Selasa, 06 Maret 2012

Putin: Iran Berhak Kembangkan Nuklir Nasional...>>>.....Kata kunci: pd-iii Sebelumnya: RABBI YAHUDI: KAMI BERHAK MEMBUNUH WALAU SEJUTA RAKYAT PALESTINA....!!! Selanjutnya : AKAN MUNCUL ULAMA2 YAHUDI...!!!..>>Israel Bersiap Hadapi Serangan Balasan Iran Novi Christiastuti Adiputri - detikNews.. >>Dalam pidatonya, Obama sangat mendukung penolakan Israel atas senjata nuklir Iran. Obama juga mengakui hak Israel untuk mempertahankan diri dan bertekad tak akan ragu menggunakan kekuatan jika diperlukan. Namun Obama juga menegaskan bahwa AS hanya akan menggunakan kekuatan militer jika semua opsi diplomatik telah digunakan. "Obama tidak menunggu pertemuan pribadinya dengan PM Benjamin Netanyahu hari ini untuk mengklarifikasi sikapnya mengenai program nuklir Iran," demikian ditulis surat kabar haluan kiri, Haaretz. Menurut harian tersebut, Obama telah "menyerukan semua orang untuk mengesampingkan genderang perang." Pemerintah Israel belakangan kian gencar dengan retorika perangnya terkait program nuklir Iran. ....>>>..."Para pejabat tinggi Amerika mengeluarkan sebuah iklan sehalaman penuh berjudul "Mr Presiden: Katakan Tidak untuk Perang dengan Iran" di The Washington Post," tulisAntiwar.com, Senin (5/3) dan diberitakan Press TV, Rabu (7/3). Para pejabat tinggi itu di antaranya pensiunan Angkatan Darat Mayor Jenderal Paul Eaton, wakil direktur mantan Intelijen Nasional AS Thomas Fingar, untuk Analisis pensiunan Marinir Jenderal Joseph Hoar, mantan Perwira Intelijen Nasional CIA Paul Pillar, dan pensiun Angkatan Darat Mayor Jenderal Rudolph Ostovich III....>> ..Israel Akan Serang Iran Tanpa Izin AS..??!!..>>

Putin: Iran Berhak Kembangkan Nuklir Nasional

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--
Presiden Rusia yang baru terpilih Vladimir Putin Selasa mengakui hak Iran untuk memiliki program nuklir nasional.

Dalam wawancara video dengan harian bisnis Jerman Handelsblatt, Putin mengatakan bahwa Iran memiliki `hak untuk melanjutkan program nuklirnya` di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional yang bermarkas di Wina, lapor IRNA.

Putin mengatakan bulan lalu bahwa masyarakat internasional harus mengakui hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.

Pemimpin Rusia itu juga telah memperingatkan sebelumnya mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran, dan mengatakan konsekuensi dari serangan seperti itu akan benar-benar bencana.

Teheran telah berulang kali menegaskan program nuklirnya semata-mata diarahkan untuk menghasilkan energi, untuk kepentingan damai.

Tetapi negara-negara Barat dan Amerika Serikat menuduhnya menyembunyikan program persenjataan nuklir militernya di balik program nuklir untuk kepentingan sipil.
Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara

Pidato Obama Soal Nuklir Iran Bikin Israel Kecewa

Senin, 05/03/2012 19:31 WIB

Tel Aviv, Pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengenai nuklir Iran menimbulkan kekecewaan media Israel. Dalam pidatonya pada Minggu, 4 Maret waktu setempat, Obama kembali menyerukan solusi diplomatik atas masalah nuklir Iran.

Pidato Obama itu disampaikan di depan para delegasi AIPAC, kelompok lobi pro-Israel berpengaruh di AS, menjelang pertemuan Obama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih.

"Obama menjanjikan kita bahwa AS tak akan menerima senjata nuklir Iran," tulis surat kabar Israel, Yediot Aharonot seperti dilansir kantor berita AFP,Senin (5/3/2012).

"Namun kita juga mencatat apa yang tak ada di sana (pidato Obama-red). Obama tidak mundur sedikit pun dari sikapnya, yang mana bahwa satu-satunya cara untuk mencegah senjata nuklir adalah membujuk Iran untuk menyerah atas kemauannya itu," demikian ditulis media cetak terlaris Israel itu.

Dalam pidatonya, Obama sangat mendukung penolakan Israel atas senjata nuklir Iran. Obama juga mengakui hak Israel untuk mempertahankan diri dan bertekad tak akan ragu menggunakan kekuatan jika diperlukan.

Namun Obama juga menegaskan bahwa AS hanya akan menggunakan kekuatan militer jika semua opsi diplomatik telah digunakan.

"Obama tidak menunggu pertemuan pribadinya dengan PM Benjamin Netanyahu hari ini untuk mengklarifikasi sikapnya mengenai program nuklir Iran," demikian ditulis surat kabar haluan kiri, Haaretz. Menurut harian tersebut, Obama telah "menyerukan semua orang untuk mengesampingkan genderang perang."

Pemerintah Israel belakangan kian gencar dengan retorika perangnya terkait program nuklir Iran. Namun sekutu terdekatnya, AS terus mengingatkan untuk tidak terburu-buru memutuskan serangan militer atas Iran. AS bahkan mengingatkan adanya konsekuensi besar, tidak cuma bagi wilayah Timur Tengah, namun juga global, jika aksi militer atas Iran dilakukan.
(ita/nrl)

Sejumlah Tokoh Senior AS Menentang Perang Dengan Iran

Rabu, 07 Maret 2012 06:55 WIB
telegraph.co.uk
Sejumlah Tokoh Senior AS Menentang Perang Dengan Iran
Beberapa mantan militer AS dan para pejabat intelijen mengeluarkan sebuah iklan. Mereka mendesak Presiden AS, Barack Obama, melawan tekanan untuk menyerang Iran atas program energi nuklirnya.

"Para pejabat tinggi Amerika mengeluarkan sebuah iklan sehalaman penuh berjudul "Mr Presiden: Katakan Tidak untuk Perang dengan Iran" di The Washington Post," tulisAntiwar.com, Senin (5/3) dan diberitakan Press TV, Rabu (7/3).

Para pejabat tinggi itu di antaranya pensiunan Angkatan Darat Mayor Jenderal Paul Eaton, wakil direktur mantan Intelijen Nasional AS Thomas Fingar, untuk Analisis pensiunan Marinir Jenderal Joseph Hoar, mantan Perwira Intelijen Nasional CIA Paul Pillar, dan pensiun Angkatan Darat Mayor Jenderal Rudolph Ostovich III.

Iklan itu juga menyatakan bahwa tidak setiap tantangan memiliki solusi militer. "Kecuali kita atau sekutu diserang, perang harus menjadi pilihan terakhir."

Dalam iklan ini juga berisi kutipan-kutipan dari mantan pejabat senior AS, termasuk Menteri Pertahanan Amerika SerikatLeon Panetta, mantan Menteri Pertahanan AS, Robert Gates dan mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Michael Mullen, menjelaskan mengapa menyerang Iran adalah langkah yang salah.

Iklan ini disponsori oleh National Iran Amerika Council, sebuah organisasi nirlaba yang bermarkas di Washington. 
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Aghia Khumaesi

Israel Bersiap Hadapi Serangan Balasan Iran

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Senin, 05/03/2012 17:15 WIB. http://news.detik.com/read/2012/03/05/171559/1858415/1148/israel-bersiap-hadapi-serangan-balasan-iran?nd992203605
Tel Aviv 
Mahmoud Ahmadinejad (AFP)

Otoritas Israel telah bersiap-siap menghadapi kemungkinan serangan balasan Iran jika negeri Yahudi itu jadi menyerang fasilitas nuklir Iran. Israel mempersiapkan pengamanan warganya dengan membangun penampungan bawah tanah di tengah-tengah ketegangan dengan Iran. Israel juga berusaha meningkatkan layanan darurat bencana untuk mengantisipasi serangan balasan Iran. 

Diketahui bahwa otoritas setempat telah mengubah areal parkir gedung Teater Nasional Habima di Tel Aviv menjadi sebuah tempat penampungan anti bom yang cukup memadai. Tempat penampungan di bawah tanah ini terdiri atas 4 lantai dan mampu menampung sekitar 1.600 orang.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Sipil Israel, Roi Flyshman menyebut tempat penampungan itu sangat canggih. Menurutnya, tempat penampungan di Habima ini bisa dijadikan cetak biru untuk membangun tempat penampungan lainnya.

"Kami berniat meniru dari yang ada di Habima ke lokasi-lokasi lainnya," ujar Flyshman seperti dilansir oleh Press TV, Senin (5/3/2012).

Namun pekan lalu, anggota senior parlemen Israel, Zeev Bielski mengungkapkan bahwa kemampuan pertahanan wilayah Israel, terutama Tel Aviv, tidak mampu untuk melindungi warganya dari serangan balasan Iran.

Akhir-akhir ini, pemerintah Israel kian gencar dengan retorika perangnya. Israel mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran jika sanksi-sanksi yang diprakarsai Amerika Serikat (AS) gagal memaksa Iran menghentikan program nuklirnya.

Selama ini Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, yakni sebagai pembangkit energi bagi kepentingan sipil. Namun AS, Israel dan Eropa mencurigai Iran diam-diam tengah mengembangkan senjata nuklir lewat aktivitas nuklirnya tersebut.
(nvc/ita)

Israel Akan Serang Iran Tanpa Izin AS

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 29/02/2012 11:39 WIB
pesawat tempur Israel (Press TV)
Pejabat-pejabat pemerintah Israel bersikeras untuk tidak memberitahu sekutu terdekat mereka, Amerika Serikat (AS) jika mereka memutuskan untuk melancarkan serangan militer ke fasilitas nuklir Iran. Sebabnya, jika AS tidak tahu soal serangan tersebut, maka AS tak akan diminta bertanggung jawab karena gagal menghentikan serangan Israel.

Demikian diungkapkan pejabat intelijen AS seperti dilansir harian Press TV,Rabu (29/2/2012). Menurut pejabat yang tidak disebutkan namanya itu, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Urusan Militer Israel Ehud Barak telah menyampaikan pesan tersebut kepada pejabat-pejabat AS yang telah berkunjung ke Israel.

Dalam pemberitaan serupa oleh media Inggris, Telegraph, Selasa, 28 Februari, sumber-sumber Israel mengatakan, Presiden AS Barack Obama bulan lalu telah meminta jaminan khusus dari pemerintah Israel bahwa mereka tak akan melancarkan serangan tanpa pemberitahuan ke Gedung Putih. 

Namun pemerintah Israel menolak memberikan jaminan tersebut. Bahkan Israel menyatakan tidak berencana untuk meminta "izin Washington" soal serangan ke Iran tersebut.

Selama beberapa bulan terakhir, sejumlah pejabat tinggi AS termasuk pimpinan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey, Penasihat Keamanan Nasional Tom Donilon, dan sejumlah anggota parlemen telah berkunjung ke Israel. Kabarnya, kedatangan mereka untuk membujuk pemerintah Israel agar tidak menyerang Iran.

Pejabat-pejabat Israel juga rencananya akan melakukan pertemuan dengan pejabat-pejabat senior AS, seperti Wakil Presiden AS Joe Biden dan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta. Pertemuan tersebut untuk membahas program nuklir Iran.

Spekulasi serangan Israel atas fasilitas nuklir Iran terus berhembus kencang belakangan ini. Israel telah mengancam akan melakukan serangan militer jika sanksi-sanksi yang telah dijatuhkan terhadap Israel tidak berhasil memaksa Iran menghentikan program nuklirnya.

(ita/nrl)

Tulisan ini bukan untuk debat mazhab...!!!


Hari-hari ini, Amerika sedang menyiapkan sebuah perang terbuka, melawan Iran, sebuah negara yang menganggap dirinya macan meski di mata Amerika dia tak lebih dari makelar terorisme dan biang segala kekacauan di Timur Tengah. Siapa yang harus kita bela? Siapa yang namanya bakal masuk dalam catatan kaki sejarah-sebagai pecundang ? Adakah Iran akan bernasib sepeti Yordania, negara berdaulat di Teluk, yang setiap harinya harus menyiapkan makanan dan menyemir sepatu tetamunya: puluhan ribu serdadu Amerika? Atau Irak, yang setelah jatuh dalam cengkraman Amerika, terputus dari orbit kemakmuran dan bergelimangan darah setiap hari? Atau justru Amerika yang kuda-kudanya bakal goyah, terduduk di kaki sendiri terhapus dari horizon sejarah? Mungkinkah ketegangan ini adalah pemicu awal terjadinya Perang Dunia III? Tak ada yang bisa memastikan, saat ini.
Pun tak ada jawaban instan. 


Tapi dari Timur Tengah, urat leher kemakmuran dan arogansi Amerika, kita bisa meraba sesuatu, mencari pijakan terkuat melihat masa depan yang derkat itu. Mari kita tengok bersama-sama...

Pemberitaan yang ada di stasiun televisi saat ini sedang marak di”hiasi” oleh pemberitaan invasi Israel ke Jalur Gaza. Mulai dari video serangan udara, video serangan darat dan laut, korban-korban tewas, pengungsi, dan juga siaran dari saluran televisi Al-Jazeera. 

Satu bulan agresi yang dilancarkan Israel telah merenggut ribuan nyawa penduduk sipil baik laki-laki maupun perempuan. Kejadian ini mengingatkan pada tragedi Holocaust (ada atau tidak ya…?). Yang saat itu menjadi korban adalah kaum Yahudi. 
Apakah serangan Israel (yang notabenenya negara Yahudi) ke Jalur Gaza merupakan bentuk balas dendam?

"Setiap serangan ke Iran akan merupakan starting poin (titik permulaan) yang mana titik akhirnya tidak ada yang mengetahui, yaitu mereka boleh memulai tapi tidak akan ada yang dapat menentukan kapan peperangan itu berakhir."
"Peperangan ini merupakan peperangan yang tidak akan memiliki batasan geografis, karena dianya akan berkembang dan membesar secara otomatis."

Operasi Opera yang digelar Israel tahun 1981 menjadi legenda dan dinyatakan sebagai mitos kemenangan serangan udara lintas negara bagi Israel. Serangan yang bermula dari Etzion (pusat AU Israel) dengan melintasi udara Yordania dan Saudia telah dianggap Israel sebagai kemenangan besar karena berhasil menghacurkan reactor nuklir Iraq. Reactor nuklir Osiraq hancur luluh. Operasi ini dimitoskan dalam oleh Rodger W Clair dalam novel fiksinya Raid on the Sun. Karena operasi ini juga Israel mendapat kecaman dari PBB. Menachem Begin tidak menggubris, karena menurutnya Iraq lebih baik tidak memiliki reactor nuklir karena akan menjadi potensi negative bagi negaranya.

Dengan mitos ini Israel sekarang sedang berfikir untuk menyerang Republik Islam di Iran. Minimal mereka memiliki alasan yang yang sama, yaitu melihat adanya potensi negative bagi negaranya. 

Dan hal ini tentunya merupakan hal yang sangat serius bagi negara seperti Israel. Untuk membuat “mitos” baru mereka mencoba kembali kekuatan AU nya di lautan meditarian dalm satu manofer militer besar, kalau tidak hendak dikatakan manofer AU terbesar yang pernah dilakukan Israel. 

Sekalipun Israel tidak secara langsung menyertakan bahwa manufer itu untuk persiapan penyerangan ke reactor nuklir Iran, tapi Amerika telah bertindak sebagai cubir Israel yan menjelaskan tujuan manufer tersebut.

Perlu dilihat adanya beberapa hal yang sangat mendasar terhadap rencana ini.

I. Israel mempersiapkan serangan ini dengan harapan akan dapat menyerang reactor nuklir Iran dalam waktu yang seminim mungkin dengan target semaksimal mungkin. 
Untuk itu mereka mempersiapkan armada AU sedemikian besar, karena target yang hendak diserang tidak semuanya diperbatasan Iran, seperti reactor nuklir Bushehr didekat perbatasan Iran – Iraq, atau ditepi teluk Parsia menghadap kebeberapa negara Arab. Tapi reactor Nataz berada ditengah-tengah Iran, sehingga untuk menyerangnya Israel memerlukan skwadron yang tangguh untuk menempus kekuatan militer Iran.

II. Israel masih berharap dengan greenlight (baca lampu hijau) Amerika dalam serangan ini, malah kalau bisa serangan ini dibantu secara langsung oleh kekuatan militer Amerika yang sudah sejak beberapa lama bercokol di Afganistan dan Iraq serta negara-negara Arab lainnya. Berbeda dengan serangan ke Tammuz 1 (nama lain dari Osiraq), dimana pada masa itu para ahli militer Amerika sudah ada di Iraq dalam rangka “membantu” Iraq menghadapi Iran, sehingga dari merekalah informasi detail didapat tentang keadaan di dalam negeri Iraq didapat, sehingga pasukan Iraq tidak dapat melakukan tindakan secara maksimal serangan tersebut.

III. Iraq pada masa itu sedang menghadapi Iran, jadi secara maksimal pasukan terfokus pada serangan yang datang dari Iran. Iraq tidak dapat membayangkan bahwa serangan itu datang dari arah negara negara Arab yang mereka percayai. Jadi serangan datang dari arah yang tidak mereka perkirakan sebagai arah serangan, karena menurut Iraq arah itu adalah arah aman, yang secara militer tidak dijaga secara maksimal.

IV. Pada hakikatnya reactor ini sudah non aktif, karena Iran telah menghancurkannya setahun (30 September 1980) sebelum terjadinya Operasi Opera, sehingga memang reactor ini cenderung sudah non aktif. Dan sudah tidak menjadi tumpuan yang harus dipertahankan secara maksimal oleh militer Iraq. Jadi tidak heran dimana serangan –yang dimitoskan ini- "tidak" membawa membawa korban jiwa (korban yang jatuh hanya 11 orang, 10 tentara Iraqi dan seorang peneliti Perancis yang ternyata adalah anggota Mosad, Damien Chaussapied). 
 Padahal reactor hasil kerja sama dengan Perancis ini terbilang reactor nuklir yang cukup besar. Sehingga serangan yang seperti ini tidak mungkin hanya mengakibatkan korban sedikit itu.

V. Israel menggunakan kesempatan terbaiknya dari situasi yang ada pada Iraq pada masa itu, dengan informasi intelejen yang cukup memenuhi syarat untuk satu operasi militer. Kita msih ingat bahwa pada perang Iraq-Iran semua satelit intelejen Amerika memfokuskan aktifitasnya di atas diatas ruang orbit kedua Negara itu. jadi tidak mustahil (baca:pasti) bahwa serangan Israel pun menggunakan service satelit Amerika dan intelejen Amerika yang sedang bekerja untuk Iraq melawan Iran pada masa itu.


Pada sisi lain, keberada Republik Islam Iran sekarang tidak akan dapat disamakan dengan keadaannya sekitar 25 tahun lalu. Iran Islami sudah sangat dewasa dengan pengalaman militernya. 
Kedewasaan ini dapat dilihat dengan posisi militer dan produk militer yang dimilikinya, lebih dari itu adanya persiapan yang matang dari iran untuk menghadapi situasi darurat yang setiap waktu boleh terjadi terhadap negaranya. Untuk Iran serangan ini merupakan serangan yang predictable (yang sudah dapat diperhitungkan) dan terus diperhitungkan. 
Memang secara politis Iran selalu menyatakan bahwa serangan semacam ini tidak mungkin terjadi, karena Iran merasa yakin bahwa kalau hendak memperhitungkan satu operasi militer dengan batasan akal sehat, maka musuh Negara Islam ini tidak akan melakukan serangan apapun terhadap Iran.

Hal ini karena adanya beberapa alasan yang cukup kuat pada Republik Islam Iran, diantaranya:

I. Dengan kehadiran tentara Amerika di Afganisatan dan Iraq, militer Iran selalu dalam keadaan berjaga dan siaga. Iran tentulah melihat bahwa keberadaan musuh bebuyutannya di Iraq bukan hanya untuk menjajah Iraq saja tapi tentulah ini merupakan langkah strategis yang memiliki tujuan militer juga (selain ekonomi). 
Karena hingga sekarang tidak ada yang dapat menetapkan bahwa penjajahan Amerika terhadap Iraq hanya untuk menguasai Iraq dan menutup kemungkian adanya serangan kenegara lain di teluk Parsi itu.

II. Keberadaan tentara Amerika di Bahrain, Kuwait dan Saudi Arabiya merupakan satu tanda lain untuk mendukung prediksi sebelum ini. Personal dan sejumlah peralatan perang di Negara Negara itu bukan hanya untuk dukungan logistic penjajahan Iraq, karena jumlah 140.000 personal sebenarnya tidak diperlukan didalam Negara yang dalam keadaan chaos itu. kecuali untuk alasan yang belum disebut, yaitu adanya kemungkinan serangan lain kenegara lain. Untuk itu Iran telah mempersiapkan kekuatan militernya disepanjang tapal batas dengan Negara Negara Arab ini. 
Dan Iran sejak dini telah mengumumkan bahwa setiap serangan yang dilakukan oleh Amerika atau Israel ke Iran, maka mereka tidak ragu lagi akan menyerang semua pusat militer Amerika di setiap tempat di Negara Teluk. 

III. Sepanjang sejarah Revolusi, iran selalu dibawah tekanan ekonomi dan militer oleh Negara Adikuasa termasuk Israel. Untuk bertahan dari setiap kemungkian yang akan terjadi, maka Iran telah bertindak mempersiapkan diri dari semua kemungkinannya, baik ekonomi dan juga militer. Iran juga termasuk Negara yang memiliki peruntukan biaya militer yang cukup besar, sebagai konsekwensinya, Iran memiliki kekuatan miter yang cukup tangguh, dengan siapapun yang hendak menceroboh negaranya, dengan catatan Iran hanya akan menggunakan semua kekuatannya itu untuk mempertahankan dirinya, dan bukan untuk mengusai negara lain. 
Untuk ini, maka Iran telah memiliki sekian banyak roket yang dapat menyusup hingga ke Israel pun – tentu roket ini melebihi kekuatan Katushanya Hizbullah. 

IV. Satu kaidah umum yang diberikan oleh Iran untuk musuh musuh Revolusi Islam di Iran, bahwa setiap serangan ke Iran akan merupakan starting poin (titik permulaan) yang mana titik akhirnya tidak ada yang mengetahui, yaitu mereka boleh memulai tapi tidak akan ada yang dapat menentukan kapan peperangan itu berakhir. 
Untuk itu Israel boleh saja memulai, tapi jangan berfikir bahwa serangan itu hanya dapat berjalan sejauh mana yang diperkirakan mereka. Kalau mereka hendak menyerang iran dengan waktu sedikit mungkin bukanlah berarti perang akan berakhir setelah serangan itu berhenti, tapi mereka perlu membayangkan bawah serangan itu merupakan tanda mulai dari peperangan panjang, yang tidak ada yang dapat menentukan kapan akan berhenti.

V. Kesiapan moral yang dimiliki Iran tidak diragukan lagi. Kalau saja Sayid Hasan Narullah mengatakan bahwa dia bangga dengan keberadaannya dibawah Wilayatul Faqih, ini menunjukkan kesiapan moral semua yang ada dibawah Wilayatul Faqih, dan kekuatan moral ini tidak akan teratas pada batasan territorial, sehingga serangan balasanpun tidak akan terbatas pada batasan teritorial Iran, tapi semua posisi, dimanapun berada merupakan sasaran militer bagi pendukung Revolusi Islam di Iran. Bagi mereka yang mamahami keyakinan Islam, terutama dengan konsept Wilyatul Faqihnya, maka pandangan ini merupakan kelaziman dari pada satu keterikatan agamis diantara muslimin.


Untuk itu, tidak pelak lagi bahwa serangan Israel ke Iran akan menghancurkan Israel lebih dari pada apa yang dapat dilihat dari serangan Israel ke Hizbullah. Tidak ada yang dapat membayangkan betapa besar akibatnya atas bermulanya serangan Israel terhadap Iran.

Boleh jadi, dimana semua Negara Arab telah dipersenjatai Amerika untuk membentengi Israel, tapi tidak ada yang dapat memastikan bahwa serangan iran tidak sampai ke ulu hati Israel dan juga Amerika dimanapun mereka berada. 
Peperangan ini merupakan peperangan yang tidak akan memiliki batasan geografis, karena dianya akan berkembang dan membesar secara otomatis. 

Dalam posisi ini maka bukan Iran lagi menjadi sasaran serangan tapi setiap musuh Negara Islam ini akan menjadi sasaran dari pengikutnya. 
Jadi permasalahan bukan hanya Hizbullah di Libanon, atau orang Syiah di Bahwain dan Saudi Arabia, tapi disetiap tempat dimana Israel dan Amerika ada akan menjadi sasaran serangan mereka. Jadi tidak heran kalau Al Baradei mengatakan bahwa serangan ke iran akan menjadikan bola api, tapi tidak hanya di Timur Tengah, tapi akan bermula dari Timur Tengah.

Serangan Israel ke Iran sebenarnya akan memicu berbagai kekeruhan di Timur Tengah khususnya dan dunia pada umumnya. 
Tidak akan ada terkecuali. Duniapun secara efektif akan menghadapi berbagai permasalahan yang hingga kini tidak akan dapat diprediksikan secara detail. 
Satu hal yang pasti dimana akibat semuanya akan bernilai negative. 

Bukan hanya kehancuran infrastruktur yang diakibatkan oleh satu peperangan tapi semua hal yang akan muncul dari satu peperangan akan dihadapi oleh semua fihak, karena peperangan yang akan terjadi ada ditengah pusat gerakan dunia. Timur Tengah adalah nyawa dari kehidupan, karena produksi Timur Tengah merupakan keperluan dasar setiap Negara. Dengan memulai melakukan satu kericuhan dan kekeruhan di pusatnya maka semuanya akan terkena akibatnya, termasuk Amerika dan Israel yang akan memikul akibat fatalnya.

Apapun, sekarang suasana di Timur Tengah sudah cukup keruh. Dengan terjadinya serangan Israel ke Iran, suasana tidak akan menenangkan suasana. Iran akan mempertahankan hak bangsanya sebagaimana hak bangsa lain yang disepakati oleh PBB. Jadi sangat aneh kalau Israel yang kedaulatan negaranya tidak diakui secara aklamasi di dunia, akan bertidak sebagai polisi dunia, sekalipun dengan bantuan Amerika, karena keduanya adalah Negara yang secara structural dibawah kedaulatan organisasi dunia. Kecuali memang organisasi ini sudah tidak harus diakui lagi keberadaannya. Lebih aneh lagi, Israel yang tidak ikut dalam NPT hendak menentukan sikapnya terhadap Negara yangmemiliki komitmen dengan ketentuan NPT.


Hanya ada satu hal yang perlu dilihat, yaitu ketetapan Allah yang tertulis dalam surat Isra’ ayat 7: ”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu bebuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi kamu sendiri, dan jika datang hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka akan memasuki masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”

Ahmadinejad, Presiden Iran tampaknya bakal menjadi musuh besar Israel dalam usahanya merebut Palestina dan dunia. Memang gawat pasalnya bisa jadi Ahmadinejad dan Israel-lah yang akan memicu Perang Dunia III !. Mengapa ? Iran selama ini telah melakukan langkah – langkah sangat strategis dalam merebut pengaruh dunia. 

Selain minyak, Iran juga mempunyai kemampuan teknologi rekayasa yang maju secara cepat. Contohnya penguasaan teknologi pengembangan uranium dari bahan bakar energi listrik sampai bom nuklir. Secara terang – terangan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan bahwa negaranya membangun 3000 sentrifugal untuk pengayaan uranium dan mesin – mesin beroperasi penuh.


Sebelumnya Ahmadinejad berhasil menginstalasi ribuan sentrifugal di fasilitas nuklir Iran, Natanz. Sekaligus pembangkangan terhadap tuntutan internasional untuk menghentikan pengayaan uranium & nuklirnya. 
Sentrifugal digunakan untuk pengayaan uranium dengan proses dapat memproduksi bahan bakar pembangkit listrik bertenaga nuklir dan senjata – senjata nuklir yang mematikan. Penyataan ini membuat Amerika dan Israel kocar – kacir.

Iran telah berhasil meluncurkan Shahab III, misil penjelajah yang memiliki daya jangkau samapi 2000 km yang mampu menjangkau seluruh wilayah Israel. Ini membuat Israel berusaha membombardir instalasi nuklir Iran yang membahayakan mereka. 
Namun Iran memiliki Brigade berani mati dari kelompok pejuang muslim, brigade itu memiliki sandi Judgement Day (Hari penghakiman) yang bergerak menyerang ke Israel, Amerika dan sekutunya.

Brigade itu sudah dipilih berani mati di jalan Allah (syahid) melawan Israel dan Amerika. Apabila Israel benar – benar menyerang Iran. Iran sudah punya pelindung untuk mempertahankan instalasi nuklirnya dengan membrikade Selat Homus. Selat yang mempunyai peranan amat strategi dalam pesokan minyak dunia. Bisa dibayangkan apabila ditutup minyak dunia akan melonjak naik 3 kali lipat lebih mahal.

Bisa jadi perseteruan antara Iran dengan Israel, Amerika dan sekutunya benar – benar mendekati Judgement Day. Apabila benar, bisa jadi kiamat sudah dekat. Waullahualambishawaab….

Bersiap-siap Menghadapi Perang Dunia III, Sasarannya Iran

Michel-Chossudovsky-Prof

OlehMichel Chossudovsky
Kemanusiaan berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Persiapan perang untuk menyerang Iran berada dalam "keadaan siap-siaga". Sistem Hi-tech termasuk senjata berhulu ledak nuklir dikerahkan sepenuhnya.
 Petualangan militer ini telah digambarkan Pentagon sejak pertengahan tahun 1990-an. Menurut dokumen rahasia 1995 Komando Sentral Amerika Serikat, pertama Irak, berikutnya Iran.
 Eskalasi merupakan bagian daripada agenda militer. Sementara Iran adalah target berikutnya bersama-sama dengan Suriah dan Lebanon, penyebaran militer strategis ini juga mengancam Korea Utara, Cina dan Rusia.
Sejak tahun 2005, Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk mitra Amerika, NATO dan Israel, telah terlibat dalam penyebaran luas dan penimbunan sistem senjata mutakhir. Sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO serta Israel sepenuhnya terintegrasi.
Ini merupakan sebuah upaya terkoordinasi Pentagon, NATO, Israel Defense Force (IDF), dengan keterlibatan militer aktif dari beberapa negara mitra non-NATO termasuk negara-negara Arab garis depan (members of NATO's Mediterranean Dialogue and the Istanbul Cooperation Initiative), antara lain Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, India, Indonesia, Singapura, Australia, (NATO terdiri dari 28 negara anggota NATO dan 21 negara-negara lainnya merupakan negara anggota Euro-Atlantic Partnership Council (EAPC), Dialog Mediterania dan Istanbul Cooperation Initiative termasuk sepuluh negara Arab ditambah Israel.)
Peran Mesir, negara-negara Teluk dan Arab Saudi (dalam aliansi militer yang luas) hubungannya khusus. Mesir mengontrol transit kapal perang dan kapal tanker minyak melalui Terusan Suez. Arab Saudi dan negara-negara Teluk menempati garis pantai Barat di Selatan Teluk Persia, Selat Hormuz dan Teluk Oman. Pada awal Juni, "Dilaporkan Mesir mengizinkan sebuah kapal Israel dan sebelas kapal Amerika Serikat melewati Terusan Suez  .... yang merupakan sinyal jelas kepada Iran ... Pada tanggal 12 Juni, sumber pers daerah melaporkan bahwa Saudi telah memberikan hak kepada Israel untuk terbang di atas wilayah udaranya ... " (Muriel Mirak Weissbach,  Israel’s Insane War on Iran Must Be Prevented., Global Research, July 31, 2010)
Doktrin militer setelah peristiwa serangan 9/11 berupa penyebaran besar-besaran perangkat keras militer yang dijelaskannya sebagai bagian dari apa yang disebut "Perang Global Melawan Terorisme", dengan sasaran organisasi teroris "non-negara"  termasuk al Qaeda dan apa yang disebut sebagai Negara sponsor "terorisme", termasuk Iran, Suriah, Libanon, Sudan.
The setting up of new US military bases, the stockpiling of advanced weapons systems including tactical nuclear weapons, etc. were implemented as part of the pre-emptive defensive military doctrine under the umbrella of the "Global War on Terrorism".
Amerika Serikat membangun pangkalan militer baru, menimbun sistem persenjataan canggih termasuk senjata nuklir taktis, dsb, sudah diimplementasikan sebagai bagian dari doktrin pertahanan militer pre-emptive di bawah payung "Perang Global Melawan Terorisme".

Perang dan Krisis Ekonomi
Implikasi lebih luas dari serangan Amerika Serikat-NATO-Israel terhadap Iran jauh jangkauannya. Perang dan krisis ekonomi sangat terkait erat. Ekonomi perang dibiayai oleh Wall Street, yang berdiri sebagai kreditur pemerintah Amerika Serikat. Produsen senjata Amerika Serikat adalah penerima kontrak pengadaan sistem senjata mutakhir yang bernilai miliaran dolar dari Department Pertahanan Amerika Serikat dengan. Pada gilirannya, "pertempuran untuk minyak" di Timur Tengah dan Asia Tengah secara langsung melayani kepentingan raksasa minyak Anglo-Amerika.
Amerika Serikat dan sekutunya "memukul genderang perang" di puncak depresi ekonomi di seluruh dunia, belum lagi bencana lingkungan paling serius dalam sejarah Dunia. Dalam memutar-balikkan malapetaka yang menyedihkan salah satu pemain utama (BP) dalam permainan geopolitik Timur Tengah - Asia Tengah, yang sebelumnya dikenal sebagai Anglo-Persian Oil Company, adalah penghasut bencana ekologis di Teluk Meksiko.
Media Disinformation
Opini publik dipengaruhi oleh agitasi media yang secara diam-diam mendukung, acuh tak acuh atau berpura-pura bodoh mengenai dampak yang mungkin terjadi, dari apa yang terus-menerus dipropagandakan sebagai sebuah operasi "hukuman" yang khusus diarahkan terhadap fasilitas nuklir Iran, sebaliknya tidak memberitakan sebuah peperangan yang bersifat habis-habisan, termasuk persiapan perang serta penyebaran senjata nuklir yang diprodukasi Amerika Serikat dan Israel. Dalam konteks ini, konsekuensi yang menghancurkan dari perang nuklir apakah memang sengaja tidak disebutkan atau disepelekan.
Menurut media dan pemerintah “krisis nyata" yang sebenarnya mengancam kemanusiaan bukan perang nuklir akan tetapi pemanasan global. Media akan membuat rekayasa krisis walaupun sebenarnya tidak ada krisis: "menakut-nakuti dunia" – dengan pandemi global H1N1 - tapi tidak seorang pun tampak takut terhadap perang nuklir yang disponsori Amerika Serikat.
Rencana perang terhadap Iran disajikan untuk opini publik antara lain sebagai sebuah isu. Hal ini tidak dipandang sebagai sebuah ancaman atas "Tanah Air" seperti dalam kasus pemanasan global. Perang terhadap Iran bukan berita yang pantas dimuat di halaman depan. Fakta bahwa serangan terhadap Iran bisa menimbulkan eskalasi dan berpotensi memicu "perang global" yang tidak terkendali bukanlah masalah yang menjadi perhatian.
Klenik Pembunuhan dan Pembinasaan
Mesin membunuh global juga menyokong klenik yang merupakan bagian penting dalam pembunuhan dan pembinasaan yang disebarkan melalui film-film Hollywood, belum lagi Radio dan TV, perang dan kejahatan serial TV di jaringan televisi. Ilmu klenik pembunuh ini didukung oleh CIA dan Pentagon yang juga mendukung produksi (keuangan) Hollywood sebagai alat propaganda perang.
"Mantan agen CIA Bob Baer mengatakan kepada kami," Ada simbiosis antara CIA dan Hollywood "dan mengungkapkan bahwa mantan direktur CIA, George Tenet sekarang ini," keluar-masuk Hollywood, berbicara dengan orang-orang studio. " (Matthew Alford and Robbie Graham, Lights, Camera… Covert Action: The Deep Politics of Hollywood, Global Research, January 31, 2009)
Mesin pembunuh ini disebarkan pada tingkat global, dalam kerangka struktur komando tempur terpadu. Hal ini secara rutin dikuatkan oleh instansi pemerintah, pemilik media dan birokrat serta intelektual dari the New World Order dan think-tank di Washington serta lembaga penelitian studi strategis sebagai sebuah instrumen yang tidak diragukan lagi dari perdamaian dan kemakmuran global.
Budaya pembunuhan dan kekerasan telah menjadi bagian penting dalam kesadaran manusia.
Perang secara luas diterima sebagai bagian dari proses sosial: Tanah air harus "dibela" dan dilindungi.
"Kekerasan yang dilegitimasi" dan pembunuhan di luar hukum yang ditujukan kepada "teroris" dijunjung tinggi dalam demokrasi barat, sebagai instrumen penting dari keamanan nasional.
A "humanitarian war" is upheld by the so-called international community. It is not condemned as a criminal act. Its main architects are rewarded for their contributions to world peace.
Sebuah "perang kemanusiaan" ditegakkan oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai masyarakat internasional. Namun hal ini tidak dikutuk sebagai tindak pidana. Arsitek utamanya dihargai atas kontribusi mereka bagi perdamaian dunia.
Sehubungan dengan Iran, apa yang diungkapkan adalah legitimasi langsung perang atas nama suatu gagasan ilusi keamanan global.
Sebuah "Pre-emptive" berupa serangan udara yang ditujukan terhadap Iran akan mengakibatkan Eskalasi perang.
Saat ini secara terpisah terdapat tiga medan perang Timur Tengah - Asia Tengah: Irak, Afghanistan-Pakistan dan Palestina.
Dimana Iran menjadi objek serangan udara "pre-emptive" oleh pasukan sekutu, maka seluruh kawasan, dari Mediterania Timur ke perbatasan barat Cina dengan Afghanistan dan Pakistan, akan bergejolak, yang secara potensial akan menggiring kita kepada sebuah skenario Perang Dunia III.
Perang juga akan meluas ke Lebanon dan Suriah.
Hal ini sangat tidak mungkin bahwa pemboman, jika mereka laksanakan, hanya akan membatasi terhadap fasilitas nuklir Iran sebagaimana pernyataan resmi yang diklaim oleh Amerika Serikat-NATO. Apa yang lebih mungkin adalah sebuah serangan udara habis-habisan, baik terhadap infrastruktur militer maupun sipil termasuk sistem transportasi, pabrik, gedung-gedung publik.
wwIIImiddleeast
Iran diperkirakan memiliki cadangan minyak dan gas sebesar sepuluh persen, menduduki peringkat ketiga setelah Saudi Arabia (25%) dan Irak (11%) dalam ukuran cadangannya. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki kurang dari 2,8% dari cadangan minyak dunia. Cadangan minyak Amerika Serikat diperkirakan kurang dari 20 milyar barel. Daerah yang lebih luas di Timur Tengah dan Asia Tengah memiliki cadangan minyak lebih dari tiga puluh kali yang dimiliki Amerika Serikat, yang mewakili lebih dari 60% dari total cadangan minyak dunia. (Lihat Waddell Eric, The Battle for Oil, Global Research, Desember 2004).
Signifikansinya adalah penemuan baru-baru ini di Iran mengenai cadangan kedua terbesar yang diketahui berupa gas alam di Soumar dan Halgan dan diperkirakan mencapai 12,4 triliun kubik kaki.
 Penargetan atas Iran unsur utamanya tidak hanya sekedar menyatakan kembali kontrol Anglo-Amerika atas minyak Iran dan gas murah, termasuk juga rute pipa dan   menantang kehadiran pengaruh Cina serta Rusia di kawasan itu.
ww3map2
  The planned attack on Iran is part of a coordinated global military road map. It is part of the Pentagon's "long war",  a profit driven war without borders, a project of World domination, a sequence of military operations.
 Serangan yang direncanakan terhadap Iran merupakan bagian dari peta jalan militer global yang terkoordinasi. Ini adalah bagian dari "perang yang berlangsung lama" Pentagon, perang yang didorong oleh keuntungan ekonomi tanpa batas, sebuah proyek dominasi Dunia, yang diwujudkan dalam rangkaian operasi militer.
Perencana militer Amerika Serikat-NATO telah memikirkan berbagai skenario eskalasi militer. Mereka juga menyadari akan implikasi geopolitiknya, yaitu bahwa perang bisa melampaui kawasan Timur Tengah - Asia Tengah. Termasuk dampak ekonomi di pasar minyak serta yang lain-lainnya juga telah dianalisis.
Sementara Iran, Suriah dan Libanon merupakan target langsung, Cina, Rusia, Korea Utara, belum lagi Venezuela dan Kuba juga merupakan tujuan yang di ancam oleh Amerika Serikat.
Taruhannya adalah struktur aliansi militer. Penyebaran militer Amerika Serikat-NATO-Israel termasuk latihan militer dan latihan yang dilakukan di perbatasan Rusia dan Cina segera membuahkan hubungan langsung dengan perang yang diusulkan terhadap Iran. Ancaman terselubung, termasuk pengaturan waktu mereka, merupakan suatu petunjuk yang jelas terhadap kekuasaan semasa era Perang Dingin untuk tidak campur tangan dalam cara apapun yang dapat mengganggu terhadap serangan yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Iran.
Peperangan Global
Tujuan strategis jangka menengah adalah untuk mentargetkan Iran dan menetralisir sekutu Iran, melalui diplomasi kapal perang - gunboat diplomacy. Tujuan militer jangka panjang adalah langsung menargetkan Cina dan Rusia.
Sementara Iran adalah target langsung, penyebaran militer tidak terbatas dilakukan ke Timur Tengah dan Asia Tengah. Agenda militer global telah dirumuskan.
Penggelaran pasukan koalisi dan sistem persenjataan maju oleh Amerika Serikat, NATO dan mitra-mitranya yang berlangsung secara bersamaan di seluruh wilayah utama Dunia.
Tindakan militer Amerika Serikat baru-baru ini di lepas pantai Korea Utara termasuk melakukan permainan perang-perangan adalah bagian dari desain global.
Diarahkan terutama terhadap Rusia dan Cina, Amerika Serikat, sekutu NATO dan latihan militer, latihan perang, penyebaran senjata, dll sedang dilakukan secara simultan di hotspot geopolitik utama.
-Semenanjung Korea, Laut Jepang, Selat Taiwan, Laut Cina Selatan mengancam Cina.
-Penggelaran rudal Patriot di Polandia, pusat peringatan dini di Republik Ceko mengancam Rusia.
-Penyebaran Angkatan Laut di Bulgaria, Rumania di Laut Hitam, mengancam Rusia.
- Penyebaran pasukan Amerika Serikat  dan NATO di Georgia.
- Penyebaran angkatan laut yang tangguh di Teluk Persia termasuk kapal selam Israel diarahkan terhadap Iran.
Serentak di Timur Mediterania, Laut Hitam, Karibia, Amerika Tengah dan wilayah Andean di Amerika Selatan adalah wilayah-wilayah yang sedang berlangsung militerisasi. Di Amerika Latin dan Karibia, ancaman diarahkan terhadap Venezuela dan Kuba.
“Bantuan Militer” Amerika Serikat
Pada gilirannya, senjata berskala besar telah ditransfer dilakukan di bawah bendera "bantuan militer" Amerika Serikat ke negara-negara yang terpilih, termasuk kesepakatan persenjataan sebesar 5 miliar dolar dengan India yang dimaksudkan  untuk membangun kemampuan militer India yang diarahkan terhadap Cina. (Huge U.S.-India Arms Deal To Contain China, Global Times, July 13, 2010).
"Penjualan senjata akan meningkatkan hubungan antara Washington dengan New Delhi, dan disengaja atau tidak, akan memiliki efek yang menahan terhadap pengaruh China di wilayah tersebut." Dikutip dalam Rick Rozoff, Confronting both China and Russia: U.S. Risks Military Clash With China In Yellow Sea, Global Research, July 16, 2010)
Amerika Serikat memiliki perjanjian kerjasama militer dengan sejumlah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Singapura, Vietnam dan Indonesia, meliputi  "bantuan militer" serta partisipasi dalam latihan perang pimpinan Amerika di Pacific Rim (Juli-Agustus 2010). Perjanjian ini mendukung penyebaran senjata yang ditujukan terhadap Republik Rakyat Cina. (Lihat Rick Rozoff, Confronting both China and Russia: U.S. Risks Military Clash With China In Yellow Sea, Global Research, July 16, 2010).
Demikian pula dan lebih langsung berkaitan dengan serangan yang direncanakan terhadap Iran, Amerika Serikat mempersenjatai negara-negara Teluk (Bahrain, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab) dengan rudal pencegat darat, Patriot Advanced Capability-3 dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) serta yang berpangkalan di laut yaitu pencegat Rudal Standar-3 yang terpasang pada kapal perang kelas Aegis di Teluk Persia. (Lihat Rozoff Rick, NATO’s Role In The Military Encirclement Of Iran, Global Research, February 10, 2010).
Jadwal Penimbunan dan Penyebaran Militer
Apa yang penting dalam hal transfer senjata Amerika Serikat ke negara-negara mitra dan sekutunya adalah pemilihan waktu saat pengiriman dan penyebarannya. Melancarkan operasi militer yang disponsori Amerika Serikat biasanya akan dilakukan setelah sistem persenjataan ini berada di tempat, dengan efektif dikerahkan  melalui pelaksanaan pelatihan personil. (India e.g).
Apa yang kita pahami adalah desain militer global yang teliti dan terkoordinasi yang dikontrol oleh Pentagon, melibatkan angkatan bersenjata gabungan lebih dari empat puluh negara. Ini merupakan penyebaran militer multinasional global, dan sejauh ini merupakan pertunjukkan terbesar sistem senjata mutakhir dalam sejarah Dunia.
Pada gilirannya, Amerika Serikat dan sekutunya telah mendirikan pangkalan militer baru di berbagai belahan dunia. "Permukaan Bumi Disusun sebagai sebuah Medan Perang yang Luas - The Surface of the Earth is Structured as a Wide Battlefield". (See Jules Dufour, The Worldwide Network of US Military Bases , Global Research, July 1, 2007).
The Unified Command susunannya dibagi menjadi Combatant Command geografis berdasarkan pada strategi militerisasi tingkat global. "Militer Amerika Serikat memiliki pangkalan di 63 negara. Pangkalan militer baru telah dibangun sejak 11 September 2001 di tujuh negara. Secara total terdapat 255.065 personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di seluruh dunia." (Lihat Jules Dufour, The Worldwide Network of US Military Bases , Global Research, July 1, 2007
unified-command_world-map1
Skenario Perang Dunia III
"Tanggung Jawab Wilayah Komandan Dunia" (Lihat peta di atas) mendefinisikan rancangan militer global Pentagon, yang merupakan salah satu penaklukan Dunia. Penyebaran militer ini terjadi di beberapa wilayah secara bersamaan di bawah koordinasi Komando regional Amerika Serikat, yang melibatkan penimbunan sistem persenjataan buatan Amerika Serikat oleh pasukan Amerika Serikat dan negara-negara mitra, beberapa di antaranya mantan musuh, termasuk Vietnam dan Jepang.
Keadaan sekarang ditandai dengan pembangunan militer global yang dikontrol oleh sebuah negara adidaya Dunia, yang menggunakan banyak sekutunya untuk memicu perang regional.
Sebaliknya, sewaktu terjadi Perang Dunia Kedua merupakan gabungan yang terpisah dari medan perang regional. Mengingat teknologi komunikasi dan sistem senjata tahun 1940-an, belum ada strategi yang koordinasi selama “waktu aktual proses berlangsung” dalam aksi militer  antara wilayah geografis yang luas.
Perang global didasarkan pada penyebaran terkoordinasi kekuatan militer tunggal dominan, yang mengawasi tindakan sekutu-sekutu dan mitranya.
Dengan pengecualian Hiroshima dan Nagasaki, Perang Dunia Kedua ditandai dengan penggunaan senjata konvensional. Perencanaan perang global bergantung pada militerisasi ruang angkasa. Apakah perang yang diarahkan terhadap Iran yang akan diluncurkan tidak hanya akan menggunakan senjata nuklir, tapi juga seluruh gamut baru sistem persenjataan canggih, termasuk senjata elektrometrik dan teknik modifikasi lingkungan (ENMOD) akan digunakan.
Dewan Keamanan PBB
Dewan Keamanan PBB pada awal Juni mengadopsi putaran keempat sanksi sweeping terhadap Republik Islam Iran, termasuk embargo senjata yang diperluas dan juga "kontrol keuangan yang lebih ketat". Hal tersebut merupakan sebuah ironi yang pahit, karena resolusi ini disahkan oleh Dewan Keamanan PBB yang dalam beberapa hari sebelumnya secara tegas Dewan Keamanan PBB menolak untuk mengadopsi sebuah mosi yang mengutuk Israel atas serangannya terhadap Freedom Flotilla di Gaza, armada di perairan internasional.
Baik Cina maupun Rusia, ditekan oleh Amerika Serikat, yang telah mendukung sanksi DK PBB yang merugikan mereka. Keputusan mereka dalam DK PBB berkontribusi melemahkan aliansi militer mereka, yaitu organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), di mana Iran memiliki status pengamat. Resolusi Dewan Keamanan membekukan kerjasama militer bilateral masing-masing China dan Rusia dan perjanjian dagang dengan Iran. Hal ini berakibat serius pada sistem pertahanan udara Iran yang sebagian bergantung pada teknologi dan keahlian Rusia.
Resolusi Dewan Keamanan memberi "lampu hijau" secara de facto untuk melancarkan perang pre-emptive terhadap Iran.
Inquisi Amerika: Membangun Sebuah Konsensus Politik Untuk Perang
Secara serempak media Barat telah mencap Iran sebagai ancaman terhadap keamanan global mengingat dugaan (tidak ada) program senjata nuklir. Bergemanya pernyataan resmi, media kini menuntut pelaksanaan hukuman pemboman yang diarahkan terhadap Iran dalam rangka menjaga keamanan Israel.
Media Barat memukul genderang perang. Tujuannya adalah untuk menanamkan secara diam-diam, melalui pengulangan laporan media,  yang menurut kesadaran batin orang sampai memuakkan, karena semata-mata berdasarkan dugaan bahwa ancaman Iran adalah nyata dan bahwa Republik Islam harus "dihancurkan".
Dalam membangun sebuah konsensus proses untuk berperang mirip dengan inkuisisi Spanyol. Hal ini mengharuskan dan menuntut ketundukkan terhadap gagasan bahwa perang adalah usaha kemanusiaan.
Dikenal dan didokumentasikan, ancaman nyata terhadap keamanan global berasal dari aliansi Amerika Serikat-NATO-Israel, sekalipun demikian relitasnya dalam lingkungan inquisitorial adalah terbalik: para penghasut perang berkomitmen untuk perdamaian, para korban perang diperkenalkan sebagai tokoh utama perang. Padahal pada tahun 2006, hampir dua pertiga orang Amerika menentang tindakan militer terhadap Iran, baru-baru ini jajak pendapat Reuter-Zogby pada Februari 2010 menunjukkan bahwa 56% orang Amerika mendukung aksi militer Amerika Serikat-NATO terhadap Iran.
Membangun sebuah konsensus politik yang didasarkan pada sesuatu yang sama sekali bohong, bagaimanapun juga hanya mengandalkan posisi resmi mereka yang merupakan sumber kebohongan.
Gerakan anti-perang di Amerika Serikat, yang sebagian telah diinfiltrasi dan dikooptasi, berasumsi pada posisi yang lemah berkaitan dengan Iran. Gerakan antiperang terpecah. Penekanannya hanya terhadap perang yang telah terjadi (Afghanistan, Irak) daripada tegas menentang perang yang sedang dipersiapkan dan yang saat ini dirancang  Pentagon. Sejak pelantikan pemerintahan Obama, gerakan antiperang telah kehilangan beberapa daya pendorongnya.
Selain itu, mereka yang aktif menentang perang di Afghanistan dan Irak, tidak  menentang pelaksanaan "pemboman hukuman" yang diarahkan kepada Iran, juga tidak mengkategorikan pengeboman tersebut sebagai tindakan perang yang berpotensi bisa menjadi awal Perang Dunia III.
Skala protes anti-perang dalam kaitannya dengan Iran sangat minim dibandingkan dengan demonstrasi rakyat yang mendahului pemboman dan invasi Irak tahun 2003.
Ancaman nyata terhadap keamanan global berasal dari aliansi Amerika Serikat-NATO-Israel.
Operasi Iran tidak ditentang di arena diplomatik oleh Cina dan Rusia, mendapat dukungan dari pemerintah negara-negara Arab garis depan yang terintegrasikan ke dalam NATO yang disponsori dialog Mediterania. Hal ini juga mendapat dukungan diam-diam opini publik Barat.
Kami menyerukan kepada orang-orang di seluruh wilayah Amerika, Eropa Barat, Israel, Turki dan di seluruh dunia untuk bangkit menentang rencana militer, melawan pemerintah mereka yang mendukung tindakan militer terhadap Iran, terhadap media yang berfungsi untuk menutupi implikasi menghancurkan dari perang terhadap Iran.
Agenda militer mendukung keuntungan yang mendorong merusak sistem ekonomi global yang memiskinkan kawasan besar penduduk dunia.
Perang ini kegilaan belaka.
Perang Dunia III adalah terminal. Albert Einstein memahami bahaya perang nuklir dan kepunahan kehidupan di bumi, yang telah dimulai dengan kontaminasi radioaktif yang dihasilkan depleted uranium. "Saya tidak tahu dengan senjata apa Perang Dunia III akan dipertarungkan, tetapi Perang Dunia IV akan dipertarungkan dengan tongkat dan batu."
Media, kaum intelektual, para ilmuwan dan para politisi, serempak, mengaburkan kebenaran yang tidak diceriterakan, bahwa perang dengan menggunakan hulu ledak nuklir akan menghancurkan kemanusiaan, dan bahwa proses keaneka-ragaman  kerusakan yang secara bertahap telah dimulai.
Ketika kebohongan menjadi kebenaran maka tidak akan berbalik kembali.
Ketika perang ditegakkan sebagai upaya kemanusiaan, Keadilan dan seluruh sistem hukum internasional terbalik: maka pasifisme dan gerakan antiperang dianggap kriminal. Menentang perang menjadi tindak pidana.
Kebohongan harus disingkapkan untuk apa itu dan apa yang dilakukannya. Ini sanksi pembunuhan tanpa pandang bulu pria, wanita dan anak-anak.
Ia bisa menghancurkan keluarga dan masyarakat. Ia bisa menghancurkan komitmen masyarakat terhadap sesama manusia.
Perang mencegah orang untuk mengekspresikan solidaritasnya kepada mereka yang menderita. Menjunjung tinggi perang dan negara polisi hanya satu-satunya jalan.
Ia menghancurkan baik nasionalisme maupun internasionalisme.
Menghentikan kebohongan berarti menghentikan proyek kejahatan kehancuran global, di mana pencarian keuntungan yang merupakan kekuatan utamanya.
Keuntungan yang mendorong agenda militer ini akan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan mengubah orang tidak sadar menjadi zombie.
Mari Kita Membalikkan Arus.
Menentang  penjahat perang yang berkedudukan tinggi dan termasuk kelompok pelobi yang kuat yang mendukung mereka.
Pecahkan inkuisisi Amerika.
Rusak usaha perang pembasmian militer Amerika Serikat-NATO-Israel.
Tutup pabrik-pabrik senjata dan pangkalan militer.
Bawa pulang pasukan.
Personel angkatan bersenjata harus menentang perintah dan menolak untuk berpartisipasi dalam perang kriminal.
Part II of this essay will be published shortly.
Preparing for World War III.  Nature and History of the Planned Military Operation against Iran
Includes analysis of the role if Israel
Michel Chossudovsky seorang penulis pemenang penghargaan, Profesor  Ekonomi (Emeritus) pada Universitas Ottawa dan Direktur dari the Centre for Research on Globalization (CRG), Montreal. Ia menulis buku berjudul The Globalization of Poverty and The New World Order (2003) dan America’s “War on Terrorism” (2005). Ia juga seorang kontributor the Encyclopaedia Britannica. Tulisan-tulisannya telah diterbitkan dalamlebih dari duapuluh bahasa. Ia dapat dihubungi di globalresearch.ca website
Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info



Iran Perluas Hubungan dengan Belarus

Rabu, 07 Maret 2012 12:06 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, MINSK -- 
AP/Keystone, Jean-Christophe Bott
Iran Perluas Hubungan dengan Belarus
Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, menyatakan Iran siap untuk memperluas hubungan dengan Belarusia. Ali Akbar melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Belarus, Sergei Martinev, di Minsk pada Selasa waktu setempat.
Iran dan Belarus merupakan negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB). Dalam pertemuan tersebut, Salehi mengatakan bahwa semua negara GNB harus mengadakan konsultasi lebih lanjut tentang isu-isu regional dan internasional. Dia menguraikan situasi geopolitik dan status khusus Iran dan Belarus.
''Iran dan Belarusia berpotensi tinggi untuk mengembangkan kerja sama ekonomi,'' katanya. ''Republik Islam Iran bersedia membuka babak baru dalam hubungan dengan Belarus dan memperluas kerja sama ekonomi.''
Sementara, Martinev menyatakan minat negaranya dalam perluasan kerja sama ekonomi dengan Iran. Dia berharap kunjungan delegasi Iran ke Minsk akan membuka halaman baru dalam hubungan kedua negara sahabat itu.
''Kedua negara menikmati hubungan yang komprehensif dan saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, perluasan hubungan ini akan membantu memperkuat perdamaian dan stabilitas wilayah sejalan dengan kepentingan nasional kedua negara,'' ujarnya.
Redaktur: Didi Purwadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar