Rabu, 15 Januari 2014

....Zarif dalam pertemuan dengan Assad menegaskan bahwa solusi krisis Suriah harus didasarkan pada fakta dan melalui dialog politik. Ia menilai Konferensi Jenewa II sebagai peluang politik untuk menyelesaikan krisis di negara Arab itu. Menlu Iran menekankan bahwa kesuksesan Konferensi Jenewa II akan mencegah pertumpahan darah di Suriah dan mengakhiri ekstrimisme di negara itu. Iran menyambut segala bentuk solusi damai yang membantu mengakhiri krisis Suriah. Namun tentunya untuk memajukan tujuan tersebut memerlukan dukungan dari semua upaya diplomatik....>>>...Penyelenggaraan konferensi perdamaian Suriah yang disebut sebagai "Konferensi Jenewa II" dijadwalkan akan digelar pada tanggal 22 Januari di kota Montreux, Swiss. Konferensi tersebut dianggap sebagai bagian dari upaya diplomatik itu, tetapi efisiensi dari konferensi ini tergantung pada tujuan pencapaian solusi untuk mengakhiri perang di Suriah. Atas dasar itu, Menlu Iran menjelaskan bahwa tujuan kunjungannya ke Damaskus adalah untuk membantu pencapaian hasil dari Konferensi Jenewa II yang menguntungkan rakyat Suriah...>>... Zarif dan Assad pada Rabu (15/1) pagi bertemu di Damaskus, ibukota Suriah dan membahas berbagai isu. Selama ini, Tehran selalu berusaha membantu Damaskus untuk menyelesaikan krisis politik dan masalah kemanusiaan di Suriah. Menurut Iran, upaya diplomasi untuk menyelesaikan krisis Suriah harus didahului dengan penghentian kerusuhan dan bentrokan sehingga krisis tersebut dapat diselesaikan dengan berdialog. Oleh sebab itu, diperlukan tekad politik bersama dari berbagai negara untuk membasmi terorisme dan ekstrimisme, terutama penghentian kejahatan kelompok-kelompok teroris yang disponsori oleh berbagai pihak asing di Suriah...>>...Pertemuan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus sebagai kelanjutan dari diplomasi aktif Zarif di kawasan dan kunjungannya ke Lebanon, Irak dan Yordania...>>>....Komando Umum Angkatan Darat dan Angkatan Bersenjata dalam sebuah pernyataan mengatakan angkatan bersenjata bekerja sama dengan Tentara Nasional memperketat kontrol penuh atas beberapa kota penting di Aleppo ttermasuk, al-Nakkarin, al-Zarzour, al-Taaneh, al-Subeihieh dan sekitar 53 di pedesaan timur kota Aleppo dan membasmi sejumlah besar Takfiri dan menyita senjata dan amunisi mereka. Unit tentara pada Senin, 14/01/14, kembali mengontrol penuh beberapa wilayah strategis di al-Zarzour, al-Nakarin, Talet al-Taaneh dan al-Mijbel di pinggiran Aleppo setelah mengeliminasi pertemuan terakhir para Takfiri di sana, demikian sumber militer mengatakan kepada SANA...>>> ...Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komisi Eropa menyeru negara-negara anggota Uni Eropa untuk menyetujui penempatan sementara pengungsi Suriah di wilayah mereka. Permintaan itu dikeluarkan mengingat krisis di Suriah belum berakhir dan juga masih adanya banyak ketidakjelasan tentang hasil-hasil konferensi Jenewa II, yang rencananya akan digelar pada 22 Januari 2014. PBB, Komisi Eropa, dan Dewan Pengungsi Inggris juga memperingatkan jika negara-negara anggota Uni Eropa tidak membuka garis perbatasannya bagi pengungsi Suriah, maka krisis tersebut akan berubah menjadi sebuah tragedi besar politik dan kemanusiaan. ...>>> .. Menurut sejumlah laporan, hanya 10 negara dari total 28 anggota Uni Eropa yang sudah menyatakan kesiapan untuk menerima pengungsi Suriah, sementara 18 negara lain termasuk Inggris secara prinsip sama sekali tidak memberikan masukan untuk menerima arus pengungsi dari Suriah. Padahal, Eropa memainkan peran signifikan dalam menciptakan krisis di Suriah. Negara-Negara anggota Uni Eropa secara langsung atau pun tidak, mendukung para pemberontak Suriah. Inggris dan Perancis bahkan memberi dukungan persenjataan dan pelatihan kepada kelompok teroris, yang berperang di Suriah. Intinya, mereka memainkan peran dominan dalam mengobarkan konflik dan perang di negara Arab itu. Barat memiliki kewajiban moral untuk menunjukkan solidaritas dengan negara-negara regional di Timur Tengah dengan menawarkan tempat tinggal sementara kepada orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan...>> "Tak bisa diragukan lagi, Arab Saudi bertanggung jawab dalam semua kejahatan yang terjadi di Suriah," kata Kepala Partai Reformasi Nasional Suriah dan Anggota Parlemen Hossein Raqib mengatakan pada FNA hari Senin. Raqib mengatakan, pemerintah Damaskus sudah menyadari dukungan Riyadh pada kejahatan yang dilakukan oleh kelompok teroris terhadap rakyat sejak awal kerusuhan di Suriah tapi baru sekarang memiliki bukti kuat untuk memperkokoh tuduhan terhadap Arab Saudi...>>>... Sikap itu sebenarnya mencerminkan penolakan Inggris untuk berperan dalam menyelesaikan masalah pengungsi Suriah. Pada akhirnya, desakan dan seruan lembaga-lembaga internasional sepertinya akan mendorong Barat untuk menerima pengungsi Suriah demi menjaga citra mereka sebagai pihak yang peduli dengan isu-isu kemanusiaan. (IRIB Indonesia/RM)..>>

  Pertemuan Menlu Iran dengan Presiden Suriah




Pertemuan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus sebagai kelanjutan dari diplomasi aktif Zarif di kawasan dan kunjungannya ke Lebanon, Irak dan Yordania.

Zarif dan Assad pada Rabu (15/1) pagi bertemu di Damaskus, ibukota Suriah dan membahas berbagai isu. Selama ini, Tehran selalu berusaha membantu Damaskus untuk menyelesaikan krisis politik dan masalah kemanusiaan di Suriah. Menurut Iran, upaya diplomasi untuk menyelesaikan krisis Suriah harus didahului dengan penghentian kerusuhan dan bentrokan sehingga krisis tersebut dapat diselesaikan dengan berdialog. Oleh sebab itu, diperlukan tekad politik bersama dari berbagai negara untuk membasmi terorisme dan ekstrimisme, terutama penghentian kejahatan kelompok-kelompok teroris yang disponsori oleh berbagai pihak asing di Suriah.

Zarif dalam pertemuan dengan Assad menegaskan bahwa solusi krisis Suriah harus didasarkan pada fakta dan melalui dialog politik. Ia menilai Konferensi Jenewa II sebagai peluang politik untuk menyelesaikan krisis di negara Arab itu. Menlu Iran menekankan bahwa kesuksesan Konferensi Jenewa II akan mencegah pertumpahan darah di Suriah dan mengakhiri ekstrimisme di negara itu. Iran menyambut segala bentuk solusi damai yang membantu mengakhiri krisis Suriah. Namun tentunya untuk memajukan tujuan tersebut memerlukan dukungan dari semua upaya diplomatik.

Penyelenggaraan konferensi perdamaian Suriah yang disebut sebagai "Konferensi Jenewa II" dijadwalkan akan digelar pada tanggal 22 Januari di kota Montreux, Swiss. Konferensi tersebut dianggap sebagai bagian dari upaya diplomatik itu, tetapi efisiensi dari konferensi ini tergantung pada tujuan pencapaian solusi untuk mengakhiri perang di Suriah. Atas dasar itu, Menlu Iran menjelaskan bahwa tujuan kunjungannya ke Damaskus adalah untuk membantu pencapaian hasil dari Konferensi Jenewa II yang menguntungkan rakyat Suriah.

Dengan demikian, peran Iran dalam proses penyelesaian isu-isu regional termasuk krisis Suriah sangat jelas. Tehran menegaskan bahwa solusi politik adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri krisis Damaskus. Namun penghentian kejahatan terorisme dan ekstrimisme harus menjadi mukhadimah penyelesaikan krisis itu. Oleh karena itu, Iran menekankan perlunya kerjasama dan kelanjutan konsultasi serta pembicaraan di antara negara-negara penting dan berpengaruh di kawasan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Penggulingan pemerintahan Assad adalah tujuan dan opsi Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa serta sekutu-sekutu regional mereka termasuk Arab Saudi, Turki dan Qatar. Sejak meletusnya krisis di Suriah hingga sekarang, mereka merupakan pendukung utama berbagai kelompok teroris asing yang masuk ke negara itu untuk mengobarkan peperangan dan melakukan berbagai kejahatan anti-kemanusiaan. Sementara pandangan lainnya menegaskan solusi damai berdasarkan hak rakyat Suriah untuk menentukan nasib mereka sendiri.


Tak diragukan lagi nasib politik Suriah tidak dapat ditentukan oleh Konferensi Jenewa atau pertemuan apapun lainnya. Nasib negara itu akan ditentukan oleh suara rakyatnya melalui pemilu. Namun sayangnya, oposisi Damaskus tidak menerima pendekatan tersebut.

Pengalaman selama tiga tahun perang di Suriah menunjukkan bahwa dukungan terhadap kelompok-kelompok teorisme di negara Arab itu tidak mengahasilkan apapun kecuali terjadinya tragedi kemanusiaan dan penumpahan darah warga tak berdosa. Kini, para teroris asing yang masuk ke Suriah telah berubah menjadi sebuah ancaman serius bagi Timur Tengah dan dunia. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Damaskus Akan Buktikan Peran Saudi di Suriah

Islam Times - http://www.islamtimes.org/vdcen78xwjh8evi.rabj.html
 
"Intelijen keamanan akan menyampaikan pada media dalam 15 hari ke depan," Raqib menggarisbawahi.
 
Pemberontak Suriah, dukungan Arab, AS dan Israel
Pemberontak Suriah, dukungan Arab, AS dan Israel

Bukti keterlibatan Riyadh dalam pembantaian rakyat Suriah akan segera disodorkan pada dunia, anggota terkemukan Parlemen Suriah mengatakan pada hari Senin (13/1/13).

"Tak bisa diragukan lagi, Arab Saudi bertanggung jawab dalam semua kejahatan yang terjadi di Suriah," kata Kepala Partai Reformasi Nasional Suriah dan Anggota Parlemen Hossein Raqib mengatakan pada FNA hari Senin.

Raqib mengatakan, pemerintah Damaskus sudah menyadari dukungan Riyadh pada kejahatan yang dilakukan oleh kelompok teroris terhadap rakyat sejak awal kerusuhan di Suriah tapi baru sekarang memiliki bukti kuat untuk memperkokoh  tuduhan terhadap Arab Saudi.

"Intelijen keamanan akan menyampaikan pada media dalam 15 hari ke depan," Raqib menggarisbawahi.

Suriah berulang kali memperingatkan dukungan rezim Saudi dan menyatakan bahwa terorisme melanggar resolusi internasional. Suriah juga mengirim sejumlah surat kepada PBB dan Dewan Keamanan menegaskan bahwa rezim Saudi terlibat dalam kejahatan yang dilakukan oleh kelompok teroris di Suriah.

Utusan Tetap Suriah untuk PBB, Bashar al-Jaafari pada hari Sabtu (11/1/14) mengatakan bahwa rezim Saudi menghasut orang untuk terlibat dalam terorisme dan mengirim teroris ke Suriah dengan dalih Jihad, termasuk "jihad nikah".[IT/r]


Ketidaksiapan Barat Menerima Konsekuensi Perang Suriah

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komisi Eropa menyeru negara-negara anggota Uni Eropa untuk menyetujui penempatan sementara pengungsi Suriah di wilayah mereka.
 
Permintaan itu dikeluarkan mengingat krisis di Suriah belum berakhir dan juga masih adanya banyak ketidakjelasan tentang hasil-hasil konferensi Jenewa II, yang rencananya akan digelar pada 22 Januari 2014.
 
PBB, Komisi Eropa, dan Dewan Pengungsi Inggris juga memperingatkan jika negara-negara anggota Uni Eropa tidak membuka garis perbatasannya bagi pengungsi Suriah, maka krisis tersebut akan berubah menjadi sebuah tragedi besar politik dan kemanusiaan.
 
Ketiga lembaga tersebut menyeru para pemimpin Uni Eropa untuk mempermudah kebijakan imigrasi dengan memperhatikan berbagai dimensi krisis Suriah. PBB telah mengeluarkan seruan mendesak untuk memukimkan penempatan 30.000 pengungsi Suriah, akan tetapi seruan itu belum mendapat respon positif.

Dilaporkan juga bahwa selain ratusan ribu jiwa harus melakukan eksodus ke daerah yang aman di wilayah Suriah, ratusan ribu lainnya juga hidup tersebar di berbagai negara dunia dan tidak ada sarana untuk menyalurkan bantuan kepada mereka.

Komisaris Tinggi Urusan Pengungsi PBB hingga sekarang telah mencatat kehadiran lebih dari dua juta warga Suriah di empat negara tetangga Yordania, Lebanon, Turki, dan Irak. Menurut data resmi, saat ini ada sekitar 2.400.000 pengungsi tinggal di negara-negara tetangga Suriah.

Konflik Suriah dimulai sejak Maret 2011 dan lebih dari 130 ribu orang meninggal dunia dan jutaan lainnya mengungsi sepanjang masa itu.

Menurut sejumlah laporan, hanya 10 negara dari total 28 anggota Uni Eropa yang sudah menyatakan kesiapan untuk menerima pengungsi Suriah, sementara 18 negara lain termasuk Inggris secara prinsip sama sekali tidak memberikan masukan untuk menerima arus pengungsi dari Suriah.

Padahal, Eropa memainkan peran signifikan dalam menciptakan krisis di Suriah. Negara-Negara anggota Uni Eropa secara langsung atau pun tidak, mendukung para pemberontak Suriah. Inggris dan Perancis bahkan memberi dukungan persenjataan dan pelatihan kepada kelompok teroris, yang berperang di Suriah. Intinya, mereka memainkan peran dominan dalam mengobarkan konflik dan perang di negara Arab itu.

Barat memiliki kewajiban moral untuk menunjukkan solidaritas dengan negara-negara regional di Timur Tengah dengan menawarkan tempat tinggal sementara kepada orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan.

Pemerintah Inggris menyatakan bahwa pengungsi Suriah harus dipindahkan ke negara-negara tetangga termasuk Turki, Yordania, Lebanon, dan Irak. London mengatakan akan membantu pengungsi dari segi finansial dan penyaluran bantuan kemanusiaan, dan bukan dengan menerima mereka untuk tinggal di Inggris.

Sikap itu sebenarnya mencerminkan penolakan Inggris untuk berperan dalam menyelesaikan masalah pengungsi Suriah. Pada akhirnya, desakan dan seruan lembaga-lembaga internasional sepertinya akan mendorong Barat untuk menerima pengungsi Suriah demi menjaga citra mereka sebagai pihak yang peduli dengan isu-isu kemanusiaan. (IRIB Indonesia/RM)

US to provide Israel with six "Osprey" aircraft

A US military Osprey aircraft takes off from a ship in the Atlantic Ocean on February 9, 2012. (Photo: US Navy)
 
Published Wednesday, January 15, 2014
http://english.al-akhbar.com/content/us-provide-israel-six-osprey-aircraft
  
The Pentagon plans to sell six tilt-rotor Osprey aircraft to Israel in a long-planned deal worth $1.13 billion, officials said Tuesday.

Israel will become the first foreign government to be allowed to purchase the V-22 Osprey, which can take off like a helicopter and fly like a turboprop airplane.

US officials had announced plans to sell the Osprey to Israel last year but the Pentagon unveiled details of the arms package Tuesday in a formal notification to Congress, which has 15 days to raise any objections to the sale.

Apart from the V-22s, the package includes radar, missile warning systems, radios, night vision goggles, navigation systems and other equipment for the Ospreys, according to the Defense Security Cooperation Agency.

The US Marine Corps has pioneered the use of the Osprey and commanders have touted the aircraft as able to move troops faster and over longer distances than a helicopter.

The Osprey was plagued by accidents and technical problems in its early years but has been heavily used by the Marines in Afghanistan. The Air Force also uses the Osprey for its special operations forces.

The United States has committed itself to maintaining Israel's "qualitative military edge" and provides about $3 billion in grants every year, representing about 20 percent of Israel's defense budget.
(AFP)

Update dari Aleppo: Tentara Kuasai Kota-kota Strategis

Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcfxxdmew6dj1a.,8iw.html
 
Unit tentara pada Senin, 14/01/14, kembali mengontrol penuh beberapa wilayah strategis di al-Zarzour, al-Nakarin, Talet al-Taaneh dan al-Mijbel di pinggiran Aleppo setelah mengeliminasi pertemuan terakhir para Takfiri di sana, demikian sumber militer mengatakan kepada SANA.
 
Tentara Suriah raih kemenangan besar
Tentara Suriah raih kemenangan besar

Komando Umum Angkatan Darat dan Angkatan Bersenjata dalam sebuah pernyataan mengatakan angkatan bersenjata bekerja sama dengan Tentara Nasional memperketat kontrol penuh atas beberapa kota penting di Aleppo ttermasuk, al-Nakkarin, al-Zarzour, al-Taaneh, al-Subeihieh dan sekitar 53 di pedesaan timur kota Aleppo dan membasmi sejumlah besar Takfiri dan menyita senjata dan amunisi mereka.

Unit tentara pada Senin, 14/01/14, kembali mengontrol penuh beberapa wilayah strategis di al-Zarzour, al-Nakarin, Talet al-Taaneh dan al-Mijbel di pinggiran Aleppo setelah mengeliminasi pertemuan terakhir para Takfiri di sana, demikian sumber militer mengatakan kepada SANA.

Sumber itu menambahkan, satuan-satuan tentara membongkar alat peledak dan ranjau yang ditanam oleh kelompok Takfiri bersenjata di daerah tersebut.

Operasi ini mengakibatkan hancurnya sejumlah besar kendaraan Takfiri, diantaranya peluncur roket dan peluncur mortir, di samping 52 roket Grad, dan sejumlah besar roket buatan tangan. Tentara juga mengamankan enam bom mobil dan lebih dari 2.000 mobil anti-tank dan ranjau darat anti personil dan alat peledak di al-Zarzour dan al-Nakarin.

Tentara juga menemukan beberapa jaringan terowongan besar yang menghubungkan dengan pusat komando teroris di al-Zarzour. Diantara terowongan itu mencapai 10 meter kedalaman di dalam tanah.

Lusinan Takfiri tewas di wilayah al-Zarzour termasuk warga negara Turki bernama Al-Muntaser Bellah Tarak, 4 warga Libya bernama Ali al-Jendi, Abu Marouf al-Muhajri, Abu Ishak, dan Abu al-Jawshan, 3 warga Saudi bernama Mohammad al-Otaibi, Makshab al-Mahaibi dan Abu Turab al-Najdi, 2 warga Yaman bernama Hadi Ahmad al-Amin dan Abdelaziz al-Sakhri, seorang warga Tunisia bernama Masoud Abu Aziz, seorang warga Maroko bernama Abu Omar al -Maghrebi, seorang warga Azerbaijan bernama Abu Bakr al-Azeri, seorang warga Kuwait bernama Abu Muhajer, satu warga Mesir bernama Abu Suhail dan Mohammad al-Sahwani.

Sumber militer tersebut mengatakan, satuan tentara berhasil menghancurkan kamp berkumpulnya para Takfiri di kota tua Aleppo dan menewaskan 5 dari serta melukai lusinan lainnya.

Tentara juga menghancurkan senjata Takfiri dan amunisi dalam serangan di kawasan al-Azamiyeh di kota Aleppo, sementara unit tentara lain menewaskan 10 Takfiri di daerah al-Dababiyeh di provinsi Aleppo.

Unit tentara lain berhasil menghancurkan pertemuan Takfiri di daerah Khan al-Hafireh, di sebelah utara al- Bab, Huritan, Hayan, sekitar penjara pusat Aleppo, Babis dan Maarat al-Artik dan menghancurkan alat-alat tempur mereka.

Sementara di Daraa, Tentara membunuh lusianan Takfiri dan menghancurkan tempat persembunyian mereka.

Di sebelah barat Haret al-Bajabjeh, lingkungan al-Kark, sekitar sekolah al-Yarmouk dan Lembaga Teknis di Daraa al-Balad, Tentara berhasil membunuh sejumlah teroris di antaranya Mohammad Taleb.

Di Homs, unit tentara menargetkan tempat persembunyian kelompok Takfiri bersenjata di al-Kusour dan linkungan al-Karabis di kota Homs dan desa-desa al-Dar al-Kabira, al- Ghasbiyeh, al- Sea'n dan Jouret Hussian di Talbiseh.

Unit tentara lain juga bergerak dari desa al- Hosen ke desa al- Mitras di pedesaan Talkalakh.

Di Hama, satuan tentara menghancurkan persembunyian Takfiri di kota Aqrab di pedesaan Hama, membunuh dan melukai sejumlah anggota dan menghancurkan alat kriminal mereka.

Di pedesaan Qamishli, unit tentara menghancurkan sebuah pertemuan teroris di peternakan Hmeido di pedesaan Qamishli dan menghancurkan peralatan mereka termasuk roket buatan tangan para teroris yang digunakan untuk menargetkan kota Qamishli.[IT/Onh/Ass]
 

Update Perang di Suriah, Selasa 14 Januari 2014

Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcee78xwjh8eoi.rabj.html
Sementara itu laporan dari kota Homs, sumber militer mengkofirmasi sekitar 26 Takfiri menyerahkan diri kepada pasukan keamanan. Hal ini diumumkan kemarin oleh Walikota, Talaal Baraazi.
 
kota al-Waer
kota al-Waer

Pada Selasa, 14/01/14, Tentara Suriah kembali membombardir lokasi artileri milisi Tentara Bebas (FSA) di kota al-Sheikh Meskeen di Daraa, belum ada laporan detil mengenai bombardir ini.

Sementara itu laporan dari kota Homs, sumber militer mengkofirmasi sekitar 26 Takfiri menyerahkan diri kepada pasukan keamanan. Hal ini diumumkan kemarin oleh Walikota, Talaal Baraazi.

Sementara di al-Rastan, khusus di klinik Za'faraana, 4 penembak jitu dikepung Tentara Suriah dan berhasil dibunuh, semaunya warga negara Suriah. Lihat peta: http://wikimapia.org/#lang=en&lat=34.925419&lon=36.734676&z=15&m=b

Di kota al-Waer, kelompok lain penembak jitu berhasil dibunuh oleh tentara Suriah di wilayah Barat Homs. Lihat peta: http://wikimapia.org/#lang=en&lat=34.741542&lon=36.679444&z=15&m=b

Di Tadmur, di Palmyra, terutama di wilayah Qasr al-Hayr ke Timur dekat al-Sukhna, 8 Takfiri tewas, 6 luka-luka, 2 pick-up sarat dengan senjata mesin 23mm berhasil disita atau dihancurkan, sementara 1 pick-up berhasil disita penuh dengan Doschka anti-pesawat. Lihat Peta: http://wikimapia.org/#lang=en&lat=34.541914&lon=38.310871&z=13&m=b

Di perkampungan al-Sukhna di al-Tayyiba sedikit ke timur laut dari Tadmur, sekitar 44 pendatang haram, sebagian besar warga Irak tewas oleh helikopter Hind dan pejuang NDF.

Di al-Khudhayra, hingga saat ini perang masih berlangsung dan belum ada rincian detil.

Di Uqayrabaat, di pinggiran Tadmur, sejumlah Takfiri tewas dan belum ada rincian.

Di wilayah Abu al-Alaayaa dekat Jubb al-Jarraah sebelah timur dari Homs, 21 Takfiri tewas dalam baku tembak ketika mereka mencoba menyusup ke Abu al-Alaayaa.

Diwilayah ini, Warga bergabung dengan Tentara Arab Suriah dan NDF untuk membunuh setiap Takfiri disana. Belum ada berita detil mengenai tewasnya pendatang haram di wilayah ini.

Di Baab Hood, Talbeesa, Selatan al- Mashjar, al-Sultaaniyya, Khidmillu, Timur Salaam dan Khattab, Tentara Suriah bertempur dengan sekelompok Takfiri yang terssa dan mencoba bergerak ke selatan untuk membantu kelompoknya di Adraa. Dalam pertemupran ini informasi militer memperkirakan lebih dari 100 tewas di daerah ini. [IT/Onh/Ass]
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar