Minggu, 01 Desember 2013

LEBANON DALAM CENGKERAMAN SAUDI ARABIA-BARAT-DAN INGIN MENGUASAI HEZBULLAH...???>>> SESUNGGUHNYA LEBANON NEGARA YANG MUASALNYA ADALAH BAGIAN DARI SYRIA...>> NAMUN DALAM PERKEMBANGANNYA SETELAH DIKUASAI PENJAJAH... PRANCIS.., MAKA LEBANON MENJADI NEGARA TERPISAH...>>> SECARA BUDAYA DAN AKAR MASYARAKAT LEBANON ADALAH SAMA DENGAN SURIAH...?? NAMUN DALAM PERKEMBANGANNYA... BERBAGAI PIHAK BERMAIN DISANA... TERUTAMA AS-PRANCIS-ISRAEL DAN ARAB SAUDI... ??? HANYA HEZBULLAH YANG MEMELIHARA TRADISI DENGAN SURIAH..??>> ... INILAH KONDISI SEBENARNYA DISANA...SEBAGAI NEGARA YANG PADA AWALNYA MEMANG NEGARA BERBASIS ISLAM YANG BEBAS...>>> SAYANG SETELAH BEBERAPA DEKADE DIKUASAI PENJAJAH DAN JUGA TENTU DENGAN PARA PENDUKUNGNYA ITU... LEBANON SEMPAT TERCERAI BERAI DAN BEBERAPA KALI PERANG SAUDARA...>> DAN JUGA DISERANG OLEH ISRAEL...??? SEMUA ITU ADALAH PERMAINAN JAHAT PARA PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL DAN PARA ENTEK2NYA DI LEBANON...YANG MEMECAH BELAH BANGSA LEBANON ASLI...??>>> SEMOGA MEREKA MENYADARI DAN KEMBALI MEMPERKUAT PERSATUAN SEBAGAI BANGSA MERDEKA DAN KEMBALI KEPADA AKAR BUDAYA LUHUR...SEPERTI SEMULA... >> ...Presiden Lebanon, Michael Suleiman, seorang Kristen yang secara kultural lebih dekat dengan barat, "mendekati" Saudi Arabia melalui kunjungan resmi tgl 11 November lalu. Saudi Arabia tengah sakit dan pengaruhnya di Timur Tengah berada di titik terendah terutama setelah kegagalan "proyek Syria". Cap Saudi sebagai "negara bos para teroris" dan "pelindung para ekstremis Islam" tentu juga tidak menguntungkan popularitasnya di Lebanon yang pluralis...>>> In the end, very little was achieved other than a cold reception by the king, who barely had anything to say to Suleiman, other than ordering him to send the army after Hezbollah to prevent it from fighting in Syria. Worse yet, when the president arrived at the meeting with the king, he was surprised to see former prime minister Saad Hariri sitting by the monarch’s side, as if he were the honored guest...>>> At this point, it was impossible for Suleiman to raise the issue of forming a government – if the Saudis want the Lebanese army to fight Hezbollah, then having a reasonable discussion about a new cabinet seemed impossible...>> Assad noted that, by contrast, awareness among Arab peoples is reemerging, saying that raising the picture of the late Egyptian President Gamal Abdul-Nasser in many Arab demonstrations is a sign of this...>> ..“We are not against religion, but we are against invoking religion in all aspects of people’s daily lives. Even us, who are secular, gave religion a role in our constitution, which states explicitly that Sharia is a source of legislation. However, we refuse any politicization of religion in the sense that leads to negative results. As an example that our stance is not against religion, consider Hezbollah’s case in Lebanon. This is an ideological party that derives its ideas from religion. But we do not disagree with Hezbollah politically. This is proof that we don’t have an absolute stance against religions, but we refuse any religious force that operates in accordance with takfiri or Wahhabi ideology. ..>> “For this reason, we say that we do not deal with the Muslim Brotherhood in this way. I believe that Syria cannot tolerate this faction. They did not give us a positive model in all stages. They operate on the basis of a sectarian position; otherwise, how can one explain their stance opposed to Hezbollah? They accept politicization in all issues, and use sectarian discourse to inflame Sunni-Shia strife.” ..>> “Syria, like Iran and Hezbollah, tolerate many things to prevent sedition. Even the approach in dealing with the situation in Bahrain is very cautious for this reason.” ..>>> ..Assad added, “Today’s generation has been subjected to a large-scale process of spreading ignorance. The generation that preceded us had more awareness, and this process of spreading ignorance is aimed at keeping the Arab world in a state of backwardness. I want to remind you that the West does not want us to ever evolve. I remember when the US Secretary of State Colin Powell visited us in 2003 and conveyed his country’s demands from Syria after the occupation of Iraq, he especially wanted us not to host any Iraqi scientists. We rejected his demand, so the US and Israeli intelligence liquidated quite a few of those scientists. Today, they want to eliminate scientists in Iran.” ..>> Regarding the position of the Western countries that back the armed Syrian opposition, Assad said, “The colonial West still acts in a vain mentality. They act like the past 20 years did not happen. They ignore the US defeat in Iraq, and they act as though the Soviet Union collapsed only yesterday.” ..>> The [Saudis] gave cover to the Camp David agreement, supported the war on Lebanon in 1982, and today, they are engaged in an open-ended war against Syria. We are now openly saying that we are at war with them. ...>>



MISI GAGAL PRESIDEN LEBANON 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/11/misi-gagal-presiden-lebanon.html#.UpwbVSeN6So

 
 
 
Entah atas pertimbangan apa Presiden Lebanon, Michael Suleiman, seorang Kristen yang secara kultural lebih dekat dengan barat, "mendekati" Saudi Arabia melalui kunjungan resmi tgl 11 November lalu. Saudi Arabia tengah sakit dan pengaruhnya di Timur Tengah berada di titik terendah terutama setelah kegagalan "proyek Syria". Cap Saudi sebagai "negara bos para teroris" dan "pelindung para ekstremis Islam" tentu juga tidak menguntungkan popularitasnya di Lebanon yang pluralis.

Tapi kunjungan tetap dilakukan, dan kekecewaan lah yang didapat.

Dengan berbasa-basi memuji peran Saudi terhadap negara Lebanon, Sulaeiman berharap Saudi akan memperkuat dukungan ekonomi kepada Lebanon terutama terkait dengan beban ekonomi yang ditanggung Lebanon akibat keberadaan pengungsi Syria. Harapan kedua, dan inilah yang terbesar, adalah peran aktif Saudi untuk membantu memecah kebuntuan politik Lebanon terkait pembentukan kabinet yang tidak juga tuntas akibat penolakan blok politik sekutu Saudi, Partai Al Muqtakbal, yang dipimpin mantan perdana menteri Saad Hariri dan Fuad Siniora.

Namun, alih-alih jawaban memuaskan, Raja Abdullah justru memojokkan Sulaeman ke posisi yang paling tidak diinginkan oleh semua pemimpin politik Lebanon, yaitu berhadap-hadapan melawan Hizbollah.

"Anda harus mengirimkan tentara untuk menghentikan keterlibatan Hizbollah di Syria," kata Raja Abdullah.

Sulaimen adalah seorang jendral dan mantan panglima Tentara Lebanon. Ia faham betul bahwa Hizbollah tidak bisa dikalahkan. Jangankan oleh tentara Lebanon, Israel pun berulangkali dibuat kalang kabut oleh Hizbollah. Itulah sebabnya, sebagai panglima tentara yang secara konstitusi berada di bawah komando perdana menteri, ia memilih netral dalam konflik bersenjata antara perdana menteri Fuad Siniora dengan Hizbollah tahun 2008.

Kala itu Fuad Siniora dengan percaya diri karena bantuan senjata, milisi-milisi bersenjata dan limpahan uang dari Saudi, mencoba kekuatan Hizbollah dengan berusaha merampas jaringan telekomunikasi milik Hizbollah yang menjadi sumber kekuatan Hizbollah menghadapi Israel. Pemimpin Hizbollah Sayyed Nasrallah telah memperingatkan Siniora bahwa jika mau Hizbollah sanggup membuat Siniora terbangun esok hari di dalam penjara. Namun peringatan itu tidak diindahkan Siniora.

Maka Hizbollah pun bertindak cepat dengan menyerang posisi milisi-milisi pendukung Siniora di Beirut dan sekitarnya. Benar saja. Dalam sehari pertempuran, Siniora sudah terkepung di dalam kediaman resminya. Maka, alih-alih merampas jaringan telekomunikasi Hizbollah, Siniora harus merelakan beberapa pos kabinetnya jatuh ke tangan Hizbollah.

Maka demi mendengar permintaan Raja Abdullah tersebut, Suleiman pun tersentak kaget dan setelahnya hanya bisa termangu-mangu. Pada saat itulah muncul kejutan lain yang diterima Suleiman, yaitu ketika kemudian muncul sosok Saad Hariri, mantan perdana menteri Lebanon yang merupakan "anak emas" kerajaan Saudi. Demi mencairkan suasana, dengan berbasa-basi Hariri memuji peran Suleiman dalam mencegah keterlibatan Lebanon dalam konflik Syria.

"Jika mampu (melawan Hizbollah) tentu beliau akan melakukannya," kata Hariri kepada raja.

Kehadiran Hariri tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Sulaimen sebenarnya bisa ditafsirkan sebagai penghinaan bagi Suleiman. Ia adalah seorang presiden yang tengah dalam pembicaraan resmi dengan seorang raja, sementara Hariri hanya warga biasa yang tengah dilanda kebangkrutan ekonomi dan politik. Pada situasi seperti ini tentu sangat sulit bagi Suleiman untuk membicarakan isu pembentukan kabinet. Maka kunjungan Suleiman pun mengalami kegagalan total.


REF:
"Saudi King Tells Suleiman Army Must Fight Hezbollah"; Al Akhbar; 27 November 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar