Jumat, 27 Mei 2011

Kelompok pro-Israel The Order of the Dragon akan menggelar aksi unjuk rasa anti-Islam di depan Balai Kota Dearborn, pada Sabtu (28/5). Ini adalah aksi unjuk rasa yang digelar untuk kesekiankalinya di kota itu, oleh kelompok-kelompok anti-Islam.>> "Banyak orang yang khawatir syariah Islam perlahan tapi pasti akan masuk ke dalam sistem peradilan keluarga. Sudah ada 23 kasus hukum dimana hukum syariah diterapkan dalam peradilan keluarga," klaim Fiorello.>>> Umat Islam janganlah terlalu khawatir dengan provokasi para budak hawa nafsu dan pembela Dajjal itu.... Kita lihatlah nanti...semua akan ada akibatnya....dan Allah akan melaknatNya...>> Karena Allah SWT dan Islam sebagai agam yang diwahyukanNya adalah milik Allah SWT...Kebenaran itu milik Allah...Dan Wahyu Allah itu adalah cahaya Kebenaran yang sejati...>> Insya Allah ...Islam dan syariah Islam akan menang dan jaya dimanapun dan kapanpun...>>> Tegakan jiwa ihsan dan Iman ketaqwaan kepada Allah SWT... dan Jadilah insan yang bersyukur kepada Allah Maha Esa... dengan ikhlas dan teguh menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam memenuhi syariah dan ajaranNya...>> Kemenangan akan segera terwujud dan barkah kemuliaan... dunia akhirat...Amin...>>> Islam dan agama Islam adalah milik Allah SWT dan dalam panduan dan perlindunganNya...>>Aktivis Kiri Israel Desak Pemimpin Eropa Akui Negara Palestina >>Lebih dari 20 aktivus kiri Israel, termasuk tokoh masyarakat, akademisi dan penulis, baru-baru ini menandatangani surat yang mendesak para pemimpin Eropa untuk mengakui kenegaraan Palestina, lapor Ynet. Surat ini diprakarsai oleh "Gerakan Solidaritas", yang mengatakan bahwa penandatanganan surat termasuk mantan Ketua Knesset Avraham Burg, mantan Direktur Jenderal Departemen Luar Negeri Alon Liel, dan mantan Duta Besar Afrika Selatan Ilan Barukh.>> Aktivis Kiri Israel Dukung Nakba Day, Sebut IDF Organisasi Teror Tak Bermoral>>Sekitar 100 aktivis kiri Israel melakukan aksi protes dekat Cinematheque Tel Aviv untuk menunjukkan dukungan mereka bagi rakyat Palestina yang memperingati "Nakba Day," , dan menentang pembunuhan warga sipil tak berdosa. Para demonstran membawa bendera Palestina dan poster yang bertuliskan "Hentikan kematian warga sipil", "Free Palestine", "IDF adalah organisasi teror yang paling tidak bermoral di dunia", dan "Tidak ada kesucian di kota yang diduduki".>> "Impian saya adalah untuk hidup bersama seperti yang kami lakukan sebelum negara Israel berdiri. Kami hidup dalam damai. Kami tidak pernah terlibat dalam konflik. Amerika dan Eropa mengekspor konflik yang diciptakan oleh Hitler untuk tanah air kami," kata Issam El-Arian, seorang anggota senior Ikhwanul Muslimin Mesir. Dalam sebuah wawancara dengan Washington Post, El-Arian mengklaim, organisasinya tidak mengancam Israel, dan tidak tertarik membatalkan kesepakatan damai dengan Negara Yahudi. Mengomentari bentrokan yang berlangsung antara Israel dan Palestina, El-Arian mencatat bahwa Israel telah menghukum bangsa Palestina untuk Holocaust terhadap Yahudi selama Perang Dunia II. Holocaust adalah pembantaian terhadap sebuah ras, penentangan terhadap agama. Dan itu adalah kejahatan yang sangat besar, tapi kami tidak pernah menuduh hal itu. Lalu mengapa rakyat Palestina membayar harga dari aksi Nazi itu?" katanya.>>Kejahatan Nazi, Kenapa Palestina yang Harus Membayarnya?>>>


Kelompok Pro-Israel di AS, Besok Unjuk Rasa Tolak Syariah Islam

Jumat, 27/05/2011 15:06 WIB | email | print
Kelompok pro-Israel The Order of the Dragon akan menggelar aksi unjuk rasa anti-Islam di depan Balai Kota Dearborn, pada Sabtu (28/5). Ini adalah aksi unjuk rasa yang digelar untuk kesekiankalinya di kota itu, oleh kelompok-kelompok anti-Islam.
Sebelumnya, Pastor Terry Jones--pastor yang menggagas pembakaran Al-Quran--juga merencanakan aksi unjuk rasa menentang syariah Islam di kota itu, yang menuai protes dari koalisi pemuka agama di Dearborn.
Pemimpin kelompok The Order of the Dragon, Frank Fiorello mengatakan, aksi unjuk rasa yang akan dilakukan kelompoknya juga untuk menolak pemberlakuan syariah Islam atau hukum syariah di pengadilan-pengadilan AS. Ia mengajak warga Dearborn untuk mendukung aksi tersebut, yang akan dimulai pada pukul 15.00 waktu setempat.
"Banyak orang yang khawatir syariah Islam perlahan tapi pasti akan masuk ke dalam sistem peradilan keluarga. Sudah ada 23 kasus hukum dimana hukum syariah diterapkan dalam peradilan keluarga," klaim Fiorello.
Kelompok lainnya, yang juga menentang syariah dan hukum syariah Islam diberlakukan dalam sistem hukum AS, antara lain American Defense League, ACT! For America dan Freedom Centers Palestinian Wall of Lies-nya David Horowitz. Fiorello sendiri, adalah tokoh yang menggagas aksi protes di Dearborn dengan mendatangkan Terry Jones, pada 22 April lalu. Tapi ia membatalkan aksi tersebut setelah melakukan pertemuan dengan Walikota Dearborn John O'Reilly dan seorang anggota organisasi lintas agama.
Belakangan Fiorello mengaku tidak lagi bekerjasama dengan Terry Jones karena perbedaan pendapat tentang bagaimana aksi protes seharusnya dilakukan. Jones rencananya akan menggelar aksi protes dengan kelompoknya sendiri pada pelaksaan acara Arab American International Festival di Dearborn bulan depan. Aksi protes itu ia lakukan untuk menentang apa yang disebutnya "Islam radikal" di AS. (ln/DetNews).

Aktivis Kiri Israel Desak Pemimpin Eropa Akui Negara Palestina

Jumat, 27/05/2011 16:02 WIB | email | print
Lebih dari 20 aktivus kiri Israel, termasuk tokoh masyarakat, akademisi dan penulis, baru-baru ini menandatangani surat yang mendesak para pemimpin Eropa untuk mengakui kenegaraan Palestina, lapor Ynet.
Surat ini diprakarsai oleh "Gerakan Solidaritas", yang mengatakan bahwa penandatanganan surat termasuk mantan Ketua Knesset Avraham Burg, mantan Direktur Jenderal Departemen Luar Negeri Alon Liel, dan mantan Duta Besar Afrika Selatan Ilan Barukh.
Para akademisi yang menandatangani surat ini termasuk penerima Nobel Profesor aniel Kahneman dan PemenangIsrael Prize Profesor Avishai Margalit. Penulis Nir Bar'am dan Ronit Matalon juga menandatangani petisi tersebut.
Mengingat adanya kecurigaan timbal balik antara beberapa sisi saat ini, sebuah deklarasi kemerdekaan Palestina bukan hanya hak, tetapi juga merupakan langkah positif dan konstruktif yang mendukung dua bangsa, para penandatangan surat mengatakan.
Para penandatangan surat mengatakan bahwa sebagai warga Israel mereka akan mendukung deklarasi kenegaraan Palestina berdasarkan garis batas 1967. Jalur Gaza, selama ini diperintah oleh kepemimpinan Palestina yang tidak mengakui keberadaan Israel, juga akan diakui sebagai bagian dari Palestina, surat itu mengatakan.
Penandatangan kemudian mendesak negara-negara di dunia untuk menyatakan kesediaan mereka untuk mengakui negara Palestina merdeka berdasarkan prinsip-prinsip di atas.(fq/ynet)

Aktivis Kiri Israel Dukung Nakba Day, Sebut IDF Organisasi Teror Tak Bermoral

Senin, 16/05/2011 09:32 WIB | email | print
Sekitar 100 aktivis kiri Israel melakukan aksi protes dekat Cinematheque Tel Aviv untuk menunjukkan dukungan mereka bagi rakyat Palestina yang memperingati "Nakba Day," , dan menentang pembunuhan warga sipil tak berdosa.
Para demonstran membawa bendera Palestina dan poster yang bertuliskan "Hentikan kematian warga sipil", "Free Palestine", "IDF adalah organisasi teror yang paling tidak bermoral di dunia", dan "Tidak ada kesucian di kota yang diduduki".
Aktivis Kiri radikal Israel ini mengatakan mereka ada di sana untuk memprotes pembunuhan warga sipil tak berdosa serta memprotes pendudukan di perbatasan utara dan di Dataran Tinggi Golan.
Beberapa demonstran perempuan bahkan memakai jilbab hitam untuk mengidentifikasi dengan hari Nakba Palestina. Mereka meneriakkan "Barak Anda pembunuh, Intifada akan menang".
Sekelompok aktivis sayap kanan Israel melakukan aksi kontra, dengan mengibarkan bendera Israel dan meneriakkan "Am Yisrael Chai" (kehidupan bagi bangsa Israel).
Mereka juga mengejek kepada aktivis kiri radikal dengan mengatakan: "Anda adalah kolom kelima, pengkhianat, Anda tidak bertugas di militer."
Polisi tiba di tempat kejadian untuk menjaga keamanan setelah sejumlah bentrokan mulut pecah di antara para demonstran.(fq/ynet)

Petinggi Ikhwan: Kejahatan Nazi, Kenapa Palestina yang Harus Membayarnya?

Minggu, 15/05/2011 09:29 WIB | email | print

"Impian saya adalah untuk hidup bersama seperti yang kami lakukan sebelum negara Israel berdiri. Kami hidup dalam damai. Kami tidak pernah terlibat dalam konflik. Amerika dan Eropa mengekspor konflik yang diciptakan oleh Hitler untuk tanah air kami," kata Issam El-Arian, seorang anggota senior Ikhwanul Muslimin Mesir.
Dalam sebuah wawancara dengan Washington Post, El-Arian mengklaim, organisasinya tidak mengancam Israel, dan tidak tertarik membatalkan kesepakatan damai dengan Negara Yahudi.
Mengomentari bentrokan yang berlangsung antara Israel dan Palestina, El-Arian mencatat bahwa Israel telah menghukum bangsa Palestina untuk Holocaust terhadap Yahudi selama Perang Dunia II.
Holocaust adalah pembantaian terhadap sebuah ras, penentangan terhadap agama. Dan itu adalah kejahatan yang sangat besar, tapi kami tidak pernah menuduh hal itu. Lalu mengapa rakyat Palestina membayar harga dari aksi Nazi itu?" katanya.
El-Arian menekankan bahwa Ikhwanul Muslimin tidak berniat membatalkan perjanjian perdamaian dengan Israel.
"Sebuah parlemen baru akan membuat keputusan bahwa militer mengatakan terus terang, dan kami mengatakan juga: bahwa kami tidak bisa membatalkan perjanjian dengan keputusan lisan. Perjanjian memiliki peraturan dan harus dihormati dari kedua belah pihak. Ketika satu sisi tidak menghormati perjanjian , masyarakat internasional harus wajib untuk melakukannya. "
Pejabat Ikhwanul Muslimin ini menuduh pemerintahan Amerika bersikap bias terhadap Israel dan memperingatkan Amerika bahwa jika mereka tidak mengevaluasi kembali kebijakan mereka di Timur Tengah, mereka mungkin akan "kehilangan" wilayah tersebut.
"Kami tidak mengancam Israel. Israel tengah menyakiti diri dengan kebijakan ini dengan melakukan diskriminasi di dalam Israel terhadap orang Arab. Israel sebenarnya tidak berada di bawah ancaman dari orang-orang Arab-justru orang Arab berada di bawah ancaman dari dalam Israel, dari pemimpin seperti Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman. (fq/ynet)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar