Jumat, 30 Maret 2012

..... Alicia Brown: "Dalam Islam Kutemui Makna Hidup" >>> Namun Alicia akhirnya bisa mengatasi ketakutan itu, dan membulatkan tekadnya untuk memeluk Islam. Ia banyak berdiskusi dengan Hana, ibu Hayat dan berdoa sepanjang malam, "Ya Tuhan, berilah aku petunjuk, petunjuk yang jelas agar aku tahu kemana aku harus menuju ...." Ibu Hayat lalu membacakan ayat-ayat Quran dan Alicia membaca terjemahannya. "Saya tidak ingat nama suratnya, tapi ayat itu bercerita tentang Yesus (Nabi Isa) yang mengatakan bahwa ia bukan Tuhan," ujar Alicia. "Perasaan saya membuncah membaca arti ayat itu, dan saya mulai menangis, karena saya merasa inilah tanda-tanda buat saya. Inilah yang selama ini saya cari, dan Tuhan memberikannya pada saya," tutunya..... >> ..Pemuka Gereja Ortodoks Rusia itu Akhirnya Memilih Menjadi Seorang Muslim>> Dr. Viacheslav Polosin adalah seorang pater yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia. Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada tahun 1980 sebaga seorang "Reader" (orang yang bertanggung jawab untuk membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan). Polosin adalah lulusan Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, jurusan sosiologi, tahun 1978....>> Masih di tahun 1999, Polosin membuat pengumuman yang mengejutkan bahwa ia dan istrinya kembali ke monoteisme, kembali pada agama nenek moyangnya, dan memeluk Islam. Ia menggunakan nama islami "Ali" di depan namanya. Setelah masuk Islam, Polosin terpilih sebagai salah satu ketua "Refakh" sebuah gerakan sosial dan politik komunitas Muslim di Rusia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi "Muslim Newspaper" yang diterbitkan pada tahun 1999. Tahun 2003, Polosin terpilih sebagai presiden Persatuan Wartawan Muslim di Rusia, serta menjadi penasehat di Dewan Mufti Rusia. (kw/DS)...>>

Senin, 02/01/2012 10:40 WIB | Arsip | Cetak



Alicia Brown: "Dalam Islam Kutemui Makna Hidup"



Perceraian kedua orangtua pada saat usia Alicia Brown masih 10 tahun, membuat kehidupannya menjadi kacau balau. Ia tumbuh menjadi anak yang liar dan menjalani kehidupan yang serba bebas, senang melakukan hal-hal yang merusak dan menyakiti dirinya sendiri.
"Keluarga kami menganut agama Kristen Baptis, tapi kami bukan keluarga yang sangat religius. Kami tidak rutin pergi ke gereja," ungkap Alicia mengawali cerita perjalanannya menjadi seorang mualaf.
Ketika orangtuanya bercerai, Alicia tinggal bersama ayahnya yang suka berlaku kasar padanya dan seorang adik lelakinya. "Tapi pada adik bungsu saya, ayah tidak terlalu kasar. Ayah berlaku kasar pada saya, mungkin karena saya saya membuatnya teringat pada ibu saya," ujar Alicia.
Pada saat usianya 16 tahun, Alicia tinggal bersama kakek-neneknya. Di usia remaja itu, Alicia menjalani kehidupan yang kacau. Ia membenci dirinya sendiri dan segala sesuatu di sekelilingnya. Ia merasa selalu ingin melakukan apa saja yang bisa ia lakukan untuk menyakiti dirinya sendiri.
"Rasanya senang saja, dan saya pun mulai mengkonsumsi narkoba, alkohol, melakukan sex bebas dan apa saja yang bisa memuaskan saya secara emosional," tutur Alicia.
Ia cuma setahun tinggal bersama kakek-neneknya. Setelah itu Alicia tinggal bersama ibunya. Ia berpikir, bersama ibunya, hidupnya akan berbeda, sebuah awal baru. Tapi perkiraannya salah. Alicia tetap menjalani kehidupannya yang kelam, bahkan menjadi lebih buruk.
Puncaknya ketika Alicia hamil, padahal waktu itu ia masih sekolah di sekolah menengah atas. Awalnya, Alicia merasa tenang-tenang saja, sampai anak perempuannya lahir. Tapi Alicia dan lelaki yang juga ayah dari putrinya itu, tenggelam dalam narkoba. Mereka mengkonsumsi mariyuana, bahkan kokain. Setelah tiga bulan, Alicia merasa kehilangan segalanya, sehingga ia memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba.
"Saya berharap, ayah putri saya juga berhenti menggunakan narkoba, tapi ternyata tidak," imbuhnya.
Alicia akhirnya meninggalkan lelaki itu untuk memberinya kesempatan berubah, lalu kembali lagi karena ia mencintai dan peduli dengan keadaan ayah anak perempuannya itu. Itu terjadi beberapa kali, tapi perubahan yang ia harapkan tak pernah terjadi.
Sementara itu, anak perempuan mereka didiagnosa mengalami Sindrom Guillain-Barré, penyakit yang ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sistem syarat pusat, maka otot-otot tubuhnya menjadi sangat lemah. Meski demikian, kondisi putrinya tidak terlalu buruk, karena masih bisa menggerakkan tangannya.
Saat bolak-balik ke rumah sakit untuk perawatan putrinya itulah Alicia bertemu seorang muslim bernama Hayat, dan beberapa muslim lainnya. Ia bertanya banyak hal tentang agama dan semua yang berkaitan dengan itu.
Setelah tahu tentang Islam, Alicia berpikir bahwa banyak orang yang selama ini salah informasi tentang Islam. Awalnya, Alicia juga berpikir bahwa Islam seperti agama Hindu, bahwa agama Islam identik dengan segala sesuatu yang berasal dari Timur Tengah. Ketika teman-teman muslim yang dikenal Alicia di rumah sakit bercerita banyak tentang Islam, Alicia juga jadi tahu, ada beberapa hal dalam Islam yang sama dengan agama Kristen yang dulu dianutnya. Bedanya, sejak kecil, yang ia tahu Yesus (Nabi Isa) wafat disalib dan Yesus disebut sebagai anak Tuhan.
Perbedaan-perbedaan itu yang akhirnya membuka pemahaman Alicia mengapa banyak gereja yang meski sama-sama berbasis Kristen, tapi menganut keyakinan Kristen yang berbeda-beda, mengapa Injil diterjemahkan berkali-kali dengan versi yang berbeda-beda pula, mengapa setiap aliran Kristen memberikan jawaban berbeda atas pertanyaan mengapa Yesus harus disalib, yang kadang membuat Alicia bingung.
"Tapi ketika saya mengetahui ajaran Islam, saya lihat hanya ada satu Quran. Semua orang tahu apa isinya. Al-Quran dibaca dalam bahasa Arab dan artinya diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, sehingga Anda bisa membaca apa isinya dan mempelajarinya. Al-Quran lebih mudah dipahami. Itulah yang membuat saya tertarik," papar Alicia.
Ia mengungkapkan, setelah tahu banyak tentang Islam dan membaca isi Al-Quran, ia sadar bahwa Islam adalah jalan yang ditujunya. Tapi, saat itu masih ada rasa takut dalam hatinya untuk menolak keyakinan yang sejak kecil ditanam dalam pikirannya bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Dalam agama Kristen yang dulu dianutnya, membantah keyakinan bahwa Yesus anak Tuhan, adalah dosa besar dan tak termaafkan.
Namun Alicia akhirnya bisa mengatasi ketakutan itu, dan membulatkan tekadnya untuk memeluk Islam. Ia banyak berdiskusi dengan Hana, ibu Hayat dan berdoa sepanjang malam, "Ya Tuhan, berilah aku petunjuk, petunjuk yang jelas agar aku tahu kemana aku harus menuju ...."
Ibu Hayat lalu membacakan ayat-ayat Quran dan Alicia membaca terjemahannya. "Saya tidak ingat nama suratnya, tapi ayat itu bercerita tentang Yesus (Nabi Isa) yang mengatakan bahwa ia bukan Tuhan," ujar Alicia.
"Perasaan saya membuncah membaca arti ayat itu, dan saya mulai menangis, karena saya merasa inilah tanda-tanda buat saya. Inilah yang selama ini saya cari, dan Tuhan memberikannya pada saya," tutunya.
Alicia menyatakan, ia memeluk Islam karena merasa Islam sangat spesial baginya. "Tidak setiap hari kita mendapatkan pertanda dari-Nya. Saya benar-benar sangat bahagia. Saya merasakan dukungan dan limpahan cinta, karena sebelumnya saya merasa tak ada orang yang bahagia untuk saya," tukas Alicia.
Alicia Brown, perempuan asal Texas, AS itu bersyahadat tepat di malam tahun baru kemarin. Ia masih seorang mualaf, namun ia merasa tenang sekarang di bawah naungan Islam.
"Saya merasa sebuah beban berat terangkat dari kehidupan saya. Saya merasa lebih bisa bernapas lega dibandingkan sebelumnya. Saya tidak perlu khawatir dengan apapun lagi. Saya telah terlahir kembali," tandas Alicia yang mengucap syukur karena telah Allah Swt. telah menunjukkannya jalan yang lurus, jalan Islam. (ln/oi)
Selasa, 27/12/2011 11:53 WIB | Arsip | Cetak

Pemuka Gereja Ortodoks Rusia itu Akhirnya Memilih Menjadi Seorang Muslim




Dr. Viacheslav Polosin adalah seorang pater yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia. Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada tahun 1980 sebaga seorang "Reader" (orang yang bertanggung jawab untuk membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan).
Polosin adalah lulusan Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, jurusan sosiologi, tahun 1978. Ia kemudian belajar teologi di sebuah seminari di Moskow. Setelah lulus dari seminari tahun 1983, Polosin ditunjuk sebagai diaken (mengerjakan tugas-tugas pelayananan gereja), lalu diangkat menjadi pater.
Polosin bertugas menjadi pater di sejumlah paroki di kawasan Asia Tengah sampai tahun 1985. Ia pernah menjadi kepala gereja di kota Dushanbe, tapi kemudian dideportasi dari wilayah itu oleh otorita pemerintahan Soviet atas tuduhan membangkang pemerintahan komunis Soviet. Polosin lalu bekerja sebagai penerjemah paruh waktu di departemen penerbitan Kantor Keuskupan di Moskow.
Juni 1988, ketika penindasan terhadap agama oleh pemerintah Soviet mulai reda, Polosin kembali menjadi pendeta di sebuah gereja baru yang nyaris roboh di kota Obninsk, wilayah Kaluzhsky, hingga ia dipromosikan menjadi imam agung pada tahun 1990.
Perjalanan karir Polosin sebagai pemuka agama semakin mulus. Pada bulan Maret 1990, Polosin terpilih sebagai deputi dan anggota Mahkamah Soviet Federasi Rusia, mewakili wilayah Kaluzhsky. Di Mahkamah itu, Polosin menjadi ketua bidang kebebasan beragama hingga tahun 1993. Semasa jabatannya, Polosin berperan dalam pembuatan undang-undang "Kebebasan Beragama".
Sejak tahun 1990, Polosin ikut serta dalam pendirian gerakan Kristen Demokratik di Rusia. Ia sendiri duduk sebagai salah satu pengurus di gerakan tersebut sampai tahun 1993. Pada saat yang sama, Polosin menyelesaikan studinya di Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri Rusia dan mendapat gelar MA untuk bidang ilmu politik.
Aktif berpolitik, Polosin sudah meninggalkan kegiatan gereja sejak tahun 1991 dengan alasan sulit baginya untuk membagi waktu antara aktivitasnya di bidang politik dan agama. Setelah Mahkamah Soviet dibubarkan tahun 1993, Polosin menolak tawaran untuk kembali berkegiatan di gereja sebagai pendeta. Ia lebih memilih menjadi konsultan paruh waktu bagi Departemen Hubungan Internal Gereja, menjadi penasehat untuk pemerintahan negara bagian Duma yang tergabung dalam Komite Asosiasi Publik dan Organisasi Keagamaan.
Tahun 1999, Polosin meraih gelar setara dengan PhD setelah berhasil memperhankan thesisnya berjudul "Dialectics of a Myth and Political Myth Creation". Setelah itu, Polosin banyak menulis artikel bertema keagamaan dan isu-isu agama-politik.
Salah satu buku karyanya adalah "Myth. Religion. State" yang mengupas tentang pengaruh mitos penciptaan pada perkembangan politik di masyarakat, serta keuntungan-keuntungan ideologi monoteistik untuk membangun sebuah negara.

Masih di tahun 1999, Polosin membuat pengumuman yang mengejutkan bahwa ia dan istrinya kembali ke monoteisme, kembali pada agama nenek moyangnya, dan memeluk Islam. Ia menggunakan nama islami "Ali" di depan namanya.
Setelah masuk Islam, Polosin terpilih sebagai salah satu ketua "Refakh" sebuah gerakan sosial dan politik komunitas Muslim di Rusia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi "Muslim Newspaper" yang diterbitkan pada tahun 1999.
Tahun 2003, Polosin terpilih sebagai presiden Persatuan Wartawan Muslim di Rusia, serta menjadi penasehat di Dewan Mufti Rusia. (kw/DS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar