Senin, 23 Mei 2011

Raphael, warga AS keturunan Amerika Latin ini, adalah seorang pemimpin kelompok keagamaan Saksi Yehova sebelum akhirnya ia mengubah keyakinannya pada Alkitab ke Al-Quran setelah berkunjung ke sebuah masjid.>>Lelaki kelahiran Texas yang berprofesi sebagai dosen dan suka melawak ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 1 November 1991. Sebagai mantan pemimpin jamaah gereja Saksi Yehovah, tak sulit bagi Raphael untuk mendakwahkan Islam, begitu ia menjadi seorang muslim. Lalu bagaimana ceritanya sampai Raphel mengenal Islam dan akhirnya memutuskan masuk Islam?>>saya akui, Islam telah membuka jalan pada saya terhadap sebuah kehidupan manusia yang lebih maju dan rasa persaudaraan yang sejati. Meski realitanya sekarang, kehidupan umat Islam terlihat sangat jauh dari ideal seperti yang terdapat dalam ajaran Islam," tukas Weiss.>>> "Bukan bagian tertentu saja dalam Islam yang membuat saya tertarik pada agama ini. Tapi keseluruhan ajaran moral dan petunjuk kehidupan sehari-hari, yang menurut saya mengagumkan dan mudah diaplikasikan, yang membuat saya tertarik pada Islam ... Buat saya, Islam terlihat seperti sebuah karya arsitektur yang sempurna. Semua bagiannya sangat harmonis dan saling mendukung satu dengan lainnya," jelas Weiss.>>Ia memutuskan masuk Islam pada usia 49 tahun, setelah lebih dari 30 tahun melakukan riset dan menjalani berbagai pengalaman hidup. Tahun 1997, warga Amerika keturunan Yahudi yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis ini, mengucapkan dua kalimat syahadat dan menggunakan nama islami Suleyman Ahmad. Hingga sekarang, ia dikenal dengan nama itu.>> Ia lahir dari keluarga Yahudi, tapi kedua orang tuanya memeluk agama yang berbeda. Ayahnya memeluk agama Yahudi dan pernah belajar di sekolah Yeshiva, sekolah agama Yahudi untuk anak-anak muda. Sedangkan ibu Ahmad, penganut Protestan yang taat. "Ibu saya rajin membaca Alkitab dan sangat paham dengan isi Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru," ujar Ahmad.>> Meski penganut Yudaisme, tambah Ahmad, kedua orang tuanya bukan seorang Zionis. Ahmad sendiri mengaku sedih melihat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya konflik Israel-Palestina. "Saya selalu merindukan terciptanya keadilan dan persahabatan antara orang-orang Israel dan Arab," tukasnya.>>Saya terkesan dengan nilai-nilai yang ditunjukkan komunitas Muslim dan Amerika dan kekuatan moral yang ditunjukkan Muslim Balkan. Hari ini, saya harus mengatakan, agak sedih melihat umat terpecah belah dan saling berseteru satu dengan lainnya. Saya juga prihatin kegagalan umat Islam untuk melakukan sesuatu yang lebih besar bagi para korban imperialisme Kristen Ortodoks di Balkan," ujar Ahmad mengungkapkan keprihatinannya. "Tapi Islam telah membawa keindahan dan kedamaian pada hidup saya. Seperti yang sering saya katakan pada banyak orang, sisa hidup saya akan saya dedikasikan untuk beribadah pada Allah dan saya pribadi berjanji akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu membangun kembali masjid-masjid di Bosnia dan Kosovo," tandas Ahmad. >>Dr. Ali Selman Benoit, "Islam, Satu-Satunya Agama untuk Umat Manusia">>"Saya sangat bahagia dengan agama baru saya. Buat saya, Islam adalah satu-satunya agama yang sesuai dengan kehidupan umat manusia, dan sekali lagi saya tegaskan bahwa 'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah'" tandasnya>> Pada umumnya bagi muslim yang sebelumnya bukan penganut muslim, akan sangatlah terasa keindahan dan kesempurnaan agama Islam itu berdasarkan pengalaman dan keyakinan mereka sebelumnya>>> Maka tidaklah heran sikap politisi dan pemimpin agama non muslim di Eropa yang selama ini mereka hidupnya dan kedudukannya selalu mengandalkan dukungan kresten atau yahudi, merasa sangat khawatir tentang masa depan mereka dengan perkembangan muslim di Eropa dan AS>> Namun Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi umat Islam dan agama Islam>>> Insya Allah Islam akan jaya dan menang dimanapun berada...Amin...>>>

"Salat Jumat itu Mengusik Intelektualitas, Jiwa dan Hati Saya"

Senin, 23/05/2011 18:26 WIB | email | print
http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/salat-jumat-itu-mengusik-intelektualitas-jiwa-dan-hati-saya.htm
Raphael, warga AS keturunan Amerika Latin ini, adalah seorang pemimpin kelompok keagamaan Saksi Yehova sebelum akhirnya ia mengubah keyakinannya pada Alkitab ke Al-Quran setelah berkunjung ke sebuah masjid.
Lelaki kelahiran Texas yang berprofesi sebagai dosen dan suka melawak ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 1 November 1991. Sebagai mantan pemimpin jamaah gereja Saksi Yehovah, tak sulit bagi Raphael untuk mendakwahkan Islam, begitu ia menjadi seorang muslim. Lalu bagaimana ceritanya sampai Raphel mengenal Islam dan akhirnya memutuskan masuk Islam?
Sejak usia muda, 20 tahun, Raphael sudah dipercaya untuk memimpin sebuah jamaah Saksi Yehova. Ia mengatakan, gereka Saksi Yehova memiliki sistem kaderisasi berupa program pelatihan yang sangat canggih, dengan memberlakukan sistem kuota. Seorang kader pemimpin Saksi Yehova harus mengabdikan dirinya, dengan cara menyediakan waktu 10 sampai 12 jam setiap bulannya, untuk melakukan khutbah dari rumah ke rumah.
"Sistem kerjanya seperti manajemen penjualan. Manajemen penjualan di IBM saja mungkin kalah dengan para kader Saksi Yehova yang dilatih menjadi pemimpin kelompok," kata Raphael memberikan gambaran canggihnya sistem pelatihan kader di Saksi Yehova.
"Maka, ketika saya sudah menjadi seorang kader pelopor, saya mengabdikan hampir seluruh waktu saya berkunjung dari pintu ke pintu. Saya diwajibkan melakukan khutbah selama 100 jam per bulan, dan harus mempelajari tujuh versi Alkitab," sambung Raphael.
Tapi lama kelamaan, Raphael merasakan ada kejanggalan dalam ajaran Saksi Yehova, termasuk konsep sistem kuota. Sepertinya, jika seseorang berhasil memenuhi kuota yang ditetapkan untuk menyebarkan ajaran Saksi Yehova, maka Tuhan akan mencintai orang itu. "Jika Anda tidak bisa memenuhi kuota di bulan-bulan berikutnya, Tuhan tidak akan mencintamu. Hal ini sungguh tidak masuk akal. Bagaimana bisa. di bulan ini Tuhan mencintai saya dan di bulan lain Tuhan bisa tidak mencintai saya hanya karena tidak memenuhi kuota yang ditetapkan," papar Rapahel.
Hal lain yang menurutnya tidak masuk akal adalah, keyakinan ajaran saksi Yehova bahwa merelah satu-satunya umat yang akan diselamatkan oleh tata baru dunia yang ditetapkan Tuhan. Mereka yang bukan penganut Saksi Yehova, tidak akan selamat.
"Saya berpikir, Bunda Theresa bukan seorang penganut Saksi Yehova, tapi ia menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang diajarkan Yesus, melakukan kebaikan; mulai dari menjaga orang-orang jompo, merawat orang sakit dan anak-anak yatim piatu. Tapi apakah Tuhan tidak akan menyayanginya hanya karena ia seorang Katolik, agama yang dianggap musuh oleh jamaah Saksi Yehova?" tanya Raphael heran.
Masih banyak lagi hal-hal yang ia lihat dan ia dengar, yang membuatnya justru jadi mempertanyakan ajaran Saksi Yehova yang sedang disebarluaskannya. Secara spiritual, Raphael mengaku ia tidak lagi merasa nyaman. Tahun 1979, Raphael memutuskan untuk keluar dari jamaah Saksi Yehovah, sambil menggerutu karena baru saat itu ia sadar bahwa selama ini ia telah banyak membuang waktunya dengan mengabdikan diri pada gereja.
"Problemnya, saya tidak mengabdikan diri pada Tuhan. Tapi pada organisasi buatan manusia," tukas Raphael.
Lepas dari Saksi Yehova, ia bingung mau kemana. Ajaran Yehova mendoktrinnya untuk meyakini bahwa semua ajaran agama adalah salah, kecuali ajaran Saksi Yehova, bahwa menyembah berhala itu perbuatan buruk dan konsep Trinitas tidak berlaku.
"Saya seperti lelaki tanpa agama. Saya bukan seorang lelaki, tanpa keyakinan pada Tuhan. Tapi ketika itu saya tidak tahu harus pergi kemana," ujar Raphael.
Mengenal I-S-L-A-M
Tahun 1985, ia pindah ke Los Angeles dan mendatanagi gereka Katolik yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. Raphael ingin mencoba ajaran Katolik, tapi itu hanya bertahan selama dua sampai tiga bulan. Raphael kemudian menjalani kembali kehidupan tanpa agamanya, sembari bekerja dengan membintangi beberapa film dan menjadi bintang iklan.
Suatu hari di sebuah mall menjelang perayaan Natal, Raphel melihat seorang perempuan melintas di hadapannya. Ia mencoba menyapa perempuan itu dan ingin mengajak mengobrol, tapi ia tidak mendapat respon. Dari si perempuan itu pula Raphael tahu bahwa ia seorang muslimah dan tidak bisa sembarangan bicara dengan seorang lelaki, kecuali betul-betul ada keperluan khusus.
Kata "Muslim" benar-benar asing di telinga Raphael, ia pun meminta si muslimah tadi mengeja huruf-huruf dari kata Islam, agama orang Muslim. Ketika itu, yang Raphael tahu semua Muslim adalah teroris. Tapi Raphael terus bertanya pada muslimah tadi tentang bagaimana awal munculnya agama Islam. Si muslimah lalu menceritakan bahwa agama Islam diturunkan pada Nabi Muhammad Saw dan disebarkan oleh nabi terakhir pada umat manusia.
Setelah mendengar cerita tentang Islam dan Nabi Muhammad, Raphael mulai melakukan riset. Niatnya waktu itu cuma ingin mencari tahu, dan tidak punya keinginan untuk menjadi seorang muslim.
Meski tak menganut agama apapun, Raphel terus berdoa. Namun ia merasa doa-doanya tak dijawab Tuhan. Hingga suatu hari, saat membereskan laci meja pamannya yang akan pulang setelah dirawat di rumah sakit, Raphael menemukan Injil Gideon di dalam laci itu, dan ia merasa Tuhan menjawab doanya bahwa ia harus menjadi seorang penganut Kristen. Raphael pun berdoa lagi, meminta pada Tuhan agar ia bisa menjadi seorang Kristen. Bukan menjadi menjadi seorang penganut Saksi Yehova lagi, dan bukan penganut Katolik.
Suatu ketika, saat sedang membaca Kitab Perjanjian Lama, Raphael teringat perkataan muslimah yang ia jumpai di mall bahwa kaum Muslimin punya seorang nabi, Nabi Muhammad Saw. "Tapi mengapa nama Nabi itu tidak ada dalam kitab ini?" Raphael bertanya-tanya dalam hati.
Ia pun mulai memikirkan tentang kaum Muslimin, berapa jumlahnya di seluruh dunia? Raphel pun memutuskan untuk mulai membaca terjemahan Al-Quran. Ia lalu pergi ke sebuah toko buku bahasa Arab. Pada penjaga toko, Raphael mengatakan bahwa ia membeli Quran karena cuma ingin membaca isinya, bukan ingin menjadi orang Islam.
Sesampainya di rumah, Raphael mulai membaca Al-Quran, mulai dari Surat Al-Fatihah dan seterusnya, mata Raphael seolah tidak mau lepas dari Al-Quran yang dibacanya. Ia terkesima begitu mengetahui bahwa Al-Quran juga menceritakan tentang nabi-nabi lainnya yang Raphael kenal dalam ajaran Kristen, seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan lain-lain.
Ke Masjid
Setelah membaca Quran, Raphael berpikir, apa lagi yang akan ia lakukan selanjutnya? Ia lalu membuka buku halaman kuning, dan akhirnya menemukan apa yang ia cari, sebuah Islamic Center di Vermont, California Selatan. Setelah menelpon ke Islamic Center itu, pihak Islamic Center memintanya datang pada hari Jumat.
"Saya betul-betul grogi waktu itu. Saya berpikir bahwa saya akan pergi menemui seorang habib bersenjata AK-47," ungkap Raphael membayangkan "teroris muslim" yang kerap ia baca dan dengar dari media massa.
Akhirnya, ia sampai juga ke Islamic Center di Vermont. Saat datang, sedang berlangsung khutbah Jumat, kemudian Raphael melihat orang-orang di Islamic Center melaksanakan salat Jumat bersama.
"Sesuatu mulai merasuki intelektualitas saya, bahkan rasanya sampai ke otot, tulang, hati dan jiwa saya," tutur Raphael mengingat perasaannya saat itu.
Usai salat, beberapa jamaah menyapanya dengan ucapan "assalamualaikum" yang oleh Raphael seperti terdengar kata "Salt and Bacon". Raphael heran ketika banyak orang yang mengucapkan "Salt and Bacon" padanya dengan senyum, seolah orang-orang itu sudah mengenalnya.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Raphael pergi ke perpustakaan dan di sana ia bertemu dengan anak muda bernama Omar, asal Mesir. Omar bertanya, apakah ini pertama kalinya Raphael datang ke tempat itu. Raphael menjawab "Ya".
"Oh, selamat datang. Apakah kamu muslim?" tanya Omar.
"Bukan. Saya cuma pernah sedikit membaca tentang Muslim," jawab Raphael.
"Oh, apakah kamu sedang belajar? Ini pertama kalinya kamu berkunjung ke masjid?" tanya Omar lagi.
"Ya," jawab Raphael.
Ia lalu diajak berkeliling masjid oleh Omar, yang menggandeng tangannya. Seorang lelaki lain, kemudian bergabung dengan mereka. "Orang-orang Muslim sangat ramah dan bersahabat," kata Raphael dalam hati.
Raphael di ajak melihat tempat salat, diberitahu mengapa alas kaki harus dilepas saat masuk ke tempat salat, lalu ke tempat wudu. "Apa? Voodoo (ilmu sihir), saya tidak tahu apa-apa soal Voodoo," kata Raphael terperanjat mendengar kata "wudu" yang terdengar seperti kata "Voodoo" di telinganya.
"Bukan ... Bukan Voodoo, tapi Wudu!" kata Omar yang kemudian menjelaskan apa itu Wudu.
Selesailah acara kunjungan Raphael hari itu. Ia pamit pulang dan meminta pada pustakawan buklet tentang salat. Di rumah, Raphael mempelajari dan mempraktekan petunjuk salat di buklet itu.
Akhirnya, pada tanggal 1 November 1991, Raphael bertekad bulat untuk menjadi seorang muslim dan hari itu ia mengikrarkan dua kalimat syahadat. (In/IslamicBulletin
 

"Buat Saya, Islam Ibarat Sebuah Karya Arsitektur yang Sempurna"

Kamis, 19/05/2011 17:44 WIB | email | print
Leopold Weiss, wartawan, penulis buku dan negarawan asal Austria, lahir di Livow (kota di Austria yang kemudian menjadi bagian dari Polandia) pada tahun 1900. Pada usia 22 tahun, ia sudah melakukan perjalanan ke Timur Tengah.
Setelah masuk Islam, Weiss yang kemudian menggunakan nama Islami Muhammad Asad, bekerja dan mengunjungi banyak negeri Muslim, mulai dari Afrika Utara sampai ke Afghanistan. Selama bertahun-tahun mempelajari Islam, dan akhirnya lebih dikenal sebagai salah seorang cendikiawan Muslim terkemuka di dunia internasional.
Ketika berdirinya negara Pakistan dideklarasikan, Muhammad Asad ditunjuk sebagai direktur Departemen Rekonstruksi Islam di Punjab Barat, lalu menjadi perwakilan bergilir untuk negara Pakistan di PBB. Ia juga menulis dua buku yang terkenal, berjudul "Islam at the Crossroads" dan "Road to Mecca", menerbitkan jurnal bulanan "Arafat" dan menyelesaikan terjemahan Al-Quran.
Perjalanan panjang Asad menuju Islam berawal pada tahun 1922. Pekerjaannya sebagai wartawan dengan jabatan koresponden khusus untuk sebuah koran terkemuka di Austria, menyebabkan ia harus meninggalkan tanah airnya dan pergi ke Afrika serta beberapa negara di Asia. Bisa dibilang, sebagian besar hidupnya dihabiskan di negari-negeri Muslim dan ia mulai tertarik mengamati kehidupan masyarakat di negeri-negeri Muslim itu.
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri keteraturan dalam kehidupan sosial mereka, yang secara mendasar sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Eropa; sejak pertama sekali saya berada di sana (negeri-negeri Muslim), rasa simpati saya tumbuh melihat kehidupan yang lebih tenang--di Eropa, kalau saya bilang, kehidupan manusianya seperti mesin," ujar Weiss.
Rasa simpati itu pelan-pelan mendorongnya untuk mencari tahu mengapa perbedaan kehidupan itu bisa terjadi, dan ia mulai tertarik dengan ajaran religius masyarakat Muslim. Meski demikian, Weiss belum berkeinginan untuk mengetahui Islam lebih dalam.
"Tapi saya akui, Islam telah membuka jalan pada saya terhadap sebuah kehidupan manusia yang lebih maju dan rasa persaudaraan yang sejati. Meski realitanya sekarang, kehidupan umat Islam terlihat sangat jauh dari ideal seperti yang terdapat dalam ajaran Islam," tukas Weiss.
Ia menyayangkan sikap sebagian umat Islam yang malas dan stagnan, padahal Islam mengajarkan umatnya untuk dinamis dan bergerak maju.Weiss juga mengkritik kalangan umat Islam yang mengejewantahkan sikap murah hati dan kerelaan untuk berkorban, dengan cara pandang yang sempit dan cenderung mencari cara hidup yang mudah.
"Saya akhirnya mengetahui bahwa satu-satunya alasan mengapa kehidupan sosial dan budaya masyarakat Muslim banyak mengalami kerusakan, karena mereka tidak sungguh-sungguh menghayati ajaran Islam. Islam masih hidup di kalangan umat Islam, tapi seperti tubuh tanpa jiwa," ujar Weiss.
Weiss banyak berdiskusi tentang kemunduran umat Islam ini dengan komunitasMuslim dari berbagai negara, mulai dari Libya sampai Pamir, mulai dari kawasan Bosphorus sampai kawasan Laut Arabia.
Pada satu titik, Weiss mempertanyakan lagi keputusannya memeluk Islam, apa sebenarnya yang membuatnya tertarik pada Islam. "Saya harus mengakui, saya tidak punya jawaban memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan itu," kata Weiss.
"Bukan bagian tertentu saja dalam Islam yang membuat saya tertarik pada agama ini. Tapi keseluruhan ajaran moral dan petunjuk kehidupan sehari-hari, yang menurut saya mengagumkan dan mudah diaplikasikan, yang membuat saya tertarik pada Islam ... Buat saya, Islam terlihat seperti sebuah karya arsitektur yang sempurna. Semua bagiannya sangat harmonis dan saling mendukung satu dengan lainnya," jelas Weiss. (ln/TJCI)

Yahudi Amerika: "Saya Masuk Islam Bukan Karena Alasan Politik atau Kemanusiaan"

Kamis, 12/05/2011 16:41 WIB | email | print
http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/yahudi-amerika-saya-masuk-islam-bukan-karena-alasan-politik-atau-kemanusiaan.htm
Ia memutuskan masuk Islam pada usia 49 tahun, setelah lebih dari 30 tahun melakukan riset dan menjalani berbagai pengalaman hidup. Tahun 1997, warga Amerika keturunan Yahudi yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis ini, mengucapkan dua kalimat syahadat dan menggunakan nama islami Suleyman Ahmad. Hingga sekarang, ia dikenal dengan nama itu.
Ahmad mengatakan, keputusannya memeluk agama Islam, merefleksikan banyak hal yang pernah ia saksikan dalam alami sepanjang hidupnya. Ia lahir dari keluarga Yahudi, tapi kedua orang tuanya memeluk agama yang berbeda. Ayahnya memeluk agama Yahudi dan pernah belajar di sekolah Yeshiva, sekolah agama Yahudi untuk anak-anak muda. Sedangkan ibu Ahmad, penganut Protestan yang taat.
"Ibu saya rajin membaca Alkitab dan sangat paham dengan isi Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru," ujar Ahmad.
Situasi politik di tahun 1930-an membawa perubahan bagi kehidupan religius kedua orang tuanya. Ibu Ahmad menyatakan keluar dari agama Kristen sebagai bentuk protes terhadap apa yang dilakukan Nazi pada orang-orang Yahudi. Ibu Ahmad lalu beralih memeluk Yudaisme.
"Kedua orang saya hidup dalam kondisi paradoks yang tragis. Mereka cukup lama hidup dibawah pengaruh Partai Komunis, sementara mereka menjadi pemeluk Yudaisme karena kecewa dengan agama Kristen yang menurut mereka agama yang gagal," ungkap Ahmad.
Meski penganut Yudaisme, tambah Ahmad, kedua orang tuanya bukan seorang Zionis. Ahmad sendiri mengaku sedih melihat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya konflik Israel-Palestina. "Saya selalu merindukan terciptanya keadilan dan persahabatan antara orang-orang Israel dan Arab," tukasnya.
Ahmad mengaku sebagai orang kiri yang ekstrim dan radikal di masa mudanya. Ia percaya adanya Tuhan, tapi tidak pernah terlalu serius menanggapi masalah ketuhanan dalam hidupnya. Ketika ia mulai melakukan pencarian akan kehidupan spiritualnya, Ahmad tertarik pada ajaran Katolik. Namun ia tidak pernah menyatakan diri pindah dari Yudaisme ke agama Katolik.
"Saya sangat terkesan dengan literatur agama Katolik yang mistis. Saya mulai mengetahui bahwa dibalik pencapaian besar agama Katolik di Spanyol, ada sejarah Islam di sana. Agama Islam yang indah telah banyak memberikan inspirasi pada tradisi di Spanyol," tutur Ahmad.
Ia jadi sering bolak balik ke Spanyol, menelusuri sisa-sisa masyarakat Islam di semenanjung Iberian. Sebagai penulis, ia melakukan riset atas fenomena pengaruh budaya Islam terhadap tradisi Spanyol selama bertahun-tahun, ia juga mempelajari puisi-puisi karya seniman Spanyol yang membuktikan dalamnya pengaruh Islam pada karya-karya mereka.
Setelah sempat mempelajari Kabbalah--tradisi mistis masyarakat Yahudi--pada tahun 1979, Ahmad akhirnya tertarik pada ajaran Islam. Ia memutuskan untuk mempelajari Islam pada tahun 1990-an, ketika ia ditugaskan ke kawasan Balkan sebagai wartawan. Ia datang ke Sarajevo untuk melaporkan perang Bosnia ketika itu.
"Di Sarajevo, saya menemukan banyak hal yang mengagumkan. Saya seperti menemukan Eropa yang islami. Suasananya tidak membuat saya merasa sebagai turis. Di sini saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan warga Muslim dan para pemuka agama Islam ..."
"Saya menemukan banyak puisi dan musik-musik yang mengekspresikan nilai-nilai Islam yang penuh cinta dan kemuliaan. Saya menemukan sisa-sisa peradaban Islam dari zaman dinasti Ustmaniyah. Di Sarajevo, saya membaca Al-Quran dan monumen-monumen Islam," ungkap Ahmad.
Setelah perjalanan ke Sarajevo, tepatnya pada tahun 1997, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Sejak menjadi seorang muslim, Ahmad selalu dengan hati-hati memberitahu tentang keislamannya pada teman-temannya, tetangga atau rekan kerjanya. Ia tidak mau keislamannya menjadi kontroversi. Ia juga tidak mau orang berpikiran "ada sesuatu" dibalik keislamannya.
Sejak memeluk Islam, Ahmad mengaku tidak pernah mengalami hal-hal buruk terkait keislamannya. Beberapa orang di tempat kerjanya, ada yang terkejut setelah mengetahui ia sudah masuk Islam, tapi mereka tetap menghormatinya sebagai rekan kerja.
"Saya melihat beberapa orang menilai pengalaman saya bertugas di Balkan yang mempengaruhi saya masuk Islam. Saya ingin meluruskan bahwa saya masuk Islam bukan karena alasan politik atau karena masalah kemanusiaan, tapi karena meyakini bahwa pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. adalah bukti yang jelas dari apa yang diinginkan Allah dari umat manusia," tukas Ahmad.
Ia mengungkapkan, salah satu aspek dalam Islam yang sangat membuatnya terkesan adalah ketenangan batin karena konsep berserah diri atas semua kehendak Allah. Ia melihat konsep ini tercermin dalam sikap ikhlas, sederhana dan kerendahan hati Muslim Bosnia, meski mereka sedang mengalami situasi yang penuh dengan kekejaman dan kezaliman.
Namun Ahmad mengaku sedih melihat kondisi umat Islam saat ini, yang menurutnya sudah makin terpecah belah. "Sebelum saya memeluk Islam. Saya terkesan dengan nilai-nilai yang ditunjukkan komunitas Muslim dan Amerika dan kekuatan moral yang ditunjukkan Muslim Balkan. Hari ini, saya harus mengatakan, agak sedih melihat umat terpecah belah dan saling berseteru satu dengan lainnya. Saya juga prihatin kegagalan umat Islam untuk melakukan sesuatu yang lebih besar bagi para korban imperialisme Kristen Ortodoks di Balkan," ujar Ahmad mengungkapkan keprihatinannya.
"Tapi Islam telah membawa keindahan dan kedamaian pada hidup saya. Seperti yang sering saya katakan pada banyak orang, sisa hidup saya akan saya dedikasikan untuk beribadah pada Allah dan saya pribadi berjanji akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu membangun kembali masjid-masjid di Bosnia dan Kosovo," tandas Ahmad. (ln/TJCI)

Dr. Ali Selman Benoit, "Islam, Satu-Satunya Agama untuk Umat Manusia"

Senin, 09/05/2011 14:49 WIB | email | print
Dokter Ali Selman Benoit lahir dari keluarga penganut Katolik di Prancis. Sebelum mengenal Islam, ia sudah meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah, keyakinan yang kemudian ia ketahui sebagai kalimat La ilah illa 'Allah dan yang kemudian ia ketahui ada dalam kitab suci Al-Quran Surat Al-Ikhlas, ayat 1-4.
Tapi dogma dan ritual agama Kristen Katolik yang dianutnya saat itu, tidak membuatnya merasakan kehadiran Tuhan. Apalagi, ia kemudian memilih profesi sebagai dokter medis. Latar belakang pendidikan yang menuntutnya selalu berpikir ilmiah dan sikap skeptisnya terhadap ajaran Kristen, membuat Benoit sulit menerika konsep Trinitas dalam Kristen, dan sebagai konsekuensinya ia meragukan ketuhanan Yesus Kristus.
Benoit menyatakan, kita suci Al-Quran yang berperan penting dalam keislamannya. Ia mengaku mempelajari isi Al-Quran terlebih dulu sebelum memutuskan masuk Islam. Buku berjudul "Le Phenomene Coranique" karya Malik Bennabi yang banyak mempengaruhinya untuk lebih jauh mengenal Islam lewat Al-Quran.
"Saya berhutang banyak dari buku ini. Buku inilah yang berhasil meyakin saya tentang kebenaran isi Al-Quran. Al-Quran sudah ada sejak belasan abad yang lalu, dan isinya mengungkapkan banyak hal yang sama dengan apa yang diteliti oleh para ilmuwan di abad modern ini. Hal inilah yang meyakinkan saya pada Al-Quran dan pada kalimat kedua syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah," ujar Benoit menceritakan perihal keislamannya.
Selain itu, banyak hal lain yang membuat Benoit memutuskan untuk tunduk dan taat pada agama Islam. Ia menilai ajaran lebih bisa diterima oleh akal, dibandingkan ajaran Kristen pada umumnya, dan Katolik pada khususnya. Misalnya, sejak awal, Benoit menolak menerima klaim para pendeta Kristen bahwa tuhan Yesus akan menebus dosa-dosa manusia. Ia juga tidak percaya dengan komunion, ritual membagikan potongan roti dalam misa keagamaan, yang menurut Benoit lebih lebih mirip dengn praktek penyembahan berhala pada masa masyarakat primitif.
"Itulah alasan saya memilih Islam. Tanggal 20 Februari 1953, di sebuah masjid di Paris, saya mendeklarasikan diri saya masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Seorang Mufti di masjid itu mendata saya sebagai seorang muslim dan memberi nama tambahan 'Ali Selman'" tutur Ali Selman Benoit.
"Saya sangat bahagia dengan agama baru saya. Buat saya, Islam adalah satu-satunya agama yang sesuai dengan kehidupan umat manusia, dan sekali lagi saya tegaskan bahwa 'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah'" tandasnya. (ln/DI)


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar