Kamis, 26 Desember 2013

NUKLIR IRAN DAN KEKUATAN G5+1 MERUPAKAN PERANG DIPLOMATIK TINGKAT TINGGI... YANG DIMAINKAN DALAM MEDAN PERANG DIPLOMASI-KEYAKINAN-DAN KEJUJURAN...??>> KITA MELIHAT KECULASAN2 YANG DIMAINKAN IAEA.. DALAM PERANNYA.. TERNYATA MERUPAKAN BAGIAN DARI KAKI TANGAN NEGARA2 SUPERPOWER... YANG TIDAK INGIN.. SINGGASANANYA.. DAN KERAJAANNYA... TER- JAMAH ATAU TERDEKATI... OLEH PIHAK2 YANG DIANGGAP BUKAN KELOMPOKNYA..???>> SIAPAKAH IAEA.. DAN SIAPAKAH G5+1...???>>> .KORBAN DIPIHAK IRAN.. SEPERTI PARA PENDAHULUNYA.. IRAQ DAN SURIAH... ?? NAMUN IRAN TELAH BERSIAP LEBIH SIAGA...???>>> ... Apapun yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas perundingan antara Iran dan Kelompok 5+1 di Jenewa dapat dianggap sebagai hasil bersama dari resistensi rakyat Iran dalam menghadapi arogansi dunia dan tekanan-tekanan politik kekuatan-kekuatan arogan. Selain itu, kesepakatan nuklir sementara antara Iran dan Kelompok 5+1 dapat dinilai sebagai hasil dari diplomasi efektif para pejabat baru Tehran...>>> Iran sebenarnya tidak begitu optimis dengan niat Barat untuk menyelesaikan isu-isu nuklirnya. Sebab, pengalaman-pengalaman sebelumnya menunjukkan ketidakseriusan Barat tentang hal itu. Tehran menegaskan bahwa semua langkah yang diambil harus dilakukan secara seimbang. Menlu Iran dalam pertemuan terbaru di parlemen negara itu mengatakan, setiap saat Kelompok 5+1 tidak melaksanakan komitmennya dan tidak melakukan kewajibannya sesuai kesepakatan, dan atau mereka tidak ingin melaksanakan perjanjian, maka kemungkinan untuk kembali ke posisi semula tetap ada dan proses perjanjian nuklir antara Tehran dan Barat akan terhenti....>>> .. Di tengah-tengah derasnya upaya Barat pada tahun lalu untuk mengucilkan Iran, Tehran justru menjadi tuan rumah pertemuan-pertemuan penting regional dan internasional , bahkan Iran memiliki peran aktif dalam pertemuan-pertemuan itu. Hassan Rohani, Presiden Republik Islam Iran di lawatan pertama ke luar negeri setelah terpilih dalam pemilu presiden periode ke-11, berkunjung ke Kyrgyzstan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) yang digelar pada tanggal 13 September di Bishkek, ibukota negara itu. Dalam KTT tersebut, ia menjadi tamu dan sebagai anggota pemantau SCO. ..>>> Dalam tulisan singkat ini akan diulas mengenai pasang surutnya perundingan nuklir antara Republik Islam Iran dan Kelompok 5+1 pada 2013. Babak ketujuh negosiasi antara Tehran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah berlangsung pada tanggal 16-17 Januari 2013 di Tehran, ibukota Iran. Mungkin pada saat itu sulit dibayangkan bahwa perundingan nuklir Iran akan membuahkan hasil. Sebab, sedikit sekali pihak yang yakin bahwa perundingan nuklir Iran akan mencapai hasil. Hal itu terlihat dari pandangan-pandangan yang muncul mengenai negosiasi tersebut...>>> Secara global, masalah utama yang menyebabkan perundingan menjadi sangat alot adalah sikap IAEA yang memaksakan untuk melakukan inspeksi terhadap pusat militer Parchin yang terletak di pinggiran kota Tehran.Institut Sains dan Keamanan Internasional Amerika Serikat (ISIS) pada bulan September 2004 mempublikasikan foto-foto satelit dari instalasi Parchin dan mengklaim bahwa di fasilitas tersebut telah dilakukan penelitian, ujicoba bahan-bahan peledak kuat dan pengujian nuklir untuk pembuatan senjata atom. Menyusul laporan palsu itu, Olli Heinonen, Deputi Direktur Jenderal IAEA untuk Departemen Pengamanan pada masa itu, menuntut dilakukan inspeksi menyeluruh terhadap situs Parchin....>>> Faktanya adalah Amano telah melewati tanggung jawabnya. Ia telah menyiapkan ruang untuk pemberlakuan sanksi-sanksi berat untuk mengguncang ekonomi Iran dengan bersandar pada klaim tak berdasar bahwa negara itu mungkin sedang berusaha memproduksi senjata nuklir. Padahal kewajiban IAEA hanya terbatas pada memfasilitasi anggota-anggotanya untuk mengunakan teknologi nuklir dan membantu mereka menggunakannya untuk kepentingan sipil. IAEA juga tidak dapat menjaga informasi-informasi rahasia yang diberikan oleh Iran tentang nuklirnya. Akibat informasi yang bocor tersebut, beberapa ilmuwan nuklir Iran diteror dan berbagai instalasi nuklir Iran diserang oleh virus-virus canggih komputer. Di sisi lain, langkah-langkah permusuhan AS terhadap Iran semakin meningkat. Sejak awal Juli 2013, Washington menerapkan berbagai sanksi baru terhadap Tehran. Gedung Putih pada tanggal 3 juni memasukkan mata uang Iran "Rial" dan industri otomotif negara itu ke dalam daftar sanksi sepihaknya. Sementara industri-industri perkapalan Iran telah disanksi sebelumnya. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas kehakiman di Barat menganggap sanksi-sanksi tersebut tidak dibenarkan dan hukum-hukum yang diberlakukan terhadap lembaga pelayaran dan beberapa bank Iran termasuk Bank Mellat dan Bank Saderat dilanggar...>>>

Kilas Balik Iran di Tahun 2013 (Bagian Pertama)



Dalam tulisan singkat ini akan diulas mengenai pasang surutnya perundingan nuklir antara Republik Islam Iran dan Kelompok 5+1 pada 2013. Babak ketujuh negosiasi antara Tehran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah berlangsung pada tanggal 16-17 Januari 2013 di Tehran, ibukota Iran. Mungkin pada saat itu sulit dibayangkan bahwa perundingan nuklir Iran akan membuahkan hasil. Sebab, sedikit sekali pihak yang yakin bahwa perundingan  nuklir Iran akan mencapai hasil. Hal itu terlihat dari pandangan-pandangan yang muncul mengenai negosiasi tersebut.

Selain itu, babak perundingan ketujuh antara Iran dan IAEA lebih banyak membahas dan bertukar pandangan mengenai isu-isu yang diklaim terkait aktivitas nuklir Tehran dan kerjasama rutin antarkedua belah pihak. Meskipun di akhir babak perundingan tersebut, Iran dan IAEA menilai negosiasi mereka positif, namun pembicaraan itu akhirnya dilanjutkan sebulan setelahnya yaitu tanggal 12 Februari. Pada babak inipun tidak banyak membuahkan hasil, sebab isu-isu yang belum terselesaikan masih tetap ada.

Secara global, masalah utama yang menyebabkan perundingan menjadi sangat alot adalah sikap IAEA yang memaksakan untuk melakukan inspeksi terhadap pusat militer Parchin yang terletak di pinggiran kota Tehran.Institut Sains dan Keamanan Internasional Amerika Serikat (ISIS) pada bulan September 2004 mempublikasikan foto-foto satelit dari instalasi Parchin dan mengklaim bahwa di fasilitas tersebut telah dilakukan penelitian, ujicoba bahan-bahan peledak kuat dan pengujian nuklir untuk pembuatan senjata atom. Menyusul laporan palsu itu, Olli Heinonen, Deputi Direktur Jenderal IAEA untuk Departemen Pengamanan pada masa itu, menuntut dilakukan inspeksi menyeluruh terhadap situs Parchin.

Para inspektur IAEA pada tanggal 14 Januari 2005 memeriksa tempat-tempat yang telah mereka tentukan sebelumnya di situs Parchin dan mengambil sampel untuk penyelidikan selanjutnya. Namun hasil dari penyelidikan tersebut telah membuktikan kepalsuan klaim-klaim AS. Bangunan yang diklaim Barat persis seperti bangunan untuk percobaan nuklir Inggris,ternyata hanya sebuah gedung perkantoran biasa. Sementara tempat yang diklaim sebagai tempat ujicoba nuklir tak lain hanyalah sebuah gedung setengah jadi dan tempat produksi baterai biasa dengan tegangan rendah, bahkan sebagian bangunan lainnya yang diklaimmencurigakan,ternyata hanya tempat-tempat toiletumum.

Setelah memeriksa situs Parchin dan mengambil berbagai sampel untuk penyelidikan, IAEA tidak menemukan bukti yang diklaim. Akhirnya badan nuklir PBB tersebut mengumumkan untuk menutup berkas situsParchin. IAEA dalam laporan hasil inspeksi di Parchin menulis, "IAEA dalam inspeksi ini dapat mengakses gedung-gedung dan sekitarnya dengan bebas, dan bahkan mendapat izin untuk mengambil sampel yang diperlukan. Hasil pengambilan sampel ini tidak menunjukkan adanya bahan-bahan nuklir,dan tidak ditemukanperalatan atau bahan-bahan multifungsi di tempat-tempat yang telah diperiksa."

Pasca dua kali inspeksi di Parchin,Mohamed El Baradei, Dirjen IAEA di masa itu dalam laporannya mengatakan, "Iran telah mengizinkan IAEA untuk mengakses semua gedung dan daerah yang diminta oleh badan ini, dan pengambilan sampel telah dilakukan… IAEA tidak menemukan aktivitas yang mencurigakan di gedung-gedung tersebut."

Meski telah terbukti tidak ada aktivitas menyimpang dalam instalasi militer Parchin, namun skenario-skenariopalsu tentang situs tersebut tetap berlanjut dan muncul kembali klaim-klaim tak berdasar dari IAEA. Dirjen IAEA, Yukiya Amano dalam laporannyatentang aktivitas nuklir Iran pada bulan November 2011 kembali melontarkan tuduhan terhadap Tehran bahwa instalasi Parchin sedang melakukan uji coba Hydro-dynamic dan merancangruanglogam besar untuk pengujian bahan-bahan peledak nuklir. Padahal IAEA mengatahui dengan pasti bahwa hal itu adalah informasi palsu belaka.

Hampir selama satu dekade, IAEA menangani aktivitas nuklir Iran berdasarkan klaim-klaim sejumlah negara Barat. IAEA melalui berbagai inspeksi yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dan dengan laporan-laporannya kepada Dewan Gubernur IAEA sejak tahun 2003, berulangkali mengakui bahwa semua aktivitas nuklir Iran selalu dalam pengawasannya dan dapat dipertanggung jawabkan.

Menyusul laporan-laporan tersebut, langkah-langkah permusuhan Barat terhadap Iran terus berlanjut. Setiap Tehran dan IAEA menyelesaikan babak-babak baru perundingan,  AS dan Barat selalu mengambil langkah anti-Tehran seperti mengadopsi sebuah resolusi atau mengajukan prasyarat tidak logis supaya membatasi kemungkinan tercapainya kesepakatan nyata antara Iran dan IAEA. Di sisi lain, para pejabat Barat berulang kali mengklaim bahwa mereka menuntut penyelesaian isu nuklir Iran dengan damai dan berulangkali pula mengajukan berbagai pernyataan melalui IAEA.

Faktanya adalah Amano telah melewati tanggung jawabnya. Ia telah menyiapkan ruang untuk pemberlakuan sanksi-sanksi berat untuk mengguncang ekonomi Iran dengan bersandar pada klaim tak berdasar bahwa negara itu mungkin sedang berusaha memproduksi senjata nuklir. Padahal kewajiban IAEA hanya terbatas pada memfasilitasi anggota-anggotanya untuk mengunakan teknologi nuklir dan membantu mereka menggunakannya untuk kepentingan sipil.

IAEA juga tidak dapat menjaga informasi-informasi rahasia yang diberikan oleh Iran tentang nuklirnya. Akibat informasi yang bocor tersebut, beberapa ilmuwan nuklir Iran diteror dan berbagai instalasi nuklir Iran diserang oleh virus-virus canggih komputer. Di sisi lain, langkah-langkah permusuhan AS terhadap Iran semakin meningkat. Sejak awal Juli 2013, Washington menerapkan berbagai sanksi baru terhadap Tehran. Gedung Putih pada tanggal 3 juni memasukkan mata uang Iran "Rial" dan industri otomotif negara itu ke dalam daftar sanksi sepihaknya. Sementara industri-industri perkapalan Iran telah disanksi sebelumnya. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas kehakiman di Barat menganggap sanksi-sanksi tersebut tidak dibenarkan dan hukum-hukum yang diberlakukan terhadap lembaga pelayaran dan beberapa bank Iran termasuk Bank Mellat dan Bank Saderat dilanggar.

AS pada tanggal 31 Mei mengumumkan bahwa delapan perusahaan yang berhubungan dengan industri petrokimia Iran telah dimasukkan ke dalam daftar sanksinya. Pemberlakuan sanksi-sanksi tersebut terus membayangi negosiasi antara Iran dan Kelompok 5+1 (Rusia, Cina, Perancis, Inggris, Amerika Serikat ditambah Jerman) dan menjadi penghambat strategi pelaksanaan kerjasama nuklir  kedua belah pihak.

Meski terdapat berbagai rintangan, Iran dan IAEA tetap melanjutkan perundingan, baik di Tehran maupun di Wina, Austria.  Dimulainya pemerintahan ke-11 Iran dan terpilihnya Hassan Rohani sebagai presiden baru negara itu telah membuka ruang baru untuk melanjutkan perundingan. Mukhadimah kelanjutan perundingan nuklir Iran muncul setelah pertemuan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dengan para menlu negara-negara anggota Kelompok 5+1 dan Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton di sela-sela Sidang Majlis Umum PBB di New York.

Pada tanggal 15-16 Oktober 2013, Iran dan Kelompok 5+1 memulai kembali putaran baru perundingan di kota Jenewa, Swiss. Zarif dalam babak pertama perundingan tersebut menyampaikan proposal komprehensif kepada Kelompok 5+1 dan disambut baik oleh Ashton. Tak lama setelah itu, Iran dan para menteri luar negeri negara-negara anggota Kelompok 5+1 kembali bertemu di Jenewa pada tanggal 7-9 November 2013. Pertemuan itu membahas rencana tiga tahap yang diusulkan Iran dalam pertemuan sebelumnya di Jenewa, namun tidak tercapai kesepakatan resmi. Kemudian perundingan dilanjutkan 10 hari berikutnya yaitu tanggal 20 November.

Negosiasi antara Iran dan Kelompok 5+1 pada tanggal 20 November di Jenewa telah memasuki tahap yang sensitif, dan setelah empat hari berunding intensif, kedua belah pihak akhirnya menandatangani kesepakatan sementara. Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 24 November tersebut mencakup pengakuan terhadap agenda nuklir Iran oleh Kelompok 5+1. Berdasarkan kesepakatan itu, aktivitas damai nuklir Iran tetap berlanjut dan selama enam bulan ke depan kapasitas pengayaan uranium Iran dibatasi. Sementara ketentuan pengayaan uranium di atas lima persen akan menjadi jelas setelah pembicaraan komprehensif.

Iran sebenarnya tidak begitu optimis dengan niat Barat untuk menyelesaikan isu-isu nuklirnya. Sebab, pengalaman-pengalaman sebelumnya menunjukkan ketidakseriusan Barat tentang hal itu. Tehran menegaskan bahwa semua langkah yang diambil harus dilakukan secara seimbang. Menlu Iran dalam pertemuan terbaru di parlemen negara itu mengatakan, setiap saat Kelompok 5+1 tidak melaksanakan komitmennya dan tidak melakukan kewajibannya sesuai kesepakatan, dan atau mereka tidak ingin melaksanakan perjanjian, maka kemungkinan untuk kembali ke posisi semula tetap ada dan proses perjanjian tersebut akan terhenti.

Apapun yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas perundingan tersebut dapat dianggap sebagai  hasil bersama dari resistensi rakyat Iran dalam menghadapi arogansi dunia dan tekanan-tekanan politik kekuatan-kekuatan arogan. Selain itu, kesepakatan nuklir sementara antara Iran dan Kelompok 5+1 dapat dinilai sebagai hasil dari diplomasi efektif para pejabat baru Tehran.

Meskipun terdapat berbagai tekanan politik, ancaman militer dan sanksi, rakyat Iran tetap teguh dalam menuntut hak-hak legal mereka, bahkan bangsa Iran bertekad untuk melanjutkan perjuangan mereka hingga hak-hak mutlak mereka terpenuhi. Kemandirian di bidang nuklir oleh para ahli dan ilmuwan dalam negeri Iran di tengah-tengah propaganda Barat dan bahkan teror terhadap ilmuwan-ilmuwan nuklir negara itu selama beberapa tahun terakhir menjadi jalan kebanggaan tersendiri bagi rakyat Iran untuk mencapai memajukan sains dan teknologi.

Langkah Organisasi  Energi Atom Iran (AEOI) dalam melaksanakan proyek besar siklus bahan bakar nuklir di instalasi pengayaan Fordo di kota Qom, di mana aktivitasnya di bahwa pengawasan penuh IAEA, membuktikan bahwa Iran telah sampai pada tahap penguasaan teknologi nuklir. Hal itu juga menunjukkan bahwa Iran telah mampu melaksanakan proyek-proyek nuklir bersama dengan negara-negara lain terutama di bidang pengayaan uranium.

Sekarang Iran telah mampu memproduksi radiofarmasi, di mana sekitar 90-95 persennya digunakan untuk mengobati penyakit pasien-pasien tertentu dan untuk penelitian medis. Kemajuan tersebut diraih Iran di tengah sanksi ketat Barat, propaganda dan ancaman militer.  Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dengan jelas mengatakan, Iran tidak akan pernah berkompromi atas "Garis Merah-nya." Republik Islam Iran tidak akan pernah mundur dalam menuntut hak mutlaknya atas penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai dalam kerangka pengayaan. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Kilas Balik Iran di Tahun 2013 (Bagian Kedua)


Iran sebenarnya tidak begitu optimis dengan niat Barat untuk menyelesaikan isu-isu nuklirnya. Sebab, pengalaman-pengalaman sebelumnya menunjukkan ketidakseriusan Barat tentang hal itu. Tehran menegaskan bahwa semua langkah yang diambil harus dilakukan secara seimbang. Menlu Iran dalam pertemuan terbaru di parlemen negara itu mengatakan, setiap saat Kelompok 5+1 tidak melaksanakan komitmennya dan tidak melakukan kewajibannya sesuai kesepakatan, dan atau mereka tidak ingin melaksanakan perjanjian, maka kemungkinan untuk kembali ke posisi semula tetap ada dan proses perjanjian nuklir antara Tehran dan Barat akan terhenti.

Apapun yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas perundingan antara Iran dan Kelompok 5+1 di Jenewa dapat dianggap sebagai  hasil bersama dari resistensi rakyat Iran dalam menghadapi arogansi dunia dan tekanan-tekanan politik kekuatan-kekuatan arogan. Selain itu, kesepakatan nuklir sementara antara Iran dan Kelompok 5+1 dapat dinilai sebagai hasil dari diplomasi efektif para pejabat baru Tehran.

Meskipun terdapat berbagai tekanan politik, ancaman militer dan sanksi, rakyat Iran tetap teguh dalam menuntut hak-hak legal mereka, bahkan bangsa Iran bertekad untuk melanjutkan perjuangan mereka hingga hak-hak mutlak mereka terpenuhi. Kemandirian di bidang nuklir oleh para ahli dan ilmuwan dalam negeri Iran di tengah-tengah propaganda Barat dan bahkan teror terhadap ilmuwan-ilmuwan nuklir negara itu selama beberapa tahun terakhir menjadi jalan kebanggaan tersendiri bagi rakyat Iran untuk mencapai memajukan sains dan teknologi.

Langkah Organisasi  Energi Atom Iran (AEOI) dalam melaksanakan proyek besar siklus bahan bakar nuklir di instalasi pengayaan Fordo di kota Qom, di mana aktivitasnya di bawahpengawasan penuh IAEA, membuktikan bahwa Iran telah sampai pada tahap penguasaan teknologi nuklir. Hal itu juga menunjukkan bahwa Iran telah mampu melaksanakan proyek-proyek nuklir bersama dengan negara-negara lain terutama di bidang pengayaan uranium.

Sekarang Iran telah mampu memproduksi radiofarmasi, di mana sekitar 90-95 persennya digunakan untuk mengobati penyakit pasien-pasien tertentu dan untuk penelitian medis. Kemajuan tersebut diraih Iran di tengah sanksi ketat Barat, propaganda dan ancaman militer.  Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dengan jelas mengatakan, Iran tidak akan pernah berkompromi atas "Garis Merah-nya." Republik Islam Iran tidak akan pernah mundur dalam menuntut hak mutlaknya atas penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai dalam kerangka pengayaan.

Di tengah-tengah derasnya upaya Barat pada tahun lalu untuk mengucilkan Iran, Tehran justru menjadi tuan rumah pertemuan-pertemuan penting regional dan internasional , bahkan Iran memiliki peran aktif dalam pertemuan-pertemuan itu. Hassan Rohani, Presiden Republik Islam Iran di lawatan pertama ke luar negeri setelah terpilih dalam pemilu presiden periode ke-11, berkunjung ke Kyrgyzstan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) yang digelar pada tanggal 13 September di Bishkek, ibukota negara itu. Dalam KTT tersebut, ia menjadi tamu dan sebagai anggota pemantau  SCO.

Rohani dalam KTT SCO menyampaikan pidatonya dan menyinggung beberapa poin penting dan mendasar termasuk masalah nuklir. Ia mengatakan, Republik Islam Iran menganggap topik-topik penting internasional seperti pelucutan senjata nuklir, pelarangan perluasan senjata nuklir dan pelaksanaan penuh Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk menjamin perdamaian dan stabilitas internasional sebagai hal-hal yang harus terealisasi.

Rohani menegaskan, Iran komitmen dengan poin-poin tersebut berdasarkan hukum, ajaran-ajaran agama, akhlak dan pertimbangan strategis. Ia menekankan bahwa semua anggota NPT berhak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Ia menentang segala bentuk produksi, penyimpanan dan penggunaan senjata nuklir, bahkan Iran menuntut pemusnahan semua jenis senjata pemusnah massal.

Organisasi Kerjasama Shanghai dibentuk di kota Shanghai pada tahun 1996 dengan lima negara anggota: Cina, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan danTajikistan.  Pada tahun 2001, Uzbekistan dan Mongolia bergabung dengan SCO.  Organisasi tersebut dari sisi infrastruktur sangat kuat karena memiliki berbagai sumber energi dan posisi geostrategis di antara dua kutup kemajuan ekonomi dunia yaitu timur Asia dan barat Eropa. Sementara Iran sebagai anggota pemantau, memiliki posisi khusus geopolitik, sumber daya manusia dan sumber-sumber alam yang luas serta independensi politik dan ekonomi. Selain itu, Iran adalah pewaris sebagian penting dari peradaban dunia dan Islam.

Kunjungan presiden Iran ke Amerika Serikat untuk berpartisipasi dalam Sidang Majlis Umum PBB ke-68 adalah kehadiran penting dan aktif Iran dalam pertemuan-pertemuan global di tahun 2013. Lawatan Rohani ke New York menjadi sorotan media-media dunia. Pidatonya di Majlis Umum PBB telah menunjukkan "wajah" sebenarnya Iran di hadapan opini publik dunia dan Barat.

Pembicaran Rohani dengan para pemimpin dan pejabat negara-negara dunia termasuk dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, pidatonya di Dewan Hubungan Luar Negeri AS, wawancara dengan berbagai media Amerika dan pidatonya di Majlis Umum PBB dan Konferensi Pelucutan Senjata telah menerangkan dengan jelas tentang pandangan-pandangan Iran terhadap isu-isu penting regional dan internasional.

Presiden Iran dalam pertemuannya dengan Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy mengungkap sejumlah fakta terkait isu-isu penting regional dan internasional, dan menyinggung mengenai langkah-langkah ilegal sejumlah kekuatan dunia terhadap rakyat Iran. Ia mengatakan, "Kami menuntut tidak adanya perlakuan diskriminasi terhadap Iran terkait hak nuklir, dan kami ingin memiliki hak yang sama dengan negara-negara lain."

Rohani menegaskan, senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran. Ia menambahkan, kami adalah korban senjata-senjata inkonvensional dan kami berharap Barat menggunakan peluang yang terbuka ini sebaik mungkin. Di sisi lain, sambutan hangat terhadap pidato dan pertemuan presiden Iran, dan perhatian dunia terhadap diplomasi aktif para pejabat Tehran di kancah internasional telah menyebabkan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benyamin Netanyahu menjadi terkucil.

Pidato Rohani di Majlis Umum PBB dan pertemuannya dengan para pemimpin dan pejabat teras negara-negara barat, serta pembicaraan telepon dengan Presiden AS Barack Obama di menit-menit akhir kunjungannya ke New York, telah melemahkan upaya Israel untuk melanjutkan perang urat syaraf terhadap Iran. Usulan Iran untuk menghapus senjata pemusnah massal dari Timur Tengah dan sambutan masyarakat internasional atas usulan ini, khususnya pembahasan usulan tersebut di pertemuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan penegasan Organisasi Kerjasama Islam untuk melaksanakan usulan itu, adalah bagian dari poin-poin penting dari diplomasi Iran di New York yang semakin membuat rezim Zionis terkucil.

Presiden Iran dalam pidatonya di Konferensi Pelucutan Senjata menganggap ribuan senjata nuklir yang ada di dunia sebagai ancaman terbesar terhadap perdamaian. Rohani menilai keputusan untuk mengurangi jumlah senjata nuklir tidak dapat dianggap sebagai langkah pengganti penghapusan total senjata tersebut. Menurutnya, modernisasi senjata-senjata nuklir juga akan menggagalkan penghapusan senjata berbahaya itu, oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menghilangkan ancaman serius ini adalah penghapusan sepenuhnya terhadap segala bentuk senjata pemusnah massal.

Rohani sebagai Ketua Gerakan Non-Blok (GNB) menegaskan, konferensi untuk  menciptakan Timur Tengah kosong dari senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya harus segera di gelar dengan partisipasi dari seluruh negara regional untuk mencegah segala bentuk  konsekuensi yang tidak diingingkan. Sebab, imbuhnya, selama masih ada senjata nuklir maka ancaman penggunaan dan perluasannya masih tetap ada. Oleh karena itu, satu-satunya jaminan pasti adalah penghancuran seluruh senjata tersebut.

Demi memajukan upaya pelucutan senjata nuklir, GNB telah mengusulkan untuk secepatnya digelar perundingan di Konferensi Pelucutan Senjata  khususnya Konvensi Komprehensif Senjata-senjata Nuklir dan menciptakan ruang untuk memusnahkannya. Akhirnya, tanggal 26 September diusulkan sebagai Hari Internasional Penghapusan Senjata Nuklir yang akan diperingati setiap tahun. Usulan tersebut telah disahkan oleh Majlis Umum PBB.

Presiden Iran dalam pidatonya juga menyinggung kondisi buruk dan memprihatinkan yang dialami oleh rakyat Palestina. Ia menilai kondisi mereka itu sabagai sebuah kekerasan yang diorganisir. Rohani mengatakan, "Palestina sedang dalam pendudukan. Sementara hak-hak dasar mereka dilanggar. Mereka tidak dapat kembali ke rumah dan tanah kelahiran mereka." Di bagian lain pidatonya, Rohani mengatakan, Iran berusaha melakukan interaksi dengan negara-negara lain berdasarkan sikap saling menghormati dan kepentingan bersama, dan dalam kerangka ini Tehran tidak sedang meningkatkan ketegangan dengan Washington.

Pidato presiden Iran di dua pertemuan penting PBB menjadi perhatian khusus media-media asing.Sebagian media memberikan ungkapan menarik tentang kehadiran aktif Iran dalam pertemuan-pertemuan di Majlis Umum PBB dan menulis,  "Orang-orang Iran tidak hanya ahli dalam menenun karpet dan melukisnya, tetapi mereka juga penyulam yang mumpuni, di mana dua kreativitas tersebut mampu menciptakan sebuah karpet yang indah."

Karpet yang digambarkan oleh media-media asing itu harus dimaknai sebagai karpet perdamaian, keamanan dan ketenangan untuk semua penduduk dunia sehingga masyarakat di seluruh dunia dari berbagai etnis, agama dan budaya dapat duduk berdampingan di atas karpet tersebut tanpa adanya perang, ancaman, teror dan ketidakamanan. Selain itu, mereka harus saling menghormati terhadap hak masing-masing.

Peristiwa penting lainnya di Iran pada tahun 2013 adalah negara itu menjadi tuan rumah Forum Negara Pengekspor Gas (GECF) ke-11 yang digelar di kota Tehran. Di akhir forum tersebut, Iran dipilih sebagai Pemimpin GECF.  Forum tersebut dibentuk oleh Iran, Rusia dan Qatar pada tanggal 23 Desember 2008 atas usulan Tehran untuk mengkoordinasi produksi dan ekspor gas dan mengontrol harga gas alam di tingkat dunia.

Kini anggota GECF bertambah setelah Uni Emirat Arab, Oman, Venezuela, Nigeria, Mesir, Aljazair, Libya, Bolivia,GuineaEkuatorialTrinidad dan Tobago bergabung dalam forum tersebut. Belanda, Kazakhstan dan Norwegia juga aktif di GECF sebagai anggota pengamat. Sementara itu, Irak adalah anggota terbaru dalam forum itu. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Nasrallah peringatkan "perang" jika kesepakatan nuklir Iran gagal

Kamis, 14 November 2013 07:03 WIB |http://www.antaranews.com/berita/404903/nasrallah-peringatkan-perang-jika-kesepakatan-nuklir-iran-gagal

Pemimpin Hisbullah Lebanon Sayyed Hassan Nasrallah berpidato di depan para pendukungnya saat muncul di publik dalam aksi protes anti-AS di Beirut, Lebanon, Senin (17/9). Kemunculan Nasrullah yang langka pada hari Senin adalah untuk menyampaikan pidatonya di depan puluhan ribu pengunjuk rasa yang memrotes film AS yang menghina Nabi Muhammad. Nasrallah selama ini bersembunyi untuk menghindari pembunuhan atas dirinya sejak Hisbullah berperang melawan Israel pada tahun 2006. (REUTERS/Hasan Shaaban)
Berita Terkait

Beirut (ANTARA News) - Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, dalam penampilan publik yang langka Rabu, berpendapat bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan dengan sekutu Iran atas program nuklirnya akan berarti "perang di kawasan itu."

Nasrallah, yang biasanya muncul melalui sambungan video karena takut pembunuhan yang dilakukan oleh musuh bebuyutannya Israel, berbicara di kubu Hizbullah selatan Beirut untuk menandai liburan Muslim Syiah Asyura.

Kekuatan dunia gagal mencapai kesepakatan dengan Iran selama akhir pekan untuk mengekang program kontroversial nuklirnya dengan imbalan beberapa bantuan dari sanksi-sanksi yang melumpuhkan meskipun para pejabat tinggi melakukan pembicaraan maraton di Jenewa.

Barat dan Israel telah lama menduga Iran sedang mengejar berkemampuan senjata nuklir bersama program sipilnya, tetapi Teheran membantah keras tuduhan-tuduhan itu.

Iran, bersama dengan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, adalah sekutu dekat Hizbullah, gerakan Syiah Lebanon dengan sayap militer yang kuat.


Penerjemah: Askan Krisna
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2013

Bersiap-siap Menghadapi Perang Dunia III, Sasarannya Iran

Michel-Chossudovsky-Prof
Oleh: Michel Chossudovsky
http://www.akhirzaman.info/menukonspirasi/tataduniabaru/1851-bersiap-siap-menghadapi-perang-dunia-iii-sasarannya-iran.html
Kemanusiaan berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Persiapan perang untuk menyerang Iran berada dalam "keadaan siap-siaga". Sistem Hi-tech termasuk senjata berhulu ledak nuklir dikerahkan sepenuhnya.
 Petualangan militer ini telah digambarkan Pentagon sejak pertengahan tahun 1990-an. Menurut dokumen rahasia 1995 Komando Sentral Amerika Serikat, pertama Irak, berikutnya Iran.
 Eskalasi merupakan bagian daripada agenda militer. Sementara Iran adalah target berikutnya bersama-sama dengan Suriah dan Lebanon, penyebaran militer strategis ini juga mengancam Korea Utara, Cina dan Rusia.
Sejak tahun 2005, Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk mitra Amerika, NATO dan Israel, telah terlibat dalam penyebaran luas dan penimbunan sistem senjata mutakhir. Sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO serta Israel sepenuhnya terintegrasi.
Ini merupakan sebuah upaya terkoordinasi Pentagon, NATO, Israel Defense Force (IDF), dengan keterlibatan militer aktif dari beberapa negara mitra non-NATO termasuk negara-negara Arab garis depan (members of NATO's Mediterranean Dialogue and the Istanbul Cooperation Initiative), antara lain Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, India, Indonesia, Singapura, Australia, (NATO terdiri dari 28 negara anggota NATO dan 21 negara-negara lainnya merupakan negara anggota Euro-Atlantic Partnership Council (EAPC), Dialog Mediterania dan Istanbul Cooperation Initiative termasuk sepuluh negara Arab ditambah Israel.)
Peran Mesir, negara-negara Teluk dan Arab Saudi (dalam aliansi militer yang luas) hubungannya khusus. Mesir mengontrol transit kapal perang dan kapal tanker minyak melalui Terusan Suez. Arab Saudi dan negara-negara Teluk menempati garis pantai Barat di Selatan Teluk Persia, Selat Hormuz dan Teluk Oman. Pada awal Juni, "Dilaporkan Mesir mengizinkan sebuah kapal Israel dan sebelas kapal Amerika Serikat melewati Terusan Suez  .... yang merupakan sinyal jelas kepada Iran ... Pada tanggal 12 Juni, sumber pers daerah melaporkan bahwa Saudi telah memberikan hak kepada Israel untuk terbang di atas wilayah udaranya ... " (Muriel Mirak Weissbach,  Israel’s Insane War on Iran Must Be Prevented., Global Research, July 31, 2010)
Doktrin militer setelah peristiwa serangan 9/11 berupa penyebaran besar-besaran perangkat keras militer yang dijelaskannya sebagai bagian dari apa yang disebut "Perang Global Melawan Terorisme", dengan sasaran organisasi teroris "non-negara"  termasuk al Qaeda dan apa yang disebut sebagai Negara sponsor "terorisme", termasuk Iran, Suriah, Libanon, Sudan.
The setting up of new US military bases, the stockpiling of advanced weapons systems including tactical nuclear weapons, etc. were implemented as part of the pre-emptive defensive military doctrine under the umbrella of the "Global War on Terrorism".
Amerika Serikat membangun pangkalan militer baru, menimbun sistem persenjataan canggih termasuk senjata nuklir taktis, dsb, sudah diimplementasikan sebagai bagian dari doktrin pertahanan militer pre-emptive di bawah payung "Perang Global Melawan Terorisme".

Perang dan Krisis Ekonomi

Implikasi lebih luas dari serangan Amerika Serikat-NATO-Israel terhadap Iran jauh jangkauannya. Perang dan krisis ekonomi sangat terkait erat. Ekonomi perang dibiayai oleh Wall Street, yang berdiri sebagai kreditur pemerintah Amerika Serikat. Produsen senjata Amerika Serikat adalah penerima kontrak pengadaan sistem senjata mutakhir yang bernilai miliaran dolar dari Department Pertahanan Amerika Serikat dengan. Pada gilirannya, "pertempuran untuk minyak" di Timur Tengah dan Asia Tengah secara langsung melayani kepentingan raksasa minyak Anglo-Amerika.
Amerika Serikat dan sekutunya "memukul genderang perang" di puncak depresi ekonomi di seluruh dunia, belum lagi bencana lingkungan paling serius dalam sejarah Dunia. Dalam memutar-balikkan malapetaka yang menyedihkan salah satu pemain utama (BP) dalam permainan geopolitik Timur Tengah - Asia Tengah, yang sebelumnya dikenal sebagai Anglo-Persian Oil Company, adalah penghasut bencana ekologis di Teluk Meksiko.

Media Disinformation

Opini publik dipengaruhi oleh agitasi media yang secara diam-diam mendukung, acuh tak acuh atau berpura-pura bodoh mengenai dampak yang mungkin terjadi, dari apa yang terus-menerus dipropagandakan sebagai sebuah operasi "hukuman" yang khusus diarahkan terhadap fasilitas nuklir Iran, sebaliknya tidak memberitakan sebuah peperangan yang bersifat habis-habisan, termasuk persiapan perang serta penyebaran senjata nuklir yang diprodukasi Amerika Serikat dan Israel. Dalam konteks ini, konsekuensi yang menghancurkan dari perang nuklir apakah memang sengaja tidak disebutkan atau disepelekan.
Menurut media dan pemerintah “krisis nyata" yang sebenarnya mengancam kemanusiaan bukan perang nuklir akan tetapi pemanasan global. Media akan membuat rekayasa krisis walaupun sebenarnya tidak ada krisis: "menakut-nakuti dunia" – dengan pandemi global H1N1 - tapi tidak seorang pun tampak takut terhadap perang nuklir yang disponsori Amerika Serikat.
Rencana perang terhadap Iran disajikan untuk opini publik antara lain sebagai sebuah isu. Hal ini tidak dipandang sebagai sebuah ancaman atas "Tanah Air" seperti dalam kasus pemanasan global. Perang terhadap Iran bukan berita yang pantas dimuat di halaman depan. Fakta bahwa serangan terhadap Iran bisa menimbulkan eskalasi dan berpotensi memicu "perang global" yang tidak terkendali bukanlah masalah yang menjadi perhatian.

Klenik Pembunuhan dan Pembinasaan

Mesin membunuh global juga menyokong klenik yang merupakan bagian penting dalam pembunuhan dan pembinasaan yang disebarkan melalui film-film Hollywood, belum lagi Radio dan TV, perang dan kejahatan serial TV di jaringan televisi. Ilmu klenik pembunuh ini didukung oleh CIA dan Pentagon yang juga mendukung produksi (keuangan) Hollywood sebagai alat propaganda perang.
"Mantan agen CIA Bob Baer mengatakan kepada kami," Ada simbiosis antara CIA dan Hollywood "dan mengungkapkan bahwa mantan direktur CIA, George Tenet sekarang ini," keluar-masuk Hollywood, berbicara dengan orang-orang studio. " (Matthew Alford and Robbie Graham, Lights, Camera… Covert Action: The Deep Politics of Hollywood, Global Research, January 31, 2009)
Mesin pembunuh ini disebarkan pada tingkat global, dalam kerangka struktur komando tempur terpadu. Hal ini secara rutin dikuatkan oleh instansi pemerintah, pemilik media dan birokrat serta intelektual dari the New World Order dan think-tank di Washington serta lembaga penelitian studi strategis sebagai sebuah instrumen yang tidak diragukan lagi dari perdamaian dan kemakmuran global.
Budaya pembunuhan dan kekerasan telah menjadi bagian penting dalam kesadaran manusia.
Perang secara luas diterima sebagai bagian dari proses sosial: Tanah air harus "dibela" dan dilindungi.
"Kekerasan yang dilegitimasi" dan pembunuhan di luar hukum yang ditujukan kepada "teroris" dijunjung tinggi dalam demokrasi barat, sebagai instrumen penting dari keamanan nasional.
A "humanitarian war" is upheld by the so-called international community. It is not condemned as a criminal act. Its main architects are rewarded for their contributions to world peace.
Sebuah "perang kemanusiaan" ditegakkan oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai masyarakat internasional. Namun hal ini tidak dikutuk sebagai tindak pidana. Arsitek utamanya dihargai atas kontribusi mereka bagi perdamaian dunia.
Sehubungan dengan Iran, apa yang diungkapkan adalah legitimasi langsung perang atas nama suatu gagasan ilusi keamanan global.
Sebuah "Pre-emptive" berupa serangan udara yang ditujukan terhadap Iran akan mengakibatkan Eskalasi perang.
Saat ini secara terpisah terdapat tiga medan perang Timur Tengah - Asia Tengah: Irak, Afghanistan-Pakistan dan Palestina.
Dimana Iran menjadi objek serangan udara "pre-emptive" oleh pasukan sekutu, maka seluruh kawasan, dari Mediterania Timur ke perbatasan barat Cina dengan Afghanistan dan Pakistan, akan bergejolak, yang secara potensial akan menggiring kita kepada sebuah skenario Perang Dunia III.
Perang juga akan meluas ke Lebanon dan Suriah.
Hal ini sangat tidak mungkin bahwa pemboman, jika mereka laksanakan, hanya akan membatasi terhadap fasilitas nuklir Iran sebagaimana pernyataan resmi yang diklaim oleh Amerika Serikat-NATO. Apa yang lebih mungkin adalah sebuah serangan udara habis-habisan, baik terhadap infrastruktur militer maupun sipil termasuk sistem transportasi, pabrik, gedung-gedung publik.

wwIIImiddleeast

Iran diperkirakan memiliki cadangan minyak dan gas sebesar sepuluh persen, menduduki peringkat ketiga setelah Saudi Arabia (25%) dan Irak (11%) dalam ukuran cadangannya. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki kurang dari 2,8% dari cadangan minyak dunia. Cadangan minyak Amerika Serikat diperkirakan kurang dari 20 milyar barel. Daerah yang lebih luas di Timur Tengah dan Asia Tengah memiliki cadangan minyak lebih dari tiga puluh kali yang dimiliki Amerika Serikat, yang mewakili lebih dari 60% dari total cadangan minyak dunia. (Lihat Waddell Eric, The Battle for Oil, Global Research, Desember 2004).
Signifikansinya adalah penemuan baru-baru ini di Iran mengenai cadangan kedua terbesar yang diketahui berupa gas alam di Soumar dan Halgan dan diperkirakan mencapai 12,4 triliun kubik kaki.
 Penargetan atas Iran unsur utamanya tidak hanya sekedar menyatakan kembali kontrol Anglo-Amerika atas minyak Iran dan gas murah, termasuk juga rute pipa dan   menantang kehadiran pengaruh Cina serta Rusia di kawasan itu.

ww3map2
 
 The planned attack on Iran is part of a coordinated global military road map. It is part of the Pentagon's "long war",  a profit driven war without borders, a project of World domination, a sequence of military operations.
 
 Serangan yang direncanakan terhadap Iran merupakan bagian dari peta jalan militer global yang terkoordinasi. Ini adalah bagian dari "perang yang berlangsung lama" Pentagon, perang yang didorong oleh keuntungan ekonomi tanpa batas, sebuah proyek dominasi Dunia, yang diwujudkan dalam rangkaian operasi militer.
Perencana militer Amerika Serikat-NATO telah memikirkan berbagai skenario eskalasi militer. Mereka juga menyadari akan implikasi geopolitiknya, yaitu bahwa perang bisa melampaui kawasan Timur Tengah - Asia Tengah. Termasuk dampak ekonomi di pasar minyak serta yang lain-lainnya juga telah dianalisis.
Sementara Iran, Suriah dan Libanon merupakan target langsung, Cina, Rusia, Korea Utara, belum lagi Venezuela dan Kuba juga merupakan tujuan yang di ancam oleh Amerika Serikat.
Taruhannya adalah struktur aliansi militer. Penyebaran militer Amerika Serikat-NATO-Israel termasuk latihan militer dan latihan yang dilakukan di perbatasan Rusia dan Cina segera membuahkan hubungan langsung dengan perang yang diusulkan terhadap Iran. Ancaman terselubung, termasuk pengaturan waktu mereka, merupakan suatu petunjuk yang jelas terhadap kekuasaan semasa era Perang Dingin untuk tidak campur tangan dalam cara apapun yang dapat mengganggu terhadap serangan yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Iran.

Peperangan Global

Tujuan strategis jangka menengah adalah untuk mentargetkan Iran dan menetralisir sekutu Iran, melalui diplomasi kapal perang - gunboat diplomacy. Tujuan militer jangka panjang adalah langsung menargetkan Cina dan Rusia.
Sementara Iran adalah target langsung, penyebaran militer tidak terbatas dilakukan ke Timur Tengah dan Asia Tengah. Agenda militer global telah dirumuskan.
Penggelaran pasukan koalisi dan sistem persenjataan maju oleh Amerika Serikat, NATO dan mitra-mitranya yang berlangsung secara bersamaan di seluruh wilayah utama Dunia.
Tindakan militer Amerika Serikat baru-baru ini di lepas pantai Korea Utara termasuk melakukan permainan perang-perangan adalah bagian dari desain global.
Diarahkan terutama terhadap Rusia dan Cina, Amerika Serikat, sekutu NATO dan latihan militer, latihan perang, penyebaran senjata, dll sedang dilakukan secara simultan di hotspot geopolitik utama.
-Semenanjung Korea, Laut Jepang, Selat Taiwan, Laut Cina Selatan mengancam Cina.
-Penggelaran rudal Patriot di Polandia, pusat peringatan dini di Republik Ceko mengancam Rusia.
-Penyebaran Angkatan Laut di Bulgaria, Rumania di Laut Hitam, mengancam Rusia.
- Penyebaran pasukan Amerika Serikat  dan NATO di Georgia.
- Penyebaran angkatan laut yang tangguh di Teluk Persia termasuk kapal selam Israel diarahkan terhadap Iran.
Serentak di Timur Mediterania, Laut Hitam, Karibia, Amerika Tengah dan wilayah Andean di Amerika Selatan adalah wilayah-wilayah yang sedang berlangsung militerisasi. Di Amerika Latin dan Karibia, ancaman diarahkan terhadap Venezuela dan Kuba.

“Bantuan Militer” Amerika Serikat

Pada gilirannya, senjata berskala besar telah ditransfer dilakukan di bawah bendera "bantuan militer" Amerika Serikat ke negara-negara yang terpilih, termasuk kesepakatan persenjataan sebesar 5 miliar dolar dengan India yang dimaksudkan  untuk membangun kemampuan militer India yang diarahkan terhadap Cina. (Huge U.S.-India Arms Deal To Contain China, Global Times, July 13, 2010).
"Penjualan senjata akan meningkatkan hubungan antara Washington dengan New Delhi, dan disengaja atau tidak, akan memiliki efek yang menahan terhadap pengaruh China di wilayah tersebut." Dikutip dalam Rick Rozoff, Confronting both China and Russia: U.S. Risks Military Clash With China In Yellow Sea, Global Research, July 16, 2010)
Amerika Serikat memiliki perjanjian kerjasama militer dengan sejumlah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Singapura, Vietnam dan Indonesia, meliputi  "bantuan militer" serta partisipasi dalam latihan perang pimpinan Amerika di Pacific Rim (Juli-Agustus 2010). Perjanjian ini mendukung penyebaran senjata yang ditujukan terhadap Republik Rakyat Cina. (Lihat Rick Rozoff, Confronting both China and Russia: U.S. Risks Military Clash With China In Yellow Sea, Global Research, July 16, 2010).
Demikian pula dan lebih langsung berkaitan dengan serangan yang direncanakan terhadap Iran, Amerika Serikat mempersenjatai negara-negara Teluk (Bahrain, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab) dengan rudal pencegat darat, Patriot Advanced Capability-3 dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) serta yang berpangkalan di laut yaitu pencegat Rudal Standar-3 yang terpasang pada kapal perang kelas Aegis di Teluk Persia. (Lihat Rozoff Rick, NATO’s Role In The Military Encirclement Of Iran, Global Research, February 10, 2010).

Jadwal Penimbunan dan Penyebaran Militer

Apa yang penting dalam hal transfer senjata Amerika Serikat ke negara-negara mitra dan sekutunya adalah pemilihan waktu saat pengiriman dan penyebarannya. Melancarkan operasi militer yang disponsori Amerika Serikat biasanya akan dilakukan setelah sistem persenjataan ini berada di tempat, dengan efektif dikerahkan  melalui pelaksanaan pelatihan personil. (India e.g).
Apa yang kita pahami adalah desain militer global yang teliti dan terkoordinasi yang dikontrol oleh Pentagon, melibatkan angkatan bersenjata gabungan lebih dari empat puluh negara. Ini merupakan penyebaran militer multinasional global, dan sejauh ini merupakan pertunjukkan terbesar sistem senjata mutakhir dalam sejarah Dunia.
Pada gilirannya, Amerika Serikat dan sekutunya telah mendirikan pangkalan militer baru di berbagai belahan dunia. "Permukaan Bumi Disusun sebagai sebuah Medan Perang yang Luas - The Surface of the Earth is Structured as a Wide Battlefield". (See Jules Dufour, The Worldwide Network of US Military Bases , Global Research, July 1, 2007).
The Unified Command susunannya dibagi menjadi Combatant Command geografis berdasarkan pada strategi militerisasi tingkat global. "Militer Amerika Serikat memiliki pangkalan di 63 negara. Pangkalan militer baru telah dibangun sejak 11 September 2001 di tujuh negara. Secara total terdapat 255.065 personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di seluruh dunia." (Lihat Jules Dufour, The Worldwide Network of US Military Bases , Global Research, July 1, 2007

unified-command_world-map1

Skenario Perang Dunia III

"Tanggung Jawab Wilayah Komandan Dunia" (Lihat peta di atas) mendefinisikan rancangan militer global Pentagon, yang merupakan salah satu penaklukan Dunia. Penyebaran militer ini terjadi di beberapa wilayah secara bersamaan di bawah koordinasi Komando regional Amerika Serikat, yang melibatkan penimbunan sistem persenjataan buatan Amerika Serikat oleh pasukan Amerika Serikat dan negara-negara mitra, beberapa di antaranya mantan musuh, termasuk Vietnam dan Jepang.
Keadaan sekarang ditandai dengan pembangunan militer global yang dikontrol oleh sebuah negara adidaya Dunia, yang menggunakan banyak sekutunya untuk memicu perang regional.
Sebaliknya, sewaktu terjadi Perang Dunia Kedua merupakan gabungan yang terpisah dari medan perang regional. Mengingat teknologi komunikasi dan sistem senjata tahun 1940-an, belum ada strategi yang koordinasi selama “waktu aktual proses berlangsung” dalam aksi militer  antara wilayah geografis yang luas.
Perang global didasarkan pada penyebaran terkoordinasi kekuatan militer tunggal dominan, yang mengawasi tindakan sekutu-sekutu dan mitranya.
Dengan pengecualian Hiroshima dan Nagasaki, Perang Dunia Kedua ditandai dengan penggunaan senjata konvensional. Perencanaan perang global bergantung pada militerisasi ruang angkasa. Apakah perang yang diarahkan terhadap Iran yang akan diluncurkan tidak hanya akan menggunakan senjata nuklir, tapi juga seluruh gamut baru sistem persenjataan canggih, termasuk senjata elektrometrik dan teknik modifikasi lingkungan (ENMOD) akan digunakan.

Dewan Keamanan PBB

Dewan Keamanan PBB pada awal Juni mengadopsi putaran keempat sanksi sweeping terhadap Republik Islam Iran, termasuk embargo senjata yang diperluas dan juga "kontrol keuangan yang lebih ketat". Hal tersebut merupakan sebuah ironi yang pahit, karena resolusi ini disahkan oleh Dewan Keamanan PBB yang dalam beberapa hari sebelumnya secara tegas Dewan Keamanan PBB menolak untuk mengadopsi sebuah mosi yang mengutuk Israel atas serangannya terhadap Freedom Flotilla di Gaza, armada di perairan internasional.
Baik Cina maupun Rusia, ditekan oleh Amerika Serikat, yang telah mendukung sanksi DK PBB yang merugikan mereka. Keputusan mereka dalam DK PBB berkontribusi melemahkan aliansi militer mereka, yaitu organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), di mana Iran memiliki status pengamat. Resolusi Dewan Keamanan membekukan kerjasama militer bilateral masing-masing China dan Rusia dan perjanjian dagang dengan Iran. Hal ini berakibat serius pada sistem pertahanan udara Iran yang sebagian bergantung pada teknologi dan keahlian Rusia.
Resolusi Dewan Keamanan memberi "lampu hijau" secara de facto untuk melancarkan perang pre-emptive terhadap Iran.

Inquisi Amerika: Membangun Sebuah Konsensus Politik Untuk Perang

Secara serempak media Barat telah mencap Iran sebagai ancaman terhadap keamanan global mengingat dugaan (tidak ada) program senjata nuklir. Bergemanya pernyataan resmi, media kini menuntut pelaksanaan hukuman pemboman yang diarahkan terhadap Iran dalam rangka menjaga keamanan Israel.
Media Barat memukul genderang perang. Tujuannya adalah untuk menanamkan secara diam-diam, melalui pengulangan laporan media,  yang menurut kesadaran batin orang sampai memuakkan, karena semata-mata berdasarkan dugaan bahwa ancaman Iran adalah nyata dan bahwa Republik Islam harus "dihancurkan".
Dalam membangun sebuah konsensus proses untuk berperang mirip dengan inkuisisi Spanyol. Hal ini mengharuskan dan menuntut ketundukkan terhadap gagasan bahwa perang adalah usaha kemanusiaan.
Dikenal dan didokumentasikan, ancaman nyata terhadap keamanan global berasal dari aliansi Amerika Serikat-NATO-Israel, sekalipun demikian relitasnya dalam lingkungan inquisitorial adalah terbalik: para penghasut perang berkomitmen untuk perdamaian, para korban perang diperkenalkan sebagai tokoh utama perang. Padahal pada tahun 2006, hampir dua pertiga orang Amerika menentang tindakan militer terhadap Iran, baru-baru ini jajak pendapat Reuter-Zogby pada Februari 2010 menunjukkan bahwa 56% orang Amerika mendukung aksi militer Amerika Serikat-NATO terhadap Iran.
Membangun sebuah konsensus politik yang didasarkan pada sesuatu yang sama sekali bohong, bagaimanapun juga hanya mengandalkan posisi resmi mereka yang merupakan sumber kebohongan.
Gerakan anti-perang di Amerika Serikat, yang sebagian telah diinfiltrasi dan dikooptasi, berasumsi pada posisi yang lemah berkaitan dengan Iran. Gerakan antiperang terpecah. Penekanannya hanya terhadap perang yang telah terjadi (Afghanistan, Irak) daripada tegas menentang perang yang sedang dipersiapkan dan yang saat ini dirancang  Pentagon. Sejak pelantikan pemerintahan Obama, gerakan antiperang telah kehilangan beberapa daya pendorongnya.
Selain itu, mereka yang aktif menentang perang di Afghanistan dan Irak, tidak  menentang pelaksanaan "pemboman hukuman" yang diarahkan kepada Iran, juga tidak mengkategorikan pengeboman tersebut sebagai tindakan perang yang berpotensi bisa menjadi awal Perang Dunia III.
Skala protes anti-perang dalam kaitannya dengan Iran sangat minim dibandingkan dengan demonstrasi rakyat yang mendahului pemboman dan invasi Irak tahun 2003.
Ancaman nyata terhadap keamanan global berasal dari aliansi Amerika Serikat-NATO-Israel.
Operasi Iran tidak ditentang di arena diplomatik oleh Cina dan Rusia, mendapat dukungan dari pemerintah negara-negara Arab garis depan yang terintegrasikan ke dalam NATO yang disponsori dialog Mediterania. Hal ini juga mendapat dukungan diam-diam opini publik Barat.
Kami menyerukan kepada orang-orang di seluruh wilayah Amerika, Eropa Barat, Israel, Turki dan di seluruh dunia untuk bangkit menentang rencana militer, melawan pemerintah mereka yang mendukung tindakan militer terhadap Iran, terhadap media yang berfungsi untuk menutupi implikasi menghancurkan dari perang terhadap Iran.
Agenda militer mendukung keuntungan yang mendorong merusak sistem ekonomi global yang memiskinkan kawasan besar penduduk dunia.

Perang ini kegilaan belaka.

Perang Dunia III adalah terminal. Albert Einstein memahami bahaya perang nuklir dan kepunahan kehidupan di bumi, yang telah dimulai dengan kontaminasi radioaktif yang dihasilkan depleted uranium. "Saya tidak tahu dengan senjata apa Perang Dunia III akan dipertarungkan, tetapi Perang Dunia IV akan dipertarungkan dengan tongkat dan batu."
Media, kaum intelektual, para ilmuwan dan para politisi, serempak, mengaburkan kebenaran yang tidak diceriterakan, bahwa perang dengan menggunakan hulu ledak nuklir akan menghancurkan kemanusiaan, dan bahwa proses keaneka-ragaman  kerusakan yang secara bertahap telah dimulai.
Ketika kebohongan menjadi kebenaran maka tidak akan berbalik kembali.
Ketika perang ditegakkan sebagai upaya kemanusiaan, Keadilan dan seluruh sistem hukum internasional terbalik: maka pasifisme dan gerakan antiperang dianggap kriminal. Menentang perang menjadi tindak pidana.
Kebohongan harus disingkapkan untuk apa itu dan apa yang dilakukannya. Ini sanksi pembunuhan tanpa pandang bulu pria, wanita dan anak-anak.
Ia bisa menghancurkan keluarga dan masyarakat. Ia bisa menghancurkan komitmen masyarakat terhadap sesama manusia.
Perang mencegah orang untuk mengekspresikan solidaritasnya kepada mereka yang menderita. Menjunjung tinggi perang dan negara polisi hanya satu-satunya jalan.
Ia menghancurkan baik nasionalisme maupun internasionalisme.
Menghentikan kebohongan berarti menghentikan proyek kejahatan kehancuran global, di mana pencarian keuntungan yang merupakan kekuatan utamanya.
Keuntungan yang mendorong agenda militer ini akan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan mengubah orang tidak sadar menjadi zombie.

Mari Kita Membalikkan Arus.

Menentang  penjahat perang yang berkedudukan tinggi dan termasuk kelompok pelobi yang kuat yang mendukung mereka.
Pecahkan inkuisisi Amerika.
Rusak usaha perang pembasmian militer Amerika Serikat-NATO-Israel.
Tutup pabrik-pabrik senjata dan pangkalan militer.
Bawa pulang pasukan.
Personel angkatan bersenjata harus menentang perintah dan menolak untuk berpartisipasi dalam perang kriminal.

Part II of this essay will be published shortly.
Preparing for World War III.  Nature and History of the Planned Military Operation against Iran
Includes analysis of the role if Israel
Michel Chossudovsky seorang penulis pemenang penghargaan, Profesor  Ekonomi (Emeritus) pada Universitas Ottawa dan Direktur dari the Centre for Research on Globalization (CRG), Montreal. Ia menulis buku berjudul The Globalization of Poverty and The New World Order (2003) dan America’s “War on Terrorism” (2005). Ia juga seorang kontributor the Encyclopaedia Britannica. Tulisan-tulisannya telah diterbitkan dalamlebih dari duapuluh bahasa. Ia dapat dihubungi di globalresearch.ca website
Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar