Senin, 16 Desember 2013

USA DIAMBANG PERANG BESAR DENGAN CINA DI PASIFIK...???>>> KEKUASAN INGGRIS DAN AS.. TIDAK SEMUDAH ZAMAN DAHULU... DIMANA MEREKA BISA DENGAN SE-MENA2... MENENTUKAN DIMANA SAJA KEINGINAN MEREKA.. DAN KEKUASAAN MEREKA DITANCAPKAN...??? >>> DAHULU KAUM ILLUMINATI- BILDERBERG-ZIONIS DAN NEOCONS-NEOLIB ... MELAKUKAN KEINGINANNYA DAN KESUKAANNYA... SEPERTI DENGAN MUDAH DAN TAK BANYAK ORANG2 LAIN PEDULI...KARENA MEREKA SANGAT DIGJAYA... DAN SUPERPOWER DUNIA..YANG TIADA TANDING..??..... NAMUN ZAMAN TELAH BERUBAH.. DAN KEBANGKITAN BANGSA2 DAN JUGA KESADARAN DAN KEWARASAN UMMAT MANUSIA SEMAKIN MATANG..DAN TAHU DIMANA HAK2 DIRI DAN BANGSANYA.. DAN BAGAIMANA MASING2 HARUS BERBENAH DAN MEMBELA KEBENARAN HAK2NYA... YANG SELAMA BERPULUH TAHUN BAHKAN RATUSAN TAHUN DI-INJAK2..DAN DIKUASAI DAN EXPLOITASI..OLEH PARA PENGGARONG.. PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONA..ITU..??>> KINI KEBANGKITAN KESADARAN DAN KWARASAN KEMANUSIAAN BAGI SELURUH UMMAT MANUSIA.. SUDAH.. MULAI NYATA.. DAN SEMOGA KEKUATAN DUNIA SEMAKIN BERIMBANG.. DAN KEADILAN KEMAKMURAN BAGI SELURUH UMMAT MANUSIA SEGERA TERWUJUD... DAN PENJAJAHAN DIMUKA BUMI SEGERA LAENYAP.. DALAM SEGALA BENTUK DAN MANIFESTASINYA..??>> BANGKITLAH BUDI NURANI KEMANUSIAAN.. DAN HAK DERAJAT BANGSA2.. DIDUNIA.. >>> KEBANGKITAN CINA-KOREA UTARA -INDIA-PAKISTAN-IRAN-DLL...DALAM MENGUASAI NUKLIR DAN TEKNOLOGI CANGGIH.. SANGAT MENDORONG BANGSA2 LAIN DIDUNIA UNTUK SEGERA BANGKIT...??>> LALU DIMANA BANGSA INDONESIA.. YANG LOYO.. DAN PIMPINAN2NYA.. KEBELINGER.. DAN MENJADI ANTEK2..NEOLIBS DAN ZIONIS..??>> HAYYOO BANGKITLAH PEMUDA-MAHASISWA-DAN SELURUH RAKYAT DAN KOMPONEN BANGSA INDONESIA SELURUHNYA..??>> REBUTLAH KEDAULATAN NEGARA YANG SEKARANG DIKUASAI OLEH MAFIA2 JAHAT..DAN PARA PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL.. !!!>> HAYYOO BANGSAKU BANGUN JIWANYA... DAN WARAS-LAH..UNTUK BANGSA DAN NEGARA INDONESIA SELURUHNYA... !!! >>> In a phone interview with Press TV, American military analyst Michael Burns said China is testing the United States by declaring a no-fly zone over the East China Sea. ..>>> ...China is concerned about US militarism in the Asia-Pacific. Beijing is considering the Pentagon’s focus to “pivot” increased US military presence in the Pacific as a strategy to counter China’s increasing global influence. ...>>> ...Tensions between the US and China have entered a new phase over the recent developments. ..>>> China’s defense ministry said it “monitored” the US bomber flights in its defense zone. “The Chinese military monitored the entire process, carried out identification in a timely manner, and ascertained the type of US aircraft,” China’s defense spokesman Geng Yansheng said in a statement. “China is capable of exercising effective control over this airspace,” he added. ..>> ..The US military has made Guam a key strategic military hub in the western Pacific as part of Washington’s new “pivot” strategy of realigning American forces toward Asia. ..>>

 

Membeli Masa Depan di Laut China Selatan

 http://jakartagreater.com/membeli-masa-depan-di-laut-china-selatan/
 
Kapal Induk China Liaoning yang bergerak ke Laut China Selatan (photo; PLA Navy)
Kapal Induk China Liaoning yang bergerak ke Laut China Selatan 
(photo; PLA Navy)

Sebuah laporan rahasia tak sengaja ter-posting ke internet oleh staf inteligen laut Amerika Serikat yang menyatakan Angkatan Laut China (PLA Navy) telah membuat perkembangan cepat terhadap berbagai platform persenjataan modern. Strategi Angkatan laut China sedang difokuskan untuk menjelajahi daerah yang disebut first island chain, yang meliputi Laut China Selatan hingga Selat Malaka, Laut Philipina hingga Laut Jepang.

Adapun strategi second island chain lebih mengerikan lagi, yakni penyatuan/reunifikasi dengan Taiwan serta membuat garis pertahanan di jalur perdagangan laut. Menurut laporan intelijen yang bocor, Angkatan Laut China sedang memperkuat kemampuan mereka apabila pada masa depan harus berkonflik dengan Amerika Serikat atas Kasus Taiwan. Angkatan laut China melakukan program anti-access and anti-surface warfare dan secara simultan menyusun struktur “the command, control, communications, computers, intelligence, surveillance, and reconnaissance (C4ISR)” untuk keperluan joint operation.
Laporan intelijen AS beberapa tahun lalu mulai terbukti.

Diagram of the first and second island chains of China
Diagram of the first and second island chains of China

Secara tersamar, anti-acces mulai diterapkan China dengan membentuk Zona Identifikasi Pertahanan Udara (Air Defense Identification Zone / ADIZ) di Wilayah Laut China Timur. Setiap pesawat yang lewat di wilayah itu, harus melapor kepada China dan yang mengabaikan terancam tindakan militer. Pesan yang ditangkap sangat jelas. Zona yang dilakukan secara sepihak ini menunjukkan China mulai memperkuat pengaruh dan cengkeramannya di wilayah itu.

Meski mendapatkan penentangan dari AS, Jepang dan Korea Selatan, China tetap memberlakukannya. Anehnya,Presiden Obama akhirnya meminta maskapai penerbangan sipil AS mematuhi aturan China tersebut. Secara perlahan tapi pasti, situasi ini bisa dimanfaatkan China, sebagai klaim de facto atas wilayah tersebut.

(Graphic: CNN.com)

(Graphic: CNN.com)

graphic-2-china

Dalam waktu hampir bersamaan, China juga memperkuat eksistensinya di wilayah Laut China Selatan (LCS) yang mereka klaim, dengan mengirim Kapal Induk Liaoning berlayar menuju Selat Taiwan. Liaoning meninggalkan pangkalannya di Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China Utara, dikawal dua destroyer Shenyang dan Shijiazhuang, serta dua frigat Yantai dan Weifang. Menurut China, keberangkatan pelayaran kapal induk Lioning merupakan bagian dari latihan militer.
Tentulah gerakan Angkatan Laut China ini dipantau oleh Jepang dan Amerika Serikat. China yang cerdik tidak berlayar ke Laut China Timur tempat pulau sengketa China-Jepang, Senkaku/ Diaoyu, melainkan langsung ke Laut China Selatan.

Destroyer Shijiazhuang China kawal Kapal induk Liaoning menuju Laut China Selatan (photo: PLA Navy)

Destroyer Shijiazhuang China kawal Kapal induk Liaoning menuju Laut China Selatan 
(photo: PLA Navy)


China bermain halus terhadap Jepang dan AS, karena di saat bersamaan, Kelompok Tempur yang dipimpin kapal induk USS George Washington juga terlibat latihan bersama Maritime Self-Defense Force Jepang dari Okinawa. AS juga mengirim kapal selamnya dari Guam, untuk memantau pergerakan kapal induk Liaoning.
Untuk sementara Jepang aman, tapi bagaimana dengan negara-negara Asean yang sejumlah anggotannya bersengketa dengan China di wilayah di Laut China Selatan ?

Tindakan China ini dianggap sebagai ambisi mereka untuk menciptakan blue navy dan telah menjadi fokus kampanye di dalam negeri untuk membangkitkan patriotisme. Angkatan Laut China mengatakan misi ini akan rutin dilakukan dan apa yang dilakukan kapal induk Liaoning masih dalam tahap uji coba.

Pengamat militer menilai apa yang dilakukan pemerintah China berindikasi bahwa mereka akan menempatkan kapal induk di Laut China Selatan secara permanen, menyusul semakin tingginya ketegangan dengan Filiphina dan Vietnam, serta negara lain yang mencoba meng-klaim Laut China Selatan.

Di saat yang bersamaan, di Front Laut China Timur, People’s Liberation Army Navy Air Force melakukan latihan peperangan, pasca melintasnya bomber AS B-52 di air defense identification zone China. Lusinan pesawat tempur J-10 yang terbagi ke dalam tim biru dan merah, saling beradu keahlian bertempur. Skadron dari kedua tim ini juga mendapatkan bantuan dari Kapal Perang Permukaan dari PLA Navy.

Pesawat Tempur J-10 China latihan tempur di Laut China Timur pasca melintasnya Bomber B-52 AS

Pesawat Tempur J-10 China latihan tempur di Laut China Timur pasca melintasnya Bomber B-52 AS

Menurut CCTV pilot-pilot J-10 tidak hanya melakukan simulasi saling menembak tapi juga berlatih menenggelamkan kapal permukaan dari kelompok lain. Salah seorang pilot yang ikut latihan mengatakan dia menghabiskan waktu 10 jam bersama pesawat J-10 dan begitu juga pilot-pilot lainnya, untuk hal melihat kesiapan para pilot tempur dan kru di darat serta kapal permukaan. Latihan dilakukan untuk menghadapi konflik dengan Jepang di laut China Timur, sehingga para pilot sudah terbiasa dengan medan yang sesungguhnya.

Di bagian lain Kapal induk Liaoning beserta kapal pengawalnya terus belayar menuju Laut China Selatan, menuju wilayah yang disengketakan. Di LCS ini kapal induk Liaoning berlatih perang, termasuk menyesuaikan diri dengan kondisi laut yang berbeda.

Kementerian Pertahanan China menegaskan, untuk pertama kalinya Angkatan Laut China memiliki kemampuan dermaga dan layanan kapal induk di Pelabuhan Sanya, Provinsi Hainan Cina Selatan. “Dengan dibangunnya pelabuhan kapal induk di Sanya, China telah memperluas jangkauan operator di Laut Cina Selatan”, ujar Wakil Direktur Naval Military Studies Research Institute, Zhang Junshe. Pelabuhan asal kapal induk Lioning adalah Qingdao, di Provinsi Shandong, China Utara. Ke depannya China akan menempatkan kapal induknya di Laut China Selatan secara permanen di dukung logistik dari Pelabuhan Sanya Provinsi Hainan.

Pelabuhan Sanya diproyeksikan sebagai suplai logistik bagi kapal induk China yang nantinya ditempatkan di Laut China Selatan

Pelabuhan Sanya di Provinsi Hainan, diproyeksikan sebagai suplai logistik bagi kapal induk China yang nantinya ditempatkan di Laut China Selatan

Ketergantungann China yang semakin meningkat terhadap energi yang dimpor menciptakan kepentingan strategis yang global dari China. Ketergantungan itu pada gilirannya memerlukan pengembangan kapasitas dari profil Angkatan Laut China. Untuk merespon kebutuhan yang mendesak itu, PLA Navy mulai membangun kapal tambahan untuk proyeksi ‘laut biru’ yang dapat mendukung operasi Angkatan Laut meski jauh dari daratan China. Hal ini termasuk pengadaan Kapal Rumah Sakit Anwei Class serta Kapal pengisian ulang bahan bakar Fuchi Class.

Liaoning merupakan kapal induk untuk latihan. China menargetkan kapal induk buatan mereka selesai pada tahun 2015. Pemerintah Cina pun mulai mengajukan pembelian Su-33 Rusia carrier-borne fighter, untuk memulai program penerbangan kapal induk. China membutuhkan kapal induk dan armada pendukungnya untuk menerapkan proyeksi angkatan laut dan kontrol terhadap “second island chain”.

Saat ini Angkatan laut China mulai menunjukkan perkembangan yang nyata dan bergerak dari segi kuantiti ke kualiti dengan cara membangun struktur C4ISR dan pasukan profesional, untuk mendukung efektifnya peluncuran joint operation.  Operasi kapal-kapal selam China pun mulai meluas layaknya operasi kapal kapal besar.

Fatalnya negara-negara ASEAN tidak bisa menemukan kata sepakat atas sikap mereka terhadap konflik Laut China Selatan. Bahkan joint public statement pun tidak dilakukan usai pertemuan tahunan ASEAN 2013. Code of Conduct tahun 2002 yang ditandatangani anggota ASEAN untuk menyelesaikan sengketa di LCS dengan cara damai, terus menerus diabaikan oleh beberapa negara yang bersaing atas kayanya sumber daya alam di LCS.

pla-navy-route

Kekosongan kekuatan di LCS pasca AS menutup pangkalan militernya di Filiphina, mulai dimanfaatkan dan diisi oleh China. Kini China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, menabrak batas-batas laut negara tetangganya dan mengangkangi norma-norma internasional.

Berbeda dengan di Laut China Timur, langkah Amerika Serikat di LCS lebih hati-hati dan tidak mengarah kepada konfrontasi militer dengan China. Hal ini dimanfaatkan oleh China, untuk terus memperkuat cengkeramannya di LCS.

Bulan Juni 2013, Presiden Filiphina Aquino meminta jaminan dari AS bahwa jika Filiphina diserang, AS akan terlibat dalam peperangan. Namun permintaan itu ditolak. AS menolak untuk berpihak dalam sengketa wilayah namun hanya menawarkan bilateral Mutual Defense Treaty, yang berarti tidak otomatis terlibat dalam aksi militer.

Pergerakan kapal induk Liaoning China ke Laut China Selatan
Pergerakan kapal induk Liaoning China ke Laut China Selatan

peta-lcs

Sikap yang berbeda ditunjukkan AS saat China memberlakukan Zona Identifikasi Pertahanan Udara di Laut China Timur yang membuat Jepang meradang. Dengan gamblang AS mengatakan akan berada di pihak Jepang jika terjadi konlik militer dengan China. Di mata AS, ASEAN belum sepenting Jepang, sehingga sikap AS pun berbeda. Negara-negara ASEAN harus tahu diri.

Namun menyatukan sikap ASEAN terlihat masih susah. Vietnam meski bersengketa wilayah dengan China, tetap menjaga hubungan baik dengan China karena tingginya ketergantungan ekonomi. Sementara negara-negara yang tidak terlibat sengketa wilayah seperti Thailand, Singapura, Kamboja, Indonesia dan Laos, juga tidak berani bersikap keras menentang tindakan China yang mengklaim hampir seluruh laut China Selatan. Bahkan ketika Filipina bersitegang dengan China soal kepulauan Scarborough, Malaysia mengatakan, jika negara tetangganya berperang, tidak otomastis mereka ikut berperang.

liaoning-china


Negara negara Asia Tenggara jangan berpikir jika konflik dengan China meletus, Amerika Serikat dengan serta merta melindungi mereka. Negara Asean harus membangun kekuatannya sendiri sambil menjalin kerjasama militer regional yang lebih besar. Jika hal ini tidak terjadi maka, masa depan Asean tinggalah sejarah, terpecah dan terkoyak-koyak kekuatan besar. Kehadiran kapal induk China di Laut China Selatan, tinggal menunggu waktu. (JKGR).
You might also like:

AMERIKA CINA SALING UNJUK GIGI DI PASIFIK 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/12/amerika-cina-saling-unjuk-gigi-di.html#more

Pada tahun 1940-an dunia menyaksikan perang laut terbesar sepanjang sejarah manusia antara angkatan laut Jepang melawan Amerika dan sekutu-sekutunya. Perang laut itu kemudian dicatat dalam sejarah sebagai Perang Pasifik.

Sekedar penggambaran hebatnya perang itu bisa dilihat dari ukuran-ukuran kapal yang terlibat dan diameter meriamnya. Kala itu Jepang memiliki 2 kapal tempur utama (battleship) terbesar di dunia, "Yamato" dan "Musashi", yang berbobot 70.000 ton dengan diameter meriamnya mencapai 18 inchi. Bobot sebesar itu masih lebih besar daripada bobot sebagian besar kapal induk modern. Namun sebaliknya Amerika memiliki jumlah kapal perang yang lebih banyak. Perang ini menjadi pengubah paradigma perang laut modern dimana negara-negara superpower tidak lagi mengandalkan kapal tempur, melainkan kapal induk (carrier).

Apakah Perang Pasifik akan kembali terulang?

Pertanyaan menarik ini kembali mengemuka di kalangan pengamat militer dan ahli sejarah, terutama setelah munculnya ketegangan antara Amerika dan Cina terkait dengan penetapan wilayah pertahanan udara Cina yang baru yang ditolak Amerika. Menyusul pengumuman wilayah pertahanan udara itu telah terjadi beberapa kali perselisihan wilayah antara Cina dengan Amerika dan sekutu-sekutunya di Asia Timur: Jepang dan Korea. Perselisihan terbaru bahkan hampir mengakibatkan sebuah kapal perang Amerika bertabrakan dengan kapal perang Cina.

Keseriusan konflik Amerika-Cina yang bisa memicu Perang Pasifik II ini terlihat dari langkah Cina mengirimkan satu-satunya kapal induknya ke Laut Cina Selatan, akhir November lalu. Langkah Cina ini menyusul pelanggaran wilayah pertahanan udara Cina oleh pesawat-pesawat pembom Amerika selang 2 hari setelah pengumuman wilayah pertahanan udara tersebut.

Kapal induk Cina bernama "Liaoning" ini meninggalkan pelabuhan Qingdao tgl 26 November lalu dengan dikawal oleh 2 kapal destroyer peluru kendali "Shenyang" dan "Shijiazhuang", serta 2 frigat peluru kendali "Yantai" dan "Weifang". Menurut media-media Cina ini merupakan misi latihan lintas laut, untuk tidak menyebutnya sebagai misi tempur, yang pertama kalinya bagi "Liaoning".

Cina mengumumkan wilayah baru pertahanan udaranya pada tgl 23 November. 2 hari kemudian 2 pesawat pembom strategis B-52 Amerika terbang di atas wilayah kepulauan yang menjadi sengketa antara Cina dengan Jepang, yang termasuk ke dalam wilayah pertahanan udara Cina.

Amerika sendiri secara tegas menolak klaim wilayah udara Cina tersebut. Melu Amerika John Kerry menyebut langkah Cina tersebut sebagai "tindakan mengeskalasi ketegangan di kawasan dan menciptkan risiko terjadinya insiden."

Cina mengingatkan militernya akan mengambil langkah "langkah pertahanan darurat untuk merespons pesawat-pesawat asing yang tidak bekerjasama dengan memberikan identifikasi dan menolak instruksi yang diberikan."

Tentang 2 pesawat B-52 yang terang-terangan melanggar peringatan tersebut, kemenhan Cina mengatakan bahwa pihaknya telah memonitor kedua pesawat tersebut meski tidak melakukan tindakan apapun.

"Militer Cina memonitor seluruh proses yang terjadi, melakukan identifikasi pada saat yang tepat dan memastikan tipe pesawat Amerika itu. Cina memiliki kemampuan melakukan kontrol yang efektif atas wilayah kami," kata jubir kemenhan Cina Geng Yansheng perihal insiden pesawat B-52.

Menurut Tang Siew Mun dari ISIS (Institute of Strategic and International Studies) kemungkinan Cina menganggap wilayah Laut Cina Selatan lebih penting untuk dijaga daripada Laut Cina Timur, sehingga harus mengirimkan kapal induknya ke sana.

Kapal induk "Liaoning" merupakan kapal bekas milik Rusia "Varyag" yang dihentikan operasinya setelah tumbangnya regim Uni Sovyet. Sempat nyaris dibesi-tuakan atau dijadikan hotel terapung, oleh Cina kapal ini direvitalisasi kembali dan siap beroperasi kembali sebagai kapal perang.

Meski tengah membangun sendiri beberapa kapal induk baru, Cina lebih mengandalkan kekuatan rudal-rudal balistik anti-kapal Dong Feng untuk menetralisir keunggulan laut Amerika. Memiliki daya jangkau hingga 1.000 km dari lepas pantai dan dengan kecepatan serta keakuratan yang tinggi, Dong Feng merupakan satu-satunya senjata rudal balistik anti-kapal di dunia selain versi Iran yang lebih kecil "Khalij Fars".

REF:
"US, China flexing muscles in Pacific"; Russia Today; 27 November 2013

2 komentar:

ismahli zain mengatakan...
Semoga amerika tidak lagi menjadi negara super power di dunia setelah runtuhnya uni sovyet..
andre an mengatakan...
semoga peperangan antara cina dan amerika akn terjdi.kt jd penonton.!

US, China flexing muscles in Pacific

Date and Time:27 November 2013 - 18:54 - 

http://www.islamicinvitationturkey.com/2013/11/27/us-china-flexing-muscles-in-pacific/ 

336971_Chinese aircraft carrier

The United States and China embark upon a new military-power showdown in the Pacific with Beijing sending its sole aircraft carrier to the South China Sea after American bombers defied a Chinese no-fly zone in the region.

The Chinese warship Liaoning, which left its home port of Qingdao on Tuesday, was accompanied by two missile destroyers, the Shenyang and Shijiazhuang, and two missile frigates, the Yantai and Weifang. 

According to Chinese media reports, the cruise is on its first cross-sea training mission. 

Beijing’s move came immediately after Washington flew two B-52 bombers over disputed islands in the East China Sea to challenge China’s freshly declared Air Defense Identification Zone. 

China established the defense zone over the weekend, urging airlines to inform the Chinese government upon entering the region. 

The United States has said it will not recognize China’s new air defense zone. 

“The United States does not apply that procedure to foreign aircraft,” State Department spokeswoman Jennifer Psaki said Tuesday. “So it certainly is one we don’t think others should apply.” 

The two US bombers’ pilots did not identify themselves upon entering the disputed airspace, as China would have wanted.

US Secretary of State John Kerry also characterized China’s move as an “escalatory action (that) will only increase tensions in the region and create risks of an incident.” 

China had warned that its military will take “defensive emergency measures to respond to aircraft that do not cooperate in identification or refuse to follow instructions.” 

China’s defense ministry said it “monitored” the US bomber flights in its defense zone. 

“The Chinese military monitored the entire process, carried out identification in a timely manner, and ascertained the type of US aircraft,” China’s defense spokesman Geng Yansheng said in a statement. 

“China is capable of exercising effective control over this airspace,” he added. 

Meanwhile, the Philippines warned on Wednesday that China’s deployment of the warship could aggravate tensions in the region. 

“Its deployment does not contribute to collective efforts to strengthen regional stability and instead serves to threaten the status quo,” Philippine Foreign Affairs Department spokesman Raul Hernandez said. 

Tang Siew Mun, director of Foreign Policy and Security Studies at the Institute of Strategic and International Studies, said it was “probably very prudent” to hold the Chinese aircraft carriers in the South China Sea rather than the East China Sea.

Tensions between the US and China have entered a new phase over the recent developments. 

China is concerned about US militarism in the Asia-Pacific. Beijing is considering the Pentagon’s focus to “pivot” increased US military presence in the Pacific as a strategy to counter China’s increasing global influence. 

In a phone interview with Press TV, American military analyst Michael Burns said China is testing the United States by declaring a no-fly zone over the East China Sea. 

China started to “realize that their economic power has to be matched with military power based on the model that has existed in the past century, which is the flag follows the fleet. Basically that is to say the political power follows military power,” Burns said.

Related posts:
  1. China slams US, Japan over identification declaration
  2. US seeks military ties with China
  3. Great Satan US to deploy high-tech weapons to Asia-Pacific
  4. China, Russia launch first joint naval exercises in Yellow Sea
  5. China slams US growing military presence in Asia
  6. China slams US growing military presence in Asia
  7. US worried about China’s nuke bombers hitting military bases
  8. US encircling China with military bases
  9. China’s ships enter waters around disputed islands: Japan
  10. China ships spotted in waters near Japanese islan
  11. US worried about China’s nuke bombers hitting military bases

    Date and Time:20 November 2013 - 22:54 - 

    http://www.islamicinvitationturkey.com/2013/11/20/us-worried-about-chinas-nuke-bombers-hitting-military-bases/ 

    335709_The Chinese Hongzha

    The United States is gravely concerned about China’s new long-range nuclear bombers that can target previously unreachable US military bases in the Pacific, according to a new report.

    The US-China Economic and Security Review Commission warns in its annual report that China is “rapidly expanding and diversifying” its ability to strike US bases, ships and aircraft throughout the Pacific, even places like Guam that were previously out of reach, The Foreign Policy magazine reported on Wednesday. 

    The House Armed Services Committee is set to discuss China’s Hongzha-6K bomber at a hearing on Wednesday when members of the commission will testify about their report. 

    The US military has made Guam a key strategic military hub in the western Pacific as part of Washington’s new “pivot” strategy of realigning American forces toward Asia. 

    The report warned that China has become increasingly aggressive in the way it handles issues with US allies such as the Philippines and Japan. 

    “Although sovereignty disputes in the East and South China Seas are not new, China’s growing diplomatic, economic, and military clout is improving China’s ability to assert its interests,” according to the report. 

    “It is increasingly clear that China does not intend to resolve the disputes through multilateral negotiations or the application of international laws and adjudicative processes but instead will use its growing power in support of coercive tactics that pressure its neighbors to concede to China’s claims,” it added. 

    China’s new drone, which resembles the MQ-9 Reaper, can be armed with Hellfire missiles, bombs and other weapons. 

    The commission also warned about the growth of the Chinese navy.
    “By 2020, barring a US naval renaissance, it is possible that China will become the world’s leading military shipbuilder in terms of the numbers of submarines, surface combatants and other naval surface vessels produced per year,” said the report, citing Chinese military experts Andrew Erickson and Gabe Collins. 

    This is while the United States has planned to conduct more joint military exercises in western Pacific and encircle China with a chain of small air bases and military ports.
    China is considering the Pentagon’s focus on the “pivot” to the Asia-Pacific as a strategy to counter China’s increasing global influence.
    Beijing says American militarism in the region could endanger peace, urging Washington to abstain from flexing its muscles. 

    Related posts: 
  12. US encircling China with military bases
  13. Great Satan United States is encircling China with a chain of small air bases and military ports
  14. US encircling China with military bases
  15. China slams US growing military presence in Asia
  16. US, India discuss China’s military power 
  17. Great Satan United States is encircling China with a chain of small air bases and military ports

    Date and Time:22 August 2013 - 15:44 - http://www.islamicinvitationturkey.com/2013/08/22/great-satan-united-states-is-encircling-china-with-a-chain-of-small-air-bases-and-military-ports/
     
    US encircling China with military bases

    As part of a new strategy to “pivot” increased US military presence in the Asia-Pacific, the United States is encircling China with a chain of small air bases and military ports, a report says.
    The US Air Force is planning to lease 33 acres of land on the small Pacific island of Saipan for the next 50 years to build a “divert airfield” on an old World War II airbase there, according to the Foreign Policy magazine.
    American jets would use the small airstrip in case access to the US super-base at Guam “or other Western Pacific airfields is limited or denied,” according to an Air Force document on the project which was reviewed by the FP.
    The Air Force specifically wants to expand the existing Saipan International Airport – built on a military base and used by Japan, and later the US during the World War II – to carry out “periodic divert landings, joint military exercises, and joint and combined humanitarian assistance and disaster relief efforts,” according to the documents.
    This is in accordance with a new strategy called Air-Sea Battle, under which the Pentagon is combining air and naval forces to counter “the increasingly formidable defenses of nations like China or Iran,” the report said.
    Although large parts of the Air-Sea Battle are still in the “conceptual phase,” the strategy is currently being implemented in the Pacific region.
    An important component of the strategy is for the US military to operate “from small, bare bones bases” in the Pacific, providing its forces the opportunity to disperse if the main bases come under attack by Chinese ballistic missiles.
    China is involved in territorial disputes with US allies in the Asia-Pacific, namely the Philippines and Vietnam in the South China Sea, and Japan in the East China Sea.
    While the United States insists that its military’s “pivot” to Asia does not concern China, experts say the increased presence is a check against any future Chinese expansion into the Pacific Ocean.
    “China will be much more discreet throughout the entire region because U.S. power is already there, it’s visible; you’re not talking theory, you’re already there in practice,” said Anthony Cordesman of the Center for Strategic and International Studies.
    China sees the Pentagon’s focus on the Pacific as a strategy to counter China’s increasing global influence.
     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar