Minggu, 22 Desember 2013

Konflik Suriah Dirancang Oleh Zionis ...?? >>> ..."Arab Saudi dan negara-negara lain sangat mendukung terorisme dan telah mengerahkan puluhan ribu Takfiri ke Suriah. Arab Saudi bahkan menggaji 2.000 dolar per bulan untuk setiap militan," kata Presiden Suriah itu...>> Menurut sumber rahasia, Bashar Assad bertemu dengan beberapa pemimpin politik dari negara-negara Arab di kawasan 10 hari lalu. Mereka membahas kondisi di Suriah serta cara mengakhiri krisis mematikan yang sedang mendera negara itu. Dalam pertemuan itu, Assad mengatakan bahwa pemerintahan dan negaranya menghadapi teroris yang berasal dari berbagai negara dan perang besar-besaran yang didukung oleh pihak asing. "Sejak awal kami tahu bahwa perang ini adalah perang melawan pemerintahan yang independen. Dan pemerintahan independen ini adalah faktor utama yang mendukung perlawanan dan kemenangan kami," kata Assad....>>> Syrian security forces have arrested an armed cell which is responsible for murdering the Chairman of the scientists of the Levant, Sheikh Muhammad Sa’id Ramadan al-Bouty in April 2013. Al-Watan Syrian newspaper said that the Syrian state channel will broadcast the confessions of the terrorists, who committed the crime, on Saturday...>>> Zionis mengetahui, bahwa Suriah secara fakta dan data membuktikan memang selama ini dikenal sebagai negara yang sering menentang kebijakan Israel, katanya. “Suriah juga dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militer dan intelejen. Hal ini terbukti ketika mereka berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973,” ungkap aktivis kemanusiaan yang juga pernah terjun langsung di Mindanau Selatan, Kashmir, Pattani, Lebanon dan Darfur. Untuk itu, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan meredam konfik Suriah, hendaknya sesama kaum muslimin di belahan dunia lainnya yang mengiktui perkembangan Suriah, dituntut saling menghormati, menghargai dan menjaga ukhuwah Islamiyah.....>>


Assad: Perang Suriah Berakhir Jika Saudi Stop Bantuan Teroris Takfiri 

http://densus99sarkub.blogspot.com/2013/12/assad-perang-suriah-berakhir-jika-saudi.html

 


Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan, selama Arab Saudi terus mengirim senjata dan uang untuk Takfiri ekstrimis, perang di Suriah tak akan pernah berakhir, al-Alam melaporkan, Sabtu (30/11/13).

Menurut sumber rahasia, Bashar Assad bertemu dengan beberapa pemimpin politik dari negara-negara Arab di kawasan 10 hari lalu. Mereka membahas kondisi di Suriah serta cara mengakhiri krisis mematikan yang sedang mendera negara itu.

Dalam pertemuan itu, Assad mengatakan bahwa pemerintahan dan negaranya menghadapi teroris yang berasal dari berbagai negara dan perang besar-besaran yang didukung oleh pihak asing.
"Sejak awal kami tahu bahwa perang ini adalah perang melawan pemerintahan yang independen. Dan pemerintahan independen ini adalah faktor utama yang mendukung perlawanan dan kemenangan kami," kata Assad.
Assad menghargai negara-negara yang bersekutu dengan mereka dalam perang melawan terorisme, terutama pemerintah Rusia. Menurut Assad, dukungan Rusia terhadap Suriah bukan hanya untuk kepentingan Damaskus tapi juga untuk melindungi kepentingan Rusia.
Masih menurut Assad, dukungan asing untuk para militan harus berhenti jika berbagai pihak menginginkan agar perang di Suriah berakhir.
"Arab Saudi dan negara-negara lain sangat mendukung terorisme dan telah mengerahkan puluhan ribu Takfiri ke Suriah. Arab Saudi bahkan menggaji 2.000 dolar per bulan untuk setiap militan," kata Presiden Suriah itu.
Assad melanjutkan bahwa penghentian dukungan Arab Saudi akan mempengaruhi berbagai aspek. Dan saat ini, semua orang tahu bahwa al-Qaeda bukan hanya ancaman bagi Suriah.
Menurut Assad, Arab Saudi telah memimpin operasi vandalisme paling luas di seluruh dunia Arab.
Dalam pertemuan itu, Assad juga mengecam peran Arab Saudi dalam Perjanjian Camp David yang menormalisasi hubungan Israel dengan Mesir. Juga dukungan Riyadh dalam perang melawan Libanon tahun 1982.
Presiden Suriah itu memperingatkan para pemimpin politik Arab tentang bahaya ekstremisme dan Wahhabi. Menurutnya, kehadiran ekstrimis di wilayah merupakan sebuah plot untuk menjaga agar dunia Arab tetap terbelakang.
"Saya ingin mengingatkan Anda bahwa Barat tak pernah ingin melihat kita berkembang. Saya ingat ketika saya bertemu mantan Menlu AS, Colin Powell pada tahun 2003. Dia menceritakan kondisi AS tentang pengelolaan hubungan dengan Irak dan dia meminta kami agar tak mengizinkan seorang ilmuwan Irak pun menginjakkan kakinya di Suriah. Kami menolak tawaran ini. Amerika Serikat dan organisasi mata-mata Israel telah membunuh banyak ilmuwan ini dan sekarang mereka ingin mengosongkan otak Iran," jelas Assad. 
(Densus 99 on Syria News Indonesia)

Teroris Pembunuh Sheikh Ramadan al-Bouty Ditangkap 

http://densus99sarkub.blogspot.com/2013/12/teroris-pembunuh-sheikh-ramadan-al.html


Pasukan keamanan Suriah SAA telah menangkap sel teroris bersenjata yang bertanggung jawab atas pembunuhan Ketua ilmuwan dari Levant, Sheikh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Bouty pada bulan April 2013.

Koran Suriah Al-Watan mengatakan bahwa saluran siaran negara Suriah akan menyiarkan pengakuan para teroris yang melakukan kejahatan, Sabtu.

Surat kabar itu menunjukkan bahwa pasukan keamanan suriah telah melakukan tindakan intelijen untuk menangkap semua anggota sel teroris, yang melaksanakan pembunuhan itu.

Sheikh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Bouty syahid dalam ledakan yang direncanakan saat beliau sedang memberikan pelajaran agama di al-Eyman masjid di pusat Damaskus.




ألقت الأجهزة الأمنية السورية القبض على خلية مسلحة نفذت عملية اغتيال رئيس هيئة علماء بلاد الشام السابق الشيخ محمد سعيد رمضان البوطي في نيسان الماضي.
صحيفة الوطن السورية قالت أن التلفزيون السوري سيبثي يوم السبت "اعترافات الإرهابيين الذين نفذوا عملية الاغتيال".
وأشارت الصحيفة إلى أن الأجهزة الأمنية قامت بعمل استخباراتي دقيق للغاية أدى إلى توقيف كامل الخلية التي نفذت الاعتداء وكذلك الخلية التي أمرت به.
وكان تفجيرا مخططا نفذ في مسجد الإيمان وسط العاصمة دمشق تسبب باستشهاد الشيخ البوطي والذي كان يلقي أحد الدروس في المسجد لحظة وقوع الانفجار.
Sheikh Muhammad Sa’id Ramadan al-Bouty
Syrian security forces have arrested an armed cell which is responsible for murdering the Chairman of the scientists of the Levant, Sheikh Muhammad Sa’id Ramadan al-Bouty in April 2013.
Al-Watan Syrian newspaper said that the Syrian state channel will broadcast the confessions of the terrorists, who committed the crime, on Saturday.
The newspaper pointed out that the security forces have carried out an intelligence action to capture all the cell’s members, who implemented the assassination.
Sheikh Muhammad Sa’id Ramadan al-Bouty was killed in a planned explosion while he was delivering religious classes in al-Eyman mosque in the center of Damascus.
(wangsit densus http://breakingnews.sy)

Kajian Konflik Suriah: Bongkar Persekongkolan Multinasional

http://densus99sarkub.blogspot.com/2013/07/kajian-konflik-suriah-bongkar.html

Proganda Hasutan Perang Surian Rentan Konflik
"....Upaya propaganda ini sangat ampuh. Terbukti, efek kebencian itu menyebar luas bahkan hingga ke kampung -kampung di Indonesia yang jauhnya lebih dari 8.500 km dari Damaskus,”

Konflik internal berdarah di Suriah membawa konsekwensi global karena arus deras informasi, termasuk ke Indonesia. Namun sayangnya, banyak media mainstream menebar propaganda konflik tersebut yang rentan menimbulkan kebencian sesama muslim. 

Dina Y. Sulaeman mengemukakan hal itu dalam Launching dan Bedah Buku “Prahara Suriah, Membongkar Persekongkolan Multinasional” di Jakarta, Rabu (3/7).

“Propaganda apalagi dengan rekayasan informasi rentan menumbuhkan kebencian sesama muslim, bukan lagi kepedulian sesama muslim,” ujar alumni Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran itu.

Dina yang juga sedang menempuh program doktoral Hubungan Internasional, memaparkan temuannya, antara lain foto palsu BBC, yang diklaim sebagai korban kekejaman tentara Assad ternyata korban pembantaian di Irak.

Ada pula foto yang disebut pembantaian Houla, Suriah, korban penduduk sipil termasuk anak-anak dan wanita. Foto berupa seorang anak melompati tumpukan korban pembantaian yang sudah dibungkus kain kafan. Ternyata menurut pengambil fotonya sendiri, Marco Di Lauro langsung memprotes, bahwa foto itu adalah korban pembantaian di Irak tahun 2003.

Ia menambahkan, ada foto di jejaring sosial, disebutkan seorang anak tewas korban kekejaman rezim Assad, padahal foto aslinya adalah seorang anak tewas karena kecelakaan di Turki.

Foto anak-anak di Irak diklaim korban pembantaian Assad, sedangkan foto aslinya adalah korban pembantaian tentara AS di desa Abu Sif, Irak, 2006.

“Efeknya, beberapa kalangan umat muslim di Indonesia saling berseteru dan terpecah-belah. Islam agama yang penuh kasih sayang antarsesama, menjelma menjadi siap membunuh dengan alasan beda mazhab dan beda politik,” ujar penulis buku Obama Revealed, Realitas di Balik Pencitraan.

“Api kebencian agaknya telah membutakan sebagian dari mereka sehingga tak bisa menangkap realitas bahwa mereka diadu domba Barat dengan propagandanya. Upaya propaganda ini sangat ampuh. Terbukti, efek kebencian itu menyebar luas bahkan hingga ke kampung-kampung di Indonesia yang jauhnya lebih dari 8.500 km dari Damaskus,” katanya.
.
Isu Sektarian

Dina Y. Sulaeman dalam penelitiannya mengungkapkan, konflik berdarah di Suriah tidak lepas dari upaya Israel memecah belah kekuatan Islam antara lain melalui isu sektarian syiah-sunni.

Ia memaparkan bukti berupa dokumen Oded Yinon yang diterbitkan Departemen Publisitas Organisasi Zionis Dunia pada Februari 1982, berisi rencana Israel memecah belah Timur Tengah berdasarkan etnis dan mazhab atau sekte.

Oded Yinon menyebutkan, politik adu domba dan pecah-belah dimulai dari Lebanon, Irak, Mesir hingga Suriah. Suriah dirancang terpecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan struktur etnis syiah dan sunni, untuk terus saling bermusuhan.

“Skema tersebut berhasil diterapkan di Irak melalui penggulingan Saddam Husein dengan alasan senjata pemusnah biologi. Kini pasukan Amerika Serikat dan sekutunya bercokol di sana,” ujarnya.

Menurutnya, dengan memecah-belah negara-negara yang dianggap keras terhadap Israel, maka akan mudah dikuasai, ditekan, dan diadu domba satu sama lain.

“Yang memprihatinkan justru ketika rencana pecah-belah Israel itu dijalankan, sebagian umat muslim di tempat lain justru sibuk saling berseteru,” katanya.

Menanggapi isu sektarian syiah-sunni, Agus Nizami, pengelola media islami mengatakan, sebenarnya sudah disepakati adanya kerukunan umat beragama dalam deklarasi Risalah Amman (The Amman Massage) tahun 2006 di Jordania.

Deklarasi yang dipelopori oleh Raja Jordanian, Abdullah II bin Al-Hussein dihadiri 200 ulama Islam dari 50 negara, dengan rujukan utama fatwa-fatwa ulama besar, seperti Syaikh Al-Azhar Ayatollah Sistani dan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.

Kesepakatan Risalah Amman antara lain adanya pengakuan dan kerukunan hidup antara mazhab sunni dan syi’ah, haram mengkafirkan sesama muslim, serta prasyarat fatwa obyektif yang mengatasnamakan Islam.

Kesepakatan secara aklamasi diakui oleh enam majelis ilmiah Islam internasional, dan dikuatkan oleh lebih dari 500 ulama internasional pada puncak Konferensi International Islamic Fiqh Academy di Jeddah, pada Juli 2006.

“Perlu dibuka kembali forum dialog bersama soal kerukunan itu. Nabi Muhammad sangat menganjurkan dialog, musyawarah, dan jalan damai seperti Piagam Madinah,” ujarnya.

Suasana kerukunan di Suriah sendiri menurut Wakil Duta Besar Suriah untuk Indonesia, Basham Al-Khateb selama ini sebenarnya cukup harmonis. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya para pejabat dan pelayan publik dari kalangan sunni. Tentara nasional Suriah juga mayoritas sunni.

“Hubungan antara pemeluk agama dan kelompok sebenarnya bukan pemicu konflik. Tapi memang ada pihak-pihak yang menginginkan Suriah menjadi lemah,” kata Al-Khateb.

Menurutnya, konflik berawal dari adanya sekelompok masyarakat didukung pihak-pihak dari luar Suriah, yang ingin menggulirkan isu demokrasi.

Ia mengakui, memang di kalangan masyarakat Suriah ada beberapa kelompok yang tidak puas dengan kinerja pemerintah. Namun hal itu wajar terjadi di sebuah Negara, dan solusinya diselesaikan secara internal Suriah. (densus 99 on mirajnews.com)

Joserizal: Konflik Suriah Dirancang Oleh Zionis


  http://densus99sarkub.blogspot.com/2013/06/joserizal-konflik-suriah-dirancang-oleh.html
ktivis Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT. menyerukan hentikan perang di Suriah. 
“Mereka harus duduk bersama untuk berunding, sehingga tidak menambah jumlah korban dari warga,” ujar Joserizal, pada Diskusi Terbuka “Kenapa Suriah” di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6).
Menurutnya, salah satu upayanya adalah dengan mengijinkan lembaga kemanusiaan internasional untuk masuk ke Suriah membantu kedua belah pihak.
“Lembaga kemanusiaan termasuk MER-C harus diizinkan masuk membantu kedua belah pihak yang bertikai dengan membawa prinsip netralitas dan independen,” ujar Presidium MER-C yang bersama groupnya sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut.

Rancangan Zionis
Dalam presentasinya, Joserizal mengungkapkan bahwa konflik berdarah yang terjadi di Suriah sudah dirancang oleh Zionis melalui program yang dikenal dengan istilah ‘Novus Ordo Seclorum’ atau era zaman baru yang sekuler.
Melalui program ini, Zionis membuat rancangan rahasia ditujukan kepada negara-negara yang menentang Israel agar menjadi negara kecil dan lemah, sehingga tak berdaya menghadapi kekuatan Zionis.

Zionis mengetahui, bahwa Suriah secara fakta dan data membuktikan memang selama ini dikenal sebagai negara yang sering menentang kebijakan Israel, katanya.
“Suriah juga dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militer dan intelejen. Hal ini terbukti ketika mereka berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973,” ungkap aktivis kemanusiaan yang juga pernah terjun langsung di Mindanau Selatan, Kashmir, Pattani, Lebanon dan Darfur.
Untuk itu, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan meredam konfik Suriah, hendaknya sesama kaum muslimin di belahan dunia lainnya yang mengiktui perkembangan Suriah, dituntut saling menghormati, menghargai dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
“Kalau kita pernah terjun ke medan perang, kita pasti tidak galak sesama umat Islam. Sebab musuh kaum muslimin satu, Zionis. Jangan kita jadi alat permainan mereka,” tegas dokter yang aktif dalam dunia kegawatdaruratan sejak 1999 itu.
Zionis dalam Tubuh Teroris FSA
Tampil sebagai pembicara lain, Drs. M.Hamdan Basyar,M.Si (Peneliti LIPI), Jerry D. Gray (Penulis dan Pengamat Politik Internasional), sambutan dr. Sarbini Abdul Murad, serta dipandu Moderator Zulfatan Faizin (Metro TV) (sumber: http://radiosilaturahim.com)

Tak Dibantu AS, Kepala Jihad Abal-Abal 

Segera Mundur 

 

  

http://densus99sarkub.blogspot.com/2013/05/tak-dibantu-as-kepala-jihad-abal-abal.html

Khatib dilaporkan kecewa lantaran Amerika Serikat (AS) tak membantunya 
dalam mempertahankan wilayah tersebut....
Kepala Oposisi Suriah, Ahmad Moaz al-Khatib dikabarkan akan mengundurkan diri pasca-
direbutnya wilayah pemberontak oleh pasukan Presiden Suriah Bashar Al-Assad, beberapa 
waktu lalu. Khatib dilaporkan kecewa lantaran Amerika Serikat (AS) tak membantunya 
dalam mempertahankan wilayah tersebut.
Padahal, pihak AS telah berjanji untuk membantu oposisi Suriah, termasuk dalam penyediaan 
peralatan militer, guna mempertahankan wilayahnya dari pasukan loyalis Al-Assad.
"Saya bisa mengkonfirmasikan bahwa penguduran diri Khatib sudah final," kata anggota 
Koalisi Nasional, Marwan Hajjo.

Hajjo menambahkan bahwa mundurnya Khatib juga diakibatkan semakin melemahnya 
kekuatan pasukan opsisi. "Masyarakat internasional, kelompok teman-teman 
Suriah harus menyediakan persenjataan berat yang memungkinkan rakyat 
 Suriah untuk mempertahankan diri mereka sendiri," ujarnya.
khatib sendiri telah menyampaikan sebuah pernyataan singkat dalam laman 
Facebook-nya yang mengatakan: “Ketika seekor burung di dalam sangkarnya, 
dia tetap di penjara dan lumpuh. Kemarin saya keluar dari sangkar tipu muslihat
 yang saya masuki.”  (http://www.beritasatu.com)

Opsi Pemberontak: Pulang ke Tempat Asal 

atau Dibunuh.

 

Perdana Menteri Suriah Wael al-Halqi kemarin mengatakan kelompok bersenjata hanya 
memiliki dua pilihan, yakni pulang ke tempat asal mereka atau dibunuh.
Kantor berita Xinhua melaporkan, Selasa (14/5), al-Halqi menekankan rakyat Suriah 
saat ini juga bertekad untuk memerangi terorisme dan memulihkan keamanan serta 
kestabilan di Suriah.
Dia menjelaskan dua pilihan itu tidak akan berubah bagi kelompok bersenjata, yaitu 
kembali  ke tempat asal mereka atau dibunuh tentara Suriah. Hal ini menunjukkan 
rezim pemerintahan Presiden Basyar al-Assad membuka kesempatan lebar bagi 
siapa saja yang ingin kembali ke jalur yang benar.
Pemerintah Suriah juga berulangkali menyatakan bahwa ribuan pejuang asing yang 
berafiliasi  dengan kelompok jihad saat ini berperang di Suriah untuk kelompok 
pemberontak.
Tokoh utama kelompok oposisi saat ini berada di pengasingan, Haitham al-maleh, 
mengatakan belum lama ini sekitar 12 ribu pejuang asing telah bergabung dengan 
kelompok pemberontak di Suriah.
Sementara itu, al-Halqi kembali mengatakan bahwa pemerintah Suriah sangat 
bersungguh-sungguh, jujur, dan terbuka bagi semua kekuatan politik dan sosial, serta 
oposisi baik di dalam atau di luar Suriah yang percaya pada penyelesaian konflik 
nasional. Dia juga menyatakan kelompok pemberontak di Suriah semakin yakin 
bahwa persekongkolan besar sedang bermain di Suriah. (http://www.merdeka.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar