Selasa, 07 Januari 2014

QUO VADIS...BURMA DAN BANGLADESH....???!!! PARA PEMIMPIN DAN TOKOH2... BURMA DAN BANGLA DESH HARUS DISERET KEHADAPAN PENGADILAN INTERNASIONAL...KARENA KEAJAHATAN2 KEMANUSIAAN TERHADAP RAKYAT PENDUDUK ROHINGNYA .....!!!! >> INI KEJAHATAN KEMANUSIAAN... DAN ..... HOLOCAUST DENGAN VERSI2... MODEL2...BARU... DENGAN TERORGANISIR... DAN TERENCANA OLEH KARENA ALASAN2 KEBENCIAN DAN KEDENGKIAN RASIALIS...>> UMMAT RAKYAT ROHINGNYA HARUS SEGERA DILINDUNGI OLEH MASYARAKAT.. DUNIA DAN UMMAT MANUSIA...YANG BERDAULAT DAN BERMARTABAT..DAN BERADAB... .>>> LALU DIMANA DAN KEMANA ULAMA2 DAN TOKOH2 DAN RAJA2 DAN PRESIDEN2... MUSLIM DAN JUGA BIKSU2 YANG KONON MENGAJARKAN AJARAN2 LUHUR DAN MEMULIAKAN MARTABAT KEHORMATAN.. UMMAT MANUSIA DAN KEMANUSIAAN SEBAGAI BAGIAN DARI KARSA-CITRA DAN CIPTA LUHURNYA..DAN YANG DATANG DAN TURUNNYA... AYAT2.. AJARAN ZDAT MAHA AGUNG... DAN JIWA2 SUCI... DARI PARA NABI2 DAN RASUL2 ALLAH... DAN JUGA AJARAN SANG BUDHA GHAUTAMA...YANG KONON TELAH MERUBAH DIRI DAN BERMETAMORFOSA DARI PUTERA SANG RAJA DIRAJA ADIL... MENJADI HAMBA JIWA LUHUR KEMANUSIAAN... YANG MENJUNJUNG NILAI CAHAYA BUDHI ... DAN AKHLAK2 AGUNG... . TANPA MENGENAL RAS DAN DISKRIMINASI...??>>??>> LALU SIAPAKAH SEBENARNYA ....PENGHUNI DI BANGLADESH DAN BURMA ITU..APAKAH MAKHLUK2 YANG BUKAN MANUSIA.. WALAU WUJUD DAN RUPA SEBAGAIMANA MANUSIA...ATAU MERASA WUJUD...ANAK BANGSA... ARIAN YANG ... PALING SOMBONG DAN PALING AGUNG... SEHINGGA MERASA PALING BERMARTABAT... LUHUR.. DIMUKA BUMI... DAN TAK PEDULI DENGAN MAKHLUK MANUSIA LAINNYA DISEKITAR MEREKA... SEPERTI RAKYAT BANGSA ROHINGNYA....YANG KINI DALAM PENINDASAN DAN PERBUATAN ZHALIM....MEREKA YANG TIADA TARA BANDINGNYA... ??? . ...LALU KEMANA PEMIMPIN DAN PARA TOKOH DAN ULAMA DAN PEMIMPIN KEMANUSIAAN DARI BANGSA ASEAN..YANG KONON DISPONSORI INDONESIA DAN BANGSA2 ASEAN LAINNYA...??>> KOK MENGAPA DIAM..DAN MEMBIARKAN TRAGEDI PENISTAAN DAN PENZHOLIMAN TERHADAP RAKYAT ROHINGNYA...BERLANGSUNG DEMIKIAN LAMA DAN MEMAKAN KORBAN2....UMMAT ROHONGNYA YANG TIDAK BERDOSA.. DAN MEMANG BERHAK HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN RAKYAT BANGSA2 ASEAN DAN ASIA LAINNYA...??>>> .... QUO VADIS...!!! QUO VADIS ..!!!!... QUO VADIS...!!!!..>>> HAYYOO ANAK MUDA DAN PEMUDA- MAHASISWA INDONESIA DAN ASEAN.. BANGKIT.. DAN BANTULAH RAKYAT ROHINGNYA.... AGAR MEREKA HIDUP BERMARTABAT DAN KEMBALI KEPADA HABITAT KEHIDUPAN AWALNYA.. DI LOKASI MEREKA SELAMA INI.. DAN KOMUNAL2... MEREKA UNTUK HIDUP LAYAK DAN BERDAMPINGAN SECARA TERHORMAT... SERTA MENDAPAT KEMULIAAN SEJATINYA ...YANG HIDUP...DAN BERADAB... DAN BERMANFAAT BAGI SESm UMMAT MANUSIA SEMESTA...!!!..>>> AAMIIN...>> ...Hikmahbudhi juga berusaha mengingatkan pemerintah Myanmar tentang Pasal 15 dari Deklarasi Universal HAM 1948, yang menyatakan setiap orang berhak mempunyai kewarganegaraan, sehingga tak seorang pun boleh dibatalkan kewarganegaraannya secara sewenang-wenang atau ditolak haknya untuk mengubah kewarganegaraannya. Ia juga mengimbau komunitas internasional untuk terus memberikan dukungan bagi perjuangan rakyat Burma dalam menegakkan demokrasi dan HAM. ..>>> Ormas Islam terbesar di Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempertimbangkan untuk mengirim misi kemanusiaan ke Myanmar. Misi kemanusiaan itu untuk meringankan penderitaan Muslim Rohing ya yang kini ditindas oleh Pemerintah Myanmar. Katib Aam PBNU KH A Malik Ma daniy menegaskan, masalah Ro hingya tidak bisa didiamkan begitu saja. PBNU juga mendesak Indonesia menempuh jalur diplomasi untuk menyelesaikan masalah penindasan Muslim Rohingya. “Kementerian Luar Negeri mestinya bisa berbuat sesuatu melalui jalur-jalur di plomatik,” katanya. Bila perlu, kata Malik, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun langsung membawa masalah Rohingya ini ke forum ASEAN...>>>..Tokoh Buddha yang juga merangkap Ketua Walubi Jatim itu mengaku dirinya sudah dihubungi pengurus MUI yang juga salah seorang Ketua PBNU, H Slamet Effendy Yusuf, untuk pembahasan itu. "Hubungan antarpemeluk agama di Indonesia cukup bagus. Bahkan, kita di sini ada FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama),'' katanya. ''Ini berbeda jauh dengan Myanmar. Komunitas Muslim yang minoritas di Rohingya itu tidak diterima.'' ..>> ... Berkaitan dengan stetemen presiden Myanmar, Thein Sein yang mengatakan bahwa penyelesaian kasus konflik bernuasa etnis dan agama di Myanmar adalah mengusir muslim etnis Rohingya dari negara ini. Bahkan dia menawarkan kepada PBB jika ada negara yang bersedia menampung mereka. Anda melihatnya seperti apa masalah ini ? ...>>>..... Sebetulnya kalau dilihat dari konteks pernyataan presiden Myanmar yang menunjukkan kekonyolan-kekonyolan yang tidak didasari oleh satu kerangka yang benar, tapi itu malah menjebaknya dalam pertarungan besar. Dia sudah masuk ke dalam perangkap The Clash of Civilizations. Sebab kalau dasarnya adalah ideologis dalam kerangka kontraskema global harusnya dia enggak memakai istilah-sitilah itu. Dia justru masuk ke dalam perangkap itu. Di sana, seakan-akan Islam dan Budha bertempur, padahal dua-duanya korban. Kalau kita lihat dalam konteks skema ini, modus dari rezim militer memproteksi korporasi model Total, Chevron, Petrochina dan lain-lain. Itu caranya ekstrim seperti pembakaran desa-desa. Nah di sana, warga yang menjadi korban. Cleansing yang paling efektif tanpa melibatkan penguasa adalah konflik agama. Kalau di Indonesia mungkin Cleansing agama tidak laku, tapi Cleansing suku sama dasyatnya. Malah lebih efektif karena mereka paham betul masalah kesukuan di Indonesia lebih mudah disulut daripada masalah agama. Di Burma ini terperangkap masalah tersebut...>>>Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei mengecam sikap pasif Barat atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. Merujuk pada eksploitasi manusia oleh peradaban Barat yang didasarkan pada materialisme, serta minus moralitas dan spiritualitas, Rahbar berkata, "Sebuah contoh yang jelas dari klaim palsu Barat tentang etika dan hak asasi manusia adalah sikap pasif lembaga hak asasi manusia internasional terhadap pembantaian ribuan Muslim di Myanmar. ".....>> ...."Selama beberapa abad terakhir peradaban Barat tidak menghasilkan apa-apa selain korupsi dan eksploitasi terhadap sesama manusia," tegasnya. Statemen ini dikemukakan Ayatullah Khamenei saat berpidato di hadapan sekelompok sarjana dan pengajar al-Quran di permulaan bulan suci Ramadhan...>>>....Himpunan Mahasiswa Buddhis (Hikmahbudhi) mengecam tindak kekerasan terhadap suku muslim Rohingya. "Ini merupakan suatu bentuk diskriminasi dan pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan," kata Ketua Pengurus Pusat Hikmahbudhi Adi Kurniawan kepada Tempo, Senin, 30 Juli 2012. Menurut Adi, penindasan terhadap minoritas Rohingya ini berakar dari persoalan lama terkait status kewarganegaraan suku Rohingya yang tak diakui sebagai salah satu suku bangsa di Myanmar. Apa pun bentuk dan alasannya, kata Adi, kekerasan dan penindasan merupakan tindakan yang merugikan karena menimbulkan penderitaan bagi orang lain..>>>.Adapun dengan Burma, telah terjadi anomali lain yang mengiris rasa keadilan. Setelah membantai rakyat Rohingya yang telah tinggal di Burma selama beratus-ratus tahun namun masih dianggap sebagai bukan warganegara sendiri dan pajuang HAM Aung San Su Kyi pun bungkam, Burma justru dielu-elukan masyarakat internasional. Pada bulan Mesi 2012 Amerika memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Burma dan menggelontori Burma dengan investasi di sektor minyak. Selain itu status keanggotaan Burma di ASEAN justru semakin teguh hingga dipercaya menjadi penyelenggara even SEA GAMES. Sementara kedatangan Presiden SBY ke Myanmar (Burma) juga hanya memperkuat status politik Myanmar di dunia internasional, sementara persoalan Rohingya sama sekali tidak menjadi perhatian serius oleh beliau. Sementara Aung San Su Kyi, yang tidak diragukan lagi bakal menjadi presiden Burma mendatang, "membenarkan" pembantaian terhadap rakyat Rohingya. Tentang warga minoritas yang tidak berdaya itu Su Kyi justru mengobarkan sentimen terhadapnya dengan komentarnya: "Ada persepsi bahwa kekuatan Islam global sangat kuat, dan tentu saja persepsi itu ada di banyak bagian dunia termasuk Burma."..>> ...Tanpa alasan jelas, pemerintah Bangladesh tiba-tiba saja membentuk pengadilan kejahatan perang kemerdekaan yang terjadi tahun 1970-an lalu, menjebloskan beberapa tokoh oposisi ke penjara hingga tiang gantungan, dan memicu kembali terjadinya perang saudara. Inilah satu lagi regim Islam yang telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, dan karenanya pada dasarnya telah menjadi musuh Islam. Catatan kejahatan kemanusiaan regim Bangladesh juga terjadi atas perlakukan mereka terhadap para pengungsi Rohingnya dari Burma, yang nenek moyangnya sebenarnya juga berasal dari Bangladesh juga. Sampai saat ini telah ribuan warga muslim Rohingya tewas dan ratusan ribu lainnya terusir dari kampung halaman mereka akibat aksi-aksi kerusuhan di Burma. Sebagian dari mereka menjadi pengungsi, namun sebagian besar lainnya tidak memiliki kejelasan status. Sebagaiman dilaporkan "Salem-News.com" bulan Oktober 2012 lalu:...>>>...Dihubungi terpisah, Atase Kedutaan Besar RI (KBRI) Bidang Sosial Budaya di Myanmar, Djumara Supriyadi, mengatakan Indonesia tidak bisa berbuat banyak dalam mengatasi penindasan Muslim Rohingya di Provinsi Ra khine. Menurut dia, sikap KBRI di Myanmar adalah memandang penindasan Muslim Rohingya sebagai masalah dalam negeri negara itu yang tak boleh dicampuri negara mana pun. Djumara lalu mencontohkan situasi tersebut pernah terjadi di Indonesia, yaitu larangan masuk bagi komunitas internasional saat terjadi konflik di Poso, Sulawesi Tengah. Menurutnya, pelarangan seperti itu merupakan hal yang wajar...>>>

Agenda Tersembunyi Tragedi Rohingya Myanmar


 

Nasib Muslim Rohingnya semakin mengkhawatirkan. Di negaranya sendiri dianggap sebagai illegal Citizens, dan di luar negara tidak diterima. Ribuan orang Muslim Rohingya menjadi korban pembantaian. Tidak hanya itu, presiden Myanmar, Thein Sein melontarkan pernyataan kontroversial mengusir Muslim Rohingya sebagai penyelesaian konflik bernuasa etnis dan agama di negara itu. Bahkan dia menawarkan kepada PBB jika ada negara yang bersedia menampung mereka.
 
Bagi Direktur Global Future Institute, Jakarta, yang terjadi di Arakan ini bukan hanya Muslim Cleansing, tapi juga Budha Cleansing. Menurut pengamat internasional ini, yang menjadi korban bukan hanya masyarakat  muslim maupun Budha, tapi juga terjadi benturan peradaban di Myanmar.
 
"Ada permainan korporasi tertentu yang berkolaborasi dengan Junta militer Myanmar," kata penulis buku "Tangan-tangan Amerika di Pelbagai belahan Dunia" itu.
 
"Kayaknya, di Arakan ini pemicunya mirip dengan Ambon, sebuah masalah kriminal yang kemudian dipolitisasi. Untuk itu harus dipahami skema besarnya. Yang sesungguhnya terjadi adalah Cleansing masyarakat." Tegas Hendrajit.
 
Simak selengkapnya wawancara eksklusif  Purkon Hidayat dari IRIB Bahasa Indonesia dengan Hendrajit, Direktur Global Future Institute Jakarta mengenai persoalan di balik tragedi kemanusiaan yang menimpa Muslim etnis Rohingya di Myanmar.
 
Kalau kita lihat dari perspektif korban, persoalan inikan sudah bertahun-tahun. Memang faktanya suku Rohingya ini merupakan mayoritas di Arakan, tapi dianggap sebagai illegal citizens. Bahkan kini, jumlahnya tinggal sejutaan karena sebagian sudah migrasi ke negara lain. Saya melihat persoalan ini, entah itu Karena yang Budha maupun Rohingya yang Muslim, bagi saya tetap sebagai prakondisi yang rawan di Myanmar sendiri. Jadi artinya ada sesuatu yang sebetulnya harus dilihat dari gambaran yang jauh lebih besar.
 
Saya amat menyayangkan baru-baru ini di Jakarta misalnya ada yang menyebut fenomena di Myanmar sebagai Muslim Cleansing. Bagi saya, ini bukan hanya Muslim Cleansing, tapi juga Budha Cleansing. Kalau melihat skema konfliknya mengarah pada konflik peradaban. Tapi intinya ini masuk pada desakan untuk menghantam pola rezim Myanmar sendiri. Kalau dilihat lebih jauh ada permainan korporasi tertentu yang berkolaborasi dengan Junta militer.
 
Saya lihat, selain mengorbankan warga dan masyarakat juga membenturkan peradaban. Dan kebetulan dalam konteks di Arakan ini yang memang kondusif adalah isu agama.
 
Tadi Anda menyebutkan adanya kolaborasi antara Junta militer dengan korporasi asing. Bagaimana bentuknya ?
 
Pada tahun 1988, muncul sistem baru di Myanmar. Walaupun rezim otoriter militer yang memimpin, tapi Myanmar menggunakan sistem pasar. Ketika itu ada undang-undang baru yang namanya The Union of Myanmar Foreign Investment Law. Payung hukum ini adalah perlindungan terhadap sektor eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas alam yang melibatkan korporasi-korporasi asing.
 
Pada kasus Arakan ini adalah pertarungan soal minyak dan gas bumi. Pada tahun 2005, perusahaan gas Cina menandatangani kontrak gas dengan pemerintah Myanmar untuk mengelola eksplorasi minyak.
 
Kita harus lihat, sebagaimana kasus yang terjadi di Indonesia seperti di Sampang, Mesuji dan lainnya yang menunjukkan bahwa konflik-konflik horizontal menandakan ada sesuatu yang yang diincar dari sisi geopolitik. Yang menarik dari sisi rezim militer di Myanmar dari era Ne Win hingga sekarang ini, ternyata melibatkan perusahaan asing semacam Chevron AS maupun Total Perancis, padahal kedua negara ini kan di permukaan mengangkat isu hak asasi manusia.  Jelas ada pertarungan bisnis yang bermain melalui pintu belakang dari rezim militer Myanmar.
 
Saya melihat konflik soal Islam dan Budha yang belakangan ini semakin memanas, bahkan ada istilah konyol dari presidennya, "Udah saja Rohingya itu diusir dari Myanmar," Masalah ini harus dilihat sebagai hilir saja, hulunya adalah adanya satu hal yang diincar di Arakan yaitu minyak dan gas alam.
 
Jadi Arakan ini menyimpan sumber daya migas yang besar ya ?
 
Cukup besar ya saya kira. Dengan dasar itu, eksplorasi minyak dan gas bumi itu menjadi incaran bukan hanya Cina tapi juga AS. Apalagi Chevron leading bermain di situ, ada juga Petro China, Tiongkok Petroleum, Petronas Malaysia dan lain.
 
Repotnya rezim militer ini memproteksi lewat undang-undang The Union of Myanmar Foreign Investment Law. Cina dan beberapa negara yang diluar AS dan Eropa Barat kelihatannya lebih unggul. Sementara AS ketinggalan. Nah, yang menarik masalah Muslim di Arakan ini cenderung memberi ruang bagi pendekatan symmetric Bill Clinton yang diterapkan oleh Obama dan Hillary Clinton. Dengan dasar, "Konflik wilayah itu perlu advokasi hak asasi manusia nih, LSM, LSM perlu masuk." Dari pintu ini, mereka masuk dengan memakai konflik Islam dan Budha tersebut. Tapi tampak sasaran strategisnya adalah sama yaitu penguasaan minyak dan gas bumi.
 
Berkaitan dengan stetemen presiden Myanmar, Thein Sein yang mengatakan bahwa penyelesaian kasus konflik bernuasa etnis dan agama di Myanmar adalah mengusir muslim etnis Rohingya dari negara ini. Bahkan dia menawarkan kepada PBB jika ada negara yang bersedia menampung mereka. Anda melihatnya seperti apa masalah ini ?
 
Sebetulnya kalau dilihat dari konteks pernyataan presiden Myanmar yang menunjukkan kekonyolan-kekonyolan yang tidak didasari oleh satu kerangka yang benar, tapi itu malah menjebaknya dalam pertarungan besar. Dia sudah masuk ke dalam perangkap The Clash of Civilizations. Sebab kalau dasarnya adalah ideologis dalam kerangka kontraskema global harusnya dia enggak memakai istilah-sitilah itu. Dia justru masuk ke dalam perangkap itu. Di sana, seakan-akan Islam dan Budha bertempur, padahal dua-duanya korban.
 
Kalau kita lihat dalam konteks skema ini, modus dari rezim militer memproteksi korporasi model Total, Chevron, Petrochina dan lain-lain. Itu caranya ekstrim seperti pembakaran desa-desa. Nah di sana, warga yang menjadi korban. Cleansing yang paling efektif tanpa melibatkan penguasa adalah konflik agama. Kalau di Indonesia mungkin Cleansing agama tidak laku, tapi Cleansing suku sama dasyatnya. Malah lebih efektif karena mereka paham betul masalah kesukuan di Indonesia lebih mudah disulut daripada masalah agama. Di Burma ini terperangkap masalah tersebut.
 
Di sini, pernyataan presiden Myanmar justru membuatnya masuk ke dalam perangkap. Yang menarik sikap seperti Aung San Suu Kyi walaupun dalam bahasa yang agak terselubung, ia menyatakan bahwa etnis Muslim jadi sasaran. Seharusnya dia menegaskan bahwa Budha juga jadi korban.
 
Maksudnya jadi korbannya gimana ?
 
Maksudnya dalam skema korporasi global itu. Misalnya yang terjadi di Papua, yang disasar adalah benturan antarasuku dari tujuh suku itu. Dalam urusan duit aja bisa pecah apalagi urusan yang melibatkan simbol-simbol tradisional kesukuan masing-masing.
 
Kayaknya, di Arakan ini pemicunya mirip dengan Ambon ya, sebuah masalah kriminal yang kemudian dipolitisasi. Untuk itu harus dipahami skema besarnya. Yang sesungguhnya terjadi adalah Cleansing masyarakat.
 
Ini pra kondisi dari sesuatu yang dulunya tidak bisa ditangani secara tepat dalam konteks keadilan antara mayoritas dan minoritas yang menjadi bom waktu. Dan bom waktu itu meletus jika prakondisi ini dipicu. Nah triggering factor itu kan enggak mungkin alami seperti sekarang ini. Jika terjadi benturan maka daerah itu akan dinyatakan sebagai kawasan darurat, menjadi close area. Nah di situlah agenda sebenarnya baru dimunculkan. Makanya harus dipahami apa agenda besar sebenarnya.
 
Yang disayangkan dalam rezim militer mulai dari Ne Win sampai sekarang ini yang seakan-akan sosialis negara justru pada dasarnya kapitalis negara. Sejatinya, dengan undang-undang The Union of Myanmar Foreign Investment Law, Myanmar pada dasarnya sedang mengarah pada pasar, tapi di bawah kendali penuh negara. Dan dia memproteksi korporasi-korporasi untuk berkolaborasi dengan penguasa. Tentu dengan segala bayaran sosialnya.
 
Kebetulan korporasi yang masuk seperti Chevron, Total, PetroChina dan sebagainya, isi kepalanya bukan hanya sebagai Company. Seperti juga Freeport, pikiran korporasi ini seperti negara. Jadi ketika menentukan lokasi seperti Arakan itu perhitungannya bukan feasibility study lahan bisnis saja, tapi geopolitiknya dihitung juga seperti komposisi populasi penduduk. Kalau itu masih wajar. Karena semua itu harus memenej. Tapi yang ada dipikiran opensif jahat korporasi itu adalah "Apa yang bisa dimainkan" dari fakta-fakta yang ada. Kasarnya, "kalau diadu domba mainkannya bagaimana?" Nah komposisi-komposisi ini sudah dihitung oleh mereka. Selain perlunya politik pemilihan lokasi juga yang harus dilihat adalah Winning Coalition dari korporasi itu. (IRIB Indonesia / PH)

Iran Kecam Sikap Diam Barat terhadap Muslim Rohingya

Minggu, 22 Juli 2012, 06:22 WIB
 Pria muslim Rohingya menangis ketika dipaksa untuk naik kapal untuk dikembalikan ke Myanmar dekat pos penjaga perbatasan di Taknaf,Bangladesh,Jumat (22/6).  (Saurabh Das/AP)
Pria muslim Rohingya menangis ketika dipaksa untuk naik kapal untuk dikembalikan ke Myanmar dekat pos penjaga perbatasan di Taknaf,Bangladesh,Jumat (22/6). (Saurabh Das/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei mengecam sikap pasif Barat atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

Merujuk pada eksploitasi manusia oleh peradaban Barat yang didasarkan pada materialisme, serta minus moralitas dan spiritualitas, Rahbar berkata, "Sebuah contoh yang jelas dari klaim palsu Barat tentang etika dan hak asasi manusia adalah sikap pasif lembaga hak asasi manusia internasional terhadap pembantaian ribuan Muslim di Myanmar. "

"Selama beberapa abad terakhir peradaban Barat tidak menghasilkan apa-apa selain korupsi dan eksploitasi terhadap sesama manusia," tegasnya.

Statemen ini dikemukakan Ayatullah Khamenei saat berpidato di hadapan sekelompok sarjana  dan pengajar al-Quran di permulaan bulan suci Ramadhan.

Ia menegaskan bahwa martabat, kesejahteraan, kemajuan, etika dan kemenangan atas musuh hanya akan dicapai melalui penerapan ajaran al-Quran.

Laporan terbaru mengungkapkan Muslim Myanmar mengalami penderitaan tragis. Lebih dari 650 orang dari hampir satu juta Muslim Rohingya tewas pada tanggal 28 Juni dalam bentrokan di wilayah barat Rakhine. Sementara 1.200 lainnya hilang dan 90 jiwa terlantar.

PBB menyebut Muslim Rohingya sebagai Palestina di Asia Tenggara, dan satu dari minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Mereka dirampas hak-hak dasarnya termasuk pendidikan dan pekerjaan. Tidak hanya itu, pemerintah Myanmar menolak mengakui Rohingya, dan mengklaim mereka bukan warga pribumi dan mengklasifikasikannya sebagai migran ilegal, meskipun mereka telah tinggal di negara itu selama beberapa generasi.

 

ROHINGYA, ANTARA BANGLADESH DAN BURMA 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2014/01/rohingya-antara-bangladesh-dan-burma.html#more

 

40 tahun sudah Bangladesh merdeka, namun sampai sejauh ini masih terpuruk sebagai salah satu negara paling miskin di dunia. Dan bukannya berfikir bagaimana memajukan negara dan memakmurkan rakyatnya, para pemimpin negeri ini justru sibuk menghancurkan negeri sendiri.

Tanpa alasan jelas, pemerintah Bangladesh tiba-tiba saja membentuk pengadilan kejahatan perang kemerdekaan yang terjadi tahun 1970-an lalu, menjebloskan beberapa tokoh oposisi ke penjara hingga tiang gantungan, dan memicu kembali terjadinya perang saudara. Inilah satu lagi regim Islam yang telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, dan karenanya pada dasarnya telah menjadi musuh Islam.

Catatan kejahatan kemanusiaan regim Bangladesh juga terjadi atas perlakukan mereka terhadap para pengungsi Rohingnya dari Burma, yang nenek moyangnya sebenarnya juga berasal dari Bangladesh juga.

Sampai saat ini telah ribuan warga muslim Rohingya tewas dan ratusan ribu lainnya terusir dari kampung halaman mereka akibat aksi-aksi kerusuhan di  Burma. Sebagian dari mereka menjadi pengungsi, namun sebagian besar lainnya tidak memiliki kejelasan status. Sebagaiman dilaporkan "Salem-News.com" bulan Oktober 2012 lalu:

"Setelah mengapung selama 3 hari dengan cadangan makanan yang terbatas, para pengungsi Rohingya dari Arakan (Burma) akhirnya mencoba mendarat di dekat Pulau Shamapura Island, Bangladesh. Namun kemalangan mengikuti mereka setelah penjaga perbatasan Bangladesh melarang mereka mendarat. Setelah gagal membujuk para penjaga meski dengan air mata yang terurai mereka akhirnya berlayar kembali menuju Maungdaw dimana pasukan Burma telah siap untuk menghadang mereka dan mengusir pergi. Saat ini kapal-kapal itu terlihat masih terapung di tengah Sungai Naf karena tidak bisa mendarat baik di sisi Bangladesh maupun Burma."

Jika saja pemerintah Bangladesh menghendaki, mereka sudah lama menyelesaikan masalah yang dihadapi orang-orang Rohingya dengan merepatriasi orang-orang Rohingya yang meninggalkan Burma. Selanjutnya mereka tinggal mengajukan tuntutan ganti rugi ke Mahkamah Internasional atas perlakuan tidak bertanggungjawab negara Burma terhadap orang-orang Rohingya.

Jika saja Bangladesh melakukan hal itu, maka hal itu akan menjadi solusi yang saling menguntungkan bagi Bangladesh maupun Burma. Namun pemerintah Bangladesh tidak melakukannya, karena ingin tetap menjaga hubungan bisnis dengan Burma.

Adapun dengan Burma, telah terjadi anomali lain yang mengiris rasa keadilan. Setelah membantai rakyat Rohingya yang telah tinggal di Burma selama beratus-ratus tahun namun masih dianggap sebagai bukan warganegara sendiri dan pajuang HAM Aung San Su Kyi pun bungkam, Burma justru dielu-elukan masyarakat internasional. Pada bulan Mesi 2012 Amerika memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Burma dan menggelontori Burma dengan investasi di sektor minyak. Selain itu status keanggotaan Burma di ASEAN justru semakin teguh hingga dipercaya menjadi penyelenggara even SEA GAMES. Sementara kedatangan Presiden SBY ke Myanmar (Burma) juga hanya memperkuat status politik Myanmar di dunia internasional, sementara persoalan Rohingya sama sekali tidak menjadi perhatian serius oleh beliau.

Sementara Aung San Su Kyi, yang tidak diragukan lagi bakal menjadi presiden Burma mendatang, "membenarkan" pembantaian terhadap rakyat Rohingya. Tentang warga minoritas yang tidak berdaya itu Su Kyi justru mengobarkan sentimen terhadapnya dengan komentarnya:

"Ada persepsi bahwa kekuatan Islam global sangat kuat, dan tentu saja persepsi itu ada di banyak bagian dunia termasuk Burma."


Su Kyi tentu saja sengaja mengolok-olok. Kaum muslimin di dunia memang menonjol jumlahnya, namun tidak memiliki kekuatan politik berarti, kecuali yang dimiliki Iran.

"Saya rasa ini bukan sepenuhnya tentang Islamophobia, tapi menurut saya ada banyak unsur Islamophobia disini dimana Islam ditempatkan sebagai pengganti komunisme setelah berakhirnya era Perang Dingin. Ini adalah pemikiran yang telah diciptakan dengan hati-hati dan direncanakan dengan baik oleh orang-orang seperti Bernard Lewis, Samuel Huntington, gerakan neo-konservatif. Bukan suatu kebetulan bahwa Islamophobia telah menjalar di berbagai penjuru dunia dan digunakan sebagai alasan melakukan penindasan sebagaimana di Myanmar dan juga tempat-tempat lain di dunia.

REF:
"Terror in Burma: Violence against Muslims"; Tim King; Veterans Today; 28 Desember 2013
"US rewards Myanmar for persecution"; Press TV; 30 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar