Kamis, 08 Maret 2012

Jurnalis Islam Bersatu (JITU).....!!!??? ...Satukan Tekad & Langkah... Melawan Kejahatan dan Fitnah - Dusta Kaum Kafirin dan Munafikin... >> Saatnya Media Islam Bersatu...>>> Saatnya Membangun Jurnalisme 'Kenabian'..>> Jurnalisme untuk menegakan Kebenaran Allah SWT dan Keadilan dan kesejahteraan untuk Umat Islam dan Umat manusia...seutuhnya..>> .. Firman Allah Surat Al Hujuraat: 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Adapun Visi JITU adalah menjadi wadah pemersatu jurnalis Islam Indonesia. Sedangkan Misi JITU antara lain: Membangun profesionalitas Jurnalis Islam dengan berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah, membela & Mencerdaskan umat Islam dengan menyajikan informasi yang benar, menjembatani umat dalam merajut nilai-nilai ukhuwah, serta menghadang Ghazwul Fiqr,menegakan amar ma’aruf nahi munkar...>> ... Nah...seharusnya semua komponen Umat Islam Bersatu....>>> Allahu Akbar.. Kuatkan tekad dan niyat ibadah kepada Allah SWT dalam menegakkan Kebenaran Allah SWT.. yg tertuang dalam ajaran Kitab2 Suci.. Allah yang mengajarkan Kebenaran-Iman dan Taqwa... untuk Keselamatan dan Kejayaan Umat Manusia yang utuh -lurus- dan akhlakul karimah...>>> Tegakan Jihad Fie Sabilillah dengan ikhlas dan pantang menyerah... >>> Tegakan Syariah dengan Benar-Lurus- dan Elegan- >> Kuatkan Persaudaraan-Persatuan- Silaturahim dan Solidaritas Umat Islam serta Umat Manusia seutuhnya...>>> Amalkan perjuangan amar ma'ruf dan nahyi munkar dengan benar-lurus-amanah-openmind-dan smart dengan akal sehat ..>> Jadilah Pejuang2 Islam yang diridhoi Allah Maha Mulia..>> Inya Allah sukses dan maju dan jaya...>> Aamiin..

Dahsyat !! Jurnalis Islam Bersatu (JITU) Ganyang Liberalisme

JAKARTA (VoA-Islam) – 

Bila media sekuluer bersemangat memberitakan Gerakan Indonesia Damai Tanpa FPI, maka hari ini dan seterusnya, Jurnalis Muslim dari berbagai media massa yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) berkomitmen untuk membendung gerakan Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) dalam Apel Siaga Indonesia Asyik Tanpa Liberalisme di Bunderan HI.
Sebagai catatan, JITU dicetuskan oleh sejumlah insan jurnalis Muslim dari berbagai media massa, termasuk media Islam, meliputi media cetak, elektronik, online, dan radio. Bertepatan pada tanggal 14 Februari, JITU lahir di Jakarta, seusai Aksi Gerakan Indonesia Tanpa FPI yang digelar pada hari Valentine, 14 Februari 2012.
Dalam pernyataan sikapnya, JITU menegaskan, menolak dengan tegas isu Pembubaran FPI (Front Pembela Islam) yang dihembuskan media sekuler dalam setiap pemberitaan di media massa, baik televisi, cetak, online dan radio.
JITU mendukung keberadaan dakwah FPI (Front Pembela Islam) serta seluruh ormas islam selama tidak bertentangan dengan syariat islam.   Menghimbau kepada masyarakat supaya lebih objektif dan bijaksana dalam menilai suatu organisasi dan tidak hanya melihat dari satu sisi saja.
JITU menyerukan kepada masyarakat supaya lebih objektif dan bijaksana dalam menilai dan menerima pemberitaan terutama dari media sekuler. Juga dihimbau kepada seluruh media masa untuk menyampaikan berita secara objektif, adil dan professional.
Selanjutnya, JITU mengajak kepada seluruh media jurnalis muslim dimana pun berada untuk menyampaikan pemberitaan yang sesungguhnya guna menghadang pemberitaan dari media-media sekuler.
Khithah JITU
Tak dipungkiri, setiap kali terjadi peristiwa atau insiden tertentu, umat Islam kerap menjadi objek penderita. Bukan sesekali umat Islam menjadi bulan-bulanan media sekuler dan selalu menjadi korban penyesatan opini. Ketika pemberitaan media sekuler itu begitu dominan dan terus-menerus disajikan secara tak berimbang, maka babak belur lah umat ini, tanpa sebuah pembelaan.
Sementara itu, keberadaan media Islam yang berupaya untuk mengimbangi pemberitaan tendensius media sekuler, dalam dan luar negeri, dirasa belum sepenuhnya maksimal dalam mengcounter opini sesat yang ujung-ujungnya memojokkan umat Islam dengan segala bentuk stigma yang dilekatkan.
Itulah sebabnya, Jurnalis Islam Bersatu (JITU) hadir untuk menyatukan langkah, membangun ukhuwah dan sinergitas sesama jurnalis muslim yang ada di Tanah Air. Melalui forum silaturahim jurnalis Muslim – meliputi media cetak, elektronik, online, dan radio -- diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat, baik muslim maupun non muslim. JITU juga diharapkan menjadi jembatan bagi umat yang saat ini berpecah belah.
Untuk mewujukan harapan itu, dibutuhkan profesionalitas insan jurnalis muslim yang berakhlak mulia, amanah, tangguh, viosioner, berwawasan,  dan bertanggungjawab yang berdasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah.
Harus diakui, pasang surut media Islam dari masa ke masa, menjadi penyebab lemahnya barisan (shaf) kaum muslimin dalam menghadapi serangan ghazwul fikri yang semakin agresif. Perbedaan yang ada, seyogianya tidak menjadikan sesama jurnalis muslim sebagai rival, melainkan mitra yang saling menguatkan. Kita tidak sadar, bahwa musuh telah menabuh genderang perangnya. Maka, sudah saatnya, jurnalis Islam bersatu padu, mengerahkan kekuatan bersama melawan opini sesat dan tendensius, secara adil dan proporsional. 
JITU memiliki asas dan landasan, sesuai Firman Allah Surat Al Hujuraat: 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Adapun Visi JITU adalah menjadi wadah pemersatu jurnalis Islam Indonesia. Sedangkan Misi JITU antara lain: Membangun profesionalitas Jurnalis Islam dengan berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah, membela & Mencerdaskan umat Islam dengan menyajikan informasi yang benar,  menjembatani umat dalam merajut nilai-nilai ukhuwah, serta  menghadang Ghazwul Fiqr,menegakan amar ma’aruf nahi munkarDesastian

Satukan Tekad & Langkah: Media Islam Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan

Jakarta (Voa-Islam) – 

Saat ini, bisnis media dunia dikuasai oleh 4 perusahaan besar, yakni Walt Disney, News Corp (milik Rupert Murdoch) Times Warner Corp dan Viacom. Ini tidak baik bagi perkembangan dunia jurnalistik. Tujuan awal jurnalisme untuk kemaslahatan umat, pelan tapi pasti, berbelok arah mengejar keuntungan, menyebarkan beberapa paham, propaganda model, mediatisasi dan lain sebagainya," terang Dr. Zafarul Islam Khan, Ahli Media asal India.

Khan menambahkan, kejayaan jurnalisme Barat terjadi, sejak Soviet runtuh. "Yang menyakitkan, Jurnalis Barat menyebarkan pandangan bahwa, setiap muslim adalah teroris dan Islam mengajarkan terorisme. Kejadian di Vietnam, Iraq, Pakistan dan kini Iran, adalah contoh riil korban penyesatan jurnalisme barat. Dan, jika ini dibiarkan, maka, Islam, mau melakukan apa saja, tetap salah di pandangan dunia, jika media-media barat masih melakukan subyektivitas di atas obyektivitas seperti yang sekarang mereka lakukan.

Muhammad Ali Harrath, pimpinan eksekutif Islam Channel, London mengemukakan media sangat kuat untuk mengontrol kita. Untuk itu kita harus memainkan peran dan menanggapi tantangan yang ada di hadapan kita. "Media yang ada sekarang mendeskriditkan muslim. Kita harus memiliki media yang bisa mengimbanginya," tandasnya.
Saat adanya konflik antara dunia Islam dan non Islam akibat penebitan kartun di Denmark, maka diperlukan dialog untuk mencoba menjembatani kesalahpahaman dan salah persepsi Barat dengan dunia Islam.

"TV yang saya kelola berhasil memproduksi acara yang mendapatkan profit cukup lumayan. Media TV ini berkontenkan acara Islami. Sekarang kita harus percaya bisa melakukan sesuatu yang besar. Kita ini adalah umat terbaik yang disebutkan di dalam Alquran," kata Ali Harrath seraya mengusulkan agar forum ini membentuk sekolah media muslim dan pusat latihan untuk jurnalis muslim.

Hal senada juga diungkapkan Dr.Abdurrahman al-Shobaily, mantan anggota Ashura Council Saudi Arabia, masyarakat kita masih hidup di bawah bayangan produksi media asing. Selama ini umat Islam hanya sebagai penikmat, namun tidak sebagai orang yang memproduksi," ungkapnya. Memang sudah saatnya, media Islam menjadi pemain dan penentu kebijakan dan issu dunia. Dunia sudah resah dan bosan dengan propaganda barat yang bermuka dua dan subyektif.

Peran Media Baru
Ada yang menarik dari pernyataan Dr. Saud Kateb dari Media King Abdul Aziz Univeristy dalam Konferensi Internasional Media Isla ke-2 di Hotel Sultan, Jakarta. Kateb mengatakan media baru bisa jadi seperti "setan" dan bisa juga seperti "malaikat".

Prof Dr Azmuddin Ibrahim, Guru Besar Fakultas Komunikasi Universitas Selangor Malaysia mengungkapkan, media baru adalah perubahan dari analog kepada teknologi. Namun media baru memberi pengaruh yang luar biasa bagi masyarakat khususnya generasi muda. "Jutaan anak-anak menjadi pengemar setia televisi, video games dan internet. Masalahnya pada media ini juga menayangkan adegan porno dan kekerasan," ucapnya prihatin.

Menurut Ibrahim, adegan kekerasan telah menjadi konsumsi sehari-hari anak-anak saat ini. "Di Amerika anak-anak sampai usia 18 tahun rata-rata melihat tayangan kekerasan sebanyak 200 ribu adegan dan 16 ribu adegan pembunuhan," ungkap Ibrahim.

Dr. Sayed Arabi Idid dari Former Rector of Islamic University in Malaysia menjelaskan, peran media begitu luar biasa. Bahkan, satu SMS saja, bisa berefek dahsyat, seperti jatuhnya pemerintahan Tunisia, yang karena didukung media, mampu berefek pada lengsernya Mubarak, Gaddafy dan lain sebagainya. New Media, kini berkenaan dengan audience yang sebenarnya. Nah, di sinilah, perlunya dunia Islam untuk menginvensi new media-sarana baru, sehingga ke depan, kita bisa mengkontrol kontent dari media yang ada.

Idid menambahi model new media yang kini menjamur sepertifacebook, twitter dan lain sebagainya, bisa dimanfaatkan oleh umat islam untuk bergerak lebih maju dan bahkan lebih bisa memahamkan dunia tentang agama islam dan berbagai hal yang menyangkutnya seperti al-Qur`an, hadits, sejarah peradaban Islam dan lain sebagainya. Selain juga, negara-negara muslim harus segera berbenah untuk lebih memahami dan mampu hidup dengan teknologi, informasi dan komunikasi.

Hal senada dikemukakan pakar media Prof Dr Alwi Dahlan, media memberi dampak yang luar biasa bagi perubahan sosial dan politik. Kasus di Philipina pada tahun 2001 yang dikenal dengan sebutan "Revolusi SMS", membuat 700 ribu demonstran turun ke jalan memenuhi kota Manila, dan berakhir sukses sehingga Presiden Joseph Estrada mengundurkan diri.

Saatnya Media Islam Bersatu
Selesai sudah Konferensi Internasional Media Islam II di Hotel Sultan Jakarta, kemarin (Kamis, 15-/2011), setelah Menko Kesra Agung Laksono menutup konferensi yang dihadiri 400 peserta dari 28 negara tersebut.
Dalam sambutannya, Menko Kesra berharap, sudah saatnya umat Islam bersatu dan berbagi pendapat untuk meyakinkan dunia yang masih berpandangan negatif terhadap Islam."Kampanye-kampanye tidak adil terhadap Islam, harus segera kita luruskan. Kita harus bersatu dalam `tali` Allah, untuk menunjukkan Islam yang sesungguhnya," terang Menko Kesra.

Menteri Agama RI Suryadarma Ali dalam sambutannya mengatakan, "Konferensi ini, telah menghasilkan Piagam Jakarta. Semoga piagam tersebut mampu menjadi jembatan emas bagi kita umat Islam untuk segera melakukan kerja sama dan mampu menjadi momentum kebangkitan dan penguatan media Islam. Kita juga akan tunjukkan pada dunia, bahwa Islam adalah agama rahmatan lil`alamiin," lanjut Menag.

Sementara itu, Sekjend Rabithah Alam Islami Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki berjanji, hasil kesepakatan dari konferensi, akan segera di-follow up-pi. "Riset, ide, atau apapun hal yang telah didiskusikan, akan kami terjemahkan ke berbagai bahasa dunia, agar dapat diterima media-media Islam di dunia dan dapat digunakan sebagai dasar dari perjuangan kita bersama.”Desastian

Parni Hadi: Saatnya Membangun Jurnalisme 'Kenabian'

Jakarta(Pinmas)-- 

Kita bisa mengembangkan `Jurnalisme Propetik`, sebagai alternatif solusi untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan dan hak umat Islam di dunia internasional. `Jurnalisme Prophetik` dibangun dengan dasar nilai-nilai kenabian, yakni sebuah jurnalisme yang Sidiq (bisa dipercaya dan cerdas mengambil angel), Tabligh (menyampaikan kebenaran), Amanah (dipercaya bisa menyampaikan yang kejadian sesungguhnya/obyektif) dan Fathonah (bijaksana).

Jika hal ini kita lakukan dengan baik dan terencana, maka pelan tapi pasti, Media Islam bisa memimpin dunia, minimal menyamai media  media barat yang kini menjamur." Demikian dijelaskan jurnalis senior, Parni Hadi, dalam sesi seminar:"Developing Communication for Da`wah Strategy: Actuating Prophetic Journalism in Digital Era, Combining Words, and Actions.”
Untuk itu, lanjut Parnii, diperlukan sebuah gebrakan kretivitas dan produktivitas, dibutuhkan kerjasama, kompetisi, tidak konfrontatif dan tidak korupsi. Sudah saatnya, kita mendirikan training center untuk muslim jurnalism, dan juga house production untuk perfilman muslim.
Senada dengan Parni Hadi, Mantan Menteri Media, Sudan Dr. Ali Shummo mengatakan, negara negara Muslim, secepatnya merespon berbagai isu yang dikembangkan Barat dengan tujuan mendiskriditkan Islam. "Kita secepatnya, harus membuat perkumpulan (media) yang bisa menandingi pasar (media) global, jika memungkinkan, kita membuat satelit yang bisa menyatukan dunia Islam. Agar ke depan, tercipta informasi berimbang tentang dunia, khususnya umat Islam.”

Hal yang sama juga diungkapkan Dr. Nashir Bu Ali, Profesor Komunikasi di Collage of Communication Universitas Ashraja, Aljazair, menambahkan, dengan menekankan pada pengembangan studi komunikasi yang berasas amar maruf nahi munkar. "Media Islam harus merealisasikan nilai-nilai kejujuran/kebenaran dan manfaat/mashlahat, agar ke depan bisa bermanfaat kepada dunia," ujarnya.

Sementara Dr. Malek Al Ahmed. Profesor dari Universitas King saud Arab Saudi ini sepakat, kedepan, meski saat ini, informasi tentang umat Islam di dunia ditekan dan dipinggirkan, media komukasi Islam harus tetap memperhatikan kode etik kemanusiaan, baik Media komunikasi yang bersifat general, maupun spesifik oleh kelompok tertentu, kita harus tetap memelihara kehidupan manusia," harapnya.

Prof. Dr. Hemdi Aboelenen, yang kini mengajar di Universitas Internasional Mesir, menyinggung pentingnya sebuah media yang mandiri, tidak seperti sekarang yang selalu didikte barat. "Kita butuh media komunikasi yang membentuk nilai-nilai jurnalisme Islam, yang mampu memproduksi berita obyektif dan bermanfaat bagi umat," terangnya.
Diskusi ini adalah rangkaian dari Konferensi Internasional Media Islam, Pada 12-16 Desember 2011. 400 peserta dari media- media di 24 negara, mayoritas media dari negara muslim, berkumpul dan sepakat membuat gebrakan baru tentang teknologi informasi dan komunikasi yang berkaitan dengan umat Islam.

Mereka gelisah, tidak puas dan menggugat. Selama ini, informasi tentang umat Islam di dunia internasional, disebar dan disiarkan oleh media barat yang cenderung subyektif dan tendensius.
"Ke depan, kami berusaha agar informasi tentang umat Islam, dapat diterima dunia internasional dengan obyektif dan cepat," terang Sekjen Rabithah `Alam Islami. Desastian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar