Kamis, 01 Maret 2012

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).....>>>Kelompok Islam Lintas Tandzim Bersatu dalam Wadah MIUMI....>>> ...Meski terdiri berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhaniyah. “Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan yang begitu kuat, apalagi sendiri-sendiri,” tandas Adrian Ansaini. .....>>> Semua Komponen Umat Islam harus Bersatu.. dalam satu Visi dan Misi membangun Umat Islam dan Bangsa Indonesia..seutuhnya... untuk membangun Negara dan bangsa dalam wujud nyata.... Dengan Landasan-Kebenaran-Kejujuran- Open mind- dan Cerdas-Cermat-Akal Sehat...>>> Zaman Akhir2 ini... banyak manipulasi .. slogan politik dan kepalsuan.. oleh orang2 tak bertanggung jawab.. semata-mata... untuk tujuan Keserakahan-Hedon dan Kepuasan Hawa nafsu belaka... >>> .. Semoga MIUMI.. bisa menjadi cikal bakal Persatuan Umat Islam yang Kokoh dan Mambangun Persatuan-Silaturahim-Solidaritas dan Persaudaraan Umat Islam secara Kaffah.. tanpa ada pertentangan mazdhab..dan masalah2 khilafiyah.. yang diprovokasi.. oleh pihak2 tertentu.. dengan tujuan Devide et impera...>>> Hayyo kuatkan Persatuan dan Silaturahim.. -Persaudaraan dan Solidaritas Umat Islam di seluruh Tanah Air dan Seluruh Dunia....>>.. Allahumma afrigh alaina shabran watsabbit aqdamana wanshurna alal qoumilkafirin.....>>> Allahu Akbar..!!!

Allahu Akbar! MIUMI Bakal Menjadi Lawan Tangguh Para Pengasong Liberal

JAKARTA (VoA-Islam)-  

Sekumpulan cendekiawan dan ulama muda dari berbagai unsur umat Islam Indonesia bersepakat membentuk Majelis Ulama baru yang diberi nama Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Bertempat di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (28/2), MIUMI dideklarasikan dengan dihadiri para tokoh ulama, pimpinan ormas Islam, ulama dari negara sahabat, pimpinan partai politik, serta pejabat penting lainnya, seperti Ketua MK Prof Mahfud MD dan Ketua KPK Bambang Widjianto.
Deklarasi dibacakan dalam tiga bahasa, yakni: Indonesia, Arab, dan Inggris.  Dalam siaran persnya, Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir LC mengatakan, di tengah-tengah perbedaan, kami semua bersepakat untuk mengikatkan diri dalam satu manhaj, yaitu Ahlus Sunnah wal-Jamaah.
Sepertinya, para pengasong sepilis (sekuler, liberal dan pluralism) akan mendapatkan lawan yang tangguh. MIUMI yang di dalamnya berkumpul intelektual dan ulama muda yang memiliki otoritas dibidangnya masing-masing, akan menggempur pemikiran-pemikiran pengasong sepilis dan pembelanya yang selama ini menyesatkan umat. Sebut saja nama-nama seperti Dr. Hamid Fahmy Zarkasi, Dr. Adian Husaini, Adnin Armas, Henry Shalahuddin, Fahmi Salim dan sebagainya adalah sosok intelektual muda yang kerap mengcounter tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) dan konco-konconya.  
    Asal tahu saja, Majelis Pimpinan MIUMI diketuai oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasi (Ketua Program Kader Ulama Pesantren Gontor Ponorogo), dan Sekjen diamanahkan kepada dai kondang Ustadz Bachtiar Nasir LC (yang juga narasuber rubric konsultasi agama di Harian Umum Republika).
    Selanjutnya di jajaran pimpinan MIUMI ada nama Dr. Adian Husaini (Ketua Program Magister dan doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor), Dr. Mukhlis Hanafi  (pakar Tafsir al-Qur’an dari Pusat Studi al-Qur’an dan Kementerian Agama RI).  Juga terdapat orang muda yang tak asing lagi sebagai peneliti INSIST, seperti Ustadz Adnin Armas, MA (Direktur INSIST), Henry Shalahuddin (Sekretaris INSIST), dan Asep Sobari (peneliti INSIST dan Redaksi Majalah Gontor). Anak-anak muda inilah yang kerap menggempur pemikiran para pengasong sepilis (sekulerisme, liberalisme dan pluralisme).

    Pimpinan MIUMI juga mencerminkan keragaman unsur organisasi dan corak pemikiran keagamaan. Ada KH. Muhammad Idrus Romli (ulama muda NU Jawa Timur yang cukup produktif menulis buku), Ustadz Farid Ahmad Oqbah, M.Ag (Direktur Islamic Center al-Islam-Bekasi), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, MSi (Ketua Umum Wahdah Islamiyah yang berpusat di Makasar).
    Lalu ada Dr. Ahmad Zain an-Najah (pakar syariah alumnus al-Azhar University Cairo dan Wakil Ketua DDII), Ustadz Jeje Zainuddin M.Ag (ulama muda Persis), juga ada Ustadz Fahmi Salim MA (pakar al-Qur’an yang juga anggota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah dan Komisi Pengkajian & Penelitian MUI),  Muhammad Khudori (alumnus Gontor dan Universita Islam Madinah), Ustadz Fadzlan Garamatan (Ketua AFKN, dai asal Papua yang telah mengislamkan banyak kepala suku), Ustadz Ahmad Sarwat (Rumah Fiqih Indonesia)

    Cikal bakal pendirian MIUMI dilakukan di awal tahun 2012. Saat itu sejumlah intelektual dan ulama muda dari berbagai ormas Islam duduk bersama. Tepat pada 3 Januari 2012 lalu, 15 muda berkumpul di markas Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL) yang saat itu berlokasi di Jl. Karang Asem Raya No. 23, Kuningan, Jakarta Selatan.
    Dalam pertemuan tersebut, para pendiri MIUMI meyakini, wadah yang akan dibentuk dapat memberikan harapan yang besar pada dunia dakwah Islam di Indonesia. Sebab, mereka sepalat untuk tidak melakukan konfrontasi atau pertentangan dengan lembaga Islam atau ormas Islam yang sudah ada.
    Dalam deklarasi MIUMI di Grand Sahid Hotel, Jakarta ini dihadiri oleh para ulama dan cendekiawan muda dari berbagai daerah. Diantaranya, Dr. Dasman (pakar hadits dari UIN Riau), Dr. Muinuddin Basri (pakar syariah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta/UMS), Dr. Syamsul Hidayat (wakil ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah yang juga dosen pasca sarjana UMS). Hadir pula perwakilan ulama dan cendekiawan dari Bali, Papua, NTT, Sulsel, Aceh, Sumut dan sebagainya.

    Menyatukan Potensi
    Selama ini sejumlah intelektual dan ulama tersebar di dalam maupun luar negeri, ada pula yang secara individu memiliki agenda kegiatan masing-masing, juga aktif di berbagai ormas Islam di Indonesia. Bahkan diantara mereka memiliki latar belakang kelilmuan, keorganisasian, dan aktivitas yang beragam. Padahal mereka memiki potensi sangat besar untuk membangun bangsa Indonesia menjadi jauh lebih baik.

    Dengan terbentuknya MIUMI, beberapa aktivitas dakwah ini bertekad mengfokuskan diri dengan menyatukan potensi untuk membangun kekuatan bersama. Meski terdiri dari berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhanniyyah.

    “Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan yang begitu kuat, apalagi kalau jalan sendiri-sendiri. Sangat indah, berbagai latar belakang ini bersepakat untuk bersilaturahim dengan mengedepankan ukhuwah Islamiyah guna menyatukan wawasan, serta mengkonsentrasikan diri pada masalah-masalah besar umat yang disepakati,” kata Ustadz Adian Husaini, Pembina INSIST yang juga Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, Jawa Barat.

    Menurut Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir, MIUMI rencananya akan dibentuk di berbagai propinsi dan kota di Indonesia, bahkan sampai membuka perwakilan di luar negeri. “MIUMI sangat diperlukan untuk menangani problematika umat. Jangan sampai potensi-potensi intelektual dan ulama muda  yang sedang tumbuh ini tidak teroptimalkan,” kata Bachtiar.

    Tentang hubungan MIUMI dengan politik atau partai politik, Bachtiar menjelaskan, ulama wajib memahami politik agar tidak menjadi korban dari politik. Tetapi, ulama harus menyadari kedudukan dan tugas utamanya sebagai pelanjut risalah kenabian, sehingga ulama wajib mengawal jalannya politik dan pemerintahan agar tidak merusak dan menzalimi masyarakat.  Itulah sebabnya, MIUMI menetapkan jargon “Untuk Indonesia yang Lebih Beradab”.

    Satu hal tak kalah penting, pengurus MIUMI tidak boleh merangkap jabatan dalam suatu kepengurusan partai politik. “MIUMI tidak anti partai, tetapi kami justru menjaga silaturahim dan tali ukhuwah serta tali tausyiah dengan aktivis-aktivis atau tokoh partai politik. Diantara kita salung mengingatkan,” tandas Sekjen MIUMI.

    Yang pasti, kata Bachtiar, MIUMI tidak sama sekali mendapat sponsor tunggal. Karena MIUMI tidak berpolitik praktis dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. MIUMI ingin membangun struktur sosial Islam, menyegarkan kembali keulamaan sebagai pewaris nabi, serta menjaga kemurnian agama Islam di tengah umat. Setidaknya, ada tiga pekerjaan yang akan dilakukan MIUMI, yakni: research, sosialisasi, dan penegakan fatwa majelis ulama. Desastian

    Mahfud MD Kritik Banyak Ilmuan Melacurkan Diri & Ulama Jadi-jadian

    JAKARTA (VoA-Islam)- 

    Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang hadir dalam deklarasi Majelis Intelektual dan Ulama Indonesia (MIUMI), Prof DR. Mahfud MD dalam sambutannya, menegaskan, saat ini umat Islam butuh ulama yang benar. Harus diakui, di tengah-tengah umat, ada  ulama yang tidak benau atu dalam bahasa agamanya disebut dengan Ulama Su’ atau ulama jelek.

    “Ini memang saat yang tepat untuk berbicara peran ulama. Di saat kita menghadapi persoalan besar dimana masyarakatnya yang semakin brutal, maka harus dirunut penyebabnya. Bukankah rusaknya umara karena rusaknya ulama,” kata Mahfud yang menyambut gembira lahirnya MIUMI, Rabu (28/2) malam.

    Dikatakan Mahfud, rusaknya masyarakat adalah rusaknya pemerintah, dan rusaknya pemerintah (umara) karena ulamanya jelek.Ini realitas yang sedang terjadi. Ulama itu jelek karena menyenangi harta benda dan kedudukan.
    “Sekarang ini banyak ulama yang jelek. Dikarenakan posisi ulama memiliki peran  penting, terlebih saat ada gerakan politik, dimana ulama dikumpulkan meski ia sesungguhnya bukan ulama. Namun, karena diberikan sorban, dan disuruh ngaku ulama, maka jadilah ulama jadi-jadian,” kata Mahfud tegas.

    Tak dipungkiri, masih ada ulama yang bena. Namun, juga harus diakui, adanya fatwa pesanan, tentu tidak seluruhnya. Ini membuktikan, bangsa Indonesia menghadapi disorientasi, dimana peran ulama telah bergeser ke hal-hal yang bersifat pragmatis.

    Mahfud melontarkan kritik tajamnya, betapa sekarang ini banyak ilmuan yang melacurkan diri, membuat survei tapi sudah tahu hasilnya. Bahkan yang tidak sesuai kepentingannya dipilah-pilah, lalu hasil surveinya  dihegemoni seolah-olah sebagai ilmu pengetahuan. Padahal hampir semua orang sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya survei. Karena niat dan tujuannya sudah menyesatkan, lalu membuat ukuran kepemimpinan  didalam survei yang dilakukan, dibatasi hanya 3 hal: popularitas, elektabilitas, dan eskeptabilitas, tidak ada akhlak yang menjadi ukuran.

    “Sangat memperihatian, jika di dalam survei itu tidak ada ukuranleadeship, visi dan kepemimpinan yang shiddiq, amanah, tabligh serta fathonah.  Ini berbahaya. Karena itu jangan heran, rusaknya bangsa, karena ilmuwannya sudah  melacurkan diri pada kepentingan-kepentingan politik,” kritik Ketua MK.

    MIUMI, kata Mahfud, diharapkan dapat menjernihkan dan meluruskan kembali, peran-peran keulamaan sebagai pewaris nabi yang menjalankan fungsi profetik kenabian. Setidaknya, MIUMI mengingatkan ulama lain, atau mereka yang ngaku-ngaku ulama yang tidak menjalankan fungsi ulama secara benar.Desastian

    MIUMI Akan Revitalisasi Keulamaan, Fatwa MUI akan Di-

    Research

    JAKARTA (VoA-Islam) –
    Majelis Intelektua dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) berkomitmen untuk merevitalisasi lembaga dan program keulamaan di Indonesia dan keintelektualannya.  Yang dimaksud revitalisasi, misalnya: terkait lebaran dua kali, puasa berakhir kapan dan sebagainya. Ini menunjukkan adanya kelemahan kepemimpinan formal dan informal umat Islam. Demikian dikatakan Sekjen MMIUMI Ustadz Bachtiar Nasir LC.

    “Harus ada pertemuan kepakaran scientis dengan kearifan para ulama.  Keputusan menentukan hari raya adalah persoalanijtihadiyah ulama, hasilnya bisa benar dan salah. Jika benar dapat dua pahala , yang salah dapat satu pahala. Tapi yang benar jika mengandung mudharat, lebih baik ikut yang salah, tapi ada maslahat. Di masa yang akan datang, kami ingin mengajak umat, dari mudharat kepada maslahat,” ungkap Bachtiar.

    Diakui, merosotnya kewibawaan lembaga keulamaan yang ada di Indonesia menambah persoalan baru, sehingga  masing-masing mengeluarkan fatwa. Karena itu MIUMI akan merevitalisasi lembaga tersebut dengan tiga programnya:
    Pertama, Fatwa-fatwa yang sudah dikeluarkan MUI dan ormas Islam akan di-research. Karena sejujurnya, fatwa yang dikeluarkan lebih banyak berdasarkan pada studi literatur ketimbang fakta-fakta di lapangan. Fokus MIUMI adalah meresearch sampai mengumpulkan data di lapangan. “Yang sudah dilakukan adalah kasus Sampang, Madura. Kami melihat banyak persoalan umat yang perlu direseacrh,” kata Bachtiar.

    Kedua, fatwa yang sudah dikeluarkan MUI dan ormas Islam yang ada kebanyakan belum tersosialisasikan, baik di tingkat komunitas ormas, apalagi ditingkat masyarakat secara luas. Karena itu tugas MIUMI adalah mensosiliasikan fatwa-fatwa, terutama fatwa-fatwa stratergis yang membangun struktural sosial umat.

    Ketiga, MIUMI akan membantu MUI dan ormas, dalam menegakkan fatwa yang sudah dikeluarkan. Mengingat ada sikap pesimistis di umat, dengan ungkapan, bahwa fatwa itu tidak mengikat, sehingga pada akhirnya tidak ada keterikatan dan kewajiban untuk melaksanakan, sehingga bangunan struktur sosial ini menjadi tidak solid dan tidak utuh. Desastian

    Dahsyat, Kelompok Islam Lintas Tandzim Bersatu dalam 

    Wadah MIUMI

    JAKARTA (VoA-Islam)- Di tengah merosotnya wibawa ulama di tengah umat dewasa ini, dan disaat orang tua terlalu dominan dengan otoritasnya, juga disaat banyak kelompok Islam berpecah belah seraya membanggakan diri golongannya, maka lahirlah Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
    MIUMI adalah sebuah wadah lintas tandzim yang datang dari berbagai kelompok Islam di Tanah Air. Tanpa bermaksud mendikotomi tua-muda, kaum intelektual dan ulama muda yang tergabung dalam MIUMI berupaya bangkit untuk memberi kontribusinya bagi umat, khususnya umat Islam, tanpa ada yang merasa tersaingi dengan kehadirannya.
    Kemarin, Rabu (28) malam, para intelektual Islam dan ulama muda Indonesia membacakan deklarasinya dalam tiga bahasa (Arab, Inggris dan Indonesia) di Grand Hotel Sahid, Jakarta, dengan dihadiri oleh para ulama, pimpinan ormas Islam serta pejabat lainnya, sebut saja seperti: Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi), Bambang Widjajanto (Ketua KPK), Fuad Bawazir (Partai Hanura), dan para ustadz lainnya.
    Berikut ini adalah inisiator yang terdiri dari para intelektual dan ulama muda yang menyepakati berdirinya MIUMI: Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi (Ketua INSIST), Ustadz Bachtiar Nasir LC,  Dr. Adian Husaini (Peneliti INSIST), Ustadz Henri Shalahuddin (Peneliti & Sekretaris INSIST), Ustdadz Adnin Armas (Penelisi INSIST), Ustadz Asep Sobari (INSIST).
    Selanjutnya ada Ustadz Fahmi Salim (Komisi Kajian & Penelitian MUI), Ustadz Farid Ahmad Okbah (Yayasan Al-Islam), Ustadz Fadzlan Garamatan (AFKN), DR. MUchlish M Hanafi (Manager Program Pusat Studi Al Qur’an Depag), Ustadz M. Idrus Romli (PWNU Jember dan Jatim), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah), Nashruddin Syarief, Jeje Zaenuddin (Pemuda Persis), Ahmad Sarwat (Rumah Fiqih Indonesia), M. Khudori  (alumnus Universitas Islam Madinah), Ustadz Ahmad Zein An-Najah (DDII), Ustadz Mustofa Umar (Riau) dan sebagainya.

    Yang bertugas membaca deklarasi bahasa Arab dilakukan oleh Ustadz Muhammad Zaytun Rasmin (Wahdah Islamiyah), sedangkan bahasa Inggris dibacakan oleh Ustadz Adnin Armas (Pemred Majalah Gontor), serta bahasa Indonesia dibacakan oleh Ustadz Fadzlan Garaman (Al Fatih Kaffah Nusantara).

    Menurut Ketua Majelis Pimpinan Nasional MIUMI Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MIUMI didirikan atas inisiatif beberapa aktivis dakwah dan pemikiran Islam, sebagai wadah perhimpunan dan silaturahim para intelektual dan ulama muda dari berbagai ormas Islam yang ingin berbakti untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih beradab, diatas pilar ilmu yang kokoh dan otoritas keulamaan yang kuat mengakar.

    MIUMI akan bersinergi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan semua oramas Islam di tanah air sebagai penguat dan pemersatu suara kebenaran, dan diharapkan mampu mensosialisasikan fatwa-fatwa MUI dengan data yang shahih sesuai dengan kaidah hukum Islam ke seluruh lapisan masyarakat.

    Latar belakang berdirinya MIUMI, berawal dari  kecintaan terhadap umat Islam di Indonesia pada umumnya dan kerinduan lahirnya gerakan aktual untuk memenangkan Islam dan menjayakan umat Islam.

    MUI Tak Merasa Tersaingi
    Dalam sambutannya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan, rasa gembiranya atas berdirinya MIUMI. Dikatakan Din yang malam itu mengatasnamakan diri sebagai Wakil Ketua Umum MUI, kehadiran MIUMI sebagai organisasi baru, tidak perlu ada perasaan menandingi, menyaingi atau disaingi siapapun. Kehadiran MIUMI justru diharapkan menjadi kader umat yang melanjutkan MUI.

    “Bahkan Muhammadiyah pun tidak merasa ditandingi, malah justru dibantu oleh MIUMI. Apalagi, para intelektualnya banyak yang berasal dari kader Muhammadiyah,” kata Din senang.

    Lebih lanjut Din mengatakan, saat ini banyak permasalahan umat dan bangsa, dengan semakin berkembang dan merajelalanya kebodohan. Di negeri ini nampak aksara moral yang membuat kita prihatin.  Yang perlu dibingkai dari cita-cita MIUMI adalah pentingnya menjaga persatuan umat dan bangsa. “Juga perlu menyadari realitas, di tengah bangsa yang penuh dengan kemajemukan, bukan hanya etnis, budaya, tapi juga alam pemikiran.Diperlukan seni kepemimpinan untuk mengelola kemajemukan itu. Diharapkan MIUMI menjadi tenda besar bagi seluruh kelompok Islam yang ada.”

    Dijelaskan Din, saat ini tajdid atau pembaharuan yang subtantif sangat dibutuhkan. Karena itu, kita harus menampilkan Islam sebagai watak dasar, yakni sebagai agama kasih sayang, berkeadilan, mendorong kemajuan, serta member kesaksian dan pembuktian untuk menjadi umat yang wasathan. “Maju dan mundurnya Indonesia, akan ditentukan oleh maju mundurnya umat Islam. Kalau Indonesia belum maju, berarti ada yang salah pada umat ini,” ungkap Din. Desastian

    Deklarasi Organisasi Ulama Intelektual Muda  

    Para intelektual dan ulama muda Indonesia mendeklarasikan organisasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di hotel Grand Sahid, pada 28 Februari. Organisasi ini bukan tandingan majelis ulama Indonesia, melainkan memperkuat otoritas lembaga keulamaan. 

    Saat ini problematika dihadapi umat cukup kompleks. Sejumlah ulama tidak mampu memberikan solusi terbaik, karena ada ulama memiliki kepentingan dan agenda politik. Padahal problematika  harus ada jawaban untuk umat, tanpa satu kepentingan organisasi masa atau partai politik tertentu. 

    Para intelektual dan ulama muda yang sepakati berdirinya MIUMI ini adalah, Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, ketua program kader ulama pesantren Gontor, Ponorogo yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan MIUMI, dan Bachtiar Nasir sebagai Sekjen MIUMI. Bachtiar merupakan dai yang menjadi nara sumber rubrik konsultasi agama di surat kabar harian Republika. 

    “Lahirnya organisasi ini bukan menyaingi MUI tapi justru memperkuat otoritas lembaga keulamaan setingkat MUI,” kata Hamid Fahmi. Nantinya, fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi dan menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat Islam.

    Menurut Sekjen MIUMI H. Bachtiar Nasir Lc, lembaga ini diharapkan bisa merevitalisasi perbedaan yang terjadi di antara ormas Islam. Misalnya, perbedaan waktu hari raya Idul Fitri, jatuhnya hari puasa Ramadhan yang berbeda, serta melemahnya lembaga ormas Islam yang ada selama ini.

    Di organisasi ini ada Adrian Ansaini, ketua program magister dan doktor pendidikan Islam universitas Ibn Khaldun, Bogor dan pakar tafsir al Quran, Muchlis M. Hanafi dari Pusat Studi Al-Aqur’an Depag), M. Idrus Ramli (Pengurus NU Jember), Muh. Zaitun R. (Wahdah Islamiyah-Makassar), Nashruddin Syarief, Jeje Zaenuddin (Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi Kajian & Penelitian MUI), Ahmad Sarwad (Rumah Fiqih Indonesia), Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Gamaratan (Yayasan Al-Fatih Kaaffa Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti & Sekretaris Insists), Asep Sobari (Redaksi Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus Gontor & Univ. Islam Madinah) 

    Meski terdiri berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhaniyah. “Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan yang begitu kuat, apalagi sendiri-sendiri,” tandas Adrian Ansaini. 

    Cikal bakal pendirian MIUMI dilakukan di awal tahun 2012. Saat itu, Ustaz Bachtiar Nasir Lc., MM merangkul sejumlah intelektual dan ulama muda dari berbagai organisasi masa (ormas) Islam untuk bersama. Pendiri MIUMI meyakini, wadah ini memberi harapan besar pada dakwah Islam di Indonesia. 

    Ke depan, organisasi ini tabu bagi anggota yang ingin berpolitik."Kami tidak akan mencampurkan ke dunia politik. Syaratnya, bila ada anggota hengkang ke politik maka harus berpisah dengan MIUMI," tegas Hamid.

    Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesa (MUI) Pusat, Dr Din Syamsuddin yang hadir dalam deklarasi ini, menyambut baik lahirnya organisasi MIUMI. Menurut pemimpin PP Muhammadiyah ini, MIUMI bukan tandingan MUI, kehadiran organisasi ini mengoptimalkan peran ulama dan membantu otoritas keulamaan. 

    Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga hadir mengatakan, kehadiran lembaga ulama muda ini diharapkan meningkatkan kualitas ulama, terutama dari sisi kredibilitas, ketika menghadapi fatwa-fatwa pesanan.

    EVIETA FADJAR

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar