Kamis, 08 Maret 2012

Umat Islam Nyatakan Perang terhadap Liberal, Biang Kemurtadan & Kebangkrutan....>>....KH. Cholil Ridwan: Liberalisme, Musuh Bersama Umat Islam..>> Pembicaraan mereka adalah seputar penolakan terhadap syari’at, menggunjing gerakan Islam anti-liberal, hingga meledek penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Hanya tawa dan olok-olok yang terdengar. Pernah terlihat, seorang lelaki memakai kaos oblong bertuliskan Jakar (Jaringan Kafir Liberal) di bagian depan. Seperti itulah suasana di beberapa komunitas liberal...>>...Banyak agenda yang mereka gelar dalam setiap event. Seolah-olah tak ada ruang kosong dan waktu yang luang untuk tidak mengasongkan dagangan mereka: sekularisme, pluralisme, liberalisme, relativisme, multikulturalisme dan sebagainya. Berbagai kegiatan diskusi, seminar, bedah buku, pemutaran film, hingga pergelaran seni-budaya menjadi bagian dari aktivitas mereka...>> ..mereka bergabung di Komunitas Utan Kayu (berada di Jl. Utan Kayu, Jakarta Timur), kini kaum muda berpaham liberal itu mulai bergeser ke bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mereka menyebutnya Komunitas Salihara (berada di Jl. Salihara)...>> ...Bersihkan Noda Liberal Bersih-bersih noda liberalisme sudah dilakukan Muhammadiyah. Barisan anti-liberalisme mewarnai suasana Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Univesitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. ...>> ..Pada waktu itu, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukani, Goenawan Mohamad dan lainnya berkumpul untuk membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain markas JIL, Utan Kayu lebih dulu dikenal sebagai tempat kongkow-kongkow, teater, penerbitan jurnal kalam, dan kantor Radio 68H...>>

Umat Islam Nyatakan Perang terhadap Liberal, Biang Kemurtadan & Kebangkrutan

JAKARTA (voa-islam.com) – 

Sepuluh ribu massa umat Islam akan menggelar apel siaga menolak Liberalisme, besok siang usai shalat Jum’at.
Aksi damai bertajuk “INDONESIA TANPA LIBERAL” ini digelar mulai pukul 13.00 WIB di Bunderan HI, Jakarta Pusat. Aksi yang diisi dengan orasi para habaib, dai dan tokoh berbagai ormas mengenai bahaya Liberal, yang dilanjutkan dengan longmarch menuju lapangan Monas, Jakarta Pusat.

Koordinator lapangan, Ustadz Bernard Abdul Jabbar, menegaskan bahwa aksi damai yang dimotori Forum Umat Islam (FUI) itu adalah sebagai konsolidasi apel siaga umat Islam untuk menyongsong aksi sejuta umat bertema “INDONESIA BERKAH TANPA MAKSIAT” pada tanggal 30 Maret 2012.

Pesan moral yang akan disampaikan kepada para penguasa dan rakyat Indonesia, jelas Bernard, adalah mengumumkan secara nasional tentang bahaya liberalisme di Indonesia. Liberalisasi di bidang agama yang dipelopori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) adalah pemurtadan berkedok Islam. “Aksi ini dilakukan agar umat Islam umumnya mengetahui bahwa JIL adalah musuh bersama umat Islam. Mereka adalah gerombolan perusak aqidah dan fikrah Islam,” ujarnya kepada voa-islam.com, Kamis (8/3/2012).

Tak kalah bahanyanya, lanjut Bernard, adalah liberalisasi di pemerintahan, karena sudah terbukti mengakibatkan kebangkrutan bangsa. “Kita akan jelaskan kepada masyarakat umum, khususnya umat Islam, bahwa negeri kita ini sudah di ambang kebangkrutan gara-gara sistem liberal. Sistem ini melahirkan maraknya korupsi, premanisme, kerusakan moral di lingkup birokrasi, pemerintahan dan aparat penegak hukum,” paparnya. “Maka harus ada solusi untuk kembali kepada syariat Islam,” tutupnya. [taz]


Ruarr Biasa, Seluruh Kiai NU Menolak Faham Sesat Liberalisme


JAKARTA (VoA-Islam) - 

Kader NU yang masih lurus, pasti  punya pandangan yang jernih, bahwa liberalisme tidak cocok untuk diterapkan oleh warga Nahdhiyyin. NU punya model dan pendekatan tersendiri, yakni Ahli Sunnah wal Jamaah (Aswaja).
Dikatakan Slamet Effendi Yusuf, seorang kader NU, ”Liberalisme adalah paham yang bermotif politik dan ekonomi. Sedangkan NU adalah organisasi keagamaan yang punya pendekatan Aswaja. Manhajul fikr (metode berfikirnya) NU adalah tasamuh, membangun pendapat yang tidak ekstrem. Liberalisme jelas tidak relevan dibicarakan di NU,” tukas Slamet.
Masih segar dalam ingatan, tatkala KH. Mas Subadar, kiai berpengaruh asal Pasuruan, Jawa Timur, melontarkan peringatan keras saat Muktamar NU di Boyolali, Desember 2004: "Bersihkan pengurus NU dari unsur Islam liberal." Sebelumnya, seruan yang sama juga terjadi saat Muktamar Pemikiran NU di Situbondo, Oktober 2003.
Komisi Bahts al-Masāil al-Maudhū’iyyah juga menolak metode hermeneutika yang dinilai sebagai agenda Islam liberal untuk menghancurkan Islam. Paham ini amat meresahkan para petinggi NU, sampai-sampai Ketua Umum PBNU KH.Hasyim Muzadi (ketika itu) pun harus turun tangan menertibkan.
“Saya minta nama NU tidak dibawa-bawa dalam gerakan pemikiran ini, karena bisa berakibat buruk bagi jam’iyyah NU yang komunitasnya sangat beragam”, kata Muzadi ketika memberi sambutan saat Muktamar Pemikiran Islam NU di Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah, Situbondo.
Muzadi kembali menegaskan dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)-nya pada Muktamar NU ke-31: ”Gerakan pemikiran anak-anak muda NU itu telah melabrak batas-batas doktrin Islam.” Beberapa kiai senior NU, bahkan mewanti-wanti agar orang-orang yang distigma sebagai ‘Islam liberal’ tidak masuk dalam kepengurusan NU.
Meski demikian, “Orang-orang liberal itu harus tetap dihargai sebagai warga NU. Tapi untuk dijadikan pengurus perlu pertimbangan,” kata KH. Ali Maschan Moesa, Ketua PWNU Jatim ketika itu.
Desakan agar NU dibersihkan dari virus liberalisme, dinilai Slamet Effendi Yusuf, seorang kader NU, sebagai berlebihan. Begitu pula, jika ada yang menginginkan NU harus mengembangkan paham liberalisme pun juga berlebih-lebihan. ”Tidak usah juga liberalisme menjadi hantu bagi orang NU. Tapi juga tidak perlu didesak-desakkan liberalisme berkembang di lingkungan NU. Untuk apa?” ungkap Slamet. 
Slamet menilai, teman-teman muda NU yang terkagum-kagum dengan liberalisme, adalah anak muda yang sedang berproses mencari jatidiri. ”Mereka harus diajak dialog dan diarahkan agar tidak menyimpang dari manhaj NU. Saya yakin, suatu hari, anak muda yang pikirannya macam-macam, akan kembali pada pemikiran mainstrem di dalam Islam."
Sementara itu dikatakan Asrorun Ni’am, kader muda yang pernah aktif di IPNU, NU bukan disusupi. Pemikiran dari luar itu berkembang, bandulnya bisa ke kanan, bisa ke kiri. Tapi inti dariAhli Sunnah wal Jamaah (Aswaja) -- sebuah pendekatan yang selama ini dimiliki NU -- adalah tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri, tidak muktazilah juga tidak jabariyah. NU berdiri diantara liberalitas kaum muktazilah dan ekstrimitas kaum jabbariyah. NU tampil sebagai penyeimbang.
Gerakan liberal, lanjut Ni’am, tidak senafas dengan nilai-nilai keberagamaan NU yang rahmatan lil alamin. NU lebih mengedepankan  al wasathoniyyah (modernisasi) dalam kehidupan bermasyarakat, membumikan nilai-nilai Islam yang bersifat universal secara hikmah. ”Orang yang terlalu liberal perlu direm untuk  dikembalikan pada koridornya. Begitu juga, orang yang terlalu radikal perlu ditekan, agar tidak menjadi ekstrim.” Desastian

KH. Cholil Ridwan: Liberalisme, Musuh Bersama Umat Islam

JAKARTA (VoA-Islam) 
Nongkrong di komunitas liberal ibarat duduk di atas bara. Setiap kali menyimak obrolan anak-anak muda di komunitas itu, bisa membuat gendang telinga ini mendidih.

Pembicaraan mereka adalah seputar penolakan terhadap syari’at, menggunjing gerakan Islam anti-liberal, hingga meledek penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Hanya tawa dan olok-olok yang terdengar. Pernah terlihat, seorang lelaki memakai kaos oblong bertuliskan Jakar (Jaringan Kafir Liberal) di bagian depan. Seperti itulah suasana di beberapa komunitas liberal.

Banyak agenda yang mereka gelar dalam setiap event. Seolah-olah tak ada ruang kosong dan waktu yang luang untuk tidak mengasongkan dagangan mereka: sekularisme, pluralisme, liberalisme, relativisme, multikulturalisme dan sebagainya. Berbagai kegiatan diskusi, seminar, bedah buku, pemutaran film, hingga pergelaran seni-budaya menjadi bagian dari aktivitas mereka.

Yang membuat anak-anak muda betah dengan komunitasnya adalah suasana tempat yang nyaman untuk nongkorong. Jika sebelumnya, mereka bergabung di Komunitas Utan Kayu (berada di Jl. Utan Kayu, Jakarta Timur), kini kaum muda berpaham liberal itu mulai bergeser ke bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mereka menyebutnya  Komunitas Salihara (berada di Jl. Salihara).

Gedung itu dirancang dengan konstruksi bangunan yang unik, asri dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti toko buku, perpustakaan, cafe, ruang theater, ruang diskusi hingga hotspot. Sambil ngopi atau ngeteh, anak-anak muda itu merasa at home, seperti di rumah sendiri. Mereka bisa mengisi waktunya dengan membaca, on line, atau sekadar ngobrol dengan teman-teman se-visi. Mereka seperti menemukan keluarga baru.

Bandingkan dengan markas ormas Islam yang tidak memiliki sarana itu. Masjid bukanlah satu-satunya sarana orang muda berkumpul. Pada umumnya, orang muda lebih suka mencari tempat alternatif, setidaknya sarana yang memiliki unsur seni-budayanya. Maka, kenapa tidak, jika dimunculkan gagasan untuk membuat sarana yang nyaman dan tetap bernuasakan religius. Keberadaan Islamic Center atau masjid-masjid besar, belum sepenuhnya menarik minat orang muda untuk dijadikan tempat nongkrong. Suasana yang menyenangkan, tak kalah penting ketimbang sekadar menjejali dengan doktrin-doktrin keagamaan.

Entah disadari atau tidak, ada beberapa kiai ”lugu” dari ormas Islam tertentu, yang rela diundang komunitas liberal untuk menyampaikan pandangannya. Kehadiran kiai itu bukan sebagai penyeimbang atau penyanggah, tapi digiring, seolah-olah mendukung paham sepilis dengan berkedok tasamuh. Begitulah akibat kiai tidak  punya pengetahuan tentang liberalisme.

Kategori Liberal

Menurut Peneliti INSIST Adian Husaini, kalangan liberal terbagi dalam empat kategori, yaitu: Liberal Profesional, Liberal Amatir, Liberal Freelance, dan Liberal Volunteer. Yang termasuk liberal profesional adalah mereka yang hidup-matinya diperuntukkan bagi si penyandang dana. Makhluk jenis ini selalu menyebarkan paham liberal dalam tulisan-tulisan dan ceramahnya, berusaha meliberalkan orang lain, merasa paling benar dengan keliberalannya, dan menganggap orang yang tidak liberal itu salah. Mereka tak sungkan-sungkan menyerang siapapun yang mengganjal liberalisme.

Sedangkan liberal amatir adalah mereka yang ilmu keliberalannya masih dangkal. Sikap dan pemikiran liberalnya cuma membebek alias ikut-ikutan saja. Meski tidak mampu menuangkan gagasan liberal lewat tulisan, tapi berani tampil sebagai pembela liberalisme. Makhluk inilah yang menjadi penggembira, saat diadakan diskusi atau seminar, sekalipun dengan riuh tepukan tangan dan tertawa ledekan (olok-olok) sebagai support. 

Adapun liberal freelance adalah orang yang mendapat imbalan ”honorer” dari gagasan dan wacana sepilis yang ia tulis di media massa. Lalu Liberal volunteer adalah orang yang sudah mapan secara materi dan status sosialnya. Ia menjadi liberal karena basic pendidikan dan pergaulannya. Tanpa harus dipengaruhi, orang ini sudah liberal dengan sendirinya. 
Yang menarik, Litbang Depag pernah melaporkan hasil penelitiannya tentang paham liberal keagamaan di lingkungan UIN Jakarta. Salah satu organisasi mahasiswa UIN yang diteliti adalah Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat) yang berpaham liberal. Forum mahasiswa inilah yang menolak kewajiban jilbab di lingkungan UIN, mendukung sekularisasi, menolak penerapan syariat Islam di berbagai daerah. Dengan berpegang pada paham kebebasan berpikir dan atas nama HAM, anggota Formaci sering menjadi saksi pernikahan beda agama.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin pernah mengatakan, ada kekuatan terselubung untuk menggarap sejumlah kelompok muda Islam. Tujuannya adalah mencabut pemahaman generasi muda Islam dari akarnya, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sasaran utama ‘proyek’ ini adalah anak-anak muda NU dan Muhammadiyah. “Mereka bangga karena telah berhasil menggarap kalangan muda NU dan Muhammadiyah. Bukan tidak mungkin, mereka berupaya menggarap kalangan muda Persatuan Islam (Persis),” ujarnya.

Agar virus liberalisme tak semakin mengganas di tubuh ormas Islam, langkah paling efektif adalah mencegah. Kalau pun sudah terjangkit, harus mendapat vaksin untuk mensterilkan sekaligus merontokkan virus yang bersarang. Untuk membendung liberalisme, ormas Islam seharusnya jangan pasif. Ormas Islam harus menyiapkan kader terbaiknya untuk mengikis paham sesat menyesatkan.

Jika kaum liberal giat mengusung liberalisme lewat media massa yang mendukungnya, sebut saja Koran dan Majalah Tempo, sedangkan tokoh Islam malas menulis, dan tidak menjadikan media Islam yang ada sebagai alat perjuangan untuk mengcounter propaganda mereka. Ingat, umat Islam punya musuh bersama (common enemy) yang harus dibendung secara bersama pula.
Ketua MUI KH Kholil Ridwan mengimbau, ”Para aktivis yang ada di ormas Islam hendaknya waspada dan kompak, bertekad bulat untuk membendung liberalisme. Desastian

Rame-rame Membendung Virus Liberalisme Di Tubuh Muhammadiyah

JAKARTA (VoA-Islam) – 
Bukan rahasia umum, jika Muhammadiyah telah kerasukan virus liberalisme. Padahal sejak awal berdiri, Muhammadiyah tampil sebagai tajdid (pembaharu) yang ingin mengembalikan Islam secara murni, yakni kembali pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Demikian dikatakan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. Syamsul Hidayat.

”Anggapan orang tentang masuknya virus itu ada benarnya. Karena orang masuk Muhammadiyah macam-macam motivasinya. Ada yang tertarik Muhammadiyah karena betul-betul ingin berjuang untuk Islam, dan menjalankan misi Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, kembali pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Ada pula yang tertarik, karena Muhammadiyah sebagai organisasi yang besar dan modern.”

Ada kesan warga Muhammadiyah mengalami pergeseran dalam mengemban misinya. Benarkah? ”Secara hakikat tidak bergeser. Namun harus diakui, ada orang yang bergabung di Muhammadiyah, tapi kemudian membawa paham dari luar. Padahal kalau sudah masuk Muhammadiyah, harus menyesuaikan paham dan misi Muhammadiyah yang asli,” ungkap Syamsul.

Virus ”menular” ini sesungguhnya sudah tertanam sejak dilakukan kaderisasi di setiap badan otonom ormas Islam. Mereka adalah mahasiswa semester awal yang sedang ”genit-genitnya” memasuki masa ”puberitas intelektual”.
Terbetik kabar, bahwa kaderisasi yang ada di setiap badan otonom ormas Islam sudah dikuasai oleh mentor pengusung doktrin liberal. Tapi hal itu dibantah oleh Yunahar Ilyas dari Majelis Tabligh PP Muhammmadiyah. ”Itu tidak betul, ungkapan itu datang dari luar Muhammadiyah. Saya sering kok jadi mentor saat pengkaderan di IRM.”

Di Muhammadiyah sendiri, ada beberapa badan otonom (banom) kaderisasi, seperti Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah (PM), maupun Nasyiatul Aisyiyah (NA). Belakangan, muncul JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Meski JIMM secara kelembagaan tidak diakui sebagai badan otonom resmi Muhammadiyah.

Sedangkan di NU, ada Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Gerakan Pemuda Anshor, Ikatan Pelajar Putri NU, Fatayat NU, dan Lakspedam NU. Adapun PMII secara kelembagaan tidak terikat dengan struktur di organisasi NU. Tapi mendukung kebijakan-kebijakan NU.

Di luar ormas Islam, ada banyak organisasi kemahasiswaan yang selama ini juga melakukan tugas dan fungsi pengkaderan terhadap orang-orang muda. Sebut saja seperti Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat), Jaringan Islam Kampus (JIK), Generasi Muda Antar Iman (GMAI), Interfidei, Forum Mahasiswa Syari’at se-Indonesia NTB, Muslim Institut Medan, PUSHAM UII Yogjakarta, dan sebagainya.
Virus Liberalisme
Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Dr. Syamsul Hidayat mengatakan, ”Kebekuan berpikir di Muhammadiyah itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada sebagian yang terlalu kaku. Sehingga terkesan kolot. Itu akibat, tidak menempatkan Islam pada posisinya. Mungkin yang terlalu kaku dianggap ketat, atau liberal yang dinamis, dianggap terlalu dinamis.”

Pergeseran Muhammadiyah ke arah dinamisasi dan liberalisasi pemikiran Islam itu sudah terjadi pada periode Amien Rais melalui Muktamar Aceh 1995. Kader Muhammadiyah seperti Amin Abdullah-lah yang menjadi ideolog liberalisasi pemikiran Islam. Ia ditetapkan sebagai Ketua Majelis Tarjih, yang sejak saat itu lembaga ini diperlebar sayapnya menjadi "Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam". Ideologi ”Muhammadiyah liberal” mulai berkibar.
Kejayaan Muhammadiyah liberal makin terang benderang di bawah kepemimpinan Syafi'i Ma'arif—murid pemikir muslim liberal asal Pakistan, Fazlur Rahman, di universitas Chicago. Kader-kader mudanya diberi ruang gerak yang sebebas-bebasnya untuk menafsirkan Islam secara progresif dan liberal.

Sukidi Mulyadi, aktivis JIMM pernah mengatakan, “Buya Syafi’i adalah Imam kami yang muda-muda di Muhammadiyah, yang sekaligus dikagumi kawan baik kita di JIL. Di Muktamar, Buya Syafi’i-lah yang secara terbuka melakukan pembelaan terhadap anak-anak muda Muhamadiyah. Buya Syafi’i telah menjadi simbol keteladanan dalam banyak hal dalam kesederhanaan hidup, kerendah-hatian sikap, moralitas yang ia perjuangkan, dan moderasi keberislaman. Kepada Buya Syafii-lah, kami menunjukkan rasa hormat setinggi-tingginya.”
Ada target jangka panjang, jika kaderisasi berhasil mereka rangkul dan kuasai, yakni: mencetak regenerasi. Setidaknya, ada pengikut dan pendukung figur yang akan dijagokan dalam pergantian kepemimpinan nantinya. Ketika virus liberalisme menyerbu semua lini, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, seperti dikatakan Syamsul Hidayat, berupaya untuk mengerem dan membentenginya.

”Majelis Tabligh kini gencar mengembangkan programPelatihan dakwah & tantangan pemikiran kontemporer bagi mubaligh di lingkungan Muhammadiyah. Yang jelas, paham liberalisme tidak cocok dengan Muhammadiyah.”
Menurut Syamsul, virus liberalisme masuk ke Muhammadiyah dengan iming-iming tertentu, seolah-olah datang membantu. Pengusung liberalisme itu datang membagi dana, menyebar buku gratis, menggelar berbagai seminar dengan cuma-cuma, diakomdasi pula berupa transportasi pulang pergi, plus penginapan hotelnya. ”Sementara training ala manhaj Muhammadiyah malah membayar infaq. Jadi, kami jihad bi anwal wa anfus.”

Ingat, pendiri Muhammadiyah KH. Achmad Dahlan pernah berpesan, hidupkanlah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah. ”Tapi seorang dosen yang mendapat gaji dari mengajar, jangan dibilang mencari hidup dari Muhamadiyah. Mereka bekerja secara profesional dan justru menghidupkan Muhammadiyah. Yang penting bukan materi yang berifat keduniawi-an saja. Sangat disesalkan jika ada warga Muhammadiyah bermental miskin, bisa diiming-imingi dengan dollar,” tukas Syamsul.

Bersihkan Noda Liberal
Bersih-bersih noda liberalisme sudah dilakukan Muhammadiyah. Barisan anti-liberalisme mewarnai suasana Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Univesitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. Di ruang muktamar, terdengar pandangan umum yang memohon pimpinan pusat agar "menertibkan" pemikiran liberalisme dalam Muhammadiyah. Terpentalnya sayap pemikir muslim liberal seperti Prof. Munir Mulkhan dan Prof. Dr. Amin Abdullah dari formatur 13 besar pimpinan Muhammadiyah dinilai sebagai kemenangan anti-liberalisme.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung bahkan mempertanyakan keberadaan JIMM yang mereka sejajarkan dengan JIL. Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas pernah mengatakan, organisasi dalam Muhammadiyah harus ditanwirkan atau dimuktamarkan. “Jaringan itu berlawanan dengan Muhammadiyah,” kata Yunahar ketika itu.
JIMM pernah berpendapat, jika Din Syamsuddin sukses menyokong pluralisme, Muhammadiyah akan menjadi kekuatan luar biasa sebagai "laboratorium pemikiran" yang mencerahkan umat dan bangsa.Desastian



Indonesia Damai Tanpa JIL: Sebelas Tahun JIL Menebar Sesat

JAKARTA (VoA-Islam) – 
Sejak didirikan 11 tahun yang lalu (8 Meret 2001), Utan Kayu 68H memang menjadi markas JIL dan beberapa kelompok budaya, seni dan agama. Selain menjadi markas, Utan Kayu 68H juga menjadi center kegiatan kaum liberal selama 11 tahun.
Dari situlah para aktivis liberal menyebarluaskan pikiran-pikiran sesat dan nyelenehnya ke kalangan umat Islam Indonesia. Talkshow di Radio 68H itu kerap mengangkat tema-tema yang isinya banyak menggugat  syariat Islam. Termasuk milis dan website JIL yang banyak menggugat otentitas al-Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam di seluruh dunia.
Sebagian aktivis JIL melanjutkan studi ke luar negeri, sebut saja Ulil Abshar Abdalla melanjutkan studi ke Universitas Harvard-Amerika Serikat dan Boston University (gelar master), Nong Darol Mahmada ke Australia dan Luthfi Assyaukani ke Singapura. Berbagai diskusi dan seminar digelar JIL secara terbuka kepada masyarakat dan kalangan mahasiswa. Adalah Guntur Romli, aktivis JIL yang terlihat aktif sebagi moderator.
Dalam perjalanannya, aktivis JIL seperti Ulil telah menghasilkan karya sesatnya, diantaranya buku berjudul: “Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam, Bunga Rampai Surat-surat Tersiar”.Buku ini merupakan kumpulan surat Ulil dengan para anggota milis Islam Liberal sejak ia belajar di Boston satu setengah tahun lamanya.
Hal serupa juga dilakukan Luthfi As Syaukani yang giat menuliskan pemikiran liberalnya ke sejumlah media massa Indonesia. Harian Kompas sempat memuat artikel As Syaukani yang berjudul “Dua Abad Islam Liberal” (2007). Dalam tulisan tersebut, Luthfi menyebul JIL, lembaga yang dibentuk pada 2001 itu sebagai sebuah gerakan pencerahan bagi umat Islam di Indonesia. Ia menganjurkan agar umat Islam bergembira menyambut ulang tahun JIL ketika itu.

Sekilas JIL
Menurut salah satu pentolan JIL Novriantoni, keberadaan JIL adalah untuk menindaklanjti proyek pembaruan Islam yang sudah ada. Ia tidak menampik, keberadaan sosok Nurcholish Madjid alias Cak Nur ini turut menginspirasi lahirnya JIL. “Kalau dulu di masa Cak Nur, perspektifnya tentang Islam itu inklusif, kini agak melangkah lebih maju ke depan, lebih kritis,” Novi, begitu ia disapa.

Selain Cak Nur beberapa tokoh yang turut menginspirasi JIL adalah mendiang Gus Dur, Munawir Sadzali dan Harun Nasution. Menurut Novi, proyek pemikiran Islam itu semacam mata rantai yang berkesinambungan, tidak terputus.

Gagasan tentang JIL pertama kali dibicarakan di Utan Kayu, tahun 2001 silam. Pada waktu itu, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukani, Goenawan Mohamad dan lainnya berkumpul untuk membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain markas JIL, Utan Kayu lebih dulu dikenal sebagai tempat kongkow-kongkow, teater, penerbitan jurnal kalam, dan kantor Radio 68H.

JIL menempatkan tempatnya di Jl. Utan Kayu, meski tidak memiliki hubungan secara structural dengan teater maupun radio, namun tetap memiliki visi-misi yang sama: menyebarkan faham sepilis (sekularisme, pluralism dan liberalism).
Sebelumnya, Asia Foundation merupakan penyokong dana terbesar JIL. Namun, kabarnya, lembaga itu tidak lagi memberikan sokongan dana. Meski aliran dana itu terhenti, aktivis JIL masih banyak mendapatkan dana dari donator-donatur lain, selain dari swadaya sendiri.

Novriantoni yang lulusan Gontor ini, menegaskan kembali, tentang perlunya sekularisme, pemisahan atara wewenang agama dan negara. Negara-negara yang masih teokratis itu adalah negara-negara yang membawa bencana lebih besar daripada negara-negara sekular. “Khilafah adalah utopia yang harus ditinggalkan oleh umat Islam,” kata Novi ngawur. Sementara itu Koordinator JIL Ulil Abshar Abdalla mengatakan, sekularisme tidak menghalangi dan memusuhi peran agama dalam ruang publik. Desastian



Baca berita terkait:
  1. Jangan Lupa Besok Jumat, Apel Siaga Umat Islam: "Indonesia Tanpa Liberal"
  2. Umat Islam Nyatakan Perang terhadap Liberal, Biang Kemurtadan & Kebangkruta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar