Senin, 23 Mei 2011

PM Italia: "Milan Tidak Boleh Jadi Kota Islami". Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menuding kelompok partai oposisi di negeri itu menjadikan Milan sebagai "Kota Islam" yang akan dikuasai oleh orang-orang asing dan Roma.>>Morrati adalah tokoh Partai Kebebasan Rakyat yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan Italia dan salah satu tokoh yang menolak pembangunan masjid di Milan. "Keberadaan masjid di kota yang menjadi pusat keuangan Italia, akan menarik perhatian komunitas-komunitas Islam dari seluruh Italia, mereka nantinya akan sulit dikontrol," begitu alasan Morrati. Pisapia mengkritik pernyataan itu, dan mengatakan bahwa Milan juga harus memberikan pelayanan pada komunitas Muslim yang sampai sekarang masih harus salat di tempat-tempat "informal" seperti sekolah-sekolah dan garasi.>>>Politisi Eropa itu selalu membutuhkan dana2 kampanye dan juga dalam rangka menjaga konsituen pendukung mereka....Dan biasanya didukung oleh pengusah2 yang nota bene dikuasai par pemodal Yahudi>>> Sesungguhnya haruslah dibedakan antara masyarakat yahudi dan umat Islam Eropa....>>> Yahudi adalah kelompok agama dan juga suku bangsa..yang tidak bercampur baur. Sedangkan muslin dan Islam bukan saja dipeluk oleh kelompok bangsa Asia tetapi juga oleh bangsa Eropa>>> Maka dari itu sesungguhnya sangatlah fundemental bagi bangsa Eropa... untuk mengakui Islam dan muslim secara adil... Karena sangat berbeda dalam konsep kehadiran dan juga existensinya...antara Yahudi dan Muslim...>>> Insya Allah dengan pertolongan Allah SWT Islam akan jaya dan menang dimanapun berada...Karena Islam adalah Kebenaran dan penuh akal budi dan akhlak yang diajarkan Allah melalui Rasulullah SAW....Amin..


PM Italia: "Milan Tidak Boleh Jadi Kota Islami"

Selasa, 24/05/2011 11:59 WIB | email | print
Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menuding kelompok partai oposisi di negeri itu menjadikan Milan sebagai "Kota Islam" yang akan dikuasai oleh orang-orang asing dan Roma.
Pernyataan Berlusconi itu makin mempertajam persaingan antara Partai Kebebasan Rakyat--partainya Berlusconi dan kelompok partai oposisi, untuk memenangkan kandidatnya masing-masing dalam pemilihan walikota Milan yang akan berlangsung pekan depan.
Berlusconi menyebut kandidat dari partai oposisi, Giuliano Pisapia sebagai "orang kiri ekstrim", dan ia menyerukan warga Milan untuk memilih kembali kandidat dari partainya, Letizia Moratti sebagai walikota Milan.
"Milan ... tidak bisa menjadi--pada malam perayaan Expo 2015--menjadi sebuah kota islami, kota kaum gipsi, penuh dengan tenda-tenda orang Roma dan dikepung oleh orang-orang asing, yang oleh kelompok kiri ingin diberi hak suara," kata Berlusconi pada Senin (23/5.
Ia yakin kandidat dari partainya akan memenangkan pemilihan walikota Milan. "Pemilu lokal adalah uji coba atas popularitas pemerintahannya, dua tahun sebelum mandatnya berakhir," kata Berlusconi.
Tapi dalam putaran pertama pemilu lokal pekan kemarin di Milan, Pisapia--seorang mantan komunis--secara mengejutkan, berhasil mendapatkan perolehan suara lebih besar (48 persen) dibandingkan Morrati (42 persen).
Morrati adalah tokoh Partai Kebebasan Rakyat yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan Italia dan salah satu tokoh yang menolak pembangunan masjid di Milan. "Keberadaan masjid di kota yang menjadi pusat keuangan Italia, akan menarik perhatian komunitas-komunitas Islam dari seluruh Italia, mereka nantinya akan sulit dikontrol," begitu alasan Morrati.
Pisapia mengkritik pernyataan itu, dan mengatakan bahwa Milan juga harus memberikan pelayanan pada komunitas Muslim yang sampai sekarang masih harus salat di tempat-tempat "informal" seperti sekolah-sekolah dan garasi. (ln/IW)

"Dulu Yahudi, Sekarang Kaum Muslimin Jadi Target Kebencian di Eropa"

Senin, 23/05/2011 12:35 WIB | email | print
Kaum Muslimin di Eropa sekarang menggantikan posisi kaum Yahudi di Eropa pada masa lalu ketika orang-orang Yahudi menjadi target diskriminasi dan kecurigaan masyarakat Eropa.
Hal tersebut diungkapkan cendikiawan muslim asal Swiss, Tariq Ramadan dalam sebuah seminat di Universitas Bilgi, Istanbul, Turki, pada Jumat pekan kemarin. Menurut cendekiawan muslim yang sekarang menjadi profesor tamu di Universitas Oxford itu, saat ini ada aliansi-aliansi baru di Eropa yang menolak kehadiran kaum Muslimin, dan orang-orang yang dulu menolak Yudaisme sekarang menolak keberadan Islam dan Muslim di Eropa.
"Sikap diskriminatif orang-orang Eropa ini, bukan hanya pada isu Islamisme; tapi juga menyoal perjungan sebuah kekuatan. Pola pikir masyarakat Eropa belum terintegrasi bahwa Islam juga bagian dari agama bagi masyarakat Barat," ujar cucu pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hasan Al-Banna ini.
"Tokoh-tokoh seperti Marine Le Pen, pemimpin Partai Front Nasional di Prancis, dan politisi Belanda Geert Wilders, menerapkan politik untuk menimbulkan ketakutan orang terhadap Islam, dan ini sangat berbahaya," sambung Ramadan mengecam Islamofobia di Eropa.
Menurutnya, yang menjadi ketakutan orang-orang Eropa terhadap Islam yang memicu makin meningkatnya sikap anti-Islam adalah, perubahan demografi populasi Muslim di Eropa. "Makin banyak Muslim yang menjadi orang Eropa, Islam akan makin jadi persoalan bagi masyarakat Eropa," tukas Ramadan.
Pada kesempatan itu, Ramadan juga mengkritik pidato Presiden AS Barack Obama tentang Timur Tengah dan dunia Islam yang disampaikan pada Jumat (20/5). Ia mengkritik Obama karena tidak menyebut-nyebut peranan Turki terkait situasi Timur Tengah.
"Saya kira, apa yang tidak disentuh Obama dalam pidatonya, lebih penting dari yang ia sebut-sebut dalam pidato tersebut. Mungkin AS punya kepentingan-kepentingan lainnya di kawasan, yang tidak kita sadari," kata Ramadan.
Ramadan also criticized U.S. President Barack Obama for not touching on Turkey during his speech Thursday regarding the Middle East.
Ia juga mengatakan bahwa AS punya rencana dibalik permintaannya agar Bank Dunia dan IMF menstabilkan serta memodernisasi perekonomian di Tunisia dan Mesir. Menurut Ramadan, permintaan itu menunjukkan bahwa AS sedang berusaha agar negara-negara yang baru saja mengalami revolusi seperti Tunisia dan Mesir, menjadi negara yang secara ekonomi akan bergantung pada AS, meski negara-negara tersebut termasuk aman dari sisi perekonomiannya. (ln/Hurriyet)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar