Kamis, 12 Desember 2013

INDONESIA DAN PERJUANGAN PALESTINA....? >> DIAWAL KEMERDEKAAN DAN MEMBANGUN NEGARA.. INDONESIA ..PENUH DENGAN SEMANGAT DAN PENGORBANAN PARA PEMIMPIN-PEJUANG DAN RAKYAT... >> SEMUA MERASAKAN PAHIT DAN GETIRNYA PERJUANGAN DENGAN KEJUJURAN DAN KEIKLASAN...>>> PADAHAL WAKTU ITU TIDAK BANYAK MEDIA DAN APALAGI PENGAWAS INI ATAU ITU...?? BADAN ATAU INSTITUSI... INI ATAU ITU...??? TETAPI SEMANGAT KEBERSAMAAN.. DAN SALING BERBAGI DENGAN KETULUSAN DAN KEJUJURAN... >>> MUNGKIN .. SUNTINGAN...DARI BAGIAN KISAH2 INI BISA JADI ... AKAN MENARIK... PERHATIAN KITA.. DAN PELAJARAN KITA...>>> JUGA RASULULLAH DALAM MEMBANGUN MADINAH DAN KEPEMIMPINAN ISLAM DIAWAL PERJUANGANNYA MENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH DAN MENGJARKAN ISLAM KEPADA KAUMNYA...>>> LIHATLAH PARA PEMIMPIN REPUBLIK ISLAM IRAN... TATKALA MENGHADAPI BLOKADE DAN ANCAMAN SERTA SERANGAN2.. PARA..PENDENGKI DAN MEREKA2 YANG MENJUAL DIRI KEPADA PARA PENJAJAH KRIMINAL INTERNASIONAL.. DENGAN SEGALA CARA.. INGIN MELUMPUHKAN NEGARA ISLAM IRAN..??>> NAMUN MEREKA TEGAR DAN SEMAKIN MEMBANGUN DIR DAN MENGUATKAN KEMANDIRIAN.. >> PARA ULAMA-ZUAMA-CENDEKIA DAN PEMUDA-MAHASISWA... MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK BANGSA DAN NEGERINYA..?? KITA LIHAT BAGAIMANA PRESIDEN AHMADINEJAD HIDUP DAN BERPERILAKU... SANGAT SEDERHANA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARINYA..?? >> SEMUA MEMBANGKITKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KEBERSAMAAN..??>> ...SEMOGA SEMUA JADI HIKMAH BAGI GENERASI2 INDONESIA..DAN UMMAT ISLAM..??>> ...Kelak, sejarah akan berdecak kagum ketika Syafruddin Prawiranegara mengembalikan 29 kilogram emas kepada Negara yang terpendam sebagai cadangan untuk perjuangan PRRI di Sumatera. “..dilakukan penggalian dan emasnya pun diambil. Jumlah semuanya ada 29 kilogram. Emas itu kemudian secara resmi diserahkan oleh Syafruddin kepada Pejabat Presiden Djuanda pada bulan Maret 1962, yang kemudian meneruskannya kepada Menteri/Gubernur Bank Indonesia Sumarno, SH sebagai kekayaan Negara.” (Ajip Rosidi: 2011)..>>> Tapi lihatlah ketika Akmal Nasery Basral mengisahkan dialog Siti Halimah bersama Icah. Saat berjualan sukun itu, ada protes kecil dari Icah, anaknya, “Kenapa kita tidak minta bantuan saja pada Presiden Om Karno, dan Wakil Presiden Om Hatta, serta Om Henkie (Hamengku Buwana IX)?” tanya Icah...>>> Saat Syafruddin menjadi ‘Presiden’ RI (Ketua PDRI) menggantikan Soekarno (Baca Sekitar PDRI –Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Mr. SM Rasjid) dan memerintah di Sumatera, sang Istri yang ditinggalkan sendiri di Yogyakarta sampai harus berjualan sukun goreng untuk menghidupi anaknya, padahal bisa saja mereka mendapat akses ke Pejabat, atau meminta bawahan suaminya untuk ‘korupsi’.>> ..Pak Syafruddin bertanya, dalam kapasitas apa dia ingin menemuinya. Dan Pak Baswedan menjawab bahwa beliau kurang pasti. >> Tapi kalau urusannya berkaitan dengan Bank Indonesia, Pak Syafruddin mewanti-wanti bahwa Bank Indonesia bukan kepunyaan Partai Masyumi. Bank Indonesia kepunyaan Negara. Kalau berurusan dengan Bank Indonesia ikuti saja prosedur resmi yang berlaku bagi semua orang.(Harian Pelita, 14/11/2013).>> ...Lalu Pak Syafruddin mengatakan kepada Pak Baswedan bahwa kalau dia ingin bertemu untuk urusan pribadi silahkan menemuinya di kediaman beliau diluar jam kantor, kalau untuk urusan partai silahkan datang ke Kantor Masyumi, dan Pak Syafruddin akan datang ke sana setelah jam kantor...>> Saat menjadi Menteri Keuangan, kesungguhannya terlihat saat dalam periodenya membuat mata uang sendiri, sebagai ciri Negara merdeka, yang dikenal dengan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang kini menjadi rupiah....>> Saat dilincurkan ORI, Pak Syaf berpesan “..Berhematlah sehemat-hematnya, jangan membeli apabila tak perlu sama sekali, Tanyalah pada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu apapun dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lebih dari lima hari, berikanlaj kelebihan itu kepada tetangga yang kekurangan itu, hendakanya hjangan kita mau mencaru untung saja, tetapi kita harus berani juga menderita kerugian..”.>> “..Krisis ekonomi dan politik Indonesia ini pada hakikatnya merupakan krisis kepercayaan dan moral yang tidak dapat diobati dengan alat-alat dan cara-cara lain melainkan hanya kembali kepada Tuhan melalui norma agama dan moral, yang menyuruh kita, bukan mengejar kekayaan, melainkan untuk mengabdi dan berkorban guna kepentingan sesame manusia!” pidatonya menggelegar...>> Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah Istana dan Senayan...>> Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.”..>>

Ketika Menteri Keuangan Tak Punya Uang

Jumat 9 Safar 1435 / 13 December 2013 09:53
http://www.islampos.com/ketika-menteri-keuangan-tak-punya-uang-89952/

syafruddin prawiranegara  110525001511 376 Ketika Menteri Keuangan Tak Punya Uang

Oleh: Rizki Lesus, Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa

Lili membelai rambut Khalid perlahan. “Kasihan sekali adikmu ini Icah,” kata Lily, panggilan akrab Halimah kepada putri Sulungnya Aisyah. “Waktu dia baru lahir, Ibu dan Ayah tak punya uang sama sekali untuk member gurita (popok) untuk membungkus badannya yang mungil, sehingga Ibu harus menyobek kain kasur dan menjadikannya sebagai gurita,” ujar Lily yang kali ini tak bisa menahan keluarnya air mata.

“Ayah tak punya uang padahal Ayah menteri?!” tanya Icah bingung. “Kenapa bisa? Kata orang, menteri itu orang kaya Bu.”

“Ayahmu menteri keuangan, Icah,” Lily menyeka matanya yang basah. “Ayah mengurusi banyak sekali uang Negara, tetapi dia tak punya uang untuk membeli kain gurita bagi anaknya, adikmu Khalid yang baru lahir. Kalau Ibu tidak mengalami sendiri, Ibu sendiri pasti tak percaya. Tapi itu nyata. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang Negara untuk membeli sepotong kain gurita.”

Secuplik dialog antara Teuku Halimah dan Aisyah, mengenang suami dan ayah tercinta Syafruddin Prawiranegara dalam Novel ‘Presiden Prawiranegara’ karya Akmal Nasery Basral. 

Kisahnya ini benar-benar terjadi seperti penuturan Ajip Rosidi dalam ‘Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut Pada Allah SWT’ : “Waktu anak yang ketiga lahir, Chalid, keadaan keluarga itu begitu buruk sehingga untuk membuat gurita bayi pun mereka terpaksa menyobek kain kasur, karena kain biasa tidak ada lagi” (Ajip Rosidi: 2011).

Menteri Keuangan itu…tak memiliki kain lain selain kasur mungilnya. Barang-barangnya hanya ada koper-koper pakaian dan pakaian sekadarnya. Kini setelah pindah dari kontrakkanya di Bandung, ia tinggal ke Jakarta dengan pola hidup berpindah seperti mentornya, Haji Agus Salim (Baca: Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah).

Namun, lihatlah ketika dijualnya barang-barang seadanya, direlakannya koper-koper pakaian yang baru saja tiba untuk menyambung hidup dirinya dan keluarganya. Sisa barang yang tak dibawa di Bandung digelapkan oleh orang yang dipercaya dititipi, habis sudah harta sang menteri, seperti dikisahkan Ajip Rosidi.

Ketika Pemerintah RI pindah Ke Yogyakarta, dengan kereta segera mereka pindah. Di Yogjakarta, dicarinya kontrakkan, tempat bernaung untuk sang istri dan buah hati, namun keadaan di sana penuh sesak pengungsi. Sang menteri mencari tempat lain, berpindah ke Magelang, hingga Dr. Soekiman (Ketua Masyumi saat itu) memberikan tumpangan tempat di paviliunnya di Pakualaman. Tinggallah ia dan keluarganya, berbagi dengan Mr. Syamsuddin dan juga Dr. Soekiman.

“Meskipun kehiduannya adalah Menteri Keuangan, tetapi dibandingkan dengan kehidupannya taktkala menjadi Kepala Inspeksi Pajak di Kediri, keadaanya jauh lebih sederhana, malah dekat kepada melarat,” masih kata Ajip Rosidi.

Sukun Goreng Dagangan Ibu Menteri

Saat Syafruddin menjadi ‘Presiden’ RI (Ketua PDRI) menggantikan Soekarno (Baca Sekitar PDRI –Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Mr. SM Rasjid) dan memerintah di Sumatera, sang Istri yang ditinggalkan sendiri di Yogyakarta sampai harus berjualan sukun goreng untuk menghidupi anaknya, padahal bisa saja mereka mendapat akses ke Pejabat, atau meminta bawahan suaminya untuk ‘korupsi’.

Tapi lihatlah ketika Akmal Nasery Basral mengisahkan dialog Siti Halimah bersama Icah. Saat berjualan sukun itu, ada protes kecil dari Icah, anaknya, “Kenapa kita tidak minta bantuan saja pada Presiden Om Karno, dan Wakil Presiden Om Hatta, serta Om Henkie (Hamengku Buwana IX)?” tanya Icah.

“Ayahmu sering mengatakan kepada ibu, agar kita jangan bergantung pada orang lain, Nak..” kata ibunya. “Tapi apa ibu tidak malu? Ayah orang hebat, keluarga ayah dan ibu juga orang-orang hebat,” sergah Icah lagi.

“Iya, sayang. Ibu mengerti, tapi dengarkan ya. Yang membuat kita boleh malu, adalah kalau kita melakukan hal-hal yang salah, seperti mengambil milik orang lain yang bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu,” kata Lily, memberi penjelasan pada anak sulungnya itu.

Kelak, sejarah akan berdecak kagum ketika Syafruddin Prawiranegara mengembalikan 29 kilogram emas kepada Negara yang terpendam sebagai cadangan untuk perjuangan PRRI di Sumatera. “..dilakukan penggalian dan emasnya pun diambil. Jumlah semuanya ada 29 kilogram. Emas itu kemudian secara resmi diserahkan oleh Syafruddin kepada Pejabat Presiden Djuanda pada bulan Maret 1962, yang kemudian meneruskannya kepada Menteri/Gubernur Bank Indonesia Sumarno, SH sebagai kekayaan Negara.” (Ajip Rosidi: 2011)

Secercah Keteladanan

Djohan Efendi dalam Mencari Pemimpin yang Berintegritas pernah menuturkan kisah Ketika Pak Syaf (sapaan akrab Syafruddin Prawiranegara) akan menerima tamu. “Pak AR Baswedan pernah bercerita kepada saya tentang Almarhum Pak Syafruddin yang saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia pertama setelah dinasionalisasi. Suatu saat Pak Baswedan menghubungi Pak Syafruddin memintakan waktu untuk seorang temannya, pengusaha dan tokoh Masyumi dari Surabaya yang ingin bertemu dengan Pak Syafruddin.

Pak Syafruddin bertanya, dalam kapasitas apa dia ingin menemuinya. Dan Pak Baswedan menjawab bahwa beliau kurang pasti. 

Lalu Pak Syafruddin mengatakan kepada Pak Baswedan bahwa kalau dia ingin bertemu untuk urusan pribadi silahkan menemuinya di kediaman beliau diluar jam kantor, kalau untuk urusan partai silahkan datang ke Kantor Masyumi, dan Pak Syafruddin akan datang ke sana setelah jam kantor.

Tapi kalau urusannya berkaitan dengan Bank Indonesia, Pak Syafruddin mewanti-wanti bahwa Bank Indonesia bukan kepunyaan Partai Masyumi. Bank Indonesia kepunyaan Negara. Kalau berurusan dengan Bank Indonesia ikuti saja prosedur resmi yang berlaku bagi semua orang.(Harian Pelita, 14/11/2013)

Sejak awal, Pak Syaf menjadi Menteri menyadari bahwa jabatan adalah amanah, kekuasaan bukanlah segalanya. Saat Natsir mundur sebagai Perdana Menteri, Pak Syaf pun meletakkan jabatanya. 

Saat menjadi Menteri Keuangan, kesungguhannya terlihat saat dalam periodenya membuat mata uang sendiri, sebagai ciri Negara merdeka, yang dikenal dengan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang kini menjadi rupiah.

Saat dilincurkan ORI, Pak Syaf berpesan “..Berhematlah sehemat-hematnya, jangan membeli apabila tak perlu sama sekali, Tanyalah pada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu apapun dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lebih dari lima hari, berikanlaj kelebihan itu kepada tetangga yang kekurangan itu, hendakanya hjangan kita mau mencaru untung saja, tetapi kita harus berani juga menderita kerugian..”

“Keluarnya uang republik Indonesia bukan berarti bahwa kita nanti boleh goyang kaki dan hidup senang-senang saja, bahkan sekarang sebaliknya sekaranglah baru tiba saatnya untuk bekerja segiat-giatnya membangun secar teratur dan sistematis” (Ajip Rosidi: 2011)

Mungkin, para pejabat penikmat uang rupiaj kini lupa, kalau ‘hasil’ yang mereka nikmati terselip kemelaratan Menteri Keuangannya silam yang menerbitkan uang yang kini hilir mudik. Mungkin, dibalik jejak van toefel di atas karpet merah di sana, ada langkah-langkah Pak Syaf yang menjejak, masuk ke kampung-kampung dan hutan-hutan becek, menemui rakyatnya yang sedang kesulitan.

Mungkin, di antara kenikmatan aroma teh dan ceplok telor sarapan pagi kita, terselip saling berbagi antar tetangga di masa silam,” Tanyalah pada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu apapun dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lebih dari lima hari, berikanlaj kelebihan itu kepada tetangga yang kekurangan itu,” tegas Pak Syaf.

Pak Syaf mengajarkan bahwa bukanlah materi berlimpah sumber kemuliaan, tetapi nilai-nilai seperti kesederhanaan, perjuangan, juga pertolongan Allah merupakan tuntunan hidupnya. “Mungkin sekali orang disebut kaya, jika ditinjau dari sudut kebendaan, adalah miskin kalau ditinjau dari sudut ketenangan jiwa..”
Sambil tersenyum di hadapan para Mahasiswa tahun 1957 ia melanjutkan,”Sebaliknya orang yang miskin kalau diukur dengan ukuran materi, dapat disebut cukup karena orang yang bersangkutan memang tidak merasa dan memandang dirinya miskin!”

“Perasaan harga diri, inilah yang harus dididik pada rakyat kita dan tidak ada satu hal yang lebih menghalang-halangi tumbuhnya dan merusak harga diri itu dari pada paham materialism, yang memandang kemakmuran kebendaan itu sebagai suatu ideal, suatu tujuan suci!”

“..Demikianlah, maka, jikalau kita hendak membanguyn suatu masyarakat yang bukan saja makmur, tetapi juga adil, kecuali minta pertolongan rasio dari ilmu ekonomi, kita harus terlebih dahulu mohon pertolongan Ilahi. “

“..Krisis ekonomi dan politik Indonesia ini pada hakikatnya merupakan krisis kepercayaan dan moral yang tidak dapat diobati dengan alat-alat dan cara-cara lain melainkan hanya kembali kepada Tuhan melalui norma agama dan moral, yang menyuruh kita, bukan mengejar kekayaan, melainkan untuk mengabdi dan berkorban guna kepentingan sesama manusia!” pidatonya menggelegar.

Ketika Wakil Presiden Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayatnya. Ketika Perdana Menteri Mohammad Natsir dengan jas tambalnya mengayuk sepeda ontel ke kontrakkanya. Ketika Diplomat Ulung, Menlu itu berpindah-pindah kontrakkan dari satu gang ke gang lainnya. Kelak, ‘dongeng’ ini akan dibacakan kepada putra-putri kita sebelum tidurnya.

Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah

Kamis 8 Safar 1435 / 12 December 2013 08:22
http://www.islampos.com/ketika-seorang-menteri-mengontrak-rumah-89789/


Agus Salim Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah
Oleh: Rizki Lesus, Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa
DI dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah dan kasur-kasur digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan anak-anaknya.

Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri.

Begitulah seperti dikisahkan Mr. Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan bahwa H. Agus Salim hidup sebagai Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakkan ke kontrakkan lain.

Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi Khusus Agus Salim)

Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber. Zainatun Nahar istrinya, tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang membuang kotoran istirnya menggunakan pispot.

Kasman Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama), dalam ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal: “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dll.

Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.”

Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’ Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.” Ya, seorang diplomat ulung, menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah.

Seorang yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat.

Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah Istana dan Senayan. []

GAZA: Stunned by turmoil in neighbouring Egypt and starved of funds, the Palestinian Militant group Hamas is looking to repair damaged ties with its traditional Middle East allies, Iran and the Lebanese Hezbollah party.

An off-shoot of the Muslim Brotherhood, Hamas celebrated when the Sunni movement's Mohamed Mursi was elected president of Egypt in 2012, believing the vote would boost its own international standing and its grip on the isolated Gaza Strip.

In the meantime, outraged by the bloody civil war in Syria, the Palestinian group quit its headquarters in Damascus, snapping the Iran-led “axis of resistance” that challenged Israel and the West across the turbulent region.

Shia Muslim Iran, which had for years supplied Hamas with cash and arms, was infuriated by what it saw as a betrayal of its close friend, Syrian President Bashar al-Assad, and drastically scaled back its support. Tehran's Shia partner, Hezbollah, also voiced its fierce disapproval.

But following the ousting of Mursi, removed by the Egyptian military on July 3, political sources said Hamas had had direct and indirect contacts with both Iran and Hezbollah, anxious to revitalise old alliances and restore its battered funding.]

“Some meetings have taken place ... to clear the air. There is no boycott (of Hamas) but at the same time, things have not yet got back to normal,” said a Palestinian official, with knowledge of discussions, who declined to be named.

Moussa Abu Marzouk, former deputy head of Hamas's political office, saw Hezbollah and Iranian officials in Lebanon last month, with other meetings taking place subsequently.

“It is in the interest of Hamas today to revise its rapport with Iran and Hezbollah for many reasons,” said Hani Habib, a political analyst based in the Gaza Strip. “At the end of the day, all the parties have an interest in this partnership.”

SYRIA ROW

Locked in conflict with arch foe and neighbour Israel, which it refuses to recognise, Hamas has governed the small, densely populated Gaza Strip since 2007 after a brief civil war against its secular rivals.
With the Muslim Brotherhood in control of Egypt, Hamas felt it did not have to worry so much about its ties with Iran.

Hamas's leader in exile, Khaled Meshaal abandoned his long-time base in Damascus last year because of the civil war that pitted President Assad's forces, backed by reinforcements sent by both Iran and Hezbollah, against mainly Sunni rebels.

Shia and Sunni are the main streams of Islam. There are differences in their interpretations of the Koran and some traditions. The majority of the world's Muslims are Sunni.
One of the veteran leaders of Hamas, Mahmoud Al-Zahar, said there had never been a suspension of relations with Tehran and Hezbollah, suggesting that contacts may have slowed only because of the recent presidential election in Iran.

“We do not yet know the nature of Iran's new policy, but the information we have received, which is not direct, suggests that the old policy will be endorsed by the new administration,”
Zahar, a renown hardliner, told Reuters in an interview.

Hamas hopes newly installed President Hassan Rouhani will open the financial taps again.
Diplomats estimated that Iran used to give Hamas some $250 million a year, but one Palestinian official reckoned that only 20 per cent of that was now being handed over. Ehud Yaari, a Middle East expert from Israel, put the figure at just 15 per cent, with no arms being offered up either.

“We have a situation of close to zero arms trafficking through the tunnels into Gaza,” said Yaari.
Very little material, weapons or otherwise, is passing at present through the smuggling tunnels that criss-cross the desert border between Egypt and Gaza, with the new rulers in Cairo ordering a clampdown following Mursi's removal.

The army-backed government has accused Hamas of interfering in Egyptian affairs and suggested that Palestinians might be helping militants active in the Sinai peninsula.

The restrictions on the tunnels, which flourished thanks to an Israeli blockade on the coastal enclave, cost Gaza at least $230 million in July alone, said Hamas Economy Minister Ala Al-Rafati. But he rejected any suggestion of a financial crisis.

“There are some problems and they are being overcome,” he told Reuters on Monday, adding that the tunnel trade, which provides Hamas with a crucial source of tax income, had dropped some 60 per cent since Mursi's ousting.

In an additional blow, Hamas's close ties with Qatar have also been dented this summer. The emir of the energy-rich Gulf state visited Gaza last October promising millions of dollars of aid, but he abdicated in June and his heir has shown much less interest in Hamas.

PRIORITIES

In reaching out once more to Iran and Hezbollah, Hamas's dilemma is as much ideological as political, how to balance its Sunni Muslim Brotherhood roots with its vital interests to forge partnerships with fellow enemies of Israel.

Leading a special prayer meeting on Friday for the souls of the "Egyptian martyrs", the Hamas prime minister in Gaza, Ismail Haniyeh, made clear that the war with Israel took precedence.

"We understand that the priority of our resistance is to liberate the land, regain the rights and return the Palestinian people to the land they were forced out of," said Haniyeh, the movement's deputy chief. "We have no military and no security role in Egypt or in the Sinai. Our military and security role is here, on the land of Palestine and against the Zionist enemy."

Founded in 1988, Hamas has regularly squared off against Israel, most recently in November last year in an eight-day conflagration that killed at least 170 Palestinians and six Israelis. The truce was brokered by Mursi.
Israeli analyst Yaari thought Iran would exact a price for welcoming Hamas back into the fold. "It will require them to stop opposing Assad and stop any criticism of Hezbollah's intervention (in Syria) and Iranian support of Assad," he said.

Zahar, who lost two sons in the conflict against Israel in past years and carries great weight in the movement, has always sought to maintain good ties with Iran.

But he also says the organization, which is estimated to have around 30,000 well-equipped fighters, has survived difficult situations in the past when U.S.-backed strongman Hosni Mubarak ruled Egypt and kept Gaza in a vice.

"We became very strong in an era where the entire surrounding environment was hostile," he said. "Our resistance relies mainly on God and also on its capabilities. History proved we have always emerged stronger every time."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar