Jumat, 13 Desember 2013

PERANG DI SURIAH YANG DI CIPTAKAN DAN SKENARIOKAN OLEH ARAB SAUDI-ISRAEL-AS-NATO-DAN NEGARA2 TELUK DAN PARA MILISI TAKFIRI... TELAH MENGALAMI BABAK2 AKHIR DI KAWASAN SURIAH...??>> MEREKA TERDESAK DAN PARA PEMIMPIN-PERANGNYA MELARIKAN DIRI .>> SAUDI ARABIA MERASA MALU DAN MUNGKIN KINI MERASA TAKUT DAN KHAWATIR AKAN ADANYA PEMBALASAN TAW SEKURANG-KURANGNYA.. MERASA RISIH.. DAN PAMOR-NYA JATUH DIMATA NEGARA2 TETANGGANYA..??>> KESERAKAH PENGUASA KERAJAAN ARAB SAUDI.DAN NAFSU ..KEDENGKIANNYA.. TERHADAP IRAN DAN HEZBULLAH SERTA BASYAR ASSAD.. YANG KONSISTEM MEMBELA PARA PEJUANG MUQOWAMA....TERHADAP PENJAJAH KRIMINAL ISRAEL..YANG SELALU DIBANTU AS-NATO DAN PARA POLITISI...ANTI KEMERDEKAAN PALESTINA.. DAN KEMANDIRIAN NEGARA ISLAM..>> MAKA SEKARANG SEMAKIN JELAS JEJAK 2 KEJAHATAN PARA KAUM PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL YANG SELAMA INI TERBUNGKUS SELUBUNG2... BERBAGAI TABIR POLITIK DAN SLOGAN MEDIA DAN POLITISI BAYARAN...???>> KINI SEMAKIN NYATA SIAPA2 SOSOK...DAN TOKOH2...DEDENGKOTNYA... DIBALIK PERMAINAN .. "DEKLARASI KRIMINAL.. BALFOUR" DAN ISSUE DUSTA ...HOLOCAUST.. YANG MEMBERIKAN JALAN INVASI DAN PENDUDUKAN ISRAEL DI NEGARA MILIK BANGSA PALESTINA.. DI AWAL TAHUN 1940 -AN ITU...??? >> KINI UMAT ISLAM DAN MASYARAKAT DUNIA SEMAKIN MENYIMAK KEJAHATAN2 POLITIK PBB DAN PARA PENDUKUNG ZIONIS DAN PARA PENJAJAH KRIMINAL DUNIA ITU.. MEMAINKAN .AGENDA2..PENISTAAN BANGSA2..DAN MASYARAKAT DUNIA...??>> SEMOGA ALLAH SEGERA..MELENYAPKAN KEZHALIMAN2..YANG SELAMA INI DIMAINKAN DENGAN DEMIKIAN SEKSAMA DAN RAPI.. OLEH PARA PENJAHAT KRIMINAL DUNIA.. YANG BERSELUBUNG POLITIK DUSTA.. DAN PENUH KEJAHATAN2.... KEMANUSIAAN DAN MENODAI MAKNA HAKIKI HAK RAKYAT DAN BANGSA PALESTINA UNTUK KEMERDEKAAN DAN KEADILAN.....??? TERNYATA PARA PENJAHAT ITU DIATUR OLEH PARA POLITISI DUNIA.. YANG SELAMA INI SE-AKAN DI CITRAKAN.. SEBAGAI ORANG2 HEBAT.. DAN TERHORMAT..?? PADAHAL KENYATANNYA MEREKA2 ADALAH.. PEMBUNUH DAN PENZHALIM YANG SANGAT KEJAM TERHADAP KEMANUSIAAN .. DAN RAKYAT DAN BANGSA PALESTINA..??>> BANYAK RAKYAT DAN MASYARAKAT TERTIPU.. OLEH SELUBUNG YANG DEMIKIAN .. LIHAI.. DAN SANGAT AHLI DALAM MEMAINKAN... REAKAYASA2 JAHAT MEREKA SELAMA INI...???>> . Menurut laporan media Lebanon al-Hadath pertemuan yang dilakukan Pangeran Bandar terjadi di Tel Aviv dengan dihadiri oleh PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Perancis Francois Hollande. Ketiganya merundingkan strategi bersama untuk mengkonter peran Iran yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah kesepakan nuklir Iran dengan negara-negara anggota tetap DK PBB (Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, Cina) dan Jerman. Ketiga pemimpin itu juga menekankan perlunya memperkuat sistem pertahanan Saudi, meningkatkan kerjasama inteligen dan merencanakan manuver militer bersama di Jordania...>>> Sebelumnya media-media massa juga memberitakan pertemuan intensif kepala inteligen Saudi Pangeran Bandar bin Sultan, yang tidak lain adalah saudara Pangeran Salman, dengan beberapa pejabat penting Israel dan Eropa di beberapa tempat di Eropa dan Israel. Pada tgl 17 November media Inggris The Sunday Times melaporkan bahwa Saudi telah memberi ijin kepada Israel untuk menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran....>> "Pangeran Salman bertemu dengan para pejabat keamanan Israel dan ditemani seorang pejabat tinggi Israel mengunjungi sebuah pangkalan militer Israel," tulis media Palestina Al Manar mengutip "sumber-sumber terpercaya"....>>> Meski tidak ada pernyataan resmi dari Hizbollah maupun pemerintah Syria, diperkirakan Hizbollah turut berpartisipasi dalam pertempuran di Qalamoun. Media Saudi Al Arabiya akhir Oktober lalu melaporkan bahwa Hizbollah mempersiapkan 15.000 pasukannya untuk melakukan offensif ke Qalamoun, jumlah yang tampaknya dilebih-lebihkan. Berdasarkan laporan media-media Israel yang lebih bisa dipercaya, Hizbollah hanya menempatkan 5.000-an pejuangnya di Syria, dan sebagian dari pasukan itu bahkan sudah kembali ke Lebanon setelah kemenangan dalam pertempuran di Al Qusayr bulan Mei lalu. Selain Hizbollah militer Syria juga dibantu oleh milisi Shiah Irak yang tergabung dalam satuan Brigade Abu al-Fadl al-Abbas dan kemungkinan pasukan Garda Revolusi Iran. ..>> Benarkah indikasi ke arah persekutuan Arab Saudi dan Israel semata-mata karena sama-sama kecewa dengan kesepakatan Geneva yang nampaknya menguntungkan Iran?..>> Lepas dari kekecewaan bersama Israel dan Arab Saudi, sejatinya Arab Saudi dan Israel sama-sama negara-negara satelit Amerika dan Inggris sejak awal berdirinya. ...>> Di sinilah bermula campur tangan pengusaha Inggris Rothschild dengan mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mendukung berdirinya tanah air bagi Yahudi di tanah Palestina. Yang sekarang kita kenal sebagai Israel. Bagi Rothschild, tujuan utamanya bukan mendukung Yahudi atau negara Israel, melainkan penguasaannya atas kawasan minyak di Timur Tengah. ..>>> Singkat cerita, keenam negara Teluk yang mulai dilepas sepenuhnya sebagai negara merdeka antara 1961 dan 1971, sejatinya merupakan alat monopoli dari dua pengusaha minyak Amerika-Inggris Rockefeller dan Rothschild...>>

Pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) berjalan sesuai rencana. Pertemuan digelar di Conakri Gunea mulai 9 Desember hingga 11 Desember 2013.

Sesuai tulisan kami terdahulu berjudul Sidang Para Menteri Luar Negeri OKI ke-40 dan Rencana Rahasia Arab Saudi, tentang sikap Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI untuk memutuskan hubungan diplomatik terhadap negara-negara yang mengakui pencaplokan Israel atas wilayah Yerusalem. 

Sekaligus mendesak Negara-negara OKI untuk membuat resolusi agar untuk memindahkan kedutaan mereka ke kota bersejarah tersebut. Nampaknya, terkait isu Palestina Merdeka, pernyataan negara-negara anggota OKI cukup progresif.

http://indonesian.irib.ir/cakrawala/-/asset_publisher/Alv0/content/hubungan-arab-saudi-dan-israel
 
Berita yang dilansir oleh kantor berita Iran IRIB tanggal 12 Desember 2013, mengutip pernyataan Mahmoud Ali Youssouf, menteri luar negeri Djibouti di awal sidang, menyatakan tekadnya bahwa merupakan kewajiban kita (negara-negara OKI, red) untuk melanjutkan dukungan pembentukan negara independen Palestina dan pengakuan resmi dari PBB. Yang tentunya disertai harapan bahwa pada akhirnya akan semakin mempercepat terbentuknya negara Palestina merdeka, dan ditetapkannya Baitul Maqdis sebagai ibukota Palestina.
Mungkinkah hal ini bisa terwujud secepatnya? Agaknya hasil pertemuan para Menteri Luar Negeri OKI belum sampai pada tahapan tersebut. Apalagi hal tersebut baru sebatas pernyataan yang dikumandangkan oleh Menlu Mahmoud Ali Youssouf meskipun pernyataan tersebut bisa dipastikan merefleksikan pandangan umum semua negara anggota OKI tak terkecuali Indonesia.
Maka dalam kaitan ini, Global Future Institute sepaham dengan politik keredaksian kantor berita Iran IRIB bahwa OKI sebenarnya mampu memainkan peran berpengaruh dalam menciptakan gerakan global di masyarakat internasional dalam mendukung terwujudnya hak-hak legal bangsa Palestina khususnya pembentukan negara independen Palestina. Apalagi mengingat kenyataan bahwa pembentukan negara independen Palestina adalah hak pasti yang juga ditekankan oleh berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Isu Suriah Masih Tetap Misteri

Lantas, bagaimana dengan isu-isu lain yang pada awalnya juga diagendakan seperti konflik bersenjata di Suriah maupun Mali? Menariknya, hampir semua media di Indonesia tak ada yang memberitakan pertemuan para menlu OKI tersebut secara lengkap kecuali kantor berita Iran IRIB.
Apa yang sesungguhnya terjadi pada pertemuan para menlu OKI kali ini? Salah satu mata-rantai penting untuk mengungkap misteri ini adalah rencana rahasia Arab Saudi yang nampaknya bertentangan dengan aspirasi sebagian besar negara-negara yang tergabung dalam OKI. Seperti tulisan kami terdahulu, berkembang informasi Arab Saudi bermaksud untuk menggalang dukungan dan pengaruh dari negara-negara OKI agar kelompok pemberontak Suriah yang bermaksud menggulingkan Presiden Bashar Assad, diikutsertakan dalam berbagai forum pertemuan OKI dalam kapasitas sebagai wakil negara.
Tentu saja proposal Arab Saudi tersebut bisa dibaca sebagai alat Amerika Serikat dan Israel untuk membangun sphere of influence di kalangan negara-negara Islam OKI.
Berita yang beredar di berbagai media beberapa waktu lalu nampaknya memperkuat informasi ihwal adanya rencana rahasia Arab Saudi.  Kepala intelijen Arab Saudi, Pangeran Bandar bin Sultan, dilaporkan melakukan pertemuan rahasia dengan kepala badan intelijen Israel dan pejabat tinggi Israel lainnya di Geneva, Swiss, 27 November lalu.
Dalam pertemuan antara Pangeran Bandar bin Sultan bersama para pejabat Israel itu, dibahas tentang upaya untuk mengontrol engaruh kekuatan kelompok radikal dalam perang saudara di Suriah, meredam kekuatan Ikhwanul Muslimin (IM) di dunia Arab, dan menghentikan gelombang Musim Semi Arab.
Menariknya, berita tersebut dilansir secara bersamaan oleh kantor berita Iran Fars yang kemudian dikutip dan disebarluaskan oleh harian Israel The Jerusalem Post. Pertemuan itu juga terjadi hanya tiga hari setelah tercapainya kesepakatan sementara di Geneva pada 24 November antara Iran dan P5+1 (AS, Rusia, Inggris, Perancis, dan China, plus Jerman) tentang isu program nuklir Iran.
Benarkah indikasi ke arah persekutuan Arab Saudi dan Israel semata-mata karena sama-sama kecewa dengan kesepakatan Geneva yang nampaknya menguntungkan Iran?
Lepas dari kekecewaan bersama Israel dan Arab Saudi, sejatinya Arab Saudi dan Israel sama-sama negara-negara satelit Amerika dan Inggris sejak awal berdirinya.

Ihwal Kelahiran Negara Arab Saudi

Menyusul Menyusul kekalahan Imperium Ottoman Turki pada Perang Dunia I, beberapa negara arab kemudian jatuh ke tangan Inggris seperti Irak, Jordan dan Arab Saudi lewat dinasti Ibnu Saud.
Pada 1922, Arab Saudi mendapatkan kemerdekaan penuh dari Kerajaan Inggris melalui The Treaty of Jeddah. Sejak itu, praktis Arab Saudi menguasai beberapa kawasan di Timur Tengah dengan dukungan sepenuhnya Inggris. Setelah menganeksasi Riyadh, kemudian mencaplok Madina dan Mekkah yang sebelumnya dikuasai dinasti Hashemite.
Inggris-AS memang mempertaruhkan segalanya di Timur Tengah, karena 66,5 persen cadangan minyak mentahnya memang berada di kawasan tersebut. Dan 42 persen di antaranya, berada di keenam negara Arab di kawan teluk tersebut. Sementara di Arab Saudi sendiri, terdapat 60 ladang minyak dan gas bumi yang menghasilkan 10 juta barel per hari.
Melalui perjanjian yang dikenal The San Remo Agreement, kawasan minyak Timur Tengah dibagi antara kedua negara eropa tersebut. Beberapa pengusaha minyak besar Amerika yang berada dalam kepemilikan  Rockefeller mulai meraja lela seperti Exxon Mobil, Chevron, dan Texaco kemudian bergabung dengan British Petroleum, Royal Dutch/Shell yang berada dalam kepemilikan keluarga Rothschild dan keluarga kerajaan Belanda.
Maka, beberapa perusahaan besar seperti Exxon Mobil, Texaco, BP Amoco dan Royal Dutch/Shell, yang berada dalam kepemilikan Rockefeller dan Rothschild, mulai merancang sistem pengamanan menyeluruh untuk mengamankan penguasaan mereka akan minyak mentah di kawasan teluk.
Maka, Arab Saudi yang dikuasai dinasti Ibnu Saud dijadikan sebagai basis dan markas operasi politik-ekonomi-intelijen-militer dari kekuatan-kekuatan korporasi tersebut sejak pasca Perang Dunia I.
Pada 1979, menyusul runtuhnya kerajaan Iran di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi, dan diberlakukannya nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing di Iran, beberapa pengusaha minyak Amerika dan Eropa dipaksa untuk mencari basis kekuatan dan pengaruh baru di Timur Tengah.
Maka, dua konglomerat besar Rockefeller dan Rothschild mulai menyusun kembali kekuatan baru di Timur Tengah melalui terbentuknya Dewan Kerjasama Teluk (GCC), dan melibatkan setidaknya enam negara yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar. Dewan Kerjasama Teluk dengan pilar 6 negera Arab tersebut, kecuali Oman, merupakan negara OPEC (Negara-Negara Pengekspor Minyak).
Konsesi yang diberikan Arab Saudi dengan adanya perlindungan militer dari persekutuan negara-negara yang kemudian tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk tersebut adalah, negara-negara barat mendapatkan pasokan minyak mentah dengan harga semurah mungkin. Sebagai konsekwensi dari kerjasama itu, muncullah beberapa perusahaan kontraktor pertahanan negara-negara barat memberi pelatihan militer terhadap angkatan bersenjata Arab Saudi. Beberapa perusahaan tersebut antara lain SAIC, Booz Hamilton, TRW dan Vinnel Corp.
Bisa dimaklumi jika negara-negara arab tersebut semuanya merupakan negara monarki sehingga para pengusaha minyak yang berada di belakang pemerintah Amerika dan Inggris dengan mudah bisa mengendalikan dan mengaturnya melaui uang suap dan segala bentuk praktek korupsi lainnya sebagai modus operandi.
Terciptanya Dewan Kerjasama Teluk yang disponsori Amerika-Inggris tersebut, pada perkembanganya telah melemahkan negara-negara arab berhaluan nasionalis seperti Lebanon dan Syria. Sementara negara-negara monarki Arab boneka Amerika-Inggris ini justru kian menguat.
Skema ekonomi liberal seperti Foreign Direct Investment lewat perbankan dan perusahaan-perusahaan barat, kemudian menciptakan zona perdagangan bebas di wilayah kedaulatan negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk. Bahkan ada pelabuhan bebas arus masuk barang di Dubai, Uni Emirat Arab.
Skema persekutuan strategis Amerika-Inggris dengan keenam negara arab tersebut harus ditelusur melalui skema model penjajahan ala Inggris sejak 1776. Melalui apa yang disebut sebagai British East India Company, Kuwait dijadikan basis dan markas kekuasaan Kerajaan Inggris dalam mengendalikan seluruh kawasan Timur Tengah.
Berarti sejak abad ke-16 Kuwait sudah dipandang Inggris sebagai wilayah yang cukup strategis. Sejak 1917, Inggris mulai memindahkan dukungannya kepada dinasti Ibnu Saud dari Arab Saudi melalui momentum persekutuan untuk mengalahkan dinasti Ottoman dari Turki.
Di sinilah bermula campur tangan pengusaha Inggris Rothschild dengan mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mendukung berdirinya tanah air bagi Yahudi di tanah Palestina. Yang sekarang kita kenal sebagai Israel. Bagi Rothschild, tujuan utamanya bukan mendukung Yahudi atau negara Israel, melainkan penguasaannya atas kawasan minyak di Timur Tengah.

 

Singkat cerita, keenam negara Teluk yang mulai dilepas sepenuhnya sebagai negara merdeka antara 1961 dan 1971, sejatinya merupakan alat monopoli dari dua pengusaha minyak Amerika-Inggris Rockefeller dan Rothschild.

 
Dengan demikian, Arab Saudi dan Israel memang saudara kandung dari satu orang tua yang sama: Amerika dan Inggris. Jadi tidak aneh kan kalau kedua negara tersebut seakan-akan baru bersekutu pada saat ini? (IRIB Indonesia/Theglobalreview)
*Direktur Eksekutif Global Future Institute

Iran, Saudi Arabia among 30 countries to attend Syrian peace conference

Published Thursday, December 12, 2013
http://english.al-akhbar.com/content/iran-saudi-arabia-among-30-countries-attend-syrian-peace-conference
  
Iran and Saudi Arabia, which back opposite sides in Syria's war, are among more than 30 countries slated to attend a peace conference next month, diplomats said.
The so-called Geneva II conference, a follow-up to a 2012 meeting, is aimed at mapping out a political transition to end nearly three years of fighting that has killed more than 120,000 people and displaced millions.

But the January 22 meeting will actually be held at the lakeside Swiss city of Montreux because of a shortage of hotel rooms in Geneva, which will be hosting a luxury watch fair, a Western diplomat told AFP.

"At the moment there are 32 countries invited, but that number may increase because everyone wants to come," an Arab diplomat told AFP.

"In addition to the five permanent members of the Security Council (the United States, Britain, France, Russia and China), there are the neighboring countries, as well as Saudi Arabia and Iran, and also Germany and Italy and others."
Iran is a key ally of President Bashar al-Assad, while Saudi Arabia has strongly backed the rebels.
Most countries will be represented by their top diplomats and "each minister can speak for five minutes," the Arab diplomat said. Afterwards, many of the foreign ministers will attend the World Economic Forum in Davos, which runs from January 22 to 25.
The government and the opposition will each send delegations to the meeting, and will hold bilateral talks hosted by UN-Arab League envoy Lakhdar Brahimi on January 24 in Geneva.
"Each delegation will be composed of nine members and both the regime and the opposition should present their lists to the UN by December 27, but it is not certain they will respect this date," the Arab diplomat said.

Composing the list could prove a daunting task for Syria's opposition, which is riddled with internal divisions and increasingly at odds with powerful rebel groups fighting on the ground, many of which have rejected the conference.

Saudi Arabia's intelligence chief Bandar bin Sultan told Russian President Vladimir Putin this month that Riyadh would send a delegation to the meeting, but only on the condition the opposition is represented by the National Coalition, an umbrella group backed by Western and Arab nations, according to a third diplomat who did not wish to be identified.
Various other parties, including tolerated opposition groups inside Syria which are closer to Assad ally Russia and do not support the rebellion, have reportedly expressed interest in attending the conference.

"Putin has not, for the moment, responded to the request," he said.
The Coalition has said it is going to the conference to discuss the removal of Assad from power, while the government has said it will attend the negotiations "without preconditions".

Diplomats said they expected the atmosphere at the talks to be tense, and a European diplomat at the United Nations said UN officials would meet with the delegates ahead of the conference to explain the "rules of the game."
"At this point, I don't even know for sure if the conference will take place because there are still so many unknowns," he said.

The Syrian government looks set to attend the conference in a position of strength after a string of battlefield victories in the mountainous Qalamoun region near the border with Lebanon.

The rebels, meanwhile, are more divided than ever, with a powerful new Islamist alliance eclipsing the Western-backed Free Syrian Army.
The Islamic Front - which does not include al-Nusra Front or the Islamic State of Iraq and al-Sham, two al-Qaeda affiliates - seized key bases and arms depots from the FSA this week.

The move prompted the United States and Britain to suspend their non-lethal aid to the FSA and added to concerns over whether any agreement struck in Switzerland can be implemented on Syria's ever-shifting battlefields.
(AFP)


Syrian Army Eyes Yabroud after String of Battlefield Victories
http://english.farsnews.com/newstext.aspx?nn=13920920001015
Syrian Army Eyes Yabroud after String of Battlefield Victories
TEHRAN (FNA)- Syrian army continued its operations in Al-Qalamoun area after the liberation of Nabek strategic city while military sources pointed out that the army will turn its sights towards Yabroud, the last militant strongholds in the region.
The town is believed to be where a group of nuns from the historic Christian hamlet of Maalula have been transferred, reportedly in the hands of terrorists from al-Nusra Front, Al-Manar reported.

In Spain, meanwhile, El Mundo newspaper said Spanish journalists Javier Espinosa and Ricardo Garcia Vilanova have gone missing in Northern Syria. The pair are believed to have been kidnapped in September by the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL), but El Mundo's director Pedro Ramirez said "we believe they are alive and we believe they are well."

Syrian forces have seized Nabak, Deir Attiya and Qara.
The Damascus-Homs highway, a key supply route from the capital to the center of the country, is expected to reopen soon after being closed by the fighting in Qalamoun.

Saudi delegation visits Israel over Iran: Reports

Press TV — Dec 11, 2013

A senior military delegation from Saudi Arabia has visited Israel to discuss a deal recently reached between Iran and the six world powers over Tehran’s nuclear energy program, media reports say.



Saudi Deputy Defense Minister Salman bin-Sultan Al Saud and two other officers secretly visited Israel, according to reports by the Palestinian news portal al-Manar and Israeli radio.



Bin-Sultan, who is the brother of Saudi Arabia’s spy chief Prince Bandar bin Sultan bin Abdulaziz Al Saud, “met Israeli security leaders” and one of the “Israeli military bases accompanied by a senior member of the Israeli staff board”, the al-Manar report said, quoting “confidential sources”.



On November 24, Iran and the six world powers — the United States, Britain, France, Russia, China and Germany — reached an interim deal to pave the way for the full resolution of the West’s decade-old dispute with Iran over its nuclear energy program.



In exchange for Tehran’s confidence-building measure to limit certain aspects of its nuclear activities, the six countries agreed to lift some of the existing sanctions against the Islamic Republic.



Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu had previously clashed with US President Barack Obama and other Western countries over last month’s deal with Iran, describing it as a “historic mistake” that is bad for Israel. He added that Tel Aviv would not be bound by it.

On November 17, the British newspaper The Sunday Times reported that Riyadh has given the go-ahead for Israeli planes to use its airspace for possible attacks on Iran over Tehran’s nuclear energy program.



Riyadh denied the Saudi-Israeli cooperation in preparation for an attack on Iran’s nuclear program.



Iran has repeatedly warned that it will retaliate with its utmost power against any attack on its soil.

PG/MHB/AS
Source 

LANGKAH ELEGAN IRAN DI TELUK, SINGKIRKAN SAUDI KE PINGGIRAN 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/12/langkah-elegan-iran-di-teluk-singkirkan.html#.UqsdoCdeFkg

Beberapa hal "bodoh" terjadi di dunia beberapa waktu terakhir. Mahkamah Konstitusi kita yang melegalkan universitas asing membuka cabang di Indonesia, obat-obatan di Indonesia yang mengandung babi, pemerintah Bangladesh dan Thailand (menyusul pemerintahan Moersi di Mesir) yang sengaja menciptakan kekacauan daripada memikirkan pembangunan negaranya, presiden Amerika bersama PM Inggris dan PM Denmark yang bertingkah norak dalam upacara pemakaman Nelson Mandela serta kecemburuan ibu negara Michele Obama kepada PM Denmark yang lebih cantik, penerjemah resmi bahasa isyarat pemerintah Afrika Selatan yang ternyata palsu, tabrakan kereta api dengan truk BBM akibat kemacetan di pintu lintasan karena tidak terkendalinya jumlah kendaraan bermotor yang boros energi dan sumber polutan, Dahlan Iskan yang mau membuat jalan tol di atas laut dan membeli peternakan di Australia daripada membangun sendiri industri peternakan di Indonesia, Jokowi jadi kandidat terkuat presiden mendatang, Ariel Noah yang bergandengan tangan dengan Sophia Latjuba, dll. Namun bagi saya semua itu tidak se-menarik informasi tentang Iran berikut ini.

Beberapa waktu lalu saya membaca satu tulisan menarik tentang "serangan cerdas Iran di kawasan Teluk" di situs thetruthseeker.co.uk. Saya sempat berniat menuliskannya di blog ini, namun kesempatan itu hilang karena perhatian saya teralihkan kepada isu-isu lain. Namun setelah melihat artikel senada di Debkafile berjudul "Iran pushes for Saudi isolation in the Gulf amid military buildup in Hormuz", saya harus menuliskannya.

Dua perkembangan terjadi di kawasan Teluk Parsi yang menjadi tanda nyata dari kemenangan diplomatik Iran atas lawan-lawannya terutama Saudi dan Amerika, sekaligus memperkuat pandangan publik bahwa pemerintah Amerika telah mengubah orientasi politiknya terhadap Iran menjadi lebih bersahabat. Satu hal itu adalah kesepakatan Iran dengan Uni Emirat ARab (UEA) tentang pengembalian 3 pulau milik UEA yang diduduki Iran sejak tahun ketika Iran dipimpin oleh regim Shah Pahlevi. Hal lainnya adalah ketidak-hadiran Oman dalam pertemuan puncak negara-negara Teluk Gulf Cooperation Council (GCC) yang digelar di Kuwait minggu ini.

Dengan perkembagan baru ini Iran bisa bernafas lega dari ancaman konfrontasi militer dengan Amerika, khususnya di kawasan Teluk Parsi.

Sultan Oman turut terlibat dalam percakapan telepon antara Presiden Amerika Barack Obama dengan Presiden Iran Hassan Rouhani beberapa waktu lalu yang berujung pada kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara barat dan Rusia serta Cina. Ketidak hadirannya dalam pertemuan puncak GCC menunjukkan bahwa Oman tidak sudi lagi berada di bawah bayang-bayang Saudi Arabia, negara terkuat di antara anggota GCC, dan lebih memilih Iran sebagai "teman". Mereka bahkan sudah berdiskusi tentang "mengisolasi Saudi" dalam kunjungan menlu Iran Javad Zarif ke negara-negara Teluk minggu lalu.

Sejak diduduki Iran tahun 1971 pemerintah UEA secara konsisten mengajukan tuntutan pengembalian 3 pulau miliknya di Teluk Parsia. Namun sebaliknya Iran justru semakin memperkuat kehadiran militernya di Pulau Abu Musa yang dijadikan sebagai pangkalan militer Iran. Iran misalnya telah memasang 500 rudal darat-laut yang memungkinkan Iran menutup Selat Hormuz dengan mudah. Iran bahkan telah menempatkan 10 pesawat tempur SU-25 Frogfoot di sana. Meski demikian, baik Amerika maupun UEA terkesan tidak terusik dengan langkah Iran ini.

UEA dan Iran dikabarkan telah sepakat tentang pengembalian tiga pulau sengketa tanpa mengusik keberadaan pangkalan militer Iran di sana. Tidak hanya itu, keduanya diperkirakan telah sepakat tentang pembagian cadangan minyak yang diyakini berada di ketiga pulau tersebut.



TENTARA SYRIA REBUT KAWASAN QALAMOUN

Keterangan gambar: Pasukan Hizbollah di Syria.
http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/12/tentara-syria-rebut-kawasan-qalamoun.html#more

Dalam banyak peperangan, pada saat-saat terakhir kekalahannya pihak yang terdesak biasanya memilih kawasan pegunungan sebagai pertahanan terakhir. Contohnya, orang-orang PKI menjadikan kawasan pegunungan Malang Selatan sebagai pertahanan terakhir. Sedangkan orang-orang DI/TII menjadikan kawasan pegunungan Merbabu-Merapi, Sumbing-Sindoro, Gunung Slamet dan pegunungan di Tanah Priangan sebagai pertahanan terakhirnya dari serangan militer pemerintah Indonesia.

Demikian juga dalam konflik bersenjata yang tengah melanda Syria. Setelah terdesak di berbagai front seperti Al Qusayr, Sfeira, Homs, Damaskus dan Aleppo, para pemberontak kini menjadikan kawasan Pegunungan Qalamoun di utara Damaskus sebagai pertahanan terakhir mereka. Kawasan inilah yang saat ini mulai menjadi medan perang intensif, sekaligus perlawanan terakhir para pemberontak.


Pada hari Selasa lalu (10/12) militer Syria berhasil merebut kota strategis Nabak di kawasan Pegunungan Qalamoun setelah melalui pertempuran sengit dengan pemberontak yang berusaha mempertahankannya mati-matian. Kini pasukan Syria mengarahkan serangannya ke kota Yabroud di kawasan yang sama setelah sebelumnya berhasil membebaskan kota-kota Deir Attiya dan Qara, selain Nabak. Militer juga berhasil membebaskan jalan raya Damaskus-Homs yang sebelumnya dikuasai pemberontak, memungkinkan suplai logistik ke Syria Tengah kembali lancar.

Kota Yabroud merupakan pertahanan terakhir pemberontak di Qalamoun. Di kota inilah diperkirakan disembunyikannya para biarawan Kristen dari kota bersejarah Maloula yang diculik para pemberontak dari kelompok Al Nusra yang berafiliasi dengan Al Qaida.


Meski tidak ada pernyataan resmi dari Hizbollah maupun pemerintah Syria, diperkirakan Hizbollah turut berpartisipasi dalam pertempuran di Qalamoun. Media Saudi Al Arabiya akhir Oktober lalu melaporkan bahwa Hizbollah mempersiapkan 15.000 pasukannya untuk melakukan offensif ke Qalamoun, jumlah yang tampaknya dilebih-lebihkan. Berdasarkan laporan media-media Israel yang lebih bisa dipercaya, Hizbollah hanya menempatkan 5.000-an pejuangnya di Syria, dan sebagian dari pasukan itu bahkan sudah kembali ke Lebanon setelah kemenangan dalam pertempuran di Al Qusayr bulan Mei lalu. Selain Hizbollah militer Syria juga dibantu oleh milisi Shiah Irak yang tergabung dalam satuan Brigade Abu al-Fadl al-Abbas dan kemungkinan pasukan Garda Revolusi Iran.



PEJABAT SAUDI-ISRAEL SEMAKIN INTENSIF BERTEMU

Satu delegasi petinggi militer dan inteligen Saudi dikabarkan telah bertandang ke Israel untuk membicarakan "langkah bersama" menghadapi Iran paska penandatanganan perjanjian nuklir Iran beberapa waktu lalu. Delegasi tersebut dipimpin oleh menteri pertahanan Pangeran Salman bin Sultan didampingi 2 petinggi militer Saudi lainnya.

"Pangeran Salman bertemu dengan para pejabat keamanan Israel dan ditemani seorang pejabat tinggi Israel mengunjungi sebuah pangkalan militer Israel," tulis media Palestina Al Manar mengutip "sumber-sumber terpercaya".

Sebelumnya media-media massa juga memberitakan pertemuan intensif kepala inteligen Saudi Pangeran Bandar bin Sultan, yang tidak lain adalah saudara Pangeran Salman, dengan beberapa pejabat penting Israel dan Eropa di beberapa tempat di Eropa dan Israel. Pada tgl 17 November media Inggris The Sunday Times melaporkan bahwa Saudi telah memberi ijin kepada Israel untuk menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran.

Menurut laporan media Lebanon al-Hadath pertemuan yang dilakukan Pangeran Bandar terjadi di Tel Aviv dengan dihadiri oleh PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Perancis Francois Hollande. 
Ketiganya merundingkan strategi bersama untuk mengkonter peran Iran yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah kesepakan nuklir Iran dengan negara-negara anggota tetap DK PBB (Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, Cina) dan Jerman.

Ketiga pemimpin itu juga menekankan perlunya memperkuat sistem pertahanan Saudi, meningkatkan kerjasama inteligen dan merencanakan manuver militer bersama di Jordania.


REF:
"Syrian Army Eyes Yabroud after String of Battlefield Victories"; almanar.com.lb; 11 Desember 2013
"Saudi delegation visits Israel over Iran: Reports"; Press TV; 11 Desember 2013
"Prince Bandar attends anti-Iran meeting in Israel"; Press TV; 23 November 2013
"Hezbollah deploys 15,000 troops for anticipated Qalamoun battle"; al Arabiya; 31 Oktober 2013

1 komentar:

abu bakar mengatakan...
saya tidak percaya pasukan revolusi iran terlibat terus,namun mereka dikatakan sebagai penasihat taktikal, yang pasti banyak grup militia syiah iraq terlibat...

salem idris telah lari dari medan perang..david cameron memujuknya untuk kekal berhubung dgn tentera yang ditinggalkan

15000 pemberontak telah berkumpul di satu kawasan, kita tunggu samada saa berjaya mengebom mereka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar