Jumat, 27 Desember 2013

.... rasionalitas tetap ditunjukkan Hizbullah. Pada November tahun 2012, Israel rupanya melancarkan serangan masif ke Gaza selama delapan hari, namun dunia tak banyak menggubris. Hizbullah tetap membantu Hamas dalam mengusir tentara Israel. Pemimpin Hizbullah pada saat itu mengatakan, "Banyak pihak yang menyatakan bahwa Israel tengah menghukum Hamas, yang ditinggalkan oleh Iran, Suriah dan Hizbullah. Tetapi pada kenyataannya, Iran, Suriah dan Hizbullah tidak akan menyerah mendukung Gaza dan perlawanannya. Ini adalah kewajiban moral dan agama serta kemanusiaan." Nasrallah bahkan mengkritik Qatar dan Arab yang aktif mempersenjatai pemberontak Suriah, namun tidak membantu Hamas (AFP,20/11/2012). ..>>... darimana tentara oposisi mendapatkan seluruh amunisi yang tidak sembarangan itu, jika tidak ada pihak yang berkepentingan memberikannya pada pihak oposisi? Maka kecurigaan Assad merangsek semakin kuat pada “negara-negara barat”. Amerika Serikat dan Inggris dituding dua negara yang bisa melakukan jual-beli senjata itu.>> Sebanyak 193 negara anggota PBB memberi suara dalam sidang PBB. Dari jumlah itu, 138 negara mendukung pemberian status baru bagi Palestina. Sembilan negara menentang dan 41 negara abstain. Kanada, Israel, dan Amerika Serikat termasuk yang menentang rancangan pemberian status merdeka bagi Palestina...>>> Negara-negara pendukung rancangan resolusi itu adalah 70 negara. Mereka antara lain Indonesia, Iran, Cina, Aljazair, Angola, Brazil, Kuba, Jordania, Kenya, Nigeria, Pakistan, Peru, Qatar, Senegal, Afrika Selatan, Tajikistan, Venezuela, dan Zimbabwe...>>> ...."Saya, tetap di meja saja, bisa menyadap siapapun, mulai dari Anda hingga akuntan Anda, dari hakim federal atau bahkan presiden, jika saya memiliki email pribadi," kata Snowden menggambarkan dahsyatnya alat-alat mata ini pada The Guardian, Rabu 31 Juli 2013. Menurut Snowden, program ini adalah Intelijen Jaringan Digital (DNI) canggih yang paling luas jangkauannya. Dengan program ini, lanjutnya, NSA dapat melacak apapun aktivitas targetnya di internet, mulai dari riwayat pencarian di mesin pencari, email dan informasi individu target. ..>>>

TEKNOLOGI

XKeyscore, Program Penyadapan Terdahsyat Intelijen AS

Dengan program ini, NSA bisa sadap seluruh aktivitas internet warga.

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/434029-xkeyscore--program-penyadapan-terdahsyat-intelijen-as

ddd
Kamis, 1 Agustus 2013, 15:22 Denny Armandhanu, Amal Nur Ngazis
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi (thedawsonacademy.com)
VIVAnews - Satu per satu program rahasia Badan Keamanan Nasional AS (NSA) terus terkuak. Program terbaru yang dibongkar Edward Snowden kepada The Guardian adalah XKeyscore.

The Guardian, Rabu 31 Juli 2013, menuliskan program p
VIVAnews - Satu per satu program rahasia Badan Keamanan Nasional AS (NSA) terus terkuak. Program terbaru yang dibongkar Edward Snowden kepada The Guardian adalah XKeyscore.

The Guardian, Rabu 31 Juli 2013, menuliskan program pengawasan ini adalah yang paling dahsyat cakupannya dalam memata-matai warganya. Pasalnya program ini memiliki jangkauan terluas dalam mengumpulkan data dari seluruh jaringan internet.

Berbekal program ini, analis NSA dapat melacak pencarian berbasis nama, nomor telepon, alamat IP, kata kunci bahkan sampai bahasa tertentu yang digunakan dalam aktivitas internet dari target.

Sebagai gambaran, Edward Snowden menyebutkan, cukup dengan duduk di depan komputer, XKeyscore bisa menyadap siapapun, dari hakim federal hingga presiden. "Syaratnya cukup punya email pribadinya," ujar Snowden.

Dalam bocoran Snowden, Xkeyscore adalah bentuk intelijen jaringan komputer NSA atau yang dikenal dari nama Digital Network Intelligence (DNI). NSA juga dapat menggunakan program ini untuk mengintersepsi secara langsung aktivitas internet target.

Untuk menyadap email, agen NSA hanya tinggal memasukkan alamat email di program ini. Jangka waktu pencarian juga bisa diatur sesuai yang diinginkan.
Untuk membaca semua data detail riwayat email, NSA menggunakan program XKS untuk masuk ke alamat email individu bahkan bisa memilih email mana saja yang ingin disadap lagi dari data email target.

Dengan alat DNI Presenter, agen NSA juga dapat menyadap pesan chatting pribadi dalam Facebook. Cukup dengan memasukkan nama akun yang ingin disusupi.

Data NSA mengungkapkan jumlah komunikasi yang diakses XKeyscore sangat signifikan. Pada 2007 silam, diperkirakan ada 850 miliar panggilan yang dikumpulkan dan tersimpan dalam database NSA.
Untuk komunikasi internet disebutkan hampir 150 miliar terekam. Jika dihitung per hari, diperkirakan NSA mengumpulkan rekaman dokumen 1-2 miliar.

Program XKeyscore punya keterbatasan waktu penyimpanan data internet. Sistem ini hanya menyimpan data dalam jangka 3-5 hari. Untuk metadata mampu disimpan selama 30 hari.

Salah satu dokumen yang diberikan Snowden menjelaskan pada beberapa situs internet, jumlah data  yang diterima NSA mencapai lebih dari 20 TB per hari dan data ini dapat disimpan dalam waktu 24 jam.

Untuk mengatasi kelemahan ini, NSA telah menciptakan sistem multi-tier, yang memungkinkan agennya menyimpan konten berharga dalam database lain. Misalnya database program Pinwale yang mampu menyimpan data selama 5 tahun. Pada 2012, total rekaman yang dikumpulkan setidaknya 41 miliar dan tersimpan selama 30 hari. (eh)

Snowden Bongkar Lagi Alat Mata-mata AS

Dengan program ini, NSA bisa menyadap aktivitas targetnya di internet.

ddd
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/434007-snowden-bongkar-lagi-alat-mata-mata-as
Kamis, 1 Agustus 2013, 14:24 Denny Armandhanu, Santi Dewi
Edward Snowden
Edward Snowden (REUTERS/Glenn Greenwald/Laura Poitras/Courtesy of The Guardian/Handout via Reuters)
VIVAnews - Dari persembunyiannya, Edward Snowden masih bisa membuat Amerika Serikat gerah. Kali ini dia mengungkapkan alat Badan Keamanan Nasional (AS) yang mampu menyadap data internet warga dalam skala besar.

Hal ini kembali diungkapkan oleh media Inggris The Guardian yang sejak awal sudah menerima bocoran dari Snowden. Dalam artikelnya, The Guardian mengutip Snowden bahwa NSA memiliki XKeyscore, sebuah program canggih pencarian menyeluruh di internet.

"Saya, tetap di meja saja, bisa menyadap siapapun, mulai dari Anda hingga akuntan Anda, dari hakim federal atau bahkan presiden, jika saya memiliki email pribadi," kata Snowden menggambarkan dahsyatnya alat-alat mata ini pada The Guardian, Rabu 31 Juli 2013.

Menurut Snowden, program ini adalah Intelijen Jaringan Digital (DNI) canggih yang paling luas jangkauannya. Dengan program ini, lanjutnya, NSA dapat melacak apapun aktivitas targetnya di internet, mulai dari riwayat pencarian di mesin pencari, email dan informasi individu target.


Mengaku

Bocoran terbaru ini muncul di tengah upaya Senat AS meminimalisir dampak dari penyadapan. Wakil Direktur NSA, John Inglis, akhirnya mengakui pada sidang Komite Peradilan Senat Rabu kemarin bahwa mereka memang menyadap telepon warga.

Inglis mengatakan bahwa untuk mencari satu tersangka terorisme, mereka bisa menyadap jutaan telepon warga. Selain melacak, mereka juga mengaku turut mendengarkan isi pembicaraan di telepon itu.

Saat NSA mencurigai seorang tersangka, maka mereka akan memeriksa data yang tersimpan di dalam telepon mereka, seperti panggilan keluar masuk dan identitas orang-orang yang melakukan telepon itu. Apabila rata-rata seseorang dapat membuat panggilan ke 40 orang, maka pemerintah diizinkan memperoleh 2,5 juta data telepon untuk melacak seorang tersangka.

Menurut laman Al Jazeera, NSA melakukan pelacakan terhadap 300 tersangka pada tahun lalu. Selain mengungkap soal aksi agen NSA yang dapat mendengar isi pembicaraan telepon warga, XKeyscore juga dibahas.

Pengakuan Inglis ini bertentangan dengan pernyataan Presiden Barack Obama pada 8 Juni kemarin yang menyebut tidak ada satu orang pun yang mendengar isi pembicaraan di telepon.

Penasihat Direktur Keamanan Nasional, Robert Litt, mengatakan kepada Komite Pengadilan, bahwa pihaknya siap melakukan evaluasi ulang terhadap program tersebut.
"Kami siap melakukan evaluasi ulang demi memberikan keyakinan dan kepercayaan yang lebih besar kepada masyarakat bahwa program ini dibuat untuk memperoleh keamanan pribadi dan nasional," kata Litt.


Palestina di Penghujung 2013 dan Rasionalitas Hamas




 

Dina Y. Sulaeman*
Laporan akhir tahun Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan bahwa Israel selama tahun 2013 telah melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina sebanyak 300 kali. Antara lain, menewaskan puluhan warga Palestina dan menciderai 3753 lainnya dalam berbagai serangan terhadap wilayah Palestina. Para pemukim Zionis sepanjang tahun ini juga merusak lebih dari 10 ribu pohon zaitun milik warga Palestina. Angka ini naik 25% bila dibandingkan dengan tahun 2012.
Selama tiga tahun terakhir, perhatian dunia kepada Palestina memang banyak teralihkan oleh pemberitaan soal ‘jihad' Suriah. Bahkan perundingan damai Palestina-Israel pun sudah lama terhenti.  Meski bulan Juli tahun 2013 ini, proses perundingan diupayakan kembali, namun lagi-lagi, dunia tak terlalu hirau. Menteri Perang Israel pun dengan pongahnya berkata, "Jika Israel tidak aman, maka Gaza tidak akan pernah merasakan ketenangan" menyusul aksi bombardier jet-jet tempur Israel ke Bait Laia dan Khan Yunis baru-baru ini.
Apa Kabar Hamas?
Perjuangan bersenjata melawan Israel sejak tahun 1980-an dilakukan oleh dua milisi utama, Hizbullah dan Hamas. Keduanya selain berjuang dengan senjata, juga terlibat dalam proses politik di negara masing-masing, Lebanon dan Palestina. Hamas dan Hizbullah mendapat dukungan besar dari Iran dan Suriah. Keempatnya membentuk satu-satunya front perlawanan terhadap Israel, sementara negara-negara Arab di kawasan justru berdamai dengan negara Zionis itu.
Namun sejak tahun 2011, Hamas membelot dari kubu ini. Seiring dengan pecahnya konflik Suriah, Khaled Mashal yang selama bertahun-tahun berkantor di Damaskus (karena inilah satu-satunya kota aman bagi dirinya yang terus-menerus diincar agen-agen Mossad), diam-diam pindah ke Qatar pada Januari 2012. Emir Qatar (yang juga salah satu donatur utama pemberontak Suriah) rupanya tiba-tiba berbaik hati, menawarkan perlindungan dan uang kepada Hamas. Segera setelah itu, pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, mengumumkan dukungannya terhadap pemberontak Suriah. Tak heran bila Assad menyindir perilaku orang-orang Hamas ini, "Sekelompok warga Palestina memperlakukan Suriah seperti layaknya hotel."
Ketegangan Hizbullah-Hamas semakin memuncak saat Hizbullah memutuskan terjun langsung ke dalam medan pertempuran Suriah. Pada pertengahan tahun 2013, Hizbullah mengirimkan pasukannya ke Qusayr di perbatasan Lebanon-Suriah, yang menjadi basis pasukan pemberontak. Di Qusayr, tentara Hizbullah terpaksa berperang melawan pasukan Hamas yang rupanya membantu para pemberontak.
Di titik inilah Hamas telah kehilangan rasionalitasnya. Aktor rasional, dalam terminologi politik, adalah aktor yang mampu memilih keputusan yang paling menguntungkan dirinya. Secara rasional, Hamas seharusnya mengabaikan masalah mazhab, mengingat selama ini yang membantunya adalah negara atau kelompok yang tidak memperdulikan masalah mazhab dalam membela Palestina (bahkan masyarakat Barat pun aktif membantu Palestina). Yang harus diperjuangkan Hamas seharusnya adalah kemerdekaan Palestina. Namun mereka malah mencurahkan energi untuk menumbangkan Assad yang selama ini menjadi teman seperjuangan dalam melawan Israel. Alasannya hanya satu, karena (salah satu faksi) pemberontak Suriah adalah Ikhwanul Muslimin, yang rupanya satu ‘aliran' dengan Hamas. Pertimbangan keputusan Hamas hanyalah didasarkan pada sentimen mazhab. Hamas memilih berpihak pada rezim Sunni-Wahabi di Qatar, Turki, dan Saudi untuk menggulingkan Assad yang dianggap rezim Syiah.
Padahal, sekali lagi, perjuangan melawan Israel tidaklah melibatkan mazhab. Hamas sejak 2006 menerima bantuan dana 1,5 juta poundsterling per bulan dari Iran (yang bermazhab Syiah). Sikap Hamas yang mengkhianati front perjuangan melawan Israel telah membuat Iran menghentikan bantuan dananya kepada Hamas. Akhirnya,  Hamas mengaku kesulitan keuangan. Sebagaimana dikutip The Telegraph (31/5), Ghazi Hamad, Wakil  Menlu dari Hamas menyatakan, "Saya tidak bisa memberikan angka tepatnya [bantuan Iran]. Untuk mendukung revolusi Suriah, kami sudah kehilangan [dana] sangat banyak. Sejak tahun 2006 Iran mendukung Hamas dengan uang dan banyak hal lainnya. Tetapi situasinya tidak seperti di masa lalu."
Bukan cuma Hamas sebagai organisasi yang tidak rasional. Orang-orang Palestina pun (meski tak mengatasnamakan organisasi) banyak juga yang kehilangan orientasi: melupakan Israel dan Suriah sebagai medan jihad. Mereka mau saja direkrut oleh pasukan pemberontak untuk berperang di Suriah, antara lain tergabung dalam battalion Aknaf Bayt al-Maqdis.
Pengeboman Kedubes Iran di Beirut pada 19 November lalu juga bentuk kehilangan akal ini. Pengeboman yang menewaskan sekitar 25 orang dan melukai sekitar 150 orang lainnya itu dilakukan oleh orang Palestina bernama Adnan Mousa Muhammad. Hamas tak berkomentar atas kejadian ini. Namun, pejabat Otoritas Palestina segera menyatakan perilaku Adnan adalah aksi individual dan pengecut yang tidak merepresentasikan pemerintahan Palestina (MaanNews, 24/11). Pemerintahan Palestina pun sebenarnya mendua, sebagian berada di bawah Otoritas Palestina (didominasi oleh Fatah) yang berkuasa di Tepi Barat. Sementara warga Jalur Gaza berada di bawah kekuasaan Hamas. Antara Fatah dan Hamas pun selama ini saling berseteru.
Adnan tergabung dalam "Brigade Abdulllah Azzam" yang mengaku bertanggung jawab atas pengeboman itu. Dalam pernyataan yang dirilis Brigade ini,  alasan pengeboman adalah agar Iran berhenti mendukung pemerintah Suriah. Brigade ini didirikan tahun 2004 sebagai cabang Al Qaida di Irak. Abdullah Azzam adalah nama salah satu pendiri Hamas yang tewas di Pakistan pada tahun 1989. Sikap tidak rasional mereka terlihat dari target jihad mereka: mengapa medan jihadnya justru di Suriah atau Lebanon, bukan Israel?
Sebaliknya, rasionalitas tetap ditunjukkan Hizbullah. Pada November tahun 2012, Israel rupanya melancarkan serangan masif ke Gaza selama delapan hari, namun dunia tak banyak menggubris. Hizbullah tetap membantu Hamas dalam mengusir tentara Israel. Pemimpin Hizbullah pada saat itu mengatakan, "Banyak pihak yang menyatakan bahwa Israel tengah menghukum Hamas, yang ditinggalkan oleh Iran, Suriah dan Hizbullah. Tetapi pada kenyataannya, Iran, Suriah dan Hizbullah tidak akan menyerah mendukung Gaza dan perlawanannya. Ini adalah kewajiban moral dan agama serta kemanusiaan." Nasrallah bahkan mengkritik Qatar dan Arab yang aktif mempersenjatai pemberontak Suriah, namun tidak membantu Hamas (AFP,20/11/2012).
Kembalinya Rasionalitas Hamas?
Setelah perang Suriah berlalu lebih dua tahun, agaknya Hamas mulai kembali berpikir rasional. Assad dan tentara Suriah tidak berhasil digulingkan Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, maupun kelompok-kelompok jihad lain yang berafiliasi dengan Al Qaida. Kekuatan Ikhwanul Muslimin di Mesir –yang diharapkan Hamas akan menjadi patron pengganti Iran—ternyata juga ringsek digulung kudeta militer Mesir. Qatar mulai berbaik-baik dengan Iran dan tak kunjung merealisasikan bantuannya ke Hamas. Hamas pun kembali terisolir. Tak heran bila pemimpin Hamas mulai cuci tangan.
Dalam wawancara dengan televisi Al Mayadeenyang pro-Assad pada bulan Oktober 2013, Wakil Kepala Politbiro Hamas, Abu Marzouk, mengatakan bahwa dukungan Khaled Mashal kepada oposisi Suriah tak mewakili sikap resmi Hamas. Sebelumnya, pada bulan Juni 2013, Abu Marzouk bahkan bertemu dengan Hizbullah dan pejabat Iran di Lebanon, berusaha menjalin kembali perdamaian di antara mereka. Marzouk berusaha meredakan ketegangan setelah Hizbullah berencana menutup kantor Hamas di Lebanon. Pejabat Hamas di Lebanon, Rafat Murra juga menegaskan bahwa Hamas hanya akan berkonsentrasi melawan Israel. Sebagian pihak menuding bahwa salah langkah Hamas dalam konflik Suriah terletak di tangan Mashal dan Haniyah, bukan pada Hamas secara organisasi. Bila hal demikian benar, tentunya Hamas harus bertindak tegas terhadap Mashal dan Haniyah. Rasionalitas memang tetap harus dikedepankan dalam perjuangan.(IRIB Indonesia/PH)

 *peneliti di Global Future Institute, mahasiswa program doktor Hubungan Internasional Unpad

Israel: Operasi Rahasia Intelijen Hancurkan Palestina

http://ekoariw27.blogspot.com/2013/12/israel-operasi-rahasia-intelijen.html 

"Operasi Cast Lead" adalah sebuah rencana yang dilakukan secara hati-hati, yang merupakan bagian dari salah satu agenda intelijen-militer yang lebih luas, pertamakali dirumuskan semasa pemerintahan Perdana Menteri Ariel Sharon pada tahun 2001:

Quote:
"Sumber-sumber dari Departemen Pertahanan mengatakan bahwa lebih dari enam bulan yang lalu, Menteri Pertahanan Ehud Barak telah meninstruksikan kepada Angkatan Bersenjata Israel untuk bersiap-siap menghadapi operasi, meskipun pada waktu Israel baru saja memulai merundingkan sebuah perjanjian gencatan senjata dengan Hamas."(Barak Ravid, Operation "Cast Lead": Angkatan Udara Israel menyerang mengikuti rencana yang telah diputuskan enam bulan lalu, Haaretz, Desember 27, 2008)
Adalah Israel yang melanggar gencatan senjata pada tanggal 4 November 2008, pada hari yang bersamaan waktunya dengan pemilihan presiden Amerika Serikat.


Quote:
"Israel dengan sengaja melanggar gencatan senjata terhadap Hamas yang dimanfaatkannya untuk melakukan pemboman Jalur Gaza. Namun Israel mengklaim bahwa pelanggaran yang dilakukannya ini adalah semata dalam rangka mencegah Hamas melakukan penggalian terowongan ke dalam wilayah Israel.

Hari berikutnya Israel menteror penduduk Palestina di wilayah Gaza dengan mengepung wilayah tersebut, memotong jalur suplai makanan, minyak, obat-obatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam usahanya untuk “menundukkan” rakyat Palestina, sementara pada saat yang bersamaan Israel melakukan serbuan militer.

Sementara itu Hamas dan penduduk Gaza lainnya, dalam merespon serangan Israel tersebut, membalas dengan menembakkan sembarangan roket buatan sendiri yang sebagian besarnya tidak akurat sasaran ke wilayah Isarel. Selama masa tujuh tahunan, roket ini lah yang bertanggungjawab atas kematian 17 orang Israel. Namun dalam waktu yang sama, serangan Blitzkrieg Israel telah membunuh ribuan orang Palestina, hal ini mengundang protes di seluruh dunia, tetapi tidak mendapat perhatian dari PBB." (Shamus Cooke, Massacre in Palestine and the Threat of a Wider War, Global Research, Desember 2008)

Bencana Kemanusiaan Yang Direncanakan

Pada tanggal 8 Desember, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Negroponte berada di Tel Aviv melakukan pembicaraan dengan counterpart-nya, termasuk Direktur Mossad, Meir Dagan.

"Operasi Cast Lead" dimulai dua hari setelah Hari Natal. Operasi tersebut merupakan perpaduan yang secara hati-hati dirancang melalui kampanye Humas internasional yang berada di bawah lindungan Kementrian Luar Negeri Israel.

Target militer Hamas bukanlah merupakan tujuan utamanya. "Operasi Cast Lead" adalah dimaksudkan, dan sungguh disengaja untuk memicu kasualitas sipil.

Apa yang kita hadapi sekarang adalah sebuah "bencana kemanusiaan yang direncanakan" di Jalur Gaza, sebuah wilayah perkotaan yang padat penduduknya. (Lihat peta di bawah).



Rencana jangka panjang dari tujuan ini adalah sebagaimana dirumuskan oleh para pembuat kebijaksanaan Israel, adalah pengusiran orang-orang Palestina dari wilayah Palestina:


Quote:
"Lakukan teror terhadap penduduk sipil, yakinkan terjadi kerusakan maksimal atas sumber-sumber kepemilikan dan budaya mereka... Kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus dibuat sengsara: Mereka harus diamankan di dalam kota-kota dan desa-desa, cegah dari melakukan kegiatan ekonomi secara normal, putuskan dari tempat bekerja, sekolah dan rumah sakit, Hal ini akan mendorong dilakukannya emigrasi dan akan melemahkan perlawanan pengusiran di masa mendatang. "
Ur Shlonsky, dikutip oleh Ghali Hassan, Gaza: World Largest Prison, Global Research , 2005)

Operasi Balas Dendam Yang Dibenarkan

Titik balik telah dicapai. Operasi "Cast Lead" yang merupakan bagian dari operasi intelijen-militer yang lebih luas dimulai terutama sekali semasa pemerintahan Ariel Sharon pada tahun 2001. Awalnya adalah pada waktu pemerintahan Sharon yang untuk pertamakalinya dalam "Operasi Balas Dendam Yang Dibenarkan- menggunakan pesawat tempur F-16 untuk membom kota-kota Palestina.
"Operasi Justified Vengeance" disampaikan pada bulan Juli 2001 kepada pemerintahan Israel di bawah Ariel Sharon oleh Kepala Staf Gabungan IDF, Shaul Mofaz, dengan judul"Penghancuran Otoritas Palestina dan Melucuti Semua Angkatan Bersenjatanya."
Quote:
"Sebuah rencana darurat dengan nama kode Operation Justified Vengeance, disiapkan dalam akhir bulan Juni 2001, rencana untuk menduduki semua wilayah Tepi Barat dan kemungkinan Jalur Gaza dengan mengorbankan sedikit korban dari Israel, kira "Seratusan" orang. (Washington Times, 19 Maret 2002).
Menurut Jane's 'Foreign Report' (Juli 12, 2001) pasukan angkatan darat Israel di bawah Sharon telah membaharui rencananya untuk sebuah serangan "habis-habisan untuk memukul otoritas Palestina, mengusir keluar pemimpinnya Yasser Arafat dan membunuh atau menawan pasukannya".
"Penumpahkan Darah Yang Dibenarkan"
"Bloodshed Justification" adalah sebuah komponen penting dari agenda intelijen-militer. Pembunuhan warganegara Palestina adalah dibenarkan atas "alasan-alasan kemanusiaan." Operasi militer Israel secara hati-hati waktunya disesuaikan secara bersamaan dengan serangan bunuh diri:
Serangan akan dilakukan atas dasar pertimbangan pemerintah, setelah sebuah serangan bunuh diri besar yang terjadi di Israel, yang menyebabkan banyak kematian dan luka-luka, pertumpahan darah akan dijadikan sebagai alasan pembenar. (Tanya Reinhart, Evil Unleashed, Israel's move to destroy the Palestinian Authority is a calculated plan, long in the making, Global Research, December 2001, emphasis added)

Rencana Dagan - The Dagan Plan

"Operasi Justified Vengeance" juga disebut "Dagan Plan", diambil dari nama pensiunan Jenderal Meir Dagan, yang saat ini memimpin Mossad, Agen Intelijen Israel.
Meir Dagan adalah penasehat keamanan nasional Sharon selama masa kampanye pemilihan tahun 2000. Rencana tersebut rupanya sudah disiapkan sebelum Sharon terpilih sebagai Perdana Menteri pada bulan Pebruari 2001.
"Menurut Alex Fishman yang menulis di Yediot Aharonot, Dagan Plan termasuk didalamnya menghancurkan otoritas Palestina dan mengakhiri Yasser Arafat 'dikeluarkan dari permainan': (Ellis Shulman, "Operation Justified Vengeance": a Secret Plan to Destroy the Palestinian Authority, March 2001):
"Sebagaimana dilaporkan oleh the Foreign Report [Jane] dan disingkapkan di Israel oleh Maariv, Rencana invasi Israel — yang dinamai Justified Vengeance — akan dilaksanakan segera setelah terjadi korban besar karena bom bunuh diri, dan akan berlangsung selama satu bulan serta hasilnya diharapkan akan membunuh ribuan orang Palestina dan korban dari pihak Israel diharapkan hanya ratusan orang saja. (Ibid, emphasis added)
"Rencana Plan" menggambarkan apa yang disebut dengan "cantonization-kantonisasi" wilayah Palestina dimana wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza hubungannya akan diputuskan sepenuhnya dengan memisahkan dari "pemerintahan" di kedua wilayah tersebut. Di bawah skenario ini, yang pada tahun 2001 telah dipertimbangkan Israel akan melakukan tindakan:
"merundingkan secara terpisah dengan kekuatan-kekuatan Palestina yang dominan di masing-masing wilayah - pasukan Palestina bertanggungjawab atas keamanan, intelijen dan bahkan untuk Tanzim (Fatah)." Jadi Rencana tersebut serupa dengan "cantonization" dari wilayah Palestina, rencana ini diupayakan oleh sejumlah menteri." The infamous 'Dagan Plan' Sharon's plan for getting rid of Arafat, Le Monde, December 17, 2001)
From Left to Right: Dagan, Sharon, Halevy

Rencana Dagan dengan mantap dilanjutkan di dalam agenda intelijen-militer. Segera sesudah pemilihan tahun 2000, Meir Dagan ditugaskan menempati jabatan yang memegang peran kunci. "Dia menjadi orang kepercayaan Sharon dalam masalah-masalah keamanan yang dibicarakan dengan utusan khusus Presiden Bush, Zinni Mitchell." Dia kemudian ditunjuk sebagai Direktur Mossad oleh Perdana Menteri Ariel Sharon pada bulan Agustus 2002. Setelah periode Sharon, dia tetap menjabat sebagai Kepala Mossad.
Kemudian Perdana Menteri Ehud Olmert pada bulan Juni 2008 mempertahankan posisi Meir Dagan sebagai Direktur Intelijen Israel.
Meir Dagan, dengan melakukan koordinasi dengan counterpart-nya dari Amerika Serikat bertanggung-jawab atas berbagai operasi intelijen-militer. Adalah berharga untuk dicatat bahwa sewaktu masih muda dengan pangkat Kolonel, Meir Dagan sudah bekerja secara dekat dengan Menteri Pertahanan Ariel Sharon dalam serangan terhadap pemu****n Palestina di Beirut pada tahun 1982. Invasi darat tahun 2009 ke wilayah Gaza, dalam banyak hal membawa satu kemiripan dengan operasi militer licik yang dipimpin oleh Sharon dan Dagan pada tahun 1982
Kontinuitas: Dari Sharon ke Olmert

 
Adalah penting untuk memusatkan perhatian kepada sejumlah kejadian-kejadian kunci yang telah mengarahkan melakukan pembunuhan di Gaza di bawah "Operasi Cast Lead":
1. Pembunuhan Yaser Arafat pada bulan November 2004. Pembunuhan ini sudah direncanakan sejak tahun 1996 di bawah nama "Operasi Fields Thorns". Sesuai dengan sebuah dokumen bulan Oktober 2000 yang "disiapkan oleh pihak keamanan, atas permohoan Perdana Menteri Ehud Barak, menyatakan bahwa 'Arafat, orang yang sangat mengancaman keamanan negara Israel, kerusakan yang akan ditimbulkan dari dihilangkannya dia adalah lebih sedikit dibanding kerusakan yang disebabkan oleh keberadaannya'". (Tanya Reinhart, Evil Unleashed, Israel's move to destroy the Palestinian Authority is a calculated plan, long in the making Global Research, December 2001. Details of the document were published in Ma'ariv, July 6, 2001.).
Pembunuhan Arafat diperintahkan pada tahun 2003 oleh Kabinet Israel. Keputusan Kabinet Israel itu disetujui oleh Amerika Serikat dengan memveto Resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk keputusan Kabinet Israel pada tahun 2003. Bereaksi terhadap meningkatknya serangan Palestina, pada bulan Agustus 2003, Menteri Pertahanan Israel, Shaul Mofaz mengumumkan "perang habis-habisan" terhadap kelompok militant yang sudah "siap mati."
"Dalam pertengahan bulan September, Pemerintah Israel memperkenankan secara hukum untuk membuang Arafat. Kabinet Israel untuk urusan keamanan politik mengumumkannya "sebuah keputusan untuk menghilangkan Arafat sebagai rintangan perdamaian."
Mofaz mengancam; "kita akan memilih cara yang benar dan waktu yang tepat untuk membunuh Arafat." Menteri Palestina, Saeb Erekat mengatakan kepada CNN bahwa dia berpikir, Arafat adalah target berikutnya. CNN bertanya kepada juru bicara Sharon, Ra'anan Gissan apakah pemungutan suara itu maksudnya adalah pengusiran Arafat?.
Gissan menjelaskan; "Itu tidak berarti demikian. Kabinet hari ini telah memecahkan masalah untuk menghilangkan rintangan perdamaian. Baik waktu, metoda, caranya dengan mana hal ini akan dilakukan akan diputuskan secara terpisah, dan pihak keamanan akan memonitor situasi serta memperlakukan rekomendasi itu dengan tindakan yang sesuai." (See Trish Shuh, Road Map for a Decease Plan, خبرگزاری مهر :: Mehr News Agency November 9 2005

Pembunuhan Arafat adalah merupakan bagian dari Rencana Dagan tahun 2001. Dalam semua kemungkinan yang ada, pelaksanakannya hanya mungkin dilakukan oleh Intelijen Israel. Dan hal itu dimaksudkan untuk menghancurkan Otoritas Palestina, juga untuk menimbulkan perpecahan di dalam faksi Fatah, demikian pula di antara faksi Fatah dan Hamas. Mahmoud Abbas adalah seorang pengkhianat Palestina. Dia dipasang sebagai pemimpin Fatah, dengan persetujuan dari Israel dan Amerika Sserikat, yang membiayai paramiliter Otoritas Palestina dan pasukan keamanannya.

2. Di bawah perintah Perdana Menteri Ariel Sharon pada tahun 2005, semua pemu****n Yahudi di Jalur Gaza dipindahkan. Penduduk Yahudi yang berjumlah lebih dari 7,000 direlokasikan.
"Ini adalah niat saya [Sharon] untuk melaksanakan sebuah evakuasi – maaf, sebuah relokasi - pemu****n yang menyebabkan kita bermasalah dan tempat-tempat yang kita tidak akan menjaganya bagaimanapun juga dalam penyelesaian akhir, seperti penyelesaian Gaza.... Saya mengerjakannya atas dasar asumsi bahwa di masa datang tidak akan ada Yahudi lagi di Jalur Gaza," demikian kata Sharon." (CBC, March 2004)
Masalah pemu****n di Jalur Gaza disajikan sebagai bagian dari Washington '"road map to peace". Dirayakan oleh orang-orang Palestina sebagai sebuah "kemenangan", langkah ini tidak diarahkan kepada pemukim Yahudi. Namun sebaliknya: Hal itu adalah merupakan bagian dari keseluruhan operasi rahasia, yang terkandung dalam mentransformasikan Gaza ke dalam sebuah concentration camp - kemah konsentrasi. Selama pemukim Yahudi tinggal di Jalur Gaza, tujuan untuk mempertahankan sebuah barikade besar berupa penjara teritorial tidak akan dapat dicapai. Untuk melaksanakan "Operasi Cast Lead" diperlukan "tidak adanya Yahudi yang masih tinggal di Jalur Gaza".
3. Pembangunan Benteng Apartheid yang buruk itu telah diputuskan pada awal pemerintahan Sharon. (Lihat Map di bawah).

4. Tahap berikutnya adalah pemilihan kemenangan Hamas pada bulan Januari 2006. Tanpa Arafat, arsitek intelijen-militer Israel tahu bahwa Fatah di bawah Mahmoud Abbas akan kalah dalam pemilihan. Hal ini adalah merupakan bagian dari skenario, yang sudah dipertimbangkan dan dianalisa dengan baik sejak awal.
Dengan Hamas yang bertanggung-jawab terhadap otoritas Palestina, dan dengan menggunakan alasan palsu bahwa Hamas adalah sebuah organisasi teroris, Israel akan melaksanakan proses "cantonization" sebagaimana telah dirumuskan di bawah rencana Dagan. Fatah di bawah Mahmoud Abbas akan secara formal tetap bertanggung-jawab atas wilayah Tepi Barat. Pemerintahan Hamas yang terpilih akan terbatas pada Jalur Gaza.
Serangan Darat
Pada tanggal 3 Januari, tank-tank dan pasukan infantri memasuki Gaza dengan segala jenis kekuatan penyerang.
"Sebelum operasi serangan darat dimulai, serangan didahului dengan beberapa jam tembakan artileri berat dilakukan setelah hari gelap, menyalakan api di atas target yang terbakar yang menembus kegelapan langit malam. Mesin senjata yang memuntahkan peluru bercahaya menyala melalui kegelapan malam dan rentetan ratusan selongsong peluru meluncur mengeluarkan api. (AP, Januari 3, 2009)
Sumber Israel telah menunjuk akan berlangsungnya operasi militer yang lama. Operasi itu "tidak akan mudah dan itu tidak akan singkat," Demikian kata Menteri Pertahanan Isarel, Ehud Barak dalam sabuah pidato 
.
Israel bukan mencari-cari untuk mengharuskan Hamas " supaya bekerjasama". Apa yang kita lakukan adalah dalam rangka mengimplementasikan "Dagan Plan tahun 2001" sebagaimana yang telah dirumuskan sejak awal, yaitu menuntut:

"sebuah invasi ke wilayah yang dikontrol-Palestina oleh sejumlah 30,000 prajurit Israeli,dengan misi yang tergambar dengan jelas yaitu untuk menghancurkan infrastruktur kepemimpinan Palestina dan menyita persenjataan yang sekarang ini dimiliki oleh berbagai kekuatan-kekuatan Palestina, dan mengusir atau membunuh pimpinan militernya. (Ellis Shulman, op cit, emphasis added)

Masalah yang lebih jauh lagi, apakah Israel dalam konsultasinya dengan Washington adalah bertujuan untuk memicu sebuah peperangan yang lebih luas.

Pengusiran massal dapat terjadi pada beberapa kejadian di lapangan ketika invasi darat, sementara prajurit Israel membuka lebar-lebar perbatasan Gaza untuk mengizinkan banyak orang keluar dari Gaza. Pengusiran juga disebut oleh Ariel Sharon sebagimana terjadi pada sebuah "solusi gaya tahun 1948". Untuk Sharon, katanya, "hal itu hanya perlu bagi orang Palestina untuk menemukan negara lain. - 'Jordan adalah Palestina' - adalah ungkapan yang diusulkan Sharon." (Tanya Reinhart, op cit).

sumber : viva.co.id
 

Kamis, 12 Desember 2013

Benarkah Penyebab Awal Perang Dunia ke III Adalah ? Krisis Suriah ?

Situasi yang berkembang ini membuat kondisi semakin tak karuan. Kekuatan dua kubu: pro presiden Suriah dan pro Rakyat Yang Tertindas beserta masing-masing sekutunya menjadi semakin besar. Disinyalir pemakaian senjata kimia berasal dari intelijen Israel.Mereka mulai merangkul negara-negara yang seharusnya tidak berkepentingan. Mungkin benar ramalan pelbagai media luar negeri, inilah tanda-tanda kedatangan Perang Dunia ke III.
Suriah, sebuah negara di Timur Tengah ini awalnya adem-ayem hingga dimulainya revolusi menghantam sebagian besar wilayah Arab sebab protes pada kekuatan rezimnya.

Mantan Presiden Mesir Husni Mubarak tumbang, Mursi yang naik secara demokratis juga ditumbangkan oleh militer negaranya, mantan Presiden Libya Muammar Qaddafi malah berakhir dengan kematian.

Berikutnya, salah satu yang hendak digulingkan dari tampuk kekuasaannya yakni Presiden Suriah Basyar al-Assad.

Banyak orang percaya bahwa rakyat Suriah angkat senjata dan berontak sebab mereka tak lagi bisa mengeluarkan pendapatnya dengan aman.

Bukannya didengar sebagai masukan, namun pemerintah Suriah justru membombardir rakyat mereka dengan peluru tajam dan mortir, hingga menyebabkan banyak pengunjuk rasa yang tewas sejak bulan Maret 2009 lalu hingga kini dan mungkin hingga kedepannya.

“Tadinya hanya berdemonstrasi, akhirnya mereka menanggapi genderang perang dari Assad”,
seperti dilansir surat kabar the New York Times (8/4/2009).

Perang yang seharusnya hanya terjadi antara rakyat Suriah dengan pemerintahnya, tiba-tiba meluas. Dugaan Assad ada pihak asing yang sengaja mendanai pemberontak hingga mereka kuat, banyak dan besar.

Pada konflik dalam negeri tersebut, yang paling mungkin didanai adalah persenjataan, ini terlihat dari kemampuan mereka.


Karena, darimana tentara oposisi mendapatkan seluruh amunisi yang tidak sembarangan itu, jika tidak ada pihak yang berkepentingan memberikannya pada pihak oposisi? Maka kecurigaan Assad merangsek semakin kuat pada “negara-negara barat”.

Amerika Serikat dan Inggris dituding dua negara yang bisa melakukan jual-beli senjata itu.

Bukti sejarah peperangan saudara di dalam negeri sepanjang sejarah didunia selama ini memang didalangi oleh mereka dan itu adalah bukti kongkrit dan track record sebenar-benarnya.

Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, bukti AS dan Inggris selalu merontokkan sebuah pemerintahan beberapa negara dan menggantikan penguasanya yang pro dengan mereka yaitu AS, Inggris dan barat, agar dapat didikte lalu dikuras kekayaan alamnya.

Jika perlu negara tersebut tak perlu lagi dibuat menjadi aman kembali apalagi sejahtera. Beberapa diantaranya masih selalu berperang antar saudara setanah airnya sendiri dan kemiskinan akan ikut meningkat dan mengikuti karena tidak adanya keamanan, maka pola pikir rakyatnya juga akan berubah, brainwashed.


Sedangkan negara lain yang berseberangan dengan barat seperti Iran, Rusia dan China tetap setia mendukung Assad. Kedua kubu sibuk ber-retorika agar masing-masing pihak tidak mencampuri urusan dalam negeri Suriah.

Amerika Serikat diketahui melatih perang pemberontak dan dinas intelijennya mengirimkan pasokan senjata, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya (25/3/2013).

Iran juga demikian, diam-diam negara itu ikut campur dengan mengirimkan seorang pelatih penembak jitu. Kelompok Islam Libanon Hizbullah dari aliran Syiah malah terang-terangan mengirimkan tentara jihad demi membantu Assad.

Namun tak seluruh jazirah Arab membantu Suriah. Liga Arab malah memberikan tempat untuk oposisi Suriah dan menuntut Assad mundur. Akibat campur tangan banyak negara dan persekutuan itu, konflik Suriah bisa jadi berkembang ke arah perang dunia. Karena kubu Assad mulai diperkuat oleh banyak pihak, begitu pula kubu oposisi.

“Ketambahan situasi ini diperparah dengan hantaman roket Israel di wilayah Suriah namun dengan dalih menyerang Hizbullah.”


Setelah melihat situasi demikian Assad mulai membuka Bukit Golan, daerah perbatasannya dengan Israel agar bisa dimasuki tentara Palestina, seperti dilansir surat kabar the Jerusalem Post (7/5/13).

Situasi yang berkembang ini membuat kondisi semakin tak karuan. Kekuatan dua kubu dan sekutunya menjadi semakin besar.

Mereka mulai merangkul negara-negara yang seharusnya tidak berkepentingan. Mungkin benar ramalan pelbagai media luar negeri, ini kedatangan perang dunia ke III.

Suriah izinkan Pejuang Palestina serang Israel dari Golan

Pemerintah Suriah berencana mengizinkan kelompok pejuang Palestina untuk melakukan perlawanan terhadap Israel di Dataran Tinggi Golan, perbatasan Suriah dengan Israel, setelah negeri Yahudi itu melakukan serangan udara ke Suriah selama akhir pekan diawal bulan Mei 2013, seperti dikutip koran Suriah Al Watan.

Surat kabar the Jerusalem Post melaporkan, Selasa (7/5), Sekretaris Jenderal Front Popular Perjuangan Palestina (PPSF), Khalid Abd al-Majid, mengatakan rencana itu dijadwalkan akan dibahas dalam pertemuan antara pemimpin faksi Suriah dan Palestina.

Majid mengatakan dari perkembangan terakhir, Suriah memiliki hak dan kewajiban untuk merespons serangan udara Israel dengan menggunakan segala cara yang tersedia.

Stasiun televisi pendukung pemerintahan Suriah Al-Ikhbariya menjelaskan adanya indikasi yang mungkin menjadi pertimbangan Presiden Suriah Basyar al-Assad, dengan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

“Sumber itu menyatakan bahwa roket-roket Suriah siap menyerang sasaran di dalam wilayah Israel jika ada serangan terbaru dari negeri Zionis itu.”

Dikatakan juga bahwa Suriah telah memberikan lampu hijau kepada kelompok-kelompok pejuang Palestina untuk melaksanakan serangan terhadap Israel dari Dataran Tinggi Golan.

Namun, tidak satu pun dari peringatan itu telah dijabarkan secara terbuka oleh pejabat Suriah, dan tembakan roket Suriah terhadap Israel tentu saja akan memprovokasi negeri Yahudi dengan tanggapan luar biasa.

Sementara itu kedua kubu di Suriah memang mendapat dukungan dari luar negara.

Pihak oposisi Assad banyak didukung oleh negara barat bahkan Liga Arab.

Sementara pemerintah Assad mendapat dukungan penuh dari Rusia, Cina dan Iran, salah satu negara Islam paling kuat saat ini.

Bahkan Korea Utara kini ikut mengekspor masker , pistol dan senjata lainnya ke Suriah dan Korut juga pernah membuat minimal dua buah bunker bawah tanah untuk Assad.

Liga Arab putuskan persenjatai pemberontak Suriah

Pertemuan Liga Arab yang digelar di Ibu Kota Doha, Qatar, pada bulan Maret 2013 lalu memutuskan bahwa negara anggota Liga Arab berhak memberikan bantuan, termasuk persenjataan, kepada warga Suriah untuk membela diri. Hal ini dilakukan sebagai pemecahan konflik berkepanjangan di Suriah.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Rabu (27/3/13), para pemimpin negara peserta Liga Arab juga mengutuk rezim pemerintahan Presiden Suriah Basyar al-Assad atas kekerasan yang dilakukan pasukannya terhadap warga Suriah. Mereka juga mendesak untuk memberikan bantuan darurat kepada warga Suriah yang mengungsi di Libanon, Yordania, dan Irak.

Anggota Liga Arab juga memastikan Suriah berhak mendapatkan kembali Dataran Tinggi Golan, yang telah diduduki Israel sejak 1967.

Pemimpin oposisi Suriah, Moaz al-Khatib, menjadi perwakilan Suriah di pertemuan Liga Arab. Dia meminta kepada negara peserta Liga Arab agar kelompok oposisi Suriah nantinya juga bisa duduk dalam badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya.

Mantan presiden Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi ini meminta agar masa depan Suriah tidak boleh diatur oleh kekuatan asing.

Khatib mengatakan bahwa rakyat Suriah sendiri yang harus menentukan siapa yang berhak mengatur negaranya. Khatib tiga hari lalu mengundurkan diri dari jabatannya meski pengunduran dirinya itu belum diterima oleh koalisi oposisi.

Para pemimpin yang hadir di Doha juga mengatakan menyambut baik dialog yang diminta oposisi Suriah di Yaman dan Bahrain, yang ditujukan untuk meminta dukungan dari negara-negara Arab kepada kelompok oposisi. Peserta Liga Arab juga mengutuk pendudukan Iran atas pulau Uni Emirat Arab, Pulau Tunbs dan Pulau Abu Musa. 
Rusia kirim pesawat dan kapal perang ke Suriah

Menteri Pertahanan Rusia mengatakan dua pesawat dan empat kapal perang telah diberangkatkan dari Ibu Kota Moskow ke Laut Mediterania untuk mengevakuasi warga Rusia di Suriah jika situasi keamanan semakin memburuk.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Selasa (19/2), pemerintah Rusia juga mengatakan empat kapal itu akan bergabung dengan kapal pengawal dan kapal-kapal kecil yang telah berada di perairan itu.


Sebuah sumber dari militer Rusia menyebutkan tugas utama mereka adalah mengevakuasi warga Rusia di Suriah. “Meski tugas kami belum diumumkan namun melihat perkembangan terakhir di Suriah, kemungkinan besar kami akan bertugas mengevakuasi warga Rusia,” kata sumber tersebut.

Rusia sebelumnya telah mengirimkan dua pesawat ke Suriah untuk mengevakuasi warganya.Kantor berita Interfax mengutip pernyataan dari komunitas Rusia di Suriah yang menyebutkan sebanyak 150 warga Rusia bisa diangkut oleh pesawat itu.
perang sipil syria 03

Kekuatan pasukan dari kedua belah pihak

Dua pesawat bermuatan bahan bantuan kemanusiaan seberat 40 ton bagi warga Suriah telah berangkat dari Ibu Kota Moskow menuju kota pelabuhan Latkia. Pesawat itu juga bisa mengevakuasi warga Rusia jika diperlukan.

Pada Januari lalu pemerintah Rusia telah memulangkan 77 warganya melalui Ibu Kota Beirut, Libanon, menggunakan dua pesawat.

Menurut media Rusia, saat ini tercatat ada sekitar delapan ribu warga Rusia yang terdaftar di konsulat Suriah dan sebanyak 25 ribu perempuan Rusia telah menikah dengan warga Suriah dan tinggal di sana.

Amerika diam-diam latih perang pemberontak Suriah dan akan mengirimkan pasukan ke Suriah

Amerika Serikat berjanji akan membantu kelompok pemberontak Suriah dengan peralatan medis dan makanan. Namun ternyata tak hanya itu saja, Amerika juga diam-diam melatih para pemberontak itu secara militer di sebuah wilayah dekat Suriah.


Laporan itu dimuat di surat kabar the New York Times. Dalam laporan itu diberitakan Amerika Serikat mempertimbangkan akan memberi bantuan perlengkapan perang seperti baju anti peluru, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Jumat (1/3/13).

perang sipil syria 04“Amerika Serikat akan memberi bantuan dana sebesar Rp 580 miliar untuk mendukung perjuangan koalisi oposisi Suriah dalam beberapa bulan ke depan,” kata Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dalam pertemuan Sebelas Negara Sekutu Suriah di Ibu Kota Roma, Italia.

“Kami akan mengirimkan bantuan medis dan makanan kepada Dewan Militer Tertinggi pemberontak. Jadi memang akan ada bantuan langsung,” kata dia. “Seluruh rakyat Suriah harus tahu mereka bisa memiliki masa depan,” ujar Kerry.

Uni Eropa telah mengubah aturan sanksi kepada Suriah untuk alasan kemanusiaan bagi rakyat sipil seperti pengiriman kendaraan bantuan teknis kepada pihak oposisi. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa menolak memberi bantuan militer kepada pihak oposisi karena khawatir akan memicu perang di Timur Tengah.

Di Tempat Pengungsian Marak Prostitusi dan Ribuan perempuan Suriah Banyak Alami Penyiksaan dari pro Abbas

Jaringan untuk Hak Asasi Manusia di Suriah baru-baru ini menyatakan sekitar 4.257 perempuan Suriah telah terbunuh oleh pasukan keamanan pemerintah Suriah. Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Ahad (10/3), organisasi pemantau masalah pelanggaran hak asasi di Suriah itu juga menyebut setidaknya ada 6.400 perempuan Suriah, di mana seribu di antaranya mahasiswi, telah ditahan pihak pasukan pemerintah dan ada sekitar 1.200 perempuan diculik oleh pasukan Assad.

Kebanyakan para wanita ini menghilang di beberapa kota besar di Suriah, seperti Homs, Latakia, dan Damaskus. amun, pemerintah Suriah selalu menolak mengungkapkan informasi terkait penahanan atau lokasi di mana para perempuan ini ditahan.

Aksi penculikan terhadap perempuan-perempuan Suriah itu disertai juga penyiksaan sistematis selama penahanan. Mereka juga menyebut lebih dari 700 perempuan mengalami tindak pemerkosaan di dalam penjara-penjara pemerintah.

Bahkan ada pula kejadian seorang suami yang membela oposisi telah membunuh istrinya dengan cara menembak kepala istrinya karena membela pihak pemerintah Suriah yang berkuasa.
Jaringan untuk Hak Asasi di Suriah juga menyatakan ketakutan akan mendapat perlakuan pelecehan seksual merupakan salah satu alasan utama kenapa ratusan hingga ribuan perempuan Suriah rela mengungsi di beberapa negara tetangga hingga kini.

Prostitusi ditempat pengungsian pun marak, hanya USD 7 sekali bercinta, itu pun masih ditawar, seperti dilansir surat kabar the Huffington Post, Jumat dua pekan lalu. Seorang wanita mengaku rata-rata tiap hari bisa meraih USD $70, artinya dia bisa melayani sepuluh lelaki tiap hari.

Beberapa tenda dari sana, seorang pemuda Suriah bertato dan berpenampilan klimis menawarkan istrinya. “Anda bisa menyewa dia seharian dengan USD 70,” janji tukang cukur asal Kota Idlib ini. Dia tidak pernah membayangkan bakal tega menjadikan istrinya pelacur. Dia terpaksa melakukan itu lantaran harus mengirim USD 200 per bulan kepada orang tua dan mertuanya di Suriah.


Para pengungsi Suriah terus membanjiri Yordania. Bulan lalu saja, 50 ribu korban perang itu melewati perbatasan kedua negara. Sejauh ini hampir setengah juta pelarian terpaksa tinggal di kamp-kamp di Yordania.

Kepala Komisi Tinggi PBB Urusan pengungsi (UNHCR) di Yordania Andrew Harper tidak terkejut dengan adanya pelacuran di kamp pengungsi. “Kami belum memperoleh bukti, namun kami telah mendengar selentingan soal itu,” tuturnya.

Tiap keluarga pengungsi mendapat minimal satu tenda, selimut, dan kasur tipis, serta dua ribu kalori makanan dan 20 liter air. Krisis kemanusiaan ini harus segera diakhiri. Kalau tidak, PBB sudah memperingatkan Suriah bakal kehilangan tiga generasi.

Ini semua berawal dari demonstrasi rakyat pada tahun 2009 lalu menjadi konflik bersenjata yang pecah sejak tahun 2011 lalu itu, telah membuat dua juta rakyat Suriah mengungsi ke negara-negara tetangga. Paling banyak ke Yordania. Hingga 2013 konflik bersenjata di Suriah telah membuat jutaan penduduknya mengungsi dan sudah menewaskan lebih dari 70 ribu orang.

Politikus Inggris: Senjata Kimia Suriah Dipasok Israel


Sedangkan di London, seorang politikus Inggris, George Galloway, menyebut senjata kimia yang mungkin digunakan di Suriah bukan berasal dari pemerintah Presiden Bashar Al Assad.

Menurut dia, senjata itu kemungkinan digunakan Alqaidah yang mendapat pasokan dari Israel.

“Jika ada penggunaan gas saraf, itu adalah pemberontak yang menggunakannya,” ujar Galloway dalam sebuah video yang sudah diedit dari saluran Iran Press dikutip Huffingtonpost.

Dia menambahkan, “Jika telah terjadi penggunaan senjata kimia, itu Alqaidah yang menggunakan senjata kimia. Siapa yang memberi mereka senjata kimia? Menurut saya, Israel memberi mereka senjata kimia.”

Komentar Galloway tersebut diberikan setelah inspektur PBB mendapat akses mengunjungi lokasi serangan senjata kimia yang diklaim telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.


Sedangkan Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, mengatakan masyarakat internasional mungkin harus menggunakan kekuatan jika Suriah terbukti menggunakan senjata kimia dalam serangan kepada oposisi.

Serangan senjata kimia terbaru dilaporkan membunuh lebih dari 100 orang. Rekaman yang belum diverifikasi menyebut korban termasuk anak-anak menderita kejang-kejang dan kesulitan bernapas dan video itu beredar di Youtube.

Jumlah korban tewas juga belum dapat dikonfirmasi. Koalisi Nasional Suriah mengklaim ada 1.300 orang kematian. Jumlah itu didasarkan pada klaim dan foto-foto aktivis di lapangan.

  Senjata Kimia, Operation “False Flag” Israel di Suriah


Sementara itu, mantan pejabat senior di Pemerintah Bush mengungkapkan, Israel kemuungkinan dalang dibalik penggunaan senjata Kimia Suriah. Kolonel purnawirawan Lawrence Wilkerson menyebutkan, operasi militer senjata kimia Israel dilakukan untuk mengaburkan kenyataan.

Alhasil, serangan tersebut terkesan melibatkan Pemerintah Bashar Al Assad. Dalam sebuah wawancara televisi, Lawrence mengatakan kepada Cenk Uygur, dikutip Jerussalem Post, saat ini tidak ada yang tahu siapa yang menggunakan senjata kimia.

Yang jelas, pihak Barat dan Israel beserta sekutunya adalah negara oportunis di dalam setiap kesempatan untuk menguasai suatu wilayah, dan memanfaatkan isyu sekterian antara Syiah dan Sunni yang ada di Suriah.


Menurutnya, ada tiga kemungkinan siapa dibalik operasi mematikan itu, yaitu operasi palsu Israel, pasukan oposisi yang menggunakan atau memang benar pemerintah Assad yang memakai senjata kimia.

Saat ini belum ada bukti kuat yang dimiliki Amerika Serikat. Bukti yang ada saat ini pun belum cukup untuk membuktikan hal tersebut.

Ia pun tak percaya dengan bukti palsu saat ini dan yakin Suriah belum melampaui batas. Menurutnya, Amerika Serikat seharusnya tak mengintervensi perang sipil Suriah dengan bukti yang begitu minim.

Wilkerson juga mengkritik keras Perdana Menteri Binyamin Netanyahu, dengan menyebut Tel Aviv tidak kompeten dan banyak kebijakan strategi yang buruk untuk di kawasan itu.

Lawrence Wilkerson yang mantan kolonel tentara Amerika Serikat dan juga sebagai mantan staff dari menteri Colin Powell ini dengan kasar juga mengatakan, bahwa seharusnya Presiden Barak Obama menghubungi “Bibi Netanyahu”.

”(Seharusnya) hei angka telpon, idiot! Dan segera hubungi Ankara (Turki) dan segera keluar dari kebijakan isolasi yang mereka (Israel) jalankan,’‘ tutur Kolonel purnawirawan mantan Chief of Staff dari Colin Powell ini.

Ia pun mengatakan, seharusnya Israel segera melakukan rekonsiliasi dengan negara terkuat di kawasan itu, Turki. Namun Israel malah tak menjalankan kebijakan itu. Lagipula, Netanyahu tak mengerti kondisi Timur Tengah dan membahayakan negara.

Jika Suriah Hancur, Israel dan Negara Barat Hanya Selangkah Lagi Menuju Iran

Presiden Suriah Basyar al-Assad mengancam Amerika Serikat bakal bernasib seperti saat menyerbu Vietnam, Afghanistan, dan Irak jika nekat menyerang Suriah. “Kegagalan bakal menunggu Amerika seperti perang-perang mereka lakoni sebelumnya, dimulai dari Vietnam hingga saat ini,” katanya dalam wawancara khusus dilansir sebuah surat kabar terbitan Rusia Senin lalu, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Pernyataan Assad jangan dipandang remeh. Posisi Suriah juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Negara ini menjadi basis dua kelompok pejuang anti-Israel, yakni Hamas asal Palestina dan Hizbullah dari Libanon.

Jika pasukan koalisi menginvasi Suriah, Hamas dan Hizbullah bakal bereaksi. Seperti terjadi sekarang, Hizbullah mengirim anggota milisinya bahkan dilaporkan hingga sepuluh ribu orang, untuk membantu Assad menumpas pemberontak.


Hamas dan Hizbullah meyakini skenario militer terhadap Suriah bakal menguntungkan Israel. Karena itu, kedua organisasi ini akan membombardir negara Zionis itu jika Assad yang selama ini ikut menyokong, membesarkan, dan melindungi, berupaya ditumbangkan.

Assad juga tidak sendirian. Suriah selama ini menjadi bumper Iran. Teheran, Damaskus, Beirut, dan Baghdad selama ini diyakini sebagai poros berkiblat ke Negeri Persia itu. Sebab, kaum Syiah berkuasa di empat negara itu.

Operasi militer ke Suriah ini mau tidak mau bakal menguntungkan Israel. Mereka tidak perlu bersusah payah, bahkan turun tangan langsung, buat menjatuhkan rezim Assad.

Alhasil, wajar saja Iran marah besar dengan rencana itu. Kalau sampai Assad terguling dan penguasa berganti, Iran akan kehilangan satu perisainya di Timur Tengah. “Kami ingin memperingatkan secara keras soal tindakan militer ke Suriah. Akan ada konsekuensi membahayakan bagi kawasan (Timur Tengah),” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.


Kejatuhan Assad menjadikan Israel dan sekutu istimewanya Amerika hanya tinggal selangkah menjejakkan kaki di Iran. Washington bersama Tel Aviv selama ini memandang Teheran sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Sebab mereka meyakini Iran tengah mengembangkan senjata nuklir, kekuatan pemusnah massal juga dimiliki Amerika dan Israel.

Meski belum terbukti, Amerika dan Israel menganggap Iran poros setan. Tapi mereka lupa, Amerika jauh lebih laknat karena pernah dua kali menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, namun mereka tak pernah mengakui bahwa justru Israel, Amerika Serikat dan Eropa adalah penjahat-penjahat perang, sejarah adalah fakta dan fakta adalah sejarah. 

Rusia Menantang AS: Serang Suriah, Negara Barat Tak Akan Menang Mudah


Rusia menyebut intervensi militer negara barat tidak akan dengan mudah mengalahkan pemerintahan Suriah.

Karena Suriah memiliki sistem pertahanan udara untuk menghalau serangan.


“Jika militer AS bersama NATO meluncurkan operasi melawan Suriah, mereka tidak akan menang mudah,” ujar laporan Interfax yang mengutip sumber dari militer dikutip Al-Arabiya, Rabu (28/8/13).

Menurut laporan, Suriah memiliki sistem rudal udara multi-fungsi dan pertahanan udara lainnya. Suriah telah meningkatkan sistem pertahanan udara akhir-akhir ini. Sistem rudal jarak menengah buatan Rusia yang dimiliki Suriah dapat menghancurkan kapal dan pesawat yang membawa bom dan rudal.

Sejumlah negara barat yang dipimpin AS mempertimbangkan serangan udara melawan pemerintahan Damaskus untuk merespon dugaan penggunaan senjata kimia oleh pasukan Suriah pekan lalu.

Moskow mengatakan penggunakan pasukan melawan Suriah akan memiliki konsekuensi berat untuk regional. Rusia tidak akan ikut terlibat secara militer dalam konflik tersebut.

Tapi tak menutup kemungkinan Rusia akan membantu walau tak secara langsung. Sama seperti Cina, Iran dan Korea Utara, mereka partinya akan bersekutu dengan Rusia untuk menghadapi Israel, Amerika dan Uni Eropa juga Liga Arab.

Namun ada gebrakan dari Rusia, yang ternyata pada hari Kamis tanggal 29 Agustus 2013 lalu sudah mengirimkan lagi tambahan sebanyak dua buah kapal perangnya.

Ini diperkuat dengan pernyataan Angkatan Laut Rusia pada hari Kamis (29/8/2013) yang mengumumkan bahwa mereka telah mengirim dua kapal perang ke Laut Tengah, dekat pantai Suriah. Akankah konflik di Suriah melibatkan militer Rusia?


Sementara itu, Rusia adalah negara yang selama ini memasok persenjataan untuk kubu Pemerintah Suriah. Termasuk di dalam daftar pasokan itu, rencana pengiriman rudal S-300 yang disebut setara dengan rudal Patriot milik Amerika Serikat, yang “terkenal” sejak dipakai di Perang Teluk pada 1991.

Apa saja senjata buatan Rusia yang telah dipasok untuk Suriah? Ini daftarnya:

Hampir 5.000 tank.
2.500 kendaraan tempur infanteri.
2.500 unit artileri self-propelled atau diderek.
325 pesawat taktis.
143 helikopter.
Hampir 2.000 peralatan pertahanan udara.

Sementara itu, rudal S-300 yang dikirim Rusia ke Suriah, memiliki spesifikasi sebagai berikut :
Quote:
Persenjataan darat ke udara, penghancur pesawat, kapal, dan rudal balistik.
Jenis: permukaan sistem rudal udara mampu menghantam pesawat, kapal pesiar ,dan balistik rudal.
Kemampuan: menembakkan dua rudal dalam satu waktu secara vertikal, fleksibel, dan akurat.
Setiap kendaraan peluncur memiliki empat rudal. Satu batalyon penuh mencakup enam kendaraan peluncur.
Jarak jelajah rudal: 5-150 kilometer, dengan ketinggian sampai 30 kilometer.
Jeda minimal untuk tembakan berikutnya: 5 menit.

AS Telah Kerahkan 300 Marinir di Perbatasan Suriah

Sebuah gugus tugas 300 marinir AS telah dikerahkan di perbatasan Suriah setelah Presiden Obama menyetujui mengulurkan tangan untuk membantu pihak pemberontak dalam mengakhiri rezim Bashar al-Assad.

Sebuah sistem rudal anti-pesawat terbang ‘the Patriot’, juga sudah dipindahkan ke daerah konflik utara Al-Mafraq di daerah Yordania bagian utara, sebagai persiapan “pihak Barat” untuk mengirim persenjataan dan arteleri kepada pemberontak.
us army tentara amerika

Tentara AS dikerahkan ke Suriah



“Gerakan pasukan yang diterjunkan telah terjadi sebelumnya di bawah penyamaran latihan militer yang diadakan minggu ini, tetapi akan tetap ditempatkan disana selama berbulan-bulan,” menurut sumber Gedung Putih.

“Para pasukan dan peralatan yang dimaksudkan itu untuk meningkatkan stabilitas di kawasan tersebut, bukan untuk melatih pejuang pemberontak atau operasi peluncuran di Suriah,” kata para pejabat AS.

Keterlibatan Barat dalam konflik semakin ditingkatkan sejak bulan Juni 2013 setelah keputusan Obama, yang diikuti konfirmasi bahwa rezim Assad telah menggunakan senjata kimia yang menyimpang dari Washington dan melewati “garis merah” yang ditetapkan AS.

Rusia mengecam tindakan AS tersebut melalui Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov yang mengatakan hal itu bisa menyebabkan eskalasi konflik.

Jika krisis Suriah berlarut-larut, bisa jadi inilah awal dari Perang Dunia Ketiga

Dilansir Sawa dan Russia Today, Sabtu (31/08/2013), serangan ke Suriah sangat berpotensi memicu perang dunia ke-3.

Pemerintah AS dan Perancis sangat yakin, serangan nanti hanya ‘terbatas’ dan tidak akan mendapat perlawanan berarti dari Suriah. Namun asumsi itu dipatahkan oleh laporan yang dilansir Dekapfile yang menyebut Suriah justru mempersiapkan diri untuk memberikan perlawanan kepada AS dan Perancis.

Headline dalam laporan televisi Al Jazeera memperingatkan, apa yang terjadi jika Suriah berhasil menenggelamkan sebuah kapal angkatan laut AS atau tentara Suriah bisa memukul semua target milik AS di kawasan Timur Tengah? 
 

Mungkin Anda Meminati Artikel Terkait lainnya Berita

  • Waspadalah Konspirasi Rencana Yahudi Untuk Indonesia Dan Malaysia
  • Dahsyatnya Program Penyadapan Intelijen AS , [ XKeyscore ]
  • Ancam Keamanan Nasional? Benarkah E-KTP, Untungkan Intelijen AS ?
  • Israel: Operasi Rahasia Intelijen Hancurkan Palestina
  • Kayanya Indonesia Ternyata Miliki Cadangan Uranium 70.000 Ton
  • Beberapa Dari Merekalah yang Menyadap Indonesia
  • Perancis Panggil Dubes Amerika Karena 70 Juta Warganya Telah Disadap
  • Ada Beberapa Website Klub Sepakbola Eropa Yang Resmi Berbahasa Indonesia 
  •  
  •  
  • Kemerdekaan Palestina
  • http://www.islamtimes.org/vdcjtme8ouqevaz.bnfu.html
    Indonesia Konsisten Dukung Kemerdekaan Palestina
    Islam Times- 
     
    "Dukungan Indonesia terhadap Palestina bukan karena isu agama, karena konflik Palestina dan Israel bukanlah isu agama. Konflik itu terjadi karena penjajahan Israel atas Palestina," imbuhnya.
     
    Demo dukung Palestina; karawangid.com
    Demo dukung Palestina; karawangid.com

    Sebagaimana bangsa lain, Indonesia juga negara yang selalu berdiri di barisan terdepan mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya.

    Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang di gelar hari Jumat, 30/11/2012, mengatakan dirinya berterima kasih kepada rakyat dan pemerintah Indonesia yang selalu mendukung perjuangan rakyat Palestina.

    "Bahkan isu Palestina menjadi isu pertama yang dibahas dalam politik luar negeri Indonesia," katanya.

    Dalam seminar yang bertema `Peranan Indonesia atas Perjuangan Kemerdekaan Palestina` itu, Fariz Mehdawi menyebutkan Menteri Luar Negeri Indonesia selalu menyampaikan dukungannya dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

    "Dukungan Indonesia terhadap Palestina bukan karena isu agama, karena konflik Palestina dan Israel bukanlah isu agama. Konflik itu terjadi karena penjajahan Israel atas Palestina," imbuhnya.

    Fariz Mehdawi berpendapat, Indonesia memberikan dukungan terhadap Palestina karena memiliki sejarah yang sama dalam hal penjajahan. Israel ingin memusnahkan masyarakat Palestina dengan membangun rumah-rumah Israel di wilayah Palestina. Sama seperti Indonesia ketika penjajahan terjadi di masa lalu, baik oleh Belanda maupun Jepang.

    Ia menambahkan, lebih dari 750.000 rakyat Palestina menjadi pengungsi di negaranya sendiri, lebih dari 532 desa dan kota di Palestina dihancurkan secara menyeluruh dan diganti dengan bangunan-bangunan Israel.

    Perang delapan hari dua pekan lalu saja, korban dari rakyat Gaza 148 orang tewas dan 1.300 korban luka-luka. Mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan. "Kami sangat memerlukan kemerdekaan ini, terlalu banyak darah yang tumpah sejak puluhan tahun ini. Maka yang paling penting adalah pengakuan (kemerdekaan).

    "Kami hanya ingin tinggal di tanah kelahiran kami Palestina, mendapatkan kemerdekaan dan hidup damai tanpa perang. Perjuangan Palestina untuk mencapai kemerdekaannya akan sia-sia tanpa bantuan dari Indonesia," katanya.

    Dalam seminar itu, Direktur Timur Tengah Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Ratu Silvy Gayatri mengatakan Indonesia akan tetap konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

    Sikap Indonesia itu berdasarkan amanat konstitusi, yakni Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan.

    "Selain itu juga berdasarkan pengalaman pahit Indonesia yang mengalami penjajahan selama ratusan tahun," katanya.

    Dalam acara syukuran atas pengakuan Palestina sebagai negara peninjau di Perserikat Bangsa Bangsa, Duta Besar Palestina itu juga menyampaikan terima kasih pada pemerintah dan rakyat Indonesia atas dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. “Ada banyak sahabat Palestina di seluruh dunia, terutama di Indonesia yang mendukung kami untuk merdeka," kata Fariz

    Fariz mengatakan, pengakuan oleh PBB sangat dibutuhkan masyarakat Palestina untuk mewujudkan kedamaian. Beliau juga mengapresiasi dukungan yang disampaikan publik dan tokoh lintas agama di Indonesia yang disampaikan secara terbuka. Baik melalui jalur diplomasi dan dialog ataupun melalui bantuan kemanusiaan.

    Dia berharap pemerintah Indonesia tetap menjadi sahabat baik bagi Palestina. "Kami selalu berada di posisi kuat jika kita bersatu," pungkasnya.

    Sebanyak 193 negara anggota PBB memberi suara dalam sidang PBB. Dari jumlah itu, 138 negara mendukung pemberian status baru bagi Palestina. Sembilan negara menentang dan 41 negara abstain. Kanada, Israel, dan Amerika Serikat termasuk yang menentang rancangan pemberian status merdeka bagi Palestina.

    Sedangkan Negara-negara pendukung rancangan resolusi itu adalah 70 negara. Mereka antara lain Indonesia, Iran, Cina, Aljazair, Angola, Brazil, Kuba, Jordania, Kenya, Nigeria, Pakistan, Peru, Qatar, Senegal, Afrika Selatan, Tajikistan, Venezuela, dan Zimbabwe.(IslamTimes/sa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar