Kamis, 10 Januari 2013

...“MenjawabTuduhan Sesat Perayaan Maulid”...>>>....Merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam, adalah merupakan salah satu amal yang paling utama dan sebuah cara pendekatan diri kepada Allah Rabbil Izzati. Kerena keseluruhan rangkaian peringatan Maulid Nabi tersebut merupakan ungkapan kebahagiaan dan kecintaan umat Islam kepada beliau. Dan cinta kepada Nabi merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip iman. Cinta ini seiring dengan cinta kepada Allah SWT, yang menyandingkan keduanya dan mengancam siapa saja yang lebih mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah menjadi tabiat manusia seperti kerabat, harta benda, dan tanah air atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya....>>>...Sesungguhnya Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW yang mulia merupakan limpahan rahmat Ilahi yang dihamparkan bagi sejarah manusia seluruhnya. Allah SWT dalam Al Qur’an Al-Karim telah mengungkapkan keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Rahmat ini tidak terbatas, ia meresap masuk ke dalam pendidikan, pengajaran, dan pensucian jiwa manusia. Rahmat tersebut jugalah yang menunjukan manusia ke jalan kemajuan yang lurus dalam lingkup kehidupan mereka, baik secara materi maupun maknawi. Rahmat tersebut juga tidak terbatas untuk orang-orang di jaman itu saja, tetapi membentang luas sepanjang sejarah manusia seluruhnya....>>>...... wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil'alamien....[dan tidaklah aku utus engkau ya Muhammad...kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta...].al ayah..QS 21-al anbiyaa ayat 107....>>>..Sebagai rasul pemungkas, Nabi Muhammad di utus untuk seluruh umat manusia (khattaman linnasi), tanpa batas waktu. Artinya sampai kapanpun ajaran beliau selalu relevan dan dibutuhkan. Skala jangkauannya bukan sebatas kapasitas mampu menjawab tantangan globalisme, tapi jauh melebihi itu, bahkan misinya rahmatal lil alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). Rasulullah SAW memanifestasikan rohmatan lil alamin dengan 4 hal, yaitu : a) Pendidikan Tauhid; b) Pendidikan yang bernuansa duniawi ukhrowi; c) Peningkatan kualitas SDM dan d) Pendidikan suri tauladan (uswah hasanah). Tatkala ditanya, apakah sebenarnya hakekat agama? jawab Nabi addinu husnul khuluq- agama adalah berbudi luhur dalam bermasyarakat, berkeluarga, berbisnis, berpolitik, berpendidikan dan sebagainya. Ibarat lingkaran raksasa, titik pusatnya kasih sayang (rahmat) dan pedomannya kitab suci Al-Qur'an. ......>>>...“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21].....>>>...“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah ?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280]....>>> Adapun diantara sdr2 muslim yang memaknai dan berfahamkan merayakan peringatan Maulid nabi adalah sunnah tarkiyah..[yakni harus ditinggalkan dengan alasan Nabi tidak pernah melakukannya..disaat beliau hidup] ....karena mereka berfahamkan yang sangat berlebihan tentang tafsir dan asumsi2 terhadap Sdr2 muslim yang konsisten melakukan perayaan peringatan maulid..Nabi..sehingga dihubung-hubungkan dengan berbagai tafsir dan tuduhan2...Dan kemudian mengharamkannya .......Padahal hakekat dan anjuran ulama2 fiqh dan ulama2 salaf ...lebih dimaksudkan agar silaturahim dan thalab ilmu dengan meneladani riwayat - kisah2 dan perilaku Nabi..sejak awal kelahiran..hingga beliau wafat...jadi lebih dekat dengan tujuan kepada da'wah dan .memanfaatkan momentum2 yang bisa menstimulasi..jiwa dan semangat kebersamaan-persudaraan-dan silaturahim sesama umat Islam...khususnya bagi awam seluas-luasnya yang secara riil sangat jarang bisa mendapatkan siraman2 ilmu dan da'wah2..>>>...Maka dari itu sesungguhnya dalam merayakan peringatan maulid Nabi...yang pada hakekatnya adalah thalab ilmu dan meneladani ajaran dan arahan rasulullah saw..untuk bisa secara bersama dan berjamaah membina silaturahim dan ukhuwah dan membangun persatuan ummat... Insya Allah...>>> Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda...ditengah-tengah para sahabat..ketika beliau menyampaikan..... " bahwa beliau sangat rindu dengan Sdr2..beliau...>>> Maka para sahabat serta merta menjawab.. Ya Rasulullah ... kami ini kan sdr2 mu.... ada apa ya Rasulullah saw...?? Maka jawab beliau... kalian bukan sdr2 ku.. tapi kalian adalah shahabt2 ku..?? .. lalau sahabat bertanya... kalau demikian siapakah yang engkau maksudkan sebagai sdr2mu ya Rasulullah ..??? Rasulullah saw.. menjelaskan... bahwa sdr2ku ...ialah uamtku kelak yang sangat mencintai dan merindukanku..dan ingin meneladaniku.. .. padahal mereka...tak kenal dengan ku-tak pernah melihatku- dan tak jauh dizaman setelah aku tiada....>>> semogalah kita menjadi sdr2 dari Rasulullah saw..karena kita ikhlas ingin memulikan dan mendapatkan rahmat dari Allah swt dengan meneladani dan thalab ilmu mengenai peringatan maulid Nabi Muhammad Saw... dan kita ikhlas dengan niyat yang lurus-dan seutuhnya... aamiin...>>> Suatu ketika, seraya berlinang air mata, Rasulullah SAW berkata kpd para sahabatnya dg suara yg lirih. "Alangkah rindunya aku kpd saudara2 ku." sahabat yg mendengar merasa iri, cemburu, mendengar Rasulullah SAW merindukan org lain dan menyebut nyebutnya. Ya Rasulullah, siapa saudara2 yg Tuan rindukan itu ? Rasulullah balik bertanya, menurut kalian siapa ? Pasti yg Tuan rindukan adalah malaikat2 Allah SWT. Wahai sahabatku, mereka adalah malaikat Allah, dan bukan saudara yg kurindukan. Kalau begitu siapa ya Rasulullah ? Apakah mereka para Nabi Allah SWT ? Mereka adalah utusan2 Allah, namun bukan saudara2 yg sedang aku rindukan. Lalu siapa gerangan ? Apakah kami ? Tanya sahabat lagi, kalian adalah sahabat2 ku, tetapi bukan kalian yg aku rindukan saat ini, lalu siapa, ya Rasulullah ? "Yang aku rindukan saat ini adalah org2 yg datang setelah aku wafat. Org2 yg datang beratus ratus tahun setelah kepergianku, mereka tidak pernah berjumpa denganku, tetapi mereka penuh keimanan kepadaku, itulah sdr2 yg aku rindukan saat ini."....>>> Sungguh, kitalah saudara yg dirindukan Rasulullah SAW, bukankah kita datang setelah wafatnya Rasulullah ? Bukankah kita tidak pernah bertemu Rasulullah ? Tetapi bukankah kita penuh keimanan kpd Rasulullah SAW ? Sambutlah cintanya Rasulullah yg begitu Agung, jangan pernah kecewakan beliau SAW. ...>>>.MARI KITA AMBIL SARI PATI NUR DAN CAHAYA ISLAM..DAN AJARAN2 AL QUR'AN DAN SUNNAH2 RASULULLAH SAW...>>> DAN GEMAKAN DALAM MENYAMBUT PERINGATAN . MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW...DENGAN MENGUATKAN - BERJAMA'AH DALAM SILATURAHIM -PERSAUDARAAN-THALAB ILMU- DAN SOLIDARITAS SERTA PERSATUAN UMAT ISLAM...>>> AAMIIN...



hasyim aza <hasyim_aza@yahoo.com> Wed, Dec 28, 2011 at 10:04 AM
Reply-To: hasyim aza <hasyim_aza@yahoo.com>
To: zainal ariefin <ariefin.zainal@gmail.com>
Studi sejarah dan legalitas Hukum
 “MenjawabTuduhan Sesat Perayaan Maulid”
 Oleh:KH.Tb.A.Khudori Yusuf.Lc
Penerbit:Pondok Pesantren Jami’atul IkhwJln.KH.M.Yunus Pasir Buntu-Malanggah
Tunjung Teja-Serang-Banten
42174
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
 بِسْمِ اللهِ الَّذي أرسَلَ لَنا مَن بِالْحَقِّ سَنَّ، والْحَمْدُ للهِ الَّذي جَعَلَ لَنا مِنَ البِدَعِ ما هُوَ حَسَنٌ، والصَّلاةُ والسَّلامُ على صاحِبِ الصَّوْتِ والوَجْهِ الْحَسَنِ، أَبي القاسِمِ جَدِّ الْحُسينِ والْحَسَنِ. أمَّا بَعْدُ فَهَذَا بيانُ جَوازِ الاحْتِفَالِ بِالْمَوْلِدِ وَأَنَّ فيهِ أَجْرًا وَثَوابًا. نَقولُ مُتَوَكِّلينَ على اللهِ:
 
Kelahiran Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam ke muka bumi ini merupakan karunia teragung yang dianugrahkan Allah SWT untuk umat manusia. Kelahirannya bak matahari terbit menyinari alam semesta dari kegelapan malam. Ia bagaikan bulan purnama diantara bintang-bintang  dan air ditengah gurun sahara, cahayanya menjajnjikan kebahagian dan ketentraman abadi, kesejukannya menghantarkan kemenangan dan kesejahteraan yang hahiki. Wahai Nabi… Wahai Rasulullah ….Wahai Kekasih Allah…. kami  sambut kedatanganmu dengan rangkaian bunga Sholawat dan Salam.
 
Rabiul Awwal adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, karena pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW sang penghulu sekaligus penutup para Nabi dan Rasul Sayyidul Anbiya Wal Mursaliin Wa Khatamuhum, kekasih Allah. Kelahirannya ditandai dengan kejadian-kejadian yang menakjubkan pertanda keagungan dan kemuliannya. Siapapun akan bangga dan bersyukur atas  kehadirannya di muka bumi ini. Betapa tidak, karena atas jasa besarnya-lah manusia dari jurang kenistaan yang tiada penghabisan, tentunya bagi mereka yang mengikuti ajarannya.
 
Merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam, adalah merupakan salah satu amal yang paling utama dan sebuah cara pendekatan diri kepada Allah Rabbil Izzati. Kerena keseluruhan rangkaian peringatan Maulid  Nabi tersebut merupakan ungkapan kebahagiaan dan kecintaan  umat Islam kepada beliau. Dan cinta kepada Nabi merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip iman. Cinta ini seiring dengan cinta kepada Allah SWT, yang menyandingkan keduanya dan mengancam siapa saja yang lebih mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah menjadi tabiat manusia seperti kerabat, harta benda, dan tanah air atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya.
 
Buku yang hadir dihadapan pembaca adalah sebuah buku kecil atas studi sejarah dan legalitas hukum perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dari pendapat-pendapat ulama terdahulu. Tentu saja tidak memuat seluruh pendapat ulama Islam, tetapi cukup dijadikan rujukan untuk membuat sebuah peta pemikiran tentang hakikat perayaan Maulid secara komprehensif dan menyikapinya dengan bijaksana.
 
Kemudian kepada Allah Azza wa Jalla, penulis memohon Taufiq dan Hidayah-Nya, semoga buku ini berguna bagi diriku dan bagi saudara-saudaraku yang meminatinya. Allahumma barik lana fie ‘amalina.Amien….!!!
 
Selamat membaca.
                                                              Serang, 7 April 2011
                                                               H.A.Khudori Yusuf
 
MUQODDIMAH
Sesungguhnya Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW yang mulia merupakan limpahan rahmat Ilahi yang dihamparkan bagi sejarah manusia seluruhnya. Allah SWT dalam Al Qur’an Al-Karim telah mengungkapkan keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Rahmat ini tidak terbatas, ia meresap masuk ke dalam pendidikan, pengajaran, dan pensucian jiwa manusia. Rahmat tersebut jugalah yang menunjukan manusia ke jalan kemajuan yang lurus dalam lingkup kehidupan mereka, baik secara materi maupun maknawi. Rahmat tersebut juga tidak terbatas untuk orang-orang di jaman itu saja, tetapi membentang luas sepanjang sejarah manusia seluruhnya.
 
Kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW, adalah nikmat terbesar dan anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta. Ketika manusia saat itu berada dalam kegelapan syirik, kufur, dan tidak mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik. Penyembahan terhadap berhala-berhala menjadi suatu kehormatan, perzinaan menjadi suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi menjadikan lambang dari kejantanan, dan merampok serta membunuh adalah suatu keberanian dan keperkasaan. Manusia pada waktu itu tidak lagi berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan semata-mata simbol seks dan pemuas hawa nafsu belaka. Akidah yang dibawa para Nabi sebelumnya, lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Allah Rabbul alamin, Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung yang mereka ciptakan sendiri.
 
 Dari apa yang baru saja kita paparkan, terlihat dengan jelas bahwa kemanusiaan di Jazirah Arab pada waktu itu sungguh sangat hancur. Sampai-sampai seorang yang bernama Abrahah tiba-tiba berniat untuk menghancurkan Ka’bah, tempat yang sangat Allah sucikan. Suatu tindakan kebodohan yang demikian jelas. Dan Abrahah memang serius untuk menghancurkan Ka’bah. Pada waktu itu ia dan pasukan gajahnya sudah berangkat dari Yaman menuju Makkah. Namun Allah Maha tahu akan niat jahat Abrahah. Sebelum mereka mencapai tujuannya. Allah segera mengirimkan burung-burung Ababil, menyebarkan kepada mereka batu-batu api neraka yang menghanguskan
 
Di saat seperti ini rahmat ilahi memancar dari jazirah Arab, seorang bayi bernama Muhammad,  Allah melahirkan dari rahim seorang Ibu bernama Aminah, tepatnya 12 Rabi’ul Awal, tahun Gajah. Muhammad, dialah yang kemudian Allah pilih sebagai seorang Rasul, pembawa risalahNya, kepadanya Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan kehidupan. Sejak itu muncul sebuah zaman baru yang sangat mengagumkan bagi bangkitnya kemanusiaan. Manusia yang benar-benar manusia, tunduk kepada Allah Penciptanya dan pencipta segala mahluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kedzaliman dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras dilarang, kerena merusak akal dan kejahiliahan diperangi dan dimusnahkan. Rasul yang ditunggu-tunggu oleh alam semesta telah datang untuk menghancurkan semua kebathilan , menghentikan semua kerusakan ini dan membawanya kepada cahaya ilahi.
 
لقد جاءكم رسولٌ من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم
“Telah datang kepada kamu seorang utusan Allah dari jenis kamu sendiri, ia merasakan apa penderitaanmu,lagi sangat mengharapkan akan keselamatanmu, kepada orang yang beriman senantiasa merasa kasih sayang”. (QS.At-Taubah:128)
 
Kelahiran makhluk mulia yang ditunggu jagad raya membuat alam tersenyum, gembira dan memancarkan cahaya. Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi pengarang kitab Maulid Habsyi (Biasa disebut Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi wa awshaafi wa siyar) menggambarkan kelahiran Nabi Mulia itu dalam syairnya yang indah:
اشرق الكون ابتهاجا بوجود المصطفى احمد و لأهل الكون انس وسرور قد تجدد
“Alam bersinar cemerlang bersukaria demi menyambut kelahiran Ahmad Al-Musthofa Penghuni alam bersukacita Dengan kegembiraan yang berterusan selamanya”.
 
Dengan tuntunan Allah SWT Baginda Nabi Muhammad SAW berhasil melaksanakan misi risalah yang diamanahkan kepadanya. Setelah melalui perjalanan dakwah dan jihad selama kurang lebih 23 tahun dengan berbagai macam rintangan dan hambatan yang menimpa. Rasululla berhasil mengeluarkan umat dan mengantarkan bangsa Arab dari penyembahan makhluk menuju kepada penyembahan Rabbnya makhluk, dari kezaliman jahiliyah menuju keadilan Islam. 
 
Firman Allah SWT:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (QS. An-Nahl: 36)
 
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(Qs.Ali’Imran:164)
 
Sebagai pembuka buku ini, ada baiknya kita simak perkataan ulama Kharismatik dari Universitas Al-Azhar Mesir Asy-Syaikh Husnain Makhluf Rahimahullah dalam kitab Fatawa Syar’iyyah, juz 1 halaman.131 menulis:
 
إن من إحياء ليلة المولد الشريف، وليالي هذا الشهر الكريم الذي أشرق فيه النور المحمدي إنما يكون بذكر الله وشكره لما أنعم به على هذه الأمة من ظهور خير الخلق إلى عالم الوجود، ولا يكون ذلك إلا في أدب وخشوع وبعد عن المحرمات والبدع والمنكرات، ومن مظاهر الشكر على حبه مواساة المحتاجين بما يخفف ضائقتهم وصلة الأرحام، والإحياء بهذه الطريقة وإن لم يكن مأثور في عهده صلى الله عليه وسلم ولا في عهد السلف الصالح إلا أنه لا بأس به وسنة حسنة
Makananya: “Sunggung barangsiapa menghidupkan malam Maulid Nabi Asy-Syarif dan malam-malam-malam bulan yang mulya ini yang menerangi didalamnya dengan cahaya Muhammadiy yaitu dengan berdzikir kepada Allah, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada umat ini termasuk dilahirkannya makhluk terbaik (Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam) ke alam ini, dan tidak ada yang demikian itu kecuali dengan sebuah akhlak dan kekhusuan serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, amalan bid’ah serta kemungkaran-kemungkaran. Dan termasuk menampakkan kesyukuran sebagai bentuk kecintaan yaitu menyantuni orang-orang tidak mampu, menjalin shilaturahim dan menghidupkan dengan cara ini walaupun tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak pula ada dimasa salafush shaleh adalah tidak apa-apa serta termasuk sunnah hasanah”.
 
Imam Mutawalli Sha`Rawi Rahimahullah dalam bukunya al Ma’idat al-fikr  al-Islamiyya  halaman. 295, menulis:
إذا كان بنو البشر فرحون بمجيئه لهذا العالم، وكذلك المخلوقات الجامدة فرحة لمولده وكل النباتات فرحة لمولده وكل الحيوانات فرحة لمولده وكل الجن فرحة لمولده، فلماذا تمنعونا من الفرح بمولده
” Jika makhluk hidup bahagia atas kelahiran Nabi nya itu dan semua tanaman senang atas kelahirannya, semua binatang senang atas kelahirannya semua malaikat senang atas kelahirannya, dan semua jin senang atas kelahirannya, mengapa engkau mencegah kami dari yang bahagia atas kelahirannya? ” (untuk menjawab pendapat orang orang yang tidak memperbolehkan perayaan Maulid Nabi).
 
Allah SWT, menganjurkan kepada kita untuk bergembira atas rahmat dan karunia-Nya, termasuk kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam, yang membawa rahmat kepada alam semesta, Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“ Katakanlah:‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS.Yunus:58).
 
Al-Imam Imam As-Suyuti meriwayatkan:
وأخرج أبو الشيخ عن ابن عباس رضي الله عنهما في الآية قال:فضل الله العلم، ورحمته محمد صلى الله عليه وسلم
Abu As-Syeikh  telah meriwayatkan daripada Sayyidina Ibn Abbas r.a. tentang tafsiran ayat ini:Karunia Allah adalah Ilmu dan Rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam.( Lihat Ad-Durr Al-Manthsur oleh Imam As-Suyuti, dan lihat juga dalam Al-Bahr Al-Muhith oleh Imam Abu Hayyan)
 
Hal ini berdasarkan firman Allah s.w.t.:
وَمَا أرْسَلنَاكَ إلا رَحْمَةً لِلعَالمِين
Maksudnya:“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS.Al-Anbiya,107)
Dari latar belakang ini lah umat islam merasakan kebahagian luar biasa atas kelahiran nabi dan memperingatinya setiap tahunnya, bahkan pada saat ini di setiap negara muslim, kita pasti menemukan orang-orang yang merayakan ulang tahun Nabi yang disebut dengan hari Maulid Nabi. Hal ini berlaku pada mayoritas umat islam di banyak Negara misalnya sebagai berikut: Mesir, Suriah, Libanon, Yordania, Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat, Saudi Arabia (pada sebagian tempat saja) Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian besar negara- negara Islam lainnya. Di negara-negara tersebut bahkan kebanyakan diperingati sebagai hari libur nasional. Semua negara-negara ini, yaitu duwal islamiyah, merayakan hari peringatan peristiwa ini. Bagaimana bisa pada saat ini ada sebagian minoritas yang berpendapat dan mempunyai keputusan bahwa memperingati acara maulid Nabi adalah sebuah keharaman dan bid’ah yang sebaiknya di tinggalkan oleh umat islam.
 
Hukum perayaan maulid telah menjadi topik perdebatan yang hangat dikalangan para ulama sejak lama dalam sejarah Islam, yaitu antara kalangan yang memperbolehkan  perayaan maulid dan yang melarangnya karena dianggap bid’ah. Hingga saat ini pun masalah hukum maulid, masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan kalangan muslim. Yang ironis, di beberapa lapisan masyarakat muslim saat ini permasalahan peringatan maulid sering dijadikan tema untuk berbeda pendapat yang kurang sehat, dijadikan topik untuk saling menghujat, saling menuduh sesat dan lain sebagainya. Bahkan yang tragis, masalah peringatan maulid nabi ini juga menimbulkan kekerasan sektarianisme antar pemeluk Islam di beberapa tempat.
Untuk lebih jelas mengenai duduk persoalan hukum maulid ini, ada baiknya kita telaah kembali sejarah pemikiran Islam tentang perayaan Maulid ini dari pendapat para ulama terdahulu dan menelisik lebih jauh awal mula tradisi perayaan Maulid ini. Tentu saja tulisan ini tidak memuat semua pendapat ulama Islam, tetapi cukup dapat dijadikan rujukan untuk membuat sebuah peta pemikiran dalam memahi hakikat Maulid secara komprehensif dan menyikapinya dengan bijaksana.
 
BAB I
SEJARAH MAULID
  1. A.           PENDAHULUAN
Dalam bab ini nanti kami berusaha untuk merekonstruksi sejarah tradisi perayaan Maulid Nabi ini dengan membuktikan siapa yang pertama kali mencetuskan dan mengadakan perayaan Maulid dengan menggunakan banyak sumber literatur sejarah untuk membuktikan kevalidan sejarah tersebut. Sebab banyak sekali perdebatan mengenai tradisi Maulid telah mengemuka sejak dulu sampai saat ini. Perdebatan ini bisa dibaca dari banyaknya karya para ulama baik sejarawan barat ataupun sejarawan muslim yang meneliti tentang awal mula tradisi Maulid Nabi ini.
  1. B.            SEJARAH  TRADISI PERAYAAN MAULID
Dilihat dari asal usul kata, sejarah bersal dari bahasa arab, yaitu syajaratun yang berarti pohon, keturunan, asal usul atau silsilah. Dalam bahasa Inggris (history), Bahasa Yunani (istoria), Bahasa Jerman (geschicht). Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi.atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah).
 
Umumnya sejarah dikenal sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.
 
Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari Ilmu Budaya (Humaniora). Akan tetapi, di saat sekarang ini, Sejarah lebih sering dikategorikan sebagai Ilmu Sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis.Ilmu Sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Sejarah dibagi ke dalam beberapa sub dan bagian khusus lainnya seperti kronologi, historiograf, genealogi, paleografi, dan kliometrik. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah disebut sejarawan.Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau Ilmu Babad.
 
Ibnu Khaldun (1332-1406) mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak atau sifat masyarakat itu.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam, merupakan bagian dari tradisi umat Islam karena perayaan maulid Nabi hanyalah sebagai salah satu tradisi umat Islam sejak masa lalu dan bukan bagian dari syariat. Perayaan maulid adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menyemarakan syiar dakwah Islam, bukan perayaan yang bersifat ritual. Dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya ? Oleh karena itu perayaan Maulid Nabi Shallallahu Alaiihi wa Sallam dikatagorikan sebagai kebudayaan Islam yang merupakan hasil kreasi umat Islam yang bersumber dari ajaran Islam itu sendiri dan bertujuan untuk mengekspresikan rasa syukur mereka kepada Allah SWT karena Dia telah menurunkan hamba-Nya Muhammad sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam.
 
Banyak orang keliru dalam memahami subtansi Maulid Nabi yang saya propagandakan dan saya anjurkan untuk menyelenggarakannya. Mereka mendefinisikannya secara keliru yang kemudian banyak melahirkan persoalan baru dan perdebatan-perdebatan yang panjang yang membuat mereka menyia-nyiakan waktunya dan para pembacanya. Persoalan dan perdebatan ini tidak bernilai sama sekali laksana debu yang beterbangan karena dibangun di atas asumsi-asumsi keliru.saya telah banyak mengupas tentang persolan perayaan maulid di forum-forum terbuka dengan uraian yang jelas tentang konsep perayaan Maulid. Telah saya jelaskan sebelumnya bahwa berkumpul dalam rangka memperingati maulid Nabi  hanyalah sebuah tradisi dan sama sekali bukanlah sebuah bentuk ibadah. Silakan saja, siapa pun bisa memberikan interpretasi karena seseorang akan membenarkan atas apa yang dikatakan tentang dirinya dan substansi keyakinannya, bukan orang lain.
 
Dalam setiap acara, pertemuan dan perayaan, saya katakan bahwa pertemuan dengan format demikian adalah sekadar tradisi  bukan perayaan yang  bersifat ritual. Setelah penjelasan ini,ternyata masih banyak  orang yang ingkar dan bantahan dari orang yang menentangpun semakin  hebat dan dengan lantangnya mereka mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi  adalah kesesatan dan kemaksiatan . Saya katakan ini merupakan tuduhan yang keji terhadap kaum muslimin yang merayakan Maulid Nabi dan adanya kesalahan dalam memahami subtansi Maulid.Karena itu, Imam Syafi`i berkata:
مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلاَّ غَلَبْتُهُ وَلاَ جَادَلْتُ جَاهِلاً إِلاَّ غَلَبَنِي
Saya tidak pernah berdebat dengan orang alim, kecuali saya mampu mengalahkannya dan saya tidak pernah berdebat dengan orang bodoh, kecuali ia mampu mengalahkanku.
 
Pelajar dengan kapasitas keilmuan terendah sekalipun akan mengetahui perbedaan antara tradisi dan ritual ibadah serta substansi keduanya. Jika seseorang berkata, “Ini adalah ritual ibadah yang disyari`atkan beserta tata caranya,” Saya bertanya kepadanya, “Manakah dalilnya?” Dan jika ia berkata, “Ini adalah tradisi,” saya katakan kepadanya, “Berbuatlah sesukamu.” Karena yang berbahaya dan menjadi bencana yang kami khawatirkan adalah membungkus ibadah dengan perbuatan bid`ah yang tidak disyari`atkan, namun hanya ijtihad manusia. Ini adalah pandangan yang tidak saya setujui dan justru saya memerangi dan memperingatkannya. Walhasil, berkumpul dalam rangka memperingati maulid Nabi hanyalah sebuah tradisi. Namun, ia termasuk tradisi positif yang mengandung banyak manfaat untuk masyarakat dengan keutamaan yang sempurna karena kemanfaatan itu dianjurkan oleh syari`at satu per satunya.
 
Termasuk persepsi-persepsi keliru yang ada dalam benak sebagian orang adalah mereka menyangka bahwa kami menyelenggarakan peringatan maulid Nabi pada malam tertentu saja, tidak dilakukan sepanjang tahun. Si pelupa ini tidak mengetahui bahwa beberapa perkumpulan diselenggarakan dalam rangka memperingati maulid Nabi di kota Makkah dan Madinah dalam format luar biasa pada setiap tahunnya. Dan pada setiap momen yang terjadi yang penyelenggara acara merasa bersuka cita. Bahkan,  hampir setiap siang maupun malam di kota Makkah dan Madinah diselenggarakan perkumpulan dalam rangka memperingati maulid Nabi. Fakta ini diketahui oleh sebagian orang dan sebagian lagi tidak mengetahuinya. 
 
Siapapun yang berprasangka bahwa kami mengingat Nabi  hanya pada satu malam saja dan melupakan beliau selama 359 malam, berarti ia telah melakukan dosa besar dan kebohongan nyata.
وَلَيْسَ يَصِحُّ فِي الأَذْهَانِ شَيْءٌ*إِذَا احْتَاجَ النَّهَارُ إِلَى دَلِيْل
Sungguh sama sekali tidak masuk akal jika terang benderangnya siang perlu bukti”.
Harus diakui memang tidak tercatat dalam kitab-kitab sejarah Islam informasi adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada  masa beliau hidup seperti yang kita rayakan pada saat ini. Nabi hanya mengisyaratkan dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan dalam kitab shohih muslim, pada bab As-Shiyam, bahwa baginda Nabi ditanya tentang puasa hari senin, dan beliau menjawab:” Itu adalah hari aku dilahirkan dan itu adalah hari aku menerima wahyu kenabian”.
 
Hadist ini menunjukan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam melakukan puasa pada hari senin karena bersyukur kepada Allah SWT, bahwa pada hari itu beliau dilahirkan. Hal ini merupakan isyarat dari Rasulullah SAW, artinya jika beliau puasa pada hari senin karena bersyukur kepada Allah atas kelahiran beliau sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran Rasulullah SAW tersebut kita bersyukur kepada Allah SWT. Bersyukur atas kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam bisa hasil misalnya dengan membaca Al-Qur’an, membaca sirahnya, membaca Shalawat kepada beliau, bersedekah atau perbuatan baik lainnya. Kemudian karena  puasa pada hari senin di ulang-ulang oleh Rasulullah SAW pada setiap minggunya, maka berarti peringatan maulid juga di ulang setiap tahunnya. Dan karena hari kelahiran Rasulullah SAW masih diperselisihkan mengenai tanggalnya bukan pada harinya dan tahunnya maka sah-sah saja apabila perayaan maulid pada tanggal 12, 2, 8, 9, 10, Rabiul awwal atau pada tanggal lainnya. Bahkan tidak masalah perayaan Maulid dilaksanakan dalam sebulan penuh sekalipun.
 
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari hadist ini adalah: Sangat dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari tersebut. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, membaca Sholawat kepada Nabi SAW. Bukankah kelahiran Rasulullah SAW adalah nikmat yang paling besar ? Adakah nikmat yang lebih agung dari dilahirnya Rasulullah SAW pada bulan Rabiul Awwal ini ? Adakah nikmat dan karunia yang lebih agung daripada kelahiran Rasulullah SAW yang telah menyelamatkan kita dari jalan kesesatan ? Demikian yang telah dijelaskan oleh Hujjatul Islam al-Hafizd Ibnu Hajar al-Asqolani dalam syarah hadist ini.
 
Adapun hadits-hadits yang menceritakan secara khusus adanya perayaan maulid Nabi disaat beliau hidup yang sering disampaikan para muballigh dalam pengajian-pengajian seperti:
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ
Maknanya: “Barang siapa yang mengagungkan kelahiranku maka aku akan memberinya syafaat pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memberi infaq satu dirham dalam rangka memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah”.
 
Hadits  seperti diatas dalam kitab kompilasi Hadits Shahih (kitab-kitab mu’tabar yang secara ilmiyah dapat dijadikan standar rujukan Hadist) tidak pernah ditemukan.
Dengan demikian dapatlah kita simpulkan bahwa pada zaman Nabi dan periode khulafa’u rasyidin peringatan besar agama seperti perayaan Maulid Nabi dan perayaan Hari Besar Islam lainnya tidak pernah dilakukan. Perayaan Hari Raya resmi pada zaman Nabi hanya ada dua,yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha.
  1. C.             KONTROVERSI PENCETUS PERAYAAN MAULID
Sebenarnya banyak terjadi perbedaan pendapat sejarawan dalam menentukan siapa yang pertama kali mengadakan acara perayaan Maulid Nabi. Bisa disimpulkan ada tiga pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi Maulid ini.
 
Pendapat Pertama:
Menurut Al-Sakhowi, al-Maqrizi Al-Syafi’i (854 H) (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al-Khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyah di Mesir. Dinasti Fathimiyyah mulai menguasai Mesir pada tahun 358 H dengan rajanya Al-Muiz Lidinillah, Namun sebenarnya menurut DR.N.J.G. Kaptein peneliti sejarah kebudayaan Islam dari Leiden University sumber asli yang menyebutkan tentang Maulid Nabi pada zaman tersebut sudah hilang. Konsekuensinya, perayaan Maulid pada zaman Fathimiyyah hanya diketahui secara tidak langsung dari beberapa sumber sejarawan yang hidup belakangan seperti Al-Maqrizi yang hanya melacak dari kitab yang telah hilang dari ulama zaman Fathimiyyah yaitu Ibnu Ma’mun dan Ibnu Tuwayr.
 
Ibnu Al-Ma’mun: Kitab Sejarah yang paling awal menyebutkan tentang maulid di zaman Fathimiyyah adalah kitab karangan Ibn Al-Ma’mun. Sebenarnya kitab ini sudah hilang tetapi ada beberapa penulis yang menggunakan sumber dari hasil karya beliau di antaranya adalah Ibn Zafir (Wafat 613/1216) Kedua Ibn Muyassar(677/1277), ketiga Ibn Abd Al Zahir(w 692/1292). Tetapi yang paling banyak menggunakan sumber dokumentasi sejarah Ibn Ma’mun adalah sejarawan Al-Maqrizi Al-Syafi’i
 
Dalam beberapa bagian dalam kitab Khutat, Ibn Al-Ma’mun adalah salah satu sumber yang paling penting tentang deskripsi acara acara yang dilakukan oleh Dinasti Fathimiyyah seperti perayaan hari besar, festival, upacara dan sebagainya. Karena Ibn Al-Ma’mun adalah saksi hidup sebagai anak dari seorang wazir yang biasa menyelenggarakan banyak kegiatan perayaan dan seremonial kerajaan.Maulid di kenal kala itu dengan kata “Qala”. Ibn Al-Ma’mun berkata : sejak Afdhal Syahinsyah ibn Amirul Juyusy Badr al-Jamali menjadi wazir dia menghapus empat perayaan maulid yaitu maulid Nabi, Ali, Fatimah, dan imam yang saat itu memerintah. Sampai dia wafat tahun 515H barulah perayaan Maulid Nabi diselenggarakan lagi seperti dahulu oleh khalifah Al-Amir dan itu diteruskan sampai sekarang.
Ibn Al-Tuwayr: Sumber kedua dari informasi perayaan Maulid pada zaman Fatimiyah adalah Ibn Al-Tuwayr. Penulis yang banyak menggunakan tulisan dia sebagai sumber sejarah adalah di antaranya adalah Ibn Al-Furat (807H), Ibn Khaldun (808H), Ibn Duqmaq (809H), Al-Qashashandi (821H), Al-Maqrazi (845H), Ibn Hajar Al-Asqalani (874H), Penulis-penulis tersebut menggunakan sumber informasi Ibn Tuwayr untuk mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era Dinasti Fathimiyyah. Beberapa peristiwa sejarah penting tentang sebuah perayaan terdapat di dalam dokumennya yang disebut mukhlaqat yang kemudian dicatat oleh para sejarawan selanjutnya seperti Al-Maqrizi yang kitab nya bisa kita baca pada zaman sekarang.
 
Ibn Al-Tuwayr berkata, perayaan Maulid saat dinasti Fathimiyyah itu ada enam perayaan dan di antaranya adalah perayaan Maulid Nabi, Ali Bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husein, dan Khalifah yang saat itu memerintah. Ketika 12 Rabiul Awal datang, di beberapa tempat diadakan acara besar seperti membaca Al-Qur’an, pengajian di beberapa masjid dan mushola, dan beberapa majelis juga ikut untuk merayakannya.
 
Pendapat kedua
Sedangkan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya bidayah wa nihayah, diikuti oleh Alhafiz Imam Suyuthi dalam Husn Al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid juga pendapat yang dikuatkan oleh Prof Dr Sayyid Muhammad Alwi Al maliki dalam kitabnya Haula al Ihtifal bil Maulidi Nabawy As Syarif, menurut mereka yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi adalah seorang Raja Irbil (Saat itu gubernur terkadang di sebut malik atau amir. Irbil saat itu adalah propinsi masuk dalam Dinasti Ayyubiyyah.Irbil saat ini masuk dalam wilayah Kurdistan Iraq)  yang dikenal keshalehannya dan kebaikannya dalam sejarah Islam yaitu Malik Muzhaffaruddin Abu Said Kukburi ibn Zainuddin Ali Ibn Tubaktakin pada tahun 630 H. Beliau adalah seorang pembesar dinasti Ayyubiyah yang kemudian dia mendapatkan mandat untuk memerintah Irbil pada tahun 586 H.
 
Sekalipun dalam dua pendapat ini menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 4 H dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian tidak berarti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Karena segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sendiri sebagaimana yang akan kami terangkan secara detail nanti pada bab hukum merayakan Maulid Nabi.
  1. D.     PERAYAAN MAULID  OLEH MALIK MUZHAFFARUDDIN
Sepeninggal pemerintahan Fathimiyyah, Dinasti Ayyubiyah memelihara tradisi Maulid Nabi, walaupun mereka menghapuskan sebagian perayaan-perayaan lain yang dipraktekkan oleh dinasti Fathimiyah. Bahkan menurut Hasan Sandubi justru Sholahuddin menghapus seluruh perayaan Dinasti Fathimiyyah termasuk Maulid Nabi karena alasan politis jadi asumsi sebagian orang yang mengatakan bahwa Sholahuddin adalah yang pertamakali mengadakan perayaan Maulid Nabi adalah sama sekali tidak berlandaskan bukti yang valid. Sejarah hanya mencatat salah satu pembesar Dinasti Ayyubiyah yang memerintah Irbil yaitu Malik Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada tahun 630 Hijriyah mengadakan Maulid Nabi secara besar-besaran. Dia juga salah seorang kerabat Sholahudin Al-Ayubi, dimana ia menikahi Rabi’ah Khatun, adik Shalahudin Al-Ayubi karena kontribusinya yang besar dalam menegakkan pondasi dinasti Ayyubiyah, ia juga merupakan teman seperjuangan Shalahudin dalam melawan tentara Salib, terutama kecerdikannya dalam memenangkan peperangan Khittin melawan tentara Salib.
 
Ibn Katsir bercerita mengatakan: “ Malik Muzhaffaruddin mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al- Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut Malik Muzhaffaruddin mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama fiqh, ulama hadits, ulama kalam, ulama ushul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari sebelum hari pelaksanaan beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ia menyembelih 15.000 ekor Kambing, 10.000 ekor Ayam, 100 Kuda, 100 ribu keju, 30 ribu manisan untuk hidangan para tamu yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Setiap tahunnya perayaan ini menghabiskan 300.000 Dinar. Perayaan ini diisi oleh ulama-ulama serta tokoh-tokoh sufi dari mulai Dzuhur sampe Subuh dengan ceramah-ceramah dan tarian-tarian sufi. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh raja Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua mengapresiasi dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar besar-besaran itu.
 
Menurut ibn khalIikan, perayaan tersebut dihadiri oleh ulama dan sufi-sufi dari tetangga irbil, dari Baghdad, Mosul, Jaziroh, Sinjar, Nashibin, yang sudah berdatangan sejak Muharram sampai Rabiul Awwal. Pada awalnya Malik Muzhaffaruddin mendirikan kubah dari kayu sekitar 20 kubah, di mana setiap kubahnya memuat 4-5 kelompok, dan setiap bulan Safar kubah-kubah tersebut dihiasi dengan berbagai macam hiasan indah, di setiap kubah terdapat sekelompok paduan suara dan seperangkat alat musik, pada masa ini semua kegiatan masyarakat terfokus pada pelaksanaan acara pra-maulid dan mendekorasi kubah-kubah tersebut.
 
Ibn Khallikan juga menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam untuk selanjutnya menuju Irak, ketika melintasi daerah Irbil, beliau mendapati Malik Muzhaffaruddin , raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karenanya al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “At-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An- Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Raja Al-Muzhaffar. Perayaan itu dilaksanakan 2 kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 8 Rabiul Awal dan 12 Rabiul Awal, karena perbedaan pendapat ulama dalam Maulid Nabi.
  1. E.   TRADISI MAULID SEPANJANG ZAMAN
Abu’l Husayn Muhammad, yang lebih dikenal sebagai Ibn Jubayr (540-614H) menceritakan dalam kitab Rihal “Maulid Nabi (tempat lahir dan rumahnya Nabi) pada setiap hari senin selama bulan Rabiul Awal dibuka untuk umum dan orang-orang Mekkah serta para jamaah umrah yang berduyun-duyun mendatanginya untuk mengambil berkah (tabarruk)”.
 
Abu Al-Abbas Ahmad Al-Azafi dalam kitabnya Ad-durr Al-Munazzam fi Al Mawlid Al-mu’azzam Menceritakan bahwa pada hari Maulid Nabi di kota Mekkah saat itu dalam memperingati Maulid pintu Ka’bah dibuka dan semua bentuk transaksi jual-beli diliburkan, semua toko dan halaqah pengajian ditutup. Penduduk Mekkah dan para peziarah sibuk bergegas mengunjungi Rumah kelahiran Nabi. Pada malam Maulid Nabi penduduk Mekkah memperingatinya dengan memasak makanan-makanan yang istimewa sebagaimana menyambut hari besar Islam Idul Fitri. Pemimpin Mekkah (syarif) segera memerintahkan para askar tentara untuk mendatangi tempat kelahiran Nabi dan melafalkan Qasidah maulid di sana. Deretan lilin dan lampu bersinar gemerlapan ditempatkan dari Masjidil Haram sampai rumah tempat lahir Nabi. Toko dan rumah di jalan-jalan Mekkah juga dihiasi oleh berbagai macam pernak-pernik lampu. Perayaan acara Maulid Nabi dimulai setelah sholat Maghrib dengan membaca Qasidah Maulid di rumah tempat kelahiran Nabi.
 
Sejarawan terkenal Ibnu Bathuta menjelaskan dalam bukunya Rihla bahwa sejak masuk bulan Rabiul Awwal setiap jum’at setelah shalat pintu Ka’bah dibuka oleh pemimpim Bani Shayba petugas penjaga pintu Ka’bah dan pada tanggal 12 pemimpin Qodhi Najmuddin Muhammad ibn Imam Muhyiddin Al-Tabari membagi-bagikan makanan dan hadiah kepada para syurafa (keturunan Nabi) dan penduduk Mekkah secara umum .
 
Setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam rangka memperingati Maulid Nabi setelah sholat Magrib keempat qodi Mekkah yang mewakili dari 4 madzhab termasuk diantaranya para ulama tokoh tokoh masyarakat Syeikh Zawiya dan para santrinya, ruasa (para fungsionaris pemerintahan) berduyun-duyun meninggalkan Masjid Haram dan mendatangi tempat kelahiran nabi untuk mengikuti acara perayaan Maulid mereka membaca dzikir dan membaca qosidah Maulid. Rumah-rumah dan jalan umum dihiasi oleh berbagai lentera, lampu dan lilin-lilin besar para penduduk Mekkah menggunakan pakaian istimewa dan mengajak anak-anak dan keluarganya untuk menghadiri acara tersebut. Selepasnya acara di tempat kelahiran Nabi mereka berdesak-desakan kembali ke Masjid Haram untuk melakukan sholat Isya berjamaah dan duduk bersimpuh di depan Maqom Ibrahim kemudian mulai acara Maulid dimulai dengan sambutan kepada khalifah, amir Mekkah dan para qodhi kemudian ceramah tentang sirah Nabi diakhiri dengan doa.
  1. F.      TRADISI MAULID DI INDONESIA
Di Indonesia, perayaan maulid Nabi diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, majelis-majelis ta’lim, di pondok-pondok pesantren dan di berbagai lembaga sosial keagamaan bahkan instansi-instansi pemerintahan. Tradisi peringatan Maulid, biasanya disebut Muludan, paling megah dan dihadiri ratusan ribu orang diadakan di Kraton-Kraton di Jawa, terutama Yogya dan Cirebon. Ia diadakan pada setiap malam 12 Rabi’l Awal. Masyarakat muslim merayakannya dengan beragam cara dan dengan sejumlah acara seremoni dan kemeriahan yang menggairahkan. Malam hari tanggal 12 Maulid merupakan puncak acara seremonial yang ditunggu-tunggu dengan penuh minat. Biasanya mereka mengundang penceramah untuk bicara sejarah Nabi. Mereka, secara bergantian, juga membaca Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi sejak kelahiran sampai wafatnya), dalam bentuk narasi prosais  kadang-kadang dengan irama yang khas. Sebagian lagi sejarah Nabi tersebut dikemas dalam bentuk puisi-puisi yang berisi sejarah dan madah-madah (pujian-pujian) atas nabi. Salah satu puisi maulid Nabi  saw ditulis oleh Syeikh Barzanji.
 
Di Banten, tradisi maulid diselenggarakan diberbagai kampung, desa, kecamatan, kabupaten terutama di kabupaten serang yang sekarang dijabat oleh Drs. H.A.Taufiq Nuriman dan Hj.Ratu Tatu Chasanah,SE keduanya menaruh perhatian besar terhadap syiar-syiar Islam termasuk kepada peringatan Maulid Nabi SAW, hal ini dibuktikan dengan kegiatan peringatan Maulid Nabi secara rutin pada setiap tahunnya yang diselenggarakan di pusat pemerintahan daerah secara rutin dan meriah, disamping itu keduanya aktif menghadiri undangan peringatan Maulid ke tiap-tiap kecamatan bahkan kepeloksok pedesaaan sekalipun.
 
Begitu juga perayaan Maulid Nabi diadakan ditingkat propinsi oleh gubernur propinsi banten yang saat ini dijabat oleh Hj.Ratu Atut Chosiyah,SE, beliau adalah seorang gubernur yang agamis, ramah, dekat dengan berbagai lapisan masyarakat, juga menaruh perhatian besar terhadap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Peringatan Hari Besar Islam lainnya. Perayaan maulid dibanten diselenggarakan dengan berbagai corak sesuai dengan tradisi daerahnya masing-masing, tentunya semua itu tidak terlepas dari inti perayaan Maulid. Dan sudah menjadi tradisi pada saat datang bulan Rabiul Awwal, ribuan masyarakat baik dari daerah banten sendiri maupun masyarkat luar banten mendatangi kompleks Masjid Agung Banten yang terletak 10 km arah utara Kabupaten Serang. Mereka berziarah kemakam para sultan, antara lain Sultan Maulana Hasanudin secara bergiliran.
 
Di Yogyakarta dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah Sekaten. Istilah ini berasal dari kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di bangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Antara pukul 23.00 hingga pukul 24.00 kedua perangkat gamelan tersebut dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta, iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Kraton berseragam lengkap.
 
Pada umumnya, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugrahi awet muda. Sebagai “Srono” (Syarat) nya, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten.
 
Di Aceh, ada sebuah tradisi yang dilaksanakan bertepatan tanggal 12 Rabiul Awwal hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.Tradisi tersebut dinamakan dengan “Kanduri Mulod” yang dilakukan di dalam 3 (tiga) bulan yaitu Rabiul Awwal sebagai mulod awai, Rabiul Akhir atau mulod teungoh, dan Jumadil Awwal yang diistilahkan dengan mulod akhe.
 
Kanduri Mulod” merupakan salah satu adat (tradisi) yang telah tersusun aturan perayaannya di Aceh. Adat tersebut termasuk dalam salah satu adat memperingati hari besar Islam di Aceh yang meliputi juga tentang peringatan Nuzulul Qur’an dan peringatan Isra Mi’raj.
 
Di kalimantan pada saat datangnya bulan Rabiul Awwal ada sebuah tradisi yang disebut dengan tradisi Baayun sebuah tradisi Maulid yang turun temurun. Tradisi ini berisi pembacaan do’a dan sholawat sambil mengayun anak dalam ayunan. Biasay tradisi ini digelar di areal makam Pangeran Suriansyah, Kuin utara Raja Banjar penyebar agama Islam di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Tujuan dari tradisi Baayun dengan mengayunkan anak pada bulan Maulid ini bertujuan agar seorang anak jika sudah besar nanti menjadi anak yang sehat, sholih dan sholihat serta mengikuti ketauladan Nabi Muhammad SAW.
 
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia ditetapkan sebagai hari Libur Nasional ketika K.H. Abdul Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, menjabat sebagai Menteri Agama. Upacara peringatan Maulid yang diselenggarakan oleh pemerintah RI pada awalnya diadakan di Istana Negara. Tetapi entah sejak kapan peringatan Maulid ini dipindahkan ke Mesjid Istiqlal. Pada momen tradisi keagamaan ini, Presiden, Wakil Presiden, para pejabat tinggi negara dan para duta besar Negara-negara Sahabat hadir bersama ribuan umat Islam.
  1. G.            KITAB-KITAB MAULID
Sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan maulid dengan membaca Barzanji, Diba’i, Simtu Duror dan lain-lainnya atau dalam istilah orang Betawi dikenal dengan baca Rawi. Sesi pembacaan Barzanji, Diba’i atau Simtu Duror adalah sesi yang tidak pernah tertinggal bahkan seolah menjadi syarat penting, baik dalam perayaan maulid yang besar atau yang kecil. Di tengah pembacaan Barzanji, Diba’i atau simtu duror ini, ada suatu paragraf bacaan yang dikenal dengan mahallul qiyam. Dimana ketika ini dibaca, hadirin semua berdiri sambil bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam. untuk menghormatinya karena saat itu dipercaya bahwa ruh Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam. ikut hadir. Alangkah baiknya kalau kita mengenal isi kitab-kitab tersebut dan biografi para pengarangnya.
  1. Maulid Ad-Diba`i
         Kitab Maulid yang dikenal dan popular dengan nama “Mawlid Ad-Diba`i” ini adalah di antara kitab Maulid yang paling tua, hampir mencapai usia 500 tahun. Sepanjang masa tersebut, kitab Maulid Diba’i telah tersebar ke seluruh pelusuk dunia Islam. Dibaca, dihayati, diwirid oleh jutaan umat, yang awam maupun yang alim antara mereka. Kitab Maulid ini adalah karya seorang ulama besar dan seorang ahli hadits, Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie Asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi`i RahimahumUllah.
 
            Imam ad-Diba`i dilahirkan di kota Zabid pada hari Kamis sore 4 Muharram 866 H dan wafat hari Jumat pagi 12 Rajab tahun 944H . Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tidak ada bandingannya pada masa hidupnya. Beliau mengajar kitab Shohih Al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100.000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau mengajar hadits dari masjid ke masjid. Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz As-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni seorang ahli sejarah.Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar bahwa ayahnya meninggal di daratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabid ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah: ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.
 
            Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah Ibn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` di bawah bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Di tengah-tengah sibuknya belajar hadits, Ibn Diba’ menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.
 
            Ungkapan pengarang dalam Kitab maulid sangatlah indah dalam mengekspresikan kecintaannya terhadap Nabi dan menerangkan kelahirannya. Dengan menggunakan ungkapan metafora yang menawan diperkaya dengan imajinasi puitis sehingga kita yang membaca merasa tersentuh dengan gubahan syairnya. Misalnya dalam mahal qiyam :
 
يا نبي سلام علــــيك  يارسول سلام عليــك
يا حبيب سلام عليـك   صلوات الله عليـــــك
أشرق البدر علينا واختفت منه البــدور
مثل حسنك ما رأينا ..أنت يا وجه السرور
أشرق البدر علينا ..واختفت منه البـــدور
أنت شمسٌ ..أنت بدرٌ ..أنت نورٌ فوق نور
Maknanya:
Wahai Nabi, semoga keselamatan tetap untukmu,Wahai Rasul, semoga keselamatan tetap untukmu.
 
Wahai kekasih, semoga keselamatan tetap untukmu. Juga rahmat Allah semoga tetap tercurah untukmu
Telah terbit bulan purnama menyinari kami. Maka suramlah karenanya purnama-purnama lain.
 
Tiadalah pernah kami melihat perumpamaan kebagusanmu. Hanyalah engkau saja, wahai wajah yang berseri-seri.
Engkaulah matahari, engkaulah purnama. Engkaulah cahaya di atas segala cahaya.
 
Maulid Ad-Daiba’ie juga Menyebut tentang Keagungan Kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam
فاهتز العرش طربا واستبشار وازداد الكرسي هيبة ووقار
وامتلأت السموات انواراوضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا
(سبحان الله والحمدلله ولآإله إلاالله والله اكبر)
ولم تزل أمة ترى انواعا من فخره وفضله إلى نهاية تمام حمله
فلما اشتد بها الطلق بإذن رب الخلق
و ضعت الحبيب صلى الله عليه وسلم ساجدا شاكرا حامدا كأنه البدر فى تمام
Artinya:
Maka ‘Arasy bergegar kerana merasa gembiraKursi yang amat hebat itu pula menjadi semakin hebat dan ceria,
Dan tujuh petala langit dipenuhi cahaya,Sedangkan suara para malaikat bergemuruh mengucapkan Tahlil, Tahmid, dan Istirgfar
(Maha Suci Allah, dan segala Puji bagi Allah, dan tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar)
Ibundanya sentiasa melihat pelbagai mimpi dan tanda kemegahan serta keutamaan bayi dalam rahimnya itu
Sehinggalah usia kandungannya cukup sempurna Lalu ketika merasakan dirinya akan melahirkan. Dengan izin Tuhan segala makhluk.
Maka beliau pun melahirkan Al-Habib (s.aw.) dalam keadaan bersujud syukur, dan memuji Allah, begitu indah laksana bulan purnama yang sempurna.
 
Karya ad-diba’i
Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis.Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadits ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i.
 
Di antara kitab karangannya ialah:
“Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang mengandung himpunan hadits yang dinukil dari kutub sittah. 2 “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan hadits sahih dari selainnya seperti dhaif dan maudhu. 3. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun”. yang membahas tentang seputar Yaman. 4.“Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”.5. “Fadhail Ahl al-Yaman”.
 
2. Maulid Barzanji
 
Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya, seorang sufi bernama Sayyid Ja’far Al Barzanji. Kitab ini sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (kalung permata) atau ‘Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar. Barzanji adalah nama sebuah daerah di Kurdistan, Barzanj. 
 
Syaikh Ja’far Al-Barzanji dilahirkan pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 (1711 M di Madinah Al-Munawwaroh dan wafat pada hari Selasa, ba’da Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H di Kota Madinah dan dimakamkan di Baqi.
 
Garis keturunannya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali R.A.
 
Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musim kemarau.
Kitab Al-Barzanji yang terkenal di berbagai pelosok dunia ini adalah sebuah ringkasan dari siroh Nabi yang dilukiskan dengan dua gaya bahasa yang indah dan menawan dalam bentuk nazom (puisi) dan natsar (prosa) Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmel dalam bukunya, menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far Al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair.
 
Dalam Barzanji sering mengulang kalimat untuk memisah antar Bab :
عطر اللهم قبره الكريم ، بعرف شذي من صلاة وتسليم اللهم صلي وسلم وبارك عليه
Maknanya: “Ya Allah, Harumkanlah kuburnya yang mulia dengan wangi wangian yang semerbak dari rahmat dan kesalamatan”.
 
Salah satu syair yang sangat menawan dari gubahan dalam kitab Barzanji :
ومحيا كالشمس منك مضيء أسفر عنه ليلة غــراء
ليلة المـولد الذي كــان للديـﻦ سرور بيومه وازدهاء
يوم نالت بوضعه ابنه وهب من فخار ما لم تنله النساء
وأتت قومهــا بأفضــل مما حملت قبل مريم العـذراء
مولد كان منه في طالع الكـ فــر وبـال عليـهم ووبــاء
وتوالت بشري الهواتفث أن قد ولد المصطفي وحق الهناء
Yang artinya :
Cahaya yang seperti matahari bersihnya Menerangi malam dengan amat terangnya
Malam yang dilahirkan Nabi kita didalamnya Yang membawa agama yang nyata benarnya.
Maka karena itu dapatlah Siti Aminah ibunya kemegahan yang wanita lain tidak mendapatinya;
la membawa seorang putera untuk manusia sekalian Putera yang lebih mulia dari anak Mariam yang dara.
Kelahiran Nabi kita pada pandangan kafir umumnya ialah suatu kedukaan yang terasa sangat berat.
Maka bertalu-talulah suara bersorak dengan riuhnya “Telah zahir Nabi pilihan; inilah kegembiraan yang sebenarnya.”
 
            Diceritakan juga dalam Barzanji menceritakan kelahiran nabi bahwa kelahiran kekasih Allah ini dilahirkan tangannya menyentuh lantai dan kepalanya mendongak ke arah langit dalam riwayat yang lain dikisahkan dilahirkan langsung bersujud, dilahirkan dengan sangat bersih keadaannya, serta ia telah berkhitan dan telah terpotong pusatnya dari dalam perut ibunya. Dan harum bau tubuhnya, serta berminyak rambutnya, serta tercelak kedua matanya, adalah dengan kudrat dan kehendak Allah sebagai menandakan kemuliaannya dan ketinggiannya, serta kelebihan-kelebihannya yang melebihi makhluk lain semuanya. Dan juga yang demikian itu adalah menunjukkan bahwa ia kekasih Allah yang dijadikan sangat indah perangainya dan bentuk rupanya. Pada saat yang bersamaan itu pula istana Raja Kisra terguncang, dengan lahirnya Nabi Muhammad ke muka bumi mampu memadamkan api sesembahan Kerajaan Persi yang diyakini tak bisa dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun.
 
   Keagungan akhlaknya tergambarkan dalam setiap prilaku beliau sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, beliau mampu mendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Di tengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku dirinya yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah tampil justru tidak mengutamakan dirinya sendiri, melainkan bersikap akomodatif dengan meminta kepada setiap kabilah untuk memegang setiap ujung sorban yang ia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempat perwakilan kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, dan Rasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka’bah.
 
   Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-’Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan nama Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H kemudian oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy Al-Maaliki Al-’Asy’ari Asy-Syadzili Al-Azhari wafat pada tahun 1299 H / 1882M.
 
Sayyidul Ulamail Hijaz, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi juga menulis syarah dinamakannya ‘Madaarijush Shu`uud ila Iktisaail Buruud’. Kemudian, Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami anak Sayyid Ja’far al-Barzanji, juga telah menulis syarah bagi Maulid Al-Barzanji tersebut yang dinamakannya ‘Al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Maulidin Nabiyil Azhar’. 
 
3. Simtu duror
 
“Simthud-Durar fi Akhbar Mawlid Khairil Basyar min Akhlaqi wa Awshaafi wa Siyar” atau singkatannya “Simthud-Durar” adalah karangan maulid yang disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (1259 – 1333H / 1839 – 1913M). Maulid yang juga terkenal dengan nama “Maulid Habsyi” ini telah didiktekan oleh Habib Ali tatkala beliau berusia 68 tahun dalam beberapa majlis yang dimulai pada hari Kamis 26 Shafar 1327 dan disempurnakan 10 Rabi`ul Awwal pada tahun tersebut dan dibacakan secara resminya di rumah murid beliau Habib ‘Umar bin Hamid as-Saqqaf pada malam Sabtu tanggal 12 Rabi`ul Awwal.
 
Habib Thoha bin Hasan bin Abdur Rahman as-Saqqaf dalam“Fuyudhotul Bahril Maliy” menukil kata-kata Habib ‘Ali berhubung karangannya tersebut seperti berikut:
   ”Jika seseorang menjadikan kitab mawlidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka sir Junjungan al-Habib SAW. akan nampak pada dirinya. Aku mengarangnya dan mengimla`kannya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Junjungan Nabi SAW…..”
 
Biografi pengarang
 
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. 
 
Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu. Selanjutnya, beliau melaksanakan amanah yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu. Di bawah pendidikan beliau kita bisa menyaksikan banyak sekali di antara muridnya yang berhasil kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan saja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia. Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H.
 
Contoh gubahan al Habib dalam Simtu Duror:
اشرق الكون ابتهاجا بوجود المصطفى احمد و لأهل الكون انس وسرور قد تجدد
فاطربوا يا اهل المثاني فهزار اليمن غرد واستضيئوا بجمال فاق في الحسن تفرد
و لنا البشرى بسعد مستمر ليس ينفد حيث اوتينا عطاء جمع الفخر المؤبد
فلربي كل حمد جل ان يحصره العد اذ حبانا بوجود المصطفى الهادي محمد
يا رسول الله اهلا بك انا بك نسعد و بجاهه يا الهي جد و بلغ كل مقصد
و اهدنا نهج سبيله كي به نسعد و نرشد رب بلغنا بجاهه في جواره خير مقعد
و صلاة الله تغشى اشرف الرسل محمد و سلام مستمر كل حين يتجدد
“Alam bersinar cemerlang bersukaria Demi menyambut kelahiran Ahmad al-Musthofa Penghuni alam bersukacita dengan kegembiraan yang berterusan selamanya.
Wahai pengikut Al-Quran, hendaklah kamu bergembira. Burung-burung turut berkicauan tanda suka. Keindahan Baginda menerangi segalanya Mengatasi segala keindahan tanpa ada bandingannya.
Dan wajib kita untuk bergembira atas bahagia yang berkesinambungan selama-lama. Tatkala kita menerima anugerah-Nya. Anugerah yang menghimpun kebanggaan sepanjang masa.
Maka bagi Tuhanku segala puji dan puja. Pujian yang tiada terkiraAtas anugerah-Nya dengan wujudnya Baginda. Kelahiran Junjungan Muhammad al-Hadi al-Musthofa.
Ya Rasulullah, selamat datang ahlan wa sahlan Sungguh denganmu kami beroleh kebahagiaan Wahai Tuhanku, demi jah Nabi Junjungan Kurniakanlah dan sampaikan segala maksud dan tujuan.
Dan hidayahkanlah kami atas jalan Nabi Junjungan Agar dengannya kami beroleh kebahagiaan dan pimpinan Wahai Tuhan, sampaikanlah kami demi jah Nabi Junjungan. Di sisi baginda duduk berdampingan.
Sholawat Allah dilimpahkan Atas semulia-mulia Rasul Nabi Junjungan Beserta salam yang berkekalan Sepanjang masa berubah zaman”.
 
Dan juga
فحين قرب اوان وضع هذا الحبيب * اعلنت السموات والأرضون ومن فيهن بالترحيب * و امطار الجود الالهي على اهل الوجود تثج *والسنة الملائكة بالتبشير للعالمين تعج * والقدرة كشفت قناع هذا المستور * ليبرز نورهُ كاملاً في عالم الظهور * نوراً فاق كل نور *و انفذ الحق حكمه * على من اتم الله عليه النعمة * من خواص الأمة * ان يحضر عند وضعه امة * تانيساً لجنابها المسعود * و مشاركةً لها في هذا السماط الممدود * فحضرت بتوفيق الله السيدة مريم والسيدة اسية * و معهما من الحور العين من قسم الله له من الشرف بالقسمة الوافية * فاتى الوقت الذي رتب الله على حضوره وجود هذا المولود * فانفلق صبح الكمال من النور عن عمود و برز الحامد المحمود * مذعناً لله بالتعظيم والسجود *اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله
Artinya:
“Dan ketika hampir tiba saat kelahiran insan tercinta ini, gema ucapan selamat datang yang hangat berkumandang di langit dan di bumi.
Hujan kemurahan Ilahi tercurah atas penghuni alam dengan lebatnya…Lidah malaikat bergemuruh mengumumkan kabar gembira, kuasa Allah menyingkap tabir rahasia tersembunyi, membuat cahaya Nur-Nya terbit sempurna di alam nyata
“CAHAYA MENGUNGGULI SEGENAP CAHAYA” Ketetapan-Nya pun terlaksana atas manusia pilihan yang ni’mat-Nya disempurnakan bagi mereka; yang menunggu detik-detik kelahirannya;sebagai penghibur pribadinya yang beruntung dan ikut bergembira mereguk ni’mat berlimpah ini.
Maka hadirlah dengan taufiq Allah; As-Sayyidah Maryam dan As-Sayyidah Asiah, bersama sejumlah bidadari surga yang beroleh kemuliaan agung yang di bagi-bagikan oleh Allah atas mereka yang dikehendaki…
Dan tibalah saat yang telah diatur Allah bagi kelahiran (maulud) ini. Maka menyingsinglah fajar keutamaan nan cerah terang benderang menjulang tinggi……
Dan lahirlah insan pemuji dan terpuji, tunduk khusyu’ di hadapan Alloh, dengan segala penghormatan tulus dan sembah sujud….”
 
Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya kitab maulid adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan.
Pada perkembangan berikutnya, pembacaan maulid membentuk sebuah tradisi misalnya membaca maulid yang disebut biasanya dalam tradisi Betawi membaca rawi dilakukan di berbagai kesempatan acara atau walimah sebagai sebuah pengharapan, tawasul dan doa tabarruk pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam. Misalnya pada saat kelahiran bayi, upacara pemberian nama, mencukur rambut bayi, aqiqah, khitanan, pernikahan, syukuran, kematian (haul), serta seseorang yang berangkat haji dan selama berada di sana dan acara-acara lainnya. Caranya biasanya di masjid-masjid atau majlis ta’lim atau di rumah-rumah, orang-orang duduk bersimpuh melingkar. Lalu seseorang membacakan maulid yang pada bagian tertentu disahuti oleh jemaah lainnya secara bersamaan. Pada pembacaan rawi dalam walimah aqiqah misalnya dilakukan bersamaan dengan “diestafetkannya” bayi yang baru dicukur selama satu putaran dalam lingkaran. Sementara baju atau kain orang-orang yang sudah memegang bayi tersebut, kemudian disemprot atau diberi setetes dua tetes minyak wangi.
 
Di samping itu pembacaan maulid juga mengembangkan kesenian islam sebuah akulturasi budaya Arab dan budaya Indonesia misalnya muncul kesenian hadrah banjari, marawis, qosidahan, gambus, zapin.
 
BAB II
 MAULID NABI DALAM PANDANGAN SYARIAT
  1. A.     PENDAHULUAN
Ketika datang bulan Rabi’ul Awwal mayoritas umat islam didunia merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kelahiran Nabi yang mulia, namun ada saja suara-suara yang tampaknya tidak senang dan alergi dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, mereka mempermaslahkan dan mempertanyakan hukum merayakan Maulid, bahkan lebih itu mereka menghukum sesat orang-orang yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
 
Sikap tidak senang dengan perayaan Maulid Nabi ini disuarakan di berbagai tingkat dan dengan berbagai ibarat. Ada yang menafikan adanya keistimewaan atau Fadhilah Maulid Nabi SAW dan membanding-bandingkannya dengan prioritas Nuzul Quran. Ada yang mengungkit-ungkit bahwa sambutan Maulid tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya (maksudnya Bid `ah yang sesat). Ada pula yang menyamakan perayaan Maulid dengan natalan yang dirayakan umat kristiani. Dan ada juga yang mempertanyakan cara dan metode perayaan Maulid.
 
Bagi orang-orang yang mengerti (ulama) dan mengenali suara-suara ini tidaklah terlalu terperanjat meskipun tetap menepuk dahi dan mengurut dada karena sedih dan kesal dengan kekeliruan dan kesalah pahaman serta sikap kedengkian yang ditonjolkan kepada umat islam yang tidak sepaham dengan mereka. Namun bagi orang-orang yang kurang mengerti dan memahami masalah merayakan Maulid mungkin sedikit-banyak akan ada kekeliruan dan timbul kesangsian terhadap perayaan Maulid. Apalagi jika statemen ini turut tercampuri dan terkotori sentimen politik kepartian.
 
Tidaklah terlalu besar isunya, jikalau yang diperdebatkan tentang Maulid ini adalah metode dan cara sambutannya. Prinsip-prinsip Islam dalam menentukan metode dan cara dalam sesuatu amalan Ibadah sudah diatur. Yang haram dan halal sudah jelas dalam Islam, sedangkan yang syubhat sepatutnya kita jauhi. Kita juga diajarkan harus bersikap lapang dada dalam persoalan yang statusnya masih khilafiyah. Kita juga dilarang mempertanyakan niat orang lain serta harus berprasangka baik sesama Islam.
 
Sayangnya, sebagian mereka yang alergi dengan perayaan Maulid ini juga mempertanyakan prinsip dan hukum Maulid serta dalil-dalil yang menganjurkannya dari sisi Islam. Ini adalah soal yang lebih besar dan mendasar. Deformasi (Pengubahan bentuk dari yang baik menjadi buruk) dalam hal ini dapat melibatkan soal-soal besar termasuk menyakiti Nabi SAW, tidak beradab dengan Baginda SAW, menentang syiar Islam, menyesatkan para ulama dan umat Islam, memecahkan kesatuan umat dan sejenisnya. Tak heran seorang tokoh ulama Yaman, al-Allamah Abu Abdullah `Alawi al-Yamani juga menetapkan bab khusus tentang persoalan Maulid dalam kitabnya yang berjudul Intabih Diinuka fi Khotrin (Awas, Agamu Dalam Bahaya!). Memang, jika tidak berhati-hati, kata-kata dan perbuatan kita dalam bab Maulid ini sebenarnya dapat membahayakan dan mengancam agama kita.
 
Dalam bab ini kita akan mencoba untuk memperjelas hukum perayaan maulid dan menjawab syubhat anti Maulid dengan dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits juga disertai pendapat-pendapat ulama salaf dan khalaf tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
  1. B.     KERANGKA PEMIKIRAN ORANG YANG MENOLAK MAULID
Jika diteliti, ada beberapa kerangka paham agama tertentu yang dipegangi oleh mereka yang alergi dengan perayaan Maulid yang akhirnya menyebabkan mereka bersikap begitu. Kerangka pemaham agama yang dangkal akan menyebabkan mereka turut mempermasalahkan dan berbeda sikap dengan mayoritas umat dalam soal-soal tertentu seperti fiqh bermazhab, tasawuf, dan beberapa perkara yang bersifat khilafiyyah. Kita dapat menyimpulkan kerangka pemahaman agama mereka ini ke dalam beberapa paham utama:
 
 Pertama: Pemaham mereka yang ganjil terhadap konsep Bid’ah. Mereka tidak mau menerima pandangan ulama-ulama muktabar yang membagi Bid `ah kepada Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah. Bagi mereka semua Bid’ah dalam hal agama adalah sesat. Mereka keras berpegang dengan penafsiran literal dan sempit ke hadis yang berhubungan persoalan Bid’ah ini.
 
Kedua: mereka terlalu menekankan sikap Ittiba (mematuhi) dalam sikap mereka terhadap Nabi SAW dan Sunnahnya. Selanjutnya, baik secara langsung atau tidak mereka ini sering mempertentangkan Ittiba’ dengan sikap-sikap lain yang kita lakukan terhadap Nabi seperti Hubb (mencintai Nabi) Ta’dzim (mengagungkan Nabi), Tasyaffu’(memohon syafaat Nabi ), Tabarruk (mengambil berkat dari Nabi), Tawassul (Memohon datangnya manfa’at (kebaikan) atau dihindarkan dari mara bahaya (keburukan) dari Allah dengan menyebut nama Nabi) dan sejenisnya.
 
Ketiga: mereka berpegang dan bertaklid kuat dengan paham dan penafsiran beberapa tokoh ulama khalaf tertentu seperti Syaikh Muhammad Abdul Wahab, Syaikh Nashirudin Al-Bany, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Utsaimin Syaikh Shalih Fauzan dan tokoh ulama wahabi lainnya yang akhirnya diolah dan terolah menjadi suatu aliran terasing dari arus mayoritas Umat Islam. Berbekal dari paham-paham ulama diatas aliran ini yang telah mereka angkat ke tingkat doktrin dan memang disebarkan secara indoktrinasi (secara diskusi sebelah pihak dan tidak adil atau objektif), mereka ini rata-rata bersikap lebih pesimis dan cenderung mempertanyakan interpretasi para ulama lain selain beberapa ulama yang menjadi ikutan mereka.
 
Jika direnungi paham-paham dasar mereka ini maka tidak heran mereka ini cenderung menolak Maulid. Sebaliknya, mereka yang mendukung Maulid tidak perlu mengambil pandangan ini karena dasar-dasar fahamannya ternyata berbeda dengan arus mayoritas Umat Islam didunia. Dalam pandangan ulama ahlussunnah wal jama’ah perayaan Maulid adalah paling tidak termasuk kedalam Bid’ah Hassanah. Malah ada pandangan yang menyatakan bahwa ia termasuk sunnah yang dimulai oleh Nabi SAW sendiri berdasarkan hadist yang menyebut bahwa kelahirannya pada hari Senin menjadi salah satu dasar Beliau SAW berpuasa sunat pada hari-hari tersebut, “ Itu adalah hari aku dilahirkan dan itu adalah hari aku menerima wahyu kenabian”(Syarah Sohih Muslim, Imam Nawawi Jld 8 H: 235)
 
Mayoritas umat juga tidak melihat konsep Ittiba’, Hubb, Ta’dzim, Tasyaffu, Tabarruk dan Tawassul sebagai konsep-konsep yang bertentangan satu sama lainnya. Malah semuanya adalah bagian dan sejalan dengan kebijakan dan mentaati Nabi SAW, karena konsep-konsep ini tidaklah dilarang oleh agama atau bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.
Menurut dasar pemaham mereka yang ketiga, mayoritas Umat Islam telah mewarisi khazanah pemaham agama yang meliputi tiga cabang utamanya  yaitu Aqidah / Tauhid, Shariah / Fiqh dan Akhlak / Tasawwuf dari generasi demi generasi ulama-ulama pilihan dalam suatu kerangka yang dikemas dan sistematis. Para pembesar ulama Umat dalam kerangka ini rata-ratanya tidak menolak dan mendukung perayaan Maulid sehingga dapat dianggap ada sebuah Ijma `Sukuti (ijma` senyap) dalam menyambut perayaan Maulid Nabi setelah ia dimulai dan dirayakan secara besar-besaran.
  1. C.      PANDANGAN SYARI’AT TENTANG PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW.
            Sudah bukan rahasia lagi, bahwa sebagian kalangan yang berpaham Wahabi dan Salafi memiliki mulut usil karena sering mempermasalahkan kebiasaan masyarakat Islam di mana saja, menyangkut: Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., ziarah kubur, qunut shubuh, tahlilan, ratiban, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do’a berjama’ah, zikir keras berjama’ah, bersalaman sesudah shalat, tawassul, dan lain sebagainya. Hal itu mereka lakukan dalam rangka menyebarkan pengaruh dan paham di masyarakat yang mereka sering anggap “tersesat” atau “musyrik” dengan sebab melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.
 
            Kelompok Wahabi dan Salafi secara tegas dan keras  melarang perayaan Maulid Nabi dengan alasan ia termasuk “Bid’ah Dhalalah” yang tidak ada perintahnya dalam agama. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Syariat tentangnya?
            
Perkara ini sebenarnya sudah diselasaikan oleh para ulama dan mereka membolehkannya semenjak dahulu. Perayaan Maulid ini sejak dahulu sudah disambut oleh umat Islam diseluruh dunia seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya . Apakah kalian menganggap bahwa seluruh ulama di dunia sejak  dahulu sampai sekarang dikatakan sesat karena mereka telah membiarkan umat Islam merayakan Maulid Nabi? dan apakah kalian juga menganggap sesat kepada Imam As-Syafi’I yang telah membagi bid’ah kepada bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah? tentunya hal ini tidak bisa diterima oleh akal yang sehat.
 
            Kelahiran Nabi Muhammad adalah rahmat terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada uamat manusia dan seluruh alam semesta. Rahmat ini ada dalam aqidah, mu’amalah, akhlaq bahkan dalam seluruh aspek kehidupan. Rahmat ini tidak hanya terbatas untuk manusia di zaman Baginda Nabi, tetapi membentang luas sepanjang sejarah seluruh manusia. Allah SWT berfirman:
وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Maknanya: “dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.A-Jumu’ah)
Didalam ayat lain Allah berfirman:
وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللهِ
…”dan ingatkatlah mereka kepada hari-hari Allah”.(QS.Ibrahim:5)
Tidak diragukan lagi bahwa kelahiran Baginda Nabi SAW termasuk didalam hari-hari Allah, karena yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” ialah peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka.
Merayakan peringatan maulid Nabi SAW merupakan salah satu amal yang paling utama dan sebuah cara pendekatan diri kepada Tuhan. Kerena keseluruhan peringatan tersebut merupakan ungkapan kebahagiaan dan kecintaan kepada beliau . Dan cinta kepada Nabi merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip iman. Dalam Sebuah hadits shahih  yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن وَالِدِهِ وَوَلِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
 Maknanya:”Demi dzat yang diriku berada di dalam genggaman-Nya, tidak beriman (sempurna) seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tua dan anaknya dan manusi seluruhnya” (HR.Bukhari dan Muslim)
Ibnu Rajab berkata, “Cinta kepada Nabi termasuk prinsip-prinsip dasar Iman. Cinta ini seiring dengan cinta kepada Allah yang menyandingkan keduanya dan mengancam siapa saja yang lebih mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah menjadi tabiat manusia seperti kerabat, harta benda, dan tanah air atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Maknanya: “Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS.At-Taubah:24)
 
Dalil-dalil diatas menyimpulkan bahwa mencintai Nabi SAW merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Dan tentunya masih banyak sekali dalil-dalil lain yang senada, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi SAW, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang muslim tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi SAW saja, akan tetapi dituntut untuk mengedapankan kecintanya  kepada Nabi SAW tentunya setelah kecintaan kepada Allah SWT atas kecintaan dia kepada dirinya senderi, orang tua, anak dan seluruh manusia serta harta bendanya.
 
Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, seorang Nabi yang diutus Allah SWT, dengan membaca sebagain ayat-ayat Al-Qur’an dan menyebutkan sifat-sifat Nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh berkah dan kebaikan yang agung, jika memang perayaan tersebut terhindar dari bid’ah-bid’ah sayyiah yang dicela oleh syara’.
 
Perlu diketahui bahwa menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya adalah tugas para Imam mujtahid seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad radiallahu anhum serta semua ulama as-Salafushalih. Dengan demikian maka tidak semua orang yang telah menulis sebuah kitab kecil maupun besar dapat mengambil tugas para Imam Mujtahid dari kalangan ulama as-Salafus ash-shalih tersebut, sehingga berfatwa menghalalkan ini dan mengharamkan itu tanpa merujuk perkataan Imam Mujtahid dari kalangan Salaf dan Khalaf yang telah dipercaya oleh umat karena jasa-jasa baik mereka.Maka barang siapa yang mengharamkan menyebut nama (berdzikir) Allah azza wa jalla dan menalaah sifat-sifat nabi pada peringatan hari lahirnya dengan alasan bahwa Nabi tidak pernah melakukannya. Kita katakan kepada mereka: Apakah kalian juga mengharamkan mihrab-mihrab (tempat imam) yang ada disebuah masjid atau mushola dan menganggap mihrab tersebut termasuk bid’ah dholalah ?. Apakah kalian juga mengharamkan kondifikasi al-Qur’an dalam satu mushaf serta pemberian tanda titik dalam al-Qur’an dengan alasan Nabi tidak pernah melakukannya ?. kalau kalian mengharamkan itu semua berarti kalian telah mempersempit keluasan yang telah diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi padahal Rasulullah SAW telah bersabda:
مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ  (رواه مسلم في صحيحه)
Maknanya: “Barang siapa yang memulai (merintis)  dalam Islam sebuah perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR.Muslim dalam kitab Shahihnya)
            Sahabat Umar ibn Al-Khathab setelah mengumpulkan para sahabat dalam Shalat tarawih dengan bermakmum kepada satu imam mengatakan:
نعمت البدعة هذه (رواه الإمام البخاري في صحيحه)
Makananya:“Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini“.(HR.Imam Bukhari dalam Shahih-nya)
Dari sinilah Imam Syafi’I radiallahu anhu menyimpulkan:
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا ، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ، وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ (رواه الحافظ البيهقيّ في كتاب ” مناقب الشافعيّ)
Maknanya:“Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’I j,1.h469)
 
Dalam riwayat lain al-Imam asy-Syafi’i berkata:
 
اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ: بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّـنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ.
Maknanya:“Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah adalah bid’ah tercela”. (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari)
Pembagian bid’ah menjadi dua oleh Imam Syafi’i ini disepakati oleh para ulama setelahnya dari seluruh kalangan ahli fikih empat madzhab, para ahli hadits, dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka adalah para ulama terkemuka, seperti al-‘Izz ibn Abd as-Salam, an-Nawawi, Ibn ‘Arafah, al-Haththab al-Maliki, Ibn ‘Abidin dan lain-lain. Dari kalangan ahli hadits di antaranya Ibn al-’Arabi al-Maliki, Ibn al-Atsir, al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafzih as-Sakhawi, al-Hafzih as-Suyuthi dan lain-lain. Termasuk dari kalangan ahli bahasa sendiri, seperti al-Fayyumi, al-Fairuzabadi, az-Zabidi dan lainnya. Dengan demikian bid’ah dalam istilah syara’ terbagi menjadi dua: Bid’ah Mahmudah (bid’ah terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (bid’ah tercela).
Pembagian bid’ah menjadi dua bagian ini dapat dipahami dari hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)
“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baru dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “Yang tidak sesuai dengannya”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. contohnya melakukan shalat tanpa wudhu dalam keadaan tidak ada uzur padahal shalat itu harus dengan wudhu sebagaimana diperintahkan. Ketidaksesuaian pelaksanaan suatu amal dengan perintah yang diberikan sebagaimana yang dimaksud hadis itu pun tidak dapat dipastikan sedikit-banyaknya, entah dari segi prinsipnya saja maupun dari segi bentuk atau formatnya secara keseluruhan.  Sedangkan “tidak tidak ada perintah kami atasnya ” mengandung pengertian tidak ada perintah sama sekali, dan pemahaman seperti inilah yang membuat mereka berpandangan bahwa “melakukan apa yang tidak diperintahkan agama adalah sia-sia dan tidak mendapat pahala”. Yang seharusnya mereka teliti lagi, benarkah amalan-amalan yang mereka tuduh bid’ah itu tidak pernah diperintahkan, baik secara implisit atau eksplisit? Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak.
 
Terlepas dari itu semua, lagi-lagi lafaz hadist tersebut mengenai “amalan yang tidak sesuai dengan ajaran agama kami” juga bersifat umum, tidak menjelaskan rinciannya secara pasti. Maka tidak sah mengarahkannya kepada amalan-amalan tertentu seperti Maulid Nabi, ziarah qubur, tahlilan dan lain-lainnya yang sering mereka permasalhkan, tanpa adanya dalil yang menyebutkannya secara khusus. Kita tidak mungkin mengingkari adanya kategori ketiga (yaitu kategori perkara ” yang tidak diperintah tapi juga tidak dilarang), sedangkan isyarat hadist  Rasulullah Saw. “Biarkan atau tinggalkanlah aku tentang apa yang aku tinggalkan untuk kalian” sangat jelas menunjukkannya. Bahkan yang seperti itu disebut sebagai “rahmat” dari Allah.
 
AL-Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin (1/248) menegaskan:”Betapa banyak inovasi dalam agama yang baik, sebagaimana dikatakan oleh banyak orang, seperti sholat Tarawih berjamaah, itu termasuk inovasi agama yang dilakukan oleh Umar r.a. Adapun bid’ah yang sesat adalah bid’ah yang bertentangan dengan sunnah atau yang mengantarkan kepada merubah ajaran agama. Bid’ah yang tercela adalah yang terjadi pada ajaran agama, adapun urusan dunia dan kehidupan maka manusia lebih tahu urusannya, meskipun diakui betapa sulitnya membedakan antara urusan agama dan urusan dunia, karena Islam adalah sistem yang komprehensif dan menyeluruh. Ini yang menyebabkan sebagian ulama mengatakan bahwa bid’ah itu hanya terjadi dalam masalah ibadah, dan sebagian ulama yang lain mengatakan bid’ah terjadi di semua sendi kehidupan. Akhirnya juga bisa disimpulkan bahwa bid’ah terjadi dalam masalah ibadah, mu’amalah (perniagaan) dan bahkan akhlaq. Contohnya seperti adzan dua kali waktu sholat Jum’at, menambah tangga mimbar sebanyak tiga tingkat, membaca al-Quran dengan suara keras atau memutar kaset Qur’an sebelum sholat Jum’at, muadzin membaca sholawat dengan suara keras sebelum adzan, melantunkan azan pada mayyit sebelum di kuburkan, bersalaman setelah sholat, membaca “sayyidina” pada saat tahiyat. Sebagian ulama menganggap itu semua bid’ah karena tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah dan sebagian lain menganggap itu merupakan inovasi beragama yang diperbolehkan dan baik, dan tidak betentangan dengan ketentuan umum agama Islam.
 
Al-Imam as-Syaikh Abu Syamah salah satu guru al-Imam as-Syaikh Nawawi berpendapat:
وَمِنْ أَحْسَنِ مَا ابْتَدَعَ فِي زَمَانِنَا مَا يَفْعَلُ كُلَّ عَامٍ فِي الْيَوْمِ الْمُوَافِقِ لِيَوْمِ مَوْلِدِهِ مِنَ الصَّدَقَاتِ وَالْمَعْرُوفِ وَإِظْهَارِ الزِّينَةِ وَالسُّرُورِ، فَإِنَّ ذَلِكَ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ اْلإِحْسَانِ لِلْفُقَرَاءِ مَشْعَرٌ بِمَحَبَّتِهِ وَتَعْظِيمِهِ فِي قَلْبِ فَاعِلٍ ذَلِكَ وَشُكْرًا لِلهِ عَلَى مَا مِن بِهِ مِنْ إِيجَادِ رَسُولِهِ الَّذِي أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Maknanya:…”dan sebagus-bagusnya apa yang diada-adakan pada masa sekarang ini yaitu apa yang dikerjakan (rayakan) setiap tahun dihari kelahiran (Maulid) Nabi dengan bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf, menampakkan rasa kegembiraan, maka sesungguhnya yang demikian itu didalamnya ada kebaikan hingga para fuqara’ membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkan beliau, dan bersyukur kepada Allah atas perkara dimana dengan (kelahiran tersebut) menjadi sebab adanya Rasul-nya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam”.(Lihat Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syaikh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon)
 
            Sebagai umat Rasulullah Saw, kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Rahmat dan karunia yang terbesar yang diberikan Allah kepada kita ialah adanya kelahiran Nabi Muhammad Saw.
قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Maknanya:“Katakanlah.‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS.Yunus:58).
 
Imam Abu Hayyan al Andalusi Rahimuhullah berkata:
الفضل العلم والرحمة محمد صلى الله عليه وسلم
Maknanya: “Karunia Allah adalah ilmu dan Rahmat Allah adalah Nabi Muhammad SAW”. (lihat dalam Al-Bahr Al-Muhith 5:171,oleh Imam Abu Hayyan)
Al-Imam Imam As-Suyuti meriwayatkan:
وأخرج أبو الشيخ عن ابن عباس رضي الله عنهما في الآية قال:فضل الله العلم، ورحمته محمد صلى الله عليه وسلم
Maknanya:Abu As-Syeikh  telah meriwayatkan daripada Sayyidina Ibn Abbas r.a. tentang tafsiran ayat ini:Karunia Allah adalah Ilmu dan Rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. ( Lihat Ad-Durr Al-Manthsur 4:330 oleh Imam As-Suyuti, lihat juga Ibn Jawzi Z’ad al Maseer fi Ilm at Tafsir, 4:40 )
Penafsiran ini berdasarkan firman Allah s.w.t.:
وَمَا أرْسَلنَاكَ إلا رَحْمَةً لِلعَالمِين
Maknanya: “Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS.Al-Anbiya,107)
            Al-Imam al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab al-Hawi li al-Fatawa. Beliau memberikan pendapat tentang hukum perayaan Maulid Nabi Saw, sebagai berikut:
عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ. وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذلِكَ صَاحِبُ إِرْبِل الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كَوْكَبْرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ ابْنِ بُكْتُكِيْن أَحَدُ الْمُلُوْكِ الأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ وَالأَجْوَادِ، وَكَانَ لَهُ آثاَرٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ.
            Maknanya: ”Menurutku pada dasarnya peringatan Maulid, berupa kumpulan orang-orang berisi bacaan ayat al-Qur’an meriwayatkan hadits-hadits tentang permulaan sejarah Rasulullah SAW dan tanda-tanda yang mengiring kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambaha-tambahan lain, adalah termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya akan mendapat pahala. Karena perkara semacam itu merupakan perbuatan mengagungkan terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan merupakan penampakan akan rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya yang mulia. Orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Raja al- Muzhaffar Abu Said Kaukabri Ibn Zaenudin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik dan dialah yang membangun al-Jami’al al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun.( Lihat Al- Hawi li al-Fatawa 1/251-252. Lihat juga Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid di dalam Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah,h.194)
Beliau juga berkata:
وَيُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ وَاْلإِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِن وُجُوهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمُسَرَّاتِ.
Maknanya: “Dan disunahkan untuk kita mendzahirkan (menampakan) rasa syukur kepada Allah dengan sebab kelahiran Baginda Nabi Saw, berkumpul dan membiri makan dan yang seperti itu dari cara-cara yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan menampakan kebahagian.” (Al-Hawi li Al-Fatawa, 1/196)
 
Selanjutnya Sang penutup para Hafizh, Al-Imam as-Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi, di dalam kitabnya ”Husnul Maqshid fi Amalil Maulid” memberikan penjelasan tentang maulid Nabi Saw dalam rangka menjawab pertanyaan yang diajukan kepada tentang kegiatan maulid Nabi Saw pada bulan Rabi’ul awwal: Apa hukumnya dalam pandangan syariah? Apakah kegiatan itu terpuji atau tercela? Dan apakah pelakunya mendapatkan pahala? Beliau berkata, ”Jawabannya, menurutku, bahwa hukum dasar kegiatan maulid (yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca Al Qur’an, menyapaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi Saw dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran beliau, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan mereka pun makan bersama; lalu mereka beranjak pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain) adalah termasuk bid’aah hasanah (bid’ah yang baik) dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Karena dalam kegiatan itu terkandung makna mengagungkan peran dan kedudukan Nabi Saw serta menunjukan suka cita dan kegembiraan terhadap kelahiran beliau.”
 
Al-Imam Suyuthi membantah orang yang berkata, ”Aku tidak mengetahui dasar hukum perayaan maulid ini dalam Al Qur’an maupun dalam Sunnah,” dengan mengatakan, ”Ketidak tahuan terhadap sesuatu tidak lalu berarti tidak adanya sesuatu itu”. Beliau juga menjelaskan bahwa para Imam Hafizh, Abu Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqalani telah menjelaskan dasar hukum merayakan maulid dari Sunnah. Imam Syuyuthi sendiri juga mengemukakan dasar hukumnya yang kedua dan menjelaskan bahwa bid’ah tercela adalah perkara baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dalil syari’at. Adapun jika ada hubungannya yang kuat dengan dalil syari’at yang memujinya, maka perkara itu tidak tercela.
 
Al-Imam Suyuthi berkata. ”Kegiatan merayakan maulid Nabi Saw tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, atsar, maupun ijma’. Maka ini bukan perbuatan tercela sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i. Justru kegiatan itu merupakan perbuatan baik yang belum dikenal pada masa awal-awal Islam. Kegiatan memberi makan yang terlepas dari perbuatan dosa adalah perbuatan baik. Dengan demikian, kegiatan maulid Nabi Saw termasuk perkara baru yang dianjurkan sebagaimana diungkapkan oleh Sulthannya para ulama, as-Syaikh Izzuddin bin Abdissalam.”( Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid dan lihat juga di dalam Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah,hal 199 – 200)
 
Di dalam kitab yang sama, al-Imam as-Suyuthi mengatakan: “Dan berkata al-Hafizh Syams ad-Din bin Nasiruddin ad-Dimsyaqi (833.H) di dalam kitabnya yang berjudul Maurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi: “Telah Sahih riwayat yang mengatakan Abu Lahab diringankan dari adzab neraka pada setiap hari senin karena telah memerdekakan hamba sahayanya yang bernama Thuwaibah karena gembira dengan adanya berita dari hambanya itu tentang kelahiran anak saudaranya Rasulullah Saw.
Kemudian al-Hafizh Syams ad-Din bin Nasiruddin ad-Dimsyaqi bersyair:
 
إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْحَجِيمِ مُخَلَّدً
أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ دَائِمًا يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَ
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُولَ عُمْرُهُ بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدًا
 
Maknanya: “Jika ada orang kafir ini (Abu Lahab) yang telah ada celaan padanya, dan binasa kedua belah tangannya serta kekal di dalam neraka jahim”.
“Namun datang keistimewaan kepadanya setiap hari senin senantiasa diringankan adzab darinya, karena kegembiraannya dengan kelahiran Rasul yang mulia”.
“Maka bagaimana pendapatmu tentang pahala bagi seorang hamba yang sepanjang usianya senantiasa bergembira dengan kelahiran Ahmad Saw, dan mati dalam tauhid yang sempurna”.
 
Mafhumnya, jika Abu Lahab saja yang notabene  orang kafir ia mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari seni tiba). Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun.Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?(Kisah ini diriwayatkan di dalam Shahih Al-Bukhari, Bab Nikah, dinukilkan oleh Ibn Hajar di dalam kitabnya Fath al-Bari, diriwayatkan oleh Imam Abdur Razak ash-Shan’ani di dalam kitabnya Al-Mushannaf (7/478), Al-Hafiz Al-Baihaqi di dalam kitabnya Ad-Dala’il, Ibn Kathir di dalam kitabnya, Al-Bidayah, bab As-Sirah an-Nabawiyyah (1/224), Ibn Ad-Daiba asy-Syaibani di dalam kitabnya Hada’iq al-Anwar (1/134), Imam Hafiz al-Baghawi di dalam kitabnya Syarh Sunnah (9/76), Ibn Hisyam dan As-Suhaili di dalam Ar-Raudh al-Unuf (5/192), Al-Amiri di dalam kitabnya Bahjah al-Mahafil (1/41) dan lain-lain)
 
Imam Al-Baihaqi berkata, walaupun hadits ini hadits Mursal, tetapi ia boleh diterima karena hadits ini telah dinaqalkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitabnya. Para ulama’ yang telah disebutkan diatas, juga sependapat menerima hadith ini karena perkara itu terdiri dari bab manaqib dan khasha’is (keistimewaan), Fadha’il (kelebihan) dan bukannya perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram. Para penuntut ilmu agama tentu mengetahui perbedaan istidlal (pengambilan dalil) dengan hadits pada bab manaqib atau ahkam.
 
            Syaikh Ibnu Taimiah. Orang yang selalu mengharamkan Maulid Nabi SAW ini dalam banyak hal mereka merujuk kepada pendapat Syaikh Ibn Taimiyyah, sedangkan beliau sendiri mengatakan di dalam kitabnya Al-Iqtida’ ash-Shirath al-Mustaqim sebagai berikut:
فَتَعْظِيمُ الْمَوْلِدِ وَاِتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُونُ لَهُمْ فِيهِ أَجْرٌ عَظِيمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِمْ وَتَعْظِيمِهِمْ لِرَسُولِ اللهِ
            Makananya: “Merayakan maulid dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin dalam setahun yang telah dilakukan oleh orang-orang, akan mendapatkan pahala yang besar sebab tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW”. (Lihat Al-Iqtida’ ash-Shirath al-Mustaqim Kairo: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, h. 297 dan Fatawa, 23/134)
 
                Di dalam kitab Manhaj as-Salaf disebutkan:
يَقُولُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ: قَدْ يُثَابُ بَعْضُ النَّاسِ عَلَى فِعْلِ الْمَوْلِدِ وَكَذَلِكَ مَا يُحْدِثُهُ بَعْضُ النَّاسِ إِمَّا مُضَاهَاةً لِلنَّصَارَى فِي مِيلاَدِ عِيسَى عليه السلام. وَأَمَّا مَحَبَّةً لِلنَّبِي وَتَعْظِيمًا لَهُ، وَاللهُ قَدْ يُثِيبُهُمْ عَلَى هَذِهِ الْمَحَبَّةِ وَاْلإِجْتِهَادِ لاَ عَلَى الْبِدَعِ.
            Maknanya: “Ibnu Taimiah berkata: Boleh jadi sebahagian orang-orang yang memperingati Maulid Nabi diberi pahala. Begitu juga sesuatu yang baru yang diusahakan sebahagian oranng yang menyerupai Nashrani dalam menyambut kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Dan adapun kecintaan terhadap Nabi dan mengagungkannya, semoga Allah memberi pahala kepada mereka atas perasaan cinta dan ijtihad ini, yang bukan (didasarkan) di atas sesuatu yang bid’ah.” (Lihat Manhaj as-Salaf, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, h. 224-226)
 
            As- Syaikh al-Islam Khatimah al- Huffazh amir al-Muminin Fi al-Hadits al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah, (773 H – 852H), yang telah mensyarah kitab monumental Imam Bukhari (Shahih Bukhari), dan beliau beri nama dengan kitabnya tersebut dengan nama “Fathul Bari ‘alaa Shahih Bukhari. Beliau menuliskan sebagai berikut:
أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً” وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ
            Maknanya: ”Asal peringatan adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum salaf as-Shalih yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawanya (hal-hal yang buruk), jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya, maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatkan: “ Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih).
Al-Imam al-Hafizd as-Syaikh as-Sakhawi (831 H-902 H) seperti disebutkan dalam  kitab al-Ajwibah al-Mardhiyyah beliau berkata:               
لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ”. ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ
            Maknanya: “Peringatan Maulid belum pernah dilakukan oleh seorangpun dari kaum salaf as-shaleh yang hidup pada pada abad tiga pertama yang mulia melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan umat Islam di seluruh daerah dan kota-kota besar senantiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah SAW. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai macam sedekah, mereka menampakan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih dari biasanya. Mereka bahkan meramaikan dengan membaca buku-buku Maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara merata. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian as-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling shahih adalah malam senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10, dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh karena itu tidak mengapa melakukan kebaikan kapanpun pada hari-hari dan malam-malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada bahkan baik jika dilakukan pada hari-hari dan malam-malam bulan Rabi’ul Awwal seluruhnya”.(lihat juga Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy)
 
Al-Imam as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami (W.974 H)  dalam al-Fatawa al-Kubra. Beliau menuliskan sebagai berikut:
أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُونِ الثَّلاَثَةِ، وَلَكِنَّهَا مَعَ ذَلِكَ قَدِ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا فَمَن تَحَرَّى فِي عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَ بِدْعَةً حَسَنَةً، وَإِلاَّ فَلاَ، وَقَدْ ظَهَرَ لِي تَخْرِيجُهَا عَلىَ ثَابِتٍ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّ النَّبيَّ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءِ، فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا: هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَى مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلّهِ تَعَالَى، فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ الشُّكْرُ لِلّهِ عَلَى مَا مِن بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِن كُلِّ سَنَةٍ، وَالشُّكْرُ لِلّهِ يَحْصُلُ بِأَنوَاعِ الْعِبَادَةِ كَالسُّجُودِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالتِّلاَوَةِ، وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَعَلَى هَذَا فَيَنبَغِي أَن يَقْتَصِرَ فِيهِ عَلَى مَا يُفْهَمُ الشُّكْرُ لِلّهِ تَعَالَى مِنَ التِّلاَوَةِ وَاْلإِطْعَامِ وَإِنشَادِ الشَّيْءِ مِنَ الْمَدَائِحَ النَّبَوِيَّةِ الْمُحَرَّكَةِ لِلْقُلُوبِ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلآخِرَةِ، وَأَمَّا مَا يَتَّبعُ ذَلِكَ مِنَ السِّمَاعِ وَاللَّهْوِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَيَنبَغِي أَن يُقَالَ: مَا كَانَ مِن ذَلِكَ مُبَاحًا بِحَيْثُ يَقْتَضِي السُّرُورُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ لاَ بَأْسَ بِإلْحَاقِهِ بِهِ، وَمَا كَانَ حَرَامًا أَوْ مَكْرُوهًا فَيُمْنَعُ، وَكَذَا مَا كَانَ خِلاَفَ اْلأَوْلَى
            Maknanya: “Asal amalan menyambut Maulid adalah perkara bid’ah  yang belum pernah dinukil dari kaum salaf as-Shalih yang hidup pada tiga abad pertama. Akan tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawanya (hal-hal yang buruk), jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya, maka itu adalah bid’ah hasanah”. Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit didalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim,. Bahwasanya Nabi SAW datang ke Madinah beliau mendapati orang-orang yahudi sedang berpuasa pada hari Asyura’(10 Muharram). Kemudian Nabi bertanya kepada mereka tentang perkara tersebut. Mereka menjawab Ia adalah hari dimana Allah menenggelamkan fir’aun dan menyelamatkan Nabi Musa a.s. Kemudian kami berpuasa pada hari ini sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. Maka diambil faidah dari perkara ini adalah bersyukur kepada Allah yang dilakukan pada hari tertentu karena mensyukuri nikmat atau karena tertolaknya bencana. Dan mengulangi perkara tersebut pada setiap tahunnya. Dan bersyukur kepada Allah boleh dilakukan dengan berbagai macam ibadah seperti sujud, puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an. Dan adakah nikmat yang paling agung selain nikmat dilahirkannya Nabi SAW?. Nabi yang membawa rahmat didalam kelahirannya itu ? Dan atas dasar inilah sudah sewajarnya untuk memfokuskan pada hari itu pada apa yang dipahami.(Maksudnya perkara yang mampu dilakukan) bersyukur kepada Allah dengan membaca Al-Qur’an. memberi makan, melantunkan pujian-pujian kepada Nabi SAW yang bisa menggerakan hati untuk berbuat kebaikan dan beramal untuk akhirat. Dan Adapun mendengarkan perkara yang di ikut sertakan untuk melantunkan pujian-pujian dan perkara sia-sia lainnya maka sewajarnya dikatan: Apa-apa perkara yang di hukumi mubah yang sekiranya sesuai dengan kegimbiraan di hari itu, maka tidak mengapa karena keterikatannya dengan hari Maulid. Dan apa-apa yang diharamkan atau dimakruhkan, maka ia dilarang dan demikian juga perkara yang menyalahi keutamaan. (Lihat al-Fatawa al-Kubra j.1,h.196)
 
Di dalam kitab Al-Madkhal disebutkan
 
فَكَانَ يَجِبُ أَن نَزْدَادَ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ الثَّانِي عَشَرَ فِي رَبِيعِ اْلأَوَّلِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْخَيْرِ شُكْرًا لِلْمَوْلَى عَلَى مَا أولاَنَا مِنْ هَذِهِ النِّعَمِ الْعَظِيمَةِ وَأَعْظَمُهَا مِيلاَدُ الْمُصْطَفَى
“Maka wajib kepada kita hendaknya meningkatkan ibadah-ibadah dan kebaikan pada setiap hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal sebagai tanda syukur kepada Allah Swt atas karunia nikmat yang besar  yang  telah Allah berikan kepada kita. Dan sebesar-besarnya nikmat itu adalah kelahirannya al-Musthafa Muhammad Saw”.
 
Buletin Al-Hujjah Vol: 06-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/Mar-08
“Antara Sunnah Fi’liyyah & Sunnah Tarkiyyah”
 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[QS. Al-Ahzaab: 21]
Ayat yang agung di atas, di setiap bulan Rabi’ul Awwal, biasanya menjadi ayat yang paling sering terdengar dari corong-corong masjid. Tentu saja melalui mimbar-mimbar ceramah maulid. Para penceramah maulid juga tidak pernah lupa mengingatkan makna inti yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa kita sebagai ummat Muhammad wajib untuk menjadikan beliau sebagai panutan dan ikutan dalam mengamalkan agama. Belakangan, mencuat sebuah pertanyaan, sudahkah makna inti ayat tersebut terealisasi pada diri dan masyarakat muslim kita? Dan apakah kita telah memahami hakikat “uswatun hasanah” yang diinginkan oleh ayat tersebut?

Ulama tafsir mengaitkan turunnya ayat di atas secara khusus dengan peristiwa perang Khandaq yang sangat memberatkan kaum muslimin saat itu. Nabi dan para Sahabat benar-benar dalam keadaan susah dan lapar, sampai-sampai para Sahabat mengganjal perut dengan batu demi menahan perihnya rasa lapar. Mereka pun berkeluh kesah kepada Nabi. Adapun Nabi, benar-benar beliau adalah suri teladan dalam hal kesabaran ketika itu. Nabi bahkan mengganjal perutnya dengan dua buah batu, namun justru paling gigih dan sabar. Kesabaran Nabi dan perjuangan beliau tanpa sedikitpun berkeluh kesah dalam kisah Khandaq, diabadikan oleh ayat di atas sebagai bentuk suri teladan yang sepatutnya diikuti oleh ummatnya. Sekali lagi ini adalah penafsiran yang bersifat khusus dari ayat tersebut, jika ditilik dari peristiwa yang melatar belakanginya. [lihat Tafsir al-Qurthubi: 14/138-139]

Adapun jika dikaji secara lebih mendalam, ayat di atas -di mata para ulama- merupakan dalil bahwasanya teladan Nabi berupa perbuatan dan tindak tanduk beliau bisa menjadi landasan atau dalil dalam menetapkan suatu perkara, karena tidak ada yang dicontohkan oleh Nabi kepada ummatnya melainkan contoh yang terbaik. Hal ini dijelaskan oleh Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’adi dalam kitab tafsirnya yang terkenal, Tafsir Kariimir Rahmaan. Beliau berkata (hal. 726 Cet. Darul Hadits):

“Para ulama ushul berdalil dengan ayat ini tentang ber-hujjah (berargumen) menggunakan perbuatan-perbuatan Nabi. (Karena) pada asalnya, ummat beliau wajib menjadikan beliau sebagai suri teladan dalam perkara hukum, kecuali ada dalil syar’i yang mengkhususkan (bahwa suatu perbuatan Nabi hanya khusus untuk beliau saja secara hukum, tidak untuk ummatnya).”

Nabi kita adalah manusia yang terbaik di segala sisi dan segi. Di setiap lini kehidupan, beliau selalu nomor satu dan paling pantas dijadikan profil percontohan untuk urusan agama dan kebaikan. Sehingga tidak heran jika Allah mewajibkan kita untuk taat mengikuti beliau serta melarang kita untuk durhaka kepadanya dalam banyak ayat al-Qur-an, di antaranya firman Allah (artinya): “…Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.” [QS. An-Nisaa: 13]

Rasulullah juga pernah bersabda:
كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَـى، فَقِيْلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى
“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah ?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280]

Hakikat Makna Uswatun Hasanah

Kita sering terperangkap dalam pola prinsip yang keliru dalam memaknai hakikat uswatun hasanah yang ada pada diri Rasulullah . Tidak sedikit di antara kita mengkerdilkan makna sifat uswah (keteladanan) Nabi hanya terbatas pada masalah-masalah akhlak, sunnah-sunnah dan ritual ibadah yang dikerjakan oleh Nabi saja. Padahal, syari’at juga menuntut kita untuk meninggalkan -atau tidak mengerjakan- segala sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Nabi dalam urusan agama ini. Inilah makna uswah yang lebih sempurna, mencakup sunnah fi’liyyah dan juga sunnah tarkiyyah.

Sunnah fi’liyyah adalah sunnah yang dikerjakan atau dicontohkan oleh Nabi. Dalam hal ini kita pun disunnahkan -bahkan bisa wajib- untuk mengerjakan persis seperti apa yang dikerjakan oleh beliau sebatas kemampuan kita.

Adapun pada sunnah tarkiyyah, kita dituntut untuk meninggalkan suatu bentuk ritual dikarenakan ritual tersebut ditinggalkan atau tidak dikerjakan oleh Nabi di masanya, padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa beliau. Contohnya adalah kumandang adzan saat solat ‘Ied, adzan solat istisqo’ (minta hujan), dan adzan untuk jenazah. Ini semua ditinggalkan atau tidak dikerjakan oleh Nabi, maka bagi kita ummatnya, meninggalkan ritual-ritual (seperti adzan yang tidak pada tempatnya) tersebut juga termasuk sunnah –yang sifatnya wajib-, yang disebut sebagai sunnah tarkiyyah.

Contoh lain yang lebih pas di bulan ini (Rabi’ul Awwal) adalah; perayaan hari kelahiran Nabi (maulid). Merayakan kelahiran Nabi sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa Nabi dan Sahabat. Nabi tahu bahwa kelahiran dirinya ke muka bumi adalah rahmat bagi alam yang patut disyukuri. Demikian pula para Sahabat adalah orang yang paling mencintai dan memuliakan Nabi, mereka adalah kaum yang paling bersyukur atas kelahiran Nabi di tengah-tengah mereka. Namun faktanya Nabi dan Sahabat meninggalkan perayaan kelahiran tersebut, mereka tidak pernah mengerjakannya. Sehingga jadilah ia sunnah tarkiyyah bagi kita (yakni sunnah –yang bersifat wajib- untuk kita tinggalkan).

“Sunnah” Tarkiyyah Bermakna “Wajib”

Adapun dasar hukum sunnah tarkiyyah ini, para ulama berdalil dengan kisah tiga orang peziarah yang bertanya kepada istri-istri Nabi perihal keseharian ibadah yang dikerjakan oleh beliau. Anas radhiallahu’anhu, pembantu sekaligus Sahabat Rasulullah , mengisahkan yang artinya:

“Datang tiga orang menuju rumah para istri Nabi. Mereka bertanya tentang ibadah Nabi. Manakala mereka dikabarkan perihal ibadah-ibadah yang dilakukan oleh Nabi, seakan akan mereka menganggapnya sedikit. Maka mereka berkata: ‘Kita ini di mana jika dibandingkan dengan Nabi? (Wajar saja), beliau telah diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lampau dan yang akan datang.’ Salah seorang di antara mereka lantas berkata: ‘Adapun aku, sungguh aku akan solat malam selamanya (tidak tidur).’ Berkata lagi yang lain: ‘Aku akan berpuasa dahr, dan tidak akan berbuka (puasa setiap hari tanpa jeda).’ Dan yang satu lagi berkata: ‘Aku akan menjauhi wanita, aku tidak akan menikah selamanya.”

“Maka Nabi datang, lantas berkata (sambil marah) : ‘Kalian yang berkata begini…dan begini…? Adapun aku demi Allah! Aku orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian, dan aku yang paling taqwa kepada-Nya daripada kalian! Namun (kendatipun demikian) aku ini berpuasa, tapi juga berbuka (ada hari jeda). Aku solat (malam), dan aku juga tidur. Dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka sunnahku (lebih memilih yang lain), maka dia bukan golonganku”. [Bukhari: 5063, Muslim: 1401, Lih. Ushuulul Bida’ hal. 108]

Jika kita simak hadits di atas, bagaimana kerasnya ancaman Rasulullah terhadap orang-orang yang tidak mau mencukukan diri dengan sunnah beliau, maka bisa dipahami bahwa “sunnah” tarkiyyah -dalam artian meninggalkan bentuk-bentuk ritual yang hendak dilakukan oleh ketiga orang tersebut- bersifat wajib hukumnya, bukan “sunnah” dalam pengertian ilmu fiqih; berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam kitabnya Fadhlu ‘Ilmis Salaf mengatakan: “…adapun apa–apa yang telah disepakati oleh Salaf (para Sahabat) untuk ditinggalkan (dalam urusan agama), maka tidak boleh dikerjakan. Karena para Salaf tidaklah meninggalkan sesuatu (dalam urusan agama ini), melainkan karena mereka tahu bahwa sesuatu tersebut tidak (disyari’atkan) untuk diamalkan.” [lih. ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 110]
 
Alhasil, apa yang Nabi contohkan kepada kita, niscaya itu baik. Dan apa-apa yang beliau tinggalkan dari perkara agama ini, sudah pasti itu bukan suatu kebaikan di sisi Allah jika kita kerjakan. Rasulullah bersabda:

إنَّهُ لَمْ يَكُن نَبِيٌّ قَبْلِي إلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sungguh tidak ada satupun Nabi sebelumku, melainkan ia pasti menunjukkan (mengajarkan) kepada ummatnya segala bentuk kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan ummatnya dari segala macam keburukan yang ia ketahui”. [Shahih Muslim: 1844]
 
Dan Nabi telah memperingatkan kita dari berbuat sesuatu yang tidak ada teladannya dari beliau dalam urusan agama ini. Sebagaimana sabdanya:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan amalan ibadah yang tidak ada perintahnya dari kami (Nabi dan Sahabat1), maka amalannya tertolak (tidak diterima).” [Syarh Shahih Muslim: 1718]

Akhirulkalam, baik sunnah fi’liyyah (mengerjakan yang dicontohkan) maupun sunnah tarkiyyah (meninggalkan yang tidak dicontohkan), kedua-duanya harus berjalan dalam diri seorang mukmin yang mengaku Rasulullah sebagai teladan hidupnya. Dengan demikian, barulah hakikat uswatun hasanah pada ayat yang kita kaji ini benar-benar tidak hanya sekedar pemanis bibir di mimbar-mimbar ceramah. Wallahua’lam
Disusun oleh : Tim Redaksi al-Hujjah
Kepustakaan : --
.: Tafsir al-Qurthubi, Cet. Darulkitab
al-Arobi: V/1423 H
.: Tafsir Karimir Rahman, Cet. Darul Hadits:
1426 H
.: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Cet. Darur Royah:
II/1417 H. http://alhujjah.com/index.php/tafsir/6-alhujjah06-ix

Akhi/Ukhti, Taukah kau ? Rasulullah SAW merindukanmu !

Suatu ketika, seraya berlinang air mata, Rasulullah SAW berkata kpd para sahabatnya dg suara yg lirih. "Alangkah rindunya aku kpd saudara2 ku."

sahabat yg mendengar merasa iri, cemburu, mendengar Rasulullah SAW merindukan org lain dan menyebut nyebutnya.

Ya Rasulullah, siapa saudara2 yg Tuan rindukan itu ? Rasulullah balik bertanya, menurut kalian siapa ? Pasti yg Tuan rindukan adalah malaikat2 Allah SWT.

Wahai sahabatku, mereka adalah malaikat Allah, dan bukan saudara yg kurindukan. Kalau begitu siapa ya Rasulullah ? Apakah mereka para Nabi Allah SWT ? Mereka adalah utusan2 Allah, namun bukan saudara2 yg sedang aku rindukan. Lalu siapa gerangan ? Apakah kami ? Tanya sahabat lagi, kalian adalah sahabat2 ku, tetapi bukan kalian yg aku rindukan saat ini, lalu siapa, ya Rasulullah ?

"Yang aku rindukan saat ini adalah org2 yg datang setelah aku wafat. Org2 yg datang beratus ratus tahun setelah kepergianku, mereka tidak pernah berjumpa denganku, tetapi mereka penuh keimanan kepadaku, itulah sdr2 yg aku rindukan saat ini."

Sungguh, kitalah saudara yg dirindukan Rasulullah SAW, bukankah kita datang setelah wafatnya Rasulullah ? Bukankah kita tidak pernah bertemu Rasulullah ? Tetapi bukankah kita penuh keimanan kpd Rasulullah SAW ?

Sambutlah cintanya Rasulullah yg begitu Agung, jangan pernah kecewakan beliau SAW. 
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar