunnah (Cirebon) dengan
Muhammad Umar As-Sewed. lihat 2 dan 6 Kelompok yang satu ini merasa
salafi yang paling asli diantara salafi-salafi asli lainya, karena
merujuk kepada ulama-ulama salafi Saudi.

Saking kerasnya pertentangan diantara kelompok salafi itu, mereka
memperlakukan kelompok salafi lain telah keluar dari salafi dan
dianggap sesat dan bid'ah oleh salafi lainnya,

Muhammad Umar As-Sewed (Cirebon):

Dalam syarhus Sunnah dalam aqidatus salaf ashabul hadits, kemudian
dalam Syariah Al-Ajurry, kemudian Minhaj Firqatun najiyah Ibnu
Baththah, itu semua ada. Yang menunjukkan mereka semua sepakat untuk
memperingatkan ummat dari ahlul bid'ah dan mentahdzir ahlul bid'ah,
membenci mereka, menghajr mereka, memboikot mereka dan tidak bermajlis
dengan mereka, itu sepakat. Sehingga apa yang mereka sebarkan dari
prinsip-prinsip ikhwaniyyah dan Sururiyyah ini, adalah sesuatu yang
bertolak belakang dengan Sunnah Rasulullah, dan bertentangan dengan 180
derajat (lihat 2).

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara-negara Arab-pun
juga demikian, diantara ulama salafi sendiri mengklaim merekalah salafi
yang asli dan harus diikuti, sedangkan yang lain sesat dan harus
dihindari pengajian-pengajian, buku-buku dan kaset-kasetnya. Salafi
yang merasa asli menyatakan bahwa merekalah pengikut shalafush shalih
yang benar, sedangkan salafi yang lain hanya mengaku-ngaku saja sebagai
salafi. Begitu juga sebaliknya!

Ada kelompok ulama semisal Abdullah bin Abdil Aziz bin Baz, Shalih bin
Fauzan Al Fauzan, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin, Muhammad bin Rabi' Al-Madkhali, dan lain-lain. (Saudi),
Muqbil bin Haadi, Yahya Al-Hajuri (Yaman), Muhammad bin Abdurrahman
Al-Maghrawi (Maroko), Falah bin Ismail, Falah bin Tsani As-Su'aidi,
Walid Al-Kandari, Mubarak bin Saif Al-Hajiri (Kuwait).

Disisi lain terdapat pula ulama salafi yang mereka anggap sesat semisal
Abdurrahman Abdul Khaliq (Kuwait), Muhammad Quthb (ex IM yang dianggap
masuk salafi), Muhammad Surur bin Nayif Zainal (London), dan lain-lain
(lihat 5). Abdurrahman Abdul Khaliq misalnya, beliau mendirikan
Jami'atuts Turots Al-Islamiyah (lembaga warisan Islam) di Kuwait juga
menggunakan landasan yang sama sebagai salafi, yakni menyatukan langkah
dengan menjadikan Al-Quran dan sunnah serta mengikuti salafush shalih
sebagai sumber tasyri', mengembalikan setiap persoalan kepada
kalamullah dan rasul-Nya (lihat 7, hal 11). Tetapi Abdurrahman Abdul
Khaliq dianggap sesat dan bid'ah oleh salafi yang lain, karena beliau
membentuk hizbi (lihat 6).

Begitu juga Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin yang mendirikan
Al-Muntada di London, juga mengaku sebagai salafi. Tetapi karena beliau
mengkritik dengan keras kebijakan kerajaan Saudi yang bersekutu dengan
kafir AS untuk memerangi Iraq pada perang teluk, beliau juga mencela
ulama-ulama yang menjadi budak kerajaan Saudi dengan mecari-carikan
dalil yang sesuai dengan kebijakan penguasa kerajaan (lihat 4, hal
78-82 catatan kaki). Disamping itu beliau menggunakan prinsip IM:
"Nata'awan fima tafakna wa na'dziru ba'dina ba'don fi makhtalahna"
atau "Kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita
hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda" (lihat 2).
Sehingga beliau dianggap sesat dan bukan lagi sebagai salafi.

Sungguh menggelikan, satu-satunya golongan yang mengaku selamat dan
masuk syurga, menganjurkan umat Islam untuk tidak berpecah belah dan
hanya menyatu dalam satu golongan saja (salafi), serta menganggap
golongan lain sesat dan bid'ah. Tetapi secara internal berpecah belah
sesamanya, baik di Indonesia maupun di daerah Arab dan sekitarnya.
Sangat kontradiksi bukan?, disatu sisi menganjurkan umat Islam untuk
bersatu tetapi disisi lain internal salafi berpecah belah.

Kecenderungan salafi untuk mencela golongan lain sebagai sesat dan
bid'ah sehingga 'terkesan' salafi memecah belah persatuan umat, apakah
hal ini dimaksudkan karena mereka tidak rela bahwa hanya salafi saja
yang berpecah belah, sedangkan golongan lain tidak? Silahkan nilai
sendiri! Wallahu'alam

Khatimah:

1. Karakter salafi berupa "Merasa dirinya paling benar" (karakter 1)
dan kebiasaan "mencela golongan/ulama lain" (karakter 2) yang
berseberangan pendapat dengan mereka bukanlah issue semata, tetapi
dapat dibuktikan melalui fakta yang terjadi diinternal salafi sendiri.

2. Karakter salafi yang merasa paling benar sendiri, menimbulkan
perpecahan internal salafi. Ini merupakan hal yang wajar, golongan
manapun jika mendahulukan egoisme dan hawa nafsu belaka maka akan
berpecah belah. Sedangkan golongan-golongan Islam lain, tidak mengalami
perpecahan internal separah yang dialami salafi, bahkan secara internal
mereka solid. Kita bisa merujuk kepada NU, Muhammadiyah, Ikhwanul
Muslimin/Tarbiyah/PKS, Hizbut Tahrir, Persis, Al-Irsyad, Jamaah
Tabligh, dan lain-lain, mereka lebih tahan terhadap perpecahan internal
karena karakter mereka memang beda dengan salafi (karakter 1 dan 2)

3. Perpecahan salafi menjadi beberapa kelompok antara lain: kelompok
Al-Sofwah & Al-Haramain Jakarta; Imam Bukhari Solo, Al-Furqan Gresik,
Islamic Center Bin Baaz & Jamilurahman As-Salafy Jogya; FKAWJ & Lasykar
Jihad Jakarta; Dhiyaus Sunnah Cirebon. Ini belum termasuk kelompok
salafi yang telah ditahdzir dan kemudian taubat, tetapi tidak bergabung
dengan salafi "asli" dan membentuk kelompok-kelompok sendiri.

4. Orang awam yang baru mengenal salafi menjadi kebingungan, bagaimana
mungkin satu golongan yang meyakini selamat dan masuk syurga, tetapi
secara internal mereka sendiri berpecah belah. Lantas mana golongan
salafi yang asli, yang selamat dan masuk syurga itu?. Kembali kepada
kaidah yang diyakini salafi: "Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan
jumlahnya banyak sekali", maka berarti salah satu salafi saja yang asli
dan yang lain sesat dan bid'ah, atau bisa jadi semuanya salafi palsu!

5. Dengan memahami karakter asli salafi, kita bisa berlapang dada jika
dicela sesat dan bid'ah oleh salafi, karena jangankan anda, sesama
salafi sendiri saja saling mencela sebagai sesat dan bid'ah. Lantas
apakah perlu dilayani jika anda dicela sesat dan bid'ah? Tidak perlu,
karena tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang yang merasa paling
benar dan golongan lain selalu salah. Diskusi yang sehat adalah untuk
"mencari kebenaran bukan kemenangan", mencari hujjah yang paling kuat
(quwwatut dalil). Jika meyakini hujjah lawan diskusi lebih kuat maka
dengan lapang hati menerimanya, tetapi jika tidak ada titik temu dalam
diskusi maka masing-masing harus menghargai perbedaan ijtihadnya. Jadi,
sebaiknya dalam menghadapi salafi adalah dengan tidak menghadapinya.

Maraji':

1. Risalah Bid'ah, Abdul Hakim bin Amir Abdat

2. www.salafy.or.id: manhaj:"Sururiyyah terus melanda muslimin
Indonesia", Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji

3. Lihat juga www.assunnah.or.id

4. Menepis penyimpangan manhaj dakwah, Abu Abdillah Jamal bin Farihan
Al-Haritsi

5. www.salafy.or.id, manhaj: Ulama berbaris tolak JI (Jum'iyah Ihya' ut
Turots), Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji

6. www.salafy.or.id, manhaj: "Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At
Turots", Abdul Mu'thi, Abu Ubaidah Syafrudin dan Abdurahman Wonosari

7. 10 wasiat bekal aktifis dakwah dan harokah, Abdurrahman Abdul Khaliq

8. Mendudukkan antara sunnah dan bid'ah, Lajnah Ihya'ut Turats Al-Islamiy


9. Lihat juga www.atturots.or.id

10. Lihat juga www25.brinkster.com/salafyoononline/

Wassalam,
EP

rujukan :

Surat Terbuka Dari Penulis Buku 泥akwah Salafiyah Dakwah Bijak? Untuk Situs Muslim.or.id

(6) ?dia (Abdurrahman Al Thalibi -mungkin maksudnya 鄭bdurrahman At-Thalibi?) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki)
Kalimat dari pengelola situs itu yang berbunyi,  (Abdurrahman Al Thalibi -mungkin maksudnya 鄭bdurrahman At-Thalibi?), ini diulang sampai dua kali. Padahal seandainya dia menulis sekali saja, itu sudah cukup. Entahlah, apa maksudnya pengulangan kalimat ini dengan redaksi 100 % sama dengan kalimat yang disebutkan di bagian sebelumnya.

Saya menduga, pengelola situs itu menuduh buku ini sangat tidak ilmiah dan tidak obyektif  berdasarkan alasan kalimat di atas. Dia tidak setuju atau tidak terima dengan pembagian Salafy di Indonesia menjadi dua, yaitu Salafy Yamani dan Salafy Haraki (bukan Haroki). Disini saya akan coba menjawab tuduhan di atas secara runut, yaitu sebagai berikut:

1. Pembagian Salafy di Indonesia menjadi Salafy Yamani dan Haraki bukanlah tujuan inti dari buku ini

Ia hanya sebagian fakta yang tidak mungkin diabaikan ketika kita hendak melihat sepak-terjang Salafiyun mantan Laskar Jihad dari berbagai sisi. Mohon perhatian kita diarahkan ke maksud awal buku ini, yaitu menasehati sebagian orang yang bersikap keras dalam dakwah Islam.

2. Coba perhatikan kalimat dari situs itu?dia (Abdurrahman Al Thalibi) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki). 

Sungguh, sejak awal buku sampai akhirnya, saya tidak pernah sama sekali melakukan pembagian Salafy seperti yang dituduhkan tersebut. Itu adalah kesimpulan dari penuduh sendiri. Kalimat yang saya gunakan dalam buku ini ialah, 鉄elama ini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling 礎ermusuhan?.? (Lihat kalimat pertama di bab Antara Salafy Yamani dan Haraki, di hal. 20).*) Bagi orang-orang berakal, mereka pasti memahami bahwa kalimat tersebut maknanya adalah indikasi (tampak tanda-tanda), bukan klasifikasi (pembagian secara tegas). Akhiy, bagaimana mungkin saya berani membagi-bagi komunitas Ahlus Sunnah seperti yang Engkau tuduhkan? Malah kalau kalian membaca benar-benar buku ini, kalian akan tahu bahwa sejak awal saya telah meminta maaf jika pemilihan istilah-istilah yang ditempuh dalam buku ini tidak memuaskan pihak-pihak yang disebut. (Lihatlah kembali bagian Metode Penetapan Istilah, pada hal.5-7).
*) Kalimat selengkapnya dalam paragraf  tersebut ialah: 鉄elama ini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling 澱ermusuhan?. Satu kelompok ialah Salafy Yamani yang merupakan kelanjutan dari Laskar Jihad di masa lalu, dan mereka merupakan jaringan para dai Salafy yang berafiliasi kepada syaikh-syaikh Salafy di Yaman dan Timur Tengah. Sedang satu kelompok lagi ialah Salafy Haraki, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan (harakah).? (Hal. 20).

3. Penyebutan istilah Haraki dalam buku ini memiliki asal-usul. Referensi terbanyak yang saya gunakan ketika memahami Sururiyyah, bersumber dari media-media yang dikelola Salafy fraksinya Umar As Sewed, terutama dari situs salafy.or.id. 

Sedangkan disana, berbagai kalangan Salafy dimasukkan dalam kategori Sururi, termasuk pihak-pihak yang tidak ada hubungan dengannya. Ustadz-ustadz Salafy yang selama ini dikenal di Indonesia, baik yang berdomisili di Yogyakarta, Solo (grup majalah As Sunnah), Jakarta,Bogor, Gresik, Bandung, Surabaya, bahkan sampai yang di Makasar, mereka disebut Sururi. Padahal di antara ustadz-ustadz itu ada yang membantah keras Sururiyyah. Kalangan Ihyaut Turats Al Islamy tidak suka jika disebut sebagai Sururi, seperti pengakuan Syarif bin Muhammad Fuad Hazza yang telah disebutkan sebelumnya (hal. 34-36). Penyebutan yang ditempuh oleh fraksinya Umar As Sewed inilah yang kemudian saya pilih, meskipun untuk menyatukan berbagai elemen Dakwah Salafiyah di luar kelompok mereka dalam satu sebutan (yaitu Sururi), tidaklah tepat. Tetapi penyatuan sebutan ini lebih memudahkan,daripada menyebut berbagai elemen Salafiyah dengan sebutan masing-masing.
Adapun ketika dipilih istilah Haraki, hal itu dimaksudkan untuk menjangkau kalangan yang lebih luas, meskipun pada akhirnya ada yang tidak suka dengan penyebutan tersebut.

4. Menyebut Ustadz Mubarak Bamuallim, Ustadz Abdurrahman At Tamimi, serta ustadz-ustadz di Yogya, Solo, Jakarta, Bogor, Gresik dan yang selainnya sebagai Haraki tidaklah tepat

Setahu saya, mereka hanya membina majlis taklim, melaksanakan daurah, mengelola media, mengelola lembaga pendidikan dan sejenisnya. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa mereka terlibat aktif dalam tanzhim Salafy Haraki.
Namun untuk menyebut mereka bebas sama sekali dari hubungan dengan Salafy Haraki, hal itu juga tidak mungkin. Ustadz-ustadz yang tersebut di atas dikenal memiliki hubungan baik dengan Ihyaut Turats Al Islamy. Sejak lama, lembaga Al Irsyad Al Islamy menjalin hubungan baik dengan Ihyaut Turats. Saya sendiri pernah membaca sebuah versi Al Qur誕n dan Terjemahnya, dari Depag. RI yang dicetak atas kerjasama Al Irsyad dengan Ihyaut Turats Al Islamy. Disana ada kata pengantar dari mantan Ketua Umum PP Al Irsyad, Ustadz Geys Amar, dalam bahasa Arab yang menjelaskan bahwa penerbitan Al Qur誕n dan Terjemahnya itu atas kerjasama dengan pihak Ihyaut Turats Al Islamy. Kalau ustadz-ustadz di atas terlibat aktif dalam tanzhim Haraki, mungkin tidak, tetapi kalau bekerjasama baik (misalnya dalam penyaluran dana bantuan sosial dan dakwah), hal itu jelas terjadi. Begitu pula dengan dai-dai Salafy yang selama bertahun-tahun mendapat dukungan dana dari sebuah lembaga dakwah Salafiyah di Jakarta Selatan.
5. Barangkali sebagian kalangan Salafy tidak suka disebut sebagai Haraki, tetapi jika melihat kenyataan di lapangan, eksistensi Salafy Haraki sendiri tidaklah bisa ditutup-tutupi. Bahkan versi dan pola Harakah Salafiyah itu sendiri bermacam-macam. Disana ada Al Muntada Al Islamy, Ihyaut Turats Al Islamy, Al Wahdah, Darul Birr, dan HASMI. HASMI sendiri secara tegas menyebut diri sebagai Harakah Sunniyyah Islamiyyah. Di luar nama-nama tersebut, mungkin masih ada nama-nama lain yang luput disebutkan. Seluruh Harakah Salafy rata-rata membawa missi dakwah menyebarkan ajaran Tauhid dan Ittiba? Sunnah. Hal inilah yang membuat mereka dengan mudah dikenal sebagai Salafy (Ahlus Sunnah).  Meskipun, dari sisi pemikiran, kebijakan,dan praktik dakwah, mereka memiliki perbedaan-perbedaan. Keberadaan Harakah Salafy memiliki kontribusi besar dalam penyebaran Dakwah Salafiyah di Indonesia, meskipun sebagian orang merasa kelu untuk mengakui kontribusi tersebut.
Pada intinya, penyebutan istilah Haraki itu memiliki latar-belakang, yaitu untuk mengganti istilah Sururi yang banyak dipakai Salafiyun mantan Laskar Jihad untuk menyebut elemen-elemen Dakwah Salafiyah di luar kelompok mereka. Meskipun, pada kenyataannya,ada di antara elemen-elemen Salafiyah yang tidak suka dengan istilah tersebut. Seandainya mereka benar-benar tidak suka, maka hal itu tidak bisa menjadi dalih untuk mengingkari keberadaan Harakah Salafy dan kontribusi mereka dalam Dakwah Salafiyah di Indonesia.

Salafy haraky vs salafy yamani
KERANCUAN
Salafy Yamani
Akhir-akhir ini, ada sebuah kelompok dari umat Islam yang mempunyai empat kaidah yang rancu antara satu dengan yang lainnya :
Kaidah pertama, pemilu dan demokrasi adalah sistem yang haram dan haram pula bagi umat Islam untuk memasukinya.
Kaidah kedua, wajib hukumnya mentaati dan menjaga kewibawaan presiden dan pemerintah termasuk Indonesia.
Kaidah ketiga, presiden dan pemerintahan termasuk Indonesia yang dihasilkan dari pemilu dan demokrasi adalah sah menurut agama.
Kaidah keempat, dalam menasehati presiden atau pemerintah harus ketika dalam keadaan sendirian, secara empat mata dan khalayak ramai tidak boleh mengetahui agar terjaga kewibawaan presiden dan pemerintah.
Dari keempat kaidah tersebut, kelompok ini mengambil sebuah sikap yaitu mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk mentaati presiden dan pemerintah –dalam hal kebaikan dan bukan hal kemaksiatan- walaupun presiden dan pemerintah tersebut dihasilkan dari cara yang menurutnya haram seperti pemilu dan demokrasi, dan melarang pengikut-pengikutnya untuk memilih presiden dan pemerintah, dalam waktu yang bersamaan, kelompok ini memberi label-label negatif bahkan menilai sesat saudara-saudara muslim yang telah bersusah payah memilih presiden dan pemerintahan.
Ibarat ayam panggang, disalahkannya orang yang menyajikannya yang katanya cara memperolehnya tidak halal, mungkin menurut mereka ayamnya hasil curian atau cara menyembelihnya yang tidak benar, tetapi dalam waktu yang bersamaan mereka menilai halal ayam panggang yang tersaji untuk mereka, “mari makan jangan sampai mubazir, walau daging ayam ini telah diperoleh oleh yang menyajikan dengan cara yang haram, tapi halal kita makan, karena bukan kita yang melakukan”.
Sulit untuk mengatakan tidak rancu terhadap kelompok yang mengharamkan pemilu dan demokrasi tetapi tidak mengharamkan presiden dan pemerintah yang dihasilkan dari pemilu dan demokrasi. Terlebih lagi kelompok ini menyatakan sah presiden dan pemerintahan yang dihasilkan dari cara yang menurutnya haram, sehingga mereka mewajibkan pengikutnya unuk mentaati presiden dan pemerintah.
Mari kita cermati ungkapan sikap mereka yang saya kutip dari salah satu situs mereka :
SBY -hafidzhahulloh-
Semoga Alloh menjaga SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dalam memimpin negeri ini, negeri yang penduduknya gemar menghujat pemimpinnya sendiri dijalanjalan, koran-koran dan majalah tak terkecuali internet, negeri yang memiliki seabrek orang-orang pintar ‘ngoceh’ dan tokoh agama ‘jahat’ yang gampang memprovokasi ummat untuk ‘memberontak’ kepada SBY sembari mengutip ayat-ayat yang mereka sendiri tidak faham akan kalimatnya…. http://smd.antibidah.net/?p=314
Tulisan tersebut sangat kuat dapat ditafsirkan bahwa mereka mengakui, merasa memiliki dan membela SBY sebagai presiden yang sah, dan menilai jahat orang-orang yang mengkritik presiden dan kebijakannya, kalau boleh berkomentar, sikap semacam itu sebenarnya hanya pantas bila dilakukan oleh orang-orang yang mendukung dan memilih SBY dalam pemilu, bukan oleh mereka yang tidak memilih, mendukung dan mengharamkan pemilu.
Sikap semacam itu, dapat mengundang penilaian yang bermacam-macam terhadap kelompok tersebut, bisa jadi orang akan menilai “sikap cari amannya” dengan mengatakan “”mungkin takut dengan SBY, takut di ciduk, buktinya partai Islam yang mendukung SBY dinilai negatif terus, mungkin karena partai tersebut orang-orangnya lemah, tidak punya kekuatan”. Kalau ada penilaian semacam itu, bisa jadi benar adanya, bisa jadi juga salah yang timbul karena adanya rasa tidak suka terhadap kelompok tersebut yang terus menilai orang lain salah. Agar penilaian terhadap sikap kelompok ini obyektif, mari kita cermati pernyataan yang ada dalam salah satu situs mereka :
“Bila saudara merasa terusik oleh sikap ikhwan salafiyyin yang mengkritik kesesatan sekte-sekte berbagai tokoh firqoh yang ada, maka ini pulalah yang akan dilakukan oleh para pemimpin/penguasa yaitu akan marah dan tersinggung. Akan tetapi antara kemarahan penguasa dengan sekte-sekte yang ada terdapat perbedaan, yaitu bila yang marah pemerintah, maka akan terjadi kerusakan yang luas, sedangkan bila yang marah ketua sekte/firqah, maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa”.
Bisa jadi argumentasi yang terdapat dalam tulisan tersebut benar adanya, tapi perlu penjelasan lebih detil dari yang empunya argumen, karena dari tulisan tersebut, harus dimaklumi bila orang menilai kelompok tersebut mencari amannya saja, dan karena yang punya argumen kadang sungkan untuk menjelaskan face to face, mau tidak mau kita tunggu saja kiprahnya di kemudian hari, bagaimana sikapnya bila partai Islam gagal memilih presiden dan yang terpilih adalah presiden yang didukung partai kafir dan sekular bahkan presidennya sendiri seorang kafir. Tetapi demi Allah semoga hal semacam itu tidak terjadi.
Tapi kalau boleh menilai, bisa jadi sikap mereka tersebut karena memang pilih amannya saja untuk menghindari konfrontasi dengan kekuatan yang besar, karena yang saya dengar, mereka juga menyalahkan muslim Palestine yang berjuang melawan gempuran rudal-rudal Israel, mereka menyalahkan bom syahid muslim Palestine sementara mereka tidak memberikan solusi apa-apa untuk dapat melawan rudal-rudal Israel kecuali saran agar muslim Palestine mendahulukan ilmu daripada amal, tentu saja yang mereka maksud adalah menyarankan muslim palestine untuk jihad ilmu, jelasnya, mengubah jihad qital menjadi jihad ilmu. Begitu juga pejuang-pejuang di Irak dan Afghanistan, tidak lepas dari kritikan kelompok ini, sehingga tidak aneh, bila sampai detik ini tidak seorangpun tokoh dari kelompok ini yang berada di front untuk melawan orang-orang kafir, baik melalui jihad qital maupun jihad pemikiran, semoga saja semua itu salah, tetapi kalau benar semoga saja bukan karena cari aman, tetapi berdasarkan hujjah yang nyata dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan merekalah yang dapat menjelaskan dengan baik atas sikapnya tersebut, karena orang lain bisa jadi hanya tahu kulitnya saja sehingga salah dalam menilainya, perlu kearifan bagi mereka untuk menjelaskan.

Sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah ?

Benarkah sikap mereka sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam hal mentaati presiden atau pemerintah padahal dengan jelas mereka menyatakan presiden SBY atau pemerintah telah dipilih melalui cara yang haram, sampaisampai mereka sendiri tidak mau untuk memilihnya ? Mari kita lihat argumentasi dari mereka yang saya kutip dari situs mereka :
….. khilafah Umawiyyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah. Ketiga dinasti (baca: khilafah) islam ini dimulai dengan kesalahan, yaitu menentang dan melawan khalifah yang sah. Khilafah Umawiyyah dimulai dari perlawanan sahabat Mu’awiyyah terhadap khalifah yang sah yaitu sahabat Ali bin Abi Thalib, dan setelah melalui berbagai kejadian sejarah, akhirnya terjadilah penyerahan kekuasaan oleh sahabat Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada sahabat Mu’awiyyah….
Walau proses perebutan kekuasaan ini telah disepakati oleh ulama’ sebagai tindakan yang diharamkan, dan pelakunya berdosa karenanya, akan tetapi bila kekuasaan berhasil direbut, dan para pemberontak berhasil menata kekhilafahan sehingga terciptalah stabilitas keamanan, kekuatan, perekonomian dll, maka umat islam semenjak dahulu telah sepakat untuk mengakui khalifah hasil pemberontakan tersebut. Jadi bisa jadi metode perebutan kekuasaan diharamkan, akan tetapi bila telah berhasil direbut dan yang merebutnya memiliki kemampuan untuk menjalankan khilafah, maka umat islam seluruhnya diwajibkan untuk mengakui khalifah tersebut, dan khalifah tersebut menjadi khalifah yang sah dan wajib ditaati.
Ini adalah argumentasi yang paling berani, per pertama, secara tidak langsung telah menyatakan Mu’awiyyah ra telah melakukan cara yang haram, padahal Ali ra telah memujinya :
Ali bin Abi Thalib ra. berkata sepulangnya dari Perang Shiffin : “Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah, seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala bergelantungan dari badannya -banyak pembunuhan-.
Al Bidayah 8/134 oleh Ibnu Katsir
apalagi Mu’awiyyah ra adalah pencatat wahyu yang diangkat langsung oleh rasulullah saw, dan tidak seorangpun dari salafus sholeh yang menyatakan Mu’awiyyah telah melakukan hal yang haram. Menilai tindakan politik yang dilakukan oleh Mu’awiyyah sebagai tindakan yang haram dapat bertentangan dengan pendapat para salafus sholeh tentang Mu’awiyah. Dan oleh karena kelompok ini telah mengaku menggunakan pendapat para ulama dalam menilai haram tindakan Mu’awiyyah, maka sebaiknya, kelompok ini mengutip pendapatpendapat tersebut agar dapat dipetanggungjawabkan.
Kedua, Mu’awiyyah termasuk salafus sholeh, padahal mereka mengaku dalam beragama ini mengikuti para salafus sholeh, mengapa mereka tidak menempuh cara Mu’awiyah agar diperoleh kemaslahatan seperti kemaslahatan yang diperoleh Mu’awiyyah. Sikap yang demikian dapat mengundang penilaian negatif terhadap mereka, misalnya menilai mereka memilih amannya saja untuk menghindari konfrontasi fisik, apalagi tidak seorangpun dari mereka yang berada di front untuk mendapatkan kekhilafahan/kepemimpinan negara.
Ketiga, katakanlah yang dilakukan oleh Mu’awiyyah memang haram dan menurutnya para ulama juga sepakat demikian, lalu mengapa mereka tidak masuk demokrasi yang sama-sama haramnya seperti yang ditempuh Mu’awiyyah, bukankah menurut mereka nanti akan menjadi halal kalau berhasil dan memperoleh kemaslahatan dan dapat menghindarkan dari kemudharatan yang jauh lebih besar daripada jika membiarkan presiden dan pemnerintahan dipegang oleh orang-orang kafir ?
Ini adalah kerancuan yang ada pada mereka, di satu sisi mengharamkan untuk memilih presiden melalui pemilu dan demokrasi, di sisi yang lainnya harus mentaati presiden yang menurutnya dipilih dengan cara yang haram, sehingga dengan sangat berani harus menyatakan Mu’awiyyah juga telah menempuh cara yang haram.
Kerancuan dalam pemahaman, pastilah datangnya bukan dari al-Qur’an, karena Allah SWT telah menginformasikan :
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
QS. 4:82
Bila mereka menyatakan pemahamannya tidak rancu, sementara orang lain mengatakan rancu, maka mereka harus dapat menjelaskan bahwa pemahamannya tidak rancu, karena bisa jadi ia yang salah bisa jadi juga orang lain yang salah.

Kerancuan Yang Lain

Menurut mereka –yang mengharamkan demokrasi dan yang taat pada presiden hasil demokrasi- bila ada kesalahan dari SBY, maka akan menasehatinya secara empat mata :
“Barang siapa yang hendak menasehati seorang penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah disampaikan di depan khalayak ramai, akan tetapi hendaknya ia sampaikan di saat ia menyendiri dengannya, dan bila ia menerima nasehatnya, maka itulah yang diinginkan, dan bila tidak menerima, maka ia telah menunaikan kewajibannya.”
HR Ibnu Abi ‘Ashim, dan dishahihkan oleh Al bani
Oleh karenanya, menurut mereka tidak boleh melakukan demo ataupun mengkritik kebijakan presiden secara terbuka.
Dari sikap mereka ini dan caranya menafsirkan hadits tersebut ada sedikit kerancuan, bagaimana bisa, mereka yang berada di luar parlemen dapat menunggu kesempatan menyendiri dengan presiden untuk menasehati presiden, perlu diketahui, orang yang ingin bertemu presiden jumlahnya ribuan bahkan bisa jadi jutaan, dan tidak mungkin presiden menemui semuanya satu persatu, harus berdasarkan skala prioritas, kalau yang datang hanya seorang tukang beca yang ingin meminta uang untuk beli ban, tidak mungkin akan ditemui presiden, karena hal itu justru akan mengganggu urusan rakyat, begitu juga kalau yang datang hanya seorang Ustadz tingkat desa yang tidak ketahuan kiprahnya di masyarakat, jangan harap bisa menemui presiden, karena kalau ditemui dapat menyebabkan ribuan ustadz yang lainnya berbondong-bondong ke istana. Jadi sederhana saja, pernahkah mereka menasehati presiden secara empat mata ? saya meyakini belum pernah, keadaannya sudah jauh berbeda dengan masa rasulullah saw dan para khalifah, dahulu memang para khalifah dapat ditemui kapan dan di mana saja, di pasar, jalan, masjid atau di rumahnya, tetapi sekarang situasi dan kondisinya sangat berbeda, dan hal itu hanya bisa dicapai kalau mereka masuk ke pemerintahan atau organisasi resmi semacam Muhammadiyah, NU, MUI atau yang lainnya yang telah menunjukkan kiprahnya di Indonesia, maka kesempatan menasehati presiden secara empat mata akan dapat dicapai, tetapi sayang, semua itu mereka haramkan, karena menurutnya bid’ah.
Kerancuan yang lain lagi, SBY adalah nyata-nyata pendukung demokrasi, dan menurut mereka kalau ada kesalahan harus dinasehati secara empat mata agar tidak menurunkan kewibawaannya, tetapi mereka telah dengan sangat lantang menyuarakan haramnya demokrasi yang nyata-nyata diperjuangkan oleh presiden yang di taatinya, jadi kalau boleh berkomentar, bukankah hal itu sama saja dengan menohok SBY secara terbuka ?.
Kerancuan yang lain lagi, bukankah partai Islam yang telah memilih SBY menjadi presiden juga telah menjadi bagian dari pemerintah, misalnya menjadi anggota DPR, MPR, -bahkan ketua MPR-, walikota dan menteri, mengapa SBY tidak dihujat sementara partai Islam yang orang-orangnya ada dalam pemerintahan di hujat ? bukankah antara SBY dan orang-orang yang dari partai Islam juga telah menjadi pemimpin mereka ? Apakah karena SBY dari militer dan kuat sedang orang-orang yang dari partai Islam lemah, sehingga diperlakukan berbeda ?, kalau begitu apa artinya dalil-dalil di atas yang mereka gunakan untuk taat dan menasehati pemerintah secara tertutup ? Ataukah ada sebab lain, kebencian misalnya, sehingga mereka tidak adil dalam bersikap, kalau benar demikian, Allah SWT telah mengingatkan :
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. 5:8
merekalah yang lebih tahu apa-apa yang ada di dalam hatinya dari pada orang lain, semoga tulisan ini dapat menjadi nasehat bagi kita semua umat Islam. Amin.
Malang, 21 Desember 2007

Taubatnya Seorang Salafy Yamani ‘JUT’

Berikut adalah pengakuan jujur seorang penyusun buku ”Hakikat IM” yang ditulis oleh Gaza, Jum’at, 1 Juni 2007 yang saya ambil dari http://www.mail-archive.com/manhaj-salaf@yahoogroups.com/msg00346.html

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh,

Saudaraku, di bawah ini saya tampilkan pernyataan Akhi Anwar Shiddiq, dia pernah menyusun buku judulnya ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)”, tetapi setelah berjalan waktu dia menyesal dan ingin menarik buku itu. Akhi Anwar nitip supaya bisa memakai forum MyQuran buat menampilkan surat terbuka. Beliau tak melayani debat di forum, tapi mau terima e-mail ke [EMAIL PROTECTED]

Berikut ini pernyataan Akhi Anwar Shiddiq:

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT, atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: ”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135).

Ikhwan fillah rahimahullah, semoga allah SWT senantiasa merahmatimu, menganugerahkan ilmu bermanfaat, menunjuki dengan hidayah, menguatkan dengan taufiq untuk berbuat kebaikan amal, lahir dan batin. Amin ya Rabbal ’alamin.

Melalui forum yang mulia ini perkenankan ana (Anwar Shiddiq) menyampaikan sebuat pengalaman penting yang ana alami sendir saat berinteraksi dengan ikhwan-ikhwan Salafi yang akhir-akhir ini sering disebut Salafi Yamani (meminjam istilah Ustadz tertentu). Maksud dari penuturan ini yakni agar ana bisa memohon maaf atas kesalahan yang pernah ana lakukan saat ana mendapat pengaruh yang sangat kuat dari pemikiran Salafi Yamani itu. Secara khusus permohonan maaf ini ana tujukan kepada saudara-saudaraku dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia, khususnya yang sudah membaca buku yang ana susun.

Di bawah ini penuturan ana:

”Ana dulu beramal jama’i bersama Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin/IM) selama bertahun-tahun. Suatu saat ana putuskan mundur dari IM secara baik-baik, yakni maksudnya ana mundur karena kesadaran sendiri, tidak dipaksa-paksa atau diprovokasi. Ana sudah bertekad, meskipun tidak lagi bersama Tarbiyah (IM) ana akan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Hal ini ana tempuh, sebab ana tahu Ustadz Jakfar Talib, seorang pemimpin Salafi di Indonesia, tadinya dia ikut IM juga, tapi setelah jadi Salafi, dia sangat membenci IM setengah mati. Ana tidak mau seperti itu, ana mau jadi diri sendiri, tidak terpengarus orang lain. Ana merasakan sendiri di IM itu tidak sedikit kekurangan-kekurangan, tapi ana juga tidak pungkiri di sana ada kebaikan-kebaikannya, maka itu ana ingin sikap proporsional saja, tidak berlebih-lebihan seperti sikap Ustadz Jakfar Talib itu.

Sayang seribu sayang, sikap baik ana ini pelan-pelan berubah saat ana mulai mengambil pemikiran-pemikiran dari Salafi Yamani. Ana membaca majalah Asy-Syariah, ana mendengar kaset ceramah Ustadz Muhammad Sewed, ana bergaul dengan mantan Laskar Jihad (LJ), ana mengikuti berita-berita seputar dakwah Salafi, ana berteman dengan pengikut Salafi Yamani, ana membuka situs www.salafy.or.id, dan apa-apa yang bisa ana peroleh.

Sikap ana yang dulunya baik ke temen-temen IM berubah jadi kebencian dan rasa muak. Ana seperti orang yang mengalami ”Cuci Otak”, pendirian santun ana dulu saat baru keluar dari IM seperti tidak berbekas. Ana dulunya benci sama sikap keras Ustadz Jakfar Talib, tapi ana akhirnya ikut terseret juga ke sikap semacam itu.

Bila dilukiskan, majlis-majlis ilmu yang berhubungan dengan Salafi Yamani itu seperti kobaran api. Siapa saja yang ada di dekatnya akan merasa kepanasan, atau menularkan panas ke orang lain. Ana merasakan pengaruh ini ke diri ana sendiri, yang tadinya baik-baik saja jadi timbul kebencian ke orang lain.

Selama interaksi dengan pengikut Salafi Yamani, yang dibicarakannya tahdzir ahli bid’ah, hajr, firqah sesat, bantahan, celaan, dsb. Apalagi kalau mereka sudah angkat bicara soal Sururiyah atau kesesatan tokoh-tokoh IM, panas sekali suasana yang terbentuk. Orang yang semacam ana ini tidak sedikit di tempat-tempat lain.

Kebencian ana ke IM semakin besar saat seprang ikhwan Salafi itu menyodorkan sebuah buku berjudul ”AL IKHWAN AL MUSLIMUN, Anugerah Allah yang Terzalimi”. Buku ini karangan Ustadz Farid Nu’man, penerbitnya Pustaka Nauka dari Kukusan Depok. Sebetulnya buku ini diberikan atas rekomendasi aktivis PKS juga, biar orang-orang Salafi mau membacanya, termasuk ana di dalamnya. Sehabih membaca buku itu ana malah semakin tidak simpati ke IM. Selain memberi rekomendasi, aktivis PKS itu juga melontarkan kritikan-kritikan tidak sedap ke Salafi, sehingga semakin bulat hari ana untuk menyusun sebuah bantahan.

Ana kumpulkan saja buku-buku, tulisan-tulisan yang mengupas penyimpangan IM, lalu ana ambil materi dari sana-sini (istilahnya ’menjahit materi’). Ana tambahkan disitu komentar-komentar ana, sampai jadilah sebuah buku berjudul, ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)”. Selanjutnya buku itu diedarkan secara terbatas di bawh UISP (milik kami sendir). Sudah tentu aktivis PKS yang mengkritik kami itu, kami sodori buku itu juga. Jujur saja, kalau tidak diprovokasi oleh sikap aktivis itu mungkin buku tersebut tidak pernah disusun.

Sesudah waktu berjalan cukup lama, sesudah ana baca-baca buku, tulisan-tulisan, ana diskusi-diskusi, akhirnya ana putuskan untuk membersihkan diri dari pemikiran-pemikiran ”Salafi ekstrem” yang telah bercokol dipikiran ana. Ana tidak mau ketempatan sesuatu yang bisa merusak diri sndiri. Kalau ingat keadaan seperti ini rasanya ana ingin kembali ke situasi dulu saat baru keluar dari IM secara baik-baik. Dulu ana bisa tersenyum saat bertemu teman-teman IM, tapi sekarag ini sulit. Ana sepertinya sudah terjerumus ke sebuah permusuhan keras. Saat ana baca kembali buku ’jahitan’ itu, ana sedih bukan main. Kenapa ana sampai menulis kalimat-kalimat kasar, emosional, menzhalimi saudara sendiri? Padahal tekad ana semula tidak begini. Ya Rabbi, ana memohon ampunan kepada-Mu atas kesalahan-kesalahan ana. Hamba-Mu ini dhaif, sedangkan Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Ampuni ana Rabbi. Amin. Sekian penuturan dari ana.

Selanjutnya melalui forum yang mulia ini ana ingin menyatakan:

Satu, ana bertaubat kepada Allah Yang Maha Pengampun atas kesalahan-kesalahan ana dengan menyusun buku ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)”.

Dua, Ana memohon maaf kepada seluruh jajaran Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia, baik pengurus, anggota, atau simpatisannya, atas tersebarnya buku ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)” di atas, terutama atas kalimat-kalimat tidak adil yang termuat di dalamnya.

Tiga, secara terbuka ana cabut buku tersebut di atas, sebab resiko mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Ana menyatakan buku itu tidak sah lagi dan tidak boleh diedarkan atas nama siapa pun.

Empat, ana tetap mengakui adanya kelebihan dan kekurangan pada diri setiap muslim atau kelompok Islam. Namun hendaknya kita bersikap proporsional, yakni tidak memutlakkan kebaikan atasnya dan juga tidak memutlakkan keburukan baginya. Setiap muslim memiliki kelebihan-kekurangan tertentu. Kita harus bersikap adil sebab Allah mencintai orang orang-orang yang adil. (QS. AL-Maidah: 42, Al-Hujurat :9, A Mumtahanah.

Lima, ana nasehatkan kepada ikhwan-akhwat yang sedang belajar ilmu-ilmu keislaman agar berhati-hati dari sikap ekstrem (berlebih-lebihan) dalam segala wujudnya. Kalau diperngaruh-pengaruhi agar bersikap ekstrem, tinggalkan saja sebab doktrin semacam itu akibatnya cuma kerugian saja. Ingatlah selalu sabda Nabi saw dalam haditsnya, ”Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan pernah seseorang menyulit-nyulitkan perkara agama ini, melainkan ia akan dikalahkan.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra). Sekian pernyataan ana.

Pernyataan di atas ana sampaikan apa adanya, secara ikhlas, tidak ada paksaan atau tekanan. Buat sahabat-sahabat yang mendapatkan manfaat dari pernyataan ini, mohon doa antum semua agar Allah selalu membimbing ana (dan antum smua) buat menetapi jalan yang diridhai-Nya. Amin ya Rabbal ’alamin. Buat ikhwan-akhwat yang keberatan, tidak setuju, atau kecewa atas pernyataan ini, silakan antum mengirim ke [EMAIL PROTECTED] This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Ana akan usahakan menjawab surat-surat antum, yakni surat-surat yang layak dijawab. Siapa saja yang mau beri masukan, kritik, atau kecaman (mungkin), silakan juga menulis ke e-mail di atas.

Akhirnya ana berdoa kepada Allah, ”Ya Rabbana, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf:23).

Ya Rabbi, ana memohon ampunan dan rakhmat dari-Mu. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti sunnahnya akhir jaman. Aminya Rabbal ’alamin.

MyQuran, 5 Agustus 2006

Al faqir ila Rabbi

Anwar Shiddiq


Subhanallah, sebuah studi kasus yang wajib kita jadikan ibrah. Article ini bukan dimaksudkan untuk menjauhkan umat dari dakwah Salafi, tapi hanyalah sebuah warning buat kita semua untuk menjauhi siapapun tanpa terkecuali, apakah mereka seorang yang bermanhaj Salafi, IM, JT, HT, NU, Muhammadiyah whatever you say. Manhaj adalah sarana dan kita tidak berhak menilai seluruh dari jamaah manhaj tertentu memiliki karakter yang sama hanya dengan melihat satu figur tertentu yang berbuat salah. Selama apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah dan membumi dengan fitrah manusia tentunya, maka wajiblah untuk kita perhatikan dengan arif dan bijak. Contohnya Salafi, ada yang Yamani, ada yang haroki, ada yang salafi Ihya’ ut Thuratsnya Abdurahman Abdul Khalik, ada salafi al-Sofwah dan al-Haramainnya Muhammad Khalaf dan Yazid Jawwas, ada salafi Muhammad Umar as-Sewed dan lain-lain. Pasti diantara mereka ada salafi yang paling salaf as-Shaleh. Begitu juga dengan salafinya kang Anto dan Abu Salma, entah mereka masuk yang mana. Apakah mimpi dapat bermajlis dengan kelompok yang sungguh-sungguh salaf as-Shaleh itu bisa menjadi kenyataan? Amin ya Rabb…

Yup! Article ini juga mengingatkan saya dengan sahabat tercinta saya Abu Qatadah Al-Depoki (baca latar belakang dengan judul Kronologis di blog saya ini), dia juga berubah menjadi seseorang yang berkarakter terbalik (negatif) dengan karakternya saat dia masih di IM. Tapi alhamdulillah, kini dia telah kembali dengan karakter positifnya, I don’t know, apakah dia masih bermanhaj Salafi dan mendapatka

Inilah Akar Konflik Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin

Rabu, 04 September 2013, 10:28 WIB

EPA/Khaled Elfiqi 
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/09/04/mskz9n-dampak-perang-timur-tengah
 
Demonstran Ikhwanul Muslimin menggelar aksi demonstrasi menentang penggulingan Presiden Muhammad Mursi di halaman Masjid Rabaa Al Adawiya, Kairo, Mesir.
Demonstran Ikhwanul Muslimin menggelar aksi demonstrasi menentang penggulingan Presiden Muhammad Mursi di halaman Masjid Rabaa Al Adawiya, Kairo, Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Agung Suprio*

Kerajaan Arab Saudi mendukung sikap pemerintahan sementara Mesir yang melakukan pembantaian terhadap para demonstran yang berasal dari Ikhwanul Muslimin (IM). Kata Raja Saudi, demonstran itu adalah teroris. Sedemikian parahnyakah hubungan antara kerajaan Saudi dan kelompok IM? 

Tulisan ini akan mengungkap akar konflik kerajaan Arab Saudi dengan kelompok IM.

Kerajaan Arab Saudi berdiri di bawah pengaruh paham wahabi yang diciptakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab.  Wahabi melarang praktik bid’ah kurafat, yaitu praktik ibadah yang tidak pernah tertulis dalam Alquran dan diajarkan oleh Nabi Muhammad, seperti mengeramatkan kuburan, memakai jimat, memohon dengan perantaraan orang yang sudah mati, dan yang sejenisnya.

Sebaliknya, mereka menganggap apa yang dipraktikkan oleh Nabi dan salafus saleh wajib diikuti sampai sekarang tanpa terkecuali. Misalnya, model celana ngatung (celana bahan yang longgar di atas mata kaki), memelihara jenggot, dan tidak boleh merapikannya betapa pun jenggot itu menganggu penampilan. Mereka menghakimi orang yang melakukan ibadah tetapi tidak sesuai dengan praktik ibadah nabi dengan sesat dan amalnya ditolak Allah.

Paham wahabi ini mulai berkembang di bawah Dinasti Suud (pendiri Kerajaan Saudi) dan meluas pengaruhnya di Timur Tengah. Pengaruh mereka semakin terasa di era modern pasca-oil boom yang terjadi pada 1980-an di mana negara-negara jazirah Arab yang mendapatkan pemasukan yang besar dari melambungnya harga minyak dunia mulai mempromosikan paham wahabi ke luar Timur Tengah termasuk Indonesia.

IM adalah organisasi yang didirikan Hasan al Banna di Mesir dengan genre Islam modernis. Al Banna terpengaruh oleh Rasyid Ridha yang membenci praktik bid’ah namun bersikap luwes terhadap pengamalan Quran dan Sunah, bahkan mampu memberi kritik terhadap praktik kekhilafahan pada masa Usman bin Affan yang dinilainya nepotis.

Ridha menghalalkan demokrasi. Baginya, sistem yang dapat menciptakan kontrol terhadap kekuasaan sesuai dengan Islam. Ridha banyak terinspirasi dari gurunya, Dekan Filsafat Universitas Al-Azhar Muhammad Abduh, yang jauh lebih liberal dan pemikirannya sering bermasalah dengan kebijakan Al-Azhar yang konservatif.

Dibanding wahabi, IM lebih liberal dalam pengertian memahami teks secara kontekstual dan mengakomodasi istilah-istilah Barat ke dalam terminologi Islam, seperti demokrasi, revolusi, dan demonstrasi. Wahabi mengharamkan dari segi semantik maupun praksis istilah-istilah Barat semata-mata karena tidak ada dalam teks dan tidak diajarkan oleh Nabi. Di negara-negara Timur Tengah yang dikuasai paham wahabi, seperti Arab Saudi dan Kuwait, tidak ada demokrasi dan pemilu. Sementara, negara-negara yang dikuasai IM, seperti Tunisia dan Mesir era Mursi, demokrasi dan pemilu diterapkan.

Dalam kekuasaan, wahabi menekankan pada ketundukan rakyat terhadap raja tanpa syarat. IM yang selalu oposan menciptakan karakter pemikiran yang progresif. Ditambah dengan asertifnya IM terhadap gagasan Barat maka pemikiran IM melawan kekuasaan dengan cara yang lazim digunakan di Barat. Tema-tema keadilan sosial dan revolusi yang menjadi tema kritik oposisi kelompok kiri di Barat menjadi tema umum dalam cakrawala pemikiran IM, terutama pada masa Gamal Abdul Naser pada 1950-an.

Puncaknya, pada 1964, seorang kader IM, Sayyid Qutb, menulis manifesto Ma’alim fi al-Tariq (petunjuk jalan) dari bilik penjara. Buku Qutb ini memiliki pengaruh yang luar biasa bagi gerakan Islam di seluruh dunia karena berhasil menciptakan dimensi baru tentang tauhid hakimiyah, yaitu negara yang wajib melaksanakan hukum Islam demi terciptanya keadilan sosial. Pemerintah Muslim yang abai terhadap kewajiban ini maka ia berada di luar akidah Islam dan berhak diperangi. Lawrence Wright (2011) mengatakan, buku Qutb itu sebanding pengaruhnya dengan buku Rousseau, Kontrak Sosial, dengan akibat yang sama berdarahnya. Presiden Anwar Sadat–-pendahulu Husni Mubarak--ditembak mati oleh kelompok sempalan IM yang terinspirasi pemikiran Qutb.

Awalnya, hubungan antara Kerajaan Saudi dan IM berlangsung harmonis. Kerajaan Saudi menampung beberapa pelarian IM dari Mesir, seperti Abdullah Azzam dan Muhammad Qutb (adik Sayyid Qutb) yang dipekerjakan sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz. Krisis hubungan wahabi-IM mulai terjadi sejak perang Afghanistan I, di mana umat berjihad di Afghanistan atas fatwa jihad dari Kerajaan Saudi.

Kelompok Islam radikal Mesir yang terpengaruh oleh Qutb menjadikan Afghanistan tempat pelarian dari kejaran pemerintah Mesir sekaligus menyebarluaskan manifesto Qutb, termasuk yang datang dari Arab Saudi seperti Usamah bin Ladin. Pada 1991, ketika Kerajaan Saudi membolehkan tentara Amerika dan Eropa menjadikan dataran Saudi sebagai tempat untuk membebaskan Kuwait dari Irak, kelompok bin Ladin melakukan demonstrasi.

Seorang wahabi konservatif seperti Bin Ladin tiba-tiba bersuara seperti Qutb. Krisis antara IM dan kerajaan Saudi ini mulai menemukan bentuknya setelah kerajaan meneliti bahwa sumber dari protes terhadap kerajaan adalah pemikiran IM. Tidak hanya Qutb, tetapi semua pemikir IM dianggap sesat bahkan termasuk figur-figur yang tidak ada kaitannya dengan IM seperti Ridha dan Abduh. Sejak itu hingga kini, Kerajaan Saudi dan IM bersimpang jalan.

Pada saat ini, IM lebih memilih ide-ide liberalisme seperti demokrasi dan hak asasi manusia sebagai agenda gerakan daripada revolusi sosial. Hal itu tampak pada buku karangan intelektual IM yang semakin moderat. Munir Al-Gadhban, aktivis IM di Suriah, misalnya, menulis tentang kritik terhadap para teroris yang salah dalam memahami maksud Qutb dalam karyanya Benarkah Ia Guru Para Teroris (2012). Yusuf Qoradhawi mencipta Fiqih Negara (2002) dan Fiqih Jihad (2009) di mana dua buku itu menolak cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan dan menerima negara sekuler.

Di samping itu, keikutsertaan IM dalam pemilu di Mesir membuktikan bahwa IM memang sudah berubah menjadi organisasi demokratik. Namun memang, persepsi Kerajaan Saudi terhadap IM belum berubah. Ditambah lagi dengan adanya kekhawatiran Kerajaan Saudi jika kemenangan IM di Mesir dapat menginspirasi kembali rakyat Saudi untuk melakukan perlawanan kepada kerajaan, tapi tentu saja bukan dengan retorika model Qutb melainkan melalui pemilu yang jujur dan adil. n

*Ketua Himpunan Mahasiswa dan Alumni Pascasarjana Ilmu Politik UI .
Redaktur : Heri Ruslan   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar