Kamis, 01 Maret 2012

Obama juga diberitakan telah menambah kapasitas militernya di pulau Diego Garcia. Konon di sana bercokol lebih dari 2000 tentara, pelabuhan yang muat untuk 30 kapal perang, tempat pembuangan limbah nuklir, stasiun mata-mata satelit, dan tempat hiburan untuk para tentara....>>>..Pada masa perang Irak, John Pilger mencatat bahwa ada berita sekilas yang berbunyi, “Pengebom Amerika, B-52 dan Stealth, tadi malam dilepaskan dari sebuah pulau-tak berpenduduk-milik-Inggris untuk mengebom Irak dan Afghanistan.”...>>...di balik kecanggihan perlengkapan militer yang disimpan di sana, Diego Garcia menyimpan kisah pilu yang semakin menunjukkan wajah bengis negara-negara arogan dan haus perang: AS dan Inggris. Pada tahun 1965 Inggris dan AS menjalin perjanjian bahwa Inggris akan menyediakan pulau kosong untuk dijadikan pangkalan militer bagi AS di Samudera Hindia. Pada tahun 1966, pulau indah Diego Garcia yang berada di antara Asia dan Afrika (di perairan samudera Hindia) itu dibeli Inggris dari Mauritania. Inggris menyerahkan pengelolaan pulau itu kepada AS, tanpa bayaran sepeser pun. Namun, Inggris menerima diskon sebesar 14 juta dollar dalam pembelian misil Polaris. Sebelum menyerahkan pulau itu kepada AS, sesuai permintaan AS, isi pulau itu dikosongkan (Tidak akan ada lagi penduduk asli di pulau itu, kecuali burung camar, demikian salah satu instruksi yang ditulis pejabat kementerian luar negeri Inggris tahun 1966). John Pilger, jurnalis independen asal Australia, berhasil mendapatkan film dokumenter dari kaum misionaris di Diego Garcia. Pulau itu dulunya ternyata sangat indah, dihuni oleh 2000 penduduk berkulit hitam dari suku Creole, ada sekolah, rumah sakit, gereja, rel kereta api, dll. Tentara Inggris kemudian menakut-nakuti warga, termasuk dengan membakar hewan-hewan peliharaan mereka. Sebagian penduduk pergi meninggalkan pulau karena takut. Namun, sisanya, yang masih bertahan akhirnya dievakuasi paksa. Mereka dinaikkan dengan paksa ke atas kapal, hanya dibolehkan membawa satu tas. Rumah, perabotan, dan segala harta benda yang mereka miliki selama lima generasi, harus ditinggalkan begitu saja. Dalam perjalanan yang sulit menuju Seychelles (sebuah negara kepulauan di Samudera Hindia), kaum perempuan dan anak-anak dipaksa tidur di sebuah kargo burung. Mereka lalu dipenjarakan selama beberapa waktu di Seychelles, dan kemudian dipindahkan ke Mauritius. Di Mauritius, mereka hidup menggelandang. Anak-anak banyak yang meninggal, para orang tua banyak yang bunuh diri karena frustasi. Satu dekade kemudian, mereka menerima kompensasi dari pemerintah Inggris sebesar 3.000 poundsterling, namun itu tidak cukup untuk membayar hutang-hutang mereka selama ini. Beberapa orang yang peduli berusaha mengajukan tuntutan, namun selalu saja dikalahkan oleh pengadilan. Bahkan, terakhir, pada era Tony Blair, pengadilan Inggris memutuskan bahwa orang-orang Diego Garcia untuk selama-lamanya dilarang kembali ke tempat asal mereka...??? Inggris dilaporkan telah menyusun rencana untuk mengirim ratusan tentara dan kapal selam nuklir tambahan ke Teluk Persia tengah. Sebab, ancaman perang Inggris sudah meningkat terhadap Republik Islam. "Kementerian Pertahanan perencana masuk overdrive pada awal tahun ini. Konflik dilihat sebagai tak terelakkan selama rezim Iran mengejar ambisi nuklir mereka," kata seorang pejabat senior Whitehall seperti dikutip The Sun, Ahad (26/2). "Inggris akan memuali perangnya, apakah kita suka atau tidak," tambah pejabat itu...>>...

Rusia Siap Bela Iran Jika Diserang AS

Rusia Siap Bela Iran Jika Diserang AS


Selasa, 2012 Februari 14 15:57
Kepala Staf Militer Rusia Jenderal Nikolai Makarov memperingatkan bahwa Rusia akan mengambil reaksi keras jika Amerika Serikat melakukan segala bentuk serangan militer ke Iran.
.
IRNA pada Selasa (14/2) melaporkan, Makarov kepada wartawan mengatakan, Rusia secara objektif memantau kondisi terkait Iran dan mengamati setiap manuver pasukan asing di kawasan. Ditambahkannya, Moskow memiliki berbagai opsi jika terjadi segala bentuk kemungkinan perang di kawasan.
.
Seraya menyinggung pernyataan para pejabat Tehran seputar kesiapan pasukan militer Iran untuk membalas agresi musuh, Makarov menandaskan, “Kami juga sepenuhnya mengikuti reaksi Iran terhadap pernyataan-pernyataan provokatif para pejabat AS.”
.
Berbicara tentang perkembangan di Suriah, Makarov menegaskan, “Kami setiap hari memantau kondisi di Suriah dan kami percaya bahwa Barat ingin menerapkan strategi Libya di Suriah.”
.
Menyinggung penentangan lembaga-lembaga militer Rusia terhadap konspirasi Barat terhadap Suriah, Makarov menambahkan, tanpa ragu bahwa upaya untuk menjalankan skenario Libya di Suriah akan menghadapi penentangan dari banyak negara.

Dosen Kairo: “Kami Semua di Mesir Syiah”

Selasa, 2012 Februari 14 09:17
Doktor Mohammad al-Dasuqi, dosen universitas Kairo, Mesir, Syeikh Abdul Naser Jabri, Rektor Fakultas Dakwah Islam Lebanon, Taufik Ali Wahbah, Direktur Lembaga Riset Kairo, bertemu dengan Ayatullah Muqtadaee, pemimpin Hawzah Ilmiah.
.
Mehr News melaporkan, dalam pertemuan tersebut, Doktor Muhammad al-Dasuqi mengatakan,”Politik Barat dan Amerika Serikat adalah agar tidak satu pun negara Islam yang memiliki kemulian dan kewibawaan, serta tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi bahaya dan tantangan. Akan tetapi bertentangan dengan tuntutan dan keinginan Amerika Serikat, kemuliaan dan kewibawaan tersebut akan kembali ke pangkuan umat Islam.”
.
Seraya menjelaskan bahwa Islam telah mengumpulkan umat Muslim di satu barisan dan mewujudkan persatuan, al-Dasuqi mengatakan, “Satu-satunya cara untuk menghadapi makar musuh, adalah persatuan Islam, dan kita harus menyatukan genggaman di hadapan kaum arogan.
.
Dosen Universitas Kairo itu seraya menegaskan bahwa agama kita adalah agama kemuliaan dan kewibawaan, kita harus bahu-membahu dan bersatu guna mewujudkan kemuliaan dunia Islam.
.
Menyinggung kecintaan rakyat Mesir kepada Ahlul Bait as, Doktor al-Dasuqi menjelaskan, “Kita semua di Mesir dari sisi kecintaan terhadap Ahlul Bait as, kami semua adalah orang Syiah, ini adalah fakta yang ada.”
.
“Meski kita memiliki perbedaan di bidang fiqih, akan tetapi kami tumbuh besar dengan kecintaan terhadap Ahlul Bait,” kata Doktor al-Dasuqi.

Diam-diam, Inggris Siapkan Perang Lawan Iran


REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Inggris dilaporkan telah menyusun rencana untuk mengirim ratusan tentara dan kapal selam nuklir tambahan ke Teluk Persia tengah. Sebab, ancaman perang Inggris sudah meningkat terhadap Republik Islam.
"Kementerian Pertahanan perencana masuk overdrive pada awal tahun ini. Konflik dilihat sebagai tak terelakkan selama rezim Iran mengejar ambisi nuklir mereka," kata seorang pejabat senior Whitehall seperti dikutip The Sun, Ahad (26/2). 
"Inggris akan memuali perangnya, apakah kita suka atau tidak," tambah pejabat itu.
Laporan itu mengatakan serangan militer terhadap Iran adalah masalah waktu, jika tidak dengan 18 sampai 24 bulan skala waktu yang mungkin.
"Langkah pertama, Inggris akan menerbang sebuah batalyon infanteri ke Uni Emirat Arab, sebab ini adalah sekutu kuat kami di wilayah ini, tentara lebih lanjut bisa mengikuti, jika sekutu kami yang lain Oman, Kuwait, Arab Saudi, Bahrain dan Qatar meminta bantuan," lapor The Sun.
Royal Navy telah mengumpulkan tujuh kapal perang di Teluk Persia. Diantaranya, HMS Daring, salah satu kapal terbaru dan paling kuat tiba di wilayah itu bulan lalu, untuk bergabung Tipe 23 frigat HMS Argyll.
Kapal penyapu ranjau Pembroke, Quora, Middleton dan Ramsey juga berbasis di Bahrain dan kapal selam nuklir ditempatkan di daerah tersebut. Menurut laporan itu, kedua kapal selam bersenjata rudal Tomahawk pesiar juga akan dikerahkan di kawasan itu dalam rencana perang Inggris.
Angkatan Udara Kerajaan juga dilaporkan berencana untuk mengirim Jets Topan dan Tornado untuk memperkuat awak pesawat helikopter dan transportasi yang sudah ditempatkan di Qatar, Oman, Bahrain dan UEA. 

Serangan Militer ke Iran: Kisah dari Pulau Diego Garcia

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Berita-berita tentang ancaman serangan militer dari AS dan Israel terhadap Iran akhir-akhir ini semakin intens. Dalam doktrin militer AS, Iran memang dikategorikan sebagai ‘ancaman utama bagi kestabilan di Timur Tengah dan Asia Tengah’. Menurut Chomsky, kestabilan dalam terminologi AS bermakna ‘berada di dalam kontrol AS’. Artinya, bila ada sebuah rezim yang tidak berada dalam cengkeraman kontrol AS, rezim itu menjadi ancaman bagi ‘kestabilan’. Dalam menghadapi ‘ancaman’ ini, AS sudah melakukan berbagai langkah. Antara lain sejak November lalu, AS dan Eropa beramai-ramai memperketat sanksi:  bank Inggris memutus hubungan finansial dengan bank sentral Iran, Kanada menutup pintu ekspor untuk barang-barang yang dianggap berkaitan dengan industri petrokimia, gas, dan minyak Iran, beberapa negara Eropa mem-black-list tokoh-tokoh Iran yang dianggap berperan penting dalam proyek nuklir, dll.

Hal yang tidak banyak dibahas adalah kisah dari sebuah pulau bernama Diego Garcia. Seiring dengan meningkatnya intensitas ancaman serangan ke Iran, pemerintahan Obama juga diberitakan telah menambah kapasitas militernya di pulau Diego Garcia. Konon di sana bercokol lebih dari 2000 tentara, pelabuhan yang muat untuk 30 kapal perang, tempat pembuangan limbah nuklir, stasiun mata-mata satelit, dan tempat hiburan untuk para tentara: mall, bar, dan lapangan golf. Pada bulan Maret 2010, Sunday Herald melaporkan bahwa AS telah mengirimkan 10 kontainer berisi amunisi ke Diego Garcia, di antara bom “Blu” yang mampu meledakkan struktur bawah tanah secara masif. Kapal-kapal selam bertenaga nuklir yang bisa meluncurkan rudal Tomahawk  juga ‘mangkal’ di sana; rudal Tomahawk sendiri bisa dipasangi hulu ledak nuklir.
Pada masa perang Irak, John Pilger mencatat bahwa ada berita sekilas yang berbunyi, “Pengebom Amerika, B-52 dan Stealth, tadi malam dilepaskan dari  sebuah pulau-tak berpenduduk-milik-Inggris untuk mengebom Irak dan Afghanistan.”
Ya, Diego Garcia ternyata adalah sebuah pulau yang dijadikan pangkalan militer AS; salah satu yang terbesar di dunia. Serangan-serangan udara AS ke Irak dan Afghanistan diketahui dilancarkan dari Diego Garcia. Namun, di balik kecanggihan perlengkapan militer yang disimpan di sana, Diego Garcia menyimpan kisah pilu yang semakin menunjukkan wajah bengis negara-negara arogan dan haus perang: AS dan Inggris.
Pada tahun 1965 Inggris dan AS menjalin perjanjian bahwa Inggris akan menyediakan pulau kosong untuk dijadikan pangkalan militer bagi AS di Samudera Hindia. Pada tahun 1966, pulau indah Diego Garcia yang berada di antara Asia dan Afrika (di perairan samudera Hindia) itu dibeli Inggris dari Mauritania. Inggris menyerahkan pengelolaan pulau itu kepada AS, tanpa bayaran sepeser pun. Namun, Inggris menerima diskon sebesar 14 juta dollar dalam pembelian misil Polaris.
Sebelum menyerahkan pulau itu kepada AS, sesuai permintaan AS, isi pulau itu dikosongkan (Tidak akan ada lagi penduduk asli di pulau itu, kecuali burung camar, demikian salah satu instruksi yang ditulis pejabat kementerian luar negeri Inggris tahun 1966). John Pilger, jurnalis independen asal Australia, berhasil mendapatkan film dokumenter dari kaum misionaris di Diego Garcia. Pulau itu dulunya ternyata sangat indah, dihuni oleh 2000 penduduk berkulit hitam dari suku Creole, ada sekolah, rumah sakit, gereja, rel kereta api, dll. Tentara Inggris kemudian menakut-nakuti warga, termasuk dengan membakar hewan-hewan peliharaan mereka. Sebagian penduduk pergi meninggalkan pulau karena takut. Namun, sisanya, yang masih bertahan akhirnya dievakuasi paksa. Mereka dinaikkan dengan paksa ke atas kapal, hanya dibolehkan membawa satu tas. Rumah, perabotan, dan segala harta benda yang mereka miliki selama lima generasi, harus ditinggalkan begitu saja. Dalam perjalanan yang sulit menuju Seychelles (sebuah negara kepulauan di Samudera Hindia), kaum perempuan dan anak-anak dipaksa tidur di sebuah kargo burung. Mereka lalu dipenjarakan selama beberapa waktu di Seychelles, dan kemudian dipindahkan ke Mauritius.
Di Mauritius, mereka hidup menggelandang. Anak-anak banyak yang meninggal, para orang tua banyak yang bunuh diri karena frustasi. Satu dekade kemudian, mereka menerima kompensasi dari pemerintah Inggris sebesar 3.000 poundsterling, namun itu tidak cukup untuk membayar hutang-hutang mereka selama ini. Beberapa orang yang peduli berusaha mengajukan tuntutan, namun selalu saja dikalahkan oleh pengadilan. Bahkan, terakhir, pada era Tony Blair, pengadilan Inggris memutuskan bahwa orang-orang Diego Garcia untuk selama-lamanya dilarang kembali ke tempat asal mereka.
Nasib tragis penduduk Diego Garcia menunjukkan jatidiri rezim AS dan Inggris. Kalau meminjam kata-kata Pilger, tragedi Diego Garcia bisa “menunjukkan kepada kita keseluruhan sistem yang bekerja di balik kebobrokan demokrasi dan membantu kita untuk memahami bagaimana dunia ini diatur demi keuntungan penguasa dan bagaimana mereka telah berbohong.”
Kebohongan serupa juga tengah mereka ciptakan untuk Iran. Iran diposisikan sebagai ancaman bagi perdamaian di Timur Tengah. Iran terus-menerus dituduh tengah membangun senjata nuklir, dan dihujani berbagai embargo dengan alasan ‘untuk menekan Iran agar menghentikan proyek senjata nuklirnya’. Padahal, sebuah laporan dari Defence Intelligence Agency AS yang dikutip oleh Chomsky, menyebutkan bahwa anggaran belanja militer Iran sesungguhnya lebih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara kawasan (apalagi bila dibandingkan dengan AS).  Laporan itu juga mengakui bahwa doktrin militer Iran sangat ketat, yaitu “defensif, didesain untuk memperlambat invasi, dan mengutamakan solusi diplomatik dibanding kekerasan.”
Karena itu, menurut analisis Chomsky, sebenarnya ancaman Iran bukanlah dari sisi militer. Justru, yang membuat pusing Washington adalah kemampuan Iran untuk melakukan aksi deterrence. Apa itu deterrence? Bila diterjemahkan bebas, mungkin bisa kita pakai istilah: ‘nyali untuk main gertak’. Iran melindungi negaranya tidak dengan cara menyerang atau menginvasi negara lain, tapi dengan meningkatkan kapasitas militernya, lalu secara terang-terangan memamerkannya kepada publik, sehingga muncul rasa takut dari pihak lawan.
Masih kata Chomsky, keberadaan sebuah negara yang berani melakukan aksideterrence dan bersikap berdaulat (tidak mau digertak lawan), sungguh sebuah gangguan besar bagi rencana AS untuk menguasai dunia. Khususnya, aksi Iran ini mengancam kontrol AS terhadap sumber energi di Timur Tengah. Jika ada negara lain yang dihormati dan ditakuti selain AS, tentulah kontrol tidak lagi di tangan AS. Masalah lainnya yang tak kalah penting membuat ‘panas’ AS adalah upaya-upaya Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan. Kemampuan diplomasi Iran akhir-akhir ini semakin meningkat. Bahkan, banyak yang tidak tahu, justru pada masa AS dan Eropa ramai-ramai mengembargo Iran (era pemerintahan Ahmadinejad), nilai investasi asing di Iran semakin meningkat. Tentu saja, yang bermain bukan perusahaan-perusahaan AS dan Eropa, melainkan, China, Rusia, dan negara-negara kecil yang ‘berani’, misalnya, Malaysia, bahkan Vietnam. Indonesia? Sayang sekali, meski Iran sangat proaktif melakukan soft diplomacy ke Indonesia, ketundukan pemerintah Indonesia kepada AS membuat Indonesia tak berani berinvestasi di Iran.
Inilah yang menjadi ancaman bagi AS. Iran berusaha menjalin hubungan dan meneguhkan kedudukannya sebagai sahabat bangsa-bangsa di kawasan; sementara AS ingin mencengkeram dan terus-menerus mengeksploitasi mereka. Kejahatan dan kebaikan tentu saja tidak akan pernah bisa bersatu. Dan dari Diego Garcia, panah-panah kejahatan itu kini tengah tertuju kepada Iran.[]
*alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar