Selasa, 01 Januari 2013

.....Kitab Talmud. (bahasa Ibrani: תלמוד) Kitab Talmud, sebuah "buku hitam" Israel yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan....>>>...Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Perjanjian Lama, yg juga dikenal dgn nama Kitab Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”.....>>>...Kelompok Yahudi Neturei Karta yang berpusat di AS selama ini dikenal sebagai duri dalam daging bagi gerakan Zionisme Internasional. Walau sama-sama berdarah Yahudi, namun orientasi perjuangan antara Neturei Karta dengan Zionis-Israel amat berbeda. Jika Zionis-Israel mengagungkan dan menyucikan Talmud, maka kelompok Yahudi Ortodoks menuding bahwa Talmud adalah kitab iblis yang telah ‘mencemari kesucian’ Taurat yang diturunkan Tuhan kepada Musa....>>>...Secara berkala, Kelompok Yahudi Neturei Karta melakukan aksi unjuk rasa di seluruh dunia, terutama di Yerusalem, Inggris, dan AS, dan mensosialisasikan bahwa kaum Yahudi telah ditakdirkan Tuhan untuk diaspora dan tidak memiliki negara. “Kami tidak setuju dengan pembentukan negara Israel. Kaum Zionis telah memperkosa Yudaisme dan menungganginya untuk ambisi politik. Yudaisme tidak mengenal Talmud dan negara Israel!” tegas Rabi Yisroil Dovid Weiss, Juru Bicara Neturei Karta AS. Pada 24 Juli lalu, kelompok ini lagi-lagi menggelar aksi unjuk rasa. Kali ini bertepatan dengan hari kesembilan bulan Av—yang dianggap sebagai hari terkelam dalam perjalanan bangsa Yahudi di mana orang-orang Yahudi meyakini ribuan tahun silam Kuil Sulaiman telah dihancurkan oleh mush-musuh Tuhan. Ribuan kaum Yahudi Ortodoks menggelar aksi di depan Konsulat Israel di New York AS. Juru Bicara Neturei Karta lagi-lagi dengan lantang menyerukan agar kaum Yahudi AS khususnya dan Yahudi seluruh dunia umumnya tidak lagi mendukung keberadaan negara Zionis-Israel. “Hapuskan Israel dari muka bumi!” demikian teriak mereka. Neturei Karta juga membuat situs yang memuat seluruh aksi-aksi mereka. Silakan lihat di http://www.nkusa.org....>>>..Dewasa ini ada persekongkolan yang kuat antara dunia Kristen dan Yahudi. Anehnya di era modern ini tidak ada, bahkan tidak pernah ada, para Paus, Katolik serta tokoh-tokoh gereja Protestan yang menyerang atau mengecam ajaran rasisme di Talmud, atau kebencian mendarah-mendaging terhadap Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim dan lain-lain) yang diajarkannya. Malah sebaliknya para pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun Protestan, menganjurkan kepada para pengikut Jesus Kristus untuk mentaati, menghormati, bahkan membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak lain, para pemimpin gereja Katolik dan Protestan dewasa ini sebenarnya adalah pengkhianat paling nyata terhadap Jesus Kristus di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I Thessalonika 2:14-16; Titus 1:14; Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9)....>>> KENAPA ADA PERSEKONGKOLAN YAHUDI DAN KRESTEN ...??? >>> BENARKAH SEPERTI JAWABAN INI..???>>> kenapa kristen dan yahudi membenci islam kebencian umat kristen dan yahudi kepada islam sangatlah banyak alasannya,namun kali ini saya akan membahas sedikit saja. kristen dan yahudi itu sangat benci kepada islam karna mereka faham bahwa islam satu satu agama yang benar dan sangat sempurna,mereka faham bahwa agama mereka tidak ada apa apanya kalau dibandingkan islam. bagi sebagian umat kristen yang lain,mereka membenci islam hanya karna mereka memang dididik sejak kecil untuk membenci islam,akhirnya kebencian mereka mendarah daging,lalu mereka juga mendidik anak anak mereka dan begitu seterusnya. fakta ini sudah banyak dibeberkan oleh para muallaf. dan kaum nasrani biasanya tidak akan begitu membenci kepada islam apabila mereka mengkaji islam dengan sungguh sungguh,bahkan tidak sedikit malah masuk islam karna hati mereka terbuka,mata mereka melihat keagungan dan kebenaran islam. kresten dan yahudi bisa dikatakan agama yang pendengki dan suka iri. ingat!iri itu tanda tak mampu. kristen dan yahudi tidak memiliki ajaran yang sempurna seperti islam. bahkan kitab sucinya saja bukan asli firman tuhan,bagaimana mereka tidak akan iri kepada tuhan. sama saja dengan suatu keluarga yang mana dalam keluarga tersebut ada tiga anak,yang paling tua adalah yahudi,yang nomer dua adalah kristen dan yang bungsu adalah islam. terus yang ayah lebih mengutamakan si bungsu dengan mencurahkan kasih sayang yang lebih,dan dengan pemberian yang lebih,kemana mana diantar dan selalu diberi bekal yang lebih bagus dari kedua kakanya. maka pantaslah apabila kedua kakaknya akan membenci sibungsu. apalagi kalau kita lihat keadaan yahudi,kristen dan islam. yang mana islam disitu bukan hanya lebih dibandingkan yahudi dan kristen,akan tetapi islam juga adalah sebagai agama yang mengahpus kedua agama sebelumnya. sama saja dengan uang. uang yang baru pastinya mengahpus keberadaan uang yang sudah kuno. anda uang itu bisa bicara,pastinya dia akan meretap “malangnya nasibku,tak ubahnya bagaikan yahudi dan kristen” jadi,menurut saya, lebih baik orang yahudi dan kristen itu mengkaji islam saja,dan mulai saat ini,berbaikanlah,karna jelas agama anda itu sudah lama sekali terhapus. makanan saja kalau sudah kadaluarsa ya bahaya,apalagi agama yang kadaluarsa. semoga artikel ini bermanfaat.>>>> MUNGKIN YA MUNGKIN JUGA TIDAK.... >>> WATAK YANG SEBENARNYA...ADA;AH KARENA INDOKTRINASI BARAT YANG MEMANG BERJIWA PENJAJAH...DAN SELALU MEMBUAT SEGALA UPAYA UNTUK MENGEKALKAN PENJAJAHAN ITU...??? MAKA DIDALAM HAL INI AGAMA KRESTEN DAN YAHUDI YANG SAMA2 SANGAT BERFAHAMKAN MATERIALISME... MAKA MEREKA MEMILIKI TUJUAN SAMA YAITU KOLONIALISME-DAN IMPERIALISME---YANG BERAWAL DARI JIWA KALPITALISME....YANG TAK PERNAH MERASA CUKUP... >>> MAKA SEGALA REKAYASA DAN DOKTRIN TERMASUK MENYELEWENGKAN AJARAN AGAMA...YANG SEHARUSNYA UNTUK MEMBANGUN MORAL ITU... DIARAHKAN UNTUK KEPENTINGAN PARA PENJAJAH ITU...??>> FAKTA SEJARAH ..ADALAH ITU...>>> MAKA ITULAH MEREKA MEMBANGUN DAN MENCIPTAKAN ..LEMBAGA2 UNTUK MELAKUKAN HASRAT PENJAJAHAN...>>>


"Buku Hitam" Yahudi Kitab TALMUD

talmud
Kitab Talmud. (bahasa Ibrani: תלמוד)
Kitab Talmud, sebuah "buku hitam" Israel yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan.

Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Perjanjian Lama, yg juga dikenal dgn nama Kitab Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”.

Para pendeta Parisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (pendeta), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, bahkan tidak mendukung isi Taurat. Bahkan para pendeta Talmud pun mengklaim bahwa sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang.
Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan bahwa ‘Uzair adalah seorang pendeta (kâhin) Yahudi, ia hidup sekitar 457 SM. Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi ‘Uzair adalah orang yang telah mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab Taurat yang sudah hilang sebelum masa Nabi Sulaiman as. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan rujukan utama adalah yang berasal dari ‘Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu itu ‘Uzair adalah satu-satunya sosok yang paling diagungkan, maka sebagian mereka akhirnya menisbatkan ‘uzair sebagai anak Allah.
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah,9:30).
Dari ayat tsb nampak jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (QS. Al-Ikhlash 112 :3).
Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip pemyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat … Tuhan telah melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisi merupakan suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu memahami Taurat.”
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan tindakan yang sangat sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang kidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia.
Nabi Isa a.s. sendiri mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal), termasuk mereka yang mengajarkannya (para hachom Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru.
Terhadap tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” dari para pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang kemudian dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, itulah yang disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’ adalah kitab yang paling otoritatif.
Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat (Taurat ada dua Versi : Taurat asli dan Taurat versi Perjanjian Lama yang sekarang). Mereka ini disebut golongan 'Karaiyah', kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban didzalimi oleh para pendeta Yahudi orthodoks.

Kitab Talmud adalah sebuah kitab paling berbahaya yang pernah ada di muka bumi.

Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya. Itu pula sebabnya mengapa negara Israel disebut sebagai negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik.
Ilmuwan terkenal dalam bidang kebudayaan Ibrani dan kajian tentang Talmud, Joseph Barcley, menyatakan: “....Sebagian teks yang ada dalam Talmud adalah ekstrim, sebagiannya lagi menjijikkan, dan sebagian lagi berisi kekufuran..... “karenanya, banyak penguasa negara (raja dan kaisar) dan penguasa agama (Paus) di Eropa mengharamkan beredarnya kitab ini".
Talmud merupakan manifesto yang paling berbahaya kepada perikemanusiaan. Ia lebih berbahaya daripada buku Mein Kampf, karya Hitler. bahkan Kitab Talmud ini menggariskan penghancuran total semua agama dan peradaban yang ada di dunia, demi terciptanya sebuah masyarakat Zionis internasional.
Dalam buku “An Interview of Illan Pappe, ” Baudoin Loos menyebutkan seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”. Pappe adalah salah seorang Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme.

anak2israelSaat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya.”[1]

anak2israel2Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa "hanya orang-orang bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia melainkan binatang." (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a). “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a). "Orang-orang Non Yahudi boleh dibantai / dibunuh karena hukumnya Wajib." (Sanhedrin 58).

anak2israel3Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies. Ary Serabi ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”

anak2libanonHasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina. Mereka menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis? Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:

mayat-anak2-korban-israel"Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…ha”

Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.
qana1996-a'Protocols of Learned Elders of Zion' (Protokol Para Pemuka Agama Yahudi) adalah rencana praktis atau kertas kerja untuk merealisasikan semua kandungan Taurat dan Talmud. Jika Talmud merupakan buah pahit dari ajaran Perjanjian Lama (Taurat), maka Protol Yahudi ini merupakan kertas kerja yang meringkas semua ajaran Talmud kepada rencana strategis modern dan kontemporer.

Metoda kerja yang dipakai oleh ‘Protokol’ untuk menghancurkan suatu masyarakat cukup jelas. Memahami metoda itu penting jika seseorang ingin menemukan makna dari arus serta arus-balik yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan keadaan masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa kini dan suara-suara yang centang-perenang. Setiap suara atau teori itu seakan-akan dapat dipercaya dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau saja kita dapat memahami makna dari suara yang centang-perenang dan berbagai teori yang amburadul itu, maka hal itu akan menyadarkan kita bahwa kebingungan dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju oleh ‘Protokol’. Ketidakpastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan, semuanya ini merupakan reaksi yang diciptakan oleh program yang diuraikan di dalam ‘Protokol’ yang diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini merupakan bukti efektifnya program tersebut.

Pelaksanaan ajaran Talmud tentang keunggulan kaum Yahudi yang didasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang tak terperikan terhadap orang lain sepanjang sejarah ummat manusia sampai dengan saat ini, khususnya di tanah Palestina. Ajaran itu telah dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara massal penduduk sipil Arab-Palestina. Kitab Talmud menetapkan bahwa semua orang yang bukan-Yahudi disebut “goyim”, sama dengan binatang, derajat mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-satunya ras yang mengklaim diri sebagai keturunan langsung dari Nabi Adam a.s.

Beberapa kutipan yang diangkat dari Kitab Tamud dalam uraian berikut ini merupakan dokumen asli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan dapat memberikan pencerahan kepada segenap ummat manusia, termasuk kaum Yahudi, tentang kesesatan dan rasisme dari ajaran Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci baik bagi kaum Yahudi Orthodoks maupun Hasidiyah di seluruh dunia.

talmud-unmaskedBeberapa Contoh Isi Ajaran Talmud


Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka”.
Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”
Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghujat Tuhan dan Hukumannya ialah Mati
Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.

Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja baginya”.

Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi

Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.

Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi

Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b),
Sanhedrin 57a, “Tuhan tidak akan mengampuni seorang Yahudi ‘yang mengawinkan anak-perempuannya kepada seorang tua, atau memungut menantu bagi anak-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir)’ …”.

Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati, Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”.
Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada Bani Israel”.

Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi

Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”.

Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia

Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.
Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.
Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.

Ajaran Gila di dalam Talmud

Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan tubuh ambil debu yang berada di bawah bayang-bayang jamban, dicampur dengan madu lalu dimakan“.
Shabbath 41a, “Hukum yang mengatur keperluan bagaimana kencing dengan cara yang suci telah ditentukan”.
Yebamoth 63a, ” … Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.
Yebamoth 63a, “…menjadi petani adalah pekerjaan yang paling hina “.
Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi boleh mengawini anak-perempuan berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.
Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak-perempuan, asalkan saja anak itu berumur di bawah sembilan tahun”.
Kethuboth 11b, “Bilamana seorang dewasa bersetubuh dengan seorang anak perempuan, tidak ada dosanya”.
Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan seorang pendeta Yahudi”.
Abodah Zarah 17a, “Buktikan bilamana ada pelacur seorangpun di muka bumi ini yang belum pernah disetubuhi oleh pendeta Talmud Eleazar”.
Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang akan masuk neraka”.
Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.
Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan, ‘Sekeluarnya seseorang dari jamban, maka ia tidak boleh bersetubuh sampai menunggu waktu yang sama dengan menempuh perjalanan sejauh setengah mil, konon iblis yang ada di jamban itu masih menyertainya selama waktu itu, kalau ia melakukannya juga (bersetubuh), maka anak-keturunannya akan terkena penyakit ayan”.
Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur kotoran seekor anjing berbulu putih dan campur dengan balsem; tetapi bila memungkinkan untuk menghindar dari penyakit itu, tidak perlu memakan kotoran anjing itu, karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi lemas “.
Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon kurma, berdiri di antara dua orang laki-laki. Karena musibah khusus akan datang jika seorang perempuan sedang haid atau duduk-duduk di perempatan jalan “.
Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi diwajibkan membaca doa berikut ini setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya Tuhanku, karena Engkau tidak menjadikan aku seorang kafir, seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “.
Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.

Pengakuan Talmud

Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi ditanya, apakah anggur yang dicuri di Pumbeditha boleh diminum, atau anggur itu sudah dianggap najis, karena pencurinya adalah orang-orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka anggur itu dianggap sudah najis). Rabbi itu menjawab, tidak perlu dipedulikan, anggur itu tetap halal (‘kosher’) bagi orang Yahudi, karena mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci anggur itu dicuri, adalah orang-orang Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah 25b).

Ibadah Orang Farisi

Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata kepadanya, ‘Berikan saya air untuk mencuci tangan saya’. Ia menjawab, ‘Air itu tidak cukup bahkan untuk diminum, apalagi untuk membasuh tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat ?’ tanya seseorang lainnya, ‘padahal engkau tahu menentang ucapan seorang rabbi diancam dengan hukuman mati?’ ‘Saya lebih baik mati daripada menentang pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terekam dikutuk Nabi Isa a.s. dalam Injil Matius 15 : 1- 9).

Genosida Dihalalkan oleh Talmud

Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (“Bahkan orang kafir yang baik sekali pun seluruhnya harus dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan penghormatan kepada rabbi yang telah menganjurkan untuk menghabisi orang-orang non-Yahudi [2].

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat Israel, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membantai 40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang menyatakan kepada kantor berita CBS News, bahwa ajaran yang dianutnya mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran Talmud”.[3]

Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universitas Jerusalem menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah teiah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka diwajibkan untuk melakukan kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang non-Yahudi”. [4]

Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”. [5]
Rabbi Jacov Perrin berkata, “Satu juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang Yahudi”.[6]

Doktrin Talmud : Orang non- Yahudi Bukanlah Manusia

Talmud secara spesifik menetapkan orang non-Yahudi termasuk golongan binatang, bukan-manusia, dan secara khusus menyatakan bahwa mereka bukan dari keturunan Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan bertebaran di dalam Kitab Talmud, antara lain sebagai berikut :
Kerihoth 6b, “Menggunakan minyak untuk mengurapi. Rabbi kita mengajarkan, ‘Barangsiapa menyiramkan minyak pengurapan kepada ternak atau perahu, ia tidak melakukan dosa; bila ia melakukannya kepada ‘goyyim’, atau orang mati, dia tidak melakukan dosa. Hukum yang berhubungan dengan ternak dan perahu adalah benar, karena telah tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam) tidak boleh disiramkan (Exodus 30:32); karena ternak dan perahu bukan manusia (Adam)’ “. “Juga dalam hubungan dengan yang meninggal (sepatutnya) ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia menjadi bangkai dan bukan manusia lagi (Adam).

Tetapi mengapa terhadap ‘goyyim’ juga dikecualikan, apakah mereka tidak termasuk kategori manusia (Adam) ? Tidak, karena telah tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku, domba-domba di padang gembalaan-Ku adalah manusia (Adam)’ (Ezekiel 34:31): Engkau disebut manusia (Adam), tetapi ‘goyyim’ tidak disebut sebagai manusia (Adam)’ “.

Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi membahas hukum Talmud yang melarang memberikan minyak suci bagi manusia. Dalam pembahasan itu para rabbi menjelaskan bukanlah suatu dosa untuk memberikan miyak suci itu kepada ‘goyyim’ (kaum non-Yahudi, seperti Muslim, Kristen, dan sebagainya), karena ‘goyyim’ tidak termasuk golongan manusia (harfiahnya: bukan keturunan Adam).

Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai menerangkan (61a) bahwa kuburan orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat yang suci untuk mendapatkan ‘ohel’ (memberikan sikap ruku’ terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku yang ada di padang gembalaan-Ku, kalian adalah manusia (Adam)’, (Ezekiel 34:31); kalian disebut manusia (Adam); tetapi kaum kafir ltu tldak disebut manusia (Adam)’ “.

Hukum Talmud menerangkan bahwa seorang Yahudi yang menyentuh bangkai manusia atau kuburan (Yahudi) menyebabkan ia ternajisi. Tetapi hukum Talmud mengajarkan, sebaliknya, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim, hal itu membuat ia tetap suci, karena orang goyyim tidak termasuk golongan manusia (Adam).

Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah) berkata kepadanya: ‘Apakah engkau bukan pendeta: mengapa engkau berdiri di atas kuburan ? Ia menjawab: ‘Apakah guru belum mempelajari hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben Yohai berkata:‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak menajisi. Karena telah tertulis, ‘Wahai gembalaan-Ku gembalaan di padang rumput-Ku adalah manusia (Adam), dan ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.
Mengingat pembuktian berdasarkan nash Taurat (Ezekiel 34:31). disebut sampai berulang-kali pada ketiga ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal dalam kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan bahwa hanya orang Yahudi saja yang termasuk golongan manusia. Para ‘hachom’ Talmud sangat menekankan kekonyolan ajaran mereka tentang kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti bahwa mereka sebenarnya adalah rasis dan ideolog anti-kaum non-Yahudi, yang dalam kebuntuan nalarnya telah mendistorsikan ayat-ayat Taurat dalam rangka membenarkan kesesatan mereka.

Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi memberikan hukuman cambuk kepada seseorang yang telah bersetubuh dengan seorang perempuan Mesir: Orang yang dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada seorang Yahudi yang memberikan hukuman cambuk tanpa izin dari pemerintah’. Seorang petugas memerintahkan untuk memanggilnya (Shila). Ketika ia (Shila) tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang ini?’ Ia (Shila) menjawab: ‘ Karena ia telah menyetubuhi keledai betina’ “. “Petugas itu berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mempunyai saksi-saksi?’ Ia(Shila) menjawab ‘Saya mempunyainya’. Kemudian (nabi) Elijah turun dari langit dalam bentuk manusia dan memberikan bukti. Petugas itu berkata lagi kepadanya: ‘Kalau demikian halnya seharusnya orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami telah diasingkan dari negeri kami, kami tidak mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman mati; lakukanlah terhadapnya sesuai kehendak kalian’ “

“Ketika mereka masih mempertimbangkan perkara itu Shila pun berteriak.• ‘Kepada-Mulah ya Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa’ (Kisah-kisah 29:11).

‘Apa kehendakmu? tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab.• ‘Apa yang kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha Pengasih yang telah menciptakan segala sesuatunya dari tanah serupa dengan Yang di Sorga, dan telah memberikan kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian mencintai keadilan’ “,

“Petugas itu berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah engkau sedemikian membantu kepada kehormatan pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan berkata kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi hakim. ‘ Tatkala petugas (orang ‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang yang ada disana berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum pendusta?’. Ia (Shila) menjawab mereka (‘goyyim’) disebut keledai? Karena telah tertulis: Daging mereka adalah daging keledai’ (Ezekiel 23:30)

Ia (Shila) memperhatikan orang-orang itu akan memberi-tahukan petugas-petugas itu bahwa ia (Shila) telah menyebut mereka sebagai keledai. Maka ia (Shila) berkata.• ‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah mengatakan: Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangkitlah segera dan bunuh dia lebih dahulu.

Begitulah tongkat yang diberikan kepadanya itu dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya.’ Kemudian ia berkata: ‘Karena sebuah mu’zizat telah terjadi melalui ayat ini, maka aku melaksanakannya’ “.

Bagian ini terpaksa diutarakan agak panjang, tetapi agaknya terpaksa dikutip seluruhnya untuk memperlihatkan bagaimana kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke bumi untuk menipu mahkamah kaum goyyim, disini Talmud mengajarkan, bahwa kaum ‘goyyim’ pada dasamya adalah binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi Elijah) sama sekali tidaklah dapat disebut telah berdusta atau telah membuat dosa.

Ceritera itu menjelaskan bahwa sekiranya seseorang (termasuk orang Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang kaum ‘goyyim’ sama dengan keledai, maka ia akan menerima hukuman mati. Karena mengungkapkan hal itu akan membuat kaum ‘goyyim’ murka dan akan menindas agama Yahudi.

Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel ini merupakan “nash bukti” sangat penting, karena ayat itu menyatakan bahwa kaum ‘goyyim’ itu termasuk golongan binatang (keledai). Ayat dari kitab Ezekiel pada Kitab Perjanjian lama telah diubah dengan hanya mengatakan bahwa “orang Mesir memiliki kemaluan yang besar” (sindiran – sama dengan keledai). Hal ini tidak membuktikan atau menegaskan secara eksplisit bahwa orang Mesir yang dirujuk oleh Taurat sarna dengan binatang. Dalam hal ini Talmud memalsukan Taurat dengan cara mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang mengkaitkannya dengan kitab Ezekiel 23:30 yang memperlihatkan watak rasis orang Yahudi ditemukan dalam Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah 45a, Shabbath 150a, dan Yebamoth 98a. Lagipula nash aseli Sanhedrin 37a hanya mengkaitkannya dengan persetujuan Tuhan untuk penyelamatan kaum Yahudi saja. [7]

Moses Maimonides Membenarkan Pembantaian

Begawan yang sangat dihormati, Moses Maimonides, mengajarkan tanpa tedeng aling-aling, bahwa kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh yang memberikan fatwa seperti itu memiliki kedudukan tertinggi dalam hirarki agama Yahudi.

Moses Maimonides dipandang sebagai penyusun hukum dan filosuf terbesar sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali dengan penuh rasa hormat disebut dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben Maimon, yang artinya ‘Rabbi Kami Musa anak Maimun”.[8]

Inilah yang diajarkan oleh Maimonides tentang boleh tidaknya menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau bahkan’ orang Yahudi sekali pun yang berani menolak “inspirasi ilahiyah di dalam Talmud’.

“Sesungguhnya bila kita melihat seorang kafir (‘goyyim’) sedang terhanyut dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau kita melihat nyawanya sedang terancam, kita tidak boleh menyelamatkannya.” [9]. Naskah dalam bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981 tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang sarna seperti itu.

Dengan peringatan dari Maimonides itu, telah diwajibkan bagi kaum Yahudi untuk tidak boleh menyelamatkan nyawa atau memberikan pertolongan kepada seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya menyatakan sikap kaum Yahudi yang sebenarnya yang dibebankan oleh Talmud terhadap kaum non-Yahudi.[10]

“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk , menghabisi para pengkhianat kaum Yahudi, para ‘minnim’, dan “apikorsim” dan membuat mereka jatuh ke dalam lobang kehancuran, karena mereka telah menyebabkan penderitaan kepada kaum Yahudi, dan menipu manusia untuk menjauh dari Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan para muridnya, dan Tzadok, Baithos dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.

Komentar penerbit Yahudi itu memuat pernyataan Maimonides bahwa Nabi Isa a.s. adalah contoh seorang ‘min’ (“pengkhianat” majemuknya ‘minnim’). Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid Tzadok, yaitu kaum Yahudi yang menolak kebenaran Talmud dan mereka yang hanya mengakui hukum tertulis, yakni Taurat. Menurut buku ‘Maimonides’ Principles’ pada h.5, Maimonides memerlukan waktu dua-belas tahun untuk menyimpulkan hukum dan keputusan dari Talmud, dan mensistemasikan kesimpulannya itu ke dalam 14 jilid. Karya itu akhirnya selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau ‘Syari’at Taurat’.

Maimonides mengajarkan pada bagian lain dari ‘Mishnah Torah’, bahwasanya kaum ‘goyyim’ bukanlah golongan manusia: “Hanyalah manusia (kaum Yahudi), dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan … Bangkai dari seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan najis bila bersentuhan dengan bayang-bayang seorang Yahudi … seorang ‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan penajisan; dan bila seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau membayangi … ‘goyyim’ itu tidak menyebabkan najis … mayat seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya’” seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau menjatuhkan bayangannya kepada mayat, ia dianggap tidak pernah menyentuh mayat tersebut.” .[11]

Film ‘Schindlers List’ – Contoh Kebohongan Kaum Yahudi

481-1 
Teks Talmud (khususnya Talmud Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak mewajibkan orang Yahudi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, terkecuali nyawa orang Yahudi. Moshe Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa buku yang ditulis oleh orang-orang Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-shas) merujuk beberapa nash dari Talmud yang seolah-olah memuat frase nilai-nilai universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan seseorang, hal itu sama dengan membunuh seluruh isi dunia; dan barangsiapa memelihara kehidupan seseorang ,,, hal itu seperti ia telah memelihara seluruh isi dunia”.

Bandingkan dengan al-Qur’an 5:32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”.

Namun Hesronot Ha-ash mengakui ayat-ayat di atas tadi bukan katta-kata yang otentik dari Talmud yang asli. Dengan kata lain, ayat-ayat bemada universal tersebut bukanlah nash otentik dari Talmud. Jadi sekedar sebagai contoh, “versi universal” ini yang oleh Stephen Spielberg dituangkan ke dalam filmnya ‘The Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah bersumber dari Talmud pada judul maupun iklan filmnya) adalah penipuan dan merupakan propaganda, yang dimaksudkan untuk memberikan polesan kemanusiaan kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab yang penuh berisi semangat rasisme dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada ayat yang sama, “Barangsiapa memelihara bahkan satu nyawa orang Israeli, maka ia seperti memelihara seluruh isi dunia”. Sama seperti ayat-ayat yang lain, Talmud yang aseli hanya membicarakan perihal menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Tipuan Orang Yahudi

Sanggahan para rabbi orthodoks bahwa tidak ada bukti dokumentasi otentik tentang rasisme dan semangat kebencian di dalam Talmud adalah bohong besar, karena di dalam Baba Kamma 113a, menyatakan bahwa “Orang Yahudi boleh berbohong untuk menipu kaum ’goyyim’ ‘.

The Simon Wiesenthal Center, sebuah pusat propaganda ruhubiyah Yahudi yang didukung oleh dana multi-jutaan dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena rabbi ini menentang ajaran dehumanisasi oleh Talmud terhadap orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-benar busuk”, katanya. Buktinya ? “Ya, pernyataan-pernyataan di dalamnya”.

Berdusta untuk menipu orang ‘goyyim’ telah lama menjadi panutan di dalam agama Yahudi. Ambil contoh sehubungan dengan debat pada abad ke-13 di Paris antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang telah memeluk agama Katolik –yang oleh Hyam Maccoby diakui mempunyai pengetahuan yang luas tentang Talmud”[12]- saat berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel. Pada waktu itu Yehiel tidak sedang berada di bawah ancaman hukuman, atau dicederai. Namun tanpa malu tetap saja berdusta sepanjang debat tersebut.

Sebagai contoh ketika ditanya oleh Donin apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam Talmud, Yehiel menyanggahnya. Donin, seorang ahli dalam bahasa lbrani paham benar jawaban itu dusta maka. Ryam Maccoby, seorang komentator Yahudi mengenai debat tersebut, yang hidup di abad ke-20, membela kebohongan Rabbi Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu mungkin diajukan, apakah Yehiel benar-benar percaya yang Jesus tidak disebut-sebut di dalam Talmud atau, bisa juga ia mengajukan pertanyaan ini sebagai suatu tipuan yang cerdik, untuk menciptakan keadaan mendesak Yehiel … tentu saja Rabbi Yehiel dapat dimaafjkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya dipercayainya, dalam rangka mencegah proses tiranik yang menghadapkan budaya dari suatu agama tertentu, terhadap agama yang lain”.[13]

Beginilah cara orang Yahudi menyanggah sampai dengan hari ini tentang adanya nash Talmud yang mengandung ayat-ayat yang penuh dengan kebencian. Sebuah kata tentang “kebohongan Yahudi diplesetkan dan disulap menjadi “dapat dimaafkan”, sementara setiap penyelidikan terhadap kitab-kitab suci Yahudi oleh peneliti non-Yahudi dipandang sebagai “proses tiranik”. Sementara itu serangan kaum Yahudi terhadap kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan al-Qur’an tidak pernah dianggap sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum non- Yahudi yang dianggap tiranik, sedangkan cara mempertahankan diri bagi orang Yahudi adalah berdusta.

Betapapun banyaknya sanggahan dan kebohongan yang keluar dari ‘The Anti-Defamation League’ (ADL – ‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan dari the Wiesenthal Center, dalam buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun juga dari mufassir Talmud ‚paling’ terkemuka” di mata orang Yahudi sendiri, seperti Moses Maimonides,

Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx, direktur pendidikan teknologi terapan pada ‘Shalom Hartman Institute’ di Jerusalem, telah menulis semacam pengakuan yang menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam telah membuat dua jenis kumpulan kitab: kitab Talmud yang otentik sebagai bahan pelajaran bagi para pemuda mereka di sekolah-sekolah (‘kollel’) Talmud, dan sebuah lagi kitab Talmud yang telah “disensor dan diamendemen” yang ditujukan bagi konsumsi para ‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-apa. Rabbi Marx menjelaskan bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk konsumsi umum, tertulis misalnya, “Barangsiapa membunuh seorang manusia, ia telah melanggar hukum”. Tetapi Rabbi Marx menyatakan, nash yang asli berbunyi, ” Barangsiapa membunuh seorang Israeli, ia melanggar hukum”. [14]

Buku Hesronot Ha-shas (“Yang Dihilangkan dari Talmud”) lalu menjadi penting dalam kaitan ini. Heshronot Ha-shas dicetak-ulang pada tahun 1989 oleh Sinai Publishing House, Tel Aviv. Heshronot Ha-shas menjadi sangat berharga bagi kita, karena buku ini menyusun suatu daftar panjang ayat-ayat Talmud yang diubah atau dihilangkan, dan daftar ayat-ayat yang dipalsukan dewasa ini, yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat itulah yang otentik. Popper (h.58-59) menjelaskan : “Tidak selalu yang disensor itu ayat-ayat panjang, tetapi acapkali satu kata pun dihapus. … Acapkali dalam hal seperti itu digunakan dalam rangka penghapusan dan penggantian”. [15]

Sebagai contoh pentarjamah versi Talmud dalam bahasa Inggris terbitan Soncino menterjemahkan kata lbrani ‘goyyim’ dengan sejumlah kata-ganti samaran seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah berhala”, dan sebagainya. Tetapi sebenarnya kata-ganti ini merujuk kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua yang non- Yahudi).

Pada catatan-kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan bahwa, “Istilah orang Cuthea (Samaritan) disini adalah untuk menggantikan kata-aseli ‘goyyim’ … “ Hal itu merupakan praktek disinformasi yang lazim dipakai oleh kaum Farisi untuk menyangkal adanya ayat-ayat yang rasialistik di dalam Talmud yang telah diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa ayat-ayat itu adalah “karangan dari orang-orang yang anti-Semit”, antara lain The Babylonian Talmud online Talmud versi Soncino dengan editor Rabbi Dr. Isidore Epstein of Jews’ College, London. Bandingkan penjelasan Seder ZERAIM (זרעים), MOED (מועד), NASCHIM (נשים ), NEZIKIN (נזיקין), KODASCHIM (קדשים), TOHOROTH (טהרות) oleh Rev. I. B. Pranaitis (Roman Catholic Priest) dalam buku The Talmud Unmasked, The Secret Rabbinical Teachings Concering Christians

Pada tahun 1994, Lady Jane Birdwood (80 tahun), ditangkap dan diadili di depan pengadilan pidana di London, hanya karena "Kejahatannya" menerbitkan sebuah pamflet berjudul ‘The Longest Hatred’ (Kebencian yang Paling Lama), berisi seluruh pernyatan kebencian di dalam Talmud yang diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen.

Sepanjang peradilan terhadapnya dia dituduh sebagai suatu kejahatan --sayang tidak mendapatkan perhatian dari media massa--, bahkan seorang Rabbi yg diundang sebagai saksi ahli pun menyanggah sepenuhnya bahwa kitab Talmud berisi ayat-ayat yang mengundang kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi tersebut, wanita tua yang malang itu dijatuhi hukuman “tiga bulan kurungan penjara dan denda senilai $ l000″

Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish Religion’, pada bab tentang Jesus di dalam Talmud pada h.57, dan h.105-106, menegaskan adanya ayat-ayat yang menganjurkan kebencian dan rasisme di dalam Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini adalah pembohong besar.

Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’ terhadap Talmud

Dewasa ini ada persekongkolan yang kuat antara dunia Kristen dan Yahudi. Anehnya di era modern ini tidak ada, bahkan tidak pernah ada, para Paus, Katolik serta tokoh-tokoh gereja Protestan yang menyerang atau mengecam ajaran rasisme di Talmud, atau kebencian mendarah-mendaging terhadap Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim dan lain-lain) yang diajarkannya. Malah sebaliknya para pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun Protestan, menganjurkan kepada para pengikut Jesus Kristus untuk mentaati, menghormati, bahkan membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak lain, para pemimpin gereja Katolik dan Protestan dewasa ini sebenarnya adalah pengkhianat paling nyata terhadap Jesus Kristus di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I Thessalonika 2:14-16; Titus 1:14; Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9).

Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’

Semua orang non-Yahudi dari segala ras dan agama apa pun menurut Talmud adalah super-sampah’, begitu menurut pendiri Habad-Lubavitch, Rabbi Shneur Zalman. Analisanya ditemukan di dalam majalah Yahudi ‚The New Republic’, yang dalam analisisnya menyatakan bahwa, “… ada ironi besar dalam pandangan universalisme messianik yang baru pada gerakan Habad khususnya pandangannya tentang kaum ’goyyim’ yakni pernyataan Habad yang tanpa tedeng aling-aling berisi penghinaan bernada rasial terhadap kaum ‘goyyim ‘. …berdasarkan pendapat para theolog Yahudi pada abad pertengahan – terutama sekali pemikiran penyair dan filosuf Judah Ha-Levi pada pada abad ke-12 di Spanyol, dan tokoh mistik Yahudi Judah Loewe pada abad ke-16 di Praha – mereka mencari ketetapan mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan bukannya pada keunggulan kerohanian … menurut pandangan mereka, secara mendasar kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras mana pun, dan mengenai hal itu ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh Shneur Zalman dari Lyadi.
Pendiri Lubavitcher-Hasidisme itu mengajarkan, bahwa ada perbedaan hakiki antara jiwa orang Yahudi dengan jiwa kaum ‘goyyim’, bahwasanya hanyalah jiwa orang Yahudi yang di dalamnya terdapat dan memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum ‘goyyim’, Zalman selanjutnya menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih inferior. Jiwa mereka sepenuhnya jahat, tanpa mungkin diselamatkan dengan cara apa pun.”
Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’ menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya penyakit dalam jiwa mereka. Dzat darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat penuh dengan “sampah” rohani. Itulah sebabnya mengapa jumlah mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah lebih banyak daripada berasnya. Semua kaum Yahudi secara hakiki baik, dan semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki jahat.
“Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang dinyatakan secara hakiki jahat dan dari segi kerohanian maupun biologis lebih inferior dari kaum Yahudi, belum pernah diralat dalam ajaran Habad masa kini”.[16]

Syari’at Yahudi Menuntut bahwa Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati

Para ulama Taurat menetapkan, bahwa, “Taurat mewajibkan bahwa ummat yang benar akan mendapatkan tempatnya di Hari Kemudian. Tetapi, tidak semua kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun mereka taat dan berlaku shaleh menurut agama mereka … Dan meskipun kaum Kristen pada umumnya menerima Kitab Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari Tuhan, namun mereka (disebabkan adanya kepercayaan pada apa yang disebut mereka ketuhanan pada Jesus) sebenarnya kaum Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu patut dihukum mati, dan mereka kaum Kristen itu sudah dipastikan tidak akan memperoleh ampunan di Hari Kemudian.”

Takhayul Kaum Yahudi

Bukanlah mengada-ada bila edisi Talmud Babilonia dipandang sebagai kitab suci Yahudi yang paling otoritatif. Karena orang Kristen terperdaya oleh para pengkhotbah Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta fatwa kepada rabbi Yahudi sebagai “nara sumber yang shahih” untuk mendapatkan keterangan bila berkaitan dengan kitab Perjanjian Lama, yang tanpa mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal).
Yudaisme adalah agama kaum Farisi dan para pendeta Babilonia, yang menjadi sumber ajaran Talmud dan Qabala, yang di kemudian hari membentuk agama Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti ‘Kabbalah’, isinya penuh dengan ajaran tentang astrologi, ramal-meramal, gematria, nekromansi (sihir), dan demonologi (ilmu hitam).
Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia cukup mengangkat seekor ayam, membaca mantera untuk keperluan itu, dan mengibas-kibaskannya di atas kepalanya untuk memindahkan dosa- dosanya kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai hal ini tidak lain adalah takhayul dalam arti yang sebenar-benarnya. Selanjutnya lambang Israel yang mereka sebut sebagai “bintang Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Daud a.s. Bintang itu adalah hexagram (bersudut enam) supranatural yang melambangkan yantra dari androgen (kelenjar yang memberikan karakteristik pada kaum laki-Iaki), yang dihubungkan dengan para Khazar Bohemia pada abad ke-14.
Penyesatan publik dengan penggunaan nama “negara Israel” yang didirikan pada tahun 1948, merupakan buah hasil persekongkolan antara kaum Bolshevik-Yahudi dengan kaum Zionis yang atheis; nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kelanjutan kerajaan Nabi Daud, tetapi dikukuhkan melalui pcngakuan pertama di PBB yang diberikan oleh diktator komunis Uni Sovyet Joseph Stalin).
Kaum Kristen akan lebih terbuka matanya bila berkunjung ke komunitas Yahudi Hasidik menonton acara ‘Purim’, dimana sebuah patung serupa Halloween meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara ‘Purim’ itu merujuk kepada Kitab Esther yang disebutkan sebagai nash dasarnya, dalam prakteknya upacara ‘Purim’ tidak lain adalah sebuah tradisi kaum kafir Bacchan.[17]
Para rabbi orthodoks menggunakan kutukan, mantra, imej, dan sebagainya, yang mereka anggap lebih besar kuasanya dari kuasa Tuhan. Kesesatan itu mereka ambil dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaurn Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat menyaksikan ulangan perilaku paganisme Babilonia kuno setiap kali mereka mengamati ritual para rabbi agama Yudaisme.[18]
Dengan mengetahui ajaran Talmud yang menjadi dasar konstitusi prinsip, dan arah kebijakan negara dan pemerintah Israel, mudah dipahami mengapa negara Israel sangat arogan dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman.
Referensi :
  1. Loos Baudoin, “An Interview of Illan Pappe”
  2. Jewish Press, 9 Juni 1989, h.56B.
  3. Program CBS 60 Menit “Kahane”.
  4. The New York Daily News, 26 Februari 1994, h.5.
  5. The New York Times, 6 Juni 1989, h.5.
  6. The New York Daily News, 28 Februari 1994, h.6.
  7. The Heshronot Ha”shas’, Cracow, 1894.
  8. Aryeh Kaplan, ed., ‘Maimonides’ Priciples’, Union of Orthodox Jewish Congregation of America, h.3.
  9. Maimonides, Mishnah Torah’, Moznaim Publishing Corporation, Brooklyn, New York, 1990, Chapter 10, English version, h.184.
  10. Ibid., Chapter 10, h.184.
  11. Herbert Danby, translator, ‘The Code of Maimonides’, vo1.10, Yale University Press, New Haven, 1954, h. 8-9.
  12. Judaism on Trial’, h.26.
  13. Judaism on Trial’, h.28.
  14. Tikkun, ‘Bimonthly Jewish Critique, edisi May-June, 1994.
  15. William Popper, ‘The Censorship of Hebrew Book’, h.59.
  16. The New Republic’, Edisi 4 May 1992; juga Roman A.Foxbrunner, ‘Habad: The Hasidism of Shneur Zalman of Lyadi’, Jason Aronson, Inc., Northvale, New Jersey, 1993, h. 108-109.
  17. “Kepercayaan takhayul perayaan itu diwarisi dari nenek-moyang orang Yahudi’” Canadian Jewish News edisi November 16, 1989, h.58
  18. Israeli Mcchon-Mamre Website, August 7, 1999; Hayyim Vital St., Jerusalem, (Mechon-Mamre adalah kelompok kecil sarjana Taurat di Israel cf. Indra Adil dan Bambang E.Budhiyono, eds., ‘Skenario Besar Penghancuran Bangsa-bangsa’, Mimeograf, barani.net, Jakarta, Desember 2000).
 Sumber:  sep2sip.blogspot.com
http://www.akhirzaman.info/yahudi/talmud/2202-qbuku-hitamq-yahudi-kitab-talmud.html

The Truth about the Talmud

A Documented Exposé of Jewish racist Hate Literature
http://radioislam.org/islam/english/toread/talmud2.htm
By Michael Hoffman, foremost scholar of Judaism in the English-speaking world

Copyright ©2000-2006 by Michael A. Hoffman II All Rights Reserved


Introduction

The Talmud is Judaism's holiest book (actually a collection of books). Its authority takes precedence over the Old Testament in Judaism. Evidence of this may be found in the Talmud itself, Erubin 21b (Soncino edition): "My son, be more careful in the observance of the words of the Scribes than in the words of the Torah (Old Testament)."
The supremacy of the Talmud over the Bible in the Israeli state may also be seen in the case of the black Ethiopian Jews. Ethiopians are very knowledgeable of the Old Testament. However, their religion is so ancient it pre-dates the Scribes' Talmud, of which the Ethiopians have no knowledge. According to the N.Y. Times of Sept. 29, 1992, p.4:
"The problem is that Ethiopian Jewish tradition goes no further than the Bible or Torah; the later Talmud and other commentaries that form the basis of modern traditions never came their way."
Because they are not traffickers in Talmudic tradition, the black Ethiopian Jews are discriminated against and have been forbidden by the Zionists to perform marriages, funerals and other services in the Israeli state.
Rabbi Joseph D. Soloveitchik is regarded as one of the most influential rabbis of the 20th century, the "unchallenged leader" of Orthodox Judaism and the top international authority on halakha (Jewish religious law). Soloveitchik was responsible for instructing and ordaining more than 2,000 rabbis, "an entire generation" of Jewish leadership.
N.Y. Times religion reporter Ari Goldman described the basis of the rabbi's authority:
"Soloveitchik came from a long line of distinguished Talmudic scholars...Until his early 20s, he devoted himself almost exclusively to the study of the Talmud...He came to Yeshiva University's Elchanan Theological Seminary where he remained the pre-eminent teacher in the Talmud...He held the title of Leib Merkin professor of Talmud...sitting with his feet crossed in front of a table bearing an open volume of the Talmud." (N.Y. Times, April 10, 1993, p. 38).
Nowhere does Goldman refer to Soloveitchik's knowledge of the Bible as the basis for being one of the leading authorities on Jewish law.
The rabbi's credentials are all predicated upon his mastery of the Talmud. Other studies are clearly secondary. Britain's Jewish Chronicle of March 26, 1993 states that in religious school (yeshiva), Jews are "devoted to the Talmud to the exclusion of everything else."
 
The Talmud Nullifies the Bible
The Jewish Scribes claim the Talmud is partly a collection of traditions Moses gave them in oral form. These had not yet been written down in Jesus' time. Christ condemned the traditions of the Mishnah (early Talmud) and those who taught it (Scribes and Pharisees), because the Talmud nullifies the teachings of the Holy Bible.
Shmuel Safrai in The Literature of the Sages Part One (p.164), points out that in chapters 4 and 5 of the Talmud's Gittin Tractate, the Talmud nullifies the Biblical teaching concerning money-lending: "Hillel decreed the prozbul for the betterment of the world. The prozbul is a legal fiction which allows debts to be collected after the Sabbatical year and it was Hillel's intention thereby to overcome the fear that money-lenders had of losing their money."
The famous warning of Jesus Christ about the tradition of men that voids Scripture (Mark 7:1-13), is in fact, a direct reference to the Talmud, or more specifically, the forerunner of the first part of it, the Mishnah, which existed in oral form during Christ's lifetime, before being committed to writing. Mark chapter 7, from verse one through thirteen, represents Our Lord's pointed condemnation of the Mishnah.
Unfortunately, due to the abysmal ignorance of our day, the widespread "Judeo-Christian" notion is that the Old Testament is the supreme book of Judaism. But this is not so. The Pharisees teach for doctrine the commandments of rabbis, not God.
The Talmudic commentary on the Bible is their supreme law, and not the Bible itself. That commentary does indeed, as Jesus said, void the laws of God, not uphold them. As students of the Talmud, we know this to be true.
Jewish scholar Hyam Maccoby, in Judaism on Trial, quotes Rabbi Yehiel ben Joseph: "Further, without the Talmud, we would not be able to understand passages in the Bible...God has handed this authority to the sages and tradition is a necessity as well as scripture. The Sages also made enactments of their own...anyone who does not study the Talmud cannot understand Scripture."
There is a tiny Jewish sect which makes considerable effort to eschew Talmud and adhere to the Old Testament alone. These are the Karaites, a group which, historically, has been most hated and severely persecuted by orthodox Jewish rabbinate.
To the Mishnah the rabbis later added the Gemara (rabbinical commentaries). Together these comprise the Talmud. There are two versions, the Jerusalem Talmud and the Babylonian Talmud.
The Babylonian Talmud is regarded as the authoritative version: "The authority of the Babylonian Talmud is also greater than that of the Jerusalem Talmud. In cases of doubt the former is decisive." (R.C. Musaph-Andriesse, From Torah to Kabbalah: A Basic Introduction to the Writings of Judaism, p. 40).
This study is based on the Jewish-authorized Babylonian Talmud. We have published herein the authenticated sayings of the Jewish Talmud. Look them up for yourself.
We publish the following irrefutable documentation in the hope of liberating all people, including Jewish people, from the corrosive delusions and racism of this Talmudic hate literature, which is the manual of Orthodox and Hasidic Jews the world over.
The implementation by Jewish supremacists of Talmudic hate literature has caused untold suffering throughout history and now, in occupied Palestine, it is used as a justification for the mass murder of Palestinian civilians. The Talmud specifically defines all who are not Jews as non-human animals.

Some Teachings of the Jewish Talmud

Where a Jew Should Do Evil
Moed Kattan 17a: If a Jew is tempted to do evil he should go to a city where he is not known and do the evil there.
 
Penalty for Disobeying Rabbis
Erubin 21b. Whosoever disobeys the rabbis deserves death and will be punished by being boiled in hot excrement in hell.
 
Hitting a Jew is the same as hitting God
Sanhedrin 58b. If a heathen (gentile) hits a Jew, the gentile must be killed.
 
O.K. to Cheat Non-Jews
Sanhedrin 57a . A Jew need not pay a gentile ("Cuthean") the wages owed him for work.
 
Jews Have Superior Legal Status
Baba Kamma 37b. "If an ox of an Israelite gores an ox of a Canaanite there is no liability; but if an ox of a Canaanite gores an ox of an Israelite...the payment is to be in full."
 
Jews May Steal from Non-Jews
Baba Mezia 24a . If a Jew finds an object lost by a gentile ("heathen") it does not have to be returned. (Affirmed also in Baba Kamma 113b). Sanhedrin 76a. God will not spare a Jew who "marries his daughter to an old man or takes a wife for his infant son or returns a lost article to a Cuthean..."
 
Jews May Rob and Kill Non-Jews
Sanhedrin 57a . When a Jew murders a gentile ("Cuthean"), there will be no death penalty. What a Jew steals from a gentile he may keep.
Baba Kamma 37b. The gentiles are outside the protection of the law and God has "exposed their money to Israel."
 
Jews May Lie to Non-Jews
Baba Kamma 113a. Jews may use lies ("subterfuges") to circumvent a Gentile.
 
Non-Jewish Children are Sub-Human
Yebamoth 98a. All gentile children are animals.
Abodah Zarah 36b. Gentile girls are in a state of niddah (filth) from birth.
Abodah Zarah 22a-22b . Gentiles prefer sex with cows.
 
Insults Against Blessed Mary
Sanhedrin 106a . Says Jesus' mother was a whore: "She who was the descendant of princes and governors played the harlot with carpenters." Also in footnote #2 to Shabbath 104b of the Soncino edition, it is stated that in the "uncensored" text of the Talmud it is written that Jesus mother, "Miriam the hairdresser," had sex with many men.

Gloats over Christ Dying Young
A passage from Sanhedrin 106 gloats over the early age at which Jesus died: "Hast thou heard how old Balaam (Jesus) was?--He replied: It is not actually stated but since it is written, Bloody and deceitful men shall not live out half their days it follows that he was thirty-three or thirty-four years old."

Jesus in the Talmud:
Horrible Blasphemies Against Jesus Christ
While it is the standard disinformation practice of apologists for the Talmud to deny that it contains any scurrilous references to Jesus Christ, certain Orthodox Jewish organizations are more forthcoming and admit that the Talmud not only mentions Jesus but disparages him (as a sorcerer and a demented sex freak). These orthodox Jewish organizations make this admission perhaps out of the belief that Jewish supremacy is so well-established in the modern world that they need not concern themselves with adverse reactions.
For example, on the website of the Orthodox Jewish Hasidic Lubavitch group--one of the largest in the world--we find the following statement, complete with Talmudic citations:
"The Talmud (Babylonian edition) records other sins of 'Jesus the Nazarene':
1) He and his disciples practiced sorcery and black magic, led Jews astray into idolatry, and were sponsored by foreign, gentile powers for the purpose of subverting Jewish worship (Sanhedrin 43a).
2) He was sexually immoral, worshipped statues of stone (a brick is mentioned), was cut off from the Jewish people for his wickedness, and refused to repent (Sanhedrin 107b; Sotah 47a).
3) He learned witchcraft in Egypt and, to perform miracles, used procedures that involved cutting his flesh, which is also explicitly banned in the Bible (Shabbos 104b).
End quote from http://www.noahide.com/yeshu.htm (Lubavitch website) June 20, 2000.
[Note: we have printed and preserved in our files a hard copy of this statement from the Lubavitch"Noah's Covenant Website," as it appeared on their website at http://www.noahide.com on June 20, 2000, in the event that denials are later issued and the statement itself suppressed].
Let us examine further some of these anti-Christ Talmud passages:
Gittin 57a. Says Jesus is in hell, being boiled in "hot excrement."
Sanhedrin 43a. Says Jesus ("Yeshu" and in Soncino footnote #6, Yeshu "the Nazarene") was executed because he practiced sorcery: "It is taught that on the eve of Passover Jesus was hung, and forty days before this the proclamation was made: Jesus is to be stoned to death because he has practiced sorcery and has lured the people to idolatry...He was an enticer and of such thou shalt not pity or condone."
Kallah 51a."The elders were once sitting in the gate when two young lads passed by; one covered his head and the other uncovered his head. Of him who uncovered his head Rabbi Eliezer remarked that he is a bastard. Rabbi Joshua remarked that he is the son of a niddah (a child conceived during a woman's menstrual period). Rabbi Akiba said that he is both a bastard and a son of a niddah.
"They said, 'What induced you to contradict the opinion of your colleagues?' He replied, "I will prove it concerning him." He went to the lad's mother and found her sitting in the market selling beans.
"He said to her, 'My daughter, if you will answer the question I will put to you, I will bring you to the world to come.' (eternal life). She said to him, 'Swear it to me.'
"Rabbi Akiba, taking the oath with his lips but annulling it in his heart, said to her, 'What is the status of your son?' She replied, 'When I entered the bridal chamber I was niddah (menstruating) and my husband kept away from me; but my best man had intercourse with me and this son was born to me.' Consequently the child was both a bastard and the son of a niddah.
"It was declared, '..Blessed be the God of Israel Who Revealed His Secret to Rabbi Akiba..."
In addition to the theme that God rewards clever liars, the preceding Talmud discussion is actually about Jesus Christ (the bastard boy who "uncovered his head" and was conceived in the filth of menstruation). The boy's adulterous mother in this Talmud story is the mother of Christ, Blessed Mary (called Miriam and sometimes, Miriam the hairdresser, in the Talmud).
"The Editio Princeps of the complete Code of Talmudic Law, Maimonides' Mishneh Torah -- replete not only with the most offensive precepts against all Gentiles but also with explicit attacks on Christianity and on Jesus (after whose name the author adds piously, 'May the name of the wicked perish')... --Dr. Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion, p. 21.
"The Talmud contains a few explicit references to Jesus...These references are certainly not complimentary...There seems little doubt that the account of the execution of Jesus on the eve of Passover does refer to the Christian Jesus...The passage in which Jesus' punishment in hell is described also seems to refer to the Christian Jesus. It is a piece of anti-Christian polemic dating from the post-70 CE period..." --Hyam Maccoby, Judaism on Trial, pp. 26-27.
"According to the Talmud, Jesus was executed by a proper rabbinical court for idolatry, inciting other Jews to idolatry, and contempt of rabbinical authority. All classical Jewish sources which mention his execution are quite happy to take responsibility for it; in the talmudic account the Romans are not even mentioned.
"The more popular accounts--which were nevertheless taken quite seriously--such as the notorious Toldot Yeshu are even worse, for in addition to the above crimes they accuse him of witchcraft. The very name 'Jesus' was for Jews a symbol of all that is abominable and this popular tradition still persists...
"The Hebrew form of the name Jesus--Yeshu--was interpreted as an acronym for the curse, 'may his name and memory be wiped out,' which is used as an extreme form of abuse. In fact, anti-zionist Orthodox Jews (such as Neturey Qarta) sometimes refer to Herzl as 'Herzl Jesus' and I have found in religious zionist writings expressions such as "Nasser Jesus" and more recently 'Arafat Jesus." --Dr. Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion, pp. 97- 98, 118.
 
Talmud Attacks Christians and Christian Books
Rosh Hashanah 17a. Christians (minnim) and others who reject the Talmud will go to hell and be punished there for all generations.
Sanhedrin 90a. Those who read the New Testament ("uncanonical books") will have no portion in the world to come.
Shabbath 116a. Jews must destroy the books of the Christians, i.e. the New Testament.
Dr. Israel Shahak of Hebrew University reports that the Israelis burned hundreds of New Testament Bibles in occupied Palestine on March 23, 1980 (cf. Jewish History, Jewish Religion, p. 21).

Sick and Insane Teachings of the Talmud
Gittin 69a . To heal his flesh a Jew should take dust that lies within the shadow of an outdoor toilet, mix with honey and eat it.
Shabbath 41a. The law regulating the rule for how to urinate in a holy way is given.
Yebamoth 63a. States that Adam had sexual intercourse with all the animals in the Garden of Eden.
Yebamoth 63a. Declares that agriculture is the lowest of occupations.
Sanhedrin 55b. A Jew may marry a three year old girl (specifically, three years "and a day" old).
Sanhedrin 54b. A Jew may have sex with a child as long as the child is less than nine years old.
Kethuboth 11b. "When a grown-up man has intercourse with a little girl it is nothing."
Yebamoth 59b. A woman who had intercourse with a beast is eligible to marry a Jewish priest. A woman who has sex with a demon is also eligible to marry a Jewish priest.
Abodah Zarah 17a. States that there is not a whore in the world that the Talmudic sage Rabbi Eleazar has not had sex with. On one of his whorehouse romps, Rabbi Eleazar leanred that there was one particular prostitute residing in a whorehouse near the sea, who would receive a bag of money for her services. He took a bag of money and went to her, crossing seven rivers to do so. During their intercourse the prostitute farted. After this the whore told Rabbi Eleazar: "Just as this gas will never return to my anus, Rabbi Eleazar will never get to heaven."
Hagigah 27a. States that no rabbi can ever go to hell.
Baba Mezia 59b. A rabbi debates God and defeats Him. God admits the rabbi won the debate.
Gittin 70a. The Rabbis taught: "On coming from a privy (outdoor toilet) a man should not have sexual intercourse till he has waited long enough to walk half a mile, because the demon of the privy is with him for that time; if he does, his children will be epileptic."
Gittin 69b. To heal the disease of pleurisy ("catarrh") a Jew should "take the excrement of a white dog and knead it with balsam, but if he can possibly avoid it he should not eat the dog's excrement as it loosens the limbs."
Pesahim 111a. It is forbidden for dogs, women or palm trees to pass between two men, nor may others walk between dogs, women or palm trees. Special dangers are involved if the women are menstruating or sitting at a crossroads.
Menahoth 43b-44a. A Jewish man is obligated to say the following prayer every day: Thank you God for not making me a gentile, a woman or a slave.

Tall Tales of a Roman Holocaust
Here are two early "Holocaust" tales from the Talmud: Gittin 57b. Claims that four billion Jews were killed by the Romans in the city of Bethar. Gittin 58a claims that 16 million Jewish children were wrapped in scrolls and burned alive by the Romans. (Ancient demography indicates that there were not 16 million Jews in the entire world at that time, much less 16 million Jewish children or four billion Jews).

A Revealing Admission
Abodah Zarah 70a. The question was asked of the rabbi whether wine stolen in Pumbeditha might be used or if it was defiled, due to the fact that the thieves might have been gentiles (a gentile touching wine would make the wine unclean). The rabbi says not to worry, that the wine is permissible for Jewish use because the majority of the thieves in Pumbeditha, the place where the wine was stolen, are Jews. (Also cf. Gemara Rosh Hashanah 25b).

Pharisaic Rituals
Erubin 21b. "Rabbi Akiba said to him, "Give me some water to wash my hands."
"It will not suffice for drinking," the other complained, "will it suffice for washing your hands?"
"What can I do?' the former replied, "when for neglecting the words of the Rabbis one deserves death? It is better that I myself should die than that I transgress against the opinion of my colleagues." [This is the ritual hand washing condemned by Jesus in Matthew 15: 1-9].
 
Genocide Advocated by the Talmud
Minor Tractates. Soferim 15, Rule 10. This is the saying of Rabbi Simon ben Yohai: Tob shebe goyyim harog ("Even the best of the gentiles should all be killed").
This passage is from the original Hebrew of the Babylonian Talmud as quoted by the 1907 Jewish Encyclopedia, published by Funk and Wagnalls and compiled by Isidore Singer, under the entry, "Gentile," (p. 617).
This original Talmud passage has been concealed in translation. The Jewish Encyclopedia states that, "...in the various versions the reading has been altered, 'The best among the Egyptians' being generally substituted." In the Soncino version: "the best of the heathens" (Minor Tractates, Soferim 41a-b].
Israelis annually take part in a national pilgrimage to the grave of Simon ben Yohai, to honor this rabbi who advocated the extermination of non-Jews. (Jewish Press, June 9, 1989, p. 56B).
On Purim, Feb. 25, 1994, Israeli army officer Baruch Goldstein, an orthodox Jew from Brooklyn, massacred 40 Palestinian civilians, including children, while they knelt in prayer in a mosque. Goldstein was a disciple of the late Brooklyn Rabbi Meir Kahane, who told CBS News that his teaching that Arabs are "dogs" is derived "from the Talmud." (CBS 60 Minutes, "Kahane").
University of Jerusalem Prof. Ehud Sprinzak described Kahane and Goldstein's philosophy: "They believe it's God's will that they commit violence against goyim, a Hebrew term for non-Jews." (NY Daily News, Feb. 26, 1994, p. 5).
Rabbi Yitzhak Ginsburg declared, "We have to recognize that Jewish blood and the blood of a goy are not the same thing." (NY Times, June 6, 1989, p.5).
Rabbi Yaacov Perrin said, "One million Arabs are not worth a Jewish fingernail." (NY Daily News, Feb. 28, 1994, p.6).

Talmudic Doctrine: Non-Jews are not Human
The Talmud specifically defines all who are not Jews as non-human animals, and specifically dehumanizes Gentiles as not being descendants of Adam. Here are some of the Talmud passages which relate to this topic.
Kerithoth 6b: Uses of Oil of Anointing. "Our Rabbis have taught: He who pours the oil of anointing over cattle or vessels is not guilty; if over gentiles (goyim) or the dead, he is not guilty. The law relating to cattle and vessels is right, for it is written: "Upon the flesh of man (Adam), shall it not be poured (Exodus 30:32]); and cattle and vessels are not man (Adam).
"Also with regard to the dead, [it is plausible] that he is exempt, since after death one is called corpse and not a man (Adam). But why is one exempt in the case of gentiles (goyim); are they not in the category of man (Adam)? No, it is written: 'And ye my sheep, the sheep of my pasture, are man" (Adam); [Ezekiel 34:31]: Ye are called man (Adam) but gentiles (goyim) are not called man (Adam)."
In the preceding passage, the rabbis are discussing the portion of the Mosaic law which forbids applying the holy oil to men.
The Talmud states that it is not a sin to apply the holy oil to Gentiles, because Gentiles are not human beings (i.e. are not of Adam).
Another example from tractate Yebamoth 61a: "It was taught: And so did R. Simeon ben Yohai state (61a) that the graves of gentiles (goyim) do not impart levitical uncleanness by an ohel [standing or bending over a grave], for it is said, 'And ye my sheep the sheep of my pasture, are men (Adam), [Ezekiel 34:31]; you are called men (Adam) but the idolaters are not called men (Adam)."
The Old Testament Mosaic law states that touching a human corpse or the grave of a human imparts uncleanness to those who touch it. But the Talmud teaches that if a Jew touches the grave of a Gentile, the Jew is not rendered unclean, since Gentiles are not human (not of Adam).
From Baba Mezia 114b: ""A Jewish priest was standing in a graveyard. When asked why he was standing there in apparent violation of the Mosaic law, he replied that it was permissible, since the law only prohibits Jews from coming into contact with the graves of humans (Adamites), and he was standing in a gentile graveyard. For it has been taught by Rabbi Simon ben Yohai: 'The graves of gentiles [goyim] do not defile. For it is written, 'And ye my flock, the flock of my pastures, are men (Adam)' (Ezekiel 34:31); only ye are designated men (Adam)."
Ezekiel 34:31 is the alleged Biblical proof text repeatedly cited in the preceding three Talmud passages. But Ezekiel 34:31 does not in fact support the Talmudic notion that only Israelites are human. What these rabbinical, anti-Gentile racists and ideologues have done in asserting the preceding absurdities about Gentiles is distort an Old Testament passage in order to justify their bigotry.
In Berakoth 58a the Talmud uses Ezekiel 23:20 as proof of the sub-human status of gentiles. It also teaches that anyone (even a Jewish man) who reveals this Talmudic teaching about non-Jews deserves death, since revealing it makes Gentiles wrathful and causes the repression of Judaism.
The Talmudic citation of this scripture from Ezekiel as a "proof-text" is specious, since the passage does not prove that Gentiles are animals. The passage from Ezekiel only says that some Egyptians had large genital organs and copious emissions. This does not in any way prove or even connote that the Egyptians being referred to in the Bible were considered animals. Once again, the Talmud has falsified the Bible by means of distorted interpretation.
Other Talmud passages which expound on Ezekiel 23:20 in this racist fashion are: Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah 45a, Shabbath 150a, Yebamoth 98a. Moreover, the original text of Sanhedrin 37a applies God's approval only to the saving of Jewish lives (cf. the Hesronot Ha-shas, Cracow, 1894).

Moses Maimonides: Advocate of Extermination
We will now examine the post-Talmudic commentator Rambam (Moses Maimonides). This revered "sage" taught that Christians should be exterminated. He has the highest stature in Judaism:
"Moses Maimonides is considered the greatest codifier and philosopher in Jewish history. He is often affectionately referred to as the Rambam, after the initials of his name and title, Rabenu Moshe Ben Maimon, "Our Rabbi, Moses son of Maimon." [Maimonides' Principles, edited by Aryeh Kaplan, Union of Orthodox Jewish Congregations of America,, p. 3].
Here is what Maimonides (Rambam) taught concerning saving people's lives, especially concerning saving the lives of gentiles and Christians, or even Jews who dared to deny the "divine inspiration" of the Talmud:
Maimonides, Mishnah Torah, (Moznaim Publishing Corporation, Brooklyn, New York, 1990, Chapter 10, English Translation), p. 184: "Accordingly, if we see an idolater (gentile) being swept away or drowning in the river, we should not help him. If we see that his life is in danger, we should not save him." The Hebrew text of the Feldheim 1981 edition of Mishnah Torah states this as well.
Immediately after Maimonides' admonition that it is a duty for Jews not to save a drowning or perishing gentile, he informs us of the Talmudic duty of Jews towards Christians, and also towards Jews who deny the Talmud. Maimonides, Mishnah Torah, (Chapter 10), p. 184:
"It is a mitzvah [religious duty], however, to eradicate Jewish traitors, minnim, and apikorsim, and to cause them to descend to the pit of destruction, since they cause difficulty to the Jews and sway the people away from God, as did Jesus of Nazareth and his students, and Tzadok, Baithos, and their students. May the name of the wicked rot."
The Jewish publisher's commentary accompanying the preceding statement of Maimonides states that Jesus was an example of a min (plural: minnim).
The commentary also states that the students of Tzadok were defined as those Jews who deny the truth of the Talmud and who uphold only the written law (i.e. the Old Testament).
According to Maimonides' Principles, p. 5, Maimonides "spent twelve years extracting every decision and law from the Talmud, and arranging them all into 14 systematic volumes. The work was finally completed in 1180, and was called Mishnah Torah, or "Code of the Torah."
Maimonides taught in another part of the Mishnah Torah that gentiles are not human: "Man alone, and not vessels, can contract uncleanness by carriage. ...The corpse of a gentile, however, does not convey uncleanness by overshadowing. ...a gentile does not contract corpse uncleanness; and if a gentile touches, carries, or overshadows a corpse he is as one who did not touch it.
"To what is this like? It is like a beast which touches a corpse or overshadows it. And this applies not to corpse uncleanness only but to any other kind of uncleanness: neither gentiles nor cattle are susceptible to any uncleanness." (The Code of Maimonides, vol. 10, translated by Herbert Danby, Yale University Press, New Haven, 1954, pp. 8-9).
Maimonides, Mishneh Torah, Hilchot Rotze'ach 2:11: "A Jew who killed a righteous gentile is not executed in a court of law. It says in Exodus 21:14, 'If a man schemes against his fellow man and kills the man deliberately, take him away from the altar and put him to death.' But a gentile is not considered a man, and even more so, a Jew is not executed for killing an unrighteous gentile."

The Schindler's List Quote
The Talmud (i.e., the Babylonian Talmud) text of Sanhedrin 37a restricts the duty to save life to saving only Jewish lives.
The book on Hebrew censorship, written by Jews themselves (Hesronot Ha-shas), notes that some Talmud texts use the universalist phrase:
"Whoever destroys the life of a single human being...it is as if he had destroyed an entire world; and whoever preserves the life of a single human being ...it is as if he had preserved an entire world."
However, Hesronot Ha-shas points out that these are not the authentic words of the original Talmud.
In other words, the preceding universalist rendering is not the authentic text of the Talmud and thus, for example, this universalist version which Steven Spielberg in his famous movie, Schindler's List attributed to the Talmud (and which became the motto of the movie on posters and in advertisements), is a hoax and constitutes propaganda intended to give a humanistic gloss to a Talmud which is, in its essence, racist and chauvinist hate literature.
In the authentic, original Talmud text it states that "whoever preserves a single soul of Israel, it is as if he had preserved an entire world" (emphasis supplied). The authentic Talmud text sanctions only the saving of Jewish lives.

Jewish Deception and Dissimulation
The response of the orthodox rabbis to documentation regarding the racism and hatred in their sacred texts is simply to brazenly lie, in keeping with the Talmud's Baba Kamma 113a which states that Jews may use lies ("subterfuge") to circumvent a Gentile.
The Simon Wiesenthal Center, a multi-million dollar rabbinical propaganda center dispatched Rabbi Daniel Landes in 1995 to deny that the Talmud dehumanizes non-Jews. "This is utter rot," he said. His proof? Why, his word, of course.
Lying to "circumvent a Gentile" has a long patrimony in Judaism. Take for example the 13th century Talmud debate in Paris between Nicholas of Donin, a Jewish convert to Christianity, whom Hyam Maccoby admits had "a good knowledge of the Talmud" ("The Jews on Trial," p. 26) and Rabbi Yehiel. Yehiel was not under threat of death, bodily injury, imprisonment or fine. Yet he brazenly lied during the course of the debate.
When asked by Donin whether there were attacks on Jesus in the Talmud, Yehiel denied that there were any. Donin, a Hebrew and Aramaic scholar, knew this to be false. Hyam Maccoby, a 20th century Jewish commentator on the debate, defends Rabbi Yehiel's lying in this way:
"The question may be asked, however, whether Yehiel really believed that Jesus was not mentioned in the Talmud, or whether he put this forward as an ingenious ploy in the desperate situation in which he found himself...It would certainly have been pardonable of the rabbi to attempt some condonation in which he did not fully believe, to prevent such tyrannical proceedings by one religious culture against another." (Maccoby, "The Jews on Trial," p. 28).
This is how Jewish denial of the existence of hateful Talmud texts is justified to this day. A fanciful word for Jewish lying is conjured ("condonation") and deemed "pardonable," while any scrutiny of Jewish holy books by Christian investigators is characterized as a "tyrannical proceeding."
In 1994, Rabbi Tzvi Marx, director of Applied Education at the Shalom Hartman Institute in Jerusalem, made a remarkable admission concerning how Jewish rabbis in the past have issued two sets of texts: the authentic Talmudic texts with which they instruct their own youth in the Talmud schools (yeshiviot) and "censured and amended" versions which they disseminate to gullible non-Jews for public consumption.
Rabbi Marx states that in the version of Maimonides' teachings published for public consumption, Maimonides is made to say that whoever kills a human being transgresses the law.
But, Rabbi Marx points out "...this only reflects the censured and amended printed text, whereas the original manuscripts have it only as 'whoever kills an Israelite."(Tikkun: A Bi-Monthly Jewish Critique May-June, 1994).
The Jewish book, Hesronot Ha-shas ("that which is removed from the Talmud"), is important in this regard. (Cf. William Popper, The Censorship of Hebrew Books p. 59).
Hesronot Ha-shas was reprinted in 1989 by Sinai Publishing of Tel-Aviv. Hesronot Ha-shas is valuable because it lists both the original Talmud texts that were later changed or omitted, and the falsified texts cited for Gentile consumption as authentic.
Historian William Popper states: "It was not always that long passages...were censored...but often single words alone were omitted...Often, in these cases, another method of correction was used in place of omission--substitution." (Cf. William Popper, The Censorship of Hebrew Books pp. 58-59).
For example, the translators of the English Soncino version of the Talmud sometimes render the Hebrew word goyim (Gentiles) under any number of disguise words such as "heathen, Cuthean, Kushite, Egyptian, idolater" etc. But these are actually references to Gentiles (all non-Jews). Footnotes for certain passages in the Soncino Talmud translation state: "Cuthean (Samaritan) was here substituted for the original goy..."
The heirs of the Pharisees often deny the existence of the Talmud passages here cited, in order to brazenly claim that such passages are the "fabrications of anti-Semites."
In 1994, the 80 year old Lady Jane Birdwood was arrested and prosecuted in a criminal court in London, England for the "crime" of publishing in her pamphlet, The Longest Hatred, the truthful statement that the Talmud contains anti-Gentile and anti-Christian passages. (She was accused of violating the Public Order Act of 1986).
In the course of her Orwellian thought-crime trial, which was ignored by the U.S. media, a rabbi was called as a prosecution witness. The rabbi proceeded to flatly deny that the Talmud contained anti-Gentile or anti-Christian passages and on the basis of the rabbi's "prestige," this elderly and ailing woman was sentenced to three months in jail and fined the equivalent of $1,000.

"Judeo-Christian" Response to the Talmud
Neither the modern popes or the modern heads of Protestantism, have ever insisted that the rabbis of Judaism repudiate or condemn the racism in the Talmud or the murderous hate for Christians and gentiles expressed within it. On the contrary, the heads of Churchianity have urged the followers of Christ to obey, honor and support the followers of the Talmud. Therefore, it should be obvious that these Catholic and Protestant leaders are the worst betrayers of Jesus Christ on earth today. (Cf. Matthew 23:13-15; I Thess. 2:14-16; Titus 1:14; Luke 3:8-9; Rev. 3:9).

Non-Jews are "Supernal Refuse"
Moreover, not only Christians but non-Christians of all races are regarded as "supernal refuse" (garbage) by Talmud teachers such as the founder of Habad-Lubavitch, Rabbi Shneur Zalman.
This was analyzed in the Jewish magazine, New Republic: "...there are some powerful ironies in Habad's new messianic universalism, in its mission to the gentiles; and surely the most unpleasant of them concerns Habad's otherwise undisguised and even racial contempt for the goyim.
"...medieval Jewish theologians--most notably the poet and philosopher Judah Ha-Levi in twelfth-century Spain and the mystic Judah Loewe in sixteenth-century Prague--sought to define the Jewish distinction racially rather than spiritually...this...view, according to which there is something innately superior about the Jews, was rehabilitated in its most extreme form by Shneur Zalman of Lyady. The founder of Lubavitcher Hasidism taught that there is a difference of essence between the souls of Jews and the souls of gentiles, that only in the Jewish soul does there reside a spark of divine vitality.
"As for the goyim...Zalman's attitude (was): 'Gentile souls are of a completely different and inferior order. They are totally evil, with no redeeming qualities whatsoever.'
"Consequently, references to gentiles in Rabbi Shneur Zalman's teachings are invariably invidious. Their (non-Jews) material abundance derives from supernal refuse. Indeed, they themselves derive from refuse, which is why they are more numerous than the Jews, as the pieces of chaff outnumber the kernels...All Jews were innately good, all gentiles innately evil.
"...Moreover, this characterization of gentiles as being inherently evil, as being spiritually as well as biologically inferior to Jews, has not in any way been revised in later Habad writing." --The New Republic, May 4, 1992. Also cf. Roman A. Foxbrunner, Habad: The Hasidism of Shneur Zalman of Lyady (Northvale, New Jersey, Jason Aronson, Inc., 1993) pp. 108-109.

U.S. Government Lays Groundwork for Talmudic Courts
"Our" government under Presidents Reagan, Bush and Clinton, has provided, under the euphemism of education (for example, House Joint Resolution 173 and Public Law 102-14), a groundwork for the establishment of Talmudic "courts of justice" to be administered by disciples of Shneur Zalman's Chabad successor, Rabbi Menachem Mendel Schneerson.
Maimonides ruled that it is a Jewish court -- or a court appointed by Jewish authority --that enforces obedience and passes judgment on Gentiles, as well as promulgating legislation by court order for that purpose. Maimonides further decreed that any non-Jewish nation "not subject to our jurisdiction" (tahaht yadeinu) will be the target of Jewish holy war. (Cf. Hilkhot Melakhim 8:9-10; 10:11. Also cf. Gerald J. Blidstein, "Holy War in Maimonidean Law," in Perspectives on Maimonides [Oxford, England: Oxford Univ. Press, 1991].
These courts are to be convened allegedly under the "Noahide Laws" (proscriptions against idolatry supposedly based on the covenant with Noah). The U.S. presidents and Congress urged the adoption of the "Noahide" Laws as interpreted by Chabad-Lubavitch Grand Rabbi Schneerson.
Prof. Easterly of the Southern University Law Center, a Jewish legal expert, has compared this Public law 102-14 to the "first rays of dawn" which "evidence the rising of a still unseen sun."
The Jewish Encyclopedia envisages a Noahide regime as a possible world order immediately preceding the universal reign of the Talmud.
It has to be understood that we are not dealing with the Noah of the Bible when the religion of Judaism refers to "Noahide law," but the Noahide law as understood and interpreted by the absolute system of falsification that constitutes the Talmud.
Under the Talmud's counterfeit Noahide Laws, the worship of Jesus is forbidden under penalty of death, since such worship of Christ is condemned by Judaism as idolatry. Meanwhile various forms of incest are permitted under the Talmudic understanding of the Noahide code. (Enziklopediya Talmudit, note 1, pp. 351-352).
Furthermore, all non-Jews would have the legal status of ger toshav ("resident alien," cf. Alan Unterman, Dictionary of Jewish Lore and Legend [London: Thames and Hudson, 1991], p. 148), even in their own land; as for example in occupied Palestine where newly arrived Khazars from Russia have an automatic right to housing and citizenship, while two million Palestinian refugees who either fled or were expelled by the Israelis, are forbidden the right of return.
Resident alien status has been clearly delineated in scholarly articles in leading Jewish publications. For example, Hebrew University Professor Mordechai Nisan, basing his exposition on Maimonides, stated that a non-Jew permitted to reside in a land ruled by Jewish law "must accept paying a tax and suffering the humiliation of servitude."
If Gentiles refuse to live a life of inferiority, then this signals their rebellion and the unavoidable necessity of Jewish warfare against their very presence. [Cf. Mordechai Nisan, Kivunim (official publication of the World Zionist Organization), August, 1984, pp. 151-156].
At a symposium ("Is Autonomy for Resident Aliens Feasible?") organized by Israeli Minister of Education Shulamit Aloni, the Israeli Chief Rabbi Shlomo Goren repeated the Talmudic teaching on resident aliens: that Judaism forbids "granting any national rights" to them. He ruled that such "Autonomy is tantamount to a denial of the Jewish religion." (Nadav Shraggai, Ha'aretz, Oct. 14, 1992).
American taxpayers' subsidy of the so-called "U.S. Holocaust Museum" in Washington, D.C., is yet another indicator of the gradual establishment of a Jewish state religion in the U.S. This "Holocaust museum" excludes any reference to holocausts perpetrated by Jewish Communists against Christians in Russia and Eastern Europe, from 1917 onward.
The focus of the museum is almost entirely on Jewish suffering. Holocausts perpetrated by Israelis against Arabs in Lebanon and Palestine since 1948 are nowhere to be found in the exhibits of the U.S. "Holocaust Museum," which functions more like a synagogue than a repository of objective historical information.
It is through the rapid emergence of this ostensibly secular but all-pervasive "Holocaustianity" -- whereby the religion of Judaism is gaining enormous power and influence as mankind's supreme ethos and the creed of God's Holy People.

Jewish Law Requires Christians be Executed
Israeli "Torah scholars" have ruled that:
"The Torah maintains that the righteous of all nations have a place in the World to Come. But not all religious Gentiles earn eternal life by virtue of observing their religion...And while the Christians do generally accept the Hebrew Bible as truly from God, many of them (those who accept the so-called divinity of Jesus) are idolaters according to the Torah, punishable by death, and certainly will not enjoy the World to Come."
--Israeli Mechon-Mamre website, June 26, 2000; 12 Hayyim Vital St., Jerusalem, Occupied Palestine. ("Mechon Mamre is a small group of Torah scholars in Israel...").
[Note: we have printed and preserved in our files a hard copy of this statement from the Israeli "Mechon-Mamre Torah Scholars," as it appeared on their website at http://www.mechon-mamre.org/jewfaq/gentiles.htm on June 26, 2000, in the event that denials are later issued and the statement itself suppressed].
 
Jewish Superstitions
It is not for nothing that the authoritative edition of the Talmud is known as the Babylonian Talmud. As Christians misled by their Judaizing preachers and popes are increasingly consulting Jewish rabbinical sources for a "pure" understanding of the Old Testament, they are unknowingly consulting the occult.
Judaism is the religion of the Pharisees and the patrimony of Babylon, from whence the Talmudic and Kabbalistic traditions of Judaism ultimately derive. Orthodox Judaism's other sacred book, the Kabbalah, is filled with astrological teachings, fortune-telling, gematria, necromancy and demonology.
The photograph on the cover of this publication's hard copy version shows an orthodox Jew performing a ritual to transfer his sins to the chicken he is waving over his head. This is pernicious superstition.
Furthermore, the Israeli "Star of David," is actually nothing of the kind, but rather an occult hexagram, a yantra of the androgyne, which became associated with the Khazars in 14th century Bohemia. (The misnamed "state of Israel" was founded in 1948 in an alliance between Jewish Communists and atheistic Zionists, with crucial U.N. recognition provided by Soviet Communist dictator Joseph Stalin).
Christians might find it eye-opening to visit a Hasidic Jewish area during "Purim" and observe the grotesque, Halloween-like cavorting. Though the Purim festival uses the Book of Esther as its supposed proof-text, in practice the Jewish celebration of Purim is little more than a Bacchanal (cf. "Superstitions said legacy from Jewish ancestors," Canadian Jewish News, Nov. 16, 1989, p. 58).
Orthodox rabbis place curses, cast spells and imagine they have powers greater than God, derived from their study of the Sefer Yezriah, (a book of Kabbalistic magic). Christians are trafficking in Babylonian paganism when they defer to the rabbis of Judaism.
 
Sodomy in the synagogue
From a report published in the Hebrew language Israeli newspaper Ha'aretz
"...for many years, (Talmud scribe) Yaakov Yitzhak Brizel...sodomized ultra-Orthodox boys. The greatest rabbis knew - and did nothing... "At the age of 11, Moisheleh, the strongest fellow in the talmud torah (school for ultra-Orthodox boys), went up to Shaiya Brizel and said to him: 'Kid, I want you know that your father is not the holy man you think he is. He is a homo.' ...Brizel was a scion of the Brizel family, which founded ...the mysterious organization that imposes moral order on the ultra-Orthodox ghetto...
"Had the father, Yaakov Yitzhak Brizel ...contented himself with homosexual relations with adults, it is reasonable to suppose that we would never have heard his son's story.
"However, in his book, The Silence of the Ultra-Orthodox, published a few weeks ago, the son claims that for decades his father ...sodomized yeshiva students. He committed the act in empty synagogues during the hours between prayers and in other places.
"The greatest of the ultra-Orthodox rabbis...like Rabbi Landau and the halachic sage Shmuel Halevi Hausner of Bnei Brak, knew and kept silent. The father was a Hasid heart and soul, and went to a number of rebbes.... the twin brother of the rebbe from Rehovot, the Rebbe of Kretschnif in Kiryat Gat, was happy to accept the father among his followers. Ultimately, claims Brizel, it was not easy for the Rebbe from Kiryat Gat to be picky when he could win such a respected adherent.
"...The proud father with the look of an honored rebbe, who observed all the commandments from the slightest to the most important, used to pray at a certain yeshiva with the young boys. There, claims Shaiya Brizel, he hunted his victims. When the head of the yeshiva discovered the true reason that the respected Torah scribe was praying fervently at his yeshiva, he did not contact the police...
"Before the publication of his book, Shaiya Brizel met with the yeshiva head. 'You are right that we covered up for him,' admitted the man. 'I and a few other rabbis...I was busy trying to calm things down and hushing up the affair so that it would not get publicized.'
"(The son) published the book using real names. His entire family and almost all the rabbis appear under their own names. Only the names of some of the localities and the head of the yeshiva are disguised. To protect himself from a legal point of view, Brizel held a series of conversations with members of his family and rabbis, in which he demanded explanations of why they had covered up for his father's misbehavior. He secretly recorded all these conversations, even with his mother.
"If I had written without the names it would have been fiction and this certainly did not suit me," he explained. 'I wanted things to change, for ultra-Orthodox society to know that it can attempt to hide things and be hidden, but even if it takes 30 years, a Golem will always rise up against its creator and reveal everything. In this case, I was the Golem.'
"When Rachel Brizel, the daughter of a good Bnei Brak family, married an arranged match from the glorious Brizel family, she had no idea that she was destroying her own life. After six months, she caught her husband having sex with another man. In that case, at least it was with an adult.
"Shaiya Brizel relates that some of the boys with whom his father had relations sent letters of complaint to their own fathers; in the discreet ultra-Orthodox society they had no one else to whom they could complain.

Shaiya Brizel: author of a book telling of sodomy in the synagogue

"When she read these letters, my mother went out of her mind,' writes Brizel. 'Every such letter made her want to demand a divorce. Again and again batteries of mediators, the Brizel rabbis, would show up, whose job it was to calm her down so that, heaven forbid, she would not destroy the good name of the Brizel family.
"They could live with the fact that one of their own had raped minors, but for them divorce was an impossible situation.'
"...Twice, once during prayers in a synagogue, and once during a Gemara (Talmud) study hour at Rabbi Eliezer Shach's Ponevezh Yeshiva, ultra-Orthodox men who were strangers to him touched his sexual organ, presumably on the assumption that he followed in his father's footsteps. The first time, he made a fuss, only to discover that the only thing that interested the people there was to hush the whole thing up. The second time, he made do with a whispered warning to the man.
"Shaiya Brizel is now 36 and the father of three; he works as an accountant.
"His father, 65, was forced to leave home several years ago and return to his elderly parents' apartment. Shaiya wrote this book after a suicide attempt in June.
'For all those years I was half dead. For the past five years I have been getting psychological treatment. During my talks with the psychologist I decided that I was going to spew out all this ugliness in the form of a book.'
"He took into account that there would be violent reactions to the book...which only came out a few weeks ago...Brizel suffers from a serious heart defect, which could cause his death. As a way of protecting himself, he has deposited a letter with three lawyers that contains serious allegations about the Eda Haredit, and he has informed the relevant people.
"Recently, he has moved to a new apartment, and he lives in the National Religious sector of a mixed community of National Religious and ultra-Orthodox families. Naturally, he started praying at the only Hasidic synagogue in the settlement. After the book came out, associates of the local rebbe (rabbi) informed him that he was persona non grata.
"Ironically, this same rebbe had come to the area after being compelled to leave several other communities on suspicion of having sodomized his pupils. In ultra-Orthodox society, revealing that acts of sodomy have been committed is a far graver offense than committing them.
"On the day the book was published, Brizel met with the head of the Hachemei Lublin Yeshiva, Rabbi Avraham Vazner. 'He told me that publishing the book was a million times worse than what my father had done...'
"Ha'aretz has been unable to obtain a response from Rabbi Yaakov Yitzhak Brizel. At his parents' home, a woman replied: "We don't care. Shaiya is a liar and there is nothing more to be said."
"Ha'aretz also requested the Brizels' response through the Eda Haredit activist Yehuda Meshi- Zahav. By the time the article went to press, there was no response through this channel either.
"Several weeks ago the father responded to the women's magazine La'isha, saying that he would sue the publishers, which has not yet happened. It is unlikely that it will happen.
"Shaiya Brizel was ready to put off publication of the book, on condition that the family sue him in a rabbinical court, in which the affair would be aired. He has said that no one in the family was prepared to take up the challenge.
"In the conversation with La'isha, the father said that he was indeed a homosexual, 'But I have had treatment and today I am no longer like that. All this is behind me.'
"In reply to a question as to whether he had sexual relations with minors, he replied: 'Perhaps I will talk about that some other time.' He accused his son Shaiya of being 'the only one who is after me. He has destroyed my life...He wrote this only for the money. He wanted money from me...Because of him I separated from my wife.'
"Shaiya's sister, Rivka Hubert, spoke with great anger to the La'isha reporter about the fact that her brother had revealed the names of the persons involved, and declared: 'We deny everything it says in the book."
[End quote]
Source: Ha'aretz, "Israel's Leading Daily Newspaper," Shevat 25, 5760 (Feb. 1, 2000).
[...]


Copyright ©2000-2006 by Michael A. Hoffman II All Rights Reserved.
The Truth About the Talmud is copyrighted material excerpted from Michael A. Hoffman's book, "Judaism's Strange Gods."
Independent History and Research, Box 849, Coeur d'Alene, Idaho 83816




Hoffman Counters ADL's Talmud Apologia: Jesus and the Talmud: A Rejoinder

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar