Minggu, 08 September 2013

AS NEGARA ADI DAYA YANG TERBIASA DI-PUJA DAN GLAMOUR MENGGAMBARKAN KEHEBATANNYA..??? NAMUN KINI MENGALAMI KELELAHAN..KARENA AMBISI ....BESAR....SEBAGAI POLISI DUNIA..DAN FAKTANYA.... SELALU DIPERBUDAK OLEH REZIM ZIONIST DAN ILLUMINATI...DAN DISANDERA DENGAN SUMPAH-SUMPAH...KESETIAANNYA...SEPERTI PARA PENDAHULUNYA...BUSH.DLL ....??... KONON SELURUH POLITISI AS..ADALAH PENDEKAR-PENDEKAR ILLUMINATI..??>> HANYA BEBERAPA PEMIMPIN SAJA YANG MENYADARI BAHWA BANGSA AMERIKA YANG BESAR DAN KONON SANGAT MENCINTAI KEMERDEKAAN DAN NEGARA AS ITU..YANG BISA... MENYADARI BAHWA MEREKA TELAH DI BODOHI OLEH PARA REZIM ROTCHSILD ...MELALUI BERBAGAI CARA..DAN TEKANAN POLITIK-DAN KEUANGAN..??>> DIANTARANYA YANG BENAR-BENAR SADAR ADALAH ABE LINCOLN-KENNEDY DLL..YANG BERAKHIR DENGAN TERBUNUHNYA MEREKA..?? BAHKAN KONON ADA JUGA YANG DI RACUN..??>> ENTAHLAH..SEJARAH TELAH MEMBERIKAN GAMBARAN...YANG SEMAKIN JELAS..??>> OBAMA SEBAGAI PRESIDEN..DARI KETURUNAN BANGSA AMERIKA..BERKULIT HITAM..YANG BEBERAPA DEKADE YANG LALU MASIH DIDISKRIMINASI... BAHKAN TOKOHNYA MARTIN LUTHER KING...TELAH DIBUNUH KARENA MEMPERJUANGKAN KESAMAAN HAK...SIPIL..??>> KONON DIZAMAN ITU.. RESTORAN-TOILET-DAN TEMPAT-TEMPAT UMUM.. MASIH DIBEDA-BEDAKAN...??>> NAMUN KENNEDY BERHASIL MEMBANGUN DAN MEWUJUDKAN GERAKAN PERSAMAAN HAK..DAN JUGA..ADA KEBIJAKAN INGIN TERBEBAS DARI TEKANAN ILLUMINATI-ZIONIST..TERHADAP PEMERINTAHAN DAN BANGSA AMERIKA..??>> SAYANGNYA...BELIAU BERNASIB SAMA DENGAN ABE LINCOLN.....DENGAN PEMBUNUHAN BERENCANA...YANG HINGGA KINI TIDAK TERUNGKAP SECARA TUNTAS..>>> MALAHAN KONON ADIKNYA ROBERT KENNEDY SEBAGAI CAPRES AS..JUGA DIBUNUH DENGAN DITEMBAK SELAGI KAMPANYE..??>> ZAMAN OBAMA..KINI AMERIKA DIJERUMUSKAN KEDALAM....PERANG SIPIL DI SURIAH.....YANG KONON BAKAL MEMICU PERANG BESAR...??>> JUGA SEBELUMNYA..ADALAH PERANG IRAK DAN AFGHANISTAN..YANG HINGGA KINI MASIH TERUS BERKOBAR...??>> ..... MEDAN SURIAH JADI AJANG ADU PENGARUH DAN AMBISI...PERANG DAN BIZ-PERANG DAN PEREBUTAN ZONA KEKAYAAN ALAM..GLOBAL...YANG SANGAT STRATEGIS..???..MENGAPA PEMIMPIN NEGARA BESAR SERING BERDUSTA...BAHWA G20 ADALAH UNTUK MEMBAHAS EKONOMI DUNIA.(YANG KINI SEDANG SANGAT MORAT-MARIT).....TETAPI YANG DIPROMOSIKAN KOK... MALAHAN KEINGINAN AS UNTUK INVASI KE SURIAH....????>>....APAKAH OBAMA-DKK SUDAH TAK MEMILIKI ...NURANI DAN KEWARASAN...ALIAS TAK MEMILIKI AKAL SEHAT..KARENA TEKANAN..DAN AMBISI.....KESERAKAHAN..IMPERIALISTIK.....PARA ZIONIST DAN REZIM..IMPERIUM... ILLUMINATI..??>>.. "Apakah saya harus takut pada orang kurus itu?" Saya bergulat melawan beruang-beruang!"...Demikian kata Presiden Rusia Vladimir Putin menyindir Presiden Amerika Barack Obama dalam acara konperensi pers bersama di akhir pertemuan puncak negara-negara maju G-20 di St. Petersburg, Rusia, Jumat kemarin (6/9). ..>>> ......sebagai tanggapan atas kecaman bernada kasar yang disampaikan Obama terhadap Putin sehubungan dengan konflik Syria di mana Amerika dan Rusia berada pada dua kubu yang saling bermusuhan....??? >>> .....sebutan yang diberikan Obama kepada Putin, yaitu jackass alias "bodoh"....>> ......“Semua orang disini menganggap Anda sebagai seorang jackass," kata Obama dalam konperensi pers tersebut, menunjuk pada Putin yang berdiri di sebelahnya...>>> ....... Putin yang terkesima, para awak media pun berdiri mematung mendengar perkataan bernada kasar yang disampaikan dalam keterangan pers yang berlangsung selama 10 menit tersebut. Putin yang bertindak sebagai tuan rumah hanya menyipitkan matanya mendengar ocehan Obama tersebut...>> ..... Rusia baru saja mensahkan UU anti-homoseksual yang di negara-negara barat justru berkebalikan, memberikan perlindungan kebebasan kepada para homoseksual, termasuk hak menikah sesama jenis. Sementara Pussy Riot adalah sekelompok wanita anarkis yang misinya menghancurkan nilai-nilai tradisional Rusia, terutama terkait dengan masalah agama di mana Rusia secara tradisi termasuk negara yang konservatif dengan mayoritas rakyatnya adalah pengikut Katholik yang ta'at. Beberapa aksi kontroversi Pussy Riot adalah melecehkan gereja-gereja dan mengadakan "pertunjukan seni" seks di dalam museum. Akibat aksi-aksinya tersebut beberapa personil Pussy Riot harus menjalani hukuman penjara...>>> ...... Snowden dan Syria. Bagaimana dengan Pussy Riot?..>> ......Pertemuan puncak negara-negara G-20 yang berlangsung di St. Petersberg menjadi kesempatan bagi Presiden Barack Obama untuk meraih dukungan politik internasional. Namun sayangnya upaya itu gagal karena, selain Rusia, sebagian besar negara-negara peserta pertemuan menolak solusi militer. Negara-negara penolak aksi militer adalah Rusia, China, India, Indonesia, Argentina, Brazil, Italia, Jerman dan Afrika Selatan. Presiden Obama hanya mendapat dukungan dari Kanada, Perancis, Saudi Arabia, dan Turki. Namun demikian penasihat keamanan Obama, Susan Rice, mengklaim Obama didukung oleh Australia, Inggris, Italia, Jepang, Spanyol, dan Korsel...dan tentu Israel...>>> ...The US and France will seek to win international support for military action against Syria at this week’s G20 summit, in the face of opposition from China and Russia. This is where some of the key G20 members currently stand on the issue. ..>> ...... "Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?" (George Galloway, anggota parlemen Inggris)...>>>

Perang Suriah dan Nalar Kemanusiaan

Dina Y. Sulaeman*
http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/09/perang-suriah-dan-nalar-kemanusiaan.html#.Ui1hvH-N6So
 
"Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?"(George Galloway, anggota parlemen Inggris)


Common sense alias akal sehat adalah frasa yang diulang-ulang oleh beberapa tokoh dunia dalam menyikapi serangan senjata kimia di Suriah yang terjadi di Ghouta, pinggiran Damaskus, tanggal 21 Agustus lalu. Vladimir Putin, Presiden Rusia, di Vladivostock(30/8) mengatakan, "Kita harus bersandar pada akal sehat. Tentara Suriah sedang dalam posisi ofensif dan tengah mengepung para pemberontak di beberapa wilayah. Dalam kondisi seperti ini, amat konyol bila menyerahkan kartu truf kepada mereka yang selama ini selalu menyerukan intervensi militer asing, apalagi dilakukan tepat ketika datangnya misi inspeksi PBB."

Tentu saja, Assad pun mengatakan hal senada, "Adakah negara yang menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah massal di sebuah tempat dimana pasukannya sendiri terkonsentrasi disana? Hal ini jelas bertentangan dengan akal sehat!"

George Galloway, dengan berapi-api mengingatkan anggota Parlemen Inggris agar menggunakan logikanya, "Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?"

Ya, pada tahun 2002, Bashar Assad dan istrinya, Asma, melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris. Selain bertemu dengan Ratu Elizabeth, Blair pun menjamunya makan siang. Bahkan, baru-baru ini, media Inggris mengungkap bahwa Blair pun saat itu mengupayakan agar Assad diberi gelar ksatria kehormatan oleh Ratu. Namun hal ini batal dilakukan. Agaknya karena Assad tetap menolak menghentikan konfrontasinya dengan Israel. Bahkan dalam jumpa pers bersama Blair, Assad dengan tegas menolak tuduhan bahwa pihaknya melindungi organisasi teroris. Menurutnya, kantor Hamas dan Jihad Islam yang berada di Damaskus adalah "kantor juru bicara rakyat Palestina", bukan kantor teroris.

Ketika akhirnya Parlemen Inggris menolak keinginan PM Cameron untuk bergabung dengan AS menyerang Suriah, Putin berkomentar, "Ini tidak disangka-sangka, tapi menunjukkan akal sehat."

Ya, akal sehat. Nalar. Inilah yang agaknya sulit ditemukan dalam analisis konflik Suriah yang disampaikan oleh pihak-pihak pro-pemberontak. Tanpa menunggu bukti penyelidikan dari PBB, Obama dan rekannya Cameron bersuara keras menuduh Assad sebagai pelakunya. Dari Israel, hanya beberapa jam setelah kejadian, Menteri Perang Israel, Moshe Yaalon, mengklaim bahwa pihaknya sudah mengetahui siapa pelaku serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan rakyat sipil itu. Tak lain, tentara Assad, kata Yaalon. Dan seperti biasa, media massa mainstream, yang (anehnya) bekerja sama dengan media-media berlabel Islam, dengan segera menyebarluaskan foto-foto dan video korban senjata kimia, yang memicu keprihatinan luas publik dunia.

Seperti biasa pula, para facebooker dan blogger –lah yang segera berjuang melawan hegemoni media "mainstream" dengan cara memberikan pengimbangan berita. Dengan cepat mereka menyebarluaskan ‘penemuan' mereka. Ternyata, foto korban senjata kimia Suriah yang disebarluaskan oleh Al Jazeera dan Reuters sudah diunggah sehari sebelum kejadian. Bahkan mereka menemukan video yang memperlihatkan beberapa aktor sedang berakting terkena gas kimia. Juga, mereka mendeteksi keanehan video yang disebarluaskan, antara lain, bila dalam rekaman tersebut benar korban gas sarin, mengapa tim penolong yang datang tidak mengenakan masker? (Gas sarin sangat mudah menyebar dari tubuh-tubuh yang terkena, termasuk yang sudah menjadi mayat; blogger)


Lambat laun, media-media besar pun mulai memberitakan berbagai bukti kejanggalan serangan senjata kimia itu. Antara lain, koresponden Associated Press, Dale Gavlak (29/8) menulis laporan investigasinya yang mengungkap bahwa senjata kimia itu berada di tangan pasukan pemberontak yang meledak secara tak sengaja. Bahkan, senjata kimia itu disuplai oleh Pangeran Bandar bin Sultan, Direktur Badan Intelijen Arab Saudi, untuk kelompok pemberontak Jabhah Al Nusrah yang merupakan sayap Al Qaida. Sekelompok pemberontak di Ghouta menangani senjata yang berupa tabung gas besar itu secara ceroboh dan akhirnya meledak. Dua belas pasukan pemberontak tewas bersama ratusan rakyat sipil lainnya.

Namun Obama, Cameron, Hollande, dan Erdogan mengabaikan semua kejanggalan ini dan berkeras mempertahankan narasi mereka: Assad adalah rezim bengis pengguna senjata kimia; dia harus digulingkan demi menyelamatkan rakyat Suriah. Tantangan Putin, "Mereka (Barat) menyatakan punya bukti(bahwa tentara Assad yang menggunakan senjata kimia);mereka harus menunjukkan bukti itu. Bila mereka tidak bisa menunjukkannya, artinya mereka memang tak punya bukti"dianggap angin lalu.

Untunglah, masyarakat di berbagai belahan dunia lebih banyak yang menggunakan akal sehatnya. Demo-demo antiperang Suriah digelar di berbagai negara, mulai dari AS, hingga Yordania. Di depan Gedung Putih, mereka membawa spanduk bertuliskan "War on Syria Built on a Lie". Demo-demo di Washington, Los Angeles , Chicago dan New York seolah membuktikan kebenaran jajak pendapat yang diselenggarakan Reuters, 60% rakyat AS menolak intervensi ke Suriah. Di Jerman, selain rakyatnya berdemo antiperang, Angela Merkel pun telah mengumumkan bahwa pihaknya tidak akan ikut mengirim pasukan ke Suriah.  London, Turki, Venezuela, Yunani, Yordan pun tak sepi dari demo antiperang Suriah. Tak kurang Vatikan pun menyuarakan penentangannya pada perang.

Di Indonesia, SBY telah secara tegas menolak intervensi militer dan menyerukan solusi politik. Para pemimpin G20 pun tidak berhasil dibujuk oleh Obama untuk mendukung intervensi militer. Sepertinya, sudah lebih banyak pihak yang menggunakan common sense-nya.

Namun sayangnya, sebagian aktivis muslim Indonesia pro-pemberontak Suriah masih saja menyebarluaskan narasi yang antinalar, misalnya: Syiah itu bukan Islam, karenanya sah-sah saja mujahidin bekerjasama dengan pasukan kafir untuk menumpas Assad, atau Mujahidin sebenarnya hampir menang di Suriah dan kemenangan ini sangatlah berbahaya bagi kepentingan Amerika, itulah sebabnya AS ingin menyerang Suriah, yaitu untuk membantu Assad dalam mengalahkan mujahidin. Pernyataan seperti ini tidak logis karena menggunakan asumsi yang ahistoris serta mengabaikan fakta di lapangan.

Lalu, bagaimana dengan kemungkinan intervensi AS di Suriah? Meski awalnya sesumbar akan segera menyerang Suriah, akhirnya  Obama menyerahkan keputusan kepada Kongres yang baru akan bersidang pekan depan. Semoga saja Kongres AS, dan Obama, mau menyerah di hadapan tekanan publik yang tengah menggunakan nalar kemanusiaannya. [IRIB Indonesia/PH]

*Peneliti Tamu di Global Future Institute, penulis, blogger, mahasiswa S3 Hubungan Internasional Unpad.

SUMBER: BLOG KAJIAN TIMUR TENGAH

Latest update: 06/09/2013 

- Barack Obama - Bashar al-Assad - diplomacy - G20 - Russia - Syria - Vladimir Putin

G20: Where the key players stand on Syria

 AFP 
http://www.france24.com/en/20130905-g20-where-key-players-stand-syria

The US and France will seek to win international support for military action against Syria at this week’s G20 summit, in the face of opposition from China and Russia. This is where some of the key G20 members currently stand on the issue.

By FRANCE 24 (text)
Russia - The most vocal opponent of strikes against Syria, Russian President Vladimir Putin has warned that any military action by the US or others without UN approval “cannot be qualified as anything other than aggression”. And with Russia consistently blocking any UN Security Council resolution, gaining UN approval for military strikes looks an impossibility.

China - China has joined Russia in blocking any attempts at a UN resolution for military action in Syria. It favours UN-led diplomatic efforts to resolve the conflict.

UK - Despite its parliament voting against military action, the country’s government is still in favour of strikes and would support any US-led armed intervention in Syria, though without taking part in military operations.

Germany - Angela Merkel has ruled out Germany joining any strikes against Syria and has called for a “united international response” to the crisis through the UN.

Italy - Italy is firmly opposed to military strikes without a UN resolution and has said it will not allow the US or others to use its military bases to carry out strikes against Damascus.

Turkey - Turkey has been one of the most vocal supporters of military action in Syria and Turkish Prime Minister Tayyip Erdogan has said that the country would take part in any international coalition against the Assad regime. Turkey’s proximity to Syria and regional influence make it a key US ally.

Saudi Arabia - The Saudis are another key regional supporter of military action and the country is part of a coalition of Gulf states active in backing Syrian rebels through supplying funds and arms.

India - Like China, India wants to see a diplomatic solution in Syria, with the Assad regime and the opposition being brought to the negotiating table.

Brazil - Brazilian Foreign Minister Luiz Alberto Figueiredo has said that the country will not consider military action without UN backing and that any strikes against Syria would be seen as a violation of international law unless the UN Security Council gives approval.

Australia - In the midst of a general election, the Australian government has said it will not take part in military action against Syria, but that it would “support” a response by others such as the US.

 

G20 members fail to heal rift over intervention in Syria

© AFP 
http://www.france24.com/en/20130906-g20-members-fail-heal-rift-over-syria?ns_mchannel=SEM&ns_source=Google&ns_campaign=France%2024%20RDM_Europe&ns_linkname=Russia%20-%20G20%20Summit_G20%20Obama&ns_fee=&gclid=CP3fxdTCvbkCFVB34god6TEA5w

Syria was the main topic of discussion during a dinner at the G20 summit in St Petersburg on Thursday. But with the forum going into its final day, there is no sign that world leaders are any closer to resolving their differences over the issue.

By Annette YOUNG (video)
FRANCE 24 (text)
The international community seems no closer in bridging deep divides over the conflict in Syria as the G20 summit in St Petersburg, Russia enters its final day Friday.

US President Barack Obama had arrived for the summit on Thursday with the hope of winning support for armed strikes against the regime of Syrian President Bashar-al Assad following his alleged use of chemical weapons.

The US, France and Turkey are currently the only G20 members to commit to using force in Syria. Russia and China strongly oppose military action, while a host of other countries remain concerned about supporting military strikes without a UN resolution.

The G20’s formal programme for the St Petersburg summit centres around the global economy, but as tensions over the Syrian conflict threatened to torpedo discussions on other issues, host Russian President Vladimir Putin made a last-minute announcement for participants to air their views over dinner on Thursday evening.

The leaders took turns over three hours to reiterate their positions on the issue in 10-minute speeches, a diplomatic source close to the talks told AFP.

Afterward, a Tweet by Italian Prime Minister Enrico Letta suggested the dinner had merely served to highlight the rift between the G20 members over Syria.

"The G20 has just now finished the dinner session at which the divisions about Syria were confirmed," he said.

First round to Putin as leaders voice concerns
Russia has led opposition to US-led military action against Syria over an alleged chemical attack on August 21 outside Damascus – which Washington says was perpetrated by the Assad regime – with Putin repeatedly blocking attempts at a UN resolution for military action.

And the first round of the summit seemed to go to the Russian president, with the European Union, China and the other emerging economies such as India and Brazil all warning of the dangers of military intervention in Syria without the approval of the UN Security Council.

FRANCE 24 on the ground in Damascus
 “Military action would have a negative impact on the global economy, especially on the oil price – it will cause a hike in the oil price,” Chinese Deputy Finance Minister Zhu Guangyao said.
United Nations Secretary-General Ban Ki-moon later told the leaders at the dinner that any military action must have the Security Council’s backing and pushed for the G20 members to arrive at a political solution to the Syria conflict as soon as possible.

“Let us remember: every day that we lose is a day when scores of innocent civilians die,” his office quoted him as saying. “There is no military solution.”

President Obama is now “looking increasingly isolated” as he attempts to push for military action against the Assad regime, said Annette Young, FRANCE 24’s correspondent in St Petersburg.

With Russia, China and others standing firm in their opposition to the US, there now seems to be very little chance of the G20 members reaching a consensus on the Syria issue, she said.

“As far as this summit is concerned we're not expecting any breakthroughs. Certainly the French advisers were telling us off the record last night that there’s no expectation of a deal.”

Russia ‘holding the UN hostage’
Meanwhile, as Obama struggled to make progress in St Petersburg, US Ambassador to the United Nations Samantha Power accused Russia of holding the UN Security Council "hostage" over the Syria chemical weapons crisis.

"Even in the wake of the flagrant shattering of the international norm against chemical weapons use, Russia continues to hold the council hostage and shirk its international responsibilities," Power told reporters in New York.
She suggested that with Russia’s refusal to budge on the issue, the US had now given up hope of gaining UN backing for military strikes.
"We have seen nothing in President Putin's comments that suggest that there is an available path forward at the Security Council," the US envoy said.

The US Congress is expected to vote on whether or not to authorise US military action against Damascus when lawmakers return from their annual summer recess next week.
(FRANCE 24 with wires)

BILA OBAMA - PUTIN SALING EJEK

(DUKUNGAN PUBLIK UNTUK RENCANA SERANGAN SYRIA YANG RENDAH)
http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/09/bila-obama-putin-saling-ejek_7.html#more

"Apakah saya harus takut pada orang kurus itu?"

Demikian kata Presiden Rusia Vladimir Putin menyindir Presiden Amerika Barack Obama dalam acara konperensi pers bersama di akhir pertemuan puncak negara-negara maju G-20 di St. Petersburg, Rusia, Jumat kemarin (6/9).

Perkataan Putin tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas kecaman bernada kasar yang disampaikan Obama terhadap Putin sehubungan dengan konflik Syria di mana Amerika dan Rusia berada pada dua kubu yang saling bermusuhan. Di antara kecaman tersebut adalah sebutan yang diberikan Obama kepada Putin, yaitu jackass alias "bodoh".

“Semua orang disini menganggap Anda sebagai seorang jackass," kata Obama dalam konperensi pers tersebut, menunjuk pada Putin yang berdiri di sebelahnya.

Tidak hanya Putin yang terkesima, para awak media pun berdiri mematung mendengar perkataan bernada kasar yang disampaikan dalam keterangan pers yang berlangsung selama 10 menit tersebut. Putin yang bertindak sebagai tuan rumah hanya menyipitkan matanya mendengar ocehan Obama tersebut.

Tidak hanya tentang Syria, atau kasus mata-mata Amerika Snowden yang membelot ke Rusia, Obama juga mengejek Putin dengan kebijakan-kebijakan internal Rusia.

“Perhatikan, saya tidak hanya berbicara tentang Snowden dan Syria. Bagaimana dengan Pussy Riot? Bagaimana dengan undang-undang anti-homoseksual? Tindakan-tindakan yang bodoh, kawan!"

Sebagaimana diketahui, Rusia baru saja mensahkan UU anti-homoseksual yang di negara-negara barat justru berkebalikan, memberikan perlindungan kebebasan kepada para homoseksual, termasuk hak menikah sesama jenis. Sementara Pussy Riot adalah sekelompok wanita anarkis yang misinya menghancurkan nilai-nilai tradisional Rusia, terutama terkait dengan masalah agama di mana Rusia secara tradisi termasuk negara yang konservatif dengan mayoritas rakyatnya adalah pengikut Katholik yang ta'at. Beberapa aksi kontroversi Pussy Riot adalah melecehkan gereja-gereja dan mengadakan "pertunjukan seni" seks di dalam museum. Akibat aksi-aksinya tersebut beberapa personil Pussy Riot harus menjalani hukuman penjara.

“Jika Anda berfikir hanya saya yang berfikir demikian, Anda bergurau," kata Obama sembari menunjukkan jarinya ke arah Putin.

"Tanyakan pada Angela Merkel. Tanyakan pada David Cameron. Tanyakan pada orang Turki itu (Erdogan). Mereka semua berfikir bahwa Anda adalah orang bodoh (menggunakna istilah "dick", alat kelamin laki-laki)!"

Tidak lama setelah Obama mengakhiri pernyataannya dan meninggalkan podium, Putin pun memberi komentarnya.

"Apakah saya harus takut pada orang kurus itu? Saya bergulat melawan beruang-beruang!"

Dalam berbagai kesempatan, Putin, mantan perwira dinas inteligen Uni Sovyet KGB yang dianggap lebih "elit" daripada satuan komando militer, sengaja menampilkan dirinya sebagai seorang pria "jantan". Ia pernah berfoto bertelanjang dada menunjukkan otot-otot kekarnya, bertanding karate, atau berburu harimau Siberia. Sebaliknya Obama pernah menjadi pergunjingan nasional karena tubuhnya yang dianggap terlalu kurus.


DITOLAK G-20

Pertemuan puncak negara-negara G-20 yang berlangsung di St. Petersberg menjadi kesempatan bagi Presiden Barack Obama untuk meraih dukungan politik internasional. Namun sayangnya upaya itu gagal karena, selain Rusia, sebagian besar negara-negara peserta pertemuan menolak solusi militer. Negara-negara penolak aksi militer adalah Rusia, China, India, Indonesia, Argentina, Brazil, Italia, Jerman dan Afrika Selatan. Presiden Obama hanya mendapat dukungan dari Kanada, Perancis, Saudi Arabia, dan Turki.

Namun demikian penasihat keamanan Obama, Susan Rice, mengklaim Obama didukung oleh Australia, Inggris, Italia, Jepang, Spanyol, dan Korsel.


Kegagalan meraih dukungan internasional itu diperkirakan akan membuat Obama kesulitan untuk meyakinkan Congress untuk menyetujui rencana serangan militer atas Syria.

Obama sendiri mengakui bahwa upayanya untuk meraih dukungan akan mengalami kesulitan berdasarkan jajak pendapat publik yang menunjukkan rendahnya dukungan publik atas rencananya menyerang Syria. Obama akan menyampkaian pidato mengenai rencana tersebut di hadapan Congress hari Selasa (10/9), sebelum dilakukan pemungutan suara.

Menurut prediksi Think Progress, sebuah blog milik kelompok neo-konservatif yang berpengaruh, mayoritas anggota Congress cenderung untuk menolak rencana serangan tersebut.



DUKUNGAN PUBLIK YANG RENDAH

Rakyat Inggris melalui wakil-wakilnya di parlemen telah menyatakan penolakannya terhadap rencana serangan militer atas Syria yang tengah dikampanyekan pemerintah Amerika. Rakyat Perancis, sebagaiman jajak pendapat media berpengaruh La Firago juga menolak rencana tersebut. Demikian juga halnya dengan rakyat Amerika yang menolak rencana tersebut.

Menurut jajak pendapat yang diorganisir lembaga pemeringkat Gallup, mayoritas penduduk Amerika (51%) menolak rencana serangan militer ke Syria, sementara yang mendukung hanya 36%. Sebanyak 13% sisanya tidak berpendapat.

Angka itu masih lebih tinggi dibandingkan hasil jajak pendapat yang diorganisir oleh media The Washington Post dan ABC News yang menunjukkan sebanyak 60% penduduk Amerika menolak aksi serangan militer. Ini adalah dukungan publik paling rendah atas semua aksi militer yang dilakukan Amerika.

REF:
"G20 Ends Abruptly as Obama Calls Putin a Jackass"; newyorker.com; 6 September 2013;
"Gallup poll: Americans' support for war lowest in 20 years"; Press TV; 7 September 2013
"Obama fails to rally international support for his war plans"; Press TV; 7 September 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar